[FF G] Rose | Chapter 3


untitled-1-copy-jpg

Author : blankdreamer

Title  : Rose

 Length : Multi Chaptered

 Rate :  PG17

 Genre : Romance, AU, Hurt, Drama

 Cast :

 Yoo Yunji (OC)

 Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC)

 Barom (Rome) C Clown  as  Yoo Barom (OOC)

Daehyun B.A.P  as  Jung  Daehyun (OOC)

 And Others

*****

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers!

List Chapter 1 , 2

*****

Cerita Sebelumnya :

Apakah saat ini sebenarnya aku hanya sedang mengulur waktu saja untuk akhirnya tiba pada waktu dimana mereka akan menangkapku dan kemudian aku harus menyerahkan seluruh hidupku di tangan mereka? Kalau begitu, bukankah akan lebih baik jika aku mati sekarang saja? 

*****

# Sunggyu’s POV 

Aku melirik sekali lagi gadis itu dari kaca spion samping. Kulihat ia tengah berdiri di tepi pagar pembatas jembatan dan melongok ke bawah sana.

Tiba-tiba saja kelebatan wajah gadis itu saat masih duduk di sampingku tadi melintas. Aku mengerang kesal untuk kesekian kalinya.

Sial! Aku menurunkannya di tempat yang salah. Jadi kuputuskan untuk menghentikan laju mobil dan mengarahkannya bergerak mundur.

Aku bergegas saja turun dari mobil saat kulihat gadis itu sudah memijakkan sebelah kakinya pada palang terbawah dari pagar pembatas jembatan. Ini benar-benar gawat! Segera saja kutarik tangan gadis itu dan menghentikan aksinya yang membuatku ngeri hanya untuk membayangkannya saja.

“Apa yang mau kau lakukan?”

Gadis itu masih sama seperti tadi. Ia tak menjawab pertanyaanku dan kali ini justru melirik sungai di bawah sana dengan tatapan kosong. Aku mengikuti arah tatapannya. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Aku yakin, bahkan jika kalian adalah seorang perenang ulung, tetap saja kalian akan merasa sangat kesakitan bila tertampar permukaan air saat terjun dari tempat setinggi ini.

“Kau ini benar-benar mengkhawatirkan. Kuantar saja kau pulang. Dimana rumahmu, Nona?” Seraya kutarik tangan gadis itu agar mengekori langkahku.

Di luar dugaan, ia sama sekali tak melawanku. Tak masalah. Karena dengan begitu, aku tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk memintanya ikut denganku. Daripada jika kutinggalkan dia, maka aku yang akan terkena masalah jika nantinya gadis ini mati bunuh diri.

*****

“Berhenti!” seru gadis itu tiba-tiba. Sial! Dia mengagetkanku saja sehingga aku menginjak rem mendadak.

“Ada apa?” tanyaku kesal. Kami sedang menyusuri jalanan kecil di daerah padat pemukiman sebelum akhirnya ia berteriak mengejutkanku seperti itu.

Kulihat ia menatap ketakutan ke depan sana. Kuikuti arah tatapannya. Ada seorang pria berdiri sambil menghisap rokok dengan sebelah tangannya yang bebas masuk ke saku celana. Pria itu bersandar di pagar tembok. Ia cukup tampan. Hanya saja kurang terawat. Lusuh.

“Bolehkah….” Aku mengalihkan tatapanku dari pria itu dan menatap gadis yang sempat mengejutkanku karena berteriak dengan mendadak. “Aku ikut bersama Anda?” lanjutnya.

“Apa?”

“Aku bisa memasak, mencuci, dan juga membersihkan rumah. Anda bisa mengandalkanku. Tapi…, aku mohon ijinkan aku untuk tinggal di rumah anda.”

“Apa? Apa kau sudah gila, Nona?”

“Kumohon….” Ia menatapku dengan memelas.

“Aku—“

Aku  terdiam karena lagi-lagi ponselku  berdering. Masih dari Manajer Cha. Sial! Aku terpaksa mengangkatnya atau kalau tidak, ia akan terus mengusikku.

“Tolong katakan pada wanita itu bahwa aku akan menemuinya setengah jam lagi. Ada yang harus kulakukan, Manajer Cha.”

“Tapi Tuan Muda, dia sudah tiba sejak setengah jam yang lalu dan terlihat sangat kesal karena anda tak segera datang.”

Aku mengerang kesal untuk entah sudah yang keberapa kalinya di hari ini. Para wanita ini benar-benar merepotkan saja.

“Begini saja. Jika dia memang tak mau menungguku, suruh saja dia pergi.”

“Tapi nanti nyonya….”

“Ibu adalah urusanku. Kau tak perlu khawatir dengannya, Manajer Cha. Eo?” Lalu kuakhiri sambungan telepon itu begitu saja. Kutatap lagi gadis asing yang bersamaku sejak tadi ini. Kutarik nafas dan kuhela sebelum berbicara padanya.

“Begini nona, urusanku saat ini bukan hanya kau saja. Aku ini orang yang sangat penting. JadiJadi, kumohon katakan saja padaku di mana ru—“

Aku berhenti berbicara. Gadis itu kembali meneteskan air mata. Lebih deras dari yang tadi hingga bulirannya jatuh membasahi tangannya sendiri. Aku bisa membaca dari sorot mata gadis itu kali ini bahwa ia tengah ketakutan dan gusar. Siapa pria itu sebenarnya?

“Apa kau memiliki masalah dengan pria itu?” tanyaku kemudian. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, ia tak menjawab pertanyaanku. “Jika memang kau memiliki masalah yang serius dengannya, kau bisa melaporkannya pada polisi, Nona.”

“….”

Aku menyentuh tengkukku seraya menggigit bibir bagian bawah—menahan agar tak mengerang untuk kesekian kalinya. “Baiklah. Kau bisa ikut denganku.”

*****

“Pakai ini!” Kusodorkan jaketku pada gadis itu. Tapi ia hanya diam, melirik jaket itu, dan menatapku datar. “Nona, kau tentu takkan mau keluar dengan pakaian yang robek seperti itu’kan? Orang yang melihatnya bisa salah persepsi padaku.”

Kali ini, ia nampak berpikir sejenak. Lalu menerima jaket yang kutawarkan untuk detik berikutnya dan mengekoriku.

Ya, Tuhan! Gadis ini benar-benar mengkhawatirkan.

Aku menatap jengah gadis itu yang justru berdiri termenung di ambang pintu flatku. Kuhela nafas sebelum akhirnya berujar, “Masuklah! Bukankah kau sendiri yang bilang ingin mengikutiku? Atau jangan-jangan sekarang kau berencana mengubah keinginanmu itu?”

Ia menatapku datar. Baru setelah itu, ia melangkahkan kakinya masuk ke flatku. Melangkah dengan sangat hati-hati.

