[Chaptered] Perfect Marriage (Part 3-END)


Author : brightcloudshofi

Title : Perfect Marriage part 3 of 3 (END)

Main Cast : Siwon (suju), Yuri (snsd)

Other Cast : Sooyoung (snsd), Tiffany (snsd), Nickhun (2pm)

Genre : Romance

Ratting : PG 15

Length : Series

Disclaimer : The story is mine. The character is belong to God and themselves. OC for parents and another support cast.

Cover by : Hannie@fanfictionloverz.wordpress.com

Summary : Pernikahan yang sempurna adalah impian semua orang. Pesta yang meriah, dekorasi yang kau inginkan, wedding cake yang kau suka, dan keluarga serta teman yang menyaksikan. Tapi diantara semuanya yang paling membuat semua itu sempurna adalah keberadaan orang yang kau cintai untuk mengucap janji setia bersama. Yuri dan Siwon kini dihadapkan pada upacara yang akan mengikat keduanya menjadi sepasang suami-istri. Tapi akankah pernikahan mereka berjalan sempurna seperti apa yang mereka inginkan? Atau malah justru kesempurnaan itu akan dicapai jika mereka berdua berpisah dan memilih pasangan masing-masing yang berbeda? The husband and wife is not just like perfect couple for others sight, right?

Sequel dari Perfect Couple.

 

A/N     : Annyeooooooong ada yang merindukan FF ini??? ^^ (reader:krik..krikk..kriik..) hehehe… mian baru bisa publish next part nya sekarang, sebulan kemaren aku sibuk ngurusin SNMPTN siih, jadi baru sempet ngelanjutin pas liburan ini ^^v #curcoldikit

Pas mau bikin lanjutannya, tiba-tiba aja aku kehilangan feel di FF ini loh, bener-bener buntu mau lanjutin kayak gimana, ide yang udah kebayang hampir sebulan lalu ngilang gitu aja T.T hikss.. saya ngerasa gagal jadi author. *pundungdijalanan

Tapi pas baca comment2 reader ––yang rata-rata pada nagih next part, tanggung jawab sebagai author memenuhi otak saya. Khekhekhe… alhasil dengan kerja keras banting tulang sampai titik darah penghabisan (Plak! Ini berlebihan) akhirnya bisa juga selesain FF ini. Yeeaaaayyy!!! >.<

ThanKYU so much buat para reader dari yang selalu ngasih komen dan ngikutin cerita ini –-bahkan dari awal banget perfect couple O.O–– sampe reader baru yang baru mulai membaca FF ini. I LOPE YU PUL :* kisses XD

Buat yang belum tahu mungkin? Atau yang belum membaca perfect couple, aku mau ngasih penjelasan sedikit buat kalian, jadi Siwon, Yuri, Tiffany itu seumuran, kalau Nickhun lebih tua 2 tahun dari mereka. Yuri, Tiffany, Nickhun itu satu sekolah pas mereka SMP, sedangkan Siwon satu sekolah sama Yuri pas di SMA. Yuri sama Siwon pacaran mulai sejak SMA, tapi sebenernya Yuri itu first love-nya Siwon waktu dia masih TK. Kira-kira begitulah, kalo masih ada yang bingung tanyain aja ya? 😀

Okay, have fun reading…. 😀  give me your comment after, deal?

Warning! Total words is 20k+. Just an advice, it’s better to read this when you’re free. 🙂

 

Preview Part 2…

“Lihat saja dirimu yang sekarang. Belum menikah saja kau sudah sering membatalkan janjimu. Setiap hari kau tak pernah lepas dari pekerjaan. Panggilan teleponku pun sering tidak kau angkat. Kita jarang bertemu dan sekalinya bertemu selalu berakhir dengan bertengkar. Masalahnya selalu hal yang sama. Apa kau sadar kau telah berubah? kau bukan lagi Siwon yang kukenal dulu.”

“Se-sebenarnya apa maksud dari pembicaraan ini Yuri?” tanya Siwon yang kini melemah.

“Aku tidak butuh suami yang selalu mementingkan pekerjaannya. Aku mau namja yang menjadi ayah dari anak-anakku nanti selalu memperhatikan keluarganya dengan baik” Yuri berdiri dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Siwon sendirian. Siwon masih terpaku dengan perkataan tunangannya barusan. ‘Apa maksudnya? Ia tidak mungkin serius kan?

~Perfect Marriage~

Yuri kini sampai di rumahnya. Sebenarnya tadi Siwon sempat mengejar bahkan mencegat taksi yang Yuri tumpangi untuk mencegahnya pergi, tapi sayang Yuri sudah terlanjur kesal dan akhirnya dengan terpaksa Siwon membiarkannya pergi sendiri. Siwon pun juga tahu jika dalam kondisi seperti itu, Yuri tidak akan bisa diajak bicara. Ia hanya bisa pasrah sampai Yuri bisa menenangkan emosinya.

Yuri membanting tubuhnya ke kasur setelah sebelumnya membanting pintu kamarnya dengan keras ––hingga mengagetkan beberapa pelayannya–. Tas dan jaket yang Ia kenakan tadi, Ia lempar begitu saja ke lantai. Yuri memukul-mukul bantal dan guling yang berada di atas ranjangnya. Dirinya dipenuhi oleh amarah yang tak terbendung. Tak puas dengan hanya memukul bantal, kini Ia melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatnya dengan kasar. Para pelayan yang mendengar suara gaduh dalam kamar Yuri merasa sempat khawatir.

“Nona Yuri, apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pelayan setelah sebelumnya mengetuk pintu kamar Yuri.

Ne, Aku tidak apa-apa. Sudah jangan pedulikan aku, kau teruskan saja pekerjaanmu” jawab Yuri dari dalam. Pelayannya pun hanya bisa menurut dan membiarkan nona mudanya itu berbuat sesuka hatinya. Setelah mendengar derap langkah kaki yang menjauh, Yuri meneruskan kegiatannya –melempar barang– yang tadi sempat tertunda. Kini hanya tertinggal 1 barang yang tersisa di meja kecil samping tempat tidurnya, yaitu sebuah bingkai dengan foto pertunangan dirinya dan Siwon di dalamnya. Saat Yuri mengambil satu-satunya pigura yang masih tersisa di mejanya dan mencoba untuk melemparnya, tiba-tiba Ia mengurungkan niatnya. Yuri menatap pigura itu lama. Kesal. Rasanya masih ada kemarahan di dirinya saat Ia melihat sosok Siwon dalam pigura itu. Tapi entah kenapa untuk membuang foto itu ke lantai, Yuri menjadi tidak tega.

“Huh! Dasar Siwon bodoooh!” makinya sambil menaruh pigura foto itu lagi di meja tapi kini dalam kondisi terbalik. Yuri membenamkan wajahnya ke bantal dan menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Karena kelelahan, akhirnya Yuri pun tertidur. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan melupakan emosinya sejenak. Dan juga melupakan kondisi kamarnya yang kini seperti kapal pecah ––yang sudah pasti akan membuat para pelayannya akan bekerja lebih extra daripada biasanya besok––.

 

#flashback

Setelah menunggu cukup lama untuk lulus dari SD, akhirnya dengan penuh keceriaan Yuri berhasil menjejakan kakinya ke Shinwa Junior High School. Untuk pertama kali dalam hidupnya Ia mengenakan seragam sekolah yang sama dengan murid lain dan belajar tidak sendirian lagi. Dengan harapan dapat menemui namja yang selama ini Ia cari dan juga mendapatkan banyak teman, Yuri memberanikan dirinya masuk ke Shinwa Junior High School. Ternyata sekolah ini pun bisa dibilang tidak biasa, selain sekolahnya yang bertaraf internasional, sekolah ini hanya menerima murid-murid yang berkualitas saja. Selain kaya ––karena biaya sekolah yang sangat mahal–– kau juga harus pandai dan mempunyai keterampilan. Karena itulah Yuri bersungguh-sungguh saat ujian masuk berlangsung. Ia berusaha semaksimal mungkin agar dapat masuk, tidak bisa jika hanya mengandalkan ‘kekuatan’ appa-nya. Beruntung, Yuri lolos semua seleksi masuk dan akhirnya Ia bisa bersekolah di sekolah yang selama ini Ia incar.

Hari pertama masuk, mungkin belum meninggalkan kesan yang cukup baik untuk Yuri. Kebiasaannya ‘sekolah sendirian’ membuatnya agak sulit untuk bersosialisasi dengan yang lainnya. Ia masih malu untuk ikut bergabung dan berkenalan, walaupun dengan teman sebayanya sendiri. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama setelah Tiffany mengajaknya berkenalan. Karena sifat Tiffany ––yeoja pertama yang menjadi temannya–– yang sangat ramah dan friendly pada siapa saja, membuat Yuri sedikit demi sedikit membuka dirinya dan berteman ke lebih banyak orang. Seiring dengan berjalannya waktu, Yuri dan Tiffany menjadi semakin dekat, bahkan menjadi sahabat. Mereka berdua sering menghabiskan waktu dan bermain bersama di dalam dan luar sekolah.

Kedekatannya dengan Tiffany, tak lantas membuat Yuri lupa akan salah satu alasannya bersekolah disini. Selama lebih dari sebulan Ia bersekolah, Yuri selalu menyempatkan diri memperhatikan setiap senior yang mirip dengan namja yang pernah Ia temui itu. Setiap ada kesempatan, Yuri mencuri-curi pandang pada sekelompok namja yang merupakan seniornya dari kejauhan. Hampir setiap pulang sekolahpun Yuri menyempatkan diri pergi ke lapangan untuk melihat para senior yang sedang bermain bola. Tiffany yang merupakan teman baiknya, tentu saja ikut mendukung Yuri dalam ‘misi mencari stranger namja’ yang dimaksud sahabatnya itu. Tapi sejauh ini hasilnya nol besar.

“Hhhh… mungkin aku sudah gila karena berpikir akan menemukannya dengan mudah. Harusnya aku sadar kalau jumlah namja di sekolah ini tidak sedikit. Mungkin saja Ia sudah lulus dari sekolah ini, atau mungkin Ia pindah dari sekolah ini. Aku kan tidak tahu pasti umurnya berapa. Apa aku kelihatan bodoh Fan?” tanya Yuri pada Tiffany sambil menyesap jus jeruk di tangannya. Kini mereka berdua sedang duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan.

“Ahahaha…. Apa kau baru sadar kau bodoh?” ledek Tiffany sambil menyiku lengan sahabatnya itu.

“Ya! aku serius Fany-ah”

“Ahaha… baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda, tak perlu sewot begitu Yuri” Tiffany menghentikan tawanya dan meminum diet coke yang tadi dibawanya. Ia sangat tahu kalau Yuri akan marah jika Ia meledek kenangan masa kecilnya itu. “Hmm…. Selama ini aku terus membantumu mencari informasi, menemanimu keliling-keliling, dan mengenalkanmu pada para sunbae yang ku kenal, semua itu kulakukan karena dirimu”

“Iya-iya aku tahu aku telah menyusahkanmu… maafkan aku…”

“Bukan begitu maksudku Yuri, aku tak keberatan kok melakukan ini. Selain karena kau adalah temanku, sebenarnya aku juga tertarik dengan ceritamu itu. Aku benar-benar penasaran dengan sosok namja yang selama ini kau ceritakan padaku. Seperti apa sih rupa namja yang telah merubah Kwon Yuri yang tadinya kalem menjadi blak-blakan, bahkan galak seperti sekarang ini, eoh?”

“Eiihh.. kau ini… ujung-ujungnya kau tetap saja meledekku” Yuri mem-pout-kan bibirnya yang membuat Tiffany terkekeh pelan. Yuri menyandarkan punggunggnya pada sandaran bangku, kepalanya menengadah menatap langit sore di hadapan mereka. “Kau kan juga tahu, Ia bukan hanya merubah sifatku, tapi lebih dari itu. Kalau aku tak bertemu dengannya, mungkin aku masih jadi gadis kecil penurut yang kesepian, mungkin orangtuaku masih akan terus mengabaikanku, mungkin aku tak akan pernah mempunyai banyak teman seperti sekarang dan aku tak akan pernah sekolah disini lalu bertemu denganmu” ucap Yuri sambil mengingat kejadian-kejadian yang telah Ia alami di setiap kata-katanya.

“Lalu misalkan kau bertemu dengannya apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan….” Yuri tiba-tiba bingung mau berkata apa. Selama ini yang Ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar menemukan ‘dia’ dan baru kali ini Yuri memikirkan pertanyaan Tiffany barusan. “Aku… Ng…”

“Apa?”tanya Tiffany tidak sabaran.

“Aku hanya mau berterima kasih padanya” hanya jawaban itulah yang dirasa pas untuk Yuri utarakan.

“Hanya itu saja?”

“Memang apa lagi?”

“Ah, kau ini tidak seru sekali… hhh…” Tiffany mendesah kecewa lalu meminum coke-nya lagi. “Omo!” Tiffany menepuk dahinya sendiri.

“Waeyo?” tanya Yuri heran melihat Tiffany yang tiba-tiba terlihat panic.

“Jam tangan hadiah ulang tahun dari eomma-ku ketinggalan di toilet saat aku cuci tangan tadi! Huaaa… bagaimana kalau ada seseorang yang mengambilnya? Ayo Yuri bantu aku mencarinya!” Tiffany segera beranjak dari tempatnya dan berlari duluan meninggalkan Yuri.

“Aiiishh… dasar ceroboh. Fany-ah tunggu aku!” Yuri berdiri dan segera berlari mengikuti Tiffany yang kini semakin jauh di depannya. “Hey! Jangan cepat-cepat nanti–– AAAAAHHHH!!”

BRUKKK! Yuri terjatuh karena tersandung batu kecil di depannya. Tiffany yang sudah berjalan duluan tidak menyadari bahwa kini Yuri sedang meringis kesakitan.

“Gwaencanha-yo?” tanya seorang namja yang kini berada di depan Yuri. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Yuri berdiri. Tanpa pikir panjang Yuri memegang tangan namja itu dan segera berdiri. Perlahan Ia mendongak untuk melihat wajah sang pemilik tangan. Setelah sadar bahwa yang dihadapannya ini adalah salah satu sunbae di sekolahnya, Yuri sedikit terkejut dan segera melepaskan genggaman tangannya.

“E-eh? Gwaencanhayo sunbae” kata Yuri sambil menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor. Kepalanya menunduk, menyembunyikan semburat malu pada wajahnya. ‘Aiiissshhh… sungguh memalukan! Sudah sebesar apa dirimu sampai bisa terjatuh!’ umpat Yuri memaki dirinya sendiri dalam hati.

“Kau yakin? Apa kau sedang sakit?”

“N-ne, aku baik-baik saja. Gomawoyo sunbae” Yuri membungkuk hormat pada seniornya itu dan segera balik badan untuk beranjak pergi. “AAAA!” Yuri terjatuh lagi karena tanpa sengaja menginjak tali sepatunya yang tidak terikat sempurna. ‘Dasar Yuri bodoh! pasti dia akan menertawakanku kali ini!’

“Apa kakimu terkilir?” tanya namja itu lembut sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Yuri.

“E-eh? A-anniyo. Aku tidak apa-apa sunbae”

“Hey! Lihat! Lututmu berdarah” seru namja itu sambil melihat lutut Yuri yang kini mengeluarkan darah. Yuri kemudian ikut menatap lututnya sendiri. ‘Astagaaaa… apalagi ini? Sudah jatuh dengan cara yang memalukan, pake acara berdarah segala lagi’ batin Yuri kesal. Tanpa Yuri sadari, sunbae-nya itu sudah mengeluarkan beberapa lembar tisu dari saku celananya.

“Sini biar kubersihkan lututmu. Kalau luka tak segera dibersihkan bisa menimbulkan infeksi nantinya. Lagipula kenapa kau harus lari-lari sih?”

Degh! Jantung Yuri tiba-tiba berdebar lebih cepat. Ia diam terpaku menatap sunbae di depannya ini. ‘Kata-katanya…..’

“Apa kau tidak kesakitan? Lukamu cukup besar loh” tanya senior-nya lagi sambil meniup-niup luka Yuri untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya. Yuri masih diam seperti patung. Rasa sakit pada lututnya tidak cukup untuk menyadarkannya dari lamunan tentang namja yang selama ini dicarinya. ‘Apa mungkin dia orangnya?’ batin Yuri. Ia memperhatikan wajah sunbae-nya itu dengan seksama. Berusaha mengingat-ingat dan mengenali wajah di hadapannya ini. Ia ingin sekali berharap bahwa sunbae di depannya ini adalah orang yang sama dengan namja yang dicarinya, tapi Yuri terlalu takut untuk buru-buru menyimpulkan. Sudah sering Ia mencurigai banyak orang tapi hasilnya selalu salah. Ia butuh bukti lain untuk menguatkan pernyataannya tersebut. “Nah, selesai. Kalau pakai plester ini lukamu akan cepat kering”

“….” Yuri masih dalam diamnya ––sibuk berkonflik dengan batinnya sendiri–.

“Hey, kau tak apa-apa? Kenapa daritadi hanya diam? Apa di wajahku ada sesuatu?” tanya senior-nya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yuri. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, akhirnya Yuri sadar dari lamunannya.

“N-ne! A-aku baik-baik saja sunbae” jawab Yuri gugup dan segera memalingkan wajahnya lalu beranjak berdiri lagi. Namja itu masih berjongkok menatap lurus ke bawah kaki Yuri. “A-apa yang kau lakukan sunbae?” tanya Yuri heran karena seniornya itu masih berjongkok dan kini mengutak atik tali sepatu Yuri.

“Sepertinya aku tahu yang menyebabkanmu jatuh, lain kali kau harus mengikat tali sepatu dengan benar seperti ini” kata senior-nya itu setelah mengikat tali sepatu Yuri menjadi sebuah simpul pita yang cukup kuat. Yuri semakin menunduk malu. Senior-nya kini ikut berdiri dan berhadapan dengan Yuri. “Aku sering melihatmu di pinggir lapangan bola. Apa kau suka bola? Atau ada seseorang yang kau lihat? Namjachingu-mu?”

“…” karena bingung harus jawab apa, Yuri hanya bisa diam.

“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, kau tidak perlu jawab pertanyaan bodohku–“

“Ah anniyo, gwencanha. Aku sering kesana memang karena aku suka dengan tempatnya. Selain udaranya segar karena lahannya luas dan banyak pohon, aku juga senang melihat orang-orang bermain bola di lapangan itu. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti bola, tetapi melihat orang-orang bermain bola dengan penuh semangat dan kegembiraan membuatku suka melihatnya” jawab Yuri sekenanya.

“Oooh, jadi begitu” senior-nya hanya mengangguk-angguk. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibirnya. “Oh iya, aku Nickhun, kapten sepak bola sekolah kita” Ia mengulurkan tangannya untuk mengajak Yuri berkenalan.

“Ne sunbae-nim, Kwon Yuri imnida. Kamsahaeyo, karena telah membantuku tadi.” Yuri membalas jabat tangan Nickhun sambil membungkukan kepalanya sedikit.

“Tidak perlu formal begitu. Panggil saja aku oppa”

“Eh? Tapi kau kan senior––“

“Oppa saja. Tidak apa-apa, panggil saja aku begitu”

“Baiklah sen– maksudku oppa”

“Oh ya, Yuri, bagaimana kalau kau menjadi manajer tim sepak bola kami?” tawar Nickhun tiba-tiba.

“N-NE?”

“Apa kau keberatan? Manajer kami yang lama akan pindah sekolah minggu depan, dan kurasa kau cocok jadi penggantinya”

“A-akan kupikirkan tawaranmu sen– oppa”

“Benarkah? Kurasa teman-temanku pasti akan senang jika aku membawa manajer baru seperti dirimu” Nickhun tersenyum kemudian melepas tas punggungnya dan mengeluarkan secarik kertas dan pensil dari dalam tasnya. Nickhun mulai mencoret kertas itu dan menggambar sesuatu disana. Ia menggunakan tas punggungnya sebagai tatakan menulis.

‘Astaga…. Tas itu!’ Yuri membelalakan matanya sempurna ketika Ia melihat dengan jelas tas yang sekarang di kedepankan oleh Nickhun. Bagaimana tidak, tas yang dipakai Nickhun sama persis dengan tas yang dipakai oleh ‘dia’ yang selama ini Yuri cari. ‘Apa aku bermimpi? Benarkah ini dia?’ tanya Yuri dalam hati.

“I-itu……” tanya Yuri gugup sambil terus menatap tas yang kini dipegang Nickhun.

“Ada apa?” tanya Nickhun heran melihat perubahan ekspresi Yuri yang tiba-tiba. ‘Tidak salah lagi, aku yakin ini pasti dia. Apa Ia tidak mengenaliku?’ batin Yuri.

“A-ah, tidak ada apa-apa” Yuri tersenyum kaku. ‘Benar juga, bagaimana mungkin Ia mengenaliku. Waktu itu kan Ia melihatku sebagai seorang namja’

“Yasudah kalau begitu, ini denah ruangan klub sepak bola kami. Kalau kau bersedia menjadi manajer, kau datang saja ke sini. Jangan khawatir, kau tidak sendirian kok, masih ada satu yeoja lagi yang jadi manajer tetap. Jadi jangan takut untuk mampir kemari yah” Nickhun memberikan kertas itu pada Yuri lalu mengenakan lagi tas punggungnya.

“N-ne oppa” Yuri menerima kertas itu dan melihatnya sekilas.

“Pikirkan baik-baik okay? Nah, sampai jumpa Yuri” Nickhun mulai beranjak pergi. Kira-kira sepuluh langkah Nickhun berjalan ke depan, Ia membalikan badannya lagi ke arah Yuri. “Anyeoooong…” Nickhun melambaikan tangannya ke arah Yuri dan tersenyum semanis mungkin.

Degh! Yuri mungkin sudah benar-benar menjadi patung. Seluruh tubuhnya rasanya kaku dan tak bisa digerakkan. Ia hanya bisa memandang Nickhun tanpa berkata apapun. Nickhun melanjutkan jalannya lagi dan Yuri tetap diam di tempat sambil memandang punggung Nickhun yang kini mulai berjalan semakin jauh.

“Ya! Kwon Yuri! Kau kemana saja? Aku kira tadi kau di belakangku. Lihat aku sudah menemukan jam tanganku” suara Tiffany tiba-tiba saja terdengar dari belakang tubuh Yuri. “Hey kau kenapa Yuri?” Tiffany mengibas-ngibaskan tangannya depan wajah Yuri. Ia heran melihat sahabatnya itu tak merespon apapun.

“Fany-ah…. Sudah kutemukan” ucap Yuri dengan pandangan lurus ke depan.

“Temukan apa? Jam tanganku kan memang sudah ketemu”

“Superman…”

“Kau bicara apa sih? Superman apa maksudmu?”

“Kyaaaaaa….. aku menemukannya Tiffany. Aku menemukannya!!” Yuri tiba-tiba saja memeluk Tiffany erat dan berputar-putar dengan senangnya. “Aku menemukan dia Fan, DIA!” Yuri berhenti berputar dan mengguncang bahu Tiffany semangat.

“M-MWO? Maksudmu namja––”

“Iya Fany, IYA!”

“Tap-tapi bagaimana bisa? Apa kau yakin kali ini tidak salah lagi?”

“Tidak, aku benar-benar yakin itu ‘dia’! Sikapnya, hobinya, cara bicaranya, dan juga kata-katanya, semuanya persis! Dan lagi kau tahu? Ia mempunyai tas yang sama! Tas punggung dengan lambang superman”

“Tapi kan tas seperti itu memang lagi trend sekarang jadi pasti banyak yang––“

“Tidak Fany, aku sudah mencarinya sendiri di internet. Semua yang dibilangnya waktu itu benar. Tas itu cuma ada 100 buah di dunia ini! kau pikir bisa sembarangan orang yang memilikinya? Aku yakin itu benar-benar dia Tiffany!”

“Jinjja? Wah, kalau begitu aku percaya. Kyaaaa…. Akhirnya kau berhasil bertemu dengannya lagi. Chukae, Yuri-ah” Tiffany gantian memeluk Yuri.

“Ne, gomawo Fan, ini semua juga berkat dirimu”

“Pokoknya nanti kau harus mengenalkannya padaku. Memangnya siapa nama namja itu?”

