[FF G] Rose | Chapter 2


untitled-1-copy-jpg

 Songwriter : blankdreamer

Title  : Rose

 Length : Multi Chaptered

 Rate :  PG17

 Genre : Romance, AU, Hurt

 Cast :

 Yoo Yunji (OC)

 Sunggyu  Infinite as Kim Sunggyu

 And Others

*****

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers!

List Chapter 1

*****

Cerita Sebelumnya :

Begitu  seluruh tekad  dan  keberanian kukumpulkan, aku  pun  beranjak dari  tempatku. Tapi  aku tetap  saja  ketakutan. Takut  Barom  akan  muncul  sewaktu-waktu dan  melakukan  sesuatu padaku. Terutama  uangku. Ia  tak  boleh  merebut  uangku sepeserpun.

Namun,tiba-tiba  seseorang  menarik tas  ranselku  saat aku  melewati  jalanan yang  sepi. Beruntung  aku berhasil  memegang  salah  satu  bagian  tasku itu. Aku  hendak  berteriak, tapi  leherku tercekat  seketika  aku tau  siapa  yang melakukannya. Yoo  Barom. Saat  itulah  ia memanfaatkan  situasi  dengan menarik  tas  hingga terlepas  dari  tanganku.

*****

“Kembalikan!”

Aku  berusaha  memberanikan  diri  merebut  tasku  dari  Barom. Tapi  ia  mengangkat  tangannya  tinggi-tinggi  hingga  aku  tak  bisa  mendapatkannya.

“Kau  pikir  aku  akan  menyerah  begitu  saja,  huh?”

“Kumohon  kembalikan  tasku!”

Ia  tak  mendengarkanku  dan  jutsru  membongkar  isi  tasku. Membuat  isinya  berantakan—berserakan  di  jalan.

“Sudah  kubilang  aku  tak  punya  uang!” seruku  frustasi. “Mengapa  kau  masih  saja  menggangguku?”

Barom  mendesah  dan  melempar  tasku  sembarang. Aku  bisa  melihat  jelas  raut  kekesalan  di  wajahnya, meski  di  bawah  lampu  jalan  yang  remang  seperti  ini. Ia  mengurut  tengkuknya. Lantas, “Dimana  uangnya?”

“Sudah  kukatakan, aku  tak  punya  uang.”

“DIMANA  UANGNYA?!” teriaknya  keras-keras.

Aku  melangkah  mundur  ketakutan. Barom  justru  semakin  mendekatiku. Lalu melirik  kakiku. Tepatnya  pada  sepatuku—atau  mungkin  saja  sesuatu  di  balik  sepatuku. Tidak. Ini  gawat.

Ia  tersenyum  separuh. Menyeringai  yang  membuat  bulu  kudukku  meremang. Tidak. Ini  benar-benar  tidak  baik.

“Lepas  sepatumu!” Ia  menunjuk  sepatuku.

Aku  menggeleng  dan  terus  berjalan  mundur. Aku  harus  lari  saat  ini  juga. Tapi  bahkan  untuk  bergerak  mundur  seperti  ini  saja, aku  butuh  kekuatan  ekstra.

“Lepas  sepatumu!!!” teriaknya  lebih  keras  kali  ini.

Aku  menggeleng  dan  mencoba  lari  darinya. Tapi  Barom  menangkap  tanganku  dengan  cepat  dan  ia  akhiri  dengan  sebuah  tamparan  di  pipiku. Aku  memekik  kesakitan  dan  air  mataku  mulai  mengucur  saat  aku  jatuh  tersungkur. Sakit.

Aku  bisa  mengecap  suatu  rasa  yang  aneh  dalam  mulutku. Darah. Sial! Mengapa  aku  harus  mengalami  hal  seperti  ini  lagi?

“Kau  yang  memaksaku  melakukan  ini  Yoo  Yunji!”

Barom  mulai  menarik  sepatuku. Aku  berusaha  bertahan  dengan  mendorongnya, tapi  Barom  terlalu  kuat  bagiku. Ia  justru  mendorongku  lagi  hingga  aku  terjungkal  dan  membuatnya  berhasil  membuka  sepatuku. Barom  tersenyum  lebar. Matanya  berbinar-binar  karena  berhasil  menemukan  sejumlah  uang  yang  sengaja  kusembunyikan  di  sepatuku.

“Kembalikan  uangku!” Aku  berusaha  merebut  uangku  darinya. Tapi  Barom  menaikkan  tangannya  tinggi-tinggi. Aku  tidak  menyerah. Aku  bangun  lagi  dan  berusaha  merebut  uangku  (lagi). Aku  tidak  akan  menyerahkannya  begitu  saja. Itu  uangku! Tapi  lagi-lagi, Barom  menamparku.

“Ini  uangku. Sudah  kubilang  kau  bekerja  untuk  mencarikanku  uang. Eo? Kau  masih  belum  mengerti  juga?” Barom  memukulkan  uang  itu  tepat  ke  wajahku. Aku  menatapnya  penuh  kebencian. Tapi  aku  tetap  tak  bisa  bertindak  apapun. “Bekerjalah  lebih  rajin  lagi  adikku  sayang! Carikan  uang  yang  banyak  untukku! Mengerti?”

Barom  oppa  berdiri. Ia  menendangku  pelan. Lantas  melangkah  pergi. Tapi  kemudian  berbalik  dan  kembali  berujar, “Kalau  kau  pintar, seharusnya  kau  manfaatkan  saja  wajah  dan  tubuhmu  yang  tidak  buruk  itu. Kita  pasti  akan  lebih  cepat  kaya  dengan  begitu. Eo? Bodoh!”

Aku  tak  lagi  bisa  bersuara. Aku  terlalu  kesal. Tapi  juga  takut. Aku  memang  tak  pernah  takut  pada  siapapun, tapi  Barom  selalu  berhasil  membuatku  ketakutan. Bukan  hanya  karena  ia  bisa  dengan  mudahnya  melakukan  kekerasan  padaku. Tapi  lebih  karena  dulu  juga  ia  hampir  menjualku  pada  pria  hidung  belang, saat  aku  belum  mendapatkan  pekerjaan  apapun. Beruntung  saat  itu  aku  berhasil  lolos  berkat  bantuan  seseorang.

Barom  menghajarku  habis-habisan  karena  ia  harus  menanggung  rugi  setelah  itu. Dan  pada  akhirnya, ia  mengancamku  jika  tak  bisa  memberinya  uang, ia  akan  berusaha  menjualku  lagi. Ini  benar-benar  mengesalkan  dan  menjijikkan. Mengapa  hidupku  seperti  ini?

Kukumpulkan  barang-barangku  yang  tadi  Barom  buang. Aku  terisak. Ini  benar-benar  menyakitkan. Aku  benci  hidupku. Aku  benci  keluargaku. Tidak  bisakah  aku  hidup  normal  sebentar  saja?

*****

Langkahku  limbung. Kemunculan  Barom  kembali  bukan  hanya  membuat  sekujur  tubuhku  sakit. Tapi  juga  hatiku. Otakku. Apa  yang  harus  kulakukan  untuk  menghindarinya?

Aku  berhenti  untuk  membeli  sekaleng  minuman  dingin  di  sebuah  mesin  minuman. Kumanfaatkan  dinginnya  kaleng  itu  untuk  mengompres  lebam  di  pipiku—sesekali  meringis  kesakitan  dan  juga  kedinginan. Sakit.

Langkahku  melambat, saat  dari  kejauhan—di  puncak  tanjakan  ini—aku  melihat  tiga  orang  wanita  yang  tengah  menghajar  seorang  pria. Dua  orang  dari  mereka  memukuli  pria  itu  dengan  tas. Yang  lain  menendangi  pria  itu  dengan  sepatu  berhak  tinggi. Menyedihkan  sekali  nasibnya.

“Dasar  playboy!” teriak  salah  seorang  wanita  itu  geram. Lantas  mereka  meninggalkan  pria  itu  begitu  saja. Ooh, ternyata  hanya  seorang  pria  yang  ketahuan  belangnya. Na’as…. Tapi  apa  perduliku?

Aku  masih  saja  terus  berjalan  hingga  melewati  pria  itu  yang  tengah  duduk  bersandar  pada  dinding  pagar  sebuah  rumah. Pada  awalnya, aku  memang  tak  ingin  memperdulikannya. Tapi  entah  mengapa  saat  aku  mendengar  ia  bergerutu,

“Wanita-wanita  itu  benar-benar  kuat.” Kakiku  kontan  saja  terhenti. Entah  mengapa  aku  melakukannya, aku  juga  tak  benar-benar  mengerti.