“Sebenarnya, aku tak membutuhkan seseorang yang bisa membersihkan flatku ini. Tapi karena kau memaksa, kau bisa tinggal ‘sementara‘ di sini dengan melakukan hal-hal yang kau tawarkan padaku tadi. Kurasa itu bukan ide buruk. Lagi pula, aku hidup sendiri di sini dan flat ini juga jarang kukunjungi. Jadi setidaknya, kau bisa mengurus tempat ini selagi aku tak pulang.”

Aku terdiam dan memperhatikan gadis itu sejenak. Ia sudah tak nampak setakut tadi. Mungkin ia sudah bisa menenangkan dirinya sekarang.

“Baiklah,” putusku sendiri. “Jika kau mau ke toilet, ada di dalam kamarku di sebelah sana,” Aku menunjuk ke sebuah ruangan yang pintunya terbuka separuh. “Lalu di sebelah sana dapur dan…” Aku melirik beranda. “Jangan dekati beranda! Aku khawatir kau akan melakukan hal yang tidak-tidak. Bukan apa-apa. Hanya kau akan membuatku repot saja jika aku sampai dihubungi oleh polisi karena ada seorang wanita yang ditemukan tewas karena terjun dari berandaku. Algaetseo?”

Ia mengangguk. Aku menghela nafas lagi. Gadis ini benar-benar membuatku gila. Aku sudah berbicara panjang lebar dan ia tak sekalipun mengatakan sesuatu?

“Hei, Nona! Asal kau tau saja, sebenarnya aku bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang lain. Hanya saja aku merasa sudah kau jebak dalam masalahmu ini. Kau terlihat benar-benar berbeda di bandingkan dengan pertemuan kita terakhir. Apa masalahmu serumit itu?”

“….”

“Hmm?”

“….”

Ia masih tak menjawabku. Kuikuti arah tatapannya yang justru melirik sesuatu di lantai. Oh, sial! Benda itu bagaimana bisa jatuh dan ada di sini? Memalukan!

Aku pun segera saja menendang benda ‘pengaman’ itu dengan kakiku hingga terdorong ke bawah sofa. Kulambaikan tangan guna mengalihkan perhatiannya.

“Baiklah, baiklah,” seruku kemudian. “Sekarang terserah kau saja Nona. Aku harus segera pergi karena ada urusan penting. Ingat! Jangan melakukan hal yang aneh-aneh! Apalagi jika itu hal yang bisa sampai merugikanku. Eo?”

Aku memperingatkannya sekali lagi. Kutatap ia lamat-lamat. Aku benar-benar khawatir ia akan bunuh diri. Tapi kuharap tidak. Entahlah. Semoga saja tidak. Aku tak bisa membiarkannya sendiri. Tapi aku juga tak bisa menggagalkan acara kencan buta yang ibu susun untukku kalau tak mau semua fasilitas yang kumiliki disita.

*****

# Yunji’s POV 

Pria itu pergi. Ia meninggalkanku sendiri di flatnya. Ia bilang ada urusan dan akan kembali besok pagi. Aku yakin ia akan berkencan dengan kekasih nomer sekiannya. Dan benda apa itu tadi? Cih! Dia benar-benar seorang ‘pro‘ rupanya. Apa aku mengambil keputusan yang benar untuk mengikutinya ke sini? Apa tempat ini benar-benar aman untukku dengan ada pria sepertinya? Entahlah. Aku hanya bisa berharap. Aku tak punya pilihan lain saat ini.

Aku masih berdiri di tempatku sejak tadi dan sibuk mengedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan ini. Apartement yang sangat mewah. Design interior dan semua barang yang ada di sini adalah yang terbaik. Meskipun pada kenyataannya tak ada terlalu banyak barang. Ruangan ini bahkan terlalu kosong untuk ukuran apartement semewah ini. Tapi mungkin seperti inilah memang kebanyakan ruangan milik pria lajang. Berantakan. Mungkin karena itu juga tak ada banyak barang di sini. Benar-benar tipe flat seorang pria single.

Saat memasuki ruangan ini, bahkan aku hanya disambut oleh rak sepatu di dekat pintu masuk dan lemari penyimpanan mantel serta dua pasang sandal rumah dan juga beberapa sepatu yang berserakan tak pada tempatnya.

Begitu melangkah masuk, aku langsung disambut oleh dapur yang berhadapan dengan ruang tamu yang hanya memiliki sebuah sofa besar dan nyaman berwarna putih, sebuah meja kaca di hadapan sofa itu sendiri yang nampak kosong, dan karpet berwarna putih yang hanya dengan sekali lihat aku yakin pasti sangat lembut sebagai alasnya. Di ujung sofa, sebuah meja kecil diletakkan di sana dengan di atasnya ada sebuah lampu meja berdesign modern yang pasti sangat mahal harganya. Untuk dapurnya sendiri cukup sederhana. Hanya ada perabotan seperlunya, seperti pantry, kulkas, lalu bar kecil yang menghadap ke ruang tamu tembus ke pintu kamar pria itu seperti kataku. Ada kursi-kursi tinggi yang memiliki sandaran berada di kedua sisi bar itu. Di atas meja bar, terdapat sebuah keranjang kecil yang hanya berisi buah pisang.

Lalu selanjutnya untuk ruang menonton televisi yang berlanjut di samping ruang tamu hanya berbeda satu undakan dan dijeda oleh rak berukuran tak terlalu besar berwarna putih dengan model asimetris sederhana namun cukup rumit yang memiliki beberapa buku juga miniatur mobil. Di ruangan itu aku bisa melihat seperangkat home theater dan playstation yang menambah kesan mewah. Di ruangan itu hanya ada sebuah karpet berbulu halus tebal berwarna coklat dan beberapa bantal kecil yang tak beratur di atasnya. Lalu di seberang ruang menonton itu, terdapat sebuah pintu—kamar pria itu yang lurus dengan dapur. Ruangan ini benar-benar minimalis dan nyaris didominasi oleh warna putih. Lalu hal yang membuatku akhirnya mengerti mengapa pria dengan mata yang nyaris tak terbuka itu begitu disukai para gadis selain kekayaannya. Di satu sudut, di samping jendela kaca yang lebar dan tinggi yang menghadap ke beranda, sebuah piano putih besar yang mewah bertengger di sana. Ada beberapa lembar kertas di atasnya yang ditindih dengan vas dan beberapa lainnya sudah menjadi gulungan berserakan di bawah piano. Tapi yang paling menarik perhatianku dari semua yang ada di ruangan ini adalah saat mataku tertumbuk pada sebuah foto keluarga yang cukup besar terpasang di salah satu dinding di ruang tamu.

