FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Luna


CALLING OUT

Author : haruhi – Haruhi’s Neverland | Casts : Luna f(x) as Park Sun Young, Sungmin Super Junior as Lee Sung Min | Genre : Romance, Au, Angst | Length : Oneshot | Rating : General | Theme Song : F(x) – Calling Out | Cover : Beedragon

Disclaimer : Cerita ini asli buatan Haruhi! Castnya milik fans f(x), lagu Calling Out milik song writter-nya, english translate dan lirik lagunya dari amazesing@youtube, (!) Plagiarism is STRICTLY PROHIBITED! Please don’t copy-paste without permission and credit.

Author’s Note : Annyeonghaseo…. ^^ Ini postingan pertama aku di FFKPI sebagai florist setelah sebelumnya melalui masa trainee yang panjang *usap air mata*. Makasih banyak buat seluruh florist dan gardener FFKPI untuk semua masukan yang menyertai ide buat bikin FF ini~ ^__^

Anyway, Songfic ini diambil dari lagu Calling Out yang dinyanyiin Krystal dan Luna yang juga jadi OST. Cinderella’s Stepsister.

Oke! Sekian sambutannya….!! Enjoy reading! ^^

**

Do you ever feel so lonely and lost hope?

Do you ever call out someone whom never comes?

Really, it hurts.

 

.

.

.

.

AUTHOR POV

Dering yang berasal dari ponsel Sun Young membuat gadis itu terjaga dari lelapnya. Dengan berat, Sun Young membuka mata. Pemandangan jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi ia sambut dengan decisan. Ia meraba-raba meja di samping kasurnya, mengambil benda yang sejak tadi berdering itu.

Sun Young bangkit untuk duduk di sisi kasur. Sebaris pesan yang muncul di layar ponsel lantas membuatnya menarik senyum.

From: Lee Sungmin

Happy 1st year anniversary, my dear! D-7 to our wedding! Setelah kau membaca pesan ini, aku akan sampai di rumahmu dalam beberapa menit. Happy Sunday, my sweet Luna, See a!

Sun Young mengembangkan senyumnya lebih ceria. Ia tahu, Sungmin pasti sedang menuju ke rumahnya dengan sepeda. Seperti biasa, Sungmin sangat suka bersepeda pagi. Kebiasaan itu pula yang mempertemukan Sun Young dengan Sungmin dua tahun lalu. Di sebuah taman, dengan dedaunan kering berjatuhan dan tersebar di tepi jalan. Sebuah pertemuan yang senantiasa terekam kuat dalam memori Sun Young.

Sun Young yang telah berpakaian rapi menghambur ke luar kamar, menuruni anak tangga menuju dapur. Ia langsung mendekati lemari es dan membukanya.

“Sungmin pasti akan terkejut!” gumamnya lalu mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari es.

*

“Krys, kau yakin tidak apa-apa? Kita meninggalkan Sun Young sendiri di rumah!” pekik Jin Ri sambil mengejar langkah Krystal. Mereka sedang menyusuri tepi jalan di kawasan pertokoan Yongsan. Deru mobil yang melintas dan suara percakapan para pejalan kaki yang berpapasan membuat Jin Ri harus memperkeras suaranya.

Krystal memiringkan kepala, sibuk berpikir. Sementara kakinya tak berhenti melangkah. “Tidak apa-apa. Kita hanya keluar sebentar. Lagipula aku jenuh! Kita butuh hiburan Jin Ri-ya.”

“Tapi… Krys…” Jin Ri nyaris menyentuh pundak Krystal dari belakang. Ia menghentikan langkah sambil menggigit bibir, lalu kembali mengejar Krystal.

“Krys, aku harap kita tidak lama. Kau ingat kan, sepenting apa hari ini bagi Sun Young?”

Krystal memperlambat langkahnya hingga kini ia berdiri berhadapan dengan Jin Ri. Hening sejenak. Ia menatap Jin Ri dengan dahi mengeryit.

