A Pink Concerto – Chorong’s Story


chorong

Melodia Concerto

Author : Blankdreamer | Main cast : Chorong [A Pink] as Park Chorong (OOC), Yongguk [BAP] as Bang Yongguk (OOC), Youngjun [Led Apple] as Seo Youngjun (OOC) | Length : Oneshot | Genre : Slice Of Life

Disclaimer : Tokoh dan karakter yang ada dalam cerita ini bukan milik author. THIS IS JUST FANFICTION. Ide cerita merupakan titipan yang Di Atas ke otak author. DON’T COPY WITHOUT PERMISSION and Don’t be SILENT READERS!

Author’s Note:

ATTENTION: This Fanfiction is so looooooong….

Untuk yang belum pernah tahu Youngjun Led Apple silahkan klik di sini dan akan ada lagu dari Busker Busker yang bisa didownload di Yeosu Sea Night

Satu lagi ini WAJIB untuk dibuka biar ga bingung buat yang belum tau sama yang namanya cajon klik di sini. Sebenarnya pengen ada tambahan bunga-bunga buat punya Chorong. Tapi ga nemu gambar yang kaya gitu 😀

Dan akhir kata,

Thanks To: All Owner. Especially Yun :* #hug

Thanks banget buat misi yang bener-bener ngasah kreatifitas ini Owners:D

*

*

*

“Bekerjasamalah denganku! Aku suka caramu bernyanyi dan permainan cajon-mu itu sungguh mengagumkan.”

Chorong menolehkan kepalanya, mendapati Bang Yongguk, pemuda yang baru ia kenal sebulan yang lalu berdiri di hadapannya. Ia masih ingat benar bagaimana pertemuan pertamanya dengan pemuda itu. Ia yang saat itu tengah menyanyi di taman tak menyangka, jika ada telinga lain yang menikmati suaranya bahkan menawarkan sesuatu yang tidak pernah Chorong sangka sebelumnya. Saat itu, di akhir perjumpaan mereka, Yongguk mengangsurkan selembar kertas yang berisikan pengumuman sebuah audisi menyanyi di Seoul.

“Astaga! Mengapa kau datang lagi? Bukankah aku sudah menolakmu berulang kali?”

“Karena hanya sisa dua bulan lagi audisi pencarian bakat di Seoul itu dimulai. Aku membutuhkanmu sebagai partner-ku dan aku yakin kaulah orang yang tepat.”

“Tapi aku sungguh tak bisa.”

Waeyo?”

Keunyang (hanya tak bisa).”

“Kau ragu padaku?” Yongguk baru hendak memamerkan tekhnik rap-nya untuk yang kesekian kali di hadapan Chorong tapi, gadis itu sudah buru-buru menghentikannya. Karena Chorong takut, ia akan terlena atas kekagumannya pada bakat pemuda itu akhirnya.

“Tidak. Kumohon cukup. Ayah takkan suka, jika aku bermain musik karena ayah menginginkanku hanya fokus pada Hapkido. Jadi, kumohon mengertilah.”

“Hapkido?”

Eung.”

“Tapi aku membutuhkanmu. Aku punya proyek yang bagus dan aku sudah merencanakannya sejak lama. Aku juga tahu kau memiliki passion yang sama besarnya denganku di bidang ini, aku bisa melihatnya. Aku memang tidak tahu-menahu ada persoalan apa antara kau, ayahmu, dan hapkido tapi, tidak bisakah kau memperjuangkan impianmu?”

Chorong mengernyitkan dahi. Apa ia baru saja mendengar Yongguk membahas tentang impiannya? Kalau Yongguk yang baru sebulan mengenalnya saja bisa mengerti impiannya, lalu mengapa ayahnya yang sudah hidup bersamanya selama belasan tahun tidak juga mengerti? Adakah yang salah dengan impiannya yang ternyata tak sejalan dengan harapan ayahnya? Adakah yang salah, jika hapkido bukan menjadi tujuan hidupnya? Adakah yang salah dengan menjadi putri  tunggal  dari  pemilik  Pusat  Pelatihan Hapkido?

Ya, ayah Chorong—Park Sang Kyu— adalah pemilik Pusat Pelatihan Hapkido di Yeosu, dia ingin sekali putri semata wayangnya itu untuk melanjutkan usaha turun temurun keluarga tersebut dengan baik dan itulah alasan mengapa beliau sudah memperkenalkan Chorong pada Hapkido sejak kecil. Namun rupanya takdir berkata lain. Chorong memang menyukai hapkido, ia juga tumbuh sebagai anak yang patuh pada kehendak ayahnya yaitu berlatih hapkido dengan baik bahkan sempat menjuarai beberapa perlombaan tapi, di luar rencana itu, sebuah obsesi lain tumbuh entah sejak kapan dalam diri gadis itu. Chorong menyukai musik. Meskipun begitu, ia terpaksa harus menahan obsesinya itu karena jika sampai ayahnya mengetahui hal tersebut, maka ia benar-benar takkan pernah diijinkan berdekatan sedikitpun pada segala hal yang bersangkutan dengan musik.

Sampai pada satu waktu ia dipertemukan oleh takdir dengan Seo Youngjun—seorang pria yang 6 tahun lebih tua darinya. Mereka bertemu sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu Chorong yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kerap mengintip ke dalam toko musik Youngjun dari kaca jendela toko yang besar. Melihat semua instrumen musik di dalam toko dengan mata berbinar sekaligus mendengarkan dan mengamati cara Youngjun memetik gitar dengan seksama. Itu pun hanya terjadi, jika ia sedang beruntung. Hingga pada suatu hari, Chorong memberanikan diri masuk ke dalam toko musik itu. Ia bertanya apa saja pada Youngjun yang memang menyadari semangat, rasa ingin tahu, dan obsesi tinggi Chorong pada musik. Ia menyukai bagaimana gadis itu menunjukkan ketertarikannya pada musik. Karena itulah ia selalu menjawab dengan senang hati semua pertanyaan gadis itu. Bahkan karena kerap bertemu, akhirnya Youngjun memutuskan untuk mengajari Chorong cara memainkan beberapa alat musik. Dan perlahan, mereka tak hanya membicarakan tentang music tapi, juga tentang kehidupan masing-masing.

Setelah 2 tahun berlalu, Chorong pun telah mampu memainkan gitar, piano, dan cajon (dibaca: kahon). Dan di antara semua alat musik yang pernah ia pelajari itu, Chorong paling menaruh hati pada cajon. Menurutnya, saat ia memainkan cajon, rasanya itu seperti ia sedang mempelajari suatu seni bela diri jenis baru. Ups! Apakah ia terdengar konyol? Mungkin tapi apapun alasannya, memang itulah pendapat jujur gadis itu.

Cajon sendiri adalah sebuah alat musik berbentuk kotak yang berasal dari Peru. Cara memainkannya hanya dengan duduk di atas cajon dan memukul-mukulkan telapak tangan pada permukaan yang lebih tipis (bagian depan)—yang tak memiliki lubang—dengan menggunakan beberapa teknik sehingga mampu menghasilkan 3 karakter suara, seperti tonebass, dan slap. Cajon biasanya digunakan dalam pertunjukan musik akustik sebagai pengganti drum.

Lalu setelah sekian lama menabung dari hasil uang saku dan juga kerja part time, Chorong pun bisa membeli cajon sendiri. Jadi, sejak itu pula, setiap pulang sekolah atau ada waktu luang, ia akan datang ke toko musik Youngjun untuk mengambil cajon-nya yang memang sengaja ia sembunyikan di sana—karena jika dibawa pulang dan ketahuan ayahnya, maka cajon itu akan dimusnahkan. Lantas Chorong akan memainkan cajon itu di toko Youngjun atau taman terdekat. Namun akhir-akhir ini, ia lebih suka pergi ke taman. Taman yang mempertemukannya beberapa kali dengan Yongguk, begitupula hari ini.

Chorong menatap Yongguk lekat. Emosinya menggelegak mendengar pria itu menyinggung masalah impiannya. “Kau sudah ikut campur terlalu jauh,” ujar Chorong dengan suara tertahan. “Maaf tapi, kurasa kau memang harus mencari orang lain.”

“Tidak! Aku hanya menginginkanmu.”

Chorong mengerang frustasi. “Mengapa kau memaksaku? Bukankah kau bisa mencari orang lain yang lebih baik dariku?”

“Karena sesuatu yang berbeda.”

“Berbeda?”

