[FF G] Rose | Chapter 1


untitled-1-copy-jpg

 

 Songwriter : blankdreamer

Title  : Rose

 Length : Multi Chaptered

 Rate :  PG17

 Genre : Romance, AU, Drama

 Cast :

 Yoo Yunji (OC)

 Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC)

 Rome C Clown  as  Yoo Barom (OOC)

 And Others

*****

Dibilang  songfic  sebenarnya juga  bukan. Tapi  ff ini  sendiri  terinspirasi dari  definisi  Rose  dalam lagu  Rose  yang  dibawain Lee  Hi. Dan  jang  jang! Jadilah FF ini…

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

Untuk Chapter 1 ini juga sudah pernah aku publish di note fb ku

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers!

 

*****

 

“Hanya segini?! Jangan bohong! Kau pasti menyembunyikan yang lainnya! Cepat berikan!”

 

“Anio oppa. Hanya itu uang yang kupunya!”

 

“Jangan membohongiku!”

 

PLAK!

 

*****

 

“Hyaa! Bocah tengik! Jangan lari kau! Kau harus membayar semua hutang ayahmu!”

 

“Shireo (tidak mau)! Aku tak punya uang! Minta saja pada ayah! Jangan padaku!”

 

“Ayahmu sudah kabur! Jadi kau yang harus bayar!”

 

“ANDWAE!”

 

*****

Namaku Yoo Yunji. Usiaku 27 tahun. Aku hidup sebatang kara di dunia ini. Errr…, baiklah aku ralat. Sebenarnya tidak. Aku tidak benar-benar sendiri. Tapi aku hidup seakan tanpa keluarga satupun. Aku memiliki seorang kakak laki-laki. Tapi ia mendekam di penjara sejak 3 tahun yang lalu. Karena kasus penipuan. Sementara orangtuaku,mereka entah dimana.

Sejak aku  masih kecil, ibu menghilang tanpa kabar. Bahkan  pergi  sebelum  aku  bisa mengingat  wajahnya. Ayah  pernah mengatakan  bahwa  ibu  pergi  meninggalkan  kami  sejak  aku  berusia 2  tahun. Lalu ayah? Ayah kabur bersembunyi entah di liang tanah bumi belahan mana karena terlalu banyak hutang. Aku sendiri lari dari banyak hal. Bersembunyi jauh dari kampung halamanku—Ilsan, lari dari kakak yang selalu memukulku (tapi  beruntunglah kini ia mendekam di penjara), lari dari para debtcollector yang selalu menagih hutang ayah padaku, dan lari dari segala hal yang terus mengejarku.

Hanya ada 1 impian dalam hidupku saat ini. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan meninggalkan Korea sejauh mungkin. Keluar  dari  negara ini. Mungkin  sejauh  Spanyol—negara tujuan pelarianku. Aku ingin  hidup di sana. Meninggalkan penat yang ada  di  sini. Aku pasti terdengar seperti seorang pengecut karena lari dari masalah. Tapi hei! Tak ada dari mereka yang peduli padaku. Mereka membiarkanku menanggungnya sendiri. Hidupku bagai seorang  buronan selama ini. Berpindah dan terus berpindah.

Untuk mencapai impianku itu,kini aku harus berusaha mati-matian mengumpulkan uang. Tentu saja dengan bekerja.

Pagi : sebagai pengantar koran.

Siang : sebagai pelayan di restoran ayam goreng.

Lalu, setelah itu aku bekerja di bagian penjualan tiket film di bioskop. Terkadang, sepulang dari sana aku akan menjahit mata boneka sebagai pekerjaan sampinganku. Sebagai lulusan SMA memang hanya pekerjaan seperti itu yang bisa kulakukan. Apakah aku terdengar sangat konyol karena dengan pekerjaan seperti itu bermimpi bisa berkelana hingga Spanyol? Tak  pernah  ada yang  salah  dan  tak  mungkin  dengan impian  selama  kau berusaha  untuk  meraihnya.

“Astaga Yunji-yah! Beristirahatlah!” pekik Dasom-teman sekamarku. Lantas menyambar boneka yang sedang kujahit matanya.

“Hya! Jung Dasom!”

“Hya! Yoo Yunji!” Dasom balas berteriak padaku. “Kau ini sedang mengejar impian atau menyiksa diri, huh?”

Aku merebut lagi boneka kucing itu dari Dasom. “Mengejar impian,” jawabku tegas. “Aku tidak tersiksa sama sekali.”

“Tidak?” Dasom terdengar kesal, tak mengerti, sekaligus jengah.

“Sama sekali,”sahutku dengan menekan setiap suku kata. Aku kembali menjahit mata boneka. Lalu, “Tersiksa adalah justru berlama-lama tinggal di negara ini.”

Dasom mendesah. “Hya, Yunji-yah! Mengapa kau tak mencoba menarik perhatian pria-pria kaya atau menjadi model saja? Kau cukup cantik untuk melakukannya. Uang yang kau dapatkan juga bisa lebih banyak. Tidak perlu bekerja tanpa henti seperti ini.”

Aku mendengus sebal.”Dasomie, kau pikir kita hidup di abad berapa? Menggoda pria-pria kaya? Cinderella hanya ada di dongeng sayang. Lagipula, apa kau pikir aku gadis murahan seperti itu?” omelku.”Dan model katamu? Tidak! Aku tak berbakat. Dan lagi, para debt collector yang mengincar ayah bisa mengetahui keberadaanku. Aku tak mau harus kabur dan  kabur lagi  seakan akulah penjahatnya disini.”

“…..”

“….”

Dasom  mendesah keras. “Terserah kau saja!” Ia menyerah dan berderap kembali ke kamar.

