C-Clown Coffee Taste – Ray’s Story


It’s MINE. What’s YOURS?

Author : neys |Casts : C-Clown’s Ray (Kim Hyun-il/ Ray), Song Min Ra [OC], Song Joong Ki |Genre : Romance | Length : One Shot | Rating : General

Disclaimer : I do not own the character except Song Min Ra. All story and plot are mine. Do not bashing and do not copy without my permission.

– neys’s Storyline © 2013 –

Karena definisi bahagia setiap manusia berbeda.

Plantage Muidergracht 31-35.”

Sebuah taksi melaju dengan kecepatan sedang, membelah lalu lintas kota Amsterdam yang tidak terlalu padat pagi itu, membawa sang penumpang ke alamat yang baru saja disebutkan.

Uap panas masih mengepul dari gelas kopi yang sepertinya masih enggan untuk dinikmati oleh pemiliknya. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Hingga tiga puluh detik berlalu, isi gelas itu masih bertahan di tempatnya. Bukankah kopi akan terasa lebih nikmat jika masih hangat? Tapi bahkan sang pemilik hanya menggenggam sekenanya, seolah tidak memiliki niat sedikitpun untuk sekedar mencicipinya.

Ray, penumpang yang sedari tadi diam itu memberikan sejumlah uang sesuai dengan angka yang tertera di argo lalu keluar setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dalam bahasa Belanda yang dibalas dengan senyum ramah sang supir. Pria itu berjalan perlahan, lengkap dengan raut wajah yang tak terbaca – campuran antara cemas dan mendamba, tidak seperti biasanya karena Ray terkenal dengan sikap cerianya kapanpun dan di manapun.

Ray memutar kenop pintu ragu, sekali ini dalam hidupnya ia merasa tidak ingin bertemu dengan seseorang yang saat ini tengah menunggunya di dalam. Ia sungguh kaget saat tadi menerima telepon dari Kangjun, teman berbagi apartemennya itu.

“Pulanglah, ada seorang gadis yang mencarimu,” ucap Kangjun begitu Ray menjawab panggilannya.

“Seorang gadis? Siapa?” tanya Ray di seberang. Heran, seingatnya dia tidak pernah memberitahu tempat tinggalnya pada teman-temannya, terutama seorang gadis.

“Hyun-ah…,” panggil gadis itu, yang sebelumnya memberi isyarat pada Kangjun untuk mengoper ponsel itu padanya.

Hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu. Hanya gadis itu…

Ray bersyukur tidak harus disuguhi dengan pemandangan wajah gadis itu saat ia membuka pintu. Karena ia memang harus naik tangga terlebih dahulu agar sampai di ruang tamunya. Ray melangkah dengan gontai, menyusuri setiap anak tangga dengan enggan. Saat akhirnya Ray berdiri di anak tangga terakhir, gadis itu menoleh. Ray berusaha tersenyum saat melihat gadis itu bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. Gadis itu menghambur ke dalam pelukannya lalu berkata, “Aku merindukanmu, Hyun-ah. Sangat merindukanmu.”

Ray memalingkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang hendak menyeruak. Ia memang merindukan gadis yang sekarang tengah memeluknya dengan begitu erat ini tapi, tidak. Tidak karena ia belum siap bertemu dengannya, belum dengan kondisi hatinya yang masih terluka.

Seberapapun kuat Ray menahan diri, pada akhirnya ia menyerah. Ia membalas pelukan gadis itu dengan sebelah tangannya yang bebas, mengusap punggung gadis itu lembut, berusaha menyalurkan rasa rindu yang selama ini selalu ia tahan seorang diri.

“Kau tak pernah bilang kau tinggal di sini bersama orang lain. Aku kaget sekali tadi saat melihat orang lain yang membukakan pintu untukku.” Gadis itu memprotes kebisuan Ray selama ini. Ray hanya pernah menghubunginya sekali, beberapa hari setelah ia menempati apartemennya sekarang. Ia menginformasikan alamatnya pada gadis itu, sekedar basa-basi sebenarnya karena Ray yakin gadis itu tidak mungkin mengunjunginya di Amsterdam.

“Maaf. Aku tidak menyangka kau akan datang ke sini.”

Gadis itu melepaskan pelukannya lalu merebut gelas kopi dari genggaman Ray. Ia menyipitkan matanya lalu mencubit gemas pipi Ray. “Kau selalu seperti itu dan…sejak kapan namamu berubah menjadi Ray?”