“Kau benar.” ucapnya lalu menunduk. Ia lantas tersentak saat Jin Ri memegang lengannya tiba-tiba.

“Firasatku buruk, Krys. Kita harus kembali!” Jin Ri menatap Krystal cemas.

*

Sun Young menaruh dua piring pancake panas di atas meja dengan hati-hati. Tepat pada saat itu, terdengar bunyi bel dari ruang tamu.

Chagi-yaa~ masih tidur?” sapa seseorang dengan suara khasnya. Sun Young tahu persis pemilik suara itu adalah Sungmin.

Sun Young menghambur ceria ke arah pintu masuk. Sementara Sungmin membuat keributan dengan berseru ‘Chagiyaa’, ‘Sun Youngie’ atau ‘Lunaa’ sambil terus membunyikan bel.

Sun Young membuka pintu perlahan. Di balik pintu telah menanti seorang namja yang mengenakan kaus putih, celana training dengan sebuah headphone mengalungi lehernya. Sun Young yang kini berdiri di hadapan Sungmin menatap Sungmin dengan seulas senyum di wajahnya. Senyuman yang sama cerah juga menghiasi wajah Sungmin.

Annyeong, nae Luna!”

*

SUN YOUNG POV

Annyeong, nae Luna!”

Aku tidak ingat kapan terakhir aku melihat Sungmin. Aku juga tidak peduli karena sekarang aku bisa melihatnya berdiri di hadapanku. Dan yang kurasakan sekarang adalah: aku benar-benar merindukan namja ini. Sangat.

Aku menghambur ke pelukan Sungmin. Sungmin mengelus pundakku dan mencium singkat pipiku. Satu minggu lagi, namja ini yang akan menyematkan cincin dan berdiri di sampingku untuk mengucap janji suci di depan altar. Aku sungguh tidak sabar menantikan saat itu. Namun hari ini pun tak kalah istimewa bagi kami. Ya. Tepat satu tahun yang lalu, aku dan Sungmin resmi menjalin hubungan.

Aku mendongak untuk menatap Sungmin.

“Aku membuat pancake!” bisikku sambil meletakkan telapak tanganku di samping mulut.

Jinjjayo? Kenapa kau sampai perlu berbisik?” Sungmin mengusap puncak kepalaku. Ia kini melangkah masuk. Usai menutup pintu, aku mengikutinya dari belakang.

“Aku hanya membuat dua porsi. Hanya untuk kita… Bahannya habis. Karena Krystal dan Jin Ri belum bangun, jadi…..”

“Jadi… ayo kita habiskan! Hehe…” potong Sungmin lantas terkekeh. Aku hanya tertawa pelan mendengarnya.

Sungmin melepas headphone dan menaruhnya di meja makan, di samping piring pancake-nya. Ia kemudian mencuci tangannya di wastafel, lalu duduk dan mulai mengambil pisau dan garpu.

“Aku tidak menyangka akan punya istri yang pintar memasak.” ucapnya sambil tersenyum lebar. Aku hanya tergelak singkat.

Aku menarik kursi di seberang Sungmin yang kini sedang menikmati pancake-nya. Mungkin, setelah menikah nanti, suasana rumah kami akan seperti ini setiap pagi. Hangat dan harmonis. Aku yang membuatkan sarapan sebelum Sungmin berangkat kerja. Lalu jika kami sudah memiliki anak, suasana sarapan akan jadi lebih ramai dengan suara anak kecil. Ah… Aku sungguh tidak sabar ingin benar-benar mewujudkan semua itu.

Sungmin menyantap pancake-nya dengan lahap. Sesekali ia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum dengan kedua mata sipitnya. Entah mengapa aku bisa cukup puas hanya dengan menjalani suasana ini.

“Ini enak sekali! Sungguh, kau harus mencobanya! Ya, kenapa kau belum makan juga?” cerocos Sungmin dengan mulut mengerucut dan pipi menggembung. Aku menggeleng, hanya menertawakan tingkah lucunya. Hanya Sungmin yang menyantap habis pancake itu. Entah mengapa, aku tidak ingin menyantap apapun pagi ini.

