FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Sulli


THE DREAM

Author : Karra | Casts : Sulli F(x) as Choi Jin Ri,  Minho SHINee as Choi Minho | Genre : Romance | Length : Ficlet | Rating : General |

Theme Song : F(x) – Spreads Your Wings

Disclaimer : This is only fiction. This is only imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader.

Cover by : Dhamala Shobita

Jika bertanya apa mimpiku…. aku akan menjawab kau adalah mimpiku dan masa depanku……

.

.

Mencintaimu itu seperti suatu kesalahan. Bersalah karena aku harus merusak pandangan orang terhadap dirimu. Harus membuatmu menerima kenyataan bahwa seorang gadis yang biasa-biasa saja mampu menujukkan perasaannya di depanmu. Membuatmu malu dan berusaha mengelak dari lelucon orang lain dan itu semua karena aku. Karena aku yang tidak bisa memendam perasaan yang benar-benar menyiksaku. Mencintaimu itu benar-benar menyakitkan. Terlebih perasaanku tidak terbalas olehmu.

Siapa aku? Aku hanya seorang gadis biasa yang memiliki status sosial yang biasa. Choi Jin Ri. Yang selama ini hidup dibawah garis mewah. Setidaknya keluargaku tidak kekurangan. Cukup hidup seperti ini. Berusaha mendapatkan hatimu yang sekeras batu.

Choi Minho. Walaupun nama marga kita sama tetapi kita seperti air dan minyak. Dipaksa bersatu hanya akan menimbulkan buih-buih. Dipaksa saling mencintai yang ada justru menyakiti satu sama lain. Entah kapan aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Karena perasaanku sepertinya benar-benar tertambat padamu.

Suara pemberitahuan dari pengeras suara yang berulang-ulang memaksaku untuk menghentikan langkah. Sekejap untuk memastikan apa kau mengejarku hingga ke bandara? Percuma aku berharap. Kau tidak akan pernah datang. Aku memang pengecut karena melarikan diri karena penolakan darimu. Hanya saja dengan melarikan diri, setidaknya aku akan bisa menata hatiku yang hancur. Terlebih lagi di Tokyo. Pasti akan mudah melupakanmu jika kita berjauhan.

Lagi-lagi aku harus menelan rasa kecewaku karena mau tidak mau harus segera naik ke pesawat jika tidak ingin tertinggal dan hanya membuang uang. Dengan terpaksa aku menarik kotak persegi beroda berwarna silver menuju Terminal Keberangkatan.

Selamat tinggal Korea. Selamat tinggal Seoul. Dan… selamat tinggal Choi Minho….

***

Aku mematut pantulan diriku di cermin. Kedua mataku yang bulat memang tidak bisa mengubahku sepenuhnya. Di kedua mataku semua rahasiaku bisa ditebak. Polesan make up yang tipis menyamarkan guratan sarafku karena musim panas di Tokyo ini benar-benar menganggu penampilanku. Tidak ada lagi Jin Ri yang berambut pendek. Sekarang hanya ada Jin Ri yang memiliki rambut panjang ikal berwarna cokelat susu. Tidak ada lagi Jin Ri yang mengenakan pakaian longgar. Hanya ada Jin Ri yang memakai dress bertali spaghetti selutut bermotif bunga teratai. Tidak ada lagi Jin Ri yang memakai sepatu kets. Sekarang Jin Ri memakai high heels. Tidak ada lagi Jin Ri yang dikucilkan. Sekarang Jin Ri sangat populer.

Aku menarik kedua sudut bibirku. Tersenyum dengan manis. Choi Minho… seandainya kau melihatku yang seperti ini, apa kau akan menjawab perasaanku dengan kata ‘ya’? Aku membalikkan badanku. Bosan menatap cermin. Ternyata memang benar. Perubahan yang dilandasi dari dalam hati memang membuat kita tampil berbeda.

Aku melangkahkan kakiku dengan anggun keluar dari rumah kecil yang kusewa. Aku memaksa ingin tinggal di Tokyo demi menghapus kenangan tentang Minho. Dan tinggal di distrik Shibuya ini benar-benar sangat menguntungkan. Walau aku harus bekerja paruh waktu demi membeli pakaian dan aksesoris yang cukup mahal.

