C-Clown Coffee Taste – Maru’s Story


BITTERSWEET FIRST LOVE

Author : beedragon | Casts : C-Clown’s Maru as Lee Jaejoon/Maru |Genre : Romance | Length : Oneshot | Rating : General

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader.

When love taste as bittersweet like coffee

.

Bagaimana pengalaman cinta pertama kalian? Bahagia? Duka? Apakah kalian masih bersama dengan cinta pertama kalian? Atau justru sudah berpisah dan bertemu dengan cinta baru? Jika kalian sudah berpisah dengan cinta pertama kalian, apakah kalian masih mengingatnya? Mengingat sang cinta pertama? Kenangan seperti apa yang ia tinggalkan di hidupmu?

.

.

.

.

“Wangi apa ini?”

Lee Jaejoon atau akrab dipanggil Maru (karena alasan tertentu) mengenduskan hidungnya menikmati aroma unik yang menggoda indera penciumannya. Jaejoon mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sumber dari aroma nikmat itu. Ia tak menemukan apapun selain Siwoo yang sedang menyeruput minumannya.

“Hyung, kamu minum apa??” Jaejoon menghampiri Siwoo dan wangi itu terasa makin kuat.

“Minum? Maksudmu ini?” tanya Siwoo sambil mengangkat gelasnya.

Jaejoon mengintip isi gelas Siwoo. Ia melihat cairan hitam kecoklatan. Jaejoon mengernyitkan dahinya melihat minuman Siwoo. Ternyata wangi tersebut berasal dari minuman Siwoo. Bagaimana bisa minuman yang begitu wangi memiliki penampilan sejelek ini, pikir Jaejoon.

“Euwwhh, minuman apa itu, hyung?” tanya Jaejoon.

“Ini minumannya orang dewasa. Kamu masih kecil, jadi gak akan tahu nikmatnya minuman ini,” ledek Siwoo.

“Ini soju?” tanya Jaejoon polos.

Siwoo nyaris terjatuh dari bangkunya mendengar pertanyaan Jaejoon.

“Habisnya soju kan minuman orang dewasa,” sahut Jaejoon tanpa dosa. Jaejoon masih menghirup wangi minuman milik Siwoo.

Siwoo langsung merebut gelasnya dari Jaejoon dan kembali menyeruput minumannya. “Ini namanya kopi. Dan yang aku minum ini namanya black americano. Kamu mau coba? Eh tapi jangan. Kamu masih kecil, jadi belum boleh terkontaminasi caffeine,”

“Hyung, kamu terus saja meledekku. Aku ini sudah besar. Apa kamu gak lihat otot ini?” Jaejoon memamerkan bicep lengannya.

“Hahahaha. Habisnya kamu terlalu polos begini. Sebaiknya kamu minum susu saja biar makin tinggi,” ujar Siwoo sambil menyodorkan susu kotak pada Jaejoon.

Jaejoon hanya bisa cemberut. “Tapi wanginya enak. Apa aku tak boleh mencobanya sedikit saja. Kalau aku sudah mencobanya aku gak akan penasaran lagi dengan rasanya.”

Siwoo malah menjauhkan gelasnya dari Jaejoon. Siwoo memilih untuk mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menjawab telepon masuk yang berasal dari kekasihnya. Jaejoon hanya bisa menahan rasa mualnya melihat Siwoo bermesraan dengan ponselnya.

“Ne, jagiya. Oppa akan jemput kamu nanti sore. Saranghae uri jagi. Ittabwa,” Siwoo menyudahi percakapannya.

Jaejoon mengerang tertahan melihat aegyo yang dilancarkan Siwoo pada ponselnya. Jaejoon memandangi Siwoo seolah dia adalah makhluk paling menjijikan yang ada di muka bumi ini.

“Hyung, cinta benar-benar membuatmu terlihat menggelikan,” ujar Jaejoon.

Siwoo segera saja menjitak kepala Jaejoon. Ia kini sudah bertolak pinggang menatap Jaejoon. “Tunggu sampai kamu merasakannya, Maru-ya. Cinta bisa membuat duniamu jungkir balik. Ahh tapi kamu ini masih kecil, mana mengerti soal cinta,”

“Hyung, jangan sebut aku anak kecil. Dan kenapa juga kamu senang memanggilku dengan sebutan Maru? Namaku itu Jaejoon, hyung. Lee Jaejoon,” protes Jaejoon.

“Habisnya kamu lucu dan menggemaskan seperti Maru, kucing yang terkenal di UCC,” ledek Siwoo. “Maru-ya, cari pacar sana, biar kamu sedikit dewasa.”

Jaejoon hanya bisa diam mendengar ucapan Siwoo itu.

.

.

.

Jaejoon berkeliling daerah kekuasaannya siang ini. Baru saja ia melihat-lihat beberapa toko ketika dirasakannya hujan turun membasahi bumi. Jaejoon pun memutuskan untuk mampir di sebuah cafe terdekat.

“Selamat datang!” sapa pelayan cafe.