Kuhela nafas. Berhenti sejenak dari menjahit. Aku lelah bekerja seperti ini. Itu  adalah kenyataannya. Tapi aku lebih lelah jika harus tetap tinggal di negara ini dengan segala permasalahan yang sudah keluargaku wariskan.

Aku langsung saja mendongak saat bercak merah tiba-tiba menetes di tanganku. Pantas saja aku pusing. Kuusap cairan merah kental yang mengalir dari lubang hidung itu dengan punggung tangan.

“Sial!” umpatku lirih. Beruntung hal ini tak terjadi saat Dasom masih di sini. Jika tidak, ia pasti akan merecokiku lebih lama lagi.

*****

 

Aku mendengus. Sama sekali tak habis pikir. Aku melihat pria itu lagi. Dia kembali. Entah sudah yang ke berapa kali ia datang untuk menonton film di sini. Tidak. Mungkin kalian berpikir wajar seseorang sering menonton film di bioskop. Oh, tidak. Jangan biarkan juga kalian berpikir bahwa pria itu sedang jatuh hati padaku, karena itu dia kerap kemari! Salah besar!

Sejauh ini, selama 1 minggu sudah aku bekerja di sini, selama 7 hari itu pula ia selalu datang. Sampai disini masih belum ada yang aneh bukan? Okay, aku akan lanjutkan. Dia selalu menonton film yang sama. Apakah dia terdengar seperti seseorang yang tengah tergila-gila pada film yang baru launching 2 pekan itu sekarang? Lalu bagaimana dengan datang selalu ditemani oleh teman wanita yang selalu ia panggil sayang itu? Tunggu! Aku belum selesai. Karena selama 7 hari itu juga, ia selalu bersama 7 wanita yang berbeda pula. Apa kalian mengerti maksudku sekarang?

“Dia sepertinya terpesona padamu, sayang.”

Aku terkesiap. Mengerjap pelan sekaligus membiarkan mulutku terbuka sedikit lebar. Apa yang gadis itu katakan baru saja? Ter… Terpesona? WHAT?? Hei! Bahkan aku lebih waras dari pada dirimu nona untuk mau bersanding dengan pria macam itu.

Aku hanya  terdiam  memperhatikan  kalian bukan  karena  aku  sedang  terpesona  pada  kekasihmu. Tapi hanya  merasa  kagum pada  pria  di sampingmu  itu  dan kasihan  pada  dirimu.

Pria itu menatapku. Yang jelas aku tak suka tatapan buayanya itu. Ia terlihat puas. Merasa dirinya paling tampan. Mungkin  ia berpikir  aku  benar-benar terpesona  padanya. Bodoh!

“Tapi hanya kau yang bisa membuatku terpesona  sayang,” rayu pria itu seraya membelai rambut dan menatap kekasih nomer 7-nya itu. Ah,mungkin juga bukan yang nomer 7.

Aku menghela nafas pelan. Andai saja ini bukan jam kerja, aku pasti sudah berteriak menyanggahnya tepat di depan muka sepasang kekasih konyol ini atau  alangkah  baiknya, mengusir  mereka dari  hadapanku.

“Maaf. Silahkan tiketnya,” ujarku seraya menyodorkan 2 lembar tiket film pada mereka seraya tersenyum kaku. Malas menanggapi mereka.

“Kau menyukaiku nona?” tanya pria bermata sipit itu tanpa ragu.

Aku tersentak. Pria ini pasti sudah gila. Jelas-jelas ada kekasihnya, tapi bisa-bisanya dia berbicara seperti itu! Benar-benar tidak waras!

“Maaf. Tapi masih ada antrian di belakang anda,” kilahku.

Hyaa!! Siapa orang di dunia ini yang sudah dengan bodohnya menciptakan prinsip pembeli adalah raja? Benar-benar cari mati! Menyusahkan orang saja! Karena jika boleh, aku ingin menonjok muka pria ini. Sungguh!

Pria bermata sipit itu tersenyum separuh padaku. Sementara pacar kesekiannya itu mulai merengek meminta pergi. Sebagai player ulung, tentu saja pria itu segera mengiyakan dan akhirnya enyah dari hadapanku.

“Ada apa?” tanya Dasom yang menjaga loket tiket di sampingku. Selain teman sekamar, kami juga bekerja di tempat yang sama. Tapi ia lebih dulu bekerja di sini.

“Tak apa. Hanya sepasang orang tolol,” sahutku kesal.

Dasom hanya ber’oh’ ria. Karena setelah itu, seorang pria datang untuk membeli tiket di loketnya. Sementara aku masih merasa jengkel.

Bagaimana wanita-wanita itu bisa ditipu dengan bodohnya oleh pria itu? Bahkan ia tak tampan. Lihat saja! Ia pria yang tetap memejamkan mata bahkan saat sedang berjalan. Benar-benar menggelikan!

*****

Sunggyu’s  POV

 Oppa  irona (bangunlah), ppali (cepat)!”

Gadis  itu terus  saja  menggoyang-goyang  lenganku. Sungguh  mengganggu. Apa  ia tak  tau  aku masih  sangat  lelah dan  mengantuk? Ia  sudah membuatku  kelelahan  semalam. Aiiist! Dan  ini masih  terlalu  pagi untuk  aku  bangun.

“Oh, wae? Aku  masih  mengantuk,” erangku  kesal. Enggan membuka  mata  dan justru  membenarkan  letak bantal.

“Tidak  oppa. Kau  harus bangun.”

Gadis  itu menarik  bantal  yang kugunakan  dengan  paksa. Aku mendesis  tak  suka. Ini benar-benar  menyebalkan. Apa  yang terjadi  pada  gadis ini?

