FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Victoria


[Poster] Baba Hen Ai Ni爸爸很愛你

(Daddy Really Loves You)

Author : Dhamala Shobita | Cast : f(x)’s Victoria | Genre : Hurt, Family | Length : Ficlet (1200 Words) | Rating : General | Theme Song : f(x) – Sorry (Dear Daddy)

Disclaimer : I do not own the cast and the song. I just own the story. Do not bash and do not copy without my permission.

Author’s Note : This is the last songfiction for FFKPI Songfiction Project on November. Ini adalah fanfiction bergenre family pertama yang pernah kubuat dan aku puas meskipun cuma ficlet. Hehehe. Maaf jika Victoria di sini kubuat jadi sedikit kejam di awal. Enjoy the story! Drop your feedback bellow. Merci. ^^

– DhamalaShobita Storyline © 2013 –

“Qian… yào jìde, bàba hěn ài nǐ, hěn ài hěn ài nǐ. bùyào kū le, bàba shì zài zhèlǐ, zhǐ wèi nǐ. bàba hěn xiǎng nǐ.”* – Victoria’s Dad

**

.

.

Forgive me if I possibly hurt your feelings today. My immature self just said immature things.

 

Tangan Victoria masih memeluk erat kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di atas kedua lututnya tersebut. Di ruangan yang temaram itu, Victoria masih saja berusaha menyembunyikan wajahnya, lengkap dengan isakan yang juga berusaha ia sembunyikan. Cahaya dari lampu kecil di samping tempat tidurnya seolah masih mengusiknya, membuatnya mengulurkan tangan dan mematikannya dengan sekali sentuhan.

Eonni, kau tidak apa-apa?” Suara Sulli terdengar dari sudut lain ruangan, membuat Victoria menarik napas panjangnya kemudian membalas pertanyaan Sulli cepat.

Detak jam dinding beradu dengan isak tangis Victoria yang sama sekali belum mereda. Gadis itu menggeser sedikit posisinya, menurunkan tubuhnya dan mengambil posisi berbaring ke arah kanan. Tangannya memeluk boneka besar yang ada di atas tempat tidurnya, menenggelamkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu lagi.

Sedu sedan tangisnya itu untuk ayahnya. Victoria belum juga menerima dirinya telah berbuat begitu lancang pada ayahnya, memaki ayahnya semaunya, serta mengatakan kata-kata yang sama sekali tidak terlihat dewasa.

“Qian, kembalilah ke Qing Dao. Ibumu akhir-akhir ini tengah merasa kurang enak badan terus-menerus. Mungkin ia merindukanmu. Mungkin ia ingin melihatmu di sini, Qian.”

Suara tangis Victoria semakin kencang. Cepat-cepat ia menutup mulutnya sendiri, menahannya agar tidak mengeluarkan suara tangis lebih kencang lagi. Sore tadi, selepas comeback di Inkigayo, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ayahnya.

Pinta ayahnya hanya satu, Victoria pulang ke Qing Dao, China, dan menemani ibunya yang belakangan dikatakan sedang tidak sehat. Tapi yang dilakukan Victoria bukan itu. Ia tidak menjawab dengan pasti apakah ia akan pulang ke kampung halamannya atau tidak. Ia bahkan belum sempat menjawabnya.

“Ayah! Apakah ayah tidak tahu jika aku baru saja melakukan comeback? Apa Ayah tidak ingin anaknya berhasil? Ayah tidak ingin aku berhasil? Mengapa Ayah tetap memaksaku pulang? Aku akan pulang jika aku kembali ke sana jika memang aku sudah bisa kembali! Tidak perlu memaksaku pulang! Aku juga punya rumah di sini! Rumahku bukan hanya di Qing Dao”

Dan panggilan ayahnya diakhiri begitu saja oleh Victoria. Bahkan sebelum ia membiarkan ayahnya berbicara lagi.

If you possibly can’t understand my feelings, it’s fine. No need for excuses, it’s all my fault.

Tangan Victoria meraih ponsel di bawah bantalnya, menekan speed dial ke rumahnya. Ia mematung, tangan kirinya menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya sekaligus berusaha menahan isak tangisnya. Nada sambung mulai terdengar dari ponselnya, setelah sekian lama tetap tidak ada suara terdengar di telinganya. Victoria mengulangi pangilannya hingga suara seorang wanita terdengar di telinganya.

“Halo! Dengan siapa aku berbicara?”

Air mata Victoria kembali jatuh ketika ia berkedip.