Aku  menoleh  dan  menatapnya  dengan  kening  berkerut. Pria  itu  tengah  sibuk  membersihkan  pakaian  dan  menghapus  darah  di  sudut  bibir.

Mungkin  ia  hanya  merasa  tengah  diperhatikan. Jadi  ia  mendongak  menatapku. Aku  masih  bergeming. Menatapnya  untuk  beberapa  detik  berikutnya. Sejurus  kemudian, entah  apa  yang  aku  pikirkan, aku  menyodorkan  kaleng  minuman  dinginku  padanya.

Ia  menatapku  dengan  kening  berkerut. Menatapku  dengan  mata  sipitnya. Lalu  ia  menatap  benda  yang  kusodorkan  padanya. Di  bawah  sorot  lampu  keemasan  yang  redup  itu, bahkan  aku  tak  yakin  pria  itu  sedang  membuka  mata. Wajahnya  terasa  tak  asing.

“Kau  kasihan  padaku  nona?”

“Tidak.”

“Kalau  begitu, kau  menyukaiku?”

Aku  mendengus. Aku  mengingatnya  sekarang. Pantas  saja….

“Hanya  merasa  kita  sedang  senasib.”

Senasib  karena  sama-sama  babak  belur, itu  maksudku.

Pria  itu  mendengus  serta  tersenyum  separuh. “Senasib? Jadi  kau  dihajar  oleh  pria-pria  yang  kau  permainkan  cintanya?”

Aku  meliriknya  tajam. Aku  bukan  orang  sepertimu!

“Bukan?” tanyanya. Ia  mungkin  bisa  mengartikan  tatapan  tersinggungku. “Lalu  mengapa  kau  terluka  nona?”

Sebaiknya  aku  pergi  saja. Tak  ada  guna  menolong  orang  sepertinya. Dia  terlalu  memiliki  rasa  penasaran  yang  tinggi. Aku  tidak  suka. Tapi  pria  itu  justru  mencekal  tanganku  saat  aku  berbalik  untuk  pergi.

Kontan  kuhentakkan  tangan. Tapi  cengkramannya  tak  terlepas. Ia  menatapku  lekat. Ia  berdiri. Lalu  merogoh  saku  celana  dan  mengeluarkan  ponsel.

Ia  arahkan  pancaran  sinar  dari  ponselnya  ke  wajahku. Aku  melirik  ponselnya—merasa  terganggu. Aku  benar-benar  tak  mengerti  maksudnya. Tapi  aku  tak  menyukai  sikapnya  ini  sehingga  kutepis  tangannya  itu.

“Kau  tak  asing,” ujarnya.

Aku  berhenti  meronta. Lalu  menatap  pria  itu  antara  terkejut  dan  kesal. Kupikir  pria-pria  yang  memiliki  banyak  wanita  dalam  hidupnya  takkan  mudah  mengenali  wajah  wanita  yang  pernah  ia  temui. Tapi  sepertinya  aku  salah.

“Kau… adalah  gadis  yang  sudah  memaksaku  menolong  seorang  wanita  hamil. Bahkan  kau  telah  menendang  kakiku  saat  itu dan menghancurkan  kencanku.” Ia  mendengus  sekaligus  tertawa  pendek. “Aku  benar, bukan?”

Aku  mengerjap. Oh! Jadi,  malam  itu  aku  meminta  bantuan  padanya? Aku  tak  ingat. Saat  itu  aku  terlalu  panik  sehingga  tak  terlalu  memperhatikan  wajahnya. Kupikir  bukan  dia. Kalau  saja  aku  tau.

“Dan  tunggu  sebentar! Kau… kau  juga  adalah  si  gadis  penjual  tiket  film  dan  pengantar  ayam  goreng  itu. Aku  benar  lagi,  bukan?”

Aku  mendesah. Daya  ingatnya  terlalu  bagus. Tapi  ini  bukan  saatnya  untuk  terkagum. Jadi,  kuhentakkan  tanganku  sekali  lagi. Terlepas.

Ia  mengangguk. Entah  untuk  alasan  apa. “Aku  mengerti  sekarang. Semua  rentetan cerita  ini,” ujarnya.

Kukerutkan  kening  samar.

“Kau  stalker.”

Aku  masih  mengerutkan  kening.

“Kau  mengikutiku  selama  ini. Kau  berusaha  menarik  perhatianku. Aku  benar, bukan?”

Aku  mendengus.

“Jika  tidak, mengapa  terlalu  banyak  kebetulan  di  antara  kita  nona?”

“Memangnya  untuk  apa  aku  mengikuti  anda? Apa  ada  untungnya  bagiku?”

“Untung? Tentu  saja  ada. Karena  kau  menyukaiku. Jika  kau  berhasil  menarik  perhatianku, kau  bisa  mendapatkan  diriku. Bukankah  itu  tujuanmu?”

Hah! Lucu. Aku  sungguh  ingin  tertawa  terpingkal  andai  saja  tamparan  Barom  tadi  tak  membuat  wajahku  terasa  sakit.

“Aku  tidak  akan  pernah  mendapatkan  uang  dengan  mengikuti  anda.”

Pria  itu  tersenyum  lebar. “Jadi, kau  menginginkan  uang  dariku? Baiklah. Kalau  begitu  mudah  saja. Kau  bisa  ikut  denganku—ke  apartemenku. Lalu  kita….”

“600  Won,” kataku.

“Apa?”

Tanganku  mengepal  kuat. Ingin  sekali  aku  menghajarnya. Apakah  semua  pria  di  dunia  ini  sungguh  tak  memiliki  otak? Ayah, Barom, dan  pria  ini…mereka  adalah  para  pria  tak  berotak.

Pria  bermata  sipit  itu  semakin  mengerutkan  kening  saat  aku  mengulurkan  tangan  padanya  seakan  meminta  sesuatu. Ralat. Aku  memang  sedang  meminta  sesuatu.

“Minuman  kaleng  yang  anda  pegang  itu  harganya  600 Won.”

Ia  masih  terpaku  menatapku.

“Bukankah  anda  mengatakan  akan  memberiku  uang?”

“Kau….”

“Anda  tak  perlu  mengeluarkan  banyak  uang. Cukup  600  Won  saja.”

Ia  terdiam. Sejurus  kemudian, ia  merogoh  saku  celana  dan  mengeluarkan  dompet.

“600 Won. Hanya  itu. Jangan  memberiku  lebih  karena  aku  tak  memiliki  uang  untuk  kembalian!”

Tangannya  terhenti  saat  akan  mengeluarkan  beberapa  lembar  uang  setelah  aku  berujar  demikian. Ia  menatapku  untuk  kesekian  kalinya. Don  Juan  yang  baru  saja  kena  batunya  itu  meraih  tanganku  dan  meletakkan  beberapa  lembar  uang  10.000  Won  di  tanganku. Ia  tak  mendengarkanku.

“Ambil  saja  kembaliannya.”

Tapi  aku  justru  mengembalikan  lagi  uang  itu  dan  merebut  dompetnya. Lalu  kujungkirkan  dompet  pria  itu  sehingga  menjatuhkan  beberapa  uang  koin  yang  ada  di  dalamnya. Kupunguti  uang  recehan  itu  segera.

“600  Won. Ini  jumlah  yang  benar,” ujarku.

Kukembalikan  lagi  dompetnya  dan  merunduk  sekilas. Selanjutnya, aku  pergi  dari  hadapan  pria  yang  masih  terpekur  di  tempatnya  itu. Sudah  cukup  bagiku  hari  ini  menghadapi  orang-orang  tak  berotak  sepertinya.

“Kim  Sunggyu! Itu  namaku!” teriak  pria  itu  yang  sempat  terdengar  olehku. Tch! Menggelikan! Mengapa  aku  harus  mendekati  pria  gila  itu  tadi?

*****

“Astaga! Yunji~yah! Apa  yang  terjadi  dengan  wajahmu? Siapa  yang  sudah  memukulimu?” cecar  Dasom  saat  melihatku  datang. Ia  terbangun. Padahal  aku  sudah  berusaha  masuk  setenang  mungkin  agar  ia  tak  terjaga.

Sekarang, aku  tak  perduli  lagi  dengan  menutupinya. Terlalu  banyak  kesialan  yang  menimpaku  dalam  beberapa  jam  ini. Membuatku  benar-benar  kelelahan.

Dasom  mencengkram  kedua  pundakku  dan  menghadapkanku  padanya—menatapku  lamat-lamat. “Yunji~yah, katakan  padaku  siapa  yang  sudah  sejahat  ini  padamu, eo?”