Ray mengendikkan bahunya lalu berjalan melalui gadis itu, lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Ini Belanda, aku hanya memudahkan orang lain untuk memanggilku. Nama Hyun-il terlalu susah untuk lidah mereka, Noona.”

“Kau sendiri, ada perlu apa di Belanda?” tanya Ray setelah beberapa saat kebisuan melanda mereka. Gadis itu – Song Min Ra yang sudah mengikuti jejak Ray untuk duduk di sofa, menghentikan aktifitas minum kopinya lalu mengatupkan kedua bibirnya, tampak berpikir. “Entahlah, aku sendiri tidak begitu yakin dengan alasanku tapi yang pasti aku merindukanmu, aku ingin menemukan kembali Hyun-ku yang menghilang dua bulan ini.”

“Berhentilah mengklaim diriku sebagai milikmu, kau lupa pada kekasihmu yang super tampan itu hah?”

Min Ra tercenung saat mendengar kata-kata Ray. Kekasihnya yang super tampan? Kekasihnya yang mana? Kekasih yang ternyata hanya menjadikan dirinya pelarian tapi ternyata tidak pernah melupakan mantan kekasihnya yang berkhianat? Kekasih yang setengah mati ia cintai tapi ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya itu? Kekasih yang itu maksudnya?

“Jangan mengalihkan pembicaraan, bocah manis. Bagaimana kehidupanmu selama dua bulan ini? Kau tidak merindukan noona-mu yang cantik ini?”

Ray mendengus lalu tersenyum mengejek. Apa dia gila sampai-sampai dia tidak merindukan gadis yang ia cintai? Kalau ia memiliki sedikit, ya sedikit saja keberanian tentu saja ia akan mengatakan bahwa sebenarnya ia sangat merindukan Min Ra.

Min Ra memutar tubuhnya, mengamati apartemen yang Ray tempati. Tadi ia merasa tidak leluasa untuk terang-terangan menjelajah setiap inchi apartemen itu mengingat Kangjun masih berada di ruangan yang sama dengannya sebelum akhirnya memilih untuk pergi beberapa menit sebelum Ray datang.

Ada tiga jendela besar di sisi kiri sofa tempatnya duduk, memperlihatkan pemandangan kota Amsterdam yang hari itu tampak cerah. Sementara di sisi kanannya terdapat sebuah dapur kecil yang berdampingan dengan meja makan. Ada sesuatu yang membuat Min Ra menatap dapur itu lama-lama. Ia beranjak dari tempat duduknya, menghampiri sesuatu yang menarik minatnya.

“Kau bilang kau akan berhenti membuat dan minum kopi, tapi apa yang kutemukan di sini?” tanya Min Ra sambil menunjuk sebuah coffee machine yang terletak di salah satu sudut rak.

“Aku memang sudah berhenti menjadi pecinta kopi. Itu milik Kangjun, jadi kau jangan senang dulu. Aku masih pada pendirianku.”

Min Ra memicingkan matanya, menatap Ray intens. Ia ingat betul bagaimana dua bulan lalu tiba-tiba Ray mengatakan akan pergi ke Belanda untuk melanjutkan kuliahnya dan mengatakan jika ia akan berhenti dari seluruh aktifitasnya sebagai barista. Tentu saja Min Ra kecewa, Ray bukan hanya sekedar seseorang yang sudah ia anggap sebagai barista pribadinya tapi juga sebagai seseorang yang memiliki tempat khusus di hatinya. Mereka bukan baru satu atau dua tahun saling mengenal, lebih dari itu tentu saja. Ray adalah tetangganya, resmi menjadi tetangganya saat Ray lahir dan Min Ra berusia tiga tahun. Min Ra yang saat itu merupakan anak tunggal merasa sangat senang, seolah mendapatkan seorang adik yang memang sudah ia dambakan.

Sembilan belas tahun hidup berdampingan sebagai tetangga tentu bukan waktu yang sebentar. Tumbuh besar bersama, melakukan banyak hal bersama hingga akhirnya sama-sama menemukan mimpi mereka bersama, menjadi seorang barista handal.

Ray dan Min Ra belajar bagaimana membuat kopi dengan benar, bagaimana membuat kopi dengan hati sebagaimana mereka mencintai cita rasa kopi itu sendiri. Perlahan-lahan langkah mereka untuk menjadi seorang barista mulai maju. Ray beberapa kali menjuarai kompetisi antar barista yang di adakan di Korea Selatan sementara Min Ra kebanyakan lebih memilih untuk mendukung Ray. Ia memang mencintai profesinya sebagai seorang barista tapi ia merasa jauh lebih nikmat hanya dengan menjadi seorang penikmat kopi, terlebih buatan Ray.

