C-Clown Coffee Taste – Rome’s Story


ROME E IL CAFFÈ*

Author : D-Chan (Dhamala Shobita) | Casts : C-Clown’s Rome (Yu Ba Rom/Rome), Seo Hae Byeon [OC],  |Genre : Romance | Length : Oneshot | Rating : General

Disclaimer : I do not own the character except Seo Hae Byeon. All story and plot are mine. Do not bashing and do not copy without my permission.

Author’s Note : Ini adalah salah satu bagian dari C-Clown Oneshot Compilation, salah satu proyek di FFKPI. Aku kebagian menulis part dari leader C-Clown yaitu Yu Ba Rom. Karena admin nggak tahu mengenai C-Clown, jadi bersiap-siap baca Barom menjadi OOC level 10 (kayak keripik ma’icih aja) Oke. Enjoy and feel free to drop a comment below!^^

– Dhamala’s Storyline © 2013 –

**

ROMA! Rasanya aku ingin berteriak sambil melompat bahagia saat aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di tanah ini. Kulihat lagi alamat yang sudah kusalin ke buku kecil tempatku menuliskan catatan-catatan penting. Yu Ba Rom. Georgio Street. Begitu yang kutuliskan dengan jelas sebelum aku mengemas barang-barangku untuk berangkat ke sini.

Langit di Roma kali ini cerah. Semoga secerah harapanku untuk bertemu dengannya lagi—Rome. Laki-laki bodoh itu meninggalkan Seoul enam bulan lalu untuk pergi ke Italia. Laki-laki bodoh itu meninggalkanku hanya untuk satu alasan, berfoto. Berfoto! Kalian tahu makna berfoto, bukan? Ya! Mengkaptur objek gambar dengan kameranya. Tidak akan jadi masalah jika objeknya adalah keindahan alam atau mungkin manusia tapi kali ini ia meninggalkan Seoul hanya karena satu hal, KOPI. Masihkah harus bertanya apa itu kopi? Minuman yang terbuat dari biji tanaman bernama latin Coffea arabica, yang diracik hingga menjadi minuman yang mampu membelalakkan mata. Mungkin bagiku memotret objek manusia terlihat lebih wajar, meskipun aku tidak berjanji bahwa diriku tidak akan cemburu jika yang menjadi objeknya adalah gadis-gadis cantik bertubuh buah pir seperti Park Bom. Tapi kali ini ia meninggalkanku selama enam bulan hanya karena kopi. Aku cemburu pada kopi! Kecemburuanku bertambah saat aku menyadari aku tidak bisa menunjukkan kecemburuanku itu padanya. Tidak akan bisa.

“Haebyeon-ah!” Aku mendengar sebuah teriakan di telingaku, meneriakkan namaku dengan pelafalan yang sangat jelas. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil tetap menggenggam koper-koperku. Beberapa detik kemudian aku tersenyum. Ada seorang laki-laki dengan setelan semi-formal melambaikan tangannya ke arahku, membuatku tersenyum sekilas. Ia mempercepat langkahnya untuk sampai ke arahku kemudian memelukku erat.

“Akhirnya kau tiba juga di sini,” ujarnya seraya menepuk-nepuk punggungku pelan.

Oppa! J-jangan memelukku seperti ini! Bagaimana jika terjadi salah paham? Bodoh!” komentarku pelan saat masih dalam pelukan laki-laki itu—Ray.

Ray adalah sepupuku, ia lebih tua setahun daripada aku. Beberapa bulan lalu ia datang ke Roma untuk belajar melukis. Sebenarnya aku sangsi saat ia mengatakan ia akan melukis di sini. Bukan aku tidak percaya pada sepupu kesayanganku itu, hanya saja penampilannya terlalu meragukan untuk menjadi seorang pelukis. Tapi ia selalu saja berusaha meyakinkanku. Ia ingin membuktikan padaku bahwa pikiranku tentangnya semuanya itu salah. Harusnya ia tidak perlu repot-repot berusaha seperti itu, karena aku tahu ia pasti dapat melakukan lebih dari itu.

“Untuk apa kau berlibur ke sini? Kau pasti ingin melihat bagaimana lukisanku sekarang, bukan?” tanya Ray dengan percaya dirinya seraya merangkul bahuku dan membawaku berjalan keluar dari bandar udara.

Aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Ray kemudian berjalan sambil menarik koperku. “Untuk apa aku melihat lukisanmu? Tidak perlu menunggu datang ke Roma pun aku sudah melihat semua lukisan-lukisanmu. Kau tidak ingat kalau kau mengirimkannya nyaris setiap bulan ke dalam e-mail-ku?” keluhku.

“Jadi kau tidak suka?” selidiknya.

“Bukan begitu. Aku suka, suka sekali. Karena aku terlalu menyukai lukisanmu, aku sampai terlalu bosan untuk melihatnya lagi dan lagi.” Aku tertawa setelah menyelesaikan kalimatku, membuat Ray memasang ekspresi kecewa di wajahnya. Ekspresi yang membuatku tertawa lebih keras.

“Jangan katakan padaku kalau kau ke sini untuk mencari Rome hyeong!” seru Ray tiba-tiba, setelah beberapa menit ia berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Aku kali ini mengangguk lirih, tidak bisa membohonginya. “Bukankah ibu sudah bilang padamu bahwa aku akan menemui Rome oppa di sini?”

“Mencari Barom hyeong di Roma sama saja seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, Nona muda. Kau kira Roma itu kecil?”

“Kau tidak tahu bagaimana aku dan Rome oppa bisa bertemu? Aku dan Rome oppa mempunyai ikatan yang bagus. Jadi tak peduli sejauh apapun jarak yang memisahkan kami, aku percaya kami pasti bisa bertemu lagi.”

“Dasar kau anak kecil!” Ray mengacak rambutku. Hal yang paling tidak kusukai tapi aku akan suka jika Rome yang melakukannya padaku.

Mungkin Ray benar, tak akan mudah mencari Rome di kota ini. Ray benar, mencari Rome di sini persis seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Yu Ba Rom, bukankah sejauh aku mengikuti hatiku, akan mudah menemukanmu bukan? Kalau begitu tunggu aku.

“Seo Hae Byeon! Cepatlah!”

**

1 tahun yang lalu

 

Caramel Macchiato, satu.”

Cappuccino,  satu.”

Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan mendapati bola mata kecokelatan yang juga menatap ke arahku. Kami meneriakkan pesanan kami bersamaan. Laki-laki itu, tingginya sekitar dua jengkal lebih tinggi daripadaku. Ia memakai knitwear dengan motif garis-garis berwarna hitam-putih. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, berusaha menetralkan jantungku yang mendadak berdegup lebih cepat dari biasanya. Terakhir kali aku merasakan degupan itu adalah saat aku memberikan surat cinta pada seniorku di sekolah dan sekarang? Aku merasakannya lagi.

“Apakah anda suka memakai whipped cream?” Pertanyaan seorang gadis yang berada di balik meja kasir itu membuyarkan lamunanku, membuatku sesegera mungkin berbalik menatapnya.

“Ya, tolong berikan whipped cream yang banyak,” ujar laki-laki yang masih berdiri di samping kananku.

“Milikku, jangan berikan banyak-banyak whipped cream,” seruku sebelum gadis penjaga cafe itu salah memberikan pesanan.

Aku terdiam, sesekali mencuri-curi pandang ke arah laki-laki di sampingku. Kali ini ia tersenyum, senyum yang sangat manis. Aku balas membungkukkan sedikit kepalaku seraya tersenyum. Kupastikan kali ini aku juga memberikan senyuman termanisku untuknya.

“Ini.” Gadis penjaga itu menyodorkan dua gelas kopi ke hadapan kami berdua.

“Terima kasih,” ucapku seraya meraih satu gelas yang lebih condong ke arahku kemudian mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Laki-laki itu berjalan mengambil tempat satu meja di depanku, membelakangiku. Sayang sekali aku tidak dapat memandangi wajahnya dari tempat dudukku.

Aku memandang ke luar jendela kaca besar yang tampak bening. Beberapa sepeda terlihat lewat di depan cafe, begitu juga dengan kendaraan-kendaraan lain. Angin bertiup cukup kencang, terlihat dari dedaunan yang ikut dibawanya seiring ia berhembus. Aku menyunggingkan sebelah bibirku ke atas. Aku suka cuaca seperti ini.

Tak lama kemudian aku menoleh karena merasa ada seseorang yang berdiri di depanku. Ia tersenyum, laki-laki yang tadi. Ia sudah berada di depanku seraya tersenyum dan menggenggam gelas kopinya.

“Kurasa kopi kita tertukar,” ujarnya pelan seraya mengacungkan gelasnya.

Aku menatapnya heran kemudian memindahkan pandanganku ke arah gelas Cappuccino-ku dan menyadari bahwa dari tadi aku belum meminumnya. Aku menggigit bibirku dan menepuk dahiku seraya menoleh ke arah lain. Bagaimana bisa aku duduk cukup lama di sini tapi tidak juga meminum kopi yang kupesan. Bodohnya aku!

“Ah, benarkah? Maaf. Aku belum mencobanya sejak tadi. Apa kau ingin menukarnya denganku atau—”

“Tidak perlu. Kurasa aku memang harus menikmati Cappuccino kali ini. Ah, kelihatannya kau duduk sendiri. Boleh aku bergabung? Kebetulan aku juga datang sendiri.”

Deg! Sial. Degupan jantungku terasa berhenti sepersekian detik saat ia menawari untuk bergabung di mejaku. Laki-laki itu berdeham sekali untuk menyadarkan lamunanku dan ia berhasil.

“Si-silakan duduk,” ujarku pada akhirnya.

Laki-laki itu mengambil posisi duduk di depanku, tepat berhadap-hadapan dengan wajahku. Ia masih tersenyum manis saat duduk dan meletakkan gelas kopinya di meja.

“Namaku Yu Ba Rom. Kau bisa memanggilku Rome. Rome seperti kata yang sama dengan nama kota di Italia, Rome,” jelasnya. Nama yang indah.

“Senang bertemu denganmu, Rome-ssi. A-aku, Seo Hae Byeon.”

Dan kali ini aku tahu, aku mencicipi kopi yang tepat. Yu Ba Rom, pertemuan ini memang semanis Caramel Macchiato-mu yang tertukar denganku.

**

Jetlag? Kau tidur begitu lama. Dasar gadis pemalas,” komentar Ray ketika aku bangun dan menghampirinya yang sedang mencicipi secangkir minuman sambil membaca koran.

“Apa yang kau minum? Boleh aku minta secangkir untukku?” gumamku seraya mengucek mataku dan duduk di samping Ray.

“Kau yakin? Ini double espresso.”

Aku memandangnya keheranan kemudian mengerjapkan mataku. “Lalu apa salahnya dengan double espresso, Oppa? Berikan aku secangkir. Harus sama persis seperti milikmu,” pintaku.

“Cih! Kau memang selalu merepotkan, Haebyeon-ah!” keluh Ray tetapi tetap melangkahkan kakinya menuju pantry kemudian beberapa menit kemudian aku sudah melihatnya kembali dengan cangkir yang sama persis.

“Apa rencanamu hari ini? Mengunjungi Colosseum?” tanya Ray seraya meletakkan secangkir double espresso di depanku.

Aku menggeleng pelan seraya menarik koran yang ada di samping tempat dudukku. “Wah! Kau bisa membaca semua tulisan ini? Menakjubkan!” pujiku ketika melihat tulisan-tulisan yang tidak kumengerti tertera di atas kertas koran, kurasa itu Bahasa Italia.

“Lalu darimana aku bisa belajar melukis jika aku tidak mengerti semua ini, Seo Hae Byeon! Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa rencanamu hari ini?”

“Aku sudah menggelengkan kepalaku tadi. Aku tidak tahu aku harus kemana hari ini. Menikmati suasana Kota Roma atau mencari Rome Oppa. Aku ingin melakukan keduanya bersamaan,” jawabku.

“Aku tidak bisa mengantarmu adik kecil. Apa kau yakin bisa berkeliling sendiri?” selidik Ray.

“Aku bukan gadis kecil yang tidak berguna lagi, Oppa! Aku bisa berkeliling sendiri dan menemukan Rome oppa. Ingat itu.”

“Baiklah. Aku percaya padamu kali ini. Kau harus menjaga dirimu baik-baik dan ini, aku mempunyai sesuatu untukmu. Hubungi aku jika terjadi apa-apa. Kau tidak tahu wilayah ini dan sisanya kau tidak mengerti dan bahkan tidak bisa bicara dengan bahasa di sini jadi ada baiknya kau menggantungkan hidupmu pada ponsel itu, mengerti?”

Ne, Oppa,” sahutku sedikit tak acuh.

“Aku akan bersiap-siap sekarang. Aku harus menghadiri pameran lukisan sebentar lagi. Ingat semua pesanku, oke?”

