[FF G] Crying Alone


crying alone

Author : HARUHIHaruhi’s Neverland | Main Casts : Bae Suzy (Miss A), Kim Myung Soo (Infinite) | Support Cast : Park Jiyeon (T-ara) | Genre : Romance, AU, Hurt | Length : Vignette | Rating : General |

Disclaimer : The story is mine, all casts belong to God, Plagiarism is STRICTLY PROHIBITED. Please don’t copy without any credit or permission!

Autor’s note : Ini vignette pertama aku~! Mungkin gaya berceritanya bakal mirip-mirip diary gara-gara diambil dari sudut pandang Suzy semua. Dan sekitar delapan puluh persen cerita ini diambil dari kisah nyata. Tuh, aku jujur kan. Spoiler deh. Uuuhhh -___-a

Okay! Enjoy reading! Readers with comments or like will be very apreciated! ^___^

.

.

.

Keberadaanmu seperti fatamorgana.

Seolah-olah kau begitu dekat.

Tetapi sebenarnya sosokmu berada dalam jarak yang tak mungkin kujangkau.

 

.

.

 

oOOo

Cinta kadang tak berjalan seindah yang kita harapkan. Ada kalanya, takdir yang digariskan Tuhan bergerak menuju arah yang tak pernah kita kira.

 

Kim Myungsoo, aku berterima kasih padanya. Dia yang membuatku sadar betapa laki-laki memiliki pola pikir yang tak terbaca. Seperti kamuflase yang menipu. Begitu indah saat dilihat dari jauh, tetapi belum tentu sama indah ketika didekati.

 

Semua perhatiannya kuartikan sebagai cinta. Tak hanya aku yang berpikir begitu. Semua orang di sekelilingku juga demikian. Hingga aku tebuai, hanyut dalam atmosfer yang memupuk indah harapanku. Ya. Aku merasa tak perlu menggapai cintaku. Karena kupikir, aku telah berada begitu dekat dengannya. Sangat dekat.

oOOo

Aku dan Myungsoo sering pulang dan berangkat sekolah bersama, bertengkar seperti anak TK, terlihat begitu akrab hingga mengundang rasa iri orang lain yang melihat. Satu hal yang tak bisa kulupakan dari Myungsoo adalah perhatian-perhatian kecilnya. Misalnya, dia tidak pernah membiarkanku berjalan di sisi jalan raya. Dia akan berjalan di sampingku sehingga aku terlindungi olehnya. Ya. Dia menjagaku seperti ksatria. Itu yang membuatku mengaguminya, dan… aku terjerat dalam pesonanya.

Beberapa hari yang lalu, ketika teman-teman satu per satu meninggalkan kelas, Myungsoo menjerit, “Yaa! Mau kuantar pulang?”

 

Dia memang selalu menemaniku pulang. Tapi, hari ini aku tidak bisa pulang bersamanya karena harus menghadiri kegiatan klub tennis.

 

“Duluan! Aku mau latihan untuk turnamen…” ucapku sembari memasukkan buku-buku ke dalam tas. Dalam hati, aku menghujat volume suara Myungsoo saat memanggilku. Kenapa harus sekeras itu padahal aku berada tidak jauh di sampingnya. Memangnya aku tuli?

 

Myungsoo tak merespon. Aneh. Biasanya dia gigih merayuku pulang bersama. Bahkan kemarin dia ikut menungguku latihan tennis sampai sore. Dahiku mengerut, kupalingkan wajah ke arah Myungsoo. Dia terkekeh dengan ekspresi menyebalkan.

 

“Kau ini aneh. Aku sedang berbicara dengan Jiyeon! Kau mau latihan kan? Latihan saja… Aku tidak akan mengganggumu.” ucapnya lalu tertawa.

 

Aku mendengus. Apa ini? Dia marah? Karena kemarin kugertak ‘Kenapa kau sampai perlu menungguku latihan! Aku jadi sulit konsentrasi karena ditunggu begitu!’. Astaga… Yang benar saja? Ucapanku itu terlontar begitu saja karena sebenarnya aku tidak tega membuatnya menunggu lama. Ah, salahku juga karena aku tidak berkata jujur dan mengakui bahwa aku mengkhawatirkannya. Tapi, jika benar dia marah karena masalah itu, Myungsoo sungguh kekanakan.