Hingga saat dimana mereka mulai mengenal sesuatu yang bernama cinta, semua mimpi dan kebersamaan yang mereka bangun selama ini menjadi seolah kasat mata. Tidak ada lagi Min Ra yang menjadi penikmat pertama kopi racikan baru yang Ray buat dan tidak ada lagi gairah bagi Ray untuk melanjutkan semua usahanya.

Bohong jika Ray mengatakan ia menjadi seorang barista semata-mata karena Min Ra tapi, pun bohong juga jika Ray mengatakan Min Ra tidak berperan. Min Ra dan barista adalah dua hal yang sama-sama ia cintai hingga  akhirnya di suatu waktu hatinya lebih memilih untuk berhenti. Sesuatu yang membuatnya merasa kalah bahkan sebelum sempat memperjuangkan cintanya. Ia ingin berhenti mencintai Min Ra sekaligus berhenti mencintai profesinya sebagai barista karena mengingat kopi sama artinya dengan mengingat gadis itu.

“Aku benar-benar tidak mengerti, kau melepaskan cita-citamu begitu saja. Aku tahu betapa kau sangat menyukai profesimu itu.”

“Kau sendiri, kenapa berhenti?” Ray balik bertanya. Ia memang tidak pernah tahu apa alasan di balik hengkangnya Min Ra dari setiap kompetisi antar barista yang sebelumnya kerap ia ikuti.

Min Ra tersenyum. “Aku hanya menemukan sebuah fakta di mana aku lebih menyukai menjadi seorang penikmat bukan peracik. Aku bisa merasakan lidahku bereaksi puas setiap kali mencicipi kopi buatanmu. Sementara saat aku membuat kopi, aku hanya merasa bahwa aktifitas itu adalah sesuatu yang menantang. Sementara untukmu, aku jelas tahu makna kopi untukmu tidak sedangkal itu kan?”

Ray mendengus, tapi hatinya mengatakan yang sebaliknya. “Jangan sok tahu.”

= n = e = y = s =

Noona-ya, menurutmu bahagia itu apa?”

Min Ra tersenyum lalu mengeratkan gandengan tangannya dengan Ray. Sore itu, masih di hari yang sama, mereka tengah menikmati sore hari dengan berjalan kaki di sekitar jalan Damrak, tentunya setelah sebelumnya puas melihat-lihat isi dari Madame Tussaud Museum serta mencicipi beragam makanan yang di jual di sepanjang kios yang berjajar di sana.

“Bahagia itu…secangkir kopi buatanmu di pagi hari.”

Ray tersenyum mendengar jawaban Min Ra. “Maaf.”

“Tidak apa-apa, mungkin aku harus belajar memulai hariku tanpa kopimu. Mungkin aku harus mulai mencari-cari kebahagiaanku yang lain.”

Ray menghentikan langkahnya lalu menghadap Min Ra. “Apa maksudmu, Noona? Joongki hyung… Dia… Kau bahagia kan dengannya?”

Min Ra mengedipkan sebelah matanya lalu menepuk pelan pipi Ray. “Aigo~ uri Hyun-ah mengkhawatirkanku rupanya.”

Min Ra memutar kembali tubuhnya, mengajak Ray untuk kembali berjalan. Mereka berdua terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Min Ra tentu saja ingin menjawab pertanyaan Ray barusan dengan sebuah anggukan kepala yang meyakinkan tapi bagaimana jika ia sendiri ragu dengan kebahagiaannya bersama seorang pria yang saat ini masih berstatus sebagai kekasihnya itu?

Joong-ah… Aku bahkan tidak tahu apa aku benar-benar bahagia saat bersamamu.

Aku harap dia benar-benar bisa membahagiakanmu, Noona.

“Maaf.” Suara Min Ra terdengar memecah keheningan. “Maafkan aku karena mengabaikanmu demi Joong. Aku benar-benar menyesal karena tidak lagi selalu ada saat kau meracik kopi baru.”

“Kembalilah ke Seoul, Hyun. Kau bisa melanjutkan kuliahmu di sana kan? Kau bisa kembali mengejar mimpimu sebagai barista bersamaku.”

“Aku tidak bisa, Noona. Aku ingin kembali tapi, aku tidak bisa. Maaf.”