Ray menaruh kotak ponsel di atas meja kemudian berlalu ke kamarnya. Aku meraih kotak itu dan membukanya. “Seleranya tidak begitu buruk.” Aku bergumam sendiri seraya menghabiskan kopi pahit bernama double espresso yang tadi disuguhkan Ray. Jadwalku hari ini, tidak akan ada yang namanya Colosseum hingga aku terlebih dahulu menemukan orang yang kucari, Rome.

“Haebyeon-ah, kurasa jika kau ingin berjalan-jalan sebaiknya kau pergi pagi-pagi. Matahari terbenam lebih awal di sini,” saran Ray.

Oppa, kau tahu Georgio street?” tanyaku sebelum Ray melangkah keluar pintu rumahnya.

“Georgio street? Kau hanya perlu berjalan kaki sekitar dua gang dari sini. Berjalanlah ke arah kiri. Jalan itu sangat mudah ditemukan,” ujarnya.

“Terima kasih, Oppa. Hati-hati di jalan!”

**

Mencari Georgio street ternyata bukan perkara mudah tapi juga tidak bisa kugolongkkan ke dalam perkara sulit. Dengan hasil napas yang terengah-engah akhirnya aku bisa sampai di deretan jalan utama itu. Dipenuhi deretan toko-toko pakaian dan pâtissière, Georgio street nampak sangat ramai. Aku menyusuri jalan tersebut dari ujungnya dan sekarang aku baru saja sampai di pangkalnya. Aku bertanya ke sana ke mari dengan bahasa isyarat yang kubisa, sambil membawa foto Rome, dan akhirnya tidak ada satu pun informasi yang kudapat. Tidak ada yang tahu mengenai pameran foto bertemakan kopi yang digelar beberapa bulan yang lalu. Tidak ada yang tahu pula mengenai seorang pemuda bernama Rome yang selalu tergila-gila akan kopi. Aku berdiri di sebuah toko hadiah dan melihat miniatur menara Eiffel berwarna pink, persis dengan gambar yang pernah Rome ambil kala ia berada di Jepang. Hatiku mencelos sementara bibirku menyunggingkan senyuman menatap miniatur menara terkenal di Perancis itu. “Oppa, kurasa aku dan kau. Kita, kurasa kita tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi.”

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Sudah cukup menatap miniatur menara itu. Kuhela napas panjang yang mengisyaratkan keputusasaanku kemudian merogoh saku kananku, mengambil ponsel yang diberikan Ray tadi pagi dan menekan nomor ponsel Ray—nomor satu-satunya yang ada di phonebook ponsel tersebut.

“Ada apa gadis manja?” tanya Ray lembut saat menjawab panggilanku.

“Kau yang menyuruhku menelepon jika terjadi sesuatu dan sekarang kau yang mengataiku gadis manja! Cih! Aku benci padamu, Oppa!” racauku tidak karuan ketika mendengar kata ‘gadis manja’ keluar dari mulut Ray.

“Maafkan aku, Haebyeon-ah. Apa kau baik-baik saja? Di mana kau sekarang?” tanyanya lagi. Kali ini dengan nada lebih khawatir.

“Aku di Georgio street. Aku sudah menyusuri ujung hingga pangkalnya. Hampir memasuki semua galeri fotografi yang ada di sini, mengunjungi semua butik juga, tapi aku sama sekali tidak dapat menemukan batang hidung Rome oppa. Bahkan ketika aku bertanya-tanya, tak ada satu pun orang yang mengenalnya.”

“Kurasa sebaiknya aku datang ke sana. Apa kau dekat dengan Gru Cafe? Tunggu aku di sana, aku akan datang sekitar 10 menit lagi.”

“Baiklah. Aku tunggu. Jangan sampai terlambat datang atau aku akan meninggalkanmu, mengerti?”

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana kemudian berbalik arah melihat ke arah jalan raya, mencari-cari di manakah Gru Cafe yang dimaksud Ray. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya karena ternyata cafe  yang dimaksudkan berada tepat di depanku. Aku berjalan masuk ke dalamnya, bunyi lonceng terdengar menyambut kedatanganku saat aku menginjakkan langkah pertamaku ke dalam.

Caramel Macchiato, satu.”

Cappuccino, satu.”

Lagi-lagi ada seseorang yang menyebutkan pesanannya bersamaan denganku. Tunggu! Deja vu! Aku merasakannya lagi. Kejadian ketika pertama kali aku bertemu dengan Rome sekitar setahun yang lalu. Sesegera  mungkin aku menolehkan kepalaku ke arah kanan—persis sama seperti setahun lalu. Kali ini orang itu sudah terlebih dahulu menatapku dengan tatapan matanya yang tidak begitu bersahabat, tapi bukan berarti ia menatapku dengan pandangan kesal atau kecewa. Hanya saja, pandangannya terlalu datar.

Aku tidak terkejut tapi bukan berarti aku tidak terpesona padanya. Mata kecokelatan itu, bibir lebar, alis tebal dan hidung yang mancung itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang membuatku terbang jauh-jauh ke sini. Seseorang yang membuatku cemburu pada minuman yang sekarang kupesan. Seseorang yang membuatku menjadi tidak logis.

“Lama tidak berjumpa, Byeonnie-ya.”

Deg! Ini bukan mimpi. Aku berusaha mengembalikan kepalaku dengan menatap etalase di depanku kemudian mengerjapkan mataku beberapa kali tapi ketika aku kembali menatap sisi kananku, dia tetap di sana. Byeonnie-ya. Aku ingat betul cara orang itu memanggilku. Cara yang sama seperti Rome biasa memanggilku. Dia…

“Rome O-Oppa?” tanyaku ragu.

Laki-laki itu tertawa kecil kemudian mengacak rambutku pelan. “Kau sudah melupakanku? Apa aku berubah sebegitu banyaknya hingga kau tidak bisa mengenaliku lagi?” tanyanya sambil tersenyum.

Bagaimana bisa aku melupakanmu, Oppa, pikirku. Pramusaji di balik meja kasir itu menyodorkan masing-masing satu gelas kopi ke arahku dan Rome. Jantungku kali ini berdetak dua atau tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tanganku gemetar. Aku membiarkan Roma jalan terlebih dahulu dan aku mengekori di belakangnya. Aku tidak ingin ia melihat tanganku yang bergetar karenanya. Ini seperti mimpi.

“Byeonnie-ya, maukah kau duduk bersamaku?” ajak Rome yang sudah lebih dahulu duduk di sebuah meja. Aku berhenti di depan mejanya untuk mempertimbangkan. Sedetik kemudian aku mengangguk seraya tersenyum kemudian mengambil posisi di depannya.