 

Beberapa waktu lalu, saat berangkat sekolah, Myungsoo pernah memberiku sebungkus cokelat. Untukku sendiri. Kupikir ada makna tersembunyi dari cokelat itu. Bukankah suatu hal yang romantis jika menerima cokelat dari namja? Jadi, aku tersenyum. Kupikir, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

 

Pagi tadi, dia kembali membawa cokelat. Kali ini lebih banyak. Tapi dia tak memberikannya padaku, dia bilang karena aku sudah pernah dia beri. Dan dia membagikannya pada beberapa teman. Termasuk Jiyeon, dengan bentuk hati yang membuat heboh teman sekelas. Dia bilang, itu hanya kebetulan yang menerima Jiyeon.

Sementara teman-teman bersorak meledeknya, Jiyeon sudah sibuk tersipu ria. Lalu mereka mau pulang bersama? Biar kutebak apa reaksi teman-teman. Ah, benar saja. Seluruh penghuni kelas bersorak riuh mengiringi langkah mereka. Saat itu, aku merasa hatiku seperti terbakar. Jadi, aku melangkah ke gedung olahraga dengan langkah menghentak marah.

Aku tahu, Myungsoo memang namja yang penuh perhatian. Dan, aku tahu aku egois. Aku hanya menginginkan Myungsoo tetap memperhatikanku dan hanya aku seorang. Namun aku ini siapa? Hanya seorang teman yang hatinya telanjur melayang tinggi karena perhatian berlebihan yang membuatku menganggap perasaanku tak bertepuk sebelah tangan.

Ketika aku berpikir Myungsoo sedang marah padaku, malam harinya -sebelum aku tertidur- Myungsoo berhasil membuat kantukku lenyap dengan sebuah pesan yang ia kirim,

"Adakah namja yang kau suka saat ini?"

Aku terperangah. Bagiku, ini seperti survei yang dilakukannya sebelum ia menyatakan cinta. Lihat? Myungsoo memiliki pikiran yang tak terbaca. Ada kalanya kupikir dia menyukaiku, ada kalanya kupikir dia mulai memikirkan Jiyeon, dan ada kalanya kupikir dia berhenti mencari perhatianku. Menyebalkan. Jadi, aku memutuskan untuk tidak membalas pesan itu. Kupikir, biarlah waktu yang menjawab. Lagipula, kalau Myungsoo cukup pintar seharusnya dia bisa menjawab pertanyaannya barusan. Sayangnya dia lamban. Ah, bukan. Bodoh!

Jadi, aku kembali tidur dan mengabaikan pesan itu.

oOOo

Orang bilang cinta itu rumit. Sebelum aku mengenal Myungsoo, aku tidak percaya. Sekarang aku mengerti. Lihat saja, bagaimana pagi tadi Jiyeon datang padaku lalu berkata sambil menunduk malu,

“Kau teman dekat Myungsoo kan? Aku mau minta tolong. Boleh?”

Aku tidak memiliki firasat apapun saat itu. Ternyata dia memintaku untuk menjadi cupid cintanya. Hah, kau gila? Tidak. Takdir yang sepertinya berusaha membuatku gila. Aku sempat bergeming selama beberapa detik. Bingung. Jiyeon temanku. Myungsoo? Aku mencintainya, tapi aku bingung apakah namja -dengan perasaan yang sulit terbaca- itu juga mencintaiku atau tidak. Sementara kadang, dia juga terlihat menyebarkan sinyal hati pada Jiyeon.

Mungkin, peluangku untuk Myungsoo tak jelas sebesar apa. Tapi, aku tidak bodoh, Jiyeon-ah. Kalau kau tahu isi pesan yang dikirimkan Myungsoo padaku malam tadi, mungkin kau akan menangis tersedu-sedu karena patah hati. Diam-diam, aku mendengus penuh kemenangan.