Jaejoon berbalik untuk melihat isi cafe.

Yeaah, restoran. Dan sekarang aku harus membeli minuman mereka agar aku bisa berteduh disini.

Jaejoon merogoh sakunya untuk melihat isi dompetnya. Ternyata masih cukup untuk membeli secangkir minuman dan sepotong kue. Jaejoon pun menghampiri konter cafe.

“Selamat datang. Mau pesan apa?” sapa pelayan cafe.

Jaejoon sempat tertegun sejenak melihat pelayan tersebut. Pelayan itu tampak seperti masih sangat muda, bahkan mungkin masih SMP tingkat akhir atau SMA tahun awal atau setidaknya pelayan itu seusia Jaejoon –menurut Jaejoon. Apalagi postur tubuh pelayan itu cukup mungil –jika dibandingkan dengan dirinya sendiri. Jaejoon pikir, mungkin pelayan ini sedang kerja sambilan disini. Tapi ia bingung, bagaimana bisa pemilik cafe mengijinkan anak sekolahan untuk menjalankan usahanya.

Setelah puas meneliti si pelayan imut, Jaejoon pun mendongakkan kepalanya untuk melihat menu-menu yang terpajang di dinding yang ada di belakang si pelayan. Jaejoon mengernyitkan keningnya membaca isi menu.

Ice blended cappuccino, caramel macchiato, creme frappuccino, white coffee, chocolatte, vanilla creme, moccaccino

Tak ada satupun dari menu tersebut yang Jaejoon kenal. Ia hanya terus mendengungkan uh, ah, hm, ng sepanjang ia membaca menu tersebut. Si pelayan sudah mulai menahan senyumannya melihat kebingungan Jaejoon. Tapi akhirnya Jaejoon menangkap satu menu minuman yang ia kenal, yang baru saja ia temui kemarin -walau belum pernah mencoba sama sekali seperti apa rasanya.

Black americano!” seru Jaejoon penuh kemenangan, seolah ia baru saja menjawab pertanyaan bernilai satu milyar dolar.

Si pelayan imut akhirnya melepas senyumnya yang sedari tadi ia tahan. “Black americano? Hot or cold?”

Jaejoon tercenung mendengar pertanyaan si pelayan. Panas atau dingin? Kemarin Siwoo hyung minumnya panas atau dingin?

“Apa ini pertama kalinya anda meminum kopi? Kalau iya, sebaiknya untuk perkenalan pertama jangan dengan black americano. Bagaimana kalau caramel macchiato atau chocolatte?” saran si pelayan cafe.

Jaejoon merasa tersinggung dengan tawaran si pelayan. Seolah si pelayan sedang meledeknya tidak bisa minum kopi, sama seperti Siwoo yang melarangnya mencicipi black americano.

“Tahu apa kamu soal kopi?! Jangan mentang-mentang kamu bekerja disini, lalu kamu seenaknya mengatur-atur aku. Mana bosmu? Biar aku bicara saja dengan pemilik cafe ini. Kenapa pelayannya malah melarangku memesan minuman. Aku juga bisa minum kopi. Hanya saja aku tadi tidak melihat kalau ada menu kopi kesukaanku di menu kalian,” protes Jaejoon.

Tidak melihat menu kopi kesukaanku. Oh Jaejoon, apa tidak ada alasan yang lebih kreatif? rutuk Jaejoon dalam hati.

“Bukan begitu maksudku. Kuberitahu saja ya. Kopi itu tidak seenak wanginya. Kalau kamu mencoba black americano, nanti yang ada kamu akan benci dengan kopi karena merasa kopi itu tidak enak,” ujar si pelayan.

“Ya sudah apa saja. Yang penting kopi. Kenapa kamu malah menawarkanku caramel dan coklat? Memangnya aku anak kecil apa?” ketus Jaejoon. Ia harus terlihat seolah dirinya ahli dalam hal ‘perkopian’.

Si pelayan kembali memamerkan senyum manisnya. “Caramel machiatto itu kopi dengan sensasi rasa caramel, sedangkan chocolatte adalah latte dengan campuran coklat. Bagaimana kalau chocolatte saja?”

Jaejoon tak tahu kalau kopi itu ada berbagai macam ragamnya. Kopi dicampur caramel? Apa rasanya? Jaejoon pun hanya bisa mengangguk pasrah dan mengeluarkan uang untuk membayar pesanannya.

“Kuberi setengah harga,” ujar si pelayan sambil mengembalikan setengah uang Jaejoon. “Ini diskon dari si pemilik cafe. Maaf kalau pemilik cafenya terkesan lancang padamu.”

Rasanya Jaejoon ingin mengubur dirinya saat ini juga. Sempurna. Ia jelas-jelas kalah telak dari pelayan –pemilik cafe –ini.

.

“Uugghhh!! Memalukan! Dia itu yang punya cafe, babo! Bagaimana bisa kamu bicara sok tahu begitu?! Aigoo, Jaejoon-ah. Tamat sudah riwayatmu.”

