[FF PG17] Tale Of Two Siblings [Episode 10] ~ Cleanversion~


Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ http://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng            [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                 [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                         [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                     [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                           [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                            [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Read Ps di bawah ya.. soalnya penting 🙂

Chapter:

1, 2, 3,4,5,6,7,8,9

 The Reality

Luhan mengambil tasnya, ini sudah tengah malam dan shift kerjanya sudah habis. Dia bertemu dengan Jongdae dan seperti biasanya lelaki itu menyapanya dengan hangat, Luhan berpamitan untuk pulang dan keluar dari club malam yang bising sekali.

Udara Seoul sangat dingin sekali, bahkan salju mulai turun menutupi sebagian jok motor sportnya. Luhan yang kedinginan menaikan sleting jaket kulitnya dan dia menggunakan sarung tangannya, dia hendak menghidupkan motornya namun sebuah lampu mobil membuat pandangannya silau.

Sebuah sedan jaguar berhenti didepannya, kaca mobil itu turun dan dia bisa melihat sosok Siwon didalam mobil itu.

“Luhan-shi, senang bisa bertemu denganmu lagi.” Siwon berkata dia tersenyum manis kearah Luhan.

“Siwon-shi.”

“Masuklah, tenang saja anak buahku akan menjaga motormu.” Siwon berkata, dia membukakan pintu mobilnya untuk Luhan.

“Tapi..”

“Tak usah takut, aku tidak akan menyakitimu.” Siwon bercanda dan Luhan tersenyum, sebenarnya Siwon cukup baik hati untuk menawarinya tumpangan.

Malam ini sangat dingin, dia tidak tahu kalau dia akan kuat mengendarai motornya dalam cuaca seperti ini. Mau tidak mau Luhanpun mendekat kearah mobil Siwon, dia masuk kedalam mobil mewah itu dan duduk disamping Siwon.

“Malam ini dingin sekali, benarkan?” Siwon menghidupkan penghangat di mobilnya dan Luhan bisa merasakan udara hangat menyentuh wajahnya yang terasa kaku karena dingin.

“Ya, sepertinya musim salju tahun ini akan sangat dingin.” Luhan membalas bahkan uap sudah keluar dari mulutnya.

Siwon yang melihat itu khawatir, dia menaikan suhu pemanas dimobilnya lagi lalu dia menghidupkan mesin mobilnya.

“Kau tinggal dimana? Apa kau lapar? Aku sedang ingin makan pizza.” Siwon berkata Luhan tersenyum, sebenarnya Siwon mengingatkan dia pada dirinya sendiri.

Luhan sangat menyukai pizza apalagi di cuaca yang dingin seperti ini, Siwon benar pizza adalah makanan yang cocok untuk mereka berdua. Lagipula,mereka tidak bisa menemukan restoran Cina untuk mememasan soup kesukaan Luhan.

“Aku tinggal di apartemen Sunrise, tidak jauh dari sini.” Luhan menjawab.

“Oh apartemen disana pasti snagat bagus sekali, jika kau punya banyak uang kenapa kau bekerja di club malam?” Tanya Siwon penasaran, dia melirik sekilas kearah Luhan.

“Apartemen itu milik ayahku, Aku ingin mencari uangku sendiri untuk sekolah disini aku tidak ingin merepotkan beliau.” Luhan menjawab dan Siwon tersenyum.

Sangat miris, dia bilang Zhoumi ayahnya? Jika dia tahu yang sejujurnya, ayahnya yang sebenarnya sedang duduk disampingnya menatapnya penuh dengan kesedihan. Siwon ingin sekali memeluk anaknya itu apalagi saat dia melihat betapa kurusnya Luhan, dia sangat khawatir.

“Kau punya tujuan yang bagus.” Siwon berkata, dia membelokan mobilnya menuju distrik gangnam.

“Aku punya pekerjaan yang cocok untukmu, apa kau mau?” Siwon menawarkan dan Luhan melirik kearah Siwon.

“Pekerjaan?”

“Ya, aku tertarik untuk membuat label musik dan aku dengar kau sedang kuliah dijurusan musik apakah kau mau menjadi musisi dilabel musikku?” Siwon menjelaskan dan Luhan tersenyum lebar.

“Tentu saja tuan Choi, aku akan senang sekali jika kau mengijinkan aku untuk menjadi musisi dilabel musikmu.” Luhan menyetujui penuh dengan antusias.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu jika label musikku sudah terbentuk dengan sempurna.” Ucap Siwon, dia melihat sebuah restoran pizza dan diapun berhenti dipakiran restoran itu.

“Ayo, turun aku akan membelikanmu pizza.” Siwon turun dari mobilnya, diikuti oleh Luhan yang canggung.

Ini pertamakalinya dia pergi kerestoran pizza bersama seorang lelaki, biasanya dia pergi denganmnatan pacarnya atau mamanya. Walaupun dia jarang sekali kerestoran pizza bersama mamanya, dia selalu bahagia setiap kali dia memiliki kesempatan untuk pergi bersama mamanya karena mamanya jarang sekali memiliki waktu luang untuk dia.

Siwon memesankan pizza untuk Luhan, walaupun sedikit mengantuk Luhan mencoba membuka matanya. Sebuah cangkir yang berisi kopi hangat disimpan didepannya, dia melirik dan mendapati Siwonlah yang meletakan kopi itu dimejanya.

“Satu kopi dengan krim untuk Luhan-shi.” Siwon berakting bagaikan seorang pelayan direstoran, Luhan tertawa.

“Siwon-shi…aku tidak tahu kau suka bercanda.” Luhan mengungkapkan, Siwon mengangkat bahunya dan duduk didepan Luhan.

“Apa kau mengira aku lelaki sadis yang selalu menyeramkan setiap saat?” Siwon memprediksi dan Luhan dengan canggungnya mengangguk.

“Aku sudah biasa dengan prediksi itu, namaku cukup tenar di club malam itu iyakan?” Siwon bertanya dan Luhan mengangguk lagi, dia meminum kopi yang Siwon bawakan untuknya.

Matanya melebar saat lidahnya menyentuh cairan hangat itu, rasa kopi yang dia minum sekarang percis sekali dengan rasa kopi kesukaannya. Kopi ini rasanya dibuat oleh dirinya sendiri, rasa manis dan krim yang dibubuhkan kedalam kopi ini sangat pas dengan seleranya.

“Siwon-shi, darimana kau tahu aku suka membubuhkan krim di kopiku?” Tanya Luhan heran, seingat dia Siwon tidak pernah tahu kebiasaan minum kopinya itu bahkan mereka baru mengenal beberapa hari.

“Entahlah, aku suka membubuhkan krim di kopiku, aku hanya membuat kopimu sama seperti kopi aku.” Siwon mengungkapkan, dia bahkan menunjukan kopi miliknya dan warna kopi mereka sama.

“Aneh..” Luhan bergumam.

Luhan dan Siwon berbincang, mereka kebanyakan membahas tentang olah raga yang mereka sukai. Siwon ternyata lebih suka golf dari pada sepak bola, berbeda dengan Luhan yang gila akan sepak bola bahkan lelaki itu memiliki koleksi kaos dan mug tim favoritenya.

Dengan mengobrol Luhan merasa kalau dia dan Siwon memiliki koneksi yang kuat, dia merasa nyaman dan bisa terbuka dengan lelaki itu.Siwon mungkin terlihat kasar dan dingin kemarin, tapi sekarang lelaki ini penuh dengan lelucon dan senyuman.

Luhan berpikir, mungkin akan menyenangkan jika ayahnya lebih santai seperti Siwon. Ayahnya Zhoumi selalu tegas dan berwibawa didepannya, bahkan ayahnya itu tidak pernah melontarkan lelucon padanya, apalagi tertawa lepas seperti Siwon.

Zhoumi selalu menasehatinya dan mendidiknya untuk menjadi pembisnis yang sukses, semua topik pembicaraan mereka tidak pernah keluar dari bisnis walaupun sesekali Zhoumi selalu menceritakan masa mudanya dulu.

Namun dengan Siwon semuanya berbeda, bahkan atmosphere diantara mereka lebih terasa ringan dan ceria dia bandingkan dengan Zhoumi.

“Jadi kenapa kau berkuliah di Korea? Bukankah universitas di Cina sama bagusnya?” Siwon bertanya dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Aku suka Korea, lagipula fakultas musik di Cina tidak beragam seperti di Korea.” Luhan menjawab.

“Oh..kau suka Korea? Kenapa?” Siwon bertanya, dia meneguk lagi kopinya.

“Aku suka udara disini, disini lebih terasa nyaman saja..” Luhan menjawab, tatapannya menerawamg kearah gelas kopinya, sudut bibir Luhan terangkat membentuk senyum yang tipis.

“Apakah kau akan kembali ke cina setelah kau menyelesaikan studimu?” Tanya Siwon lagi, dia akan sedih sekali jika anak lelakinya itu tidak ada lagi disampingnya. Luhan yang melihat ekspressi Siwon yang sedih bingung, dia pikir mungkin dia hanya berhalusinasi saja dan dia tidak mengubris pikirannya.

“Mungkin, aku tidak tahu..” Jawab Luhan.

“Jika kau punya pekerjaan tetap kau ingin tinggal disinikan?”

“Mungkin, Siwon-shi aku belum memutuskan apapun lagipula kuliahku masih lama disini.” Luhan berkata dia menatap kearah lelaki itu.

“Aku tahu, aku hanya sedih karena aku harus kehilangan suruhanku.” Siwon tersenyum begitu juga Luhan.

“Kau akan menemukan pegawai lain yang lebih baik dariku.” Luhan menghibur.

Pesanan pizza mereka akhirnya sampai tak menghabiskan waktu yang lama mereka mencicipi pizza itu, rasa pizza itu enak sekali apalagi pizza itu masih hangat.

“Sudah lama sekali aku tidak makan pizza.” Luhan mengungkapkan.

“Benarkah? Apa kau suka makan piza di cina?”

“Ya, biasanya aku memakan pizza dengan mama karena baba sangat sibuk jadi dia tidak punya banyak waktu untuk aku dan mama.” Luhan mengungkapkan dengan sedihnya.

Siwon merasa sangat bersalah, selama ini dia tidak pernah ada didalam kehidupan anak lelakinya. Dia juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia terlalu angkuh untuk memohon pada Ziyi agar dia bisa bertemu dengan Luhan kecilnya.

Siwon sebenarnya ingin menanyakan banyak hal pada Luhan, dia ingin menebus semua dosanya selama ini karena dia tidak pernah datang dan menemui anaknya.

“Bagaimana dengan hobimu? Apa kau punya hobi?” Siwon melontarkan pertanyaan lagi.

“Aku suka bermain gitar.” Luhan menjawab, selain lihai menjadi DJ Luhan juga lihai memainkan beberapa instrumen musik seperti piano dan gitar.

“Gitar? Aku selalu ingin belajar gitar, tapi aku terlalu sibuk.” Siwon berkata.

“Aku bisa mengajarimu jika kau mau.” Luhan menawarkan.

“Kau mau?”

“Ya tentu saja..kapan anda punya waktu luang?”

“hm..aku akan melihat jadwalku, aku akan menghubungimu jika aku punya waktu luang.”

Mereka berdua kembali berbincang sambil menikmati pizza, mereka bahkan tidak sadar dengan waktu yang terus bergulir menuju pukul 2 malam. Luhan dan Siwon menikmati pizza mereka sambil minum kopi, sebagian orang yang datang kerestoran melirik kearah mereka penuh dengan kekaguman.

Dua lelaki tampan yang sedang mengobrol akrab pada tengah malam, jarang sekali pemandangan ini mereka dapatkan. Siwon dan Luhan akhirnya selesai berbincang dan mereka pergi setelah membayar pizza, meskipun Luhan bersih keras untuk membayar pizza yang mereka pesan Siwon kukuh ingin membayarnya untuk pemuda itu.

Tanpa mereka ketahui matahari sudah mulai terbit, diperjalanan mereka berhenti dulu disebuah bukit yang berada tidak jauh dari apartemen Luhan. Mereka berdua duduk disana melihat matahari dengan perlahan terbit, udara cukup dingin namun Luhan dan Siwon tidak terlalu mempedulikannya.

“Terimakasih sudah mengajakku jalan-jalan.” Luhan berkata saat mereka sedang duduk menatap kearah langit.

“Sama-sama, aku juga sudah lama tidak jalan-jalan.” Siwon menjawab, belakangan ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

“Oh iya, Siwon-shi..bagaimana dengan keluargamu?” Luhan bertanya, dia sedikit penasaran karena sejak tadi dia hanya menceritakan dirinya dan keluarganya sedangkan Siwon tidak pernah membicarakan tentang dirinya ataupun keluarga nya.

“Aku punya satu anak perempuan dan istriku sudah meninggal.” Siwon menjawab.

“Maaf aku tidak bermaksud..”

“Tidak apa-apa, anakku sekarang sudah SMA dia sangat aktif dan ceria.” Siwon melanjutkan dia tersenyum.

“Anakmu pasti cantik.” Luhan menebak.

“Begitulah, dia mirip dengan istriku.” Siwon menerawang menatap langit yang mulai berwarna jingga dan menghela nafasnya.

“Apa kau ingin menikah lagi? Bukankah sepi jika kau terus sendirian?” Tanya Luhan menatap kearah Siwon.

“Ya memang sepi, tapi aku terlalu mencintai istriku aku tidak bisa berpaling darinya.” Siwon melipatkan tangannya didadanya.

“Sebenarnya aku pernah mencintai seorang wanita sebelum istriku, kami berdua punya anak tapi dia kabur karena orangtuaku tidak menyetujui hubungan kami.” Siwon bercerita dan Luhan menatap kearah Siwon penuh kesedihan.

“Sampai sekarang..aku belum pernah bertemu dengan anak yang satu itu, entah dimana dia sekarang tapi aku merindukan dia.” Siwon balik menatap kearah Luhan mata mereka bertemu, entah kenapa Luhan merasa ada sesuatu yang Siwon coba sampaikan padanya namun dia tidak tahu apa.

Mata coklat Siwon penuh dengan misteri dan dia tidak bisa mengerti, dia mencoba menggali sesuatu dari lelaki itu mencoba mengingat setiap perkataan lelaki itu namun dia tidak mengerti apa maksud dari tatapan Siwon yang begitu dalam.

“Ngomong-ngomong, jangan panggil aku Siwon-shi..” Siwon berkata.

“Kenapa?”

“Aku merasa aku tidak mengenalmu jika kau memanggilku seperti itu.”

Luhan tersenyum.

“Kalau begitu bagaimana dengan paman? Atau Hyung?” Luhan bertanya.

“Aku jauh lebih tua darimu Luhan, bagaimana kalau paman saja?”

“Baiklah paman.” Siwon dan Luhan tersenyum.

“Itu lebih baik..”

[Kediaman keluarga Li, Beijing – Cina 06:00 am]

   Zhoumi menyimpan laporan yang Yixing berikan padanya, ada beberapa kejanggalan didalam laporan Yixing. Zhoumi bisa melihat uang sebesar 1 miliar dimasukan kepada akun bank Yifan oleh sebuah nomor rekening,namun beberapa hari kemudian uang itu kembali ditarik oleh rekening bank yang sama.

Zhoumi curiga dengan aktivitas ini dia memiliki firasat kalau uang yang banyak ini ada hubungannya dnegan hilangnya uang perusahaan Jung, apalagi jumlah uangnya sama dengan jumlah uang yang hilang.

Zhoumi sudah mendengar tentang Yifan yang tertembak, berita diculiknya Hyojin sudah menyebar keseluruh dunia bisnis textile. Bahkan berita itu menjadi topik hangat yang semua orang bicarakan, bahkan rekan kerja Zhoumi menanyakan berita itu padanya.

“Tao! Zitao..” Zhoumi memanggil dengan amarah, sesosok lelaki dengan rambut hitam legam masuk kedalam ruangan Zhoumi.

“Ya tuan..” Zitao masuk dan menunduk kearah Zhoumi.

“Aku punya tugas baru untukmu, pergilah ke Korea mata-matai Yixing dan Luhan. Laporkan semua yang kau lihat padaku sedetail mungkin jangan lupa periksa juga semua data perusahaan Li disana.” Zhoumi memerintah dan Zitao mengangguk.

“Baik tuan.” Zitao menurut.

Zitao hendak berbalik dan keluar dari ruangan Zhoumi namun Zhoumi tiba-tiba saja memanggilnya lahi, Zitao berbalik dan dia melihat sosok Zhoumi yang kelihatannya sangat marah.

“Satu lagi..singkirkan Luhan dan Yixing jika kau bisa, lakukan pekerjaan mu sebersih mungkin.”

Tao terkejut dengan perintah Zhoumi, kenapa lelaki itu ingin menghancurkan anaknya sendiri dan pengikutnya yang paling loyal padanya?

“Tapi tuan..”

“Tidak ada tapi-tapian…jika kau tidak bisa melakukannya nyawamu yang jadi tebusannya.” Zhoumi mengancam, Tao mengangguk diapun keluar menutup ruangan Zhoumi.

“Jadi kau mencoba bermain api denganku Yixing?” Zhoumi bergumam.

Dia tahu Yixing tidak akan tinggal diam, lelaki itu pasti akan melindungi Luhan dengan segala cara dan menghancurkan Yifan adalah jalan yang paling efektif untuk membuat posisi Luhan aman kembali.

Zhoumi dan Yixing memiliki strategi yang sama, Zhoumi akan menyingkirkan Luhan untuk melindungi anak kandungnya dia akan berperang sampai titik akhir jika Yixing ingin bermain api dia akan meladeninya.

[Kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 07:00am]

   Zhongren perlahan membuka matanya, dia bisa merasakan sesuatu yang berat menindih tangannya. Dia melirik kesamping, dia tersenyum sata dia melihat Hyojung tertiur disampingnya sambil mengengam tangannya dengan erat.

Zhongren mencapai pipi Hyojung, dia menyentuh pipi gadis itu namun dia terkejut saat Hyojung tiba-tiba saja terbangun. Dia langsung menutup matanya pura-pura tidak sadarkan diri, dia bisa mendengar Hyojung mengerang dan gadis itu mengeliat.

Zhongren bisa merasakan sentuhan Hyojung didahinya, dia mencoba menahan tawanya saat dia mendengar Hyojung menghela nafas khawatir. Bayangan Hyojung menutupi wajah Zhongren dia tahu kalau gadis itu sekarang menatapnya, Hyojung mendekat dan dia mengelus pipi Zhongren.

“Oppa cepat bangun..aku khawatir sekali.” Zhongren mendengar Hyojung berkata, dia sebenarnya sangat bahagia ternyata Hyojung khawatir sekali padanya.

Hyojung menatapi wajah Zhongren, Zhongren terlihat sangat tampan sekali dibawah sinar matahari apalagi lelaki itu tertidur lelap diranjangnya. Hyojung mengigit bibirnya saat pandanganya jatuh kebibir Zhongren, bibir Zhongren terlihat sangat menggoda sekali untuknya.

Dia dan Zhongren jarang sekali berciuman, Hyojung penasaran sebenarnya bagaimana rasanya mencium lelaki itu sekarang. Hyojung melirik kearah kanan dan kiri seperti seorang pencuri, dia sadar kalau keadaan disekitarnya sepi sekali diapun mendekatkan wajahnya kearah Zhongren.

Bibir Zhongren dan Hyojung bertemu sekilas namun Hyojung terkejut saat dia melihat mata Zhongren terbuka, Hyojung menjauh namun Zhongren langsung bangun dan menariknya kedalam ciuman penuh hasrat.

Hyojung terkejut namun dia luluh dalam ciuman Zhongren, Hyojung membalas ciuman Zhongren dan Zhongren dnegan senang hati mengecup bibi Hyojung dengan mesra. Zhongren menyentuh dagu Hyojung, dia menjauh membuat kontak bibir meeka terhenti sejenak.

“Kenapa kau mencium aku? Bukankah kau bilang kau ingin putus?” Zhongren bertanya dan menyeringai.

