C-Clown Coffee Taste – TK’s Story


Author : Karra | Main cast : Lee Min Woo / TK [C-Clown] as Min Woo &  Han Yoora [Original Cast] as Yoora | Length : Oneshot | Genre : Romance

Disclaimer : This is only Karra imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission, Do Not bash this pairing and Don’t Be Silent Reader.

Author’s Note : Enjoy and feel free to drop a comment below!^^

sweetness will remove the bitter taste

“Capuccino adalah salah satu kopi termanis. Rasa manisnya akan terasa di lidah saat pertama kali mengecapnya tetapi rasa kopi yang pahit akan terasa dengan perlahan. Seperti saat aku mengenalmu, Woo-kun…. awalnya sangat manis dan berakhir dengan rasa pahit setelah kau tidak disini.. ”  -Han Yoora-

 ***

Yoora menatap hamparan laut yang berada tepat di belakang rumah Min Woo. Angin laut membuat gaun selutut tanpa lengan dan bermotif bunga corak membuatnya berkibar. Bahkan rambut ikal Yoora juga berkibar mengikuti gerakan angin sore. Matahari hampir tenggelam ditelan malam yang membuat langit berwarna kemerahan dan membuat ombak laut semakin gencar untuk berlomba-lomba mencapai pantai.

Tangan kiri Yoora masih memegang erat sebuah cangkir besar dengan capuccino di dalamnya. Pandangan gadis itu terlihat menerawang. Seolah-olah tengah menatap seseorang di ujung cakrawala. Perlahan-lahan capuccino yang berada di dalam cangkir tidak terasa panas seperti saat Yoora membawa cangkir itu keluar dari rumah Min Woo.

Gadis itu berjalan perlahan dengan kaki telanjangnya menuju tepian pantai. Saat air laut menyentuh ujung kakinya, Yoora memejamkan mata dan berjongkok. Air matanya menetes. Hidung dan kedua matanya juga terlihat memerah. Dengan gerakan perlahan, Yoora menuangkan capuccino yang berada di dalam cangkir ke air laut yang lagi-lagi menyapu capuccino itu untuk bergabung bersama dengan air laut yang asin.

“Aku benar-benar tidak ingin berpisah secepat ini denganmu… namun, aku tidak bisa meminta Tuhan untuk mengembalikanmu lagi disisiku…. Jika kita tidak berjodoh di dunia, pasti suatu saat kita akan berjodoh disana,” ujar Yoora sambil menghapus air matanya.

***

2 tahun yang lalu….

Min Woo duduk di seberang tempat duduk Yoora sambil memamerkan senyumannya yang khas. Cahaya matahari membuat Min Woo semakin terlihat bersinar. Yoora meneguk teh hijau yang ia pesan. “Kau harus mencoba capuccino, Yoora-chan,” ujar Min Woo sambil menyodorkan cangkir berisi capuccino ke hadapan Yoora yang langsung ditolak gadis itu tanpa berpikir dua kali.

“Aku tidak menyukai kopi, Woo-kun,” ujar Yoora sambil menggelengkan kepalanya. Membiarkan rambut ikalnya yang dikucir ke samping ikut bergoyang mengikuti irama kepala gadis itu.

Min Woo kembali menarik gelasnya dari hadapan Yoora dan meneguk capuccino sambil memejamkan kedua matanya. “Enak sekali. Sekali-sekali kau harus mencobanya, Yoora-chan.” Min Woo menunjuk gelas milik Yoora yang berisi teh hijau, “kau sudah kurus, Yoora-chan, hentikan kebiasaanmu minum teh hijau,” nasihat Min Woo yang membuat Yoora mengerucutkan bibirnya. Yoora bahkan tidak segan mencibir kalimat Min Woo barusan. Ada yang salah dengan teh hijau. Teh hijau jauh lebih sehat daripada minuman yang di minum Min Woo saat ini.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?” tanya Yoora yang membuat Min Woo menatapnya. Penasaran. “Kau harus minum teh hijau dan aku akan minum capuccino selama seminggu. Siapa yang tidak bisa bertahan, dia yang kalah. Bagaimana?” tantang Yoora sambil memainkan kedua alisnya.