“Yang perlu kau lakukan hanyalah kembali mencoba. Aku tidak memintanya untuk diriku. Aku memintanya demi dirimu sendiri, Hyun.”

“Maafkan aku, Noona.”

= n = e = y = s =

“Kau ini pura-pura lupa atau bagaimana sih?” tanya Min Ra setengah menyindir pada Ray yang saat ini berkutat dengan coffee machine di hadapannya.

Min Ra mengetuk kepala Ray pelan yang reflek membuat pria itu mengaduh ketika ia kembali menambahkan kopi ke dalam campuran kopi yang hendak dibuat. “Kau pikir kita sedang membuat kopi apa, Hyun? Latte. Mau kau tambah kopi berapa banyak lagi?”

Ray menoleh sekilas sebelum akhirnya mengembalikan kopi yang baru saja ia tuang ke dalam tempatnya. Bukan, bukannya ia lupa kalau saat ini ia hendak membuat secangkir coffee latte untuk Min Ra. Bukan juga lupa bahwa coffee latte berarti campuran susu dan kopi dengan perbandingan 3:1. Ia hanya ingin mengatakan pada Min Ra betapa pahitnya hatinya kini lewat cita rasa kopi yang ia buat untuk Min Ra.

Coffee latte adalah kopi favorit Min Ra sekaligus kopi pertama yang Ray buat untuk Min Ra. Ia tentu tidak akan lupa bagaimana cara membuat kopi satu itu jika setengah dari kwantitas kopi yang pernah ia buat merupakan coffe latte yang ia buat secara khusus untuk gadis itu. Coffee latte, menu wajib gadis itu di setiap paginya.

Ray menghembuskan nafas, perwakilan dari keengganannya untuk menyentuh kopi lebih lama lagi. Ia bergegas membuat kopi itu dengan takaran biasanya lalu menyerahkannya pada Min Ra. Min Ra yang menerima uluran tangan Ray itu mengaduh saat tangannya beradu dengan cangkir kopi yang masih panas.

“Aw!”

Ray menarik tangan Min Ra lalu membimbingnya menuju wastafel untuk menyiramnya dengan air dingin lalu mengeringkannya dengan lap yang tersampir di rak susun sebelahnya. Tanpa segan ia kembali mengamati kedua telapak tangan gadis itu, berusaha memastikan jika suhu panas kopi tadi masih dalam taraf wajar.

Min Ra berusaha menarik tangannya, menghindari kontak fisik yang terlalu lama dan intens dengan lelaki lain, setidaknya begitulah pesan kekasihnya dulu. Dulu, saat Min Ra masih yakin bahwa kekasihnya itu tulus mencintainya seorang. Tapi sepertinya Ray belum berniat melepaskannya, ia menahan kedua tangan Min Ra lalu menggenggamnya.

“Kau benar-benar ingin aku kembali ke Seoul?” tanya Ray. Min Ra mengerjapkan kedua matanya. Benarkah Hyun-nya baru saja bertanya mengenai keinginannya agar dia kembali? Benarkah? Gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.

Ray memamerkan senyumnya lalu tangannya beralih untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Min Ra lalu berkata, “Noona… Tidak bisakah kau tinggal lebih lama di sini? Tiga hari akan berlalu begitu cepat, sekarang sudah hari kedua.”

Min ra menggeleng, masih dalam pelukan Ray.

Noona, ucapanku kemarin padamu itu sungguh-sungguh.” Ray tiba-tiba saja mengganti topik pembicaraannya. Kemarin, saat Ray berkata bahwa rasa sayangnya pada Min Ra tidaklah semurni yang gadis itu duga sebelumnya.

Min Ra menggigit bibirnya, kehilangan kata-kata untuk sekedar membalas kata-kata Ray yang tiba-tiba itu. Atau lebih tepatnya, ia tidak ingin menjawabnya. Tidak.

= n = e = y = s =

“Demi Tuhan, Joong aku tidak mengerti apa maksudmu!” pekik Min Ra pada Joongki yang saat ini tersambung melalui panggilan telepon.

“Aku hanya mengunjungi Hyun, tidak lebih. Kenapa kau mencurigaiku macam-macam? Bukankah seharusnya aku yang meragukan apakah dirimu pergi menemui mantan kekasihmu atau tidak. Berhentilah bertingkah konyol seperti ini, Joong. Aku lelah.”

Min Ra mengusap air matanya, ia tidak pernah bertengkar sampai seperti ini sebelumnya. Tidak pernah Joongki mengucapkan kata-kata kasar padanya meskipun intensitas pertengkaran mereka terbilang banyak, terkecuali hari ini.