“Ne, tentu saja. Kau kan sahabatku. Namanya Nickhun oppa”

“Ni-Nickhun?”

“Iya Nickhun! Kyaaaa… Fany kau tahu betapa bahagianya aku hari ini” teriak Yuri kegirangan sambil memeluk Tiffany lagi dan mengajaknya berputar-putar. Mulai detik itu, hari-hari penuh perjuangan pun dimulai.

 

#flashback end

Yuri terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ponselnya berbunyi. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan nyawanya dan kembali ke alam sadarnya. ‘Mimpi?’ tanyannya dalam hati. Ia mendudukan dirinya dan bersandar pada sandaran kasur lalu mengangkat panggilan teleponnya.

yoboseyo” sapa Yuri di telepon.

“Yuri, appa sudah megirimkan email padamu tentang alamat toko kue yang waktu itu pernah kau tanyakan pada appa

“Oh, yang itu. Ne, gomawoyo appa

“Oh ya, appa juga sudah membuat janji dengan Mr. Kim, pemilik toko, agar bisa bertemu denganmu minggu depan. Siwon bisa menemanimu kan? Kalau kalian langsung melihat contoh wedding cake-nya dan bicara langsung dengan kokinya kalian bisa lebih yakin dalam memilih”

“Ah ng… itu.. Ne appa, aku dan Siwon akan kesana nanti”

“Baiklah kalau begitu. Appa hanya ingin membicarakan itu saja. Oh ya, lebih baik kau libur kerja dulu saja hari ini. Akhir-akhir ini appa perhatikan kau terlihat sangat lelah. Sepertinya kau butuh banyak istirahat. Urusan pekerjaan biar appa saja yang handle. Kau focus pada pernikahanmu saja ne?”

N-ne, arrayo appa

“Baiklah Yuri, annyeong

Annyeong appa

Piip. Yuri mematikan sambungan teleponnya dan menaruh ponselnya di meja kecil samping ranjang. Ia mengucek matanya sebentar dan meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Perlahan Yuri turun dari ranjangnya dan melihat ‘hasil’ dari perbuatannya kemarin. Lantai kamarnya masih berantakan dengan barang-barang yang kemarin Ia lemparkan dengan brutal. Yuri berjalan menuju lemari kecil di sudut kamarnya yang jarang sekali Ia buka. Barang-barang yang menghalangi jalannya Ia singkirkan begitu saja menggunakan kaki. Yuri tidak perduli pada keadaan kamarnya kini, yang menjadi tujuannya hanyalah membuka lemari kecil itu. Biarlah urusan beres-memberesi kamar Ia serahkan pada sang ahli ––alias pelayannya.

Krieettt… Suara decitan pintu lemari kayu yang telah terbuka itu terdengar sedikit ngilu di telinga Yuri. Ia memandangi barang-barang yang ada di dalam dengan seksama.

“Dimana yah aku menaruh benda itu?”

Yuri mengambil beberapa kotak dari dalam sana dan membukanya. Mengorek-ngorek sebentar lalu menutup dan menaruhnya lagi ke tempat semula. Beberapa menit berlalu dan Ia masih juga sibuk dengan mengutak-atik isi dari kotak-kotak tersebut.

“Ah! Ini dia!” seru Yuri setelah membuka kotak yang ke-15. Isi kotak itu hanyalah sebuah topi lusuh dengan lingkar kepala yang kecil dan juga sebuah sapu tangan yang tak kalah lusuhnya. Yuri membawa kotak itu menuju ranjangnya.

Tok..tok..tok…. suara pintu kamar diketuk, membuat Yuri menghentikan kegiatannya. “Siapa?” tanya Yuri dari dalam.

“Ini aku, Tiffany” jawab Tiffany dari balik pintu. Mendengar suara sahabatnya itu Yuri segera membukakan pintu kamar untuknya. “Annyeong” sapa Tiffany sambil tersenyum lebar.

“Hey, Fan. Tumben sekali kau kesini, ada apa?” tanya Yuri sinisme yang membuat Tiffany yang semula senyum, kini mem-pout-kan bibirnya.

“Iiissshhh…. Galak sekali sih. Memang aku tak boleh main kesini lagi yah? Sudah minggir, kau tak mau mempersilahkan aku masuk ke kamarmu?” tanpa menunggu respon Yuri, Tiffany mendorong bahu Yuri pelan dan langsung saja masuk ke dalam. “Omo!” teriak Tiffany kaget setelah melihat keadaan kamar Yuri. “Apa semalam terjadi gempa di sini?” tanyanya heran.

“Hhhh… Sudahlah aku tak mau membahasnya. Sini naik ke kasur saja. Paling tidak ranjangku ini masih bisa di tempati” Yuri beranjak ke kasur dan merebahkan dirinya di sana. Dengan susah payah menghindari barang-barang yang berserakan, Tiffany akhirnya ikut naik ke kasur Yuri. Ia mendudukan dirinya di samping Yuri yang kini masih tidur terlentang.

“Bertengkar lagi, hem?” tanya Tiffany lembut penuh perhatian. Sedikit banyak Ia juga merasa tidak enak pada Yuri karena Ia tidak selalu bisa di samping Yuri ketika yeoja itu sedang membutuhkan seseorang. Yuri hanya mengangguk pasrah. “Kali ini kenapa lagi? Ceritakan saja padaku.”

“Aigooo… rupanya temanku ini sudah bisa diajak curhat sekarang, eoh?” ledek Yuri.

“Eiihh… tuh gitu kan. Giliran aku mencoba menjadi teman yang baik, kau malah meledekku lagi. Lebih baik aku pulang saja kalau begini”

“Iihh, gitu aja ngambek. Kau itu temanku bukan sih?”

“Makanya cerita. Kau kenapa lagi dengan Siwon, sampai bisa merubah kamar menjadi sarang orang utan begini?”

“Ahahaha… enak saja kau bilang. Kau itu tuh yang orang utan. Biasalah Fan, masalahnya masih sama seperti kemarin-kemarin”

“Hhh… karena pekerjaan lagi?” tebak Tiffany yang disahuti dengan anggukan mantap dari Yuri. “Sepertinya selama bertahun-tahun kalian berhubungan, hal ini jarang terjadi, tapi kenapa akhir-akhir ini malah sangat sering begini?”

“Entahlah, aku merasa dia telah berubah. Mungkin dia sudah berada pada titik kejenuhannya, hingga tidak perduli lagi padaku”

“Huussshh… ngomong apa sih kau ini. Kalian sebentar lagi akan menikah, ingat itu”

“Iya-iya, aku ingat”

“Kurasa ini hanya karena demam pernikahan deh, kau tahu, banyak orang bilang, saat-saat menjelang hari pernikahan adalah saat-saat yang berat bagi pasangan”

“Dasar sok tahu”

“Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu! Kata orang, di saat-saat seperti inilah Tuhan menguji kekuatan cinta kalian, makanya Ia mengirimkan berbagai macam cobaan untuk membuktikan hal itu. Aku memang belum pernah mengalami hal itu, tapi aku yakin ini yang terjadi pada kalian sekarang. Kalau kalian memang jodoh dan cinta kalian memang sejati, pada akhirnya kalian akan tetap bersatu” jelas Tiffany.

“Lalu seandainya kami tidak jodoh bagaimana?” tanya Yuri yang kini mulai tertarik dengan perkataan sahabatnya.

“Eh? Ng… kalau itu… ya mau bagaimana lagi, mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu”  jawab Tiffany ragu. Yuri hanya mendesah kecewa. ’Semoga saja ujian ini tidak akan lama batin Yuri dalam hati.

“Oh iya! Aku sempat lupa. Kau ingat ini?” Yuri beranjak duduk dan mengambil kotak yang tadi sempat Ia ambil. Tiffany menggeleng bingung saat Yuri menunjukkan isi kotak itu padanya. “Kau ingat tentang pengalaman masa kecilku yang pernah aku ceritakan padamu waktu SMP?”

“Ooh, yang kau menyamar jadi namja itu? Ahahaha…”

“Iya yang itu, nah, ini adalah topi yang dulu kugunakan saat menyamar, dan ini adalah sapu tangan yang diberikan namja itu padaku”

“Ehmm… maksudmu Nickhun sunbae?” tanya Tiffany lagi. Yuri menganggukan kepalanya. “Lalu ada apa? Kenapa kau mengeluarkan barang-barang ini?”

“Ng… akhir-akhir ini aku sering teringat tentang masa kecilku. Bahkan tadi malam aku memimpikan kejadian-kejadian waktu kita masih SMP, makanya aku penasaran apa aku masih menyimpan barang-barang ini, eh ternyata masih ada. Ahahaha…”

“Oooh… apa ada hubungannya dengan Nickhun sunbae? Sudah bertahun-tahun kan kita tidak pernah melihatnya, eh sekarang tanpa sengaja malah bertemu lagi. Mungkin karena itu kau jadi sering mengingat masa lalu”

“Ehmm… mungkin juga” Yuri mengangguk-angguk paham. “Atau… jangan-jangan ini pertanda kalau––“

“Hussshhh… Jangan berpikir yang macam-macam deh! Masa lalu ya masa lalu, sekarang ya sekarang. Ayolah Yuri, kau yang bilang sendiri padaku seperti itu kan?”

“Ahahaha… iya-iya. Aku hanya bercanda. Kenapa serius sekali sih”

“Tidak lucu. Kau membuatku takut tahu! Hhh… yang mau menikah kau kenapa aku yang jadi cerewet begini sih”

“Ahahaha…. Itu karena kau terlalu menyayangiku. Iya kan?”

“Ih, bukan. Aku hanya takut kena karma kalau aku membiarkan orang yang mau menikah malah selingkuh diam-diam”

Mwo?! Enak saja! Siapa yang selingkuh eoh?”

Bugh! Bugh! Yuri memukul-mukul Tiffany dengan bantal dan guling.

“Tentu saja kau! Siapa lagi disini yang akan menjabat sebagai Nyonya Choi hah?” ledek Tiffany sambil balas memukul bantal ke Yuri. Karena tidak mau ada yang mengalah, jadilah kedua yeoja itu ber-pillow fight ria di tengah siang bolong tanpa memperdulikan keadaan kamar yang kini semakin amburadul. ––Dan sekali lagi membuat para pelayan akan bekerja lebih ekstra dari biasanya.

***

Entah sudah kali ke berapa Siwon terus saja mendesah berat hari ini. Kesalahan demi kesalahan –walaupun hanya kesalahan kecil– terus Ia buat semenjak pagi tadi. Salah tanda tangan dokumen, menumpahkan kopi, menjatuhkan kertas, dan terlihat gelisah saat rapat. Bahkan beberapa kali Leeteuk sempat memergokinya sedang melamun tidak jelas. Aneh memang, tak biasanya Siwon bersikap seperti ini, terlebih di kantor. Karenanya, Leeteuk dibuat lumayan kewalahan. Ia harus meng-handle semua pekerjaan dan juga menjadi juru bicara Siwon seharian ini.

Siwon menyadari kebodohannya dan ketidak-professional-annya telah banyak menyusahkan banyak orang, terutama Leeteuk. Karena tak ingin semakin banyak membuat kesalahan, Siwon memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Jika akhir-akhir ini Ia sering pulang malam karena terus lembur, kali ini Siwon memutuskan untuk pulang sore. Mungkin yang Ia butuhkan sekarang hanya istirahat dan menenangkan semua pikirannya yang kalut sejak kemarin.

Siwon mengendarai mobil menuju rumahnya dengan lunglai. Saat lampu merah menyala, Ia  mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat layar ponselnya itu, berharap ada panggilan atau pesan masuk dari Yuri. “Hhh….” Siwon mendesah untuk yang ke sekian kalinya. Tak ada satupun tanda-tanda bahwa Yuri menghubunginya. ‘Harus bagaimana lagi aku menghadapimu Yuri?’ batin Siwon kecewa.

Kriuukkk….. suara kencang dari perut Siwon terdengar. Ia memegang perutnya sendiri dan mengusap-usapnya beberapa kali. “Astaga… aku baru ingat aku hanya makan selembar roti hari ini” katanya saat menyadari rasa lapar yang kini bersemayam di perutnya. Karena jarak rumahnya masih lumayan jauh dan rasa laparnya sudah semakin kronis, Siwon memutuskan untuk berbalik arah menuju restoran terdekat. Pilihannya jatuh pada restoran Jepang yang sempat beberapa kali Ia datangi. Setelah memarkirkan mobilnya, Siwon lalu masuk ke dalam. Pandangannya mengitari sudut restaurant untuk mencari meja yang kosong. Tapi sayangnya, karena restaurant itu penuh, Siwon akhirnya berniat untuk keluar dan mencari restaurant lain. Siwon lalu berbalik untuk menuju pintu keluar. Baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba saja Ia berhenti ketika tanpa sengaja melihat sosok yang Ia sangat kenal dari sudut matanya. Siwon segera menoleh dan memperhatikan objek yang tadi sekilas Ia lihat. ‘Yuri?’ tebak Siwon dalam hati setelah Ia yakin dengan pandangannya. Walaupun yeoja itu memunggungi Siwon, tetap saja Ia bisa mengenali sosok Yuri dengan baik. Siwon tersenyum simpul karena tanpa sengaja bisa bertemu dengan tunangannya itu di sini. Ia berjalan perlahan mendekati meja Yuri. Niatnya untuk pindah restaurant Ia batalkan begitu saja. ‘Semoga Ia sudah tidak marah sekarang’ harap Siwon.

Langkah dan senyum Siwon terhenti begitu saja saat tiba-tiba seorang namja ––yang sepertinya habis dari toilet– datang, lalu duduk di kursi depan Yuri. Raut wajah Siwon berubah cemas. Hatinya bertanya-tanya siapa namja yang kini sedang bersama kekasihnya itu. ‘Apa itu salah satu klien-nya?’ tebak Siwon sambil berusaha terus berpikir positif. Beberapa menit Siwon masih dalam posisinya ––diam tak bergerak dan terus memperhatikan kedua orang yang menjadi objek pandangannya kini. ‘Aiiisshhh… tidak mungkin itu klien-nya!’ kesal Siwon saat melihat Yuri dan namja itu tertawa bersama dan  terlihat sangat akrab. ‘Tak akan kubiarkan siapapun merebut kekasihku!’ tekadnya dalam hati. Dengan mantap Siwon melangkahkan kakinya menghampiri meja Yuri.

“Ehem ehem…” Siwon sengaja mem-batuk-an diri setelah Ia sampai tepat di hadapan Yuri.

“Si-Siwon?” tanya Yuri sedikit kaget karena melihat tunangannya.

Annyeong  jjagiya” sapa Siwon ––dengan sedikit mengeraskan panggilan sayangnya pada Yuri–– lalu tersenyum lebar. “Kebetulan sekali kita bertemu disini” tambah Siwon lagi.

“Tumben sekali kau tidak berada di kantor jam segini?” tanya Yuri biasa. Sebenarnya Ia masih marah pada Siwon dan ingin sekali mengacuhkannya, namun Ia tidak mau menampilkan ketidakharmonisan hubungannnya itu di depan orang lain. Masalah mereka biar menjadi urusan mereka saja. Begitu pikir Yuri. Siwon hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum lebarnya. Ia lalu melihat ke arah namja di depannya.

“Kau sedang bersama siapa, jjagi?” tanya Siwon sambil memberikan deathglare pada namja itu.

“Eh? Ng… Dia kakak kelasku sewaktu di SMP. Nickhun oppa kenalkan, ini Siwon––” ucap Yuri sambil memandang mereka berdua secara bergantian. “––tunanganku” tambah Yuri akhirnya. Yuri memperkenalkan mereka berdua dengan kaku. Nickhun sedikit tercekat saat mendengar kata tunangan keluar dari mulut Yuri. Sedangkan Siwon semakin membusungkan dadanya dan tersenyum seakan berkata yeoja-ini-milikku!

Jeongmal? Jadi dia sunbae mu?” tanya Siwon yang hanya dibalas anggukkan dari Yuri. “Annyeonghaseyo, Choi Siwon imnida” Siwon mengulurkan tangannya mengajak Nickhun berkenalan.

“Ah, Nde, Nickhun imnida, bangapseumnida Siwon-ssi” Nickhun membalas jabat tangan itu sambil tersenyum seperlunya. Tanpa Yuri sadari kedua namja itu saling memberikan deathglare-nya masing-masing. Dengan sengaja Siwon mengencangkan jabatan tangannya dan membuat Nickhun mengernyitkan dahinya heran. ‘Ada apa dengannya?’ Nickhun membatin.

Setelah perkenalan singkat itu, Siwon segera bergabung bersama mereka. Tanpa di perintah siapapun, Ia mendudukan dirinya di kursi samping Yuri dan ikut memesan makanan. Setelah Siwon dan Nickhun saling bertukar kartu nama, mereka bertiga lalu mengobrol dengan kaku sekadar berbasa-basi bertanya hal-hal yang standart. Awalnya mungkin masih biasa-biasa saja, tapi lama-kelamaan Siwon mulai membicarakan hal-hal yang justru meningkatkan kadar kecanggungan diantara mereka. Keadaan semakin bertambah buruk saat Siwon mulai menunjukkan sikap possessive-nya pada Yuri. Menuangkan air, menyuapinya makanan, mengelap sudut bibir Yuri, dan mengumbar kemesraan lainnya. Walaupun Yuri bersikap pasif, tetap saja seakan-akan Siwon membuat Nickhun seperti kambing congek diantara mereka. Hal itu membuat Yuri malu di depan Nickhun. Yuri hanya bisa menahan emosinya dengan meminum air putih dingin tiap kali Siwon bicara atau melakukan hal-hal yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Jelas sekali Siwon hanya ingin pamer pada namja yang di depannya ini. Sudah tahu Yuri masih kesal terhadapnya, tapi Siwon seolah melupakan hal itu dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tindakannya membuat Yuri jauh lebih kesal dari sebelumnya.

Nickhun melirik jam tangannya. “Ah, maafkan aku, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang”

“Benarkah? Sayang sekali kita tidak bisa mengobrol lebih lama Nickhun-ssi” ucap Siwon dengan nada menyesal yang sangat dibuat-buat. Dalam hati Ia malah bersorak kegirangan mendengar namja itu mau beranjak pergi.

Ne, mungkin lain kali kita bisa mengobrol lagi” Nickhun berdiri dari duduknya. “Sampai jumpa Siwon-ssi, Yuri-ah, aku duluan” Ia tersenyum dan membungkuk sedikit sebagai salam perpisahan.

N-ne oppa, Annyeong” Yuri tersenyum kaku. Sungguh Ia tidak enak hati pada namja yang merupakan senior-nya itu.

“Sampai jumpa Nickhun-ssi, mungkin lain kali kami akan mengunjungimu. Oh ya, kami pasti akan mengirimkan undangan pernikahan kami ke alamatmu” kata Siwon masih dengan mimic nada yang terkesan pamer. Nickhun hanya balas mengangguk dan tersenyum singkat lalu berjalan pergi meninggalkan Siwon dan Yuri.

Setelah beberapa menit setelah kepergian Nickhun, Yuri segera menyudahi makan-nya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuri langsung berdiri dari kursinya dan beranjak untuk pergi.

“Mau kemana? Kita belum selesai makan” tanya Siwon sambil menahan tangan Yuri.

“Terserah aku” jawab Yuri ketus. Ia menepis genggaman Siwon dan mulai berjalan pergi. Melihat Yuri pergi, Siwon segera menyudahi makannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya ––yang Ia taruh di meja–– lalu mengejar Yuri.

“Kau tidak boleh pergi begitu saja Yuri” Siwon menahan Yuri lagi setelah mereka berdua sudah di luar restaurant. Ia mengeratkan tangannya pada lengan Yuri agar yeoja itu tidak kabur. Beberapa kali Yuri berusaha menampis lengannya, namun gagal karena genggaman Siwon lebih kuat.

“Apa urusanmu?! Lepaskan aku!” Yuri masih meronta agar Siwon melepaskan dirinya.

“Tidak sebelum kita bicara serius” ucap Siwon tegas. Ia menarik tangan Yuri dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. “Apa kau masih marah padaku?” tanya Siwon pada Yuri yang terus saja membuang muka ke arah luar jendela mobil.

“Menurutmu?” jawab Yuri ketus tanpa melihat wajah Siwon. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Oke oke, aku tahu aku salah. Aku minta maaf”

“Maaf? Maaf itu hanya untuk orang yang benar-benar menyesal”

“Aku menyesal, maafkan aku”

“Kalau orang yang benar-benar menyesal, Ia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama”

“Lalu kau mau aku bagaimana Yuri?”

“Cih… pikirkan saja sendiri”

“Apa begini caramu membalasku? Keluar dengan namja lain yang aku tidak tahu?”

Pertanyaan Siwon membuat Yuri melihatnya seketika. “M-mwo?” tanya Yuri sambil melihat Siwon tajam. “Namja lain? Maksudmu Nickhun oppa?”

“Tsk, kau bahkan memanggilnya oppa. Apa semua sunbae kau panggil begitu?” Siwon menyunggingkan sebelah bibirnya.

“Dari dulu aku memang memanggilnya seperti itu dan kami hanyalah teman dekat”

“Benarkah? Tapi aku merasa sepertinya Ia menganggapmu lain”

“Sudahlah, jangan kait-kaitkan dia dalam masalah kita. Nickhun oppa tidak tahu apa-apa”

“Oooo… jadi sekarang kau membelanya?”

“Apa maksud dari perkataanmu?”

“Kau tahu apa maksudku. Dan aku paling tidak suka dikhianati atau dibohongi. Sebentar lagi kita akan menikah tapi kau––”

“Hey! Apa kau sadar apa yang sudah kau katakan? Apa kau tahu bagaimana kami bisa bertemu hari ini? Apa kau melihatku melakukan sesuatu yang tidak wajar dengannya? Kau bahkan tidak meminta penjelasan apa-apa padaku! Dan sekarang kau menuduhku yang macam-macam seperti ini. Beginikah caramu meminta maaf padaku?” rasanya Yuri semakin mendidih sekarang. Jelas-jelas Siwon yang bersalah dalam masalah ini, tapi dengan seenaknya Ia membalikan keadaan. Menjadikan Yuri seperti tersangka utama.

Sebenarnya hari ini Yuri pergi ke tempat itu bersama Tiffany. Tapi tanpa sengaja mereka bertemu dengan Nickhun yang juga sedang bersama asistennya. Karena tempatnya memang penuh, jadi mereka berempat duduk dalam satu meja. Di tengah acara makan tiba-tiba Tiffany harus pulang karena eomma-nya menelpon, sedangkan asisten Nickhun tidak bisa lama-lama ikut mengobrol dan akhirnya Ia juga memutuskan pulang lebih dulu. Jadilah tinggal tersisa Yuri dan Nickhun saja yang meneruskan makannya. Semuanya berjalan lancar dan wajar sampai Siwon tiba-tiba datang melakukan hal-hal yang menurut Yuri sangat norak. Membuat acara makan mereka bertiga tidak nyaman dan penuh dengan kecanggungan. Yuri yang sebelumnya sedang marah dengan Siwon, tentu saja semakin kesal dibuatnya. Untuk menghindari amarahnya yang semakin menjadi, Yuri memutuskan untuk lebih baik menghindari Siwon dulu sebelum Ia bisa menenangkan dirinya sendiri. Karena itulah saat Nickhun pergi, Yuri juga beranjak pergi. Sayangnya, Siwon yang sudah dibakar cemburu malah menahan Yuri dan menuduh Yuri berbuat macam-macam.

Hening.

Siwon dan Yuri sama-sama diam membisu. Hanya suara kendaraan dan hiruk-pikuk lalu lintas yang samar terdengar oleh telinga mereka. Yuri menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukan itu beberapa kali, berusaha meredam amarahnya.

“Aku mau pulang” kata Yuri memecah keheningan diantara mereka. Siwon masih diam dan hanya menatap lurus ke depan. Ia bingung harus merespon Yuri seperti apa. Dalam hatinya Ia juga merasa bersalah karena ––lagi-lagi–– memicu pertengkaran diantara mereka. Melihat Siwon yang masih juga diam, Yuri membuka kenop pintu. “Baiklah, aku bisa pulang sendiri” kata Yuri sambil bersiap untuk keluar dari mobil.