“Ya. Kau pasti tahu seberapa beratnya persaingan industri musik Korea saat ini. Karena itulah, aku ingin sesuatu yang berbeda.” Pemuda itu menatap dalam Chorong. “Kau dan cajon merah muda unikmu itu…. Kalian menginspirasiku.”

Chorong tertegun sesaat. “Terimakasih tapi, maafkan aku, Yongguk-ssi. Aku tidak bisa.”

“Tidak, tidak. Begini saja.” Yongguk merogoh sakunya dan mendapatkan sebuah pena dan selembar kertas lusuh. Ia menuliskan sesuatu di sana. “Jika kau berubah pikiran, kau bisa menemuiku di alamat ini. Dan  jika kau kesulitan menemukan alamatnya, kau tanya saja pada orang-orang di sekitar sana. Mereka pasti akan mengetahuinya. Pikirkan dulu saja dengan baik tawaranku. Kau pasti tak akan menyesal.”

*****

Chorong sudah memikirkan ulang tawaran Yongguk yang selalu ia tolak itu. Ia juga sudah membicarakan hal ini dengan Youngjun yang merupakan satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara mengenai musik selama ini. Kini, Chorong pun yakin jawabannya kali ini akan membuat pemuda itu takkan memaksanya lagi.

Sebenarnya, Youngjun pun tak banyak bicara saat itu. Ia hanya mengatakan pada Chorong, “Lakukan apa yang hatimu inginkan dan jangan lakukan apa yang hatimu tak inginkan.

Hanya kata-kata sesederhana itu. Namun maknanya, benar-benar membuat Chorong akhirnya yakin dengan jalan yang akan ia ambil.

Chorong mematung saat menatap lorong gelap dan lembab yang menjorok ke bawah yang ada di hadapannya saat ini. Tempat ini berada di sebuah gang sepi di antara tembok-tembok yang menjulang tinggi. Ada sebuah tangga kecil yang menjorok ke bawah. Di sanalah sebuah pintu kecil dengan cat warna hitam lusuh serta tempelan kertas-kertas iklan yang sudah terkoyak tua akan membawa siapa saja yang melewatinya masuk ke dalam dunia Yongguk. Nampak mengerikan.

Apa Yongguk benar-benar tinggal di sini? Sedikit meragukan tapi anehnya, semua orang yang Chorong tanyai, memang menunjuk tempat ini. Mungkin ia memang harus mencobanya dulu. Chorong menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

*****

“Permisi!”

Hening. Tak ada jawaban.

“Bang Yongguk-ssi, ini aku, Park Chorong. Kau ingat?”

Pintu terbuka. Seorang gadis dengan penampilan mencolok muncul di hadapan Chorong.

“Siapa kau?” Suaranya benar-benar terdengar tak bersahabat.

“Oh! Anyeonghaseyo!” Chorong menyapa seraya membungkuk. “Maaf. Aku hanya sedang mencari seseorang yang bernama Bang Yongguk. Apa benar ia tinggal di sini?”

“Apa hubunganmu dengan Yongguk?”

“Kau  mengenalnya? Bang Yongguk?” tanya Chorong antusias.

“Apa hubunganmu dengannya?” ulang gadis itu dengan lebih banyak penekanan kali ini.

Chorong berdeham. Ia sadar, bahwa gadis itu takkan bisa diajak bicara baik-baik.

“Hubungan? Err, sebut saja dengan calon partner.”

Partner?”

“Ya, partner bermusik. Setidaknya, itu yang dikatakan Yongguk-ssi padaku.”

“Kau bohong, ia tak mungkin memilihmu.”

“Aku tidak bohong. Yongguk-ssi sendiri yang mengatakan seperti itu padaku bahkan ia memberiku ini.” Chorong menyodorkan selembar kertas lusuh yang Yongguk berikan padanya beberapa hari lalu.

Gadis galak itu terdiam. Matanya melebar tak percaya saat mengenali tulisan dalam kertas itu.

“Akhirnya, kau datang juga Chorong-ssi,” ujar Yongguk seraya menuruni anak tangga.

Kedua gadis itu pun melihat ke arah yang sama sekarang. Chorong tersenyum senang melihat Yongguk. Itu dia orang yang ia cari.

“Apa yang kau lakukan di sini Eunji-yah?” Giliran Yongguk bertanya pada gadis-tak-bersahabat bernama Jung Eunji itu.

Chorong mengernyitkan alis saat menatap Eunji. Luar biasa! Raut wajah gadis itu mampu berubah 180 derajat hanya dalam waktu sepersekian detik begitu Yongguk muncul.

“Aku ingin mengajakmu makan malam. Ada—.”

“Maaf Eunji-yah,” sela Yongguk cepat. “Aku ada pekerjaan penting sekarang,” lanjutnya seraya menggandeng tangan Chorong agar mengekorinya masuk.

“Tapi—.”

“Bisakah kau tinggalkan kami?” sela Yongguk lagi.

Ia menatap Eunji serius kali ini. Tak ada jawaban langsung dari gadis itu. Eunji justru melirik sinis Chorong yang berdiri di belakang Yongguk dan langsung disambut oleh juluran lidah Chorong. Saking kesalnya, Eunji pun hanya bisa menghentakan kaki. Lantas pergi dengan memendam amarah.

“Duduklah!” Yongguk mempersilahkan Chorong begitu Eunji sudah pergi.

Chorong berdeham. “Gadis itu tadi sepertinya menyukaimu,” komentarnya. Sementara itu, matanya tak mau melewatkan sama sekali untuk bisa menelanjangi tempat tinggal Yongguk. Benar-benar ruangan yang ‘menakjubkan’. Haruskah ia mengakui, bahwa Yongguk sangat kreatif karena berhasil menyulap sebuah tempat menyerupai gudang dan nampak menyerapkan luarnya ini menjadi sebuah basecamp yang unik dan nyaman di dalamnya?

“Jangan kau perdulikan! Kau datang ke sini bukan untuk itu.”

Chorong melirik jengah Yongguk seraya menghela nafas karena ucapan pemuda itu. “Algaetseo,” sahutnya sinis. “Sama sekali tidak bisa diajak bercanda,” gerutunya  yang  meski terdengar oleh Yongguk tapi, tak diindahkan oleh pemuda itu.

“Ini!”

“Apa ini?” Chorong menerima selembar kertas yang Yongguk sodorkan padanya. Selembar kertas yang berisi notasi balok dan lirik sebuah lagu.

“Coba kau nyanyikan. Kau bisa membaca notasi balok bukan?”

“Ya, tapi lagu ini….”

“Kita akan langsung latihan.” Yongguk menatap serius Chorong. Ia duduk di sofa di hadapan gadis itu dan sudah siap dengan gitarnya. “Karena waktu kita kurang dari 2 bulan lagi.”

“Tapi aku belum pernah mendengar lagu ini. Mungkin kau bisa menyanyikannya untukku dulu.”

“Tidak,” sahut Yongguk cepat. Terlalu cepat. “Akan kumainkan melodinya dan kau bisa mencoba mengikutiku. Nanti akan kuberi tahu padamu bagian mana yang salah.”

Chorong terdiam. Ia kembali menatap kertas itu. Baiklah, mungkin ia memang harus mencobanya.

“Kau siap?” Chorong menghela nafas.

“Ya.” Yongguk pun mulai mengetuk permukaan gitar dan baru setelah itu memetik senarnya.

Sebuah melodi ringan mengalun dari sana. Yongguk memberikan isyarat pada Chorong di mana gadis itu harus mulai bernyanyi dan sayangnya, Chorong tidak melakukannya dengan benar—membuat Yongguk mengerang kesal dan meminta Chorong untuk memulai dari awal. Hari itu dan hari-hari selanjutnya pun hanya diisi oleh keduanya untuk berlatih bersama—mempersiapkan audisi yang akan digelar kurang dari 2 bulan lagi tersebut.

Yongguk dan Chorong hanya berlatih di tempat tinggal sederhana Yongguk yang begitu ajaib itu. Eunji pun kerap datang alih-alih ingin melihat latihan mereka. Padahal, ia hanya datang untuk mengawasi Chorong kalau-kalau gadis itu mencoba bertindak macam-macam pada Yongguk. Setidaknya itu yang terpikirkan oleh Eunji.

