[FF G] Waiting To Get Hurt


와이팅 투 겥 후르트

엔뇽ㅡ

[A]uthor : shiningeyes

[T]itle : Waiting to get Hurt

[M]ain [C]ast : Baekhyun (EXO-K) & Namjoo (A-Pink)

[S]upport [C]ast : Eunji (A-Pink), Sungjae (BTOB)

[S]pecial [C]ameo : Kyungsoo (EXO-K), Suho (EXO-K), Kai (EXO-K), Chorong (A-Pink), Jung sonsaengnim ((lol))

[L]ength : One Chapter.

[G]enre : Angst

[R]anting/[P]airing : PG–14

[D]isclaimer : All chara for cast is not mine dude. I’m not lying, lmfao! I know this fanfict so many has typo(s) and mistake(s). Thanks for waiting me to publish this and reading<3

 Waiting…

            to get

                        Hurt.

☆☆☆

“Permisi.”

Seorang yeoja masuk ke sebuah ruangan. Wajah yang nampak panik serta keringat yang bercucuran rata di wajahnya. Dia tampak kebingungan setelah memasuki ruangan itu. Lalu tanpa pikir panjang, dia duduk di kursi depan bagian tengah.

Sore ini ada les Bahasa Korea. Semua anak yang mengikuti les ini berbeda sekolah satu sama lain. Di kelas ini ada 10 anak yang berkumpul menjadi satu dan menerima materi yang sama. Mereka sangat serius dan antusias mengikuti les sore ini. Suasana dalam kelas begitu hening, tak ada mulut yang terbuka satupun bahkan berbicara sekalipun.

“Saya tutup perjumpaan sore ini. Selamat sore!” ucap sonsaengnim lalu ia pergi meninggalkan ruangan.

Gadis yang duduk di kursi depan bagian tengah seraya mengikuti sonsaengnim dari belakang,

“Tunggu sebentar!” teriaknya.

“Ada gerangan?”

“Hm… Besok saya ada ulangan Bahasa Korea. Boleh minta jam tambahan?” kata gadis itu.

“Tentu bisa. 15 menit lagi saya tunggu kamu di ruang 2,” jawab sonsaengnim lalu dia pergi lagi.

Gadis itu membuang nafas yang membebaninya. Lalu dia kembali ke ruangan untuk mengambil barang-barang dan langsung menuju ruang 2.

“Kau mau ke mana?” tanya teman gadis itu.

“Aku ada les tambahan. 15 menit lagi aku harus ke ruang 2,” jawabnya.

“Ah, padahal aku ingin curhat banyak hari ini,” jawab teman gadis itu memajukan bibirnya menyesal.

“Mianhae Eunji unni, bisa lain waktu? Aku janji akan mendengarkan semua curhatanmu,” ujarnya.

“Besok hari Sabtu bukan? Malamnya aku akan mengajakmu mengobrol di café. Bagaimana?”

“Oke! Baik, aku harus pergi. Sampai jumpa!” lambai gadis itu ke temannya sambil berlari.

Setelah berlari menuju ruang 2, yeoja itu mengetuk pintu.

Tok… Tok… Tok…

Lalu dia membuka pintu perlahan, bunyi decikan pintu masih terdengar karena di ruangan itu hanya ada satu orang.

“Eh Sungjae? Kamu ikut tambahan juga?” tanya yeoja itu.

“Tidak, aku hanya duduk di sini untuk menyelesaikan tugas, sedikit lagi…. dan selesai!” lalu namja bernama Sungjae itu menutup bukunya dan memasukannya ke tas. “Les tambahan di ruangan ini?”

“Iya, Jung sonsaengnim bilang begitu kepadaku,” jawab yeoja itu.

“Ya sudah, kalau gitu aku duluan yah,” pamit Sungjae disertai anggukan yeoja itu.

Lelah karena berlari, yeoja itu ingin duduk di kursi tapi… suara decikan pintu menghentikan niatnya.

Dia melihat seseorang masuk ke ruangan. Dengan cepat yeoja itu duduk di kursi lalu membuka isi tas seraya mengeluarkan buku. Orang yang baru saja masuk ke ruangan ini duduk di samping yeoja itu.

Decikan pintu terdengar lagi, dan Jung sonsaengnim masuk ke ruangan. Meletakkan buku yang dia tenteng sebelumnya. “Saya mulai saja tambahan les sore ini, sebutkan materi yang kalian hadapi untuk besok,” ucap Jung sonsaengnim.

“Ini,” namja itu menunjukkan kertas sebagai contoh soal ulangan besok.

Serta yeoja itu menunjukkan buku tulisnya, bahwa dia akan menghadapi ulangan dimateri itu.

Jung sonsaengnim mengajari dan memberi arahan pada mereka berdua secara detail sampai paham betul. Dilanjutkan dengan mengerjakan soal-soal, lalu pembahasan, lalu tanya jawab, lalu pembahasan lagi dan seterusnya.

“Sudah paham?”