Jaejoon menjambak rambutnya sendiri. Sambil menunggu hujan reda Jaejoon duduk di dekat meja kasir. Dari sana Jaejoon bisa melihat keadaan di luar cafe, sekaligus melihat gerak-gerik si pelayan cafe –yang ternyata adalah pemilik cafe.

Jaejoon penasaran dengan si pemilik cafe. Ia cukup takjub karena perempuan itu bisa menjalankan sebuah cafe sendirian (sebenarnya tidak sendirian, karena disana juga ada beberapa pelayan yang berkeliaran). Dan melihat dari caranya menyapa, membuatkan kopi sampai melayani pelanggan, Jaejoon sudah bisa menebak kalau perempuan ini bukan setahun atau dua tahun menjalankan cafe ini. Jaejoon pun penasaran akan umur si pemilik cafe. Tapi Jaejoon lebih penasaran lagi akan namanya.

Jaejoon memalingkan wajahnya dari si pemilik cafe dan memilih untuk menghirup wangi kopinya. Wangi kopi kali ini lebih manis daripada yang kemarin di minum Siwoo. Jaejoon pun mencoba untuk menyeruput kopinya.

Manis.

Walau masih ada rasa pahitnya, tapi manis dari coklatnya begitu terasa dan tidak mengurangi rasa kopi itu sendiri.

“Jadi seperti ini rasanya kopi,” gumam Jaejoon.

Dan Jaejoon pun akhirnya menemukan minuman favoritnya. Kopi menjadi minuman favoritnya.

.

“Noona, kali ini aku mau mencoba creme frappucino. Yang dingin ya,” ujar Jaejoon.

Jaejoon kini jadi sering main ke café de l’amour, cafe tempat Jaejoon menemukan ketertarikannya terhadap kopi. Jaejoon sudah mencicipi kopi ke berbagai cafe, tapi hanya kopi di cafe inilah yang sesuai dengan lidahnya. Jaejoon menyukai kopi yang disajikan di cafe ini, begitu juga dengan barista sekaligus si pemilik cafe.

“Ceria sekali kamu hari ini, Maru??” Noona pemilik cafe menegur Jaejoon.

Jaejoon memang sudah berkenalan dengan si pemilik cafe, tapi sampai detik ini si pemilik cafe menolak memberitahu namanya. Karenanya Jaejoon hanya memanggilnya dengan sebutan Barista Noona atau Yeppeun Noona atau hanya Noona. Sementara sang noona hanya memanggil Jaejoon dengan Maru –Jaejoon memperkenalkan dirinya sebagai Maru.

“Tentu saja ceria. Karena akhirnya aku bertemu Noona lagi. Apa kabarmu, Noona?”

Sang noona hanya menggangguk sembari menjawab pertanyaan Jaejoon. Ia kemudian sibuk dengan mesin kopinya sementara Jaejoon sibuk bercerita padanya mengenai kegiatannya hari ini.

Menurut info yang Jaejoon terima –berkat bertanya-tanya pada sang noona, Jaejoon tahu kalau sang noona sudah lima tahun lebih jadi seorang barista. Berdasarkan riset yang Jaejoon lakukan, Jaejoon sudah bisa menebak-nebak usia sang noona. Jika dihitung dari lamanya sang noona belajar sampai menjadi barista, kemungkinan beda usia mereka sepuluh sampai dua belas tahun. Tapi wajah sang noona yang imut itu benar-benar membuat Jaejoon menolak menerima tebakannya sendiri. Si noona sendiri juga tak memberitahu usianya. Sedangkan Jaejoon tak enak mau menanyakan usia sang noona –ia takut terkesan lancang. Dan lagipula rasa suka tak perlu dibatasi oleh umur bukan?

Apa tadi dia bilang? Suka? Ya, Jaejoon menyukai sang noona. Ketika bercerita pada Siwoo mengenai perempuan yang mengenalkannya pada kopi, hyung-nya itu langsung menebak kalau Jaejoon menyukai perempuan itu. Jaejoon sendiri menolak mengakuinya, sebab ketika itu Siwoo menebak perasaannya sambil meledek dirinya.

“Maru bisa jatuh cinta juga,” katanya. Tentu saja Jaejoon sebal diledek seperti itu, jadi Jaejoon tak mau mengakuinya. Kalau sampai Siwoo tahu bahwa yang diceritakan Jaejoon itu adalah seorang noona, bisa habis ia diejek Siwoo.

“Apa yang membuatmu begitu menyukai kopi, Noona?” Jaejoon berusaha mendapatkan perhatian sang noona.

Creme frappuccino pesanan Jaejoon sudah jadi dan sang noona membawanya ke hadapan Jaejoon. “Hmmm, aku suka wanginya, rasanya, bentuknya, aku suka semuanya. Kamu?”

“Aku juga sama sepertimu, Noona,” tapi aku juga menyukai si pembuatnya, Jaejoon tersenyum pada sang noona.

Noona itu menyodorkan sepotong tiramisu ke hadapan Jaejoon. Melihat kue di hadapannya membuat Jaejoon langsung sumringah.