Min Woo menatap cangkir di depan Yoora yang berisi teh hijau. “Apa hukuman bagi yang kalah?” tanya Min Woo. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Dia pernah mencicipi teh hijau dan rasanya sangat pahit. Berbeda dengan capuccino yang sering diminumnya, rasa pahit itu memang ada tapi tersamar akan rasa manis. Dan kalau hadiahnya tidak menguntungkan, laki-laki itu akan langsung tolak tanpa berpikir dua kali.

Yoora mengetuk-ngetuk meja dengan kelima jari tangannya sambil memandang ke langit-langit cafee tempat kencannya dengan Min Woo. Gadis itu terlihat berpikir sampai tanpa sadar mengerutkan keningnya. “Bagaimana jika yang kalah menggendong yang menang dari sini ke rumah masing-masing?” tanya Yoora sambil tersenyum lebar.

Min Woo terlihat tidak suka dengan usul Yoora. “Jika aku yang kalah, tidak masalah aku menggendongmu. Tapi jika aku yang menang, mana boleh aku membiarkanmu menggendongku ke rumah?” sewot Min Woo yang membuat Yoora tertawa kecil.

“Aku kuat. Sangat kuat, Woo-kun…” desis Yoora yang membuat Min Woo tetap menggelengkan kepalanya. Bahkan gadis itu juga memamerkan lengannya yang sama sekali tidak ada tonjolan otot bahkan cenderung lengan tangan yang langsing.

Min Woo terlihat berpikir sambil menatap capuccino yang masih tersisa setengah di cangkirnya. “Traktir aku makan. Bagaimana?” tanya Min Woo yang membuat Yoora mengerucutkan bibirnya lagi.

“Makan? Kau ini kalau makan banyak sekali. Bisa habis tabunganku,” sewot Yoora sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Nafsu makan kekasihnya itu memang sangat besar. Yoora saja sampai takjub saat melihat Min Woo yang bisa menghabiskan beberapa mangkuk ramen setiap sekali makan.

Min Woo tergelak hingga membuat pengunjung cafee lain menoleh ke arah mereka berdua. Yoora yang sadar situasi buru-buru menendang dengan pelan tulang kering Min Woo. Laki-laki itu hanya mengangkat tangan kanannya sambil berusaha meredamkan tawanya. “Baiklah, jangan menyuruhmu mentraktirku,” kata Min Woo sambil memainkan kedua alis matanya. “Bagaimana kalau kau membuatkanku sebuah makanan spesial?” tanya Min Woo yang membuat Yoora mengangguk.

Gadis itu mengulurkan tangan kanannya. “Deal?” tanya Yoora.

Min Woo menjabat tangan kanan Yoora sambil tersenyum manis. “Deal!”

***

Min Woo memejamkan matanya saat bibir cangkir berisi teh hijau mendarat di bibirnya. Yoora menatap aksi Min Woo juga ikut menahan nafas karena gadis itu tahu jika Min Woo sangat tidak menyukai rasa yang pahit.

Min Woo meletakkan cangkir itu ke atas meja tanpa meminumnya. “Aku tidak bisa minum teh hijau,” keluh Min Woo sambil menyadarkan punggungnya di sandaran bangku yang ia duduki. “Pahit…” keluh Min Woo sambil menjulurkan lidahnya. Sudah beberapa hari ini lidahnya seperti mati rasa karena selalu mengecap rasa pahit.

Yoora tersenyum. “Memang teh hijau itu pahit, Woo-kun…” kata Yoora sambil menempelkan cangkir berisi capuccino ke bibirnya. Gadis itu meneguk salivanya. “Sekarang giliranku…” desis Yoora yang membuat Min Woo mengangguk mantap. Gadis itu memejamkan mata saat cairan capuccino mulai masuk ke dalam mulutnya. Rasa manis dan samar-samar mulai terasa pahit. Perutnya mulai terasa memberontak. Gadis itu tidak suka minuman manis.