Derit pintu di lantai bawah membuat Min Ra sadar jika ia harus segera menutup teleponnya jika tidak ingin membuat Ray khawatir. Min Ra dan Ray baru saja hendak berangkat ke mini market bersama kalau saja Joongki tidak meneleponnya tadi. Pembicaraan yang awalnya menanyakan kabar menjadi pertengkaran saat akhirnya Joongki mengetahui jika semalam Min Ra menginap di apartemen Ray. Bukan sengaja sebenarnya karena semalam Ray, Min Ra dan Kangjun menghabiskan malam bersama dengan menonton film bersama. Ritual perpisahan ala Kangjun sebelum Min Ra pulang ke Seoul siang ini.

Min Ra beranjak dari duduknya, sedikit tergesa masuk ke dalam kamar mandi lalu beringsut masuk ke dalam shower box.

 “Kau menginap di apartemen Ray? Kau ingin aku percaya padamu tapi kau bertingkah murahan seperti itu di belakangku? Kau gila, nona Song.”

Kata-kata itu seolah memiliki fasilitas replay otomatis di dalam otak Min Ra membuat gadis itu menangis semakin tersedu. Disebut murahan oleh kekasih sendiri, tidakkah itu keterlaluan? Hati wanita mana yang tidak akan tersakiti saat seseorang yang ia harapkan untuk melimpahinya dengan cinta tapi malah menuduhnya dengan kata-kata kasar seperti itu.

“Oh c’mon nona Song, kau sengaja mengungkit-ungkit tentang mantan kekasihku hanya untuk menutupi kesalahanmu sendiri kan? Picik sekali pikiranmu?”

Min Ra menggigit kukunya, masih sambil menangis di bawah guyuran air yang sesungguhnya sangat menyesakkan karena membuatnya susah bernafas. Sayup-sayup ia dapat mendengar Ray memanggilnya. Min Ra duduk di salah satu sudut, membasahi tubuhnya dengan air shower yang sengaja ia nyalakan besar-besar. Ia tahu cepat atau lambat Ray akan menyadari kejanggalannya tapi ia tidak peduli, ia ingin berhenti menangis tapi air matanya terus-terusan mengkhianati kehendaknya.

Noona? Apa kau ada di dalam?”

Noona?”

Noona?”

Noona?”

Min Ra membekap mulutnya, berusaha meredam suara tangisannya.

Noona? Aku  tahu kau ada di dalam.”

“Aku…aku baik-baik saja, Hyun,” jawab Min Ra yang tentu saja sangat kentara jika ia tengah dalam keadaan yang tidak pantas jika disebut baik-baik saja.

Ray memutar kenop pintu kamar mandi yang rupanya terlewatkan oleh Min Ra. Begitu pintu terbuka Ray langsung disuguhi pemandangan yang tidak ia duga-duga. Ia berjalan cepat, menghampiri Min Ra. Ia mematikan air shower lalu merapikan rambut Min Ra yang menutupi wajahnya. Pria itu menghapus air mata yang masih terus menetes dari kedua mata Min Ra.

Noona…”

Ray merengkuh Min Ra ke dalam pelukan posesifnya. Pelukannya begitu erat seakan tidak rela untuk melepasnya. Tubuh basah Min Ra menempel sempurna dengan tubuh Ray, membuat pakaian Ray mau tidak mau ikut basah karenanya.

Noona… Apa yang terjadi?”

Mengetahui Min Ra yang Nampak enggan untuk menjawab pertanyaannya, Ray lebih memilih untuk menenangkan gadis itu. Ia mengusap punggung Min Ra perlahan sambil sesekali mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Cukup lama Min Ra menangis di pelukan Ray. Sebuah pelukan yang membuatnya begitu aman. Ia mengangkat wajahnya lalu berkata dengan lirih, “Terima kasih.”

Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Ray meraih kedua pipi Min Ra dengan kedua tangannya lembut, mengusapnya perlahan sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya. Min Ra memejamkan matanya saat bibir Ray menyentuh bibirnya. Hangat. Ciuman yang membuat hatinya tenang seketika. Detik berikutnya, bibir Min Ra bergerak membalas ciuman Ray.

