[FF G17] Tale Of Two Siblings episode 11~Cleanversion~


Title: Tale Of Two Siblings

Author : Seven94 @ http://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Cast :

  • Jung Hyojin                             Oc
  • Jung Hyojung                          Oc
  • Wu Yifan/Li Jiaheng            [Yifan EXO]
  • Wu Zhongren/Kai                 [Kai EXO]
  • Bang Yongguk                         [Yongguk B.A.P]
  • Li Luhan                                     [Luhan EXO]
  • Kim Taeyeon                           [Taeyeon SNSD]
  • Zhang Yixing                            [Lay EXO]

Genre : Melodrama,Romance and Action

Length : Chaptered

Rating : PG 17+ – NC 17

Chapter:

1, 2, 3,4,5,6,7,8,9,10

11

Our Future

~ 1 Tahun kemudian~

“Woohoo!” Semua murid bersorak mereka melemparkan topi kelulusan mereka penuh kebanggan, Hyojung dan Chorong berpelukan penuh tawa begitu juga Suzy yang langsung bergabung dengan mereka berdua.

Sekolah Hyojung penuh dengan suka cita, hari ini adalah hari kelulusannya. Hyojung tersenyum saat dia melihat Sehun tersenyum kearahnya, Hyojung tersenyum kembali sebelum dia ditarik oleh Naeun yang tiba-tiba datang dari samping.

Hyojung memeluk kembali Naeun, dia bisa melihat Sehun pergi menuju sosok wanita yang sudah menunggunya tidak jauh dari gerbang sekolah. Wanita itu membuka kacamatanya dan Hyojung bisa mengenali sosok itu, sosok itu adalah sosok Jiyoung.

Jiyoung tersenyum lebar saat dia melihat sosok adiknya mendekat, Sehun berlari kearah Jiyoung lalu dia mengangkat tubuh Jiyoung dan berputar membuat wanita itu tertawa dan memeluk leher Sehun penuh kebahagiaan.

Hyojung senang saat dia melihat betapa akrabnya Sehun dengan Jiyoung, namun yang sedikit ganjal dari mereka berdua adalah mereka berpegangan tangan. Hyojung bukanlah remaja yang lucu dan naïve lagi, dia tahu kalau Sehun pasti memiliki hubungan khusus dengan kakak tirinya itu bahkan lelaki itu melingkarkan tangannya dipingang Jiyoung dan Jiyoung tidak keberatan.

“Hyojung apa yang kau perhatikan?” Suara Suzy membuatnya sadar dari lamunan.

“Tidak..aku hanya sedang mencari Eonniku.” Hyojung berbohong.

“Oh Hyojin eonni? Aku melihat dia tadi diparkiran kalau tidak salah dia datang dengan pacarnya.” Naeun berkata.

“Benarkah? Yifan Oppa juga datang?” Hyojung berkata penuh semangat.

Dia langsung berlari meninggalkan teman-temannya menuju parkiran, Naeun sepertinya benar karena dia melihat kakaknya dan Yifan sedang berjalan dilorong kelasnya sangat mesra seperti biasanya.

“Eonni!Oppa!” Hyojung berteriak membuat Hyojin dan Yifan menatap kearahnya.

“Hyojung-ah!” mereka berdua memanggil namanya bersamaan, sungguh kompak membuat Hyojin sedikit iri.

“Aigoo..lihat kau! Sekarang kau sudah lulus SMA.” Hyojin berkata dia memeluk adiknya dan Hyojung tersenyum.

“Aku bahagia sekali eonni.” Hyojung berkata dan Hyojin memberikan adiknya senyuman penuh kebanggan.

“Selamat Hyojung, atas kelulusanmu.” Yifan berkata dan Hyojung tersenyum mengangguk, walaupun dia ragu dia mendekat kearah Yifan dan memeluk pacar kakaknya itu.

“Ya! Sekarang kau berani memeluk pacarku?” Hyojin pura-pura marah dan Hyojung juga Yifan tertawa.

“Eonni kau juga suka menepuk bokong Zhongren Oppa!” Hyojung berkata, dia ingat jika kakaknya bercanda dengan Zhongren kakaknya itu selalu menepuk bokong Zhongren membuat Zhongren malu namun dia tertawa.

“Lalu? Dia anak kecil untukku, aku tidak tertarik padanya.” Hyojin beralasan.

“Ya…tapi tetap saja, aku cemburu.” Yifan berkata dan Hyojin memberi tatapan kearah Yifan seakan dia mengatakan ‘yang benar saja’.

“Hei! Bagaimanapun Zhongren masih suka wanita yang lebih tua ok? Dan dia lebih ahli dalam merayu wanita dibandingkan aku.” Yifan benci untuk mengakui itu tapi itulah kenyataannya.

“Oppa kau konyol, Zhongren mencintai Hyojung tidak mungkin dia melirik kearahku.” Hyojin berkata dan Hyojung memisahkan Yifan dan Hyojin yang mulai berdebat.

“Ok,ok..aku tidak ingin mendengar perdebatan kalian..ngomong-ngomong soal Zhongren Oppa, dimana dia sekarang?” Hyojung melirik kesekitar.

Hyojin dan Yifan tersenyum mereka menunjuk kearah sosok Zhongren yang menyandar dimobilnya, lelaki itu memakai blazer biru dengan kaos putih dan celana jeans. Dia membawa sebuah buket bunga, sesekali dia menghirup harum bunga mawar yang dia bawa dan menunggu.

“Sambutlah dia, dia sudah menunggu dari tadi.” Hyojin berkata dia mendorong adiknya agar dia menemui Zhongren.

Yifan dan Hyojin menatap kearah punggung Hyojung yang mendekat kearah sosok Zhongren, mereka terlihat lucu sekali saat mereka berdua berinteraksi. Hyojin dan Yifan memutuskan untuk masuk ke aula, dia tidak ingin menganggu Zhongren dan Hyojung.

“Hi..” Hyojung menyapa dan Zhongren langsung berdiri memberikan Hyojung senyum termanisnya.

“Selamat untuk kelulusannya.” Zhongren berkata dia menyodorkan buket bunga mawarnya untuk Hyojung.

“Terimakasih.” Hyojung berkata dan dia menhirup wangi bunga mawar yang Zhongren berikan untuknya.

“Sama-sama, kau terlihat cantik dalam baju kelulusanmu.” Zhongren memuji dan Hyojung tersipu malu.

“Terimakasih, kau juga tampan hari ini.” Hyojung kembali memuji.

“Kemana kau akan kuliah apakah kau sudah memutuskan mana yang terbaik?” Tanya Zhongren dan Hyojung mengangguk.

“Aku memutuskan untuk kuliah di universitas Seoul saja, lagipula disana ada Luhan Oppa.” Hyojung berkata, Zhongren mengangguk dia tahu belakangan ini Hyojung dan Luhan cukup dekat karena Luhan selalu mengajari beberapa hal untuk Hyojung.

“Begitu ya, apa kau sudah menyuruhnya untuk datang?” Zhongren bertanya dan Hyojung mengangguk.

“Mungkin dia akan datang sebentar lagi.” Hyojung menjawab.

“Aku bahagia sekarang kau sudah lulus.” Zhongren mengungkapkan, dia mencapai tangan Hyojung dan menggengamnya.

“Aku juga, akhirnya aku tidak usah memakai seragam ini lagi.” Ujar Hyojung dan mereka berdua tertawa.

Sejenak keheningan menyelimuti mereka Zhongren mendekat kearah Hyojung, membuat Hyojung menunduk malu. Tangan hangat Zhongren menyentuh sisi wajah Hyojung membuat Hyojung menatap kearah mata Zhongren, Zhongren tersenyum dan bibir mereka beduapun bersentuhan.

Bibir Zhongren terasa hangat sekali dibibirnya, Hyojung melingkarkan tangannya dileher Zhongren dan Zhongren menarik tubuh Hyojung kedalam dekapannya.bibir Hyojung terbuka membuat Zhongren dengan mudah memasukan lidahnya kedalam mulut Hyojung, mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya Hyojung melepaskan ciuman mereka karena dia harus bernafas.

“Apa kau merindukan aku? Kita sudah satu minggu tidak bertemu.” Zhongren berkata, dahi mereka masih saling bersentuhan sehingga nafas hangat Zhongren menyentuh bibir atas Hyojung.

“Ya, aku merindukanmu Oppa..aku bisa gila jika aku tidak bertemu denganmu hari ini.” Hyojung berkata.

Hyojin melarang Zhongren untuk bertemu dengan Hyojung saat Hyojung sedang ujian, kakaknya bilang kalau Zhongren hanya akan menjadi gangguan saja oleh sebab itu dia dikurung dikamarnya dengan setumpuk buku yang sudah Luhan siapkan untuknya agar dipelajari.

Walaupun sedikit kesal Hyojung senang saat dia melihat nilai ujiannya yang bagus semua dan memuaskan, dia bersyukur kepada Tuhan karena dia memiliki Hyojin dan Luhan yang selalu membantunya. Walaupun Zhongren dan Yifan tidak terlalu membantu banyak namun kedua lelaki itu memberikan dia motivasi yang besar disaat dia putus asa dan lelah,Zhongren menyelipkan poni panjang Hyojung ketelinga gadis itu lalu dia tersenyum.

“Apa kau masih ingin berpesta? Atau kau ingin pulang bersamaku?” Zhongren bertanya dia membuka pintu mobilnya untuk Hyojung.

“Bagaimana kalau kita pergi kesuatu tempat yang tenang?” Hyojung bertanya.

“Boleh, kau mau pergi ke café?” Zhongren menawarkan.

“Tidak, ikuti saja petunjuk aku.” Hyojung berkata dan dia masuk kedalam mobil Zhongren, Zhongren menyeringai dan menutup pintu mobilnya untuk Hyojung.

Luhan yang melihat Hyojung dan Zhongren pergi langsung membuka helm motornya, dia turun dari motor sportnya lalu membuka jok motornya untuk mengambil buket bunga yang dia beli setelah itu pergi masuk kedalam aula. Aula sekolah Hyojung sangat besar sekali dan dia bisa melihat banyak sekali tamu, sebagian murid masih berpesta bersama teman-temannya dan sebagain lagi ada yang pulang.

Luhan melirik kearah kanan dan kirinya mencari sosok Hyojin dan Yifan, dia tersenyum saat dia melihat sosok Hyojin mengobrol dengan seorang guru. Luhan mendekat dan Hyojin tersenyum saat dia melihat lelaki itu, Luhan mendekat kearah Hyojin dan menyapanya.

“Hi, Hyojung dimana? Aku tidak melihat dia..” Luhan pura-pura tidak tahu.

“Oh Hyojung, dia tadi bersama Zhongren aku tidak tahu kemana mereka sekarang.” Hyojin menjawab dia melirik kesekitarnya mencari sosok adiknya.

“Sayang sekali, padahal aku ingin memberikannya hadiah.” Luhan memasang muka muramnya.

“Tidak apa-apa, nanti dia pulang.” Hyojin berkata mencoba menghibur Luhan.

“Sebaiknya begitu, tapi karena Hyojung tidak ada sebaiknya aku memberikan bunga ini untukmu saja.” Luhan menyodorkan buket bunga yang dia bawa dan Hyojin menerimanya.

“Terimakasih, kau sangat baik.” Ucap Hyojin dia menghirup harumnya bunga yang luhan bawa.

“Sayang, apa kau mau pulang sekarang?”

Yifan tiba-tiba saja muncul dari samping Hyojin dan melingkarkan tangannya dipingang gadis itu, Hyojin terkejut namun dia tersenyum dan melingkarkan tangannya dipinggang Yifan. Luhan hanya bisa tersenyum pahit melihat betapa mesranya Hyojin dan Yifan, walaupun hatinya sedikit terluka dia berusaha untuk kelihatan ceria.

“Ah! Yifan ge, kau datang juga?” Luhan bertanya dan tersenyum kearah Yifan.

“Ya, Hyojin mengajakku.” Yifan menjawab dan dia melirik kearah Hyojin lalu tersenyum kearah gadis itu penuh kasih sayang, Luhan tidak suka pandangan itu..dia tidak suka cara Yifan yang menatap Hyojin penuh dengan cinta dan kekaguman.

“Aku tidak mau datang sendirian, apalagi disini banyak sekali guru-guru Hyojung.” Hyojin mengungkapkan.