Eunji sendiri masih bersikap seperti awal pertemuannya dengan Chorong. Ia dingin dan angkuh—takut jika Yongguk akhirnya bersedia menyelingkuhi musik dan itu adalah dengan Chorong. Dan hal itu justru membuat Chorong sendiri menjadi suka sekali mengganggu Eunji dengan membuatnya cemburu. Semisal saja, Chorong akan terus menempel pada Yongguk, berpura-pura ia tak mengerti hal yang harus ia pelajari. Lalu Eunji akan nampak kesal mati-matian. Chorong suka sekali melihat ekspresi kesal Eunji yang tak bisa berbuat apa-apa selain duduk manis—kecuali jika ia ingin diusir Yongguk dari sana—karena Yongguk sendiri selalu memperingatkan Eunji, jika ia ingin tetap tinggal dan menemani mereka latihan, maka Eunji tak boleh mengganggu pekerjaan Yongguk dan Chorong. Dia harus tetap tenang. Dan jika pada akhirnya Eunji sudah tak bisa menahan, ia pun akan pergi meninggalkan Yongguk dan Chorong berdua saja. Menyerah untuk sementara waktu.

*****

“Bagaimana dengan latihanmu?”

“Berjalan dengan sangat lancar__kurasa.”

Kurasa?”

Eung. Kurasa,” ulang Chorong dengan sedikit penekanan seraya mengangguk.

Ia sedang bersama Youngjun di sebuah kedai es krim. Mereka berbagi semangkuk besar es krim vanilla dan strawberry yang bertabur permen warna-warni dan karamel karena pada dasarnya, Youngjun menolak untuk makan es krim hari itu tapi, Chorong memaksa dan rela berbagi asal Youngjun mau menemaninya makan. Kalau sudah begitu, apalagi yang bisa Youngjun lakukan?

“Ada yang terjadi?” selidik Youngjun. Ia paham betul tabiat Chorong yang suka mengajaknya untuk makan es krim, jika ada suatu hal yang mengganggu pikiran gadis itu.

“Tidak. Aku hanya sedang berpikir oppa.”

“Apa yang kau pikirkan?”

Chorong mendesis sebelum menjawab. Ia menjauhkan sendok dari mangkuk es krim. Tatapannya menerawang jauh. Lantas menatap Youngjun gusar. “Apa yang harus kukatakan pada uri aboeji  saat tiba waktunya nanti oppa? Kau tahu sekali, uri aboeji takkan pernah mengijinkanku pergi tapi, aku juga tak bisa mundur begitu saja dari semua ini. Aku sudah memulainya. Aku tak mungkin meninggalkan semua ini begitu saja bahkan sebelum menyelesaikannya.”

Youngjun terdiam beberapa saat. Ia meraih tangan Chorong dan menggenggamnya. “Apa yang kau pikirkan saat kali pertama mengambil keputusan untuk menerima tawaran Yongguk? Tidak. Maksudku, apa yang kau pikirkan saat kali pertama kau mulai menekuni musik? Bukankah sejak itu, kau sudah sadar, bahwa ayahmu takkan pernah setuju dengan jalan yang kau ambil Chorong-ah?”

Chorong terdiam.

“Aku…hanya melakukannya. Itu saja.”

“Kalau begitu, kau juga pasti tahu, bahwa cepat atau lambat ayahmu akan mengetahui semua ini bukan?”

Gadis itu mengangguk.

“Kau takkan mundur dari sesuatu yang sudah kau mulai?”

Lagi, Chorong mengangguk.

“Kalau begitu, kau hanya perlu meneruskannya.”

“Tapi….”

“Kau menyukai Hapkido?”

Eo.”

“Kau menyukai musik?”

“Sangat.”

“Apa impianmu?”

“Musik.”

Chorong terperanjat. Youngjun tersenyum puas.

“Kau sudah tahu jawabannya sekarang Park Chorong. Sisanya, kau hanya perlu membuat ayahmu mengerti, bahwa kau menyukai Hapkido tapi, impianmu bukanlah Hapkido. Melainkan musik.”

“Apakah itu mungkin oppa?”

“Tentu saja mungkin. Kau pasti bisa Chorong-ah. Aku yakin kau pasti bisa.” Youngjun menyentuh puncak kepala Chorong dan mengelusnya. “Ayahmu pasti akan mengerti,” imbuhnya.

Chorong  kembali terdiam. Ia kembali memikirkan ucapan pria itu. Chorong menatap kedua manik mata Youngjun. Ada energi yang tersalur dari sana ke dalam dirinya dan membuatnya jauh lebih kuat dari sebelumnya sekarang. Ia tahu, berbicara pada Youngjun akan selalu berhasil membantunya merasa tak pernah sendiri di dunia ini. Ia tahu. Chorong tersenyum.

*****

Chorong tengah memetik gitar seraya bersenandung lirih melatih lagu yang akan ia bawakan. Sementara Yongguk sedang berada di atas ayunan anyaman—sibuk dengan sebuah kertas dan  pena. Ia nampak berpikir keras. Entah apa yang ia kerjakan.

“Err…, oppa, bagaimana jika kau juga ikut menyanyikan bagian ini?”

“Apa?” Yongguk menatap Chorong terkejut.

“Bernyanyi.”

“Kau sudah gila.” Pemuda itu kembali bergelut dengan pena dan kertasnya.

“Tidak. Aku serius. Pasti akan terdengar bagus. Karakter suara oppa‘kan—.”

“Karakter suaraku tak layak untuk bernyanyi.”

“Siapa yang bilang? Kurasa tidak. Suara berat oppa justru menjadi daya tarik tersendiri menurutku.”

“Otakmu benar-benar sudah tidak waras Park Chorong.”

“Errr…. Mungkin.”

Chorong kembali terdiam. Tidak. Ia tidak menyerah. Ia hanya sedang berpikir. Chorong pun kembali memetik senar gitar dan bersenandung lirih tapi, beberapa detik kemudian, ia terdiam dan menatap Yongguk. Ia mendesis—berpikir ulang dan ulang—seraya menatap bocah laki-laki itu. Apa yang harus ia lakukan agar Yongguk menurutinya?

Oppa.”

Mwo?” Yongguk nampak tak tertarik untuk menatap Chorong. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hanboman (sekali saja).”

“Hanboman mwo (apanya yang sekali saja)?”

“Bernyanyi.”

“….”

Oppa….”

“….”

Oppa….”

“Hyaa!!” Yongguk berteriak kesal mendengar rengekan Chorong itu. “Sudah kukatakan aku tidak akan bernyanyi, ya, aku tidak akan bernyanyi!”

Hanboman  jebal (sekali saja, kumohon)…. Aku tidak meminta oppa  menyanyikannya sendiri. Kita akan menyanyikan bagian itu bersama. Setidaknya kita sudah mencoba. Eottae (bagaimana) oppa? Eo? 

Yongguk menghela nafas pasrah. Berada di dekat Chorong selama hampir 3 minggu ini sudah cukup membuatnya memahami karakter gadis itu. Chorong bukan tipe gadis yang mudah menyerah. Ia akan terus mencoba sebelum ia mendapatkan jawaban ataupun kepastian. Jadi, daripada ia harus terus mendengar rengekan gadis itu, ia tahu  ia harus melunasi rasa penasaran Chorong. Gadis itu pasti akan memintanya berhenti bernyanyi begitu ia mulai membuka suara.

Lantas, Yongguk pun turun dari ayunan dan menghampiri Chorong. Duduk di hadapan gadis itu.

“Mainkan nadanya.”

Chorong tersenyum lebar. Senang. Segera ia mengambil nada yang dimaksud Yongguk dan pemuda itu pun mulai bernyanyi. Di luar dugaan, Chorong justru terus memainkan gitar tanpa meminta Yongguk berhenti bernyanyi. Hingga dua bait lirik terlewati, Chorong masih setia mengiringi Yongguk dan tak nampak terganggu. Bahkan untuk lirik selanjutnya, gadis itu turut bernyanyi. Entah setan apa yang berbisik di telinganya, Yongguk menjadi enggan berhenti bernyanyi mendengar suara Chorong mengiringinya. Ini aneh.

“Uwaaa!! Keren!! Benar-benar keren!” seru Chorong girang begitu lagu berakhir. Ia bertepuk tangan. “Aku tidak salah’kan oppa? Lagu ini menjadi  terdengar lebih bagus saat kita menyanyikannya bersama di bagian itu. Aku hebat bukan?”

Yongguk terdiam. Ia sadar, bahwa percobaan tadi terdengar cukup baik tapi, ia masih tak sepenuhnya yakin. Apa benar sebagus itu? Ia menatap Chorong yang masih nampak bahagia dengan hasil percobaan yang tak terlalu mengecewakan itu. Errr…, mungkin ia hanya harus mencobanya lagi. Selama ini, ia memang tak pernah mencoba bernyanyi. Ia terlalu tak percaya diri dengan karakter suaranya. Ya…, mungkin memang harus dicoba.