Kami lalu duduk berdampingan di sebuah ayunan yang terdapat di halaman belakang rumah. Aku dan Sungmin sering duduk bersama di sini setiap kali selesai bersepeda. Kami melepas lelah sambil bercanda dan bersenda gurau. Dan yang tak bisa kulupakan adalah di tempat ini Sungmin menyatakan cinta padaku, satu tahun lalu. Ia mengucapkannya saat kami duduk-duduk selepas bersepeda.

Kicau burung-burung pagi menemani saat-saat manis kami sekarang. Langit berwarna biru cerah membiarkan terik hangat matahari masuk ke sela dedaunan pohon besar di atas ayunan tempatku dan Sungmin duduk. Ya. Ayunan ini dipasang di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Itulah mengapa aku dan Sungmin selalu menyukai tempat ini. Ini adalah tempat yang ideal untuk menghirup lebih banyak oksigen ketika kami kelelahan seusai bersepeda. Selain itu, pemandangan warna-warni tanaman hias juga menjadi salah satu alasan yang membuat kami betah di sini.

Aku dan Sungmin tak banyak berbicara. Kami sibuk mengkhayalkan upacara pernikahan kami satu minggu yang akan datang. Undangan telah disebar, foto pra-pernikahan kami bahkan telah dipajang di beberapa sudut ruangan. Semua sudah tersusun dengan baik, tak ada yang perlu kutakutkan. Tak ada yang mungkin akan merusak acara penting itu. Ya. Aku hanya perlu memastikan Sungmin tak akan berpaling ke gadis lain pada saat hari H, seperti yang terjadi di film-film.

Aku menyandar di pundak Sungmin. Sementara Sungmin membelai rambutku. Kami mengaitkan jari-jemari kami.

“Sungminnie…”

“Hmmm….”

“Janji, kau akan terus mencintaiku?”

“Janji!” Sungmin tertawa pelan. Ia mengalihkan pandangannya padaku. “Wae?”

“Aku merasa… sesak dan takut jika mengingat tanggal pernikahan kita. Mungkin perasaan itu muncul karena aku kelewat bahagia. Tapi… aku hanya ingin memastikan kau tidak akan pergi dariku.” Aku mendongak, menatap Sungmin dalam.

Sungmin tertawa singkat. Lantas sibuk mengambil sesuatu dari saku celananya.

“Tadaaaaaaa!!!” Sungmin menggantungkan dua buah kalung dengan liontin L dan S. Aku menatapnya takjub.

“L untuk Luna, dan S untuk Superman! Haha… Maaf, bercanda. Kau yang pakai huruf S, aku yang akan pakai huruf L. Hmm… aku harap dengan begitu kita akan saling mengingat satu sama lain. Nah, sini! Biar kupakaikan punyamu.” Sungmin menarik pelan bahuku.

“Jadi… ini hadiah anniversary?” tanyaku sambil sedikit tergelak. Aku menyingkirkan seluruh rambutku ke depan.

“Bisa dibilang begitu. Ah, awas rambutmu.”

“Kenapa kau memberiku nama L? Kenapa bukan S untuk Sun Young? Bukankah inisial kita jadi sama?”

“Ung…. Aku lebih suka memanggilmu Luna. Luna berarti bulan.” Sungmin telah selesai memakaikan kalung padaku. Aku memutar bahu untuk menatapnya.

“Karena bagiku, kau adalah bulan.” ungkapnya sambil menatapku lekat. Ia menangkupkan telapak tangannya di pipiku. Aku tersenyum seraya meraih lengannya. Tuhan… Terima kasih. Kini aku yakin tak akan ada yang bisa mencegah pernikahan kami nanti. Aku begitu bahagia. Sangat bahagia.

“Sun Young-ah!!!” Krystal dan Jin Ri tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu belakang rumah. Mereka saling menatap satu sama lain. Lalu kembali menatapku. Ekspresi mereka penuh kekhawatiran seperti sedang menyaksikan suatu marabahaya. Astaga, apa yang terjadi?

