FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Krystal


gangstaBEAUTY AND THE BEAST

Author : beedragon | Casts : Krystal F(x) as Jung Soojung, Kai EXO as Kim Jongin |Genre : Romance | Length : Oneshot | Rating : General | Theme Song : F(x) – Gangsta Boy

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader.

Wild Thing my only Gangsta. You’re cool. I’ve melted because of your amazing smile. Can I love you, My Gangsta Boy.

.

.

.

.

.

.

Tidak apa-apa ‘kan walau aku adalah gangster,  preman atau apapun itu sebutan kalian terhadapku. Tapi aku mau kamu menjadi pacarku. Apa kamu mau? Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Lagipula preman-preman kemarin sepertinya tidak akan kembali mencarimu karena mengira kamu adalah kekasihku. Harusnya memang aku tidak menyelamatkanmu malam itu. Jadi, apa kamu mau jadi pacarku?

 

 

Jung Soojung tahu, itu hanya ancaman seorang Kim Jongin agar Soojung menerimanya menjadi kekasihnya. Dan bodohnya Soojung, ia menerima tawaran pemuda itu –bukan karena takut.

Promised, punk, the shining dive
You make problems with your terrorist acts
Being mediocre is a No
But being together is OK
Wild Thing my only Gangsta

Dua bulan sudah Soojung ‘berpacaran’ dengan Kim Jongin. Bisa dibilang mereka seperti dua sisi koin yang saling bertolak belakang. Jung Soojung merupakan siswi teladan di sekolah mereka dan ia selalu mendapatkan peringkat pertama di antara murid-murid seangkatannya. Sedangkan Kim Jongin merupakan siswa ternakal di sekolah mereka dan ia selalu membuat masalah atau mencari masalah. Jika Jung Soojung adalah putri dengan segala kebaikan maka Kim Jongin adalah seorang gangster dengan perilaku yang buruk.

Awal mula mereka bisa menjadi sepasang kekasih adalah ketika Jongin menyelamatkan Soojung dari preman-preman –atau murid dari sekolah lain yang bertingkah layaknya preman– yang mengganggunya. Setelah kejadian itu, Soojung mengikuti Jongin untuk berterima kasih padanya. Tapi Jongin salah paham. Ia mengira Soojung menyukainya. Hingga akhirnya mereka jadi sepasang kekasih seperti sekarang ini.

Soojung tidak tahu kenapa ia tidak menolak ajakan Jongin waktu itu. Soojung bahkan tak tahu apa-apa mengenai Jongin. Yang Soojung tahu adalah Jongin seorang pimpinan gangster di sekolahnya. Walaupun mereka berdua sekelas, tapi Soojung hampir tidak pernah berbicara dengan Jongin –teman sekelasnya pun tidak pernah berbicara dengan Jongin. Karenanya kata penolakan itu tak pernah keluar dari mulut Soojung. Bukan karena Soojung takut. Tapi karena ada sesuatu di diri Jongin yang membuat Soojung selalu tertarik untuk mempelajarinya.

Padahal Soojung sering melihat langsung bagaimana Jongin mengancam junior-junior mereka di sekolah maupun di luar sekolah. Soojung juga suka melihat ada luka baru di tangan ataupun wajah Jongin, yang Soojung yakini akibat dari berkelahi. Tapi Soojung tak berniat meminta putus dari Jongin. Lagipula Jongin tidak pernah melakukan hal-hal jahat pada Soojung. Karena ketika mereka sedang bersama, Jongin adalah pemuda termanis yang pernah Soojung temui.

“Kita mau kemana sore ini, Jung?” tanya Jongin.

Keduanya baru saja pulang sekolah. Dan seperti hari-hari biasanya, sepulang sekolah mereka pasti akan bermain dulu ke suatu tempat sebelum pulang  ke rumah.  Biasanya mereka akan pergi ke game center atau ke internet cafe. Tapi Soojung sudah sangat bosan pergi ke tempat-tempat itu.

“Hei, Jung,” tegur Jongin ketika Soojung tak kunjung mengeluarkan suaranya.