*****

“Keren oppa! Benar-benar keren! Kau berhasil!” seru Chorong dalam pelukan Yongguk.

“Kita yang berhasil Chorong-ah! Kita!”

Keduanya tergelak bersama. Benar-benar merasa senang atas hasil yang telah dicapai. Mereka baru saja mendengar hasil rekaman latihan hari ini dimana Yongguk turut bernyanyi di satu bagian yang Chorong maksud tempo hari. Yongguk yang semula khawatir  takkan berhasil bernyanyi dengan baik sudah membuang jauh kekhawatiran itu.

Lalu setelah beberapa waktu berpelukan, Yongguk dan Chorong saling bertatapan. Bergantian  menatap mata masing-masing. Beberapa saat kemudian, mereka pun benar-benar tersadar. Lengan yang saling mendekap itu kontan terlepas. Mereka berdeham alih-alih menghindari kecanggungan yang tiba-tiba tercipta. Chorong menggaruk  tengkuknya yang entah mengapa terasa gatal. Sementara Yongguk meraih gitar  dan mulai memainkan asal. Ada degupan yang mereka rasa. Ada malu yang tiba-tiba menyeruak entah karena apa.

“Atmosfir  macam apa ini?” tanya Eunji yang tiba-tiba muncul dan menyadari kecanggungan yang ada.

“Oh! Eunji eonni, tumben sekali baru datang,” ujar Chorong seraya menghampiri Eunji.

“Apa-apaan kau ini? Mengapa tiba-tiba sok ramah begitu padaku?” Eunji bergidik.

“Tidak. Aku hanya bersikap seperti biasanya. Sungguh.”

“Cih!”

“Kalian berdua berisik sekali,” sela Yongguk seraya meraih jaket di punggung sofa. “Chorong-ah, bawa cajonmu. Kita keluar.”

“Kau mau kemana Yongguk-ah?” tanya Eunji antusias dan mulai mengekori Yongguk.

“Pentas di jalan malam ini.”

Mwo? Pentas? Malam ini juga oppa? Siapa? Kau? Aku? Kita?”

“Tentu saja kau dan aku. Kita. Kau pikir siapa lagi?”

Pundak Chorong kontan melesak turun mendengar kata ‘pentas di jalan malam ini’ yang meluncur mulus dari mulut Yongguk. Apa ia bisa melakukannya? Di hadapan orang banyak? Di hadapan orang-orang dewasa yang akan berkomentar lebih kritis? Benarkah? Apakah ia bisa?

“Kau sedang bercandakan oppa?”

“Untuk apa bercanda? Kita akan melatih mental kita untuk membawakan lagu itu. Tak ada waktu untuk bersantai. Cepat!”

Eunji mengangkat tangan. “Apa aku boleh ikut?”

Yongguk melirik Eunji datar. Ia menghela nafas dan gadis itupun buru-buru menambahi, “Aku tidak akan mengganggu. Sungguh.”

*****

Ini adalah sebuah trotoar lebar di mana pohon-pohon sakura tengah berbunga indah di sepanjang jalan. Dengan dahan yang diberi lampu, pohon-pohon itu nampak bersinar indah di malam hari. Banyak orang lalu lalang di sana. Banyak juga yang duduk santai mengobrol entah dengan teman ataupun pasangan di bawah pohon. Semua nampak bahagia dan larut dalam nuansa dunia mereka. Kalau begitu, apakah akan semudah itu menarik mereka keluar dari dunia itu?

Tak ada satupun orang yang mengitari Yongguk dan Chorong saat ini. Semua orang lalu lalang tanpa mengindahkan mereka. Jikapun ada, hanya melirik dengan tatapan rendah. Berbeda sekali dengan saat ia pernah menyaksikan pertunjukan Yongguk  di tempat biasa bocah itu mangkal. Hanya dengan berdiri saja, beberapa orang akan langsung mengitari Yongguk. Sama halnya juga seperti jika ia pergi ke taman dekat sekolah, anak-anak kecil yang sedang bermain akan kontan mengerubunginya begitu ia tiba. Dan sekarang, apa yang harus mereka lakukan untuk menarik perhatian semua orang itu?

Suara dehaman Yongguk mengalihkan perhatian Chorong dari lamunan. Pemuda itu mengangguk sebagai tanda pada Chorong, bahwa pertunjukan harus segera dimulai.

Chorong menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mulai memainkan cajon. Mungkin nyaris semua pasang mata menatapnya sekarang. Mengernyitkan alis menatap seorang gadis yang duduk di atas kotak berwarna merah muda dan menepuk-nepuk permukaannya. Apakah ia memainkan cajon dengan baik? Chorong terus memikirkannya. Ini kali pertama bagi dirinya bermain cajon tanpa terfokus pada permainan tapi, justru pada pendapat orang lain. Cukup mengganggu.

Yongguk pun memulai bagiannya dengan memamerkan teknik rap yang menakjubkan diiringi petikan gitar, satu per satu orang mulai berkumpul. Tidak banyak. Hanya 4-6 orang saja. Pertunjukan tetap berlanjut. Perlahan, Chorong kembali mendapatkan fokus permainannya begitu melihat wajah-wajah yang menyiratkan kepuasan. Ia bernyanyi dengan ringan seakan tanpa beban setelah itu. Membawakan sebuah lagu tentang impian dan harapan. Tentang semangat untuk memperjuangkan sebuah  mimpi. Saking menikmati pertunjukan malam itu, Chorong tak benar-benar menyadari ada berapa banyak orang yang telah mengerubungi ia dan Yongguk saat ini. Beberapa bahkan mengabadikan pertunjukan itu dalam ponsel mereka. Rasanya lebih menyenangkan ada orang yang lebih banyak mengerumuni dan mengapresiasi kemampuan seperti ini.

Pertunjukan berakhir. Tepukan membahana dari pengunjung yang menikmati pertunjukan keduanya. Yongguk dan Chorong bertatapan senang. Eunji yang sedari tadi mengikuti mereka, bertugas mengumpulkan uang dari setiap pengunjung yang datang dan begitu mendapati Yongguk dan Chorong yang saling menatap dengan intens, ia merasa kesal. Terbakar api cemburu. Ia pun segera menghampiri Yongguk. Tepatnya berdiri di antara Yongguk dan Chorong sehingga pemuda itu tak dapat menatap Chorong lagi. Chorong mencibir. Eunji tersenyum lebar pada Yongguk. Lantas menyodorkan kotak hitam berisikan uang dari penonton pada pemuda itu.

“Ini penghasilan kita malam ini Yongguk-ah,” ujarnya. “Cukup bagus untuk tempat pertama.”

“Benarkah?” tanya Yongguk datar yang tentu saja membuat Eunji kecewa. Mengapa pemuda itu selalu bersikap tak acuh padanya? Mengapa Yongguk tak pernah menatapnya dengan lembut? Apa salahnya? Dulu, Yongguk tak begini padanya. Apakah waktu benar-benar bisa mengubah sebuah persahabatan menjadi lebih buruk?

“Kau hebat Park Chorong,” ujar Youngjun yang entah sejak kapan sudah berada di sana.

Perhatian Yongguk dan Eunji lantas tertuju pada pria itu. Tak terkecuali Chorong. Gadis itu tersenyum lebar melihat kemunculan Youngjun yang begitu tiba-tiba. Ia pun segera berhambur kepelukan Youngjun tanpa membuang waktu lagi.

Oppa, kau datang,” ujarnya senang.

“Eo. Na watseo (aku datang).”

Chorong melepas pelukan dan mendongak demi menatap Youngjun yang lebih tinggi darinya. Menatap tepat kedua mata pria itu. “Bagaimana oppa  bisa sampai di sini?”

“Saat menerima pesanmu tadi, aku tahu aku harus datang.”

Chorong tersipu. “Oppa mengkhawatirkanku?”

“Tidak.”

Praktis, Chorong mengembungkan pipi lantaran kesal. Kecewa pada kenyataan Youngjun tak mengkhawatirkannya. Youngjun pun terkekeh melihat ekspresi Chorong yang menggemaskan. Seperti sudah sebuah kewajiban, tangan pria itu bergerak dengan sendirinya menyentuh puncak kepala Chorong, mengusapnya lembut, dan berakhir dengan menarik pipi gadis itu.

“Aku tahu hari ini akan menakjubkan,” pujinya kemudian.

