[FF G] Nae Nappeun Sajangnim


Ladyoong at HSG

Title                : Nae Nappeun Sajangnim -My Bad Boss- (“My Guardian Angel” Sequel)

Author            : Haruhi @haruhiinayah Fb: Haruhi Iin blog : haruhiworld.blogspot.com

Genre            : Romance

Rating            : PG-18

Length            : One Shoot

Disclaimer        : The story is mine. Casts belong to God. Plagiarize is STRICTLY PROHIBITED! Please don’t copy-paste without permission and credit. ^^ Credit cover : Ladyoong @Highschoolgraphics

Main Cast      : Tiffany Hwang (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Gong Chan Shik (B1A4)

Other Cast     : Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Im Yoona (SNSD)

Author Notes : Annyeong yeorobeun~ 😀 kayanya aku masih belum kenyang jadi freelance di FFKPI  >_< *kedipin adminnya*

 

Aku kembali menitipkan FF di sini… Ini bagian sequel dari FF “My Guardian Angel” yang pernah aku post dimari(?)~

 

Cast-nya masih ada TaeTiSeo –teteup- dan karena aku lagi tergila-gila sama Gongchan, jadilah dia aku culik buat jadi cast XD. Maaf ya, kalo OOC… aku baru resmi dilantik jadi BANA beberapa minggu lalu(?). LOL

Enjoy reading~ 😀

Summary       :

 

“Aku ingin sekali memakimu!

Tapi sekarang ini kau adalah bosku, jadi apa yang harus kulakukan?” -Tiffany

*

AUTHOR POV

Seorang wanita dengan rambut berombak sebahu baru saja menutup pintu berlabel ‘Sajangnim‘. Sambil terus mengulum senyum, ia mengayun kaki indah ber-high heels-nya menuju sebuah meja tak jauh dari sana. Mood-nya sangat baik pagi ini. Ia bahkan nyaris kehabisan akal untuk menemukan apa yang bisa merusak mood-nya. Bagaimana tidak? Ia baru saja menerima kejutan setelah tiga minggu tidak masuk kerja. Sebuah kejutan dari namja  yang ia kira tak akan pernah muncul lagi di kehidupannya.

TIFFANY POV

Ini hari pertamaku kembali kerja setelah tiga minggu terpenjara di rumah sakit. Sebuah tragedi membuatku harus menjalani operasi akibat hujaman pisau yang merobek organ dalamku. Yah… Tragedi perampokan yang membuatku kehilangan dompet dan ponsel, beruntung nyawaku tak ikut hilang karenanya.

Baru saja beberapa menit yang lalu aku memberi salam pada direktur yang entah sejak kapan telah berganti. Dan kejutannya adalah direktur yang baru itu namja yang selama tiga minggu ini mengganggu pikiranku: Lee Donghae.

BRUK! Tiba-tiba pandanganku terhalang sesuatu.

“Sudah bertemu Lee sajangnim? Kudengar dia putra komisaris utama.” ternyata Taeyeon yang menghampiri mejaku dan menaruh setumpuk dokumen. Astaga!! Sepertinya aku sudah menemukan sesuatu yang merusak mood baikku.

Ige mwoya?” ujarku dengan mata melebar.

“Pekerjaanmu. Dari sajangnim.” Taeyeon kini bersandar di sisi meja kerjaku sambil memulir-mulir tali kalung name tag-nya.

“Sebanyak ini?”

“Wajar kan? Kecuali kau mengerjakannya sambil dioperasi kemarin.”

“Kau gila.”

“Selamat menikmati!” sahut Taeyeon riang lantas berlalu ke mejanya. Sementara aku mulai mengambil satu per satu map yang tadi dibawa Taeyeon. Yang ini apa? Ini apa? Aigoo… Berada di rumah sakit selama tiga minggu membuatku seperti orang bodoh begitu bertemu dengan berkas-berkas. Yah, intinya, baik Choi sajangnim maupun Lee sajangnim tak ada yang beres. Aku menghela napas letih.

Sajangnim yang manapun sama-sama merepotkan.”Gumamku sambil merengut. Namun, bagaimanapun merepotkannya mereka, sajangnim yang sekarang tentu saja berbeda. Lee Donghae. Dia namja yang kini mengisi hatiku. Ya… Sepertinya benar yang sering dikatakan orang. Pekerjaan akan jadi terasa menyenangkan jika kita menyukainya. Mungkin karena aku sekretaris Donghae, aku akan jauh lebih giat bekerja. Dan sangat mungkin jika aku akan merasa lebih betah tinggal di kantor daripada di rumah.

“Sekretaris Hwang, ada setumpuk pekerjaan yang menunggu, sementara kau masih sempat senyum-senyum sendiri?”