Soojung yang sedari tadi memikirkan akan pergi kemana mereka kali ini, menoleh ke arah Jongin. Pemuda itu masih berjalan di sampingnya sambil menatap lurus ke depan dan Soojung sangat mengagumi figur Jongin dari sisi ini. Jongin bukanlah pemuda yang tampan, dia tidak masuk dalam kategori tampan menurut Soojung. Tapi Jongin memiliki karisma dan itulah yang membuat Soojung selalu mengaguminya.

Masih sambil menatap lurus ke depan Jongin sudah mengulurkan tangannya pada Soojung. “Ini sudah jauh dari lingkungan sekolah, Jung,” katanya. Dan Jongin pun menoleh untuk menunjukkan senyumannya pada Soojung.

Soojung mengerti maksud Jongin. Ia pun menyambut tangan Jongin dan dengan seketika jarak di antara mereka yang cukup kentara tadinya kini sudah terhapus karena Jongin sudah menarik Soojung ke sisinya. Kembali Soojung merasa seperti ada sengatan listrik berkekuatan rendah ketika ia bersentuhan dengan Jongin dan Soojung menyukai sensasi itu. Soojung memandangi tangan mereka yang saling bertautan sambil mengulas senyum tipis.

Soojung dan Jongin memang sepakat untuk tidak menunjukkan hubungan mereka. Karenanya mereka tetap bersikap seperti biasa, seperti tidak pernah mengenal satu sama lain ketika berada di sekolah. Pulang sekolah pun mereka selalu menciptakan jarak –keduanya tidak akan berdekatan dengan jarak di bawah satu meter. Itu Soojung lakukan agar teman-temannya tidak menghakimi Jongin jika mereka tahu kalau Soojung memiliki hubungan spesial dengan Jongin. Karena Soojung tahu persis, betapa teman-temannya membenci Jongin.

 

 

Tapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya.

I open my report card, my face went hot
My dad keeps glancing, I become more scared
The disappointing screams from my mother were scary
But I don’t care

Hari ini adalah hari pembagian hasil ujian tengah semester. Soojung sudah harap-harap cemas, karena ia yakin nilainya turun drastis. Soojung tidak pernah belajar dengan baik sejak ia berpacaran dengan Jongin. Soojung bukannya menyalahkan Jongin atas turunnya nilai pelajarannya. Tapi sejak bersama Jongin, Soojung lebih banyak menghabiskan waktunya di luar dibandingkan belajar. Soojung juga sering membolos les tambahan atau kelas tambahan. Karenanya Soojung yakin kalau nilainya pasti turun.

Apalagi wajah ayahnya kini sudah merah padam begitu Soojung menunjukkan kartu laporan hasil ujiannya. Soojung yakin ayahnya akan marah besar.

“Apa-apaan ini?!! C?!! Kamu dapat nilai C untuk semua mata pelajaran?!! Apa saja yang kamu lakukan di sekolah, Soojung?!! Bagaimana bisa kamu mendapat nilai C!!!” bentak ayahnya.

Ibu Soojung duduk di samping ayahnya langsung meraih kartu laporan Soojung untuk melihat nilainya. Dan hasilnya adalah ibunya menangis. Bagi orangtua Soojung, jika Soojung tidak mendapat nilai A maka itu adalah kiamat untuk mereka.

Ayahnya kini sudah marah-marah dan membentak Soojung. Tapi Soojung tak peduli. Walaupun nilainya turun, tapi ia tak pernah merasa sebahagia ini. Selama ini Soojung selalu tertekan karena harus belajar dan belajar. Tapi sejak bertemu Jongin, Soojung jadi belajar caranya bersenang-senang. Sekolah tak pernah semenyenangkan ini sejak Soojung berpacaran dengan Jongin.

Tapi masalahnya bukan hanya orangtua Soojung yang marah karena nilai Soojung yang menurun. Karena ini hanyalah awal dari rintangan yang harus dijalani Soojung bersama Jongin.

My brother came to warn you
If he bumps into you again, One Two Punch, you’re dead meat
Even if my friends went against it and yell at me
I’ll still go out to meet you anyway

“Soojung, apa kamu tahu?” ujar Choi Jinri, sahabat Soojung sejak ia memasuki sekolah ini.