Kontan saja, sebuah senyum manis di wajah Chorong menerbitkan sepasang bulan sabit yang bersinar cerah mendengar ucapan manis Youngjun. Sangat indah. Membuat Youngjun tertegun menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadarkan karena pelukan erat gemas gadis itu.

“Gomawoyo oppa,” ujar Chorong tulus.

Sementara itu, Yongguk dan Eunji hanya terdiam di tempat. Mereka sama-sama mengamati ‘scene romantic drama’ itu dengan cara pandang masing-masing. Berkutat dengan pikiran sendiri-sendiri.

Eunji melirik Yongguk. Tak ada ekspresi di wajah pemuda itu. Datar. Flat. Padahal Eunji ingin tahu sekali apa yang tengah dipikirkan oleh Yongguk saat ini tapi sayang, ia tak bisa menebak apapun. Ekspresi itu terlampau sulit diartikan olehnya. Ini menyebalkan.

*****

Dalam waktu singkat, sejak Yongguk dan Chorong mementaskan lagu mereka di jalanan, video-video amatir tentang keduanya pun beredar luas di dunia maya. Dengan ribuan penonton serta komentar yang memuji kemampuan mereka. Praktis, setiap mereka perform jumlah penonton yang terkumpul tak pernah sedikit. Bahkan jika itu di tempat baru sekalipun. Kota Yeosu seakan telah Yongguk dan Chorong sulap menjadi panggung pribadi mereka. Meskipun begitu, hal tersebut tak lantas menjadi jaminan bagi keduanya untuk tak dikejar-kejar polisi yang menganggap mereka melakukan pertunjukan ilegal di jalanan kota. Dan malam ini, Yongguk dan Chorong kembali harus kabur dari kejaran polisi seraya bergandengan tangan menyusuri jalanan kota Yeosu.

Lalu uniknya, setiap langkah mereka justru teriringi tawa. Mereka seakan tak perduli tengah dalam pelarian. Ini karena mereka sudah terlanjur terbiasa dan menikmati semua. Bisa terlepas atau bahkan sempat untuk mengerjai polisi-polisi itu bahkan merupakan hiburan tersendiri bagi keduanya.

Na’as, hal itu takkan berlaku malam ini. Para polisi nampaknya sudah belajar banyak tentang mereka. Yongguk dan Chorong pun terkepung. Tak ada jalan keluar. Chorong semakin menggenggam erat tangan Yongguk. Ia mengambil satu langkah mundur dan bersembunyi di balik punggung pemuda itu. Situasi ini terlalu menakutkan baginya. Ia benar-benar takut hingga sekujur tubuhnya bergetar. Karena ia tahu jika ia sampai tertangkap, maka tamatlah riwayat impiannya.

Yongguk melirik Chorong yang bersembunyi di belakangnya. Ia bisa merasakan tangan gadis itu yang bergetar dan mulai terasa dingin. Ia pun mengeratkan genggamanya. Menatap was-was para polisi yang telah mengepung mereka. Ini berbahaya.

*****

“Apakah ia takkan pernah bisa kembali?”

“Entahlah. Semua tergantung pada keyakinan Chorong sendiri.”

Yongguk dan Youngjun kembali terdiam. Mereka hanya bisa mengamati cajon merah muda milik Chorong yang sengaja ditinggalkan gadis itu di kantor polisi tadi. Chorong telah pulang bersama ayahnya dan setelah malam ini, entah ia akan bisa kembali atau tidak. Terlebih jika mengingat betapa murkanya ayah Chorong tadi karena mengetahui putri tersayangnya itu telah berkhianat. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Apa yang harus Yongguk lakukan? Padahal Yongguk dan Chorong harus berangkat ke Seoul dalam waktu 2 hari lagi.

Perlahan, menatap cajon itu membawa Yongguk kembali pada satu waktu di mana Chorong mengungkapkan keresahannya tentang sang ayah.

Chorong dan Yongguk tengah berjalan di tepi pantai. Membiarkan riak menyentuh kulit kaki mereka.  Semilir angin yang berhembus malam itu membawa keduanya tenggelam dalam dunia masing-masing. Hanya ada suara bisikan angin laut dan gelombang pantai yang seakan mengiringi senandung lirih Chorong membawakan sebuah lagu dari Busker Busker yang berjudul Yeosu Sea Night.

“Sepertinya, kau suka sekali pada Busker Busker. Kau sering menyanyikan lagu mereka.”

Chorong berhenti bernyanyi. Ia menghela nafas sebelum menjawab Yongguk. “Bisa dibilang begitu. Mereka itu unik tapi pada dasarnya, aku suka semua musik.” 

“Kita juga tak kalah unik,” sahut Yongguk. “Kau dan cajon merah mudamu…. Aku dan gitar tuaku,” imbuhnya.

Lantas keduanya pun  tergelak bersama.

“Ya, kita unik,” timpal Chorong kemudian.

Keheningan kembali menyelimuti Yongguk dan Chorong. Mereka kembali bergelut dengan pikiran masing-masing. Memikirkan impian mereka. Namun setelah beberapa saat, Yongguk melirik Chorong yang berjalan di sampingnya. Ia menatap gadis itu untuk beberapa saat. Ada kesenduan dan kegusaran dalam tatapan gadis itu. Lantas, seperti ada kekuatan tak kasat mata yang kemudian mendorong tangan Yongguk untuk perlahan bergerak mengelus puncak kepala Chorong. 

Tentu saja, hal itu membuat Chorong terkejut mengingat sikap dingin dan kaku Yongguk pada perempuan tak terkecuali dirinya selama ini. Ini aneh. Mengejutkan. Ia pun menatap lekat kedua mata Yongguk tak mengerti. Mencoba mencari jawaban tapi, tak ada apa-apa di sana. Ia terlalu bodoh untuk mengartikan sesuatu yang hanya tersirat.

Sekarang, suara bisikan angin pun seakan tak terdengar oleh keduanya. Hanya ada keheningan. Tak ada yang terpikirkan. Kosong. Namun Yongguk terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Chorong menyandarkan kepala di pundaknya. Jantungnya seakan mencelos. Tubuhnya mendadak berubah kaku. Tiba-tiba saja, semuanya terasa salah. Bernafas pun salah.

Ia bisa mendengar helaan nafas Chorong yang penuh dengan keresahan. Seperti dugaannya, ada yang membebani pikiran gadis itu. Hanya saja entah apa. Ia hanya ingin membantu Chorong untuk melenyapkan resah itu, agar tak mengganggu jalannya latihan. Hanya saja, ia terlalu bodoh untuk tahu apa yang harus ia katakan atau bagaimana ia harus bertindak.

Sekarang otaknya pun tengah sibuk memilah ingatan tentang apa saja yang mampu membantunya menenangkan Chorong. Mungkin adegan romantis yang ada di film mampu membantunya tapi, oh, astaga! Yang teringat hanyalah adegan kekerasan dalam film action yang pernah ia tonton. Dan selanjutnya, hanya ada adegan tak layak dari film dewasa yang err…sangat-sangat tidak mungkin ia lakukan pada Chorong. Sial memang tapi pada kenyataannya, memang hanya jenis-jenis film itu saja yang menarik perhatiannya selama ini.

Amatta! Sentuh rambutnya…. Bukankah Chorong selalu nampak bahagia saat puncak kepalanya disentuh? Seperti yang baru saja ia lakukan.

Tangan Yongguk pun bergerak perlahan hendak menyentuh puncak kepala gadis itu.

“Oppa,” suara sendu Chorong praktis menghentikan gerakan tangan Yongguk yang nyaris mencapai puncak kepala gadis itu. Lalu, “Bagaimana jika semua ini hanya sia-sia?” lanjutnya.

“Apa?”

“Uri aboeji…. Bagaimana jika pada akhirnya, aku benar-benar tak bisa meyakinkan uri aboeji? Bagaimana jika tiba pada waktunya dan aku justru tak bisa memenuhi janjiku pada oppa?”

Yongguk terdiam. Pertanyaan gadis itu entah bagaimana justru membuat sendi-sendi tubuhnya berjalan normal kembali. Ia menghela nafas. “Aku mengerti. Aku juga mengalaminya.”

Kontan, Chorong mengangkat kepala dari pundak Yongguk dan menatap pemuda itu tak mengerti. Yongguk tersenyum tipis.

