[FF G] Another Girl (Part 4)


Author : Kimi기섭onew

Title : Another Girl

Cast :
Im Jinah / Nana (After School)
Kim Minjun (OC)
Park Sooyoung / Lizzy (After School)
Park Taejun (OC)

Rating : G

Genre : Comedy , Romance

Don’t forget to comment and don’t be a plagiator because the plot of this fiction is mine !!

Nana’s POV

Aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa pacar Namgyu itu Mir. Yah, sebenarnya ini benar-benar di luar dugaanku. Mir mengkhianatiku demi Namgyu. Kalau dilihat-lihat, kukira sekarang mulai masuk akal. Tentu saja Mir pasti lebih memilih Namgyu daripada aku. Namgyu manis, sopan dan dia terlihat sangat baik. Sedangkan aku? Huft.

Dan juga, aku mengerti kenapa Namgyu lebih memilih Mir daripada Minjun. Terang saja, dia pasti tidak tahan dengan sikap super aneh Minjun itu. Mir mungkin sedikit lebih baik daripada Minjun.

Mir melihatku canggung, begitu pula denganku. Sedangkan Minjun hanya beku di tempatnya tanpa mengatakan satu kata pun. Dasar payah. Aku mencoba tersenyum pada Mir, sebuah senyuman paksaan karena aku masih tidak bisa menerima dia meninggalkanku.

“kenapa suasananya jadi canggung begini sih?” akhirnya malah Namgyu yang memecah kesunyian ini. Ia telah berkali-kali berusaha untuk mengajak kami main ke suatu tempat. Tapi yang ada hanyalah penolakan dari kami semua.

Sebenarnya sih, penolakan dariku dan Mir. Karena kami masih punya masalah yang belum terselesaikan. Jadi, kenapa tuan aneh ini harus ikutan menolak?

“hoi..! Nana-ya!! Minjun-aa!! Pemotretan akan dimulai kembali!! Ayo cepat kembali!!” tiba-tiba salah seorang staff memanggil kami. Thanks goodness, setidaknya aku tidak harus berhadapan dengan Mir lagi. Aku bisa mati gaya.

“kenapa kau jadi mati gaya begitu sih?” Tanya Minjun di tengah-tengah pemotretan. Bwahahaha! Coba lihat sendiri, siapa yang lebih mati gaya? Apakah aku atau tuan Minjun? Bukankah hal ini sudah terlihat jelas?

“Bukannya yang lebih mati gaya itu kau?” balasku.

Kulihat Minjun diam saja. Knock down, aku menang dan dia kalah. Aku tersenyum senang. Sepertinya untuk masalah yang kali ini aku menang. Namun, bukan tuan Minjun namanya kalau tidak mau menyerah.

“akan aku buktikan kalau kau yang lebih mati gaya daripada aku. Segera setelah ini, aku ingin double date” ucapnya penuh keyakinan. Apa dia serius soal double date ini? Mungkin dia tidak terlihat mati gaya kalau berada dihadapanku, atau malah bisa dibilang, dia jadi sok keren.

Aku tersenyum setuju. Sekarang yang ada kenapa malah aku dan Minjun yang bertarung? Ini aneh. Sangat aneh. Biasanya, kalau dalam novel-novel romantis yang pernah kubaca, perempuan satu da perempuan dua akan bertarung untuk memperebutkan satu pria. Dan sekarang, kenyataannya, aku dan Minjun yang bertarung. Bukan aku dan Namgyu ataupun sebaliknya.

Pemotretan kami berjalan cukup cepat karena fotografernya sangat senang dengan hasil foto yang kami berikan. Ia bilang bahwa kami sangat serasi dengan pose yang kami buat. Anda boleh saja mengatakan kami serasi saat pemotretan, tapi kalau anda mengatakan kami serasi di kehidupan nyata, wajah anda mungkin sudah lebam karena tangan saya.

Kami berdua kembali menghampiri pasangan sok sweet itu. Aku tidak ingin menyebut mereka so sweet karena hubungan mereka berawal dari sebuah perselingkuhan. Namgyu tersenyum ketika melihat kami berdua menghampirinya.

“sudah selesai dengan pemotretannya?” tanyanya dengan senyum manis. Aku menanggapinya dengan sebuah senyuman manis yang berakhir dengan sebuah senyuman mak lampir. Bahkan Mir pun mentertawai senyuman mak lampirku. Ini… miris.