Aku  menepis  kedua  tangan  Dasom  dan  beranjak  ke  ranjang. Aku  benar-benar  malas  menjawabnya. Aku  hanya  takut. Jika  aku  menjawab, maka  hanya  air  mata  yang  terurai. Aku  tak  mau  nampak  serapuh  itu.

“Hyaa! Yunji~yah!” teriak  Dasom  menuntut.

Aku  masih  tak  menjawabnya. Hanya  berbaring  dan  menarik  selimut  hingga  menutupi  sekujur  tubuhku  yang  tiba-tiba  kembali  gemetar  begitu  mengingat  kejadian  beberapa  waktu  yang  lalu. Saat  Barom  muncul  kembali  dan  menjadi  ancaman  dalam  hidupku. Aku  memeluk  kedua  lenganku. Menekuk  kaki  hingga  lututku  menyentuh  dada.

“Yunji~yah, apa  yang  terjadi? Katakan  padaku!”

Aku  menghela  nafas. Semoga  suaraku  bisa  keluar  dengan  benar. “Aku  lelah. Biarkan  aku  tidur.”

Mwo?

Kucoba  memejamkan  mata. Kutarik  nafas  dalam-dalam  dan  menghembuskannya  perlahan—berusaha  menenangkan  diriku  sendiri. Tapi  sialnya, aku  justru  terisak. Kubungkam  mulutku  sebelum  Dasom  mendengarnya.

Tak  lama, aku  mendengar  ponselku  berdering. Sebuah  panggilan  masuk. Aku  semakin  memejamkan  mata  erat-erat  dan  menyumbat  telinga  dengan  telapak  tangan. Aku  tak  ingin  mendengar  apapun  yang  akan  menjelma  sebagai  ancaman  bagiku.

Sayup-sayup, aku  bisa  mendengar  Dasom  yang  memberitahuku  bahwa  aku  mendapatkan  telepon. Tapi  aku  bergeming. Sepertinya  ia  mengangkat  telepon  itu  kemudian.

“Yunji~yah, katanya  dia  adalah  oppa­-mu.”

Aku  terdiam. Jantungku  seperti  dihujam  sesuatu. Sesak. Sial! Bagaimana  dia  bisa  mengetahui  nomer  ponselku? Tidak. Kumohon  jangan  ganggu  aku  sekarang. Jangan  ganggu  aku  saat  ini! Aku  lelah. Sangat  lelah. Sungguh….

“Yunji~yah,” Dasom  menyentuh  pundakku. “Kata  oppa-mu….”

Aku  langsung  menyibak  selimut  dan  terduduk. Lantas  menyahut  ponsel  dari  tangan  Dasom  dan  melemparkannya  sembarang  hingga  akhirnya  membentur  tembok  dengan  keras. Jatuh  berantakan…. Dasom  memekik  terkejut.

Aku  kembali  berbaring  dan  menarik  selimut  hingga  menutupi  sekujur  tubuhku (lagi). Aku  tak  ingin  ada  yang  menggangguku. Sungguh.

“Yunji~yah….”

*****

# Sunggyu’s  POV

Lampu  lalu  lintas  menunjukkan  warna  merah. Jadi, kuhentikan  laju  mobilku  sesaat. Kulirik  Hye Won—gadis  kesekian  yang  kukencani  selama  ini. Ia  tersenyum  padaku. Jadiku  balas  juga  senyumnya. Lalu  setelah  mengecup  bibirnya  sekilas, kulemparkan  pandanganku  ke  luar  sana.

Di  trotoar  jalanan  itu, kulihat  dia—si  gadis  aneh. Aku  tak  tau  namanya. Tapi  ia  adalah  gadis  yang  sudah  merampokku  untuk  sejumlah  ayam  goreng  dan  sekaleng  soft  drink.

Kuamati  gadis  itu. Sebenarnya, ia  adalah  gadis  yang  menarik  dan  cantik. Tapi  kepribadiannya  benar-benar  sulit  kumengerti. Langkah  gadis  itu  tiba-tiba  terhenti. Ia  merunduk  dan  memungut  sesuatu. Aku  tak  bisa  melihatnya  dengan  jelas. Tapi  kurasa  ia  memungut  sebuah  koin.

Gadis  itu  tersenyum  lebar  menatap  benda  yang  baru  saja  ia  pungut. Cantik…. Ia  sangat  cantik  saat  tersenyum. Lebih  cantik  dibanding  saat  ia  memasang  ekspresi  datar  atau  kesal.

Ia  mengecup  benda  itu  sekilas  dan  memasukkannya  ke  saku  jaket. Selanjutnya, ia  kembali  meneruskan  langkah  seakan  tak  ada  yang  terjadi. Aneh….

“Apa  yang  sedang  kau  lihat  sayang?” tanya  Hye  Mi  padaku. Sepertinya  ia  menyadariku  yang  tengah  tersenyum  sendiri. Beruntung, ia  tak  mengetahui  siapa  yang  kuperhatikan.

“Bukan  apa-apa. Hanya  kucing  kecil  yang  lucu.”

“Apa  kau  menyukai  kucing  sayang?”

Aku  berpikir  sejenak. “Tidak,” jawabku  kemudian  yang  lantas  menginjak  pedal  gas  saat  lampu  lalu  lintas  sudah  menyala  hijau. Aku  masih  sempat  melirik  gadis  aneh  itu  yang  berjalan  sendirian. “Hanya  terkadang. Asal  bukan  yang  liar,” lanjutku  seraya  tersenyum  separuh  dan  melirik  sekilas  gadis  softdrink  itu  lagi.

*****

# Yunji’s  POV

“Di  mana  kau  letakkan  uangnya?!” teriak  Barom  murka.

Aku  hanya  bisa  menangis  di  sudut  ruangan. Memeluk  kedua  kakiku, sementara  Barom  menghancurkan  seisi  rumah. Aku  tak  bisa  melakukan  apapun. Aku  sudah  berusaha  mencegahnya. Tapi  Barom  justru  memukuliku  hingga  aku  babak  belur  lagi.

Ia  menghampiriku. Menjambak  rambutku  dan  berteriak  untuk  kesekian  kalinya  memintaku  memberitahukan  dimana  aku  meletakkan  uangku. Aku  tak  menjawabnya. Bahkan  jika  sekarang  ia  akan  membunuhku, itu  terserah  padanya. Memberitahukan  padanya  tempat  aku  menyimpan  semua  uangku  sama  dengan  membunuh  hidupku  sendiri. Jadi, lebih  baik  aku  diam. Jika  ia  memang  ingin  membunuhku, maka  bunuh  saja  aku.

“Kau  tak  punya  mulut,  huh?”

“….”

Barom  mendorong  kepalaku  hingga  membentur  tembok  karena  aku  tetap  bersih  keras  menutup  mulut. Kepalaku  terasa  pening  luar  biasa  seketika. Tanganku  kontan  menyentuh  bagian  yang  terbentur. Benar  saja, ada  bercak  merah  pada  telapak  tanganku  setelah  itu.

“Mengapa? Mengapa  tak  kau  bunuh  saja  aku? Mengapa  kau  harus  memperlakukanku  seperti  ini? Bunuh  saja  aku!” teriakku  histeris.

Barom  mendengus  kesal. “Kau  tau? Meskipun  ingin, aku  tak  bisa  membiarkanmu  mati  begitu  saja.”

Waeyo?”

“Karena  aku  masih  membutuhkanmu  untuk  mencari  uang.”

Aku  hanya  menatap  Barom  antara  takut  dan  juga  benci. Aku  pun  tak  lagi  berniat  menjawab. Aku  kembali  terisak. Jika  kalian  memang  tak  pernah  menginginkanku  di  dunia  ini, lalu  mengapa  kalian  tetap  membiarkanku  hidup?

“Kau  tetap  tak  mau  memberitahuku, Yoo  Yunji?”

“….”

“Baiklah. Aku  rasa  aku  tau  dimana  kau  menyembunyikannya.”

Dan  sebelum  sempat  aku  melakukan  sesuatu, Barom  sudah  bertindak  lebih  cepat. Ia  menarik  pakaianku. Menariknya  dengan  paksa  hingga  akhirnya  kancing  kemejaku  terlepas. Aku  berteriak. Berusaha  keras  agar  Barom  menghentikan  aksinya. Entah  itu  menendang  ataupun  terus  berusaha  merapatkan  kain-kain  pakaianku  yang  sudah  mulai  terkoyak. Tapi  Barom  selalu  lebih  kuat  dariku  sejak  dulu. Ia  menamparku. Menarik  terus  pakaianku. Aku  berusaha  merangkak  saat  melihat  sebuah  gunting  tergeletak  tak  jauh  dariku.