Aku berjalan menyusuri jalanan Shibuya dengan menjinjing tas tangan berwarna biru laut. Kedua mataku sibuk menjelajah beberapa toko pakaian yang memajang hasil rancangan terbaru mereka. Aku suka dengan fashion remaja Jepang. Mix and Match. Bahkan terkadang aku sering memodifikasi sendiri pakaian yang akan kupakai.

Tatapanku terpaku pada sebuah toko yang di bagian etalasenya memajang sebuah long dress yang memiliki motif yang unik di bagian dada. Ada banyak bordiran kupu-kupu yang seolah-olah tengah terbang. Long dress itu memiliki motif bunga mawar berwarna putih dengan dasar warna merah muda.

Aku mau long dress itu! Baru saja aku akan memasuki toko itu seakan-akan ada seseorang yang menyentakku dan membuatku mundur. Aku tidak punya cukup uang untuk membeli long dress itu. Bisa saja aku membeli sekarang tapi selama sebulan kedepan aku harus makan ramen setiap hari.

Aku memutuskan untuk terus berjalan dan mengubur mimpiku untuk membeli long dress itu. Mungkin setelah dua minggu kemudian, akan turun harganya. Aku harus bersabar.

Aku benar-benar tidak memiliki tujuan. Orang-orang yang berlalu lalang di kawasan Shibuya memang tidak bisa dihitung karena banyak sekali. Sedangkan aku? Datang ke kawasan Shibuya hanya untuk senang berada di tengah keramaian. Semenjak aku pergi dari Seoul aku selalu merasa sendiri. Disaat sendiri aku selalu teringat Minho.

Aku sadar ada banyak orang yang tengah memperhatikanku. Kini aku berani mengangkat daguku tinggi-tinggi. Menampilkan wajah keangkuhan. Aku bukan lagi Choi Jin Ri yang sering diremehkan. Kini aku berani memamerkan keangkuhanku.

Jika dulu aku yang mengejar cinta Minho, sekarang keadaan sudah berbalik. Banyak laki-laki yang memperebutkanku. Dan saat mereka menyatakan cinta padaku aku selalu merasa di atas awan. Dan jawaban ‘tidak’ selalu meluncur lewat bibirku. Aku bisa menghafal banyak reaksi orang-orang yang baru saja aku ‘tolak’. Aku tahu ini kejam. Tapi dengan begitu aku bisa mengurangi rasa sakit karena ucapan Minho dulu.

Aku melangkahkan kaki dengan mantap menyebrangi zebra cross yang cukup padat. Aku harus bisa semantap ini meninggalkan masa laluku. Kenangan dua tahun yang lalu benar-benar akan kukubur dalam-dalam.

***

“Aku tidak mengenalmu…” ujar Minho yang membuatku terhenyak. Apa perubahanku selama dua tahun ini benar-benar sangat drastis sehingga dia bisa mengatakan tidak mengenalku?

“Kau tidak percaya bukan? Gadis yang dulu kau rendahkan bisa berubah seperti ini?” tanyaku dengan nada menyidir. Bahkan aku sengaja memancing emosinya yang terlihat terkejut mendengar ucapanku.

Pertemuanku dengan Minho sama sekali tidak direncanakan. Aku tidak sengaja berpapasan dengan Minho saat menyusuri jalanan di Shibuya untuk menyebar brosur. Pekerjaan paruh waktuku benar-benar membuatku tersiksa karena aku harus bisa memunculkan sosok Jin Ri yang asli. Bukan sosok Jin Ri yang selama ini aku tunjukkan saat memakai pakaian mahal.

Minho mengenaliku. Laki-laki itu berpenampilan seperti seorang eksekutif muda. Mengenakan kemeja berwarna biru yang dibalut dengan setelan jas berwarna biru dongker. Perbedaan yang sangat mencolok sekali, bukan? Selama dua tahun ini aku berjuang untuk mencapai taraf sosial seperti Minho yang memang terkenal cukup mampu saat kami bersekolah dulu.

Minho menyeruput es kopinya sambil terus memandangku dengan pandangan heran. “Jin Ri yang kukenal tidak sepertimu.”

Aku tertawa. Sinis terdengar. Aku menang sekarang. Skor satu sama, Choi Minho. “Jin Ri yang kau kenal sudah mati, Minho. Yang ada Jin Ri yang baru,” ujarku lagi dengan nada mengejek.

“Kenapa kau berubah, Jin Ri?” tanya Minho sambil menatapku lekat-lekat. Seakan-akan hendak mengulitiku.