“sudah. Lalu tadi kami berdua sepakat ingin melakukan double date dengan kalian. Bagaimana?” jawab Minjun penuh keyakinan. Tidak seperti ketika kami pertama kali bertemu Namgyu di tempat ini. Sepertinya ia benar-benar ingin bertarung denganku.

double date? Great! Ayo kita lakukan! Aku dan Mir akan menemui kalian di Coffee bean dekat sini. Kalian ganti bajulah dulu” Jawab Namgyu semangat. Tak berapa lama kemudian, ia sudah menghilang bersama Mir. Tinggal kami berdua yang tersisa.

Aku melirik Minjun, begitupula dengan Minjun. Ekspresi kami sama-sama menunjukkan wajah-wajah yang mengatakan aku-mati-sekarang. Tampang-tampang mahasiswa stress 5 tahun kuliah nggak lulus-lulus. Masalahnya, kami sama sekali nggak nyangka kami akan melakukan double date secepat ini. Kukira sih, kami baru akan melakukannya besok paginya mengingat dia pasti akan berfikir kalau kami bakal kecapekan setelah semua pemotretan ini. Tapi ternyata nggak! Apa dia bodoh? Atau mungkin dia tipe-tipe cewek-cewek tegaan?

Pada akhirnya, kami berdua hanya bisa menghela nafas panjang meratapi nasib kami.

—::::—

Selesai berganti baju, dengan Minjun sebagai supirnya, kami berdua berangkat menuju tempat yang dimaksud Minjun. Masalahnya mobilnya sendiri kami menyewa mobil salah satu penduduk yang sudah berbaik hati meminjamkan mobilnya untuk kami pakai jalan-jalan di Jeju. Walaupun tidak dengan gratis.

Suasana di mobil hening. Minjun tak berkata apapun ia hanya fokus pada menyetir. Begitupula denganku, aku sibuk main angry bird di ponselku. Nggak menang-menang nih, ini babi sialan susah banget matinya!

“hei.. Nana-ssi..” tiba-iba, Minjun memanggilku. AKu cukup heran kenapa dia tetap saja memanggilku dengan embel-embel ssi padahal kami sudah cukup dekat, sangat malah setelah adanya semua ini.

wae?” kualihkan perhatianku dari angry bird dan babi-babi sial ini.

“Kalau ternyata aku menang dalam permainan ini, kau harus menuruti semua perkataanku. Begitu pula sebaliknya. Bagaimana?” usulnya tiba-tiba. Kalau ia tidak meminta yang aneh-aneh mungkin aku akan menyetujui usulannya itu.

“permintaan seperti apa?”

“yah, pokoknya lihat saja nanti” seolah tuan ini ingin membuatku penasaran. Dasar kurang ajar.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di café yang dimaksud oleh Namgyu. Aku bisa melihat Namgyu sedang asyik bercanda dengan Mir. Sesekali, kulihat Mir mencium kening Namgyu. Aku malah panas melihat kelakuan mereka.

“humph, mari kita lihat siapa yang lebih mesra” gumam Minjun seraya merangkul pinggangku. Aku kaget sekali ketika ia melakukannya. Kurasa dia benar-benar bertekad untuk menang. Kalau begitu, aku juga tak mau kalah darinya. Kubalas rangkulannya.

Kami berdua masuk ke dalam café itu dan langsung menghampiri Namgyu dan Mir yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri. Bahkan setelah kami datang pun, mereka masih saja asyik sendiri. Jadi sebenarnya kami kemari untuk apa? Jangan-jangan keberadaanku dan Minjun malah dianggap setan oleh mereka berdua.

Sudah 5 menit kami berdiri di hadapan mereka, dan tak ada satupun dari mereka yang menyadarinya. Miris.

Sampai akhirnya, Minjun berdehem untuk menghentikan aksi mesra-mesraan aneh mereka berdua. Dan ternyata berhasil. Mereka berdua menoleh dan tersenyum senang melihat kami. Dan yang kulakukan hanya memberikan senyuman miris. Ini sangat berlainan.

Kami duduk di hadapan mereka. Suasana hening tanpa ada yang memulai pembicaraan. Pada akhirnya, akulah yang membuka pembicaraan. Salah satu caraku supaya aku tidak kalah dari tuan Minjun.