Aku mendongak cepat dan mendapati sosok Lee Donghae berdiri dengan mata memicing. Tentu saja tegurannya barusan mengundang beberapa pasang mata dari staf lain. Aissh… dia sengaja mempermalukanku ya?

“Lee sungmin memberitahuku dia ada janji pukul dua. Jadi, kita berangkat untuk menghadiri meeting dengannya sekarang.”  ucapnya datar.

Oh, aku lupa aku akan lebih sering menghabiskan waktu berdua dengannya. Sepertinya semua pekerjaanku bisa lebih sulit kukerjakan jika sajangnim-nya adalah seorang Lee Donghae. Dalam hati, aku berharap kami kemana-mana dengan menggunakan supir. Paling tidak supaya aku tidak merasa canggung ketika berdua dengannya. Yah… Meski hanya selama di mobil.

Semoga Donghae lebih suka memakai supir daripada mengemudi mobil sendiri.

*

“Kenapa tidak memakai supir?” tanyaku sambil bersusah payah mengikuti langkah Donghae yang panjang. Kami berjalan menyusuri koridor, menuju lobi, lalu ke basement. Rasanya aku akan mati gugup membayangkan kami hanya berdua selama di mobil. Dulu, aku tidak pernah merasa begini ketika bersama Donghae yang masih menjadi malaikat. Di rumah, sekalipun berdua saja aku bahkan bisa merasa santai. Itu dulu. Saat kupikir Donghae adalah Donghae. Malaikatku. Bukan teman masa SMP-ku. Tepatnya sebelum dia untuk pertama kalinya mendaratkan ciuman di bibirku.

Donghae berhenti di depan pintu kemudi mobil. Ia tersenyum misterius ke arahku. Apa-apaan namja ini?

“Kau tidak mengerti, aku ingin berdua denganmu?” Donghae mengedipkan sebelah mata. Sesuatu yang membuatku… merinding. Entahlah kenapa bisa begitu… Aku mengernyit aneh padanya.

Wae? Kau menatapku seperti… aku ini pria hidung belang yang membahayakan.” Donghae mencibir sebelum membuka pintu mobil. Aku pun mengikutinya masuk ke kursi di sebelah kemudi sambil menggigit bibir.

Dia tidak berpikir ingin melakukan hal yang aneh-aneh padaku kan?

*

Pukul 19.00. Aku tidak menyangka ternyata ada pertemuan dengan pemegang saham setelah meeting dengan pemilik LEESUNG Wedding organizer. Kalau tahu ada pertemuan dengan orang-orang penting perusahaan harusnya aku membawa berkas-berkas yang lebih lengkap. Donghae bodoh sekali tidak memberitahuku lebih awal. Dia bilang lupa? Sajangnim macam apa dia!

Mobil melaju dengan mulus di jalan. Langit sudah gelap. Kiri dan kanan kami terang dengan warna-warni lampu kota yang gemerlap.

“Kau kosong kan?”

Apa ini? Ajakan dinner? Ah… Syukurlah, aku sudah lapar sekali. Lagipula sudah lama kami tidak makan bersama. Dia mau mengajakku makan kan? Aku memutar kepala, lalu mengangguk semangat.

“Fany-ya, aku tau love motel mewah di daerah sini.” Donghae menggigit bibir sambil memajukan badan ke setir, menelusuri sisi-sisi jalan.

Apa dia bilang? Love motel? Aku mendelik ke arahnya. Kutampar lengannya yang sedang menyetir.

“Kau pikir aku wanita murahan, hah? Turunkan aku!”

Ya, kenapa kau marah? Aku hanya ingin bilang, bekerja sama dengan mereka juga bisa menjadi prospek yang bagus kan? Wae? Kau berharap kita melakukan hal yang lain?” Donghae menoleh singkat, menunjukkan seringainya.

Aku memalingkan wajah ke depan. Sial. Donghae sialan. Kupikir…

“Aku hanya ingin meminta masukan dari sekretaris Hwang mengenai ideku barusan. Kita sudah bekerja sama dengan wedding organizer, akan lebih bagus kalau perusahaan kita menarik konsumen dari jenis usaha yang lain. Bagaimana?”

Tadi dia memanggilku ‘Fany-ya’, sekarang ‘Sekretaris Hwang?’ Kenapa tiba-tiba jadi berbicara formal begitu?

“….Bagus… Sajangnim.” jawabku singkat, ikut terbawa suasana formal. Aku memalingkan wajah ke jendela untuk menyembunyikan desisan kesalku. Donghae yang menyadari perubahan ekspresiku langsung menyemburkan tawa.

“Kenapa? Kau kecewa karena aku tidak benar-benar mengajakmu ke love motel?”

ANI~!!! Jangan terus menggodaku!”

Ya, bagaimana kalau aku serius?”

Nde?” Aku melotot ke arahnya.

“Kau suka yang di daerah Yongsan atau di Gangnam? Kau suka dekorasi dan fasilitas yang seperti apa? Pink romance? Dewasa?”