“Ayo telan, Yoora-chan…” Min Woo berusaha memberi semangat pada Yoora yang berusaha mati-matian mendorong rasa mualnya dengan menelan seteguk capuccino.

Gadis itu buru-buru meletakkan cangkir yang baru diteguk sekali ke atas meja dan meneguk teh hijau yang ia pesan. Berusaha menghilangkan rasa manis di mulutnya. “Aku sudah meneguk satu kali. Hari ini aku yang menang,” ujar Yoora sambil menjulurkan lidahnya pada Min Woo.

Min Woo mengibaskan tangannya. “Tenang saja. Besok, besoknya lagi dan besok besoknya lagi, aku yang akan menang,” ujar Min Woo sambil menyesap capuccino miliknya. “Minuman semanis ini kenapa kau tidak suka?” tanya Min Woo yang membuat Yoora menatapnya.

Yoora mengambil potongan strawberry cake dari piring kecil yang ia pesan bersama Min Woo. “Sejak dulu aku tahu kau sangat menyukai capuccino. Dulu aku juga pernah mencobanya, namun saat melihatmu bersama Hyunra beberapa tahun lalu, aku jadi membenci minuman manis. Karena akan mengingatkan tentangmu yang saat itu sudah menjalin hubungan dengan Hyunra,” jelas Yoora sambil menyuapkan potongan  kecil strawberry cake ke mulut Min Woo.

Min Woo terkekeh. “Jadi kau cemburu?” tanya Min Woo yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban karena rona wajah Yoora kini sudah berubah kemerahan. Seperti tomat berwarna merah. “Tapi aku bahagia saat mengetahui kau sudah menaruh hati padaku sejak dua tahun lalu,” ujar Min Woo sambil menggenggam tangan kanan Yoora yang ia letakkan diatas meja.

Yoora menatap Min Woo yang ternyata sedang fokus memandangi wajahnya. “Jangan membuatku malu, Woo-kun…” desis Yoora yang membuat Min Woo mendekatkan wajahnya dan mencium kening Yoora dengan penuh kasih.

“Aku mencintaimu…. selamanya, Yoora-chan,” ujar Min Woo saat mengakhiri ciuman di kening Yoora. Laki-laki itu bahkan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Yoora membalas pelukan Min Woo sambil tersenyum. “Aku rindu kau peluk seperti ini, Woo-kun…” desis gadis itu sambil membenamkan wajahnya di bahu Min Woo.

Min Woo terbahak yang membuat Yoora yang masih di peluknya juga ikut tertawa. “Woo-kun dan Yoora-chan sama sekali unik. Aku tidak suka memanggil kekasihku dengan ‘chagiya’. Itu sudah terlalu umum,” kata Min Woo yang membuat Yoora mengangguk. Gadis itu juga tidak suka memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘chagiya’ beruntunglah saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Min Woo, laki-laki itu juga tidak suka memanggil ‘chagiya’.

“Berjanjilah akan tetap disampingku selamanya…” kata Yoora yang membuat Min Woo melepaskan pelukannya dan menatap Yoora lekat-lekat.

“Aku janji….” kata Min Woo sambil membuat tanda ‘V’ dari jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

***

Yoora memperhatikan etalase sebuah toko yang menjual barang pecah belah. Beberapa orang yang sibuk dengan rutinitas paginya sama sekali tidak menyurutkan langkah Yoora yang menyukai salah satu cangkir bermotif spongebob di toko itu. Min Woo sangat menyukai tokoh kartun berwarna kuning itu.

Yoora melangkahkan kakinya memasuki toko pecah belah itu dan langsung menuju ke etalase yang tadi dilihatnya dari pinggir jalan. Gadis itu memandangi cangkir keramik yang ukurannya tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.

“Anda mau membeli yang ini?” tanya salah seorang karyawan toko yang membuat Yoora mengangguk.

“Tolong sekalian dibungkus dengan kertas hias, ya,” ujar Yoora yang membuat karyawan toko itu mengambil cangkir spongebob dan membawa cangkir itu ke meja kasir. Yoora mengikuti langkah karyawan itu dengan senyum terkembang.

