C-Clown Coffee Taste – Kangjun’s Story


C-Clown

A Cup of Bittersweet (Love) Coffee

Author : Rinnaaay | Casts : C-Clown’s Kangjun, Go Han Seo [OC],  |Genre : Romance | Length : One(long)shot | Rating : PG-15

Disclaimer : I do not own the character except Go Han Seo. All story and plot are mine. Do not bashing and do not copy without my permission.

Author’s Note : Annyeong! Di project ini aku kebagian merangkai kepingan kisahnya aKANG JUNed *digaplok yg punya nama* huahahaha. Semoga Kangjun suka bagaimana cara aku memaparkan kisah yg dia ceritain ke aku :p Dan semoga pembaca menikmati juga kisah sederhana ini. Tararengkyu untuk Hayati yg udah bantu aku ‘mengenal’ siapa dan bagaimana Jun. Yeah, walaupun teteeeup disini Jun-nya out of character hehe. Ah, warning! Ini longshot! Happy reading! ^.^

– Rinnaaay’s Storyline © 2013 –

***

Jika Cinta tak selamanya manis, maka Kopi tak selamanya pahit..

.

PROLOGUE

“Lalu bagaimana dengan kisah cinta pertama sang main vocal, hm? Semua pasti penasaran bagaimana salah satu visual C-Clown ini menaklukan hati seorang gadis.” Pembawa acara salah satu reality show itu terkekeh sebentar bersamaan dengan Kang Jun yang hanya tersenyum mendengar gurauan barusan.

“Kisah cinta pertamaku…” Kang Jun berhenti sejenak ketika menyadari kalau kalimatnya membuat seisi studio mendadak hening. Ia menghela napas lalu tersenyum tipis. “Semanis black coffee, sepahit tiramissu coffee.”

Ahjusshi pembawa acara itu menautkan alis. “Ya! Ya! Jangan karena ini acara live, kau jadi gerogi!” serunya lalu tertawa, diikuti oleh semua penonton di studio. “Yang manis itu tiramissu coffee, dan yang pahit justru black coffee!” koreksinya.

Kang Jun ikut tertawa, tapi kemudian menjelaskan. “Tidak selamanya black coffee itu pahit. Begitu juga dengan tiramissu coffe, tidak selamanya ia terasa manis.”

.

.

.

***Start of story***

Seo menghela napas kasar melalui mulutnya, membuat poninya sedikit tergerak terkena terpaan hembusan napasnya. Kemudian setelah menggertakan gigi gemas, ia menoleh. “Ya! Jun-ah! Bisa diam tidak?!” serunya pada namja di belakangnya. Namja yang mengenakan seragam yang sama sepertinya. Namja yang kini berhenti tertawa bersama teman-temannya dan menatap Seo dengan tatapan bertanya.

Mwoya?” tanya Jun—Kang Jun tanpa merasa bersalah.

“Jangan tertawa terlalu keras! Kau mengganggu tidur siangku!”

Jun mengernyit. “Tapi yang tertawa ‘kan bukan hanya aku. Mereka juga tertawa.” Jun menunjuk ketiga temannya yang lain dengan tampang polos—tapi bagi Seo, ekspresi polos itu diartikan sebagai ekspresi menantangnya.

“Tapi suara tertawamu yang paling mengganggu, kau tahu?! Argh, michigetta!” seru Seo lagi sambil kembali menghadap ke depan dan menelungkupkan kepalanya ke meja—melanjutkan tidur siang.

Jun menahan senyum lalu tanpa berniat kembali ikut perdebatan seru dengan teman-temannya tadi, ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan tangan kanannya, ia menarik-narik ujung rambut Seo.

“Seo-ya..” kata Jun pelan. “Seo-ya..” katanya lagi karena tidak mendapat tanggapan dari gadis yang duduk di depannya itu. Tapi bukan Jun namanya kalau ia tidak berhasil menemukan senjata apa yang dapat ia gunakan. “Go Han Seo..”

Ya!

Bingo! Ia berhasil, kan? Ia berhasil membuat Seo menanggapinya—bahkan lengkap dengan menoleh dan melotot sebal ke arahnya. Jun tahu benar kalau gadis berambut hitam sepunggung itu paling benci jika ada yang menyebutkan nama lengkapnya.

“Sudah berapa kali kubilang padamu, Kang Jun? Cukup panggil aku ‘Seo’! Jangan sebut nama itu!” omel Seo—yang lagi-lagi berhasil membuat Jun menahan senyum.

Wae? Namamu bagus.” Jawab Jun, dengan wajah sok polos, padahal jelas-jelas sekarang ia sedang cari ribut dengan gadis paling galak di kelasnya.

Seo berdecak. Malas menanggapi namja ini. Namja yang gemar mengganggunya dengan hal-hal konyol yang bahkan sebelumnya tak pernah Seo tahu ada di dunia ini. Sebut saja seperti menggoyangkan bangkunya dengan kaki sehingga membuat Seo terganggu karena getarannya. Atau dengan colekan-dari-belakang-yang-berakhir-dengan-tusukan-dipipinya. Oh, Tuhan, kenapa ia harus duduk depan-belakang dengan namja yang luar biasa bodoh, tampan (uhuk! Hapus bagian itu!) dan menyebalkan ini?

Seo kembali menelungkupkan kepalanya sebelum Jun berkata-kata lagi. Kini ia tak lupa melindungi telinganya dengan menutupinya menggunakan tas. Tapi ia tetap merasakan kalau Jun terus menarik-narik rambutnya dan itu membuatnya kesal setengah mati.

“Seo..” panggil Jun. Seirama dengan tarikannya di rambut Seo. “Seo-ya..”

“Demi Tuhan, Kang Jun! Apa lagi?! Aku mau tidur!”

Jun nyengir lebar karena berhasil membuat Seo kembali menghadapnya—lengkap dengan tatapan galak dan kening berkerut menahan marah. “Aku hanya mau minta maaf karena sudah mengganggu tidur siangmu.” Katanya polos—pura-pura polos tepatnya.