Ray memperdalam ciumannya saat mendapati Min Ra membalas ciumannya. Min Ra mengalungkan tangannya ke leher Ray, mempersempit jarak di antara mereka. Min Ra tersenyum di sela-sela ciuman mereka, merasa ciumannya kali ini terasa berbeda dengan ciuman-ciuman yang pernah ia rasakan sebelumnya, begitu memabukkan tapi membuatnya enggan berhenti. Ciuman ini begitu berbeda dengan ciuman Joongki yang biasanya.

Joongki.

Ada sejumput rasa dingin yang tiba-tiba mencuat di tengah ciuman mereka ketika nama itu muncul di pikiran Min Ra, mengembalikan kesadaran Min Ra. Ia melepaskan tautan bibirnya dengan Ray, sedikit mendorong dada Ray supaya menjauh darinya. Ia mengusap wajahnya frustrasi sebelum berseru, “Damn! Apa yang baru saja kita lakukan? Demi Tuhan, aku baru saja mengkhianati Joong!”

Noona…,” panggil Ray lirih.

= n = e = y = s =

Min Ra mengeratkan genggamannya pada sebuah mp4 yang baru saja Ray berikan untuknya, sesaat sebelum ia check in di bandara tadi. Ray memberikannya dan hanya menyuruhnya untuk mendengarkan sebuah lagu yang sudah sengaja ia masukkan di sana.

Far away.

In case you go far away, in case you might dislike me
I wanted to tell you but my lips
Would not move
 

Without knowing, I call your name
When I see you, my heart trembles
From the start, I was attracted to your eyes
It’s been a while since I started liking you

Honestly, I know you’re too good for me
If it’s not you, I don’t need any other girl, baby

Do you really like that person?
That guy doesn’t know how to love you
I would be a better fit than that guy next to you

Do you really like that love?
I’ll wipe away your tears for you
Don’t cry and come to me, but I know

In case you go far away, in case you might dislike me
I wanted to tell you but my lips
Would not move

In case you go far away, I am scared
What if our relationship gets really awkward
And we grow far apart?

Move now, just disappear because it’s too hard to see you
If I let you go like this, I’ll regret it forever
Anyone can see that guy is a bad boy who will make you struggle
I’ll treat you better baby
My heart is bruised at the thought of you getting far away
But in your eyes, there’s another guy
I wanna break down, I wanna break down, I’m sorry

Do you really like that love?
You don’t look happy
I want you to be happy even just for a moment

Do you really like that person?
I’ll wipe away your tears for you
Don’t cry and come to me, but I know

In case you go far away, in case you might dislike me
I wanted to tell you but my lips
Would not move

In case you go far away, I am scared
What if our relationship gets really awkward
And we grow far apart?

I don’t know I I don’t know
I don’t know what I’m feeling
I don’t know I I don’t know
I don’t know what I’m doing

I only know you alone
If it’s not you, I really might go crazy

Today, I want to tell you
(I want to tell you but it’s not easy)
Today, I want to tell you
I want to just say it but I know I can’t do it

I’m so frustrated, I can see that you’re lost
At the thought of being alone with you
I get happy – but actually I was surprised
I didn’t know that you weren’t there by my side
(I want to be by your side every day
Every day, I want to hear your voice)
Without anyone knowing, come to me and hold my hand

In case you go far away, in case you might dislike me
I wanted to tell you but my lips
Would not move

In case you go far away, I am scared
What if our relationship gets really awkward
And we grow far apart?

“Hubungan kita tidak pernah sesederhana itu, Noona.”

Lagi. Tiga hari berada di Amsterdam rupanya berhasil membuat Min Ra seolah memiliki fasilitas replay di otaknya yang kerap kali memutar ulang kejadian ataupun kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia ingat kembali.

Lagu itu. Kata-kata itu. Itu pasti bukan tanpa maksud kan? itu pasti bukan hanya faktor kebetulan atau iseng semata bukan? Min Ra tentu saja tidak sebodoh itu sampai tidak menangkap arti dari semua rentetan kejadian antara dirinya dan Ray tiga hari ini.

Min Ra menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Adakah rasa hatinya kian selaras dengan milik Ray?

= n = e = y = s =

Min Ra menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha mengusir dingin yang masih hinggap di tubuhnya sembari menunggu pesanan kopinya diantar. Caffee latte milik Coffee Cojjee adalah yang citarasanya ia anggap paling mendekati dengan yang biasa Ray buat untuknya.

Salju di luar masih turun lebat, menambah lapisan putih yang sudah cukup tebal tapi, tidak pernah seharipun Min Ra melewatkan harinya tanpa secangkir coffee latte café itu.