“Kau sudah bertambah besar rupanya dan tentu saja semakin cantik. Apa yang kau lakukan di sini, Byeonnie-ya?” komentarnya.

Aku? Tentu saja mencarimu, bodoh!

“Aku? Aku sedang berlibur sekaligus menjenguk Ray. Ia sudah lama tinggal di Roma,” sahutku berbeda dengan apa yang ada di dalam pikiranku. Aku menundukkan kepalaku, menyesali sendiri ucapanku. Mengapa sejak dulu aku tidak pernah mampu berkata jujur padanya. Haebyeon, kau benar-benar bodoh!

“Ray? Apa yang dikerjakannya di sini?” tanya Rome pelan seraya menyesap Cappuccino di gelasnya.

“Dia melukis. Lebih tepatnya ia sedang belajar melukis.”

“Kedengarannya keren.”

Keren? Tentu saja kau jauh lebih keren, Rome Oppa.

“Lalu kau? Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau tidak kunjung pulang ke Seoul, Oppa? Aku..aku merindukanmu,” timpalku.

“Aku masih memiliki banyak urusan di sini. Aku sempat pulang satu kali ke Seoul tapi tidak untuk janga waktu lama sehingga aku memilih untuk tidak memberitahukanmu.”

Jadi kau anggap aku siapa hingga kau tidak memberitahukanku ketika kau kembali ke Seoul!

Aku mengangguk pelan seraya mengangkat gelas kopiku dan menyesapnya. Aku merindukanmu, Yu Ba Rom! Tapi nampaknya mustahil jika mengharapkanmu merindukanku.

“Seo Hae Byeon—” Rome menggantungkan kalimatnya sejenak kemudian menatapku dalam dengan tatapannya yang menusuk, yang mampu membuatku terkulai lemas.

“Aku sangat merindukanmu.”

**

“Dua hari yang lalu kau tidak jadi datang dan kau tidak memberitahuku?” Aku berjalan pelan ke arah Ray yang sedang duduk di teras rumah. Sejak saat aku pergi ke Georgio street itu Ray tidak pulang ke rumah. Ia bilang ada pekerjaan seni yang harus dilakukannya dan membiarkanku tinggal sendirian di rumah.

“Maafkan aku. Lagipula bukankah waktu itu kau bertemu dengan seseorang yang—” Ray segera menghentikan ucapannya kemudian berdeham dan kembali membaca koran yang ada di tangannya.

“Kau melihatnya?” tanyaku saat melihat gelagat aneh dari Ray.

Ray sesegera mungkin menghela napas kemudian menurunkan korannya sedikit hingga ia dapat melihatku. “Ya, aku melihatmu dan Rome hyeong. Setelah itu aku meninggalkan kalian berdua. Untuk apa aku datang lagi jika kau sudah bersama dengan Rome hyeong. Bukankah kau ke sini untuk mencarinya? Jadi momen seperti itu yang pasti kau tunggu, bukan?”

“Mengapa kau tidak menghampiri saja kalau begitu?” tanyaku lagi.

“Aku tidak ingin mengganggu kalian berdua.” Raut wajah Ray mendadak berubah sendu. Ia tidak lagi sama seperti Ray sehari-hari, membuatku mengerutkan keningku dan menatapnya lebih intens.

“Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” cecar Ray ketika menyadari aku menatapnya lekat-lekat.

“Kau seperti menyimpan se—” Aku menggantungkan kalimatku ketika mendengar suara klakson motor berbunyi sekali. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan melihat seseorang membuka kaca helm-nya. Itu Rome. Percaya padaku, aku bisa mengetahui itu dirinya hanya dari matanya.

“Pergilah, Barom-mu sudah menjemput,” ujar Ray santai seraya kembali pada tulisan-tulisan Italia di koran yang ada di tangannya.

“Baiklah, kau selamat dari investigasiku sekarang, Oppa. Jangan harap kau akan lolos lagi lain waktu, mengerti?” Aku mengacak rambutnya pelan kemudian bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil tasku yang sudah kusiapkan.

Aku sedikit berlari dengan flat shoes cokelat muda yang baru kubeli saat hendak berangkat ke Italia. Kulambaikan tanganku perlahan ke arah Ray kemudian membuka pagar dan menyapa Rome yang masih terduduk di atas motor besarnya. Aku tersenyum menyambut helm yang diulurkan Rome ke arahku. Sesegera mungkin aku mengambil posisi di jok belakang motornya dan berpegangan pada kedua sisi belakang motor.

“Kau ingin pergi kemana hari ini? Aku akan mengantarmu.”

Kemana saja, asalkan bersamamu saja aku sudah puas, Oppa.

“A-aku tidak begitu mengerti Roma, Oppa. Aku ikut kau saja,” balasku.

Aku dan Rome akhirnya sampai di sebuah bangunan tua tempat para gladiator bertarung di masa lalu. Bangunan popular di Roma yang menyiratkan filosofi kemenangan. Rome menuntuk tanganku perlahan untuk menyusuri bagian dalam Colosseum. Kamera digital ditanganku beberapa kali mengambil potret Colosseum dari berbagai sudut dan Rome yang terus berada di sampingku hanya bisa menyaksikanku memotret. Berbeda dari Rome yang biasanya kutemukan di Seoul, ia sama sekali tidak memiliki kamera yang melingkar di lehernya kali ini. Hanya beberapa kali arahan yang ia berikan kepadaku ketika aku berancang-ancang mengambil foto di beberapa sudut.

Lelah berburu gambar di Colosseum, kami duduk di atas motor sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Aku menggenggam kaleng kopi yang didapatkan Rome dari mesin minuman otomatis di sisi jalan. Tak lama kemudian laki-laki itu mengambil posisi di atas motornya juga,tepat di sampingku.

“Apa yang kau sukai dari Roma?” tanya Rome pelan, tanpa menoleh ke arahku.

Kau!

“Roma? Entahlah. Aku hanya ingin berlibur ke sini saja.”

“Kau tidak datang untuk mencariku bukan, Byeonnie-ya?”

Deg! Aku menghentikan tanganku yang hendak mendekatkan kaleng kopi ke mulutku. Rome bisa membaca semuanya dan kini aku tidak berani menoleh. Aku tidak berani mengakui alasan mengapa aku datang ke Roma. Aku tidak berani mengakuinya karena alasannya adalah dia, laki-laki itu—Yu Ba Rom.

“Seo Hae Byeon, aku merindukanmu.”