“Oh benarkah? Hanya itu alasanmu? Jadi kau tidak mau memamerkan pacarmu yang tampan ini?” Yifan bercanda dan Hyojin pura-pura ingin muntah dengan menjulurkan lidahnya.

“Ya..terserah kau.” Hyojin menjawab sambil memutar matanya, Luhan terkekeh melihat tingkah Hyojin.

“Senang bisa melihat kalian masih akur, aku harus pergi kekampus, aku ada kelas sebentar lagi.” Luhan berkata dan dia berpamitan pada Hyojin dan Yifan.

“Kau selalu terburu-buru Luhan, lain kali datanglah kerumah untuk makan malam.” Yifan berkata dan Luhan tersenyum sambil mengangguk.

“Ya, jika ada waktu akan akan mengunjungimu dan Zhongren, aku pergi dulu.” Luhan menepuk bahu Yifan dan dia berbalik pergi, wajahnya cerianya langsung berubah menjadi wajah penuh amarah dan dendam.

[Kediaman Yifan dan Zhongren, Ilsan – Korea selatan 14:00pm]

Yifan membuka kunci rumahnya dan diapun masuk kedalam rumah nya yang sepi dan sejuk, Hyojin sudah terbiasa menginap dirumah Yifan. Bahkan sebagian pakaiannya sekarang ada dilemari Yifan, Hyojin melepaskan sepatu higheelnya dan berjalan menyusul Yifan yang pergi kekamar.

Yifan membuka blazernya dan menyimpannya di tempat gantungan baju yang ada tidak jauh dari lemarinya, dia melepaskan dasinya yang terasa mencekik lehernya lalu duduk diranjang. Hyojin tersenyum saat dia melihat Yifan mengacak-ngacak rambutnya yang sudah dia rapihkan tadi pagi dia kelihatan lebih natural sekarang.

“Guru-guru Hyojung sangat aneh.” Yifan mengadu dia melirik kearah Hyojin yang menyimpan tasnya dimeja cermin Yifan.

“Kenapa? mereka baik padaku.” Hyojin berkata, dia membuka lemari Yifan dan mengambil kaosnya yang dia sengaja tinggalkan dilemari Yifan untuk berjaga-jaga.

“Mereka kelihatannya mencoba menggodaku, salah satu dari mereka bahkan berani menyentuhku.” Yifan mengungkapkan.

Hyojin hanya tertawa.

“Mereka hanya mencoba ramah Oppa, kau yang berlebihan.” Ucap Hyojin, gadis itu membuka sleting gaunnya dan mengganti bajunya.

“Ya, aku tahu tapi yang benar saja? Di acara formal seperti itu bukankah tidak baik menggoda seseorang?apalagi seseorang itu sudah punya pacar.” Yifan melanjutkan.

Hyojin yang baru selesai menganti bajunya mendekat, dia duduk dipangkuan Yifan dan mencium lelaki itu.

“Daripada kau mengeluh terus soal itu, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih seru?” Hyojin menggoda dia mendorong Yifan sehingga Yifan berbaring diranjangnya.

“Oh..kau ingin melalukan sesuatu yang seru?” Yifan mengangkat alisnya.

“Ya, kau tahu apa ‘itu’?” Hyojin bertanya nakal dan Yifan menyeringai.

Hyojin memang penuh dengan kejutan gadis itu seakan punya kepribadian yang banyak, Hyojin terlihat berwibawa dan serius saat dia bekerja. Dia kelihatan seperti wanita yang sopan dan elegan, namun saat dia dan Yifan diranjang gadis itu penuh dengan gairah dan seksi seperti sekarang.

“Aku tahu jelas apa yang kau mau.” Yifan menjawab dia mencoba bangun dari posisinya untuk mencium Hyojin.

Hyojin mendorong lagi tubuh Yifan lebih keras sehingga lelaki itu kembali terbaring, Hyojin menyeringai saat dia melihat ekspressi terkejut Yifan. Selama ini Yifanlah yang selalu memiliki kontrol diantara mereka, namun kali ini sepertinya Yifan harus membiarkan Hyojin untuk memimpin.

Tangan Hyojin dengan nakal mengelus dada Yifan, dengan lambatnya dia mencoba membuka kancing kemeja Yifan. Yifan bukanlah lelaki yang sabar dia mengerang dan mencoba menarik Hyojin, Hyojin cukup kuat dan melepaskan gengaman Yifan yang kuat.

“Ckckck..kau harus belajar untuk sabar tuan Wu.” Hyojin menggoda, dia meletakan jari telunjuknya dibibir Yifan.

“Jangan menggodaku..” Ucap Yifan dengan suaranya yang lebih rendah dari biasanya, matanya menatap kearah Hyojin penuh dengan nafsu.

“Kalau begitu bersabarlah..” Kata Hyojin, gadis itu kembali membuka kancing kemeja Yifan satu persatu dan Yifan harus menunggu penuh dengan kegelisahan.