Aku mengulum lidahku. Memicingkan kedua mataku. “Manusia butuh perubahan, Minho. Terlebih lagi karena ucapanmu dulu itu,” ujarku dengan penuh nada final. Minho terlihat tidak berkutik menghadapi seranganku.

“Ucapanku?” desis Minho.

“Kenapa? Kau pura-pura tidak mengingatnya?” tanyaku sambil mencibir. Tanganku mengaduk-aduk es krim cokelat yang berada di cup kertas. Aku sama sekali tidak berminat menikmati es krim jadi sejak tadi aku membiarkan es krim milikku meleleh.

“Apa karena aku mengucapkan tentang kriteria gadis yang kusuka?” tanya Minho dengan nada hati-hati.

Aku mengendikkan bahu. “Bodoh. Kenapa ada laki-laki yang pelupa tentang kriteria idealnya?” desisku tidak percaya. “Menurutmu aku sudah menjadi kriteria idealmu?” tanyaku. Pasti dia akan menjawab ‘ya’. Secara dulu dia pernah berkata gadis impiannya adalah gadis feminin yang memiliki rambut panjang dan suka sekali memakai rok.

Minho menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Aku sudah kehilangan tipe gadis yang kusukai,” ujarnya dengan lesu.

Apa? Kehilangan? Lalu aku? Biayaku untuk melakukan berbagai perawatan dan membeli baju, sepatu dan aksesoris itu tidak murah. Sedangkan bagi seorang Choi Minho mungkin membuang uang beberapa ribu yen juga tidak ada pengaruhnya.

“Apa maksudmu kehilangan tipe gadis yang kau suka?” tanyaku tidak percaya. Dia pasti sedang mempermainkanku sekarang.

Minho menundukkan kepalanya. Laki-laki itu menghela nafas berat. “Jin Ri… aku harus pergi sekarang. Aku memiliki banyak pekerjaan. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi,” ujar Minho sambil menatapku dengan lekat.

Hanya jawaban seperti ini? Aku memalingkan wajahku saat melihat Minho meraih jas miliknya dan beranjak dari kursi besi yang ia duduki. Aku benar-benar ingin melihatnya tapi egoku melarang.

Mungkin karena merasa aku tidak peduli pada Minho hingga membuat laki-laki itu tidak menoleh lagi ke arahku. Aku menutup wajahku menggunakan kedua tangan. Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Minho plin plan sekali menjadi seorang laki-laki.

***

Aku menggulung kaos lengan panjangku hingga sebatas siku. Berkali-kali aku mengusap peluh karena udara di Shibuya benar-benar cukup panas. Brosur klinik kecantikan yang merupakan tempatku bekerja paruh waktu masih tersisa cukup banyak di tanganku. Pekerjaan ini tidak akan ada habisnya jika dengan udara sepanas ini.

Berkali-kali aku harus tersenyum pada orang-orang yang berlalu lalang untuk memberikan selembar brosur. Pekerjaan ini benar-benar melelahkan tapi sekaligus bisa memberiku banyak uang. Biaya hidup di Shibuya benar-benar mahal. Terlebih lagi jika saat ingin  membeli beberapa potong pakaian. Yang membuatku terus bertahan adalah aku tidak ingin membebani kedua orang tuaku di Seoul sana.

“Apa masih tersisa banyak? Aku ingin berbicara denganmu, Jin Ri.”

Aku menoleh ke arah kiriku dan terdiam saat melihat Minho tengah berdiri dengan kedua tangan di saku celananya. Yang membuatku lebih heran lagi adalah tidak ada setelan jas. Yang ada Minho mengenakan kaos yang cukup longgar berwarna abu-abu dan celana kainnya yang berwarna hitam. Apa dia tidak kepanasan mengenakan pakaian seperti itu di tengah cuaca yang terik ini?

Aku memamerkan tumpukkan brosur yang masih cukup banyak di tanganku. “Kau bisa lihat sendiri.” Aku tidak berminat berdebat dengannya kali ini. Pekerjaanku masih menumpuk.

Minho mengulum senyum. “Biar kubantu.” Tanpa menunggu jawabanku laki-laki itu sudah mengambil semua brosur yang kupegang dan membaginya kepada gadis-gadis yang sedari tadi memang memperhatikan Minho.