Seo membuka mulutnya, tapi ia tutup lagi. Kemudian ia menarik napas untuk sedikit meredakan emosinya. Namja ini benar-benar… Jika Jun memang ingin meminta maaf, bukankah seharusnya ia membiarkannya tidur sejak tadi? Dan bukan memancing amarahnya dengan memanggil nama panjangnya atau bahkan menarik-narik rambutnya?

“Maafkan aku, eung, Go Han Seo?”

Ya! Kang Jun-ah!” dan di detik selanjutnya Seo sudah bangkit dari tempat duduknya. Berniat memberi pelajaran pada Jun yang ternyata ikut bangkit dari tempat duduknya—bahkan lebih cepat, sehingga ia bisa menghindari Seo. Dan terjadilah kejar-kejaran di antara mereka berdua. Mengelilingi kelas yang ricuh karena tidak ada Sonsaengnim yang mengajar.

Jun terus berkelit kesana-kesini untuk menghindari amukan singa yang sedang mengantuk karena terganggu tidurnya. Tapi tidak terlihat takut sama sekali karena ia justru tertawa lebar sambil sesekali menengok ke belakang untuk mengecek jarak di antara mereka berdua.

Jun gembira. Ia merasa gembira bahkan hanya dengan mengganggu ketenangan Seo. Ia suka melihat gadis itu memarahinya dan berpendapat bahwa itu menarik. Gadis itu menarik.

Jun berhenti berlari tepat sebelum ia terpojok di salah satu sudut kelas. Ia berbalik dan melihat Seo yang tersenyum penuh kemenangan. Tapi Jun hanya membalasnya dengan senyum tipis.

“Rasakan ini, Kang Jun!” Seo mengangkat tangannya, tapi belum sempat mendarat, Jun menahan tangan itu dengan menggenggam pergelangan tangannya. Mencekalnya sehingga Seo tidak dapat bergerak. “Ya! Jun-ah! Lepas!” Seo meronta, tapi Jun terus tersenyum.

“Seo-ya..” panggil Jun pelan tapi Seo masih sibuk berusaha melepaskan diri. “Go Han Seo.” Berhasil, kini perhatian Seo seutuhnya diberikan pada Jun yang menyebutkan nama lengkapnya. Menatapnya dengan mata menyipit seolah berkata jangan-sebut-itu-lagi-atau-kau-akan-menyesal.

Jun terus tersenyum, sambil memajukan wajahnya sehingga membuat Seo menarik wajahnya ke belakang. “Johahae.” Bisik Jun. Bibirnya tersenyum, tapi matanya menatapnya tajam seolah tak ada kepura-puraan. Seolah tak ada kebohongan. Seolah itulah kebenarannya.

Seo membelalakkan matanya. Menatap dua mata Jun bergantian, mencari tahu apa yang di katakan Jun itu benar atau hanya lelucon semata. Mata itu… Tanpa sadar Seo menelan ludahnya sendiri. Dan…

“Pmfffttt… Huahahahahahahaha!”

Seo mengerjap beberapa kali ketika namja di hadapannya ini justru tertawa begitu keras. Ia bahkan sampai melepaskan cekalan di tangannya dan justru sibuk memegangi perut karena terlalu puas tertawa. Otak Seo masih berjalan sangat lambat, sampai pada akhirnya ia sadar kalau ia baru saja dikerjai. Sial!

Ya!” seru Seo sebal sambil menendang tulang kering Jun dengan ujung sepatunya.

“Aaaaccckkkk!!! Appeuda!” ringis Jun yang di hiraukan oleh Seo yang langsung keluar kelas. Mengabaikan puluhan pasang mata teman-teman di kelas yang memerhatikan mereka berdua.

***

Kaki Seo sampai di anak tangga terakhir. Satu langkah lagi ia akan sampai di atap sekolah. Dan setelah menghela napas, ia meraih gagang pintu besi berkarat di hadapannya. Mendorongnya sehingga menghasilkan bunyi berderit yang membuat telinganya sedikit ngilu. Lelah kakinya karena menaiki tangga sirna ketika ia merasakan angin musim panas menyambut kedatangannya dengan ramah. Meniupkan helaian-helaian rambutnya menjadi tak beraturan.

Seo memejamkan matanya di tengah-tengah rooftop, menghela napas dalam keheningan, mencoba menetralisir perasaannya mengenai namja itu.

Jun.

Kang Jun.

“Argh!” Seo berteriak frustasi. Merasa marah dan bodoh di saat bersamaan. Marah karena lelucon Jun yang jauh dari kata lucu. Dan merasa begitu bodoh karena ia berharap bahwa perkataannya tadi itu benar—bahwa namja itu…menyukainya.

Seo kembali teringat wajah Jun saat mengatakan kalimat sederhana itu. Wajah itu benar-benar serius dan tidak menunjukkan tanda-tanda bergurau. Sehingga tadi Seo bahkan kehilangan kesadaran untuk beberapa detik. Ia bahkan lupa untuk bernapas karena terlalu terkejut. Tapi… namja itu justru… tertawa dan—

“Argh! Nappeun!

Seo tahu ia tidak mungkin kembali ke kelas dengan mata seperti ini. Bisa-bisa ia jadi bahan tertawaan anak-anak di kelas karena menangisi hal konyol seperti tadi. Dan si menyebalkan Kang Jun juga akan merasa besar kepala jika tahu ia menangis seolah mengharapkan bahwa yang tadi di katakannya adalah kebenaran. Seolah? Benarkah seolah? Tidak, pada kenyataannya, Seo benar-benar berharap bahwa itu benar. Bahwa perasaan yang di ungkapkan tadi nyata.

Namja itu sebenarnya tidak istimewa. Ia hanya satu dari sekian banyak murid laki-laki bodoh di kelasnya. Namja yang hampir selalu di hukum karena tertangkap basah mabal jam pelajaran dan justru berkumpul bersama teman-temannya di belakang sekolah. Namja yang bahkan tidak peduli ketika Sonsaengnim menjelaskan pelajaran di depan kelas. Namja yang…

…berbeda.