   ~~~

“Bagaimana kalau kita berlibur?” Tanya Hyojin, Yifan kaget namun dia mengangguk.

“Baiklah kau mau berlibur kemana?” Tanya Yifan dia mengelus kepala Hyojin, Hyojin berpikir sejenak dan dia menyandar kedada Yifan.

“Bagaimana kalau kita pergi kepantai? Inikan musim panas.” Hyojin bertanya.

“Ide yang bagus, apakah kita harus pergi ke Hawaii? Aku bisa memesan tiket penerbangannya besok.” Yifan mengusulkan.

“Hawaii? Bukankah itu terlalu jauh.” Hyojin berkata.

“Aku tidak keberatan, lagipula aku juga ingin memberikan Hyojung hadiah dia bekerja keras untuk ujiannya.” Ungkap Yifan, Hyojin tersenyum senang Yifan benar-benar sangat peduli pada keluarganya dan itu membuat Hyojin tersentuh.

“Aww..terimakasih Oppa, kau manis sekali.” Hyojin berkata dia mencium pipi Yifan dan Yifan memajukan bibirnya.

“Hanya itu saja?” Dia kelihatan kecewa dan Hyojin menggelengkan kepalanya, dia mendekat lagi dan mencium bibir Yifan.

“Kau puas sekarang?” Tanya Hyojin dan Yifan mengangguk.

“Aku rasa sebaiknya kita tidak usah ke Hawaii, kita pergi kepantai yang dekat saja bagaimana? Setelah itu kita bisa camping dan piknik.” Hyojin berpendapat.

“Baiklah jika itu yang kau mau, aku tidak keberatan..yang penting kau senang.” Yifan berkata dia mencium dahi Hyojin dan Hyojin tersenyum memeluk erat Yifan.

Yifan melirik kearah dokumen yang ada dimeja kecil ranjangnya, dia ragu haruskah dia mengungkit masalah dokumen itu sekarang? Yifan ingat minggu kemarin dia pergi ke cina, dia bertemu dengan ayahnya dan keadaan ayahnya tidaklah baik.

Zhoumi sudah semakin tua dan renta, Ziyi ibu tirinya hanya bisa duduk disamping suaminya dan menatap kearah infusan yang ada ditangan suaminya. Zhoumi mengatakan kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk membujuk Hyojin menandatangani kerjasama, Yifan menyetujuinya dan dia mengambil dokumen yang berisi tentang perjanjian kerjasama antara perusahaan Jung dan Li.

“Hyojin-ah.” Yifan memanggil membuat Hyojin membuka matanya.

“Ya?”

“Kau tahu kalau kita sudah berpacaran satu tahun lebihkan? Aku hanya berpikir..apa kau sudah mempercayaiku sekarang?” Yifan bertanya dan Hyojin mengangguk.

“Tentu saja.”

“Kemarin aku dan tuan Li Zhoumi berdiskusi, dia tertarik untuk membuat kerjasama denganmu.” Yifan mengungkapkan.

“Benarkah?” Hyojin bertanya.

“Ya, dia bilang dia tertarik untuk menggabungkan perusahaanmu dan perusahaan dia.” Yifan mengambil dokumen yang ada dimeja ranjangnya dan dia memberikannya pada Hyojin.

“Bacalah, mungkin kau akan mempertimbangkannya.” Yifan menyarankan dan Hyojin membuka dokumen itu dan membacanya.

Yifan hanya bisa menunggu dengan cemas, dia berharap kalau Hyojin akan menyetujui rencana. Hyojin membaca perjanjian-perjanjian didalam dokumen itu dengan teliti, matanya menatap kearah setiap paragraf didokumen itu dia terlihat sangat serius sekali.

Beberapa menit berlalu Hyojin akhirnya menutup dokumen itu dan Yifan menunggu jawaban dari Hyojin, Hyojin menatap kearahnya penuh dengan kekhawatiran dan dia menyentuh pipi Yifan.

“Oppa..” Dia memulai membuat Yifan cemas.

“Ya?”

“Maaf, aku sangat menghargai niat baikmu tapi aku tidak bisa menggabungkan kedua perusahaan kita.” Hyojin berkata dan mata Yifan melebar.

“Kenapa?”

“Kau tahu ayahku sangat mencintai perusahaan nya, aku tidak bisa membiarkan perusahaanmu mengambil alih asset perusahaan ayahku dan mengganti namanya menjadi group.” Hyojin mengungkapkan.

“Aku berjanji pada ayahku untuk mempertahankan nama Jung diperusahaan itu, aku akan selalu menjaga perusahaan ayah dan tidak pernah melepaskannya.maafkan aku Oppa, aku benar-benar menghargai niat baikmu sungguh..” Hyojin melanjutkan dan dia menunduk, Yifan menghela nafasnya kecewa selama satu tahun ini dia menghabiskan waktu dengan Hyojin dan semuanya sia-sia.

“Apa kau masih tidak mempercayaiku?”

“Bukan itu! Aku sangat mempercayaimu Oppa..tapi ini soal kebanggan ayahku, dia sangat bangga dengan hasil kerja kerasnya karena itu dia tidak ingin nama Jung hilang dari nama perusahaan dia karena perusahaan itu miliknya perusahaan itu milik Jung Yunho ayahku.” Hyojin menjelaskan, Yifan mengerti kalau Hyojin sangat menghargai ayahnya dia tahu Hyojin sangat mengagumi ayahnya oleh sebab itu dia bekerja keras agar perusahaan ayahnya sukses.

“Begitu ya, baiklah..jika kau merubah keputusanmu bicaralah padaku.” Yifan berkata, Hyojin hanya diam dia tidak tahu jika dia akan merubah keputusaannya.

[Sebuah bukit 15:20pm]

“Bukitnya indah bukan?” Tanya Hyojung dia membuka tangannya dan menghirup udara yang segar sore itu, matahari mulai terbenam dan langit diatas dia dan Zhongren mulai berubah menjadi jingga.

“Ya, darimana kau tahu tempat ini?” Tanya Zhongren, dia melingkarkan tangannya dibahu Hyojung.

“Naeun dan aku tidak sengaja menemukannya, kami berdua ingin pergi ke villa Suzy waktu itu namun kami salah belok dan tersesat disini.” Hyojung mengungkapkan dia tersenyum mengingat wajah panik Naeun saat mereka sadar kalau mereka tersesat.

“Oh begitu ya, kamu sepertinya sangat dekat dengan Naeun, Suzy dan Chorong.” Zhongren berkata dan Hyojung mengangguk.

“Ya mereka sahabatku.” Hyojung menjawab dan Zhongren tersenyum, dia senang karena seperti Hyojung mulai terbuka lagi pada semua orang yang pernah dekat dengannya.

Setelah setahun terus bersedih soal kedua orangtuanya akhirnya Hyojung mulai sembuh, dia kelihatan mulai ceria lagi dan bisa menerima kenyataan kalau kedua orangtuanya tidak ada lagi disampingnya. Bahkan kemarin-kemarin sebelum dia melaksanakan ujiannya dia mengunjungi makam kedua orangtuanya dan meminta doa, walaupun dia masih berlinang airmata setiap kali dia melihat batu nisan kuburan orangtuanya.

Zhongren bangga, dia bangga karena kekasihnya itu berhasil melewati masa krisis dalam hidupnya. Zhongren kagum dengan kerja keras Hyojung, gadis itu memang kuat dan pintar jauh sekali dari dia.

Jika dia kehilangan Yifan dia tidak mungkin sekuat Hyojung, dia pasti tersesat dan tidak bisa melanjutkan hidupnya karena Yifan sudah seperti orangtuanya. Yifan adalah sosok ayah dan ibu sekaligus kakak baginya, Jika Yifan tidak ada Zhongren akan kehilangan alasan untuk hidup didunia ini.

“Oppa! Ayo kita kesana!” Hyojung berkata dia berlari kearah pohon besar yang ada ditengah-tengah bukit, dia berlari penuh semangat bahkan Zhongren kalah untuk mengejarnya.

“Kau berlari terlalu cepat Hyojung-ah.” Zhongren terengah-engah dan Hyojung tertawa.

“Dasar lelet.” Hyojung berkata dan menjulurkan lidahnya pada Zhongren.

“Apa kau bilang?” Zhongren pura-pura marah dan berkacak pingang.

“Kau lelet Oppa.” Hyojung mengulang perkataannya.

“Oh ya? Sekarang siapa yang lelet?” Zhongren menggelitiki Hyojung membuat Hyojung tertawa, dia mencoba mendorong Zhongren namun Zhongren terlalu kuat dan terus mengelitiki Hyojung sampai Hyojung tidak bisa bernafas.

“Hahaha Oppa..geli.” Hyojung berkata dan masih tertawa sampai pipinya berubah menjadi merah dan Zhongren akhirnya berhenti mengelitiki Hyojung.

“Kau sebaiknya menarik ucapanmu yang tadi.” Ucap Zhongren dan Hyojung tersenyum dan mencium bibir Zhongren.

“Baiklah, kau cepat.” Hyojung menarik cemoohannya, Zhongren tersenyum dan dia mencium Hyojin lagi.

“Bagus, kalau tidak aku akan mengelitikimu sampai kau meminta ampun.” Zhongren berkata dan mereka berdua tertawa.

DUARR

   Suara petir terdengar dan Hyojung langsung memeluk Zhongren ketakutan, taklama setelah suara itu hujan langsung turun membuat Zhongren dan Hyojung panik. Mereka langsung berlari menuju mobil namun mereka terlambat karena pada akhirnya baju mereka sudah basah, Hujan lebat sekali sehingga mereka kesusahan untuk menaiki bukit.

Hyojung dibantu oleh Zhongren akhirnya berhasil menaiki bukit dan masuk kemobil, mereka berdua basah kuyup namun mereka tertawa. Mereka merasa sangat konyol sekali padahal mereka berdua sudah dewasa sekarang.

Zhongren membuka jaketnya dan Hyojung bisa melihat kaos biru Zhongren melekat kuat pada tubuh lelaki itu, Hyojung bisa melihat otot dada dan perut Zhongren yang kekar. Hyojung malu dan langsung melirik kearah lain, kaos putih yang dia gunakannya juga terasa melekat ditubuhnya dia yakin bra pink yang dia kenakan pasti terlihat sekarang.

Hyojung merasakan jaket Zhongren menyelimuti punggungnya,dia melirik dan mendapati jaket hitam Zhongren sudah melingkar dipundaknya.

“Kau pasti kedinginan? Pakailah jaket itu…bajumu sedikit transparan.” Zhongren berkata dan pipinya bersemu merah.

Hyojung tersenyum, Zhongren benar-benar perhatian inilah salah satu sifat yang Hyojung sukai dari Zhongren.

“Apa kau mau pulang sekarang?” Tanya Zhongren, Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak mau pulang sekarang.” Hyojung berkata walaupun suaranya pelan, Zhongren bisa mendengar gadis itu.

“Baiklah, kalau begitu kau ingin pergi kemana?” Zhongren bertanya lagi.

“Sebaiknya kita diam saja disini.” Hyojung menjawab dan dia memperhatikan hujan yang sangat lebat sekali diluar mobil.

Zhongren menghidupkan penghangat didalam mobil karena udara mulai terasa dingin apalagi dengan baju basah mereka, Hyojung hanya diam menatap kearah kaca jendela mobil. Zhongren mempehatikan gadis itu dengan teliti, dia bisa melihat bibir merah alami Hyojung dan leher mulusnya.

Ingin sekali Zhongren mencium leher itu, mengecup lembut bibir Hyojung yang lembut dia mencapai tangan Hyojung dan menggengamnnya erat. Hyojung melirik kearah Zhongren dan tersenyum, dia menggengam erat balik tangan Zhongren dia bisa merasakan hangatnya tangan Zhongren membuat dia tidak terlalu menggigil.

“Apa kau bahagia?” Zhongren memecahkan hening.

“Ya, aku sangat bahagia.” Ucap Hyojung dan Zhongren mengelus kepala Hyojung.

“Setelah kau ada di universitas nanti, jangan lupa untuk makan dan jaga dirimu baik-baik.” Zhongren menasehati dan Hyojung mengangguk.

Nde,arraseoyo Oppa.” Ucap Hyojung ceria.

Zhongren sangat senang saat Hyojung lulus dari SMA, dia benar-benar senang apalagi gadis itu mempunyai nilai yang sangat bagus. Dia bisa masuk ke universitas manapun yang dia mau, Zhongren sedikit iri karena dia tidak pernah bisa masuk universitas.

“Setelah kau kuliah, kau akan mengambil jurusan apa?”

“Mungkin bisnis dan management.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin membantu Eonni.”

Zhongren kagum sekali, pacarnya memang selalu mementingkan kepentingan orang disekitarnya dia selalu peduli dan sensitif itulah yang Zhongren sukai dari Hyojung. Wanita itu tidak pernah ragu untuk menolong dan berkorban untuk orang yang dia sayangi, Zhongren menatap kearah Hyojung penuh dengan kekaguman dia benar-benar mengagumi gadis ini.

“Apa kau tidak punya cita-cita? Kau pasti punyakan?” Tanya Zhongren dan Hyojung mengangguk.

“Ya, aku punya cita-cita..tapi saat ini aku tidak ingin egois.” Hyojung mengungkapkan dia menunduk menatap tangan Zhongren yang melingkar ditangannya.

“Aku ingin membantu Eonni, dia selalu kelihatan lelah saat pulang kerja apalagi dia selalu stress jika harga saham turun..aku sedih jika melihat Eonni seperti itu, aku ingin dia senang aku mungkin tidak membantu banyak tapi setidaknya aku tidak diam dan menonton Eonni yang sedang stress.” Hyojung melanjutkan tatapannya menerawang kearah depan menatap bukit yang ada didepan mereka.