Krystal yang berlari terlebih dahulu ke arahku. Ia berlutut di depanku. Sementara Jin Ri di belakangnya sudah meneteskan air mata. Ada apa ini? Sungguh, apa yang membuat mereka menangis?

“Sun Young-ah, maafkan aku. Padahal kondisimu seperti ini, aku masih saja memikirkan diri sendiri.”

“Kalian ini kenapa? Kalian bisa cerita padaku. Tapi nanti, tidak pada saat Sungmin masih berada di sini!” Aku memelankan suaraku, berharap Sungmin tidak mendengarnya.

“Park Sun Young… Sadarlah! Sungmin sudah meninggal satu minggu yang lalu!”

*

AUTHOR POV

Jin Ri dan Krystal yang baru sampai di rumah tak berhasil menemukan Sun Young di ruangan manapun. Mereka akhirnya mendapati Sun Young berada di halaman belakang, sedang duduk di ayunan sambil berdialog sendiri, bahkan tersenyum pada udara di sampingnya.

“Sudah kubilang, tidak seharusnya kita pergi! Kasihan Sun Young…” Jin Ri mengguncang-guncang lengan Krystal.

“Sun Young-ah!!!” seru Krystal keras-keras. Lebih karena gemas melihat Sun Young yang terus-terusan seperti ini. Hatinya bahkan ikut tersayat pilu melihat sahabatnya terlalu larut dalam kesedihan hingga berakhir mengenaskan seperti sekarang.

Krystal berlari menghampiri Sun Young, Jin Ri menyusul di belakangnya. Demi menyamakan garis matanya dengan Sun Young, Krystal berlutut.

“Sun Young-ah, maafkan aku. Padahal kondisimu seperti ini, aku masih saja memikirkan diri sendiri.”

Sun Young menatap kedua sahabatnya dengan tatapan bingung.

“Kalian ini kenapa? Kalian bisa cerita padaku. Tapi nanti, tidak pada saat Sungmin masih berada di sini!” bisiknya dengan penuh penekanan. Jin Ri yang mendengar itu langsung menekap mulut saking terkejut.

“Park Sun Young… Sadarlah! Sungmin sudah meninggal satu minggu yang lalu!” Krystal memekik dengan suara tercekat.

Sun Young terbelalak. Ia memalingkan wajah ke samping. Lalu ke sekeliling. Ia terlihat begitu terpukul saat tak mendapati seseorang yang dicarinya.

Sun Young menunduk, menatap liontin berbentuk huruf S yang menggantung di lehernya. Ia menggelengkan kepala, menggiggit bibir kuat-kuat, bahunya bergetar, tangisnya pecah. Krystal segera memeluknya. Jin Ri yang sejak tadi sudah terisak lalu menghambur, ikut memeluknya.

“Sungmin….” dengan kepedihan dan sesak yang mendera, Sun Young meraih liontin di lehernya, menggenggamnya erat.

“Tidak mungkin….” lirihnya.

*

Naleul Kkaewooneun Waelowoomae
When I wake up

Jicheobolin Jamaeseo Kkaemyun
From the loneliness that wakes me up

Yeojeonhee Utneun Geudaega Saengkaknaseo
I think about your always smiling face

Nado Mollae Miso Jitneundae
which makes me smile without knowing

Pagi itu, ketika Sun Young terbangun dari tidurnya, ia dibangunkan oleh dering dari memo pengingat pada ponsel. Pengingat yang menunjukkan tulisan bahwa hari itu adalah hari pernikahannya. Bukan pesan dari Sungmin. Ia memang menerima pesan dari Sungmin. Namun itu terjadi satu minggu yang lalu. Pada hari peringatan satu tahun hubungan mereka. Sekaligus hari dimana Sungmin meninggal dalam perjalanan menuju rumahnya. Ya. Hari pernikahan Sun Young adalah hari ini. Bukan satu minggu yang akan datang.