Hanya ada tiga orang dalam foto itu. Seorang pria paruh baya yang memiliki mata sipit mengenakan kemeja putih rapi dan nampak begitu berwibawa, tapi tetap memiliki kesan seorang ayah yang lembut. Beliau persis seperti pria muda yang berdiri di belakangnya dengan senyum lebar yang menghilangkan garis matanya karena memiliki mata setipis pria paruh baya itu tadi. Ayah dan anak tebakku. Pria muda itu adalah pria yang sama dengan pria yang membawaku kemari. Lalu di samping pria paruh baya itu sendiri, seorang wanita yang juga sudah berada di usia pertengahan duduk anggun di sampingnya mengenakan gaun sederhana berwarna merah muda. Sangat cantik. Wanita itu memiliki mata yang lebar dan indah. Tersenyum manis ke arah kamera. Mereka bertiga nampak bahagia meski hanyalah sebuah keluarga kecil.

Aku tertunduk. Menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Apa suatu saat nanti keluargaku bisa sebahagia itu? Entahlah. Kuusap wajah menggunakan telapak tanganku dan tersadar bahwa aku masih mengenakan jaket kulit kedodoran milik pria itu. Ada wangi tubuhnya yang bisa kucium dari situ dan baru kusadari wangi yang sama juga tersebar di ruangan ini. Aroma manis.

Aku menghembus nafas panjang. Apa aku sudah bisa bernafas lega berada di tempat ini sekarang? Jika aku tetap tinggal di sini, apakah Barom dan para debt collector itu takkan bisa menemukanku? Mereka takkan menduga bahwa aku bisa berada di tempat se-elite ini bukan? Apa yang harus kulakukan setelah ini?

Kulepas jaket pria itu dan meletakkannya di punggung sofa. Baiklah. Aku akan tetap berada di tempat ini sampai aku menemukan tempat baru yang tak mungkin diketahui oleh Barom maupun para debt collector itu. Aku yakin sejauh ini, tempat inilah yang terbaik bagiku untuk bersembunyi. Ya….

*****

# Sunggyu’s POV 

Eomonim, kumohon berhentilah untuk menjodohkanku dengan gadis-gadis yang tak pernah kukenal itu. Aku benar-benar lelah,” keluhku melalui sambungan telepon pada ibu.

“Itu salahmu mengapa kau tak pernah benar-benar mencoba mengenal mereka, Sunggyu~yah. Kau hanya mengencani mereka untuk bermain-main. Segeralah tetapkan pilihan hatimu dan pilih satu di antara mereka. Ibu juga sudah lelah selalu mendapatkan telepon dari orang tua gadis-gadis itu karena merasa putri mereka kau permainkan.”

“Kalau begitu, bukankah seharusnya ibu hentikan saja perjodohan konyol ini? Aku bisa mencari sendiri gadis yang kusukai ibu.”

“Tidak, tidak,” tolak ibu segera. “Ibu yakin kau tak bisa memilih gadis dengan benar. Dari semua gadis yang kau kencani selama ini tak ada gadis yang benar-benar dari keluarga baik-baik dan setara dengan kita.”

Aku tergelak. “Termasuk gadis-gadis yang ibu jodohkan denganku?”

“Tentu saja mereka tak salah satu di antaranya!”

Aku menghela nafas lelah. Ibu selalu memaksakan kehendaknya padaku. Ini menyebalkan! Tapi aku tak pernah benar-benar bisa menolak keinginan beliau. Aku terlalu menyayangi ibu untuk menolak semua perintahnya. Tapi harus kuakui bahwa terkadang…, acara kencan buta yang ibu susun untukku memang tak terlalu buruk juga. Setiap gadis yang datang pastilah gadis cantik yang menawan. Hanya saja, mereka begitu membosankan. Mereka mungkin terlihat berbeda. Tapi mereka setipe.

Ibu sering mengomeliku karena saat aku mengatakan pada ibu aku tak cocok dengan gadis satu yang ia jodohkan, maka ibu akan mencarikanku gadis lain. Tapi pada kenyataannya, aku selalu bertemu dengan gadis itu secara sembunyi-sembunyi. Begitu seterusnya. Entahlah. Aku hanya senang saja. Seperti sedang mendapatkan mainan baru setiap kali ibu menyusun sebuah kencan buta untukku. Tapi tetap saja tak jarang yang membuatku kesal adalah terkadang salah satu dari mereka ternyata adalah gadis yang pernah kukencani di masa lalu atau bisa jadi mereka teman dari gadis yang pernah kukencani. Entah mereka adalah kekasihku saat aku masih duduk di sekolah menengah dulu atau setelahnya dan itulah yang telah terjadi hari ini.

Gadis yang kukencani hari ini adalah Kim Soo Ra. Ia adalah kekasihku saat masih duduk di sekolah menengah. Dia juga seorang mantan atlet taekwondo. Yang membuatku membenci kencan malam ini adalah karena dulu kami putus secara tak baik-baik, aku menduakannya dengan sahabatnya sendiri. Jadi saat ia bertemu denganku tadi, ia nyaris saja membuatku babak belur jika aku tak segera kabur. Menyeramkan bukan? Apakah Korea sesempit ini?

Ini kali pertama aku pulang sebelum dini hari sejak beberapa tahun terakhir. Kulirik arlojiku yang masih menunjukkan pukul 10 malam. Ini semua karena gadis itu. Aku benar-benar khawatir dengan kondisinya. Seharusnya aku tak membawanya pulang. Seharusnya aku tak meninggalkannya sendirian di sini. Benar-benar kesalahan besar.

Aku membuka pintu flat setelah menutup telepon ibu. Lantas terperanjat karena lampu di semua ruangan belum menyala. Segera kunyalakan lampu dan baru setelahnya aku bisa bernafas lega. Kupikir gadis itu akan kutemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah atau hal menakutkan lainnya. Tapi beruntung sepertinya tidak.

Kulihat ia tengah tertidur sambil terduduk di lantai dan kepala tergolek di atas sofa. Sebentar! Tentu saja aku tak boleh bernafas lega. Bisa saja dia…. Segera saja kuhampiri gadis itu. Perlahan, kugerakkan jariku dengan hati-hati ke bawah lubang hidungnya. Aku terdiam. Kusentuh dada sebelah kiriku dan menghembuskan nafas lega. Syukurlah, ia masih bernafas.

Aku terduduk begitu saja di sampingnya. Kakiku terasa lemas setelah tegang karena ketakutan membayangkan harus menemukan gadis ini dalam keadaan tak bernyawa. Beruntung pemikiranku itu salah. Ia justru tengah terlelap dengan pulas, karena bahkan ia tak merasa terganggu akan kehadiranku.

Mataku bergerilya ke sudut-sudut flatku ini. Rapi. Tak seperti terakhir kali aku meninggalkannya. Ia benar-benar membersihkan tempat ini. Kulirik gadis itu dan mendapati lebam di sudut bibir dan pipinya. Sementara pada pelipisnya terbalut plester ala kadar. Lantas, kulirik lengan gadis itu. Ia masih mengenakan pakaiannya yang terkoyak pada bagian lengan tadi. Bisa kulihat juga di lengan gadis itu bekas luka cakaran yang mungkin memang tak terlalu dalam tapi pasti terasa cukup perih. Gadis ini benar-benar….