“jadi.. apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Yang kenyataannya aku ingin muntah melihat Mir memeluk erat Namgyu seolah-olah Namgyu adalah gulingnya. Guling, perumpaman yang sangat bagus mengingat Mir selalu bilang ia tidak bisa tanpa memeluk guling. An namgyu cocok emnjadi guling Mir. Hanya saja di badannya tidak ada bekas iler Mir.

“Aku mau melakukan apapun asal dengan Mir” hoek, cuih. Gombalan macam apa itu? Norak sekali.

“Aku juga mau melakukan apapun asalkan bersama dengan Namgyuku tersayang” ikut Mir. Hoeeekkkk…. Biarkan aku muntah disini sekarang juga. Kalau perlu, biarkan aku muntah di baju Mir. Aku tak tahan melihat aksi sok sweet mereka. Kulirik Minjun, seharusnya dia mengatakan sesuatu. Masa dia mau membiarkanku mengatasi semua ini sendirian.

Wajah Minjun, tanpa ekspresi. Bahkan, ketika aku lebih memperhatikannya, kulihat wajahnya mulai merah padam menahan amarah. Hei, kenapa kau harus marah? Wajar toh, kalau mereka melakukan aksi-aksi sok mesra begini. Mereka pacaran, dan statusmu hanya mantan, tidak lebih.

“kontrol ekspresimu, kau jangan mudah emosi di saat seperti ini. Justru ini kesempatan kita untuk membuktikan pada mereka bahwa kita lebih mesra” bisikku pelan padanya. Ia hanya mengangguk pelan walau masih saja menatap pasangan bodoh itu dengan tatapan tidak bersahabat. Kesal, kutendang kakinya hingga ia mengaduh keras. Huh, setelh kubeginikan baru nurut dia.

Dan perhatian pasangan bodoh itupun teralihkan berkat teriakan kesakitan Minjun. Haha, bagus. Dengan cepat, kupeluk Minjun mesra. Pertamanya, Minjun kaget dengan tindakanku yang begitu tiba-tiba. Tapi pada akhirnya, ia menanggapinya dengan senyuman manis plus elusan mesra pada kepalaku.

Walaupun elusan mesra itu kalau dilihat sangatlah mesra dan membuat orang iri melihatnya, bagiku tidak. Dia kira aku anjing apa, pake dielus-elus??!! Andai saja tidak ada pasangan bodoh ini, sudah kutendang dia ke langit. Aku lebih memilih dia balas memelukku daripada dielus-elus layaknya anjing begini. Akhirnya, yang kulakukan mencubit kecil perut Minjun sambil membisikkan sesuatu, “jangan pernah elus-elus kepalaku. Memangnya aku anjing?!”

“ups, mianhaeyo jagiya” ujar Minjun dengan nada sok mesranya yang malah membuatku ingin menahan kentut, eh salah maksudku menahan tawa.

Namgyu melihat kami dengan tatapan lembut yang sudah jelas tak bisa kulakukan sambil berkata, “jadi.. sudah berapa lama kalian pacaran?”

“satu bulan”

“tiga tahun”

Tanpa sadar, kami berdua menjawabnya secara bersamaan. Sialnya, jawaban kami sungguh sangat berbeda. Masih mending kalau jawabannya beda 1-2 minggu masih bisa dikompromi. Tapi ini apaa???!!!! 1 bulan dengan 3 tahun itu beda jauh bangeet!! Lagian juga, kenapa Minjun harus jawab 3 tahun? Kayak aku betah aja 3 tahun pacaran sama makhluk aneh ini!!

Pasangan bodoh ini langsung memerhatikan kami dengan ekspresi-ekspresi heran. Gimana nggak heran, jawaban kelewat beda begitu siapa yang nggak bakal heran? Mampuslah, mereka pasti akan segera mengetahui bahwa kami hanyalah pasangan palsu.

“kalian.. putus nyambung?” eh? Aku kaget sekali ketika mendengar pertanyaan Namgyu. Aku sama sekali nggak bakal ngira bahwa ia masih saja bisa tertipu dengan ucapan kami. Atau jangan-jangan dia bodoh? Anak TK aja pasti bakalan tahu kalau kami hanyalah pasangan palsu dari jawaban kami barusan! Tapi kenapa dia…. Aneh. Ini apa aku yang gila atau dia yang emang kelewat bodoh?

