FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Amber


IMG-20131111-WA000GOODBYE SUMMER

Author : Blankdreamer | Main Cast : Amber F(X) as Amber Liu (OOC), Kris EXO as Kris Wu (OOC)| Length : Oneshot  | Genre : Romance | Cover : DhamalaShobita

 

Author’s Note :

Lagu F(X) Goodbye Summer yang digubah sendiri oleh Amber ini menceritakan kisah cinta yang manis banget sekaligus pahit banget, menurutku. Awalnya agak kesulitan ngegambarinnya, sih

Tapi semoga cerita ini tetap bisa berkesan dan bisa membuat yang membaca  merasakan manis dan pahitnya cerita ini dengan baik seperti lagunya sendiri ^^

FYI Cerita ini menggunakan alur maju-mundur, ya. Jadi yang tercetak miring menceritakan tentang masa lalu. Takut ntar pada bingung aja…. Hehe….

And this is it!

The story begin here….


&&&&&&

 

The friend label is a label that I got to hate

The feelings I’ve hidden still remain as a painful secret memory

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story

I’m sorry, summer, now goodbye….

 

&&&&&&

 

“AMBER LIU! KELUAR DAN BERDIRI DI LUAR KELAS DENGAN SATU KAKI SAMPAI JAM PELAJARAN USAI!”

Saat itu, aku hanya berpikir aku sedang sial tanpa mengetahui bahwa takdir sedang menyusun sebuah pertemuan yang membuat hari itu dan seterusnya akan menjadi hari-hari yang takkan pernah kulupakan dalam hidupku. Bahwa aku pernah mengenalmu.

Aku yang tengah berdiri dengan satu kaki dan menahan kantuk siang itu terkesiap saat pintu kelas sebelah berderit. Seorang anak laki-laki yang diberkati wajah tampan dan postur sempurna muncul dari sana. Ia adalah kau—Kris Wu—murid baru di kelas sebelah yang begitu menarik perhatian seantero sekolah karena berasal dari Kanada dan berwajah tampan serta postur yang benar-benar sempurna. Meskipun begitu, aku tak terlalu mengindahkan hal seperti itu layaknya para siswi lain lakukan. Aku hanya…tidak tertarik padamu sampai hari itu pun tiba.

Aku hanya memperhatikanmu yang kemudian melakukan hal yang sama denganku—berdiri di luar kelas dengan satu kaki dan kedua tangan yang menyilang di depan dada seraya menarik ujung bawah telinga. Aku menahan tawa. Kau sungguh terlihat konyol dengan pose seperti itu. Aku baru tahu bahwa orang tampan juga akan tetap terlihat konyol saat dihukum. Aku pun terus mengamatimu hingga akhirnya kau menoleh dan menemukanku tengah memperhatikanmu—mungkin karena memang kau merasa tengah kuperhatikan. Apapun itu, rasanya tetap sangat memalukan dan menggelikan terpergok seperti itu. Pun segera memalingkan wajah.

“L.A. Lakers….”

Itu suaramu yang kali pertama kudengar. Praktis, aku menoleh dan mendapati kau tengah menatap ke arahku—tepatnya pada pergelangan tanganku yang memakai handband dengan simbol klub basket kesayanganku itu.

“Eottokae arra (bagaimana kau bisa tahu)?” Pertanyaan bodoh. Kau berasal dari Kanada. Tentu saja kau mengetahui klub basket terbaik NBA itu, bukan?

Kau pun beralih menatapku seraya tersenyum. “Aku juga penggemarnya.”

Kontan saja jawabanmu membuatku tak bisa menahan rahangku untuk tidak terbuka kian melebar dengan mata berbinar-binar saat menatapmu. Aku memekik kegirangan.

Saat itu adalah kali pertama kita berbicara dan kali pertama juga aku menemukan seseorang yang menyukai L.A. Lakers di sekolah. Dan siapa sangka, orang itu adalah kau, Kris.

“Apa kau juga menonton pertandingan mereka semalam?”

“Tentu saja. Aku tak pernah melewatkan pertandingan mereka satupun.” Kau menjawabnya dengan penuh kebanggaan.

“Kalau begitu, kau pasti juga melihat bagaimana Kobe Bryant melakukan beberapa slamdunk yang sangat keren itu’kan?”

“Itu adalah slamdunk terbaik yang pernah kulihat. Ia seperti sedang terbang.” Kali ini, kau menggerakkan tanganmu ke atas.

“Tidak tapi, dia memang sedang terbang.”

Kau menjentikkan jari. “Kau benar! Dia memang sedang terbang. Karena itu, Kobe Bryant memang pantas menjadi legenda.”