“Ayah  akan segera  datang! Kau  harus pergi  oppa.”

Kontan, aku  terbangun sepenuhnya. Apa? Ayah? O’oo…. That’s  not good  idea. Ayah  gadis ini—Song  Hajin—adalah  seorang mafia.

“Oh, sial! Di  mana pakaianku?” Kontan  aku  terduduk. Mengedarkan  pandangan bingung  mencari  pakaianku.

Hajin  terlihat mengambil  pakaianku  yang semalam  kulepas  sembarangan. Ia  melemparkannya  padaku yang  sudah  berdiri sambil  menutupi  tubuh bagaian  bawah  dengan menggunakan  selimut  tebal. Sementara  aku mengenakan  pakaianku  lagi, Hajin nampak  was-was  mengamati pintu. Takut  ayahnya  masuk secara  tiba-tiba.

Ppaliwa  oppa!!”

 “Sial! Diamlah!”

Aku  baru mengenakan  kemejaku  saat Hajin  sudah  mendorongku untuk  segera  keluar dari  flatnya. Benar  saja, begitu pintu  terbuka, seseorang  meneriakiku. Ayah  Hajin! Sial!

“Anyeonghaseyo  ahjussi!” sapaku  seraya nyengir  dan  menaikkan sebelah  tanganku. Tapi  pria yang  sudah  uzur itu  justru  melotot lebih  lebar  lagi dan  menggeram  kesal.

“DASAR  BAJINGAN TENGIK! Kejar  dia!” perintahnya  pada  para  bodyguard  yang  berdiri  berjajar di  belakangnya.

Aku  segera berlari  secepat  mungkin sebelum  para  bodyguard  ayah Hajin  yang  menyeramkan itu  menangkap  dan  menghajarku  hingga mati. Aku  terus  berlari dan  berhenti  di depan  lift. Aku  memencet  tombol lift. Tapi  pintunya tak  kunjung  terbuka. Sial! Tak  ada jalan  lain, para  bodyguard  itu sudah  semakin  dekat. Jadi, aku  putuskan  untuk berlari  menggunakan  tangga darurat.

Huaaah…. Rasanya  benar-benar ingin  mati  saja. Aku sungguh  ingin  menyerah dan  memilih  untuk dihajar  pria-pria  bertubuh kekar  itu  saat menuruni  anak  tangga yang  seakan  tak ada  habisnya  ini. Tapi tidak  bisa. Aku  tetap tak  boleh  menyerah. Aku takkan  membiarkan  mereka menghancurkan  wajahku  ini.

Tiba-tiba  saja ponselku  berdering. Aku  mengambil ponsel  dari  saku dan  masih  terus berlari. Tertulis  Eomonim di  layar  ponsel. Sial! Eomonim  akan  terbang ke  Korea  dan menghancurkan  kebebasanku  jika aku  tak  mengangkat teleponnya. Jadi  sementara  aku berlari, aku  pun  mengangkat telepon  ibundaku  tersayang itu.

“Putraku  sayang, ibu hanya  ingin  mengingatkanmu  bahwa pukul  12  siang nanti  kau  harus pergi  makan  siang bersama  putri  dari keluarga  Kim. Jangan  lupa! Eo?”

Ye. Algaetseo  eomonim. Keuno(kututup  teleponnya).

Dan  aku menutup  telepon  sebelum ibu  mengoceh  lebih banyak  lagi. Karena  aku harus  berlari  sebelum para  preman  itu menangkapku. Tapi  sialnya, ponselku  kembali  berdering. Masih  dari ibu.

“Oo, waeyo  eomonim?”  tanyaku  seraya menahan  kesal.

“Ibu  hanya  ingin mengingatkan  saja  padamu untuk  berhenti  bermain-main jika  kau  tak suka  salah  satu dari  gadis  yang  eomonim  pilihkan  untukmu. Eo? Kau mem—

“Ne eomonim. Algaetseo. Tapi  saat ini  aku  sedang adu  cepat  lari bersama  Daehyun. Eomonim, bisa  lanjutkan mengomeliku  nanti  saja, eoKeuno,”  putusku  (lagi)  segera dan  buru-buru  menggunakan ponselku  untuk  menghubungi seseorang. “Manajer  Cha, segera  siapkan  mobil! Waktumu  hanya  5  menit!” perintahku  begitu  sambungan telepon  pada  Manajerku itu  terjawab—yang  lebih tepatnya  bukan  manajer karena  dia  lebih nampak  seperti  babysitter-ku  selama ini. Untuk  bocah  seusiaku yang  masih  duduk di  bangku  kuliah, sebenarnya  aku tak  memerlukannya. Tapi  ini semua  berkat  ibu. Ibu yang  selalu  khawatir dengan  hidupku  dan mengontrol  kegiatanku. Sial!

*****

Yunji’s POV

“Yunji-yah! Tolong  antarkan ayam  goreng  ini!”

Ne!”

Kusahut  sekotak besar  ayam  goreng itu. Lalu  mengendarai  scooter  milik kedai  untuk  mengantarkan ayam  goreng  pesanan ke  sebuah  apartement terdekat.

Kuparkir  scooter  di pelataran  apartement  itu. Lantas memasuki  gedung  dengan mendorong  pintu  kaca yang  berputar. Aku  baru hendak  menghampiri  meja resepsionis  sebelum  akhirnya seseorang  menabrakku  dan membuat  ayam  goreng yang  kubawa  jatuh berserakan  di  lantai. Ini benar-benar  bukan  berita yang  bagus.