Entah apa yang membuatnya berbeda—Seo tidak pernah benar-benar tahu apa itu. Tapi perlahan ia sadar, Jun berbeda karena mampu menarik perhatiannya. Terlebih ketika ia mendengar Jun menyanyi. Suaranya… Argh, bahkan hanya dengan memikirkannya seperti sekarang, Seo bisa merasakan kalau dadanya berdebar. Saking berdebarnya, sekarang ia bahkan bisa mendengar lantunan irama piano yang menari-nari di sekelilingnya. Persis seperti permmainan piano Jun ketika jam pelajaran seni musik bulan lalu. Ah, sepertinya Seo benar-benar sudah gila…

Tapi di detik selanjutnya, Seo membuka matanya, lalu berbalik cepat karena merasa kalau suara piano itu benar-benar nyata. Matanya membelalak, jantungnya berhenti bekerja untuk beberapa detik setelah sebelumnya terasa berdebum dengan begitu keras. Oh, bagaimana tidak? Namja yang baru saja—atau bahkan masih ia pikirkan kini ada di sana. Duduk manis di sebuah bangku persegi panjang berukuran kecil di depan sebuah piano. Eh? Tunggu? Piano? Sejak kapan di rooftop ada piano?

Jun membelakanginya. Ia sedang fokus pada alat musik di depannya. Memainkan jari-jemarinya di atas tuts hitam putih itu. Yang mengalunkan nada yang begitu indah yang membuat Seo terhanyut. Seo baru tahu kalau namja bodoh itu bisa memainkan piano seindah ini. Dan itu… membuat Seo menelan ludah, sadar sepenuhnya kalau perasaannya nyata. Perasaan yang mengatakan bahwa…

Ia menyukainya.

Ia menyukai Jun.

Seo memberanikan diri untuk melangkah mendekati Jun. Dan sekarang ia berdiri di sisi piano. Menatap Jun yang juga menatapnya dengan senyuman, seolah menyapa kedatangannya. Jun berdehem samar, lalu mulai membuka mulutnya.

(Can I) call you my own, and can I call you my lover

Call you my one and only girl

(Can I) call you my everything, call you my baby

You’re the only one who runs my world

(Can I) call you my own, and can I call you my lover

Call you my one and only girl

Jun bernyanyi dengan mata lurus menatap Seo. Memerhatikan bagaimana gadis itu akan bereaksi. Dan ia menarik salah satu sudut bibirnya ketika melihat Seo mengerjap beberapa kali. Gadis itu cukup pintar untuk mengerti arti dari lirik lagu ini.

(Can I) call you my everything, call you my baby

You’re the only one who runs my world

(Jeff Bernat – Call You Mine)

Jun bangkit dari duduknya, menghampiri Seo yang masih bergeming di tempatnya. Ia berhenti tepat di hadapan Seo. Membuat gadis itu mundur satu langkah sambil sedikit mendongak menatap Jun.

Eottae?” tanya Jun nyaris berbisik.

Lagi, Seo mengerjap dan menelan ludahnya sendiri. “A—aku..” suaranya bahkan terdengar serak di telinganya sendiri. Ugh, memalukan!

Eung?” gumam Jun.

“Aku… aku…” Seo kembali menelan ludahnya, “baru tahu kalau di sini ada piano.” Lanjutnya seraya melemparkan pandangannya ke belakang pundak Jun.

Jun terperangah. Apa? Apa katanya tadi? Seo… dia… Astaga…

Jun menghela napas, mengeluarkan udara lewat mulutnya sehingga menimbulkan efek bunyi ‘aish’. “Go Han Seo, neo—aish!” Jun mengacak rambutnya frustasi. Membuat Seo menatapnya bingung. “Piano itu di amankan disini karena ruang musik sedang di renovasi, tapi bukan itu point pentingnya! Dasar, salah fokus!” gerutu Jun.

Seo menautkan alisnya, tiba-tiba saja merasa sebal. Lalu tanpa sepatah kata pun, Seo berlalu dari hadapan Jun yang masih menatapnya tajam. Ia sedang malas berhadapan dengan namja ini, tapi kenapa ia justru mengikutinya sampai disini? Mengikuti? Ah, mengapa ia percaya diri sekali?

“Seo-ya..” panggil Jun. “Seo-ya!” panggilnya lagi tapi sama sekali tak di pedulikan. “Go Han Seo!” seru Jun kali ini dengan cekalan di tangan Seo.

Mwoya?!!!” balas Seo kencang.

“Aish, neo jinjja…” Jun menggerutu pelan, lalu kembali menatap Seo serius. “Kenapa kau pergi?”

“Aku mau ke kelas!”

“Bukan. Bukan sekarang. Maksudku, tadi di kelas. Kenapa kau pergi setelah pengakuanku?”

Seo mengernyit. Ah! Tadi di kelas. Pengakuan. Dan, tolong jangan lupa : tertawa terpingkal.

“Kau mau ku tendang lagi, hah?” tantang Seo galak.

“Kau pikir aku bercanda?”

Deg.

Jantung Seo mencelos mendengarnya. Tolong jangan katakan… Jangan katakan kalau—

“Aku serius.”

.

.

.

“Aku menyukaimu, Go Han Seo.” Ujar Jun lalu merasa salah tingkah sendiri ketika melihat gadis di hadapannya ini menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Tapi setelah memantapkan hati, ia kembali berucap, “Can I call you my own? Can I call you my lover? Call you my one and only girl?

“J—Jun-ah..” ujar Seo pelan, karena ia merasa suaranya menghilang untuk sejenak. “Jangan bercanda.” Katanya lagi.

Jun menggeleng. “Sudah kukatakan, aku serius. So, can I call you mine?

“Demi Tuhan, Kang Jun, jangan—“

“Demi Tuhan, Kang Jun serius menyukai Go Han Seo dan menginginkannya untuk menjadi miliknya. Apa Go Han Seo bersedia?”

Seo tertawa kecil dan di akhiri dengan sebuah senyuman. Ia menghela napas pelan lalu menutup mata. Memberanikan diri untuk mengangguk.

“Woohooooo!”

Seo terkejut dan membuka matanya ketika mendengar teriakan Jun. Tidak mampu menahan tawa ketika melihat namja bodoh yang telah mencuri perhatiannya itu sedang berjoget-joget tidak jelas karena terlalu bahagia.

