[FF G] Rose | Chapter 4


untitled-1-copy-jpg

Author : Ayu Puspitaningtyas

Title  : Rose

 Length : Multi Chaptered

 Rate :  PG17

 Genre : Romance, AU, Hurt, Drama

 Cast :

 Yoo Yunji (OC)

 Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC)

 Barom (Rome) C Clown  as  Yoo Barom (OOC)

Daehyun B.A.P  as  Jung  Daehyun (OOC)

 And Others

*****

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers!

List Chapter 1 , 2 , 3

*****

Cerita Sebelumnya :

Yunji yang diusir oleh Sunggyu akhirnya kembali. Tapi ia kembali dalam keadaan pingsan. Meskipun begitu, Sunggyu tetap menolak kehadiran gadis itu. Di lain pihak, Daehyun yang merasa iba sekaligus penasaran pada Yunji, akhirnya menolong gadis itu. Sunggyu pun tak dapat menolak lagi setelah Daehyun mengatakan bahwa tak ada jalan lain selain menolong gadis itu kecuali Sunggyu ingin dituduh telah melakukan penganiayaan.

*****

# Yunji’s POV

Kucoba membuka mata perlahan. Masih nampak buram awalnya tapi, bersamaan itu bisa kudengar seseorang memintaku untuk terbangun dengan sentuhan kecil yang kurasa pada lenganku. Samar, aku pun mulai bisa melihat seorang pria yang mungkin tengah tersenyum lega seraya menatapku. Ia juga mengatakan sesuatu tapi, aku hanya bisa mendengarnya sebagai gumaman tak jelas. Siapa dia? Oh, aku ingat. Bukankah ia adalah pria dengan sorot mata teduh sekaligus dalam yang kutemui di apartemen Kim Sung—sebentar!!

Kulirik suasana kamar yang kukenali sebagai kamar pria bernama Kim Sunggyu itu. Lantas, aku kembali menatap pria di hadapanku ini. Bukankah aku sudah pergi dari sini? Lalu, bagaimana bisa?

“Seseorang menemukanmu pingsan di lobi dan berkat bantuan petugas keamanan apartement, akhirnya mereka membawamu ke sini, Yuna~ssi.”

Aku menautkan alis. Yuna? Siapa Yuna? Oh, benar. Aku baru ingat. Aku berbohong padanya tentang namaku. Tapi…aku’kan belum bertanya apapun padanya. Lalu, bagaimana bisa ia menjawab sesuatu yang belum kutanyakan?

Tiba-tiba saja, pria itu tersenyum lebih lebar. “Aku bisa membaca pikiranmu, nona,” katanya lagi yang kontan saja membuat pupilku melebar dan membuatnya entah mengapa justru tergelak. Apa ada yang sedang melucu di sini?

“Aku bohong,” imbuhnya setelah meredam tawa. “Aku hanya membaca raut wajahmu. Itu pun, jika kau percaya padaku.”

Ha! Sama sekali tidak lucu. Pria tampan yang bodoh.

“Aku akan segera pergi,” kataku seraya berusaha bangun.

“Tidak sebelum kau makan, Yuna~ssi.” Ia menekan pundakku dan seakan terhipnotis olehnya, aku pun tak mampu bergerak.

“Makan?”

“Ya. Setidaknya, itu yang dokter katakan padaku. Kau harus makan sebelum melakukan sesuatu,” katanya lagi seraya menata bantal di belakangku. Lantas, mendorong pundakku perlahan agar aku bersandar pada punggung ranjang yang sudah ia beri bantal tadi.

Tunggu! Mengapa aku harus menurutinya seperti ini?

“Tapi aku tidak lapar.” Aku berusaha beringsut dari ranjang tapi, pria itu justru menahanku (lagi) dengan menekan pundakku.

“Tidak lapar tapi, kau pingsan karena kelaparan. Sungguh tidak masuk akal.”

“Apa?”

“Dokter yang memeriksamu mengatakan itu padaku tadi.”

Sial! Jadi, aku benar-benar pingsan karena kelaparan? Benar-benar alasan yang tidak keren sama sekali untuk jatuh pingsan.

“Jadi sekarang, kau tak ada alasan lagi untuk menolak makanan ini.” Aku mengekori gerakan pria itu yang mengambil semangkuk bubur yang entah sejak kapan sudah berada di atas nakas samping ranjang. Lalu, “Aku pun takkan membiarkanmu pergi sebelum kau menghabiskannya, nona,” imbuhnya.

Kontan aku menarik kepala ke belakang saat pria itu menyodorkan sesendok bubur itu padaku. Apa-apaan dia ini? Mau menyuapiku? Konyol!! Aku bisa mengerti, jika ia menginginkanku segera memakan bubur ini dan pergi. Tapi bukan berarti juga aku harus disuapi seperti ini, bukan? Aku bukan anak kecil.

“Maaf. Kau tak mau kusuapi?”

“Kau…membaca raut wajahku lagi?”

Pria itu tergelak kali ini dan tangannya terulur mengacak puncak kepalaku. Sekali lagi, aku menarik kepala ke belakang—berusaha menghindari tangannya, meski terlambat. “Benar sekali gadis pintar. Kalau begitu, kau harus menghabiskan bubur ini. Okay?” Ia menggenggamkan sendok di tanganku dan menyodorkan mangkuk bubur itu padaku. Lantas, tersenyum manis dan mengatakan bahwa aku tak perlu khawatir ia telah memasukkan sesuatu yang berbahaya pada makanan itu. “Mungkin, satu-satunya yang berbahaya hanya rasanya,” imbuhnya kemudian.

“….”

“Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?”

“….”

“Woa, jinja (benarbenar)! Aku sungguh tak bisa membaca ekspresimu kali ini. Apa ada yang salah denganku?”

“Mengapa…kalian mau menolongku lagi? Bukankah kalian tak ingin ikut campur dalam urusanku?”

Pria itu tak langsung menjawabku. Lagi-lagi, ia hanya tersenyum dengan ringannya. Membuatku kian mengerutkan kening tak mengerti.

Sial! Aku tak butuh senyum manismu, Pria Tampan. Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Aku penasaran. Mengapa orang-orang seperti kalian mau menolongku? Lagipula, bukankah beberapa waktu yang lalu kalian sudah tak mau menolongku? Bahkan kalian—err…maksudku pria bernama Kim Sunggyu itu terutama—mengataiku seorang pelacur. Cih! Lalu, mengapa sekarang kalian merawatku seperti ini? Apa ada sesuatu yang kalian inginkan dariku?

Geunyang (hanya ingin).”

“Apa?” Hanya ingin? Benarkah? Tanpa imbalan? Omong kosong macam apa ini. Ah! Jangan-jangan….

“Jangan khawatir! Tak ada maksud lain dari pertolongan ini. Ini hanya sebuah pertanggung jawaban karena sudah membawamu kemari. Bukankah menolong tak seharusnya dilakukan dengan setengah-setengah?”

“….”

“Dan…, maafkan sikap Sunggyu tadi. Ia hanya sedikit mudah terbawa emosi. Kuharap kau mau mengerti.”