Sungmin tewas setelah sepedanya tertabrak sebuah mobil. Ia ditemukan dalam kondisi menggenggam erat sebuah kotak berisi dua buah kalung berliontin huruf L dan S.

Sun Young yang menerima kabar itu mengalami depresi berat. Pernikahan yang sejak lama tertanam indah dalam angan-angannya mendadak hancur. Ia tak bisa merelakannya. Mimpi itu terlalu sering diputar hingga telalu berat untuk dimusnahkan. Memusnahkan kenangan dan perasaannya pada Sungmin. Juga melupakan penantiannya untuk hari istimewa itu.

Krystal dan Jin Ri lah yang menemani Sun Young dalam kondisi berat itu. Mereka menghibur Sun Young dan menguatkannya, meski kadang mereka ikut menangis ketika melihat Sun Young kembali merenung dengan air mata mengalir sambil terus membisikkan nama Sungmin. Mereka juga membantu dalam teknis pembatalan acara pernikahan. Mengabari gereja, kerabat undangan dan membatalkan paket wedding organizer yang telah dipesan. Tanpa mereka, mungkin Sun Young kehabisan alasan untuk tetap bertahan menjalani hidup.

Krystal dan Jin Ri mengantar Sun Young ke dalam rumah, menuju kamarnya. Ketika melewati dapur, Sun Young tak sengaja melihat dua piring pancake yang masih utuh tersaji di atas meja makan. Pancake yang seingatnya disantap dengan lahap oleh Sungmin itu sama sekali tak tersentuh. Headphone milik Sungmin yang seharusnya tergeletak di meja pun tidak ada. Semua hanya terjadi dalam angan-angan Sun Young. Angan-angan yang ia damba bisa terjadi satu minggu lalu, setelah ia menerima pesan Sungmin dan menanti namja itu datang menemuinya. Sayangnya, kenyataan memaksa Sun Young menahan pedih atas kehilangan.

Ileotgae Tto Salameun Gago
Like this another person leaves

Aleumdawoon Gaejeoli Omyun
and when another beautiful season arrives

Niganamgin Seulpeumae Geuliwoomae
with the sadness and longing for you which you left behind

Naneun Tto Igeolileul Geotneunda
I walk down this street again

Sun Young duduk di sisi kasur. Krystal ikut duduk di sebelahnya.

“Istirahatlah. Kami akan membuatkan makan siang.” ucap Krystal seraya mengusap pundak Sun Young.

“Benar. Panggil kami jika kau butuh sesuatu.” sahut Jin Ri sambil tersenyum dan mengusap sisa air mata di pipinya.

Sun Young hanya menatap kosong ke depan, tak merespon apapun. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Jin Ri atau Krystal yang mengucapkan sesuatu. Namun ia tak mendengar kalimat apapun dari mulut mereka. Seperti menonton sebuah video dimana hanya terdengar lagu sedih yang diputar. Sementara yang terlihat hanya para pemain yang saling bercuap-cuap. Sun Young memang tidak sendiri. Namun ia merasa terpuruk dalam kesendirian.

Haru Tto Haru Na Salagadaga
Day after day as I live my life

Geudae Ileumae Tto Neunmuli Namyun
I get teary after hearing his name

Na Chameulsoo Upseo Ileotgae Uteulsoo Upseo
I can’t hold it in, I can’t laugh like this

Tto Geudae Ileum Bulleobonda
I try calling his name again

Krystal dan Jin Ri berlalu, menghilang di balik pintu. Sun Young bangkit. Berjalan lemah mendekati meja di dekat jendela kamarnya. Ada sebuah kalung yang tergeletak di meja itu. Kalung berliontin huruf L. Kalung yang seharusnya dipakai oleh Sungmin.