“Setuju! Oh, ya, minggu depan akan ada pertandingan L.A. Lakers lagi, kau mau kita nonton bersama?”

“Tentu saja. Itu ide yang bagus! Karena sejak aku pindah ke sini, aku selalu menonton sendiri dan itu sangat membosankan.”

“Good!”

“AMBER LIU!”

“KRIS WU!”

“DIAM!”

Aku dan kau pun kontan terdiam begitu mendengar teriakan dari guru kita masing-masing. Lantas kita terkekeh geli bersama. Rupanya tanpa sadar saar itu, kita sudah berbicara dengan suara yang sangat kencang tanpa mengingat bahwa kita tengah dihukum.

Saat itu…hari dimana kita mulai saling mengenal adalah satu hari di musim panas. Kau hadir dalam hidupku tanpa bisa kuelak seperti sinar matahari yang menghangatkan tubuhku di pagi hari.

*****

Mulai hari itu dan seterusnya, aku dan kau pun layaknya si kembar Astro. Meskipun berasal dari keluarga yang berbeda dengan latar kehidupan yang berbeda pula tapi, kita memiliki banyak kesamaan. Bukan kesamaan tempat dan waktu lahir seperti kebanyakan kembar Astro. Melainkan kecocokan yang lebih dari sekedar hal-hal seperti itu. Ada banyak kesamaan yang membuat kita merasa nyaman saat bersama seperti, aku dan kau yang sama-sama bukan berasal dari Korea. Kau berasal dari daratan Cina dan aku dari Taiwan karena itu, kita sama-sama memiliki aksen yang aneh saat menggunakan bahasa Korea. Kita juga sama-sama pernah tinggal di luar negeri—kau di Kanada dan aku di Amerika. Lalu, kita selalu pergi bersama kemanapun itu. Hobi yang sama dan karakter yang serupa tak lantas membawa kita pada satu titik kejenuhan atau bahkan ketidakcocokan ataupun rasa canggung. Semua persamaan itu justru membuat kita saling mengerti satu sama lain, membuat kita saling memahami. Kita layaknya saudara kembar yang memiliki ikatan batin satu sama lain. Bukankah itu terdengar hebat?

Lalu entah sejak kapan, aku mulai merasa ada yang berbeda saat bersamamu. Bukan merasakan kesamaan di antara kita telah memudar tapi, merasakan sesuatu yang lain. Perlahan, aku menyadari bahwa aku tak ingin jauh darimu. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Meski pada kenyataannya, kita nyaris selalu bersama. Bahkan aku selalu ingin menerkam setiap gadis yang mencoba merayumu.

*****

Hari ini adalah hari kelulusan kita dan hari ini juga, aku melihatmu menangis tersedu di atap sekolah. Cukup membuat bibirku kelu karena selama dua tahun bersamamu, aku tak pernah melihat sisi dirimu yang seperti ini. Dan melihatmu menangis seperti itu juga membangkitkan semua kenangan kita selama ini. Kenangan saat dimana kita layaknya dua manusia yang hanya mengenal kata pertemuan tanpa perpisahan tapi yang terjadi sekarang, kita justru dihadapkan pada sesuatu yang tak pernah kita perdulikan itu. Perpisahan.

Apakah sungguh kita akan berpisah Kris?

“Aku tidak sedang menangis. Ada debu yang masuk ke mataku baru saja.”

Aku mendengus sekaligus tertawa pendek. Aku tahu kau sedang berbohong, Kris. Kita terlalu sering bersama untuk bisa menutupi hal bodoh seperti ini tapi, tak ada yang bisa kukatakan sekarang. Aku bisa mengerti bahwa kau terlalu malu, jika harus mengaku telah menangis di hadapan seorang perempuan. Tunggu! Apakah kau pernah menganggapku sebagai seorang perempuan selama dua tahun ini?

“Hari ini, kita lulus. Apa kau merasa lega Amber?”

Aku hanya menggumam tak jelas seraya mengangguk. Lantas, kita hanya terdiam seraya menatap langit biru musim panas di tahun terakhir kebersamaan kita. Entah apa yang kau pikirkan tapi untukku, aku tak merasa lega. Ini adalah hari yang paling kutakutkan. Hari dimana aku harus berpisah denganmu, Kris Wu, karena setelah upacara perpisahan, kau akan segera kembali ke Kanada dan aku akan tetap tinggal di Korea. Ini benar-benar menyakitkan. Sungguh.

Aku pun terkesiap saat kurasakan sentuhan jemarimu pada permukaan telapak tanganku. Kau menggenggamnya kemudian. Hangat tanganmu membuat dadaku justru semakin sesak. Kau menggenggamnya semakin erat. Aku pun terus mengharapkan kau takkan pernah pergi.