Aku beranjak dan mengambil sebuah kotak obat yang kuletakkan di dalam laci pada nakas yang terletak di samping sofa. Baru saja aku akan mengoleskan balsem pada lebamnya saat gadis itu tiba-tiba membuka mata dan terkejut serta ketakutan melihatku.

“Ooo! Tenang nona tenang!” kataku seraya mengangkat kedua tangan. “Aku bukan pria-pria yang mengejarmu itu. Sungguh. Kau masih mengingatku bukan? Kau belum amnesia’kan?”

Ia masih menatapku ngeri untuk beberapa saat. Tapi begitu mendapatkan benar-benar kesadarannya secara utuh, tatapannya melunak. Ia mengenaliku sekarang. Aku tau itu dari sorot matanya.

“Aku…,” kuambil kotak obat yang tadi kuletakkan di atas meja dan menunjukkan padanya. “Hanya mencoba mengobati lukamu.” Tanganku mengarah pada ujung bibirku sendiri berusaha menunjukkan luka di wajah gadis itu yang ingin kuobati.

Ia menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”

Aku menghela nafas dan tersenyum. “Akhirnya kau mau berbicara lagi,” gumamku. Ia menatapku dengan kening berkerut. Mungkin ia mendengarku.

“Kurasa bagaimanapun juga, lukamu itu harus diobati,” kataku mengalihkan perhatiannya.

“Tidak perlu,” tolaknya. “Nanti akan segera sembuh dengan sendirinya.”

Aku beranjak dari tempatku dan duduk di sofa. “Bagaimana luka bisa sembuh dengan sendirinya tanpa diobati?”

Ia menunduk. “Daya tahan tubuhku sangat bagus.”

Aku mendengus sekaligus tertawa pendek. “Memangnya kau manusia super yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri eo?”

“….”

Aku menghela nafas. “Baiklah. Terserah kau saja nona. Aku hanya merasa bertanggung jawab, jika ada sesuatu yang terjadi padamu. Karena kau bersamaku sekarang.“

“….”

Aku menghela nafas keras. Lantas beranjak menuju kamarku. Aku keluar dari kamar dengan sudah membawa sebuah piyama biru.

“Kau bisa kenakan pakaian ini. Milikmu sudah tak layak pakai,” kataku seraya menyodorkan piyama itu padanya. Ia mengambil piyama itu dari tanganku. Baguslah. Aku tak harus menunggunya berpikir lagi. “Oh, ya, jika kau mau kau juga bisa tidur di kamarku, nona.”

Ia menatapku terkejut kali ini.

“Oh! Jangan salah sangka! Aku hanya jarang berada di sini. Jadi kau bisa menggunakan kamarku sementara aku tak ada.”

“….”

“Hanya jika kau mau,” imbuhku cepat. “Malam ini aku juga akan pergi,” pamitku seraya menyahut kunci mobil yang tergeletak di atas meja. “Aku baru akan kembali besok pagi. Jadi kau bisa tidur dengan tenang di kamarku,” lanjutku seraya mengenakan sepatu.

Aku baru akan membuka pintu saat kudengar gadis itu memanggilku.

“Chogio!”

Aku menoleh.

Ia menatapku canggung beberapa saat. Lalu, “Terimakasih,” katanya kemudian.

*****

# Yunji’s POV 

Aku hanya merasa bertanggung jawab, jika ada sesuatu yang terjadi padamu. Karena kau bersamaku sekarang.“

Aku tak tau. Tak pernah tau pria yang kuanggap tak berotak itu bisa mengatakan hal seperti itu. Entah itu hanya sebuah basa-basi, entah karena ia merasa akan repot jika terjadi sesuatu padaku, tapi aku bahagia ia berkata seperti itu. Kukira yang bisa pria sepertinya pikirkan hanyalah tentang bersenang-senang dan dirinya sendiri.

Ini kali pertama seseorang mengatakan hal seperti itu padaku. Bahkan keluargaku sendiri, kurasa tak pernah berpikir seperti itu untukku. Rasanya…sungguh membuat perasaanku menjadi jauh lebih tenang beribu kali dari sebelumnya. Terimakasih….

*****

Aku sudah selesai membersihkan flat ini dan sekarang tinggal menyiapkan makanan untuk sarapan. Pria itu pulang dalam keadaan mabuk pagi-pagi sekali tadi. Ia membuatku cukup ketakutan hingga bersembunyi di dapur—tepatnya di bawah meja—saat ia tiba.

Saat itu aku hanya merasa terancam. Perasaan terancam yang sama persis seperti saat aku melihat ayah atau Barom pulang dalam keadaan mabuk. Mereka sangat menakutkan saat itu. Bahkan kurasa, karena mabuk, pria itu tak mengingat aku berada di flatnya. Karena begitu ia masuk, ia langsung melucuti semua pakaiannya sambil menuju kamar. Lalu terlelap di bawah selimut tebalnya. Beruntung, semalam aku tak menurutinya untuk tidur di sana. Jika tidak….

Aku terlonjak kaget saat seorang pria tiba-tiba saja muncul di hadapanku begitu aku berbalik. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini. Tapi sesuatu menarikku untuk tetap menatap lekat kedua matanya. Larut dalam tatapan pria itu yang begitu dalam dan tajam. Terasa tak asing. Tapi ia justru menatapku dengan kening berkerut. Mulai dari wajahku hingga ujung kakiku. Apa yang ia lihat?

Nuguseyo (siapa kau)?” tanyanya.

“….:”

“Kau … kekasih baru Sunggyu?”

“Sunggyu?”

Kali ini, pria itu menunjuk ke arah kamar yang pintunya terbuka separuh. “Pria bodoh yang berbaring di sana.”

Aku mengikuti arah yang ia tunjuk, lantas mengangguk mengerti. Ooo, rupanya pria yang telah menolongku itu bernama Sunggyu.

“Jangan katakan kau tak tau namanya?”

Aku menggeleng. Itu kenyataannya. Pria tampan di hadapanku ini membuka mulutnya hingga membentuk huruf O begitu mendapati jawabanku.

“Kau pasti sedang bercanda nona. Bukankah kalian sudah berbuat ‘itu’?”

Aku mengerutkan kening. Apa yang pria ini bicarakan? Berbuat itu? Dan pria aneh ini semakin menatapku tak mengerti, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kamar lagi. Terlihat pria bernama Sunggyu itu yang tidur tengkurap dan hanya terlihat pundak telanjangnya yang tak tertutup selimut. Sial! Aku mengerti sekarang maksud pria ini.

Daebak (keren)! Aku tak pernah tau Sunggyu mau membawa kekasihnya ke sini,” gumamnya. “Berapa lama sudah kalian berkencan?” Pria itu kembali membuka mulut sebelum aku menyanggah pendapat super asalnya itu.

“Berisik!!!” Kali ini terdengar suara erangan si pemilik flat dari kamarnya.

“Oo! Sunggyu~yah!” Pria itu berlari dari hadapanku. Tapi ia tak melepaskan tatapannya dariku. “Hyaa! Katakan padaku siapa gadis itu?” Ia berbicara dengan logat khas kali ini. Khas Busan yang kental.