Soojung menoleh, berusaha untuk peduli dengan gosip apa yang akan Jinri ceritakan kali ini. Sahabatnya yang satu ini memang senang sekali bergosip. Dan Soojung tahu mengenai rumor kalau Jongin adalah seorang gangster itu dari Jinri.

“Kim Jongin itu habis terlibat perkelahian antara siswa Hanlim dengan siswa dari Sungwon. Dia yang memimpin pasukan dari Hanlim. Dan kamu tahu? Mereka mengalahkan anak-anak dari Sungwon. Padahal ‘kan kamu tahu kalau murid-murid dari Sungwon itu badannya atletis semua. Dan Jongin berhasil mengalahkannya,” cerita Jinri antusias.

Soojung memandangi Jinri takjub. Jinri bahkan tidak berniat menurunkan suara nyaringnya, padahal Jongin ada di sudut kelas dan tertidur. Soojung melirik ke meja Jongin untuk melihat reaksinya. Tapi sepertinya Jongin sedang berada jauh di alam mimpi.

“Dan apa kamu tahu? Kim Jongin kembali mematahkan hati seorang siswi.” Ucapan Jinri ini membuat Soojung tertarik. Soojung tahu kalau Jongin cukup populer di kalangan para siswi –walaupun semuanya tahu kalau Jongin adalah anak nakal. Kali ini Soojung bertanya-tanya, siapa perempuan yang berani menyatakan perasaannya pada Kim Jongin –tapi Soojung lebih penasaran lagi akan reaksi Jongin.

“Siswi dari kelas dua, namanya Kim Namju atau Namja? Hahahaha,” ujar Jinri geli. “Anak itu bahkan belum selesai menyatakan perasaannya dan Jongin sudah lebih dulu menolaknya. ‘Pergi dari hadapanku’, katanya. Kudengar siswi itu masih suka menangis di toilet sekolah.”

Soojung mengulas senyum tipis di wajahnya. Walaupun ia kasihan terhadap siswi itu tapi Soojung senang karena Jongin menolaknya. Belumlah puas Soojung merasakan euforia di hatinya akibat berita itu, terdengar pintu kelasnya dibanting dengan begitu keras sehingga membuat semua yang ada di kelasnya terdiam karena kaget. Soojung melihat Bae Sujie –salah satu sahabat Soojung juga –kini sudah memasuki kelas dengan begitu geramnya. Soojung tak tahu apa yang membuat Sujie tampak begitu marah, tapi sepertinya itu sesuatu yang berhubungan dengan Soojung –Sujie tak lepas menatap Soojung geram.

“Katakan kalau apa yang kulihat ini tak benar. Katakan kalau apa yang aku pikirkan mengenai ini tidak benar!” seru Sujie geram.

Sujie sudah menunjukkan ponselnya ke hadapan Soojung. Walaupun Soojung bingung, tapi ia tetap mengambil ponsel itu untuk melihat apa penyebab dari kemarahan Sujie. Soojung hanya bisa terpaku melihat gambar di ponsel Sujie. Itu adalah foto dirinya saat bersama Jongin dan yang terpenting dari foto itu adalah mereka sedang tertawa lepas sambil bergandengan tangan. Soojung kaget bukan main. Bagaimana Sujie bisa menemukan foto dirinya dengan Jongin?

Jinri sudah merebut ponsel Sujie dari tangan Soojung, karena ia penasaran akan gambar apa yang membuat Sujie jadi begitu marahnya dan Soojung begitu tampak terkejutnya. Jinri pun memekik tertahan melihat foto itu.

Omo (astaga)! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu dan Jongin bergandengan tangan?!!” seru Jinri.

Kepala Soojung sudah tertunduk dalam-dalam. Ia melirik ke arah bangku Jongin dari sudut matanya. Jongin tampak tak bergerak dari tidurnya.

“Ayahmu menyuruhku untuk mengawasimu karena nilaimu turun drastis. Makanya kemarin aku bolos ikut les tambahan untuk mengikutimu. Pantas saja kamu tak pernah ikut les atau kelas tambahan. Soojung, apa kamu-,” Sujie tak melanjutkan ucapannya. Ia sudah menarik napas dalam-dalam untuk meredam amarahnya.