“Aku antar” jawab Siwon sambil menahan tangan Yuri sebelum Ia benar-benar keluar. Siwon meraih kenop pintu mobil sebelah Yuri dan segera menutupnya kembali. Kemudian Ia memakaikan sabuk pengaman pada Yuri, dan tak lupa mengunci pintunya sebelum mobilnya lepas landas.

Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam-diaman. Yuri selalu membuang muka melihat keluar jendela dan Siwon focus menyetir. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Yuri. Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuri segera melepas sitbelt-nya dan membuka kenop pintu untuk turun.

“Yuri, apa kau masih marah?” tanya Siwon lembut saat Ia menahan Yuri keluar ––lagi.

“Minggu depan datanglah ke toko kue yang alamatnya sudah kukirimkan padamu. Appa menyuruh kita untuk memesan wedding cake-nya langsung” jawab Yuri yang tidak nyambung dengan pertanyaan Siwon. Setelah berkata seperti itu, Ia segera keluar dan langsung masuk menuju rumahnya. Tanpa say goodbye, tanpa melihat Siwon lagi, dan tanpa kecupan perpisahan di dahinya.

***

Sudah enam hari berlalu tapi hubungan Siwon dan Yuri belum ada perubahan yang berarti. Mereka hanya bertemu beberapa kali, itupun hanya untuk sesaat, sekedar makan siang bersama. Siwon memang lebih sering menelpon Yuri untuk menanyakan kabarnya, tapi Yuri selalu menjawabnya dengan flat. Pembicaraan mereka di telpon hanya berlangsung singkat dan seperlunya saja. Kalau sebelumnya Siwon sering tak kenal waktu saat bekerja, kini gantian Yuri yang selalu saja menggunakan alasan pekerjaan jika Siwon mengajaknya pergi. Yuri memang sudah tidak terlihat marah-marah lagi, tapi menurut Siwon kondisi seperti ini jauh lebih buruk. Akhir-akhir ini Yuri bersikap tak biasa, hal itu membuat Siwon semakin cemas dan khawatir karenanya.

Tut..tut…tut… Siwon mendesah kecewa saat nada itu lagi yang Ia dengar saat menelpon Yuri. Tak pantang menyerah, Siwon terus saja men-dial nomor Yuri. Tak perduli seberapa banyak Ia harus menunggu, sebelum Yuri mengangkat, Siwon akan terus berusaha menghubunginya.

yoboseyo” kata Yuri di seberang telepon.

“Akhirnya kau mengangkat teleponku juga”

“Eung”

“Kenapa lama sekali? Kau habis dari toilet?”

“Tadi ponselku di dalam tas dan di-silent

“Oh, baiklah. Kau masih di kantor sekarang?”

Ne

“Ini kan sudah malam, mau lembur sampai jam berapa? Memangnya pekerjaanmu masih banyak?”

“Sebentar lagi juga pulang”

“Aku tahu perusahaan appa-mu baru saja membuka cabang department store baru, kau juga pasti ikutan sibuk, tapi jangan terlalu memforsir dirimu seperti itu, kau juga harus perhatikan kesehatanmu jjagiya

Ne, arraseo

“Apa kau sudah makan malam?”

“Sudah”

“Hmm… Sama siapa?”

“Sendirian”

“Oh, baiklah. Aku jemput ya? Kau pasti capek kalau harus pulang nyetir sendiri”

“Tidak perlu. Supirku sebentar lagi datang”

“Ooh.. yasudah kalau begitu. Jangan pulang terlalu larut. Jaga kesehatanmu”

Arraseo

Annyeong jjagi––“

Piip. Belum selesai Siwon bicara, Yuri sudah memutus sambungan telepon mereka. Siwon menatap ponselnya nanar lalu menaruhnya dalam saku jasnya. Ia duduk bersandar di kursi bergeraknya sambil memejamkan mata. Perlahan Siwon memijat keningnya sendiri sambil melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya. Rasanya sangat lelah karena seharian ini Ia juga lumayan sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang seakan tak akan pernah ada habisnya. Belum lagi Ia harus memberikan perhatian lebih pada Yuri yang akhir-akhir ini bersikap aneh. Siwon memutar kursinya menghadap meja kerja. Ia menatap bingkai foto yang terpajang di sudut mejanya. Siwon mendesah sedih saat memandang potret gambar di depannya. Itu adalah foto pertunangannya dengan Yuri. Foto yang sama yang Yuri pajang di kamarnya. Di foto itu keduanya terlihat sangat serasi. Siwon yang tampan dan juga Yuri yang cantik. Mereka berpose mesra dan memakai pakaian yang indah nan mewah. Setiap orang yang melihat mungkin akan iri dibuatnya. What a perfect couple!

Siwon mengambil bingkai itu dan membawanya semakin dekat. Perlahan Ia menyentuh foto itu. ‘Harus berapa lama lagi aku menunggu untuk melihat senyummu yang seperti ini lagi Yuri?’ Siwon tersenyum miris.

Jarum jam pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Siwon sudah menunjuk ke angka Sembilan. Biasanya pada jam ini, Yuri yang selalu menelpon Siwon, memarahinya karena masih saja berada di kantor. Bahkan, kadang-kadang Yuri akan menyusul ke kantor Siwon dan membawakan makan malam untuknya. Tapi kini, keadaan justru berbalik. Hampir seminggu Yuri tidak pernah menelpon Siwon duluan. Jangankan marah-marah, untuk bicara saja terdengar malas-malasan.

Siwon beranjak berdiri dan berjalan keluar ruangan-nya. Sudah waktunya Ia untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya dari segala macam tetek bengek masalah yang seakan melekat di dirinya tanpa henti.

Ketika Siwon mengendarai mobilnya menuju rumah, Ia melewati sebuah toko roti yang buka 24 jam di pinggir jalan. Aroma yang keluar dari toko itu tercium oleh Siwon, dan membuatnya ingat akan rasa laparnya. Ia pun memutuskan untuk mampir ke toko itu untuk sekedar membeli beberapa roti dan mungkin meminum secangkir kopi hangat.

Setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan toko itu, Ia pun segera keluar dari mobil dan menuju toko tersebut.

“Yuri?” langkah Siwon terhenti saat tanpa sengaja matanya melihat sosok kekasihnya itu sedang duduk di salah satu meja dalam toko. Walaupun masih di luar, Siwon dapat dengan jelas melihatnya karena keseluruhan toko itu mempunyai dinding dari kaca transparan. Siwon tercekat saat Ia juga melihat namja lain yang datang menghampiri meja Yuri sambil membawa nampan berisi beberapa roti dan minuman. ’Nickhun?’ tubuh Siwon tiba-tiba menegang. ‘Apa ini? Bukankah Yuri bilang Ia akan pulang diantar supir? Apa yang mereka berdua lakukan malam-malam begini? Ini yang kau sebut tidak ada apa-apa diantara kalian?!’ Siwon mulai tersulut emosi. Ia mengepalkan tangannya di samping badan lalu berjalan, berniat menghampiri Yuri dan Nickhun. Namun, langkahnya terhenti lagi tatkala Ia melihat Yuri yang kini tersenyum.

Degh! Siwon diam di tempat sambil terus memperhatikan mereka berdua. Yuri dan Nickhun saling melempar senyum lebar. Sesekali Nickhun bercanda dengan membuat wajahnya menjadi sangat lucu dan itu membuat tawa Yuri lepas begitu saja. Senyum dan tawa Yuri yang sangat Siwon rindukan kini bisa Ia lihat kembali. Namun, bukan rasa senang yang kini merasuk dalam hatinya, melainkan sakit. ‘Kenapa bukan aku yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa seperti itu lagi Yuri?’ batin Siwon miris. Tanpa Ia sadari sebulir air mata menetes dari sudut matanya. Siwon membalikan badannya. Ia tidak sanggup melihat hal itu lebih lama lagi. ‘Apa selama ini aku hanya bisa membuatmu menderita? Apa aku sudah tak bisa memberimu kebahagiaan lagi?’ Siwon berjalan gontai menuju mobilnya. Ia duduk di belakang stir dan menundukkan kepalanya.

“Aaarggghh!” Siwon memukul kemudi stir dengan keras. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata yang semakin banyak mengalir. ‘Choi Siwon kau sungguh bodoh! Kau bahkan tidak bisa menjaga tunanganmu sendiri!’ maki Siwon pada dirinya sendiri.

***

Pagi hari yang cerah datang menyapa. Sinar terang yang masuk melalui celah-celah jendela menggelitik mata Yuri. Ia mengucek matanya lalu mendudukan dirinya dan bersandar pada sandaran kasur. Sebuah senyuman kemudian terbentuk dengan indah di bibirnya. Senyuman pertama yang mengawali harinya hari ini. ‘Semoga hari ini masalah selesai dan semua kembali normal seperti dulu’ harap Yuri sambil menghela napas dengan leganya.

Hari ini Yuri akan mengakhiri ‘masa hukumannya’ pada Siwon. Rasanya sudah cukup Ia memberi ‘sedikit’ pelajaran pada namja yang sebentar lagi menyandang status sebagai suaminya itu. Satu minggu ini Yuri menyadari kalau sebenarnya Siwon memang sangat menyayanginya. Terbukti dari segala bentuk perhatian yang Siwon berikan pada Yuri. Namja itu selalu sabar menghadapi sikap dingin Yuri. Bahkan tak marah saat Yuri selalu menolak ajakannya untuk jalan. ‘Ini sudah cukup’ batin Yuri. Ia melakukan semua itu semata-mata karena ingin mengubah Siwon seperti dulu lagi. Siwon yang penyayang, perhatian, gentle, dan tak pernah melupakan janjinya. Yuri berharap usaha yang dilakukannya kali ini berbuah manis dan bisa mengembalikan keharmonisan hubungannya dengan Siwon.

Yuri beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini Ia dan Siwon sudah janjian akan pergi ke toko kue untuk memesan wedding cake. Yuri meminta Siwon untuk bertemu di toko kue itu jam 5 sore. Bukan tanpa alasan Yuri meminta demikian. Karena selain mau memesan wedding cake, Yuri sudah membuat rencana lain, yaitu memberikan kejutan untuk Siwon. Ia sengaja bangun pagi dan bolos kantor hari ini untuk belajar membuat kue dengan koki disana. Selama ini Siwon tahu benar bahwa Yuri tidak bisa memasak, karena itulah Yuri ingin membuat Siwon terkesima dengan kue yang akan Ia buat nanti. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena sikapnya yang agak menyebalkan seminggu ini. Atau bisa saja dianggap sebagai tanda bahwa mereka telah baikan.

***

Siwon mengitari pandangannya di setiap sudut coffee shop yang berada dekat kantornya, mencari seorang namja yang sudah berjanji akan menemuinya di sini. Siwon berjalan perlahan menuju sebuah meja yang berada di ujung ruangan itu.

“Nickhun-ssi?” tanya Siwon pada namja yang sedang menyesap secangkir kopi dan duduk memunggunginya.

“Eh? Siwon-ssi kau sudah sampai?” jawab Nickhun setelah Ia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Siwon kemudian duduk di kursi depan Nickhun. “Mau pesan apa?” tanya Nickhun ramah.

“Tidak perlu. Bukan itu tujuanku untuk bertemu denganmu” jawab Siwon dengan dinginnya.

***

Yuri memandang kagum hasil karyanya sendiri. Setelah memecahkan satu lusin telur, menumpahkan 3 kg tepung, dan menggosongkan 5 loyang adonan kue, akhirnya Ia berhasil menghasilkan satu buah rainbow cake yang setidaknya masih bisa dimakan manusia. Yuri tersenyum sambil menaruh masterpiece-nya itu di atas piring besar. Di atas rainbow cake berdiameter 20 cm itu Ia memberikan topping berupa buah-buahan segar dan saus bluebbery yang Ia bentuk menjadi tulisan ‘Saranghaeyo direktur Choi ^^’.

Kamsahamnida Ahjussi, kau telah banyak membantuku” Yuri membungkukan kepalanya pada kepala koki disana.

Ne, ne. cheonmaneyo” jawab koki itu sambil tersenyum.

Jeoseonghae-yo, karena aku dapurmu jadi berantakan begini”

“Ah, gwencanha. Aku juga senang bisa mengajarimu memasak. Oh ya, kapan calon suamimu itu akan datang? Soalnya aku harus menyiapkan beberapa sample untuk wedding cake kalian nanti”

“Oh, itu. mungkin sebentar lagi dia akan datang”

“Baiklah, kalau begitu, kau tunggu saja di depan, sambil menyicipi kue-kue di sini juga boleh. Kalau terlalu lama di dapur nanti bajumu bisa kotor”

“Ah, ne, ne. kamsahamnida

At 18.00 KST

…the number you’re calling is switched off––“ Piip. Yuri menghentikan panggilan teleponnya. Ia memandang cake buatannya miris. Sudah 1 jam terlewatkan dari waktu janjian mereka tapi Siwon belum juga kelihatan batang hidungnya. Berkali-kali Yuri mencoba menelpon Siwon, hasilnya tetap saja sama. Hanya pengalihan ke kotak suara.

“Bagaimana sudah bisa di telpon?” tanya Mr. Kim, pemilik toko kue sekaligus teman appa-nya.

Yuri menggelengkan kepalanya lemah. “Belum Kim ahjussi, Hhhh… apa mungkin dia lupa lagi?”

“Jangan berprasangka buruk dulu, mungkin Ia terjebak macet. Kau mau melihat-lihat duluan wedding cake yang sudah pernah dibuat toko kami?”

“Ehmm… baiklah…”

At 21.00 KST

Mianhe, Yuri-ah. Ahjussi bukan bermaksud untuk mengusirmu, tapi toko ini akan segera tutup 15 menit lagi. Apa calon suami mu masih tidak bisa dihubungi?” tanya Mr. Kim pada Yuri yang kini menumpukan kepalanya di meja.

Ne, ahjussi. Aku mengerti. Mungkin Ia tidak bisa datang hari ini, kalau begitu aku permisi dulu. Mengenai kuenya nanti akan kuhubungi. Annyeonghikkaseyo

Yuri keluar toko itu sambil menenteng sebuah kotak yang berisi cake buatannya. Hatinya diliputi rasa cemas dan khawatir. Ia takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Siwon. Yuri sempat menelpon ke kediaman keluarga Choi, dan ternyata Siwon juga tidak ada di rumah. Saat Ia tanya Sooyoung, calon adik iparnya itu malah balik bertanya. Yuri juga sempat menelpon kantor Siwon, tapi karyawannya bilang Siwon sedang tidak ada di kantor. ‘Kemana sebenarnya kau jjagi?’ tanya Yuri dalam hati, masih sambil berusaha menelpon Siwon. “Ah, aku tahu!” seru Yuri tiba-tiba ketika melihat nama Teukie oppa pada contact list-nya.

Yoboseyo” sapa Leeteuk di seberang telepon.

Oppa! Na-ya

Ne, Yuri-ah, waeyo?

“Aku tak bisa menghubungi Siwon, kau tahu dimana dia?”

“Siwon? Bukankah Ia keluar kantor sejak siang tadi? Kukira dia menemuimu?”

Ahniyo oppa, daritadi aku terus menunggunya tapi dia tidak datang-datang. Sudah ku telpon ke kantor dan rumah, dia tetap tidak ada”

Jinjja-yo? Baiklah kalau begitu aku akan cari tahu dimana Ia berada. Kau tunggulah kabar dariku”

Ne, gomawoyo oppa

***

Yuri menghentakkan kakinya kesal saat memasuki perusahaan keluarga Choi. Dari keadaannya yang lumayan sepi dan lampu di beberapa ruangan yang juga tampak gelap, jelas sekali para karyawan sudah pulang. Yuri berjalan menuju ruangan Siwon berada. Kotak yang berisi cake buatannya tanpa sadar masih juga Ia bawa. Setelah Leeteuk memberi tahu bahwa Siwon ternyata di kantor, tanpa pikir panjang Yuri segera berangkat menuju kantor Siwon. Rupanya setelah selesai dengan urusannya itu, Siwon baru kembali lagi ke kantor saat jam pulang karyawan, jadi banyak yang tidak mengetahui kedatangannya. ‘Aku terus saja mengkhawatirkannya tapi dia malah di kantor tanpa menghubungiku sedikitpun! Kali ini pekerjaan macam apa yang menghalangi pertemuan kami lagi?!’ umpat Yuri dalam hati.

BRAAK!! Yuri membuka kasar pintu ruangan direktur utama. Setelah masuk, Ia mengitari pandangannya mencari sosok Siwon. Karena ruangan Siwon juga cukup gelap, karena lampu utama tidak dinyalakan, membuat Yuri agak kesulitan melihat.

“YA! CHOI SIWON!” teriak Yuri saat Ia yakin Siwon sedang duduk di kursi yang posisinya memunggungi Yuri. Mendengar suara Yuri, Siwon segera memutar kursinya menghadap Yuri.

“Yu-yuri?”tanya Siwon ragu. Ia memicingkan mata untuk menajamkan pandangannya.

“KAU! Jadi benar kau ada disini?!!”

“Kenapa kau bisa di sini Yuri?”

MWO?? Excuse me! Who’s the one who should asking that question?

“Eng… you?”

“Tentu saja babo! Kenapa kau mematikan ponselmu?”

“Ng… hari ini aku sedikit sibuk. Maaf. Lagipula akhir-akhir ini kau kan jarang menelponku, jadi kupikir––”

“Arrrrrgghhhh! Kau pasti lupa kalau hari ini kita ada janji di toko kue, iya kan?”

“Eh?!” Siwon sedikit terkejut. ’Astaga, Aku lupa tentang itu’ aku Siwon dalam hati. “A-apa kau menungguku?” tanya Siwon ragu.

“Apa ada alasan bagiku untuk menunggumu?” tanya Yuri balik dengan sinis dan cukup membuat Siwon sedikit kecewa.

“Untunglah kalau begitu, jadi sudah kau pilih sendiri kan?”

“Apa? Wedding cake-nya?” tanya Yuri dan dijawab dengan anggukan dari Siwon. “Tentu saja belum, kenapa aku harus mengurus dan memutuskan sendiri? Memangnya aku saja yang mau menikah?!”

“Hhh… itu lagi, itu lagi yang dibahas. Sudahlah Yuri, kalau hal-hal kecil seperti itu tak perlu dibesar-besarkan kan? Kalau hanya memesan kue seperti itu saja kan bisa kau sendiri, apa aku juga harus menemanimu? Lagipula nanti juga aku akan mengikuti keputusanmu”

“Apa? Hal kecil kau bilang? Sesuatu yang kau anggap ‘hal kecil’ ini adalah hal yang penting bagiku! Yang mungkin cuma aku dapatkan satu kali seumur hidup. Lagipula aku selalu meminta pendapatmu karena aku menghargaimu! Aku hanya ingin semuanya sempurna di hari pernikahan KITA. Karena itu aku selalu memperhatikan setiap detail-nya. Dan hari ini aku hanya minta waktu mu sebentar untuk memutuskan bersama. Agar kita juga bisa saling tukar pikiran. Lagipula kita juga jarang bertemu. Apa aku salah? Apa permintaanku terlalu sulit?”

Mianhe…” hanya itu yang bisa Siwon katakan.

“Selalu saja begitu! Aku sudah salah kalau berpikir kau akan berubah!”

“Maafkan aku”

“Maaf, maaf, maaf terus yang kau ucapkan! Apa kau tak mengerti apa arti kata maaf itu? kalau kau melakukannya satu kali itu tidak apa-apa, dua kali? Aku masih bisa terima, tiga kali pun aku akan memafkanmu dengan sukarela. Tapi ini?? berapa kali kau seperti ini?? Aku bahkan tak bisa menghitungnya karena saking banyaknya!”

“Lalu kau mau apa lagi? Lagipula bukannya kau juga tidak menungguku, lalu kenapa marah?” tanya Siwon yang kini berubah dingin.

M-mwo?! Kau––”

“Aku tau aku salah, ya aku minta maaf. Lalu kau mau aku melakukan apa lagi, eoh? Kau mau aku berlutut di kakimu, iya?”

“Choi Siwon!”

“Apa?!” Siwon tiba-tiba ikut-ikutan marah. Tanpa sadar Ia berdiri sambil menggebrakan meja, membuat Yuri tersentak kaget. “Sudahlah! Apapun yang kulakukan memang tak pernah benar di matamu. Bilang saja kalau kau sudah capek denganku, iya kan?”

“A-apa? Aku tak bilang begitu”

“Memang belum, tapi aku yakin satu atau dua kalimat lagi, kau pasti akan mengatakan itu. Tak perlu mencari alasan dan marah-marah seperti itu aku juga sudah tahu!”

“Si-Siwon?” suara Yuri mulai melemah. Sesungguhnya Ia ketakutan sekarang. Mendengar dan melihat Siwon sekasar itu padanya membuat badannya bergetar. Tak pernah mereka bertengkar separah ini sebelumnya. Matanya mulai memerah dan bersiap untuk mengalirkan air.

Sadar kalau sikapnya barusan agak keterlaluan dan membuat Yuri takut, Siwon menghela nafas beberapa kali, berusaha untuk meredam emosinya.

Hening.

Perlahan Siwon berjalan ke dinding untuk menyalakan saklar lampu. Selain suara derap langkah Siwon, tak ada lagi yang mereka dengar.

Ctik! Ruangan Siwon menjadi terang seketika. Kini mereka berdua bisa melihat dengan jelas apapun yang ada dalam ruangan. Siwon berjalan mendekati Yuri lalu berdiri tepat di hadapannya. Karena postur tubuh Siwon yang lebih tinggi, Yuri perlahan mendongakan kepalanya, menatap wajah Siwon. Ia sedikit kaget saat melihat keadaan wajah Siwon. Sebercak darah yang kini sudah mengering terlihat jelas di sudut bibirnya. Lebam pada pipi kirinya juga tampak terlihat walaupun samar. Bola mata Yuri bergerak menyusuri tiap lekuk wajah Siwon, meneliti apa masih ada luka lainnya. ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu, Siwonie?’ tanya Yuri dalam hati. Sebersit rasa bersalah karena telah menuduh Siwon secara sepihak muncul di hatinya. Mungkin hari ini Siwon mengalami peristiwa yang berat, dan sikap Yuri membuat sisa harinya menjadi semakin buruk.

“Maafkan aku karena sudah membentakmu. Aku yang salah, maafkan aku” Ucap Siwon lembut, memecah keheningan mereka. Ia hanya memandang ke bawah, tak menatap mata Yuri langsung.

Yuri mengulurkan sebelah tangannya yang bebas ke arah wajah Siwon. Berniat untuk membelai pipi namja itu. “Apa yang sebenarnya terjadi Siwonie? Kenapa kau––“ Siwon tiba-tiba saja melengos. Membuang muka ke samping, menghindari sentuhan yang akan diberikan Yuri. Melihat itu, Yuri hanya bisa menarik tangannya kembali. “Kalau dari awal kau tidak bisa datang, setidaknya kabari aku. Daritadi kau membuatku khawatir” ucap Yuri melembut. Tak ada gunanya Ia marah sekarang. Mungkin Siwon memang punya alasan kuat sampai Ia tak bisa menghubunginya. Yang Yuri ingin dengar dari mulut Siwon sekarang hanyalah penjelasan dari apa yang telah terjadi. Namun, Siwon tetap diam tanpa menanggapi omongan Yuri. Perlahan Siwon membalikan badannya memunggungi Yuri lalu maju beberapa langkah, menjauh. “Ada apa?  Lukamu itu… apa kau baru saja berkela––“

“Yuri” panggilan Siwon memotong ucapan Yuri. Ia masih dalam posisi memunggungi Yuri. “Kurasa… sebaiknya kita perlu memikirkan lagi pernikahan kita”

Degh! Yuri terkejut dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut tunangannya itu. BRAK!. Kotak yang Yuri bawa jatuh begitu saja ke lantai. Otaknya mencerna dengan cepat maksud dari kata-kata Siwon. Seketika dadanya menjadi sesak. Pegangannya lemas. Pandangannya kosong dan badannya rasanya mau ambruk. Suasana hening diantara mereka membuat Yuri dapat dengan jelas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Siwon.