“Kau berisik sekali. Tidak ada gadis di sini.”

“Hyaa! Itu….” Pria itu tetap menunjuk ke arahku. Meskipun Sunggyu tak mengalihkan kepalanya dari bantal. Bahkan membuka mata saja pun tidak kurasa. Tapi…, bukankah pria itu memang tak pernah membuka matanya? Ups….

“Aku tak pernah membawa gadis manapun kemari. Kau tau itu Daehyun~ah.”

“Hyaa! Kalau dia bukan seorang gadis, memangnya kau memelihara hantu di flat ini?”

“Kau berisik sekali!” Sunggyu melemparkan bantal tepat ke wajah pria itu.

“Hyaa! Sunggyu~yah! Buka matamu!” Pria itu menggoncang-goncang tubuh Sunggyu. Tapi nampaknya Sunggyu tak berniat untuk membuka mata.

Aku masih tetap berada di tempatku—di balik bar kecil yang lurus berhadapan dengan kamar. Mengamati kedua pria itu dari kejauhan.

*****

# Sunggyu’s POV 

Daehyun benar-benar berisik. Kepalaku masih terasa pusing dan sepertinya aku belum terlalu lama tidur. Dia benar-benar mengganggu.

Awalnya, aku memang berniat mengindahkannya saat tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Pagi ini, aku pulang dalam keadaan mabuk dan…melucuti seluruh pakaianku karena mabuk membuat tubuhku terasa panas. Lalu…, aku menuju kamar dan tertidur. Tapi tunggu sebentar! Sepertinya aku melewatkan sesuatu.

Astaga! GADIS SOFTDRINK!!

Kontan aku membuka mata dan menatap Daehyun gusar. Tentu saja hal itu langsung membuat sahabatku ini terkejut. Segera aku melirik ke luar kamar dan mendapati gadis itu berdiri di balik mini bar dapur. Ia menatapku dengan datar. Oh, sial!! Aku pun menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuh hingga  menyisakan wajahku saja yang nampak.

“Tutup pintunya! Ppali(cepat)-ppali!” Aku mendorong-dorong Daehyun agar menurutiku segera. Tapi ia justru tak melakukannya dengan cepat seperti mauku. Bahkan ia justru terdiam dan hanya menatapku. “Apa yang kau lihat? Cepat tutup pintunya!” seruku.

Baru setelah itu, Daehyun berkedip. Ia mendengus sekaligus tertawa pendek. Lantas beranjak dari ranjangku untuk menutup pintu kamar.

“Jangan katakan kau tak sadar sudah membawa seorang gadis pulang!” kata Daehyun seraya berdiri di hadapanku dengan melipat kedua tangan di depan dada.

“Tentu saja tidak.”

“Apanya yang tidak?”

Aku menghela nafas. “Aku hanya lupa sudah membawanya pulang.”

“Apa?”

“Aku menolongnya kemarin,” jawabku ragu.

Daehyun menatapku dengan kening berkerut kali ini. Aku tau ia pasti heran karena aku mau membantu gadis itu. Aku tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Karena aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain.

“Kau menolongnya? For free?” celetuk Daehyun.

Aku menatapnya dan hanya terdiam. Lalu mengerang seraya menggaruk kepala. Jika aku menjawab ya, maka hanya akan membuat jawabanku terdengar semakin aneh saja. Karena aku juga bukan tipe orang yang mau menolong jika tak ada imbalan atau keuntungan yang lain bagi diriku sendiri. Aku kembali berbaring dan menenggelamkan wajahku pada bantal.

“Hyaa Kim Sunggyu!”

******

Aku dan Daehyun sama-sama duduk berhadapan dengan gadis itu di mini barku. Di depan kami masing-masing sudah ada omlet telur yang terlihat lezat—mahakarya si gadis softdrink. Lumayan, setidaknya aku tak perlu kelaparan ataupun repot-repot memasak.

“Ini enak,” celetukku sembari mengunyah sepotong omlet.

Gadis itu kembali tak bersuara. Bahkan ia hanya duduk tertunduk—menatap hampa pada omlet di piringnya. Aku mendengus dan kembali mengunyah untuk potongan omletku yang kedua.

“Nona, kau sungguh tak ingin melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib?” Akhirnya,Daehyun bersuara seperti yang sudah kutebak. Bahkan ia tak berkedip menatap gadis itu sedari tadi. Biar kutebak. Ia sedang mencoba membaca raut wajah gadis itu.

Aku sudah menceritakan pada Daehyun tentang bagaimana aku yang bisa berakhir dengan menolong dan membawa gadis ini pulang bersamaku. Lalu juga lebam serta luka yang gadis itu miliki. Tentu saja hal itu membangkitkan rasa ingin tau Daehyun yang luar biasa besar ini.

Aku melirik gadis itu. Ia masih sama seperti tadi. Diam. Membisu.

“Kurasa ini masalah yang serius dan seharusnya ditangani oleh Polisi,” lanjut Daehyun. “Jika kau memang berada di posisi yang benar, maka kau tak perlu takut nona. Kami akan membantumu jika perlu.”

“Kau saja. Aku tidak,” celetekku yang membuat Daehyun menyiku perutku. Aku mencibirnya.

Sahabatku yang suka ikut campur urusan orang ini berdeham sebelum kembali bersuara. “Jika kau tak berbicara sepatah katapun seperti ini dan bahkan enggan melaporkan hal ini ke polisi, bukankah itu sama saja kau telah membuat kami berpikir bahwa kau’lah yang bersalah di sini nona?”

“….”

“Begini. Bukan kami berniat untuk ikut campur dalam urusanmu. Tapi karena sahabatku ini sudah berbaik hati menolongmu, itu artinya kau sama saja sudah menggeretnya masuk ke dalam permasalahanmu. Kami hanya harus tau apa yang sudah terjadi. Agar setidaknya, si bodoh ini tau apa yang harus ia lakukan. Baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk dirimu nona.”

Aku melirik gadis itu (lagi). Kali ini ia mendongak dan menatapku serta Daehyun bergiliran. Ia berhenti pada Daehyun. Menatap sahabatku ini dalam-dalam. Aku tau Daehyun tampan. Tapi bukankah aku lebih memikat?

“Maaf,” ujar gadis itu pada akhirnya. Menandakan bahwa ia tak ingin menceritakan apapun tentang masalahnya. Lantas  ia  kembali menatap omlet yang sejak tadi tak ia sentuh.

“Kau teroris?” selaku.

Ia menatapku dan Daehyun kembali menyiku perutku. Tapi aku tak perduli.

“Bukan? Kalau begitu kau sejenis buronan? Pencuri? Penipu? Atau bahkan mungkin kau pelacur yang lari dari sarang  penyamun, eo?”

“Hyaa Kim Sunggyu!” hardik Daehyun yang memintaku untuk berhenti berbicara.