Namja itu mengangguk, sedangkan yeoja itu terdiam.

“Namjoo, bagaimana? Sudah paham?”

“Maaf sonsaengnim. Bisa jelaskan sedikit lagi tentang subbab ini aku mohon,” ucapnya memohon.

Jung sonsaengnim mengerti, dan dia menjelaskan lagi kepada Namjoo sampai yeoja itu benar-benar paham agar besok saat ulangan dia tak kesulitan.

“Mengerti?” ucap sonsaengnim diakhir penjelasan.

Yeoja itu alias Namjoo mengangguk paham. Pertemuan ditutup sore itu. Jung sonsaengnim keluar ruangan, masih tersisa dua anak di ruangan itu. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Kertas itu terjatuh tanpa disadari. Namjoo masih sibuk membereskan buku-buku yang ada di meja. Sesaat, mukanya agak kesal. Dia membuka satu per satu lembaran buku itu, sepertinya ada benda yang hilang. Tapi di mana benda itu.

Lelaki itu telah selesai dengan urusanya, dia berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu. Saat melihat ke bawah, dilihatnya selembar kertas tentang ringkasan materi untuk les tadi.

“Apa kau mencari ini hm?” tanya lelaki itu pada Namjoo.

“Ah! Ya, ini! Terimakasih!” Namjoo nampak senang menerima kertas yang ia cari sudah ketemu.

“Kertas itu terjatuh di lantai, sepertinya barang bawaanmu sangat banyak,” ucap lelaki itu lagi sembari melihat Namjoo yang sibuk memasukkan buku ke tas.

“Ya begitulah, buku-buku ini sangat tebal, berat, dan ah sangat banyak,” keluh Namjoo.

“Keluarkan buku-buku itu dari tasmu,”

“Huh?”

Lelaki itu mendekati Namjoo, mendudukkannya di kursi lagi, lalu mengambil tas dan mengeluarkan buku-buku yang tebal dan berat.

“Hey! Apa yang kau lakukan?!” Namjoo kaget karena lelaki ini mengulah tasnya.

Lelaki itu masih diam, dia sibuk mengeluarkan buku yang ada di tas itu. Sekitar 5 buku tebal dan berat dikeluarkan dari tas dan diberikan ke Namjoo.

“Tenteng buku ini, kasihan pundakmu kelebihan beban di tas,” ucap lelaki itu.

Namjoo menatap sipit lelaki itu, lalu mereka berdua keluar dari ruangan itu. Lelaki itu berjalan sejajar dengan Namjoo, tapi dia berhenti. Namjoo melirik kaki lelaki itu yang terhenti berjalan dan ia ikut berhenti.

“Siapa namamu?” tanya lelaki itu.

“Kim Namjoo, dan kau?” jawab Namjoo.

“Byun Baekhyun, ah salam kenal,” jawab Baekhyun sambil mengulurkan tangannya. Namjoo membalas uluran tangan Baekhyun. Mereka tersenyum bersama.

Mereka berdua melanjutkan berjalan hingga teras tempat les.

“Aku duluan, kau hati-hati di jalan,” nasehat Baekhyun yang memakai helm-nya.

Namjoo mengangguk, “Kau juga!”

Tujuan Namjoo menuju ke halte. Tak lama, Namjoo langsung naik ke bus menuju ke dorm A-Pink. Ia berdiri, bus yang dia tumpangi sangat ramai. Malam Sabtu tetapi kenapa bus ramai sekali. Seperti malam Minggu saja, atau ada pertukaran harikah?

Ia turun di halte bus lalu berjalan menuju dorm sendirian. Malam itu sangat dingin dan untungnya dia membawa jaket. Namjoo masih menggunakan seragam sekolah dan sekarang sudah pukul 8 malam.

Bukan hal yang menakjubkan melihat anak sekolah pulang malam hari, apalagi anak SMA. Kesibukan sekolah, tugas yang menumpuk, aktifitas yang harus di atur waktunya, belum saat les nanti atau waktu untuk practice bersama member A-Pink lainnya.

Sebenarnya, Namjoo tak perlu memikirkan hal itu lagi. Jadwal hidupnya sudah di atur sekian rupa sehingga tak ada jadwal yang terlewatkan bahkan sampai telat. Benang yang ruwet sudah terurai lurus tak ada halangan lagi.

“Aku pulang,” ucap Namjoo sambil membuka pintu dorm.

“Namjoo, baru pulang?” tanya Chorong selaku leader A-Pink.

“Iya, maaf unni tadi aku ikut les tambahan soalnya besok di sekolah ada ulangan,” jawab Namjoo.

“Ya sudah, lekaslah mandi. Udah malem soalnya,” ujar Chorong.

Namjoo mengangguk. Dia menuju kekamarnya dan meletakkan tas yang berat itu. Lekaslah ia mandi seraya menghangatkan tubuhnya. Sehabis mandi, dia harus belajar lagi untuk ulangan dan pukul 10 malam dia harus ke ruang dance practice A-Cube.

