[Oneshot] Love Is…..


SELAMAT, PILIHAN ANDA TEPAT TELAH MEMBUKA FICLET INI! KARENA FICLET INI SAYA DEDIKASIKAN KHUSUS UNTUK ANDA! Happy reading J

Author : Nay

Title : Love is…

Casts : YOU & Bias (Whoever your Bias(es))

Count Words : 1.068 words

  “Mencintai seseorang itu tidak mudah, butuh keberanian. Kau harus berani berharap, tapi kau juga harus berani menghadapi kenyataan. Bahkan, kau harus berani terjatuh ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapanmu.”

Kamu mendengus pelan, hampir merasa putus asa menghadapi namja dihadapanmu yang justru memasang eye-smile andalannya. Kamu berusaha tidak peduli dan justru membereskan meja-mu, karena sebentar lagi bel pulang berdering. “Yah! Kembali ke tempat dudukmu sana!” usirmu pada Bias.

Bias menggeleng, “Aniya,” tolaknya, “Jadi, intinya.. Menurutmu apa itu Cinta?” Sial, dia memulai lagi! Rutukmu dalam hati. Karena sejak jam terakhir ini, dia terus merecokimu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol mengenai Cinta.

“Kan sudah kubilang, Cinta, ya, Cinta. Sudahlah, aku sudah bosan membahas hal bodoh ini!” tukasmu.

Bias terkekeh kecil, “Oke, menurutmu Cinta adalah hal bodoh, hm?” katanya mengulang pernyataanmu.

“Whatever..”

“Lalu bagaimana dengan—“

Kriiiiinggg.. Kamu bersyukur dalam hati ketika bel pulang menyelamatkanmu dari namja yang—sepertinya bercita-cita menjadi wartawan ini. Dengan cepat kamu menyambar tas ranselmu dan meninggalkannya yang terus meneriaki namamu agar kamu menunggunya. Tapi tentu saja kamu tidak peduli.

_______

“Hei..” sapa seseorang yang kini tengah mensejajari langkahmu. Kamu menoleh, sedikit mendongak karena tubuhnya lebih tinggi beberapa centi darimu. Matamu menyipit dan alismu saling bertautan. Sedetik kemudian kamu membuang muka, kembali menatap lurus kedepan. Enggan dengan namja disisimu. Bias. “Akhirnya aku menemukanmu..” ujar Bias berlebihan, tapi kamu tidak menanggapi. Karena semakin ditanggapi, Bias justru senang dan semakin giat mengganggumu. “Hey, ayo kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi,”

“Aniya,”

“Ayolah, aku hanya ingin tahu apa itu Cinta dari sudut pandang yeoja.” bujuk Bias, “Bantu aku,”

Kamu mendelik kearahnya, “Kenapa harus aku? Kan banyak yeoja lain.” sahutmu,

“Aku tidak mau!” “Karena kau-lah satu-satunya yeoja yang dekat denganku..”

Hatimu berdesir. Berdesir perih. Jadi hanya karena itu? Pikirmu. Kamu menghentikan langkahmu, membuat langkah Bias ikut terhenti. Kamu terdiam sejenak. Kemudian setelah menghela nafas panjang kamu berkata, “Oke, apa yang mau kau tahu?” Kamu kembali melanjutkan langkahmu, menunggu Bias melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.

“Apa itu Cinta?”

“Cinta.” ulangmu—berpikir, “Cinta itu tidak dapat didefinisikan. Tidak dapat dijabarkan, dan tidak dapat dipelajari, ditelusuri ataupun dianalisis. Cinta, ya, Cinta.” jelasmu. Ragu.

Bias menganggukkan kepalanya, “Hmm, kau pernah jatuh cinta?” tanyanya lagi.

Kamu tersenyum, “Aniya.”

“Tidak?!” ulang Bias terkejut.

Kamu mengangguk.

“Bagaimana bisa?? Apa kau dapat mengendalikan Cinta?”

Kamu menggeleng.

“Yah! Jawab!!”