“A-aku..” Hyojung tidka bisa menjawab, dia sudah terlanjur mabuk oleh pesona Zhongren sehingga dia tidak bisa berpikir jernih.

“Katakan padaku..apa sekarang kau masih ingin putus?” Zhongren berkata dan dia mencium kembali bibir Hyojung.

Zhongren menarik dagu Hyojung sehingga Hyojung membuka mulutnya, Zhongren menjilat bibir bawah Hyojung membuat Hyojung mengerang. Zhongren akhirnya memasukan lidahnya kedalam mulut Hyojung, lidah mereka bertaut dan saling menggoda Hyojung meremas lengan Zhongren saat dia merasakan lidah Zhongren menggodanya.

Zhongren menarik tekuk Hyojung mendekat, pikirannya tidak jernih sekarang karena hawa nafsu dia sudah menguasainya. Dia hanya ingin menidurkan Hyojung diranjang dan bercinta dengan gadis itu, namun dia sadar kalau Hyojung masih muda dia tidak bisa melakukan itu pada Hyojung.

Zhongren melepaskan ciumannya, mereka berdua terengah-engah namun Zhongren tersenyum saat dia melihat kedua pipi Hyojung merah.

“Apa kau masih ingin putus denganku?” Sekali lagi Zhongren bertanya, Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Gadis yang baik..” Zhongren berkata dia memeluk Hyojung, Hyojung memeluk dia kembali dan tersenyum.

“Aku tahu kau pasti masih khawatir, tapi Hyojung-ah kau dan Taeyeon berbeda..aku tidak pernah berpikir kalau kamu adalah pengganti dia.” Zhongren berkata dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hyojung.

“Sekarang, satu-satunya wanita yang ada dipikiranku hanyalah kamu..Taeyeon Noona hanya masa lalu aku dan aku sedang mencoba untuk melupakannya jadi aku mohon..mengertilah, aku sudah mencintai Taeyeon noona terlalu lama jadi untuk melupakan dia sekaligus terasa berat untukku.” Zhongren mengungkapkan dia terlihat sangat sedih.

Hyojung tersenyum, dia menangkup wajah Zhongren juga. Mata mereka saling bertemu, tak ada kata yang keluar dari mulut mereka tapi mereka mengerti satu sama lain dengan jelas. Zhongren tidak pernah merasakan koneksi yang sangat dalam dengan seorang wanita, namun kali ini dia tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang mau menerima dia dan mengerti dia.

“Aku masih muda Oppa, aku bahkan tidak tahu arti cinta yang sebenarnya..maafkan aku jika kau keras kepala dan manja. Tapi aku mencoba untuk berubah, aku ingin menjadi lebih dewasa dan bisa mencintaimu setulusnya.” Hyojung berkata dan Zhongren tersenyum.

“Aku mengerti, aku sedikit sedih saat kau mengatakan kalau selama ini hanya kaulah yang mencintaiku dan memperhatikan aku karena itu semua salah..aku mencintaimu Hyojung dan aku selalu memperhatikanmu hanya saja terkadang aku lupa.” Tutur Zhongren.

“Aku hanya emosi saat itu, aku tahu kau mencintaiku Oppa.” Hyojung mengelus pipi Zhongren.

“Aku bahagia kalau kau tahu itu, karena cintaku sama besarnya dengan cintamu..bahkan mungkin lebih.” Zhongren berkata dia mendekat lagi pada Hyojung dan bibir mereka sekali lagi bertemu namun ciuman mereka kali ini lebih santai.

[Kantor polisi, Seoul – Korea selatan 09:00am]

Yixing memberikan tas koper yang berisi uang kepada pihak polisi, dia sudah menarik kembali uang yang akan dia gunakan untuk menjebak Yifan.Keadaan sekarang tidak sesuai dengan rencananya, dia akan merasa bersalah jika dia menjebloskan Yifan kepenjara saat lelaki itu sakit.

Yixing tidak menyangka jika Yifan akan menyelamatkan Hyojin, dia kira lelaki itu hanya bermain-main dengan Hyojin.Setelah berpamitan pada pihak kepolisian Yixing pulang, dia menaiki mobilnya lalu menghidupkan mesin mobilnya.

Mobil suv nya melaju menjauh dari kantor kepolisian melaju menuju jalan raya, dia membelokan mobilnya menuju perusahaan Li dia harus sudah bekerja lagi sekarang.

Yixing lebih sibuk karena dia harus menggantikan posisi Yifan untuk sementara, dia melamun sejenak mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Yifan tertembak. Lelaki itu dengan beraninya berlari kearah Hyojin dan melindungi gadis itu dari peluru yang siap menyakiti gadis itu.

Yixing kagum dengan perlakuan Yifan, dia mengakui kalau Yifan memang aktor yang bagus. Dia tahu jika Yifan berhasil menyelamatkan Hyojin, gadis itu akan semakin tenggelam dalam pesona Yifan dan tidak bisa lepas dari lelaki itu.

Yixing menghentikan mobilnya dia memukul setirnya penuh kekesalan, Jika Hyojin semakin menyukai Yifan tidak akan ada kesempatan untuk Luhan agar selamat dia tahu sepupunya itu sekarang semakin dalam bahaya dan yang lebih buruk lagi dia juga kemungkinan dalam bahaya jika Zhoumi tahu kalau dia mencoba menghancurkan Yifan, anak biologisnya.

Yixing membelokan mobilnya lagi dia harus mengontrol keadaan Yifan, kemarin dia tidak sempat untuk menjenguk Yifan karena dia sangat sibuk.

[Kediaman keluarga Jung,Seoul – Korea selatan 09:35 am]

Hyojin sudah bersiap, dia menyisir rambutnya dan merapikan blazernya hari ini dia merasa tidak enak badan namun dia harus kembali kekantor.

Hyojin menghela nafas dan dia mengambil tasnya, dia masih sedikit pusing namun dia mencoba untuk terlihat sehat dan ceria dia mencoba tersenyum namun kepalanya berdenyut sakit.

Hyojin keluar dari kamarnya, dia berjalan pelan menuruni tangga. Hyojung yang baru keluar dari kamarnya, tersenyum melihat kakaknya.

“Eonni, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.” Hyojung berkata dia khawatir sekali.

“Aku baik-baik saja.” Hyojin menjawab merekapun turun dari tangga pergi menuju pintu utama.

“Kenapa kau belum pergi kesekolah?” Hyojin bertanya, seingat dia hari ini masih hari sabtu.

“Zhongren oppa sakit..sepertinya dia kelelahan.” Hyojung berkata.

“Hyojung itu bukan alasan yang tepat untuk tidak sekolah.” Hyojin marah.

“Eonni dia sakit, aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja.” Hyojung membela diri.

“Sakit? Kenapa dia apa dia baik-baik saja?” Hyojin bertanya.

“Aku tidak tahu..kemarin malam dia tiba-tiba saja pingsan, tapi dia sudah sadar sekarang.” Hyojung menjawab dengan nada ceria.

Hyojin tersenyum melihat tingkah adiknya, Hyojung kelihatan sangat bahagia hari ini dia lega karena dia tidak melihat lagi wajah murung adiknya. Walaupun dia tidak sebahagia Hyojung, Hyojin bersyukur karena adiknya itu terlihat normal kembali menjadi Jung Hyojung yang penuh dengan senyum lagi.

“Kalau begitu sampaikan salamku pada Zhongren, aku harus pergi kekantor sekarang.” Hyojin berjalan menuju beranda rumahnya, mobilnya sudah siap dan Yongguk membukakan pintu mobil untuk Hyojin.

“Hyojin-ah, kau sudah baikan?” Yongguk bertanya saat dia sudah duduk dikursi pengemudi.

“Ya, aku harus menyelesaikan beberapa dokumen dikantor.” Hyojin berkata dan dia tersenyum tipis kearah Yongguk.

“Aku sudah mendengar semuanya, tentang Im biseo-nim.” Yongguk mengungkapkan.

“Lalu? Apakah kita harus membicarakan wanita itu sekarang?” Hyojin berkata ketus.

“Bukan begitu Hyojin-ah, kau sekarang tidak memiliki sekertaris jadi aku pikir kau akan mencari sekertaris baru.” Yongguk berkata, dia sebenarnya sedikit menyesal karena sudah mengungkit masalah Yoona.

“Aku akan mencarinya nanti, sekarang aku akan memakai jasa asisten saja.” Hyojin menjawab malas.

Yongguk dan Hyojin tidak berbincang lagi, mereka terlalu fokus pada kegiatan masing-masing. Hyojin sibuk dengan pikirannya sedangkan Yongguk fokus untuk menyetir, Hyojin khawatir dengan reaksi para direktur tentang skandal penculikannya dia tahu hari ini dia akan dimaki habis-habisan.

Setelah beberapa menit berlalu mereka berdua sampai dikantor, Yongguk membukakan pintu untuk Hyojin dan dia segera turun dari mobilnya. Hyojin berjalan masuk namun dia terkejut saat dia bertemu dengan Taeyeon didalam lift, gadis itu tersenyum kearahnya namun Hyojin terlalu malu untuk menghadapinya.

“Apa anda sudah baikan Hwajang-nim?” Taeyeon bertanya.

“Ya, terimakasih..untuk kemarin.” Hyojin menjawab dan Taeyeon mengangguk.

“Sama-sama, aku sudah mengirimkan Kwon Yuri dari bagian administrasi untuk membantumu dia sudah menunggu di meja sekertaris.” Taeyeon memberi tahu.

“Baiklah, sekali lagi terimakasih sudah membantuku.”

“Bukan masalah, dia senang bisa menjadi sekertaris sementaramu.” Taeyeon menjawab dan pintu liftpun terbuka.

“Aku harus pergi duluan, permisi Yongguk, Hwajang-nim.” Taeyeon menunduk sejenak dan pergi keluar dari lift.

“Kau mengenalnya?” Hyojin berbalik kearah Yongguk dan Yongguk mengangguk.

“Ya, kami sering bertemu.” Yongguk menjawab.

“Oh..apa kau menyukai dia?” Hyojin bertanya dan Yongguk tertawa.

“Hyojin-ah, bukankah itu pertanyaan yang terlalu personal?” Yongguk mengangkat alisnya.

“Oke..jika kau ingin merahasiakannya.” Hyojin melipatkan tangannya kesal.

“Hyojin-ah, aku sudah menyukai gadis lain..aku tidak tertarik pada Taeyeon.” Yongguk menjawab dan dia mengelus kepala Hyojin.

“Begitu ya, kalau begitu katakan siapa yang kau suka?” Hyojin mendekat dan Yongguk menggelengkan kepalanya menolak.

“Tidak, jika aku mengatakannya kau akan terkejut.” Yongguk menjawab dan Hyojin memajukan bibirnya sebal.

“Apa kau suka Im biseo-nim?” Hyojin menebak dan Yongguk tertawa, Yoona sudah seperti kakak baginya membayangkan nya saja sudah membuat dia geli.

“Hahaha Hyojin-ah, aku dan Im biseo-nim sudah seperti kakak dan adik lagipula dia jauh lebih tua dari aku..aku tidak suka wanita yang lebih tua.” Yongguk mengungkapkan masih menahan tawanya.

“Oh! Jangan bilang kau suka Hyojung!” Hyojin menuduh dan Yongguk menggelengkan kepalanya dan pintu lift terbuka Yongguk mendorong gadis itu keluar.

“Berhenti menebak, kau semakin tidak masuk akal saja.” Yongguk meledek dan dia menekan tombol untuk menutup lift.

“Tapi oppa..” Hyojin hendak berkata namun pintu lift sudah tertutup.

Hyojin menatap sedih kearah pintu lift, bodoh sekali..kenap dia harus bertanya pertanyaan tadi? Bukankah dia tahu sendiri kalau Yongguk menyukai dia? Bahkan lelaki itu mencoba menciumnya kemarin malam, Hyojin memukul kepalanya sendiri karena dia sudah bertingkah bodoh.

“Hwajang-nim, anda sudah datang?” Yuri menyapa Hyojin dan dia tersenyum manis kearah bosnya.

“Ah Yuri-shi? Aku sudah tahu dari Taeyeon sajang-nim.” Hyojin berkata.

“Ya, mulai sekarang saya akan menjadi sekertaris sementara, saya harap kita bisa berkerjasama dengan baik.” Yuri menunduk dengan sopan kearahnya, Hyojin tersenyum tipis dan mengangguk.

“Aku juga, aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik.” Hyojin berkata dia segera masuk kedalam ruangannya.

Yuri berbalik menatap kearah punggung Hyojin yang menjauh, Hyojin mungkin ramah padanya namun aura dingin masih menyelimuti gadis itu. Yuri merasa kasihan, entah kenapa dia bisa merasakan kesedihan terpancar dimata Hyojin kesedihan yang sangat mendalam.

[Ruangan Yifan,Rumah sakit Seoul, Korea selatan 10:00am]

Yixing menatap kearah Yifan yang sedang memakan buburnya dengan hati-hati sepertinya Yifan masih merasakan sakit dibagian punggungnya, Yixing bisa menebak itu dari cara Yifan bergerak.

“Bodoh..” Yixing bergumam membuat Yifan melirik kearahnya.

“Apa kau bilang? Apakah kau kesini hanya untuk mengatakan itu padaku?” Yifan bertanya sinis dan Yixing menyeringai.

“Ya, kenapa kau menyelamatkan Hyojin? Apa kau ingin jadi pahlawan untuk dia?” Yixing meledek nada suaranya meremehkan.

“Lalu? Apa kau iri? kau ingin jadi pahlawan juga?” Yifan menatap kearah Yixing dengan seringai liciknya.

“Hahaha lucu sekali, terimakasih aku lebih suka berpikir logis daripada bertingkah ceroboh sepertimu.” Yixing menjawab dengan nada sarkastik.

“Yifan apa yang kau pikirkan saat kau berlari dan memeluk Hyojin? Apa kau tidak takut mati?” mata Yixing menatap kearahnya penuh dengan keingin tahuan.

“Kau ingin tahu?”

“Ya, jawab aku brengsek! Aku tidak punya waktu banyak..”Yixing berkata tidak sabar.

“Ya, kau benar aku takut mati..tapi setidaknya aku mati dalam keadaan bahagia.” Yifan menjawab dia mengaduk buburnya yang hambar.

“Jadi kau bahagia?” Yixing tidak percaya, Seorang Yifan merasa bahagia dengan Hyojin? Tidak masuk akal!

“Kau pasti bercanda..Jangan bilang kau berubah jadi pecundang sekarang.”

“Terserah..aku tidak memaksamu untuk percaya padaku, tapi aku bahagia.” Yifan tersenyum, Yixing iri sekali melihat senyum itu dia bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi Yifan? Jika dia ada ditempat Yifan dia tidak mungkin bisa sebahagia itu.

“Apa kau sadar kalau kau menipu gadis itu? Dia tidak akan senang jika dia tahu apa tujuanmu.” Yixing mengungkapkan dan Yifan mengangguk.

“Aku tahu..oleh karena itu aku ingin menikmati setiap waktuku bersama Hyojin.” Yifan menjawab, dia kedengaran sedih.

Yixing yang melihat reaksi Yifan penasaran, dia sudah lama ingin melontarkan pertanyaan ini namun dia takut. Dia takut jika jawaban Yifan tidak sama dengan yang dia harapkan, dia takut jika apa yang dia inginkan tidak pernah terwujud.

Yixing terdiam sejenak, dia berpikir keras berperang dengan dirinya sendiri.haruskah dia bertanya? Namun jika dia terus diam dia akan penasaran sampai mati.

“Bisakah aku bertanya sesuatu padamu?” Yixing memulai dan Yifan tertawa.

“Sejak kapan kau meminta ijin untuk bertanya padaku.” Yifan berkata sambil menahan tawanya.

“Apanya yang lucu?! Aku tidak senang bercanda Wu Yifan!”Yixing membentak.

“Baiklah..apa yang kau ingin tanyakan?”

“Apa..apa mungkin kau mencintai Jung Hyojin?” Yixing bertanya degan ragu, dia bisa melihat Yifan berhenti memakan buburnya.

Yifan hanya diam dia tidak bergerak untuk beberapa menit, Yixing mengigit bibirnya dengan gugup keheningan ini menyiksa dia. Apakah mungkin Yifan mencintai Hyojin? Yixing berpikir, perilaku Yifan sudah menunjukan kalau lelaki itu sedang jatuh cinta dan itu membuat Yixing cemas.

“Mungkin.” Yifan menjawab.

“Jawaban apa itu? Mungkin kau bilang? Kau mengorbankan nyawamu untuk gadis itu, kau pikir itu bukan cinta?” Yixing naik pitam dan Yifan hanya tersenyum tipis.

“Kenapa kau harus marah? Kau tidak menyukai Hyojinkan?” Yifan melanjutkan memakan buburnya meskipun dia tidak ingin.

“Aku tidak, tapi seseorang menyukai dia.” Yixing mengungkapkan dan Yifan melirik kearah Yixing terkejut.

“Apa kau bilang? Siapa yang menyukai Hyojin?” Tanya Yifan geram.

“Lihat kau, kau langsung marah saat aku mengatakan seseorang menyukai dia.” Yixing menyindir dan Yifan menghela nafasnya.

“Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya, aku bisa mencari tahunya sendiri.” Yifan mengalah dia tidak mau berdebat dengan Yixing, apalagi kondisi dia sedang tidak baik sekarang.

“Luhan.” Yixing berkata.

Yifan meremas sendoknya, perkiraannya benar. Dia tahu Luhan menyukai Hyojin, dia punya firasat itu sejak pertama kali dia melihat Luhan dan Hyojin pulang bersama, Luhan memang memiliki perasaan pada Hyojin dia bisa mengetahui itu dari cara Luhan menatap kearah gadis itu.

Penuh dengan kekaguman, itulah deskripsi Yifan untuk tatapan Luhan pada Hyojin kekasihnya. Yifan juga tidak bisa menyangkal Hyojin kelihatan tertarik juga pada Luhan, gadis itu selalu manis jika Luhan ada disekitarnya. Yifan menunduk menatap kearah buburnya, dia merasa mual jika dia sudah berpikir tentang Luhan dan Hyojin.

Yifan merasa khawatir dan takut, bagaimana jika Hyojin cocok dengan Luhan? Bagaimana jika Luhan berhasil merebut Hyojin dari sampingnya? Akankah dia bisa bertahan dan melupakan semua kenangan manisnya dengan Hyojin? Yifan menggelengkan kepalanya dia tidak bisa melepaskan Hyojin, tidak untuk sekarang.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Darimana kau tahu Luhan menyukai Hyojin?” Yifan bertanya dengan suara lirihnya.

“Luhan mengatakannya padaku kemarin malam, kami berdua berbincang dan topik Hyojin tiba-tiba saja muncul dalam percakapan kami dia bilang dia menyukai Hyojin, Luhan bilang kalau Hyojin adalah wanita yang selama ini dia cari-cari.” Yixing mengungkapkan.

“Ini semua gila Yifan, aku memberi tahumu..Luhan dan Zhoumi akan berperang akan ada banyak kekacuan sebaiknya kau mundur dan kabur bersama Zhongren sebelum terlambat.” Yixing mencoba mempengaruhi.

“Kenapa mereka akan berperang?” Yifan bertanya.

“Paman Zhoumi sudah tahu kalau Luhan bukan anaknya, paman mencoba menyingkirkan Luhan sekarang dan kau hanya akan menjadi alat Zhoumi apakah kau mau menjadi boneka yang dia kontrol seenaknya? Aku rasa tidak.” Yixing mendekat kearah Yifan.

“Aku memberimu peringatan sekarang Yifan, mundurlah sebelum semuanya kacau..hubunganmu dengan Hyojin tidak akan bertahan.pada akhirnya dia akan tahu semuanya, kau tahu sendiri bagaimana karakter Hyojin dia tidak akan memaafkan mu dengan mudah.” Lanjut Yixing.

“Aku bukan pecundang Yixing.” Yifan berkata dia menatap tajam kearah Yixing.

“Aku akan ada disamping Hyojin, sampai akhir.” Yifan mengungkapkan dia terdengar percaya diri, tak ada sedikitpun ketakutan didalam nada suaranya.