“Hmm… Sebenarnya, aku hanya perlu sedikit bantuan sih. Karena sepertinya Myungsoo juga menyukaiku.” Jiyeon melirik arah lain, menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Mworago?” aku mendegus geli. Hatiku menertawakan rasa percaya diri gadis di depanku.

“Tadi malam, dia mengirimiku pesan. Dia bertanya apakah ada namja yang kusukai saat ini.”

Aku membeku. Kau tahu apa rasanya tersambar petir saat cuaca bahkan tidak mendung? Aku merasakannya sekarang.

“Lalu kau membalasnya?”

“Ya. Aku menjawab ‘kau’.”

Ah, hebat. Ternyata Myungsoo mengirim pesan itu tidak hanya padaku, tetapi juga pada Jiyeon. Apa artinya ini? Apa ada orang lain lagi yang menerima pesan seperti ini? Myungsoo tidak waras! Dan astaga, Jiyeon menjawabnya dengan jujur sementara aku memutuskan untuk diam? Sial.

Aku ingin marah. Tapi, mulutku malah mengeluarkan suara tawa. Suaraku parau.

“Baiklah, aku akan membantumu.” ucapku sambil tertawa dan menepuk pundak Jiyeon seperti sobat karibnya. Entahlah, sepertinya aku telah kehilangan akal sehat. Ya, dari jawaban yang sok tegar ini, artinya aku telah melepaskan Myungsoo. Padahal, aku belum siap. Tak akan siap. Aku bodoh kan? Aku terlalu gengsi untuk menyatakan perasaanku. Bukan. Bahkan untuk mengakui perasaanku sendiri. Memalukan.

Ternyata, ada begitu banyak orang yang mendukung Jiyeon -si gadis cantik yang populer- ini untuk jadian dengan Myungsoo. Ada apa sebenarnya? Apa orang-orang telah lupa bahwa Myungsoo sebelumnya selalu mengikutiku? Bahwa Myungsoo pernah memberi lebih banyak perhatian padaku sebelum Jiyeon? Kenapa dukungan mereka lebih besar pada Jiyeon? Apa karena aku tidak sepopuler dan secantik Jiyeon?

Dunia ini memang gila. Sejak Jiyeon memintaku menyatukannya dengan Myungsoo, atau lebih tepatnya sejak satu kelas heboh menggosip tentang mereka, segala hal yang kubahas ketika bersama Myungsoo telah berbeda. Bukan lagi soal ‘kita’ tetapi ‘kalian’. Hatiku mengungkapkan bahwa aku tidak suka melihat Myungsoo digosipi dengan Jiyeon. Tetapi mulutku berkata ‘kalian benar-benar cocok!’ Itu yang selalu kukatakan pada Myungsoo. Biasanya dia akan diam, lalu menatapku dingin. Dia memang selalu terlihat tidak suka jika aku, atau semua orang mulai membahas hal itu. Dia bahkan pernah membentak seorang temanku yang meledeknya sampai berlebihan. Akibatnya? Sekarang, jarak antara aku dengan Myungsoo mulai tercipta.

Kalian mungkin berkata, kenapa aku sebodoh itu? Itu karena aku selalu membohongi perasaanku. Aku terlalu angkuh pada cinta. Lagipula ketika semua orang sedang menggoda Jiyeon dengan Myungsoo, aku tidak mungkin menjerit ‘hentikan! Aku juga menyukainya!’ bukan?

Seiring waktu bergulir, Myungsoo menjauh. Dan semakin sulit kugapai. Aku mulai merasa harapanku habis termakan waktu. Kosong. Sia-sia. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti mengejar, lalu mengubur semua harapanku. Kini aku tahu, menyingkirkan harapan tak semudah niat dan ucapan. Rasanya luar biasa menyakitkan.

Tidak ada Myungsoo-Suzy di mata orang lain. Yang mereka lihat adalah Myungsoo-Jiyeon. Sekarang, berpura-pura tersenyum dan menggoda Myungsoo dengan Jiyeon sudah menjadi kebiasaanku. Rasanya seperti kerja paksa. Hatiku menangis, menjerit, memberontak. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang tahu perasaanku dan apa yang kurasakan. Aku sungguh menderita.