Aku  menoleh dan  mendapati  pria yang  baru  saja menabrakku  itu  hanya menoleh  sekilas—melihat  ayam goreng-ayam  goreng  yang berserakan  di  lantai. Selanjutnya, ia  kembali berlari. Ini  tak  bisa dibiarkan! Aku  juga  sepertinya mengenal  pria  bermata sipit  itu.

Chogio(permisi)!”

Aku  meneriaki sekaligus  mengejar  pria itu  yang  sudah keluar  terlebih  dahulu dari  gedung. Tapi  ia tak  berhenti. Entah  karena tak  mendengarku, sengaja  tak mendengar, atau  tak  merasa dirinya  sedang  dipanggil. Tapi  aku tak  perduli. Aku  harus meminta  pertanggung  jawabannya.

Kutarik  kerah  kemeja  putih pria  itu  yang dikenakan  dengan  tidak rapi  sebelum  ia benar-benar  masuk  ke dalam  mobil  mewahnya yang  terparkir  tak  jauh  dari  depan gedung. Ia berontak dengan mendorongku  karena terkejut  hingga  aku terdorong  beberapa  langkah.

“Siapa  kau?”

“Aku  pengantar ayam  goreng  dan anda  sudah  menabrakku hingga  semua  pesanan ayam  goreng  yang  aku  bawa  terjatuh. Jadi, anda  harus  mengganti  rugi semuanya.”

“Apa? Apa  kau sudah  gila?”

“Tentu  saja tidak. Total  ganti  rugi yang  harus  anda beri—“

Pria  itu melirik  sesuatu  di balik  punggungku  dengan tatapan  ngeri. Aku  pun mengikutinya. Segerombol pria  berpakaian  serba hitam  rapi  berlari ke  arah  kami. Tepat saat  itulah, pria  tersebut mendorongku  kuat  hingga terjatuh. Lalu  berujar, “Aku  tak punya  waktu  untuk meladenimu!” dan  bergegas  memasuki  mobil mewahnya.

Tak  mau kalah  cepat, aku  pun  segera  bangkit dan  masih  sempat menggedor  kaca  jendela mobil  pria  itu. Tapi ia  sama  sekali tak  memperdulikanku  hingga akhirnya  benar-benar  pergi tanpa  bisa  kucegah.

“Sial!!!”

*****

Aku  tengah menantikan  kedatangan  seseorang. Seseorang  yang berharga  bagiku. Berharga  karena ia  harus  memberiku uang  ganti  rugi atas  honorku  bulan depan  yang  dipotong karena  peristiwa  jatuhnya ayam  goreng  yang kuantar  siang  tadi.

Kurasa  pria itu  harusnya  datang lagi  malam  ini. Kuharap begitu. Kuharap  ia  belum menghentikan  aksi  Don  Juan-nya itu  hari  ini.

Gotcha! Kulihat  ia  di antara  pengunjung  yang datang. Seperti  dugaanku  ia datang  bersama  wanita (lain)  lagi. Masih  seperti tebakanku, ia  menghampiri  loketku. Membeli  tiket padaku  tanpa  menyadari siapa  aku. Dalam  uang kembalian  yang  aku berikan, kuselipkan  selembar  kertas bertuliskan  sebuah  pesan. Menurut  pengamatanku harusnya  aku  berhasil mengundangnya. Orang sepertinya  memang  perlu perlakuan  khusus. Semoga  saja  ia  segera menyadari  keberadaan  kertas itu.

Aku  masih tak  melepaskan  pandanganku darinya  setelah  ia beranjak. Kuamati  ia  dari kejauhan. Berharap  cemas  ia segera  menemukan  kertas itu. Kulihat  teman  kencannya beranjak  pergi  terlebih dahulu—ke  arah  toilet. Lalu pria  itu berjalan menuju penjual  popcorn  dan  soft  drink. Membeli  1  popcorn ukuran  besar  dan 2  gelas  soft  drink. Ia mengeluarkan  dompet  dan… ASSA!! Dia  menemukan  kertasku. Keningnya  berkerut. Lantas  tersenyum. Ia menoleh  menatapku  dan menunjukkan  kertas  itu padaku. Tersenyum  lebar    penuh percaya  diri. Perangkap  berhasil!

*****

“Yunji-yah, tolong  layani tamu  di  meja  nomer  7. Dia baru  saja  datang.”

Ne….”

 Aku  segera beranjak  ke  meja yang  di  maksud. Tertegun  untuk beberapa  saat  dan tersenyum  separuh  untuk detik  selanjutnya  saat melihat  siapa  yang duduk  di  sana. Aku merogoh  sesuatu  di kantong  celemek  seragam yang  kukenakan  dan segera  menghampiri  pelanggan yang  duduk  di meja  nomer  7.

Mungkin  karena menyadari  seseorang  berjalan ke  arahnya, ia  mendongak dan  menatapku. Sebelum  akhirnya tersenyum  lebar—menenggelamkan  kedua matanya, ia  sempat  mengerutkan kening  samar  menatapku. Heran  mungkin. Karena  si gadis  penjual  tiket yang  mengundangya  ke pertemuan  atau  sebut saja  makan  siang di  Restoran  Ayam Goreng  datang  menghampirinya  dengan pakaian  pelayan  dan bukannya  berdandan  elok.

“Mengapa  kau masih  menggunakan  pakaian itu  nona?”

Aku  tak menjawabnya  dan  justru meletakkan  selembar  kertas nota  pembayaran  ayam goreng  yang  sudah dijatuhkan  pria  itu kemarin  ke  atas meja. Ya, tentu  saja  karena dia  adalah  Sang  Don Juan  dari  Korea.