Gaseumae Nameun Sangcheodo Ijaen
With the scar he left on my heart

Geudaeileum Ijeulaneundae
I’m trying to forget his name

Naeipseuleul Ggaemeulgo Chamabado
although I bite my lips trying to hold it in

Naesarang Neohanappooningeol
my love is only you

Sun Young mengambil kalung itu. Menatap liontin berbentuk huruf L itu cukup lama. Sebelah tangannya yang lain menggenggam erat liontin berbentuk huruf S yang masih mengalungi lehernya. Ia memejamkan mata. Membayangkan potongan-potongan kenangan manis ketika ia dan Sungmin bersama.

Benaknya memutar semua memori canda tawa yang diukirnya dengan Sungmin. Tanpa sadar, bibirnya membisikkan nama yang ia rindukan dengan lirih.

Haru Tto Haru Na Salagadaga
Day after day as I live my life

Geudae Ileumae Tto Neunmuli Namyun
I get teary after hearing his name

Na Chameulsoo Upseo Ileotgae Uteulsoo Upseo
I can’t hold it in, I can’t laugh like this

Tto Geudae Ileum Bulleobonda
I try calling his name again

Air mata Sun Young kembali merebak. Kini ia ingat. Sungmin tak pernah memakaikan kalung berliontin huruf S di lehernya. Pada hari saat Sungmin meninggal, Krystal-lah yang menyerahkan kalung itu padanya. Dan Sun Young yang memakainya sendiri, dengan berderai air mata.

Amuleotji Ahngae Salagadaga
I live my life pretending nothing has happened

Sarangi Tto Geuliwoolttaemyun
When I’m longing for love

Geudaega Namgin Apeumae
with the hurt he has left behind

Nado Moleugae Neunmul Heullindae
I start to cry without knowing

Sun Young menyandarkan tubuh ke dinding. Dibiarkannya tubuh lemahnya merosot turun ke lantai. Tangannya terus menggenggam erat liontin kalung di lehernya. Ia kembali hanyut dalam tangis. Hatinya seakan remuk redam setiap kali mengingat hari peringatan satu tahun hubungannya dirayakan dengan upacara kematian.

Kenangan pahit itu berkelebat cepat dalam  benaknya. Hari penuh duka ketika beberapa tamu berpakaian hitam menangis di sekitar foto Sungmin, juga hari-hari setelahnya yang ia lewati dengan kesendirian dan keputusasaan.

Haru Tto Haru Na Salagadaga
Day after day as I live my life

Geudae Ileumae Tto Neunmuli Namyun
I get teary after hearing his name

Na Chameulsoo Upseo (Na Chameulsoo Upseo )
I can’t hold it in (can’t hold it in)

Ileotgae Uteulsoo Upseo
I can’t laugh like this

Sun Young menunduk dalam tangis. Untuk ke sekian kali, ia memanggil sebuah nama yang tak akan pernah datang. Dadanya sesak, tenggorokannya tercekat setiap kali ia menyebutnya.

“Lee Sungmin…”

Tto Geudae Ileum Bulleobonda
I try calling his name again

END

34 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Luna

  1. Iin.. im coming… 😀
    maaf baru mampir… bacanya sih udah lama.. hehe

    pertama-tama… aku gak ngeh sama sekali krystal sm jinri ini ngapain.. kok kaya orang bingung… tapi seiring berjalannya waktu *helah* ngerti juga alasannya… aku bener2 ga nyangka dari awal bakal begitu.. ternyata sungmin cuma halusinasi luna yang kepalang depresi… jadi buat idenya aku acungin jempol banget 😀
    ceritanya sedih in… 😦 ada satu typo sih.. tapi ga ganggu banget… hehe
    aku sih ga tau gimana karakter luna sebenarnya jd aku enjoy aja bacanya dan thanks ga pake Sunggyu sayang sebagai cast! 😀 #hug
    udah itu aja sih in ^^
    Semangat!