Myungsoo mulai melupakanku. Dan mulai terbiasa dengan Jiyeon di sisinya. Dia bahkan tak lagi mengelak saat orang-orang menggodanya dengan Jiyeon. Hari-harinya kini terlihat cerah dengan Jiyeon yang selalu jujur pada perasaannya. Tidak seperti ketika aku melarang Myungsoo menungguku latihan tennis. Tidak seperti aku yang memilih diam saat Myungsoo bertanya siapa namja yang kusukai. Jiyeon berkata ‘iya’ ketika dia memang setuju. Dan berkata ‘tidak’ ketika dia menolak. Dan Jiyeon lebih mahir memperlakukan Myungsoo, sesuai dengan perasaannya yang jujur. Mungkin itu yang membuat Myungsoo merasa nyaman.

Semua perhatian yang dulu kuterima dari Myungsoo kini dihibahkan pada Jiyeon. Dan tahu apa? Sekarang, mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih. Semua bersorak gembira. Aku, seperti biasa -kembali berakting bahagia- entah demi siapa. Aku bodoh. Lebih bodoh dari Myungsoo. Dan aku menyedihkan. Tidak seperti Jiyeon yang beruntung.

oOOo

Aku berdiri terpaku. Menatap Myungsoo dan Jiyeon yang berjalan berdampingan beberapa meter di depanku, di tepi jalan raya yang biasa kulalui bersama Myungsoo. Sambil berjalan, mereka tertawa bersama, bersenda gurau, terlihat begitu bahagia. Myungsoo berjalan di pinggir jalan raya, dan Jiyeon berada di sisinya yang lain, tempat yang biasa kutempati.

Aku menatap posisi Jiyeon dengan kehampaan. Hatiku menjerit ‘itu tempatku!’. Tetapi logikaku menjawab ‘dia bukan milikmu!’. Tragis. Terlalu menyakitkan. Hatiku yang dulu sempat melambung tinggi, sekarang jatuh hingga bukan lagi remuk, tetapi hancur menjadi kepingan menyedihkan yang terbawa angin. Hatiku menangis, tapi tak ada yang melihat. Tak ada yang peduli. Semua berlalu dengan wajah bahagia.

Jadi, aku menangis sendirian.

END

28 thoughts on “[FF G] Crying Alone

  1. another galo fiction from haruhi..

    awalnya ga mau baca karena itu adalah suzy.. kenapa pairingnya suzy? knapa bukan yongbi? *protes tidak pada tempatnya*
    tapi begitu baca ampe akhir aku pun merasa lega.. suzy tidak berakhir bahagia dengan myungsooku #ketawanista

    btw suzy ini mewakili sebagian besar remaja perempuan yg maluan/? dan punya gengsi tinggi.. salah satunya bee… jadinya cukup berasa aj gt galo2nya suzy disini yg diombang-ambingkan perasaannya sama abang el..

    나이스!! ada lagi lnjutannya kah? galo lagi kah? kl gt tunggu saya mampir disana.. haha

    안녕!!뿅!

    1. haha… eonni ga ngomong dari awal, diduluin Szy lah… -3- *apaansih

      yah, si eon curhat. wkwkw

      iya,, lanjutannya udah di post kok eon. Silakan ^^

      Makasiiih udah sempetin baca ya eon… ^^

  2. Huhuhu myungsoo pHP ih. Author berhasil bikin aku kesel sama jiyeon. Cinta bertepuk sebelah tangan,cinta terpendam, & di PHP-in emang bikin galau merambat

  3. rasanya nyesss
    Fanficnya sederhana tpi ngena banget dan semakin baca makin menarik 🙂
    tpi beneran nyeseknya gk ilang2 smpe sekarang..kasihan Suzy eonni. beneran deh, pengen gigit Myungie/? huee..aku nemuin FF ini krna suka bca FF Suzy, hehe..fighting!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s