“Ini  adalah jumlah  tagihan  ganti rugi  yang  harus anda  bayar,” ujarku.

Ia  menatap nota  itu  dan bergilir  menatapku. Kembali  dengan kening  berkerut  tak mengerti. “Apa  maksudnya  ini?”

“Anda  tak ingat  padaku?”

Pria  itu menatapku  intens. “Kau….”

“Aku  adalah gadis  pengantar  ayam goreng  yang  anda tabrak  kemarin,” sahutku  tegas.

Ia  mendengus sekaligus  tertawa  pendek kesal. Lantas  melipat  tangan di  depan  dada, menekuk kaki  kanan  yang akhirnya  ditumpuk  di atas  kaki  kiri, dan terkahir  bersandar  pada punggung  kursi. “Apa-apaan  semua ini?”

“Anda  hanya harus  membayar  ganti rugi  atas  kesalahan yang  anda  lakukan dan  semuanya  akan  berakhir.”

Pria  itu berdecak  kali  ini. “Aku tidak  mau.”

“Apa?”

“Yunji~yah, ada  apa?” Kepala  Pelayan  Restoran—Lee  Yong Ha—datang  menghampiriku. Pasti  karena ia  melihatku  yang  tak  memperlakukan pelanggan  ini  dengan seharusnya.

“Pria  inilah yang  telah  menabrakku dan  membuat  ayam  goreng  pesanan yang  kubawa  terjatuh kemarin.”

“Benarkah?” Kepala  Pelayan Restoran  Lee  sepertinya terkejut  mendengar  ucapanku. Aku tak  perduli.

“Dan  anda…,” Aku menatap  tajam  pria itu. “Harus  mengganti  rugi  sejumlah  uang  yang tertulis  di  nota ini.”

“Kau  bercanda nona.”

Aku  menggeleng. “Tidak. Aku  serius. Ini bukan  kesalahanku. Ini  kesalahan anda. Karena  anda  telah menabrakku  dan  atas kesalahan  yang  sebenarnya anda  buat  itu, justru gajiku  yang  harus dipotong  di  sini. Itu sungguh  tidak  adil.”

Pria  itu terdiam. Menatapku  lamat-lamat. Menghela  nafas keras.

“Jadi,  kau marah  padaku  karena gajimu  dipotong?”

Aku  tak menjawab  dan  hanya menatapnya  tajam. Harusnya  ia peka  dengan  pemikiranku. Bukankah  ia sering  berdekatan  dengan wanita? Seharusnya, hal  itu  sedikit  banyak  membuatnya  tau cara  berpikir  wanita. Aku benar, bukan?

“Baiklah,” putus  pria itu  seraya  merogoh saku  celana  untuk mengambil  dompet  hitam miliknya. Tanpa   melihat total  yang  harus dia  bayar, Don  Juan  ala  Korea  ini  mengeluarkan sejumlah  uang  dan melemparkannya  ke  atas meja. “Ambil  semua!”

Aku  melirik lembaran  uang  kertas itu. Lantas  mengambil  dan menghitungnya. Aku  terdiam. Seperti  dugaanku. Ia meremehkanku  dengan  memberikan uang  lebih  banyak dari  seharusnya. Bahkan  aku yakin  ia  tak mengetahui  berapa  jumlah uang  yang  seharusnya ia  berikan.

Aku  meletakkan beberapa  lembar  uang kembali  ke  atas meja. Lalu  merogoh  sagu celemekku  (lagi)  dan  mengeluarkan  beberapa uang  koin  yang kemudian  kuletakkan  juga di  atas  meja.

“Ini  uang kembalian  anda  Tuan. Terimakasih.” Aku  merunduk.

Ia  terdiam. Menatapku  tajam. Lalu mendengus  sekaligus  tertawa pendek. Aku  melakukan  hal yang  sama. Menatapnya  tajam. Kau pikir  aku  takut? Tidak. Sama  sekali.

*****

Aku tengah menikmati se-cup ramyeon di sebuah mini market. Duduk dibalik kaca besar tembus pandang menghadap jalanan kota Seoul.

Ponselku berdering. Aku mendesah ketika kudapati tulisan Bebek di sana.

“Ye…,” sapaku malas-malasan setelah menyentuh tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.

Eodiya (kau dimana)?” Terdengar suara nyaring Dasom di seberang sana.

“Minimarket.”

“Hyaa! Yoo Yunji! Kau pasti makan ramyeon  lagi’kan di sana? Sudah berapa kali kubilang ramyeon itu tidak baik untuk  kesehatanmu! Mengapa kau justru memakannya setiap hari?”

Kujauhkan ponsel dari telinga. Mengocehlah sepuasmu Jung Dasom! Aku sudah bosan mendengarnya.

“Lalu ada apa kau menelephonku?” tanyaku begitu tak lagi mendengar sayup-sayup ocehan Dasom seraya beranjak keluar dari minimarket.

Tiba-tiba kudengar Dasom terbatuk-batuk. Aku menghela nafas bosan dan menghitung hingga angka 3 dalam hati. “Aku tak bisa masuk kerja. Tolong  sampaikan pada manajer, ya?” pinta Dasom dengan suara (pura-pura) lemas.

Sudah kuduga ia akan mengatakan hal itu. Jadi, langsung kuiyakan saja daripada harus mendengarkan rengekannya. Sudah jadi kebiasaan Dasom mangkir kerja jika ia sedang malas atau akan berkencan dengan kekasihnya.

Dasom mengakhiri panggilan saat aku sudah berada di shelter bus. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sepuluh menit lagi bus selanjutnya baru akan tiba.