“Berhenti bersikap keras kepala dan mundur Yifan! Kau akan membahayakan dirimu sendiri dan Zhongren! Kau sangat egois, jika kau meninggal siapa yang akan mengurus dia? Selama hidupnya dia selalu ada disampingmu!” Yixing membentak marah.

“Apakah kau tidak pernah berpikir kalau Zhongren akan sedih jika sesuatu terjadi padamu?! Dia adik angkatmu, aku yakin dia peduli dan menyayangimu.”

Yifan hanya diam saat dia mendengar perkataan Yixing, Yifan tersenyum saat dia menyadari kalau semua perkataan Yixing bukanlah soal dia dan Zhongren melainkan tentang Yixing dan Luhan.

“Apa kau mengatakan ini karena kau takut Luhan mati?” Yifan bertanya dan Yixing menutup mulutnya.

“Apa maksudmu? Aku hanya mencoba menyadarkan kau, kau terlalu egois!” Yixing membantah namun bantahan itu terdengar seperti lelucon untuk dia.

“Yixing aku tahu kau khawatir dengan keadaan Luhan, tapi bukankah kau lebih baik mempercayai dia? Sekarang siapa yang egois?”

Yixing terdiam sejenak dan dia menunduk mengepalkan tangannya, dia benci dengan perkataan Yifan. Dia benci karena perkataan Yifan mungkin benar, selama ini dia tidak pernah mempercayai Luhan dia selalu mengikuti sepupunya itu seperti bayangan.

Yifan tidak pernah mempercayai Luhan walaupun sedikit, dia selalu khawatir dan cemas jika sepupunya itu melakukan sesuatu yang bodoh.

“Aku kira kau sudah mengenal Luhan dengan baik, apakah selama bertahun-tahun bersama dia tidak membuatmu percaya kalau dia cukup tangguh untuk hidup sendiri?” Tanya Yifan suaranya terdengar sedih, namun Yixing menganggap Yifan sedang mencemoohnya.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Luhan ok?! Aku percaya padanya..namun aku hanya..” Yixing tidak bisa melanjutkan kalimatnya, suaranya gemetaran dan tanpa dia sadari airmatanya jatuh membasahi pipinya.

Yifan yang melihat itu terkejut, apakah Luhan benar-benar sangat berharga untuk Yixing?

“Aku tahu, kau pasti sangat menyayangi Luhan tapi kau bukan siapa-siapa Yixing..kau tidak berhak mengatur hidupnya, terkadang dia harus menghadapi semuanya sendiri dengan itu dia akan belajar untuk lebih dewasa.”Yifan memberi nasihat, Yixing menyeka airmatanya dan menghela nafasnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Yixing bertanya lirih.

“Biarkan dia memilih jalan hidupnya, yang penting kau selalu ada disisinya saat dia membutuhkan mu.” Yifan berkata dia tersenyum.

“Kau lucu sekali saat kau menangis.” Yifan tertawa dan Yixing menatap tajam kearah Yifan.

“Arggh! Aku benci kau Wu Yifan!” Yixing mengerang.

“Ya..ya.. Aku juga membencimu Zhang Yixing.” Yifan membalas dengan senyum misterinya.

Yixing menghela nafasnya lagi dan tersenyum, mungkin dengan gagalnya rencana dia untuk membunuh Yifan tidak salah. Sepertinya Tuhan memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, dia sudah lelah harus menjadi bayangan untuk Luhan dan Zhoumi, ini sudah saatnya dia menemukan jalan hidupnya sama seperti yang Yifan katakan.

[Kantor Hyojin, Perusahaan Jung 12:30pm]

  Hyojin membanting pintu ruang meeting, dia menghela nafasnya. Yuri yang berdiri disamping Hyojin menatap khawatir kearah bosnya itu namun dia tidak bisa berkata apapun, Hyojin mengerang dan dia menjenggut rambutnya sendiri.

“Dasar brengsek!” Hyojin mengutuk mengacuhkan Yuri yang berdiri disampingnya.

“Hwajang-nim..sebaiknya anda menenangkan diri dulu.” Yuri mengusulkan.

“Bagaimana aku bisa tenang? Semua direktur mencemoohku seperti itu! Apalagi mereka mulai mempertanyakan penilaian ayahku! Mereka pikir mereka siapa?!” Hyojin berkata dengan penuh amarah.

“Hwajang-nim..” Yuri mencoba menenangkan Hyojin.

“Aku tidak suka dengan cara mereka meremehkan aku! Mereka pikir mereka lebih baik dari aku? Huh! Lucu sekali..mereka bahkan punya wanita simpanan dan aku tidak pernah mengungkitnya sedikitpun!” Hyojin terus berceloteh penuh amarah.

“Bukankah tidak baik untuk seorang gadis cantik mengumpat?” Suara seorang lelaki terdengar dari belakang Hyojin dan Yuri.

Hyojin dan Yuri berbalik kebelakang dan mereka berdua terkejut mendapati sosok Luhan berdiri dibelakang mereka, Lelaki itu terlihat tampan dengan balutan baju kasual dan sepatu nike putihnya.

“Hwajang-nim, Annyeoung!” Luhan menyapa dan Hyojin masih terdiam, dia terkejut dengan kedatangan Luhan.

“Luhan-shi..”

“Maaf aku datang tiba-tiba, aku kebetulan lewat kesini dan aku tiba-tiba saja ingin bertemu denganmu Hwajang-nim.” Luhan mengungkapkan Hyojin tidak berkedip, Luhan kelihatan tampan sekali dalam balutan baju kasual yang dia gunakan sekarang lebih bagus dari baju kemeja hitam dan celana yang Hyojin lihat saat lelaki itu bekerja di club.

“Apa kita akan terus berdiri disini?” Luhan bertanya karena Hyojin dan Yuri tidak juga menyahut kedua wanita itu hanya menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Ah! Luhan-shi maaf, aku sedikit terkejut.” Hyojin akhirnya sadar dari lamunannya.

“Mari, aku antar kau keruanganku.” Hyojin berkata dan dia berjalan duluan masuk kedalam lift diikuti oleh Yuri dan Luhan dari belakang.

Setelah mereka sampai didepan kantor Hyojin, Hyojin menyuruh Yuri untuk membawakan minum untuk Luhan. Mereka berdua duduk dikursi kantor Hyojin, Hyojin sebenarnya sedikit gugup karena dia harus berduaan dengan Luhan.

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?” Tanya Luhan dan Hyojin tersenyum.

“Aku baik-baik saja,Yifan oppa yang sakit.” Hyojin menjawab.

“Kau juga terluka bukan? Coba aku lihat tanganmu.” Luhan mendekat kearah Hyojin dan dia menarik tangan gadis itu.

Hyojin menunduk malu, jantungnya rasanya akan meledak saat tangan Luhan menyentuh pergelangan tangannya yang masih merah karena lecet. Walaupun luka itu sudah tidak sakit lagi entah kenapa dengan sentuhan Luhan kulitnya terasa sangat sensitif sekali, setiap sentuhan jari lelaki itu membuat dia gemetar.

Luhan mendekat kearah tangan Hyojin, nafas hangatnya menyentuh tangan nya dan akhirnya lelaki itu mencium luka Hyojin dengan lembut seakan dia takut jika tangan Hyojin terasa sakit kembali.

“Sayang sekali, tangan yang lembut ini harus terluka.” Luhan berkata dan Hyojin langsung menarik tangannya dari genggaman Luhan.

Pintu kantornya terbuka dan sosok Yuri masuk mengantarkan dua gelas teh hangat untuk dia dan Luhan, sekertaris itu menyajikan minuman teh yang dia bawa lalu pergi meninggalkan Hyojin dan Luhan kembali berdua.

“Aku dengar sekertaris lamamu Im Yoona mengundurkan diri, apa itu benar?” Luhan bertanya, semua tentang perusahaan Jung selalu sampai ditelinganya entah itu lewat Yixing atau orang-orang disekitarnya.

“Ya, itu benar.” Hyojin menjawab dengan lemah.

Luhan yang melihat ekspressi kelam Hyojin sedikit sedih, dia ingin sekali menghibur Hyojin namun dia bukan siapa-siapa gadis itu. Dia tidak bisa membuat Hyojin bahagia seperti Yifan, kakak tirinya.

“Aku punya banyak waktu sekarang, apa kau tahu? Aku sudah berhenti bekerja menjadi DJ sekarang.” Luhan mengungkapkan dan Hyojin terkejut.

“Kenapa?bukankah kau suka menjadi DJ?” Tanya Hyojin.

“Aku punya pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, aku memberikan les gitar sekarang.” Luhan menjawab dan tersenyum kearah Hyojin.

“Oh..bagus kalau begitu, kau sebaiknya bekerja ditempat yang lebih aman.” Ucap Hyojin.

“Ya..aku lelah harus bekerja malam.” Luhan merespon dia meneguk teh yang dibawa oleh Yuri.

“Oh iya, kapan kau pulang bekerja? Aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu.” Luhan mengungkapkan.

“Hm..sekitar jam empat sore.” Hyojin mengira-ngran, jam kerjanya tidak pernah menentu terkadang dia harus semalaman di kantornya dan terkadang dia juga bisa pulang lebih awal.

“Begitu ya, baiklah kalau begitu akan akan menjemputmu bagaimana?” Luhan meminta persetujuan.

Hyojin sedang menimbang-nimbang dia tidak bisa menolak Luhan kalau dia menolak tawaran Luhan dia takut kalau dia menyinggung perasaan lelaki itu, apalagi saat dia melihat kearah Luhan lelaki itu menatap kearahnya penuh harap membuat dia semakin tidak enak untuk menolak.

“Baiklah, aku akan menunggumu menjemputku.” Hyojin menyetujui dan Luhan tersenyum lebar padanya.

“Bagus kalau begitu.” Luhan berkata dengan ceria.

Dia melirik kearah jam tangannya dan dia tiba-tiba saja berdiri.

“Oh! Aku akan terlambat, maaf Hyojin-ah tapi aku harus pergi kekampus.” Luhan berkata dan Hyojin ikut berdiri mengangguk.

Hyojin mengantarkan Luhan sampai pintu depan kantornya, namun belum juga dia menyentuh gagang pintu Luhan menariknya. Hyojin terkejut saat dia sadar kalau Luhan memeluknya, Lelaki itu memeluknya dengan erat seakan dia akan menghilang begitu saja.

“Semuanya akan baik-baik saja Hyojin-ah, aku tahu semua ini sangat berat untukmu..tapi kau bisa melewatinya.” Luhan berkata dia mengelus kepala Hyojin dan Hyojin hanya diam, dia masih terkejut dengan pelukan Luhan.

Luhan melepaskan pelukannya, dia menyentuh pipi Hyojin. Hyojin melirik kearah lain dia tidak ingin menatap kearah Luhan, karena jika dia menatap kearah mata lelaki itu dia hanya akan luluh.

“Aku pergi.” Luhan pamit dan diapun keluar dari kantor Hyojin.

[Kediaman keluarga Jung 13:00pm]

“Aku harus pulang sekarang.” Zhongren berkata, Hyojung memajukan bibirnya kesal.

“Oppa yakin? Apa kau sudah baikkan sekarang?” Hyojung bertanya penuh dengan kekhawatiran.

“Ya, aku baik-baik saja..kau tak usah khawatir.” Zhongren berkata dia tersenyum kearah Hyojung.

Zhongren membuka pintu mobilnya dan naik kedalam mobilnya, Hyojung hanya bisa menyaksikan dia sedih sekali karena dia harus melihat Zhongren pergi. Setelah mobil Zhongren melaju menajuh Hyojung melambaikan tangannya, dia tersenyum dan kembali masuk kerumah saat mobil Zhongren menghilang ditikungan jalan.

“Oh..lihat Jung Hyojung yang sedang kasmaran.” Suara Yongguk terdengar.

Hyojung berbalik dan dia menemukan Yongguk sedang menyandar diambang pintu rumah dengan tanganbya yang dilipat, Hyojung menjelurkan lidahnya pada Yongguk dan Yongguk mendengus.

“Dasar anak tengil!” Yongguk berguman.

“Setidaknya aku punya pacar, tidak seperti seseorang..” Hyojung menyindir dan Yongguk menyeringai sinis.

“Hahaha..lucu sekali.” Yongguk berkata dengan sarkastik.

“Ngomong-ngomong, dia sakit apa?” Tanya Yongguk.

“Sepertinya dia kelelahan, dia tiba-tiba saja pingsan didepanku.” Hyojung menjawab.

“Hm..dia pasti sangat lelah.” Kata Yongguk.

“Karena dia berpacaran denganmu.” Yongguk membalas ledekan Hyojung dan dia menjulurkan lidahnya kearah gadis itu.

“Ya!Oppa!” Hyojung marah dan dia mengejar Yongguk untuk memukul lelaki itu.

Yongguk segera berlari menjauh saat dia melihat Hyojung mengejarnya dengan ekspressi penuh amarah, mereka akhirnya saling menejar diruang tamu. Yongguk masih didepan sedang Hyojung kelihatanya masih belum menyerah untuk mengejar lelaki itu, Yongguk tertawa dan mengolok-olok Hyojung seperti anak kecil membuat Hyojung semakin marah.

Hyojung berlari kearah Yongguk namun dia tersandung oleh kakinya sendiri, dia hampir jatuh namun beruntung Yongguk cukup cepat untuk menangkapnya. Mata Hyojung melebar saat dahinya dan dahi Yongguk bersentuhan, Yongguk juga sama kagetnya beruntung bagi Hyojung dia bisa menahan dirinya sendiri dengan kakinya yang satu lagi jika tidak mereka akan beciuman.

Mereka terdiam sebentar lalu Yongguk tertawa begitu juga dengan Hyojung, mereka seperti anak kecil saja masih berlari-lari seperti itu. Yongguk melepaskan kedua tangannya dari pingang Hyojung, setelah mereka tertawa tiba-tiba saja suasana menjadi canggung.

“Err..terimakasih sudah menolongku Oppa.” Hyojung berkata.

“Sama-sama.” Yongguk menjawab, lalu hening menyelimuti mereka kembali.

“Aku harus pergi, Zhongren Oppa berjanji untuk menghubungi aku.” Hyojung berkata dan segera pergi kekamarnya tidak memberikan kesempatan untuk Yongguk agar lelaki itu merespon.

Hyojung berlari kekamarnya dan dia menutup pintu kamarnya, dia menyandar kepintu kamarnya dan dia menghela nafasnya. Dia menyentuh dadanya, jantungnya berdetak snagat kencang.

Hyojung sudah memiliki Zhongren, dia mencintai lelaki itu namun kenapa setiap kali dia bersentuhan dengan Yongguk jantungnya akan berdetak cepat dan dia akan gugup. Apalagi jika dia menatap lurus kearah mata Yongguk, dia selalu gemetaran dan tidak bisa berpikir jernih.

Hyojung memukul kepalanya beberapa kali, dia mencoba melupakan bayangan tadi. Hyojung benci perasaan yang dia rasakan sekarang, dia harus melupakan Yongguk. Yongguk hanya fantasinya saat dia masih kecil, sekaang dia sudah besar dan harus mulai menerima kenyataan kalau Yongguk menyukai kakaknya, dia dan Yongguk tidak akan pernah bisa bersama.

[Perusahaan Li 14:00pm]

  Pintu lift terbuka dan Yixing melangkahkan kakinya keluar dari lift, dia terkejut saat dia melihat sesosok yang tidak asing sedang duduk dikursi tunggu kantornya. Yixing mendekat agar dia bisa melihat sosok itu dengan jelas, dia semakin terkejut saat firasatnya benar.

“Zitao? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yixing.

“Ah! Yixing ge! Apa kabar sudah lama tidak bertemu.” Zitao menyapa dengan senyumnya, lelaki itu percis sama seperti terakhir Yixing bertemu dengannya.

“Apa yang membawamu kesini? Aku kira kau sibuk di cina.” Yixing menatap kearah Zitao, dia tahu ada sesuatu yang aneh dengan kedatangan lelaki ini.

“Aku hanya merindukanmu dan Luhan gege.” Zitao menjawab.

“Aku dengar kau menangani CEO baru bernama Wu Yifan, dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya.” Zitao mengungkapkan dan Yixing meremas tangannya, dia tahu! Zitao kesini pasti untuk memata-matai dia dan Luhan sekaligus melindungi Yifan.

“Dia sedang dirumah sakit, dia terluka beberapa hari yang lalu.” Yixing menjawab, dia sekarang mulai was-was dengan gerak-gerik Zitao.

“Oh begitu ya, sayang sekali..aku dengar dia CEO yang bagus.” Zitao memajukan bibirnya.

“Oh iya Ge, bagaimana kalau Luhan gege? Apakah dia baik-baik saja?” Zitao kembali bertanya.

“Ya, dia baik-baik saja kau tak usah khawatir.” Yixing menjawab.

“Bagus kalau begitu, kalian tinggal dimana sekarang?”

Yixing hanya diam dia tidak menjawab, Zitao pikir dia bodoh? Yixing tahu jelas apa tujuan Zitao kesini dia bisa membaca situasi. Yixing tahu jelas semua taktik Zhoumi, Dia sudah bekerja dengan lelaki itu lebih dari sepuluh tahun dia tahu segala hal tentang Zhoumi.

“Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi, mau apa kau kesini?” Yixing sekali lagi bertanya dan Zitao tersenyum polos.

“Sudah kubilang aku merindukanmu dan Luhan gege.”

Yixing mendekat kearah Zitao, dia sama sekali tidak percaya dengan jawaban Zitao. Yixing tahu lelaki itu bukan lelaki yang sentimental, dia tidak mungkin jauh-jauh dari Cina datang ke Korea hanya untuk bertemu dengan dia dan Luhan.

“Katakan yang sejujurnya, Zitao aku tidak bodoh.” Yixing berkata geram dan Zitao menyeringai.

“Gege, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti, aku kesini untuk bertemu dengan kau dan Luhan gege, baiklah jika kau tidak mau memberitahu dimana kalian tinggal aku akan mencari tahunya sendiri.” Zitao berkata dia menyentuh bahu Yixing.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Yixing ge.”

Yixing melepaskan tangan Zitao dari pundaknya, dia tidak suka itu. Dia tahu Zitao memiliki rencana lain, dia harus memberi peringatan pada Luhan sekarang juga.

“Sebaiknya kau menghilang dari hadapanku sebelum aku memusnahkan mu!” Yixing berkata geram dan Zitao tersenyum licik.

“Aww gege, aku sedikit sakit hati dengan perkataanmu aku bermaksud baik untuk datang ke Korea kau malah mengancamku.” Zitao mengungkapkan dan dia pergi menuju lift.

“Oh iya ge, lebih baik kau saja yang menghilang, bagaimana? Itu lebih mudahkan?” Zitao berkata nada suaranya terdengar seperti bercanda, namun Yixing tahu lelaki itu serius.

Zitao masuk kedalam lift dan menghilang dari hadapan Yixing, Yixing memukul mejanya dengan keras. Dia mengusap wajahnya frustasi, dia benar-benar harus menjauhkan Luhan dari jangkauan Zhoumi jika dia tidak bertindak nyawa Luhan akan dalam bahaya.

Yixing mengambil handphonenya dari saku jasnya, dia menghubungi nomor Luhan sambil mengetuk-ngetukan kakinya tidak sabar.

Wei? Yixing ada apa?” Luhan mengangkat teleponnya.

“Luhan kau dimana? Jika kau bertemu dengan Zitao kau harus berhati-hati.” Yixing tiba-tiba saja berkata dengan cepat membuat Luhan kebingungan.

“Kau kenapa Yixing? Zitao? Bukankah dia sedang di Cina sekarang.”

“Dia datang ke Korea, aku cukup yakin paman Zhoumi menyuruhnya untuk datang.” Yixing mengungkapkan.

“Lalu? Dia rekan kerjaku Yixing, kenapa kau harus berhati-hati?” Luhan bertanya dia terdengar tertawa meremehkan.

“Luhan! Kau tidak mengerti..”

“Apa yang kau bicarakan Yixing? Apa kau mabuk?”