Aku menoleh ke arahnya kali ini, memberanikan diriku menatap matanya. Tapi aku salah, ia tidak menoleh ke arahku. Matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Tangan kanannya tetap menggenggam kaleng kopi dengan kuat. Aku terdiam, mataku sedikit berkaca. Bodoh! Aku menahannya sekuat tenagaku, tidak ingin Rome sampai melihat mataku berkaca atau bahkan mengeluarkan air mata dari sudut-sudutnya.

“Saranghae.”

Rasa kopi kaleng yang baru saja kuteguk beberapa menit yang lalu seperti menyeruak kembali ke dalam mulutku. Cukup manis tetapi dingin. Sedingin pernyataan cinta yang baru saja Rome luapkan. Pernyataan cinta dan sekaleng kopi.

**

Kopi pertamaku pagi ini tepat ketika aku tiba di Seoul—setelah menaiki taksi dari Bandar Udara Incheon ke rumahku—terasa manis, hangat, dan juga cukup pekat. Berbeda dengan kopi-kopi yang seringkali aku cicipi di cafe. Berbeda dengan Caramel Macchiato yang menjadi favoritku sejak Cappuccino-ku tertukar dengan milik Rome. Berbeda dengan kopi kalengan dari mesin yang dibelikan Rome di depan Colosseum.

Kopi hari itu membawaku melayang dan mengingatkanku tentang cinta yang kusimpan di sudut hatiku, jauh dari permukaan hingga tidak ada orang yang mengetahuinya—kecuali Ray. Kopi hari ini mengingatkanku pada rasa cinta yang datang tanpa permisi, membuatku mabuk dan candu akan kehangatannya. Kopi hari ini dan semua kopi yang kunikmati sebelumnya tetap menyimpan satu makna yang sama dari makna lainnya, selalu mengingatkanku dengan Rome.

Kali ini kopi manis dan pekar itu membuatku tidak sampai hati untuk menutup mataku dan beristirahat. Ia cukup kuat untuk membuatku terjaga setelah perjalanan Roma-Seoul yang baru saja kutempuh. Aku baru saja hendak memasukkan koperku ke dalam sebelum seseorang memanggil namaku dari luar pagar rumahku.

“Seo Hae Byeon!”

Aku mendelik, memicingkan mataku untuk melihat sosok yang berdiri di balik pintu. Kutinggalkan koperku di teras rumah kemudian berjalan pelan menuju gerbang. Aku mengintip sejenak sebelum membukakan pintu rumahku untuk orang asing yang baru saja meneriakkan namaku pelan.

“S-siapa?” tanyaku ragu dari dalam. Tanganku sudah memegang selot gerbang rumahku tapi tak kunjung membukanya karena aku tidak tahu siapa orang yang memanggilku barusan. Ia membelakangiku hingga aku tidak dapat melihat wajahnya sekarang.

“Aku, Rome,” sahut seseorang itu seraya berbalik menghadapku. Aku tersenyum. Tanpa pikir panjang aku segera membukakan pintu untuknya.

“Rome oppa!” seruku seraya menyunggingkan senyum.

“Kapan kau sampai?” tanyanya pelan.

“Baru saja. Bahkan aku belum memasukkan koperku ke kamar,” sahutku pelan.

“Kalau begitu perkiraanku tepat. Apa kau ingin beristirahat dulu atau…” Rome sengaja menggantungkan kalimatnya dan menatapku dengan pandangan bertanya.

“Atau apa?” tanyaku seraya menaikkan kedua alisku.

“Atau kau ingin menemaniku berkeliling Seoul sebentar?”

Belum sempat aku merespon ajakannya, Rome sudah lebih dahulu menarik pergelangan tanganku dan membawaku pergi.Tidak jauh dari gerbang rumahku, Rome ternyata memarkirkan sepeda motornya. Ia mengulurkan helm ke arahku dan menyuruhku naik ke motornya. Dengan cepat, Rome melajukan sepeda motornya di jalan raya, menyelip di kendaraan-kendaraan roda empat yang berjajar di jalan raya Kota Seoul.

“Namsan?” gumamku pelan ketika Rome menghentikan motornya tepat di lapangan parkir dekat Namsan Tower.

Rome turun dari motornya setelah aku turun terlebih dahulu. Ia menghampiriku kemudian membuka helm yang kukenakan di kepalaku. Tak henti-hentinya ia tersenyum padaku kala itu. Jangan tanya lagi apakah jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Karena kali ini kurasa ia berdetak tiga atau lima kali lebih cepat daripada kecepatan normalnya.

“Mengapa kau membawaku ke Namsan Tower, Oppa?” tanyaku.

“Karena..karena ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu.” Lagi-lagi ia hanya menarik lenganku tanpa mengatakan tujuannya menarikku. Kali ini ia membawaku ke depan deretan gembok yang dikaitkan satu sama lain oleh para pelancong yang mengetahui cerita tentang gembok cinta tersebut.

Aku menatap Rome lekat-lekat. Tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Ia tersenyum padaku, alih-alih menjelaskan apa maksudnya membawaku ke sini, ke hadapan ratusan bahkan ribuan gembok berisikan nama-nama pasangan dari seluruh dunia. Tangannya terjulur ke arah sepasang gembok berwarna perak dengan ukiran hati yang hanya setengah di masing-masingnya. Ia menggerakkan lagi tangannya hingga membuat dua gembok yang ada di tangannya saling berdempetan dan membentuk sebuah bentuk hati yang utuh. Aku meneliti gembok tersebut dengan saksama. Inisial. Aku mendapati inisial kecil terukir di dalam bentuk hati itu. R dan H. Rome dan Hae Byeon? Tidak mungkin!

“Ini milikmu?” Aku memberanikan diri bertanya kepadanya seraya tetap menatap kedua gembok yang masih menyatu di tangannya.

“Ya, ini milikku. Milikku yang kukaitkan di sini setahun lalu. Aku datang setiap bulan untuk memastikan bahwa gembok-gembok milikku ini tetap terjaga di sini. Tidak hilang atau pun rusak,” jelasnya.

“Tapi suatu saat semua ini akan tetap rusak, Oppa,” ujarku.

“Setidaknya sampai aku berhasil menunjukkan mereka kepadamu. Haebyeon-ah.”

“Ma-maksudmu?”

“R dan H. Rome dan Haebyeon. Itu yang ingin aku tunjukkan padamu. Ini milikku dan milikmu.” Rome menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mataku yang sekarang tengah menantikan tatapan lembutnya.