“Wuooo! Go Han Seo pacarku sekaraaaang!” teriaknya dengan kedua tangan membentang.

Ya! Jun-ah! Jangan terus-terusan menyebut nama lengkapku! Aku tidak suka!”

Jun menghentikan aksinya lalu menghampiri pacar barunya itu. “Kenapa? Namamu bagus. Sungguh.”

Seo mengerucutkan bibirnya lalu menggeleng. “Ani. Namaku terdengar seperti nama laki-laki. Jadi aku tidak suka.”

Jun berpikir sejenak. “Benar juga.” Gumamnya yang langsung mendapat jitakan dari Seo. “Ackkkk! Ya! Kau baru saja menjitak pacarmu sendiri!” protes Jun.

Pipi Seo memerah mendengar bahwa sekarang Jun adalah kekasihnya. Hey, apa ini mimpi?

“Tapi arti namamu sungguh bagus..” kata Jun yang tidak menyadari perubahan warna wajah Seo.

Jinjja?

Eung.. Hanseo. Hm.. Han = Hana = Satu. Lalu Seo… Seo untuk Seuta = Star = Bintang.” Jun menatap Seo yang masih menautkan alisnya mendengar kata-kata Jun. “Satu Bintang.” Kata Jun memperjelas penjabarannya tadi. “Kau. Satu bintang. Di hatiku. Satu-satunya.”

***

Tangan kiri Jun mengepal erat lalu kembali membuka. Mengepal lagi, membuka lagi. Begitu seterusnya sampai ia merasa tangannya sudah tidak kaku lagi. Dan setelah menghela napas singkat, ia memberanikan diri untuk meraih tangan di sisinya. Tangan seorang gadis yang ukurannya jauh lebih kecil di banding dengan tangannya.

Jun bisa merasakan kalau gadis itu sedikit tersentak menerima sentuhan dari genggamannya. Tapi ia pura-pura tidak peduli dengan terus mengedarkan pandangannya ke segala arah—kemana saja asal tidak ke arah Seo yang—ia yakin sedang menatapnya. Tanpa sadar, tangan kanannya terangkat, mengusap tengkuknya pertanda ia sedang gugup.

Tanpa sengaja Jun menangkap sesuatu yang menarik di ujung jalan di depan sebuah sevel sana. Ia menoleh ke arah Seo yang sedang memerhatikan entah apa di seberang jalan sana.

“Hanseo-ya, kaja, kita kesana!” ujar Jun sambil menarik tangan Seo yang hanya mampu mengikuti langkah-langkah lebar Jun—bahkan sebelum ia sempat menjawab ataupun bertanya apapun.

“Kau punya uang koin?” tanya Jun.

“Apa?” Seo bertanya bukan karena ia tidak mendengar, tapi karena ia terlalu terkejut pada pertanyaan Jun. Oh, astaga… Ini bahkan kencan pertama mereka, tapi laki-laki itu justru… meminta uang koin padanya? Namja bodoh!

Jun tertawa. “Aku bercanda.” Katanya seolah mampu membaca ekspresi wajah Seo. Tangannya yang semula menggenggam tangan Seo kini mengacak poni Seo pelan, membuat gadis itu kembali bersemu. “Cha! Aku punya!” Jun menunjukkan tangannya yang penuh uang koin. “Ayo, kita main! Kau mau yang mana, hm? Biar ku ambilkan untukmu.”

Seo memajukan kepalanya hingga keningnya bersentuhan dengan kaca box mainan ini. Permainan mengambil boneka dengan cakram. “Itu! Aku mau boneka yang itu! Minion!”

Jun mengangguk-angguk. “Oke, akan ku dapatkan untuk pacar baruku!” serunya kencang, membuat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka berdua. Membuat Seo ingin sekali menjitak laki-laki di sebelahnya ini. Tapi tidak, tidak bisa. Karena kini ia justru tersenyum. Merasa kalau ini menyenangkan.

30 menit kemudian…

Hyaaaaa! Bodoh! Cakram bodoh! Kenapa melepaskan Minion itu, hah?!”

Seo memutar bola matanya lalu mencibir. “Yang lebih bodoh adalah yang memainkannya.” Gerutu Seo pelan.

Ya! Ya! Ya! Bagus seperti itu, cakram pintar! Terus, terus, sebentar lagi akan—hyaaaa! Kenapa di lepas lagi? Aaarrggghhh!”

Seo menghela napas malas, terlebih ketika beberapa pasang mata memerhatikan laki-laki bodoh yang selama setengah jam ini menguasai permainan itu. Jun bodoh!

Seo menelungkupkan kepalanya di atas meja di hadapannya. Wajahnya menyamping sehingga ia masih bisa melihat Jun di depan sana. Jun yang setiap beberapa detik berteriak memaki cakram tak berdosa itu.

“Bodoh..” gumam Seo sambil terus memerhatikan punggung lebar Jun yang masih tertutupi seragam sekolah dan tas ransel—sama sepertinya. “Benar-benar bodoh.” Katanya lagi. “Tapi aku menyukainya..” Seo tersenyum. Benar, walau bagaimanapun Jun, ia tetap menyukainya. Jadi siapa yang bodoh? Namja itu? Atau dirinya yang lebih bodoh karena justru menyukai namja bodoh itu?

Seo bangkit, menghampiri Jun yang sedang fokus mengendalikan cakram besi yang sejak tadi di makinya. Seo bahkan bisa melihat kerutan di kening pacarnya itu. Seo tertawa kecil, lalu menepuk pundak Jun. “Jun-ah..”

“Jangan, jangan sekarang, Seo. Aku sedang berusaha.”

Seharusnya Seo marah, tapi ia justru semakin ingin tertawa. Oh, ayolah… Lihat saja wajah seriusnya yang di penuhi peluh itu.

“Aku mau membeli minuman. Kau mau apa?”

“Apa saja.”

“Apa saja?”

“Eum, kopi. Aku butuh kopi agar mataku terbuka.”

Seo mengangguk lalu melangkah ke dalam sevel. Sementara itu Jun masih berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mendapatkan boneka Minion untuk Seo. Tapi kemudian ada seseorang yang menarik-narik tangannya dan itu membuat cakram yang sedang membawa boneka Minion itu kembali menjatuhkan mangsanya.