Pasti Min Woo menyukai cangkir ini. Terlebih lagi, dia bisa memakai cangkir ini untuk meminum capuccino favoritnya. Yoora membayar harga cangkir itu dan membawa barang yang ia cari keluar dari toko.

Yoora berjalan menyusuri trotoar sambil bersenandung dengan pelan. Jika dipikir-pikir, jelas saja Min Woo tidak menyetujui jika Yoora akan menggendongnya dari cafee tempat mereka biasa bertemu hingga ke rumah laki-laki itu. Jaraknya cukup jauh. Min Woo bahkan sering naik sepeda atau naik mobil jika pergi ke cafee itu. Yoora masih beruntung karena jarak rumahnya denga cafee itu tidak terlalu jauh. Ah… laki-laki bernama Min Woo itu sangat menyayangi Yoora.

***

Min Woo duduk di bangku kesayangannya di cafee tempat ia biasa bertemu dengan Yoora. Wajahnya terlihat kusut. Rambutnya juga acak-acakan. Pakaian yang ia kenakan juga terkesan tidak serapi biasanya. Punggung laki-laki itu bersandar di kursi dan salah satu tangannya terkepal dan ia tempelkan di kepalanya yang masih menengadah.

“Apa yang terjadi?” tanya Yoora sambil buru-buru duduk di samping Min Woo. Gadis itu terlihat cemas dengan kondisi Min Woo.

Min Woo menegakkan punggungnya. Yoora bisa melihat ada lingkaran hitam di bawah kedua mata laki-laki itu. “Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari ini. Sepertinya aku sudah kecanduan kafein di capuccino,” desis Min Woo yang tidak bermaksud menyalahkan Yoora, tetapi Yoora merasa bersalah karena sudah mengajukan tantangan yang tidak masuk akal.

“Kita batalkan saja taruhan kita. Aku  tidak ingin kau kenapa-kenapa, Woo-kun,” ujar Yoora sambil merapikan rambut Min Woo yang berwarna cokelat almond. Yoora sebenarnya tidak tega menyuruh Min Woo meminum teh hijau terus menerus, tapi jika ego gadis itu melarang Yoora untuk menyerah.

Min Woo mengibaskan tangannya. “Tidak apa-apa. Tinggal besok taruhan kita berakhir,” bantah Min Woo yang membuat Yoora menggeleng.

“Kita hentikan saja. Sudah cukup. Aku tidak ingin kau memaksakan diri,” kata Yoora sambil berjalan memasuki cafee yang memiliki konsep indoor dan outdoor. Yoora dan Min Woo memilih meja kesayangan mereka di luar cafee. Yoora memesankan capuccino untuk Min Woo yang masih terlihat berantakan.

Gadis itu kembali ke meja tempat Min Woo menunggu dengan membawa dua cup capuccino.  Gadis itu menyodorkan satu cup capuccino pada Min Woo. “Aku ingin meminum teh hijau,” rengek Min Woo yang membuat Yoora menggeleng.

“Sudahlah, kita akhiri saja taruhan bodoh kita. Sekarang minumlah,” kata Yoora yang membuat Min Woo menatap gadis itu dengan pandangan sayu.

Min Woo menggerakan kedua tangannya. Laki-laki itu tampak ragu-ragu hingga kembali menatap Yoora yang tersenyum sambil mengangguk. Min Woo menegak capuccino itu. Rasa manis di lidahnya ia kecap dengan sempurna hingga cairan capuccino mengalir ke kerongkongannya. Senyum laki-laki itu tercetak di bibir.

“Apa kau sudah baikkan?” tanya Yoora sambil meletakkan cup capuccino yang ia pegang. Min Woo sama sekali tidak bersuara namun laki-laki itu mengangguk mengiyakan. “Jangan memaksakan diri. Aku tidak ingin kau malah jatuh sakit,” nasihat Yoora pelan.

“Kau juga jangan memaksakan diri meminum capuccino jika kau tidak menyukainya,” kata Min Woo sambil memainkan alisnya.

“Apa maksudmu, Woo-kun?” Yoora hampir saja salah tingkah namun gadis itu berusaha bersikap tenang.