Sekali lagi, aku memukul lengan Donghae. Kali ini lebih keras karena Donghae merintih setelahnya.

 “Aku ingin memakimu! Tapi sekarang ini kau adalah bosku, jadi apa yang harus kulakukan?” seruku frustasi.

Donghae tiba-tiba terbelalak menatapku. Sepertinya ia sudah mulai paham maksudku. Baguslah kalau dia mengerti.

“Ah, aku lupa kau suka pink! Baiklah, aku tau love motel dengan dekorasi pink yang menakjubkan. Kau pasti suka.”

Aiissshh, namja ini… Apa tidak ada hal lain yang lebih normal yang bisa masuk ke pikirannya?

Aku mengernyit menatap pemandangan di luar jendela. Mobil mulai memasuki kawasan red district. Mataku terbelalak seketika. Namja di sebelahku ini benar-benar gila!

“Kita benar-benar mau ke love motel?” Aku menoleh cepat ke arah Donghae.

Bingo!”

“Dasar brengsek! Turunkan aku!”

Ya! Bukankah sudah kubilang kita datang untuk survey?”

Aku memutar bola mata sambil menghela napas, mencoba meredam amarah yang sudah bergemuruh seperti larva yang nyaris meledak.

Sajangnim yang terhormat, survey yang masuk akal dilakukan setelah membuat janji terlebih dahulu pada client. Bukannya langsung datang berdua dengan sekretarismu! Lagipula ini malam! Orang lain akan mengira kita pengunjung!!”

“Sudah. Diam saja.” perintahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.

Aku mendengus tak percaya. Donghae tidak mau menurunkanku? Tidak apa-apa. Aku bisa kabur setelah mobil ini berhenti.

Dan, akhirnya mobil menepi di tempat yang benar-benar tak kusangka akan pernah kukunjungi seumur hidup. Oke, mungkin dalam batasan normal jika aku sudah punya suami atau belum punya tetapi otak-ku sudah konslet. Dan tentu saja itu bukan sekarang! Ya. Ini adalah tempat yang sejak tadi mengusik pikiran kotor Donghae.

Ketika Donghae masih sibuk membuka seatbelt, aku menarik tali tasku dan bergegas turun. Kuayun langkahku lebih cepat menjauhi Donghae. Kubiarkan namja itu menyerukan namaku berkali-kali.

“Fany-ya!” Donghae mengejarku, mencengkeram bahuku, membuatku berhenti untuk menoleh padanya.

“Aku mau pulang! Pergi saja sendiri! Ini sudah di luar jam kerja kan?”

“Kau ingin kupecat hah? Bisa diam dulu tidak?”

“Dengar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu setelah kau sadar dari koma, tapi… kau benar-benar berubah! Kau seperti bukan Donghae, malaikat pelindungku yang kukenal dingin dan pendiam. Sekarang kau lebih mirip Seunghae. Dan aku sudah melupakannya! Aku sudah tidak ingat Seunghae, yang kucintai Donghae!”

Donghae terpaku, seperti membeku. Ah, apa ucapanku keterlaluan? Tidak. Itu tidak berlebihan. Aku hanya menyuarakan isi hatiku.

Donghae bergeming. Wajahnya agak pucat. Entah karena udara dingin atau karena ucapanku. Aku tidak tahu lagi. Yang pasti aku tahu, dia tampak benar-benar terpukul.

“Kalau kau tidak mau menemaniku untuk bertemu dengan pemilik Love motel juga tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri.”

“Sudah kubilang…! Aku… Apa?”

” Tenang saja, aku tidak akan memecatmu. Pulanglah. Sudah malam. Aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di sini. Telepon aku jika terjadi sesuatu.” ucap Donghae dingin.

Donghae berbalik. Melangkah tenang memasuki sebuah bangunan dengan neon box berwarna pink di sisi gedung yang memancarkan lampu kerlap-kerlip. Punggungnya lalu menghilang di balik pintu kaca.

Aku menghentak-hentakkan kaki, kesal. Aiish! Kenapa aku jadi merasa bersalah begini?! Habisnya kupikir Donghae akan terus memaksaku untuk bermalam di sana. Tapi, ternyata dia serius soal ucapannya yang ingin pergi ke sana untuk urusan pekerjaan. Ah, sudahlah. Aku harus pulang. Toh, besok masih bisa bertemu lagi, kan?

Aku mulai melangkah cepat menyusuri tepi jalan yang dilalui beberapa orang. Tapi, langkahku kembali terhenti. Aku tahu, aku tidak bisa meninggalkan Donghae dalam situasi seperti ini. Aku harus minta maaf.

AiisshNan jeongmal paboya!