Bukankah seperti itu seharusnya seorang laki-laki jika menyatakan cintanya pada seorang wanita? Menatapnya dengan lembut dan mentransfer seluruh perasaannya dari hati ke hati, lewat sorotan mata yang tak akan pernah bisa kita palsukan. Kali ini anggap saja aku menjadi orang yang terlalu sok tahu tentang hal tersebut. Karena aku tidak mendapatkan tatapannya ke dalam kedua bola mataku, membuatku meragukan ucapannya. Membuatku semakin tak yakin jika ia memang sedang menyatakan perasaannya atau bukan.

Oppa,” panggilku lirih, berusaha memancing percakapan agar ia menatap mataku dan mengutarakan semuanya yang kurasa masih saja ia kunci dalam hatinya.

“Haebyeon-ah, maafkan aku.” Kali ini ia menatapku. Tatapannya cukup dalam, cukup membuat jantungku seolah berhenti kemudian cepat-cepat berdetak kembali dengan kecepatan yang berbeda. Tapi tatapannya sangat jauh dari kata lembut. Yang kudapatkan hanya tatapan kesedihan dan kekecewaan. Tidak ada perasaan menyenangkan yang ia sampaikan lewat bola matanya.

Oppa, apa ada yang salah?” tanyaku pelan seraya meraih lengannya yang masih menggenggam kedua gembok yang saling mengait tersebut tapi Rome malah menunduk dan terdiam. Beberapa detik kemudian aku merasakan sesuatu menetes ke atas kulitku. Mungkinkah itu air mata? Lalu mengapa Rome menangis?

“Haebyeon-ah, kau sebaiknya menelepon seseorang untuk menjemputmu. Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Maafkan aku, Haebyeon-ah.” Ia berbalik, menghempaskan tanganku sebelumnya kemudian berjalan cepat meninggalkanku sendirian. Sementara aku termangu di depan kedua gembok itu, masih tidak mengerti apa yang terjadi begitu cepat di antara aku dan Rome beberapa saat yang lalu, masih tidak mengerti mengapa Rome menangis dan masih tidak mengerti mengapa hatiku perlahan mencelos, seolah Rome memang pergi dan tak akan lagi kembali kepadaku. Bahkan hanya untuk menampakkan dirinya di depanku.

**

7 bulan yang lalu

 

“Apa aku bisa memercayaimu? Aku akan mengatakan rahasia terpenting dalam hidupku yang tidak akan pernah aku beritahukan pada siapapun, Oppa,” seruku saat aku dan Rome duduk di tepi Sungai Han. Rome sibuk menghapus-hapusi beberapa foto yang menurutnya tidak layak disimpan sementara aku sibuk menatapnya lekat-lekat sambil berusaha agar ia tidak menyadarinya.

“Kau bisa memercayaiku kapanpun kau mau, Byeonnie-ya,” sahutnya. Entah sejak kapan ia memanggilku dengan sebutan ‘Byeonnie’, yang jelas aku suka cara dia memanggilku dengan cara itu.

“Aku..aku menyukai seseorang, Oppa.” Aku terdiam sejenak dan menatap ke arah riak Sungai Han yang mengilat terkena cahaya matahari. Di sampingku, Rome menghentikan kegiatannya memeriksa foto-foto pada kameranya dan malah mengikuti pandanganku, menatap lurus ke arah Sungai Han.

“Kau suka kopi? Apa kau ingin aku membelikan segelas untukmu?”

Sial! Dia tidak meresponku sama sekali tapi malah menawariku kopi. Dengan sangat terpaksa aku menganggukkan kepalaku dan membiarkannya pergi ke sebuah minimarket yang ada di dekat tempat kami bersantai. Padahal aku baru saja akan mengatakan padanya ciri-ciri orang yang kusukai. Orang beruntung itu adalah dirinya. Tapi sekarang rencanaku gagal seutuhnya. Memalukan!

Lima menit. Ternyata Rome membutuhkan waktu lebih lama untuk membeli dua gelas kopi untukku dan dirinya. Aku menghela napas panjang kemudian memutuskan untuk mengambil secarik kertas dari dalam tasku.

Terima kasih sudah mendengar ceritaku yang belum sepenuhnya selesai itu, Oppa. Kopinya, ambillah untukmu. Aku harus segera pergi. Sampai berjumpa lagi.

Aku menulisi kertas tersebut dan meletakkannya di atas bangku taman yang kami duduki bersama. Kemudian dengan cepat aku berlalu, bersembunyi di balik mobil yang terparkir di pinggir jalan. Aku tidak ingin tinggal di sana lebih lama. Memalukan. Jantungku terasa berdegup lebih cepat dan ini karena aku hampir saja menyampaikan padanya perasaanku yang sebenarnya. Aku menyayangimu, Rome Oppa.

“Byeonnie-ya! Eh, kemana dia?”

**

Bukankah terlalu kejam rasanya ketika kau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun? Tepat seperti kopi yang dibuatkan untukku oleh ibu di rumah. Pekat, pahit dan bersisa. Persis seperti apa yang kurasakan saat ini, ketika Rome meninggalkanku tanpa sepatah kata pun bahkan kata maaf. Mungkin aku masih bisa mengecap rasa saat ditinggal pergi beberapa lama dan tidak mendapatkan kabar apa pun darinya tapi kali ini rasanya lidahku mati rasa untuk mengecapnya. Tanpa kata, tanpa sebab, ia meninggalkanku (lagi) dan kali ini benar-benar sangat menyakitkan.

Aku duduk di Coffee Cojjee, sebuah cafe milik salah satu personil JYJ, Kim Jae Joong. Aku menunggu Ray. Ia sudah kembali dari Roma, lebih tepatnya mungkin pulang sejenak ke negara asalnya dan nanti akan kembali lagi ke Roma. Secangkir espresso sudah tersedia di depanku, belum terjamah. Tak lama kemudian seseorang dengan wajah berseri menghampiriku dan duduk tepat di hadapanku.

“Ada apa? Mengapa kau tidak datang saja ke rumah jika ingin bertemu denganku, Oppa?” tanyaku pelan.

Laki-laki itu menggeleng perlahan kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya yang biasanya berisi pensil dan buku sketsa. “Aku ingin menyerahkan sesuatu padamu dan kurasa rumah bukan tempat yang tepat untuk itu.”

Sebuah amplop cokelat dengan pita di atasnya, tertuliskan inisial R dan M. Untuk Byeonnie. Begitu yang kulihat di depan amplop tersebut.

“Ini..ini apa?” Pertanyaanku terdengar sedikit bergetar. Ada ketakutan terselip di antara dua kata yang kuajukan pada Ray.

“Kau akan mengetahuinya sendiri nanti. Aku tidak bisa menemanimu, aku harus pergi sekarang. Jangan berbuat sesuatu yang gila, Haebyeon-ah. Aku pergi,” pamit Ray padaku kemudian beranjak pergi dari kursinya.