“Jika kau tidak menyukainya, jangan hanya meminumnya dan dimuntahkan saat ke kamar kecil,” tusuk Min Woo telak yang membuat rona di wajah Yoora.

“Bagaimana kau tahu, huh?” tanya Yoora. Membantah pun juga tidak ada gunanya. Sudah ketahuan seperti ini.

“Saat aku keluar dari kamar kecil, tidak sengaja aku melihatmu tengah memuntahkan sesuatu di wastafel di kamar kecil,” jelas Min Woo sambil mengacak-acak rambut Yoora dan membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Aku yang kalah, Yoora-chan. Jadi aku yang akan menggendongmu pulang sekarang,” kata Min Woo sambil kembali mengecup kening Yoora.

Yoora menggeleng. “Jangan sekarang. Kondisimu sedang tidak baik. Istirahatlah dulu,” nasihat Yoora sambil menggosok-gosokkan tangan kanannya ke lengan kiri Min Woo. Gadis itu menyunggingkan senyumannya yang membuat Min Woo mencubit gemas kedua pipi Yoora. “Sepertinya aku tidak berjodoh dengan capuccino. Lain kali aku akan memesan espresso,” ujar Yoora sambil mengusap-usap kedua pipinya.

Min Woo tersenyum. “Ayo kita rayakan hari ini,” ajak Min Woo sambil mengeluarkan ponselnya dan melingkarkan tangan kirinya di bahu Yoora. Yoora tersenyum sambil memasang wajah lucunya dan membentuk huruf ‘V’ dengan kedua jarinya.

Kimchi….” kata kedua orang itu sambil tersenyum lebar dan ponsel milik Min Woo sudah mengabadikan momen itu.

***

Udara sore yang hangat di cafee tempat Yoora dan Min Woo datangi mendadak ikut menghangat karena sepasang kekasih itu melakukan hal memalukan tapi harus dijalani. Yoora merentangkan tangannya ke samping badannya. Senyum gadis itu merekah sempurna. Min Woo yang berjalan setengah membungkuk karena menggendong Yoora di punggungnya ikut tertawa. Keduanya sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan mengernyit.

Min Woo menghentikan langkah kakinya tepat di depan rumah Yoora. Rumah Yoora memang tidak terlalu besar tapi saat memasuki rumah itu, Min Woo merasa sangat nyaman. Min Woo sangat suka di rumah Yoora karena Ibu Yoora sangat menyayangi Min Woo seperti memperlakukan Yoora.

Yoora segera turun dari gendongan Min Woo. “Aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar, ya. Aku ambilkan dulu,” kata Yoora sambil membuka pintu gerbang rumahnya dan memasuki halaman rumahnya setelah menarik tangan Min Woo untuk masuk ke dalam kawasan rumahnya.

Begitu Yoora memasuki rumahnya, Min Woo berjalan ke taman kecil milik Yoora dan Ibunya. Yoora sepertinya sangat merawat tanaman mawar yang pernah dibelikan Min Woo beberapa bulan lalu. Ada kuncup kecil di salah satu rantingnya. Min Woo baru akan menyentuh kuncup bunga mawar berwarna putih itu saat Yoora muncul dari dalam rumah dengan membawa sebuah kotak kecil.

Yoora mengulurkan kotak kecil itu pada Min Woo. “Kau pasti suka…” Min Woo mengerutkan kening saat menerima kotak kecil dari Yoora itu.

Min Woo membuka kotak kecil itu dan langsung tersenyum lebar. Cangkir bergambar Spongebob. “Aku sangat suka cangkir ini. Aku akan membuat capuccino sendiri dan meminumnya menggunakan cangkir ini, Yoora-chan…” kata Min Woo yang terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah yang diinginkan.

Yoora bertepuk tangan. “Aku memang membeli karena alasan itu, Woo-kun,” kata Yoora sambil tersenyum.

Min Woo langsung mendekap Yoora dan mengecup kening gadis itu. “Terima kasih, Yoora-chan…” kata Min Woo yang mendadak membuat Yoora merasa ganjil. Min Woo terlihat senang sekali dengan cangkir itu.