☆☆☆

“Darimana saja?”

“Maaf ponsel mati. Tadi ada les tambahan.”

“Pantesan di telfon gak aktif.”

Baekhyun langsung menuju ke kamar mandi. Sungguh, udara di luar sangat dingin sekali, dan bodohnya dia tak tahu di tasnya ada jaket tetapi ia tak memakainya. Udara dingin itu sangat menusuk sampai tulang-tulang terdalamnya. Sial, terkutuk sekali.

Menghangatkan tubuh sekian lama di kamar mandi. Ya, niat membalas dendam karena dia sangat sangat kedinginan saat pulang menuju ke dorm.

Setelah mandi, dia memakai baju dan menuju ke ruang tamu berkumpul dengan member EXO lainya. Saat berkumpul, Baekhyun hanya terdiam. Dia hanya ingin bilang ‘aku-besok-ada-tes-tertulis’ ke semua member. Untuk apa kumpul diam di sini, lebih baik belajar di kamar.

Hyeong, kenapa?” tanya Kyungsoo.

“Tidak,” jawab Baekhyun cuek.

“Bukanya besok kau ada tes tertulis? Kenapa tak belajar?” ucap Kyungsoo yang tahu akan isi pikiran Baekhyun.

“Tolong bilang ke Suho hyeong kalau begitu, aku akan belajar sekarang,” bergegas Baekhyun menuju ke kamar dan mulailah ia belajar.

Baekhyun tak mengerti, sekolahnya terlalu kejam padanya. Ia dipindahkan ke SOPA awal masuk semester, entah kenapa ia tak bisa merelakan dirinya masuk ke sekolah ini. Awalnya, Baekhyun mengira dia akan menjadi sasaran blacklist oleh seniornya, tapi tidak.

“Baekhyun kau harus fokus!” keluhnya berbicara pada diri sendiri.

1 minggu yang penuh dengan ulangan harian, dan besok adalah hari terakhir untuk terbebas dari kutukan yang soal yang menghantui dirinya. Ia harus dapat mengerjakan soal dengan serius dan mendapatkan nilai memuaskan.

Saat ia mencoba mengerjakan soal terakhir, pintu kamar terbuka. Baekhyun masih fokus dengan makanan soal yang harus dia santap. Jika ada suara yang menanyakan sesuatu padanya, dia akan menoleh.

Hyeong?”

Baekhyun menoleh. “Ya?”

“Apa aku menganggumu?”

“Diamkan aku sejenak, satu soal lagi aku tak merasa terganggu olehmu,” jawab Baekhyun.

Sesuai permintaan Baekhyun, suasana diam kembali. Baekhyun melingkari jawaban yang menurutnya benar, dan dia menoleh ke belakang lagi. “Sudah.”

“Aku ingin berbicara sebentar hyeong,” ucap Kyungsoo. “Bisakah kau menemaniku membeli makanan?”

“Memang kau mau ke mana?” tanya Baekhyun.

“Aku akan pergi liburan sekolah,” jawab Kyungsoo.

“Jadi sekolahmu sudah mengadakan tes tertulis dan besok kau liburan?” ungkap Baekhyun.

“Ya hyeong! Hahahaha, sungguh menyenangkan. Aku liburan selama 1 minggu, jadi mungkin kau yang menggantikanku memasak di dorm,” Kyungsoo menjelaskan lagi.

“Bodoh! Aku ingin menikmati kebebasanku setelah tes tertulis kenapa kau malah pergi!”

“Ini sudah terjadwal hyeong, mana mungkin bisa ditunda lagi. Jadi bagaimana?”

“Okelah, besok pukul berapa?” tanya Baekhyun.

“Setelah kau pulang tes tertulis, aku akan segera ke SOPA. berangkat dari sekolahmu saja, letaknya sudah di pusat kota jadi tinggal jalan kaki.”

Hell, baiklah,” ujar Baekhyun menghembuskan nafasnya.

Kyungsoo keluar dari kamar Baekhyun, dan segera Baekhyun mendarat ke kasur empuknya untuk tidur.

☆☆☆

Ruang kelas ini sunyi sekali. Lihatlah muka anak-anak yang tegang akan nasibnya setelah lembar soal sudah diberikan. Para pengawas membagikan soal satu-per-satu beserta lembar jawab. Mereka–anak-anak tidak boleh membuka bahkan menyentuh soal beserta lembar jawab sebelum pengawas memberi izin.

“Silahkan mengerjakan,” ucap pengawas.

Yap. Pertarungan dengan soal di mulai detik ini. Semua nampak tenang mengerjakan soal yang ada di kertas keramat itu. Muka tenang itu belum tentu mencerminkan apa yang mereka pikirkan. Bisa saja dipikiran mereka, soal itu sangaaaaaat sulit. Bahkan ada yang memikirkan biasa saja ataupun mudah.

Sekolah ini serasa mati. Semua ruangan sepi dan senyap, aktifitas sepertinya tak berjalan padahal mereka semua–siswa sangat sibuk dengan otak mereka ketimbang badan mereka. Penderitaan akan berakhir sebentar lagi.