Yixing mengepalkan tangannya.

“Aku akan menjelaskan sesuatu, sebaiknya kau kembali kerumah lebih cepat hari ini.” Yixing memerintah.

“Baiklah, aku tunggu kau nanti dirumah.” Luhan setuju dan mereka berduapun menutup telepon mereka hampir bersamaan.

“Aissh! Apa yang harus aku lakukan?!” Yixing bergumam.

[Perusahaan Jung 17:00pm]

  Hyojin memainkan tas nya, ini sudah sore dia ingin sekali pulang namun dia masih menunggu Luhan untuk menjemputnya. Hyojin mendongak dan dia bisa melihat motor Luhan memasuki parkiran kantornya, Luhan berhenti tepat didepan Hyojin dan Hyojin menatap kearah Luhan terkejut.

“Apa kau belum pernah melihat motor sport?” Luhan bertanya dan dia melepaskan helmnya, rambut pirangnya bersinar dibawah matahari yang mulai terbenam.

“Luhan-shi, bukan seperti itu..aku hanya terkejut saja.” Hyojin berkata, dia sudah ama sekali tidak pernah mengendarai motor.

Luhan turun dari motornya, dia membuka jok motornya dan mengeluarkan sebuah helm yang berwarna pink. Dia memasangkan helm itu untuk Hyojin, Hyojin hanya bisa menurut dan membiarkan Luhan memasangkan helm itu untuknya.

“Ah..kau lucu sekali jika kau memakai helm ini, ukurannya juga pas.” Luhan tersenyum dan Hyojin membalas senyum Luhan.

“Ayo naik!” Luhan mengajak, dia naik kembali kemotornya dan menghidupkan mesin motornya.

Walaupun ragu Hyojin naik kemotor Luhan, dia memegang kedua sisi pingang Luhan. Namun Luhan malah menarik kedua tangannya sehingga dia memeluk lelaki itu dari belakang, Hyojin merasa risih dengan posisi ini namun dia juga tidak bisa menolak.

“Sebaiknya kau berpegangan dengan erat, aku tidak mau kau jatuh.” Luhan berkata dia, dia langsung memajukan motor dengan kecepatan yang cukup tinggi membuat Hyojin takut dan memeluk Luhan dengan erat.

“Luhan-shi! Jangan cepat-cepat!” Hyojin protes, dia bahkan menutup matanya karena takut.

Luhan tertawa melihat tingkah Hyojin yang lucu, Hyojin kelihatan seperti anak kecil sekarang jauh berbeda dengan Hyojin yang dia temui tadi siang. Luhan melambatkan laju motor, dia menyentuh tangan Hyojin dan tersenyum namun Hyojin masih menutup matanya karena takut.

Beberapa menit berlalu mereka berdua akhirnya sampai disebuah studio, Hyojin turun dari motor Luhan. Dia menatap aneh kearah gedung studio, gedung studio yang dia lihat sangatlah asing membuat dia berpikir siapa yang membangun studio ini.

“Ini studio paman Siwon,dia baru saja membeli studio ini beberapa minggu yang lalu.” Luhan mengungkapkan.

“Dia menghubungiku untuk mengechecknya, jadi aku pikir kenapa tidak mengajakmu saja? Kau pasti belum pernah ke studio musik sebelumnya kan?” Luhan bertanya dan Hyojin mengangguk.

Luhan benar, dia tidak punya waktu untuk pergi kesebuah studio. Lagipula dia tidak punya kepentingan untuk datang ke studio music, Hyojin dan Luhan melangkah masuk kedalam studio. Hyojin sedikit kagum dengan luasnya studio itu banyak sekali alat-alat musik yang Hyojin tidak mengerti namun Luhan kelihatannya sudah lihai, dia mulai menghidupkan speaker dan alunan musik klasik terdengar.

“Kau suka musik klasik?” Tanya Hyojin dan Luhan mengangguk.

“Aku belajar tentang musik, tentu saja aku harus menyukai musik klasik.” Luhan berkata.

May I have this dance, my lady?” Luhan mendekat kearah Hyojin dan dia membungkuk dengan sopan kearah gadis itu percis seperti pemeran lelaki di film yang mengajak teman wanitanya untuk berdansa.

“Tapi Luhan-shi..aku tidak bisa berdansa..” Hyojin berkata dengan malu dan Luhan hanya tersenyum.

“Aku akan mengajarimu, kau tinggal mengikuti langkahku.” Luhan menenangkan, dia mengambil tangan Hyojin dan meletakan tangan gadis itu dipundaknya.

Luhan melingkarkan tangannya dipingang Hyojin dan mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik klassik yang lembut dan menenangkan, Hyojin masih kesusahan untuk mengikuti langkah kaki Luhan. Namun beberapa menit kemudian dia mulai terbiasa, dia mulai bisa mengikuti ritme yang Luhan buat.

“Apa kau yang membuat musik ini?” Hyojin bertanya dan Luhan mengangguk.

“Ya, aku membuat musik ini bersama temanku.” Luhan menjawab dan dia mendekat kearah Hyojin sehingga dahi mereka bersentuhan.

“Apa kau menyukainya?” Tanya Luhan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Ya, musik ini membuatku tenang.” Hyojin menjawab.

Mereka terus berdansa mengikuti irama musik, Hyojin bisa mencium harum parfum yang sangat manly dari kaos Luhan. Dia menyukai harum itu, dia mendekat dan menyandarkan kepalanya didada Luhan.

Luhan tersenyum , dia senang sekali saat dia merasakan Hyojin menyandarkan kepalanya didada dia. Musik klasik berhenti dan Luhan harus berhenti berdansa dengan Hyojin, dia melepaskan kedua tangannya dari pinggang Hyojin.

Luhan dan Hyojin saling menatap sesaat, Luhan menyentuh sisi wajah Hyojin dan gadis itu terkejut dengan sentuhan Luhan namun dia membiarkan tangan hangat Luhan menyentuh pipinya. Luhan mendekat dan Hyojin menutup matanya, dia tenggelam lagi dalam pesona Luhan.

Dred…dred…dred…

    Suara getaran handphone Hyojin menyadarkan gadis itu kembali pada realita, dia segera mendorong Luhan menjauh dan dia langsung mengangkat teleponnya.

“Nde?”

“Hyojin-ah, apa kau sudah selesai bekerja?”

Hyojin membeku, suara Yifan terdengar diseberang teleponnya.

“Ah..Oppa,ya aku akan kesana sebentar lagi.” Hyojin berkata, Luhan yang mendengar kata ‘Oppa’ keluar dari mulut Hyojin dia bisa menebak kalau Yifanlah yang menelepon gadis itu.

“Jika kau sibuk tidak apa-apa, aku hanya bosan diruanganku sendirian.” Yifan mengeluh.

“Aku tidak sibuk Oppa, aku akan kesana.” Hyojin berkata dan dia menutup teleponnya lalu berbalik kearah Luhan.

“Aku harus pergi, maaf..Yifan Oppa membutuhkanku.” Hyojin berkata.

“Apa kau ingin aku mengantarmu?” Luhan menawarkan.

“Tidak usah, aku buru-buru.” Hyojin menolak tawaran Luhan.

“Kalau begitu aku antar kau sampai pintu depan.” Luhan menawarkan lagi dan Hyojin mengangguk.

Luhan mengantar Hyojin sampai wanita itu menemukan taksi, Luhan membukakan pintu taksi untuk Hyojin dan Hyojin masuk kedalam taksi. Luhan menutup pintu taksi dengan berat hati, dia melambai kearah taksi Hyojin saat taksi Hyojin mulai menjauh dari studio.

Senyum Luhan langsung menghilang saat taksi Hyojin sudah menghilang dari pandangannya, dia mengepalkan tangannya penuh kekesalan.

“Yifan lagi!Yifan lagi! Kapan kau akan melihatku Hyojin-ah?” Luhan bergumam dia kesal sekali.

[Ruangan Yifan, Rumah sakit Seoul – 18:10pm]

  Hyojin berdiri didepan pintu Yifan, dia ragu untuk membuka pintu itu apalagi sekarang dia mendengar Yifan sedang mengobrol dengan seseorang. Hyojin tidak bisa menebak apa yang Yifan bicarakan dengan tamunya, mereka berdua berbicara dalam bahasa mandarin yang sama sekali tidak Hyojin mengerti.

Pintu ruangan Yifan terbuka dan matanya bertemu dengan mata seorang lelaki, lelaki itu memiliki pandangan yang tajam bahkan hampir menyeramkan. Namun lelaki itu segera tersenyum kearahnya membuat Hyojin lega, dia kira lelaki itu akan bersikap dingin padanya.

“Jung Hyojin-shi, aku tahu kau akan kesini.” Lelaki itu berkata dan Hyojin terkejut darimana lelaki itu tahu tentang dia?

“Siapa kau?kenapa kau tahu aku?” Hyojin bertanya.

“Aku Hwang Zitao, aku kesini untuk menjenguk Yifan-shi dia kelihatannya baik-baik saja.” Zitao menjawab.

“Oh..apa kau teman Yifan Oppa?”

“Kau bisa mengatakannya begitu.” Zitao tersenyum kearahnya.

“Aku harus pergi, maaf aku tidak bisa menemanimu dan Yifan-shi lebih lama.” Zitao menunduk kearahnya dan pergi.

Hyojin menatap aneh kearah lelaki itu, Hwang Zitao mungkin lelaki yang biasa namun Hyojin bisa merasakan aura yang gelap dari lelaki itu. Walaupun lelaki itu tersenyum padanya Hyojin bisa melihat kalau Zitao tidak terlalu senang, lelaki itu sepertinya sedang mengalami sesuatu yang buruk.

Hyojin menatap kearah Yifan, Yifan menunduk menatap kearah kakinya dia kelihatan sedih namun Hyojin tidak tahu apa yang terjadi. Dia masuk kedalam ruangan Yifan, Hyojin menyentuh tangan Yifan sehingga tatapan lelaki itu bertemu dengan tatapannya.

“Ada apa?” Hyojin bertanya selembut mungkin.

“Tidak apa-apa.” Yifan menjawab dan tersenyum tipis, dia menyentuh pipi Hyojin.

Hyojin tidak mengerti, dia tidak mengerti kenapa Yifan menatapnya seperti sekarang mata lelkai itu menatapnya dengan sayu. Kesedihan terlihat jelas dari mata lelaki itu, Hyojin hanya diam menunduk lalu mengelus tangan Yifan.

“Hyojin-ah…” Yifan memanggil.

“Ya?”

“Andai, andaikan aku menghilang begitu saja apa kau akan sedih?” Yifan bertanya dan Hyojin menatap kearah Yifan terkejut.

“Apa maksudmu Oppa?”

Yifan menunduk, dia mendekat sehingga dahi mereka bersentuhan.

“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi kau akan tetap kuat.” Yifan berkata lemah.

Hyojin menggengam erat tangan Yifan, tidak! Dia tidak akan pernah kuat jika Yifan meninggalkannya, dia satu-satunya cahaya lentera didalam hidup Hyojin yang gelap lelaki itu adalah obat dari semua penyakitnya tidak mungkin Jung Hyojin bisa bertahan tanpa Wu Yifan.

“Apa kau akan pergi?” Suara Hyojin terdengar gemetaran.

“Aku tidak akan pergi, tapi kau harus kuat..kau harus kuat berdiri disampingku apapun yang terjadi.” Yifan mengenggam tangan Hyojin erat.

“Aku..”

“Hyojin-ah, dengarkan aku.” Yifan berkata, Hyojin mengangguk.

“Aku dalam bahaya, jika suatu saat nanti aku menghilang ataupun meninggal kau harus kuat menghadapinya.”

Hyojin yang mendengar itu menarik nafasnya, dia tidak tahu kenapa Yifan harus dalam bahaya. Dia kira Yifan hanya lelaki biasa yang memiliki masa lalu yang gelap, namun sekarang dia mulai berpikir bukan hanya masa lalu lelaki itulah yang gelap namun juga masa depannya.

“Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau melakukan sesuatu yang bodoh!” Hyojin marah.

“Seseorang mencoba membunuh aku.” Yifan mengungkapkan.

“Siapa?” Hyojin bertanya.

“Aku tidak tahu, siapapun bisa menjadi tersangka..bahkan kau juga.” Yifan menatap serius kearah Hyojin.

“Apa? Kau pikir aku akan membunuhmu?” Hyojin merasa tersinggung.

“Aku sudah bilang, siapapun bisa menjadi tersangka.” Yifan berkata dia melirik kearah lain, dia tidak bisa menatap kearah Hyojin yang akan menangis.

“Hyojin-ah, kau tidak tahu siapa aku…aku bukan lelaki yang baik, jika kau takut kau bisa pergi sekarang.” Yifan berkata dan Hyojin hanya diam masih terkejut.

Apakah Yifan baru saja menyuruhnya untuk pergi? Apakah lelaki itu lupa dengan cinta mereka? Hyojin langsung memeluk Yifan. Dia tidak tidak akan pergi, meskipun Yifan pergi keneraka dia akan mengikuti lelaki itu.

“Tidak! Aku tidak akan pergi.” Hyojin berkata dia memeluk Yifan erat.

“Hyojin-ah, jika kau terus berada disampingku kau akan terluka.” Yifan memberi peringatan.

“Aku tidak peduli, mati ataupun terluka aku benar-benar  tidak peduli.” Hyojin berkata dan Yifan melepaskan pelukan Hyojin.

“Jung Hyojin!” Yifan membentak.

“Sadarlah! Sejak kapan kau bergantung padaku? Bukankah kau tidak suka padaku saat kita pertama bertemu?” Yifan menguncangkan tubuh Hyojin namun Hyojin malah menangis.

“Tidak, itu dulu..sekarang aku mencintaimu Oppa..jangan pergi.” Hyojin memelas, dia tidak bisa lepas dari Yifan dia menyukai lelaki itu lebih dari apapun sekarang dia tidak bisa membiarkan lelaki itu meninggalkanya seperti kedua orang tuanya.

“Hyojin, aku ingin kau aman.” Yifan berkata dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku lebih baik dalam bahaya daripada aku harus melepaskanmu, aku sudah bilang..aku tidak peduli Oppa.” Hyojin berkata dia menangkup wajah Yifan dan Yifan menghela nafasnya.

“Kau yakin?”

Hyojin mengangguk dia mengakui kalau dia sedikit takut namun dia lebih takut jika besok dia tidak akan bersama Yifan kembali, dia lebih takut untuk hidup sendirian tanpa Yifan daripada harus ada dalam bahaya yang belum dia ketahui apa itu.

“Sangat yakin.” Hyojin menjawab dan Yifan menariknya kedalam pelukan.

“Kau benar-benar keras kepala!” Yifan berkata dan Hyojin tersenyum.

“Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja Oppa.”Ucap Hyojin dia melepaskan pelukan Yifan.

Hyojin menatap kearah Yifan dia mendekat dan mengecup bibir Yifan, Yifan menyentuh sisi wajah Hyojin dan menikmati cumbuan gadis itu. Bibir mereka berataut dan saling menggoda, sesekali Hyojin akan mengigit lembut bibir Yifan membuat Yifan mengerang nikmat.

Hyojin melepaskan ciuman mereka dan dia bisa melihat kedua pipi Yifan sudah merah, dia tahu lelaki itu menginginkan lebih dari ciuman. Hyojin naik keatas ranjang Yifan dia duduk dipangkuan Yifan dan mencium kembali lelaki itu, dia bisa merasakan kedua tangan Yifan memeluk pingangnya dengan erat.

  [Apartemen Yixing dan Luhan 20:20pm]

  Luhan membuka pintu apartemennya, dia terlalu asik menggunaka studio baru Siwon sehingga dia tidak sadar waktu. Dia menutup kembali pintu apartemen, Luhan berjalan menuju ruang tengah apartemennya dan dia bisa melihat Yixing sedang meminum winenya sambil menatap kearah jendela.

“Yixing, kau sudah pulang?” Tanya Luhan, dia sedikit terkejut tidak biasanya Yixing ada dirumah pada jam delapan malam.

Biasanya sepupunya itu pulang jam sebilan atau terkadang tengah malam, Luhan sebenarnya senang dia bisa menghabiskan waktu bersama Yixing. Luhan menyimpan tas selendangnya dan duduk disofa, rasanya lega sekali dia bisa beristirahat.

“Luhan, kau darimana saja? Aku menunggumu.” Yixing berbalik dan Luhan tersenyum.

“Maaf aku sedang mengerjakan beberapa lagu di studio jadi aku lupa waktu.” Luhan menjawab dia mengambil gelas wine dan menuangkan wine Yixing kegelasnya.

“Hm..darimana kau membeli wine ini?” Tanya Luhan dia menghirup wangi anggur yang sangat tajam dari wine yang dia teguk sekarang.

“Aku menemukan toko wine tidakjauh dari perusahaan.” Yixing menjawab dia duduk disamping Luhan.

“Apa kau lupa?” Tanya Yixing dia menatap kearah Luhan, Luhan tidak mengerti kenapa Yixing menatapnya seperti itu.

“Lupa apa?” Luhan mengerutkan keningnya.

“Tentang Zitao!” Yixing membentak dia tidak percaya kalau Luhan lupa dengan peringatannya.

“Oh..Zitao, ya aku ingat sekarang..lalu kenapa dengan dia?” Luhan bertanya tidak peduli.

“Luhan!” Yixing marah.

“Apa? Kenapa kau marah-marah seperti ini? Kau tidak sedang datang bulankan?” Luhan meledek dan Yixing melotot kearahnya.

“Itu tidak lucu, Li Luhan!” Yixing berkata ketus.

“Oh iya, kau bilang kau ingin membahas sesuatu..apa itu?” Tanya Luhan, dia melipatkan kakinya diatas sofa lalu menyimpan gelas winenya.

Yixing menghela nafasnya, dia sebenarnya ragu namun dia sudah bertekad. Dia tidak ingin Luhan terus hidup didalam kebohongan, dia harus mengatakan yang sejujurnya tidak peduli itu menyakitkan atau salah Yixing harus jujur.

Yixing mengambil amplop putih yang lebar dari laci lemari tv mereka, dia memberikan amplop itu pada Luhan. Luhan hendak membuka amplop itu namun Yixing mencegahnya, dia menyetuh erat tangan Luhan membuat Luhan takut.

“Apa isi amplop ini?” Tanya Luhan.

“Aku ingin setelah kau membaca surat ini kau tidak marah, aku ingin kau menerima semua kenyataan, berhentilah menjadi orang yang keras kepala dan turuti kemauanku kali ini saja.” Yixing memberi peringatan dan Luhan menatap penuh pertanyaan kearah Yixing.

“Kenapa?”

“Aku tidak akan membiarkan kau membuka amplop ini jika kau tidak menyetujui persyaratanku.” Yixing mengancam dan Luhan menghela nafasnya.

“Baiklah, apapun yang kau katakan Tuan Zhang Yixing.” Luhan menjawab dan Yixing melepaskan tangannya dari tangan Luhan.

Luhan membuka amplop itu, dia mulai membaca surat yang ada didalam amplop ternayta surat itu adalah tes DNA dari sebuah rumah sakit di Cina. Luhan bisa melihat nama dia dan Zhoumi didalam surat itu, dia terus membaca surat itu sampai paragraph terakhir namun matanya melebar saat dia melihat hasil tes DNA itu.

Hasil tes DNA itu menyatakan kalau Luhan dan Zhoumi bukanlah anak dan ayah, tidak ada satupun DNA nya yang cocok dengan Zhoumi. Luhan terkejut dia melepaskan surat itu, selama ini 20 tahun lebih dia hidup dalam kebohongan dia merasa dikhianati oleh ayahnya dan Yixing.

“Kenapa kau baru memberi tahuku sekarang?” Luhan bertanya dia melirik kearah Yixing.

“A-aku..aku tidak yakin kalau kau bisa menerima kenyataan ini.” Yixing berkata dan Yixing benar, dia masih tidak percaya dengan kenyataan ini.

“Apa baba sudah tahu?”

“Dia yang menyuruhku untuk mengetes DNA mu.” Yixing menjawab.