Lima bulan berlalu, tidak banyak yang berubah dengan kebiasaan Min Ra. Ia masih mengunjungi Coffee Cojjee setiap pagi dan masih berkutat dengan skripsinya. Satu hal yang berbeda adalah perasaannya.

Tiga bulan berlalu sejak ia memutuskan untuk tidak lagi menjadi kekasih dari seorang Song Joongki, ia ingin percaya jika lelaki itu mencintai tapi kenyataan selalu berkata lain, kenyataan selalu mematahkan segala asa dan harapannya sebagai seorang wanita. Kenyataan melumpuhkan cita-citanya untuk bisa membangun rumah tangga bersama dengan pria yang ia cintai itu.

Tiga bulan pula berlalu sejak Ray menawarkan diri untuk menjadi seseorang yang menggantikan setiap kenangan buruk gadis itu dengan kenangan baru yang indah. Tawaran yang justru membuatnya membangun dinding pembatas.

Bukannya ia tidak ingin belajar membuka hati untuk pria itu, hanya saja setiap kali mengingat Ray maka setiap kali itu pula ia merasa bersalah atas kejadian lalu saat dirinya berada di Amsterdam. Merasa bersalah atas hatinya yang selalu menerima setiap perhatian dari Ray. Merasa bersalah atas rasa nyaman dan hati yang terkadang meletup-letup setiap berdekatan dengan Ray. Merasa bersalah atas selingkuh yang telah hatinya lakukan tanpa ia rencanakan sebelumnya.

Min Ra menyesap kopinya seteguk tanpa menoleh pada seseorang yang baru saja meletakkannya di mejanya.

Rasa kopi ini.

Min Ra segera menoleh, tertegun saat mendapati seseorang yang baru saja ia pikirkan kini tengah berdiri di hadapannya.

Ray-nya. Hyun-nya.

Noona…

“Hyun? Kau…kau… Benarkah itu kau?” tanya Min Ra. Ia bangkit berdiri, masih menatap Ray tidak percaya.

Ray mengangguk sekilas sambil tersenyum. Senyum yang sejujurnya begitu Min Ra rindukan. Tiga bulan menghindari semua kontak dari Ray bukan perkara mudah. Ia hanya bisa membalas senyuman itu dengan kikuk, tidak bisa ia pungkiri ada sebagian dari hatinya yang menyuruhnya untuk menghambur ke dalam pelukan pria itu.

 “Hyun-ah…”

Min Ra tidak lagi dapat menahan kerinduannya, ia menghambur ke dalam pelukan Ray saat pria itu membuka lebar kedua tangannya.

Bogoshipoyo, Hyun.”

Na ddo. Na ddo, Noona.

Ray membelai rambut Min Ra lembut lalu mengecup puncak kepalanya. “Noona-ya… Kau pernah bilang bahwa bahagia untukmu adalah secangkir kopi buatanku di pagi hari. Sebegitu cintanyakah kau pada kopi buatanku?”

Ray memejamkan matanya sebelum mengeratkan pelukannya pada Min Ra lalu berkata dengan lirih – sarat akan nada permohonan, “Noona… Tidak bisakah kau belajar mencintaiku seperti kau mencintai kopi?”

Noona… Satu hal yang tidak pernah kau tahu, hal yang menjadi alasanku kembali adalah dirimu. Karena aku begitu mencintaimu, Noona. Aku ingin membuatmu bahagia, aku ingin membuatmu kembali tersenyum. Karena… Melihatmu bahagia, itulah definisi bahagia untukku.

Bagaimana? Thanks ya buat yang udah mau baca. Sebenernya sangat disarankan kalau aja mau baca sambil dengerin lagunya C-Clown yang Far away. Entah kenapa semakin ditulis ini FF ceritanya nyambung sama lirik lagu itu jadi ya akhirnya aku masukin sekalian. Hehehe.

Oh ya, btw… Buat gambaran gimana lebih jelasnya apartemen si Ray, cek link ini ya?

Ray’s Apartment

Terakhir, buat yang belum kenal sama aku, neys di sini.