“Kau tidak egois Hyojung-ah, kau adalah orang yang paling baik hati yang pernah aku temui..kau tidak pernah ragu untuk menolong dan mengorbankan keinginanmu untuk kesenangan orang lain..aku beruntung bisa memilikimu.” Zhongren mendekat dan dia mencium dahi Hyojung membuat Hyojung tertawa.

“Oppa! Kau gombal sekali!” Hyojung memukul dada Zhongren dan Zhongren tertawa.

Mereka terdiam sesaat sampai Zhongren menarik Hyojung dan mencium gadis itu penuh gairah, bibir mereka bertemu berbagi kehangatan dengan satu sama lain. Hyojung melenguh didalam ciuman mereka membuat Zhongren merasakan getaran kecil dibibirnya, Zhongren menarik Hyojung lebih dekat dan tanpa sadar tangan Zhongren menyentuh leher Hyojung dan terus turun kebawah menuju dada gadis itu.

Hyojung yang merasa tekanan didadanya langsung menghentikan ciuman mereka, tangan Zhongren menyentuh dadanya membuat dia sangat malu.

“Maaf! Aku tidak bermaksud..aku seharusnya..” Zhongren langsung kebingungan untuk mencari alasan, dia lupa kalau Hyojung bukanlah tipe wanita yang biasa dia kencani.

“Tidak apa-apa, aku tahu..” Hyojung berkata dan dia menyentuh tangan Zhongren yang masih ada didadanya.

“Bisakah kau merasakan itu?” Hyojung bertanya membuat Zhongren kebingungan.

“Bisakah kau merasakan detak jantungku? Jantungku rasanya mau meledak setiap kali kita bersama.” Hyojung mengungkapkan dan Zhongren tersenyum, dia menarik tangan Hyojung yang satunya lagi dan meletakkannya didadanya juga.

“Ya aku bisa merasakannya, apa kau bisa merasakan jantungku juga? Aku selalu gugup setiap kali aku bertemu denganmu.” Zhongren berkata dan Hyojung tersenyum.

“Oppa, bagaimana kalau kita ke Villa Suzy?” Hyojung memberi usulan.

“Baiklah, tapi kau harus memberitahu jalannya.”

“kau tinggal menyetir saja.”

[Perusahaan Choi 16:45pm]

   Siwon memainkan gitar dengan lihai kebetulan dia sedang memainkan lagu payphone dari Maroon 5, Siwon benar-benar sudah menguasai gitar sekarang. Jari-jarinya yang dulu kaku kini dengan lihainya menekan senar-senar gitar membuat melodi yang indah, Luhan yang duduk disampingnya menatap kearah Siwon penuh kekaguman.

Siwon hanya belajar beberapa bulan namun dia rajin sekali berlatih sendiri sehingga dia lebih cepat menguasai gitar, Siwon akhirnya mengakhiri lagu dan Luhan bertepuk tangan penuh dengan semangat.

“Wow..paman Siwon, kau semakin ahli saja.” Luhan memuji dan Siwon tersenyum.

“Terimakasih padamu, kau guru yang hebat.” Siwon memuji balik dan Luhan tersenyum.

Luhan melirik kearah jam dinding dikantor Siwon dan dia bisa melihat waktu menunjukan pukul empat lebih, dia segera berdiri begitupun Siwon.

“Maaf paman, aku harus pergi..aku ada janji.” Luhan berkata dan Siwon mengangguk.

“Baiklah, apa kau mengajar ditempat lain?” Tanya Siwon penasaran.

“Ya, aku mulai bekerja sebagai guru musik di SMA sekarang.” Luhan menjawab.

“Benarkah? Bagus kalau begitu, tapi jangan lupa dengan pekerjaanmu di studio.” Siwon menyentuh bahu Luhan dan Luhan mengangguk.

“Tenang saja paman, pekerjaanku di studio lebih penting, aku hanya bekerja di SMA satu minggu tiga kali.” Luhan menjelaskan dan Siwon mengangguk penuh pengertian.

“Bagus kalau begitu, apa kau akan pergi skearang?”

“Ah..iya, aku pergi dulu paman..sampai jumpa minggu depan.” Luhan berkata dia menunduk kearah Siwon dan berbalik hendak keluar dari ruangan kantor Siwon.

“Luhan!” Siwon memanggil.

Luhan berbalik dan dia melihat Siwon memegang sebuah amplop putih, dia memberikan amplop itu pada Luhan. Luhan hanya menatap kearah amplop itu, sepertinya amplop itu berisi uang karena amplop itu terasa cukup tebal.

“Ini biaya lesku selama ini, maaf aku baru memberikannya sekarang.” Siwon berkata dan Luhan tersenyum.

“Tapi paman kau sudah sering memberiku uang, kau bahkan membiayai servis motorku.” Luhan berkata dia enggan menerima uang Siwon lebih banyak lagi.

“Tidak apa-apa, kau pantas mendapatkannya kau sudah bekerja dengan keras.” Ucap Siwon.

“Tapi paman..”

“Sudah, sana pergi kau nanti telat.” Siwon berkata dia membalik tubuh Luhan dan membuka pintu kantornya.

Mata Siwon melebar saat dia melihat sosok yang ada didepan pintu kantornya, Luhanpun sama dia membatu terkejut juga. Sosok Ziyi berdiri didepan mereka membuat Luhan kebingungan, bagaimana ibunya bisa mengenal Siwon? Apakah mereka sudah pernah bertemu sebelumnya? Apakah ini alasan kenapa Siwon sangat baik padanya?

“Ziyi..”

“Siwon..”

“Mama? Kau mengenal paman Siwon?” Luhan kebingungan dia melirik kearah Siwon dan Ziyi bolak-balik.

“Luhan? Apa yang kau lakukan disini?” Ibunya tidak menjawab.

“Aku memberikan les gitar pada paman Siwon, aku tidak tahu kalau mama mengenal paman Siwon.” Luhan mengungkapkan dan Ziyi tersenyum, namun Luhan bisa membaca ekspressi ibunya, wanita itu kelihatan sedikit panik.

“Err..mama dan paman Siwon teman dekat,kami berdua kuliah di universitas Oxford.” Ziyi mengungkapkan, dia tidak berbohong soal itu.

“Oh begitu ya, paman Siwon! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Luhan berbalik namun Siwon hanya diam menatap kearah Ziyi.

“Paman?” Luhan bertanya saat Siwon tak kunjung juga menjawab.

“Apa kau akan terus bersembunyi? Kau tidak akan mengatakan yang sebenarnya?” Siwon bertanya kearah Ziyi membuat Luhan kebingungan, Ziyi menunduk.

“Kau benar-benar pengecut.” Siwon berkata dia menatap tajam kearah Ziyi.

“Siwon! Ini bukan waktu yang tepat.”

“Ma? Ada apa ini?” Luhan yang berdiri ditengah-tengah kebingungan.

“Luhan, pergilah..aku harus berbicara dengan paman Siwon.” Ziyi berkata dan Luhan terpaksa mengangguk lalu pergi.

Ziyi menarik Siwon masuk kedalam kantornya, Luhan hanya bisa menatap kearah ibunya dan Siwon penuh kecurigaan. Apakah dia harus bertanya soal ini pada Yixing? Mungkin lelaki itu lebih tahu detailnya.

[Café Wonderland 18:00pm]

“Luhan?”

“Luhan..”

“Luhan!”

Mendengar namanya di panggil Luhan langsung melirik kearah Hyojin yang duduk didepannya, mereka sekarang sedang minum kopi di café. Luhan tersenyum kearah Hyojin dan menganggaruk kepalanya malu, bagaimana dia bisa melamun saat dia mendengarkan gadis itu mengobrol.

“Kau kenapa?kau melamun terus dari tadi..” Hyojin mengeluh, tidak biasanya Luhan melamun sata dia sedang berbicara, biasanya lelaki itu selalu memperhatikan.

“Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu..” Luhan berkata dia memamerkan senyum khasnya pada Hyojin.

“Kau kenapa? Apa kau punya masalah?” Hyojin bertanya khawatir dan Luhan menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin membuat Hyojin khawatir.

“Tidak..aku hanya lupa sesuatu.” Luhan menjawab dan Hyojin mengangguk.

“Oh begitu ya, jika kau lelah kita bisa pulang…aku tahu kau pasti lelah setelah mengajar gitar.” Hyojin berkata penuh pengertian namun Luhan menggelengkan kepalanya.

“Tidak,tidak..aku baik-baik saja sebaiknya kau lanjutkan lagi obrolanmu.” Luhan menyentuh tangan Hyojin mencegah gadis itu untuk berdiri.

“Kau yakin?”

“Ya..”

Hyojin ragu namun dia duduk kembali dan melanjutkan obrolannya.

“Yifan Oppa menawariku kerja sama perusahaan.” Hyojin mengungkapkan dan perhatian Luhan langsung sepenuhnya kembali pada Hyojin.

“Apa..menurutmu aku harus menerimanya?” Tanya Hyojin dia menyelipkan rambutnya ketelinga kanannya.

Luhan hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa membiarkan Yifan menang dalam perang ini, namun jika Luhan melarang Hyojin untuk menerima tawaran Yifan Hyojin pasti curiga dengan sikapnya.

“Apa kau mempercayai dia?” Luhan bertanya, Hyojin hanya diam.

“Apa kau tidak mempercayai dia?” Luhan mengubah pertanyaan nya lalu Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Entahlah Luhan, kau tahu semenjak insiden Im biseo-nim aku tidak pernah percaya pada orang sepenuhnya.” Hyojin mengungkapkan dia menghela nafasnya penuh dengan beban, Luhan ingin sekali memeluk Hyojin namun dia tidak bisa.

“Kalau begitu, ikuti kata hatimu…jika kau ingin menerimanya terimalah tapi ingat, semuanya sellau ada konsikuensinya.” Luhan memberi nasihat, dia mencapai tangan Hyojin dan mengelus tangan wanita itu.

“Aku tahu semua ini sangat berat untukmu, tapi kau layak untuk bahagia Hyojin-ah..lakukan apa yang menurutmu bagus.” Ucap Luhan, Hyojin tersenyum dan mengangguk.

“Terimakasih Luhan, kau teman yang baik.” Ucap Hyojin, Luhan bisa melihat kalau mata Hyojin memancarkan ketulusan yang mendalam dia tahu Hyojin benar-benar menyayanginya seperti teman dan Luhan benci itu.

Dia tidak ingin Hyojin menyayanginya sebagai teman, dia ingin lebih dia bukanlah orang yang baik Li Luhan adalah lelaki yang serakah. Jika dia bisa memiliki simpati Hyojin, dia ingin hati gadis itu lalu tubuhnya dan semuanya dia akan mengunci wanita itu agar dia tidak melirik kearah lain saat bersamanya itulah betapa menyeramkannya Li Luhan.

“Jika aku menerima tawaran Yifan Oppa dan mengganti nama perusahaan ayahku, apa menurutmu ayahku akan marah?” Tanya Hyojin.

Luhan menatap khawatir kearah Hyojin jangan bilang kalau wanita itu akan menerima tawaran Yifan! Luhan berdoa.

“Entahlah Hyojin, aku bukan ayahmu…tapi jika aku ada ditempat ayahmu jujur aku akan sangat marah.” Luhan mengungkapkan dan dia melihat Hyojin ragu.

“Hei..jangan terlalu dipikirkan, sekarang kau lebih baik menghabiskan kue coklatmu.” Luhan menyodorkan kue coklat pesanannya pada Hyojin.

“Tapi..”

“Aku sedang tidak mood makan coklat hari ini, kau sebaiknya menghabiskannya.” Ucap Luhan tersenyum dan Hyojin mengangguk.

“Terimakasih, kau tahu aku suka sekali kue coklat di café ini.” Hyojin berkata dia mulai memotong kue coklat kecil didepannya dan memakannya.

“Aku selalu tahu apa yang kau suka.” Luhan berkata penuh misteri.

“Oh iya, aku sebenarnya sedikit sedih hari ini.” Hyojin berkata.

“Kenapa?”

“Kau tahu Hyojung sudah lulus SMAkan? Itu artinya dia akan pindah dari rumah dan aku akan sendirian dirumah yang besar.” Hyojin berkata penuh kesedihan, Luhan bersumpah dia melihat mata gadis itu berkaca-kaca.

“Kau tidak usah sedih, kau bisa menelepon Yifan gege kan? Dia pasti senang bisa menemanimu.” Luhan berkata dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Dia sibuk,dia sedang mengurus beberapa proyek baru untuk perusahaan.”

“Tenang saja, kau bisa menghubungi aku kapan saja.” Luhan menenangkan dan Hyojin tertawa.

“Kau terlalu percaya diri! Siapa bilang akan akan menghubungimu?” Hyojin menjulurkan lidahnya pada Luhan dan Luhan tertawa.

“Hei! Aku sahabatmu kan? Aku tahu kau akan menghubungiku cepat atau lambat.” Luhan menjulurkan lidahnya pada Hyojin membalas perlakuan jahil gadis itu.

“Permisi..”

Mendengar suara seorang wanita Hyojin dan Luhan melirik kearah belakang mereka, mereka menemukan sosok seorang wanita berdiri dengan kamera ditangannya.

“Maaf jika aku menganggu, tapi apakah saya bisa memotret kalian berdua?” wanita itu bertanya Hyojin dan Luhan terkejut.

“Tidak usah takut, aku Eunkyung,aku bekerja di café ini dan kebetulan saya sedang membuat tema baru untuk café.” Wanita itu menjelaskan.

“Oh..apakah kalian akan merias café ini untuk valentine nanti?” Luhan bertanya dan Eunkyung mengangguk mengingat kalau sekarang sudah bulan februari.

“Benar tuan, tema café kami adalah the wonderful of love kami biasanya mengumpulkan foto-foto pasangan yang sedang menghabiskan waktu mereka di café ini.” Eunkyung melanjutkan.