Di shelter ini hanya ada aku dan seorang wanita yang tengah hamil tua. Beberapa meter dari sini, ada pula sebuah Audi A7 di parkir  di  seberang jalan. Entah empunya ada di dalam atau tidak. Suasana di sekitar sini pun tak terlalu ramai. Termasuk lalu lalang kendaraan.

Pandanganku  tertambat pada  poster  yang terpajang  di  seberang jalan. Di  bawah  sorot lampu  iklan—pada  foto seorang  ibu  yang sedang  menggendong  bayi. Menghangatkan  bayi itu  dalam  dekapan  dan  mengecup  kening bayi  itu  lembut. Bahkan  bayi  yang masih  belum  memiliki memori  itu  tersenyum hangat  seakan  bisa merasakan  kasih  sayang ibunya.

Aku  tersenyum tipis. Apa  ibu  juga pernah  memeluk  dan mengecupku  seperti  itu? Selembut itu? Apa  ibu  juga menyayangiku  seperti  itu? Setidaknya  pernahkah? Aku  tak mengingatnya  sama  sekali. Mungkin, ibu  juga tak  pernah  lagi mengingatku. Ini  menyedihkan.

“Ibu… hiks… tolong  aku….Aku  takut….”

 Hanya  kenangan  seperti  itu  yang selalu  kuingat. Kenangan  saat  aku masih  seorang  gadis kecil  yang  belum bisa  berpikir  jauh  tentang  hidupku  sendiri, maka di  saat  aku menangis  ketakutan  dari segala  hal  yang menyiksaku—entah  itu  karena melihat  ayah  yang pulang  dalam  keadaan mabuk  dan  selalu mengamuk  atau  dari kakak  yang  tak pernah  memperlakukanku  selayaknya—aku  hanya  bisa memanggil  lirih  ibu. Ibu yang  tak  pernah muncul  di  hadapanku. Ibu  yang tak  memiliki  sedikitpun kenangan  di  sudut ingatanku.

Tak  jarang, jika  aku sedang  beruntung  dan  berhasil  kabur  dari  rumah, aku  akan  berlari  ke taman  bermain  terdekat. Duduk  di bawah  kolong  perosotan dan  melihat  anak-anak kecil  lain  yang bermain dengan  bahagia  bersama keluarga  mereka  yang utuh  atau  bersama anak-anak  lain  dengan membawa  mainan  yang bagus-bagus. Tertawa  dan  dimanjakan oleh  ayah  serta ibu  mereka. Bahagia  bersama mainan  mereka. Hanya  hal seperti  itu  yang cukup  membuatku  tenang dan  lupa  akan segala  ketakutanku  saat itu.

Kuhela  nafas. Apa yang  sedang  aku pikirkan? Ibu  sudah  memilih untuk  melepasku. Begitupun  seharusnya aku. Bahkan  wajah  ibu  saja  aku  tak  merasa  pernah  melihatnya. Lalu  mengapa  aku  terus  berusaha  untuk  mengingatnya? Bukankah  sebaiknya aku  tak  perlu  berusaha  menggali  kenangan yang  tak  pernah ada  dalam  ingatanku itu? Benar-benar  bodoh  jika aku  terus  memaksa mengingat  wajah  ibu yang  tak  pernah kulihat.

Tepat saat aku melihat sorot lampu bus dari kejauhan, wanita yang tengah hamil tua itu menjerit kesakitan. Tentu saja kontan aku menghampirinya. Sial! Ia kesakitan karena akan melahirkan. Tak ada orang yang bersamanya. Hanya ada aku. Apa yang harus kulakukan? Aaargh! Aku harus segera berangkat kerja sementara wanita ini…. Mana mungkin aku meninggalkannya di sini sendiri? Ah! Sial!

Lantas bus itu pun tiba. Tapi sungguh tidak mungkin membawa seseorang yang akan melahirkan dengan bus bukan? Dan lagi, bus ini takkan melewati rumah sakit. Jadi hanya ada satu jalan saat  ini. TAXI.

Aku bergegas berusaha menghentikan taxi. Tapi ada apa dengan hari ini? Tak satu pun taxi mau berhenti. Kulirik wanita hamil itu. Astaga! Ketubannya pecah! Bagaimana ini?

Tatapanku tertumbuk keseberang jalan. Audi  A7 itu masih ada disana. Aku tak tau ada di mana si pemilik. Tapi aku harus mendekat untuk mencari tau.

Sekali lagi, kulirik wanita hamil itu. Ia nampak benar-benar kesakitan.

“Kumohon bertahanlah,” kataku pada wanita itu. Lantas segera menyeberang.

Aku terpaku sesaat setelah melihat ke dalam mobil. Sepasang kekasih tengah bercumbu mesra. Astaga! Apa-apaan mereka ini? Benar-benar tidak tau malu.

Si Pria yang menghadap kearahku, menyadari aku yg terpaku di tempat. Tapi hal itu tak lantas membuatnya berhenti untuk melepas ciumannya. Dengan tatapan tajam dari mata sipitnya, ia justru memerintahku untuk ‘enyah’  dari sana! Dasar gila!

Namun dengan segera, aku teringat tujuanku begitu mendengar teriakan ibu hamil tadi dan kembali membulatkan tekad. Kuketuk kaca jendela mobil. Si Gadis pun tersentak kaget. Matanya bulat-bulat menatapku. Ia bertanya pada pria yang bersamanya siapa diriku—kurasa. Pria itu hanya menggedikkan pundak dan menurunkan kaca jendela mobil kemudian.

“Ada apa nona?” tanyanya yang terdengar kesal padaku.

“Ada seorang wanita yang akan melahirkan di sana.” Aku menunjuk shelter di seberang jalan. “Bisakah anda membantu untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat?”