“Aku kabur dari rumah. Sama sepertimu, keluargaku tak mendukung impianku tapi…, aku tahu. Selama aku yakin dan berusaha, aku pasti bisa membuktikan pada mereka, bahwa impianku ini berharga.” Yongguk mencengkram lengan Chorong. Ia ingin gadis itu tetap menatapnya sekaligus ingin menyalurkan keyakinan serta tekad yang ia miliki pada gadis itu. “Jadi, kau! Park Chorong, yakinlah! Karena kita berusaha, kita pasti bisa menggenggam impian dalam tangan kita. Sesulit apapun jalannya. Untuk bernyanyi bersama di atas panggung yang sama.”

Chorong terpaku sesaat tapi setelah itu, seulas senyum terkembang di bibirnya. ‘Berusaha….’.

“Untuk bernyanyi bersama di atas panggung yang sama,” ulang Chorong yang rupanya juga berbarengan dengan Yongguk. Mereka pun tergelak bersama.

Yongguk tersadar dari lamunan saat Youngjun menepuk pundaknya. Pria itu tersenyum.

“Aku pulang dulu. Kau tenanglah. Aku yakin Chorong tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sudah memulai dan ia takkan berhenti begitu saja.”

Yongguk mengangguk. Lalu, “Terimakasih untuk bantuannya hari ini, hyung.”

“Teman Chorong temanku juga. Santai saja!” ujar Youngjun seraya menepuk-nepuk pundak Yongguk lagi sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.

Saat berada di kantor polisi, Chorong memberikan nomer ponsel Youngjun sebagai wali Yongguk. Hal itu terjadi karena Yongguk tetap bersikeras untuk diam saat ditanyai nomer telepon walinya. Sementara gadis itu sendiri tak bisa meminta bantuan Youngjun untuk menjadi wali karena kepala kantor polisi itu dengan secara sangat kebetulan adalah rekan ayahnya. Benar-benar sial bukan?

Sekarang, Yongguk menatap daun pintu tempat tinggalnya tak berkedip. Lebih tepatnya, ia menatap tempelan kertas dengan tulisan warna-warni yang mencolok yang sengaja Chorong buat sebagai penyemangat mereka. Tulisan itu berbunyi: Berusaha sekeras mungkin untuk bernyanyi bersama di atas panggung yang sama.”

Yongguk pun tersenyum.

*****

Yongguk beranjak dari sofa saat pintu tempat tinggalnya diketuk seseorang. Dan begitu ia membukakan pintu, ia pun mendapatkan kejutan dengan sebuah pelukan dari Chorong yang basah kuyup karena hujan mengguyur Yeosu cukup deras pagi itu. Chorong menangis dalam pelukannya. Mengatakan, bahwa ia ingin pergi ke Seoul. Ia ingin mencapai impiannya bersama Yongguk.

Ini keajaiban…. Keajaiban, bahwa gadis itu bisa muncul di hadapannya di saat-saat terakhir mereka harus berangkat ke Seoul setelah 3 hari tak bisa saling berkomunikasi. Tak banyak bicara, mereka pun segera mengambil peralatan seadanya dan berangkat menuju Seoul menggunakan KTX. Karena audisi akan berakhir sore itu juga. Semoga masih ada waktu.

Ayah…. Maafkan aku tapi, pasti akan kubuktikan, bahwa aku bisa membanggakan ayah dengan impianku. Aku takkan mengecewakan ayah. Kumohon, percayalah padaku, ayah. Karena musik adalah impianku.

– Chorongie –

****

Yongguk dan Chorong terkulai lemas di depan gedung tempat audisi diadakan. Harapan mereka musnah sudah. Audisi hari itu telah berakhir. Mereka tak mendapatkan kesempatan untuk mengikutinya barang hanya sebentar saja. Sesampainya di Seoul, taxi yang mereka tumpangi mengalami ban bocor dan  lagi, mereka harus terjebak macet sehingga terlambat tiba di tempat audisi. Semuanya benar-benar telah berakhir sekarang. Oh, tunggu sebentar! Benarkah sudah berakhir begitu saja?

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Youngjun  oppa!” seru Chorong tak percaya begitu mendapati Youngjun yang berdiri di hadapannya. “Bagaimana  oppa—.”

“Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan kalian,” ujar Youngjun seraya membungkuk dan mengusap puncak kepala Chorong. “Ada apa dengan wajah kalian berdua ini?”

Chorong terdiam. Ia menunduk lemas. Bahkan ia tak mampu menceritakan apapun pada Youngjun saat ini. Ia takut akan menangis meraung di tempat seramai itu, jika menceritakan perjuangan mereka yang berakhir dengan sia-sia.

“Kami terlambat mengikuti audisi,” jawab Yongguk akhirnya.

“Terlambat?” Yongguk dan Chorong mengangguk serempak.

Youngjun memperhatikan keduanya yang nampak kehilangan semangat. Haruskah impian kedua anak manusia ini berakhir begitu saja? Haruskah mereka menunggu lagi untuk mendapatkan kesempatan audisi berikutnya?

Youngjun mendadak bertepuk tangan mengajak Yongguk dan Chorong bangkit kembali. “Hyaa! Hyaa! Park Chorong! Bang Yongguk! Apa kalian akan menyerah begitu saja? Bukankah kalian sudah susah payah untuk bisa mencapai Seoul? Bukankah kalian sudah rela kabur dari rumah demi ingin membuktikan pada ayah kalian, bahwa kalian akan berhasil dengan impian kalian? Lalu, apa yang kalian lakukan sekarang? Kalian mau menyerah begitu saja untuk hari ini?”

Yongguk dan Chorong saling menatap. Mereka tak mengerti dengan maksud ucapan Youngjun. Lantas, keduanya beralih menatap pria itu. Youngjun  tersenyum lebar—menyamarkan mata sipitnya yang nampak bersinar.

“Jadikan jalanan kota Seoul panggung bagi kalian! Seperti kalian melakukannya pada jalanan Yeosu. Tarik perhatian mereka dan jalan untuk kalian masuk ke dalam dunia musik Korea akan terbuka. Ingat! Jangan remehkan kecepatan internet sekarang ini! Ini SEOUL! SEOUL!! Semua bisa terjadi di sini.”

“Seoul…,” gumam Yongguk dan Chorong bersamaan.

“Ya. Seoul. Tarik perhatian Seoul!”

*****

Chorong menatap Youngjun yang berdiri beberapa meter di depannya. Pria itu tersenyum seakan menyalurkan kata-kata ‘semua akan baik-baik saja’. Tentu saja hal itu membuat Chorong menjadi jauh lebih tenang sekarang. Karena hari ini, ia harus menghadapi orang-orang serta atmosfir yang berbeda dari biasanya. Karena hari ini, ia berada di Seoul. Karena ia akan mengerahkan semua kemampuannya untuk memukau Seoul.

Chorong mengalihkan tatapannya pada Yongguk. Pemuda itu mengangguk pada Chorong pertanda ia dan gitar tua kesayangannya sudah siap beraksi.

Chorong menghela nafas lega. Ia semakin percaya diri sekarang karena ia tak sendiri. Karena ia tau ada banyak orang yang mendukungnya dan ia yakin ia bisa membuktikan pada ayahnya, bahwa ia tak salah memilih impian.

“Untuk bernyanyi bersama di atas panggung yang sama,” ujar Chorong dan Yongguk kompak tanpa suara.

Chorong pun mulai menepuk-nepuk cajon dan segera disusul oleh suara petikan gitar Yongguk. Mereka pun mulai menyanyikan bagian masing-masing dengan ringan tanpa beban. Tanpa memikirkan hal selain yang terbaik bagi musik. Karena mereka mencintai musik. Inilah perasaan yang mereka tuangkan dalam melodi indah bernama harapan. Perlahan, beberapa orang mulai mengerumuni mereka. Belum banyak dan itu wajar tapi, sekumpulan kecil penonton itu yang pasti menikmati pertunjukan yang Yongguk dan Chorong sajikan. Rencana Youngjun pun berhasil. Beberapa penonton mengabadikan pertunjukan malam itu. Ini awal yang baik.

Dan di balik perjuangan yang panjang di hari itu, diam-diam selama pertunjukan berlangsung, tatapan Chorong hanya terfokus pada satu sosok. Tak beralih kemanapun karena Chorong sudah mulai menyadari, bahwa ia lebih dari sekedar menyukai pria itu. Entah sejak kapan tapi yang pasti, ia baru menyadari, bahwa sosok itu begitu berarti dalam hidupnya….

*****

2 bulan kemudian….