“Argh! Mwoya?!” seru Jun kepada anak laki-laki yang tadi menarik-narik tangannya.

Hyung payah!” kata anak laki-laki itu. Ia menggeser Jun dan memasukkan koinnya sendiri untuk bermain.

M—mwo? Berani-beraninya kau—“

“Mau ku bantu?” tawar anak laki-laki itu sambil menunggu permainannya ready.

“Apa? Dibantu dengan anak kecil sepertimu? Aku tidak—“

Ting!

Mesin permainan itu berbunyi, menandakan sebuah keberhasilan si pemain. Jun mengerjap. Ia membelalakkan matanya ketika melihat bocah laki-laki di sampingnya ini mengambil sebuah boneka dari bagian bawah mesin. Itu artinya… bocah itu berhasil??? Oh, astaga…

“Ya, sudah, kalau tidak mau. Aku mau pulang.” Kata bocah itu kemudian melangkah pergi.

Ya! Bocah! Kemari!”

.

.

.

“Jun-ah ini kopi—“

Taraaaa!” Jun menunjukkan sebuah boneka kuning dengan kacamata khas di hadapan wajah Seo. Membuat gadis itu tersentak pelan, tapi tetap tersenyum pada akhirnya.

“Jun-ah, kau berhasil?” tanya Seo tak percaya. Lalu meraih boneka itu setelah meletakkan minuman Jun dan miliknya sendiri di meja.

“Tentu saja! Kang Juuun!” kata Jun menyombongkan diri.

Hyung, terimakasih, eskrimnya! Sering-sering main kesini, ya! Agar akau bisa membantu hyung mendapatkan boneka dan aku mendapat eskrim lagi! Annyeong!

Krik… Krik…

Seo menahan senyumnya, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi selama ia di dalam tadi. Sementara itu Jun menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. “Siapa bocah itu? Sok’ kenal!” gerutu Jun yang membuat Seo tertawa.

Jun mencibir lalu meraih gelas plastik yang berisi kopi pesanannya. Menyeruputnya dan—

“Aacckkk!”

Eo? Wae, wae?” tanya Seo kaget.

Jun menggertakkan giginya, berusaha menetralkan rasa di lidahnya. “Pahit. Kopi apa ini?”

“Eh? Pahit? Itu black coffee.. Tapi seingatku tadi aku sudah memasukkan gula.”

“Tapi ini pahit, Go Han Seo.. Cobalah..” suruh Jun sambil menyodorkan kopinya.

Ne?” kejut Seo. Oh, bagaimana ia tidak terkejut? Jun menyuruhnya meminum kopi di gelas yang sama dengannya. Di satu celah yang sama. Dan celah itu… baru saja di sentuh oleh bibir Jun. Lalu, ia harus meminumnya? Dengan bibir juga? Tapi itu artinya—

Walaupun ragu, Seo mengambil gelas itu. Ia menelan salivanya sendiri lalu mulai meneguk kopi itu. Dan baru saja ia ingin memuntahkannya ketika Jun justru menarik dagunya, dan di detik selanjutnya, Seo benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Sebuah benda lembut dan hangat mendarat di bibirnya. Memberikan sensasi yang menggelikan tetapi menyenangkan. Benda itu tidak hanya menempel di permukaan bibirnya, tapi juga membuka bibirnya, memaksanya membagi kopi pahit itu sehingga kini Seo tidak merasakan pahit lagi. Melainkan manis. Ya, ini manis..

“Tidak selamanya kopi itu pahit.”

Seo baru tersadar ketika Jun melepaskan ciumannya dan berkata tepat di depan wajahnya. “Sangat manis.” Kata Jun lagi, lengkap dengan senyumannya. Entah maksud Jun manis kopi atau justru wajah merona di hadapannya ini yang manis.

***

Jun mengetuk-ketukkan ujung sepatunya ke tanah. Menghitung dalam hati berapa lama ia menunggu. Cukup lama sebenarnya, tapi ia sama sekali tidak merasa lelah—keberatan pun tidak. Bahkan jika ia harus menunggu selama apapun, ia bersedia. Ia akan terus menunggu. Tapi kenyataan berkata lain, bukan ia yang di takdirkan untuk menunggu. Justru ia yang berharap di tunggu. Akankah gadis itu bersedia menunggunya?

Kepala Jun yang sejak tadi tertunduk, mendongak ketika mendengar suara pagar yang di buka lalu kembali di tutup. Jun membenarkan posisinya—yang semula bersandar pada tembok, menjadi berdiri tegak—ketika melihat gadisnya keluar dengan wajah secerah mentari musim panas. Membuatnya hangat.

“Jun?”

Bibirnya membuat seulas senyum tipis ketika Seo menyadari keberadaannya. Tersenyum semakin lebar ketika mendapati pipi Seo merona. Jika boleh menebak, itu pasti karena ingatan Seo melayang ke kejadian kemarin—saat ia menciumnya. Ah, manis sekali…

“Sedang apa?” tanya Seo.

Jun tertawa. “Aku sedang menunggu pacarku, bodoh!” kata Jun yang langsung membuat Seo mendelik. Tapi Jun tidak peduli, karena ia langsung menggamit tangan Seo. Menariknya agar berjalan di sisinya. “Kaja!

Seo berdehem. Sesekali melirik genggaman Jun di tangannya, membuat pipinya panas, apalagi jika ia mengingat kejadian kemarin yang—ah, entahlah, Seo sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk menjabarkan perasaannya.

“Jun-ah, jangan seperti ini. Semua orang memerhatikan kita.” Bisik Seo sambil mengguncang sedikit tangannya yang tenggelam dalam genggaman Jun.

Eung? Biar saja.” Sahut Jun tak peduli, dan justru mempererat tautan jemari mereka berdua.

Seo berdecak, lalu memberanikan diri untuk melirik Jun. Ia mengernyit, merasa kalau ekspresi wajah Jun berbeda dari biasanya. Namja ini seolah sedang memikirkan sesuatu dan membuatnya terlihat suntuk. Apa Jun sedang ada masalah?