“1 jam lagi.”

“30 menit lagi.”

“20 menit lagi.”

“Tinggal 10 menit lagi, silahkan lembar jawab di cek terlebih dahulu.”

Itulah kata-kata yang terucap oleh mulut pengawas.

“Waktunya habis. Silahkan keluar dari ruangan, terimakasih,” ucap pengawas lagi.

Siswa-siswi keluar satu per satu, awalnya muka mereka suram. Saat keluar, muka suram itu seketika lenyap dan berubah menjadi muka ceria seperti telah terbebas dari kutukan tepuruk.

“Namjoo, gimana? Bisa mengerjakan?” tanya Eunji yang menghampiri Namjoo.

“Ah Eunji unni! Bagaimana yah, aku tak bisa mengatakan soal itu rumit dan tak bisa mengatakan soal itu mudah. Jadi soal itu sedang saja. Bagaimana denganmu?” tanya Namjoo balik.

“Soalnya susah banget tahu! Gak ada yang gampang, ngerjain aja asal semua nih,” keluh Eunji.

“Jangan gitu deh, pasti besok nilainya bagus! Semangat ya!” Namjoo menyemangati Eunji yang agak kesal dengan soal terakhir.

“Tentu saja Namjoo! Thanks!” senyum Eunji.

“Ya sudah, aku pergi dahulu ya. Mau ke tempat les dulu, sampai jumpa nanti malam!” pamit Namjoo kepada Eunji.

Namjoo bergegas menuju ke tempat les, seperti biasa setiap ada evaluasi apapun selalu ia koreksi saat waktu les.

Saat Namjoo keluar dari gerbang sekolah, ia berpapasan dengan sebuah motor.

“Mau ke tempat les?” tanya seseorang yang mengendarai motor dengan helm-nya.

“Iya, ada apa? Lalu, ini–“

Saat Namjoo ingin melanjutkan perkataanya, sang penanya membuka helm-nya. Ya, Namjoo tahu siapa dia.

“Ayo naik,” ajak Baekhyun.

“Ah ga usah, ini merepotkan,” gusar Namjoo.

“Tidak, sesekali kita berangkat bersama. Ayo,” paksa Baekhyun. Akhirnya Namjoo naik di jok belakang.

Sesampainya di tempat les, dia langsung menuju ke ruang 2. Ini baru pukul 2 siang, jadi belum ada anak yang memulai les hari ini.

“Permisi,” ucap Namjoo dan Baekhyun perlahan.

“Silahkan duduk,” ucap Jung sonsaengnim.

Kali ini mereka berdua duduk bersama, ya karena mereka berangkat bersama.

“Keluarkan soal evaluasi kalian di sekolah tadi pagi. Mari kita koreksi bersama,” ajak Jung sonsaengnim.

Mereka bertiga sibuk menguras jawaban soal evaluasi. Namjoo dan Baekhyun berbeda grade, tetapi mereka satu sekolah, dan Baekhyun adalah kakak kelas Namjoo.

Tak terasa sudah pukul 3 rupanya. Baekhyun dan Namjoo keluar dari ruangan 2 dan menuju ke ruangan les mereka masing-masing.

“Namjoo!”

Teriakan Sungjae mengejutkan Namjoo yang sedang melamun di teras ruang lesnya.

“Oh! Hallo Sungjae-ah!” jawab Namjoo dengan senyumanya.

“Bagaimana soal evaluasi sekolah tadi?” tanya Sungjae seraya duduk disamping Namjoo.

“Medium. Menurutmu?”

“Ya sama.”

“Bagaimana dengan member BTOB?” tanya Namjoo.

Sungjae terkikik dan berkata, “Kau serius bertanya seperti itu?”

“Eh?” Namjoo tertegun.

“Lupakan sajalah hahahaha!” tawa Sungjae merajalela.

“Ya! Sungjae-ya! Kenapa kau selalu saja tertawa jika aku bertanya padamu,” kesal Namjoo.

Sungjae berusaha menghentikan tawanya. “Kau ini, pertanyaan bodoh macam apa itu.”

“Aku bertanya, jadi kau harus menjawabnya babo,” ucap Namjoo.

“Lihatlah diriku Namjoo-ah, baik-baik saja bukan?” Sungjae menunjuk dirinya.

Cletuk.

“Aku tanya member BTOB, bukan kau!” amuk Namjoo.

“Namjoo-ah, aku adalah member BTOB. Jadi aku bisa mewakili mereka bukan?” sanggah Sungjae.

“Oke, kamu menang kali ini,” Namjoo kesal sekali dengan Sungjae saat ini.

“Hahaha, jangan marah dong. Oh iya, duluan ya. Mau ke ruang les dulu, udah ada yang nunggu. Bye~” pamit Sungjae pada akhirnya.

Namjoo mengangguk dan tersenyum pada Sungjae yang pergi meninggalkannya sendirian–lagi.