“Hadiah untuk Maru.”

“Untukku? Gratis? Waahh, kalau seperti ini aku akan rajin datang kesini.”

Jaejoon langsung menyantap tiramisu tersebut. Begitu kue tersebut meleleh di mulutnya, Jaejoon langsung menatap sang noona terharu.

“Ini.. terbuat dari kopi juga? Wahh, Noona jjang-ya!” Jaejoon mengacungkan kedua jempolnya.

Eottae?? Masiseoyo?

Jaejoon hanya bisa menganggukkan kepalanya antusias. Jaejoon tak peduli jika ia tampak seperti anak kecil yang baru ketemu kue, tapi saat ini ia benar-benar tak bisa menahan kekagumannya pada sang noona. Baginya sang noona tampak begitu sempurna. Dia pintar, cantik, jago masak pula –walaupun hanya berupa kue- dan yang terpenting dia ahli dalam membuat kopi.

“Noona,” ujar Jaejoon begitu ia menghabiskan tiramisunya tanpa sisa. “Jumat ini Noona ada acara?”

Si noona menghentikan aktifitasnya mengelap meja dan berpaling melihat Jaejoon. “Kenapa?”

“Apa kamu mau pergi denganku? Aku mau belajar membuat kopi. Aku ingin menjadi barista sepertimu,” tanya Jaejoon penuh harap.

Sebenarnya ini hanya alasan agar Jaejoon bisa mengajak sang noona kencan. Karena Jaejoon tahu sang noona pasti akan langsung menolaknya jika Jaejoon mengajak jalan tanpa membawa-bawa masalah kopi.

Sang noona tampak menimang-nimang sejenak. Kemudian ia tersenyum pada Jaejoon –dan terlihat sedikit merasa bersalah. “Maaf, Maru-ya. Tapi Jumat ini aku harus pergi ke suatu tempat.”

“Ohh,” Jaejoon tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Benar saja dugaannya, sang noona pasti akan menolaknya. Sudah beberapa kali Jaejoon mengajaknya jalan dan selalu berakhir sama, ditolak. Jaejoon pun langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap frappuccinonya yang mulai habis.

“Jumat ini aku mau pergi ke pasar untuk mencari biji kopi yang bagus. Kalau kamu mau ikut silakan saja,”

Jaejoon langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang noona penuh harap. Matanya sudah berkilauan mendengar tawaran sang noona. Tentu saja Jaejoon tak akan menolaknya.

“Oke, call!!”

.

.

Tidak ada hari yang lebih ceria dibandingkan hari ini bagi Jaejoon. Bagaimana tidak, akhirnya ia bisa jalan berdua dengan si barista noona, pujaan hatinya. Meskipun mereka hanya berkunjung ke pasar tradisional, tetap tak mengurangi euforia di hati Jaejoon. Sepanjang jalan ia tak bisa berhenti tersenyum.

“Apa kamu begitu senangnya pergi ke pasar?” tegur sang noona. Ia cukup takjub melihat keantusiasan Jaejoon. Semua tentu berpikir kalau anak lelaki seperti Jaejoon pasti tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di pasar. Tapi melihat keceriaan Jaejoon, sepertinya Jaejoon merupakan pengecualian.

“Karena ini kan sama saja dengan proses belajar. Pertama-tama kita harus mengenal jenis-jenis biji kopi dulu kan?” Jaejoon mencoba mengarang sebuah alasan. Tak mungkin ia bilang kalau ia senang bisa kencan dengan barista noona, bukan?

Kencan?

Ya, bagi Jaejoon, ini adalah kencan. Silakan tertawa jika merasa pemikiran Jaejoon terdengar kekanakkan. Kebetulan Jaejoon sedang bahagia sekarang, jadi segala ejekan akan ia hiraukan.

Keduanya berkeliling pasar untuk mencari biji kopi berkualitas. Hari ini benar-benar menambah daftar panjang ‘kenapa Jaejoon harus menyukai barista noona’. Karena hari ini sang noona tampak begitu sempurna ketika ia sedang memilih-milih dan mencium satu persatu biji kopi yang ditemuinya. Hanya dengan memegang dan mencium, sang noona tahu mana biji kopi yang akan menghasilkan kopi yang enak dan mana yang tidak. Selain itu cara sang noona bercengkerama dengan pemilik kios, menawar harga biji kopi yang akan dibelinya, sampai merayu sang penjual agar mau menambahkan biji kopinya, semuanya membuat Jaejoon makin terpesona.

Tunggu sampai kamu merasakannya, Maru-ya. Cinta bisa membuat duniamu jungkir balik.

Ucapan Siwoo kembali terngiang di telinganya. Jaejoon jadi merasa kalau ia perlu meminta maaf pada hyung-nya itu karena sudah meledeknya. Sebab ia sudah merasakannya sendiri. Kalau dunianya berubah sejak sang noona masuk ke kehidupannya.