N-ne? Ma-maksudmu, kau mau membatalkan pernikahan kita?” tanya Yuri dengan nada suaranya yang bergetar. Ia berharap Siwon mengatakan sesuatu yang lain. Atau paling tidak mengatakan bahwa Ia hanya bercanda. Walaupun omongan itu memang sangat keterlaluan untuk dijadikan bahan candaan, tapi setidaknya Siwon tidak benar-benar bermaksud untuk berpisah. Semarah apapun Yuri hari ini, Ia juga tidak berharap kalau pernikahannya batal begitu saja.

“Maafkan aku, tapi kurasa ini yang terbaik untuk kita”

Tes. Sebulir air mata jatuh dari sudut mata Yuri.

Yuri tersenyum kecut. “Tidak. Katakan kau hanya bercanda. Siwonie, ini tidak lucu. Cepat hentikan gurauanmu itu!”

Melihat Siwon yang tak bereaksi apa-apa, membuat Yuri menghampirinya. Ia menarik tangan Siwon dan membuat mereka berdua kembali berhadapan. “K-kau marah karena aku mengacuhkanmu seminggu ini?” tanya Yuri sambil menahan sesegukan. Matanya semakin memerah dan air mata mengalir deras di pipinya.

“Tidak, kau pantas memperlakukan aku seperti itu, aku tahu aku yang salah”

“Lalu apa alasannya?”

“…” Siwon masih juga diam. Ia justru berbalik lagi memunggungi lawan bicaranya itu. Siwon berjalan beberapa langkah menuju jendela dengan kaca bening di ruangannya––membuatnya dapat dengan jelas melihat gemerlap kota Seoul  malam hari. Yuri menghela nafas beberapa kali, berusaha menghadapi ini dengan tenang. Semua pasti ada alasannya. Ia hanya butuh penjelasan.

“Siwonie, pernikahan kita kurang dari sebulan lagi. Kita bahkan sudah memesan gedung, foto pre-wedding, membayar WO, dan memesan cathering. Walaupun undangan baru akan di sebar minggu depan, tapi hampir semua orang yang kita kenal sudah mengetahui tanggal pernikahan kita”

“Justru karena itulah” Siwon menundukan kepalanya sejenak lalu kembali melihat ke pemandangan di luar jendela. ”Aku tak mau pernikahan kita terlaksana hanya semata-mata karena ‘terlanjur’ memesan gedung, foto pre-wedding, membayar WO, memesan cathering, atau hal-hal yang sudah kita lakukan lainnya”

“Maksudmu apa Siwon? Sebenarnya apa yang menyebabkanmu begini?”

I just realize that we’re not ready for marriage. We’re still too young.

Yuri diam. Mencoba mencerna tiap kata yang Siwon ucapkan. Mungkinkah Ia bisa menerima alasan seperti itu?

“Tadinya aku berpikir ini bukanlah masalah karena kita sudah saling mengenal cukup lama. Itulah sebabnya aku langsung setuju saat orang tua kita membicarakan pernikahan. Kukira kau juga pasti setuju karena kupikir kau juga mencintaiku––“

And you think I’m not?” potong Yuri.

Siwon diam sejenak. Ia menunduk. “Entahlah, aku tak bisa membaca hatimu”

Tes. Sebulir air mata jatuh lagi dari mata Yuri. Bagaimana bisa Siwon berkata seperti itu padanya? Lalu apa artinya hubungan yang sudah selama ini bertahun-tahun mereka jalani? Ia tak bisa percaya bahwa Siwon meragukan cinta yang selama ini Ia berikan. Hatinya semakin sakit. Perkataan Siwon sejauh ini bagai menyayat hatinya tanpa ampun. Entah apa Ia sanggup melanjutkan pembicaraan ini.

“Aku baru saja menyadari, selama ini kau hanya menuruti kemauan orangtuamu, orangtuaku, dan kemauanku tentang pernikahan ini. Kau mengikuti semua keputusan kami”

“Aku tak pernah menolaknya, Siwon”

“Kau memang tak menolaknya, tapi kau juga tak pernah berkata ‘iya’ atau ‘setuju’ untuk menikah denganku bukan? Kau mengikutinya karena sesuai dengan keinginan kami. Dan semuanya berjalan begitu saja. Dari awal orangtua kita memutuskan pernikahan ini, kita berdua tak pernah membicarakan tentang pernikahan secara serius, yang kita terus kerjakan hanyalah bagaimana caranya agar penikahan ini sesuai dengan martabat keluarga kita.”

Siwon menghentikan ucapannya untuk berbalik menghadap Yuri kemudian berjalan mendekat ke arahnya. Perlahan Siwon menangkupkan wajah Yuri dengan kedua tangannya, Ia menghapus air mata Yuri yang masih mengalir dengan ibu jarinya. “Yuri, Aku tak mau membuatmu jadi terpaksa menikah hanya karena persiapan-persiapan yang sudah kita lakukan. Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk berpikir, apakah ini jalan yang benar-benar sesuai dengan kemauan dan keinginanmu. Jangankan masih sebulan lagi. Kalaupun hari pernikahan kita besok, aku juga akan melakukan hal yang sama”

“…” Yuri diam. Matanya melirik ke bawah, tak mau menatap Siwon.

“Aku… aku ingin kau juga merasakan hal yang sama denganku. Yakin bahwa aku adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu…. dan hanya aku” ucapan Siwon kali ini membuat Yuri menatap matanya tiba-tiba.

“Siwon, jangan bilang ini masih ada hubungannya dengan Nickhun oppa?”

“….” Siwon tak menjawab dan hanya balas menatap mata Yuri dalam. Ya, Yuri mengerti sekarang. Siwon masih cemburu.

“Apa kau mengira selama bertahun-tahun ini kita menjalin hubungan aku tak tulus padamu? Kau tidak percaya bahwa aku mencintaimu?”

Siwon melepaskan kedua tangannya dari pipi Yuri. Kini Ia yang menunduk “Aku tak tahu Yuri, awalnya aku memang yakin bahwa kita memang saling mencintai, tapi melihat keadaan kita akhir-akhir ini…”

“Siwon, aku mengerti sifat pencemburumu. Tapi cemburumu yang kali ini sungguh berlebihan. Bukankah waktu itu aku sudah mengenalkanmu padanya? Dan aku juga sudah menjelaskan padamu bahwa kami hanya teman, kami tidak punya hubungan khusus. Apa ini tidak terlalu keterlaluan? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?”

“Karena aku memikirkan perasaanmu Yuri, makanya aku melakukan ini. Aku ingin kau dapat membedakan perasaanmu Yuri. Mungkin saja kau merasa punya hutang budi padaku karena kecelakaan itu. Kau ingat kejadian itu kan? Dulu aku menyelamatkan hidupmu yang membuat diriku sendiri koma di rumah sak––”

PLAK! Dengan sadar Yuri menampar wajah Siwon. Ia tak habis pikir Siwon punya pemikiran sedangkal itu terhadapnya.

“Aku tak menyangka kau hanya menilaiku sebatas itu. Kukira kau mengenal diriku lebih dari orang lain. Kau memang sudah berubah tuan Choi. Entah setan apa yang sudah membuatmu seperti ini. Apa sebegitu besar efek dari jealous-mu itu? Tsk, kau mau membatalkan pernikahan kita? Baiklah, aku setuju. Percuma juga menikah dengan seseorang yang tidak kenal bagaimana diriku”

Yuri berbalik, lalu melangkah menuju pintu keluar. Sebelum Yuri benar-benar menghilang dari pandangan Siwon, Ia berhenti sebentar dan menengok ke samping, melihat Siwon dari sudut matanya. “Dan kuharap kita tidak usah saling mengenal lagi. Terima kasih atas semuanya Direktur Choi Siwon. Selamat tinggal” Yuri membuka pintu ruangan Siwon dan berjalan keluar. Ia menuju parkiran mobilnya dan menyuruh supirnya untuk segera membawanya pulang ke rumah.

Sementara Siwon, begitu pintu ruangannya tertutup sesaat setelah Yuri keluar, ketika itulah Siwon jatuh. Tubuhnya bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangan yang kini menyentuh lantai. Ia menunduk dan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Tangis yang Ia coba tahan sedari tadi, tumpah ruah begitu saja hingga membasahi lantai di bawahnya. Memang keinginannya sangat berlawanan dengan apa yang Ia sudah katakan tadi. Mana bisa Ia melepas orang yang Ia cintai. Ralat. Yang sangat sangat dicintainya. Yeoja yang secara Ia sadari ataupun tidak selalu mengisi penuh hatinya sehingga tak ada lagi ruang untuk yeoja lain.

“Aaaarrrggghhhh!” Siwon memukul lantai dengan kuat hingga menyebabkan tangannya lebam dan luka oleh kelakuannya sendiri. Mungkin dia adalah namja terbodoh yang dengan mudahnya melepaskan yeoja yang sangat berarti bagi dirinya. Tapi Siwon yakin ini adalah jalan yang benar. Pengorbanannya kali ini mungkin akan berbuah manis. Walaupun sakit, Ia tetap harus melakukan ini, demi cintanya, demi cinta mereka.

Malam ini mugkin adalah malam dimana sang perfect couple mengalami hal yang paling berat. Tetesan demi tetesan air mata terus mengalir di pipi kedua insan yang sebenarnya masih saling mencintai itu. Walaupun di tempat yang berbeda, mereka merasakan sakit yang sama di waktu yang sama. Mungkin begitulah hidup. Mencintai berarti harus siap untuk tersakiti. Selalu ada perpisahan di setiap pertemuan. Kecuali Tuhan, tak ada yang kekal… tak ada yang sempurna…

Mereka boleh saja merencanakan untuk menikah atau berpisah, tapi tetap Tuhanlah yang menentukan semuanya. Dan malam ini, keputusan yang fatal telah terucap. Mereka tidak sadar, bahwa sejak saat ini, takdir sudah menggoreskan sesuatu yang berbeda untuk mereka. Tuhan pasti punya banyak cara.

***

Yuri mengerjapkan matanya beberapa kali saat mulai terbangun dari tidurnya. Matanya terlihat sembab. Disampingnya, Tiffany masih tertidur dengan nyenyaknya. Kehadiran Tiffany kemarin malam, mungkin satu-satunya hal yang Yuri bisa syukuri. Entah karena mereka punya ikatan batin atau apa, tiba-tiba saja Tiffany datang dan memutuskan untuk menginap di rumah Yuri. Kemarin malam, Yuri menangis habis-habisan di pelukan sahabatnya. Menceritakan dengan detail apa yang sudah terjadi padanya hari itu. And thanks God, setidaknya membuat Yuri bisa sedikit lega karena bisa berbagi kerisauan hatinya.

Yuri turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon depan kamarnya. Tepat saat Ia membuka pintu, udara pagi yang menyejukan menerpa wajah cantiknya yang kini terlihat sedikit pucat. Langit masih belum terang dan matahari belum menyebarkan seluruh cahayanya untuk menghangatkan bumi. Sungguh kejadian yang sangat jarang terjadi, Yuri bangun sendiri di pagi buta seperti ini. Yuri mendudukan dirinya di kursi yang terdapat di sana. Ia menoleh ke meja samping kursi. Sebuah pot dengan bunga yang sudah melayu. Bunga yang awalnya berwarna putih dan pink segar itu kini menjadi coklat kekuningan yang tidak sedap dipandang mata. Tentu saja layu, karena Yuri tak punya cukup waktu untuk merawatnya. Dan Yuri ingat, bunga itu… ‘bunga pemberian Siwon’. Yuri memegang dadanya. Rasa sakit itu masih ada. Padahal semalam Ia berharap semua yang telah Ia alami kemarin hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang akan segera berakhir ketika Ia membuka matanya. Tapi kenyataan memang terkadang pahit.

‘Ketika mereka memutuskan untuk berpisah bukan berarti mereka saling membenci satu sama lain tapi karena mereka tidak mau menyakiti orang yang mereka cintai lebih dalam lagi.’

Kata-kata yang pernah Ia ucapkan untuk Jihyun menggema dalam pikirannya. Satu kalipun Yuri tak pernah menyangka bahwa Ia akan mengalami hal seperti ini. Waktu itu dengan mudahnya Yuri berkata bijak, menyuruh Jihyun untuk sabar dan mengerti. Tapi kini, seakan Ia menjilat ludahnya sendiri. Yuri tak bisa mengerti semua itu dengan mudah. Mereka bahkan belum menikah, tapi mengapa rasanya sesakit ini? Semuanya berakhir bahkan sebelum dimulai.

Tes. Tanpa sadar air mata Yuri keluar begitu saja.

“Yuri? Kukira kau kemana, ternyata disini?” tanya Tiffany yang tiba-tiba sudah berada di daun pintu. Mendengar suara sahabatnya, Yuri segera menghapus air matanya. Ia menatap dan tersenyum pada Tiffany.

Ne, kau sudah bangun Fan?”

Tiffany berjalan ke arah Yuri sambil membawa selimut tebal. Ia menyelimuti tubuh Yuri dengan selimut itu, lalu memeluknya. Dapat Tiffany rasakan wajah dan tubuh Yuri yang dingin.

“Sudah berapa lama kau disini dengan piyama yang tipis begini?” tanya Tiffany sambil melepas pelukannya dan duduk di samping kursi Yuri.

“Ng… belum lama” jawab Yuri santai yang langsung mendapat tempelengan dari Tiffany.

“Kau bohong, tubuhmu sudah menggigil seperti ini, kau bilang belum lama eoh?”

“Hehehe… ketahuan ya?”

“Yuri-ah, are you okay?” tanya Tiffany lembut.

Yuri tersenyum simpul. “For now, I can’t tell you that I’m fine, but it’s better after you came

“Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?”

Yuri menggeleng. “Kau sudah membantu banyak, Gomawoyo

“Bantu apa? Semalaman aku hanya bisa mendengarkan ceritamu tanpa berbuat apa-apa. Bahkan untuk memberimu nasihat pun aku tak bisa. Aish, sebagai sahabatmu aku merasa tidak berguna. Padahal kau– hmppbbhh…“ ucapan Tiffany terpotong karena Yuri sudah membekap mulutnya.

“Kau benar Stephanie Hwang, terima kasih telah menjadi pendengar yang baik untukku. Itu sudah cukup, jadi jangan tambahkan peranmu sebagai pembicara yang kelewat baik juga––atau kalau kasarnya cerewet–– arra?”

Tiffany mengangguk mengerti. “Baiklah, tapi janji ya, kalau ada sesuatu yang bisa aku lakukan, atau kau butuh bantuanku, katakan padaku” ucap Tiffany setelah Ia melepas tangan Yuri dari bibirnya. Yuri mengangguk. Kedua sahabat itu lalu saling melempar senyum. Semuanya akan berangsur membaik. Harapan mereka dalam hati.

***

“Kau yakin sudah mau bekerja? Wajahmu masih terlihat lelah” tanya Nyonya Kwon pada anak semata wayangnya itu.

Ne eomma, sudah cukup istirahatnya. Lagipula kalau di rumah terus aku malah akan tambah sedih karena terus mengingatnya. Lebih baik aku ke kantor, biar aku sekalian bicara langsung pada appa masalah pernikahan ini”

“Yuri-ah, apa tidak bisa dipikirkan lagi? Mungkin saja kalian––”

Eommaaa~

Ne, ne, arraseo. Eomma tak akan membicarakannya lagi. Kalau begitu kau pergilah, hati-hati di jalan ne?”

Annyeong eomma” pamit Yuri setelah mencium kedua pipi eomma-nya.

Hari ini Yuri sudah bertekad untuk bersikap seperti Yuri yang biasanya lagi. Tak ada lagi sedih-sedih. Apalagi air mata. Sudah cukup dua hari ini Ia bermuram durja. Ia sadar sikapnya telah membuat banyak orang khawatir. ‘Untuk apa aku terus memikirkan namja itu! Aku masih punya banyak hal yang harus dipikirkan untuk melanjutkan hidup, dan aku tidak sebodoh itu untuk menghancurkan kehidupanku sendiri’ batin Yuri memberikan semangat pada dirinya sendiri.

Mulai hari ini semuanya harus kembali normal.

***

Jam makan siang kali ini Siwon gunakan untuk pergi menemui seseorang. Siwon melangkahkan kakinya pasti menuju pintu masuk sebuah perusahaan dengan label Kwon Company. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang electronic industry dan sudah membuka cabang dimana-mana. Mengingat nama besar dan betapa suksesnya perusahaan ini, tak diragukan lagi karyawan yang dipekerjakan pasti berjumlah ribuan. Kalau saja semuanya masih berjalan lancar, tak lama lagi gedung bertingkat nan megah ––yang merupakan pusat dari Kwon Company––ini juga pasti akan menjadi miliknya. Tentu saja. Satu-satunya pewaris tunggal dari perusahaan ini adalah Yuri kan? Kalau Ia menikah dengan Yuri, otomatis semua milik Yuri juga akan menjadi miliknya. Jika hal itu terjadi, total kekayaan yang Siwon miliki akan bertambah, dan mungkin Siwon akan termasuk ke dalam lima belas besar orang terkaya di Korea Selatan.

Tapi sayangnya bukan itu yang Siwon inginkan dari pernikahannya. Satu kalipun tak pernah terbesit niatan di dirinya untuk menguasai harta kekayaan yang Yuri miliki. Untuk apa? Hidupnya sudah sangat amat tercukupi sejak kecil karena Ia dilahirkan di tengah keluarga orang berada. Apa kau pikir Siwon adalah seseorang yang manja karena hanya memanfatkan kemampuan keluarganya? Atau kau berharap Ia akan merantau seorang diri dan memulai segalanya dari bawah seperti sosok ‘anak orang kaya yang bosan dengan kehidupan mewah’ seperti di kebanyakan film atau drama seri? Jangan bodoh dengan berpikiran seperti itu. Meninggalkan segala kemewahan dan turun ke jalanan dengan tangan kosong hanya untuk berharap mendapatkan ‘nilai kehidupan yang sebenarnya’ seperti itu hanya untuk orang tolol yang tidak mengenal kata syukur. Apa yang Siwon dapatkan sedari kecil, adalah karunia Tuhan yang sangat Ia syukuri. Ia tidak mau menghancurkan hasil kerja keras orang tuanya. Oleh karena itulah, sebagai generasi penerus, Ia bekerja keras mempertahankan dan mengembangkan perusahaan yang sekarang berada di bawah naungannya. Sebagai salah satu umat yang taat kepada agama, Siwon hanya tidak mau menyia-nyiakan pemberian yang Tuhan sudah berikan padanya. Ia juga bukan orang sombong yang terlalu senang berada di atas, tak perlu dihitung seberapa sering dirinya beramal. Secara rutin, beberapa persen dari keuntungan perusahaannya Ia keluarkan untuk kegiatan amal. Menyumbangkan sedikit hartanya untuk orang-orang yang tidak mampu, lembaga social, atau korban bencana. Siwon perduli dengan mereka-mereka yang berada dalam kondisi jauh dari kata ‘cukup’. Bagaimanapun, di mata Tuhan mereka semua sama bukan? Percayalah, seberapa sempurnanya pun seorang Choi Siwon, Ia juga manusia biasa yang sangat peduli terhadap kemanusiaan. Jiwa sosialnya cukup tinggi. Bahkan dibalik sifat narsis-nya yang sering muncul itu, Ia adalah seorang yang rendah hati. Selalu hormat pada orang yang lebih tua tanpa melihat status. Tak pernah Ia melihat latar belakang seseorang untuk Ia jadikan teman atau pacar. Buktinya saja Ia tetap memanggil Leeteuk dengan hyung walaupun namja itu adalah bawahannya.

Siwon bukan seorang pemilih dalam menentukan siapa-siapa yang akan menjadi istrinya kelak. Semua Ia percayakan pada hatinya. Saat hatinya sudah memerintahkannya untuk mencintai seseorang, tak perduli yeoja miskin atau kaya, pintar atau bodoh, bahkan cacat fisik sekalipun, Siwon pasti akan memperjuangkan cintanya. Dulu sekali Siwon pernah sempat khawatir karena Ia tak juga merasakan getaran yang orang sebut sebagai cinta. Dan hal itu membuat dirinya yang saat itu menginjak usia remaja dilanda dilemma. Ia merasa hampa dan seperti ada yang kurang dalam kehidupannya. Semuanya datar tanpa gejolak. Apalagi melihat teman-temannya sudah mempunyai kekasih, membuat Ia semakin iri. Beberapa kali Ia mencoba berhubungan dekat dengan beberapa yeoja, namun hal itu tak mengubah apapun. Walaupun seberapa keras Ia mencoba menyayangi, tapi hatinya tetap tidak tergugah. Ia tak dapat merasakan debaran jantung yang sangat Ia nikmati sama seperti ketika cinta pertamanya muncul. Siwon tak menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan rasa itu lagi, dengan ketampanan dan semua yang Ia miliki, tentu saja banyak yeoja yang rela mengantri untuknya. Tak terhitung berapa banyak yeoja yang telah menyatakan cinta pada Siwon, namun tak sedikit juga yeoja yang mengucap kata putus duluan karena tidak tahan dengan sikap Siwon yang dingin dan tak pernah menunjukan rasa tertariknya. Mungkin karena itulah predikat playboy sering diucapkan banyak orang untuk menggambarkan sosok Siwon. Seiring berjalannya waktu, Siwon mulai lelah dengan pencariannya menemukan cinta. Caranya dengan menerima pernyataan cinta dan pacaran dengan beberapa yeoja hanya membuat reputasinya buruk. Mungkin memang belum waktunya. Mungkin Ia tak bisa jatuh cinta lagi. Atau mungkin jangan-jangan Ia tidak tertarik pada yeoja ––alias gay? Beragam pikiran dari yang normal sampai aneh merasuki otaknya. Bahkan menjadi seorang pastor yang mengabdikan diri seumur hidup pada Tuhan sempat terbesit dalam benaknya. Ia tak keberatan kalau itu memang takdirnya, pikir Siwon saat itu. Bukankah Tuhan adil? Siwon boleh memiliki semuanya, kesempurnaan fisik, kekayaan melimpah, kebaikan hati, kepintaran yang di atas rata-rata, bahkan keluarga utuh yang harmonis. Tapi di balik itu, Tuhan memberikan Siwon hati yang sedingin es. Siwon memang bersikap hangat dan ramah pada siapa saja, tapi hanya seorang yeoja dengan kehangatan cinta yang benar-benar tulus yang bisa melelehkan hati Siwon seutuhnya. Ia boleh dicintai oleh banyak yeoja, tapi Ia tidak bisa mencintai. Rasa sayang yang paling besar Siwon bisa berikan untuk (mantan-mantan) pacarnya hanyalah rasa sayang seperti seorang teman, adik, atau keluarga. Maka dari itu, ketika hubungannya ––dengan mantan pacarnya yang dulu–– berakhir, Siwon tak merasakan sakit yang mendalam. Bagaimana bisa sakit hati kalau cinta saja tidak? Padahal cinta juga merupakan kebutuhan psikis bagi setiap manusia. Sakit hati memang tidak enak, tapi tanpa cinta? Bukanlah jauh lebih buruk?

Masa pubertas ––dimana biasanya seseorang mulai tertarik dengan lawan jenis mereka–– yang kebanyakan orang bilang adalah masa-masa terindah, Siwon lalui dengan datar tanpa kesan khusus.

Sebelum berakhir dengan frustasi, Siwon memutuskan untuk menyudahi usahanya. Satu-satunya yeoja yang pernah membuat jantungnya berdebar tak karuan, yeoja yang membuat Siwon lupa akan dunianya sendiri, dan yeoja yang paling Siwon ingin lindungi adalah yeoja yang Ia temui saat usianya masih 5 tahun di tepi pantai Jeju Island, tapi tak tahu sekarang berada di belahan bumi mana. Lebih baik Siwon pasrah dan menuruti kemauan Tuhan. Menjalani takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya. Jika Ia memang harus jadi pastor, sungguhpun Ia akan jalani dengan suka rela.