“Hm..?” gumammu, “Aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Jadi, sampai sekarangpun aku menganggap aku tidak pernah jatuh cinta. Karena..aku memang tidak tahu bagaimana rasanya.” jelasmu jujur.

“Babo!” Bias mengetuk kepalamu, membuatmu meringis. “Itu artinya bukan tidak pernah. Tapi kau memang ‘belum’ menyadarinya.” jelas Bias.

Kamu mengerucutkan bibirmu, “Sepertinya kau yang lebih tahu tentang Cinta daripada aku. Lalu mengapa berusaha mati-matian minta pendapatku, hm??” sindirmu.

Bias menggaruk rambutnya, memasang tampang berpikir, “Benar juga,” gumamnya, “Ah, sini!” Bias menarik tanganmu hingga kalian berdua berhenti melangkah.

Kamu dan Bias bertatapan, “Mau apa?” tanyamu waspada.

“Biar kuajari bagaimana rasanya jatuh cinta.”

“Mwoga?”

“Tatap mataku!” suruh Bias tanpa peduli pada pertanyaanmu. Kamu menurut. Menatap mata Bias yang seolah tersenyum padamu. Ada sesuatu dimatanya yang membuatmu tidak mampu berkedip. Seolah magnet yang menarik tatapanmu menjadi dalam dan semakin dalam. “Jika kau jatuh cinta padaku, saat menatap mataku, akan ada yang berdesir dihatimu.”

Perkataan Bias seolah menyadarkanmu dari tatapan matanya yang seperti hipnotis. Seketika itu juga kamu menunduk. Menenangkan hatimu yang tidak karuan. Inikah yang dinamakan berdesir?? Dan mengapa kamu merasa jantungmu berdetak begitu cepat dan keras?

“Selain itu, jantungmu juga akan berdebar-debar..”

Tanpa sadar kamu menyentuh dadamu dibagian jantung. Dan memang benar, debar jantungmu tidak beraturan. Kamu menekannya, takut kalau Bias akan mendengar debaran itu.

“Dan…” Bias menggantungkan kalimatnya. Ia meraih dagumu, menengadahkan wajahmu agar mata kalian bertemu. Deg.. Deg.. Deg.. Jantungmu makin tidak terkendali. “…Wajahmu akan merona seperti ini jika kau memang jatuh cinta padaku.” lanjutnya sambil tersenyum.

Sial! Kamu terus merutuk dalam hati agar situasi ini cepat berakhir. “Lepas!” kamu menepis tangan Bias yang masih mengunci wajahmu, tapi dia justru menangkap tanganmu.

Ia menggenggam telapakmu, “Telapak tanganmu akan berkeringat dingin seperti ini, jika kau mencintaiku.”

“Stop!” kamu melepaskan genggamannya, “Aku mau pulang!” kamu berbalik, berjalan cepat agar Bias tidak sempat mencegahmu. Tanpa kamu tahu, Bias tersenyum penuh arti disana.

“Tunggu aku..!” teriak Bias kemudian berlari, sampai langkah kalian kembali sejajar. “Hey, kau ini belum paham apa yang aku jelaskan tadi, atau memang tidak mau mengaku??”

“Apa?” tanyamu acuh.

“Cinta.”

“Jangan bahas itu lagi,”

“Tapi…”

“Baiklah,” kamu menyerah. Kamu menghentikan langkahmu karena ternyata kalian sudah sampai didepan rumahmu. Kamu mengubah posisimu menjadi menghadap Bias, “Mencintai seseorang itu tidak mudah.” katamu memulai.

“Maksudmu?”

“Mencintai seseorang itu butuh keberanian, kau tahu?” katamu lagi.

“Yah! Bicaralah yang jelas!!”

“Kau harus berani berharap, tapi kau juga harus berani menghadapi kenyataan. Bahkan, kau harus berani terjatuh ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapanmu.” jelasmu,“Jujur, aku salut pada Mereka yang berani mencintai.” lanjutmu menyudahi, “Sudah, ya, aku masuk. Annyeong!” Kamu membuka pagar rumahmu, masuk.