“Kamu mau makan apa, Maru?” tanya sang noona ketika mereka sudah selesai berburu biji kopi.

“Noona mau makan apa?” Jaejoon membalik pertanyaan sang noona.

“Bibimbap!”

Tanpa sadar Jaejoon tersenyum melihat ekspresi sang noona. “Kalau begitu kita akan makan bibimbap. Kali ini aku yang traktir. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau mengajariku memilih biji kopi,”

“Uwaaah. Gomawo,” riang sang noona sambil mencubit pipi Jaejoon.

.

Maru dan sang noona kini sedang menikmati makan siangnya di sebuah warung tenda yang ada di dalam pasar. Jaejoon pikir sang noona akan memilih untuk keluar pasar dan mencari restoran yang tempatnya lebih baik daripada disini. Tapi noona itu bilang kalau bibimbap di pasar inilah yang paling enak. Dan Jaejoon setuju akan hal itu. Mungkin itu adalah bibimbap terlezat yang pernah Jaejoon nikmati.

Keduanya (atau hanya sang noona) kini sudah melahap bibimbap di hadapan mereka. Jaejoon sendiri lebih tertarik mengamati ekspresi sang noona saat sedang makan. Ketika makanan di piring sang noona sudah mulai habis, barulah Jaejoon kembali menarik perhatiannya.

“Noona, aku mau tanya sesuatu padamu,” ujar Jaejoon.

“Tanya apa? Tanya saja.”

“Hmmm. Aku menyukai seseorang, tapi sepertinya dia hanya menganggapku sebagai anak kecil saja. Aku harus bagaimana agar dia bisa melihatku sebagai seorang lelaki?” tanya Jaejoon. Jaejoon memancing sang noona dengan pertanyaan seperti itu .

“Jadi dirimu sendiri saja, Maru. Tak perlu berubah untuk menarik perhatian seseorang. Kalau ternyata orang itu menyukaimu setelah kamu berubah, itu artinya dia tidak menyukai dirimu yang apa adanya,” jelas sang noona begitu ia selesai menelan makanannya. “Memangnya siapa yang kamu suka? Kenalkan padaku, biar aku tunjukkan padanya kelebihanmu,”

Lagi-lagi Jaejoon tersenyum mendengar ucapan sang noona. “Memangnya apa saja kelebihanku, Noona?” Jaejoon sungguh penasaran akan pendapat sang noona mengenai dirinya.

“Hmm… Kamu cukup pintar dan cepat tanggap. Kamu juga lebih tinggi dibandingkan anak seumurmu. Awalnya kukira kamu itu sudah kuliah, karena postur tubuhmu itu seperti anak kuliahan. Ternyata kamu masih SMA,”

“Maksudnya tampangku tua begitu?” Jaejoon berpura-pura tersinggung. Tapi si noona dengan segera menghibur hatinya dengan menyebutkan berbagai sisi manis Jaejoon.

“Aihh, sepertinya Noona sudah jatuh cinta padaku. Bagaimana ini?” gurau Jaejoon.

“Hahahaha silakan berharap, Tuan Maru,”

Dan keduanya pun tertawa. Sungguh, Jaejoon benar-benar berharap kalau sang noona bisa membalas perasaannya.

.

.

Terlalu banyak moment-moment manis antara Jaejoon dan sang noona. Tapi Jaejoon sama sekali tak bisa menebak apa perasaan sang noona terhadapnya. Apakah hanya sebagai adik saja ataukah sang noona pernah menganggapnya (walau sedikit saja) sebagai seorang lawan jenis yang bisa menjadi pasangannya.

Jaejoon tak bisa menahan lagi. Dia sudah memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada sang noona. Dengan begitu ia tak penasaran lagi.

“Sebenarnya siapa sih barista itu, Maru?” tanya Siwoo ketika Jaejoon mengutarakan kegelisahannya.

“Sepengetahuanku, kalau mau menjadi seorang barista itu harus belajar mengenai kopi setidaknya empat sampai lima tahun. Dan sangat tidak mungkin seorang perempuan begitu lulus SD langsung mengambil sekolah khusus barista,” ujar Siwoo. “Katakan saja padaku, Maru. Barista yang kamu ceritakan ini adalah seorang noona, kan?”

“Kalau dia memang seorang noona, kenapa? Apa aku tak boleh menyukainya?” Jaejoon hanya bisa cemberut menyahuti ucapan Siwoo.

Siwoo langsung menghampiri Jaejoon dan menepuk pundaknya pelan. “Kita tak bisa menyalahkan perasaan kita untuk jatuh cinta pada siapapun. Tapi…” Jaejoon mengangkat kepalanya untuk menatap Siwoo yang kini terlihat khawatir. “Aku hanya tak ingin kamu berharap banyak padanya,”

“Kenapa?”

Siwoo menghela napas panjang. “Karena dia seorang noona yang sudah sukses. Tak mungkin dia masih single, pasti sudah ada pria beruntung yang memilikinya. Bisa saja dia sudah memiliki suami.”

