[FF G] End And


GDJF

Author : Ayu Puspitaningtyas

Title  : End And

 Length : One Shot

 Rate :  General

 Genre : Romance, AU, Hurt

Main Cast :

Zico Block B  as  Woo Jiho (OOC)

Jung Hayeon (OC)

Comeback with OneShot! Ini FF sebagai perayaan comebacknya Block B dan juga FF wujud kegalauan! 😀 Memang bukan cerita yang manis tapi, semoga berkenan.

 Let’s check it out!

*

*

*

*

 ~ Untuk bertemu dengan seseorang yang tepat, kita harus melalui seseorang yang salah ~

= Story Begin =

Pada akhirnya, aku tak lagi bisa melihat kita di masa depan. Kita yang selalu terlihat samar di sana, kini benar-benar telah lenyap dari pandanganku. Tak ada yang bisa kulihat selain diriku sendiri.

 

Aku yang menangis meraung saat ini bukan untuk menyesali akhir kisah kita. Aku hanya menikmati setiap detik rasa sakit yang perlahan meremas hatiku. Setiap waktu yang bergulir menggiring awan gelap untuk menaungiku. Bukan. Aku bukan sedang berusaha menenggelamkan diriku dalam keterpurukan tapi, aku hanya ingin menghabiskan rasa pedih ini dalam satu waktu. Lalu, aku hanya akan mengingatnya sesekali suatu saat. Bukan lagi untuk meratapinya, melainkan mengambil sebuah pembelajaran tentang cinta dari sebuah hubungan yang terikat atas dasarnya.

 

Masih jelas teringat olehku saat kita duduk berhadapan di dekat jendela dalam cafe ini beberapa waktu yang lalu. Aku datang menemuimu setelah hampir 3 bulan kita terpisahkan jarak. Dengan susah payah, akhirnya kita pun memiliki kesempatan untuk bertemu.

 

Aku berceloteh riang saat itu. Bercerita tentang apa saja, sementara kau terdiam seperti biasa mendengarkan segala ocehanku dan sesekali menimpali. Aku begitu menikmati setiap detik yang berlalu bersamamu. Aroma secangkir Vanilla Latte yang mengepul di hadapanku dan iringan senyummu membuat perasaanku mengalir semakin ringan saat itu. Bahkan sesekali, tanganku terulur menarik pipimu gemas.

 

“Yeonie, bagaimana jika aku mengaku telah memiliki kekasih baru sekarang?”

 

Aku terdiam untuk 1, 2, 3 detik. Lantas tergelak ringan. Jiho memang suka sekali bercanda.

 

“Aku serius.”

 

Tawaku terhenti kemudian. Aku menatap jenaka Jiho yang rupanya tak menatapku dengan cara yang sama. Seperti katanya, ini serius. Aku pun berdeham. Sekelebat perasaan tak nyaman mendadak mengitariku. Semacam rasa takut. Tidak, tidak. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Takkan ada hal buruk yang terjadi. Apa yang harus kukatakan sekarang? Apa aku harus menyebutkan kata yang begitu tabu untukku sebut di hadapanmu, Jiho-yah? Apa harus? Apa aku perlu tau reaksimu, jika aku melontarkan satu kata itu saja? Aku ingin tau tapi, aku pun takut. Takut, jika semuanya hanya sampai di sini dan kudapatkan kenyataan kau tak seperti yang kubayangkan. Haruskah? Haruskah sekarang? Tapi, apa beda sekarang dan nanti, jika harapanku tak sejalan dengan kenyataan? Bukankah sama-sama menyakitkan?

 

Astaga, Jung Hayeon! Apa yang kau pikirkan? Jiho takkan serapuh itu. Kau tahu benar siapa Woo Jiho.

 

“Itu tidak mungkin,” ujarku seraya berusaha tersenyum. “Kau’kan menyukaiku. Kalaupun itu kenyataannya, kau pasti sudah memutuskanku sekarang.”

 

“Kalau begitu, kita putus sekarang.”

 

Aku kembali terdiam untuk 1, 2, 3 detik. Lantas tergelak lagi tapi, terdengar sumbang bahkan di telingaku sendiri kali ini. Tidak, tidak. Ini bukan harapanku. Aku tak menginginkan ini. Bukan seperti ini! Apa yang otakmu pikirkan Jung Hayeon? Seharusnya tak kau ajukan pertanyaan bodoh itu! Seharusnya kau mengatakan hal yang lain! Apa yang kau pikirkan bodoh?

 

“Kau serius, Jiho-yah?”

 

“Ya. Aku merasa hubungan ini sudah tak jelas. Bahkan untuk bertemu saja begitu sulit.”

 

Aku terdiam (lagi). Lebih lama dari sekedar 1-3 detik. Aku hanya menatap kedua bola mata hitam pekat Jiho. Kemana perginya tatapan kebohongan milikmu, Jiho-yah? Kemana? Kau membuatku takut. Sekujur tubuhku gemetar karena tatapanmu itu sekarang. Semudah itukah?