Haruskah aku mempercayainya begitu saja? Benarkah ia ingin menolongku tanpa ada maksud lain? Sungguh? Oh, sadarlah Yoo Yunji! Tak ada pria yang bisa kau percayai di dunia ini. Tak terkecuali pria di hadapanmu ini. Ia memang terlihat sempurna dengan segala yang ia miliki, tapi kau takkan pernah tahu apa yang ia bisa lakukan  padamu. Kau tak tahu apa yang ada di otaknya sekarang. Lagipula, ia adalah sahabat dari seorang cassanova. Apa kau yakin mereka takkan sama? Apa ada cassanova yang bisa dipercayai? Karena jalan terbaik bagimu saat ini hanyalah melarikan diri.

Segera pergi dari kota ini dan memulai hidupmu seperti yang sudah kau lakukan selama ini. Mencari liang baru untuk bersembunyi. Ya, hanya itu yang perlu kau lakukan sekarang, Yunji~yah. Kau tidak perlu menambah permasalahan lagi dalam hidupmu dengan berusaha mencari tempat bernaung di balik ketiak pria asing ini. Pria-pria yang entah akan membuat hidupmu menjadi lebih rumit dengan cara apa lagi.

Baiklah. Aku hanya perlu menghabiskan bubur ini dan baru kemudian, aku akan enyah dari tempat ini dan juga dari hadapan pria ini segera.

*****

# Daehyun’s POV

Aku hanya terdiam dan menatap Yuna seraya duduk di kursi yang kuletakkan di samping ranjang. Setelah percakapan singkat itu, ia tak lagi mengatakan apa-apa dan hanya memakan buburnya dengan lahap. Hal yang wajar mengingat ia memang sudah tak makan selama dua hari ini. Tch! Gadis ini…, bagaimana ia bisa bertahan dengan perut kosong seperti itu? Sebenarnya kau ini terlalu kuat atau terlalu bodoh nona cantik? Semalaman kau berada di sini dan sama sekali tak mencoba untuk makan? Apa yang ada di pikiranmu itu? Apa yang membuatmu bahkan tidak menyentuh makanan selama dua hari? Menurut Sunggyu, bahkan kau bekerja di tiga tempat yang berbeda selama tiga hari. Seharusnya, kau memiliki cukup uang untuk makan. Lalu, mengapa?

Hal itu sungguh mengganggu pikiranku sejak tadi. Apa yang terjadi pada hidupmu sebenarnya? Mengapa kau dikejar pria-pria menyeramkan yang Sunggyu ceritakan itu? Mengapa kau memiliki luka-luka itu? Siapa yang melakukannya? Apa pria-pria itu juga? Dan mengapa mereka melakukannya? Mengapa juga kau harus berbohong mengenai namamu? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?

Berbanding terbalik dengan Sunggyu yang menganggap hal ini sangat mencurigakan dan berpikir serba negatif mengenai dirimu, aku justru tak mencurigai apapun. Tak bisa. Aku hanya yakin kau berada di posisi yang benar dengan cara yang entah bagaimana. Pun hanya merasa kau sedang tak tahu jalan keluar dari semua ini.

Sorot matamu mengatakan semuanya. Itulah yang tak dapat Sunggyu baca darimu. Kau sangat tertekan, bukan? Apa kau baik-baik saja dengan rasa tertekan seperti itu? Bahkan aku merasa harus bersyukur kau bisa bertahan hidup hingga kini. Meski pada dasarnya, aku tak tahu sama sekali apa yang terjadi pada hidupmu. Ah, sial! Aku terlalu penasaran. Aku harus melakukan sesuatu.

“Jung Daehyun,” ujarku setelah berdeham.

Yuna menghentikan gerakan tangannya dan menatapku kali ini dengan kening berkerut samar.

“Aku hanya memberitahukan namaku. Kau belum tahu, bukan?”

Ia masih terdiam seraya menatapku tak berkedip. Apa-apaan gadis ini? Mengapa menatapku seperti itu? Mengapa tiba-tiba aku tak bisa menangkap emosi apapun dalam sorot itu? Sial! Ini benar-benar menggangguku.

“Aku akan segera pergi setelah makanan ini habis.”

“Oh. Benarkah? Apa kau yakin? Maksudku, aku tak perduli dengan kapan kau akan pergi sebenarnya tapi, apa kau yakin akan pergi dengan tetap mengenakan piayama kedodoran seperti itu Yuna~ssi?”

Kontan saja, ia menunduk mengamati pakaian yang menempel di tubuhnya. Lantas, mendesis dan menatapku kesal untuk beberapa saat. Namun tak lama, aku justru menangkap sebersit sorot kemenangan di mata gadis ini. Bahkan aku bisa melihat sudut bibirnya yang tertarik menahan senyum.

“Aku ingat sudah meninggalkan pakaianku di sini semalam,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Oh, sial! Aku melupakan hal itu.

“Aku meninggalkannya di—.”

“Sunggyu sudah membuangnya.”

“Apa?!”

“Ya, karena ia pikir kau takkan kembali. Jadi, ia membuangnya segera setelah kau pergi Yuna~ssi.”

Yuna kembali terdiam. Bibirnya nampak bergetar menahan kesal. Bisa kutebak, ia tengah menyumpahi Sunggyu dalam hatinya saat ini.

Sungguh maafkan aku, Sunggyu~yah. Aku terpaksa berbohong. Aku hanya tak ingin gadis ini pergi. Setidaknya, bukan sekarang.

“Aku…akan tetap pergi.”

Ne?”

“Aku akan tetap pergi, meskipun harus dengan berpakaian seperti ini. Tolong sampaikan pada Sunggyu~ssi, ia tak perlu khawatir. Aku akan mengembalikannya nanti. Aku tahu ini pakaian mahal.”

“Tidak. Sunggyu takkan memperdulikan hal itu. Hanya saja…, apakah kau benar-benar yakin untuk tetap pergi dengan menggunakan piayama seperti itu, Yuna~ssi? Orang-orang akan memandangmu dengan aneh. Lagipula, apa kau yakin kau akan aman di luar sana setelah semua yang telah terjadi padamu?”

“Tentu saja. Aku sudah terbiasa.”

Terbiasa? Apa maksudnya?

“Tunggu!” Aku kembali mencegahnya yang hendak beranjak dari ranjang. Ia nampak terusik kali ini. “Maaf. Aku takkan mencegahmu untuk pergi, jika itu memang keinginanmu. Tapi kumohon, tunggulah sebentar di sini, Yuna~ssi. Aku takkan pergi lama.”

*****

# Yunji’s POV

Sebenarnya, kemana ia pergi? Mengapa aku harus menunggunya? Memang apa hubungannya dengan aku yang akan pergi? Dan mengapa aku terus saja menuruti permintaannya sejak tadi? Kau ini benar-benar bodoh Yoo Yunji. Seharusnya, kau pergi saja.

Ya, Tuhan! Kepalaku rasanya seperti ingin meledak. Memangnya aku bisa pergi kemana dengan berkeliaran menggunakan piayama bodoh ini? Lagipula, bagaimana caranya aku bisa mengambil semua barangku? Bahkan aku tak tahu apakah sudah cukup aman untukku kembali. Oh, sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau buang kemana otakmu itu Yoo Yunji? Mengapa kau harus keras kepala ingin pergi dari tempat ini? Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengatakan pada pria itu dengan tak tahu malunya, bahwa kau sudah mengurungkan niatmu? Bodoh!