Video amatir mengenai Yongguk dan Chorong mulai menguasai site-site video di Korea dan tak terkecuali Youtube. Viewers-nya pun sudah mencapai ratusan  ribu. Hasil yang sangat mengesankan bagi pertunjukan amatir. Penonton yang menyaksikan pertunjukan mereka secara langsung pun mulai terkumpul banyak. Dan nama mereka mulai dikenal khalayak dengan sebutan  “Melodia Concerto”.

Yongguk dan Chorong benar-benar merasa senang. Meski mereka tak memiliki agensi tapi, banyak orang yang mengapresiasi karya mereka. Itu tujuan utama mereka sejak dulu. Membuat sebanyak mungkin orang menikmati karya mereka dalam musik. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari sekedar hal ini.

Dan tibalah pada satu ketika, dimana Melodia Concerto akhirnya mendapatkan tawaran kontrak dari salah satu agensi di Korea. Memang bukan agensi besar tapi, ini adalah salah satu pencapaian lain yang juga mereka harapkan. Dan setelah tanda tangan kontrak terlaksana, maka tak lama lagi mereka bisa tampil di televisi nasional. Bukan lagi mengadakan konser illegal di jalanan seperti yang selama ini mereka lakukan.

“Untuk bernyanyi bersama di atas panggung yang sama…,” ujar Yongguk dan Chorong bersamaan setelah keluar dari kantor agensi baru.

Mereka pun berteriak kegirangan setelah itu. Chorong melompat ke dalam pelukan Yongguk. Akhirnya, mereka mampu membuktikan pada orangtua mereka. Membuktikan, bahwa mereka tak salah memilih impian. Ini adalah buah manis dari usaha mereka dalam memperjuangankan impian mereka. Sebuah kebahagiaan….

*****

2 tahun kemudian….

Eunji melirik Make Up Artist yang tengah membantu Yongguk mengaplikasikan riasannya. Wanita muda itu memberikan sentuhan eyeliner yang cukup tebal untuk mata Yongguk yang kecil tapi, hal itu justru membuat Eunji mencibir kesal. Dan begitu nona penata rias itu beringsut, Eunji segera menghampiri Yongguk. Menangkup wajah Yongguk dan menghadapkan wajah itu padanya. Eunji mengernyit tak suka. Ia pun menyahut sebotol cleanser dan selembar kapas.

“Hyaa! Apa yang mau kau lakukan pada wajahku Jung Eunji?”

Eonni  itu benar-benar tidak mengerti karya indah,” omel Eunji seraya menghapus riasan mata Yongguk. “Mata sebagus ini mana boleh ditutupi dengan make up jelek begini,” imbuhnya. Bahkan Eunji tak menyadari wajah memerah Yongguk dan kecanggungan pemuda itu karena wajahnya yang terlalu dekat dengan wajah Yongguk.

“Ini baru yang namanya tampan!” puji Eunji seraya mengarahkan wajah Yongguk ke cermin lagi. “Wajahmu itu karya terindah oppa. Mengapa harus ditutupi?

Yongguk mendengus sekaligus tertawa pendek.

“Kau akan membuat Hong noona  marah lagi Eunji-yah.”

“Biarkan saja,” sahut Eunji tak acuh. “Yongguk oppa-ku memang lebih tampan seperti ini,” imbuhnya seraya memeluk Yongguk dari belakang hingga pipi mereka menempel—membuat Chorong yang menyaksikan adegan itu mencibir iri.

Ups!! Belum diceritakan, ya? Setelah sukses menjadi penyanyi, Yongguk dan Eunji resmi berpacaran. Mengapa? Karena memang sebenarnya Yongguk menyukai Eunji sudah sejak lama. Ia hanya terlalu malu menyatakannya. Dan juga, ia sadar selama ia belum sukses, ia takkan bisa membahagiakan Eunji. Meskipun pada dasarnya, Eunji tak pernah memikirkan hal-hal seperti itu dari Yongguk. Sementara itu, perasaan Yongguk sendiri pada Chorong hanyalah sebatas rasa sayang kakak pada adiknya. Tidak lebih.

Baiklah, lalu bagaimana dengan Chorong? Mari kita lihat!

Selama proses recording untuk acara musik sore itu, Chorong nampak begitu bahagia dengan tersenyum lebar di atas panggung saat menatap ke arah bangku penonton. Kali ini bukan senyum yang biasa ia pamerkan. Ini sebuah senyum yang berbeda. Ini adalah senyum kerinduan karena setelah 2 tahun berlalu, akhirnya ia bisa melihat sosok yang begitu ia rindukan itu. Dan begitu proses rekaman selesai, Chorong pun segera berlari menuruni panggung hingga beberapa kru berteriak padanya karena Chorong nyaris saja tersandung kabel.

Namun, gadis itu terlihat tak perduli. Ia hanya tahu ia harus berlari dengan cepat ke arah bangku penonton sekarang di mana seorang pria tengah menunggunya dengan tangan terbentang di sana. Chorong menghambur ke dalam pelukan pria itu. Memeluknya seerat mungkin. Seo Youngjun.

“Kau begitu merindukanku Park Chorong?” tanya Youngjun seraya membelai rambut Chorong.

“Sangat. Sangat. Aku sangat merindukanmu oppa,” jawab Chorong seraya menenggelamkan kepalanya di lekukan antara leher dan bahu Youngjun. Ia mencoba menghirup aroma tubuh pria itu. Aroma yang lama tak ia hirup karena selama 2 tahun ini, Youngjun meninggalkannya demi menjalankan kewajibannya sebagai pria dewasa Korea Selatan dengan mengikuti Wajib Militer.

“Aku juga sangat-sangat merindukanmu, Chorong-ah….”

– Epilog –

“Oppa, aku mencintaimu.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

“Bodoh! Bagaimana bisa kau bicara sejujur itu Park Chorong?”

“Memangnya mengapa tidak boleh?”

“Kau melukai harga diriku.”

“Apa?”

“Seharusnya aku yang mengatakannya.”

“Itu salah oppa sendiri mengapa terlalu lambat. Aku’kan tidak sabar.”

“Tch! Kau ini. Baiklah, jika kau memang mau bersamaku, itu artinya kau harus menungguku selama 2 tahun. Apa kau bisa?”

“Tentu saja aku bisa. Mengapa tidak?”

“Benarkah?”

“Eo. Oppa minta saja padaku untuk menunggumu. Dan aku akan sungguh-sungguh menunggumu.”

“….”

“Oppa tidak mau memintaku menungg—.”

Dan sebuah kecupan manis Youngjun mendarat di bibir Chorong. Membuatnya terdiam dan membeku.

“Tunggu aku Chorong-ah….”

 FIN

😀 Maaf karena terlalu panjang dan karakter yang tidak sesuai. Karena memang dibuat Out Of Character ya ^^

Please leave your review Dears….

Pay Pay….

Advertisements

33 thoughts on “A Pink Concerto – Chorong’s Story

  1. Koye… saya datang. u.u

    Chorongnya kece deh karakternya… tapi disini yang dominan aku suka ke Yong Guk. #LOL
    aku suka pendeskripsianmu soal konser…. Konser nggak harus di panggung mewah…. Penuh penonton….
    Tapiiiii…. ada 1 yang janggal. Disini nggak diceritain gimana hubungan Chorong ama Ayahnya. gitu juga hubungan Yong Guk ama ayahnya….
    Soalnya disini cuma diceritain gimana mereka bsa mendulang sukses tapi aku ga tau respon ortunya…

    Well…. aku sejak awal sudah menebak, pasti chorong nggak sama yong guk. #LOL
    Udah ah… kepanjangan… wkwkwkw

    1. Well, cerita ttg Chorong sm ayahnya udah dibahas sebenernya Gi. Ayahnya pengen Chorong mengelola usahanya tp Chorong gamau n sampe ada acara kabur2an, cuman emang iya sih gmn akhirnya nggak diceritain. Sprtinya aku melewatkan bagian ini. Kalo Yongguk, emang nggak diceritain dari awal, intinya dia pergi dari rumahnya. Begono.
      Ini kenapa malah aku yg jawab ya? Kkk~

      Iya Gi, aku pas baca jg udah punya feeling gt tp aku puas sama endingnya. ^^

      1. iya.. kalo yang awal itu aku tahu,,, cuma yang penyelesaian ayah ama chorong ga diungkapin. wkwkkww
        koye ga mampir lagi setelah promosi. wkwkkww

        Iya… aq juga puas ama endingnya… wkwkwkkw
        pissssss

        1. Uhuk! Aku muncul 😀
          Hahaha iya emang ga aku ceritain. Sengaja sih. Abis waktu aku coba kumpulin ternyata uda mencapai 48an atau lbh halaman gt wkwkwkwk… makanya aku hapus bagian itu

          Eh ketauan ya udahan kalo ga bakal sama Yongguk dr awal xD
          Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

          1. wkwkwkw… pantesan…. kekekee
            eh buset.. ampe sepanjang itu… wkwkw
            tapi untungnya yang ini ga keliatan banget pangkasannya. hahahaha

            kalo aq sih emang udah ngira dari cara Chorong manggil ‘Oppa’ ke Youngjun. hahahaha….
            Beda ekspresi juga sih kalo ke yong guk. wkwkwkw

            tapi nice story kok Koye…

            G

          2. Hahahaha sebelum aku kirim ke Yun bah panjang banget. Kalap pokoknya pas ngerjain xD seenak jempol ane aja gara2 ga bisa liat jumlah halaman…

            Padahal Chorong jg manggil Oppa lho ke Yongguk 😀 iya sih beda sikap kalo ke Youngjun
            Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

          3. Kan udah kubilang kalo FF-nya Ayu ini sesuatu banget panjangnya. :p
            Untung berhasil kupangkas. Iya, untungnya nggak keliatan soalnya emang yg dipangkas itu nggak mempengaruhi jalan cerita.