*

DONGHAE POV

“Dengar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu setelah kau sadar dari koma, tapi… kau benar-benar berubah! Kau seperti bukan Donghae, malaikat pelindungku yang kukenal dingin dan pendiam. Sekarang kau lebih mirip Seunghae. Dan aku sudah melupakannya! Aku sudah tidak ingat Seunghae, yang kucintai Donghae!” Tiffany berteriak marah. Ada kilasan air di matanya. Dia tidak main-main. Kurasa kata-katanya terekam dengan baik oleh otakku hingga terus berdengung di telinga. Ada bagian kalimatnya yang langsung menghujam jantungku telak,

Sekarang kau lebih mirip Seunghae. Dan aku sudah melupakannya! Aku sudah tidak ingat Seunghae, yang kucintai Donghae!

Ketakutanku menjadi nyata. Tiffany melupakanku. Sekarang justru Donghae yang ia ingat. Donghae sebagai malaikat. Donghae yang sudah tidak akan pernah muncul di muka bumi. Tidak ada artinya lagi aku kembali sebagai Seunghae. Kakiku lemas. Jika seseorang memukulku sekarang, aku pasti akan rubuh dalam sekali pukulan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

“Kalau kau tidak mau menemaniku untuk bertemu dengan pemilik love motel juga tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri.”

Tiffany masih terlihat marah.

“Sudah kubilang…! Aku…” Dia terdiam sejenak, sepertinya baru berhasil mencerna ucapanku yang bermaksud membiarkannya pulang. Tiffany kini menatapku bingung “Apa?”

“Tenang saja, aku tidak akan memecatmu. Pulanglah. Sudah malam. Aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku di sini. Telepon aku jika terjadi sesuatu.” tanganku terangkat, hendak bergerak mengelus kepala Tiffany. Tapi, urung. ada bagian hatiku yang melarangku melakukannya.

Aku beralih menatap mata Tiffany. Sorotannya masih menyiratkan amarah. Aku menunduk, lantas berbalik menghampiri bangunan bertingkat di depanku.

Sekarang, entah apa lagi yang bisa membuatku semangat menjalani hidup. Ah, aku butuh soju. Banyak soju.

*

TIFFANY POV

Aku berdiri di depan bangunan mirip flat bertingkat yang tadi dimasuki Donghae. Dari semua Love motel di kawasan ini, bangunan Love motel ini yang paling mewah menurutku. Lampu teks raksasa di samping bangunan ini bertuliskan Crown Love Motel.

Aku memejamkan mata kuat-kuat sambil mengepalkan kedua tangan.

“Eomma. Maafkan putrimu! Jika bukan karena kelangsungan karier, aku tidak akan masuk ke tempat ini. Ini untuk yang terakhir, aku janji!” Takut-takut, aku mengayun langkah memasuki bangunan itu. Tempat itu sepi dan bagian lobinya sempit. Di bagian semacam resepsionis ada pasangan kekasih yang sepertinya sedang memesan kamar. Tak lama kemudian pasangan itu segera berlalu menaiki anak tangga sambil membawa sengenggam kunci yang bergemerincing. Padahal hanya kunci kamar, tapi wajah keduanya sumringah seperti sedang menggenggam kunci mobil ferrarri.

Mataku menelusuri setiap sudut ruangan, berharap menemukan Donghae tanpa harus mencari ke lantai atas. Aku tak peduli meski terlihat seperti orang bodoh yang tersesat. Aigoo… Dimana Donghae?

Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok namja yang sedang memunggungiku di sudut ruangan, Ia tampak sedang menempelkan ponsel ke telinga sambil menghadap jendela raksasa yang memperlihatkan jalan raya. Mantel berwarna abu-abu pekat membalut tubuh tingginya. Rasa bersalahku kembali muncul ke permukaan. Mataku menerawang sosok itu sendu.

Entah dapat keberanian darimana, aku langsung menghambur memeluk punggungnya. Aku tidak tau aku pernah merasa begini berdosa. Donghae tampak begitu kesepian saat kulihat punggungnya dari belakang.

Jeongmal mianhe. Aku tak bermaksud melukai perasaanmu.” aku memejamkan mata dalam benaman mantelnya. “Neomu saranghae…” bisikku dengan suara bergetar.

Ia berbalik dan menyingkirkan tanganku.

“Ah, jeogiyo,… noona?” sahutnya terbata. Noona? Aku segera mendongak dan baru menyadari suara namja itu sama sekali bukan suara Donghae. Dan astaga…. Aku salah orang?? Aaaahhhhhhh!!!! Memalukan sekali!!!!

Aigoo…. Eottohkae! Aku salah orang! Dia tertawa. Namja itu memiliki rambut hitam yang ditata penuh gaya dengan gel rambut. Dan tunggu dulu. Wajahnya bahkan sedikit mirip dengan Donghae!