Kuhela nafas keras dan kembali melempar tatapan keluar jendela. Tidak. Lebih tepatnya aku menatap pantulan diriku di kaca jendela. Aku seperti orang bodoh karena terus berusaha mendapatkan jawaban dari pantulan itu. Benar-benar bodoh. Tapi…, memangnya siapa lagi yang bisa membantuku saat ini, jika bukan diriku sendiri?

Aku pun tersentak begitu mendengar dering telepon yang berada di atas nakas samping sofa ruang tamu. Tapi tak ada yang kulakukan. Aku hanya menatapnya dan membiarkan telepon itu terus berdering hingga akhirnya terdiam. Aku bukan siapa-siapa di sini. Jadi, aku tak memiliki hak untuk mengangkat telepon itu, bukan?

Tunggu sebentar! Telepon! Aku bisa menghubungi Dasom dan menanyakan situasi di sana! Aku masih mengingat nomer ponselnya. Mengapa hal itu baru terpikirkan olehku?

*****

# Sunggyu’s POV

Tidak. Aku kembali sebelum lewat tengah malam (lagi) hari ini bukan karena mengkhawatirkan gadis itu. Aku hanya ingin memastikan ia sudah siuman dan bisa segera pergi dari apartemenku. Tentunya akan lebih bagus lagi, jika ia sudah pergi saat ini. Kehadirannya hanya merusak pikiranku saja. Bahkan aku merasa ia hanya akan membawa kesulitan saja dalam hidupku.

Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu apartementku dan harus terkejut begitu mendapati gadis itu berdiri di dekat pintu kaca menuju balkon. Pintu kaca itu sudah terbuka dan angin berhembus menggoyangkan rambut serta tirai. Kertas-kertas yang kuletakkan di atas piano pun turut beterbangan dihembus angin. Tiba-tiba saja aku merinding. Mengapa atmosfir ini seperti dalam sebuah film tragedi dimana gadis itu akan perlahan mendekati balkon—sama persis seperti yang tengah ia lakukan saat ini—lalu tiba-tiba, ia akan…melompat?

“BERHENTI!!!”

Gadis itu berbalik begitu mendengar teriakanku. Ia menatapku datar, meski matanya nampak sembab. Kurasa aku sudah datang di saat yang tepat. Setidaknya, kekhawatiranku tidak sia-sia. Dan kemana Daehyun pergi? Mengapa dia meninggalkan gadis ini sendirian di sini? Ceroboh sekali!

“Apa yang mau kau lakukan nona? Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa saja merugikanku selama kau berada di sini? Kau sudah lupa, eo?” Aku menghampirinya perlahan. Kedua tanganku terjulur ke depan berusaha menenangkan gadis itu. Meskipun, aku tak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak. Ia masih tak menjawabku dan bergeming di tempat.

“Cepat masuk! Tutup pintunya dan jangan pernah memikirkan hal konyol itu lagi selama kau berada di sini. Aku benci berurusan dengan polisi.”

“Biarkan aku tinggal di sini beberapa hari.”

“Apa?”

“Kau harus membiarkanku tinggal di sini.”

Micheoseo (kau sudah gila, ya)?”

“Hanya untuk sementara waktu. Takkan lama.”

Aku mendengus tak habis pikir mendengar pernyataan konyol gadis itu. Lantas, berkacak pinggang dan menatapnya dengan menyipitkan mataku. “Kau pikir aku orang bodoh yang akan membiarkan orang asing sepertimu tinggal bersamaku? Orang asing yang bahkan selalu dikejar oleh sekelompok orang yang menyeramkan? Kau pikir aku bisa mempercayai orang seperti itu?”

“Aku tak perduli kau mau percaya padaku atau tidak. Aku hanya ingin kau membiarkanku tinggal di sini untuk sementara waktu. Tidak lebih.”

“Hyaa, nona! Apakah mereka telah melukai otakmu? Karena entah kau sadari atau tidak, kau benar-benar gadis yang tidak punya malu sama sekali.”

“Katakanlah seperti itu kenyataannya. Aku tak perduli karena aku benar-benar butuh berada di tempat ini untuk beberapa hari saja.”

Kali ini, aku menekuk tangan di depan dada. Hanya membuka mulut tanpa bersuara karena memang aku tak bisa berkata apapun. Aku terlalu takjub pada gadis di hadapanku ini yang begitu keras kepala atau mari kita katakan saja sama sekali tidak tahu malu. Berani-beraninya dia memaksaku. Bahkan menatapku setajam itu. Ia sedang meminta tolong atau ingin merampokku? Gadis ini benar-benar….

“TI-DAK.”

“….”

“Pergilah sekarang juga!”

Shireo (tidak mau).

MWO (apa)? Hyaa!!

“Jika kau memaksaku pergi, aku bisa melakukan sesuatu yang tak ingin kau alami, Sunggyu~ssi.”

Aku mendengus sekaligus tertawa singkat meremehkan. “Memangnya apa yang akan kau lakukan? Melompat dari balkonku?”

“Aku tidak sepicik itu.”

“Oh, ya?”

“Kudengar aku jatuh pingsan karena kelaparan. Bukankah itu terdengar sangat aneh, padahal pada malam sebelumnya aku tinggal di tempatmu? Tak mungkin bukan, orang sekaya dirimu tak memiliki makanan, Sunggyu~ssi? Belum lagi ditambah dengan luka-luka yang kumiliki. Aku bisa saja menciptakan sebuah rekayasa dengan itu semua dan aku diutungkan karena tak ada saksi di sini. Apa kau mau aku melakukannya?”

Sial!!! Gadis ini benar-benar di luar dugaanku. Tak kusangka selain keras kepala, ternyata ia juga licik. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Mengapa mata itu tak terlihat ragu sedikitpun? Mengapa ia harus terlihat seserius itu? Cih! Ini benar-benar seperti dugaanku, bukan? Kalau gadis ini benar-benar hanya akan menyulitkanku saja.

“Kau sudah kembali Sunggyu~yah?”

Aku berbalik dan menatap Daehyun yang sudah kembali entah dari mana. Untuk suatu alasan, aku merasa lega dengan kehadirannya hingga tanpa sengaja, aku melihat dua tas dari toko pakaian wanita bermerk di seberang jalan yang Daehyun jinjing. Aku mendengus dan kembali melirik sinis gadis itu. Cih! Rupanya dia sudah berhasil merayu Daehyun. Tapi memang itulah Daehyun. Ia terlalu mudah iba pada orang asing.

“Bukankah kau sedang pergi berkencan? Tumben cepat sekali kembali.”

Aku kembali menghela nafas. Jengah. Aku tak suka mendengar kata-kata Daehyun yang terdengar seperti aku sedang mengkhawatirkan gadis sialan ini. Siapa juga yang mau mengkhawatirkan gadis seperti dia?