“Halo! Dengan siapa kau ingin berbicara? Tolong jawab aku.”

Hening.

Victoria membuka mulutnya perlahan kemudian kembali terisak sepelan mungkin. “Ibu…”

“Qian, apakah itu kau? Song Qianku di sana? Qian, kembalilah ke sini. Ibu dan ayah merindukanmu.” Sedari tadi, ibu Victoria lah yang mengangkat panggilannya kemudian sekarang berbicara pada anak gadisnya. Isakan mulai terdengar dari ponsel Victoria. Ia menggigit pelan lengannya sendiri untuk menahan tangisnya.

“Qian… Pulanglah.”

“Aku..aku tetap tidak bisa kembali ke Qing Dao. Maafkan aku.”

**

You can still hate me if you’re still upset, it’s fine.

 

“Kau harusnya tidak perlu menelepon lagi! Aku sudah tidak butuh anak sepertimu!”

Dada Victoria berdesir. Suara berat yang mulai serak itu terdengar melengking di telinganya. Kakinya sontak mundur. Tangan kiri Victorian menahan berat tubuhnya dengan meletakkan tangannya di tepian meja. Ayahnya berada di belahan bumi lain, menerima panggilannya dengan amarah yang belum kunjung reda kemudian memakinya seolah ia tidak akan pernah bisa lagi memaki Victoria, seolah Victoria memang pantas menerimanya.

“Maafkan aku, Ayah,” ujar Victoria lirih.

“Aku tidak butuh maafmu! Berhentilah menangis dan nikmati kehidupan mewahmu di Korea!”

Tidak ada lagi suara berat ayahnya. Tidak ada lagi dengusan kesal dari ujung telepon. Hening. Victoria mematung di tempatnya, ia membalikkan tubuhnya menghadap cermin kemudian menghapus air matanya yang tersisa. Ia tersenyum dengan butir air mata di sudut bibir dan matanya. Ia tahu, semua karena dirinya sendiri.

Malhaji anhado modu arayo, dunune nunmul goyeo janhayo.

Sorry, so sorry, ide nae mamin geolyo.

Ma eumi yeorin nal aljanhayo, naega deojal haebol geyo.

Sorry (sorry), I’m sorry ( sorry), imal bakke neun mothae.

 

(Even if you don’t say, everyone know. Both your eyes are immersed with tears.

Sorry, so sorry, this is my heart.

You know the day I’ve opened up my heart, I’ll do better.

Sorry (sorry), I’m sorry (sorry), I can’t say anything other than this, Okay)

Victoria menggenggam ponselnya, bernyanyi dan merekamnya sendiri di dalam ponsel tersebut. Dikirimkannya sepotong lagu dan kalimat untuk ayahnya. Tanda permintaan maafnya untuk Ayahnya.

“Ayah, aku bukan anak yang berbakti padamu. Maafkan aku atas bentakan dan makian yang kemarin kulemparkan padamu. Aku…aku yang belum dewasa ini hanya menjawab dengan kalimat-kalimat tidak dewasa sama sekali. Maaf karena aku belum cukup dewasa untuk dapat berbicara denganmu. Maafkan aku karena memjadikanmu pelampiasan dari beban kesibukanku.

Ayah, kumohon jangan membenciku terlalu lama. Aku..aku memang tidak dapat memberikan apa-apa. Yang bisa kuberikan hanya ini, permintaan maafku lewat sebait lagu. Semoga kau mendengarkannya, Ayah.

Ayah, aku memang tidak dapat melakukan apa pun untukmu. Aku telah terlalu sibuk mengurus diriku sendiri. Bahkan untuk sekadar datang melihatmu saja aku tidak menjawab, malah membuatmu marah karena kata-kataku  yang sama sekali tidak dewasa. Maafkan aku, Ayah. Aku sama sekali tidak dapat membayangkan kehidupan tanpamu. Maafkan aku.”

**

I can’t do anything other than this, I can’t imagine a world without you.

“Ayah, aku tidak bisa jika kau tak ada. Maafkan aku.”

Malam berikutnya masih sama dengan malam sebelumnya. Masih di kamarnya yang gulita, Victoria menahan isak tangisnya, menggigit bibirnya sendiri agar isakannya tidak lolos dari mulutnya. Victoria merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia tidak perlu memaki. Harusnya ia tidak perlu mengumpat. Yang ayahnya butuhkan hanya sedikit perhatian untuk ibunya dan juga dirinya sendiri. Yang harusnya Victoria lakukan hanya bertanya ‘bagaimana kabar kalian?’.