 

Aku tahu benar kau Woo Jiho. Tatapanmu yang seperti itu tak pernah mengandung sebuah lelucon. Aku benci perasaan ini. Kenyataan macam apa ini? Kemana kau buang cintamu untukku?

 

Aroma Vanilla Latte yang semula menyegarkan sekarang justru berubah menjadi momok menakutkan bagiku. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Yang jelas, aroma itu turut mengambil andil dalam merenggut udara di sekitarku. Tidak. Bukan. Sekarang, semua yang ada di sekitarku seperti sedang mencekikku. Apa yang kulihat, apa yang kudengar, apa yang kuhirup, semuanya membuatku terasa terhimpit. Aku ingin menguap seperti kepulan uap dari Vanilla Latte tadi. Lenyap dan tak nampak. Lalu, terlupakan. Ha! Aku tahu. Apakah seperti itu keberadaanku dalam hatimu? Seperti uap yang nampak hanya untuk sepersekian detik lantas menghilang layaknya tak pernah ada?

 

“Bukan itu yang kau katakan padaku 2 minggu yang lalu.” Tanpa kusadari, kata-kata itu meluncur dari mulutku dengan mulus. Menunjukkan sekali betapa aku tak merelakanmu pergi, bukan? Tapi, bagaimana bisa kau semudah itu? “Bukankah saat itu, aku memberikan pilihan padamu untuk terus atau mundur dan kau memilih untuk tak menjawab, Jiho-yah? Kupikir kau memilih untuk bertahan saat itu.”

 

“Tidak. Aku hanya sedang memikirkannya saat itu.”

 

Tidak, Jiho-yah. Tidak. Kau tidak boleh semudah ini. Siapa yang mempengaruhimu? Siapa? Katakan padaku! Tak seharusnya kau melepasku. Kau mencintaiku. Kau hanya dan sangat mencintaiku Woo Jiho!

 

“Bagaimana bisa kau mengubah jawabanmu secepat ini? Kau tak boleh melakukan ini padaku, Jiho-yah. Oh, tidak. Maafkan aku. Aku lupa. Aku pernah mengatakan padamu, jika suatu saat kau melepaskanku, aku takkan pernah mempertanyakan alasanmu atau pun merengek memintamu bertahan. Baiklah kalau begitu, aku melepaskanmu Woo Jiho. Oh, satu lagi, sebenarnya hubungan ini cukup jelas untuk kita jalani andai saja kau mau lebih bersabar. Suwon dan Daegu tak sejauh itu andai kau mau berkorban sedikit untuk menemuiku tanpa perlu menungguku untuk mendapat kesempatan datang ke sini tapi, apa yang bisa kulakukan sekarang? Kau sudah memutuskan pilihanmu. Aku takkan menahanmu. Permintaan putusmu, kuterima,” cerocosku dengan cepat. Otakku seakan lepas kendali saat ini. Aku yang semula berusaha mempertahankanmu mendadak bertemu dengan harga diri dan ketakutan untuk merasa lebih sakit karenamu, jika suatu saat hubungan ini berjalan lebih buruk andai terus kupertahankan yang pada akhirnya, mendesakku untuk melepasmu saat ini juga.

 

Setelah berpura-pura merelakanmu seperti ini, aku ingin sekali pergi dari tempat ini sekarang juga. Namun di sisi lain, aku pun tak ingin kehilanganmu dari pandanganku detik ini. Bolehkah? Bolehkah aku tetap menatapmu untuk terakhir kalinya?

 

Kelebatan kebersamaan kita selama ini mulai menggelayutiku. Aku melihat kau yang tersenyum cerah padaku, kau yang memeluk hangat tubuhku, kau yang menggenggam erat tanganku, kau yang menertawai kebodohanku, kau yang marah padaku, kau yang menciumku, kau yang mengucapkan janji-janji manis padaku, dan kau yang berwajah dingin seraya memintaku melepasmu beberapa detik yang lalu. Apa perlu aku memamerkan air mataku di hadapanmu saat ini juga? Tidak. Bahkan aku tak mampu meneteskan air mata sekarang. Lagipula, untuk apa? Untuk membuatmu kembali padaku? Tidak. Kau telah melepasku. Itu artinya, kau tak lagi mencintaiku. Tidak lagi mencintaiku. Woo Jiho…, benarkah ini akhir kisah kita?

 

Kau pun beranjak dari hadapanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkanku sendiri. Kau mencampakanku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu berlalu begitu saja bahkan tidak untuk sekedar mengucap selamat tinggal. Tiada berartikah hubungan kita selama ini? Tidak berkesankah semua hal yang pernah kita lalui bersama?