“Apa ini alasan kenapa baba menjauhiku?”

Luhan menatap sedih kearah Yixing, dia masih tidak percaya dengan semua ini dia kira selama ini dia adalah anak kesayangan Zhoumi. Yixing yang melihat tatapan Luhan merasa sedih juga, dia tahu Luhan pasti sangat shock dengan kenyataan ini, dia tahu kalau Luhan sangat menyayangi Zhoumi.

“Mungkin, Luhan..kau tak usah peduli padanya sekarang, yang terpenting kau harus selamat!” Yixing menyentuh kedua bahu Luhan.

“Apa maksudmu?” dia bertanya lirih.

“Paman Zhoumi mencoba untuk menyingkirkanmu, dia akan melakukan apapun untuk membunuh mu, dia yakin kalau kau adalah ancaman yang berbahaya untuk Yifan.” Yixing berkata dan Luhan melirik kearah lain, hatinya sakit sekali sekarang namun dia tidak tahu dia harus melakukan apa.

Semua ini bagaikan bom yang tiba-tiba saja meledak dan dia tidak sempat untuk menyelamatkan diri, Luhan mengusap wajahnya penuh dengan frustasi. Dia tidak tahu harus bagaimana dia tidak bisa kabur sekarang, meskipun dia kabur kemankah dia harus pergi? Luhan bukanlah orang yang punya banyak uang semua uangnya pemberian dari Zhoumi.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan pernah menyingkirkan Yifan, apa keuntungannya bagiku? Lagipula jika dia sudah tahu aku bukan anaknya dia tidak akan peduli padakukan?” Luhan bertanya dan Yixing menggelengkan kepalanya.

“Ini tidak semudah yang kau pikirkan Luhan, Paman Zhoumi mengatakan kalau dia tidak akan membunuhmu jika kau berhasil merebut hati Hyojin dan membuat dia menandatangani surat penggabungan antara perusahaan Jung dan perusahaan Li, apa kau bisa melakukan itu? Aku tahu kau tidak akan pernah setuju, Tapi Yifan…dia setuju dia sekarang sedang menjalankan misinya.” Yixing mengungkapkan dan Luhan mengangguk, sepupunya benar dia tidak mungkin tega mempermainkan hati Hyojin.

Dia menyukai gadis itu dengan tulus, dia benar-benar menyukai Hyojin dan dia tidak pernah memiliki niat jahat untuk memanfaatkan Hyojin. Berbeda dengan Yifan, dia bukanlah orang yang bisa begitu saja mempermainkan hati wanita, dia tahu kalau dia akan menyakiti Hyojin jika dia melakukan apa yang Yifan lalukan.

Tapi, hatinya sakit saat dia melihat betapa dekatnya Hyojin dan Yifan mereka berdua kelihatan sangat mesra dan tak terpisahkan. Luhan benci itu, dia menyukai Hyojin dengan setulus hatinya namun mengapa Yifanlah yang sekarang ada dipelukan Hyojin bukan dirinya.

“Kalau begitu, aku akan merebut Hyojin.” Luhan berkata dia menunduk menatap ujung kakinya.

“APA? Kau gila Luhan..” Yixing membentak.

“Aku tidak punya pilihan lain! Kau ingin aku selamat iyakan? Aku akan melakukannya, aku akan merebut Hyojin tapi aku tidak akan pernah menyuruh dia untuk menandatangi pengabungan perusahaan.” Luhan berkata membuat Yixing kebingungan.

“Apa rencanamu Luhan?”

“Jika baba ingin menghancurkanku, aku akan menghancurkannya lebih dulu lalu setelah itu kita bisa pergi keneraka bersama.”Ucap Luhan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, Yixing bisa menebak kalau Luhan sedang merencanakan sesuatu.

Yixing yakin sekali sepupunya itu memiliki banyak trik untuk mengalahkan ayahnya sendiri, dia tahu kalau Luhan selicik rubah dan sepintar kancil dia tidak akan pernah menyerah seperti ular yang melilit korbannya.

“Luhan apapun yang kau rencanakan aku tidak akan membiarkan kau melakukan sesuatu yang bodoh!” Yixing berkata dia meremas bahu Luhan.

“Yixing cukup, aku tahu kau khawatir tapi kali ini aku akan menanganinya sendirian kau tenang saja ok?” kata Luhan, dia melepaskan tangan Yixing dari bahunya dan berdiri.

“Aku lelah, aku mau tidur.” Luhanmenjawab dan dia segera berjalan masuk kedalam kamarnya.

Yixing menunduk dia ingin marah namun dia tidak tahu harus marah pada siapa, dia mungkin marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Luhan. Yifan benar, dia harus mulai melepaskan Luhan agar Luhan belajar, dia tidak bisa terus merawat dan memanjakan Luhan seperti anak kecil.

Namun hatinya tetap mengatakan kalau dia tidak bisa membiarkan sepupunya itu dalam bahaya, hatinya terus berteriak padanya untuk melindungi Luhan. Yixing meneguk winenya sampai habis dia meremas gelas yang dia pegang, matanya terasa perih dan armata hanatpun jatuh membasahi pipinya.

Luhan yang menyandar dipintu kamarnya tubuhnya merosot kelantai, dia bisa mendengar isak tangis Yixing yang kecil namun apartemen mereka hening sehingga Luhan bisa mendengar isakan tangis sepupunya itu. Luhan merasakan hatinya dicabik-cabik oleh seribu pisau, airmatanya langsung turun mebasahi pipinya dia tidak bisa menahan isak tangisnya juga namun dia memilih untuk menutup mulutnya gar tangisnya tidak terdengar oleh Yixing.

[Kediaman Keluarga Jung 21:38pm]

  Zhongren membuka pintu mobilnya dia tersenyum saat dia melihat Hyojung sudah menyambutnya, Zhongren mendekat dan memeluk Hyojung sesaat membuat Hyojung tersenyum bahagia.

“Kenapa kau tiba- tiba memanggilku?” Zhongren bertanya dia melingkarkan tangannya dipundak Hyojung dan Hyojung melingkarkan tangannya dipingangg pemuda itu.

“Eonni bilang dia ingin makan malam bersamamu, mungkin dia ingin mengenalmu lebih jauh.” Hyojung menjawab dan Zhongren langsung gugup, sebenarnya ini pertamkalinya dia akan bertemu langsung dengan keluarga pacarnya.

Dia sudah bertemu dengan Hyojin beberapa minggu yang lalu namun tetap saja dia merasa gugup, apalagi dia yakin kalau Yongguk pasti akan mendampingi Hyojin. Dia bersumpah tatapan Yongguk sangat menyeramkan, apalagi jika dia kepergok mencoba menyentuh Hyojung rasanya petir menyambarnya jika dia menatap balik kearah Yongguk.

“Oh..begitu ya, tapi aku tidak memakai baju yang pantas.” Zhongren berkata, dia hanya memakai baju kaos dan jaket coklatnya lalu jeans biru tua dia yang memeluk ketat kakinya.

“Tidak apa-apa, ini bukan makan malam yang resmi.” Hyojung berkata dia menarik Zhongren masuk namun Zhongren terdiam.

“Ayo masuk Oppa..” Hyojung berkata saat dia melihat Zhongren masih diam ditempatnya.

“Err..apakah kakakmu akan menyukai aku?” Zhongren bertanya dan Hyojung tertawa, dia tahu kalau kekasihnya itu gugup.

“Oppa tenang saja, Eonni orang yang baik dia pasti akan menyukaimu.” Hyojung menenangkan dan dia tersenyum cerah kearah Zhongren.

“Aku harap begitu.” Zhongren berkata dengan gugup dia bisa merasakan tangannya berkeringat.

Zhongren dan Hyojung berjalan menulusuri lorong rumah yang cukup pajang mereka berbelok kekanan dan akhirnya sampai diruang makan, Zhongren bisa melihat Hyojin dan Yongguk yang sudah duduk dimeja makan. Hyojin terlihat cantik dengan celana panjang dan baju hijau tuanya, rambut panjang nya di sanggul keatas membuat dia terlihat lebih dewasa.

Annyeoung haseyo.” Zhongren menyapa.

“Zhongren-ah, aku senang kau datang.” Hyojin tersenyum dan dia berdiri untuk menyambut Zhongren.

“Noona, senang bisa bertemu lagi.” Zhongren berkata dan Hyojin mempersilahkan Zhongren untuk duduk.

“Bagaimana pekerjaan modelmu? Aku mendengar banyak tentangmu dari Yifan Oppa.” Hyojin berkata dan Zhongren tersenyum.

“Semuanya lancar,bagaimana dengan perkerjaan Noona?” Tanya Zhongren balik.

“Membosankan, kau tahu pekerjaan kantor cukup monoton.” Hyojin menjawab.

Dua orang pelayan datang keruang makan mendorong sebuah trolli kecil yang diatasnya berisi berbagai macam makanan, mereka menyiapkan makanan itu dimeja dan menawarkan minuman apa yang mereka inginkan. Zhongren sedikit terkejut dengan pelayanan seperti ini, dia merasa seperti orang kaya saat dia melihat seorang pelayan bertanya padanya minuman apa yang dia mau.

“Air putih saja.” Zhongren menjawab dan pelayan itu menuangkan air putih kegelas Zhongren.

“Kau bekerja sebagai model Zongren-shi, apakah kau sering melihat wanita-wanita cantik?” Yongguk usil bertanya, dia tahu pertanyaan itu sangat sensitive sekali untuk Hyojung.

“Yongguk Hyung aku bukan tipe yang gampang tergoda.” Zhongren menjawab membuat Yongguk mendengus.

“Oppa!” Hyojung marah dia menendang kaki Yongguk dibawah meja membuat Yongguk mengerang.

“AW! Itu sakit Hyojung-ah..” Yongguk mengelus kakinya yang berdenyut sakit.

“Hyojung!” Hyojin melotot kearah adiknya membuat Hyojung menunduk takut, Zhongren yang melihat Hyojin yang tegas takut juga.

Makan malam sudah siap dimeja mereka tidak membuang waktu dan mulai memakan makan malam mereka, Zhongren sedikit canggung dengan atmosphere diruang makan yang sangat hening. Hanya suara gesekan garpu dan sendok saja yang terdengar, membuat Zhongren merasa semakin gugup.

“Zhongren..” Hyojin memanggil lagi dan Zhongren melirik kearah Hyojin.

“Aku dengar kau dan Yifan Oppa tumbuh di panti asuhan, kalau boleh tahu…kaian tumbuh di panti asuhan mana?” Hyojin bertanya dia kelihatan sedikit gugup saat dia melontarkan pertanyaan itu.

“Oh, kami tumbuh di panti asuhan white lily di daerah mokpo.” Zhongren menjawab dan Hyojin mengangguk, ternyata Yifan dan Zhongren tumbuh jauh sekali dari Seoul.

“Oh begitu ya, tapi kau dan Yifan Oppa tidak punya aksen.” Hyojin menggoda dia ingat dia mempunyai teman dari mokpo dan temannya itu memiliki aksen yang unik.

“Aku dan Yifan Hyung tidak tinggal lama disana, kami pergi saat Yifan Hyung sudah selesai kuliah.” Zhongren mengungkapkan.

“Wah..kalian berani sekali, pasti sangat susah untuk tinggal sendirian.” Hyojin berkata dan Zhongren mengangguk.

“Aku dan Yifan Hyung memiliki dua pekerjaan untuk membayar sewa flat kami dan makan sehari-hari.” Zhongren mengungkapkan, Yongguk yang mendengarkan sedikit simpati kehidupan Zhongren mengingatkan dia saat dia pertakali meninggalkan rumah Jung.

“Benarkah? Apa pekerjaan yang kalian pernah coba?” Hyojin semakin penasaran, Hyojung yang melihat tatapan sedih Zhongren menyentuh tangan kekasihnya itu dibawah meja.

“Banyak, aku pernah menjadi pelayan direstoran aku juga pernah bekerja sebagai pegawai konstruksi.” Zhongren menjawab.

“Kau hebat sekali Zhongren.” Hyojin memuji.

“Itu semua bukan apa-apa dibandingkan kesuksesan mu Noona.” Zhongren balik memuji mereka berdua saling tersenyum,lalu Zhongren menunduk membuat pandangannya jatuh kedada Hyojin.

Dia mengerutkan keningnya saat dia melihat tanda merah keunguan didada Hyojin, dia menyeringai. Zhongren tahu itu adalah cap mulut kakaknya, dia bisa menebak itu dari bentuk tanda merah keunguan Hyojin, benar-benar mirip dengan bentuk bibir kakaknya yang sedikit tebal diatas.

“Apa Yifan Hyung menghiburmu kemarin Noona?” Tanya Zhongren setengah berbisik nakal membuat Hyojin mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu Zhongren-ah?” Tanya Hyojin dan Zhongren menunjuk kearah dadanya sendiri membuat Hyojin menunduk menatap kearah dadanya sendiri, dia terkejut saat dia mendapati satu tanda ciuman yang Yifan berikan untuknya tadi sore.

“Ah! Aku..aku harus pergi dulu.” Hyojin berkata sambil menarik bajunya agar menutupi dadanya lebih tinggi.

“Kalian nikmati saja makan malamnya, aku ada urusan.” Hyojin berkata dan wanita itu berlari kelantai dua terbirit-birit seperti dikejar hantu.

Zhongren tertawa dan Hyojung hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu kakaknya dan Zhongren akan akrab. Mereka cukup mirip dalam beberapa aspek, Yongguk yang melihat sosok Hyojin menjauh khawatir sebenarnya apa yang Zhongren katakan sehingga membuat Hyojin berlari seperti tadi.

“Apa yang kau katakan pada Hyojin eonni? Kenapa dia berlari seperti itu?” Hyojung bertanya dan Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Itu urusan orang dewasa, kau sebaiknya menghabiskan makan malammu.” Zhongren menolak untukmenjawab pertanyaan Hyojung.

“Tapikan aku sudah 17 tahun!” Hyojung merengek dan Zhongren hanya tersenyum.

“Cepat habiskan makananmu, kau tidak mau dagingnya dinginkan?” Zhongren menghindari topik pembicaraan nya dengan Hyojin.

“Baiklah.” Hyojung menurut dia melanjutkan makan.

Yongguk yang merasa resah berdiri dari duduknya, Hyojung yang melihat Yongguk berdiri berhenti makan.

“Oppa kau mau kemana? Makan malammu belum habis.” Hyojung berkata.

“Aku tidak lapar, kau lanjutkan saja.” Yongguk menjawab acuh, dia keluar dari ruang makan.

“Oh bagus..sekarang kita yang makan berdua.” Ucap Hyojung kesal, dia memainkan makanannya.

“Tidak apa-apa, setidaknya masih ada akukan?” Zhongren mendekat dan dia menggengam tangan Hyojung lalu meeka berdua tersenyum.

Yongguk berjalan dengan langkah yang cepat awalnya dia hendak kekamarnya dan tidur, namun dia melirik kearah tangga. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang membuat Hyojin berlari kekamarnya terbirit-birit, Yongguk memutuskan untuk naik kelantai dua dan pergi menuju kamar Hyojin.

Yongguk mengetuk pintu kamar Hyojin dan dia mendengar suara Hyojin yang menyeruhnya masuk, saat dia membuka pintu dia bisa melihat Hyojin baru selesai mengganti bajunya dia bahkan bisa melihat kulit perut Hyojin sekilas membuat dia malu dan berbalik.

“Yongguk oppa? Aku kira kau Hyojung.” Hyojin berkata dia langsung merapikan bajunya.

“Maaf jika aku menganggu, aku akan pergi.” Yongguk hendak meninggalkan kamar Hyojin.

“Tidak apa-apa, apa yang kau inginkan?” Hyojin menenangkan dia duduk dikursi meja cerminnya.

Yongguk berbalik dan dia terpesona dengan pemandangan didepannya, Hyojin cantik sekali dengan baju putih yang dia kenakan sekarang. Walaupun baju ini lebih tertutup dan panjang dia menyukainya, baju berlengan panjang itu membalut tangan slim Hyojin dengan sempurna.

“Aku hanya penasaran, kenapa kau tiba-tiba saja berlari.” Yongguk berkata dia tidak melangkah lebih jauh, masih berdiri didekat ambang pintu kamar Hyojin.

“Oh tidak apa-apa, aku hanya lupa sesuatu.” Hyojin panik, Yongguk tahu kalau gadis itu berbohong.

“Lupa apa? Kau juga mengganti bajumu apakah ada yang salah dengan baju hijau tadi?” Yongguk bertanya penuh kecurigaan.

“Bukan apa-apa Oppa, sebaiknya kita pergi keruang makan lagi ok? Aku tidak bisa membiarkan Hyojung dan Zhongren berduaan.” Ucap Hyojin dia berdiri dan berjalan menuju ambang pintu.

Yongguk menarik tangan Hyojin dengan kasar membuat tuuh gadis itu membentur dadanya, Hyojin melebarkan matanya kaget dengan tingkah laku Yongguk. Yongguk menatap kearah Hyojin, dia seakan sedang mencari kebenaran didalam mata Hyojin dia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu.

Mata Yongguk jatuh keleher Hyojin dan dia bisa melihat tanda merah yang Zhongren lihat tadi, Yongguk marah sekali saat dia melihat tanda ciuman itu. Dia tahu itu bukanlah gigitan serangga, Yongguk mendorong Hyojin ketembok kamarnya membuat gadis itu memekik.

“Yongguk Oppa!” Hyojin membentak, bahunya terasa sakit karena Yongguk meremasnya terlalu kuat.

“Kau..apakah kau tidur bersama Wu Yifan?” Yongguk bertanya suaranya terdengar geram.

“Oppa apa yang kau katakan?” Hyojin berlagak bodoh, dia tidak bisa membiarkan Yongguk tahu kalau dia tidur dengan Yifan.

“Katakan yang sejujurnya!” Yongguk melotot kearah Hyojin membuat Hyojin takut.

“Oppa kau ada-ada saja…” Hyojin tersenyum dia menyentuh dada Yongguk namun Yongguk malah menarik tangan Hyojin dan menahan tangan gadis itu ditembok dengan tangannya.

“Jangan sentuh aku! Katakan yang sejujurnya!” Yongguk menggeram marah.

Hyojin panik dia tahu kalau Yongguk serius, Hyojin menghindari tatapan Yongguk dan mengigit bibirnya.

“Berapa banyak lelaki selain dia?apa kau juga tidur dengan lelaki lain? Berapa banyak? Lima? Sepuluh?!” Yongguk membentak marah.

“Bang Yongguk!” Hyojin balik membentak marah.

“Kau pikir aku wanita macam apa?! Kenapa kau marah? Kau bukan siapa-siapa aku? Kenapa kau harus peduli!” Hyojin mendorong Yongguk menjauh.

Yongguk emosi dia kehilangan akal sehatnya dan menarik Hyojin lalu mencium gadis itu tepat dibibir, Hyojin terkejut dan dia mendorong Yongguk sekali lagi dan menampar lelaki itu cukup keras. Yongguk terdiam sesaat tamparan Hyojin benar-benar terasa sakit membuat Yongguk sadar dengan apa yang dia perbuat, dia hampir saja memperkosa Hyojin dia kalap.

“Oppa, sebaiknya kau menjauh dariku!” Hyojin berkata marah dia keluar dari kamarnya, Yongguk bisa mendengar langkah kaki Hyojin yang cepat menuruni tangga.

[Penjara, Seoul – Korea selatan 09:29am]

  Yoona menghentikan mobilnya, dia menatap kearah bangunan penjara yang tinggi dan dipenuhi oleh tembok-tembok yang tinggi pula. Dia bisa melihat beberapa sipir penjara menjaga lingkungan yang penuh dengan criminal itu, dia mengambil kotak makanan untuk Jongsuk yang dia simpan disamping kursi pengemudi.

Ya, hari ini Im Yoona akan mengujungi Jongsuk mantan kekasihnya. Dia tahu seharusnya dia tidak menjenguk orang yang sudah mengancam dan membuatnya dipecat , namun Yoona tetap penasaran dia mendengar sesuatu dari Jongsuk saat insiden penculikan Hyojin dia bilang kalau Zhang Yixing dan Li Zhoumi merencanakan sesuatu untuk Jung Hyojin.