Tapi Bias tidak bergeming. Ia terpaku ditempat. Pandangannya kosong, tapi didetik selanjutnya ia tersenyum. “Berarti kau salut padaku?” katanya.

Kamu menghentikan gerakanmu yang tengah mengunci pagar,“Maksudmu?”

Bias menoleh, hingga kalian berhadapan. Hanya dipisahkan oleh sebuah pagar yang tingginya tidak lebih dari bahu Bias. “Karena aku mencintai seseorang. Seseorang yang bahkan tidak mau—atau lebih tepatnya tidak mengaku—mencintai, hanya karena ia tidak memiliki keberanian.”

“Yah! Jangan berbelit-belit!” bentakmu.

Bias tersenyum, “Saranghae..”

Deg.. Kamu diam seketika. Menatapnya, mencari kebenaran dimata itu. Tapi yang terjadi adalah, hatimu berdesir, detak jantungmu menjadi lebih cepat dan tanganmu berkeringat dingin.

“Wajahmu memerah,” ujar Bias.

Kamu menelan ludah ketika Bias menggapai tanganmu yang masih berada dipagar.

“Jadilah yeojaku..”

Cinta. Inikah Cinta? Inikah Mencintai? Dan.. Dicintai?

“Jangan takut untuk mencintaiku. Aku akan berusaha membuat semua harapanmu menjadi nyata.”

“…Aku tidak akan membuatmu terjatuh. Aku akan membagi keberanianku denganmu.”

Bias melepaskan genggamannya, membuka pagar dan berdiri dihadapanmu. Ia menarik kepalamu hingga menempel kedadanya, “Dengarlah.. Detak jantung ini, begitu cepat ketika aku bersamamu..”

“So, naui yeojachingu ga dwaeojullae??” Kamu tidak dapat memikirkan apapun. Bahkan kamu tidak mampu mendengar suara apapun selain suara Bias dan detak jantungnya yang terdengar begitu nyaring ditelingamu. Entah atas dorongan apa, beberapa detik selanjutnya kamu menganggukkan kepalamu samar, namun masih dapat dirasakan oleh Bias sehingga ia tersenyum dan mengecup puncak kepalamu cukup lama. Seolah tidak mau memberikan waktu untukmu untuk mencerna semua ini, ia semakin erat mendekapmu, seakan takut kau akan pergi.

“Seperti inikah rasanya Cinta, Mencintai dan Dicintai?” kamu memberanikan diri untuk bersuara.

“Ye. Ah, tidak! Ini baru awal dari kisah kita, jagi..” katanya, “Selanjutnya, akan aku tunjukkan apa itu Cinta yang sebenarnya…”

E.N.D

Halo, Readers-ku yang paling The Best! Ahahah Ficlet ini khusus aku tujukan untuk kalian. Bener-bener special untuk kalian. Terimakasih karena udah jadi Readers aku. Terimakasih karena udah menghargai FF-FF aku yang selama ini aku tag (bahkan yg gak di-tag). Maaf gak bisa kasih apa-apa. Seandainya aku bisa ciumin (bias) kalian satu-satu, pasti aku lakuin, tapi sayang kita dipisahkan oleh jarak #halah! Ahahha Aku cuma berharap kalian akan suka sama Ficlet sederhana yang jauuuuh dari kata sempurna ini. Sekali lagi, terimakasih J

9 thoughts on “[Oneshot] Love Is…..

  1. “Mencintai seseorang itu tidak mudah, butuh keberanian. Kau harus berani berharap, tapi kau juga harus berani menghadapi kenyataan. Bahkan, kau harus berani terjatuh ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapanmu.”-Nay
    dapet 2 jempol dari aku eon, keren. Sampe senyum-senyum sendiri. Kyaa!! \^^/

  2. Kata2 nya nyentuh loh dan ada bener nya juga
    ini ff paling the best ke – 2 setelah ff buatan kakak ku *curhat
    oke aku gak banyak bacot
    cuma mau bilang

    DAEEEEEEEEEBBBBBBBAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!

    Keep Writing sering-sering update yah!!!

    izin copy dikit kata-kata nya

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s