Baru  saja  aku  hendak  meraih  gunting  itu, Barom  menarik  rambutku. Aku  memekik. Tapi  aku  tak  berputus  asa  dan  terus  berusaha  meraih  gunting  tersebut.

“Menjauh  dariku!” teriakku  sambil  mengarahkan  gunting  itu  pada  Barom  begitu  berhasil  meraihnya. Sontak, Barom  menghentikan  aksinya. Ia  menatap  gunting  yang  kupegang  dengan  kedua  tanganku  dan  mengarahkan  ujung  gunting  padanya. Ia  menatapku  waspada.

Barom  tersenyum kaku. “Kau  pasti  sedang  bercanda  Yunji~yah.”

Aku  menggeleng. “Anio,” jawabku  seraya  perlahan  bergerak  mundur.

Ia  mengangguk-angguk  kali  ini. “Aku  tau  kau  tak  serius. Kau  takkan  bisa  melakukannya, Adikku  Sayang.”

Kuseka  air  mata  dengan  lenganku  secepat  mungkin. “Kha (pergi)! Kharago (pergi  kataku)!” teriakku. “Aku  bisa  melakukannya  jika  kumau.”

Kubalik  mata  gunting  ke  arah  tubuhku  sendiri. “Kau  bilang  kau  ingin  aku  mati. Tapi  kau  juga  tak  ingin  hal  itu  sampai  terjadi  bukan?”

“Hyaa, Yunji~yah! Jangan  bertindak  bodoh!” Barom  mendekatiku. Jadi  kunaikkan  lagi  tanganku  untuk  mengambil  ancang-ancang. Bersiap  menghujamkan  mata  gunting  itu  ke  perutku  sekuat  mungkin.

“Baiklah. Aku  akan  pergi,” ujar  Barom  kemudian. “Tapi  ingat. Aku  tetap  akan  kembali. Perlu  kau  tau  saja  adikku  sayang, aku  tak  membunuhmu  selama  ini, karena  aku  membutuhkan  bantuanmu.” Ia  menghela  nafas. “Dengan  uangmu, aku  bisa  mencari  ibu  ke  setiap  pelosok  negeri  ini.”

Aku  terkesiap. “Ibu…masih  hidup?”

“Tentu  saja,” sahut  Barom. “Dan  aku  tau  kau takkan  pernah  mampu  mencarinya. Karena  bahkan  kau  tak  pernah  bisa  mengingat  wajah  ibu, bukan? Jadi, kuputuskan untuk  mencarinya  sendiri  selama  ini.

Dari  berita  terakhir  yang  kudapat, ia  telah  menjadi  seseorang  yang  kaya. Sangat-sangat  kaya. Jika  aku  berhasil  menemukannya, kau  bisa  bayangkan  bagaimana  bahagianya  hidup  kita  nanti. Kita  tak  perlu  menjadi  buronan  lagi. Kau  tak  perlu  bekerja  sekeras  sekarang  dan  bisa  membeli  apapun  yang  tak  pernah  kau  miliki. Karena  itu…, karena  itulah  kuharap  kau  tak  berulah  yang  tidak-tidak. Kau  harus  tetap  hidup. Agar  kau  tak  menghambat  pekerjaanku. Eo?”

“….”

Apa? Ibu  masih  hidup  dan  menjadi…orang  kaya? Sebahagia  itukah  ibu  selama  ini? Benarkah  yang  Barom  katakan?

Bukan. Bukan  aku  bahagia  karena  jika  aku  bertemu  ibu, maka  semua  penderitaanku  akan  berakhir  dengan  uangnya. Tapi  lebih  dari  itu. Di  sana—entah  di  kolong  langit  sebelah  mana—jika  itu  benar  adanya  saat  ini  ibu  menjadi  seseorang  yang  kaya, entah  mengapa  aku  justru  merasa  kecewa. Benar-benar  kecewa.

Ibu  tengah  berbahagia  dan  menikmati  hidupnya  di  sana. Lantas, apakah  pernah  di  salah  satu  detik  hidupnya, ibu  mengingatku, ayah, dan  Barom? Keluarganya  terdahulu? Pernahkah  ibu  berusaha  mencari  kami  kembali  setelah  ibu  menjadi  seseorang  yang  kaya? Jika  memang  yang  membuat  dulu  ibu  pergi  adalah  ayah, setidaknya  pernahkah  ia  mencari  kami—anak-anaknya?

Entahlah. Tiba-tiba  saja, aku  berharap  jika  ibu  tak  lagi  hidup  saja.

*****

“Astaga  Yunji~yah! Apa  yang  sudah  terjadi?” pekik  Dasom  yang  baru  saja  tiba.

Aku  tak  bisa  menjawabnya. Aku  hanya  bisa  berusaha  mati-matian  menahan  tangisku  yang  masih  saja  tak  mau  berhenti  sembari  membereskan  barang-barang  yang  Barom  hancurkan  tadi.

Dasom  menarik  tanganku  dan  membuatku  berhenti. Ia  menatapku  cemas.

“Apa  yang  terjadi?”

“Maaf,” ucapku  nyaris  berbisik. Bahkan  aku  tak  berani  menatapnya.

Dasom  menyentuh  pundakku. Menyentuh  luka  memanjang  di  lenganku—bekas  cakaran  Barom  tadi.

“Yunji~yah….”

“Maaf. Semuanya  rusak.”

“Tidak. Itu  tak  penting. Yang  terpenting  adalah  keadaanmu. Apa  yang  terjadi? Siapa  yang  melakukan  ini  semua? Apakah  para  debt  collector  itu  telah  menemukanmu? Apa  kau  sudah  menghubungi  polisi?”

Aku  menggeleng. “Tidak. Ini  salahku, Dasomie. Aku  yang  salah. Aku  yang  salah. Maafkan  aku. Maafkan  aku….”

Ne?”

Entah  mengapa  tangisku  pecah  lebih  kencang  lagi  kemudian. Aku  tak  bisa  menahan  untuk  lebih  lama  lagi  tidak  menyuarakan  tangis  ini. Kurasakan  kehangatan  rengkuhan  Dasom. Ia  mengelus  punggungku  pelan  dan  berhenti  bertanya  apa  yang  sudah  terjadi  padaku. Berusaha  menenangkanku  yang  terus  menangis  histeris.

Neomu  appa (sangat  sakit), eomma….

*****

# Author’s  POV

Wanita  itu menahan  tangis  kala  ia  menggendong  putri  kecilnya  yang  baru  berusia  2  tahun  seraya  menjinjing  sebuah  tas  pakaian  besar. Setiap  langkahnya  begitu  penuh  perhitungan. Setiap  gerakannya  sarat  kehati-hatian. Ia  tak  boleh  membuat  kesalahan  sedikitpun  dalam  gerakannya  atau  hanya  akan  membuat  kekacauan. Seperti  membuat  putra  sulungnya  yang  tak  akan  ia  bawa  terbangun.

 

Sebelum  melangkah  keluar  dari  kamar  super  sederhana  itu, ia  melirik  sejenak  sang  putra  yang  tengah  terlelap  nyenyak. Ia  pun  terisak  kencang. Tak  mampu  menahan  tangis  begitu  melihat  putranya.

 

Ia  gigit  bibirnya  sendiri  untuk  menahan  tangis  yang  akan  meraung. Karena  terpaksa  ia  harus  meninggalkan  sang  putra  bersama  ayahnya—suami  wanita  itu. Ia  hanya  mampu  membawa  pergi  putrinya  saja. Putri  bungsunya  yang  masih  butuh  perhatiannya. Karena  bahkan  sebenarnya  ia  tak  yakin  sepeninggalnya  dari  tempat  itu, apakah  mereka  berdua  masih  bisa  bertahan  hidup  kelak.

 

Wanita  itu  memilih  untuk  meninggalkan  putra  sulungnya  yang  telah  berusia  7  tahun. Karena  ia  yakin  putranya  itu  bisa  bertahan  hidup  bersama  ayahnya. Meski  hal  itu  juga  tak  benar-benar  ia  yakini. Tapi  ia  tetap  harus  memilih  pergi  dengan  membawa  salah  satu  dari  kedua  anaknya. Selain  ia  tak  yakin  dapat  memenuhi  kebutuhan  hidup  kedua  anaknya  itu  jika  ia  bawa, ia  tau  membawa  pergi  keduanya  saat  ini  hanya  akan  menghambat  usahanya  untuk  kabur. Kabur  dari  suami  yang  suka  mabuk, mengamuk, memukulnya, dan  juga  berjudi. Belum  lagi  hutang  yang  melilit  di  sana-sini. Ia  takkan  sanggup  hidup  dalam  keluarga  seperti  itu  terus-menerus. Ia  lebih  baik  mati  di  jalanan  dibanding  harus  mati  disiksa  oleh  suami  yang  tak  bertanggung  jawab  sama  sekali  terhadap  keluarganya  sendiri.