“Haha… Pipimu memerah. Lucu sekali! Aku Gong Chan Shik. Panggil saja aku Gongchan, golongan darahku A, aku lahir tahun 1993, aku suka olahraga, apalagi berenang, warna favoritku putih, tinggiku 181 cm, lalu…” dalam perkenalan dirinya ia bahkan sempat menghitung jari apa-apa saja yang telah ia sebutkan. Entah akan ada berapa banyak. Aku harus menghentikannya sebelum ia menyebutkan ukuran pakaian dalam.

“Ah, mianhamnida… aku…” potongku tak sabar. Tiba-tiba dia tersentak.

“Ah! Belum ada yang menembakku terang-terangan seperti tadi. Sepertinya, aku juga menyukaimu, noona. Kau menarik. Dan juga… manis.” sahutnya sembari tersenyum manis. Aku tercengang menatapnya. Apa dia bilang? Tiba-tiba wajah Donghae yang ditekuk kusut kembali terbayang. Ah, ini bukan saatnya untuk terpesona!

“Maaf aku salah orang.” aku membungkuk salah tingkah. Sebelum berlalu, aku sempat melihat namja imut itu memandangku sambil tersenyum lebar dengan tatapan seperti anak anjing yang menunggu majikannya segera melempar frisbee ke udara, tidak peduli apakah majikannya sedang sibuk atau tidak. Masa bodo. Aku harus mencari Donghae.

Aku mengedarkan pandang dengan cepat. Detik selanjutnya, sesuatu yang paling mengejutkan tertangkap mataku. Donghae sedang berdiri menatapku di dekat pintu masuk. Ia bersedekap dengan tatapan dingin yang menusuk. Sepertinya dia sudah lama berada di situ. GAWAT!

“Donghae-ya, aku…” aku menatap Donghae takut-takut.

“Ada yang bilang tidak ingin masuk ke love motel. Tapi sekarang aku menemukannya sedang berpelukan. Di dalam love motel.” Donghae mendengus. Aku baru saja hendak membuka suara, tapi Donghae beranjak dari tempatnya ke arah pintu. Blam! Pintu ditutup.

Aiissh, dia marah! eottohkae?

Gongchan mendekat dan melongok wajahku sebentar, lalu menatap pintu keluar.

Noona mengenalnya, ya?”

*

AUTHOR POV

Gongchan mengajak Tiffany ke sebuah kafe tak jauh dari Crown Love Motel. Awalnya Tiffany menolak, tapi ia luluh juga dengan bujukan Gongchan.

Gongchan yang ramah dan santai membuat Tiffany merasa nyaman berbicara dengannya. Sekalipun ini pertama kali mereka berbincang-bincang berdua, suasana pembicaraan mereka terasa seperti teman lama.

“Kau pemilik love motel tadi??” Tiffany segera membekap mulut saat sadar suaranya mengundang perhatian pengunjung kafe.

Gongchan tertawa singkat, lalu mengangguk mantap.

“Sebenarnya aku hanya meneruskan usaha kakek.”

“Hebat. Padahal usiamu masih muda.” Tiffany menatap Gongchan takjub. Gongchan yang merasa dipuji jadi tersipu.

“Ahaha… Gomawo, noona. Ah, noona. Namja sangar tadi itu siapa?”

Tiffany tercekat. Ia tahu persis yang dimaksud oleh Gongchan adalah Donghae. Padahal Gongchan sendiri yang membuatnya nyaris lupa dengan Donghae. Sekarang, Gongchan juga yang mengingatkannya kembali. Gongchan yang tak sadar dengan perubahan ekspresi Tiffany masih tersenyum polos.

“Dia bosku.” jawab Tiffany lirih.

“Apa… Noona pacaran dengannya?”

Pacar? Donghae belum pernah meminta Tiffany untuk menjadi pacarnya. Meski mereka sudah tau perasaan masing-masing, tak ada yang memulai untuk mengubah status hubungan mereka dari teman. Kenyataan itu yang membuat Tiffany sesak. Ia menghela napas.

“Bukan.” Tiffany menunduk sambil tersenyum getir.

“Haa… Syukurlah. Kukira kau pacarnya.” Gonghan berseru ceria. Ia menyandarkan bahunya ke sandaran kursi dengan bebas. Sementara Tiffany yang kembali muram beranjak menyeruput kopinya. Namun ia tersentak -bahkan nyaris tersedak- saat tiba-tiba Gongchan memajukan tubuhnya ke meja dengan penuh semangat.

“Ah! Sebenarnya…. Tadi itu…” Gongchan terdiam sejenak. “Eh, tidak jadi deh. Itu rahasia.” Gongchan memutar bola mata, kembali duduk rileks, lalu beralih mengangkat cangkirnya.