“Selamat pagi.” Yoona menyapa kepada sipir penjara dan sipir penjaar itu tersenyum.

Yoona masuk kedalam lobi penjara, dia mendaftarkan diri untuk mengunjungi narapidana yang bernama Lee Jongsuk. Dia menunggu beberapa saat sambil mengetuk-ngetukkan kakinya gugup, dia tidak tahu darimana dia harus mulai.

“Im Yoona-shi!” Mendengar namanya dipanggil Yoona segera mendongak.

“Lee Jongsuk-shi sudah menunggu anda.” Seorang sipir penjara memberitahunya dan Yoona berterimakasih pada sipir itu sebelum dia masuk kedalam ruangan kunjungan.

Dia sedih sata melihat betapa kurus dan pucatnya Jongsuk, dia memakai sergaam tahanan berwarna oranye. Rambut coklatnya sedikit acak-acakan namun dia tidak peduli, Yoona duduk didepan Jongsuk dan memberikan kotak makanan yang dia bawa.

“Bagaimana kabarmu?” Yoona bertanya dan Jongsuk menyeringai.

“Kabarku? Apa kau tidak bisa melihatnya? Aku kacau.” Jongsuk menjawab.

“Jongsuk-ah..”

“Jangan panggil aku seperti itu.” Jongsuk berkata.

“Apa yang kau mau?” Jongsuk menatap kearah Yoona.

“Aku akan menyelamatkanmu.” Yoona berkata dan dia menarik tangan Jongsuk lalu menggenggamnya.

“Bagaimana?” Jongsuk mendengus meremehkan.

“Aku punya uang deposit, uang itu pemberian dari Jung Yunho-shi dan aku belum pernah memakainya.” Yoona mengungkapkan.

“Terimakasih, aku tidak ingin memakai uang si brengsek itu!” Jongsuk marah.

“Jongsuk-ah, lihatlah keadaannya..ini bukan saatnya untuk berkeras kepala.” Yoona memelas.

“Jika kau hanya ingin membujukku seperti ini pulanglah,aku tidak akan mengalah.” Jongsuk berdiri hendak pergi namun Yoona menarik tangan lelaki itu.

“Tunggu!”

Jongsuk melirik kearah Yoona.

“Aku..aku ingin tahu tentang rencana Li Zhoumi.” Yoona akhirnya mlontarkan tujuannya.

Jongsuk menyeringai, dia tahu kalau wanita ini akan penasaran. Dia tahu Yoona akan berakting sebagai pahlawan agar dia bisa menempati posisinya kembali, Jongsuk melepaskan tangan Yoona dari lengannya.

“Percuma, walaupun kau tahu dank au menyelamatkan Hyojin..wanita itu tidak akan menerimamu kembali Yoona, dia tahu kau hanya wanita yang penuh tipu muslihat.” Jongsuk berkata dan Yoona mengepalkan tangannya.

“Aku tidak peduli jika Hyojin memaafkan aku atau tidak, aku hanya ingin tahu rencana Li Zhoumi.” Yoona memberi alasan.

“Aku mohon..beritahu aku, aku tidak bisa membiarkan Hyojin dan Hyojung terluka bagaimanapun mereka sudah aku anggap sebagai keluarga.” Yoona mengungkapkan dan Jongsuk tertawa dengan sarkastiknya.

“Hahaha keluarga? Kau bilang keluarga? Lucu sekali..jika kau menganggap Hyojin keluarga kau tidak akan tidur dengan ayahnya!” Jongsuk membentak matanya melotot dan tangannya mengepal.

“Jongsuk!” Yoona membentak kembali.

“Aku hanya..aku hanya lupa diri, aku seharusnya tahu tempatku..aku seharusnya mundur dan tetap bersamamu..aku tahu aku salah.” Yoona menangis, dia benar-benar menyesali malam dimana dia dan Yunho tidur bersama.

“dengar kau wanita jalang! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu, begitu juga dengan Hyojin jadi sebaiknya kau pergi dari hadapanku sebelum aku mencabik-cabikmu.” Ancam Jongsuk dan Yoona menangis.

“Aku mohon Jongsuk-ah..beritahu aku apa yang Li Zhoumi rencanakan untuk Hyojin? Aku tidak bisa diam saja, setidaknya aku bisa membayar dosaku.” Yoona memohon dia menunduk bahkan dia akan bersujud pada Jongsuk agar lelaki itu mau memberitahu dia rencana Li Zhoumi.

“Kau ingin tahu apa yang Li Zhoumi rencanakan?” Jongsuk bertanya dan Yoona mengangguk.

“Baiklah, duduk.” Jongsuk menyuruh Yoona untuk duduk.

Yoona kembali duduk dan diikuti oleh dia sendiri.

“Li Zhoumi..dia, dia ingin menguasai perusahaan Jung.” Jongsuk mengungkapkan.

“Dia bermain kotor dengan mengirimkan Yifan, kau tahu? Pacar Hyojin?” Yoona mengangguk.

“Dia sebenarnya bertugas untuk menggoda Hyojin agar Hyojin mau menanda tangani surat penggabungan perusahaan mereka, Jung Yunho dari dulu tidak mau jika perusahaan nya digabungkan dengan perusahaan Li karena dia tahu itu hanya trik Zhoumi agar dia bisa menguasai saham diperusahaannya.” Jongsuk menjelaskan dan Yoona mengangguk mengerti.

“Awalnya aku dan Yixing berencana untuk membunuh Hyojin saja sehingga saudara Yixing, Luhan bisa selamat dari ancaman Zhoumi, namun bodohnya Siwon membocorkan semua rencana kami pada Luhan dan lelaki itu datang membawa Yifan dan Yongguk.” Jongsuk menuturkan.

“Aku harus mengatakan semua ini pada Hyojin.” Yoona panik.

“Apa kau bodoh? Dia tidak mempercayaimu sekarang, lagipula semuanya terlambat..aku tahu Hyojin sudah jatuh cinta pada Yifan apalagi lelaki itu sudah menyelamatkan hidupnya dua kali.” Jongsuk berkata dan Yoona semakin cemas.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau hanya bisa menonton Yoona, kau tidak akan bisa merubah apapun mereka di takdirkan untuk hancur… itulah kejamnya takdir.” Jongsuk berkata dan dia berbalik keluar dari ruang kunjungan.

Yoona masih shock dengan semua penjelasan Jongsuk, dada Yoona rasanya sesak kepalanya langsung terasa pusing saat dia membayangkan kalau Hyojin dan Hyojung ada dalam bahaya.

Yoona segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang kunjungan, kakinya terlalu lemah untuk berjalan sehingga dia menyandar ketembok lorong ruang kunjungan. Airmatanya mengancam untuk turun namun Yoona menahannya, nafasnya terasa berat dan tenggorokannya kering menahan tangis.

“Hyojin-ah..mianhae…Jeongmal mianhae..” Yoona akhirnya menangis, dia merasa sangat berdosa sekali, apalagi sekarang dia tahu kenyataan pahit yang akan Hyojin dan Hyojung hadapi.

~ 3 Minggu kemudian..~

“Ahh..” Yifan menghela nafasnya penuh kelegaan, dia sekarang sudah tidak memakai lagi piyama rumah sakit yang tidak nyaman dan dia bisa bergerak bebas karena lukanya sudah kering dan jahitan dipunggungnya sudah dilepaskan tadi pagi oleh dokternya.

“Kau pasti senang sekali.” Suara Hyojin terdengar, Yifan melirik kearah kekasihnya itu dengan senyum lebar.

“Ya, aku benar-benar bosan harus terus berbaring.” Yifan berkata dan Hyojin menggenglengkan kepalanya.

“Aku lega kau sembuh, sebaiknya kau cepat kembali kerumah dan beristirahat.” Hyojin berkata dia mengambil tas kecil yang berisi segala kebutuhan Yifan selama dia dirawat.

“Padahal seminggu kemarin aku sudah baikan, tapi kau memaksaku untuk tetap dirawat.” Yifan cemberut dan merebut tasnya dari Hyojin.

“Oppa,dirumahmu tidak ada yang bisa merawatmu kau tahukan Zhongren sibuk.” Hyojin menjawab, dia bisamerasakan Yifan menggengam tangannya dan mereka berjalan keluar dari ruangan rawat bersama.

“Ya aku tahu, tapi aku merasa tidak enak..” Yifan berkata, dia mendengar dari Zhongren kalau 50% biaya rumah sakit dibayar oleh Hyojin.

“tidak enak kenapa Oppa? Apa ini soal biaya rumah sakit lagi?” Hyojin bertanya.

“Sedikit..” Yifan menjawab.

Hyojin berhenti melangkah membuat Yifan melirik kearah Hyojin, Hyojin menangkup wajah Yifan dan dia tersenyum.

“Aku membayar uang itu karena aku ingin berterimakasih, aku ingin berterimakasih karena kau sudah menyelamatkan aku.” Hyojin berkata dan Yifan tersenyum tipis.

“Tapi kau bisa membayarnya dengan cara lain.” Yifan menggoda membuat Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Oppa soal itu..itu beda lagi.” Hyojin menjawab pipinya bersemu merah sekarang membuat Yifan tertawa.

“Kau lucu sekali jika kau malu.” Yifan berkata dan Hyojin tersenyum.

Yifan merasa sennag sekali saat dia melihat senyuman Hyojin, belakangan ini gadis itu terlihat sedikit murung. Mungkin lelah, entahlah Yifan tidak pernah bisa menebak Jung Hyojin gadis itu terlalu rumit unuk dimengerti sepenuhnya.

Yifan mendekat dia mengecup dahi Hyojin, Hyojin terkejut namun gadis itu malah tertawa membuat Yifan memeluknya.

“Ehm!!”

Mendengar suara itu Yifan dan Hyojin segera melirik kesumber suara, mereka menemukan Hyojung dan Zhongren sudah berdiri didepan mereka. Senyum nakal terpasang dikedua bibir remaja itu, Yifan dan Hyojin segera menjauh.

“Hyung, ini masih siang.” Zhongren meledek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Eww Eonni, kalian membuat mataku sakit!” Hyojung meledek dan pura-pura ingin muntah.

Yifan dan Hyojin tertawa melihat ekspressi iri kedua adiknya, mereka malah sengaja berciuman didepan Hyojung dan Zhongren sampai mereka mendengar erangan Zhongren dan tawa Hyojung.

“Kalian berdua menjijikan!” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk, lalu dia melingkarkan tanganya dibahu Hyojung.

“Oh ayolah, setelah kalian cukup dewasa kalian akan mengerti.” Yifan berkata dan Hyojin tertawa.

“Oppa, biarkan saja..ayo kita harus pulang sekarang.” Hyojin menyarankan dan mereka berempat pergi meninggalkan rumah sakit.

“Yifan-ge!” Suara Luhan terdengar saat Yifan melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran.

“Luhan, apa yang kau lakukan disini?” Yifan bertanya terkejut dan Luhan tersenyum.

“Aku ingin menjengukmu untuk yang terakhir kali.” Luhan menjawab dan dia melirik kearah Hyojin yang berdiri disamping Yifan.

“Ah Hyojin-ah, annyeoung!” Luhan menyapa ceria.

“Luhan-shi, annyeoung.” Hyojin tersenyum tipis, dia tidak bisa menatap Luhan dia terlalu malu saat dia mengingat kalau beberapa minggu yang lalu dia hampor berciuman dengan lelaki itu.

“Aku senang jika Zhongren menjemputmu, kalau begitu aku pamit..aku harus pergi ke studio.” Luhan berkata.

“Baiklah, kunjungi aku jika kau sempat.” Yifan berkata dan Luhan mengangguk, dia tahu kalau Yifan hanya berbasa-basi.

“Sampai jumpa, semuanya.” Luhan sekali lagi berpamitan, dia melirik kearah Hyojin sekilas dan Hyojin langsung menunduk.

Luhan berbalik untuk menaiki motor sportnya dan pergi dari rumah sakit, Yifan melirik kearah Hyojin yang kelihatan murung lagi. Sebenarnya Yifan curiga, kenapa Hyojin sellau kelihatan murung setiap kali dia melihat Luhan? Apakah kekasihnya itu tidak menyukai Luhan?

Lamunan Yifan pecah saat dia mendengar Zhongren menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil, Yifan menuruti panggilan Zhongren sedangkan Hyojung dan Hyojin sudah masuk kedalam mobil.

“Eonni, bagaimana kalau kita mampir dulu ke kedai es krim?” Sura Hyojung terdengar sangat ceria.

“Hyojung-ah, Yifan Oppa baru sembuh ja—“

“Tidak apa-apa, aku juga ingin es krim.” Yifan memotong pembicaraan Hyojin.

“Oppa, tapi kau baru sembuh.” Hyojin menatap kearahnya penuh khawatir.

“Tidak apa-apa,aku akan baik-baik saja.” Yifan menjawab dan memberikan Hyojin senyum tipisnya.

“YEY! Oppa, bagaimana kalau kita mampir ke kedai es krim yang biasa kita kunjungi?” Hyojung bersorak senang.

“Boleh, apa kau ingin memesan lagi es krim rasa green tea?” Zhongren bertanya dan Hyojung mengangguk.

“Ya, aku terkejut saat aku merasakan es krim rasa itu..aku kira tidak akan enak.” Hyojung mengungkapkan dan mereka berdua tertawa, mereka berdua megingat kalau mereka harus berdebat dulu sebelum bisa memesan es krim rasa itu.

“Bahkan kita harus berdebat dulu sbeelum memesannya.”

Hyojin yang mendengar oercakapan Zhongren dan Hyojung hanya tertawa, mereka berdua lucu sekali. Hyojin terkejut saat dia merasakan sesuatu yang berat dipundaknya, dia melirik dan melihat Yifan menyandarkan kepalanya dipundaknya, mata lelaki itu tertutup namun dia tersenyum.

“Apa kau lelah?” Hyojin bertanya dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya ingin menyandar padamu.” Yifan berkata manja membuat Hyojin tersenyum.

“Dasar konyol..”

“Kau menyukainya.” Timpal Yifan.

[Studio musik 12:00pm]

    Luhan melepaskan helmnya, dia melirik kearah mobil hitam yang terparkir dihalaman studi musik Siwon. Dia tidak mengenal plat nomor mobil itu, Luhan tidak terlalu mengubris mungkin itu mobil baru Siwon entahlah lelaki itu selalu bergonta-ganti mobil setiap kali dia mengunjungi Luhan.

Luhan menyimpan tasnya dimeja yang ada disudut ruangan studio, dia tidak menemukan siapapun didalam studio. Namun dia curiga, tidak mungkin ada orang yang memarkirkan mobilnya begitu saja didepan studio music Siwon.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu Luhan ge.”

Luhan berbalik dan dia bisa melihat sosok Zitao berdiri dibelakangnya, dia menyandarkan badannya di ambang pintu. Luhan tahu Zitao bukanlah orang pertama yang ingin dia temui hari ini, Luhan sudah tahu semuanya dari Yixing oleh sebab itu dia menghindari setiap kontak dengan Zhoumi dan semua rekan kerjanya dulu.

“Zitao, lama tidak bertemu.” Luhan berpura-pura ramah dan tersenyum.

“Aku dengar kau sekarang menjadi musisi.” Zitao berkata dia menatap kearah alat mixer yang ada disampingnya, Zitao memainkan beberapa tombol di alat itu.

“Ya, kau tahu aku suka musik.” Luhan menjawab dan Zitao menyeringai.

Ge, bukankah sebaiknya kau mendengarkan aku dan pergi dari Korea?” Zitao memulai, dia ingat percakapannya dengan Luhan beberapa minggu lalu.

“Kemana? Amerika?Paris?” Luhan bertanya dan Zitao menghela nafasnya, dia tahu Luhan bukanlah orang yang gampang dibujuk dia sangat keras kepala.

Ge, ini demi keselamatanmu..jika kau tidak meninggalkan Korea aku akan memaksamu.” Tao mengancam.

“Kalau begitu paksa aku.” Luhan menantang.

Zitao marah dia sudah habis kesabaran, selama tiga minggu ini dia mencoba membujuk Luhan untuk kabur namun usahanya selalu gagal. Lelaki itu selalu kukuh pada pendiriannya dan tetap keras kepala, bahkan dia tidak takut saat Zitao mengatakan kalau Zhoumi bisa membunuhnya kapan saja.

“Luhan ge, aku masih menghargaimu sebagai kakak dan atasan, sebaiknya kau menurut.” Zitao memberi peringatan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya,

“Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi kemanapun aku suka di Korea.” Luhan bersih kukuh.

“LUHAN!” Zitao akhirnya naik pitam.

“Zitao, kau sebaiknya kembali ke Cina katakan pada Zhoumi kalau aku akan tetap tinggal di Korea sampai kapanpun.” Ujar Luhan suaranya terdengar penuh dengan keyakinan.

“Luhan ge, aku peringatkan sekali lagi..aku mohon..pergilah dari Korea.” Zitao memelas, dia bukan memberikan sebuah peringatan karena suaranya lemah.

Luhan hanya diam, dia bisa melihat bagaimana frustasinya Zitao yang berdiri dihadapannya dia tahu Zhoumi pasti mengancam Zitao. Zitao menatap balik kearah Luhan, dia seakan memohon dengan matanya meskipun mereka berdua tidak berkata apapun keduanya mengerti posisi masing-masing.

“Aku tidak ingin berkelahi denganmu Luhan gege, sebaiknya kau menurut.” Zitao memulai.

“Pukul aku, aku tidak akan marah.” Luhan menantang lagi.

Dari sana Zitao kehilangan kontrol emosinya, dia begitu marah pada kekerasan kepala Luhan dan dia berjalan kearah lelaki itu lalu memukulnya tepat dipipinya. Luhan ikut marah dia balik memukul dengan keras, Zitao bisa menghindari pukulan Luhan namun kakinya ditendang oleh Luhan membuat dia terjatuh.

Luhan naik keatas Zitao saat lelaki itu jatuh ketanah, dia meninju Zitao beberapa kali diwajahnya namun Zitao bisa menahan pukulan Luhan yang kesekian kali dan membalikan posisi. Luhan mencoba menahan pukulan Zitao namun pukulan Zitao begitu kuat, lelaki itu memang memiliki keahlian bela diri yang bagus tentu saja soal fisik Luhan sedikit kalah.

Zitao terus memukul dan memukul, Luhan hanya bisa diam menerima setiap pukulan Zitao sampai akhirnya lelaki yang lebih muda darinya itu menghentikan pukulannya. Luhan sudah babak belur pipi dan bibirnya berdarah, Zitao yang melihat itu segera berdiri.

“Sudah aku katakan gege, sebaiknya kau kau pergi dari Korea.”

Luhan terbatuk-batuk darah keluar dari mulutnya, dia menyeka bibirnya dan tiba-tiba saja dia bangkit dan memukul lagi Zitao. Tubuh Zitao membentur tembok studio dengan keras dan Luhan menarik kerah baju Zitao, Zitao terkejut namun dia mencoba untuk tenang.

“Tidak pernah, aku tidak akan pernah pergi dari Korea katakan itu pada Li Zhoumi!” Luhan membentak.

Zitao marah dan dia kalap, dia mendorong tubuh Luhan sekuat tenaga dia mengodok saku celananya dan pisau lipatpun dia keluarkan. Tanpa ragu dia menusukan pisau itu kepingang Luhan, dia merasa bersalah namun dia masih ingin hidup, dia ingat dengan ancaman Zhoumi mengatakan kalau dia gagal menyingkirkan Luhan nyawanya lah yang jadi penggantinya.

“Errghh..” Luhan mengerang saat Zitao menusukan pisaunya lebih dalam, Luhan bisa merasakan darahnya menetes kelantai studio dan tangannya sendiri.

“Sudah kubilang, jangan berkelahi denganku.” Zitao berbisik ketelinga Luhan, dengan kejamnya dia menarik kembali pisaunya dari pingang Luhan membuat Luhan langsung ambruk kelantai.