 

Wanita  yang  terhitung  ibu  muda  itu  kini  sudah  berhasil  keluar  dari  rumah  yang  bahkan  tak  layak  disebut  rumah  itu  tanpa  membuat  putra  sulungnya  terbangun. Sekarang, ia  hanya  perlu  segera  pergi  dari  sana  sebelum  suaminya  pulang  dan  memergoki  rencananya  ini. Tapi  nahas, baru  beberapa  langkah, seseorang  mencengkram  pundaknya  dan  membuat  ia  berbalik.

 

Seperti  terkena  serangan  jantung. Detakan  organ  vital  itu  seakan  berhenti  saat  ia  melihat  siapa  yang  berdiri  di  hadapannya  dengan  mata  merah  dan  raut  penuh  amarah  disertai  aroma  alkohol  juga  tembakau  yang  kuat. Sungguh  perpaduan  wewangian   yang  membuat  perut  terasa  mual.

 

“Kemana  kau  mau  pergi?” tanya  pria  atau  lebih  tepatnya  adalah  suami  wanita  itu  dengan  suara  berat  dan  diseret.

 

Wanita  itu  tak  lantas  menjawab. Kerongkongannya  seperti  sedang  dikeringkan  oleh  tiga  matahari. Panas  dan  gersang. Membuatnya  tak  bisa  mengeluarkan  barang  sekatapun. Kedua  kakinya  juga  bergetar  hebat  dan  terasa  seperti  telah  bertransformasi  menjadi  sepasang  batang  kayu  karena  sendi-sendi  yang  seakan  tak  berfungsi. Ia  tak  dapat  berontak.

 

Pria  mabuk  itu  melirik  tas  jinjing  wanita  itu  tajam. “Kau  mencoba  kabur?”

 

Istrinya  mengambil  satu  langkah  mundur  yang  terasa  kaku. “Aku…, aku  tak  bisa  hidup  bersamamu  lagi. Aku  tidak  sanggup.” Suaranya  tercekat  karena  terikat  takut, benci, serta  amarah.

 

Pria  itu  mendengus, lantas  menggeram  kesal. Satu  langkah  mundur  wanita  itu  tak  cukup  mampu  mengurangi  jarak  lengan  suaminya  itu  untuk  dapat  mendaratkan  telapak  tangannya  secara  keras  di  pipi  istrinya  sendiri  itu.

 

“Tak  sanggup  katamu? Lalu  mengapa  tak  mati  saja  kau?!” teriak  pria  itu.

 

Wanita  itu  tak  menjawab  dan  justru  mengencangkan  dekapannya  pada  sang  putri  yang  masih  terlelap  dalam  gendongannya. Tentu  saja  hal  itu  menarik  perhatian  sang  suami  yang  akan  segera  menjadi  mantan.

 

“Aku  takkan  mati  di  sini,” kata  wanita  itu  selanjutnya  dengan  gigi  yang  merapat  dan  rahang  mengencang. “Aku  tak  sudi  mati  di  sini. Tidak  untuk  mati  di  tanganmu!”

 

“Apa? Berani-beraninya  kau!”

 

Dan  sekali  lagi, telapak  tangan  yang  seakan  menjelma  sebagai  sekop  besi  itu  menyentuh  dengan  keras  pipi  wanita  itu. Lalu  sebelum  sempat  wanita  itu  bertindak  sesuatu, yang  ia  sadari  berikutnya  adalah  putri  sulungnya  sudah  berpindah  tangan. Berpindah  kepada  suami  yang  tak  pernah  ingin  ia  akui. Putri  kecilnya  yang  semula  tengah  tertidur  lelap  itu  kontan  saja  menangis  meraung  karena  terkejut  ia  berpindah  dengan  kasar.

 

“Kembalikan  putriku!” pekik  wanita  itu  sesaat  kemudian  karena  tak  tega  mendengar  jeritan  tangis  sang  putri  yang  terkejut  saat  dirampas  dari  pelukan  sang  ibu.

 

Pria  itu  berdecak. Bahkan  meludah  ke  samping  sebelum  akhirnya  berujar, “Putrimu?” tanyanya  menyindir. “Bahkan  bocah  ini  tak  menggunakan  namamu (FYI: mengacu  pada  marga  karena  setiap  anak  akan  mengikuti  marga  sang  ayah  di  Korea  Selatan. Sementara  istri  tetap  menggunakan  marga  asli/tidak  mengubah  marga  sesuai  marga  suami). Bagaimana  bisa  kau  menyebutnya  putrimu?”

 

Wanita  itu  membisu  lagi. Ia  kalah  telak  dan  mengumpat  suaminya  yang  meski  sedang  mabuk  tapi  masih  bisa  membuatnya  terdiam.

 

“Dia  putriku,” gumamnya  kemudian. “Aku  yang  merawatnya. Kembalikan  dia  padaku!” teriak  wanita  itu  frustasi.

 

Ia  berusaha  merebut  lagi  putri  sulungnya  dari  tangan  suaminya. Tapi  pria  itu  keras  kepala. Ia  juga  tak  melonggarkan  sedikitpun  dekapannya  dan  membuat  si  gadis  kecil  semakin  menangis  meronta  kesakitan  dan  ketakutan  kali  ini. Saking  kesalnya, ia  pun  menggunakan  kaki  kirinya  untuk  menendang  sang  istri  hingga  terjerembab.

 

Pria  itu  menyeringai. Ia  menatap  kesal  istrinya  yang  menangis  juga  menahan  sakit  di  pinggang, pantat, serta  perutnya  karena  sudah  ia  tendang  tanpa  sedikitpun  rasa  penyesalan.

 

“Jika  kau  mau  pergi, pergilah!” teriak  pria  itu  sekencangnya. “Tapi  aku  takkan  pernah  membiarkanmu  membawa  salah  satu  dari  mereka. Kecuali….” Ia  mengeluarkan  sebilah  pisau  lipat  dan  langsung  memamerkan  ujungnya  yang  lancip  ke  arah  sang  istri. Lantas, “Kau  ingin  melanggar  sumpahmu  untuk  tak  mati  di  tanganku?” lanjutnya.

 

Dengan  ego  yang  tinggi  sebagai  ibu  muda  dan  penyesalan  tinggi  karena  sudah  memutuskan  untuk  menikah  di  usia  dini  dengan  pria  yang  salah, wanita  itu  meraih  tas  pakaiannya. Menjinjingnya. Lalu  berlari  sempoyongan, tapi  tetap  berusaha untuk  berlari  sejauh dan secepat mungkin  dari  sana. Meski  harus  menahan  rasa  sakit  karena  harus  meninggalkan  kedua  buah  hatinya. Terutama  putri  kecilnya  yang  saat  ini  tengah  menangis  sekencang-kencangnya  dalam  gendongan  sang  ayah. Ayah  yang  tak  memerdulikan  suara  tangis  memekakkan  telinga, mengoyak  hati  itu.

 

Diam…, bersembunyi  di  balik  pintu  dengan  tubuh  yang  bergetar  ketakutan, melihat  dan  mendengar  segala  yang  telah  terjadi  di  usia  yang  tak  sepantasnya  menyaksikan  hal  itu, bocah  lelaki  berusia  7  tahun  itu  menangis  tak  bersuara. Tangan  kecilnya  mengepal  erat. Ia  ingin  berlari  keluar. Ingin  menolong  sang  ibu. Atau  juga  ingin  mengejar  ibunya. Tapi  ketakutan  seorang  anak  kecil  takkan  pernah  bisa  dikalahkan  oleh  keberaniannya.

 

Namun  satu  hal. Seorang  bocah  berusia  7  tahun  itu  sudah  cukup  cerdas  untuk  bisa  mengetahui  apa  itu  yang  namanya  kecewa. Dan  ia  kecewa. Kecewa  pada  sang  ibu  yang  tanpa  ia  mengerti  hanya  berusaha  membawa  adiknya  pergi. Tanpa  membawanya  ikut  serta. Apa  ibunya  membenci  dirinya?

“TIDAK!!!” teriak  wanita  paruh  baya  itu  seraya  terduduk  dengan  keringat  dingin  berkucuran. Ia  terbangun  dari  mimpi  panjangnya. Mimpi  buruk  yang  menguras  kedamaian  lelapnya  selama  20  tahun  terakhir.