Tiffany mengernyit heran menatap Gongchan. Apa sih anak ini? Dalam kesempatan itu, ia meneliti wajah Gongchan. Gongchan sedang menunduk untuk menyeruput capuccino-nya. Begitu Gongchan menjauhkan cangkir dari bibir, namja itu menyadari tatapan Tiffany dan langsung tersenyum lebar dengan mulut belepotan krim.

Noona, lain kali aku boleh mengajakmu ke tempat lain? Seperti ke gym bersama mungkin? Atau… Kau suka berenang? Aku tau tempat yang bagus! Lalu…”

Tiffany menahan tawa melihat Gongchan yang terus berceloteh panjang lebar. Gongchan terlihat menggemaskan baginya.

*

Suara berderap yang ditimbulkan sepatu Donghae bergema di koridor bernuansa putih. Donghae sedang melangkah cepat menghampiri meja resepsionis. Wajahnya tegang seolah sedang menghadapi situasi genting. Benar. Saat ini ada masalah besar yang benar-benar membuatnya gusar setengah mati.

Semalam, seseorang mengiriminya pesan. Karena menganggap isi pesan itu tidak penting, ia menunda membacanya. Tapi ia menyesalinya sekarang.

“Apa sekretaris Hwang sudah pulang?” Tanya Donghae dengan napas agak tertahan. Seohyun dan Yoona yang berdiri di balik meja resepsionis saling pandang. Saat itu, baru lewat sepuluh menit dari jam pulang kantor.

“Tadi, kami melihatnya dijemput seseorang.” sahut Yoona terbata. Donghae terlihat semakin kesal, ia langsung menyambar, “Namja?”

Seohyun dan Yoona mengangguk kompak.

“Sudah kuduga.” Donghae mendengus. Pikirannya kacau.  Ia mengambil ponselnya dari balik jas, lantas menghubungi seseorang sambil beranjak ke koridor menuju basement.

Tuut… Tuut…

Donghae berdecak mendengar nada sambung berbunyi lebih dari lima belas detik.

“… Ehem… Yeoboseyo!” suara riang seorang namja terdengar di seberang. Lidah Donghae rasanya sudah siap meluncurkan serangan.

Neo! Micheosseo?” Gertakan Donghae menggema di koridor sepi itu. Beberapa saat lagi ia akan sampai di lahan parkir bawah tanah.

Donghae mendengarkan ucapan seseorang yang sedang dihubunginya, lalu kembali mendecak.

“…Aissh… Kalian dimana?”

Tepat beberapa saat setelah Donghae melontarkan pertanyaan itu, matanya mendelik. Langkahnya terhenti.

Neo jugeoshipeo?” pekiknya marah.

*

Donghae mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang gila-gilaan. Pembicaraannya dengan Gongchan di telepon beberapa saat lalu terus bergema dalam pikirannya.

Donghae menautkan sebelah tangan ke dahi, sementara tangannya yang lain tetap mengontrol setir.

“Kami di Crown.” Begitu jawabnya saat Donghae bertanya dimana mereka. Tentu saja Donghae tahu persis tempat seperti apa Crown yang Gongchan sebutkan. Dan tadi, Donghae jelas mendengar suara tawa Tiffany pada latar suara di telepon. Sekretarisnya itu benar sedang bersama Gongchan. Suara merdu Tiffany yang samar terdengar terus terngiang di kepalanya.

“Channie, geumanhae!! Ahahahaha…”

Donghae terus berpikir keras. Apa??? Apa yang sedang mereka lakukan???? AISSHHH….!!!

Donghae memutar cepat setirnya, mengarahkan mobilnya ke tepi jalan tol dengan cepat hingga remnya berdecit. TTTIIIIIINNN!!! Donghae menggebrak setirnya penuh emosi. Ia menghembuskan napasnya yang memburu. Lantas teringat dengan pesan yang dikirim Gongchan kemarin malam, pesan yang telat ia baca.

“Hyung, maaf aku tidak bisa membantumu. Aku juga menyukai noona.”

Donghae memejamkan mata dan menghembuskan napas. Kemarin, Donghae membuat rencana kejutan untuk menyatakan perasaannya pada Tiffany. Karena ia menyusunnya secara mendadak, ia tak punya waktu untuk membuat persiapan. Demi mengulur waktu, ia sengaja membuat meeting tambahan setelah kunjungan ke LEESUNG wedding organizer. Sementara itu, ia meminta bantuan Gongchan -sepupunya yang mengelola restoran dan love motel sekaligus- untuk membuat dekorasi taman bagi latar kejutannya. Saat itu, karena restoran sudah full booked, lokasi pun terpaksa pindah ke love motel. Tapi, Donghae tak pernah menyangka rencananya akan jadi sehancur ini. Jika ia menyadari kemungkinan Tiffany dan Gongchan saling jatuh cinta, ia tidak akan pernah mengundang Gongchan terlibat dalam urusannya.