“Kau baru sadar kalau aku sangat tampan?” Ujar Jun tiba-tiba. Membuat Seo langsung mengalihkan pandangannya dan mencibir tidak jelas, mengundang tawa Jun.

“Hanseo-ya..” panggil Jun ketika tawanya berhenti. “Apa cita-citamu?” tanya Jun masih menatap lurus ke depan.

Seo tidak langsung menjawab. Ia mengerutkan alisnya, mencoba berpikir atau mengingat-ingat apa cita-cita atau impiannya. Lalu setelah beberapa detik, ia menggeleng. “Molla.” Jawabnya.

Jun yang mendengar jawaban acuh tersebut berhenti melangkah, menatap Seo dengan pandangan heran. “Mwo? Kau tidak tahu apa cita-citamu?” ulang Jun meyakinkan, membuat Seo mengangguk polos. “Ya! Kita bahkan sudah kelas dua sekolah menengah dan kau belum tahu apa yang mau kau kejar? Astaga, Go Han Seo…” kata Jun frustasi, mirip eomma Seo yang sering cerewet tidak jelas kalau nilai gadis itu menurun.

Mata Seo menyipit merasa di remehkan. “Memang apa cita-citamu?” tanyanya menantang.

Jun menarik Seo untuk kembali melangkah. “Rahasia.” Jawabnya singkat.

Ya!

***

Seo sadar sepenuhnya kalau Jun sedang menatapnya. Memerhatikan setiap gerak-gerik yang ia lakukan bahkan untuk hal terkecil. Mata tajam itu terus menatapnya, seolah mengintimidasi. Seo ingin sekali berdecak dan menoleh, menghempaskan manga yang sedang ia nikmati—tanpa konsentrasi. Tapi tidak bisa. Seo terlalu takut melakukan itu semua. Seo bahkan merasa ia bernapas dengan sangat hati-hati karena tatapan itu. Tatapan itu begitu membuat Seo membatasi dirinya sendiri untuk hal-hal yang tidak penting. Tapi, hey, memang bernapas bukan hal yang penting?

Seo sudah tidak tahan lagi. Seharian ini sikap Jun sangat aneh. Dimulai tadi pagi ketika namja itu menjemputnya untuk pergi bersama, menggandeng tangannya sepanjang jalan, lalu mengusir Daehee—teman sebangkunya agar ia itu bisa duduk bersamanya—dan membuat Seo terjaga sepanjang pelajaran karena tatapan itu terus terpaku padanya. Sekarang, bahkan di saat jam istirahat pun, mata Jun sama sekali tidak beristirahat. Sebenarnya ada apa dengan namja bodoh—yang dikalahkan bocah kecil ketika permainan kemarin—ini, hah?

Seo menoleh. “Jun-ah, berhenti menatapku!” seru Seo setelah mengumpulkan keberaniannya—yang entah menguap kemana ketika ia berhadapan dengan namja ini.

Jun tersenyum. “Wae? Kau malu?” tanyanya.

A—ani. A—aku… aku justru takut karena tatapanmu itu. Kau seolah akan memakanku detik ini juga! Atau, terlihat seolah tidak ada hari esok. Seolah esok kau tidak akan bisa menatap wajah cantikku lagi.” Jelas Seo yang di akhiri dengan tawa.

Jun bergeming. Menatap Seo dengan sorot mata yang mendadak redup. “Ya, kau benar.” Jawab Jun pelan. Membuat tawa Seo terhenti dan langsung menoleh ke arahnya. “Aku takut. Bagaimana jika esok aku tidak bisa melihatmu lagi?”

M—mwoya?

Jun tidak sempat menjawab karena bel pertanda jam istirahat telah usai berbunyi. Anak-anak berdatangan dan membuat suasana ricuh. Berhasil mengalihkan pandangan Jun dari Seo. Tapi tidak dengan Seo. Gadis itu masih menatap Jun dengan pandangan bertanya, masih menunggu jawaban dari maksud perkataannya tadi. Seo baru saja membuka mulutnya, tapi ia katupkan lagi ketika wali kelasnya masuk.

“Selamat siang.” Sapa Kim-ssaem dengan suara berat berwibawanya, menimbulkan suara riuh rendah jawaban dari seisi kelas. “Sebelum kita memulai pelajaran siang ini, saya ingin kita semua mengucapkan selamat terlebih dahulu pada teman kita yang telah di terima menjadi trainee di salah satu manajemen besar di Korea Selatan ini.” jelas Kim-ssaem yang membuat mata anak-anak muridnya melebar terkejut dan tak percaya. Menimbulkan keributan di sana-sini karena percakapan tumpang tindih yang rata-rata terdengar Oh benarkah?, Siapa anak beruntung itu?, Apa salah satu di kelas ini?, dan Wah, sekolah kita melahirkan idol!

“Tenang, tenang..” ujar Kim-ssaem sambil menggebrak meja berkali-kali dengan tangannya. “Kang Jun, silahkan ke depan.” Satu kalimat itu mampu membuat seisi kelas hening. Mata mereka berfokus pada satu titik. Satu titik yang sedang menunduk, lalu setelah menghela napas pelan, ia mendongak, menoleh ke arah gadis di sisinya yang sedang memberondongnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Tersenyum tipis, lalu bangkit. Memenuhi panggilan Kim-ssaem.

Kelas masih hening bahkan ketika Jun sudah berdehem di depan kelas. Membuat Jun mengusap tengkuknya karena merasa canggung.

“Inilah teman kita yang berkesempatan menjadi trainee di Yedang Entertaiment.” Jelas Kim-ssaem.

1 detik. 2 detik. 3 detik…

“Whoaaaaaa!” seisi kelas bereaksi setelah beberapa detik berusaha mencerna ucapan Kim-ssaem. Mereka semua bertepuk tangan dan meneriakkan entah apa—Jun tidak dapat menangkap maknanya, karena tatapannya sekarang sedang tertuju pada gadisnya. Gadisnya yang duduk di tempatnya dengan tangan yang saling bertepuk beberapa kali. Gadis itu terlihat bahagia. Ia menatap Jun dengan matanya yang bersinar. Seolah berkata bahwa ia turut bahagia, dan menyemangatinya.