“Soojung, kamu pacaran dengan Jongin!!” seru Jinri. Itu bahkan bukan sebuah pertanyaan bagi Soojung, lebih seperti sebuah tuduhan.

Belum sempat Soojung melakukan pembelaan, Sujie dan Jinri sudah meninggalkannya untuk menghampiri meja Jongin. Sujie menendang bangku Jongin –untuk situasi seperti ini mereka tampaknya tidak takut akan fakta kalau Jongin adalah siswa nakal.

“Yah! Bangun!” seru Jinri.

Jongin tampak mengangkat kepalanya untuk melirik dua tamunya. Jongin sudah menatap mereka malas. Tapi ia akhirnya membenarkan posisi duduknya untuk setidaknya mendengarkan apa yang ingin mereka katakan.

“Jauhi Soojung!” perintah Sujie. “Gara-gara kamu nilai Soojung jadi turun! Kamu sudah meracuni pikirannya. Cari perempuan lain yang bisa kamu permainkan. Dan perempuan itu bukan Soojung!!”

Jongin tampak menguap lebar-lebar. Ia sudah merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat posisi tidurnya yang tidak nyaman tadi. Jongin kini sudah berdiri tegak dan melirik Sujie dan Jinri kesal. Melihat Jongin yang seperti ini mau tak mau membuat Sujie dan Jinri jadi ciut. Mereka mundur satu langkah menjauhi meja Jongin.

“Bukan urusanmu,” desis Jongin dengan suara yang sangat rendah.

Jongin kemudian keluar kelas setelah sebelumnya menendang mejanya untuk melampiaskan kekesalannya serta membanting pintu kelas. Seisi kelas pun terdiam melihatnya.

Dan Soojung tahu persis kalau Jongin sedang marah saat ini.

.

“Kamu masih kesal?” tanya Soojung pada Jongin ketika mereka dalam perjalanan pulang.

Keduanya memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, mengingat mood Jongin sedang buruk saat ini. Tadi siang saja Jongin habis melampiaskan kekesalannya pada salah satu siswa kelas dua yang malang. Jika Soojung tidak melerainya mungkin Jongin benar-benar akan memukuli anak itu sampai rasa kesalnya hilang. Karena kejadian tersebut Jongin mendapat hukuman untuk membersihkan halaman sekolah oleh wali kelas mereka. Soojung tentu saja membantunya.

“Bukankah sudah kubilang, tidak baik menggunakan tangan ini untuk kekerasan,” ujar Soojung sambil mengangkat tangan mereka saling bertautan. Soojung menggenggam erat tangan Jongin tersebut untuk menenangkannya. “Mereka hanya kaget, jadi ucapan mereka tadi jangan dimasukkan ke hati ya.”

Jongin menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Soojung. Baru saja Jongin akan menarik Soojung ke dalam pelukannya, tapi seseorang sudah lebih dulu menarik tangan Soojung dan menjauhkannya dari Jongin.

“Jung Soojung! Apa-apaan ini?!!” Jung Sooyeon, kakak Soojung kini sudah berdiri di hadapannya.

Soojung pikir tamatlah sudah riwayatnya. Meskipun sahabat-sahabatnya berjanji tidak akan mengadukan hubungan Soojung ini ke orangtuanya, tapi lain halnya dengan kakaknya. Soojung yakin, kalau kakaknya pasti akan mengadukannya pada ayahnya.

“Jadi ini yang membuatmu sering bolos kelas tambahan?! Apa sekarang kamu berpacaran dengan anak ini?” seru Sooyeon.

Sooyeon kini menghadap Jongin dan mengacungkan telunjuk lentiknya pada Jongin. “Yah, aku tidak tahu siapa kamu. Tapi kamu sudah membuat adikku jadi malas belajar. Jauhi Soojung. Jika tidak maka akan kupatahkan lehermu,” ancam Sooyeon.

Soojung sudah menarik lengan Sooyeon dan berusaha melerai mereka. Soojung tak ingin mood Jongin makin buruk dengan ancaman baru dari kakaknya ini. Bisa-bisa pulang dari sini, Jongin akan terlibat perkelahian di suatu tempat.