Salam kenal ya semuanya. ^^

Advertisements

71 thoughts on “C-Clown Coffee Taste – Ray’s Story

  1. hi o/ ffmu bagus meskipun ada beberapa scene yg aku skip krn malas baca>.<
    anyway aku ketawa pas baca ini It’s MINE. What’s YOURS?.
    kayak..iklan indomie. ini ceritaku apa ceritamu? WKEKEKE /ditabok/
    ngmg2 plotnya keren deh :3

  2. Jawab kek iya si minra ini errrrrr
    Hah, joongki jd jahat cih aaaaaaaaaagaaaaaaak ga terima tp ya sudahlah ceritanya bagus sih, sekali2 lah joongki jd org jahat wahahhahahah
    #keepwritinghwaiting

    1. Sorry banget baru bales ya… Aku baru sadar ada komen yang belum aku bales. 🙂
      Iya nih si minra malah nggak jawab ditanyain cowok sekece Ray.
      Joongki jahat ituuu… Bayangin tatapannya di nice guy. Kkk~
      Thank you so much ya! ^^

  3. Di fic ini bener-bener nemu praktek dari kalau galau maka bershowerlah :D. Suka sama ficnya. Ringan namun mengena.

  4. Hallo, salam kenal buat authornya ^^
    ini ff c-clown coffee taste story kedua yang aku baca *sebelumnya rome’s story* dan entah kenapa aku jadi suka dengan c-clown coffee taste story. jadi agak berharap banyak sebenernya sama coffee taste story yang lain.
    suka dengan alurnya. pemilihan katanya juga. Feelnya juga dapet. keep writing ya buat authornya 😀

    1. Hai, salam kenal juga~ Siapa di sana? 🙂
      Jadi gimana, udah baca yang lain kah? Semoga harapannya terwujud ya… hehehe…
      Yaps, thank you so much buat dukungannya… ^^

  5. Hai ce Yunn! Jujur aku ngga tau anak C-Clown sama sekali dan cuma sekedar tau si Joongki. Tapi nggak masalah sih, masih bisa kebawa sama alur ceritanya di sini. Sebenernya dari awal udah nebak kalo Minra bakal jadi sama Ray, tapi gara-gara cara pembawaannya, jadi gak pengen ngelewatin tiap adegan di sini ><
    Rasanya bener-bener kayak minum coffe latte waktu baca ini; hangat, pahit, manis. Semuanya kerasa jadi satu di sini. Kalo tulisan yang lama aja udh bagus gini, apalagi yang baru-baru xD
    Minta rekomen fanfic yang lain ya ce! Lanjut nulis ya ^^

    (Btw, lagu di atas itu lagunya siapa ya? Thanks! Hehe 😁)

    1. Hai tirzaaa~
      Sama… Dari awal kita sepakat bikin project bikin FF pake cast yang kita2 authornya nggak kenal. Akhirnya dari beberapa pilihan terpilihlah C-Clown karena jumlah personilnya juga mendukung sama kita2 yg mau ikutan project. Setelah cece lihat2 membernya, jatuhlah pilihan sama Ray yang cute ini. hahaha!
      Jadi baru deh setelah itu cari tahu tentang mereka, sekalian sama lagu2nya juga.
      Iya, kalo nggak tahu cast-nya ya anggep aja OC semua ya. Kayak baca cerita biasa…
      Thank you so much, za. Aku belum baca ceritamu nih, tunggu komen dariku ya~
      Ini juga nggak lama2 banget sih, setahun lalu tapi termasuk salah satu cerita favoritku.
      Aduh, za… Yang baru2 itu… Jangan berharap terlalu banyak ah, banyak yang kacau juga. lol~
      Itu lagunya C-Clown. Enak kok, za. Coba sekalian nonton MV-nya deh di youtube.
      Skali lagi, thanks ya za udah mampir. Link2 lainnya menyusul ya~ ^^

  6. read again,hihihi.. Halo kak Neys, udah lma nggak komen d ff kakak ni 😀 akhirnya komen d ff ini lgi. nggak bosen baca ff ini udah berulang kali XD
    Anw, masih ingatkah denganku kak? -> calliope.

    1. Inget kok… Kamu pake user ID baru?
      Sbb ya, aku baru buka blog… 🙂

      Ahahaha iyaaa… Ini juga termasuk salah satu FF favoritku… Thanks ya udah baca, sampe ulang2 apalagi… ^^

      1. iya nih kak soalnya id yang lama kesannya gimana gitu/?/ hihi…
        ni ff emang cocok sih d bca berulang” panteslah jdi fav.
        Anw d tunggu karya-karyanya yang lain kak 🙂

        1. Ahahaha… Pilihan nama kamu unik2 tapi kok. Bagus… 🙂
          Wah, bakalan lama kayaknya. Udah lama nggak nulis nih dan belum tau kapan bakalan nulis lagi… Semoga secepatnya deh…

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s