“Tidak bisa,” jawabnya cepat.

“Apa?” Aku mendengus tak habis pikir. Lalu menghela nafas mencoba bersabar. “Ini masalah hidup dan mati tuan,” ujarku sedikit emosi. Karena sebenarnya bukan hanya wanita itu yang dalam keadaan mendesak saat ini. Tapi juga aku. Aku harus bekerja. “Tidak ada Taxi yang mau berhenti. Jadi, tolong bantu wanita itu,” imbuhku.

Ia dan kekasihnya saling berpandangan. Pria itu menghela nafas dan menatapku. Aku sempat mendengar Si Gadis yang meminta agar pria itu mau membantuku. Lebih tepatnya Si Gadis iba pada wanita hamil itu.

“Baiklah,” kata pria bermata sipit itu padaku.

Aku pun masuk ke dalam Audi  A7 yang lantas menyeberang. Begitu sampai, kubantu wanita hamil itu agar bisa masuk ke dalam mobil  dengan bantuan  dari  pria itu. Aku menghela nafas lega begitu berhasil membantunya duduk di kursi penumpang.

“Tolong kalian bantu wanita ini. Terimakasih.” Aku membungkuk sekilas, menutup pintu mobil, dan dengan segera berusaha  kabur dari sana. Tapi  sialnya, pria itu  menangkap  tanganku.

“Hei! Kau  mau kemana  nona?”

“Tolong  anda  urus  wanita ini  saja!”

Mwo? Hyaa!”

Aku  melotot kesal  padanya. Apa? ‘Hyaa’? Tcih! Pria  ini benar-benar  tidak  tau sopan  santun. Kuhentakkan  tangan hingga  terlepas  dari  cengkramannya.

“Aku  harus  segera  pergi bekerja. Jadi, tolong  urus saja  wanita  ini. Kumohon.”

“Apa?”

Aku  mencoba pergi  lagi. Tapi  pria itu  mencekal  tanganku (lagi). Saking  kesalnya, aku  pun tak  punya  pilihan lain. Waktuku  sudah  menipis. Kutendang  saja kakinya  sekuat  tenaga. Tepat  pada  tulang  keringnya. Ia memekik  kesakitan. Lantas  aku berlari  sebelum  pria itu  mencegahku  lagi. Aku bisa dengar teriakan pria itu memanggilku. Tapi aku tak perduli. Aku tetap berlari. Masa bodo jika aku harus disebut tak bertanggung jawab ataupun lainnya. Karena yang terpenting sekarang, aku tak boleh sampai mangkir kerja jika tak ingin gajiku dipotong!

*****

Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa wanita hamil itu. Tapi apa? Apa aku pernah mengenal wanita itu? Dimana? Tapi tidak. Sepertinya aku memang tak pernah mengenal wanita itu. Lalu apa? Bagian  mana  yang  terasa  janggal? Errrr….

Darahku mendadak terasa membeku. Bulu kudukku meremang. Ketakutan sekaligus kebencian menyelimutiku saat tatapanku tertumbu pada sosok itu. Sosok yang membuatku tak bisa bernafas saat ia semakin mendekat dan pada akhirnya, tersenyum—sebut saja menyeringai—di hadapanku.

Harusnya aku berlari. Harusnya aku menghindar. Tapi apa yang kulakukan sekarang hanyalah berdiri. Terpaksa menikmati ketakutan ini.

“Hai, adikku sayang! Lama kita tak bertemu,” sapa Barom—kakakku—dengan seringai.

Aku tak mampu menjawab. Lidahku terlalu kelu untuk berucap. Bagaimana ia  bisa  muncul di  sini?

Barom  merentangkan tangan. “Kau tak ingin memeluk kakakmu yang begitu kau rindukan ini  adikku?”

Apa  katanya? Memeluk? Rindu? Bahkan aku tak pernah berharap bisa melihatmu lagi.

Aku mencoba menghela nafas. Berat. “Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyaku dengan suara tercekat kemudian.

Barom  mendengus sekaligus tertawa pendek. “Mengapa kau  bertanya  seperti itu  pada  kakakmu sendiri? Dan  apa  itu? Kau? Sejak  kapan kau  jadi  adik yang  tak  tau sopan  santun  Yunji-yah?”

Kau  berharap  aku  memanggilmu  kakak? Itukah maksudmu? Memangnya  kakak  macam apa  yang  selalu menyiksa  adiknya  sendiri?

“Baiklah. Aku  takkan memaksa. Sekarang  aku  sudah bebas. Kau senang bukan?”

Apa? Bebas? Mengapa  secepat  ini? Memangnya sudah berapa lama dia dipenjara? Dan bagaimana dia bisa mengetehui keberadaanku? Sial! Apa Korea sekecil itu?

“Adikku sayang…,” suara (sok) imut Barom  yang terdengar menyeramkan di  telingaku menggugahku pada kenyataan.

“Apa maumu?”

Ia tersenyum licik. Berusaha membelai rambutku tapi langsung kutepis. Barom  melotot kesal. Ia mendengus tak suka.

“Beri  aku uang.”

Aku  menggeleng kaku. “Aku  tidak  punya.”

“Hyaa! Yoo  Yunji!! Aku  tau kau  punya  uang!” teriak Barom   kesal. Sifat  aslinya  memang selalu  muncul  jika itu  menyangkut  uang. “Bekerja  di tempat  seperti  ini, bagaimana  mungkin kau  tak  punya uang, huh? Cepat  beri  aku uang! Aku  butuh  uang!!” Barom  menyodorkan  tangannya.