“Bagaimana caramu mematahkan leherku? Dilihat dari tanganmu, sepertinya mematahkan leher burung saja kamu tidak bisa, Noona,” ujar Jongin datar.

Sungguh, Soojung ingin mengubur dirinya saat ini juga. Jongin mengebarkan bendera perang dengan Sooyeon dan itu adalah pertanda buruk bagi masa depan Soojung dengan Jongin nantinya. Karena Soojung tahu, kakak perempuannya yang satu ini tidak akan melepaskan Jongin begitu saja.

Mwo (apa) ? Apa katamu?! Bukan aku yang akan mematahkan lehermu! Tapi Dongwook Oppa! Jadi jauhi adikku!!” Sooyeon lalu menarik Soojung untuk pergi bersamanya, memaksa Soojung masuk ke dalam mobil kekasihnya, Lee Dongwook.

You have an unstable personality, you say bad words
You don’t think much, and act however
Although I seem scared, in my eyes you’re still cute
Can I love you, My Gangsta Boy

Walaupun semua ancaman sudah dilancarkan sahabat-sahabat Soojung serta kakaknya, tapi Soojung tak berniat untuk menjauhi Jongin. Ia tetap pergi dengan Jongin. Justru Jongin yang tidak ingin pergi dengannya.

“Kamu pergilah dan ikuti semua kelas tambahan itu serta les-les yang biasa kamu jalani,” ujar Jongin pada suatu saat.

Soojung tentu saja tidak terima akan suruhan Jongin itu. Tidak bersama Jongin itu sama saja dengan kebosanan yang tiada akhir. Bagaimana bisa Jongin menyuruhnya untuk kembali pada dunia membosankan yang memiliki nama ‘belajar’? Soojung tentu saja menolaknya.

“Aku hanya tak ingin orang-orang bicara buruk tentangmu, Jung. Aku tidak suka melihat mereka membentakmu seperti itu. Jadi kamu turuti saja kemauan mereka. Aku akan menunggumu sampai kamu selesai dan kita akan pulang bersama. Bagaimana?”

Soojung pikir Jongin hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi ternyata Jongin memikirkan kepentingan Soojung. Ia sungguh terharu dibuatnya. Melihat Jongin mau memperjuangkan hubungan mereka, membuat Soojung yakin akan perasaan Jongin terhadapnya.

“Kalau nilaiku berhasil naik, apa kamu mau memberiku hadiah?” tanya Soojung.

“Apapun yang kamu mau,” sahut Jongin. “Ahh, aku akan memberikan sesuatu yang tidak pernah kamu dapatkan. Dan itu adalah sesuatu yang kamu suka. Bagaimana?”

Soojung setuju dengan ide Jongin. Ia pikir tak ada salahnya mengurangi waktu bermainnya dengan Jongin. Karena ia pasti akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari pengorbanannya ini.

Gangster Monster No
You’re my only mister
In my eyes, you’re just a cute hamster
You’re cool
I’ve melted because of your amazing smile
Because of you, I’m going crazy these days

Ujian akhir semester baru saja selesai dan seisi kelas Soojung ramai membahas apa saja jawaban dari soal-soal yang tadi mereka kerjakan. Soojung sendiri sudah tidak peduli jawabannya benar semua atau tidak. Yang ia khawatirkan sekarang adalah apakah ia berhasil mendapatkan nilai yang baik untuk laporan hasil ujiannya nanti. Soojung tak ingin mendapatkan omelan ayahnya lagi. Selain itu ayahnya juga sudah berjanji kalau ia akan mengijinkan Soojung ‘bermain’ dengan Jongin jika ia mendapat nilai sempurna.

Soojung kini sudah menenggelamkan kepalanya di meja. Jinri, yang duduk di hadapan Soojung, hanya bisa memandanginya iba. Jinri dan Sujie sempat menginterogasi Soojung akan sedalam apa perasaannya terhadap Jongin dan jawabannya sungguh mengejutkan. ‘Aku tak pernah merasa sebahagia itu sejak aku bersamanya,’ kata Soojung. Walaupun kedua sahabatnya itu tidak setuju dengan hubungan Soojung dan Jongin, tapi begitu mendengar jawaban Soojung itu membuat mereka mengalah dan tidak lagi menentang Soojung secara terang-terangan.