Namjoo dan Sungjae, mereka hanya sebatas sahabat karib. Sejak kecil, bahkan sampai mereka sudah menjadi artis tetap saja masih contact. Banyak teman Namjoo yang iri dengan dirinya, karena bisa dekat dengan Sungjae. Lelaki tampan Sungjae, banyak disukai teman satu angkatan di sekolah, bahkan sampai kakak kelas sekalipun.

Namjoo termenung di teras ruang lesnya. Dia sendirian, teman-temanya sibuk sendiri. Ada yang liat film, membaca novel, ngobrol santai, dan intinya gak ada yang buka buku pelajaran. Hari ini free times buat anak-anak, soalnya tadi pagi mereka udah bergulat sama soal yang bikin pusing.

Drrrt….

“Namjoo, aku tunggu jam 7 di café ya!”Eunji.

Sebuah pesan masuk, dan dari Eunji. Mungkin jika Eunji tak mengabarinya, Namjoo sudah lupa kalau dia bakal ada janji. Sekarang pukul 5 sore, dan waktunya pulang les. Namjoo bergegas menuju ke halte, menunggu bus yang lewat untuk menjemputnya.

☆☆☆

Sudah pukul 5 sore, Baekhyun langsung mengirim pesan ke Kyungsoo sore ini.

“Aku sudah pulang les, segeralah ke sini!”Baekhyun.

2 menit kemudian, pesan masuk ke ponsel Baekhyun.

“Tak ada bus yang lewat hari ini. Aku sedang di jalan dengan Kai. Dia mengantarku.”Kyungsoo.

Baekhyun terdiam, dia menunggu Kyungsoo di teras ruanganya. Melihat anak-anak yang lewat lalu lalang untuk kembali ke rumah. Matanya tak asing melihat yeoja yang lewat di depanya. Menggunakan seragam yang sama persis seperti dirinya.

Yeoja itu pernah duduk bersamanya di ruang 2, saat itu mereka punya tujuan yang sama yaitu meminta les tambahan untuk tes tertulis dan mengoreksi jawaban mereka setelah tes berlangsung.

Baekhyun pernah bertemu dengan yeoja itu beberapa kali sebelumnya, bahkan di backstage grup mereka sering bertemu, hanya menyapa saja, tak sedekat saat mereka berdua punya tujuan yang sama lalu duduk berdua.

Tak sadar akan lamunannya, Baekhyun menggeleng-geleng kepalanya. Di depanya, datang dua namja yang sedaritadi ia tunggu. Kyungsoo dan Kai, mereka datang juga.

“Sudah ya hyeong, aku balik ke dorm. Selamat berbelanja, jangan lupa jatah untukku!” singkat Kai bicara, ia langsung menancap gas motor kembali ke dorm.

Baekhyun langsung mengambil kunci motornya, lalu menyetir motor pribadinya dan membonceng Kyungsoo. Mereka berdua benar-benar menuju ke supermarket untuk membeli stock makanan di dorm dan bekal jajan untuk Kyungsoo yang akan pergi selama 1 minggu untuk liburan.

Tak lama, sampailah mereka di salah satu supermarket. Mereka berdua masuk, mengambil keranjang, dan memilah barang yang akan mereka beli.

“Kyungsoo, jatahku ya!” kekeh Baekhyun meminta jatahnya.

“Sial, kenapa semua member meminta jatah padaku hah! Kesal sekali,” amuk Kyungsoo.

“Makanya kau jangan pergi, itulah akibatnya,” jawab Baekhyun sambil memilih snack.

“Kalian semua tuh ketergantungan sama orang, liat aja. Paling besok manggil tukang cleaning service,” ejek Kyungsoo.

“Tanyakan pada Suho hyeong! Hahaha! Intinya aku mau jatah makananku sore ini!”

Mereka berdua akhirnya terdiam, masih sibuk dengan urusan sendiri. Susah juga memilih makanan, sayuran, snack apalagi. Semuanya pengin diembat, semuanya enak, semuanya suka, derita.

Kyungsoo langsung menuju kasir, diikuti Baekhyun di belakang. Membayar barang yang ada di 2 keranjang besar sekaligus. Pakai ATM, bukan cash.

“Terimakasih!” hantur pelayan kassa dengan ramah.

Mereka berdua hanya tersenyum membalas, lalu pergi pulang menuju dorm. Jalur yang di lewati sama seperti waktu berangkat, dan tentunya lewat halte bus depan tempat les Baekhyun.

Tak sengaja, Baekhyun melirik ada yeoja yang masih menunggu bus di halte itu. Tapi, Baekhyun harus mengantarkan Kyungsoo untuk sampai ke dorm terlebih dahulu.

“Kenapa hari ini gak ada transportasi umum?” tanya Baekhyun melepas helm-nya saat sudah sampai dorm.

“Para supir libur mendadak. Dan beritanya mendadak juga,” jawab Kyungsoo.