“Kau  bermimpi  buruk  lagi  istriku?” tanya  suaminya  khawatir  yang  turut  terbangun  karena  mendengar  jeritan  istrinya  itu. Tapi  ia  tak  terlalu  terkejut, karena  sudah  terbiasa.

Saking  shock-nya, wanita  itu  tak  mampu  mengeluarkan  suara. Ia  hanya  mampu  mengangguk  lemah. Ia  bisa  merasakan  sentuhan  tangan  keriput  suaminya  itu  menyentuh  keningnya—tepatnya  menghapus  jejak  keringat  dingin  di  keningnya.

“Kau  pasti  lupa  meminum  obatmu,” tebak  pria  itu  seraya  meraih  segelas  air  mineral  yang  ia  letakkan  di  nakas  samping  kasur. Lantas  membuka  laci  dan  mengambil  sebotol  kecil  obat.

Wanita  itu  mengangguk  lemah  lagi. Ia  menarik  nafas  dalam-dalam  dan  menghembuskannya  perlahan. Tatapannya  yang  semula  menerawang  kini  mulai  menemukan  fokusnya. Dan  justru  berpusat  pada  foto  yang  terpajang  di  dinding  di  hadapan  ranjangnya. Foto  dimana  ia, suaminya, dan  putra  semata  wayangnya  tersenyum  bahagia.

“Kupikir  aku  bisa  tanpa  obat  itu,” ujarnya  lirih  kemudian  dan  menerima  segelas  air  mineral  serta  sebutir  obat  yang  suaminya  sodorkan.

“Mereka  pasti  baik-baik  saja.” Pria  itu  menggenggam  sebelah  tangan  istrinya. “Kau  sudah  berusaha  mencari  mereka  istriku. Kau  sudah  berusaha  menebus  kesalahanmu.”

*****

# Yunji’s  POV

Aku  tak  bisa  membiarkan  hal  ini  berlarut-larut. Aku  tak  mau  hidup  dalam  rasa  terancam  seperti  ini  terus  menerus. Aku  harus  melakukan  sesuatu. Tapi  apa? Apa  aku  harus  berpindah  lagi? Kemana? Dan  jika  aku  pergi, itu  artinya  aku  harus  mencari  pekerjaan  baru  dan  itu  bukanlah  hal  yang  mudah. Dan  jika  aku  melaporkan  Barom  ke  polisi, lalu  siapa  yang  akan  mencari  ibu? Hanya  ia  yang  tau  wajah  ibu.

Tidak. Apakah  aku  perlu  membujuk  Barom  untuk  bekerja  sama  mencari  ibu? Ia  pasti  memiliki  sesuatu  yang  bisa  dijadikan  bukti  jika  bertemu dengan  ibu  kelak. Ia  tak  mungkin  tak  memiliki  benda  seperti  itu  untuk  hal  seserius  ini. Ia  takkan  melakukan  kecerobahan  seperti  itu. Aku  benar,  bukan? Aku  hanya  perlu  memilikinya  juga. Tapi  bagaimana  caranya?

Astaga! Aku  bisa  gila  lama-lama. Lagipula, bagaimana  bisa  Barom  menemukan  tempat  tinggalku? Apa  dia  memasang  GPS  di  tubuhku?

Kuhela  nafas  sesaat  setelah  meletakkan  sebuah  koran  pada  celah  pagar  sebuah  rumah. Aku  mengurut  tengkukku  yang  terasa  kaku  karena  ulah  Barom  semalam. Membayangkannya, tiba-tiba  saja  membuat  segalanya  terasa  begitu  berat  bagiku. Benar-benar  melelahkan. Bisakah  aku  menghilang  saja  dari  dunia  ini? Ah, tidak. Bisakah  mereka  saja  yang  menghilang  dari  dunia  ini?

Aku  sedikit  tersentak  kaget  saat  tiba-tiba  saja  pintu  gerbang  rumah  itu  terbuka. Muncul  seorang  pria  bermata  sipit  dari  sana. Mata  sipit  itu  terasa  tak  asing. Ia  tersenyum  dan  melambai  mesra  pada  wanita  yang  berdiri  di  ambang  pintu  gerbang  dan  begitupun  sebaliknya.

Begitu  si  wanita  yang  sempat  melirikku  rendah  menghilang  di  balik  pagar, pria  itu  juga  menatapku. Ia  mengerutkan  alis. Aku  masih  menatapnya. Aku  yakin  pernah  bertemu  dengan  pria  ini  sebelumnya. Tapi  dimana? Lantas, ia  tersenyum  dan  mata  kecilnya  itu  seakan  memancarkan  cahaya  terang. Mata  pria  buaya, kusebut.

“Apa  kau  terpesona  padaku  nona?” tanyanya  yang  kontan  saja  membuatku  mengerjap  dan  membuang  muka—jengah.

Oh, God! Sepertinya  aku  ingat  siapa  pria  ini. Don  Juan  dari  Korea. Aku  mendengus  sekaligus  tertawa  pendek. Aku  rasa  sampai  di  sini  saja  aku  berusaha  mengingatnya. Ia  bukan  orang  penting  yang  harus  aku  ingat-ingat  lebih  jauh  lagi. Sebaiknya  sekarang  aku  pergi  saja.

Belum  terlalu  jauh  aku  mengayuh  sepedaku  dan  aku  harus  menghentikan  gerakan  kakiku  lagi. Bukan  untuk  meletakkan  koran  pesanan  pelanggan. Tapi  lebih  karena  ada  beberapa  pria  yang  menghadang  jalanku  dan  aku  mengenal  salah  satu  dari  mereka. Ini  bukan  pertanda  bagus. Benar-benar  tidak  bagus. Mereka  adalah  lonceng  yang  membuatku  bergidik. Karena  mereka  adalah  lonceng  kedua  setelah  Barom  oppa  yang  menandakan  kedamaianku  sudah  berakhir.

Sial! Apa-apaan  ini? Mengapa  kesialan  terus  saja  mengitariku?

“Kita  bertemu  lagi  Nona  Yoo  Yunji,” ujar  pria  yang  kerap  kali  mengejarku  itu  seraya  menyeringai. Ia  adalah  debt  collector  yang  paling  getol  mencariku  selama  ini.

Aku  bisa  merasakan  seluruh  tubuhku  yang  gemetar  ketakutan. Nafasku  yang  berhembus  berat  karena  gugup. Mataku  menatap  mereka  nyalang. Seharusnya  aku  sudah  terbiasa  dengan  situasi  seperti  ini. Tapi  manusia  normal  mana  yang  tak  gemetar  jika  di  hadapkan  dengan  debt  collector  macam  mereka?

Ada  banyak  perasaan  yang  menghuniku  saat  ini. Takut, benci, kesal, dan  segala  macam  rasa  tak  enak  yang  tak  pernah  ingin  kalian  rasakan. Apalagi  dalam  satu  waktu  bersamaan. Mengapa  aku  harus  mengalami  hal-hal  yang  tak  mengenakkan  atas  hal  yang  tak  pernah  kulakukan? Ini  benar-benar  tak  adil.

Kueratkan  pegangan  pada  stang  sepeda. Menghitung  dalam  hati  saat  yang  tepat  untuk  kabur  dari  mereka.

Pria  itu  mendengus  saat  menyadari  tanganku  yang  menggenggam  erat  stang  sepeda. “Kau  mau  kabur  lagi? Apa  kau  tak  lelah  berlari  dan  terus  berlari  Nona  Yoo?”

Aku  menggeleng  kaku. Mereka  melangkah  mendekatiku  perlahan. Saat  itulah  aku  memutar  cepat  sepedaku  dan  mengayuhnya  dengan  kecepatan  penuh. Aku  mengayuh  secepat  kubisa. Aku  menoleh  sekilas  untuk  memeriksa  jarak  kami  dan  kulihat  mereka  tak  terlalu  jauh  di  belakangku. Berlari  secepat  mereka  bisa  untuk  menangkapku.

Ya, Tuhan! Lebih  baik  Engkau  bunuh  saja  aku  daripada  Engkau  jadikan  aku  buronan  atas  kesalahan  yang  tak  kulakukan  seperti  ini!

Aku  terus  mengayuh  sepedaku. Aku  langsung  berbelok  saat  melewati  sebuah  pertigaan. Nyaris  menabrak  sebuah  mobil  dan  beruntung  aku  bisa  menghindar. Sekali  lagi, aku  menoleh  dan  orang-orang  itu  masih  belum  menyerah  mengejarku. Aku  berbalik  lagi  saat  melalui  sebuah  persimpangan  jalan. Tak  lama, aku  melewati  jajaran  toko.