***

Yoora baru saja akan menelpon ponsel Min Woo saat ponselnya lebih dulu berdering. Nomor yang tercantum di ponselnya sama sekali tidak dikenal Yoora. Biasanya telepon saat tengah malam seperti ini adalah pertanda buruk. Terlebih lagi ini dari nomor yang tidak dikenal Yoora. Gadis itu meneguk salivanya. Entah mengapa perasaannya seperti tercekat. Yoora menarik nafas dalam-dalam saat menerima panggilan itu.

“Yoora-ssi…..” isak tangis itu mendadak membuat Yoora langsung cemas. Perasaannya menjadi tidak enak. Suara ini adalah suara Ibu Min Woo. Ada apa dengan Min Woo?

“Yoora…” suara berat kini menggantikan isak tangis Ibu Min Woo. Pasti ini ayahnya Min Woo. “Min Woo sedang di rumah sakit sekarang. Kau bisa kesini?” tanya Ayah Min Woo tanpa basa-basi.

Deg! Yoora seperti tersengat arus listrik. Kakinya seperti tidak bertulang. Tubuh gadis itu langsung luruh mendengar penjelasan ayah Min Woo. Kepalanya mendadak seperti tertimpa beban yang berat. Air mata Yoora langsung mengalir begitu saja tanpa aba-aba. “Woo-kun…” isaknya.

***

Yoora memandang hamparan laut biru yang memantulkan cahaya matahari di belakang rumah mungil milik Min Woo. Kaki telanjangnya sengaja ia biarkan terkena air laut yang terasa hangat. Air mata gadis itu mengalir. “Woo-kun…. aku rindu padamu….  sepertinya kita tidak ditakdirkan berjodoh disini….” desis Yoora sambil meletakkan cangkir spongebob yang sudah ia lem di atas pasir lembut berwarna kelabu. Cangkir itu sempat pecah saat kecelakaan yang membuat Min Woo terluka dan akhirnya pergi meninggalkan dunia ini. Ada banyak kenangan di dalam cangkir spongebob itu. Seandainya Yoora tidak memberikan cangkir itu pasti sekarang Min Woo masih berdiri di sampingnya.

Yoora tersenyum kecil. “Aku akan membenci capuccino, Woo-kun…. selamanya aku akan membenci kopi favoritmu…” desis Yoora sambil menatap cangkir spongebob yang perlahan-lahan tertarik air laut.

Yoora membalikkan badannya. Gadis itu menghapus air matanya. Gadis itu terdiam sesaat. Min Woo tengah tersenyum di depan teras belakang rumahnya sambil melambaikan tangannya. Bayangan Min Woo kemudian memudar. “Aku sepertinya rindu padamu hingga berhalusinasi, Woo-kun.”

Capuccino manis bukan? Pantas Min Woo sangat menyukai capuccino…” seru seseorang yang membuat Yoora mendongak. Sahabat Min Woo yang Yoora kenal bernama Jong Min. Salah seorang sahabat Min Woo yang menyadari keberadaan Yoora hanya mampu mengingatkan Jong Min tanpa suara. “Kau mau minum, Yoora-ssi? Aku akan membuatkan teh hijau untukmu,” kata Jong Min yang membuat Yoora menggeleng.

“Aku benci teh hijau dan Capuccino. Aku tidak akan pernah mau menyukai itu semua lagi,” desis Yoora pelan sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah Min Woo yang terasa sendu. Yoora menghela nafas panjang saat melihat Ibu Min Woo terus menangis di pelukkan Ayah Min Woo. Aku juga kehilangan Min Woo….

Entah siapa yang harus disalahkan saat kejadian kecelakaan itu. Apakah Min Woo yang lengah karena hadiah Yoora atau salah pengemudi mobilnya yang tidak berhati-hati? Entahlah… Yoora tidak tahu harus menyalahkan siapa. Gadis itu kehilangan Min Woo untuk kedua kalinya. Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini, Yoora tidak akan pernah bertemu dengan Min Woo lagi untuk selamanya.