Aku heran. Tidak di Seoul tidak di Shibuya, dia selalu menjadi pusat perhatian orang. Gadis-gadis yang menerima brosur dari Minho hanya mengucapkan terima kasih. Aku sudah bisa menduga jika mereka tidak membaca isi brosur itu. Dan tentu saja brosur itu akan berakhir di tempat sampah.

Tidak sampai setengah jam, ratusan lembar brosur yang dibagikan Minho sudah habis. Aku benar-benar tidak terkesan. Aku sudah bisa menduga sejak awal.

“Apa maumu?” ujarku langsung. Aku cukup lelah hari ini. Beberapa jam di bawah terik sinar matahari langsung membuatku seperti kehilangan energi.

Minho kembali mengulum senyum. “Aku akan mentraktirmu makan. Kau harus mau. Anggap saja untuk menebus kesalahanku karena kemarin aku meninggalkanmu lebih dulu,” ujar Minho sambil menarik tanganku. Langkah kakiku seakan mirip layangan yang terombang ambing karena terpaan angin. Aku benar-benar tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan.

“Minho…. aku lelah…” desisku akhirnya. Kepalaku terasa berat. Pandangan mataku semakin berat dan tentu ada banyak sekali kunang-kunang yang sempat bermunculan di kedua mataku.

Minho menghentikan langkahnya dan menatapku lekat-lekat. “Kau tidak sedang sakit, Jin Ri? Wajahmu benar-benar pucat.”

Aku menggeleng. “Aku hanya perlu istirahat sebentar,” ujarku pelan. Aku harus duduk untuk menetralkan oksigen di otakku. Aku benci pekerjaan ini. Tapi aku juga membutuhkan pekerjaan ini.

Minho membimbingku ke salah satu bangku yang berada di antara dua pohon perindang di tepi jalan yang daunnya mulai menguning. Aku duduk dengan segera sambil memijat-mijat keningku yang mulai berdenyut.

“Kau tunggu disini. Aku akan membelikan obat untukmu,” ujar Minho yang lagi-lagi tanpa persetujuanku sudah berlalu dari hadapanku dan membuatku berdecak kesal.

Aku memejamkan kedua mataku. Di dalam kegelapan kedua mataku, seakan-akan aku tengah mengamati tingkahku dulu saat menyatakan cinta pada Minho.

~ Flashback ~

Aku menatap kedua manik mata Minho yang seperti manik mata burung elang. Kedua tanganku saling bertautan untuk mengurangi rasa gugup. Berkali-kali aku harus menelan saliva seolah mengharapkan kegugupanku menghilang.

“Aku tidak menyukai gadis sepertimu. Aku menyukai gadis yang feminin, anggun, berambut panjang dan suka memakai rok. Bukan gadis sepertimu yang memiliki rambut pendek dan suka menggunakan pakaian yang lebih longgar,” jelas Minho panjang lebar yang membuatku seakan disiram dengan cairan yang langsung mematikan saraf dan otot.

Dengan ragu memastikan ucapan Minho. “J-jadi… kau menolakku?”

Minho mengangguk mantap tanpa berfikir lagi. “Aku menolakmu, Jin Ri,” senyuman manis tercetak dari bibirnya yang tipis namun terlihat penuh.

Rasanya sakit. Seperti ada belati yang dihunuskan langsung ke arah jantung dan membuat gerakan jantung terhenti. Patah hati sebelum memulai hubungan. Cinta pertamaku yang langsung kandas tanpa aba-aba. Memalukan sekaligus menyedihkan.

Aku hanya bisa menatap kepergian Minho dan temannya. Membiarkan diriku menjadi bahan lelucon selama beberapa hari dan membuatku memutuskan untuk pergi ke Tokyo.

~ Flashback End ~

Minho mengulurkan sebuah roti padaku. “Kau pasti belum makan? Cepat makan ini dan segera minum obat. Pasti tidak akan terasa sakit lagi.”

Aku merutuk dalam hati. Kenapa dia harus bersikap baik padaku? “Kenapa kau harus bersikap baik padaku? Aku tidak butuh pertolonganmu,” ujarku lagi-lagi dengan nada sinis.

Minho berdecak kesal. “Kau ini kenapa selalu bersikap kasar padaku? Aku mencarimu bertahun-tahun, Jin Ri. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku melukaimu dengan begitu memalukan,” ujar Minho sambil duduk di sampingku.