“Aku tak pernah melihat pemuda itu. Dan noona juga tak pernah membahas mengenai kekasih ataupun suaminya padaku,” sahut Jaejoon.

“Jaejoon-ah,” Jaejoon mengangkat kepalanya menatap Siwoo kaget. Karena tak biasanya Siwoo memanggil nama aslinya. Siwoo sendiri tampak cukup khawatir akan Jaejoon.

“Jangan melarangku, Hyung. Sama seperti ketika kamu melarangku untuk mencoba kopimu, kamu bilang aku belum cukup umur untuk menikmati kopi. Tapi noona berhasil menunjukkan padaku kalau kopi itu nikmat. Noona memberikan dunia baru padaku. Jadi apa aku benar-benar tak boleh menyatakan perasaanku padanya?” protes Jaejoon.

“Terserah kamu, Maru. Tapi hyung ingin ingatkan kamu satu hal. Sama seperti ketika kamu mencoba secangkir kopi. Saat kamu merasakan pahitnya, jangan pernah kapok untuk mencoba lagi hingga kamu menemukan manisnya kopi. Jadi ketika sesuatu yang buruk terjadi atas pengalaman cinta pertamamu ini, hyung harap kamu tidak kapok untuk mencoba lagi,” pesan Siwoo.

.

.

.

Jaejoon benar-benar berniat untuk menyatakan perasaannya pada sang noona hari ini. Tapi sayangnya cuaca saat ini tidak mendukung. Hujan mendadak turun membasahi bumi. Jadi Jaejoon mampir dulu ke sebuah toko untuk membeli payung. Setelah membeli payung untuk melindunginya –serta buket bunga yang dibawanya– dari hujan, Jaejoon pun segera melangkahkan kakinya menuju café de l’amour.

Sesampainya di dekat cafe, Jaejoon melihat pelataran cafe dipenuhi orang-orang. Perasaan Jaejoon tidak enak. Ia pun bergegas berlari ke depan cafe. Ia berusaha menerobos orang-orang yang memenuhi halaman cafe.

“Romantis sekali,”

“Aku juga mau dilamar seperti itu,”

“Walaupun hujan sedikit mengacaukan lamarannya, tapi justru malah terlihat makin dramatis,”

Jaejoon mendengarkan orang-orang itu bergunjing. Jaejoon menatap ke sekeliling area cafe untuk mencari sang noona. Akhirnya ia menemukan sosok sang noona di teras cafe. Dan noona itu tak sendirian. Sang noona tampak sedang berdiri di hadapan seorang pemuda yang sudah basah kuyup.

“Lihatlah dirimu. Kamu jadi basah kuyup begini kan. Siapa suruh melamarku ditengah hujan begini. Pabo,” ujar sang noona pada pemuda tersebut. Walau sedang memarahi pemuda itu, tapi senyuman bahagia tercipta di wajahnya.

“Mana kutahu kalau hari ini akan hujan. Tapi hujan ini tak mengalahkan niatku untuk melamarmu. Uri Sarangi! Narang gyeorhonhaejullae?!” seru sang pemuda.

Hati Jaejoon mencelos begitu mendengar seruan pemuda itu. Ia melihat pemuda itu sudah mengulurkan tangannya pada sang noona. Pemuda itu ternyata menyodorkan sebuah kotak kecil –yang diduga Jaejoon sebagai kotak cincin.

Dan benar saja. Isi kotak itu adalah sebuah cincin.

Ne, pabo-ya. Tanpa kamu hujan-hujanan seperti inipun aku mau menikah denganmu,” jawab sang noona seraya mengambil cincin tersebut dari kotaknya.

Pengunjung yang memenuhi area cafe sudah bersorak sorai melihat adegan manis di hadapan mereka. Tapi tidak dengan Jaejoon. Ia tampak terpuruk sekarang. Bahkan buket bunga yang sedari tadi ia pegang penuh kehati-hatian, kini sudah jatuh ke tanah. Begitu juga dengan perasaannya yang tadi berbunga-bunga, kini sudah hilang seolah luntur terbasuh air hujan.

Jaejoon pun meninggalkan area cafe dengan perasaan yang sangat terluka.

.

.

.

“Oh, Maru-ya. Kemana saja kamu?”

Jaejoon kembali mengunjungi café de l’amour. Ini adalah yang terakhir kalinya ia kesana –begitulah tekadnya. Jaejoon terlalu terluka jika ia melihat lagi wajah sang noona. Karena kilasan-kilasan adegan lamaran itu kembali memenuhi pikirannya. Betapa sang noona tampak bahagia menerima lamaran kekasihnya, itu membuat Jaejoon berusaha menjauh dari sang noona.

Jaejoon menghabiskan harinya dengan terus menyalahkan dirinya. Ia menyalahkan hujan yang turun secara tiba-tiba. Ia menyalahkan cuaca yang membuat dirinya harus mampir dulu ke toko untuk membeli payung. Ia juga menyalahkan florist tempat ia memesan bunga, karena tak membuat buket bunga sesuai keinginannya sehingga ia harus menunggu sang florist membuat ulang pesanannya. Terlebih lagi, Jaejoon menyalahkan ketidak-beruntungannya. Ia tak pernah menyangka cinta pertamanya akan berakhir seperti ini.