      2. Hahahaha thanks Yun uda dijawabin…
        Ada sih crita bgian Yongguk. Tp uda aku hpus jg. Hehehe. Soalnya kupikir mending fokus ke Chorong.
        Nyiahahahaha tnyata kelewatn ya yg bgian itu 😀
        Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

  2. wah ayah Chorong salah tu..kalau anak nya suka musik harus mendukung juga tapi rata2 orang tua jaman dulu kayak gitu, kasian banget eunji di kacangin pasti yongguk liat chorong…belum tahu siapa Yongjun LED apple jadi penasaran aku google ah.. 😀

    1. Di author’s note uda aku ksih link buat picnya Youngjun lhoh 😀

      Kayaknya jaman skarang juga masih yg kaya gt 😀
      Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

          1. Nah itu dia tujuan aku make Youngjun 😀 pengen ngenalin Led Apple hehehe

            Trus trus,masih jarang banget malah belum pernah nemu FF indo yang pake Led Apple ^^v
            Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

  3. Chorong manis yah *salah fokus*

    Eonni aku dataaang! Sebenarnya udah baca dari awal ini di publish tp baru sempet komen.
    Utk eyd, sepertinya aku nggak menemukan typo (tp gatau deh). Dan utk alur serasa di percepat gitu yah hehe mengingat berapa lembar menjadi berapa lembar *lirik Yun eonni* wkwkwk

    Ceritanya aku suka–aku udah pernah bilang belum? Aku selalu suka cerita apapun yg mengandung masalah Impian? Hhahaha aku suka! Konser itu nggak harus di panggung besar…

    Tapi klimaks nya kurang dapet menurutku. Mungkin kalau adegan si Chorong di bawa dr kantor polisi sama Appa-nya di jelasin dengan adegan (bukan narasi yg diceritakan oleh orang ketiga) mungkin akan lebih ngena. Ngena betapa sedihnya mimpinya harus berakhir disitu.

    Dan tiba2 aja Chorong dtg ujan2an ke rumah Yongguk? Knapa proses perjuangannya instant banget? Nggak di jelasin secara emosinal. Padahal bakalan oke bingiiit kalo di jabarin wkwk yeah mungkin ada beberapa pertimbangan (salah satunya udah terlalu banyak halaman yg di habiskan) sehingga nggak di jabarin. Tp menurutku itu point penting yg harusnya di jabarin.

    Hm dan ending… agak aneh sih dia jadinya ama YoungJun. Mengingat pas di pantai mereka bdua salah tingkah juga pas pelukan itu. Aku sih suka, Chorong sama Youngjun, tp agak terganggu sama ‘kesalah-tingkahan’ Chorong-Yongguk di awal2 cerita.

    Oke, kayanya cukup.
    Good job, Ayu eonni dan Yunita eonni! 🙂

    1. Malah fokus ke tampangnya Chorong coba…

      Hahahaha.. iya sangat amat dipercepat…. Wkwkwkwkwk…. jangan lirik2 Yun… Udah kasian dia pasti pingsan waktu kali pertama liat sebanyak apa lembaran ffku…. hahahahaha…

      Iya nay… balik lagi keberlembar-lembar cerita yang udah aku hasilin jadi mau gak mau semua diceritain secara cepat dan terburu-buru… Jadinya malah kaya begini deh 😦

      Err…masalah mengingat kenapa mereka bisa salah tingkah waktu pelukan di pantai…kalo menurut aku(krn sempat mengalami hal yang sama #heleh), jadi sungkan aja gitu. Kita temen atau bisa dibilang partner kerja yang belum terlalu lama ketemu dan mengingat sifat Yongguk yang kaku gitu jadi ngerasa gimana aja gitu… #ngeles
      tapi suer deh emang gitu… hahahahaha////

  4. ok, ane sungguh telat buat komen.. #mian..
    ff na keren sih, sangat keren, bahasanya lmayan ok menurutku..

    huffft jadi kebayang ff ku yang amburadul -__-

    1. Hahahaha… Gapapa T-T aku malah belum baca apalagi sampe komen ff project lain yang udah dipost….
      Mood lagi amburadul dan ga ada konsen2nya…. Maaf ya….

      Eh…jangan pesimis dulu…. FFmu pasti bagus… yakinlah…. kan udah ada yang review sebelum diposting ^^

      1. aku juga telat komen postingan lain #plak..
        mood emang lagi kacau karna kuliah sdg menantiku T.T

        ya lumayan bagus tapi ngak memuaskanku ><
        reviewnya sih ada tapi masih banyak yg kurang.

  5. aku suka gaya yongguk, keren deh. chorong disana juga manis banget karakternya. awalnya aku kira ternyata yongguk bakal sama chorong, taunya malah sama eunji. hehehehe…

    ff nya memberikan banyak inspirasi … salut

    1. Hahahaha…. Ah…banyak yang suka gaya Yongguk ya 😀 aku juga suka suka suka… #hugYongguk
      jebakan batman!!! 😀

      Bagus deh kalo ffnya bisa ngasih inspirasi… ^^ memang tujuannya kalo bisa sih begitu…
      Makasih ya udah mau mampir..

  6. eonniii, maaf baru sempet baca. ^^v
    suka eon. suka banget sama karakternya chorong. awalnya aku kira dia itu cuma anak kalem, galak, dan tertutup gitu karena saking nurutnya sama ayahnya tapi ternyata makin lama baca jadi tau ternyata dia punya sisi ceria, usil, plus manja juga. hihi.
    mungkin sarannya (sebenernya kepengennya aku sih ._.v) cerita chorong dan kesukaannya terhadap hapkido diceritain sedikit. dia bilang dia suka tapi aku tetep ngerasanya dia kayak terpaksa bgt gitu ngejalanin hapkido.
    pendeskripsiannya sama kata-katanya oke bgt laah! b^^d aku gak nemuin typo deh kayaknya (hiks. kenapa aku susah bgt ngilangin penyakit ini T.T)
    endingnya aku puas, terima kasih karena tidak membuat eunji terlihat menyedihkan ^^
    good job eon !!!

    1. Uda diceritain sih… tapi saking rajinnya author ini ff super panmjang dan ga layak jadi OS…. Makanya bagian itu dipotong… T-T
      Eh…. maaf ya… aku belum baca punyamu T-T mood bener-bener lagi kacau balau akhir-akhir ini soalnya….

  7. woah … slice of life yah . sukses eon bawain genre ini :’
    masih nancep di hati aku ini eon . aku jadi ada di zona “apa sih arti hidp itu?” . apa aku yg terlalu mellow ya -___-

    untungnya ini happy ending :” eunji sama yongguk juga diceritain akhirnya gimana. jadi nggak di skip. gaya menulisnya onnie lebih bagus di cerita ini. kaya dikasih mantra :3 kekekek

    1. Hahahaha… ga tau juga ya… Tapi aku suka kalau bisa buat yang baca jadi mikir ttg “apa sih arti hidup itu?” dg baca ff ini…
      Waow mantra? Apakaha aku sejenis Harry Potter? 😀

  8. Astaga aku kira yongguk bakalan sama rong. Taunya sama ej. Kalo Rong,aku dari awal udah ngira dia bakal sama youngjun. Fic yg bagus dan pesan moralnya buat ku jelas dan menyentuh

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s