Ketika Siwon sampai pada titik dimana Ia akan menyerah, di saat itulah harapannya datang lagi. Siapa saja boleh tidak percaya, tapi Siwon benar-benar mengalami apa yang di sebut dengan love at first sight. Ya, Siwon merasakan getaran yang selama ini Ia dambakan saat pertama kali melihat seorang yeoja di hari pertama masuk SMA. Yeoja yang tidak lama Ia ketahui bernama Yuri itu berhasil menyita perhatiannya. Bukan karena wajahnya yang cantik, Siwon sudah biasa bertemu dengan yeoja yang parasnya bahkan jauh melebihi model, tapi ada perasaan lain dalam hati Siwon yang membuat Yuri terlihat istimewa dibanding yeoja lainnya. Hanya Yuri yang bisa membuatnya memiliki perasaan-perasaan aneh yang Siwon sendiri sulit untuk mendeskripsikannya. Setelah lama berlayar mencari pemiliknya, akhirnya Siwon dapat mengatakan bahwa inilah saat dimana hatinya harus berlabuh. Mulai detik itu, hati sedingin es itupun perlahan mencair.

“Kalau begitu aku pamit dulu abeonim” Siwon membungkukan kepalanya pada tuan Kwon. Sudah hampir satu jam Ia berada dalam ruangan milik orang yang mempunyai jabatan tertinggi di perusahaan ini. Kedatangannya kemari bukan untuk bisnis, melainkan membicarakan tentang keputusan Siwon yang membuat kedua keluarga mereka shock bukan main. Siwon sadar tindakannya membatalkan pernikahan ––yang kurang lebih akan dilangsungkan dalam tiga minggu itu–– sudah cukup keterlaluan. Tapi Siwon melakukan itu bukan tanpa alasan. Jadi, sebelum semuanya salah paham, Siwon berinisiatif untuk menjelaskan semuanya pada tuan Kwon.

Tuan Kwon mengangguk mengerti. “Ne, baiklah. Kalau memang seperti itu kejadiannya, aku hanya bisa memaklumi. Bagaimanapun, kalian yang akan menjalani semuanya nanti. Kedudukanku disini hanyalah sebagai orang tua. Kami hanya bisa memberi masukan dan nasihat bukan memutuskan.”

Kamsahamnida abeonim, terima kasih atas semua pengertianmu”

Ne, ne, aku percaya padamu Siwon-ah, semoga ini memang yang terbaik untuk semuanya”

“Sekali lagi, jeongmal gomapseumnida. Maafkan aku atas ketidaknyamanan yang aku timbulkan. Jeongmal jeoseonghaeyo” Siwon membungkuk berkali-kali di hadapan tuan Kwon.

Arra, aku juga tahu bagaimana kondisimu, dan aku sangat mengerti sifat anakku. Baiklah kalau begitu, hati-hatilah di jalan. Sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu ne?”

Ne, annyeonhashimnikka abeonim

Siwon tersenyum sambil melangkah keluar ruangan tuan Kwon. Rasanya sungguh lega setelah mengatakan semuanya. Padahal awalnya Ia sangat ketakutan kalau-kalau calon mertuanya––atau lebih tepat disebut mantan calon mertua?–– itu akan marah dan menghajarnya habis-habisan karena telah berani mempermainkan putri tunggalnya dan juga pernikahan mereka. Tapi kekhawatiran Siwon nyatanya tidak terbukti. Seharusnya Siwon juga sadar kalau tuan Kwon adalah seseorang yang berpikiran modern dan terbuka. Mengingat betapa banyak kebaikan yang telah ditunjukan tuan Kwon, Siwon menyesal karena sempat berpikiran buruk terhadapnya.

“Fiuuuhh….” Siwon menghela nafas lega. Ia melanjutkan jalannya menuju lobby dan keluar lewat pintu utama lobby itu. Supir nya pasti sudah menunggunya dari tadi di luar.

Degh! Seketika tubuh Siwon menegang. Langkahnya terhenti saat Ia tanpa sengaja bertatapan mata dengan Yuri secara bersamaan dari jarak kurang lebih sepuluh meter. Tak bedanya dengan Siwon, Yuri pun yang tadi berjalan normal tiba-tiba saja diam di tempat. Walaupun ada banyak orang melintas di tengah-tengah mereka berdua, tapi hal itu seakan tak menganggu kegiatan saling tatap-menatap kedua orang ini. Cukup lama mereka saling pandang dalam diam di posisi yang tak juga berubah sedari tadi. Keduanya bingung harus melakukan apa, hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Hei” seseorang menepuk pundak Yuri dari belakang. Hal itu lantas memutus kontak mata diantara Yuri dan Siwon. Yuri berbalik dan menatap orang yang memanggilnya. Sedangkan Siwon hanya bisa mengepalkan tangan saat menyadari siapa yang kini menghampiri Yuri. Matanya berapi-api memandang namja jangkung berambut coklat tersebut. “Kenapa kau jalan cepat sekali? Daritadi aku memanggilmu tapi kau terus saja berjalan” ucap Nickhun pada Yuri.

“Eh? mianhe, aku tidak dengar oppa. Waeyo?

“Kau meniggalkan dompetmu tadi, ini”

“Astaga, aku lupa. Hehehe, maaf merepotkanmu oppa, gomawoyo

“Dasar ceroboh” ledek Nickhun sambil mengacak pelan rambut Yuri. “Yasudah kalau begitu aku pamit, annyeong

Ne, annyeong, hati-hati di jalan oppa“ Yuri melambaikan tangannya pada Nickhun sambil tersenyum. Ia tak sadar kalau sejak tadi seseorang yang masih terus menatap mereka berdua menjadi semakin geram. Siwon hanya bisa menahan emosinya.

Yuri mulai berjalan lagi seperti tujuan utamanya untuk segera kembali menuju ruangannya. Siwon masih juga tak bergeming, dirinya malah gugup saat Ia merasa Yuri mendekat ke arahnya.

6 meter. Keringat mengalir dari kening Siwon.

4 meter. Jantungnya semakin berdebar tak karuan.

2 meter. Sekilas Yuri melihat Siwon lagi lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

1 meter. Dan––

Wuuussshhh…..

Dengan santainya, Yuri berjalan begitu saja melewati Siwon. Tanpa satu patah katapun, Ia berlalu dengan mudahnya. Seolah-olah mereka tidak saling mengenal, persis seperti yang Yuri inginkan. Sebelum jarak mereka semakin jauh, Siwon menahan lengan Yuri.

“Maaf, apa ada yang ingin anda katakan?” tanya Yuri dingin saat Ia berbalik menatap Siwon. Bukannya menjawab, Siwon hanya terus memandang Yuri dalam, kemarahan terlihat jelas dari raut wajahnya. Sebenarnya banyak sekali yang Siwon ingin bicarakan, namun entah mengapa bibirnya seperti dikunci rapat saat Yuri bersikap seperti itu padanya. Perlahan Yuri melepaskan genggaman tangan Siwon saat namja itu tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Kalau tidak ada, maaf, saya harus segera kembali bekerja” ucap Yuri datar lalu meneruskan jalannya yang tadi sempat tertunda.

Siwon tetap diam di tempat. Memandangi punggung Yuri yang kini semakin menjauh. Ia terlalu kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Hatinya mencelos miris saat dirasanya derap langkah kaki Yuri semakin menjauh dan akhirnya menghilang begitu saja. ‘Jadi, inikah patah hati yang sesungguhnya?

***

“Nona, kumohon hentikan. Anda sudah terlalu mabuk, jangan minum lagi” kata seorang pelayan laki-laki di depan meja bar. Beberapa kali Ia mencegah Yuri untuk berhenti minum.

“Apa? Mabuk? Tidak kok, aku tidak mabuk, aku masih kuat! Kalau aku mabuk aku tidak mungkin bisa melihatmu dan kembaranmu itu dengan jelas seperti ini.” Jawab Yuri dengan mata sayu dan wajah yang memerah.

“Benarkan kataku, dirimu sudah mabuk berat, makanya bicaramu ngawur. Dari tadi cuma ada aku yang ada di hadapanmu. Nona, lebih baik anda menelpon seseorang untuk menjemputmu sebelum mabuk total”

“Eh?… Shireo! Ayo berikan aku segelas lagi… heeeh… sudah kubilang aku masih kuat kan? Dasar bodoh. Jangan khawatir, aku masih punya uang yang sangaaaaat banyak. Ahahaha…. Apa kau tidak tahu aku ini anak orang kaya?? Ahahaha…. Calon suamiku saja punya bisnis dimana-mana”

“Hhhh… percuma bicara dengan orang mabuk” ucap pelayan itu malas. Walau hal ini sudah sering terjadi padanya, tetap saja Ia tak terbiasa dengan hal itu. Menghadapi orang mabuk itu sungguh melelahkan. Perlahan pelayan itu mengambil tas Yuri dan mencoba mencari ponselnya. “Maaf kalau aku lancang, tapi sepertinya aku tak punya pilihan lain selain menghubungi seseorang dalam kontak ponselmu ini. Lain kali kalau mau mabuk, datanglah bersama orang lain. Kalau sendirian seperti ini, kau hanya menyusahkan kami”

“Heh! Berani kau lancang padaku eoh? Apa kau tidak tahu siapa tunanganku? Siwon-ku itu jago taekwondo! Ia tidak akan membiarkan orang lain menghinaku. Kau pasti akan habis jika dihajar olehnya! Wataauuuu… Ahaha…” tawa Yuri setelah Ia memperagakan jurus taekwondo dengan asal.

“Hhhh… terserah apa katamu lah” jawab pelayan itu malas-malasan masih sambil mengutak-atik ponsel Yuri.

“Hikkksss… hikkssss…..”

“Eh? No-nona, anda tidak apa-apa?” tanya pelayan itu ragu saat melihat Yuri menunduk dan bahunya bergetar.

“Huaaaa….. aku lupa dia bukan tunanganku lagi. Dia sudah memutuskanku!” tangisan Yuri pecah dan membuat sedikit keributan. “Dasar namja babo. Stupid!” umpat Yuri yang mendapatkan tatapan miris dari orang-orang yang sempat berlalu lalang di dekatnya. Yuri menghapus air matanya lalu tiba-tiba tersenyum lebar entah pada siapa. “Hahaha…. Tapi untunglah kami putus! Jadi aku tak perlu mengalami pertengkaran lagi! Dia menyebalkan, aku pasti akan mendapatkan namja yang berkali-kali lipat jauh lebih baik dari namja babo itu!” Yuri masih sibuk bermonolog ria. Ia tidak sadar bahwa kini pelayan itu sudah menghubungi seseorang untuk menjemputnya.

Setelah beberapa menit sibuk dengan bercerita yang tidak jelas sendirian, Yuri berdiri dari duduknya. Ia ingin ke toilet karena rasanya Ia ingin muntah. Tapi baru satu langkah berjalan, Ia merasa kepalanya pusing dan perutnya sakit luar biasa.

BUGH! Sebelum Yuri jatuh ke lantai, seseorang sudah menahannya.

“Aaaarrrggghhh perutku sakit!” Yuri mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya.

“Yuri!” Panggilan suara seorang namja terdengar samar oleh Yuri. Namja itu lekas menggendong Yuri dan membawanya pergi dari tempat itu.

Sambil berusaha menahan sakitnya Yuri mendongak dan menatap wajah namja yang kini sedang menggendongnya dengan tergesa-gesa. Yuri kini mencium bau rumah sakit di sekitarnya.

“Superman kau kah itu?” igau Yuri yang dalam kondisi setengah sadar. Ia berusaha untuk mengenali siapa orang yang sedang membawanya, tapi entah kenapa malah wajah namja yang pernah bertemu dengannya waktu kecil itu yang muncul. Apa Yuri mulai berhalusinasi? Yuri mengerjapkan matanya lemah, kepalanya bersandar pada dada bidang namja itu –yang entah kenapa membuatnya merasa sedikit nyaman dan melupakan rasa sakitnya walau sebentar.

“Yu-yuri? Kau baik-baik saja?” tanya namja itu panic dengan nafas yang tersengal-sengal. Setelah beberapa perawat mengambil ranjang dorong untuk pasien, dengan lembut namja itu menidurkan Yuri di atasnya. Ia ikut berjalan mendorong ranjang itu menuju ruangan yang ditunjuk oleh suster disana.

“Hey bocah kecil, Kau Nickhun oppa kan? Kenapa aku tiba-tiba ingat wajahmu yang dulu? Bukankah kau sudah tumbuh besar? Apa kau–– Aaaarrrrgggghhh! Sakit!” tiba-tiba Yuri berteriak saat nyeri di perutnya semakin mendera.

“Bertahanlah yuri, kita sudah sampai di rumah sakit. Dokter akan segera mengobatimu”

Itulah kata-kata terakhir yang Yuri dengar dari namja itu. Rasa sakit dan pusingnya tidak tertahan lagi sampai akhirnya pandangan Yuri gelap dan Ia jatuh pingsan.

***

Yuri membuka matanya perlahan saat kesadarannya mulai kembali. Ia sedikit menautkan alisnya saat Ia sadar dengan kondisinya. Kepala dan perutnya masih sakit, selang infuse juga sudah melekat manis di tangan kirinya, Yuri mencium bau rumah sakit yang sangat kentara, dan yang terakhir Yuri melihat seseorang tertidur di tepi ranjangnya. Kepalanya bersandar pada kasur Yuri, dan badannya hanya duduk di atas kursi di samping kasurnya. Yuri mencoba bangkit dari posisi tidurnya untuk melihat lebih jelas. Gerakan Yuri justru membuat orang disampingnya itu bangun.

“Yuri? Kau sudah sadar?”

Oppa?” tanya Yuri lemah saat Ia mengenali wajah Nickhun di depannya. ‘Mungkin semalam aku benar-benar berhalusinasi’ batin Yuri.

“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?” tanya Nickhun bertubi-tubi.

“Eng… masih sedikit pusing dan mual sih, tapi sepertinya lebih baik. Tidak usah khawatir” jawab Yuri sambil mengurut dahinya pelan. “Gomawoyo oppa, mianhe aku jadi merepotkanmu”

Anniyo, aku tidak merasa direpotkan sama sekali” kata Nickhun tersenyum. “Kata dokter, seharian kemarin perutmu kosong jadi saat kau minum alcohol dengan kadar tinggi badanmu langsung drop. Aku sudah menghubungi Tiffany dan aku juga sudah menyuruhnya memberitahu orangtuamu tentang keadaanmu”

Ne, gomawoyo oppa” Yuri tersenyum singkat.

“Yuri, kau masih mencintai Siwon?”

“E-eh? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Kau sendiri kan juga tahu kalau kami sudah putus”

“Jawab saja, aku hanya ingin tahu”

“Aku membencinya” jawab Yuri datar.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kau mencoba untuk mencintaiku?”

***

3 days after…

Nickhun menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Yuri. “Terima kasih untuk hari ini oppa, gomawo sudah mengantarku pulang” ucap Yuri lalu turun dari mobil.

Ne, besok kujemput di kantor saat jam makan siang ya?” tanya Nickhun dari balik jendela mobil yang terbuka. Yuri mengangguk. “Baiklah, kalau begitu cepat masuk, di luar dingin, aku pergi, annyeong” Nickhun melambaikan tangannya pada Yuri lalu mengendarai mobilnya pergi.

Yuri berjalan masuk dengan langkah gontai. Seharian ini Ia jalan berdua bersama Nickhun. Mereka hanya berputar-putar sepanjang mall dan berbelanja sedikit sekadar membeli beberapa keperluan rutin bulanan. Mood Yuri awalnya masih baik-baik saja sampai Ia melihat Siwon di mall tadi. Saat dirinya berjalan berdampingan dengan Nickhun, tanpa sengaja Yuri melihat Siwon sedang duduk di salah satu café yang ada di dalam mall. Leeteuk dan dua orang lain––yang terlihat seperti relasi bisnisnya–– duduk bersama Siwon di satu meja. Mereka berbincang-bincang serius, sesekali Siwon akan melihat ke layar laptop––yang dibawa Leeteuk–– atau membaca beberapa dokumen yang terletak di atas meja mereka. Cukup lama Yuri memperhatikan Siwon dalam posisi itu, Siwon yang terlihat berkharisma, berwibawa, dan sangat focus pada pekerjaannya. Saat itulah jantung Yuri berdebar tak karuan, sudah lama sekali Ia tak pernah melihat Siwon dalam sosoknya yang serius seperti itu. Walaupun Yuri memang membenci Siwon yang workaholic, tapi Ia tak bisa memungkiri kalau dirinya memang sangat menyukai sosok Siwon yang satu ini. Yuri segera memalingkan wajahnya saat tiba-tiba saja Siwon balik menatapnya. Sadar kalau Siwon masih memperhatikan dirinya, Yuri malah dengan sengaja mengapit lengan Nickhun dan bersikap semesra mungkin padanya. Nickhun yang kaget dengan perubahan sikap Yuri yang tiba-tiba itu, hanya bisa mengerutkan keningnya bingung. Nickhun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari tahu sesuatu, kemudian menyeringai misterius saat matanya menangkap sosok Siwon yang seakan ingin menerkamnya. Sudah mengerti keadaan yang sebenarnya, Nickhun mulai menimpali tingkah Yuri dengan ikut bersikap mesra. Hal itu membuat Siwon sempat berdiri dari duduknya karena kesal. Baru saja Siwon akan beranjak pergi, namun Leeteuk sudah menahannya duluan. Membisikan sesuatu ke telinga Siwon agar namja itu dapat menahan emosinya. Nickhun semakin tersenyum lebar dan akhirnya Ia menarik tangan Yuri menjauh dari tempat Siwon.

“Hhhhh…..” Yuri mendesah berat saat membanting dirinya ke kasur empuk miliknya.

Tak henti-hentinya Ia memikirkan kejadian tadi. “Kenapa yang kulakukan selalu berkebalikan dengan apa yang kuinginkan?” tanya Yuri bermonolog. Ia mendudukan dirinya dan bersandar pada sandaran kasur. Tangan kirinya menggapai kotak kecil yang Ia taruh di atas meja nakas samping kasurnya. Yuri mengambil sapu tangan usang dari dalam kotak itu.

Tiga hari yang lalu dengan gegabah Yuri menerima ajakan Nickhun untuk menjalin hubungan dekat dengannya. Ia berpikir mungkin keberadaan Nickhun akan membuatnya melupakan atau setidaknya meringankan beban di hatinya itu. Dan bukankah mendapatkan pernyataan cinta dari Nickhun itu adalah impiannya dulu? Impian yang sangat Yuri harapkan dan sayangnya belum pernah kesampaian, karena selama ini Nickhun tak pernah menganggapnya lebih dari teman atau adik walaupun Yuri sudah berusaha keras untuk menunjukan perasaannya. Sekarang itu semua sudah menjadi kenyataan. Haruskah kini Ia merasa senang sekarang? Dirinya yang dulu pasti akan melompat-lompat kegirangan saat hal ini terjadi, tapi tidak untuk Yuri yang sekarang. Jangankan merasa senang, sedikit merasa baikan pun tidak. Yuri sama sekali tidak merasa ada yang special. Semua dirasanya biasa saja bahkan cenderung datar. Perasaannya yang seperti itu malah membuat dirinya merasa bersalah pada Nickhun. Benar-benar jauh seperti apa yang impikan dahulu.

Yuri menaruh lagi sapu tangan itu dalam kotaknya, lalu menutupnya rapat-rapat. “Tak seharusnya aku terus terperangkap dalam masa lalu”

***

Tak terasa hari demi hari berlalu dengan cepat. Jam baru menunjukan pukul enam pagi. Yuri bangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Akhir-akhir ini Yuri tak pernah lagi bangun siang seperti kebiasaannya dulu, bahkan hari libur––seperti hari ini––sekalipun. Entah apa yang menyebabkan perubahan sikapnya itu. Jika sedang tidak bekerja, Ia lebih banyak mengurung diri di kamar dengan membaca buku daripada melakukan hal lain. Tiffany jadi sering sekali berkunjung ke rumah Yuri untuk mengajak sahabatnya itu melakukan banyak hal, tapi selalu berujung dengan penolakan. Hubungannya dengan Nickhun masih sama dan belum ada peningkatan berarti. Mau sesering apapun mereka bertemu, Yuri akan tetap merasa sama, hambar. Dan seakan mengerti keadaannya, Nickhun pun tak pernah memaksa Yuri untuk berbuat lebih. Membuat Yuri nyaman berada disisinya sudah cukup baginya.

“knock knock” ucap seseorang dari balik pintu kamar Yuri.

“Masuk saja Fan, tidak dikunci” kata Yuri dari dalam begitu Ia mengenali suara yang sangat Ia hafal itu. Mendengar itu, Tiffany pun langsung masuk.

“Apa yang sedang kau lakukan princess Yuri?” tanya Tiffany dengan sumringahnya. Satu pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutnya begitu saja. Dengan jelas Ia dapat melihat Yuri sedang duduk tenang di sofa sambil membaca buku. Kenapa Ia masih bertanya?

“Seperti yang kau lihat sendiri” jawab Yuri datar. Matanya masih terpaku pada bacaan buku dihadapannya.

“Temani aku jalan-jalan yuk! Kita shopping, okay?”

“Bajuku masih banyak yang belum dipakai dari shopping yang sebelumnya”

“Yasudah, ke salon aja gimana?”

“Lagi gak mood, lagipula rambutku masih bagus kok”

“Spa?”

“Bosan ah”

“Ke pantai? Atau ke club? Oh, atau kita ke pegunungan saja? Bagaimana kalau kita menginap di villa keluargaku yang baru? Ajak Nickhun sunbae juga saja kalau kau mau”

“Malaaaaas Faaaann, aku mau istirahat aja”

“Kalau begitu kita makan di luar ya? Atau mau kutraktir di restaurant-ku?”

“Tapi aku tidak lapar”

“Beneran tidak lapar atau tidak mempedulikan rasa laparmu?”

“Kau ini ngomong apa sih….”

“Oh ayolah Yuri! Mau sampai kapan begini terus!? Jangan bohong padaku, kau tidak makan sedikitpun dari semalam kan? Ahjumma sendiri yang bilang padaku tadi. Kalau seperti ini terus kau bisa sakit Yuri!”

“Apaan sih kau ini? kau berlebihan Fan”

“Aku atau kau yang berlebihan eoh?” tanya Tiffany yang kini mulai sinis.

“Sudahlah aku tidak mau bertengkar denganmu”

“Apa ini semua karena Siwon?” mendengar nama itu disebut, Yuri seketika menghentikan acara membacanya. Ia hanya memandang kosong buku di depannya. “Aku benar kan? Kenapa sih kau tidak mencoba bicara padanya? Jelas-jelas kalian masih saling mencintai, tapi malah memutuskan berpisah, ternyata orang sepintar kalian bisa bertindak bodoh juga ya?” Yuri masih tetap dalam diamnya tak menanggapi Tiffany. “Jangan bersikap seolah kau tidak membutuhkannya kalau sebenarnya kau masih ingin bersama”

“Cih. Omong kosong. Aku membencinya” balas Yuri akhirnya.

“Jangan egois Yuri, kalau seperti ini terus, kau menyakiti dirimu sendiri”

“Apa? Aku egois?” Yuri kini membuang bukunya dan melemparnya ke sofa. Ia kini menatap Tiffany.

“Bukan maksudku untuk membela Siwon, tapi aku yakin dia pasti punya alasan. Kau tidak adil jika––“

“Ya! kau lupa apa yang sudah Ia lakukan terhadapku? Bukankah aku sudah menceritakan semuanya padamu? Aku sudah mengajaknya bicara, aku bahkan memaafkan semua kesalahannya, tapi apa yang kudapat? Siwon bahkan tak percaya padaku dan malah kemakan rasa cemburunya yang tak beralasan itu!”

“Ta-tapi Yuri dengan menjadikan Nickhun sunbae pelampiasanmu seperti ini kau malah––“

“Cukup Tiffany!” Yuri menatap tajam pada sahabatnya. “Dengan Nickhun oppa atau bukan, aku pasti bisa menjalin hubungan baru lagi selama aku ingin. Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa.”

“Waktu? Ini sudah berapa lama dari kejadian itu? dan kau tak ada kemajuan Yuri. Kau terus-terusan seperti ini. Butuh waktu berapa lama sampai aku bisa melihat Yuri yang biasanya? Sebulan? Setahun? Atau 10 tahun?”

“Tidak akan lama lagi” jawab Yuri datar.

“Benarkah? Kurasa aku masih ingat seberapa lama kau sembuh dari patah hatimu karena Nickhun sunbae dahulu. Dan kau mengatakan hal yang sama seperti ini, tidak akan lama lagi. Cih… omong kosong”

“Sudahlah, Jangan repot-repot mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja” Yuri beranjak berdiri.