“Aku sedang berduka, Noona. Bisa aku minta black americano?” ujar Jajoon tanpa tenaga.

Sang noona menyadari ada yang aneh dengan Jaejoon. Tapi noona itu memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh mengenai perasaan Jaejoon. Ia pun bergegas membuatkan secangkir black americano untuk Jaejoon.

“Kenapa, Maru-ya? Apa kamu ada masalah? Kamu bisa cerita sama noona,” ujar sang noona setelah menyodorkan pesanan Jaejoon.

Jaejoon menatap secangkir americano di hadapannya. Hitam pekat. Sama seperti hari-harinya belakangan ini yang kelam. Jaejoon pun menghirup wangi kopi tersebut. Tak jauh beda dengan kopi yang selalu diminum Siwoo. Hanya saja black americano buatan sang noona terasa lebih manis wanginya. Jaejoon akhirnya menyesap kopinya. Pahit. Hanya rasa pahit yang ia rasakan, memenuhi indera perasanya.

“Kudengar kamu habis dilamar, Noona. Kenapa kamu tak pernah cerita kalau kamu sudah punya pacar?” tanya Jaejoon, berusaha menciptakan sebuah percakapan.

Rona merah tampak menghiasi pipi sang noona dan ia mulai memain-mainkan cincin yang menghiasi jari manis kanannya. Dan Jaejoon tahu persis kalau ia tak ingin mendengar cerita sang noona. Tapi Jaejoon tetap berusaha terlihat tertarik akan ceritanya. Ia mendengarkan cerita sang noona seolah itu adalah cerita paling menarik, walau hatinya tersayat-sayat mendengar kebahagiaan sang noona.

“Kenapa kamu tak pernah cerita padaku kalau kamu sudah punya kekasih, Noona?”

Kali ini sang noona tampak sedikit merasa bersalah. “Maaf, Maru-ya. Aku pikir akan terdengar membosankan jika aku menceritakannya padamu. Dia itu adalah cinta pertamaku. Kita bertemu lima belas tahun yang lalu dan sudah mulai menjadi sepasang kekasih sekitar lima tahun yang lalu,”

Jaejoon mengangguk mengerti. Ia kembali menyesap kopinya dan menyisakan kurang dari setengah cangkirnya. Jaejoon meresapi pahitnya americano itu.

“Menyenangkan sekali noona bisa bersama dengan cinta pertama noona. Noona, cinta pertamaku tidak berakhir baik. Tidak terasa manis seperti chocolatte atau caramel machiatto. Tapi pahit seperti black americano,” ujar Jaejoon. Nada suaranya terdengar seolah ia baru saja melalui hari yang berat.

“Ohh, Maru, maafkan aku,” iba sang noona. “Jadi kamu sudah menyatakan perasaanmu padanya, pada cinta pertamamu? Apa karena itu kamu tampak begitu suram hari ini?”

Ani. Aku belum menyatakan perasaanku padanya. Tapi aku sudah tahu jawabannya. Kemarin aku melihat sendiri siapa yang dipilihnya. Aku patah hati, noona. Apa yang harus kulakukan untuk mengurangi sakitnya?” ujar Jaejoon penuh luka.

“Maru-ya. Apapun yang terjadi, kamu jangan patah semangat. Jika kamu tak mendapatkan cinta pertamamu, siapa tahu akan ada cinta kedua yang lebih pantas untukmu. Mungkin cinta pertamamu ini memang bukan untukmu, tapi yakinlah akan ada seseorang yang memang ditakdirkan hanya untukmu,” hibur sang noona.

Jaejoon menatap sang noona intens. Tatapan Jaejoon itu membuat sang noona tampak sedikit tidak nyaman.

“Noona, boleh aku tahu siapa namamu? Agar aku tak penasaran lagi,” pinta Jaejoon.

“Aigoo, Maru-ya. Namaku itu sungguh kampungan. Makanya aku tak mau memberitahu namaku,” sang noona kembali berusaha menolak memberitahu namanya tapi Jaejoon tak mau mendengar alasan itu dan tetap memaksa sang noona untuk memberitahu namanya. Sang noona pun menyerah. “Baiklah. Kamu tahu arti nama cafe ini?”

“Cinta?”

“Yupp, cinta dalam bahasa Prancis. Nama cafe ini diambil dari namaku. Namaku adalah Sarang. Cha Sarang. Itu terdengar kampungan bukan? Cha sarang. Itu terdengar seperti cinta pertama. Aku sering mendapatkan ejekan karena namaku itu. Makanya aku tak pernah mau memberitahu namaku pada siapapun juga,”

Jaejoon nyaris tertawa. Ia bukan menertawakan nama sang noona. Tapi ia menertawakan nasibnya.