Mereka berdua masuk ke dorm, masing-masing membawa satu kantong plastik besar. Kyungsoo langsung menuju ke kamarnya, bersiap-siap untuk packing karena dia akan berangkat 30 menit lagi. Beruntung, Kyungsoo nebeng temenya buat berangkat.

Baekhyun melihat jam, menunjukkan pukul 6.35. Dia teringat akan sesuatu, seseorang yang ada di halte dan masih setia menunggu bus yang akan menjemputnya. Niat Baekhyun terlaksana, akhirnya ia putuskan untuk menjemput gadis itu.

“Mau ke mana?” tanya member lain kepada Baekhyun.

“Pergi, hanya sebentar,” jawabnya.

“Kenapa kau tak ganti baju dulu hyeong?” sambar Kai.

“Tak usah, tanggung,” akhirnya Baekhyun keluar dari dorm dan menyetir motornya.

Rasa khawatir menghantui dirinya, apakah gadis itu masih menunggu di halte atau tidak. Ternyata, benar saja. Gadis dengan wajah ceria itu masih setia menunggu di halte sendirian. Dan ia masih menggunakan seragam sekolah.

Baekhyun menghampiri Namjoo. “Menunggu bus?”

Namjoo mengangguk menyetujui.

“Bus tidak akan datang menjemputmu,” ujar Baekhyun yang berdiri disamping Namjoo.

“Maksudmu bagiamana?” tanya Namjoo.

“Hari ini, para supir bus meliburkan diri secara serempak. Bisa dikatakan cuti,” jelas Baekhyun singkat.

Namjoo masih terdiam. “Ah. Bodohnya diriku menunggu seperti orang hilang di sini. Terimakasih telah meberitahuku!” ucapnya sambil menunduk.

Baekhyun membalas dengan menunduk juga. “Lalu, kau pulang…”

“Berjalan kaki, aku sudah biasa melakukanya sejak kecil. Ah iya, sekarang pukul berapa? Ponselku mati dan aku lupa tak membawa jam tangan.”

Baekhyun mengambil ponselnya dan menunjukkan pukul berapa sekarang. Mata Namjoo seketika membulat dan mulutnya mengangga. “Ah sudah pukul 6.45? Aku ada janji dengan temanku malam ini pukul 7 di café ㅎ! Oke, terimakasih lagi. Aku duluan yah,” pamit Namjoo yang langsung berlari.

Naas, tanganya ditahan Baekhyun dengan kuat. “Hanya orang gila yang pergi ke café ㅎ dengan berlari,” ucap Baekhyun.

“Lalu, aku harus bagaimana? Cuma ini satu-satunya–“

“Ikut denganku,” Baekhyun menggeret tangan Namjoo menuju motornya, mereka berdua menuju ke café ㅎ.

Baekhyun menyetir motornya dengan kecepatan yang tinggi. Udara malam ini dingin, dan mereka berdua tak memakai jaket. Baju SOPA memang tebal, tapi itu tak cukup menahan serbuan angin yang membuat mereka kedinginan. Namjoo hanya bisa menggigit jarinya, dia harus menahan udara dinginnya malam.

Tak ada 10 menit, mereka berdua sampai di café ㅎ. Namjoo yang tak memakai helm langsung turun dari motor, dia menggosok-gosokan tanganya untuk menghangatkan diri.

“Terimakasih banyak! Kau sangat membantuku! Terimakasih!” tak henti-hentinya Namjoo mengucapkan terimakasih kepada Baekhyun, sunbaenim-nya di sekolah.

“Tak perlu berterimakasih. Aku senang membantumu, aku pamit. Sampai jumpa,” pamit Baekhyun lalu dia langsung melesat ke jalan raya.

Namjoo masuk ke café, membuka pintu café itu. Udara hangat sangat terasa, fuah akhirnya rasa dingin lenyap seketika. Lalu ia mencari di mana Eunji berada. Biasanya tempat mereka berdua ngobrol di meja nomor 7. Tapi, di meja itu kosong. Apa Eunji belum datang?

“DOR!!”

Namjoo kaget. Siapa yang mengejutkannya dari belakang, ah ternyata.

“Eunji unni!” kesal Namjoo.

“Hehehe, ayo duduk di meja nomor 7,” ajak Eunji. Lalu mereka berdua duduk lesehan di meja nomor 7.

Sambil menunggu makanan dan minuman yang mereka pesan, Eunji mulai bercerita. Mencurahkan isi hatinya, Namjoo mendengarkan dengan serius. Eunji suka sekali curhat dengan Namjoo, soalnya Namjoo paling tahu Eunji sedang di posisi ini, dia harus apa. Ya, Namjoo juga listener yang baik.

“Namjoo, salahkah aku menyukai seseorang?” tanya Eunji serius.

Namjoo menjawab, “Tidak. Itu milik semua orang, memang kenapa?”

“Aku menyukai namja. Dia adalah kakak kelasmu, saat dia bernyanyi untuk lomba 1 bulan yang lalu, suaranya masih saja terbayang di otakku. Aku… aku… Tak tahu harus bagaimana, wajahnya juga selalu teringat di pikiranku,” jelas Eunji.