“Oh ya?” tanya Tiffany sinis. “Baik-baik seperti apa yang kau maksud? Dengan tidak makan dua hari dan mabuk-mabukan?”

“Bukan urusanmu” jawab Yuri dingin. Tiffany lalu berdiri di depan Yuri, menghalanginya untuk berjalan.

“Atau dengan mengurung diri di kamar, tidak mau bersosialisasi dan hanya berkutat dengan buku-bukumu itu?!”

“Aku mau istirahat” jawab Yuri setelah Ia menepis tubuh Tiffany dari hadapannya. Perlahan Yuri berjalan mendekat ke arah ranjangnya.

“Kwon Yuri! Kumohon jangan bertingkah seperti ini lagi!” suara keras Tiffany membuat Yuri menghentikan langkahnya. “Sekarang kau sudah punya Nickhun sunbae, apa itu masih belum cukup untuk membuatmu kembali seperti Yuri yang kukenal? Kumohon Yuri. Jangan membuatku melihat Yuri yang dulu lagi. Yuri yang menjauhkan diri dari dunia luar, yang tak mau berbagi padaku, dan selalu merahasiakan semuanya sendirian. Hikkssss….” tangisan Tiffany pecah. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. ‘Jangan membuatku tambah bersalah padamu Yuri’ batin Tiffany pilu.

“Aku tidak seperti itu, aku baik-baik saja” ucap Yuri masih dengan dinginnya.

“Hentikan Yuri! kau selalu berpikir untuk tidak menyusahkan orang lain, tapi justru menikmati penderitaanmu seorang diri. Jangan katakan kau baik-baik saja saat dengan jelas aku bisa melihat kau sedang tidak baik-baik saja. Kalau kau mau marah, marahlah padaku. Aku pantas menerima amarahmu. Kalau kau mau tahu yang sebenarnya, aku yang memberitahu Siwon tentang siapa Nickhun sunbae untukmu”

Mendengar itu, Yuri tersentak kaget. Rasanya emosinya tersulut seketika. Dengan kasar Ia tarik tangan Tiffany dan mendorongnya keluar kamar.

“Leave me alone!”

BLAM! Yuri membanting pintu kamarnya tepat di depan Tiffany lalu menguncinya rapat-rapat. Tiffany mengetuk-ngetuk pintu kamar Yuri, masih berusaha mengajaknya bicara.

“Yuri, dengarkan penjelasanku dulu. Kumohon buka pintunya, biarkan aku memberikan penjelasan” tok! tok! tok! Tiffany terus mengetuk pintu kamar Yuri, tapi tak kunjung membuahkan hasil. “Baiklah, wajar kalau kau marah. Aku mengerti. Kalau kau tidak mau membukanya, setidaknya dengarkan aku dari sini”. Tiffany menyerah dan akhirnya bicara pada Yuri dari luar pintu. “Waktu itu, hari dimana kita makan bersama di restaurant Jepang dengan Nickhun sunbae, kau ingat kan, saat itu aku izin pulang karena di telepon eomma? Sebenarnya itu hanya alasanku agar kita cepat pulang, saat aku mengatakan itu padamu, aku berharap kau akan ikut pulang bersamaku, tapi yang terjadi malah sebaliknya, kau justru memilih berduaan dengan Nickhun sunbae” Tiffany menghela nafas sebentar dan mengelap air matanya dengan punggung tangannya. “Aku tidak suka kau menghabiskan waktu dengannya berlama-lama, bukan karena aku benci pada Nickhun sunbae, tapi aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku takut kau terbawa perasaan dan hal itu akan mempengaruhi hubunganmu dengan Siwon. Dulu Nickhun sunbae pernah meninggalkanmu tanpa kabar, selama beberapa waktu kau seperti orang yang bosan hidup. Di luar saja bersikap sok ramah, tapi jika sendirian aku sering sekali memergokimu menangis tanpa sebab. Orang melihat kau tegar, tapi aku tahu sebenarnya kau rapuh. Setelah Siwon datang, semuanya berubah membaik. Kau ceria, banyak tersenyum, cerewet, manja, galak, dan terbuka padaku. Kau mengekspresikan perasaanmu dengan jujur. Karena itulah aku sangat berterima kasih pada Siwon semenjak Ia membawa pengaruh baik padamu. Yuri-ah, aku mendukung hubungan kalian lebih dari siapapun. Aku tidak mau orang lain merusak hubungan kalian yang sudah sempurna itu. Apalagi Nickhun sunbae yang…. Yah kau tahulah maksudku”

Duk! Terdengar suara tubrukan kecil di pintu kamar Yuri. Tiffany yakin saat ini Yuri pasti sedang duduk persis di balik pintu itu dan dapat mendengar semua omongannya dengan jelas. Tiffany menghela nafas berat dan melanjutkan omongannya lagi. “Karena itulah Yuri, aku tidak mau Siwon semakin salah paham dengan hubungan kalian. Setelah Ia mengantarmu pulang malam itu, Siwon langsung menghubungiku dan mengajakku bertemu. Ia bertanya padaku tentang siapa Nickhun sunbae. Daripada aku berbohong dan Ia malah berpikir yang tidak-tidak, aku bilang kalau Nickhun itu hanyalah cinta monyetmu waktu dulu. Cinta sepihakmu yang tak pernah terbalaskan. Hanya itu Yuri. Saat itu Siwon terlihat biasa saja, tak ada tanda-tanda kalau Ia marah atau sikap aneh lainnya. Bahkan Ia sendiri yang bilang padaku kalau setiap orang pasti mempunyai masa lalu dan hal itu tak akan mengubah apapun dalam hubungan kalian ke depan. Aku percaya padanya karena setelah itu kalian masih baik-baik saja, sampai seminggu kemudian tiba-tiba kau bicara mengenai pembatalan pernikahan kalian. Aku shock Yuri. Kalau karena aku yang menyebabkan kalian berpisah, aku minta maaf… Jeongmal mianheyo… Aku akan terus-terusan merasa bersalah kalau aku tak bisa melihatmu kembali normal. Katakan Yuri, katakan padaku apa yang sebaiknya aku lakukan…? hikksss…. Aku tidak mau melihat kau begini lagi… Jeongmal mianhe… Yuri-ah”

Yuri masih tetap dalam diamnya mendekap dalam kamar. Sebenarnya kini Yuri tengah menangis di balik pintu kamarnya. Duduk meringkuk sambil membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Ia bingung harus bertindak bagaimana. Kalau memang omongan Tiffany lah yang telah mempengaruhi pikiran Siwon, Yuri memang akan sangat marah. Tapi Yuri juga tidak bisa menyalahkan Tiffany, bagaimanapun semua yang dikatakannya benar dan Ia berkata jujur juga dengan tujuan untuk kebaikan Yuri sendiri. Kalau begini, siapa yang harusnya disalahkan?

“Baiklah Yuri… aku pamit pulang. Kalau kau sudah mau bicara denganku, aku selalu bersedia menemuimu kapanpun kau mau” ucapan terakhir dari Tiffany sebelum yeoja itu melangkahkan kakinya keluar.

***

Yuri terbangun dengan mata sembab. Setelah seharian menangis kemarin, Yuri sudah dapat berpikiran jernih kali ini. Kejadian kemarin membuat Yuri berpikir banyak. Tiffany sebenarnya tidak bersalah. Mau Ia bilang atau tidak pada Siwon, tak akan mengubah masa lalu Yuri. Cepat atau lambat Siwon juga akan tahu yang sebenarnya. Mungkin perpisahan mereka memang sudah takdir.

Yuri bangkit dari kasurnya dan melihat kalender yang terpajang di salah satu sisi dinding kamarnya. Sebuah tinta berwarna merah melingkari salah satu tanggal yang ada disana, tepatnya tanggal yang menunjukan hari esok. Kalau saja semuanya berjalan lancar pasti hari ini Ia akan sibuk mempercantik diri untuk hari pernikahannya besok. Yuri menarik napas dalam sambil memejamkan matanya. Sudah cukup kan Ia menangis? Sudah cukup banyak orang mengkhawatirkan dirinya. Sekarang jangan lagi.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, akhirnya Yuri memutuskan untuk pergi keluar rumah. Hari ini Ia akan melakukan sesuatu yang harusnya sudah lama Ia lakukan. Sambil menenteng sebuah kotak yang berisi kenangan masa lalunya itu, Ia berjalan ke parkiran rumahnya.

Setidaknya hari ini sesuatu yang baik harus terjadi’. Harapan Yuri dalam hati. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah Tiffany. Sebelum menemui Nickhun ––untuk membicarakan hubungannya lebih serius––, Yuri akan mampir ke rumah Tiffany, memberi kejutan untuk sahabatnya itu sekaligus memperbaiki hubungan mereka. Walaupun Yuri sulit melewati hari-harinya tanpa Siwon, tapi setidaknya Ia akan mencoba. Dan kehadiran Tiffany, pasti akan membantu proses itu.

Saat Yuri sudah sampai di rumah Tiffany, Ia sedikit terkejut karena melihat sebuah mobil yang Ia kenal sudah terpakir lebih dulu di garasi rumah Tiffany. ‘Nickhun oppa juga kesini? Sejak kapan Ia tahu rumah Tiffany?’ pikir Yuri bingung. Pasalnya selama ini yang Ia tahu Tiffany dan Nickhun itu tak pernah terlihat dekat. Bahkan untuk disebut temanpun rasanya berlebihan. Hubungan mereka di mata Yuri tak lebih dari sekadar kenalan, atau sunbae kepada hoobae-nya.

Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Yuri segera masuk ke dalam. Beberapa pelayan yang sudah mengenal Yuri ––yang bekerja di rumah Tiffany–– menyapa dirinya ramah. Setelah diberitahu dimana posisi Tiffany, tanpa pikir panjang Yuri segera menuju tempat yang di maksud.

“Kenapa kau marah lagi padaku? Apa salahku kali ini? Bukankah ini yang kau mau?” suara Nickhun mulai terdengar oleh Yuri. Ia pun perlahan mendekat ke asal suara untuk menghampiri mereka.

Mworago? Jangan bodoh Khunie! Sejak kapan aku menyuruhmu untuk menggantikan posisi Siwon, hah? Kehadiranmu hanya menambah beban untuk Yuri, tahu?!” suara Tiffany yang terdengar seperti orang marah itu seketika menghentikan langkah Yuri. ‘Sejak kapan Tiffany memanggil Nickhun oppa dengan sebutan seperti itu? dan lagi kenapa namaku dan Siwon dibawa-bawa?’ tanya Yuri dalam hati. Perlahan tapi pasti Ia berjalan menuju semak yang ada di taman belakang itu. Ketika Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari kedua orang itu, Yuri  membatalkan niatnya untuk muncul langsung di hadapan mereka, melainkan malah menguping pembicaraannya. Yuri sembunyi tepat di belakang mereka. Dari celah dedaunan Yuri dapat melihat mereka dengan jelas. Tiffany berdiri memunggungi Nickhun yang sedang duduk di salah satu bangku taman.

“Kenapa sih kau terus saja memikirkannya? Kenapa kau sibuk memikirkan Yuri dan tidak memikirkan perasaanmu sendiri?”

“Tentu saja aku memikirkannya, dia sahabatku” ucap Tiffany dingin.

“Lalu apa artinya aku bagimu? Apa sedikit saja kau tak pernah memikirkan aku?”

Tiffany diam, sementara Yuri kini tercekat dari balik persembunyiannya. “Jawab Fan! Apa aku tak ada artinya bagimu iya?” desak Nickhun karena tak kunjung mendapat jawaban.

“Kenapa kau kembali?” bukannya menjawab, Tiffany malah bertanya balik dengan ketusnya. “Kau kembali hanya untuk menghancurkan pernikahan Yuri?”

“Fany-ah, Apa kau tak merasa bersalah sedikitpun padaku dengan pertanyaanmu itu? Tak sadarkah kau telah membuatku sakit? Seharusnya aku yang bertanya. Kemana kau selama ini? Kau bilang kita akan tetap berhubungan walaupun kita sudah putus, tapi mana? Bahkan kau mengganti nomor ponselmu dan tidak memberitahuku sedikitpun kalau kau sudah kembali ke Korea. Kau tahu apa yang sudah terjadi padaku? Aku terus mencari mu Fan, aku mengitari setiap pelosok New York dan bertanya pada siapapun yang aku kenal. Bahkan aku meninggalkan pekerjaanku di Thailand hanya agar aku focus mencarimu. Tapi ternyata kau malah kembali ke Korea. Aku kembali bukan untuk Yuri, aku kembali karena aku mencarimu, karena aku membutuhkanmu” Nickhun ikut berdiri lalu memegang kedua pundak Tiffany dari belakang.

“Lalu kenapa sekarang kau malah pacaran dengan Yuri?! Kau sadar kau sudah mempermainkannya?” Tiffany menepis tangan Nickhun kasar. Ia berbalik dan menatap Nickhun tajam. Melihat sikap Tiffany itu, Nickhun kini tersenyum simpul.

“Kau cemburu?” tanya Nickhun dengan seringaiannya. Pertanyaan itu membuat Tiffany sedikit tersentak. Jantungnya berdebar cepat dan rona merah menghiasi wajahnya seketika.

“Ti-tidak!”

“Benarkah?” Nickhun semakin menyudutkan Tiffany. Kini hatinya berbunga-bunga kembali saat melihat reaksi Tiffany. Secercah harapan dan keyakinan kini muncul dalam dirinya.

“Terserah kau saja, lagipula kita juga sudah berakhir, jadi kau bebas mau melakukan apapun. Sudahlah kalau tidak ada urusan lain, lebih baik kau pulang. Sebentar lagi aku mau pergi ke rumah Yuri”

“Tidak sebelum aku mendapatkan yang kumau” Nickhun menggeleng pasti. “Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi”

“Yasudah kalau kau tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi” Tiffany berjalan melewati Nickhun dengan santainya. Sebelum Tiffany melangkah lebih jauh, dengan segera Nickhun menarik tangan Tiffany dan membawanya ke pelukannya.

“Sudah kubilang aku tidak akan melepaskanmu lagi kan?” Nickhun tersenyum sambil mendekap Tiffany erat. Membatasi pergerakan yeoja itu yang kini terus saja meronta minta dilepas. “Saranghae… yeongweonhi…” kata Nickhun lembut tepat di telinga Tiffany. Membuat gerakan Tiffany berhenti begitu saja.

Bruk! Tanpa sengaja Yuri menjatuhkan tasnya yang Ia jinjing daritadi. Yuri merutuki kebodohannya itu. Beginilah Yuri kalau dirinya mendengar sesuatu yang bisa membuat pikirannya kalut. Badannya akan lemas seketika dan apapun yang Ia pegang pasti akan jatuh. Suara itu membuat Tiffany dan Nickhun menoleh ke asal suara berbarengan.

“Yu-yuri!” panggil Tiffany terkejut dan segera mendorong Nickhun sekuat tenaga.

“Ma-maaf aku mengganggu, a-aku hanya ingin menemuimu Fan, tapi kau bisa menemuiku nanti. A-aku permisi dulu” ucap Yuri gugup. Dengan segera Ia meraih tasnya kembali dan berlari menuju mobilnya.

“Tunggu Yuri! Aku bisa jelaskan!” Tiffany ikut berlari mengejar sahabatnya itu. Matanya kini mulai memerah. Lagi-lagi Ia harus menyakiti Yuri. “Yuri, kumohon dengarkan aku dulu!”

tuk! tuk! tuk! Beberapa kali Tiffany mengetuk jendela mobil Yuri untuk mencegah sahabatnya itu pergi. Bruuuuuummmm…… Mobil Yuri melaju kencang begitu saja. Tanpa menengok sedikitpun ke arah Tiffany, Yuri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiffany hanya bisa terduduk lemas di jalan seiring mobil Yuri menjauh. Air mata yang dari tadi dibendungnya, mengalir deras begitu saja dan membasahi jalanan aspal di bawahnya. Nickhun menghampiri Tiffany dan mensejajarkan tubuhnya. Perlahan Nickhun menyenderkan kepala Tiffany ke dadanya lalu membelai surainya lembut.

Uljjima…

Jigeum ottheokheyo? Hiksss… Yuri benar-benar membenciku”

“Tenanglah. Biar aku yang bicara padanya”

***

Yuri melangkahkan kakinya masuk menuju rumahnya. Suasana hatinya saat ini kacau. Beragam pikiran dan pertanyaan tak henti-hentinya bersarang di otaknya. Rasa kesal, marah, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu dan sukses membuat harinya buruk. Ia tidak bisa mempercayai bahwa selama ini kedua orang yang sangat bersejarah dalam hidupnya itu tega melakukan ini padanya. Padahal Yuri begitu mempercayai Tiffany, tapi sahabatnya itu justru menusuknya dari belakang seperti ini. Begitu juga dengan Nickhun, namja itu ternyata sama brengseknya, Ia mengajak Yuri pacaran, tapi justru Ia mencintai orang lain. Mereka berdua sama-sama menyebalkannya. Mereka berdua mengkhianati Yuri. Menyembunyikan semuanya dari Yuri seolah dirinya hanyalah sebuah permainan belaka.

“Nona, ada paket untukmu” ucap salah satu pelayannya saat Yuri berjalan menuju kamarnya. Pelayan itu membawa dua kotak di tangannya.

Ne, gomawo ahjumma, taruh di kamarku saja” titah Yuri.

Yuri merebahkan dirinya di kasur. “Hhhhhh…..” desah Yuri berat. Kalau sudah begini, apa yang harus Ia lakukan? Daripada pusing memikirkan itu, Yuri memutuskan untuk membuka paket yang dikirimkan padanya. “Paket apa ini? Sepertinya aku tak memesan barang apapun” Yuri merobek kertas yang membungkus paket pertama yang berukuran lebih besar. “Buku?” tanya Yuri heran. Ia mengambil satu buku dari deretan buku-buku yang ada di dalam kotak. Ia membukanya dan..

BRAK! Buku setebal kamus itu––yang ternyata adalah kumpulan album foto––Yuri jatuhkan begitu saja ke lantai. Membuat album itu terbuka sempurna tepat di bagian tengah dan menunjukan salah satu foto pre-wedding dirinya dengan Siwon. Ah, ternyata paket ini dikirimkan oleh studio foto tempat mereka foto untuk pre-wedding dulu. Waktu itu Yuri sendirilah yang meminta agar foto-foto mereka dapat dikirimkan sehari sebelum pernikahan berlangsung agar beberapa foto dapat Ia tempel di acara resepsi pernikahannya.

Tes! Yuri menangis begitu saja. Walaupun menangis sudah menjadi salah satu kebiasaannya akhir-akhir ini, tapi nyatanya air matanya tak pernah mengalami yang namanya kekeringan. Entah mengapa, selalu saja ada persediaan air mata untuk menangisi namja itu. Yuri menutup album foto itu dan menyingkirkannya ke samping. Sebelum dirinya menangis hebat, Yuri mengelap pipinya yang basah dengan punggung tangannya. ‘Jangan lagi Yuri, jangan lagi..’ tekad Yuri pada dirinya sendiri. Yuri mengambil paket satunya lagi yang berukuran lebih kecil. Ia membuka bungkus paket itu dan menemukan sebuah CD di dalamnya bertuliskan watch me! ^^

Klik! Yuri menekan tombol play pada dvd player-nya. Yuri duduk di sofa, menunggu CD itu memutarkan isinya. Tampilan pertama yang muncul hanya layar gelap berwarna hitam dengan keterangan tanggal di sudut kanan atas. Tanggal yang muncul itu adalah tanggal saat video ini dibuat, kira-kira lebih dari sebulan yang lalu.

“Apa aku sudah bisa bicara sekarang hyung?”

Degh! Siwon yang sedang bicara dalam rekaman video itu membuat Yuri membulatkan matanya sempurna.

“Ne, bicaralah” balas satu suara lagi yang tidak menampakan wujudnya di depan layar. Yuri kenal betul dengan suara itu, suara Leeteuk. Sepertinya Leeteuk-lah yang mengambil gambar ini.

“Ah, ne. ehm…ehm… tes tes…” Siwon mengecek suaranya sebentar, lalu tersenyum manis menghadap kamera. “Annyeong jjagiyaaaa….” Sapa Siwon sambil melambaikan tangannya. Membuat Yuri menegang seketika. Padahal namja itu tidak benaran ada di hadapannya, tapi Yuri tetap saja berdebar dibuatnya. “Kau pasti bingung mendapat video message ini yah? Ahaha… aku hanya ingin memberimu kejutan kok. Sekali-sekali boleh kan aku bersikap romantis? Kalau kau sudah melihat video ini, berarti besok adalah hari pernikahan kita, benar tidak? Aku memang meminta studio foto yang kemarin untuk menyelipkan kaset ini bersama dengan album foto pre-wedding. Kau sudah melihat hasil foto nya? Bagaimana? Bagus tidak? Aku pasti sangat tampan kan? Khekhekhe––”

Bugh! Sebuah bantal menginterupsi kegiatan Siwon. Tanpa sadar Yuri tersenyum simpul.

“Ya! hyung kenapa aku ditimpuk?”

“Sudahlah, kegiatan narsismu bisa nanti saja, sekarang bicara seperti tujuan awal”

“Ne, arraseo” Siwon mengangguk pasrah. “Yuri-ah, soal yang kemarin itu, saat kita foto pre-wedding, aku minta maaf. Mianhe, ne? Aku tidak bermaksud membuatmu kesal kok, sungguh! Aku hanya tidak sengaja tidak mendengarmu. Dan juga soal Jihyun itu, aku minta maaf… Seperti katamu, aku memang bodoh, tidak peka, dan gila kerja. Tapi aku janji padamu, perlahan aku pasti akan mengubah sifatku. Akhir-akhir ini aku menghadapi masalah berat di kantor, jadi pekerjaanku menumpuk. Saat aku tidak bisa mengangkat teleponmu, atau saat aku membatalkan acara kita secara sepihak, aku sungguh merasa bersalah padamu Yuri…. Jeongmal mianhe…” Siwon menundukan kepalanya lemah.

Tes! Sebulir air mata jatuh lagi dan mengalir di pipi Yuri yang sebelumnya sudah kering.

“Hmm… Semenjak aku jadi pemimpin perusahaan, kita jadi sering bertengkar ya? Setiap bertemu pasti ada saja hal yang membuatmu kesal padaku. Mianhae…. Mungkin rasanya kata maaf belum cukup untuk mengampuni kesalahanku, tapi aku sungguh menyesal jjagi… Jadi kumohon… jangan mendiamkan aku, ne? Jangan mengacuhkan aku… Sehari saja tidak mendengar suaramu rasanya aku kacau. Aku tak bisa melakukan apapun dengan benar…

 Tapi kau jangan khawatir, saat ini aku sedang belajar untuk menjalankan 2 peran sekaligus. Satu jadi pemimpin perusahaan yang baik, dan satu lagi menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu. Aku janji aku akan membagi waktuku dengan baik dan aku tidak akan pernah mengabaikanmu lagi. Jadi kumohon, bisakah kau bersabar sedikit untukku? Aku pasti bisa melakukan semuanya dan tidak akan mengecewakanmu, aku berani jamin dengan semua cinta yang kupunya” Siwon tersenyum lalu mulai berjalan menuju sebuah grand piano besar. Ia duduk di depan piano itu.

“Jjagiya, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Aku tau suaraku memang tidak terlalu bagus, tapi kuharap kau tidak akan menutup telingamu, okay? Ya! aku serius loh, setidaknya hargailah usahaku sedikit. Kau pikir mudah bersikap romantis eoh?”

Yuri tersenyum kecut melihat Siwon dalam video-nya saat ini. Cukup lama Siwon menghabiskan durasi hanya dengan menghela napas berkali-kali dan mengurut-urut jemarinya. Terlihat sekali Ia gugup. “Sudah cepat mainkan, kau membuang waktu tau”

“Diamlah hyung, aku sedang berkonsentrasi sekarang. Ini penampilan perdanaku di depan calon istriku, apa kau tak tahu bagaimana sulitnya ini bagiku? Huhh…”

Ting..ting..ting… Siwon terlihat menekan beberapa tust untuk mengeceknya. “Baiklah, akan kumulai sekarang” Raut wajah Siwon mulai serius sekarang. Matanya focus melihat tuts-tuts piano yang sedang Ia sentuh.