Gadis itu menatapku penuh amarah kali ini. Tak seperti tadi yang terus saja tanpa ekspresi. Akhirnya, kau bereaksi juga.

Aku meletakkan sendok dan menyingkirkan piring dari hadapanku. Lantas melipat tangan di atas meja dan mencondongkan tubuh ke depan. Menatap lekat-lekat gadis itu yang masih melihatku dengan marah.

“Jika kau tak mengatakan apapun, itu berarti hakku untuk menduga apapun tentangmu. Kau sendiri yang membiarkanku seperti ini,” imbuhku. Aku mendesis sebelum berujar lagi, “Aku tak bisa terus membiarkanmu tinggal bersamaku jika kau tetap seperti ini nona.”

“Hyaa bodoh! Apa yang sudah kau katakan?” Lagi-lagi Daehyun menghardikku.

“Baiklah. Jika kau masih tak mau menjawab, setidaknya katakan padaku siapa namamu? Mungkin itu bisa membuatku berhenti berpikir yang tidak-tidak tentangmu nona.”

Dia tak kontan menjawabku. Tapi dari gerakan bibirnya yang sedikit terbuka dan tarikan nafas, aku tau ia akan menjawabku. Entah dengan menyebutkan nama sesungguhnya atau tidak.

“Yu…,” Ia terdiam beberapa saat. Menjeda. Lalu diam-diam melirik ke belakangku. Bisa kudengar sayup-sayup suara televisi yang memutar video clip Girls Generation. “Yoo…Yun…a,” lanjutnya.

“Yoo Yuna?”

Ia mengangguk.

Aku mendengus menahan tawa. Lantas melirik Daehyun yang menatapku was-was dan kemudian aku kembali menatap gadis itu. “Baiklah. Yun…a~ssi…, maaf. Tapi aku hanya bisa membiarkanmu di sini hingga hari ini saja.”

*****

# Yunji’s POV 

Lalu yang aku sadari selanjutnya adalah aku yang sudah berdiri di lobi gedung apartement. Aku hanya pergi begitu saja saat pria itu, Kim Sunggyu, mengusirku. Kupikir aku masih punya harga diri untuk tidak bertahan setelah diperlakukan seperti itu olehnya. Tapi kini aku menyesal.

Aku tak tau kemana harus pergi. Aku tak tau tempat lebih aman mana lagi di banding tempat ini. Apa aku harus kembali dan merengek memohon? Bersujud di hadapannya jika perlu. Tapi apa harus seperti itu?

Mungkin karena terlalu banyak hal yang kupikirkan. Mungkin aku hanya terlalu lama berdiri mematung di sini. Mungkin juga karena terlampau lelah hingga aku tak mengenali lelah itu sendiri. Lantas kini aku melihat semua yang ada di sekelilingku berputar—mengitariku. Awal mula berputar perlahan. Tapi semakin lama, semakin cepat. Sangat cepat.

Meskipun kepalaku terasa sangat berat, anehnya bagian tubuhku yang lain seakan berkebalikan. Suara-suara di sekitarku yang menjelma sebagai dengungan membuatku semakin tak bisa berdiri tegak. Apalagi berjalan dengan benar. Langkahku limbung.

Aku memejamkan mata beberapa saat. Beberapa kali. Tapi hasilnya nihil. Aku tak bisa menghilangkan efek aneh ini.

Detik berikutnya, yang aku tau hanya berkas cahaya, buram, dan……….

*****

# Daehyun’s POV 

Aku tak bisa melepaskan ingatanku dari mata gadis itu. Aku memang tak bisa mengatakan bahwa ia tak bersalah. Tapi sorot itu mengisyaratkan suatu ketakutan dan kekhawatiran. Aku juga tak tau ketakutan serta kekhawatiran macam apa itu. Aku hanya tak bisa mengusir rasa ingin tauku tentangnya.

ASSA! Aku menang!” seru Sunggyu girang.

Kuhela nafas lelah karena teriakan Sunggyu yang tiba-tiba. Sebenarnya bukan karena tiba-tiba yang membuatku kesal. Tapi lebih karena sikap tak acuhnya yang sudah tanpa hati mengusir gadis itu.

Aku menatap layar plasma raksasa yang memampang tulisan besar dan berkedip-kedip berbunyi “YOU LOSE” pada sisiku dan “YOU WON” untuk sisi Sunggyu dan mendapati alasan di balik seruan girang sahabatku ini. Aku menghela nafas lagi saat menatapnya.

Ia nampak nyaman sekali dengan posisinya saat ini. Sedikit berbaring miring dengan tangan kiri tertekuk yang ia gunakan untuk menumpu tubuh dan kedua tangan yang menggenggam stick playstation. Kaki kiri ia luruskan, sementara kaki kanannya ditekuk 45 derajat yang sesekali akan ia hentakkan saat senang ataupun kesal. Terlihat tak ada beban sama sekali dalam otaknya.

Aku memang tak pernah kesal atau mempermasalahkan kebiasaan Sunggyu yang suka mempermainkan wanita. Tapi untuk kali ini, kurasa ia sudah kelewatan hingga membuatku sangat kesal.

“Hya! Kim Sunggyu!” panggilku dengan suara datar karena kesal padanya justru membuatku malas bersuara. Hanya saja aku perlu berbicara dengannya saat  ini.

Sunggyu hanya bergumam tanpa menoleh menatapku, sibuk memilih pemain virtual mana yang akan ia gunakan untuk permainan selanjutnya.

“Hya Kim Sunggyu.”

“Mwo?”

“Kau ini benar-benar tak punya hati.”

Musuniriya (apa maksudmu)?”

“Gadis itu….”

Kali ini, Sunggyu bereaksi. Ia mendesah dan kontan meletakkan stick-nya. Menyipitkan mata menatapku yang hanya membuat matanya benar-benar tenggelam.

“Kau masih saja membahas gadis itu. Apa kau menyukainya Daehyun~ah? Cinta pada pandangan pertama eo?

“Ani. Tapi aku—”

“Kalau tidak, ya, sudah. Lupakan saja dia. Selesai!” selanya ringan dan kembali menyahut stick.

Saking kesalnya, aku pun melempar bantal yang sedari tadi kupangku hingga mendarat tepat di wajah Sunggyu. Ia memekik kesal.

“Hyaa! Jung Daehyun! Kau ini kenapa eo? Jika kau memang ingin menolongnya, tolong saja dia. Tapi jangan pernah menyeretku ikut bersamamu!”

“Hyaa! Kim Sunggyu! Aku tau kau tak suka ikut campur urusan orang. Tapi paling tidak, kau harusnya masih punya hati walau hanya sedikit.”

“Tentu saja aku punya. Aku sudah menolongnya. Membawanya pulang. Memberi dia tempat untuk tidur. Apa yang kurang?”

“Kau tidak menyelesaikan pekerjaan yang sudah kau mulai. Kau lepas tangan darinya.”