“Berarti kau sangat menyukainya unni!”

“Ya, begitulah. Dia anak yang tampan, sebenarnya sejak lomba itu aku menyukainya. Dan bodohnya, aku belum pernah mengobrol denganya. Ya, aku ingin sekali mengobrol dengan namja itu.”

“Bisa aku bantu? Namanya siapa?” ucap Namjoo penasaran.

“Namanya Byun, Baekhyun.”

☆☆☆

Semenjak Eunji mengatakan bahwa dia menyukai Byun Baekhyun, Namjoo mengenalkan Baekhyun dengan Eunji di café ㅎ. Baekhyun dan Eunji sering mengobrol saat itu, dan Namjoo sibuk dengan urusannya sendiri.

Mungkin sudah ada 2 minggu sejak kejadian ia mempertemukan Baekhyun dengan Eunji. Hubungan mereka berdua sangat baik, Namjoo senang akan hal itu. Mungkin juga, Eunji sudah lega akhirnya dirinya bisa contact dengan namja pujaannya.

Sejak saat itu pula, semenjak Eunji dekat dengan Baekhyun. Eunji tak pernah menceritakan curhatannya kepada Namjoo, mungkin saja Baekhyun sudah mengalihkan posisi Namjoo sebagai tampungan curhat untuk Eunji.

Sebenarnya, Namjoo sudah tak memikirkan hal Eunji dengan Baekhyun. Intinya, Namjoo senang jika Eunji sudah dekat dengan Baekhyun. Alhasil, kerja kerasnya tak sia-sia.

“Mau ke café ?”

“Tidak, aku ada urusan.”

“Mau mengobrol denganku bersama Eunji?”

“Tidak, terimakasih! Aku ada urusan mendadak.”

“Hari ini kau sibuk?”

“Memang ada apa?”

“Mau jalan-jalan bersamaku?”

“Ah, terimakasih banyak! Lain waktu saja ya hehe.”

Terpikir di benak Baekhyun sendiri, ada apa dengan Namjoo akhir-akhir ini. Setiap dia mengajak Namjoo untuk pergi selalu saja menolak. Alasanya karena ada urusan penting, lain waktu, bahkan sibuk.

Tapi sebenarnya, Baekhyun tak tahu. Namjoo sengaja menolak karena Namjoo tahu betapa sakit hati jika sahabatnya–Eunji melihat Namjoo berdua dengan Baekhyun. Apalagi ikut bergabung dengan Eunji dan Baekhyun, Namjoo tak mau disangka penganggu.

‘Hiks…’

Tangisan keluar, air mata pertama jatuh dengan bebas. Ada apa dengan diri Namjoo? Mukanya begitu menyesal sekali dengan apa yang dia perbuat dahulu, mengenalkan Eunji dengan Baekhyun. Pertamanya, itu hal biasa. Tetapi akhir-akhir ini rasa sakit hati dan penyesalan membekas begitu saja.

‘Oh Namjoo, adakah yang salah? Apa yang salah dengan hal itu? Bukankah itu bagus, malah Eunji bisa memiliki Baekhyun akan lebih baik,’ hati itu bicara.

‘Kenapa hati ini tak ikhlas melihat mereka berdua? Haruskah aku menangis karena menyesal? Bukan! Aku menangis karena bahagia melihat Eunji dan Baekhyun bisa akrab satu sama lain.’

☆☆☆

Akhir-akhir ini, Eunji sering pergi keluar dari dorm. Alasanya “Aku jalan bersama temanku!” Mungkin semua member A-Pink mengira Eunji jalan bersama teman sebaya, tapi yang tahu hanya Namjoo. Sebenarnya, Eunji jalan bersama lelaki, Baekhyun.

Namjoo gusar, dia termenung di kamar. Liburan sekolah menguntungkan baginya, jadi dia bisa berdiam di kamar tanpa dicurigai.

“Chorong nuna. Ada Namjoo di dalam?” tanya Sungjae yang masuk ke dorm A-Pink.

“Ada, silahkan masuk ke kamarnya,” jawab Chorong ramah.

Sungjae masuk ke kamar Namjoo, mengetuk pintu terlebih dahulu. Tak ada respon, lalu dia membuka pintu itu. Dilihatnya Namjoo yang berbaring menghadap jendela kamar yang terbuka, melihat pemandangan malam kota Seoul yang berkelap-kelip penuh cahaya.

“Sungjae, kau datang di saat yang tepat,” ucap Namjoo.

Sungjae masih terdiam, Namjoo bangkit dari kasur dan duduk di luar kamarnya, diikuti Sungjae yang duduk di samping Namjoo. Mereka menikmati udara malam di kota dengan pemandangan indah.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” tanya Namjoo.

“Aku tak ingin mendengarkannya,” jawab Sungjae.

“Kenapa?”