Tapi ini kesempatan baik. Aku jadi punya alasan baru untuk menutupi kesalahan bodoh kami.

Aku tersenyum padanya sembari berkata, “yah sebenarnya kami sudah 3 tahun pacaran sebelumnya, lalu karena ketidak cocokan, kami putus. Kami baru saja jadian lagi sebulan yang lalu” jelasku mencoba untuk menerangkan semuanya agar bisa menjadi logis. Minjun yang duduk di sebelahku hanya bisa manggut-manggut sambil senyum bego.

“berarti lamaan kita dong ya” seru Namgyu sambil merangkul Mir.

“kita udah 3 tahun setengah pacaran” ujar Namgyu dengan bangga. Yah, dan itu berarti sudah 3 tahun setengah sejak Mir mengkhianatiku. Kutatap Mir, ia tidak seperti namgyu. Ia menatap kami dengan pandangan curiga. Mir memang pintar. Ia pasti sudah tahu kalau kami Cuma pasangan palsu.

—::::—

Dua jam sudah kami menghabiskan waktu bersama pasangan bodoh itu. Minjun serta Namgyu yang paling banyak bicara. Terutama tentang nostalgia-nostalgia manis mereka. Sedangkan aku hanya bisa duduk diam sambil menatap Mir dengan tatapan kosong, begitu pula dengan Mir. Sebenarnya sih Cuma aku doang, tapi biar lebih kerasa dramanya gitu kutambahin aja Mir (ini apa).

Minjun hendak membawaku kembali masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya Mir memanggilku. Aku menoleh menatapnya. Ia menatapku dengan ekspresi dingin, benar-benar tak bersahabat. Tanpa sadar, kucengkram lengan Minjun.

“Nana-ya, boleh aku bicara padamu sebentar?” Tanya Mir dengan nada yang dingin. Aku menelan ludah, baguslah. Aku bakalan mati disini sekarang juga. Kulirik Minjun sekilas. Ia memberikan tatapan yang mengatakan supaya aku pergi saja. Kutatap Mir lagi. Sambil mendesah pelan, aku berkata, “baiklah”.

Mir tersenyum dingin. Kemudian, ia membawaku ke tempat yang lebih sepi setelah meminta Namgyu untuk menunggu.

“apa maumu?” tanyaku langsung ketika ia berhenti di tempat yang dirasanya sudah sepi.

“Nana-ya..” ia memanggil namaku dengan lirih. Tatapan yang tadinya dingin itu berubah menjadi tatapan lemah lembut seperti layaknya anak kucing yang tersesat. Ia membelai rambutku pelan kemudian tersenyum lembut. Apa maunya?

“maafkan aku, aku telah.. salah” ucapnya lagi dengan nada penyesalan yang amat mendalam. Salah untuk apa?

“aku salah telah meninggalkanmu. Seharusnya aku lebih memilihmu ketimbang Namgyu. Namgyu itu tukang selingkuh. Aku sampai tidak bisa menghitung berapa kali ia telah menyelingkuhiku dalam 3 tahun setengah ini. Aku sangat menyesal” jelasnya. Yah, apa kau tidak sadar kau juga telah menyelingkuhiku? Lihat dulu perbuatanmu di masa lalu!

Rasanya ingin kutendang dia sampai ke langit. Kalau perlu, sampai bayangannya jadi seperti bintang kayak yang di kartun itu lho.

“Aku juga tahu kau hanya pura-pura pacaran dengan lelaki bernama Minjun itu. Aku tahu segalanya tentang kau, Nana-ya.. aku tahu kau tidak mungkin berpindah hati secepat itu” sok tahu sekali dia. Walaupun perkataannya memang benar. Dan mengenai firasatku barusan, hal itu memang betul-betul terjadi. Ia mengetahui bahwa Minjun hanya pacar pura-puraku.

“lalu kau mau apa?” akhirnya aku buka suara. Mir tersenyum. Ia menggenggam tanganku erat kemudian berkata, “aku ingin kita pacaran lagi” ogaaahhh…… aku sudah terlanjur sakit hati gara-gara perbuatanmu itu. Masa aku harus dengan mudahnya pacaran denganmu lagi? Gak sudi!