Lantas  aku  melihat  bus  yang  berhenti  tak  jauh  di  depan  sana. Aku  semakin  kuat  mengayuh  sepeda. Tak  sabar, aku  melompat  dari  sepeda  dan  mendorong  sepeda  itu  ke  arah  para  debt  collector  yang  tak  penah  mengenal  kata  lelah  itu. Setidaknya, hal  itu  membuat  mereka  sedikit  kerepotan. Lantas, aku  segera  berlari—melompat  masuk  ke  dalam  bus  yang  sudah  penuh  sesak. Pintu  bus  tertutup  otomatis. Kulihat  mereka  berusaha  mengejar  bus  yang  kunaiki. Salah  satu  dari  mereka  bahkan  berhasil  mengetuk  pintu  bus. Tapi  karena  sudah  penuh, sopir  bus  tak  mau  berhenti. Mereka  gagal  mengejarku. Aku  selamat.

Aku  menghembuskan  nafas  lega. Setidaknya  untuk  saat  ini. Yatta! Aku  berhasil. Aku  berhasil  lolos  dari  mereka  untuk  kesekian  kalinya. Membanggakan, bukan? Sial!

Oh! Tunggu  sebentar! Koran-korannya? SIAL! SIAL! SIAL! Upahku!

*****

# Sunggyu’s POV

Aku  mengerutkan  kening  saat  seorang  gadis  dengan  syal  yang  menutupi  separuh  wajahnya  menatapku  tak  berkedip  di  depan  rumah  Ah  Reum—salah  satu  gadis  yang  baru  saja  kukencani  semalam. Apa  gadis  ini  mengenalku? Apa  dia  salah  satu  dari  gadis-gadis  yang  pernah  kukencani? Tapi  sepertinya  itu  tidak  mungkin. Aku  tak  pernah  mengencani  seorang  gadis  pengantar  koran. Oh, ya. Aku  tau  apa  yang  terjadi.

“Apa  kau  terpesona  padaku  nona?”

Begitu  aku  bertanya  seperti  itu, ia  justru  membuang  muka. Bahkan  gadis  itu  mendengus  dan  tertawa  pendek  seakan  meremehkanku. Sebelum  aku  sempat  bertanya  lagi, ia  sudah  beringsut  dari  hadapanku  dengan  mengayuh  sepedanya. Sial! Dia  tak  mengacuhkanku.

Aku  mematut  diri  sejenak  di  kaca  spion  mobil  yang  terparkir  di  depan  rumah  Ah  Reum. Mengelus-elus  janggutku  dan  mengusap-usap  rahangku  bergantian. Tak  ada  yang  salah dengan  wajahku. Aku  tampan. Sangat  tampan. Lalu  apa  yang  ia  remehkan  dari  pria  setampan  diriku? Gadis  yang  aneh.

Aku  baru  hendak  membuka  pintu  mobilku  saat  tanpa  sengaja  aku  melihat  jalan  gadis  pengantar  koran  itu  di  hadang  oleh  beberapa  pria  dewasa  bertubuh  kekar. Lalu  tak  lama, gadis  itu  berbalik  dan  mengayuh  sepedanya  secepat  mungkin. Saat  itulah  syal  yang  ia  gunakan  tersibak. Aku  bisa  melihat  wajahnya  dengan  jelas. Aku  mengenal  wajah  itu. Ia  adalah  si  gadis  pengantar  ayam  goreng.

Dalam  waktu  yang  cukup  singkat, aku  sempat  menangkap  bahwa  ada  lebam  di  wajah  gadis  itu. Apa  dia  baru  saja  dipukuli  orang? Tidak. Bisa  jadi  dia  baru  saja  bertengkar  dan  itu  adalah  lukanya. Lalu…, mengapa  orang-orang  menyeramkan  itu  mengejarnya? Mengapa  gadis  itu  sering  mendapatkan  lebam? Apa  karena  kepribadian  anehnya  itu? Entahlah. Tapi  karena  itu  bukan  urusanku, sebaiknya  aku  pulang  dan  beristirahat.

*****

# Yunji’s  POV

Beberapa  hari  kemudian, aku  kembali  menjadi  buronan. Setelah  bersembunyi  beberapa  hari  ini, aku  memutuskan  untuk  keluar  rumah  dan  berniat  untuk  bekerja. Tapi  rupanya, aku  harus  dihadapkan  lagi  pada  kumpulan  debt  collector  yang  begitu  mencintai  berlari  demi  menangkapku.

Aku  terus  saja  berlari  secepat  kubisa. Kakiku  sudah  cukup  terlatih  dalam  hal  ini. Karena  hampir  separuh  hidupku, kuhabiskan  untuk  berlari. Seharusnya…, ya, seharusnya  aku  tak  keluar. Seharusnya  aku  bersembunyi  seperti  tikus  tanah. Membuat  lubang  di  tanah  dan  berdiam  diri  di  sana  hingga  mati  membusuk.

Aku  masih  terus  berlari  saat  kulihat  seorang  pria  baru  saja  memasuki  mobilnya  tak  jauh  di  depan  sana. Lampu  mobil  itu  menyala  tak  lama  kemudian. Di  satu  sisi, aku  sudah  mulai  kehabisan  tenaga. Aku  menoleh  ke  belakang  dan  jarak  para  debt  collector  itu  sudah  semakin  dekat. Mereka  juga  tetap  tak  berputus  asa  meski  nampak  kelelahan. Tidak. Aku  juga  tidak  boleh  berhenti  dan  tertangkap  oleh  mereka.

Aku  membuka  pintu  mobil  pria  yang  kulihat  tadi  begitu  berhasil  mencapainya  dan  langsung  duduk  di  kursi  samping  pengemudi. Tentu  saja  pria  itu  terkejut  melihat  kehadiranku.

“Apa-apaan  ini?”

“Kumohon  jalankan  mobilmu!”

“Apa?”

Aku  menoleh  ke  belakang  dan  dua  dari  beberapa  orang  yang  mengejarku  itu  sudah  berada  tepat  di  belakang  mobil.

“Cepat  jalankan  mobilmu! Kumohon!”

Belum  sempat  pria  itu  menjalankan  permintaanku, kami  sama-sama  memekik  terkejut  saat  kaca  jendela  mobil  digedor  dengan  keras  oleh  pria-pria  bertubuh  kekar  itu.

“KUMOHON!!!” jeritku  putus  asa  dengan  air  mata  yang  entah  bagaimana  ceritanya  mengalir  begitu  saja.

Lalu  akhirnya, pria  itu  menuruti  permintaanku. Ia  menginjak  pedal  gas  dan  melajukan  mobil  secepat  ia  bisa.

“Siapa  kau  sebenarnya? Dan  mengapa  kau  dikejar-kejar  oleh  pria-pria  itu?”

Ia  berteriak  menuntutku.  Tapi  aku  tak  bisa  menjawab  dan  hanya  mampu  terisak. Aku  masih  terbayang  betapa  menakutkannya  beberapa  saat  yang  lalu  saat  pria-pria  itu  nyaris  menangkapku.

Aku  meremas  lenganku. Tepatnya  pada  lengan  bajuku  yang  terkoyak  karena  tarikan  gerombolan  menyeramkan  itu. Ada  sedikit  rasa  perih  di  sana  akibat  sempat  terkena  cakaran  mereka. Beruntung  aku  berhasil  terlepas.

Ya, Tuhan, tolong…. Jadikan  saja  aku  udara  saat  ini  jika  Engkau  memang  tak  ingin  membunuhku. Karena  aku  sungguh  sudah  tak  tau  apalagi  yang  harus  kulakukan  dengan  hidupku  sekarang.

*****

# Sunggyu’s  POV

Aku  melirik  gadis  itu  sekilas. Dia  lagi. Gadis  pengantar  ayam  goreng  dan  soft  drink.

Aku  benar-benar  terkejut  saat  tadi  dia  tiba-tiba  saja  masuk  ke  dalam  mobilku  dan  berteriak  histeris  agar  aku  segera  menjalankan  mobil. Terlebih  setelah  itu, segerombolan  pria  mengitari  mobilku  dan  menggedor  kaca  jendela  mobil  dengan  kasar. Benar-benar  membuatku  terkejut  setengah  mati. Aku  tak  tau  apa  yang  sebenarnya  sudah  terjadi. Sementara  gadis  itu  seakan  hanya  bisa  berteriak  memintaku  untuk  menjalankan  mobil. Entah  bodoh  atau  terhipnotis, aku  tak  meminta  gadis  itu  keluar  dari  mobil  dan  menyelasaikan  masalahnya, melainkan  mengikuti  perintahnya  untuk  menjalankan  mobil. Kabur  dari  pria-pria  menakutkan  itu. Sial! Ini  sama  saja  dengan  aku  sudah  terlibat  dalam  masalah  yang  membelit  gadis  ini! Aku  tak  suka. Sangat.