Bertemu dengan Min Woo seperti rasa pertama yang Yoora kecap saat meminum capuccino. Manis dan legit. Tapi berpisah dengan Min Woo seperti rasa kopi sesungguhnya. Pahit dan membuat sesak di dada. Rasa nyaman di capuccino seolah-olah menyadarkanku jika hidup tidak selamanya terasa manis. Pasti kelak akan menimbulkan rasa pahit….. Yoora menghapus air matanya sambil berlalu keluar rumah Min Woo.

-FIN-

Advertisements

45 thoughts on “C-Clown Coffee Taste – TK’s Story

  1. ahh…knpa ff yg kubaca pada sad end yah akhir” ini… *ehh malah curcol xD

    ff mu keren kok chingu ^^

  2. yah……..
    meski diksinya bagus n rapi… tp saya gedek sm endingnya T~T kenapa harus kecelakaan dasar minwoo dablek <////3 /culik spongebob plushienya t.k/ T^T

    1. ini kayaknya saya kena kutuk ama pembaca deh. wkwkwkw
      Maafkan saya ya udah bikin sad ending. wkwkwkw
      Abisnya bingung mau nulis apa… #LOL
      makasih ya Salicelee udah kasih feedback. :p

  3. hmmm… akhirnya saya bisa mampir juga buat baca ini rasa TK *sd smp sma*

    aku mau kritik ehh saran aja deh yaa…
    di paragraf awal kamu ada pemborosan kata.. selain itu ada beberapa yg penyusunan kalimatnya kurang pas.. udah gitu *ga tau udah ada yg bahas ato blum* kl ada sebuah kalimat dan itu merupakan perasaan si tokoh utama ato ibaratnya si tokoh utama ngomong dalam hati atau sedang bergumam ke diri sendiri ada baiknya di italic (kayanya kamu kelewatan buat italic itu),

    tapi tapi tapi, ceritanya sweet bingiit… gak peduli sama kisah TK yg metong,, pemaparan/? scene roman nya cukup ngena *apalagi buat seorang pembaca yg suka tulisan fluffy kaya aku*… rasa sayang antara dua karakter utamanya nyata banget buat aku *oke ini lebay*.. udah gitu cara kamu ngegambarin karakter Yoora, entah kenapa aku bisa ngebayangin seorang yoora seperti seorang Do Hweji.. kkkk

    jadi endingnya…… hanya mug spongebob yg selamat? berarti mugnya hebat, padahal si TK aja ampe mati tapi tuh mug bisa selamat walopun pecah #ehh

    oke sekian! keep writing! and be a kece/? writer!! good job buat qq yg walopun nulisnya sangat teramat sangat tidak mood tapi bisa menghasilkan karya kece *gimana kalo lg mood, pastinya lebih kece*
    annyeong!!!!!

    1. kritik juga boleh kok Yuk….
      aq pikir ini notif apa. #lol

      iya… pas bagian awal jujur saja aku lagi nggak mood nulisnya. secara itu bener-bener mepet deadline. jadi sekenanya.
      oh iya… aku lupa buat italic yang yuk ratu maksud. hahahaha

      romannya ngena? syukur dah… soalna aku sendiri juga bingung gimana memaparin scene romansa remaja korea. terpaksa menggunakan scene romansanya remaja Jepang. makana aku pake itu karakter karena biar bisa nyambung ke romansa remaja Jepang. #perasaan belakangan ini bener-bener terintimidasi ama Jepang saya ini. -_-”

      do hweji itu siapa yuk? #ditabok

      hahahaha… makasih ya yukkk…. hihihi
      aq ngakak deh baca komen yuk yang terakhir. hahaha
      gomawoyo…. ^^

  4. Uuu 😦 Udah ada feeling buruk pas minwoo yg keadaannya acak2an di cafe. Ku kira meninggalnya karena sakit ternyata gara-gara kecelakaan

    1. Feelingnya hebat…. hihi.
      Aku awalnya malah ga kepikiran buat bikin cerita yang meninggalnya karena sakit. Kepikirannya kecelakaan ntu…
      Makasih dear…

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s