Jun tersenyum. Miris. Akankah Seo masih bisa tersenyum seperti itu jika mengetahui kenyataan kalau—

“Jun-ah, silahkan sampaikan salam perpisahan pada teman-temanmu.”

Ajaib, hanya dengan satu kalimat itu, seisi kelas kembali hening. Memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Kim-ssaem. Perpisahan?

“Perpisahan? Maksudmu, kau akan berhenti dari sekolah ini, Jun-ah?” tanya salah satu di antara temannya.

Jun menelan ludah. Mendadak lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Ia menunduk, tidak berani menatap mata cerah itu. Meski penasaran reaksi seperti apa yang akan di tunjukkan Seo atas berita ini, tetap saja Jun tidak—atau belum mampu melihatnya.

Ne.” Jawab Jun lirih. Ia mendongak, sama sekali tak berniat menatap Seo, tapi tetap saja tatapan mereka bertemu. Jun kembali menelan salivanya sendiri. Melihat bahwa reaksi gadis itu hanya tersenyum tipis, tapi matanya berkata sebaliknya. Mata gadis itu yang—ia yakin tadi berbinar bahagia, sinarnya kini meredup. Membuat jiwa Jun seakan redup saat itu juga. “Mianhae.” Kata Jun pelan. Entah pada siapa. Pada teman-teman sekelasnya atau justru hanya pada satu sosok itu—Go Han Seo.

***

Seo mendesah sepelan mungkin, berusaha agar namja yang sedang berjalan satu langkah di depannya itu tidak mendengarnya. Kedua tangannya masih menangkup secangkir kertas tiramissu coffee hangat yang tadi ia beli di sevel.

Seo berusaha berjalan sepelan mungkin, mengulur waktu agar mereka tidak cepat sampai di rumahnya. Karena ia tahu, setelah hari ini, setelah detik ini, entah kapan lagi seorang Kang Jun mengantarnya pulang ke rumah. Entah kapan lagi ia bisa menatap punggung di depannya berjalan di sisinya, menggandeng tangannya, bersikap konyol padanya. Entah kapan lagi..

Memikirkan semua itu, membuat tenggorokannya tercekat. Sangat sesak, seolah meminta untuk dibebaskan dengan satu cara; menangis. Tapi Seo bahkan tak punya cukup keberanian untuk menunjukkan itu semua di depan Jun. Tadi ketika namja itu kembali ke tempat duduknya, Seo hanya bisa mengulurkan tangannya dan berkata ‘Selamat Kang Jun-ah. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang idol’ begitu kata bibirnya, yang sebenarnya ingin mempertanyakan kenapa ia harus sampai keluar dari sekolah mereka sekarang. Tapi tidak bisa, bibirnya terlalu kelu untuk mempertanyakan sesuatu yang ia rasa tidak berhak ia tanyakan. Dan sekarang, melihatnya hanya berjalan di depannya tanpa sepatah katapun, tanpa hangat jemari yang bertautan, membuat Seo yakin kalau semua ini memang harus terjadi. Ini pilihan Jun dan ia tidak berhak melarangnya untuk tetap tinggal. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mengatakannya.

“Sudah sampai.”

Seo mendongak, melepaskan tatapannya dari cangkir kopi dengan tutup berwarna cokelat itu. “Oh. Sudah sampai…” bisiknya mengulang. Dalam hati merutuki diri kenapa rumahnya harus sedemikian dekat sampai ia merasa hanya mengangkat kaki satu langkah dari sekolahnya untuk sampai ke sini.

Seo tidak langsung masuk, ia masih menatap Jun yang sedang tertunduk di depannya. Menunggu Jun untuk mengeluarkan satu atau dua patah kata dari bibirnya. Tapi setelah beberapa menit yang sunyi, tak terdengar apapun selain kicauan burung di petang cerah yang hendak menuju sangkar masing-masing karena langit mulai gelap. Maka Seo menyerah. Mungkin memang tidak ada yang ingin di katakan oleh namja ini. Mungkin juga baginya perpisahan ini hanyalah suatu hal yang kecil. Mungkin hanya Seo yang terlalu berlebihan. Sehingga Seo menghela napas pelan dan berkata, “Aku masuk.” Katanya lalu meraih pegangan pagar rumahnya, berusaha membuka kuncinya.

Mianhae.” Kata Jun, menghentikan gerakan Seo. Membuat gadis itu kembali memutar tubuhnya untuk menghadap Jun. “Maaf…” kata Jun lagi.

“Untuk?” Seo menahan suaranya untuk tidak bergetar.

“Maaf karena…” Jun menjedanya dengan sebuah tarikan napas, lalu melanjutkan, “karena kisah kita harus berakhir seperti ini.”

Seo menggigit bibirnya samar, menekannya sekuat mungkin untuk mencegah tangisannya. Berakhir? Secepat ini kah? Mereka bahkan belum genap 48-jam bersama tapi sudah harus berakhir?

“Aku pergi.” Kata Jun lagi bahkan sebelum Seo sempat menjawab pernyataan maaf Jun. Bahkan sebelum Seo mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Jun berbalik. Berbalik setelah menatap kedua mata Seo yang mulai di genangi air mata. Jun yakin ia tidak akan sanggup melangkah jika Seo sudah menangis nanti, jadi ia putuskan untuk pergi secepat mungkin. Kejam? Ya, Jun akui dirinya memang kejam.

“Jun-ah…”

Tepat sebelum langkah Jun mencapai tiang listrik, Seo memanggil namja itu dengan suara bergetar—padahal ia sudah berusaha semampunya untuk tetap tegar, tapi sulit. Jun menoleh, menatap Seo dengan mata sendu. Membuat Seo sadar sepenuhnya kalau bukan hanya dirinya yang tersakiti, tapi Jun juga. Dan dari tatapan itu, ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang tak bisa di bantah lagi.

Bahwa Jun sedang memohon padanya…

Memohon agar Seo dapat merelakan namja itu pergi.

Tidak bisakah kau tetap tinggal?

Sehingga satu pertanyaan yang berisi 99% harapan itu diurungkannya untuk terucap. “Apa ini cita-citamu?” itulah yang keluar dari bibir Seo.