“Geuderul saranghandanun mal, pyongseng meil hejugo shipho, would you marry me? nol saranghago akkimyo, saragago shipho, gudega jami dul ttemada, ne pare jewojugo shipho, would you marry me? iron naui maum horaghejulle

(Saying I love you, I want to do it every day for a lifetime, Would you marry me? Loving and cherishing you, I want to live this way. Every time you fall asleep, I want it to be in my arms, Would you marry me? Would you consent to this heart of mine?)

…Pyongseng gyothe issulge I do, nol saranghanun gol I do, nungwa bigawado, akkyojumyonso I do, norul jikhyojulge my love…”

(For a lifetime I’ll be by your side, I do.  Loving you, I do. Cherishing you through the snow and rain, I do. I’ll protect you, My love)

uriga nairul mogodo, usumyo saragago shipho, would you marry me? naui modun narul hamkke hejulle

(Even as we age, I want to go about it smiling, Would you marry me? Would you spend my days with me?)

himdulgo oryowodo I do, nul nega issulge I do, uri hamkkehanun manhunnaldongan I do, meil gamsahalge my love

(Through hardships and difficulties, I do. I’ll always be there, I do. Through our many days together, I do. I’ll be thankful every day, My love)

yejonbutho norul wihe junbihan, ne sone bidnanun banjirul badajwo, onulgwa gathun mamuro, jigume yagsog gioghalge, would you marry me?…

(Accept this shining ring in my hand, That I’ve prepared from awhile back, With the same feelings today, I’ll remember the promise made right now, Would you marry me?)

pyongseng gyothe issulge I do, nol saranghanun gol I do. nungwa bigawado akkyojumyonso I do, norul jikhyojulge I do…”

(For a lifetime I’ll be by your side, I do. Loving you, I do. Cherishing you through the snow and rain, I do. I’ll protect you, I do)

Satu lagu yang berjudul marry you dari grup terkenal bernamakan Super Junior itu berhasil Siwon bawakan dengan baik. Setiap lirik dan bait, Ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Pesan dalam lagu itu benar-benar menyentuh Yuri. Terlihat dari air mata yang kini semakin deras mengalir di pipinya.

“Siwon-ah, handycam-nya lowbat, ayo cepat selesaikan video ini!” suara Leeteuk dalam video itu membuat Siwon sedikit kaget.

“Mwo? Ah hyung! Kau pasti lupa men-charge-nya ya? aisshh… Yasudahlah… kalau begitu aku takkan bicara panjang lebar lagi. Sekarang fokuskan kameranya ke arahku” pinta Siwon pada Leeteuk. Siwon segera berdiri dari kursinya dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku jas-nya. “Yuri jjagi, kau sudah dengar kan lagu yang kunyanyikan untukmu? Itu bukan cuma lagu loh, aku benar-benar serius mengatakan semua itu. Karena pernikahan kita sudah ditentukan begitu saja oleh orangtua kita, jadi aku belum sempat melamarmu langsung kan? Jadi….” Siwon membuka kotak kecil ditangannya dan menunjukan sebuah cincin ke arah kamera. “Would you marry me?” tanya Siwon dengan sebuah senyuman. “Aku tidak terima penolakan looh… hehehe… aku sengaja mengirimkan video ini sehari sebelum pernikahan  kita dengan tujuan agar kau seratus persen yakin padaku dan tidak akan kabur saat kita di altar pernikahan besok. Pokoknya kau harus datang dengan membawa hatimu yang hanya untukku, arraseo?”

“Aigooo… Siwon-ah ppali! Sebentar lagi handycam-nya akan mati!”

“Ne, ne, Sudah ya jjagi, aku tidak bisa bicara banyak, pokoknya kau cuma boleh ke altar bersamaku, arrachi? Dan, oh ya cincin tunangannya disimpan saja jjagi, karena besok kau sudah mendapatkan yang baru. Ingat ya, kau sudah tidak boleh kabur kalau tidak aku akan––“

Piip. Layar itu seketika menjadi gelap. Menyisakan keheningan dalam suasana kamar Yuri yang sepi. Yuri masih diam tak bergerak.

Tok! Tok! Tok! “Nona Yuri, ada tamu untukmu. Seorang namja sudah menunggumu di ruang tamu” suara salah satu pelayannya terdengar dari balik pintu Yuri, memecah keheningan yang cukup lama itu.

‘Siwonie?’ Yuri segera beranjak dan secepat kilat berlari menuju ruang tamu sambil menghapus jejak air mata di pipinya. Hatinya berharap banyak kalau yang datang kali ini adalah Siwon. “Siwonie?” tanya Yuri sumringah begitu Ia sampai di ruang tamu dan melihat seorang namja yang tengah duduk memunggunginya. Namja itu lalu berdiri dan berbalik untuk menghadap Yuri.

“Maaf mengecewakanmu, tapi aku bukan Siwon” ucap Nickhun. Senyuman Yuri seketika menghilang. Digantikan raut wajahnya yang cemberut kesal. Tanpa banyak basa basi, Ia segera berbalik dan menuju kamarnya lagi. “Yuri-ah, kita harus bicara” pinta Nickhun yang langsung mengekor di belakang Yuri.

“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan” balas Yuri tidak perduli. Ketika Ia sudah sampai kamarnya, Yuri segera menutup pintu itu dengan sekuat tenaga.

“Aaaaaaww” teriak Nickhun karena salah satu kakinya terjepit pintu kamar Yuri. Ia sengaja melakukan itu agar pintu kamar Yuri bisa tertahan, walaupun kakinya harus berakhir dengan luka memar.

“Ya! salah sendiri kau menaruh kakimu di pintu” bukannya minta maaf Yuri malah tambah kesal dengan kelakuan Nickhun. “Yasudah cepat bicara saja! Ada apa?” tanya Yuri dengan ketusnya setelah akhirnya mau membukakan pintu sedikit lebar.

“Kenapa kau emosi sekali sih? Kita kan bisa bicara baik-baik” mendengar Nickhun bicara begitu, Yuri segera mencoba untuk menutup pintunya lagi. “Andwae! Ne, ne, aku akan bicara padamu”

Mwoya?

“Soal aku dan Tiffany, aku minta maaf… aku tahu aku salah… tapi please… jangan marah pada Tiffany, dia tidak bersalah… dia hanya terlalu mengkhawatirkanmu Yuri, bahkan dia mengabaikan aku juga karena dirimu”

“Kalian berhubungan dan aku tidak tahu sedikitpun, apa itu tidak keterlaluan? Kalau Tiffany menganggapku sahabatnya, Ia tidak akan mungkin merahasiakan ini dariku”

“Kalau kau tidak menyukaiku, ini semua pasti akan lebih mudah baginya”

“Oh, jadi begitu? Karena aku menyukaimu, jadi aku yang salah sekarang? Siapa yang bermuka dua disini? Kalian? atau aku? Kalau kau memang menyukai Tiffany, kenapa kau mengajakku untuk berpacaran denganmu? Kau pikir aku yeoja seperti apa eoh?”

“Sudahlah Yuri, kita ini sama. Mengaku sajalah, kau menerimaku juga hanya untuk pelampiasanmu kan? Kau memanfaatkan aku hanya untuk membuat Siwon cemburu. Iya kan?”

“A-aku––”

“Aku tidak keberatan kok, karena tujuanku juga sama. Jangan kau kira cuma hidupmu saja yang berat, sesekali cobalah perhatian sedikit terhadap keadaan di sekitarmu, terutama Tiffany, sahabatmu sendiri. Apa kau tahu seberapa banyak Ia berkorban untukmu?”

“A-apa? A-aku tidak tahu apa-apa, Tiffany tidak pernah cerita padaku”

“Tentu saja tidak cerita, dirinya sendiri saja tidak sadar apa-apa saja yang sudah Ia lakukan untukmu”

“Sepertinya oppa sangat mengenal Tiffany, memang sudah berapa lama kalian berhubungan sedekat itu?”

“Sudah lama, mungkin dari saat aku lulus SMP”

MWO? Kenapa Tiffany tak pernah cerita apa-apa padaku? Apa Ia juga menceritakan tentang diriku padamu dari dulu? Tentang aku yang pernah menyukaimu?”

Anniyo, Ia tidak pernah cerita apa-apa padaku, aku hanya mengira-ngira saja”

“Bisakah kau ceritakan padaku lebih detail? Ini semua terlalu tiba-tiba, aku masih belum mengerti dan bingung harus bagaimana”

“Baiklah, memang itu tujuanku kesini. Sekarang aku akan menceritakan semuanya padamu.” ucap Nickhun setuju. Ia menarik nafas panjang lalu mulai bercerita. “Aku dan Tiffany, kami berdua sebenarnya saling mencintai. Kau ingat, dulu kau dan dia sering sekali melihat aku dan timku main bola? Sebenarnya saat itu, aku juga memperhatikan kalian berdua, lebih tepatnya aku memperhatikan Tiffany. Jujur saja, tujuan awalku berkenalan denganmu agar aku bisa berkenalan dengan Tiffany. Tiap kali kau dan Tiffany datang menemuiku, aku pasti jadi tambah semangat dalam melakukan segala hal. Tapi suatu hari, tiba-tiba saja aku merasa Tiffany menjauh, dia mulai jarang bersamamu saat kau datang menemuiku, bahkan ketika aku menghampirinya saat sendirian, dia langsung menghindariku dengan sejuta alasan, saat itu aku bingung dan tidak mengerti kenapa. Aku sempat stress memikirkan kesalahan apa yang sudah kubuat sampai-sampai Tiffany menghindariku. Sampai akhirnya aku mengetahui alasannya…”

“Apa?”

“Kau masih ingat sebuah danau di dekat sekolah kita dulu? Waktu itu tanpa sengaja aku melihatnya sedang menangis sendirian. Aku terus memperhatikannya dari jauh dan tidak berani untuk mendekat karena saat itu aku merasa Ia marah padaku. Kau ingat saat aku mengajarimu untuk melampiaskan emosimu dengan cara teriak?”

Yuri mengangguk sebagai jawaban. “Kau pikir dari siapa aku belajar? Aku tahu cara itu malah dari Tiffany. Setelah Ia menangis sendirian, Ia teriak-teriak di tepi danau mencurahkan segala isi hatinya. Disitulah aku akhirnya tahu bahwa kami mempunyai perasaan yang sama, Tiffany juga mencintaiku. Berbeda dengan kau yang selalu berpikir ‘kau orang paling malang di dunia’, Tiffany yang kukenal adalah orang yang sangat berpikiran positif walaupun masalah selalu datang padanya. Saat aku menyatakan cintaku padanya untuk pertama kali, Ia serta merta menolakku mentah-mentah. Dan yang paling aku benci adalah… kau tau apa kan apa alasannya Ia menolakku?”

“A-aku?” tanya Yuri ragu.

“Begitulah… Saat Tiffany pindah ke Amerika, aku juga pindah ke Thailand, tapi aku tak pernah berhenti mengejarnya. Aku selalu memanfaatkan liburan sekolahku untuk bertemu dengannya. Kedua kalinya aku menyatakan cintaku, aku berbohong padanya, aku bilang kau sudah menyukai namja lain. Saat itu kalian juga masih saling mengirim email bukan? Dan setiap Tiffany bertanya padamu, kau juga jawab dengan baik-baik saja. Jadi tanpa kekhawatiran lagi, setelah itu barulah kami jadian. Rasanya itu adalah saat-saat terindah dalam hidupku karena Tiffany dapat menjadi yeojachinguku. Hampir 2 tahun kami jadian, tiba-tiba saja Ia memutuskan hubungan kami secara sepihak setelah Ia liburan ke korea selama 2 bulan. Kau tahu apa alasan yang paling aku tidak bisa terima?”

“A-aku lagi?”

“Hem” Nickhun mengangguk setuju. “Saat dia mengunjungimu, Ia kaget karena menemukanmu dalam keadaan mengenaskan. Seperti mayat hidup tahu? Dia menjadikan alasan hubungan jarak jauh untuk memutuskanku, tapi aku tahu itu hanya kebohongannya untuk terus melindungimu. Tiffany tak pernah sekalipun menceritakan tentangmu padaku, tapi aku tahu semuanya, aku tahu alasan sesungguhnya kenapa Ia memutuskan hubungan kami. Dia terus-terusan merasa bersalah padamu karena Ia menganggap Ia-lah penyebab dari semua perubahanmu itu. Itulah salah satu sifat yang aku benci dari dirinya, Ia terlalu perduli padamu Yuri, bahkan Ia mengorbankan cintanya hanya demi kau. Ia tidak mau dianggap pengkhinat atau musuh dalam selimut kalau terus menjalin hubungan denganku. Awalnya Ia memang berjanji untuk terus keep contact, tapi lama-kelamaan Ia semakin menjauhiku. Satu kali Ia pernah bertanya padaku apa aku bersedia untuk menjadi namjachingu-mu Yuri, Ia meminta padaku untuk mencoba mencintaimu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Orang yang kau cintai tapi justru menginginkanmu bersama orang lain. Aku jelas saja kesal dan langsung menolak dengan keras tawarannya itu. Dan kau tahu apa yang dilakukannya padaku? Ia benar-benar ‘memutus’ hubungan kami. Tak pernah membalas emailku, tak pernah mau kuajak ketemuan, bahkan Ia kembali tinggal di Korea dan mengganti nomor ponselnya tanpa memberitahuku. Aku tahu kau memang tidak salah Yuri, tapi entah mengapa aku jadi mulai membencimu. Aku kesal karena Tiffany lebih memilihmu daripada aku. Semakin kejam perbuatannya padaku, semakin bertambah juga rasa benciku padamu. Mianhe Yuri… Sebenarnya ini semua salahku, semua yang terjadi padamu adalah salahku”

“Ma-maksudmu oppa?”

“Saat aku telah berhasil menemukan Tiffany, aku senang Ia terlihat baik-baik saja. Aku kira Ia telah melupakan aku seutuhnya sehingga aku tak berani lagi masuk ke dalam kehidupannya, jadi aku hanya memperhatikan Ia dari jauh. Aku selalu mengikuti perkembangannya, dan kau tahu apa yang paling membuatku terkejut sekaligus senang? Aku pernah mendengarnya bergumam sendiri tentang masalahnya di danau yang sama dekat sekolah kita dulu. Ia bilang Ia merindukanku, Ia masih mencintaiku karena itulah Ia tak pernah dekat dengan namja lain setelah kami putus, tapi Ia tidak mau menghubungiku lagi karena Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan aku”

“A-apa? Tapi kenapa? Bukankah saat itu aku sudah bersama Siwon?”

“Aku juga tidak tahu pasti, tapi kurasa… kau menjadi trauma baginya. Ia sangat takut melihatmu kembali seperti dulu, saking takutnya Ia bahkan tidak memperdulikan perasaan pribadinya. Saat itu aku benar-benar kesal padamu. Bagaimana mungkin kau bisa hidup dengan senang dan bahagia bersama namja bernama Choi Siwon itu, sementara Tiffany masih menderita karena trauma yang kau buat dulu? Karena rasa bersalah padamu yang tak pernah sembuh itu? Aku kesal dengan kalian. Kau dan Siwon begitu berbahagia di atas penderitaan kami. Aku dan Tiffany masih saling mencintai tapi kami tidak bisa bersatu hanya karena masa lalu dirimu? Saking aku kesalnya, makanya aku tidak rela melihat kalian bahagia. Karena itulah aku melakukan ini… maafkan aku Yuri maafkan aku… Siwon, dia sebenarnya sangat mencintaimu. Ia tak pernah berkeinginan untuk membatalkan pernikahan itu, tapi kau mendiamkannya dan menganggapnya seolah Ia tak ada. Ia jadi beneran berpikir kalau kita ada apa-apa. Aku yang mengomporinya sehingga Ia marah padamu. Kau ingat saat kita ketemu di toko roti malam-malam itu? Ia melihat kita saat itu, besoknya Ia malah menemuiku dan kami bahkan berkelahi. Aku tahu aku memang brengsek karena menghancurkan hubungan kalian, tapi itu semua kulakukan karena aku sudah saking kesalnya, maafkan aku…. Siwon-ssi, aku yakin dia adalah orang yang paling tepat untukmu. Waktu kau mabuk, sebenarnya bukan aku yang membawamu ke rumah sakit, aku baru menemuimu saat kau sudah di ruang rawat inap. Siwonlah yang membawamu kesana dan menunggumu semalaman suntuk. Kurasa Ia takut kau akan marah jika melihatnya. Makanya sebelum kau sadar, Ia menelponku dan menyuruhku untuk menjagamu. Percayalah padaku, tak ada orang lain yang pantas bersamamu kecuali dia Yuri termasuk aku sekalipun. Aku bisa melihat dari caranya mencintaimu, aku tahu karena kami sama-sama namja. Siwon-ssi…. Cuma dia yang pantas untuk mendampingimu”

Bruk. Yuri jatuh ke lantai begitu saja. Pandangannya kosong ke depan dan matanya berlinangan air mata. “Yuri-ah, gwaencanha? Maaf, apa aku menyakitimu? Apa bicaraku terlalu keterlaluan?” tanya Nickhun lembut sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Yuri dan mengelus pundaknya lembut.

Anniyo oppa, aku hanya merutuki kebodohanku, semua ini, bencana ini, semua yang terjadi pada kalian, pada kita, adalah salahku, benar bukan?” Yuri tersenyum pilu.

“Tidak Yuri, ini bukan kesalahanmu sepenuhnya, kita semua punya andil dan alasan yang menyebabkan semua masalah ini terjadi. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah berusaha memperbaiki semuanya, kita harus melangkah maju dan jangan mengungkit-ungkit lagi tentang masa lalu yang menyedihkan”

Yuri kini menghapus air matanya dan beranjak berdiri. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah kotak untuk Ia tunjukkan kepada Nickhun. “Kau benar oppa, seharusnya aku sudah mengatakan ini sejak lama. Aku memang berterima kasih padamu karena kau telah berjasa untukku, mewarnai hari-hari remajaku, dan mengubahku menjadi orang yang lebih baik. Terima kasih karena sudah menjadi motivasi di setiap prestasi yang kubuat dulu, terima kasih kau sudah menjadi pahlawanku. Aku baru menyadari satu hal, dari dulu, perasaanku padamu bukanlah cinta, tapi obsesi. Aku terobsesi pada namja yang pernah kutemui sewaktu aku kecil. Aku terlalu berambisi untuk menemukannya dan menjadikannya milikku. Sekarang ini semua sudah cukup. Kuharap kau mau mengambil ini kembali”

Nickhun yang masih belum mengerti hanya menautkan alisnya bingung sambil menerima kotak yang Yuri berikan padanya. “Ini apa?” tanya Nickhun heran saat Ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah sapu tangan di dalamnya.

“Bukankah itu milikmu? Sewaktu kecil dulu kita pernah bertemu, dan kau memberikan itu saat melihat tanganku terluka”

“Benarkah? Kapan?”

“Saat pertama kali kau membolos. Waktu itu aku masih di sekolah dasar, mungkin kau sudah SMP kelas 1. Ah iya, mungkin kau lupa karena waktu itu yang kau temui adalah seorang namja. Namja itu sebenarnya aku oppa. Kau tidak ingat?”

“Jadi… inikah alasan yang membuatmu sangat berambisi untuk mengejarku? Sampai-sampai kau salah mengartikan obsesi sebagai rasa cinta?”

“Hem..” Yuri mengangguk lemah. “Begitulah…”

“Kau mau satu hal yang lebih mengejutkanmu lagi?”

“Apa?”

“Aku bukan namja itu Yuri”

“Be-benarkah? Kau yakin oppa? Mu-mungkin saja kau lupa?”

“Tidak. Aku sangat ingat kok, aku itu siswa pindahan. Saat kelas 1 SMP aku masih di Thailand. Dan lagi, pertama kali aku bolos, bukan kelas 1 SMP, tapi 4 SD”

Yuri membulatkan matanya kaget. “Ja-jadi.. selama ini aku sudah salah sasaran?”

Ne, kurasa begitu. Sudahlah, bukankah ini tidak penting lagi? Sekarang lebih baik kau menemui Siwon, mengajaknya bicara, dan tetapkan kembali pernikahan kalian. Semua masih bisa kau perbaiki Yuri. Nah, sekarang telepon dia” Nickhun mengacak rambut Yuri lembut.

Ne!” jawab Yuri semangat. Tanpa buang waktu lagi, Yuri pun segera mengambil ponselnya dan men-dial nomor Siwon. Nickhun hanya berdiri dan tersenyum sambil sesekali memperhatikan Yuri. “Ada apa?” tanya Nickhun yang berubah khawatir saat tiba-tiba raut wajah Yuri mulai kembali di tekuk.

“Tidak diangkat” jawab Yuri lemah.

“Jangan menyerah dulu, siapa tahu ponselnya lowbat? Kau coba telepon ke kantor atau rumahnya saja” Tanpa ba-bi-bu lagi, Yuri mengikuti perintah Nickhun. Sambil menunggu sambungan teleponnya diangkat, Yuri berjalan mondar-mandir di depan Nickhun. Membuat Nickhun malah pusing sendiri. Setelah melihat Yuri berbicara pada seseorang di seberang telepon sana, Nickhun menghela napas lega. Ia pun berjalan sedikit menjauh untuk menelpon kekasih hatinya sendiri––Tiffany. Beberapa menit Nickhun menelpon Tiffany untuk memberitahu keadaan Yuri saat ini, dan juga sedikit berchit-chat ria, sekadar melepas rindu yang sekarang baru bisa Ia utarakan secara blak-blakan. Nickhun mengakhiri ponselnya dan berbalik untuk melihat keadaan Yuri lagi.

“Yuri-ah? Waeyo? Kenapa malah menangis lagi?” tanya Nickhun kaget saat dirinya melihat Yuri terduduk dilantai dengan linangan air mata di pipinya. Ponsel yang tadi Yuri gunakan tergeletak tak bernyawa di lantai. “Hey, kenapa?” tanya Nickhun lagi sambil memegang kedua pundak Yuri.

“Siwonie… dia….”

“Iya, dia kenapa?”

“Sudah pergi… baru saja pagi tadi Ia meninggalkan Seoul, kata salah satu karyawan yang tadi kutanya, Ia akan menikah besok, jadi Ia sudah mengambil cutinya sejak kemarin”

Mwo?”

“Tapi bukankah kalian––“

“Bukan aku oppa, bukan aku yang jadi pengantinnya, dia… sepertinya Siwon sudah dijodohkan dengan yeoja pilihan orangtuanya”

“Apa? Itu tidak mungkin Yuri! Siwon tidak mungkin bertindak sepengecut itu! kau pasti salah dengar”

“Aku sudah menelpon ke rumahnya dan pelayannya juga mengatakan hal yang sama. Bahkan seluruh keluarga Choi ikut menghadiri pernikahannya besok”

Jinjja? La-lalu kau––“

“Aku sudah terlambat oppa, semua sudah terlambat….”

***

Yuri meringkuk dalam kesunyian fajar di tepi pantai pulau Jeju seorang diri. Dari sekian banyaknya pantai yang terdapat di pulau Jeju, pantai inilah yang menjadi favorit Yuri kala Ia sedang sedih. Tak begitu banyak orang disini.

Ia memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Dagunya Ia sandarkan pada lengannya. Sesekali angin pagi menyapa wajahnya dan mengibaskan rambut hitamnya. Desiran lembut ombak yang sampai ke tepian pantai menyentuh tubuh bagian bawahnya. Yuri memandang kosong hamparan laut di hadapannya. Walaupun tubuhnya menggigil kedinginan dan kulit pada jari-jari kakinya sudah mengkerut karena basah, Yuri tetap tak bergeming pada posisinya.

Seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Seharusnya hari ini Ia sudah siap dengan gaun pengantinnya dan mengucapkan janji suci bersama Siwon di altar pernikahan. Dan seharusnya hari ini Yuri dan Siwon pergi kesini ––ke pulau Jeju–– bersama-sama untuk menikmati bulan madu mereka. Tapi apa yang terjadi sekarang? Siwon pergi entah kemana dan menikah dengan yeoja lain ––yang Yuri tidak tahu siapa–– tepat di tanggal yang seharusnya menjadi milik mereka berdua. Sementara Yuri menghabiskan waktu di tepi laut pantai yang sedang sepi pengunjung sendirian. Entahlah, Yuri hanya ingin menenangkan pikirannya. Bukankah laut adalah satu tempat yang bisa membuatnya tenang?