“Memangnya ada yang tidak bisa kamu jawab tadi? Bukannya semua soal yang keluar itu adalah hal-hal yang sudah kita pelajari bersama. Pasti kamu menjawabnya dengan benar, Soojung,” hibur Jinri.

Seisi kelas kini sudah hening dan semua mata menatap ke arah meja Soojung. Bukan karena ucapan Jinri tadi, tapi karena Jongin kini sudah menghampiri meja Soojung. Jongin terang-terangan menghampiri meja Soojung dan berdiri di sampingnya. Jongin tampak mengulurkan tangannya dan mulai membelai rambut Soojung, sebagai bentuk ungkapannya atas kerja keras Soojung.

Jinri hanya mematung melihat Jongin membelai kepala Soojung, sementara Soojung sendiri tampak tidak mengangkat kepalanya –mungkin ia pikir itu adalah salah satu usaha Jinri untuk menenangkannya. Jinri makin kaku karena kini Jongin sudah menatapnya tajam, seolah menyuruhnya untuk terus bicara.

“Uhh… ahh.. umm.. itu.. kamu tenang saja Soojung. Kamu sudah berusaha keras. Nilaimu pasti bagus,” ujar Jinri takut-takut.

Jongin memicingkan matanya pada Jinri. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melemparkannya pada Jinri. Sebuah susu kotak. Jongin lalu memberi isyarat pada Jinri untuk memberikan susu itu pada Soojung. Kemudian Jongin pun meninggalkan mereka untuk keluar kelas.

Ketika ia merasakan sudah tidak ada lagi tangan yang membelai kepalanya, Soojung pun mengangkat kepalanya. Soojung melihat teman-teman sekelasnya menatapnya takjub serta Jinri yang tampak terpaku seolah ia habis melihat hantu.

“Ada apa?” tanya Soojung.

Jinri tidak menjawab, melainkan ia melemparkan susu kotak pemberian Jongin pada Soojung seraya berkata, “minum itu maka kamu akan sukses.”

People who have never experienced it would never understand
I see love through my heart

Dan pengumuman hasil ujian pun tiba.

Soojung sudah berdiri di belakang kerumunan anak-anak yang memenuhi papan pengumuman. Soojung menggenggam kedua tangannya seraya berdoa semoga hasil terbaik yang keluar. Jongin berdiri di belakang Soojung dan memegangi pundak Soojung, berusaha meyakinkannya kalau semua pasti baik-baik saja. Jongin pun perlahan mendorong Soojung maju untuk menerobos kerumunan siswa itu.

Soojung kini tiba di depan papan pengumuman. Ia masih menutup matanya dan belum mau melihat hasil ujiannya.

“Jung, buka matamu. Coba lihat, namamu ada di atas,” bisik Jongin.

Soojung pun membuka matanya dan langsung menoleh ke bagian atas papan pengumuman. Soojung melihat namanya ada di nomor dua. Meskipun tidak mendapat peringkat pertama untuk angkatannya, tapi Soojung merasa senang. Karena jika ia berhasil mendapat peringkat ke dua, itu artinya nilainya sempurna dan itu artinya semua akan berjalan baik mulai hari ini. Dan itu artinya…

“Hadiah,” ujar Soojung yang sudah berbalik menghadap Jongin. “Mana hadiahku, Jong?”

Soojung menadahkan kedua tangannya di hadapan Jongin. Ia sudah tersenyum lebar –akhirnya Soojung bisa kembali tersenyum– pada Jongin. Soojung menatap pemuda itu penuh harap, mengantisipasi benda apa yang akan diberikan Jongin padanya.

“Tutup matamu,” titah Jongin.

Soojung pun menurut. Ia sudah menutup matanya dengan tak lepas terus mengumbar senyum bahagianya. Ia merasakan Jongin kembali memegangi pundaknya. Tapi ia tak merasakan sesuatu di tangannya, melainkan sesuatu yang lembut, lembab, dan hangat sudah bersentuhan dengan keningnya. Selain itu Soojung juga merasakan ada hembusan napas di atas keningnya. Soojung pun membuka matanya. Betapa terkejutnya ia begitu mengetahui kalau Jongin baru saja mengecup keningnya. Dan yang lebih membuat Soojung panik adalah Jongin mengecupnya di hadapan siswa-siswi yang sedang memenuhi area papan pengumuman –mereka semua tampak terpaku melihat aksi Jongin tersebut.