Aku  hanya melirik  tangan  itu. Tidak. Aku  tidak akan  menyerahkan  uang hasil  kerja  kerasku begitu  saja  padanya. Aku takkan  pernah  memberikan uang  yang  kukumpulkan mati-matian  untuk  bisa pergi  dari  negara ini  begitu  saja padanya. Tidak  akan.

“Sudah  kubilang aku  tidak  ada uang!” Aku  sedikit  menaikkan nada  suaraku.

“Apa? Kau  berani  berbohong padaku? Hyaa! Berani-beraninya kau!” Tangan  Barom  terangkat hendak  menamparku  dan aku  segera  berteriak memanggil  petugas  keamanan. Kuremas  jemariku yang  bergetar  ketakutan. Ia melotot  semakin  kesal padaku. “Kau….”

“Cepat  pergi dari  sini  atau mereka  akan  menjebloskanmu  ke penjara  lagi,” desisku  dengan keberanian  yang  tersisa.

Barom berdecak  kesal. “Aku takkan  melepaskanmu  begitu saja,” ancamnya  dengan  rahang yang  mengerat. Ia  tersenyum licik  kemudian. Lalu, “Ingat  itu baik-baik  adikku  yang  cantik.” Barom menyentuh  pipiku dan  langsung  kutepis lagi. Ia  melotot. Tapi  sadar situasi  tak  aman karena  semua  orang melihat ke  arahnya, ia  segera meninggalkanku.

“Kau  tak apa  Yunji-yah?” tanya  Se Jung—rekan  kerjaku  yang menjaga  loket  sebelah.

Aku  hanya menggeleng. Aku  masih  ketakutan. Kuhela  nafas lega. Sial! Dia  telah  kembali. Bagaimana  dia bisa  mengetahui  keberadaanku? Sejak  kapan ia  bebas? Ini  tak baik. Benar-benar  tak  baik. Haruskah  aku kabur  lagi? Tapi  sampai kapan  aku  harus berpindah-pindah  tempat?

*****

Aku  mengintip ke  kanan  dan kiri  sebelum  keluar dari  gedung  tempatku bekerja. Aku  takut  Barom  masih  ada  di sekitar  sini  menungguku pulang. Aku  tau  benar siapa  dia. Ia  pasti  takkan  membiarkanku begitu  saja. Apa  yang harus  kulakukan  Tuhan?

Kulirik  arloji yang  menunjukkan  pukul 1  dini  hari. Sudah 1  jam  lebih aku  berdiam  diri di  sini. Seharusnya  ia tak  lagi  menungguku. Tak  mungkin juga  aku  bisa terus  berada  di sini.

Baiklah. Tenangkan  dirimu  Yoo Yunji. Semuanya  akan  baik-baik saja.

Begitu  seluruh tekad  dan  keberanian kukumpulkan, aku  pun  beranjak dari  tempatku. Tapi  aku tetap  saja  ketakutan. Takut  Barom  akan  muncul  sewaktu-waktu dan  melakukan  sesuatu padaku. Terutama  uangku. Ia  tak  boleh  merebut  uangku sepeserpun.

Namun, tiba-tiba  seseorang  menarik tas  ranselku  saat aku  melewati  jalanan yang  sepi. Beruntung  aku berhasil  memegang  salah  satu  bagian  tasku itu. Aku  hendak  berteriak, tapi  leherku tercekat  seketika  aku tau  siapa  yang melakukannya. Yoo  Barom. Saat  itulah  ia memanfaatkan  situasi  dengan menarik  tas  hingga terlepas  dari  tanganku.

To be  continued

Bagaimana  nasib  Yunji  selanjutnya? Apakah  akan  ada  orang  yang  menolong  Yunji  lepas  dari  kakaknya?

Ditunggu comentnya ya….

40 thoughts on “[FF G] Rose | Chapter 1

  1. Aduuuuuuh
    kasian bnget sih kamu, dari pada jauh-jauh keluar negeri mendingan operasi pelastik biar ga’ di kenali, terus ganti identitas. Bereskan….

  2. Beberapa adegan yang terbaca seperti pernah saya lihat. Beberapa adegan cerita tampak familiar. Ah, entahlah. Yang penting ceritanya bagus. Maaf baru baca thor. Baru nemu web ini juga. 🙂

    1. Oh,ya? Aku ga tau beneran sama apa enggak.. tapi kalau ide cerita emang terinspirasi dari gabungan beberapa drama jadul seperti lovers in paris, memories in bali, dan i’m sorry i love you… aku ambil feel ceritanya dari sana.. tapi kayanya enggak dengan beberapa adegan…

      oh iya gapapa… tetep thankyu berat karena walaupun baru mampir udah ninggalin jejak dan suatu kebahagiaan tersendiri kamu bacanya ff ini ^^
      thankyu ya…

  3. sunggyu disini jadi cowok player ya? ahahaha…
    aku suka Yu… ini buatku feelnya dapet banget. kekeke
    rada action tapi nggak begitu banyak… dan… kamu ngangkat kehidupan dari bawah yang mungkin ada banyak di luaran sana yang mengalami. keke
    di Indonesia kan juga sering begini. kekeke

    1. Iiih… Akhirnya kamu baca ff ini juga Gi… 😀 #mansae

      Ga action jg ah.. Cm adegan lari2 deh kayanya… Suka nonton film action tapi aku suka bingung deskripsiinnya sih…

      1. Anu, sebelum lanjut membacaa, aku ingin berimajinasi. Seperti apa paras yunji, misal dia ada di dunia nyata?

          1. Oiyaa.. Baru ngehh, kan ada poster. Maklum kakak.. Pembaca amatir.. 😖
            Mksh mksh. Lanjut bacaa.. 😁

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s