“Aku hanya mau mengambil barangku yang tertinggal,” kataku kemudian seraya berlalu dan masuk ke kamar. Sebenarnya, aku pun tak tahu apa yang harus aku ambil di dalam kamar. Jadi aku hanya berdiri untuk beberapa waktu di depan lemari pakaianku dan kemudian samar, aku bisa mendengar Daehyun berkata pada gadis itu bahwa ia sudah membelikan beberapa pakaian yang bisa gadis itu gunakan sebelum ia pergi. Sebentar! Pergi? Gadis itu? Daehyun sudah meminta gadis itu untuk pergi? Tidak. Tidak. Itu tidak boleh terjadi atau gadis licik itu benar-benar akan melakukan ancamannya padaku.

“Ia akan tetap tinggal di sini,” kataku yang sudah berdiri di ambang pintu kamar dalam waktu sepersekian detik (mungkin).

Kontan, aku bisa menangkap ekspresi Daehyun yang terkejut menatapku. Entah karena aku yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka atau karena aku yang meminta agar gadis itu tetap tinggal. Mungkin saja keduanya.

“Kau serius?”

Aku menghampiri Daehyun dan menatapnya lekat—berusaha meyakinkan sahabatku ini bahwa aku serius, meski aku tidak tulus. Lantas, aku menatap gadis itu tajam. “Hanya untuk se-men-ta-ra. Algaetseo (kau mengerti)?”

Gadis itu tak mengatakan sepatah katapun untuk menjawabku. Bahkan ia nampak benar-benar pandai menguasai ekspresinya karena tetap saja terlihat tak berekspresi, meski telah berhasil menyerangku. Pun sadar bahwa Daehyun tengah menatapku tak percaya saat ini. Jangankan ia, aku sendiri tak percaya bahwa pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengikuti permainan gadis itu dan menerima kelicikannya begitu saja.

Kulihat Daehyun kali ini menatap gadis itu ragu. “Kau….”

“Aku akan tetap tinggal di sini,” sahut gadis itu. “Seperti kata, Sunggyu~ssi,” imbuhnya kemudian.

Cih! Dasar gadis tidak tahu malu! Seperti kataku katamu? Itu semua terjadi karena ancamanmu tepatnya. Kuharap kau mencatatnya baik-baik di otakmu itu, nona.

“Hyaa! Kim Sunggyu, kau mau pergi kemana lagi?” tanya Daehyun karena aku mulai beranjak pergi lagi.

“Melanjutkan kencanku,” sahutku singkat

*****

# Daehyun’s POV

Aku tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa bisa Sunggyu yang semula begitu menolak Yuna tetap berada di sini, kini berubah pikiran? Apa yang terjadi? Apa ada pembicaraan di antara mereka yang tak kuketahui saat aku pergi tadi? Tapi apa? Siapa yang meminta untuk tetap bertahan? Bukankah Yuna sendiri tadi begitu ingin pergi dari sini? Mengapa ia juga tiba-tiba saja berubah pikiran dan menuruti Sunggyu? Sudah pasti ini ada sesuatu yang tidak beres. Pasti ada sesuatu di antara mereka.

Sialnya, lagi-lagi Yuna tak mengeluarkan ekspresinya. Sepertinya, ia mulai tahu bagaimana mengendalikan emosinya agar tak terbaca olehku. Ini menyebalkan.

*****

# Yunji’s POV

Aku terbangun dengan rasa sakit pada sekujur tubuhku, terutama leher yang terasa sangat kaku. Semua ini terjadi karena aku terpaksa tidur di ayunan panjang yang berada di balkon semalaman dan hanya bertemankan dengan selembar selimut. Aku sengaja melakukan ini tak lain karena khawatir, jika saja pria itu—Kim Sunggyu—akan pulang dalam keadaan mabuk sama seperti yang terjadi pada pagi sebelumnya. Hal itu benar-benar membuatku ketakutan.

“Meskipun kau tak jadi pergi hari ini, kau tetap harus menerima pakaian dariku ini, Yuna~ssi. Tak boleh menolak. Tak mungkin bukan kau tetap mengenakan piyama ini atau meminjam pakaian Sunggyu yang lain? Karena asal kau tahu saja, ia sangat sensitif, jika barang-barangnya sampai disentuh oleh orang lain dan lagi, kau itu sudah termasuk orang yang sangat beruntung bisa membuatnya meminjamkan pakaiannya padamu dan bahkan membiarkanmu tetap tinggal di sini. Ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Jadi kau harus menerima ini.” Dan tangan pria itu—Daehyun—mencapai puncak kepalaku lagi. Ia tersenyum hangat.

Aku mendadak merasa sangat aman saat itu. Bahkan hanya untuk mengingatnya saja.

Semalam, ia pulang setelah memastikan aku sudah terlelap. Meski sebenarnya, saat itu aku belum benar-benar tertidur karena aku memang tak pernah bisa tidur dengan tenang. Sebelum pergi, kami sempat berbincang sejenak. Tepatnya, hanya ia yang berbicara. Tapi anehnya, ia tak lagi memberondongku dengan berbagai pertanyaan tentang diriku. Ia lebih menceritakan tentang hal-hal yang tak penting menurutku, seperti mendongeng atau menceritakan kisah-kisah masa kecilnya. Meskipun begitu, secara ajaib aku senang mendengarkannya. Cerita-cerita itu menghipnotisku untuk melupakan sejenak permasalahanku dan dengan sihirnya, Daehyun benar-benar telah membuatku merasa aman berada di sisinya malam itu.

Ia pun pulang tanpa mengetahui setelah itu aku tak lagi tidur di dalam kamar karena alasan keamanan. Sebenarnya, aku berharap ia tetap berada di sini. Tapi sayangnya, aku tak bisa mengatakan hal itu langsung. Terlalu memalukan dan murahan. Meskipun sebenarnya, aku sudah nampak sangat murahan dengan mengancam Sunggyu agar tetap bisa tinggal di sini. Ah, bodohnya aku! Mengapa aku tak meminta saja untuk tinggal bersama Daehyun kemarin? Karena pada akhirnya, aku akan tetap terlihat sangat-sangat murahan, bukan? Lalu, mengapa aku harus memilih bersama pria angkuh itu? Sial, sial, sial!! Kau benar-benar bodoh Yoo Yunji.

Kurasa, apa kata pria angkuh itu benar. Otakku pasti sudah terluka pada satu sisi. Aku benar-benar menjadi tak tahu malu. Aku bertindak secara random. Meski sebenarnya, ini semua bukan mauku. Ini semua karena orang-orang jahat itu. Aku terpaksa harus mencari tempat aman untuk sementara waktu.

“Mereka terus mengawasi rumah sepanjang hari. Bahkan beberapa di antara mereka terus mengikutiku, Yunji~yah. Jadi sebaiknya, kau jangan pulang dulu. Ini terlalu berbahaya bagimu.”

Ucapan Dasom semalam kembali terngiang. Orang-orang itu begitu gigih hingga mengikuti Dasom kemanapun ia pergi. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Karena aku, ia terpaksa mengalami ini semua. Dan pangkal dari semua peristiwa ini adalah ayah. Ayah yang tidak bertanggung jawab. Ini sungguh tidak adil bagiku! Ayah membuatku tak bisa menjalani hidup ini dengan normal. Ini menyebalkan.