“Apa kita bisa bertemu lagi?”

Sekali lagi, aku hanya bisa bergumam tak jelas. Aku terlalu takut aku hanya akan menangis tersedu saat membuka mulut. Aku sungguh tak ingin berpisah darimu, Kris.

“Selamat tinggal, Kris.”

*****

Aku menoyor lengan Kris. Ia menyentuh lengannya itu dan membalas menoyorku. Aku kembali menoyor lengannya dan entah bagaimana, kami jadi saling menoyor lengan sambil terkekeh geli.

“Kapan kita bisa menonton L.A. Lakers bersama lagi?”

“Entahlah. Mungkin saat kau mau mentraktirku untuk menyusulmu.”

Kau tergelak. Hari ini, kau akan segera berangkat ke Kanada. Aku dan yang lainnya turut mengantarmu ke bandara. Sebenarnya, aku sungguh tak ingin datang tapi, memikirkan bahwa aku takkan pernah melihatmu lagi memaksaku untuk datang. Karena aku terlalu tersiksa dengan hanya memikirkan itu saja. Aku pun berharap dengan melihat kepergianmu di ambang mata, aku bisa mengatakan perasaanku yang sangat berharga padamu tapi rupanya kata-kata tepat seperti apa itu, aku pun masih belum menemukannya hingga akhir.

“Amber Liu, kapan kau bisa mengalahkanku di pertandingan basket?”

“Kris Wu, kapan kau bisa mengalahkanku dalam taekwondo?”

Kita tergelak bersama kali ini. Sama persis seperti yang biasa kita lakukan selama ini. Tanganmu pun terulur untuk melepas topiku dan mengacak puncak kepalaku. Aku tak pernah tahu mengapa kau selalu melepas topiku hanya untuk menyentuh puncak kepalaku hingga hari ini. Dan itu pun masih sama. Kau juga memakaikan topi itu lagi padaku dengan posisi terbalik. Ini juga masih seperti biasa.

“Kapan kita akan bertemu lagi?”

Aku terdiam untuk beberapa saat dan begitu aku baru akan membuka mulut, tiba-tiba suara yang menggema di bandara senja ini mengumumkan bahwa pesawat yang kau tumpangi akan segera lepas landas. Aku mendengus seraya tersenyum miris. Aku merasa takdir tak mengijinkanku untuk mengatakan padamu agar kau tetap tinggal di sisiku. Nyali yang sejak tadi kukumpulkan pun sirna begitu saja. Bibirku kelu. Aku hanya mengeratkan rahangku. Akhirnya, aku tak dapat mengatakan apapun selain selamat tinggal padamu.

“Aku benci selamat tinggal.”

Itu adalah kata-kata terakhirmu yang begitu menusukku dan entah apa yang ada di otakku, aku hanya bisa menggumamkan ma’af. Lantas membiarkanmu pergi begitu saja. Membiarkan cerita kita berakhir bahkan sebelum semuanya dimulai.

*****

Aku terus memandang layar notebook yang memampang foto kau dan aku secara bergilir sejak entah berapa lama. Aku tak menghitung dan atau merasa bosan menatapnya. Aku merindukanmu. Foto-foto itu terus membuatku tersenyum bahagia, miris, dan meneteskan air mata mengenang kembali semua waktu yang kita habiskan bersama.

Ada foto dimana kau merangkulku saat aku memenangkan pertandingan taekwondo. Ada foto dimana aku berpura-pura mencekikmu saat kita baru saja bertanding basket bersama. Aku masih ingat, saat itu aku kesal karena kau menipuku sehingga kau yang menang. Ada lagi foto dimana kita saling merangkul dengan latar belakang komidi putar. Hari itu, kita sedang bermain di taman hiburan. Banyak sekali hal yang terjadi di hari itu. Banyak hal yang aku ketahui tentang dirimu saat itu. Bahkan aku masih mengingatnya satu per satu dengan jelas.

Aku pun tertegun saat foto itu kembali muncul. Foto dimana kita saling berpandangan dengan latar belakang laut serta langit musim panas yang berkilauan. Foto yang tanpa sengaja diambil oleh Chanyeol—teman sekelasku—saat festival musim panas tahun lalu.

*****

Aku hanya bisa melihatmu di antara penonton yang menyaksikan festival musim panas terakhir di tahun kebersamaan kita. Sementara saat itu, kau sedang memetik gitar di atas panggung seraya menyanyikan lagu tentang harapan yang indah seperti matahari yang bersinar terang di musim panas. Suara hembusan angin dan deburan ombak pun seakan tak ingin ketinggalan untuk turut mengiringimu. Kau nampak begitu mengagumkan layaknya laut serta langit biru yang berkilauan di musim panas.