“Dan saya sering melihat kalian berdua datang ke café ini dan mengobrol berjam-jam..jadi saya pikir kalian cocok untuk foto yang akan kami pajang.”

Hyojin menatap kearah Luhan dan Luhan mengangkat kedua bahunya, dia membiarkan Hyojin memutuskan untuk menyetujui tawaran itu atau tidak.

“Baiklah, apakah kami harus berpose?” Tanya Hyojin.

“Oh jika kalian mau tidak apa-apa.” Wanita itu menyetujui.

Luhan dan Hyojin berdiri dari duduk mereka, mereka berdua merasa sedikit canggung entah pose apa yang akan mereka tunjukan. Luhan melingkarkan tangannya dibahu Hyojin dan Hyojin tersenyum menatap kearah kamera, Eunkyung langsung memotret mereka.

“Err…maaf apakah kalian lebih bisa sedikit mesra? Ini untuk valentine jadi aku ingin foto yang mesra.” Eunkyung bertanya dan Hyojin juga Luhan merasa canggung namun mereka akhirnya menurut.

“Haruskah aku memeluk dia?” Luhan bertanya dia menyeringai dan Hyojin memukul dada Luhan lalu tertawa.

“Yeah..kau harap begitu!” Hyojin meledek dan Luhan memutar matanya.

Eunkyung langsung memotret Hyojin dan Luhan lagi saat mereka bertengkar, dia tersenyum pasangan yang satu ini benar-benar cocok sekali dia berpikir.

“Bagaimana kalau kalian saling menatap? Entahlah..tunjukan kasih sayang kalian.” Eunkyung memberi saran dan Hyojin juga Luhan mengangguk.

Luhan sudah pernah menjadi model dia sudah tidak canggung berpose didepan kamera namun Hyojin sedikit risih karena dia harus dekat sekali dengan Luhan, Luhan sesekali memegang kepalanya dan menarik kepalanya agar menyandar dibahu Luhan.

Hyojin tahu Luhan hanya berpura-pura untuk Eunkyung namun entah kenapa Hyojin merasa kalau Luhan bahagia sekali, apalagi jika Eunkyung menyuruh mereka untuk lebih dekat lagi.

Hyojin dan Luhan memang tidak pernah mengambil foto bersama dan itu membuat Hyojin sadar kenapa sahabatnya itu begitu bersemangat, beberapa foto sudah Eunkyung ambil dan dia berterimakasih kepada Hyojin dan Luhan.

“Sebentar, aku ingin berbicara pada Eunkyung.” Luhan berkata dan dia mengejar sosok Eunkyung, Hyojin bisa melihat Luhan mengobrol dengan gadis itu sesaat.

Luhan mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Eunkyung, Hyojin tersenyum apakah Luhan menyukai Eunkyung? Ini baru pertamakalinya Luhan menunjukan ketertarikan kepada wanita lain didepan Hyojin. Hyojin senang, namun entah kenapa dia sedikit sedih saat dia sadar kalau Luhan akan sibuk dengan pacarnya jika dia memiliki pacar.

Jika Luhan memiliki pacar mereka berdua tidak bisa sedekat sekarang, Luhan tidak mungkin mau makan di café seperti sekarang dan mengobrol berjam-jam dengan dia hanya untuk mendengar celotehan Hyojin. Dia mungkin lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan pacarnya, dia tidak akan bisa menyanyi bersama Luhan lagi atau hanya mendengarkan lelaki itu memainkan gitarnya.

“Kenapa kau murung seperti itu?” Luhan bertanya dia melingkarkan tangannya di bahu Hyojin, mereka berdua percis seperti anak SMA yang bersahabat jika orang lain tidak tahu kalau mereka sudah dewasa.

“Murung? Tidak..aku hanya mengantuk mungkin.” Hyojin beralasan.

Mereka berdua berjalan keluar dari café yang biasa mereka kunjungi, Hyojin berpisah dengan Luhan diparkiran. Hyojin masuk kedalam mobilnya dan seperti biasa Luhan menunggu Hyojin sampai mobil gadis itu menjauh dari parkiran, Luhan menaiki motornya dan akhirnya dia juga pergi dari café itu.

[Villa Suzy 19:00 pm]

  Hyojung membuka kamarnya di Villa Suzy, tadi dia sudah di sambut dengan mewah oleh semua pelayan suzy. Temannya itu memang selalu tahu bagaimana cara menjamu tamu, Hyojung duduk di ranjangnya dan menghela nafas.

Perutnya terasa kenyang sekali setelah dia makan malam bersama, Suzy juga sepertinya sedang menghabiskan waktunya dengan Chanyeol di villa ini. Mereka melakukan double date tadi sore walaupun double dtae mereka tidak terlalu menyenangkan, mereka berempat menikmati pemandangan di villa Suzy yang sangat indah.

Tok!tok!tok!

Mendengar suara ketukan di jendelanya Hyojung penasaran, dia membuka jendelanya dan dia bisa melihat Zhongen berdiri tepat dibawah kamarnya.

“Apa yang kau lakukan disana Oppa?” Tanya Hyojung dan Zhongren tersenyum.

“Bolehkah aku masuk kekamarmu?” Zhongren bertanya dan Hyojung tertawa.

“Ya, tentu saja..kenapa kau tidak masuk lewat pintu saja?” Tanya Hyojung.

“Err..kalau aku masuk lewat pintu pelayan yang lain akan curiga.” Zhongren mengungkapkan dan dia mulai memanjat tembok villa Suzy, Hyojung tidak pernah tahu kalau pacarnya itu bisa memanjat seperti spiderman.

Zhongren langsung melompat masuk kedalam kamar Hyojung tanpa terluka, dia tersenyum dan langsung memeluk Hyojung.

“Kau seharusnya tidak mengajakku kesini.” Zhongren berkata dan Hyojung cemberut.

“Kenapa? Apa kau tidak suka disini?” Tanya Hyojung dan Zhongren menggelengkan kepalanya.

“Aku kesepian harus tidur sendiri, apalagi temanmu yang namanya Chanyeol itu sangat aneh.”  Zhongren mengeluh.

“Kenapa dengan Chanyeol?”

“Dia terus mengajakku mengobrol sudah tahu aku tidak tertarik, dia juga selalu tertawa setiap kali aku mengejeknya…anehkan?” Zhongren mengungkapkan.

“Oh Chanyeol hanya ramah saja Oppa, kau ini..dia itu murid yang paling ramah di sekolahku bahkan banyak sekali wanita yang menyukai dia.” Hyojung menjelaskan dia duduk diranjangnya lalu diikuti oleh Zhongren.

“Apa? Lelaki seperti itu?” Zhongren tidak percaya dengan perkataan Hyojung, bagaimana mungkin lelaki aneh seperti Chanyeol dipuja-puja sepertinya wanita jaman sekarang harus memperbaiki selera mereka.

“Oppa tidak semua orang suka wajah tampan, lagipula kau hanya mengenalnya beberapa menit kau tidak tahu bagaimana kepribadian dia.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk.

“Kau benar.” Zhongren berkata, dia merasa menjadi orang yang dangkal karena selama ini dia selalu menilai orang dari penampilan mereka itulah alasannya kenapa sekarang dia baru merasakan cinta yang sebenarnya, selama ini dia tenggelam dalam lautan nafsu dia selalu tertarik pada wanita seksi yang memamerkan tubuh mereka.

Dan wanita-wanita seperti itu bisa memuaskan hasrat birahinya namun setiap kali mereka sudah selesai berhubungan sex semuanya terasa hambar, tidak ada koneksi walaupun tubuh mereka dekat namun pikiran mereka dan hati mereka jauh sekali.

Hyojung dan Zhongren terdiam sesaat, mereka merasa sedikit canggung dengan keheningan yang menyelimuti mereka sekarang. Hyojung berpikir keras untuk mencari topik pembicaraan, Zhongren tersenyum saat dia melihat Hyojung berpikir.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Zhongren dan Hyojung menggelengkan kepalanya.

“Aku khawatir, apakah eonni akan marah padaku?” Hyojung bertanya dan dia melirik kearah Zhongren.

“Kenapa? Apa kau bertengkar dengan dia?”

“Tidak, tapi aku mengatakan padanya kalau aku ingin tinggal di asrama kampus.” Hyojung mengungkapkan, dia mengingat percakapannya dengan kakaknya beberapa hari yang lalu.

“Kenapa kau ingin tinggal di asrama?”

“Aku hanya ingin lebih fokus belajar, aku tidak bisa belajar jika setiap hari aku melihat Eonni yang kelelahan..aku juga selalu ingat eomma dan appa jika aku ada di rumah.” Hyojung memberikan alasan dan Zhongren menyentuh bahu Hyojung.

“Aku mengerti, lagipula kau sudah dewasa bukan? Aku tidak akan mencegahmu untuk pergi.” Zhongren tersenyum pada Hyojung, Hyojung membalas senyuman Zhongren.

Zhongren mendekat dan dia mencium Hyojung sekilas.

“Aku harus pergi, ini sudah malam.” Zhongren berkata dan dia berjalan menuju jendela namun Hyojung berlari dan memeluknya dari belakang.

“Kau bisa diam disini dan menemani aku.” Hyojung berkata dan mata Zhongren melebar terkejut.

Zhongren tersenyum dia melepaskan tangan Hyojung dari pingangnya dan berbalik, dia menangkup wajah Hyojung dan mencium dahi Hyojung.

“Tidak sekarang Hyojung-ah, ini bukan waktu yang tepat.” Zhongren menjawab dan dia langsung melompat keluar lewat jendela Hyojung.

Hyojung tersenyum, ternyata Zhongren benar-benar peduli padanya. Dia merasa sangat beruntung sudah bertemu dengan Zhongren, untuk sekarang dia yakin kalau Zhongren adalah lelaki yang tepat untuknya dia tidak ingin lelaki lain.

[Kediaman Keluarga Li – Beijing, Cina 09:00AM]

Értóng jīběn méi yòng!”
“Dasar anak tidak berguna!”

Zhoumi marah, dia membanting dokumen perjanjian yang dia berikan pada Yifan kewajah lelaki itu, dahinya terasa sakit saat ujung dokumen itu melukai dahinya. Cairan yang hangat terasa meluncur dari dahinya namun Yifan tetap diam, Zhoumi menatapnya penuh amarah.

“Berapa lama lagi?! Satu tahun?! Dua tahun?!” Zhoumi membentak dan Yifan hanya diam.

“Aku sudah bilang, jangan terlalu manis padanya sekarang lihat kau! Dia bahkan berani membantahmu.” Zhoumi berkata.

“Maafkan aku baba.” Yifan menunduk penuh penyesalan didepan Zhoumi.

Shénme? Baba? Siapa yang kau panggil baba?!” Zhoumi melotot dan Yifan hanya terdiam.

“Aku tidak mau tahu, aku berikan kau waktu satu minggu jika kau masih kembali kesini dengan tangan kosong maka aku akan mengurus gadis itu.” Zhoumi berkata dia berbalik menuju kamarnya dan membantingkan pintu.

Yifan menyentuh dahinya dan dia bisa melihat darah didahinya, Zitao yang mendengar Zhoumi membanting pintu masuk. Dia bisa melihat Yifan terdiam sambil memegang dokumen yang tadi Zhoumi lempar, Zitao menghela nafas dan dia mengeluarkan sapu tangannya.

“Yifan ge..” Zitao langsung menyeka darah di dahi Yifan dan Yifan langsung melepaskan tangan Zitao dari dahinya.

“Tidak usah! Aku baik-baik saja.” Yifan marah dan dia keluar dari ruangan kerja Zhoumi.

Zitao tahu kalau Yifan tidak bermaksud untuk marah padanya, dia membiarkan lelaki itu pergi dan dia mengikuti langkah Yifan dari belakang.

Yifan masuk kedalam kamar mandi, dia membasuh lukanya walaupun perih dia tidak mempedulikannya. Setelah lukanya bersih dia keluar dari kamar mandi, dia bisa melihat Zitao menyiapkan kotak p3k untuknya.

“Sebaiknya kau duduk, aku akan merawat luka itu kalau tidak akan infeksi.” Zitao menyuruh dan Yifan duduk disalah satu kursi yang ada di ruang tengah rumah keluarga Li.

“Apa Tuan Zhoumi marah lagi?” Zitao bertanya dan Yifan mengangguk, Yifan mengerang saat Zitao menekankan obat antiseptik dilukanya.

“Ya, dia tidak pernah sabar..” Yifan menjawab dan Zitao memasangkan sebuah plester di dahi Yifan.

“Dia bukan orang yang sabar.” Zitao berkata dan dia tersenyum.

“Sebaiknya kembali ke Korea secepatnya, sebelum dia keluar dan marah lagi karena masih melihatmu.” Zitao menyarankan, dia tahu Zitao tidak bermaksud untuk mengusirnya.

“Ya, aku akan pergi kebandara sekarang…terimakasih sudah mengobati lukaku.” Yifan berkata dan Zitao mengangguk.

“Sampaikan salamku pada Hyojin-shi.” Ucap Zitao dan dia tersenyum.

“Akan aku sampaikan.”

Yifan keluar dari rumah keluarga Li, beberapa pelayan yang melihatnya menunduk dengan hormat sampai akhirnya dia terkejut saat melihat sosok Ziyi baru saja turun dari mobil mewahnya. Wanita itu membuka kacamatanya saat dia melihat Yifan, Yifan menunduk hormat kearah Ziyi dan Ziyi mendengus.

“Apa kau kesini untuk meminta uang?” Ziyi bertanya dan Yifan mengepalkan tangannya.

“Maaf tante, tapi aku tidak pernah meminta uang pada tuan Zhoumi.” Yifan menjawab dingin dan pergi menaiki mobil yang sudah siap mengantarnya kebandara.

“Ck..dasar anak tidak tahu sopan santun.” Ziyi bergumam.

[Kediaman keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 10:00AM]