Dan apa yang kau lakukan Yoo Yunji? Memang apa gunanya aku terus mengeluh seperti ini? Toh pada akhirnya, tidak akan ada yang berubah. Aku tetap harus hidup sebagai seseorang yang akan terus dikejar oleh para debt collector dan kakak yang begitu kejam sampai batas waktu yang entah ada atau tidak untukku atau mungkin, aku hanya harus menunggu sampai keberuntungan jatuh hati padaku. Sampai keajaiban menghampiriku.

Lantas, aku menghela nafas untuk mengusir segala pikiran yang hanya akan berakhir dengan sia-sia itu. Aku pun melirik ke dalam apartemen. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Apa ia tak pulang semalam?

Penasaran, aku pun masuk ke dalam dan melihat pintu kamar Sunggyu yang nampak tertutup separuh. Tanpa pikir panjang, kuputuskan untuk mengendap dan mencuri pandang ke dalam sana.

Tak ada siapapun. Hening. Jadi, ia tak pulang? Apakah mungkin ia benar-benar membenciku karena sikap tak masuk akalku kemarin? Atau…ia sedang tidur bersama salah satu gadisnya di luar sana?

“Apa yang kau cari?”

Suara pria angkuh itu kontan membawa kepalaku untuk berputar menatapnya yang berdiri beberapa kaki dariku. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut cokelat muda yang basah dan beberapa bulir air masih menetes dari sana. Pun masih ada aliran air yang meliuk pada tubuhnya yang…yang…bolehkah kukatakan seksi?

Katakanlah juga, saat ini detak jantungku terlewati untuk satu sampai dua detik. Bahkan aku harus menelan air liur dengan susah payah. Mataku pun tak mau berkedip melihat sesuatu yang terpampang di hadapanku saat ini. Pria angkuh itu…, sang Don Juan itu…, tuan muda bermata sipit itu…, ia…, ia hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian terlarangnya. Apa-apaan pemandangan di hadapanku ini? Oh, tidak, Yoo Yunji! Ada apa dengan otakmu? Ini memalukan.

“Ma’af.”

Aku segera berbalik dan menyentuh kedua pipiku yang terasa memanas. Aku bukan sedang berpikir tentang sesuatu yang berbau dewasa. Hanya saja…, ini…, ini memalukan. Karena ini adalah kali pertama aku melihat seorang pria bertelanjang dada di hadapan mataku langsung. Benar-benar mengganggu pandanganku!

“Tunggu!” Sergahan pria itu seakan mengandung magis karena aku langsung menghentikan langkahku.

“Apa sarapannya sudah siap?”

Apa? Sarapan?

“Jangan katakan kau lupa pada janjimu yang akan memasak makanan untukku, membersihkan apartemenku, dan mencuci pakaianku selama kau tinggal di sini!”

Cerdas! Aku memang lupa. Sial! Dan tanpa berniat membalik badan, aku pun mengatakan bahwa aku akan segera memasakkan makanan untuknya.

*****

# Sunggyu’s POV

Cih! Apa-apaan gadis itu? Memangnya ada yang salah dengan tubuhku yang seksi ini? Mengapa ia langsung berbalik seperti itu? Aaa…, aku tahu. Ia pasti terlalu terpesona melihat tubuhku ini yang begitu menggoda, jadi ia harus menyembunyikan wajahnya seperti itu. Ha! Ternyata kau normal juga, nona.

Usai berganti pakaian, aku menghampiri gadis itu yang berada di dapur. Ia memunggungiku karena sedang berdiri di depan lemari pendingin. Untuk beberapa saat, aku hanya terdiam. Sepertinya, ia juga tak menyadari kehadiranku. Apa yang ia lakukan dengan mematung seperti itu? Apa makanan akan langsung matang hanya dengan ia pelototi seperti itu?

“Kau mau memasak atau mau menjadi patung, nona?”

Ia berputar dengan cepat dan nampak terkejut menatapku. Lucu sekali ekspresinya itu!

“Mana makananku? Aku sudah sangat lapar.”

“Tidak ada apapun yang bisa kumasak,” ujarnya seraya menepi dari depan lemari pendingin.

Aku melirik ke dalam lemari pendingin dan yes, tak ada apapun di sana. Hanya ada beberapa kotak jus buah dan minuman kaleng. Lalu…, sebuah kotak makan besar yang menyisakan sedikit kimchi kiriman ibu. Astaga! Ini pembuhunan. Kimchi yang ibu kirim sudah habis? Aaarghhhh…, ini buruk. Sangat buruk!

Aku melirik gadis itu yang terus saja menatapku datar. Ada apa dengannya ini? Mengapa suka sekali menatapku seperti itu? Tak bisakah ia terlihat lebih manis?

“Ganti pakaianmu! Kita belanja.”

“Apa?”

“Bukankah Daehyun sudah membelikanmu beberapa pakaian kemarin?”

“Itu…, maksudku…, err….”

“Ada banyak yang harus aku beli dan aku tak mau membawa barang-barang itu sendirian. Aku membutuhkan tenagamu dan…,” aku menjeda ucapanku untuk menatapnya beberapa saat. Lalu, “kau harus memilih beberapa bahan makanan yang bisa kau masak untuk membuatkan makanan enak untukku nantinya karena aku tak tahu apa saja yang harus kubeli. Apa kau sudah mengerti sekarang, Nona Manis?”

Ia terdiam tanpa berkedip. Aku menahan senyum jahil dan beringsut dari sana. Benar-benar lucu. Ia nampak kesal dan terkejut kali ini.

*****

# Yunji’s POV                                                                                       

Di sinilah aku sekarang bersama pria itu. Kami berada di salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan pria itu seperti katanya tadi. Aku sudah mencoba menolak tapi, ia justru mengancam akan menyerangku, jika aku terus menolak. Bukankah ia benar-benar gila? Menyerangku? Bahkan ia sempat memojokkanku di satu sudut tembok hingga membuatku tak mampu berkutik. Ia benar-benar menakutkan saat itu. Jadi, mau tak mau, aku menurutinya atas tekanan rasa takut itu dan membuatku kembali berpikir : “Apakah aku telah mengambil keputusan yang tepat dengan tetap berada di samping pria itu?”.

Entahlah. Apapun pilihanku, kurasa semuanya hanya akan tetap berakhir dengan penyesalan. Tak ada pilihan yang terbaik saat ini. Aku hanya bisa mengulur waktu saja. Aku pun hanya bisa menyembunyikan wajahku di balik topi selama pergi dengannya kali ini.

Tapi, ya, Tuhan! Pria ini benar-benar tidak waras. Ia benar-benar menyiksaku. Trolly ini sudah terisi penuh dan ia masih berniat untuk memenuhinya lagi? Apa yang ia cari sebenarnya? Memangnya ia ingin membeli persediaan untuk berapa lama? Seumur hidupnya? Dan lagi, bagian yang paling menyebalkan dari semua ini adalah ia sama sekali tak memperdulikanku yang mulai mengalami kesulitan untuk mendorong trolly yang nyaris tak muat menampung barang ini. Dasar monster!

“Sunggyu~ssi, tidakkah kau rasa ini semua sudah cukup?”