“Hyaa! Memangnya apa urusanku? Dia sendiri yang tak mau ditolong. Lalu untuk apa aku memaksanya? Aku mau menolongnya saja itu sudah anugerah untuknya. Kau tau benar itu.”

Aku mendesah. Bocah ini benar-benar. “Apa kau sama sekali tak merasa bersalah padanya Kim Sunggyu?”

“Sebentar, Jung Daehyun. Kalau kau memang begitu mengkhawatirkannya, mengapa tak kau kejar saja dia saat pergi tadi? Atau mungkin sekarang? Kurasa kau belum terlambat. Ia pasti belum jauh,” cerocos Si Sipit yang menyebalkan ini. “Tapi ingat, aku tak mau ikut campur urusan gadis itu. Dan juga, aku tak mau menampungnya di sini. Flatku bukan tempat penampungan,” imbuhnya.

“Aku tak memintamu menampungnya. Tapi paling tidak kau—”

“Dia sudah berbohong. Aku yakin kau juga pasti tau itu,” sela Sunggyu yang membuatku terdiam. Ya, kali ini aku akui ia benar. Aku tau gadis itu berbohong. Tapi hanya untuk hal kecil, kurasa. Ia hanya berbohong mengenai namanya.

“Bukankah kau juga seorang pembohong? Lalu mengapa kau tak bisa menerima kebohongannya itu?” Aku berusaha menyerangnya. Tapi Sunggyu justru mendengus seraya tertawa singkat. Meremehkanku.

“Justru karena itu,” sahutnya puas tanpa merasa tersinggung ucapanku. “Justru karena aku dan dia sama-sama pembohong, makanya aku tau apa yang harus kulakukan padanya.”

“Tapi kau tau ia berada di tingkat pembohong yang lain denganmu. Bisa dikatakan dia jauh di bawahmu. Dia bukan orang yang terbiasa berbohong sepertimu Kim Sunggyu. Dia pasti punya alasan.”

“Aku juga punya.” Sunggyu menajamkan tatapannya padaku seraya tersenyum mengejek. Lalu, “Jika kau memberinya kesempatan kali ini untuk berbohong, maka ia akan berkembang menjadi pembohong yang setara bahkan lebih baik dibandingkan dengan aku kelak. Percayalah!”

Sial! Bocah ini terus saja mengatakan hal yang benar. Pantas saja para gadis itu menggilainya. Ia benar-benar pandai berbicara.

Suara bel flat Sunggyu yang serupa dengan alarm mobil pemadam kebakaran mengejutkanku. Spontan, kami menatap ke arah pintu bersamaan. Tak biasanya ada tamu di flat Sunggyu selain aku dan Manajer Cha. Itupun kami sudah mengetahui kode pintu flat ini, jadi kami bisa langsung masuk.

“Mengapa kau menatapku seperti itu?” tanya Sunggyu saat menyadari aku menatapnya dengan kening berkerut.

“Ini ‘flatmu‘. Dan ‘suara itu‘ sangat mengganggu,” jawabku yang mengarah pada suara bel flat yang sangat mengangguku.

Sunggyu menghela nafas. Ia melirik malas arah pintu flat. Jika kami tak sedang bertengkar, ia pasti sudah memintaku untuk membukanya. Ia tak punya pilihan lain selain membukanya karena suara bel flat yang sengaja dibuat serupa alarm mobil pemadam kebakaran itu memang sangat mengganggu. Sengaja dibuat seperti itu untuk membangunkan si empunya flat yang notabene sangat sulit dibangunkan. Lantas akhirnya Sunggyu bangkit dan beranjak untuk membuka pintu.

*****

# Sunggyu’s POV 

Keningku berkerut samar saat kulihat petugas apartementlah yang muncul di layar intercome. Ia pria berusia sekitar 40-an tahun (mungkin) dengan seragam petugas keamanan. Untuk apa dia datang ke sini? Apa ada masalah?

Tak mau berlama-lama, kubukakan pintu langsung untuknya. Karena aku memang tau ia adalah petugas keamanan di sini.

“Ada apa ahjussi (paman)?”

“Anda Kim Sunggyu~ssi?” Seorang pria muda tiba-tiba saja muncul dengan menggeser paman petugas keamanan itu dari hadapanku.

Aku terdiam. Bukan. Aku bukan terpana karena pria muda berbadan tinggi tegap ini. Tapi lebih pada sosok yang ada di punggungnya. Bagaimana bisa? Oh, sial! Firasatku buruk sekali.

“Anda mengenal gadis ini?” Pria itu menolehkan sedikit kepala untuk menunjukkan seorang gadis yang tengah…err…tertidur (mungkin. Tapi sebaiknya begitu saja. Aku tak mau memikirkan hal aneh lainnya). “Gadis ini jatuh pingsan di lobi. Dan kebetulan, Petugas Nam mengatakan ia melihat gadis ini datang bersama anda kemarin. Jadi kami mengantarkannya ke sini.”

“Tidak.”

“Apa?”

“Aku tidak mengenalnya,” sanggahku cepat. “Aku hanya menolong gadis ini kemarin. Dan karena sekarang kau yang menolongnya, jadi dia bukan tanggung jawabku lagi.”

“Apa? Oh, tapi maaf Kim Sunggyu~ssi. Bukan aku tidak mau menolong gadis ini. Tapi anda yang membawanya kemari. Jadi dia adalah tanggung jawab anda.”

“TI-DAK.”

Pria itu melotot dan menghela nafas. Lalu dengan menyipitkan mata saat menatapku, ia kembali berujar, “Baiklah. Tapi bagaimana bisa gadis ini pingsan karena kelaparan jika anda menolongnya?”

“Apa? Kelaparan?”

“Ya.”

Aku tergagap. Sebentar. “Bagaimana bisa kau tau ia kelaparan?” tanyaku heran.

“Karena aku adalah seorang dokter.”

Sial! Apa-apaan ini?

“Berikan dia padaku.” Tiba-tiba saja Daehyun muncul dengan mendorongku dari ambang pintu. “Dia pingsan karena kelaparan?” Lanjutnya sembari mengambil gadis itu dari punggung pria yang mengakui dirinya sebagai dokter itu.

“Ya.” Kulihat pria itu nampak bingung melihat Daehyun. Mungkin lebih karena bocah yang sok menjadi pahlawan ini berbeda reaksi denganku.

“Aku pasti akan merawatnya. Jadi anda tak perlu khawatir.”

Pria itu langsung melirikku puas begitu mendengar kata-kata Daehyun. Sial! Sial! Sial! Gadis ini benar-benar membuatku sial.

“Anda dokter bukan? Apa bisa aku menghubungi anda jika terjadi sesuatu pada gadis ini?” tanya Daehyun sembari membenarkan posisi gadis itu dalam bopongannya.

“Tentu saja,” sahut dokter (konon katanya) itu dan menggagalkanku yang hendak memprotes. “Aku akan kembali ke flatku sebentar untuk mengambil peralatan dan juga obat-obatan. Aku akan memeriksanya lagi dan mengobati luka nona ini.”