Kemarin, mereka berpelukan. Donghae bahkan sadar betul Tiffany yang memeluk Gongchan duluan. Di samping itu, Gongchan juga telah mengeluarkan peringatan bahwa ia menyukai Tiffany. Sekarang, mereka di love motel. Donghae juga sempat mendengar Tiffany memanggilnya ‘channie’. Sepanjang hidupnya, panggilan itu hanya pernah didengar Donghae dari mulut ibu Gongchan.

Donghae menyandarkan kepalanya ke setir sambil menatap jendela. Menerawang kosong pada mobil-mobil yang melesat di jalan. Apa sebaiknya kuhantamkan saja mobil ini ke mobil-mobil yang melintas itu? Pikir Donghae. Ia benar-benar hampir gila.

*

“Channie, kau benar-benar menggemaskan! Kapan-kapan kita main lagi, oke?” suara samar Tiffany yang riang itu menghentikan langkah Donghae pada salah satu anak tangga gedung love motel. Suara itu berasal dari lantai atas. Donghae mengatupkan gerahamnya keras-keras. Ia melangkah menaiki tangga lebih cepat.

Tiffany dan Gongchan muncul dari sisi kiri koridor. Tepat saat Donghae menapakkan kakinya di lantai atas. Ketiga orang itu kini berpapasan.

Tiffany teperangah menatap Donghae selama beberapa detik, lantas berputar menghadap Gongchan.

“Kau memanggilnya?” bisik Tiffany pada Gongchan. Gongchan yang juga terkejut dengan kehadiran Donghae segera menggeleng cepat sambil melambaikan tangan.

Donghae masih menatap tajam kedua orang itu sampai tatapannya turun pada seekor anak anjing jenis chihuahua yang didekap erat oleh Tiffany.

Guk! Guk!

Anak anjing itu sedikit memberontak.

“Ah, Channie. Kau turun dulu, ya.” Tiffany menurunkan anak anjing berbulu putih itu ke lantai. Rasanya telinga Donghae berfungsi lebih peka saat mendengar nama barusan.

“Channie?” Donghae tanpa sadar bergumam.

“Iya! Namanya Young Chan! Lucu bukan?” Malah Gongchan yang bersemangat.

“Channie itu anjing ini?” Donghae nyaris terkulai lemas saat melontarkan pertanyaan itu.

Tiffany dan Gongchan saling tatap.

“Sebenarnya bukan. Aku sendiri yang ingin memanggilnya channie. Habisnya, dia lebih menggemaskan jika dipanggil begitu!” Tiffany tersenyum dengan eye smile-nya.

“Ne. Aku juga tidak keberatan!” Gantian sekarang Gong chan yang tersenyum penuh kilau.

Rasanya Donghae kehilangan seluruh energinya -juga seluruh rasa curiga-. Ia benar-benar lega sekarang.

*

“Kacau.” gumam Donghae pada Gongchan yang berdiri di sampingnya. Gongchan hanya tekekeh pelan. Kedua namja itu sedang berdiri berdampingan di rooftop yang sudah dihias dengan nuansa ala dinner romantis.

Di tengah rooftop itu, ada sebuah meja bundar berhiaskan lilin, ditemani dua buah kursi di sisinya. Di sekeliling meja itu ada pagar indah berwarna putih yang telah dihias lampu neon warna-warni. Tak ketinggalan beberapa pot tanaman hias yang hadir memberi kesan hidup.

Gongchan dan Donghae masih berdiri di tempat mereka. Menatap Tiffany yang sedang bermain dengan Young Chan di sekitar meja bundar itu.

Tadinya, Gongchan menyiapkan rooftop ini untuk acara ‘penembakan’ Donghae pada Tiffany. Tapi karena rencana itu gagal, Gongchan akhirnya membocorkannya pada Tiffany. Dan sepulang kerja tadi, Tiffany diajak Gongchan untuk melihat apa yang ingin -dan gagal- Donghae persembahkan. Ketika itu, beberapa bagian hiasan sudah rusak karena angin.

Tiffany yang tersentuh lantas memutuskan untuk memperbaiki dekorasi itu. Ia ingin memberi kejutan pada Donghae sekaligus untuk meminta maaf pada namja itu. Tapi, gagal juga. Donghae malah keburu datang ke tempat ini.

“Maaf ya hyung.” Gongchan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Untuk?”

“Untuk kacaunya rencanamu.”

Donghae mendengus.

“Habis aku benar-benar menyukai noona.” Gongchan tersenyum polos. Seakan tak peduli dengan Donghae yang sudah menoleh dengan aura ingin menelannya.

“Masih berani bilang begitu?”

“Haha… tadinya aku berpikir tidak akan menyerah. Tapi noona terus-terusan murung. Jadi… Apa boleh buat. Ah! Tapi, cepat beritahu aku kalau kau putus dengan noona ya!” Gongchan berseru semangat sambil menyunggingkan senyum manisnya. Setelah berbisik ‘Fighting’ sambil mengepalkan sebelah tangan pada Donghae, ia lantas meninggalkan Donghae yang sudah membuka mulut hendak mengutuk Gongchan panjang-panjang.