   Zhongren mencium dahi Hyojung sebelum gadis itu masuk, rasanya berat sekali untuk melepaskan tangan kekasihnya dan membiarkan dia pergi masuk. Hyojung tersenyum dan dia mengelus pipi Zhongren, mereka berdua tersenyum.

“Aku harus pergi, Eonni pasti khawatir karena semalaman aku tidak pulang.” Hyojung berkata dan Zhongren mengangguk.

“Baiklah,aku akan meneleponmu jika aku sudah sampai.” Ucap Zhongren dan Hyojung mengangguk.

“Aku pergi dulu.” Hyojung turun dari mobil Zhongren dan dia melambai kearah Zhongren saat mobil Zhongren mulai menjauh dari halaman rumahnya.

Hyojung berbalik dan masuk kedalam rumah, rumah seperti biasa kosong dan sepi dia hanya melihat beberapa pelayan yang masih membersihkan langit-langit rumahnya yang tinggi dan tukang kebun yang sedang merapikan rumput di halaman belakang.

Saat Hyojung hendak menaiki tangga dia melihat sosok Yongguk, dia kelihatannya sedang menelepon seseorang. Hyojung menyeringai dia berjalan mendekat mencoba menguping apa yang Yongguk bicarakan dengan orang yang dia telepon, Hyojung awalnya tidak bisa mendengar dengan jelas namun setelah dia cukup dekat dia bisa mendengar percakapan Yongguk.

“Noona,apa kau yakin dengan semua ini? Darimana kau tahu?” Yongguk bertanya, suara rendah dan penuh keseriusan.

“Aku mendengarnya dari Jongsuk, awalnya aku akan mengatakan langsung pada Hyojin namun Jongsuk mencegahku.”

Hyojung melebarkan matanya saat dia mendengar suara Yoona dari speaker handphone Yongguk, mungkin karena rumah sepi suara dari handphone Yongguk sedikit keras. Hyojung mengepalkan tangannya saat dia mendengar Yongguk melanjutkan percakapannya, Yongguk sepertinya sedang membahas sesuatu.

“Apakah Zhongren memiliki tujuan yang sama dengan Yifan?”

Mendengar nama kekasihnya Hyoojung mulai khawatir, dia tdak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia bertanya-tanya kenapa Yongguk mengobrol dengan Yoona? Setahu dia Yoona sudah dikeluarkan dari perusahaan oleh kakaknya meskipun kakaknya menolak untuk mengatakan alasannya.

“Aku tidak tahu soal anak itu, tapi kemungkinan besar anak itu juga memiliki motif yang sama dengan Yifan.”Yoona menjawab.

“Aku tidak terkejut dengan semua ini, aku tahu kalau dia memiliki tujuan lain.” Yongguk berkata.

“Yongguk-ah, sebaiknya kau cepat memperingatkan Hyojin..maaf aku baru berani mengatakan ini sekarang..aku hanya sedang mencari waktu yang tepat.” Yoona mengungkapkan dan Yongguk tersenyum.

“Tidak masalah Noona, aku mengerti..mengatakan hal ini tidak mudah aku mengerti alasanmu.” UcapYongguk.

“Terimakasih, aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi selain kau Yongguk-ah.”

“Aku tahu Noona, aku akan berusaha menjelaskannya pada Hyojin terlebih dahulu aku tahu Hyojin tidak akan percaya, tapi aku akan berusaha.” Yongguk menutup teleponnya dan hendak berjalan namun dia melihat Hyojung berdiri didepannya, menatapnya penuh pertanyaan.

“Hyojung-ah kau sudah pulang.” Yongguk menyambut namun Hyojung hanya diam.

“Apa yang kau bicarakan tadi di handphone? Aku bisa mendnegra suara Im biseo-nim.” Hyojung bertanya, suaranya menuntut membuat Yongguk terkejut.

“Apa maksudmu? Aku tidak berbicara dengan Im biseo-nim.” Yongguk berbohong dan Hyojung menatap kearahnya penuh kecurigaan.

“Jangan bohong padaku, katakan apa yang kau bicarakan dengan dia!” Hyojung membentak penuh amarah.

“Hyojung-ah…kau kenapa?”

“Kau mengatakan sesuatu tentang Yifan Oppa dan Zhongren Oppa, ada apa dengan mereka?”

Yongguk menelan ludahnya, dia tidak menyangka kalau Hyojung akan mendengar percakapannya dengan Yoona. Hari ini dia benar-benar aka nada dalam masalah yang besar, otaknya sibuk mencari alasan dia berharap seseorang bisa menyelamatkannya sekarang.

“Oh! Hyojung..kau baru pulang?” Suara Hyojin terdengar dan Yongguk menghela nafasnya lega.

“Eonni..”

“Hyojung-ah, kau darimana saja? Apa kau bersama Zhongren semalaman?” Hyojin langsung turun dari tangga dan mendekat kearah adiknya.

“Tidak! Aku bersama Suzy dan Chanyeol juga.” Hyojung sewot dia panik saat kakaknya mulai mendekat dan mengendus-ngendus percis seperti anjing pelacak.

“Bagus, kalau sampai aku mencium harum Zhongren ditubuhmu besok dia akan mati.” Hyojin berkata dan Hyojung memutar matanya, dia sering sekali mendengar ancaman itu dari kakaknya.

“Hyojin-ah, aku harus pergi dulu..kau bilang mobilmu harus di serviskan?” Yongguk bertanya dan Hyojin mengangguk.

Hyojung tahu kalau kakaknya setahun belakangan ini sangat canggung dengan Yongguk, padahal mereka biasanya sangat dekat dan akrab. Namun belakangan ini Hyojin seakan menghindar dari lelaki itu, bahkan sekarang Hyojin sering menyuruh pak Hwangjun supirnya untuk mengantarnya kekantor.

Hyojung tidak tahu apa yang terjadi antara Hyojin dan Yongguk, namun dia ingat malam saat Zhongren bertamu dirumahnya kakaknya tiba-tiba saja turun dari kamarnya dengan pipi yang merah dan rambut yang sedikit berantakan.

Hyojung baru sadar dari saat itu hubungan Hyojin dan Yongguk semakin renggang, mereka tidak pernah kelihatan bersama lagi. Mereka bahkan hanya mengobrol seperlunya, Hyojin selalu terlihat canggung didepan Yongguk seakan kakaknya itu tidak pernah mengenal Yongguk sebelumnya.

“Eonni sebenarnya kau dan Yongguk Oppa kenapa?” Hyojung bertanya saat dia melihat Yongguk pergi keluar dari rumah.

“Kami berdua baik-baik saja.” Hyojin menjawab lurus dia berjalan menuju ruang Tv yang berjarak tidak jauh dari ruang tamu.

“Oh benarkah? Kau terlihat menjauh dari Yongguk Oppa.” Hyojung bertanya, dia sendiri sedih karena dia baru menyadarinya sekarang.

Hyojung terlalu fokus pada pelajarannya dan tidak pernah lagi memperhatikan kakaknya, apalagi Yongguk.

“Iya..kami berdua hanya sibuk mungkin jadi kami tidak sempat menghabiskan waktu bersama.” Hyojin memberi alasan dan dia duduk disofa ruang Tv nya dengan nyaman.

“Eonni, ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Yifan Oppa? Apa dia baik?” Tanya Hyojung dia duduk disamping Hyojin.

“Ya, kami berdua bahagia.” Jawab Hyojin.

“Oh..bagus kalau begitu, apakah Yifan Oppa tidak bertingkah aneh belakangan ini?”

Hyojin melirik kearah Hyojung, dia tidak mengerti adiknya itu tiba-tiba saja bertanya seperti itu. Terakhir kali dia mengingat Hyojung tidak terlalu peduli pada hubungannya dengan Yifan, adiknya itu terlalu sibuk berkencan dengan Zhongren.

“Tidak, dia bersikap normal padaku.” Hyojin menjawab lagi.

“Bagus kalau begitu, aku mau tidur dulu aku lelah.” Hyojung berkata dan dia pergi meninggalkan Hyojin bertanya-tanya.

Hyojin menghidupkan televisinya, dia memutuskan untuk menonton beberapa acara reality show.Yifan sedang di cina sekarang, dia merasa sedikit kesepian karena biasanya lelaki itu menemaninya di akhir minggu.

Hyojin mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, dia menghidupkan ponselnya namun tak ada satupun pesan dari Yifan. Dia sedikit kesal, Yifan mendadak memberitahunya kalau dia akan pergi ke Cina tadi malam dia bilang kalau dia memiliki urusan bisnis disana Hyojin benci jika Yifan harus pergi ke Cina karena lelaki itu pasti menghilang seperti sekarang.

Ponsel Hyojin berdering membuat gadis itu kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya, dia melihat nama Yifan tertera di handphonenya dan dia tersenyum. Terkadang dia senang jika tuhan sudah mendengar doanya.

“Oppa, ini aku..apa kau sudah kembali kekorea?” Tanya Hyojin bersemangat.

“Hyojin-ah, aku sudah kembali ke Korea…aku baru sampai dibandara.” Yifan menjawab dan tersenyum saat mendengar betapa semangatnya Hyojin.

“Oh..apa kau lelah?Kau bisa pulang kerumahku? Jarak rmahku dari bandara lebih dekat dari rumahmu.” Hyojin berkata.

“Baiklah, aku akan mampir dulu.” Yifan menyetujui.

“Aku menunggumu Oppa.”

“Iya, tunggu aku ok?”

Hyojin dan Yifanpun menutup telepon mereka hampir bersamaan, Hyojin menghela nafasnya dan tersenyum dia lega sekali saat dia sudah mendengar suara Yifan.

[Starbuck di bandara incheon, Korea selatan 10:30AM]

  Yifan memasukan ponselnya kedalam saku jasnya, dia mendongak dan mendapati Taeyeon sudah berdiri didepannya. Wanita itu kelhatan tidak senang saat tatapan mereka bertemu, Yifan tersenyum mencoba bersikpa manis pada mantan kekasihnya itu.

“Apa yang kau mau? Kenapa kau ingin aku menjemputmu dari bandara?” Taeyeon bertanya tidak basa-basi, dia tidak punya waktu untuk berurusan dengan Yifan.

“Bukankah kau ingin kembali padaku? Kenapa sekarang kau malah ketus.” Yifan berkata dan dia menompang wajahnya dengan kedua tangannya.

“Yifan, cukup..aku tidak mau bermain-main denganmu.” Taeyeon menghela nafas.

“Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Yifan bertanya dan dia meminum kopinya yang masih hangat.

“Aku baik-baik saja,bagaimana denganmu?”

Yifan tersenyum tipis.

“Menurutmu?” Yifan menatap kearah Taeyeon, Taeyeon menunduk tidak bisa menatap lurus kearah Yifan dia tahu jika dia melakukan itu dia akan tergoda lagi oleh mantan kekasihnya.

“Kau terlihat bahagia bersama Hyojin.” Taeyeon menjawab.

Yifan menyeringai.

“Sebenarnya,tidak juga.” Yifan menghela nafasnya, seakan dia terbebani oleh sesuatu dan itu membuat Taeyeon menatap kearahnya.

“Apa kau bertengkar dengan dia?” Taeyeon bertanya.

“Tidak..dia hanya menjadi sangat membosankan sekarang.” Ungkap Yifan.

Taeyeon menatap tajam kearah Yifan, apakah dia menganggap semua wanita mainannya? Dia mudah sekali mengatakan itu seakan Hyojin adalah mainan rusak yang harus dia buang di tong sampah, Taeyeon tidak menyangka kalau Yifan yang dia cintai berubah menjadi bajingan seperti ini.

“Apa kau akan menyingkirkan dia?” Taeyeon mengangkat alisnya dan Yifan tertawa.

“Wah..daebak,ternyata apa yang mama Wu katakan benar..kau pintar Taeyeon.” Yifan memuji namun Taeyeon tidak senang sedikitpun.

Taeyeon berdiri dari duduknya, dia membuka tutup cup smoothie yang dia pesan tadi dan menumpahkan isi cup itu diatas kepala Yifan. Yifan terkejut saat dia merasakan cairan dingin minuman itu menyentuh rambutnya dan sebagian wajahnya, semua orang yang ada di starbuck menonton dan saling berbisik.

“Jika kau menyuruhku kesini hanya untuk meminta bantuan, kau bisa melupakannya..aku tidak akan membantumu.” Taeyeon berkata, dia melemparkan cup kosong minumannya kearah Yifan.

Yifan menahan emosinya dan mengelap wajahnya dengan sebuah tissue yang sudah disediakan di meja, seorang pelayan langsung datang dengan serbet untuk membersihkan Yifan. Yifan berterimakasih pada pelayan itu, diapun segera pergi dari starbuck terlalu malu dengan tatapan semua pelanggan yang ada disana.

Yifan menghidupkan air di wastafel dia membasuh mukanya, Yifan menatap kearah bayangannya. Dia mengepalkan tangannya dan memukul wastafel dengan keras, dia tidak menyangka Taeyeon dengan beraninya melakukan itu padanya.

Awalnya Yifan hanya akan menggoda gadis itu agar dia bersedia melakukan apapun untuknya, namun sepertinya rencananya gagal. Yifan mengambil ponselnya darisaku jasnya, dia menghubungi nomor Zitao dan menunggu lelaki itu untuk mengangkatnya.

Wei? Gege, apa kau sudah sampai di korea?” Zitao bertanya.

“Carikan aku datang tentang Kim Taeyeon, apapun..data yang bisa menghancurkan dia dan membuat dia ketakutan.” Yifan memerintah.

“Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu yang mengancammu?” Tanya Zitao.