“Namamu bagus, Noona. Ah aku akan pergi ke Seoul besok. Dan tampaknya aku tak akan kembali untuk waktu yang lama. Karenanya aku mau pamitan padamu,” ujar Jaejoon.

Sang noona memiringkan kepalanya menatap Jaejoon bingung. Ia baru tahu kalau Jaejoon akan pergi jauh.

“Sebelum aku pergi aku mau mengatakan sesuatu padamu, Noona,” Jaejoon lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku bertemu dengan cinta pertamaku. Jatuh cinta padanya tanpa pernah tahu siapa namanya. Tapi sayangnya cinta pertama itu tak bisa membalas perasaanku, karena dia sudah memiliki cinta pertamanya. Aku berusaha untuk tidak merusak kebahagiaannya dengan menyatakan perasaanku padanya. Tapi aku juga tak bisa menyimpan ini sendirian.”

Noona itu memandangi Jaejoon bingung. Ia tampaknya tahu ke arah mana pembicaraan Jaejoon ini. Dan hal yang ia takutkan pun terjadi. “Maru-ya..”

Noona. Noona neun nae cheot sarangiya,”

Dan Jaejoon pun mengutarakan perasaannya pada sang noona.

.

.

.

.

Bagiku cinta pertamaku adalah hal yang tak bisa kulupakan.

Bagiku cinta itu seperti kopi, sekali kamu sudah merasakan pahitnya maka rasa itu akan terus membekas di dirimu. Tapi sekali kamu merasakan manisnya, maka rasa manis itulah yang akan tertanam di dirimu.

.

END OF MARU STORY

.

author note : ini adalah Project perdana FF K-Pop Indonesia. bee kebagian untuk bikin FF si Maru. Jujur aja Bee sama sekali ga tau yang namanya C-Clown apalagi Maru. jadi disini bee bikin Maru itu OOC total. dan lagi bee bikin ini FF sebelum tau mukanya maru, profilnya maru (puhahaha maaf ketawa bentar, ketauan banget ga update).. jadi buat fans-nya maru maaf2 aja ya kl maru jadi gaje begini. semoga kalian suka sama karya bee yang satu ini..
Oia.. akhirnya bee publish FF lagi di FFKPI!!!!! *tebar confetti* *joged bareng maru*

37 thoughts on “C-Clown Coffee Taste – Maru’s Story

  1. Hwaaaa~~ Maru yang tabah ya :’)

    aku suka ceritanya! ^0^
    aku suka gaya bahasanya~~
    FF nya daebak thor!!! XD

    berasa pengen jadi noona-nya Maru! *halaah

    1. heung.. ini masuk kategori sad ending yah???
      ya walopun maru ga jadian ama noona barista itu,, tapi maru kan jadian ama noona author ini #eehh?
      hehehe
      makasih ya udah mampir 😀

  2. Reblogged this on BeeDragon Planet and commented:

    Beedragon New Oneshot with Maru!!! Do you know Maru from C-Clown? If you don’t, then try his coffee taste. Maybe you will drown into Maru’s charm after try it. Oh Don’t fallling in love with him, kay? hehe

    ~beedragon~

  3. Eonni… mian baru komen…
    Sebenarnya sih ya udah baca dari awal ff ini dipost .. tapi karena dari hp jadi ga bisa langsung komen… hehehe.. baru keinget ini… ^^v
    Seingatku aku suka ff ini…
    Rasa cinta kopinya Maru emang pahit…. tapi emang ga semuanya harus berakhir manis…
    di sini Maru bener-bener digambarin dg sosok maknae banget…
    dan dari ff ini aku juga tau macem-macem jenis kopi 😀 #gakgaul

    itu aja sih eon.. walau suka c clown,, aku juga blum tau banget soal karakter member2nya…

    Hwaiting Eonni! ^^

  4. Haaaaaaaiiiii beeee
    Aku pengunjung wordpressmu pertama kali lgsg baca ttg ahreum dan exo, abis vakum, abis itu kebetulan aku penasaran sm ceritamu yg c-clown c-clown ini ttg kopi. Tdnya aku gamau baca tapi entah kenapa sebulan belakangan aku rindu ceritamu (ceilah) pas balik lagi wah benar -benar aku kangen kamuuuu *hugs*
    Nah aku kira kau Org terapdet beginian jujur aku jg gatau c-clown, trs coba cari tau dulu ttg c-clown (baca profil sebentar) eh rupanya mendengar komenmu yg terakhir bikin aku ngakak total (*wahahahahhahaha*) tapi aku bisa menangkap semua adegannya
    Keyeeeeeennnn
    Ya sudah disini dulu komennya, kyknya aku kepanjangan curcol
    #keepwritinghwaiting

    1. haaiii juga!!!
      waah seneng dehh ada yg kangenin tulisan aku.. jadi terharu TT
      haha.. aku juga pas dpt si maru ini bingung bgt, org gatau apa2 soal cclown, mendadak disuru bikin ff ttg maru..

      makasiii yaa udah mampir 🙂

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s