“Maaf ge, kau yang menantangku.” Zitao berkata dengan dingin, dia memasukan kembali pisau lipatnya kesaku celananya dan pergi meninggalkan Luhan yang sekarat.

Luhan terbaring dilantai, dia bisa melihat bayangan Zitao menjauh darinya lalu kelaur dai studio. Luhan menekan luka dipinggangnya menahan pendarahan, pandangannya mulai buram dan dia mencoba mencari ponselnya.

Luhan menemukan ponselnya di saku celananya lalu dia menekan tombol sembarangan, dia tidak tahu siapa yang dia telepon yang jelas diaberharap kalau orang yang dia telepon adalah Yixing.

[Kediaman keluarga Jung 13:00pm]

Hyojin dan Hyojung baru saja duduk dikedai es krim mereka mengobrol sesaat, sesekali mereka melirik kearah Yifan dan Zhongren yang sedang memesan es krim.

“Eonni..” Hyojung memulai.

“Ya?”

“Aku hanya penasaran..” Hyojung memulai dan Hyojin menatap kearah adiknya.

“Kenapa kau menghindari Yongguk oppa belakangan ini? Bahkan kau tidak meminta Yongguk oppa untuk mengantarkanmu.”Hyojung bertanya dan Hyojin mengigit bibirnya, dia tidak boleh mengatakan kalau Yongguk hampir memperkosanya beberapa minggung yang lalu.

“Aku..aku hanya tidak ingin membuat Yifan cemburu, kau tahu dia..” Hyojin beralasan dan sepertinya Hyojung mempercayai alasan konyol kakaknya itu.

“Oh begitu ya, Eonni..apakah Yifan Oppa snagat posesif?” Tanya Hyojung setengah berbisik.

“Ya, kadang-kadang.” Hyojin menjawab dan tersenyum.

“Wah..pantas saja kalian lengket!” Hyojung mengunkapkan membuat Hyojin tertawa.

“Aku juga penasaran.” Hyojin memulai.

“Kenapa?” Hyojung bertanya.

“Kau dan Zhongren snagat dekat, apa kalian pacaran juga?” Hyojin bertanya, dia tahu kalau adiknya dan Zhongren berpacaran namun dia hanya ingin mengkonfirmasi saja.

“Menurut Eonni?” Hyojung malah bertanya balik.

“Ya! Jangan bertingakah sok misterius didepanku.” Hyojin memukul lengan Hyojung.

“Aww itu sakit Eonni!” Hyojung mengerang.

“Apa yang kalian bicarakan?” Suara Yifan terdengar membuat Hyojin dan Hyojung melirik kearah Yifan.

“Bukan apa-apa Oppa.” Hyojung menjawab dan tersenyum mencurigakan.

Yifan dan Zhongren duduk disebelah Hyojin dan Hyojung, mereka menyimpan pesanan es krim mereka dimeja.

“Kau memesan es krim green tea juga?” Hyojin beranya sata dia melihat es krim hijau yang ada didepan Yifan.

“Ya, aku penasaran..” Yifan berkata membuat Hyojung dan Zhongren tertawa.

“Kau akan sangat menyukainya Hyung.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk setuju.

“Aku rasa aku tidak akan menyukainya..” Hyojin berkata, dia tidak suka dengan warna hijau es krim itu, dia lebih suka es krim rasa vanillanya.

“Aku akan mencoba.” Yifan berkata dia, Yifan mengeduk sesendok penuh es krim itu dan mencobanya.

Hyojung dan Zhongren menunggu reaksi dari Yifan sedangkan Hyojin mengerutkan keningnya jijik membayangkan es krim hijau itu ada dimulutnya, Yifan tersenyum lebar dan dia kembali memakan es krimnya.

“Hm…es krim ini enak.” Yifan berkata.

“Sudah kubilangkan?” Ujar Zhongren dengan bangga.

Mereka berempat tertawa saat mereka melihat Yifan mengerutkan keningnya, dia terlalu cepat memakan es krimnya sehingga dia merasa pening. Handphone Hyojin bergetar tiba-tiba, Hyojin segera mengambil handphonenya dari tasnya dia terkejut saat dia melihat nama Luhan tertera dilayar handphonenya.

Hyojin segera berdiri dari duduknya dan dia permisi untuk mengangkat teleponnya, Yifan mengijinkan dia namun dia tahu lelaki itu sedikit curiga. Hyojin melangkah keluar dari kedai es krim, dia mengangkat telepon dari Luhan.

“Nde, Luhan-shi ini aku.” Hyojin berkata namun dia tidak juga mendapatkan respon.

“Yixing…” Suara Luhan akhirnya terdengar namun suara ellaki itu terdengar lemah.

“Luhan-shi?” Hyojin bertanya.

“Yixing..tolong aku, aku terluka..” Luhan berakata dia masih tidak menyaari kalau nomor yang dia hubungi bukanlah nomor Yixing melainkan Hyojin.

“Kau dimana? Apa yang terjadi?” Hyojin panik.

“Aku di studio..tolong aku cepat!” Luhan berkata dan sambungan telepon Luhanpun putus.

Hyojin gemetaran dia sedikit panik, Hyojin langsung kembali kekedai es krim dia mencoba untuk tenang.

“Aku ada urusan mendadak, maaf aku harus pergi dulu.” Hyojin memebri tahu dia mengambil tasnya.

“Ada apa? Kenapa kau buru-buru?” Tanya Yifan.

“Aku ada urusan mendadak, aku harus pergi dulu Oppa kau tidak apa-apakan pulang bersama Hyojung dan Zhongren?” Tanya Hyojin.

“Ya, berhati-hatilah.” Ucap Yifan.

“Maaf, aku akan menghubungimu nanti.” Hyojin berkata dia segera keluar dari kedai es krim dan berlari menuju elevator.

Zhongren dan Hyojung menatap kearah punggung Hyojin yang menghilang ditengah kerumunan orang.

“Ada apa ya? Kenapa Eonni buru-buru seperti itu?” Hyojung berpikir.

“Mungkin ada urusan kantor.” Zhongren menebak.

“Tapikan ini hari sabtu.” Hyojung berkata.

Hyojin turun dari elevator, dia langsung berlari mencari taksi beruntung baginya karena sebuah taksi langsung berhenti didepannya. Dia menyebutkan alamat studio musik Luhan, beruntung sekali kalau dia sempat melihat alamat studio Luhan dari brosur yang Luhan berikan untuknya dia berkata kalau dia butuh sedikit promosi saat itu.

Supir taksi itu mengangguk dia menghidupkan mobilnya dan menyetir menuju tujuan Hyojin, Hyojin tidak bisa tenang dia mencoba menelepon Luhan kembali namun Luhan tidak mengangkat juga.

Hyojin mengigit bibirnya cemas, bagaimana jika dia terlambat? Dia tidak boleh terlambat, dia berdoa kala Luhan baik-baik saja. Beberapa menit berlalu dan akhirnya Hyojin sampai juga di studio Luhan, dia membayar taksi dan berlari masuk kestudio.

Wanita itu terkejut saat dia melihat Luhan terbaring dilantai, dia terlihat sangat pucat sekali dan Hyojin berlutut didepan Luhan menarik Luhan kedalam pangkuannya.

“Luhan-shi! Luhan-shi? Apa yang terjadi?” Hyojin berkata dan Luhan tersenyum sata dia mendengar suara Hyojin.

“Kau bukan Yixing..” Luhan bergumam.

“Ya, kau meneleponku tadi.” Hyojin mengungkapkan.

“Aku akan menelepon ambulan.” Hyojin berkata dia hendak mengetik nomor darurat namun Luhan mencegahnya.

“Bisakah kau menghubungi temanku Kyungsoo saja? Dia seorang dokter pribadi..aku tidak mau datang kerumah sakit.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk, Luhan memberikan handphonenya pada Hyojin,Hyojin panik saat dia melihat tangan Luhan berlumuran darah.

Hyojin mencari kontak Kyungsoo diponsel Luhan, tidak menunggu waktu lama dia menemukannya lalu dia menghubungi nomor itu. Hyojin menunggu beberapa menit sampai akhirnya seorang lelaki mengangkat teleponnya.

“Ini aku,Luhan? Ada apa?” Kyungsoo berkata.

“Kyungsoo-shi, maaf aku Hyojin teman Luhan..dia terluka parah sekarang bisakah kau datang dan menolong dia? Dia bilang dia tidak ingin kerumah sakit.” Hyojin berkata.

“APA?kenapa dia?” Kyungsoo bertanya panik.

Hyojin melirik kearah pinggang Luhan yang berdarah.

“Sepertinya seseorang melukai Luhan, pingangnya berdarah..aku mohon Kyungsoo-shi bisakah kau datang ke studio musik Starlight yang ada didaerah gangnam sceepatnya?” Hyojin meminta.

“Ya tentu saja, tunggu sebentar aku akan kesana.” Kyungsoo berkata dan dia langsung menutup teleponnya.

Hyojin memegang erat tangan Luhan, Luhan kelihatannya akan kehilangan kesadarannya namun Hyojin menepuk-nepuk pipi Luhan agar lelaki itu tetap sadar.

“Terimakasih..” Ucap Luhan lemah.

“Sama-sama, kau sebaiknya tetap sadar..” Hyojin berkata dan Luhan mengangguk.

“Bisakah kau memengang tanganku lebih erat?” Luhan meminta membuat HYojin terkejut.

“Eh?”

“Aku takut..bisakah kau memegang tanganku lebih erat.” Luhan berkata suaranya terdengar setengah berbisik.

Hyojin memegang erat tangan Luhan, sangat erat seakan jika dia melepaskan tangan Luhan lelaki itu akan terbang menghilang.

“Saat Yifan gege tertembak apa kau merasa sedih?” Luhan bertanya dan Hyojin mengangguk, dia menahan airmatanya sata dia melihat betapa pucat wajah Luhan.

Luhan tersenyum tipis, dia menyentuh pipi Hyojin.

“Jangan menangis, aku tidak pantas untuk ditangisi…aku baik-baik saja.” Ucap Luhan, dia tahu kalau Hyojin sedang menaha tangisnya.

“Aku tidak akan menangis.” Hyojin berkata namun suaranya terdengar gemetar, karena gadis itu memang menahan tangisnya.

“Aku senang kau datang, aku kira kau tidak akan peduli..” Luhan mengungkapkan, dia berusaha keras agar tetap sadar walaupun pandangannya buram dan kepalanya terasa pening.

“Aku peduli pada Luhan-shi, kau temanku..iyakan?” Hyojin bertanya, Luhan mengangguk.

“Ya, kita teman..”

“Luhan!” Suara Kyungsoo terdengar, sosok Kyungsoo mendekat dan dia menyimpan tas yang dia bawa disamping Hyojin.

“Bodoh! Seharusnya kau pegi kerumah sakit!” Kyungsoo memarahi dan Luha tersenyum.

“Maaf, aku tidak suka bau rumah sakit.” Luhan berkata dan Kyungsoo segera membuka kemeja Luhan, dia bisa melihat luka tusuk yang cukup dalam.

“Aku harus menjahit luka ini, Luhan bisakah kau tetap sadar?” Kyungsoo berakata dan Luhan mengangguk Hyojin tidakkuat saat dia melihat luka tusuk yang besar di pingang Luhan.

“Kau pasti Hyojin-shi?” Kyungsoo bertanya pada Hyojin, Hyojin mengangguk.

“Bisakah kau mengalihkan perhatian dia? Ajaklah dia mengobrol.” Kyungsoo meminta dan Hyojin mengangguk.

“Luhan-shi..lihat aku.” Hyojin menyentuh rahang Luhan sehingga lelaki itu menatap kearahnya.

“Semauanya akan baik-baik saja, kau harus tenang ok? Aku ada disini..jadi kau tidak usah takut.” Hyojin memegang erat tangan Luhan, Luhan tersenyum.

Kyungsoo mulai menjahit luka Luhan, Hyojin tidak kuat saat dia melihat Kyungsoo menusukan jarum jahit yang tajam kekulit Luhan. Luhan sedikit mengerang mungkin merasakan tusukan jarum itu, Hyojin mengajak Luhan mengobrol kembali.

“Bagaiama musikmu? Apa kau sudah membuat lagu baru?” Hyojin bertanya.

“Ya, aku sedang membuat beberapa rimi untuk tugas.” Luhan menjawab masih menahan sakitnya.

“Bagus kalau begitu, apakah kau membuat rimi klasik lagi? Bagaimana dengan rimi modern? Apa kau membuatnya?” Hyojin bertanya.

“Aku sedang memikirkannya, sebenarnya aku ingin membuat rimi modern daripada klasik tapi kau sepertinya lebih suka rimi klasik yang aku buat daripada rimi modern.” Luhan mengungkapkan membuat Hyojin tersenyum.

“Tidak, aku menyukai rimi modernmu juga..aku hanya mendengarkanya di club malam itu.” Hyojin memberi alasan.

“Kalau begitu kau harus berjanji padaku..” Ucap Luhan.

“Berjanji apa?”

“Kau harus melihat aku membuat rimi nanti, kau harus datang ke studio ini dan menemaniku untuk membuat rimi jika kau ada waktu.” Luhan meminta, dia menatap lurus kearah Hyojin.

Hyojin ragu, haruskah dia berjanji? Hyojin benci dengan keadaannya sekarang dia benci karena dia selalu kalah dengan pesona Luhan, dia selalu tenggelam dalam tatapan mata coklat Luhan.

“Luhan-shi..”

“Aku mohon, jika kau punya waktu..” Luhan memelas mebuat Hyojin semakin tidak tega.

“Baiklah, jika aku punya waktu.” Hyojin menurut dan Luhan tersenyum.

****

   Hyojin menyelimuti Luhan setelah lelaki itu berhasil dipindahkan ke apartemennya, Luhan langsung pingsan saat Kyungsoo berhasil menjahit lukanya. Hyojin duduk diranjang Luhan, ini pertamakalinya dia mengunjungi paartemen Luhan.

Kamar Luhan sedikit berantakan namun Hyojin memakluminya, Hyojin membereskan beberapa buku Luhan yang berserakan dilantai. Dia juga memasukan baju kotor Luhan kedalam keranjang baju yang ada disamping lemari, dia tersenyum sata dia melihat sbuah foto yang ada dimeja belajar Luhan.

Foto sebuah keluarga, Luhan berdiri dibelakang seorang wanita paruh baya dengan lelaki disampingnya. Hyojin menebak kalau lelaki dan wanita paruh baya itu adalah kedua orangtua Luhan, Luhan bilang kalau dia dan Yifan adalah saudara tiri jadi salah satu dari kedua orangtua Luhan adalah orangtua Yifan juga.

Ibu Luhan sangat cantik walaupun dia sudah paruh baya, kulit putihnya maish bersinar dan rambutnya disanggul rapi kebelakang. Ayah Luhan berbadan tegap dan tinggi dengan fitur wajah yang tajam, fitur wajah itu mengingatkanya pada seseorang yaitu Yifan.

Hyojin menebak-nebak apakah Luhan dan Yifan memiliki ayah yang sama? Mungkin benar, Hyojin berpikir dia cukup yakin. Luhan mirip sekali dengan ibunya sedangkan Yifan benar-benar mirip dengan ayahnya, Hyojin tersenyum dan menyimpan foto keluarga itu.

“Hyojin..”

Sura Luhan terdengar serak, Hyojin melirik kebelakang dan dia melihat Luhan mencoba bangun namun Hyojin segera berlari dan mencegah Luhan untuk bangun.

“Kau belum sembuh, sebaiknya kau tidur lagi.” Hyojin berkata dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Punggung sakit karena tidur terus..” Luhan mengeluh dan Hyojin membantu Luhan untuk duduk dan menyandar keujung ranjangnya.

“Apa kau ingin minum?” Hyojin menawarkan dan Luhan mengangguk, Hyojin mengambil segelas air yang sudah dia siapkan tadi dan memberikannya pada Luhan.

Luhan meneguk air dalam gelas itu sampai setengahnya dan dia memberikan gelas itu pada Hyojin lagi, dia menyandar lagi keujung ranjangnya dan dia menarik lagi tangan Hyojin lalu menciumnya.

“Luhan-shi..” Hyojin terkejut.

“Aku masih takut, bisakah kau tetap disini?” Luhan meminta dan Hyojin mengangguk.

“Aku akan disini sampai kau tidur lagi.” Hyojin berkata dan Luhan tersenyum.

“Oh iya, Kyungsoo-shi memberikan beberapa obat untukmu..sebaiknya kau minum obatnya.” Hyojin berkata dia mengambil beberapa obat yang ada dimeja kecil sebelah ranjang Luhan.

“Kau harus minum obat ini tiga kali sehari, setelah sarapan, makan siang dan makan malam.” Hyojin berkata, dia membuka bungkus obat-obat yang Kyungsoo berikan untuk Luhan satu persatu dan memberikannya pada Luhan.

“Minumlah, agar kau cepat sembuh.” Hyojin berkata Luhan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak suka obat..” Luhan berkata, dia ngeri saat melihat obat tablet yang besar ditangan Hyojin.

“Luhan-shi jika kau keras kepala aku akan pergi sekarang.” Hyojin mengancam.

“Oke..oke..aku akan meminumnya.” Luhan panik saat dia mendengar Hyojin akan pergi, dia mengambil obat itu dan memasukannya kedalam mulutnya lalu dia meminum air yang Hyojin sudah siapkan.

“Tidak susahkan?” Hyojin berkata dan dia menyimpan gelas kosong di meja.

“Obat itu maish terasa pahit dilidahku.” Luhan mengeluh, Hyojin mengelengkan kepalanya Luhan memang seperti pangeran yang manja.

“Apa kau ingin permen?” Hyojin membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah permen mint dan memberikannya pada Luhan.

“Terimakasih.” Luhan bergumam dan mengemut permen itu.

“Kalau boleh tahu,apa yang terjadi?” Hyojin memulai dan Luhan melirik kearah Hyojin lalu tersenyum.

“Tak usah khawatir, kau tak usah tahu..aku hanya terlibat perkelahian.”

“Bagaimana aku tidak khawatir! Kau tertusuk Luhan-shi, jika aku datang terlambat kau bisa mati!” Hyojin marah dan Luhan terkejut, dia hanya bisa menatap kearah Hyojin yang marah.

“Aku..” Luhan menunduk, dia tidak tahu kalau dia harus berbagi sesuatu yang begitu gelap dan menyeramkan pada Hyojin.

“Apa yang kau sembunyikan? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku? Apakah ada sesuatu yang tidak boleh aku tahu?” Hyojin mulai mengintrogasi.

“Hyojin-ah..” Luhan mencoba menenangkan Hyojin dan Hyojin hanya menatap tajam kearah Luhan.

“Apa kau seorang kriminal?apa seseorang mencoba membunuhmu?” Hyojin sekali bertanya dan Luhan tertawa lalu menggelengkan kepalanya.

“Hahaha Hyojin-ah kau terlalu banyak menonton drama.” Luhan berkat dia mengelus kepala Hyojin.

“Aku bukan seorang kriminal, kau bisa tenang soal itu..” Luhan berkata dia meremas tangan Hyojin dan Hyojin menunduk, dia masih terlihat tidak tenang membuat Luhan khawatir.

“Kau bilang kau bukan kriminal,lalu kenapa kau terluka seperti ini sekarang? Apakah seseorang mencoba membunuhmu?”

Luhan menghela nafasnya dalam-dalam, dia tidak bisa kabur dari pertanyaan Hyojin sekarang mau tidak mau dia harus menjawab. Dia menatap kearah Hyojin yang menunggu jawabannya, dia benar-benar kelihatan tidak tenang sekarang.

“Ya, seseorang mencoba membunuhku.” Luhan menjawab jujur dan Hyojin menarik nafasnya terkejut.

“Apa?kenapa?”

“Aku..aku bukan anak Li Zhoumi, sebenarnya aku hanya saudara tiri dengan Yifan karena ibuku menikah dengan ayahnya.” Luhan mengungkapkan dan dia menguspa rambutnya.