Ia berhenti untuk melirik deretan saus tomat dan menatapku datar. Lalu beralih pada trolly sial ini.

“Belum,” jawabnya singkat dan mengambil 4 botol saus tomat yang langsung ia letakkan ke trolly tanpa perduli bahwa setelah ia pergi begitu saja, botol-botol saus itu terjatuh karena tak lagi mendapatkan tempat. Untung botol saus itu terbuat dari plastik sehingga tak pecah. Dasar orang gila!!!

“Oh! Apakah puding ini gratis, jika aku hanya mencobanya, nona?”

Cih! Orang sekaya dan seangkuh itu bisa juga mencari gratisan untuk makan puding? Benar-benar memalukan.

“Tentu saja, tuan. Silahkan mencoba! Jika berkenan, anda bisa membeli dua kotak dan mendapatkan bonus satu kotak puding.”

“Oh, ya? Tapi aku akan lebih senang, jika bisa berkenalan dengan gadis secantik dirimu, nona. Dan hmm…, puding ini benar-benar lezat. Teksturnya sangat lembut dan terasa manis. Sama seperti halnya dirimu.” Hoek! Rayuannya murahan sekali.

Aku pun yang semula tak bisa melihat wajah nona penjual puding karena terhalang tingginya barang yang menumpuk di atas trolly mulai mengenali suara manis itu. Dan benar saja, setelah kuintip, rupanya nona penjual puding itu adalah Dasom. Iya, Dasom! Ia tengah tersipu malu-malu atas pujian murahan dari pria sialan itu. Tapi lebih dari itu, keberadaan Dasom di sini justru menyalakan alarmku. Apakah itu berarti orang-orang itu ada di sekitar sini?

“Aku ambil dua kotak,” ujar pria itu dan kembali meletakkan dengan sembarangan barang ke atas trolly hingga (lagi-lagi) barang itu terjatuh. Ia pergi begitu saja kemudian dan memaksaku untuk memungutnya.

Tanpa kusangka, Dasom turut merunduk dan memungut kotak puding yang terjatuh itu. Ia pun memekik tertahan seraya menatapku seolah-olah aku ini adalah hantu.

“Yunji~yah, bagaimana kau bisa—“

Aku buru-buru meletakkan jari telunjuk di depan bibir—meminta Dasom untuk diam agar Sunggyu tak sampai mendengarnya. Aku kembali memungut kotak puding dan menumpuknya di atas barang-barang yang sudah berjubel di trolly.

“Apa orang-orang itu ada di sini?” tanyaku dengan suara berbisik.

“Tidak. Aku melaporkan mereka pada petugas keamanan. Jadi, mereka tak bisa mendekatiku di sini.”

Aku menghela nafas lega. Meskipun hanya akan berlangsung untuk sementara karena aku tak tahu di mana orang-orang itu berada saat ini. Bisa saja mereka berada di luar dan menunggu Dasom pulang dan bisa saja mereka melihat kemunculanku di sini saat itu. Sial! Aku menekan ujung topiku.

“Kau…bersama pria itu?” Dasom melirik Sunggyu.

Aku mengangguk. “Aku aman bersamanya.”

“Hyaa!! Mau sampai kapan kau di situ? Cepat!” teriak Sunggyu tanpa ampun. Dia berisik sekali.

Aku tak mengucapkan apapun pada Dasom untuk selanjutnya. Aku hanya berpamitan dan meyakinkan Dasom bahwa aku akan baik-baik saja bersama pria itu dengan tatapanku. Semoga saja aku memang akan baik-baik saja bersama pria gila itu.

“Aku punya nama. Panggillah aku dengan namaku!”

“Oh! Kau bisa protes juga rupanya.”

Ingin sekali kumaki pria ini sekarang tapi sayang, aku harus menahannya. Bagaimanapun itu, ia adalah pria yang telah memberiku tempat bernaung untuk sementara waktu.

“Sepertinya, kau berbicara dengan gadis tadi. Kau mengenalnya?”

“Mwo (apa)? Anio (tidak).

Sunggyu melipat tangan di depan dada dan semakin menyipitkan matanya. Ia menatapku curiga. “Kau tidak sedang berbohong padaku’kan?”

“Tentu saja tidak. Ia hanya membantuku yang kesulitan meletakkan barang belanjaan yang…,” aku melirik trolly. Lalu, “sudah tak muat lagi di trolly.

“Oh. Sudah sebanyak itu rupanya. Kalau begitu, kita ke kasir sekarang. Kajja (ayo)!” ujarnya dengan santai dan pergi begitu saja tanpa memiliki itikad untuk membantuku yang sudah benar-benar kesulitan.

Sebentar! Apa katanya tadi? Oh? Dasar tidak waras! Aaargh! Michine (bisa gila aku)!

*****

# Sunggyu’s POV

“Kapan eomonim akan mengirim kimchi lagi untukku? Persediaan kimchiku sudah habis.___Tidak. Aku hanya mau buatan eomonim saja. Aku tidak mau yang lain.___ Aku tidak mau tahu. Tidak ada kimchi buatan eomonim, aku pun takkan mau makan.” Aku tergelak. “Tepat sekali. Aku hanya takkan mau makan kimchi. Tentu saja aku masih mau makan makanan yang lain.___ Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan kimchi buatan uri eomonim tersayang.”

Aku menutup telepon dan menatap gadis itu yang entah sejak kapan sudah menatapku. Lagi-lagi dengan tatapan datar menyebalkan itu.

“Apa yang kau lihat?”

Ia menggeleng dan kembali melanjutkan memasak. Dasar aneh!

“Apa…kau baru saja berbicara dengan ibumu di telepon, Sunggyu~ssi?”

Eo. Wae?” jawabku asal seraya membalik lembar demi lembar majalah yang kubeli beberapa bulan yang lalu tapi, tak pernah kubuka itu.

“Pasti menyenangkan bisa berbicara seperti itu dengan ibumu.”

Apa? Apa yang baru saja gadis itu katakan? Pasti menyenangkan…apa? Mengapa kalimat itu terdengar ganjil sekali di telingaku?

“Apa yang baru saja kau katakan?”

“Kim~goon (tuan)!” Ah, sial! Ini dia babysitter­­-ku tiba__Manajer Cha. Biar kusebutkan lebih rinci pekerjaannya yang tak lain adalah mengatur segala jadwalku terutama yang berhubungan dengan perjodohan yang eomonim susun untukku dan memastikan aku melaksanakannya dengan baik. Juga, memastikan aku mematuhi jadwal lain yang wajib aku kerjakan. Selebihnya, ia tak berguna.

“Oh! Siapa kau?” Dan seperti dugaanku, ia terkejut melihat kemunculan Yuna karena meski seberapapun itu aku suka bermain dengan wanita, aku takkan pernah membawa mereka ke apartemenku.

Aku mengangkat kaki naik ke atas meja dan menyalakan televisi menggunakan remote. Mengganti berulang kali channel televisi secara acak tanpa berniat menjawab pertanyaan Manajer Cha yang hanya akan menimbulkan serentetan pertanyaan yang lain.

“Nona, kau siapa?” tanyanya pada Yuna karena sadar aku takkan memberikan jawaban.