Jun mengangguk. “Ingat, Hanseo.. Kau juga harus cepat menemukan cita-citamu..”

Seo mengangguk. “Berjuanglah, Kang Jun-ah..” ujar Seo lirih.

Jun kembali melangkah, tapi Seo dengan setia masih menatap kepergiannya. Menatap punggung itu. Entah kapan ia akan melihatnya lagi. Dan tepat setelah Jun berbelok di persimpangan, kaki Seo melemas. Pandangannya kabur dan napasnya mulai benar-benar menyesakkan.

“Hiks..”

Seo mulai terisak. Terisak dengan begitu pilu. Dia tidak pernah tahu kalau berpisah dengan Jun akan sedemikian menyakitkan. Masih terisak, Seo mencoba menyesap kopi yang hampir dingin itu. Mendadak rasa manis memenuhi rongga mulutnya. Sangat manis, karena tadi ia sengaja menambahkan sangat banyak gula ke dalamnya—padahal pada dasarnya tiramissu coffee sudah sangat manis. Karena ia tahu, ia membutuhkannya. Membutuhkannya untuk penangkal pahit seperti sekarang. Tapi tetap saja… Semanis apapun kopi ini, tetap saja ia merasa pahit.

Seo masih menangis, sehingga ia tidak menyadari kalau ada seseorang yang berlari menghampirinya. Membuat Seo menyipitkan matanya yang buram untuk mengenali seseorang yang berdiri di hadapannya. Jun. Kang Jun kembali.

Mereka bertatapan sejenak, lalu setelah sepersekian detik, Jun meraih dagu Seo. Ia menempelkan bibirnya. Mencium gadis yang masih terisak itu dengan begitu dalam dan lembut. Penuh perasaan sampai-sampai Seo hanya mampu terisak perih. Jun dapat merasakan bibir bergetar Seo yang manis—efek dari kopi yang diminumnya tadi. Tapi tetap saja, perpisahan terasa pahit.

Jun masih menautkan bibir mereka, membuat Seo tanpa sadar menjatuhkan kopinya ke tanah. Dan dengan tangannya yang bebas, ia menggenggam kedua sisi jas Jun, memastikan kalau namja ini tidak akan pergi—setidaknya jangan sekarang.

“Jika kau bersedia menunggu, tunggulah aku.” ujar Jun setelah melepaskan ciumannya. Ia menghapus air mata Seo dengan jemarinya. “Tapi jika kau mulai lelah, kau boleh—“

“Aku menunggu.” Potong Seo lalu memeluk Jun. Membenamkan wajahnya di dada Jun yang terasa hangat. “Aku akan menunggumu, Jun.. Hiks. Berjuanglah..”

Jun menggigit bibir bawahnya, rasa sesak di dalam rongga dadanya benar-benar tak tertahankan sehingga ingin menangis saja rasanya. Ia lalu mempererat pelukannya pada Seo yang masih terisak, berusaha meyakinkan gadis ini bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa perpisahan ini tak akan abadi.

“Aku tahu apa cita-citaku sekarang, Jun-ah. Untuk sekarang, aku akan menunggu. Menunggumu…”

.

***End of Story***

.

.

.

EPILOGUE

Tlit!

Go Han Seo menekan tombol merah pada remote televisi. Tapi tak melepaskan pandangannya dari layar datar 29 inch itu. Ia menghembuskan napas, tanpa sadar telah menahan napas sejak tadi—sejak menonton sebuah reality show dengan bintang tamu C-Clown.

Seo memejamkan matanya. Perlahan, kilasan kisahnya bersama Kang Jun memenuhi pandangannya. Bahkan, dalam keadaan mata tertutup pun, ia bisa melihat dengan sangat jelas kisah itu seolah sedang menonton layar lebar di bioskop. Ia terlalu sibuk dengan bayangannya, sehingga tak menyadari seseorang telah menyusup ke apartment-nya, dan kini orang berpakaian gelap itu tengah menatapnya sambil menahan senyum.

“Sedang membayangkan wajahku, eung?”

Mendengar itu, sontak membuat Seo membuka matanya. Dan gadis itu tak bisa menahan diri untuk membelalakkan matanya ketika mendapati namja itu sedang berdiri di depannya—menghalangi pandangannya yang tadi tertuju lurus ke televisi LED 29 inch. Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap gadisnya dengan tatapan khas yang tajam tapi lembut. Seo bangkit lalu ikut melipat kedua tangan di depan dada. “Kau terlambat dua jam, oppa!” gerutunya.

Namja itu tertawa lalu mendekati Seo. Dalam satu gerakan singkat, ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya. “Hanya dua jam.” Katanya. “Yang penting aku tidak terlambat menjadikanmu milikku, kan?”

Seo tertawa kecil. “Cih! Belajar gombal kau?! Dasar, Kang Jun bodoh!”

Ya! Panggil aku Oppa, Go Han Seo!”

Sirheo!

Ya!

“Hahaha! Hentikan, hentikan itu, Jun-ah! Geli! Hahaha. Oke, oke, Kang Jun oppa! Geumanhae!

.

***End***

.

.

.

Readers kece, silahkan review-nya 🙂

Ohya, kalo mau denger Call You Mine yg diringi permainan piano, nih aku kasih link download yg versi Kris & Lay —> ini.

Advertisements

52 thoughts on “C-Clown Coffee Taste – Kangjun’s Story

  1. Ficnya bikin aku kebawa suasana. Ku kira mereka bakal pisah selamanya. Ternyata nggak hehe 😀

  2. Siapa sangka bisa menemukan author dengan gaya bahasa dan cerita yg berbeda seperti ini. Aaaaaah…, kena di hati! ^^

  3. Manis sekaliiiii ㅠ~ㅠ (y)
    Aduhhh suka banget sma ff nya author~
    Feel nya dapat bangett aaaa ❤
    Ditunggu ff lain ya author~ fighting ❤

  4. manisnyaaaaaaaa.. dduhhh agggak giman gitu bacanya. senyum-senyum sendiri. hahah berhasil banget dapat fellnya dan ide ceritanya keren banget cuman klo liat c-clown kayak gimana gitu karakternya jun di sini 😀 but over all i like this story (y)

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s