“J-Jong…” kaget Soojung.

Jongin sudah melepaskan dirinya dari Soojung dan menatapnya intens. “Chukahae (selamat),” bisik Jongin tulus sambil tersenyum.

Sungguh, ketika Jongin tersenyum seperti ini, dia adalah makhluk paling manis yang pernah Soojung temui. Entah kenapa kali ini Jongin terlihat sangat tampan di mata Soojung. Dan Soojung menyukainya. Akhirnya Soojung tahu kenapa ia tak pernah menolak Jongin. Ini semua karena Soojung menyukainya.

Soojung menyukai Jongin.

“Apa yang kalian lihat?! Apa tidak ada hal lain yang lebih berguna untuk kalian kerjakan? Atau kalian mau aku hajar?!” bentak Jongin ketika melihat semua siswa masih menatapnya. Seketika kerumunan itu pun kembali pada aktivitas mereka.

Ya, walaupun Jongin memiliki kepribadian yang mudah meledak, selalu berkata kasar terhadap orang-orang di sekitarnya, tidak pernah berpikir panjang dan hanya mengandalkan tinjunya, tapi bagi Soojung, Jongin adalah pria manis yang mampu meluluhkan hatinya.

Soojung pun berlari mengejar Jongin yang sudah meninggalkan kerumunan. Ia lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Jongin dan memeluknya. Jongin bahkan tidak berniat membungkukkan badannya untuk membuat Soojung berada di posisi nyaman, sehingga Soojung harus berjinjit agar ia tetap bisa menggantungkan dirinya seperti itu. Dan Soojung pun berbisik pada Jongin.

Gomawo, my gangsta boy. For me, you are my prince. Jong Prince. (terima kasih, pria gangsterku. Untukku kamu adalah pangeran. Pangeran Jong.)”

.

.

.

logo1

FFKPI Songfict Project – F(x)’s Krystal

안녕!

Beedragon brand new project!! ooops…

tadinya mau jadi another project di beedragon planet.. tp berhubung FFKPI tercinta mengadakan project baru, jadi ga ada salahnya kalo bee terbitin duluan disini.. cerita aslinya sih tidak dalam bentuk oneshot begini, tapi bee ringkas biar bisa dpt oneshot.. nanti akan ada versi panjangnya. but only in beeplanet..

tapi sepertinya ini ceritanya gak nyambung sama lagunya.. hmmm yasudahlah yaaa…

Byeom!! 안녕!! 뿅! 아우~~~

beedragon_art all right reserved

Advertisements

55 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Krystal

  1. Eonni! Kkk~ maap baru nongol. Seru ya ceritanya. Dapet banget lah sama feel lagunya. Aku jadi suka sama lagu ini padahal baru pertama kali denger >..< simple, sweet, and cute. :3 walaupun gak ada kata ‘love’ secara terang-terangan atau cheesy words lainnya tapi bisa digambarin lewat tindakan mereka dan aku lebih suka yang kayak gini. Hnggg….. iri bgt, bikin aku senyum-senyum sendiri.
    Daebak eonni b^^d

  2. aauuuwww
    aduuuh manisnya ga ketolong nih fanfic
    aku suka fanfic yg super fluff kayak gini
    alur ceritanya pas. konfliknya jelas
    nice fanfic author-nim

    jongin itu tipe soojung banget. bad boy. sedangkan jessica melarang soojung suka sm badboy. this like real

    1. Hehehe.. versi seriesnya lebih manis lagi loooh..
      Aku waktu nyari karakter buat songfict ini ya langsung kepikiran mereka aja gt. Abis kayanya mereka cocok banget.. Hehe
      Makasii ya udah mampir

      1. Ada seriesnya? Jinjjayo?
        Boleh mnta linknya yongbee-ssi
        Iya mereka cocok banget. Soojung yg dingin agak manja-manja gimana sm Jongin yg dr muka keliatan badboy tp aslinya baik banget. Mana romantis pula jongin disini

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s