“males ah” jawabku singkat padat dan jelas. Mir langsung syok ketika aku mengatakan hal itu. Haha, aku menang sekarang Mir-ah. Memangnya enak ditolak?

“ke… kenapa? Kukira kau menyukaiku” hoek, cuih. Pede amat. Memangnya siapa yang bakal menyukaimu itu? Orang utan aja ogah.

“mungkin perkataanmu tadi itu benar. Aku tidak dapat dengan mudah berpindah ke lain hati. Tapi kejadian pahit itu sudah lama berlalu, kan? Tentu saja sekarang aku telah berpindah, aku hanya menyukai Kim Minjun”

Kemudian hening.

Hening. Ya benar-benar hening. Aku sendiri tak tahu apa yang baru saja aku katakan. Sedangkan Mir masih syok dengan pengakuan anehku itu. Ini apa banget!!!!! Kenapa aku bilang padanya bahwa aku menyukai Kim Minjun!!! Najisss, ogaaah, nggak mau, mamaaaaaa !!!!!!! Apa yang telah kau lakukan mulut sialan?!! Kenapa kau mengatakan hal-hal gila di saat seperti ini!!!! Dan kau otak sial, kenapa kau tega amat menyuruh mulut melakukan hal nggak wajar begini!!! Kenapa aku harus bilang bahwa aku menyukai tuan aneh itu!!! Apa salahku padamu, tuhan???!!!!

“a… aku pergi dulu. Minjun menungguku” dengan cepat, kuakhiri percakapan yang endingnya aneh begini. Mungkin kalau di sinetron-sinetron jaman sekarang, ending begitu tuh udah keren banget. Tapi…… kalau dia beneran suka sama orang yang disebut. Lah aku??? Suka aja nggak!! Yang ada mah jengkel!

Aku meninggalkan Mir dan segera berlari menuju arah Minjun. Kulihat ia sudah berada di dalam mobil dengan tangannya melambai ke arahku. Kubalas lambaian tangannya dan segera masuk ke mobil secepat yang aku bisa. Hilang sudah mukaku!!! Grrr.. ini semua gara-gara tuan aneh di sebelahku!!!! Kenapa bahkan, di saat kau tak ada, kau selalu saja membuat hidupku begitu kacau???!!!

waeyo? Ada yang aneh dengan mukaku?” tanyanya setelah merasa dirinya diperhatikan. Aneh? Banyak banget hal aneh yang ada di wajahmu sampai-sampai aku tak tahu harus mulai dari mana!!! Nggak Cuma muka, bahkan semua tindakanmu itu aneh semua. Kau juga dengan tega merusak singkronasisasi otakku dengan bagian tubuhku yang lain.

Tapi, aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil memfokuskan diri pada jalanan lagi.

“hei, kau masih ingat taruhan kita tadi?” tiba-tiba, Minjun membuka obrolan. Aku mengangguk lemah. Ya, taruhan aneh bin nggak penting itu. Aku nggak bakalan lupa taruhan aneh begitu.

“kau tahu kan siapa yang menang hanya dari melihatnya saja?” lanjutnya. Ya, ya. Aku tahu kalau kau yang menang. Silahkan saja berbuat sesukamu aku tak akan peduli. Aku tak akan pernah peduli. Menjauhlah dari pikiranku sekarang, Kim Minjun. Kenapa kau masih berkeliaran di otakku dan membuat kerja otakku menurun hanya karenamu.

“aku tahu kau yang menang. Jadi, cepat sebutkan perminataanmu” ujarku malas. Kusenderkan badanku ke jok mobil sambil tetap memandangi pemandangan luar. Aku tidak ada minat sama sekali untuk melihat wajah Minjun.

“baiklah, kalau begitu aku mau permintaan ini dilakukan ketika kita sudah sampai di hotel” ujarnya dengan semangat.

“cepatlah, kau mau apa?”

“aku mau… kau menciumku”

Krrikk.. krrriiikk.. krriiik….

Tak berapa lama, HEEEEHHH???!!!! Ciuman???!!! Kau bercanda, Kim Minjun!!!!

TBC

About these ads

8 thoughts on “[FF G] Another Girl (Part 4)

  1. haahha XD
    ni ff konyol skli, da konflik tpi author bwainx ttp asik. pke bahasa yg bkin ngakak.hahhaha XD

    good job, thor. lanjuuuuut ^O^

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s