Aku melotot ke arahnya. “Kenapa kau mencariku? Disini aku sudah hampir melupakanmu sepenuhnya! Kau datang lagi dan mengaduk-aduk perasaanku lagi!” seruku dengan suara yang cukup tinggi. Persetan dengan banyak orang yang melihat. Aku benci harus mengakui pesona Minho yang lagi-lagi membuatku kacau.

Minho menatapku dengan pandangan menyesal. “Jin Ri… aku benar-benar menyesal telah memperlakukanmu seburuk itu. Aku ingin memulai semua dari awal.”

Aku mendengus. “Kenapa? Kau sudah tertarik padaku?” tanyaku sambil memcingkan mata. Membayangkan Minho tertarik padaku seolah-olah seperti mimpi di siang bolong. Sangat mustahil.

“Ya… aku tertarik. Tertarik pada Jin Ri yang kukenal dulu! Bukan Jin Ri yang sekarang!” sembur Minho yang membuatku terdiam.

Benarkah? Dia menyukaiku? Bukan sekedar simpati saja? “Apa maksudmu?” tanyaku yang berusaha untuk menerka maksud ucapan Minho.

“Aku menyukai Jin Ri yang kukenal. Menyukainya. Hingga membuatnya terluka hanya demi menutupi egoku sendiri.” Minho menundukkan kepalanya. Seolah-olah membicarakan gadis lain padahal aku adalah Jin Ri. “Aku tidak ingin seorang gadis yang kusuka menyatakan cinta padaku lebih dulu padaku. Aku ingin yang menyatakan cinta padanya terlebih dahulu.”

Aku terhenyak. Jadi karena egonya yang besar dia rela melukaiku seperti ini dan membuatku pergi dari Seoul selama dua tahun ini?

“Mimpiku adalah menjadi seorang pemain sepak bola dunia. Namun saat mengenalmu, kau bilang aku adalah mimpimu. Sejak saat itu benar-benar memikirkan masa depanku,” Minho meraih tangan kananku. “Kau adalah masa depanku, Jin Ri. Aku meninggalkan dunia sepak bola dan berusaha menjadi seorang General Manager di perusahan Ayahku demi membuatmu bahagia. Aku ingin membahagiakanmu.”

Aku terdiam. Kedua mataku berkaca-kaca saat dia mengucapkan kalimat itu. “Bukankah kau sendiri yang menolakku? Kenapa sekarang kau yang justru menyatakan cinta padaku?” tanyaku dengan suara parau. Mirip suara katak.

Minho mengecup bibirku hanya beberapa detik dan membuat aliran darahku seperti sedang memacu denyut jantungku. “Aku menyukaimu, Jin Ri. Benar-benar menyukaimu,” ujar Minho dengan suara berbisik di depan wajahku.

“Aku…..”

“Kau berubah seperti Jin Ri yang asing karena ucapanku, bukan? Saat mengetahui kau seperti itu aku menyadari cintamu masih terlalu besar untukku. Berusaha menjadi orang lain tanpa memperdulikan apakah kau suka atau tidak. Hanya demi aku…” Minho tersenyum tengil padaku.

Jadi? Sejak kami bertemu di Shibuya dia sudah menyadari? Dan aku baru tersadar sekarang. Bodohnya aku! Aku memang berusaha melupakan Minho yang seperti Dewa yang tidak mungkin kuraih. Tapi ternyata aku berubah seperti ini justru karena ingin membuatnya menyukaiku. Betapa bodohnya aku!

“Ayo kita pulang ke Seoul. Berapa lama kau tidak bertemu keluargamu? Kenapa kau betah sekali berada di sini? Tempat ini terlalu padat, Jin Ri.” Minho terus mengomel padaku.

Pulang ke Seoul? Berdua? Bertemu dengan keluargaku? Apa dia mau melamarku? “Kenapa kau mendadak mengajakku pulang?” tanyaku bingung.

Minho tersenyum. “Aku akan mengajakmu bertemu dengan ayahku. Memperkenalkan gadis yang merubah sudut pandangku tentang sebuah mimpi.”

Aku terdiam mendengar ucapan Minho. Dia ini sedang berbicara cinta atau sedang melamarku sih? Aku mengernyitkan dahi saat melihat Minho tengah tertawa. Bodohnya aku mengiyakan saja ucapannya.

~ THE END ~

Advertisements

59 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Sulli

  1. kerennnnn…suka bgt dah!! 😀 . BKinin sequelnya dong eon…ya ya ya??? please…hehe. pasti byk yg suka deh… 🙂

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s