“Ayo pergi ke tempat favorite kita sewaktu kecil. Aku ingin bernostalgia bersama,” ajak Sungjae yang menarik tangan Namjoo.

Mereka berdua pergi ke tempat favorite sewaktu kecil. Menaiki bus dan turun di halte, lalu berjalan 50 meter menuju ke tempat favorite itu.

“Ah! Indah sekali!” ucap Namjoo sambil menghirup udara malam.

“Di sini sudah banyak perubahan, tetapi feel yang di dapat sama saja,” sambung Sungjae.

Mereka berjalan-jalan ringan sambil mengobrol.

“Salahkah menyukai seseorang?” tanya Namjoo singkat.

“Tidak, menyukai seseorang tak salah bagimu. Semua orang juga pernah merasakan suka dengan seseorang,” jawab Sungjae.

“Apa ada efek negative-nya?”

“Jika kau suka dengan seseorang, tetapi dia tak menyukaimu. Atau bahkan dia dulu pernah membuatmu nyaman jika di dekatnya, tetapi ending cerita ketika dia lebih memilih orang lain.”

Ketika Sungjae menjelaskan kepada Namjoo, mata Namjoo tertuju pada sepasang kekasih yang duduk di taman. Lelaki itu menunduk pada perempuan, memberikan setangkai bunga dan mengucapkan sepatah-dua patah kata.

Terlihat muka gadis itu memerah, suka dengan hal yang terjadi denganya. Dinyatakan cinta oleh lelaki yang dia sukai sejak lama, dan sang gadis itu mengangguk. Namjoo melihat jelas itu, lalu mereka berdua berpelukan.

Namjoo terhenti, masih menatap pasangan itu. “Semua itu berbeda, ada juga lekaki yang telah membuatmu nyaman, tetapi kau menjauhinya karena kau takut mengganggu hubungan sahabatmu yang dekat dengan lelaki itu. tetapi sungguh, lelaki itu masih mengarapkanmu–“ Sungjae yang sedaritadi menjelaskan terhenti langkahnya karena melihat Namjoo.

Sungjae melihat ke arah titik fokus Namjoo, ya dia mengenal siapa yang di lihat Namjoo. Sepasang kekasih baru itu adalah Baekhyun dan Eunji. Sungjae melihat muka Namjoo, dia menangis. Menangis sambil tersenyum melihat sepasang kekasih itu. Lesung pipi Namjoo yang manis itu terukir dengan jelas.

Baekhyun tak sengaja melihat ke arah Namjoo dan Sungjae. Lelaki itu terdiam sejenak, tetapi Eunji tak memperdulikan apa yang dilihat Baekhyun. Baekhyun tertegun, “Namjoo…….”

Senyum dari Namjoo untuk Baekhyun dan Eunji terbalas ketika Baekhyun melihat itu. Namjoo lari dan Sungjae mengikutinya.

“Inikah ending dari semuanya?”

-end-

30 thoughts on “[FF G] Waiting To Get Hurt

    1. Thanks buat feedbacknya yah~ o//
      Sequel? Insyaallah yap~
      Aduh di todong pisau jahat sekali kamu. ㅡ,ㅡ

  1. aaaa>< akhirnya nemu ff namjoo juga /lap keringet/
    cari ff namjoo susahnya ga ketulungan :<
    btw nanti bikin ff yang castnya sehun sama namjoo ya hehe /maksa/ kalo bisa oneshot /maksa lagi/ semangat nulis ya thor!

    1. Wah seneng juga udah nemu nih. XD
      Iya, bias langka sih ya. /plak.
      Aku baru buat Namjoo-Kyungsoo. Niatnya mau sama Thehun cuma mikir lagi ah. :v
      Tenang, aku juga mau buat Namjoo-Sehun. Ditunggu yap~ o/
      Makasih!<3

    1. …………………………… -_________-
      Sequel kapan-kapan ya/? :v
      Emang, maafin aku Eunji eooni/? ;_;

  2. aku baru baca dan aku sedih, kecewa, dan entah apalagi namanya…
    Akhirnya sangat nanggung T^T
    Ah kasian Namjoonya huhu baek kan sukanya ama namjoo tuh huhuhu
    Tapi aku ga bisa nebak perasaan sungjae masa wkwk dia itu sebenernya apa perannya ga ngerti. sebatas teman atau orang yang suka sama namjoo haha

    1. Sabar ya~ Memang sengaja aku buat begitu. ;p
      Sungjae itu kalau ga salah(?) perannya jadi bestie Namjoo deh xDDDDDDDD
      Aku juga rada lupa sih. .-. Makasih udah baca. C:

  3. Authorrr tanggung jawab udah bikin nangis anak orang-,-
    Btw feel nya dapet banget loh thor,yaampun itu kalo aku jadi namjoo sumpah nyeseek gaketulungan 😂😂 /lebay

    1. Slr.
      Haha, maaf banget ya[?]
      Makasih buat feedbacknya~ Nyesek aja gapapa kok, sudah sedia ember nih[?]

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s