“Jangan ganggu dia! Dia sedang memasak makanan untukku.”

“Tuan Muda, nyonya besar takkan menyukai ini. Beliau pasti__”

“Karena itu tutup mulutmu. Lagipula, ia bukan kekasihku. Ia hanya….” Aku menjeda ucapanku dan melirik gadis itu.

Ia memang tak berbalik menatapku tapi, aku tahu ia sedang mendengarkanku dan Manajaer Cha yang membicarakan dirinya. Mau tak mau. Lihat saja! Bahkan gerakannya terhenti sekarang. Ia seperti sedang menunggu kelanjutan kalimatku.

Aku beralih melirik Manajer Cha yang juga nampak menunggu jawabanku. “Pembantu,” lanjutku.

Dengan hanya satu kata itu, Manajer Cha yang nampak tegang pada awalnya, benar-benar terlihat lega sekarang. Aku tahu. Aku tahu dengan benar bagaimana reaksi ibu, jika sampai mengetahui ada gadis di apartemenku tanpa sepengetahuannya dan hal itu tentu saja bisa mempengaruhi pekerjaan Manajer Cha karena bisa dikatakan, ia telah gagal mengemban tugas dari ibu untuk mengawasiku agar tak menjalani hubungan yang tak selayaknya (dalam versi ibu) dengan gadis yang tak jelas asal-usulnya seperti gadis itu contohnya.

“Tapi,” wajah Manajer Cha dengan cepat kembali nampak gusar. “Bukankah gadis itu terlalu cantik untuk menjadi pembantu, Tuan Muda?”

“Kau itu tahu apa? Sudah jangan perdulikan dia! Jam berapa aku harus kencan hari ini?”

“Ah, itu…,” Manajer Cha membuka buku agenda yang sudah ia pegang sejak tadi. “Hari ini ada dua kencan, Tuan Muda. Yang pertama pada pukul satu siang ini dan selanjutnya pada pukul 6 petang ini. Keduanya adalah putri dari….”

“Aku tidak mau tahu tentang itu.”

“Baik.”

“Yang lain?”

“Ada jadwal kuliah setelah kencan pada pukul dua siang ini.”

“Hanya itu?”

Ne.”

“Kau bisa pergi.”

Ne?”

Aku menghela nafas jengah. “Hyaa! Apa makanannya masih belum siap?” Aku meneriaki gadis itu.

“Makanannya sudah siap,” jawabnya seraya meletakkan dua piring entah berisi apa ke atas meja.

Aku melirik Manajer Cha kali.ini. “Makananku sudah siap. Kau bisa pergi, Manajer Cha.”

“Tapi….”

“Pukul satu siang masih dua jam lagi. Kau bisa kembali, jika saatnya aku sudah harus pergi. Eo?”

Manajer Cha masih nampak mematung di tempatnya. Dia terlihat sangat bodoh dan aku benci itu.

“Apa kau sedang berharap aku akan membagi makananku denganmu?”

Ne (ya)? A…animnida (tidak), Kim~goon.”

Good. Aku juga tak berniat membaginya. Khojo (enyahlah)!”

*****

# Yunji’s POV

Benar-benar pria yang menyebalkan tanpa ada keraguan bahkan jika itu hanya 0,0000000000001 %! Kupikir ia hanya bersikap tak menyenangkan padaku saja. Tapi rupanya, itu memanglah tabiatnya. Lihat saja bagaimana caranya mengusir Manajernya yang bernasib sial itu! Tanpa ampun sama sekali. Bahkan pria ini makan dengan lahapnya seperti tak pernah memiliki dosa.

“Kau mulai menyukaiku?”

“Apa?”

“Lalu mengapa kau terus memelototiku seperti itu sepanjang hari?”

Aku menggeleng. Astaga! Aku terus saja melupakan betapa tinggi rasa percaya diri pria ini.

“Makanlah!” Ia menyodorkan mangkuk nasi dan sepiring japchai. Lalu, “Aku tak mau kau ditemukan pingsan lagi dan membuatmu memiliki alasan tambahan untuk tinggal lebih lama lagi di sini.”

Aku yang semula nyaris tersentuh atas sikapnya, dengan tulus kunyatakan aku kembali membencinya. Oh, Tuhan! Darahku pasti sedang berada di titik tertinggi sekarang.

“Sepertinya aku datang di saat yang tepat.”

Kepalaku berputar dengan cepat ke arah asal suara. Itu Jung Daehyun! Dia datang. Dia datang! Aku pun berusaha menahan senyumku dengan susah payah karena jujur, aku merasa sangat nyaman dengan kemunculannya ini tapi, aku tak terlalu ingin menunjukkannya.

“Hyaa! Makannya pelan saja!” Daehyun menepuk punggung Sunggyu hingga membuat pria itu menumpahkan lagi isi sendok yang nyaris masuk ke mulutnya ke atas piring. Sunggyu menggeram kesal. “Anyeonghaseyo, Yuna~ssi,” sapa Daehyun dengan senyum lebar yang menawan.

Aku membungkuk dan membalas sapaannya. Sedikit aneh karena ia terus saja memanggilku dengan Yuna. Tapi apa boleh buat. Aku belum bisa mengatakan yang sejujurnya.

“Ini semua kau yang memasak, Yuna~ssi?” Daehyun mencomot japchai yang berada di atas meja tapi malang, dengan segera tangannya ditepis oleh Sunggyu.

“Jangan sentuh makananku!!”

“Apa? Pelit sekali kau ini! Aku’kan hanya minta sedikit.

“Tidak boleh, ya, tidak boleh! Gara-gara kau sering datang, persediaan makananku jadi cepat sekali habis tahu!”

Daehyun mendesis kesal kali ini. Ia hendak menimpali Sunggyu tapi dengan segera mengurungkan niat itu dan memilih untuk menatapku beberapa saat. Lalu beralih menatap sepiring japchai yang kusodorkan padanya. Ia nampak terkejut.

“Untukku?”

Aku mengangguk. Kontan, mata pria itu berbinar indah. Kemarin kuakui, aku memang sempat merasa terganggu dengan kemunculannya tapi di luar itu, aku lebih merasa terganggu dan tak nyaman, saat ia pergi dan meninggalkanku untuk bersama Tuan Kim yang menyebalkan ini semalam.

“Hyaa! Apa-apaan kau ini? Berani-beraninya kau memberikan makananku untuk orang lain tanpa ijin dariku!”

“Makanan ini’kan sudah menjadi milikku.”

“Apa?”

“Bukankah kau mengatakan ini adalah bagianku? Jadi kurasa, tak ada salahnya, jika aku mau membagi ini dengan Daehyun~ssi.”

“Uwaaah! Lihat dirimu! Berani sekali kau melawanku!”

“Ini bagianmu.” Daehyun menyela dan menaruh sepiring japchai ke tanganku lagi. “Kau makan saja ini. Jangan sampai pingsan lagi seperti kemarin! Karena pingsan akibat kelaparan tidak terdengar keren sama sekali, kau tahu?”

Aku tertegun. Pingsan karena kelaparan tidak terdengar keren sama sekali. Apakah ini hanya kebetulan saja bahwa kami memikirkan hal yang sama?