Jangan berbuat sesuatu yang gila? Apa maksud perkataannya?

Aku mulai membuka amplop cantik tersebut dan mengeluarkan kertas yang lebih tebal. Membukanya dan membacanya perlahan dengan saksama. Marriage of Yu Ba Rom & Heo Min Ah Bisakah seseorang menamparku kuat-kuat dan mengatakan bahwa yang kubaca adalah salah. Yang di genggamanku saat ini adalah undangan pernikahan. Ini milik Rome.

Tak sadar, tanganku meremas kertas undangan pernikahan yang akan digelar di Roma tersebut. Napasku mulai tak beraturan. Mataku memanas dan bersiap menumpahkan air mata dari sudut-sudutnya. Bukankah beberapa hari yang lalu ia baru saja mengatakan bahwa ia menyukaiku? Ia baru saja menunjukkan gembok itu dan..dan ia menghilang. Bodoh! Mengapa aku tidak menyadarinya? Ia menghilang setelah ia menunjukkan gembok itu padaku, setelah ia mengungkapkan semuanya.

Tanganku meraih secarik kertas yang lebih tipis dari kertas undangan pernikahan tersebut. kemudian aku membukanya dan membacanya perlahan.

Byeonnie-ya,

Aku tahu kau pasti terkejut membaca undangan pernikahanku itu. Maafkan aku. Maafkan aku karena mempermainkan perasaanmu. Aku, aku memang bukan laki-laki yang baik. Aku hanya laki-laki bodoh yang tidak berani mengungkapkan cintaku serta memerjuangkannya hingga akhir waktu. Aku hanya laki-laki pengecut yang lari dari masalahku dan malah membuat dirinya sendiri menyesal seumur hidup.

“Ya, kau memang laki-laki paling bodoh yang pernah aku temui di dunia ini, Yu Ba Rom!”

 

Setahun lalu, sebenarnya dengan sengaja aku telah menukar gelas kopi yang kita pesan bersamaan di cafe. Dengan harapan aku akan bisa berbincang denganmu. Sejak saat itu aku tahu aku menyukaimu. Aku tahu kita akan bertambah dekat, aku tahu kau menganggapku seperti kakak bagimu tapi tidak denganku. Aku menyukaimu sebagai seorang wanita, bukan sebagai adik.

“Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!”

Kau tahu ketika kau bilang padaku kau menyukai seseorang? Aku langsung berlari karena aku tidak ingin mendengar kau menyebutkan nama orang lain saat itu. Aku tidak ingin menerima kenyataan bahwa aku bukanlah orang yang ada di hatimu. Aku tidak ingin mendengar ceritamu jika kau hanya akan menyebutkan nama orang lain sebagai orang yang kau sukai.

“Yang ada dalam ceritaku memang kau, bodoh!”

Setelah itu aku memutuskan pergi ke Roma. Di sana memang ada perlombaan fotografi bertema kopi dan aku tahu aku harus mengambil kesempatan itu. Aku sengaja tidak memberitahumu, karena aku pikir aku ingin fokus pada dunia fotografi itu. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku adalah seorang fotografer hebat yang bisa kau andalkan. Tapi aku salah. Aku bukan fotografer hebat seperti yang ingin kutunjukkan padamu. Maafkan aku.

Kemudian aku kembali ke Seoul tanpa memberitahukanmu. Aku berkenalan dengan seorang wanita bernama Heo Min Ah. Aku menjalani hubungan dengannya dengan harapan aku dapat melupakanmu, berharap ia dapat menggantikan posisimu dalam hatiku. Tapi aku sadar aku tidak bisa, Byeonnie-ya. Maka dari itu aku mengaitkan kedua gembok dengan inisial namaku dan namamu di Namsan, berharap suatu hari aku akan menunjukkanmu itu sekaligus mengungkapkan semua perasaanku padamu.

Suatu ketika aku mengetahui semuanya, Byeonnie-ya. Ray menceritakan semuanya padaku ketika aku kembali ke Eropa. Tentangmu, tentang kau dan aku. Dan seperti biasa, penyesalan selalu saja datang belakangan. Aku tidak dapat mencegahnya untuk datang. Ketika aku tahu semuanya, aku sudah tidak bisa lagi mundur dari jalan yang sudah aku pijak. Aku akan menikah. Ya, dengan gadis yang kupikir dapat menggantikan posisimu tapi ternyata tidak. Gadis itu, usianya tidak akan lama lagi dan ia sangat mencintaiku. Aku akan menikahinya. Aku sudah berjanji dan sebagai laki-laki aku tidak akan mengingkarinya.

Seharusnya aku mengetahuinya sejak awal, Byeonnie-ya. Tapi aku terlalu pengecut untuk menanyakan semuanya. Maafkan aku. Hal terakhir yang bisa kulakukan adalah mengungkapkan perasaanku padamu dan menunjukkan bukti cintaku. Bukti dari cinta yang tidak akan pernah termakan oleh waktu. Aku akan selalu mencintaimu, dengan atau tanpa Min Ah di sisiku. Maafkan aku, aku tidak berniat membagi cintaku dengan kalian berdua. Percayalah perasaan ini hanya untukmu. Maafkan aku karena tidak bisa membuktikan semuanya lebih dari ini. Selamat tinggal, Byeonnie-ya. Semoga kau mendapatkan seseorang yang benar-benar dapat menggantikan diriku di hatimu.

P.S. : Kalau kau sempat, datanglah ke pesta pernikahanku di Roma nanti. Aku menunggumu.

– Rome –

Aku melipat surat yang baru kubaca dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Aku tertawa kecil seraya menghapus air mataku yang berlelehan melewati kedua pipiku kemudian menyesap espresso di cangkirku. Rasanya pahit, encer dan hambar. Persis seperti hati yang ditinggalkan karena terlambat dan tidak berani mengatakan semuanya. Pahit. Hambar.

Terima kasih, Rome. Terima kasih untuk semua rasa yang pernah kau torehkan untuk hatiku. Kurasa kali ini kopiku memang tidak sedang tertukar.

***

EPILOGUE

“Haebyeon datang ke Roma untuk mencarimu.”

“Benarkah?”

“Kau ini terlalu bodoh, hyeong! Kau tidak pernah berkata yang sejujurnya pada Haebyeon. Bahkan tentang perasaanmu sekalipun!”

Rome mencibir. Ia tahu ia memang pengecut. Tapi ia tahu ia juga menyayangi Haebyeon dengan segenap perasaannya.