Aku beringsut dari keramaian dan memilih untuk duduk di bibir pantai sambil menunggu kedatanganmu begitu pertunjukanmu usai. Lantas, aku menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam. Rasanya benar-benar menyenangkan. Sangat tenang. Dalam hatiku, aku berdo’a bahwa saat seperti itu takkan pernah berakhir. Saat dimana aku selalu bisa menatapmu. Meskipun begitu, perutku masih selalu terasa sakit saat mengingat ucapanmu tentang kau yang akan kembali ke Kanada setelah lulus tapi, aku selalu berusaha tak memikirkannya. Aku yakin kau tetap akan berada di sisiku.

“Aku tak pernah tahu kau secantik ini.” Itu suara Kris.

Aku terkesiap dan membeku karena begitu membuka mata, kau sudah berada di hadapanku dengan wajah yang begitu dekat. Terlalu dekat malah.

Aku tak pernah menyadari apa itu sebelumnya karena kita selalu bersama seperti gelap langit malam yang pekat, Kris tapi hari itu, aku tahu jelas mengapa aku selalu ingin bersamamu, kecanduan menatap wajahmu, dan merasakan sakit perut setiap mengingat kita yang akan terpisah. Itu semua tak lain karena aku mencintaimu. Itu adalah kenyataannya dan itu adalah perasaan yang paling berharga yang pernah kumiliki untukmu, Kris.

Aku menyukaimu.

*****

Seharusnya…, iya, seharusnya hari itu aku tak mengucapkan ma’af padamu. Seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintaimu tapi yang terjadi, aku justru terus saja mengucapkan selamat tinggal dan ma’af padamu. Aku membenci diriku yang seperti itu. Sangat benci. Hingga hari ini pun, aku masih sangat membenci diriku yang tak bisa mengungkapkan rahasia hatiku padamu.

Kris, apakah kau juga memiliki rahasia yang seperti ini?

Meskipun kita selalu bersama dan memiliki banyak persamaan, ini adalah satu-satunya persamaan yang tak pernah kusuka di antara kita—kita yang tak pernah membicarakan mengenai perasaan masing-masing. Tidak satupun cerita mengenai perasaan yang berharga semacam ini.

Apakah ada orang yang juga kau sukai Kris?

Andai saja saat itu aku bisa mengatakan padamu, mungkin saat ini aku telah memelukmu. Aku sudah berada di dalam rengkuhan kedua lenganmu. Mungkin…. Tapi kini, semuanya hanya tinggal mungkin….

*****

Tenggorokanku mendadak terasa sangat sesak. Perutku sakit. Dadaku nyeri. Pun terisak. Aku benci. Tiba-tiba, aku benar-benar membenci hari itu. Aku juga benci hari ini. Aku sangat-sangat benci. Mengapa foto-foto ini hanya berakhir menjadi tumpukan cerita masa lalu yang tak memiliki masa depan?

Aku juga mendadak merasa sangat membenci persahabatan yang dulu sangat kubanggakan itu. Aku benci. Sangat-sangat benci karena hubungan atas nama persahabatan itu tak mampu membuatku mengatakan perasaanku yang sejujurnya padamu. Tidak pernah hingga akhirnya kau benar-benar pergi, Kris.

Aku benci cerita ini. Aku benci karena selalu saja terkenang perasaan yang tersembunyi ini. Aku benci persahabatan ini. Aku benci musim panas yang selalu penuh dengan kenangan kita. Benci pada cerita yang hanya menyisakan air mata penyesalan untukku. Membuat jantungku remuk redam. Sakit….

Sungguh ma’afkan aku, Kris…. Ma’af untuk semuanya…. Ma’af karena telah membenci tentang kita….

Dan sekarang, musim panas tahun itu….

Musim panas setahun yang lalu….

Juga musim panas tahun ini….

Sekarang saatnya untukku benar-benar mengucapkan, “Selamat Tinggal….”.

*****

Dan semua foto yang tersimpan di dalam notebook itu pun terhapus….

*****

The friend label is a label that I got to hate
A heartbreaking story, I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

FIN

 

Bagi Krisber shipper dan juga siapapun yang udah baca ini maaf banget ya kalau feelnya ga dapet ataupun karakter yang ga sesuai…. Karena krakternya OOC ya….

Semoga tetap berkenan….

Thanks….

Jangan lupa masukannya, ya… ^^

Advertisements

64 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Amber

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s