“Lagipula, aku sudah makan. Aku hanya ingin menyicipinya sedikit saja.” Daehyun menjumput japchai dengan tangan dan langsung melahapnya. “Ini benar-benar enak, Yuna-ssi. Sungguh!”

Aku menunduk. Berusaha untuk tak tersenyum tapi berujung dengan mengukir seulas senyum tipis juga.

Sunggyu mengerang dengan keras. “KALIAN MEMBUATKU INGIN MUNTAH!!” teriak Sunggyu tiba-tiba dan beranjak pergi kemudian.

*****

# Dasom’s POV

Benar-benar menakutkan! Mengapa mereka terus mengikutiku? Sampai kapan mereka akan terus membuntutiku seperti ini? Apa mereka tidak lelah terus mengikutiku? Bahkan aku tak menemui Yunji selama beberapa hari ini. Apa yang mereka dapatkan dengan terus menguntitku?

Benar-benar mengganggu! Apa aku harus lari saja? Iya, benar. Kurasa, aku memang harus berlari sekarang. Setidaknya, aku akan merasa lebih aman, jika sudah masuk ke dalam rumah.

Baiklah Jung Dasom. Kau akan berlari dalam hitungan ketiga.

Hana (satu), dul (dua), set (tiga)!!!

Argh! Sial! Mereka juga ikut berlari!! Aku bisa gila! Aku bisa gila!! Seseorang tolong aku!!!

“Tolooooong!!!” teriakku tak tertahankan lagi.

Aku terus berlari beberapa meter jauhnya sampai pada akhirnya, seseorang yang mengendarai scooter berhenti di hadapanku. Ia memerintahkanku untuk naik ke motor itu. Tentu saja, aku langsung menurutinya tanpa banyak pikir lagi. Padahal, wajah orang itu saja aku tak bisa melihatnya. Ia menggunakan kaca mata hitam besar dan masker penutup mulut. Sebentar! Tiba-tiba aku menyesali keputusanku ini. Tiba-tiba aku berpikir, jangan-jangan ia adalah penculik! Jangan-jangan ia adalah byontae (orang mesum)! Jangan-jangan ia adalah salah satu komplotan yang mengejar Yunji dan ingin menyanderaku agar Yunji tak bersembunyi lagi! Oh! Eotokhae?

“Turunkan aku! Turunkan aku!!!!” teriakku seraya menghujani pukulan ke punggung orang itu.

“Akan kulakukan, jika kau memang ingin ditangkap oleh pria-pria menyeramkan itu nona.”

Aku langsung menoleh ke belakang dan mendapati pria-pria menyeramkan itu masih mengejar kami. Wah! Mereka benar-benar paman-paman yang bertenaga besar sekali.

“Tidak! Kumohon, kecepatan penuh!” putusku kemudian.

Dan seperti permintaanku, orang itu mengendarai scooter-nya dengan kecepatan penuh. Ia terus memacu kendaraannya.

*****

“Mengapa orang-orang itu mengejarmu?”

Aku terdiam. Aku tak mampu berkedip begitu orang yang menolongku itu melepas helm, kacamata, dan masker penutup mulutnya. Setelah memacu scooter entah seberapa jauh, ia pun menurunkanku di salah satu halte atas permintaanku dengan pertimbangan bahwa aku sudah benar-benar aman sekarang. Dan yang membuatku tak mampu berkedip adalah pria itu. Rupanya, ia adalah makhluk paling tampan yang pernah aku temui di muka bumi ini. Apa aku berlebihan? Biarkan.

“Kau tak mau menjawabku, nona?”

Aku berkedip kali ini seraya berdeham. Sebenarnya, aku masih mencoba mencari suaraku yang menghilang karena terpesona pada ketampanannya.

“Mereka bukan sedang mengejarku sebenarnya.”

“Lalu?”

“Mereka mengejar temanku. Mereka pikir aku mengetahui di mana temanku bersembunyi. Padahal, aku sama sekali tak tahu dia berada di mana.”

“Teman? Memangnya mengapa mereka mengejar temanmu itu hingga harus mengikutimu?”

“Itu…masalah pribadi.”

Ia mengangguk. Aku menghela nafas lega. Aku memang tak mengharapkan ia bertanya lebih jauh mengenai masalah ini.

“Kalau begitu….”

“Terimaksih. Aku Jung Dasom.” Kuulurkan tangan. Ia meliriknya. Lantas tersenyum padaku. Ya, Tuhan! Ia sungguh tampan. Aku sungguh tak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Aku harus bisa mengenalnya karena aku takkan pernah tahu kapan lagi memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengannya. Kuharap ia….

“Barom. Yoo Barom. Senang berkenalan denganmu Dasom~ssi.”

To Be Continued….

Ampun banget ya buat para readers FF ini yang udah nungguin lamaaaaaaa banget. Semoga ga sampe lumutan 😀

Akhirnya setelah berjuang kalang kabut jadi juga ff ini….

Jujur author kena penyakit writer’s block begitu laptop udah sembuh….

Ini ff pertamaku dengan tema yang lebih dewasa(menurutku) dan lebih kompleks permasalahannya

jadi ya…begitulah

semoga part ini ga ngecewain setelah lama ditunggu (emang ada yang nunggu?)

Anyway…. silahkan tinggalkan komen kalian ya

Diharapkan dengan sangat lhoh…. ^^

Ma’acih…..

19 thoughts on “[FF G] Rose | Chapter 4

  1. Ulala serunya part ini. Meski rasanya kesel & pengen ngelempar sunggyu pake sepatu biar matanya makin mendelep (?). Aaaaa aku kira yg nolongin dasom itu cast baru taunya. . . . Rome huuhuuu. Ditunggu part berikutnya author

    1. Hahahaha…. JANGAN!! Jangan dilempar pake sandal. Lempar pake bibirku aja ya? XD
      Aku pilih Rome biar seru…. kalau tambah cast lagi aduh pusingnya banyak banget cast yang dipak ^^V

  2. akhirnya dateng juga nih kelanjutannya 😀
    Aku lama banget loh thor nungguin kelanjutannya -_-
    Tambah penasaran sama kelanjutannya. 🙂
    Duh…. Sunggyu, sunggyu.
    Gombal banget sih.
    Pake rayu, rayu dasom segala -_-
    Next, next, next 😀

    1. hahahaha maaf ya.. aku nyadar bgt kalo lanjutannya ini emg lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bgt datengnya… hehe
      kan image playboy gyu biar makin kenteeeell gitu 😉

  3. Barom pasti ada maksud tersembunyi tuh deketin Dasom.
    tapi nama mereka hampir sama. kekeke.. jodoh nih jangan-jangan. kekeke
    Tanda-tanda Daehyun mulai suka sama Yunji ini…
    mana karakter Gyu yang player semakin kuat pula. ckckck

      1. Aku awalna ga ngeh juga… tapi lama kelamaan trus ngeh. Kekeke
        Versus yg langka…. oh ayolah… aku mengharapkan yunji ini berakhir sama daehyun. Kekek…
        Masak ga di drama ga di fic tokoh pria kedua yg baikkkk hati kalah sama pria bad boy. Keke
        *digetok*

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s