*

TIFFANY POV

“Anjing pintar!” aku mengusap-usap puncak kepala Young Chan. Anjing itu baru saja duduk dengan patuh setelah kuberi aba-aba. Benar-benar menggemaskan! Andai Gongchan mengizinkanku memiliki anjing ini…

Yaa!”

Aku menoleh, mendapati Donghae sedang berjalan tenang -atau lemas- ke arahku.

Selama beberapa detik, kami saling menatap satu sama lain. Meski aku memberi senyuman, Donghae terus saja menatapku datar. Bahkan dingin. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin dia juga ingin memeluk Channie?

“Ah, kau mau memeluknya?” aku menyodorkan Young Chan. Tapi Donghae malah melengos malas.

Ani. Aku lebih ingin memelukmu daripada memeluknya.”

Pabo.” aku merengut dan melepas young chan yang langsung berkeliaran.

“Fany-ya…”

“Hm…” aku menghempaskan tubuhku di kursi.

“Kau masih menjadi sekretarisku kan?”

“Tentu saja, kau ini bicara apa?”

“Aku takut Gongchan merekrutmu menjadi sekretarisnya. Atau yang lebih parah… menjadi pacarnya.”

“Jangan mengada-ada. Aku kan belum resign.”

“Ah… Tentu saja. Aku belum memberi persetujuan resign untukmu. Tapi… Apa kau sudah memecatku dari hatimu?”

Aku mengernyit heran.

Mwo?”

“Kutanya, apa kau sudah merekrut Gongchan sebagai penggantiku di hatimu?”

Aku butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata Donghae barusan, lantas menggeleng -dengan tetap terperangah-.

“Haa…. Baguslah.” Donghae tiba-tiba berjongkok lemas. Kepalanya ia tundukkan di antara paha.

Perlahan aku mulai mengerti. Donghae benar-benar takut kehilanganku. Ternyata perasaan Donghae setulus itu.

“Donghae ya,…” bisikku pelan. Donghae mengangkat wajahnya menatapku. “kau adalah satu-satunya sajangnim-ku. Dan satu-satunya yang mengisi hatiku. Sampai kapanpun.” gumamku sambil tersenyum haru. Donghae membalas senyumku.

“Berarti, aku belum telambat…” ia mengeluarkan sebuah kotak beludru dari balik jasnya.

Na rang kyeorhonhae jullae?” Donghae memperbaiki posisinya. Ia kini bersimpuh di depanku sambil menyodorkan kotak yang tebuka itu.

Aku menekap mulut. Tak menyangka jika Donghae akan langsung melamarku begini. Pandanganku mendadak buram tersaput kilasan air.

Ne. Keuromyo.” aku menganggukan kepala perlahan. Donghae tersenyum bahagia, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Ia mengusap kepalaku, lalu menyematkan cincin itu di jari manisku.

Kami lalu berjalan sambil bergandengan tangan. Malam itu, bintang-bintang dengan kerlipannya merekam semua yang terjadi di rooftop. Apa yang dikatakan Lee Donghae tadi, sepertinya akan terbawa mimpi indahku malam ini.

Geundae, setelah menikah, kau mau kuajak ke love motel, kan?” Donghae menarik bahuku lebih merapat ke sisinya.

Aaiissh… keumanhae~!!” Aku memukul kepala Donghae, Donghae meringis. Entah bagaimana aku akan melewati hari-hari kerjaku jika dia tetap menjadi nappeun sajangnim.

END

Seleesaaaaiiiii!!! XD Mian, ada penyesuaian nama di sini, Donghae -yang harusnya diceritakan dengan nama Seunghae- jadi tetap pake nama Donghae untuk mempermudah pembaca. (Yang udah baca My Guardian Angel pasti lebih paham, yang belum disaranin baca dulu, hehe  ^^) seperti biasa, XOXO -kiss and hug- dari author buat reader yang ninggalin komen XD

29 thoughts on “[FF G] Nae Nappeun Sajangnim

  1. Ohh jdi seunghae itu donghae tohh.. Haha donghae cemburu sm seekor anjing masa -,- suka haefany couple^^
    daebakk buat ffnya thor 🙂

  2. Yay~
    makin ‘penasaran’ aja critanyaa 😀
    Daebaak! Akhrny Fany dilamar 🙂
    sequel lagi dooong TiHae setlh wedding 😀
    Trus munculin kyu nya lg dong ‘malaikat’ ganteng sama si LeeTeuk juga diimbuhi thor *readersbawel :Dhehehe
    Daebaak ! 🙂
    bahasanya mudah dcerna 🙂

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s