 

Aku menatap nanar punggungmu yang berlalu menyusuri trotoar dari balik kaca jendela cafe yang memisahkan kita. Terus menatap punggung yang dulu kerap kudekap hangat itu. Diam-diam, aku berharap kau menoleh hanya sekedar tersenyum padaku untuk yang terakhir kali. Namun na’as, kau hanya terus berjalan. Terus dan terus untuk menghilang selanjutnya. Saat itulah, aku mulai terisak. Air mataku yang tertahan semenjak tadi, akhirnya mengalir deras. Semuanya terasa benar-benar abstrak saat ini. Tak berbentuk sama sekali. Sakit. Kau benar-benar pergi. Kau benar-benar mengakhiri kisah kita. Kau meninggalkanku.

 

Jalinan hubungan kasih jarak jauh selama 11 bulan kita kandas sudah. Tuntutan profesi memisahkan kita dengan jarak dan waktu. Alhasil, kita kesulitan untuk bertemu. Kau pun kerap mempermasalahkan hal ini beberapa kali. Saat itu, aku pun kerap mengatakan padamu, jika kau memang tak sanggup, kau boleh mundur kapanpun. Dan rupanya, hari itu adalah hari ini. Tak kusangka.

 

Meski pertemuan kita tak seintens pasangan normal lainnya, aku tahu cintaku tak sedangkal itu padamu, Jiho-yah. Aku tulus mencintaimu. Impian dan harapanku ada padamu. Dan ketika semuanya harus porak-poranda, aku tak tahu lagi harus bagaimana. Hanya menangis mungkin. Itu wajar, bukan? Karena aku mencintaimu Woo Jiho. Karena aku yang dikhianati. Karena aku yang ditinggalkan dalam kisah ini.

 

Aku tahu mungkin hal ini akan terjadi suatu saat nanti karena sejak awal, aku sudah mengkhawatirkan status hubungan kita yang terpisahkan jarak. Aku khawatir cintamu akan dirapuhkan oleh ruang jauh di antara kita. Namun, aku selalu meneguhkan hatiku bahwa hati seorang Woo Jiho tak selemah itu. Aku yakin kau dan hatimu hanya teguh padaku. Tak terusik.

 

Aku pun berharap banyak pada hubungan jarak jauh ini yang memang kupikir akan menjadi ujian terbaik bagi hubungan kita. Aku sangat mengharapkan baik kau maupun aku dapat berhasil melewati ujian ini dengan manis karena jarak yang memisahkan, pertemuan yang jarang dan tak tentu, kesabaran, keyakinan, kesetiaan, dan kepercayaan yang lebih ekstra untuk hubungan macam ini mampu menjadi tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui sedalam apa cinta kita. Dan sepertinya, aku telah mengetahui sedalam apa cintamu untukku sekarang. Ya, cintamu hanya sedalam 11 bulan, Woo Jiho. Hanya 11 bulan. Bukan 11 tahun atau selamanya tapi, 11 bulan. Kenyataan pahit yang harus kuteguk.

 

Sekarang, aku memang harus merelakanmu. Aku tak bisa mempertahankanmu yang sudah pasti tak lagi mencintaiku. Melepasmu dengan berat hati. Lalu, aku harus menikmati rasa sakit ini untuk beberapa waktu dan akhirnya melupakan kerapuhanmu suatu waktu nanti.

 

Dan cintamu padaku memang telah berakhir. Kau telah menghancurkan segenap harapan dan impianku pada hubungan kita di masa depan. Namun, hal itu tak lantas membuatku turut menghentikan segalanya. Aku yakin, ini hanya sebuah jeda waktu yang akan mengantarku pada impian dan harapan yang baru.

 

Lantas saat ini, aku meminta maaf padamu sebagai bagian dari masa lalu karena aku tak bisa mendoakan semoga kau bahagia bersama yang lain. Terlalu munafik menurutku, jika itu yang kuminta tapi, aku juga tak mampu mengharapkan kau berselimut kesedihan. Jadi, aku hanya menginginkan yang terbaik untukku sekarang. Ya, untukku. Bukan untukmu, Jiho-yah.

 

Terimakasih, Woo Jiho. Terimakasih telah menemani hari-hariku selama 11 bulan ini.

 

Selamat tinggal, Woo Jiho….

 

Fin

 

Sebenernya sempet pengen make Kwon, tapi image setia tuh bocah di otakku gak bisa diusik sama sekali -_-” (maklum fans Ukwon)

Jadi pake Zico aja yang kebetulan abis berulang tahun ya…. 😀

3 thoughts on “[FF G] End And

    1. Huaaa… TOT akhirnya setelah sekian entah berapa lama ini ff aku post, ada juga yang komen…. hikss…
      Sangkyu chinguya….. #hug
      kirain ini ff ga laku…. bener-bener bobrok krn ga ada yang komen sm sekali… hiks

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s