“Kau tahu aku sengaja menukar gelas kopi kami saat pertemuan pertama? Ia memandangku sangat lekat saat itu, seolah-olah aku adalah seorang dewa yang baru saja turun dari langit. Wajah polosnya yang murni membuatku menyukainya pada pandangan pertama. Itulah yang membuatku rela menukar kopi kami untuk mendapat kesempatan bicara dengannya.

Kau tahu, aku sangat takut saat ia pernah berkata bahwa ia menyukai seseorang. Bagaimana jika orang yang ia sukai bukan aku? Bagaimana kalau ia justru menyukai sahabat-sahabatku yang pernah kukenalkan padanya atau malah ia menyukaimu?”

“Aku ini sepupunya, bodoh!”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bukan?” Rome menarik napas panjang kemudian menyesap kopi di atas mejanya.

“Saat itu ia sudah menyukaimu. Bahkan sebelum itu. Bahkan saat pertemuan pertama kalian!”

Rome meletakkan cangkirnya di atas meja kemudian menatap Ray lekat. “Kau tidak sedang bercanda?”

“Untuk apa aku bercanda? Bodoh! Kau membuatnya menunggu begitu lama, hyeong.”

“Aku tidak pernah tahu ia menyukaiku. Yang kutahu ia menyukai seseorang.”

“Dan seseorang itu kau!”

“Kau tahu, aku ingin sekali membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi seorang fotografer terkenal. Namun ketika aku sedang berusaha keras di sini, Tuhan memberikanku rintangan. Mataku, aku harus menjalani operasi mata karena lensa mataku rusak. Aku terlalu sering berada di ruang foto dan radiasinya menyebabkan mataku rusak. Itulah sebabnya aku tak lagi sering menangkap gambar dengan kameraku. Aku gagal. Gagal menunjukkan kesuksesanku pada Haebyeon, Ray.

Dan sekarang. Aku baru mengetahui semuanya sekarang saat ia sudah mencariku jauh-jauh ke Roma. Pencarian yang sia-sia. Semua tidak ada artinya sekarang, Ray. Bahkan jika ia benar-benar datang kepadaku, aku tidak akan bisa membalas semuanya. Aku benar-benar laki-laki paling bodoh.”

“Apa masalahmu sekarang?” Ray bertanya pelan.

“Aku akan segera menikahi Min Ah.”

Pandangan Ray seolah bertanya mengenai siapa itu Min Ah. Mengapa Rome harus menikahinya?

“Aku menemuinya di rumah sakit. Kanker usus, stadium akhir dan vonisnya hanya tinggal dua minggu lagi. Ia jatuh cinta padaku, ia mengatakannya. Minah mengatakan ingin sekali menikah dengan orang yang dicintainya sebelum ia meninggal dunia dan aku, aku hanyalah seorang laki-laki yang ingin menolongnya. Tidak lebih.”

“Tapi kau masih harus menolong dirimu sendiri, hyeong,” celetuk Ray.

“Aku memang menyesal, Ray. Aku tahu seharusnya aku pergi mendapatkan Haebyeon tapi aku tidak bisa mengingkari janji pada Minah dan juga diriku sendiri. Setidaknya kali ini aku ingin melihat Minah terlebih dahulu bahagia. Hal yang bisa aku lakukan untuk Haebyeon adalah mengungkapkan yang sejujurnya, sekaligus menunjukkan semua yang sudah kulakukan demi perasaanku. Aku tidak bisa berbuat lebih.” Rome menundukkan kepalanya. Terlalu sakit. Terlalu banyak yang ia simpan dalam dadanya sehingga membuatnya sangat sesak.

“Apa yang bisa kubantu sekarang?” Ray bertanya dengan nada sangat tulus, ia membuat Rome mengangkat kembali kepalanya dan menatap Ray.

“Temui aku dengan Haebyeon dan biarkan aku mengisi hari-hariku dengannya. Meskipun waktu yang dapat kami habiskan dapat dihitung dengan jari, Ray. Yang aku ingin hanyalah kejujuran. Aku hanya ingin berkata jujur kepadanya.”

“Hanya itu, hyeong?”

“Ya, itu saja sudah lebih dari cukup untuk laki-laki sepertiku.”

-THE END-

* ROME E IL CAFFÈ = ROME AND COFFEE

Advertisements

62 thoughts on “C-Clown Coffee Taste – Rome’s Story

  1. ngamokkkk ngamokkk T______T
    wkwkwkw kenapa end nya sprti itu?
    tp yasudahlah~overall cerita km bagus :’)
    oh yaa tp mnrutku ad bbrp paragraf yg kek kepanjangan gitu 😀 akan lbh baik jika unnie pakein enter hehe >.<
    (y)

    1. Hehehe. Jangan ngamuk dong ><
      Makasih yaa udah mau baca. Hmm, mungkin karena FF ini pakai sudut pandang orang pertama jadi aku lebih banyak pakai format deskripsi di paragraf tapi terima kasih atas sarannya yaa.. 😀

  2. melodrama, uri baby rome :*
    kurang seru thor cz ga ada antagonisnya XD -rome tidak termasuk-
    ceritanya bagus, hanya deskripsinya kurang greget 🙂
    tetap berkarya okay 🙂

  3. Hua… T.T
    author nyesek banget, ini ff bias ku yg pertama ku baca, dan sensasinya itu ‘WOW’ thor…
    Kenapa nyesek gini coba..
    DAEBAK Thor..!!

  4. Idiiiiiiiiiw. Bete banget ( – – )bet bet bet bete *lemparauthor *dilemparbalik
    Ah hampir emosi nih thor ck ya sudahlah
    Ini diantara c-clown coffee ini ini ya yg sdt org pertama ya? Agak jetlag bacanya soalnya sbelumnya baca sdt pdg ke 3, dan ini termasuk yg singkat. Padet tp ga jelas ending, aaaaaaa jd gregetan
    *masih emosi gt*
    #keepwritinghwaiting

  5. Hallo, salam kenal buat authornya 🙂 lg iseng berkeliaran nyari ff dan berakhir baca ff ini. Two thumbs up! Suka dgn pilihan katanya dan alurnya and the ending of course. Kadang sad ending memang lebih baik daripada happy ending yg terkensan maksa hehehe keep writing. Boleh mampir ke blog ku kl lg nganggur ya thor 🙂

    1. Halo halo! ^^
      Makasih ya sudah mampir. Hehehe.. Yap, kadang sad ending emang lebih kece sih. Kan realitanya memang gak semua hal akan berakhir bahagia. Hehehe. 😀
      Oke.. Nanti aku mampir2 deh. Salam kenal yaaa ^^

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s