Victoria membuka ponselnya, melihat angka 11.29 p.m. di layar ponselnya dan mengabaikan waktu tersebut. Ia membuka rekaman suara yang diambilnya siang tadi, memutarnya berulang-ulang seraya memandangi foto-fotonya bersama ayahnya di Qing Dao.

Meskipun hari sudah cukup larut, gadis itu tak kunjung memejamkan matanya. Masih berharap ayahnya melakukan panggilan di tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat tidur padanya, seperti yang biasa dilakukannya saat kedatangan pertama Victoria di Korea atau sekadar mendengar ayah dan ibunya bertengkar di telepon hanya karena keduanya bersikeras ingin mengirimkan hadiah yang berbeda untuk Victoria. Tapi Victoria sadar, malam kemarin dan malam ini tidak pernah sama seperti malam-malam sebelumnya. Setidaknya tidak akan seperti ini jika ia tidak bersikap kekanakan.

Mata Victora hampir terpejam ketika ponselnya bergetar pelan. Nomor tak dikenal. Kode panggilan wilayah Qing Dao. Victoria mengusap butir air mata yang mengalir di pipinya. Jantungnya berdebar lebih cepat dan hatinya kerap menyerukan kata ‘ba ba’.

“Qian…”

Victoria mematung sejenak. Seorang laki-laki dengan suara berat yang terdengar sedikit berat kini berbicara di telinganya, terdengar begitu dekat sehingga gadis itu merasakan tangannya sedikit gemetar. Ia merindukan suara lembut seperti itu di telinganya. Ia merindukan ayahnya.

“Qian… Ingatlah. Ayah sangat menyayangimu, sangat sangat menyayangimu. Jangan menangis lagi, ayah akan selalu berada di sini untukmu. Hanya untukmu. Ayah merindukanmu. Jangan menangis lagi, Putriku, dan cepatlah kembali ke sini. Kita akan makan bersama lagi seperti dulu, bermain bersama. Tidak apa jika kau tidak bisa pulang berlama-lama, hanya satu hari saja sudah cukup bagiku untuk melihat putriku kembali ke rumah. Kami merindukanmu, Qian.”

– THE END –

*) “Qian… Ingatlah. Ayah sangat menyayangimu, sangat sangat menyayangimu. Jangan menangis lagi, ayah akan selalu berada di sini untukmu. Hanya untukmu. Ayah merindukanmu.”
Advertisements

27 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – f(x)’s Victoria

  1. galo galo galo galo galo…..

    demi apa ini ff galo banget..baru baca kalimat awal aja aku udah berlinang airmata… dan begitu tamat aku langsung nangis… meskipun ga sampe sesenggukan.. aku jg suka kaya vic gt… suka gasadar ngomong kasar ke daddy dan terlalu sombong buat minta maaf *haaaanjir aku mewek masa nulis komennya*

    oke intinya ini ff super galo dan aku suka!! bagus! demi apa ini simple tapi ngena..

    hayo bikin ff galo lg… beedragon lg super galo belakangan ini.. hakhakhakhak

    힘내!! 뿅!

  2. Mala! Im coming 😀 maaf ya baru muncul. Abis butuh persiapan mental buat baca gr2 temanya galau sama ayah sih *halah

    Jujur aja nih Mala, aku ga baca ffnya sampe selesai. Bukan krn ga suka atau ga ngehargain tulisan kamu. Tp lebih krn ga sanggup bacanya. Takut mewek. Ga suka mewek. Jd aku cuma baca sampe Vic ngirim voice message. Itu aja dah mrembes(sampe nulis komen ini jg msh nahan mewek). Dah nyesek yg kebangeten. Kalo aku lanjtn pasti dah meraung guling2. Maklum sensitif bgt aku kalo udah soal babe.takut kangennya sm babe meluap padahal harus ditahan 1th lagi. Dan walaupn ga bca sampe kelar, ff ini tetep JJANG! Aku suka. Good job banget dah mala. Keut! Fighting! 😀

    1. Gak apa-apa lagi Kak Ayu~
      fyi nih ya, Kak. Aku nulis FF ini sambil nangis kejer banget~ tengah malam. hahaha.
      Memang ini juga topik yang sensitif buat aku, bikin nangis kejer.
      Jadi aku gak masalah kalo Kak Ayu ga selesai baca ini. Makasih ya Kak uda mau baca^^

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s