“Ayah Luhan menganggapku sebagai anak kandungnya selama ini, padahal aku bukan anaknya..aku tidak tahu apa yang terjadi yang jelas Yixing mengatakan kalau aku bukan anak Li Zhoumi.” Lanjut Luhan dia terdengar sangat putus asa.

“Luhan-shi, maaf aku tidak bermaksud untuk mengungkit..aku hanya khawatir.”Ujar Hyojin, gadis itu terdengar sangat menyesal.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau peduli.” Luhan mencoba tersenyum namun hatinya terasa sakit saat dia mencoba tersenyum, rasanya dia membohongi dirinya sendiri dan seluruh dunia dengan senyum itu.

“Sekarang kau tahu aku hanya anak orang asing, apa kau tidak mau berteman denganku lagi?”

“Omong kosong! Aku tetap peduli padamu Luhan-shi..apapun yang terjadi, kau temanku.” Hyojin berkata penuh dengan keyakinan.

Luhan tersentuh dengan perkataan Hyojin dia bersumpah dia ingin sekali mencium gadis itu sekarang juga, namun dia harus menahannya dia tidak bisa menghancurkan pertemanan yang dia sangat hargai.

“Luhan!” suara Yixing terdengar membuat Hyojin terkejut dan melepaskan tangan Luhan dari gengamannya.

“Yixing..” Luhan tersenyum lemah.

“Ya! Apa kau gila?!aku sudah mendnegar semuanya dari Kyungsoo temanmu.” Yixing berkata.

“Kau baik-baik sajakan? Ayo! Kita kerumah sakit sekarang.” Yixing berkata dia menyentuh dahi Luhan memperlakukannya percis seperti anak lelakinya yang sedang sakit.

“Yixing! Kau mempermalukan aku, disini ada Hyojin hwajang-nim.” Luhan mengerang kesal dan Yixing segera melirik kebelakangnya melihat Hyojin duduk dengan manis.

“Ya tuhan! Maafkan kelakuanku yang tidak sopan Hwajang-nim..aku benar-benar tidak tahu kau datang.” Yixing segera menunduk kearah Hyojin membuat Hyojin tertawa.

“Tidak apa-apa Yixing biseo-nim, aku tidak tahu kau mengenal Luhan.” Hyojin mengungkapkan.

“Oh iya, aku sepupu Luhan.” Yixing menjawab.

“Kalian sepupu? Wow..aku tidak menyangka.” Hyojin mengungkapkan dia terlihat terkejut.

“Ya, kami sama sekali tidak mirip iyakan? Sudah jelas aku yang lebih tampan.” Luhan berkata dan Yixing menoyorkan kepala Luhan.

“Diam! Kau tidak lebih tampan dariku.” Yixing menjawab membuat Hyojin tertawa.

“Kalian pasti akrab sekali.”

“Akrab? Ya tuhan.. Hyojin-ah dia selalu mengangguku dan dia mendengkur keras sekali bahkan aku bisa mendengarnya dari kamarku.” Luhan berkata membuat Yixing malu.

“Luhan! Ini bukan waktunya menceritakan cerita pribadiku.” Yixing memarahi dan Hyojin hanya tersenyum, mereka berdua mengingatkannya pada Yifan dan Zhongren.

[Mall 16:00pm]

“Sepertinya Eonni benar-benar tidak akan kembali.” Hyojung berkata saat dia dan Zhongren juga Yifan berjalan menulusuri toko-toko untuk membeli apapun yang menarik untuk mereka bertiga.

“Ya, kita sudah tiga jam di mall ini.” Zhongren berkata dan Yifan mengangguk.

“Kita sebaiknya pulang saja.” Hyojung mengusulkan, kedua lelaki yang disampingnya sepertinya setuju dan akhirnya merekapun memutuskan untuk turun kelantai bawah.

“Zhongren?! Apakah itu kau Wu Zhongren?”

Suara seorang wanita terdengar emmbuat Zhongren melirik kearah sumber suara, dia bisa melihat seorang wanita cantik dengan celana pendek dan rambut pirangnya berdiri tak jauh darinya. Wanita itu tersenyum cerah dan tiba-tiba saja memuluk Zhongren, Hyojung yang melihat itu langsung naik pitam.

“Sial..” Yifan bergumam saat dia melihat ekspressi marah Hyojung, Hyojung benar-benar mirip dnegan Hyojin saat dia cemburu.

Zhongren langsung mendorong tubuh wanita itu menjauh, dia tidak terkejut saat dia melihat wajah Hyuna. Wanita itu adalah mantan pacarnya, sebenarnya bukan pacar..mereka hanya pernah tidur bersama sejak itu Zhongren dan dia sering pergi berkencan dan pada akhir kencan mereka dia selalu berakhir mabuk dengan Hyuna didalam pelukannya telanjang.

“Omo..lihat kau sekarang! Aku sudah melihat fotomu di majalah Men Health..jinjja! kau terkenal sekarang.” Hyuna berkata menggoda dan Zhongren hanya memutar matanya.

“Terimakasih Hyuna, tapi sekarang aku sudah punya pacar sebaiknya kau tidak memeluk aku seperti tadi.” Zhongren berkata dia menarik Hyojung mendekat kearahnya.

“Humftt pacar? Sejak kapan kau ingin punya pacar? Bukankah kau lebih suka tidur dengan banyak wanita daripada berkomitmen? Kau bilang masih banyak ikan didalam kolam.” Hyuna mengungkapkan.

“Dan lihat gadis ini, dia masih SMA yang benar saja Zhongren, dia benar-benar bukan tipemu..” Hyuna memutar matanya.

“Hei! Jaga mulutmu! Aku tidak peduli, setidaknya dia tidak murahan sepertimu.” Zhongren berkata dia marah mendengar Hyuna menghina gadisnya.

Mwo? Murahan? Hahaha kau lucu sekali Zhongren, kalau aku murahan, kamu apa? Tidak punya harga diri?” Hyuna kembali meledek dan Zhongren mengepalkan tangannya penuh emosi.

Yifan yang melihat keadaan semakin memanas antara Zhongren dan Hyuna segera memisahkan kedua orang itu, Yifan mengajak Hyuna menjauh agar Zhongren bisa menjelaskan semuanya pada Hyojung yang sudah kelihatan terlanjur kesal dan marah.

“Apa-apaan tadi?! Siapa dia?!” Hyojung meledak dan Zhongren tahu dia ada didalam masalah yang besar.

“Dia hanya teman wanitaku, dia sedikit gila sebaiknya kita pulang.” Ucap Zhongren dia hendak melingkarkan tangannya dibahu Hyojung namun Hyojung menepisnya.

“Kau tidak jujur padaku lagi, apa dia benar-benar temanmu?” Hyojung bertanya penuh kecurigaan.

“Hyojung-ah..” Zhongren mencoba memelas agar Hyojung tidak marah, dia mencoba memeluk Hyojung, Hyojung kelihatan kesal dan mendecak.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Berapa banyak wanita yang kau kencani? Apakah aku hanya mainan untukmu juga?” Hyojung berkata dengan sinis.

“Tidak seperti itu! Aku serius denganmu..” Zhongren berkata dia mencium sisi kepala Hyojung namun Hyojung sepertinya tidak mempercayai dia.

“Cukup, aku lelah..aku mau pulang.” Hyojung melepaskan pelukan Zhongren dan Zhongren mengacak-ngacak rambutnya frustasi, dia mengejar sosok Hyojung yang menjauh.

Hyuna melepaskan tangan Yifan dengan kasar, dia tidak suka dengan kelakuan Zhongren yang meremehkannya. Berani sekali lelaki itu! Dia pikir dia lebih baik daru Hyuna sekarang? Padahal mereka sama liarnya.

“Yifan! Kenapa kau membela dia! Kau tahu aku mengatakan yang sebenarnya!” Hyuna marah.

“Hyuna! Hentikan ok..kau menghancurkan hubungan Zhongren dengan Hyojung.” Yifan berkata dan Hyuna memutar matanya tidak peduli.

“Lalu? Dia tidak suka ada didalam hubungan, dia pasti senangjika Hyojung akhirnya meminta untuk putus.” Hyuna mendengus.

“Ya, mungkin dulu dia seperti itu..tapi sekarang dia berbeda.” Yifan berkata membuat Hyuna ingin tertawa.

“Jangan bilang kalau dia tiba-tiba saja berubah..” Hyuna tidak percaya.

“Dia tidak tiba-tiba saja berubah, dia berubah secara pelan-pelan apa kau tahu? Dia tidak minum alkohol semenjak dia bertemu dengan Hyojung.” Yifan berkata dia tersenyum saat dia melihat Hyuna terkejut.

“Tidak mungkin….”

“Saat kau memeluk dia, kau tidak mencium bau alkoholkan? Bahkan kau tidak bisa mencium bau rokok ditubuhnya.” Yifan bertanya dan Hyuna mengangguk, benar apa kata Yifan.

Hyuna tidak mencium sedikitpun bau alkohol ataupun rokok, satu-satunya harum yang bisa dia cium dari tubuh Zhongren hanyalah parfum dan itu sangat harum sekali.

“Apa kau percaya padaku sekarang? Aku sendiri terkejut..dia benar-benar lupa pada alkohol dan rokok begitu saja, dia sekarang menghabiskan waktunya berolah raga bahkan dia mengajakku main basket beberapa hari yang lalu.” Yifan menjawab dan Hyuna hanya diam.

“Hyuna, dia bukanlah Zhongren yang dulu, dia adalah Zhongren yang baru.” Yifan menyentuh bahu Hyuna.

“Maaf, aku harus pergi Hyojung dan Zhongren menungguku.” Yifan berkata dan dia berbalik pergi.

“Tunggu!” Hyuna memanggil membuat Yifan berbalik.

“Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah berubah juga? Apa kau masih tetap baik seperti dulu?” Hyuna bertanya dan Yifan hanya menyeringai.

“Aku rasa aku tidak punya ketertarikan untuk berubah.” Yifan menjawab dan dia berbalik meninggalkan Hyuna.

“Ck..omong kosong.” Hyuna bergumam.

[Kediaman keluarga Jung 17:40pm]

  Hyojin baru sampai dirumahnya, dia duduk di sofa ruang tengah. Dia sangat lelah sekali rasanya dia ingin tidur, namun perhatian beralih saat dia melihat mobil Zhongren berhenti tepat didepan rumahnya.

Hyojin segera berdiri, dia bisa melihat Hyojung keluar dari mobil Zhongren kelihatan kesal. Adis itu segera berlari keatas tanpa menyapa kakaknya, Hyojin terkejut sata dia mendnegar adiknya itu membantingkan pintu kamarnya dengan keras.

Zhongren berlari menyusul Hyojung, pemuda itu juga sepertinya lupa kalau Hyojin berdiri tak jauh darinya karena dia langsung keatas dan emnegtuk pintu kamar Hyojung. Hyojin bisa mendnegar beberapa kali Zhongren memelas agar Hyojung membuka pintu, adegan ini terasa sangat familiar untuknya.

“Mereka bertengkar lagi.” Yifan berkata, Hyojin terkejut sata diamenemukan sosok Yifan disampingnya.

“Oppa! Aku kaget..kenapa lagi mereka?” Tanya Hyojin.

“Hyojung cemburu pada teman wanita Zhongren, kau tahu Zhongren punya banyak teman.” Yifan menjelaskan dan Hyojin mengangguk.

“Aku tahu, Hyojung bisa sedikit berlebihan kadang-kadang.” Hyojin berkata.

“Bagaimana urusanmu? Apa sudah beres?” Tanya Yifan.

Hyojin tidak menyangka kalau Yifan akan bertanya itu, dia tidak langsungmenjawab dan berpikir untuk mencari alasan yang tepat.

“Ya, sudah beres..”

“Oh, kau bilang kau akan menceritakannya.” Yifan berkata.

“Err temanku datang dari amerika, dia hanya ingin menanyakan hotel mana yang bagus aku mengantarkannya.” Hyojin menjawab.

“Oh begitu ya, kau punya teman dari luar negeri? Wah..kau keren.” Yifan berkata dia sendiri sedikit kesusahan untuk bebrbicara bahasa inggris.

“Ya, aku bekerja di amerika beberapa tahun jadi aku punya kenalan disana.” Hyojin mengungkapkan dan Yifan mengangguk.

“Begitu ya, hey bagaimana kalau kita tinggalkan Hyojung dan Zhongren sjaa? Akumerasa tidak nyaman mendengar Zhongren mencoba menggoda adikmu.” Yifan berkata dan Hyojin tertawa, dia memukul lengan Yifan.

“Ya! Adikmu selalu membuat adikku menangis sebaiknya kau tidak seperti itu, aku tidak sabar seperti Hyojung.” Hyojin pura-pura marah.

“Iya ampun! Aku janji, aku tidak akan nakal.” Yifan berkata dan Hyojin menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka berdua berjalan kehalaman belakang rumah Hyojin, alu mereka duduk kursi ayunan yang ada disana. Yifan melingkarkan tangannya dibahu Hyojin, Hyojin menyandarkan kepalanya dibahu Yifan lalu mereka menghela nafas penuh kelegaan.

“Oh iya, sebenarnya aku ingin bertanya ini padamu dari dulu Oppa..” Hyojin berkata.

“Kau ingin bertanya apa?”

“Waktu dirumah sakit..saat Luhan menjengukmu, aku menanyakan apa sebenarnya hubungan kalian, karena kalian terlihat sangat akrab aku jadi penasaran.”

Mendengar Hyojin mengatakan itu Yifan langsung panik, apakah dia sudah tahu kalau Luhan adalah saudara tirinya?

“Luhan bilang kalau kau dan dia adalah saudara tiri.”

“Itu benar, aku belum sempat menceritakannya padamu maaf.” Yifan berkata, dia sebenarnya tidak ingin membahas soal keluarganya, dia tidak pernah suka membicarakan keluarga.

“Tidak apa-apa, jadi kau akhirnya bertemu dengan ayahmu?” Tanya Hyojin dan Yifan mengangguk.

“Ya, aku bertemu dengan ayahku mama Wu..wanita yang merawatku memberikan alamat ayahku yang tinggal di Cina sejak saat itu aku mengenal Yixing, Luhan dan mamanya tante Ziyi.” Yifan menceritakan, dia merasa tidak nyaman sebenarnya menceritakan semua ini.

Jika dia menceritakan Zhoumi ayahnya dan keluarga barunya dia selalu merasa marah dan kesal, dia masih ingat tatapan jijik Ziyi saat dia melihat Yifan. Apalagi Luhan, saat lelaki itu pertamakali melihatnya lelaki itu memberikan tatapan yang sangat meremehkan membuat Yifan semakin kesal ditambah lagi dengan pengusiran Zhoumi yang membuat keadaan semakin buruk untuk Yifan saat itu.

“Papamu…seprti apa dia? Apa kau dekat dengannya?” Hyojin penasaran.

Yifan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit, Zhoumi bahkan tidak peduli padanya saat mereka pertama kali bertemu.

“Tidak, karena kami berdua sudah lama tidak bertemu aku menjadi canggung dengannya.” Yifan menjawab, Hyojin mengelus dada Yifan untuk menghibur lelaki itu.

“Kau tak usah khawatir, kalian pasti akan akur pada akhirnya.” Hyojin menghibur dan Yifan hanya mengangguk.

“Aku harap begitu, Luhan dan Aku tidak pernah akur sebelumnya.” Yifan mengungkapkan.

“Aku mengerti, memang susah untuk punya saudara tiri.” Timpal Hyojin.

“Kalau ibumu? Bagaimana dengan dia?” Hyojin sekali lagi bertanya dan Yifan hanya diam, dia kelihatan kebingungan.

“Ibuku? Aku tidak tahu..sebagian orang bilang dia sudah meninggal.” Yifan menjawab penuh kesedihan, Hyojin mengigit bibirnya saat dia melihat Yifan sedih dia bodoh sekali untuk mengungkit tentang mamanya.

“Maaf aku tidak bermaksud membuat sedih..aku hanya penasaran.” Hyojin berkata penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa, aku mengerti.” Yifan mengelus pipi Hyojin.

“Terimakasih Oppa, kau sudah terbuka padaku..aku merasa lebih dekat denganmu sekarang.” Hyojin berkata dan Yifan tersenyum.

“Aku senang jika kau merasa dekat denganku.”Ujar Yifan.

“Bagaimana kalau kita bantu Zhongren untuk membujuk Hyojung?” Hyojin mengusulkan dan Yifan menatap kearah Hyojin tidak percaya.

“Apa kau serius? Sebaiknya kita tidak mencampuri urusan mereka.” Yifan berkata dan Hyojin mendecak.

“Ck..kau hanya malas membantumu adikmu saja.” Hyojin berdiri dan Yifan terpaksa mengikuti langkah gadis itu.

Mereka berdua masuk lagi kerumah namun mereka terkejut saat mereka melihat Hyojung dan Zhongren sudah akur lagi, Gadis itu memeluk Zhongren dan Zhongren mengelus-elus kepala Hyojung menghibur gadisitu agar tidak menangis lagi.

“Sudah kubilang, mereka akan akan akur lagi tanpa bantuan kita.” Yifan berkata dan Hyojin cemberut.

“Itu bagus..tapi aku ingin menjahili Zhongren.” Hyojin berkata dan Yifan tertawa.

“Kau memang jahil!” Yifan menarik kepala Hyojin kedadanya dan wanita itu tertawa.

“Habis dia sendiri usil! Selalu membuat adik aku menangis.” Hyojin berkata, alasan yang Hyojin berikan memang masuk akal untuk Yifan.

“Aku mengerti, sebaiknya kita jahili dia lain kali ok?” Yifan berkata.

“Ya tuhan! Oppa Zhongren adik kamu..kenapa kau mau menjahili dia?” Tanya Hyojin.

“Dia memang nakal, dia harus diberik pelajaran.” Yifan emngungkapkan dan Hyojin mendengus.

“Terserah..”

To Be Continue..

Jangan Lupa Komen nya 😀

Ps:

Dun..Dun..Dun.. akhirnya semuanya terungkap deh kalau Luhan bukan anak Zhoumi?
menurut kalian gimana reaksi Luhan? dramatis? kekekek 😀
Oh iya reader’s sebenarnya aku mau bikin playlist buat lagu-lagu soundtrack cerita ini?
apa kalian mau? kalau mau komen ya!! 🙂
Oh iya next episode aku fast fordwardke satu tahun kemudian, menurut kalian gimana
hubungan Yifan dan Hyojin dimasa depan? bahagia? sedih? makanya tunggu aja
next episodenya ya! 😀 Oh iya buat dirty version nya ada di blog aku —> Dirty version Tale of two siblings 10

Advertisements

46 thoughts on “[FF PG17] Tale Of Two Siblings [Episode 10] ~ Cleanversion~

  1. makin seru aja…..
    hyojin gmn sih
    perasaan y sebenar y cinta ma yifan tp nanti pas ngeliat luhan dia juga terpesona gt….
    yifan y udah cinta ke hyojin tinggal nunggu yifan cari cara buat lepas dr perjanjian dia ma zhoumi..
    masalah y bakal runyam deh pihak luhan bakal nyerang ke yifan n ntar pihak manfaatin yifan makin nyerang luhan….
    luhan n yifan makin ngak akur n tambah saling benci deh,,,, kapan mereka akur y???

  2. Mianhe aku gak bisa kasih kritik karena ff ini udah sangat bagus menurut aku, aku cuma bisa kasih saran aja nih kalo bisa diperbanyak hubungan hyojin dan yifan juga bagaimana tentang rencana awal yifan mendekati hyojin, apa itu akan terungkit apa gimana gak terlihat aja rencana itu chingu, jadi terkesan hubungan mereka pure, jadi banyakin scene mereka berdua yah plisss gomawo mian aku bawel

  3. sumpah ff author makin seru dan bikin penasaran terus … Dan bingung haru comment apa ! Mianhe 😦

  4. Aku pengenx semua tentang yifan terungkap…, tapi meski gitu tapi akhirnya mereka akhirnya bahagia. Untuk luhan… Semoga dia mendapatkan ce yang cantik slain hyojin, serta kalo bisa luhan ktemu sehun n nganggap sehun adin. HunHan Couple.

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s