Setelah  beberapa  kali  bertemu  dengannya, ini  adalah  kali  kedua  aku  melihat  ia  dikejar  oleh  segerombolan  pria  menyeramkan  seperti  itu. Aku  hanya  heran  saja, hidup  seperti  apa  yang  dijalankan  gadis  ini? Oh! Aku  tak  penasaran. Ingat! Tidak  penasaran! Sama  sekali!

Wajah  lebam, dikejar  segerombol  pria  menyeramkan, apa  dia  seorang  pencuri, penipu, atau  semacamnya?

Okay.  Aku  bukan  bermaksud  untuk  ikut  campur  dalam  urusanmu. Tapi  dengan  kau  masuk  ke  mobilku, kau  sama  saja  sudah  memaksaku  untuk  tau  apa  urusanmu  dengan  orang-orang  itu.”

Gadis  itu  sepertinya  memilih  diam. Ia  tak  menunjukkan  reaksi  sama  sekali  terhadapku. Hanya  menangis  tanpa  suara. Dari  sorot  matanya  yang  kulihat  melalui  spion  tengah  mobil, aku  tau  gadis  itu  tengah  ketakutan.

Kulirik  tangannya  yang  meremas  lengan  bajunya  yang  terkoyak. Eh? Terkoyak?

“Kau… tak  diperkosa  oleh  mereka  bukan?”

Gadis  itu  bereaksi  kali  ini. Karena  ia  kontan  menatapku. Aku  meliriknya  sekilas  dan  kembali  memperhatikan  jalan. Dia  menatapku  dengan… err… entahlah. Marah? Bukan. Benci? Bukan. Untuk  apa  benci? Aku’kan  sudah  menolongnya. Lalu  apa? Kesal? Entahlah. Tapi  yang  pasti, aku  merasa  sedikit  tidak  tau  harus  mengatakan  apapun  setelah  itu.

Aku  menunjuk  lengan  baju  gadis  itu  yang  terkoyak. Bermaksud  menyampaikan  yang  menjadi  pertanyaan  di  otakku  sejak  tadi. Tapi  gadis  itu  tetap  tak  mengatakan  apapun. Ia  justru  mengeratkan  remasan  pada  lengannya  itu. Tepat  saat  aku  akan  kembali  membuka  mulut, ponselku  berdering. Aku  mengerang  kesal. Dari  Manajer  Cha. Sial! Ia  pasti  sedang  berusaha  mengingatkan  jadwalku.

Aku  pun  segera  menepikan  mobil  tanpa  berniat  mengangkat  telepon  itu.

“Baiklah  nona. Kurasa  kita  sudah  aman  sekarang. Aku  tak  mau  ikut  campur  lebih  jauh  lagi  dengan  masalahmu. Kau  bisa  turun  di  sini.”

Gadis  itu  mengerjap  sekali. Terdiam  untuk  beberapa  saat  seperti  sedang  berpikir. Lantas  menoleh  dan  merunduk  padaku.

“Terimakasih,” ujarnya  lirih.

Aku  mengerang  kesal  lagi.

“Tunggu  nona!” sergahku  saat  ia  akan  membuka  pintu  mobil. “Kau  belum  menjawab  pertanyaanku. Mengapa  orang-orang  itu  mengejarmu? Apa  kau  penipu? Pencuri? Atau  semacamnya?

Begini  nona. Entah  kau  ingat  atau  tidak. Tapi  kita  pernah  bertemu  sebelumnya. Seharusnya  kau  tak  melupakanku. Karena  kita  bertemu  dengan  cara  tak biasa.”

Ia  mengerutkan  kening  samar. Terlihat  bingung.

“Kau  tak  ingat? Sungguh? Baiklah. Aku  adalah  pria  yang  menabrakmu  saat  kau  mengantar  ayam  goreng.”

“….”

“Bagaimana? Kau  ingat  tidak?”

Kulihat  ia  bereaksi  berbeda  kali  ini. Pasti  ia  mengingatku! Aku tersenyum  lebar. Tapi  sungguh  di  luar  dugaanku, setelah  mengerjap, ia  justru  menggeleng. Sial! Bagaimana  mungkin  ia  tak  bisa  mengingat  pria  sepertiku?

“Kau  sungguh  tak  ingat?”

*****

# Yunji’s  POV

Aku  menggeleng  lagi. Sebenarnya, aku  ingat  siapa  dia. Bagaimana  mungkin  aku  bisa  lupa  pada  pria  tak  berotak  seperti  dirinya? Aku  hanya  tak  ingin  berlama-lama  dengannya. Aku  hanya  merasa  ia  akan  membuatku  repot  jika  terus  bertanya  tentang  apa  yang  sudah  terjadi. Aku  malas  menceritakannya.

Tak  mau  terlalu  lama  lagi  bersama  pria  itu, aku  segera  turun  dari  mobil  mewahnya. Berjalan  meniti  trotoar  kecil  di  sepanjang  jembatan  yang  melintang  di  atas  sungai  Han  ini.

Pria  itu  sudah  beringsut  pergi  bersama  mobilnya. Aku  menghela  nafas. Meskipun  pria  itu  menyebalkan, setidaknya  ia  telah  menolongku. Aku  hanya  sedang  beruntung  hari  ini. Lalu  bagaimana  dengan  besok? Besoknya  lagi? Besok  dan  besoknya  lagi? Apakah  aku  akan  terus  beruntung? Entahlah.

Langkahku  terhenti  sejenak. Lantas  mendekati  pagar  pembatas. Melongok  pada  derasnya  aliran  sungai  jauh  di  bawah  sana. Kontan, semilir  angin  menyambutku. Mengibarkan  rambut  dan  membelainya. Sejuk….

Entah  mengapa, air  mataku  justru  mengalir  deras  setelahnya. Rasanya  memang  sejuk. Tapi  hatiku  tidak. Aku  hanya  merasa  semakin  kesakitan  saja. Sakit  yang  menusuk. Mungkin  aku  hanya  sedang  menyadari, semua  kelegaan  ini  hanya  akan  terasa  sementara  waktu  saja. Mereka  akan  menemukanku  kembali  cepat  atau  lambat  dan  semuanya  akan  terus  berulang. Lalu  entah  kapan  akan  tiba  pada  suatu  titik  di  mana  mereka  akan  berhasil  menangkapku  dan  entah  akan  melakukan  apa  padaku.

Hutang  ayah  terlalu  banyak  untuk  aku  bisa  lunasi. Lalu  sekarang  apa  yang  sedang  aku  tunggu? Apa  yang  aku  cari? Berharap  Barom  bisa  segera  menemukan  ibu? Kapan? Lagipula, bisakah  aku  mempercayai  Barom?

Apakah  saat  ini  sebenarnya  aku  hanya  sedang  mengulur  waktu  saja  untuk  akhirnya  tiba  pada  waktu  dimana  mereka  akan  menangkapku  dan  menyerahkan  seluruh  hidupku  di  tangan  mereka? Kalau  begitu, bukankah  akan  lebih  baik  jika  aku  mati  sekarang  saja?

To  be  continued

33 thoughts on “[FF G] Rose | Chapter 2

  1. konfliknya rada berat ya Yu…. tapi karena kamu nulisnya dengan enak aku juga bacanya dengan enak. jadi nggak begitu masalahin konfliknya… kekeke
    ah Yu…. ini ficnya ikutan greget sendiri deh ama Sunggyu…. kadang tengil kadang baik kadang nyebelin. kekeke

    1. Yep..konfliknya emang rada berat… Ini emang ff pertama aku dg konflik yg lebih berat aku buatnya… Makanya ff ini sering macet 😀

      Ya gitu deh Sunggyu.. Kadang tengil kadang baik kadang nyebelin kadang nggemesin minta dikecup 😀

      1. Itu mah modusnya dirimu Yu.. kekeke. Minta kecup… kekeke
        Aku nggak pernah bisa bikin fic yg konfliknya njelimet. Pasti bakalan bingung sendiri akhirnya… *lirik fic gikwang ama yongguk* keke

        1. Alasan ff ini sering macet kan itu salah satunya.. Konflik njelimet dan karakter Yunji yg kaku dan keras kepala. Eh kamu ada fic gikwang sm yongguk gi? Yg mana?

          1. He eh…. fic nggak jelas menurutq….
            Lagian ntu ficnya udah lama sekali. Makana belum q edit. Rencana mw ku edit sama ganti cover buat di post di FJ.
            Dan selalu ga pernah dapet feelnya kalo nulis bias sendiri sama cewek lain. Wkwkw

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s