“Lakukan saja, aku menunggu.” Yifan menutup teleponnya masih penuh emosi.

[Kediaman Keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 13:00PM]

“Oppa!” Hyojin memanggil saat dia melihat sosok Yifan turun dari mobil sedannya, Yifan tersenyum.

“Hyojin-ah.”

Hyojin berlari dan langsung memeluk Yifan, Yifan memeluk kembali Hyojin dan tertawa. Terkadang Hyojin memang bisa bertingkah manja dan lucu, Yifan melepaskan pelukannya dan dia mencium dahi Hyojin.

“Apa kau merindukanku saat aku di Cina?” Tanya Yifan dia mengelus pipi Hyojin.

“Ya, kau jarang sekali menghubungiku.” Hyojin berkata dan cemberut.

“Maaf, aku harus mengurus banyak hal di Cina.” Yifan meminta maaf, suaranya penuh dengan penyesalan.

“Tidak apa-apa, kau pasti lelah..ayo masuk.” Hyojin menarik Yifan untuk masuk, beberapa pelayan yang melihat sosok Yifan langsung menunduk hormat, mereka sudh terbiasa dengan kehadiran Yifan sekarang.

“Bagaimana bisnismu di Cina? Lancar?” Tanya Hyojin dan Yifan mengangguk.

Hyojin mengajak duduk Yifan disofa ruang tengah rumahnya, Hyojin bisa menangkap ada sesuatu yang salah dengan ekspressi wajah Yifan. Lelaki itu seakan sedang memikirkan sesuatu, dia kelihatan melamun dan menatap kedepan dengan tatapan kosong.

“Oppa, kau baik-baik saja?” Hyojin bertanya penuh kekhawatiran.

“Aku baik-baik saja.” Yifan tersenyum.

“Kau kelihatan sedikit tidak fokus, ada apa? Kau bisa mengatakannya padaku.” Hyojin menyentuh tangan Yifan dan meremasnya, Yifan menatap kearah tangannya yang Hyojin pegang.

“Aku hanya berpikir..” Yifan memulai.

“Jika kita berpisah, apakah kau akan membenciku?”

Hyojin membeku saat dia mendengar ucapan itu,apakah Yifan ingin putus dengannya? Apakah lelaki itu mulai bosan?

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” Hyojin bertanya lemah.

Yifan tidak bisa menjawab, dia bodoh sekali menanyakan hal itu. Sudah jelas dia sangat mencintai Hyojin, Hyojin adalah satu-satunya wanita yang bisa dia ingat saat dia pertama bangun tidur, gadis itu sudah menghiasi hidupnya yang membosankan menjadi lebih berwarna.

“Bukan,aku hanya bertanya..aku mencintaimu.” Yifan menyentuh wajah Hyojin, Hyojin mencium tangan Yifan.

“Jika kita berpisah kau bilang? Hm..mungkin aku akan membencimu untuk sesaat.” Hyojin berkata.

“Jika kau meninggalkan aku, aku akan mengejarmu..aku akan membuatmu mengingat semua kenangan yang kita pernah jalani semua momen yang membuatmu bahagia.” Lanjut Hyojin.

“Lalu aku akan bertanya padamu ‘masihkah kau mencintai aku?’ jika kau sudah tidak mencintaiku lagi aku akan berhenti dan melepaskanmu, tapi jika kau memberikan aku harapan..aku akan terus menarik harapan itu mendekat kearahku sampai akhirnya kau akan kembali kepelukan aku lagi dan tidak akan pernah bisa pergi.”

Yifan yang mendengar itu tersenyum, dia mendekat dan mencium Hyojin penuh dengan hasrat. Dia benar-benar dia bisa gila jika Hyojin terus bersikap seperti ini, Yifan tahu cinta Hyojin sebesar cintanya pada gadis itu dan Yifan tidak mau menghancurkan apa yang mereka punya.

“Kalau begitu, ayo kita pergi..” Yifan berkata setelah dia melepaskan ciumannya.

“Pergi?kemana?” Tanya Hyojin.

“Ayo kita kabur, aku tidak ingin tinggal di Korea..lepaskan jabatanmu dan kita mulai semuanya dari awal.” Yifan meremas tangan Hyojin.

“Oppa..kau kenapa?” Hyojin khawatir saat dia melihat Yifan yang panik.

“Sudah kubilangkan, aku dalam bahaya Hyojin..ayo kita pergi lepaskan semuanya jabatanmu,namamu semuanya! Kita pergi keluar negeri dan kita akan menikah kau maukan?” Yifan menyentuh bahu Hyojin dan menatap kearah gadis itu.

“Oppa, aku tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja.” Hyojin berkata.

“Kenapa? Apa kau tidak cukup mencintaiku untuk meninggalkan semua ini?” Yifan bertanya dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Bukan! Bukan seperti itu..aku sangat mencintaimu Oppa tapi aku tidak bisa meninggalkan Hyojung begitu saja,dia masih kecil.” Hyojin mengungkapkan.

“Jika aku pergi begitu saja, siapa yang akan menjaga dia? Siapa yang akan menjaga perusahaan ayahku?” Hyojin melanjutkan dan Yifan melepaskan tangannya dari bahu Hyojin.

“Kalau begitu..”

“Kalau begitu bagaimana kalau kau mengubah perusahanamu menjadi sebuah group,kau tak usah khawatir banyak orang yang akan memelihara perusahaanmu bagaimana dengan Yixing? Kau tahu diakan? Dia akan senang sekali bisa bekerjasama denganmu.”

Hyojin menggelengkan kepalanya tidak setuju, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganti perusahaannya. Dia bukanlah orang yang mudah mempercayai orang, dia tidak akan mungkin memberikan perusahaannya pada orang asing begitu saja.

“Aku tidak bisa Oppa! Aku tidak percaya siapapun selain diriku sendiri untuk memimpin perusahaan Ayahku.” Hyojin berkata.

“Aku tahu aku kejam sekarang, tapi Hyojin kau harus memilih sekarang..aku atau perusahaanmu.” Yifan berkata dia terdengar sangat serius, Hyojin menatap kearah Yifan penuh dengan tanya.

“Apa maksudmu?kenapa kau membuat aku memilih Oppa? Kau tahu kau dan perusahaan ayahku sama pentingnya.” Hyojin mengungkapkan dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Tidak Hyojin, kau harus memilih..jika kau ingin aku kau harus mengorbankan perusahaanmu, tapi jika kau memilih perusahaanmu kau tidak bisa memiliki aku.” Yifan berkata, Hyojin menunduk menahan airmatanya bagaimana mungkin dia bisa memilih antara Yifan dan perusahaan ayahnya.

Yifan berdiri dari duduknya, Hyojin langsung panik dan mencegah Yifan untuk pergi. Yifan mencoba melepaskan tangan Hyojin dari lengannya namun wanita itu mencengkram tangan Yifan agar dia tidak pergi, airmata wanita itu langsung turun dan menetes ketangan Yifan.

Yifan yang melihat Hyojin menangis, luluh. Dia berbalik kearah Hyojin dia menemukan gadis itu sudah menangis, betapa sakitnya hati Yifan saat dia melihat betapa sedihnya Hyojin bahkan hatinya terasa diiris saat dia melihat airmata Hyojin turun dari mata indah wanita itu.

“Oppa..teonajima.” Hyojin berkata lirih.

Yifan mendekat kearah Hyojin, dia menyeka airmata Hyojin lalu pergi begitu saja meninggalkan Hyojin.  Hyojin tidak percaya semua ini, dia langsung jatuh kelantai, semua ini seperti mimpi buruk baginya dia menangis dan menangis mencoba menyangkal semua kenyataan yang dia hadapi sekarang.

Yongguk yang melihat Yifan yang meninggalkan Hyojin mengepalkan tangannya, dia ingin sekali berlari dan memeluk Hyojin namun dia tidak bisa. Jika dia melakukan itu Hyojin akan semakin membencinya, Yongguk berbalik masuk kekamarnya dia terlambat seharusnya dia mengatakan apa yang Yoona katakan tadi lebih awal.

[Kediaman Kim Taeyeon, seoul – Korea selatan 14:11 PM]

“Kau mengatakan itu untuk kebaikan Yifan?” Tanya Taeyeon tidak percaya, dia menatap tajam kerah Yixing yang sekarang duduk disampingnya.

“Aku mohon Taeyeon, bantulah dia..aku tahu dia bukanlah orang yang kau sukai sekarang dan kau mencoba melupakan dia tapi untuk sekarang sebaiknya kau membantu dia.” Yixing menghela nafasnya.

“Bukankah kau ingin menghancurkan dia? Kau bilang dia adalah ancaman terbesar untuk Luhan.” Taeyeon masih ingat ucapan Yixing beberapa bulan yang lalu.

“Ya, aku tahu..tapi situasinya berbeda sekarang Luhan sepertinya sudah aman sekarang karena Zhoumi sudah tidak pernah mencarinya lagi, walaupun semua dana yang dia berikan untuk Luhan masih ada, paman Zhoumi tidak menanyakan lagi Luhan dan Zitao sudah kembali ke Cina sekarang.” Yixing mengungkapkan.

“Sepertinya paman Zhoumi sudah melepaskan Luhan, entahlah yang penting sekarang Luhan aman aku tidak peduli jika dia akan menghapus nama Luhan di kartu keluarganya.” Yixing melanjutkan dan Taeyeon memegang tangan Yixing untuk menenangkan lelaki itu.

“Aku mengerti, tapi aku tidak bisa mengkhianati Hyojin Yixing..dia sangat rapuh aku takut jika dia berakhir melakukan sesuatu yang bodoh.” Taeyeon berkata dan Yixing menyentuh pipi Taeyeon.

“Tenang saja, soal itu..aku yakin Luhan akan mengerusnya.” Yixing menjawab, dia memamerkan senyumnya pada Taeyeon.

“Apa yang harus aku lakukan?” Taeyeon akhirnya kalah.

“Lakukan sesuai apa yang aku perintahkan tadi, setelah itu kau bisa angkat tangan dan tidak akan ada yang tahu kalau kau yang melakukannya.” Yixing berkata dan Taeyeon mengangguk, wlaaupun dia keberatan dia harus melakukan nya.

“Kenapa kau ingin aku melakukan ini?” Tanya Taeyeon.

“Aku ingin kau bisa melupakan Yifan, aku juga ingin Hyojin bahagia bersama dia..kita tidak punya jalan lain selain ini.” Yixing memberikan Taeyeon sebuah botol kecil pada Taeyeon.

Taeyeon menerima botol kecil itu dan menyimpannya dimeja kecil didepan mereka, cairan kimia itu terlihat seperti air biasa namun siapa sangka cairan itu bisa sangat berbahaya.

“Terimakasih kau sudah mau membantuku.” Yixing berkata dan Taeyeon tersenyum.

“Sama-sama, aku melakukan ini karena aku ingin Hyojin bahagia…”Ucap Taeyeon.

“Kau melakukan hal yang benar Taeyeon, jika kita tidak bertindak..siapa yang akan merubah takdir mereka,benarkan?”

“Kita bukan tuhan disini Yixing, kita tidak bisa merubah takdir.”

“Taeyeon! Ingat, jika kita tidak melakukan ini…Yifan akan mati dan aku tahu kau tidak ingin itu.” Yixing mengungkapkan dan Taeyeon terdiam.

“Selama ini..kau masih mencintai dia bukan?”

“Aku tidak mau membahas itu.” Taeyeon berdiri dan Yixing mengikuti gadis itu.

“Kenapa?apa aku benar?” Yixing mengangkat alisnya.

“Cukup! Aku tidak mau membahas dia.” Taeyeon marah dan Yixing menarik tangan Taeyeon.

“Aku benar, iyakan?” Yixing bertanya suaranya terdengar rendah hampir menggeram.

“Apa urusanmu? Kau tidak perlu tahu.” Taeyeon menjawab dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yixing namun lelaki itu mencengkramnya dengan keras.

“Apa kau buta selama ini? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku padamu?” Yixing bertanya dan Taeyeon merapatkan bibirnya.

“Aku tidak bisa Yixing,tidak untuk sekarang.” Taeyeon berkata dengan suara lemahnya, Yixing melepaskan cengkramannya saat dia melihat ekspressi sedih Taeyeon.

“Jika semua ini sudah selesai, maukah kau kembali padaku? Maukah kau jadi milikku?” Tanya Yixing penuh harap.

“Jika semua ini selesai, apa kau yakin aku masih hidup? Jung Hyojin tidak akan diam saat dia tahu kalau aku yang menyebabkan kehancurannya.”

“Dia tidak akan tahu..”

“Kau bukan tuhan! Kau tidak akan tahu bagaiman masa depan nanti.” Taeyeon membentak dan dia membuka pintu utama apartemennya.

“Pulanglah, aku harus mengurus beberapa dokumen, aku juga harus mengurus rencanamu.” Taeyeon menyuruh, dia tidak bermaksud mengusir Yixing namun untuk saat ini dia tidak bisa menghadapi lelaki itu.

Yixing melangkah menuju pintu depan, dia memakai sepatunya. Sebelum dia pulang dia mendekat kearah Taeyeon, dia memeluk Taeyeon dengan erat walaupun Taeyeon terkejut dia memeluk kembali Yixing.

“Jika kau membutuhkan aku, hubungi aku..aku akan selalu ada untukmu.” Ucap Yixing.

Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

“Kita akan melewati semua ini bersama, kau tidak sendirian Taeyeon..” Yixing berkata dia lalu pergi meninggalkan Taeyeon dengan kedinginan yang begitu tajam, Taeyeon tidak pernah merasa setakut dan sedingin ini dalam kehidupannya.

“Aku takut Yixing..” Taeyeon bergumam dan dia masuk kedalam apartemennya.

[Kediaman Yifan dan Zhongren,Ilsan – Korea selatan 21:00PM]