Daehyun tersenyum lega. “Ide bagus,” tukasnya yang lantas kembali merangsek masuk ke flatku.

Aku terus meneriaki Daehyun untuk kembali. Tapi ia tak mau mendengarkanku. Ini menyebalkan!

Aku mengerang kesal. Kulirik dokter sialan itu, tapi tanpa babibu, ia justru langsung beringsut dari hadapanku.

“Brengsek!” umpatku tertahan. Kubanting pintu dan menyusul Daehyun. “HYA! JUNG DAEHYUN!”

“Pelankan suaramu!” titah Daehyun lirih setelah membaringkan gadis itu di atas ranjangku. Ia menatapku serius. Lalu, “Bola matamu takkan keluar, meskipun kau berusaha keras melakukannya,” selorohnya karena melihatku melotot.

Aku beku untuk beberapa saat. Ingin meledak, tapi kenyataan ucapan Daehyun menahanku.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin menjadi ‘Pahlawan Tak Bertopeng‘ di abad Tekhnologi ini?”

Daehyun menghela nafas sebelum menjawabku. “Apa kau tak melihat kecurigaan dokter itu, Sunggyu-yah? Kau sudah mengaku telah menolong gadis ini kemarin. Tapi ia justru ditemukan jatuh pingsan karena kelaparan. Apa itu sesuai logika?”

Oh, sial!

Daehyun menyelimuti gadis itu hingga sebatas leher. “Belum lagi luka gadis ini yang tak diobati. Apa menurutmu alasan itu masih kurang cukup untuk melaporkanmu atas dugaan penganiayaan?”

Oh, sial! Sial! Sial! Seharusnya dari awal aku memang tak perlu menolong gadis ini. Inilah alasan mengapa aku tak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Benar-benar menyusahkan! Merepotkan!

Aku mengerang kesal (lagi) seraya menyentuh tengkukku. “Ini gila! Tak masuk akal!” teriakku frustasi.

Lalu untuk detik selanjutnya, aku dan Daehyun hanya terdiam, larut dalam dunia masing-masing, sambil menatap gadis pembawa masalah yang masih menutup rapat matanya itu.

“Aku tak mau menampungnya,” desisku. “Kau urus saja dia sendiri,” kataku begitu menoleh pada Daehyun. Sebuah tuntutan karena ia telah membawa gadis ini kembali.

Daehyun tak menjawabku dan hanya menatap gadis itu tak berkedip. Ia pasti mulai lagi untuk berusaha membaca raut wajah. Dasar bodoh! Apa yang bisa kau lihat dari orang yang tertidur?

Sirine yang berasal dari bel flat mengagetkanku dan juga Daehyun untuk yang kedua kalinya di hari ini. Kulirik gadis itu yang tak nampak terusik. Oh, Tuhan! Katakan padaku dia masih hidup!

Aku baru akan membuka mulut saat kusadari Daehyun sudah berlari untuk membuka pintu. Wah…, bocah ini cepat sekali.

Aku pun kembali mengamati gadis itu. Wajahnya pucat dan bibirnya juga kering. Memang sudah berapa lama ia tak makan?

Lalu aku teringat pagi tadi saat ia pergi begitu saja tanpa menyentuh makanannya secuilpun. Lalu entah bagaimana, ingatan itu membawaku mundur saat aku bertemu dengannya yang ketakutan kemarin. Mundur lebih jauh lagi saat ia mengayuh sepeda secepat mungkin menghindari pria-pria bertubuh kekar. Teringat lebih jauh lagi saat ia memberiku softdrink dan menipuku agar membayar sejumlah ayam yang tak sengaja kujatuhkan.

Entah efek karena menatapnya terlalu lama atau bukan, tapi yang pasti aku justru melihat wajah yang begitu familiar dalam dirinya. Wajah orang yang sangat kusayangi. Hal ini membuatku tiba-tiba merasa tak tega pada gadis itu dan ingin menolongnya. Lebih anehnya lagi, bahkan aku serasa ingin memeluknya. Ini terdengar semakin gila bukan? Siapa sebenarnya gadis ini?

“Apa yang mau kau lakukan?” Suara Daehyun membawaku kembali pada kenyataan dan juga menyentakku saat menyadari apa yang kulakukan saat ini. Entah sejak kapan aku pun tak tau, tapi tanganku rupanya sudah terjulur menyentuh kening gadis itu. Bahkan aku membungkuk hingga wajahku dengannya hanya berjarak sedikit.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Daehyun ulang.

Aku mengerjap dan hanya menggeleng selanjutnya. Lantas melirik seorang pria yang berada di balik punggung Daehyun. Pria yang mengaku dirinya adalah dokter tadi. Cukup tampan untuk ukuran dokter.

“Dokter Cha Hak Yeon,” ujar Daehyun yang sebenarnya tak perlu. Karena aku memang tak mau tau. “Dia akan—”

“Lakukan saja apa yang mau kalian lakukan,” selaku seraya keluar dari kamar. Bergaya sok cuek alih-alih menepis pikiran super gilaku beberapa waktu tadi.

“Kau mau kemana?” tanya Daehyun.

“Berkencan dengan gadis-gadisku,” jawabku tanpa menoleh. Lalu, “Aku tak mau ikut campur urusan kalian dengan gadis itu.”

**

# Daehyun’s POV 

Aku menatap punggung Sunggyu yang menjauh. Ada yang aneh. Bukankah ia tak menyukai gadis ini? Lalu mengapa dia menyentuh dan menatapnya seperti itu? Apa instingnya muncul? Tapi aku yakin tidak. Ada yang aneh. Tatapannya tadi berbeda.

“Daehyun-ssi, apa anda tau siapa nama gadis ini? Atau mungkin keluarganya?”

Aku tersentak karena Dokter Cha menanyaiku. Kulihat ia sudah duduk di tepi ranjang sambil memegang pergelangan tangan gadis itu.

Aku menggeleng. “Yoo Yuna. Hanya itu saja yang kutau tentangnya.”

To Be Continued

Oh MY GYU…. Maaf semua karena ff ini lama publish dan aku malah post ff lain….

Inform lagi aja buat yang belum tau ya, laptopku lagi rusak jadi gak bisa nyelesaiin part ini buru-buru

Aku usaha nyicil ini part dengan ngetik dari HP juga 😦

Makanya lama banget karena pelan-pelan #lirikjempolyanggempor

Karena itu sorry banget kalau masih ada typo ya…. Aku udah usahain edit ulang juga

Oh, ya, muncul karakter baru ya di sini…. 😀 ada DAEHYUN B.A.P!!! #baksu

Dan dokter Cha Hak Yeon itu maksudnya N VIXX XD ga tau dia bakal muncul terus atau enggak juga sih….

Ya sudahlah ga banyak cincong lagi

Yuk mari komen 😀

46 thoughts on “[FF G] Rose | Chapter 3

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s