    1. Sebenernya aku juga gatau karakter Luna kayak apa. ._, Padahal udah browsing fact nya Luna tapi tetep aja belom dapet feel nya. hehe :p

      Sama-sama eonni,, 😀 #sodorin Sunggyu

      betewe makasiih ya eonn (()) ^0^

  2. huaaaaa, ceritanya baguuuuuus 😥
    kasian banget si Luna kehilangan calon suaminya di anniversarynya 😥
    tdi aku bingung knpa jinri sama krystal heboh bgt, trnyata Luna stres stlah sungmin meninggal..
    tpi emg aku agak curiga sih, jangan” sungmin udah meninggal dan ternyata bener..
    selamaaaaat, ceritanya menguras hati banget :’)

  3. 유후! beedragon datang membawa cerita..갸하하하

    aku suka ffmu ini in…. galo2 gimana gitu… jadi luna berhalusinisasi yahh.. dan ungmin yg dia lihat itu hanya khayalan… pukpuk luna, kasian kamu nak dibikin stres sama iin.. dan pukpuk sungmin, kasian kkmu nak dibikin metong sama iin..

    ketje!! kebetulan aku lg suka baca ff yg galo2 gimana gt.. rajin2 bikin ff yg galo kaya gini yah ㅋㅋㅋ
    안녕!!힘내!

    1. Eh, eonni bukannya udah komen di FF ku yang ini ya? oh, belom ternyata? yasudahlah. ._.

      iyaaa~~ belakangan jadi suka bikin yang galo galo. tapi orangnya ga lagi galo kok. haha^^

      hiyaaaaa >.< tadinya malah aku mau bikin Luna jadi lebih parah dari ini tauk eon! *dicekek Luna

      sekali-kali(?) metong, gapapa kan uming? *pukpuk uming

      wkwkwwk…. makasiih ya eon….! ^___^ (())

  4. Hola hola. Akhirnya aku baca juga FF mu yang luna ini. Maaf karena baru sempet buka blog sekarang setelah dua bulan berlalu. Kkk~
    Iiiiiiiinnn. OMG! ternyata kau tega membuat umin mati! Huhu TT.TT tau gitu kamu pake yesung aja, gapapa biar aku nangis sekalian.
    Aku sama sekali ga nyangka kalo ternyata kejadian yang sebenernya si luna itu depresi karena awal-awal aku ngerasa mereka sweet banget, yah, walaupun agak gak elit sih awal ketemuannya pas umin lagi sepedaan di taman yang banyak sampah daun kering. Hihihi, canda deng. Lucu kok lucuuuu. >.<
    Entah kenapa aku ngerasa mereka lebih seperti pasangan anak sma yang lagi sweet2nya daripada pasangan yang udah mau nikah karena aku gak dapet feel merekanya yang udah dewasa dan kamu juga gak menyinggung umur dan pekerjaan mereka dan luna juga gak manggil sungmin pake ‘oppa’ melainkan “sungminnie”. Hehehe… makanya kesan mereka di aku jadi terlalu cute untuk sebuah pernikahan. Terus pas aku baca part yg krystal kasih tau kalo sungmin udah meninggal bukannya scroll ke bawah aku malah otomatis baca lagi ke atas dan baru nyadar kenapa si sulli sm krystal ngomong kayak gitu. Oalaahh… baru deh disini sedih-sedihnya mulai. Hiks T.T
    Kesian ya endingnya si luna jadi suram kayak gapunya masa depan gitu. Salut buat idenya!! Nice FF in, sugohaesseo b^^d

    1. Holaaaa sofiiiiii~~!!! XD

      iyaa… setelah mikir-mikir lagi, aku ternyata lebih tertarik make Jinki… haha *ka naya gulung2 XD
      (tapi aku serius loh! ._.)

      wah! kamu bener. aku ga kepikiran sampe situ. iya sih… kaya anak SMA yah? hahaha
      mungkin itu cara mereka pacaran. *apadeh. kk~*

      soal sepedaan, aku sendiri ga serius waktu milih adegan itu. XD
      melintas gitu aja. jadi ga mikir lagi.. wkwkwk XD

      iya sih… tega ga tega juga bikinnya. :/
      etapi malah aku tadinya mau bikin si Luna lebih parah lagi dari ini. *ditabok Luna*

      Eniweeeeiiii makasiiiih soffiiiiii~~~ :* (())

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s