Tak ada Siwon, tak ada Nickhun, tak ada Tiffany, tak ada masalah, tak ada luka, tak ada kegembiraan, tak ada apapun kecuali dirinya dengan alam dan ciptaan Tuhan yang tak bicara. Membuat kesunyian yang tak berujung menjadi kenikmatan baru untuk Yuri. Mungkin ini yang terbaik, daripada membuat orang di sekitarnya terus menerus khawatir karena sikapnya yang aneh, lebih baik Ia menyendiri dahulu. Hingga ketika tiba saatnya Ia sudah merasa siap untuk kembali, baru Ia akan menampakan dirinya di depan semua orang. Memperlihatkan Yuri yang baru ke mereka. Yuri yang tegar, ceria, jujur, dan apa adanya. Saat ini Ia masih belajar, belajar untuk menerima kenyataan, walau pahit sekalipun. Belajar untuk mensyukuri apa yang sudah diberikan-Nya dan bersikap dewasa. Tidak ada lagi Yuri yang egois. Tidak ada lagi Yuri yang selalu membuat penderitaan bagi orang lain.

Dahulu kala, karena mengalami kehidupan yang keras oleh tekanan penguasa, warga Jeju dikenal sebagai orang-orang yang tabah dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit. Mungkin karena alasan itu juga Yuri memilih tempat ini. Mendapatkan ketabahan seperti ‘mereka’ adalah harapannya.

Selalu ada alasan buruk di setiap ketegaran seseorang bukan? Saat ini, itulah yang selalu Yuri yakini. Ia yakin Ia bisa berubah lebih baik. Dan kali ini, proses itu harus Ia selesaikan sendiri tanpa seorangpun disampingnya. Tak boleh ada ketergantungan pada orang lain lagi, Ia harus bisa mecari motivasi dan penyemangat untuk dirinya sendiri.

Yuri memejamkan matanya dan sebutir air mata mengalir di pipinya. Ia lalu menarik nafas dalam dan membuangnya lewat teriakan kencang yang keluar dari mulutnya.

“hah… hhah… hah…” Yuri membuka matanya perlahan bersamaan dengan sebuah senyuman yang terukir jelas di bibirnya.

Tuk. Yuri menengok ke arah samping saat Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Sebuah ice cream cone yang masih terbungkus rapi kini sudah ada di depan wajahnya. Yuri mendongak menyusuri sang pemilik tangan yang memegang ice cream itu.

“Si-Siwon?” panggil Yuri dengan tatapan heran saat Ia melihat wajah orang yang berdiri di samping kirinya.

“Hai” sapa Siwon ramah. Yuri menggeleng dan mengucek matanya beberapa kali. Yuri tak percaya dengan penglihatannya saat ini. ‘Apa aku terlalu merindukannya?’ Setelah puas mengucek matanya, perlahan Yuri membuka mata. Tak ada seorangpun disana. Hanya hamparan pasir yang luas dan deburan ombak halus sejauh Ia memandang.

“Ternyata benar aku hanya berhalusinasi” gumam Yuri.

“Hei, aku disini” kata Siwon lagi yang tiba-tiba saja sudah duduk di sisi Yuri sebelah kanan. Yuri yang kaget memundurkan tubuhnya ke belakang. “Kenapa mundur? Kau pikir aku hantu?” Tanpa menunggu jawaban Yuri––yang kini masih membelalak kaget–– Siwon segera menyelimuti Yuri dengan jas yang tadi dipakainya. “Disini dingin kenapa kau betah sekali di sini sih?” tanya Siwon lagi. Yuri masih belum bereaksi. Matanya memandang lurus ke arah Siwon. Merasa diacuhkan, Siwon pun dengan santainya mencubit kedua pipi Yuri ––yang kini terlihat lebih tirus.

“Aaaaaw” pekik Yuri sambil mengelus kedua pipinya.

“Sakit?” tanya Siwon dengan entengnya dan dibalas anggukan polos dari Yuri. “Tidak mimpi kan?” Yuri menggelengkan kepalanya. “Sudah mau bicara padaku?” Yuri mengangguk mantap. Siwon tersenyum melihat Yuri dengan tingkah seperti ini. “Aigooo… kyeopta” ucap Siwon sambil mencubit pelan pipi Yuri lagi. Bukannya bereaksi, Yuri masih tetap dalam diamnya. Setelah puas mencubit pipi Yuri, Siwon membuka bungkusan ice cream cone yang Ia bawa. “Kau kehilangan tiara kerangmu lagi ya?” tanya Siwon membuka pembicaraan. Lagi-lagi Yuri hanya bisa menggeleng pelan dengan tampang bingung. “Untukmu. Agar kau berhenti menangis” ucap Siwon sambil memberikan ice cream ke Yuri. Tanpa sepatah kata Yuri menerimanya begitu saja. “Dulu saat kita bertemu pertama kali disini, aku memberimu ice cream seperti ini untuk menghentikan tangismu” Siwon tersenyum lembut dan menatap Yuri dalam. Tanpa sadar Yuri malah meneteskan air matanya lagi. ‘Hal ini…. Siwon….kalau ini mimpi… aku tak mau bangun lagi…’ batin Yuri. “Ya, kenapa malah tambah nangis? Ice cream-nya sudah tidak mempan ya?” Yuri menggeleng sambil mem-pout-kan bibirnya lucu. Perlahan Ia menyuap ice cream itu ke mulutnya, lalu memakannya sedikit-sedikit. Matanya masih terpaku pada Siwon dan belum juga berhenti menangis. Dengan telaten dan penuh perhatian, Siwon mengelap noda ice cream di mulut Yuri dan menghapus jejak air mata di pipinya dengan tangan Siwon sendiri. “Bicaralah Yuri, apa kau masih marah padaku?”

Saranghae” satu kata dari bibir Yuri membuat senyum Siwon mengembang sempurna.

“Boleh aku mendengarnya lagi?” pinta Siwon sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Yuri. Tersenyum penuh harap. Yuri menggelengkan kepalanya. “Huufftt… pelit sekali sih”

“Dengan satu syarat” kata Yuri.

“Apa?” tanya Siwon penasaran.

“Jangan menikah dengan yeoja pilihan orangtuamu itu, jangan menikah dengan yeoja itu!”

“Heemm… itu––“

“Ya! Choi Siwon!” Yuri melempar ice cream-nya berusaha untuk menimpuk Siwon, namun beruntung Siwon berhasil mengelak. “Neo babo aniya??!! Hikssss….” Yuri memeluk Siwon tiba-tiba. Melingkarkan kedua tangannya pada punggung Siwon dan memeluknya dengan erat. Siwon membalas pelukan itu dan tersenyum sambil membelai rambut Yuri lembut. “Kenapa kau mau menikah dengan yeoja yang tidak kau kenal? Hikss… aku tahu orangtuamu hanya ingin menghindari malu karena pembatalan pernikahan kita, tapi apa harus mereka menikahkanmu hari ini juga? Hikksss… Neo jinjja! Kenapa kau tidak menolaknya? Hiksss….”

“Kenapa aku harus menolak? Dia yeoja yang cantik”

Mwo? Hiksss…” Bugh! Bugh! Yuri mengepalkan tangannya dan memukul-mukul punggung Siwon kesal. “Aku membencimu! Lalu untuk apa kau kemari menemuiku jika pada akhirnya kau akan menikah dengan yeoja itu? Mana janjimu? Katamu kau mencintaiku, katanya kau hanya mau menikah denganku. Jadi semua yang kau ucapkan dalam video itu bohong, iya?”

“Eh video? Video apa?”

“Video yang kau buat! Kau melamarku lewat lagu yang kau nyanyikan! Kau kan yang mengirimkannya padaku kemarin?”

“Eng…. Itu….” Siwon mengernyit bingung, mencoba mengingat-ingat. “Ah matta, aku ingat sekarang. Ahaha, karena sudah terlalu lama aku sampai lupa dengan video itu”

“Jadi…. Kau sudah lupa? Semua yang ada di video itu kau lupakan begitu saja? Ugh… Kau jahaaaaat…. Nappeun namja!” Bugh! Bugh! Bugh “Sana pergi, untuk apa kemari?!”

“Aku kesini untuk menjemput calon pengantinku”

“Aku tidak perduli! Sana pergi saja dengan–– eh apa kau bilang tadi? Ke-kesini? Me-men-jem-putnya? Ma-maksudnya….”

Ne, kau lah calon pengantinku, jjagiya.

“Tap-tapi… tapi pelayanmu bilang… lalu karyawan kantormu juga bilang….“

“Bilang apa?”

“Kata mereka kau akan menikah hari ini dengan yeoja yang sudah dijodohkan denganmu–’

“Dan apakah menurutmu mereka berbohong? Menantu pilihan orangtuaku hanya satu jjagi, kau”

Yuri terpaku dalam diam lagi. Hatinya membuncah senang tapi bibirnya kelu tak bisa mengeluarkan kata-kata. Siwon tersenyum sambil menarik tangan Yuri agar mereka berdua berdiri. Siwon mengeluarkan sebuah kotak dari saku celana-nya lalu membukanya dan menunjukan isinya pada Yuri. Siwon kini bersimpuh di hadapan Yuri.

“So, what’s your answer? Would you marry me? Would you mind to let me be your the one and only husband?”

Yuri semakin tercengang dibuatnya. “Yes, Ido”. Mereka pun berpelukan erat. Tesenyum penuh kebahagiaan. “Tapi kita sudah membatalkan semuanya. Jadi kita harus mengurus semuanya dari awal?”

“Heem.. tidak juga. Sejak awal aku tak pernah membatalkan pernikahan kita. Kaulah yang membatalkan semuanya”

“A-apa? Ta-tapi waktu itu kau bilang––“

“Bilang apa? Aku hanya bilang kita harus memikirkan lagi tentang pernikahan kita. Kaulah yang menganggap pernikahan kita batal, bahkan kau tidak mau bicara padaku lagi. Kaulah yang jahat padaku tahu” Siwon menyentil dahi Yuri pelan. Yuri tersenyum lalu memeluk Siwon lagi. Rasa rindunya benar-benar terobati sekarang.

Bogoshipheo

Nado”  Cup~ Siwon mengecup puncak kepala Yuri.

“Aku mencintaimu, Siwonie. Bukan karena hutang budi, bukan karena hal lain, aku mencintaimu dengan tulus. Nickhun oppa, dia hanyalah––“

Chu~ tak dibiarkannya Yuri meneruskan kata-katanya karena Siwon sudah mengunci bibirnya rapat dengan bibir miliknya sendiri. Tanpa sadar keduanya memejamkan mata. Menikmati saat-saat ketika rasa sayang itu tersalurkan lewat kecupan lembut diantara mereka.

“Aku tahu” ucap Siwon sambil menatap mata Yuri dalam. “Kau pikir aku bisa dengan mudah melepaskan dirimu begitu saja setelah aku bisa mendapatkanmu dengan susah payah?” Siwon mengelus pipi Yuri lembut. “Sejak awal aku sudah yakin perasaanmu padaku memang tulus, karena aku tahu dirimu”

“Lalu kenapa kau––“

“Aku hanya ingin memberi bukti padamu. Aku tahu kau sempat meragu padaku, makanya aku ingin kau membuktikan sendiri dan yakin bahwa hanya aku yang ada di hatimu. Kau tak bisa jika tanpa aku, begitu sebaliknya. Kita saling membutuhkan Yuri, dan kita memang ditakdirkan Tuhan untuk bersatu”

“Maafkan aku Siwon-ie… Terima kasih, terima kasih karena percaya padaku” Yuri menyandarkan kepalanya pada dada Siwon.

Ne” Siwon mengelus punggung Yuri lembut lalu tersenyum. “Sudah yuk, kita berangkat sekarang. Aku sudah memindahkan tempat resepsinya jadi ke pulau Jeju, dan sekarang semua orang sudah menunggu kita, kajja!

“Jadi?”

“Sekarang”

“eoh?”

“Iya, sekarang. Kita akan menikah hari ini juga”

***

Yuri masih tidak bisa mempercayai apa yang kini sedang Ia alami. Yuri mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang sangat anggun dan cantik. Disampingnya, Tuan Kwon alias appa-nya sudah menuntunnya menuju altar pernikahan. Tangan kirinya menggenggam rangkaian bunga yang biasa Siwon berikan padanya. Sedikit menengok ke samping, ke kursi para tamu, Ia bisa melihat keluarga dan teman-temannya. Eomma, tuan dan nyonya Choi, Sooyoung, Sungmin, Tiffany, Nickhun, Leeteuk, Yoona, bahkan Donghae juga ada disana. Di satu ruangan lain yang lebih besar di samping gedung ini––yang hanya dibatasi oleh dinding dari kaca bening, Yuri dapat melihat tempat resepsi pernikahannya akan dilangsungkan. Meja-meja tersusun dengan rapi dan indah, berbagai macam makanan sudah tersaji di beberapa meja panjang. Beratus-ratus bunga turut mengindahkan dekorasi dari ruangan itu. Di salah satu sudut ruangannya, Yuri dapat melihat kue pengantin yang bertingkat tiga dengan 6 warna berbeda di setiap tingkatannya. Ada balok es batu yang diukir sedemikian rupa hingga membentuk lumba-lumba, ada juga tumpukan gelas berbentuk pyramid yang nantinya akan dituangkan wine.

Yuri tersenyum pada Siwon saat appa-nya menyatukan tangan mereka berdua. Kini keduanya berhadapan dengan pendeta yang siap menikahkan mereka. Yuri kini tersenyum lega. Kau tahu pernikahan apa yang paling diimpikan setiap orang?

Pesta yang meriah, dekorasi yang kau inginkan, wedding cake yang kau suka, dan keluarga serta teman yang menyaksikan. Tapi diantara semuanya yang paling membuat semua itu sempurna adalah keberadaan orang yang kau cintai untuk mengucap janji setia bersama.

Yuri memejamkan matanya sejenak dan berucap dalam hati. ‘Ini lebih dari sempurna, terima kasih Tuhan….’

***

One Year After…

Yeobo, ini mau ditaruh dimana?” tanya Siwon saat Ia mengambil sebuah kardus kecil dari dalam bagasi mobilnya. Beberapa orang berseragam tukang tak henti-hentinya bolak-balik keluar masuk rumah baru mereka. Setelah 6 bulan sebelumnya tinggal di rumah keluarga Choi dan 6 bulan setelahnya tinggal di rumah keluarga Kwon, Yuri dan Siwon kini memutuskan untuk tinggal di rumah baru mereka sendiri.

“Eoh? Sepertinya itu berisi perabotan dan alat make up ku, yeobo, Yasudah masukan saja ke kamar kita” jawab Yuri setelah memberi perintah-perintah lain pada petugas jasa pindah rumah. Hari ini adalah hari kedua mereka pindahan dan mengatur segala isi rumah. Akhirnya setelah mengangkut barang dan menyusun perabotan rumah selama 2 hari berturut-turut, rumah mereka kini sudah bisa di tempati dengan nyaman, walaupun masih ada beberapa kardus yang masih terbengkalai. “Huuffftt… akhirnya selesai juga, eottheyo?” tanya Yuri sambil bersandar pada bahu Siwon yang duduk di sebuah sofa besar berwarna merah.

“Yah, walaupun cukup melelahkan, tapi aku puas dengan hasilnya. Rumah ini seperti menggambarkan kita sekali ya?”

“Kau menyukainya?”

“Tentu saja, ini rumah kita, bagaimana mungkin aku tidak menyukainya”

“Oh iya tadi aku menemukan kotak ini di lantai, ini milikmu? Tak ada tulisan apapun disini” Yuri memberikan sebuah kardus berukuran sedang pada Siwon. “Aku buka saja ya? daripada langsung masuk ke gudang? Siapa tahu ini penting”

Ne, terserah kau saja, yeobo. Kurasa itu salah satu kotak yang ada di kamarku deh, paling-paling berisi barang-barang ku waktu kecil, mungkin tak sengaja terbawa”

Jinjja? Aku jadi semakin penasaran” Yuri segera mengambil gunting untuk melepas perekatnya. “Jangan-jangan disini banyak foto mantan-mantanmu lagi”

Anniyo, itu cuma benda-benda yang kugunakan waktu kecil, tapi mungkin buku diary juga ada beberapa”

“Benarkah? Kenapa sih kau suka menulis buku diary? Padahal kau kan namja, jarang sekali loh ada namja yang rajin menulis sepertimu begitu, aku saja jarang menulis jurnal harianku”

“Hemm… kenapa yah? Entahlah, sudah menjadi kebiasaan sih, dari dulu eomma mengajarkanku untuk rajin menuliskan kejadian-kejadian yang sudah aku alami, jadi sampai sekarangpun masih jadi kebiasaan deh, Tapi itu berguna loh, buktinya saat aku amnesia dulu, ingatanku kembali setelah aku membaca agenda ku”

“Ooohh.. begitu…” Yuri mengangguk mengerti. “Ini apa siwonie?” tanya Yuri sambil menunjukkan sebuah bola kecil dengan bentuk yang aneh pada Siwon.

“Oh itu, berikan padaku, lihat baik-baik ya… taraaa…” Siwon membuka bola itu lalu mengutak atiknya sebentar dan voila! Jadilah robot-robotan kecil dengan sosok superman. “Ini salah satu koleksiku dulu”

“Aigooo… kukira apa.. ah tidak penting -_-“

“Enak saja, susah tahu untuk mendapatkan magic ball superman ini”

“Hemm… baiklah -_-“ Yuri mengobrak abrik isi kardus itu, berharap menemukan sesuatu yang dapat membuatnya tertarik. “Kalau ini apa?” tanya Yuri saat Ia menemukan sebuah mainan seperti gameconsole dengan model lama.

“Ah, itu Nintendo DS ku waktu dulu. Tapi yang ini sepertinya salah satu yang rusak karena dibanting Sooyoung deh”

“Aigoo…. Hey! ada buku–– aisshh tertanya buku komik -_-“

“Komik? Yaampun, jadi selama ini komik superman vs batman milikku itu ada disitu? Aku mencarinya kemana-mana”

“Kenapa semua barang-barangnya superman sih?”

“Soalnya kan jaman kita kecil dulu, superman lagi booming sekali, tentu saja aku tidak mau ketinggalan”

“Hoo begitu, lalu sekarang apalagi ini?”

Brak! Yuri menjatuhkan benda yang baru saja Ia pegang ke lantai. “Waeyo ehm?”

“Astaga! I-itu….” Yuri membelalakan matanya.

“Kenapa dengan tas ini?”

“Itu tas superman limited edition yang cuma ada 100 buah di dunia ini!”

“Loh, kau mengetahuinya juga?”

“Jangan bilang….” Yuri agak deg-deg an saat Ia akan mengatakan ini. “Jangan bilang ini kado dari abeonim, yang kau dapat karena kau ngambek saat abeonim membatalkan acara pergi memancing kalian?!!”

Omo! Kenapa kau bisa tahu?? Apa aku pernah menceritakannya padamu? Atau appa yang menceritakannya padamu?”

“Ti-tidak… i-ini tidak mungkin… jadi kau…”

“Kenapa sih yeobeo?”

“Apa kau juga punya masker hitam dengan lambang superman?”

“Eh? Maksudmu yang ini ya?” Siwon mengambil sebuah masker dari dalam kotak itu dan menunjukannya ke Yuri. “Kok kau tahu?”

“I-ini….” Yuri menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.

“Ada apa sih? Kenapa kau kaget begitu?”

“Ja-jadi kau yang dulu pernah membolos, pergi ke game center, kabur dari tetanggamu, dan akhirnya ketahuan eomma-mu?!”

“Hey! Bagaimana kau mengeahui itu? Aku belum pernah menceritakannya padamu, kau membaca buku diary-ku lagi yah?”

“Tunggu sebentar, dimana SMP-mu?” bukannya menjawab Yuri malah bertanya balik.

“Di Hanyoung Junior High School, waeyo?”

“Kalau begitu kenapa waktu itu kau membawa blazer seragamnya SMP Shinwa?”

“Oh, itu milik sepupuku, waktu itu Ia tidak sengaja meninggalkan seragamnya di rumahku, karena memang niat buat membolos, aku bawa saja seragam SMP-nya, padahal aku sendiri masih SD waktu itu. hehehe… Kenapa sih memang? Kau membuatku penasaran”

Yuri membelalakan matanya kaget. Ia langsung beranjak dari duduknya dan mengobrak-abrik kardus-kardus miliknya yang masih belum dibereskan untuk mencari sesuatu. “Ah ini dia!” seru Yuri saat Ia sudah memegang sebuah sapu tangan di tangannya. Ia pun mendekat ke Siwon lagi. “Ka-kau ingat ini?” tanya Yuri ragu-ragu. Tanpa sadar Ia menggigit bibir bawahnya, semakin gugup menunggu reaksi Siwon.

Omo! Bagaimana bisa ini ada ditanganmu? Seingatku sapu tangan ini sudah aku berikan pada seorang namja, teman kecilku dulu”

Bruk! Yuri jatuh terduduk dengan lemas. “Hhhhh…..” Yuri mendesah berat. “Chajatta…” ucap Yuri dengan leganya. ‘I Found You’

––END––

Extra Story…

Yuri bersandar pada dada Siwon yang kini sedang merangkulnya erat. Keduanya duduk beralaskan tikar di tepi pantai pulau Jeju sambil menikmati semilir angin laut yang berhembus menerpa wajah keduanya. Sesekali mereka tersenyum saat sedang memperhatikan anak laki-laki mereka yang sedang asyik membuat istana pasir tak jauh dari Yuri dan Siwon.

“Eomma lihat aku berhasil buat benteng pasir! Aku hebat kan eomma?”

Ne, kau memang hebat aegiya!” teriak Yuri pada anaknya sambil tersenyum. “Hati-hati matamu kelilipan, ne?”

Arraseo eomma” jawabnya masih sibuk menepuk-nepuk pasir pantai.

“Anak kita tampan ya Jjagi” ucap Yuri pada suaminya.

“Siapa dulu appa-nya”

Aigooo… sudah punya anak satu masih saja begitu. Tak heran anak kita jadi mewarisi sifat narsismu itu”

“Satu? bukankah sekarang akan bertambah jadi dua?” tanya Siwon sambil mengelus perut Yuri yang kini terlihat lebih buncit. “Jagoanku akan tambah satu lagi”

“Jagoan? Tidak mau, aku kan maunya anak perempuan”

Arraseo… Perempuan atau laki-laki tak masalah buatku. Kalau anak kedua kita lahir adalah perempuan, pasti akan secantik eomma-nya”

“Dasar appa gombal” ledek Yuri sambil menyikut Siwon pelan. Siwon hanya membalas dengan senyuman sambil mencium puncak kepala Yuri lembut. “Hey, appa, lihat! namja kecil kita sudah punya teman baru sekarang, aigoo… seorang yeoja lagi”

“Ahaha… iya, mereka lucu sekali. Pasti yeoja imut itu sudah terpincut oleh pesona anakku, dia bahkan ikut membantu membuat istana pasir. Ahahaha…”

Yeobo, kau membawa kamera instax milikku?” tanya Yuri.

Ne, waeyo? Mau foto-foto pemandangan lagi?”

Anni

“Lalu?”

“Kau tahu, aku berpikir… mungkin saja anak kita akan punya takdir yang mirip seperti kita”

––END––

A/N : Fiuuuuhh…. *ngelap keringet. Aku gak bohong kan waktu bilang total words-nya 20k++? Ahahaha…. Maaf kalo endingnya biasa atau tidak sesuai keinginan kalian. Once again, terima kasih buat reader yang setia ngikutin FF-ku, jeongmal gomawoyoooo.. Sekarang ayo kasih komen kalian lagi, ne? kritik dan saran sangat aku terima dengan lapang dada 🙂

Ada yang mau sequel lagi? wakakakak… bercanda. Pokoknya kali ini ga ada sequel lagi yah, FF ini aja udah menguras habis is otak saya. hehehehe… ^^

126 thoughts on “[Chaptered] Perfect Marriage (Part 3-END)

  1. Aahh uda brp kali ngulang baca ni ff kok tetep nangis yaa😂 pas baca bikin jiwa yulwon shippernya keluar lagi😁 pokonya sukaaaakkkk bgtttt lah sama ini ff💕💕💕

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s