   Yifan turun dari mobilnya, dia berjalan sedikit sempoyongan karena dia sudah meminum soju tadi, sangat menyenangkan sekali saat dia kembali ke kasino kesukaannya di gangnam. Dia merindukan kebiasaannya yang berhura-hura dan berjudi, dia lupa betapa serunya bermain poker dan tertawa lepas tanpa beban.

Bora menemaninya tadi namun entah kenapa ciuman dan pelukan gadis itu jauh sekali berbeda dari Hyojin, dia kehilangan hasratnya saat dia merasakan bibir Bora tidak sehangat Hyojin bahkan lekuk tubuh gadis itu tidak berhasil membuat Yifan terangsang.

Entah bagaimana dia berhasil menyetir dari Gangnam sampai Ilsan tanpa ketahuan kalau dia mabuk, mungkin inilah bakat Yifan. Melakukan sesuatu yang buruk dengan baik, inilah dirinya dia hanya bisa bersenang-senang dan berjudi dia tidak pernah bisa memuaskan ayahnya, Hyojin maupun dirinya sendiri.

Dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri dia harap dia bisa menghilang begitu saja dan semuanya akan kembali seperti semula, dia tidak akan mengenal Hyojin, dia tidak akan bertemu ayahnya Zhoumi dan dia tidak akan pernah menghadapi Luhan.

Yifan mengodok saku celanannya mencari kunci rumahnya, namun dia gagal memasukan kunci rumahnya kedalam lubang kunci. Dia mengerang kesal namun tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, tubuh Yifan langsung jatuh kedepan beruntung seseorang menahannya.

“Hyung!” Suara Zhongren terdengar dan Yifan menyeringai.

“Zhongren-ah..sepertinya aku kalah..aku minum alkohol..banyak…sekali.” Yifan berkata dengan setengah sadar.

“Hyung! Kau darimana saja? Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?” Zhongren kedengaran marah, Yifan hanya mengerang dan menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit.

“Zhongren-ah..kau sebaiknya putus dengan Hyojung, dia tidak akan senang jika dia tahu..” Yifan berbicara melantur,Zhongren membantu kakaknya itu untuk berjalan sampai kekamarnya.

Sudah lama sekali Zhongren tidak melihat Yifan mabuk, dia sedikit terkejut saat dia melihat kakaknya itu sempoyongan tadi. Zhongren membuka mantel Yifan dan menyimpannya ditempatnya, Zhongren mengambilkan kakaknya air minum putih dan obat aspirin.

“Bagun dulu Hyung,kau harus minum obat.” Zhongren membantu Yifan bangun, Yifan meminum obat aspirinnya dan langsung tidur kembali.

Zhongren duduk disamping tubuh Yifan yang terlentang diranjangnya, Zhongren tahu ada sesuatu yang salah. Yifan tidak pernah minum sampai mabuk jika dia benar-benar tertekan dan stress, hari ini dia minum banyak sekali sampai mabuk dia beruntung dia tidak ditilang oleh polisi saat dia menyetir.

“Hyung kau kenapa? Kenapa kau mabuk seperti ini?” Zhongren bertanya, dia merasa sedikit konyol mengajak mengobrol pada kakaknya yang jelas-jelas sudah tidur.

Zhongren menarik selimut dan menyelimutinya, kakaknya tertidur lelap sekali namunZhongren khawatir. Dia tahu sesuatu terjadi, Zhongren menghidupkan handphonenya dan menghubungi nomor Hyojung.

Dia tahu ini sudah malam namun dia harus tahu apa yang terjadi,Zhongren menunggu Hyojung mengangkat teleponnya dia berjalan keluar dari kamar Yifan dan menutup pintu kamar kakaknya.  Tanpa Zhongren sadari Yifan membuka matanya saat dia mendengar Zhongren menutup pintu kamarnya, airmata jatuh dari matanya dan dia langsung menyeka airmata itu.

Tidak peduli berapa banyak alkohol yang dia minum, bayangan Hyojin tidak juga hilang dari otaknya. Wajah Hyojin yang sedang menangis terus menghantui nya, dia merasa sangat bersalah dan sengsara. hidup tanpa Hyojin disampingnya benar-benar menyakitkan.

“Oppa?kenapa kau meneleponku malam-malam?” Hyojung bertanya dia terdengar sangat mengantuk.

“Maaf Hyojung-ah, aku hanya ingin bertanya..” Zhongren mengungkapkan, dia membuka pintu belakang rumahnya dan melangkah menuju halaman belakang rumah.

“Ada apa Oppa?”

“Apa Hyojin noona baik-baik saja?” Tanya Zhongren.

“Uh? Eonni pergi tadi sore, dia belum pulang sampai sekarang..aku tidak tahu kemana dia pergi, dia kelihatan marah saat pergi aku mencoba untuk bertanya namun dia mengacuhkan aku.” Hyojung menjawab, Zhongren tahu sesuatu terjadi diantara kakaknya dan Hyojin.

“Baiklah, hubungi aku jika Hyojin noona sudah pulang.” Ucap Zhongren.

“Baiklah, Oppa apa semuanya baik-baik saja? Kau terdengar khawatir..” Hyojung bertanya.

“Ya semuanya baik-baik saja Hyojung-ah, tidurlah.” Zhongren berkata, dia menutup teleponnya dan menghela nafasnya.

“Kau dimana Noona?” Zhongren bergumam.

[Club malam 22:00pm]

“Woohoo!!” Suara teriakan lelaki terdengar keras sekali dari lantai dansa, musik disko keras sekali memenuhi teling Hyojin. Dia meneguk gelas martininya dan mengusap rambutnya, dia bisa melihat seorang lelaki yang bersandar di ujung bar tersenyum kearahnya dia tidak sedang dalam mood untuk bersikap manis, diapun berbalik membelakangi lelkai itu.

Hyojin meminum lagi minuman martininya dan memijat kepalanya yang mulai pusing, dia tidak peduli yang jelas dia ingin melupakan semua penatnya. Sebuah tangan menyentuh  bahunya dan dia berbalik, Luhan tersenyum kearahnya saat tatapan mereka bertemu.

“Kau sudah mabuk Hyojin-ah, ayo pulang.” Luhan berkata dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak mau pulang.” Hyojin menjawab dan Luhan duduk disampingnya, dia memesan satu botol beer.

“Ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku ke club.” Luhan bertanya, dia tersenyum kearah bartender yang mengantarkan pesanannya dan membayar minumannya.

“Aku bosan terus dirumah dan bekerja.” Hyojin berbohong, dia tidak ingin membahas tentang Yifan sekarang lelaki itu sebaiknya menghilang agar Hyojin bisa melupakannya.

“Kau bosan? Benarkah? Kenapa kau tidak menelepon Yifan ge? Dia pasti senang menemanimu.” Luhan bertanya dan Hyojin hanya tersenyum tipis.

“Aku tidak ingin menganggu dia.”

Musik disko berubah menjadi lebih cepat dan semua orang mulai pergi kelantai dansa untuk menari, Luhan tersenyum dia menarik Hyojin untuk menari dilantai dansa, Hyojin awalnya menolak namun dia akhirnya setuju.

Hyojin terlalu mabuk untuk menyadari kalau dirinya tidak bisa menari, dia namun dia beruntung karena sepertinya Luhan tidak memperhatikan bagaimana dia menari. Hyojin hanya menggerakan tubuhnya sesuai dengan irama musik disko yang sangat cepat, sesekali dia mengibaskan rambutnya dan menggerakan pinggangnya berdendang bersama orang-orang disekitarnya.

Beberapa lelaki mencoba mendekatinya namun Hyojin langsung mendorong lelaki itu menjauh, Luhan yang melihat itu langsung menarik Hyojin mendekat kearahnya. Hyojin berbalik membelakangi masih berdendang mengikuti irama musik, Luhan melingkarkan tangannya dipingang Hyojin dan Hyojin menyentuh leher Luhan.

Hyojin terlihat sangat seksi dengan balutan mini dressnya, Luhan tergoda untuk mencium leher gadis itu saat gadis itu menyandar kepundaknya. Hyojin berbalik lagi dan sekarang mereka saling berhadapan, entah apa yang merasuki Hyojin gadis itu tiba-tiba saja berbisik ketelinga Luhan.

“Ayo kita pulang, ke apartemenmu.” Hyojin berbisik, Luhan tidak bisa menolak suara Hyojin yang rendah dan penuh godaan.

Luhan mengangguk, dia menarik Hyojin untuk keluar dari club yang sangat ramai sekali. Mereka berjalan sambil berpengangan tangan.

Luhan memakaikan mantel coklat Hyojin untuk gadis itu, Hyojin terlalu mabuk untuk menyadari kalau diluar sudah dingin sekali. Luhan mengancingkan mantel Hyojin dan gadis itu tersenyum, Luhan mengelus pipi Hyojin dan naik keatas motornya.

“Hari ini, biarkan saja mobilmu disini..aku sudah menguncinya tadi.”Luhan berkata dan Hyojin mengangguk, dia naik keatas motor Luhan dan memeluk tubuh lelaki itu dari belakang.

Luhan menghidupkan mesin motornya dan mereka langsung melesat membelah jalanan Seoul yang sangat sepi, Hyojin memeluk Luhan lebih erat saat lelaki itu mempercepat laju motornya. Rambut panjangnya langsung tertarik kebelakang oleh hembusan angin dingin, dia sedikit kedinginan namun hangat tubuh Luhan membuatnya tidak terlalu kedinginan.

Tidak memakan waktu yang lama mereka berdua sampai didepan apartemen Luhan, mereka berdua tertawa saat mereka sadar kalau mereka bisa mati kedinginan jika mereka terus berada diluar. Luhan menarik Hyojin untuk masuk kegedung apartemennya, dia menekan tombol lift dan pintu liftpun terbuka.

Saat mereka masuk kedalam lift udara mulai sedikit lebih hangat, Luhan menggosokan tangannya dengan tangan Hyojin agar gadis itu tidak kedinginan. Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar dari lift, masih bergandengan tangan sampai akhirnya Luhan harus melepaskan tangan Hyojin karena Luhan harus membuka kunci pintu apartemennya.

Hyojin membuka mantelnya saat dia sampai di apartemen Luhan, apartemen Luhan cukup besar dengan dua kamar tidur dan dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Luhan menghidupkan lampu aparemennya membuat mata Hyojin sedikit sakit karena lampu apartemen Luhan terlalu terang,Luhan yang melihat Hyojin menutup matanya tertawa.

“Apakah lampunya terlalu terang?” Luhan bertanya dan Hyojin mengangguk.

Luhan akhirnya mematikan beberapa lampu extra dan menghidupkan lampu-lampu kecil yang ada disudut ruangan apartemennya, Hyojin berjalan menuju jendela besar yang ada diapartemen Luhan dan dia bisa melihat pemandangan kota Seoul yang sangat indah.

“Kau menyukainya? Saat pertamakali aku pindah kesini aku selalu memandangi kota seoul dari jendela itu.” Luhan mengungkapkan, dia berdiri disamping Hyojin.

“Ya, indah sekali..” Hyojin berkata, entah kenapa dia merasa sangat melankolis saat dia melihat lampu-lampu indah kota Seoul.

Luhan terkejut saat dia melihat airmata menetes dari mata Hyojin, gadis itu menangis.

“Hyojin..”

“Ah..maaf aku tidak bermaksud untuk menangis..” Hyojin langsung menyeka airmatanya, Luhan langsung mencegahnya.

Hyojin menatap kearah Luhan, Luhan menyeka airmata Hyojin dengan jempolnya dia tersenyum tipis kearah Hyojin dan memeluk gadis itu dengan erat. Hyojin menunduk dan menangis didalam pelukan Luhan, dia beruntung sekali memiliki Luhan disampingnya karena dia tidak bisa menangis didepan Hyojung apalagi Yongguk.

“Menangislah..aku tahu kau menahannya dari tadi.” Luhan berkata dia mengelus punggung Hyojin.

Luhan bisa merasakan cairan hangat menetes membahasi kain bajunya, Hyojin benar-benar menangis dan itu membuat Luhan sedih. Dia sedih sekali saat dia mendengar  isakan tangis Hyojin, begitu pilu dan menyedihkan benar-benar menyiksa Luhan.

Dia ingin sahabatnya itu kembali bahagia seperti biasanya, berceloteh tentang kehidupan dan hobinya. Hyojin melepaskan pelukan Luhan dan dia menyeka airmatanya sendiri, Luhan mengambil kotak tissue yang ada dimeja dan memberikannya pada Hyojin.

“Apa kau ingin menceritakannya?” Tanya Luhan dengan lembut.

Hyojin terdiam sesaat, mungkin mempertimbangkan apakah dia harus menceritakan keluh kesahnya atau tidak. Luhan hanya diam menunggu jawaban dari Hyojin, Hyojin menatapnya dan mengangguk.

“Ya,aku ingin menceritakannya.” Hyojin menjawab.

Mereka berdua duduk disofa, Hyojin sudah lebih tenang sekarang dia mulai sadar karena sakit kepalanya hilang setelah dia menangis. Dia bisa meraskaan tangan Luhan masih mengelus punggungnya penuh dengan kelembutan, terkadang dia suka dengan sikap manis Luhan karena dia tahu Yifan tidak akan pernah bisa selembut dan sensitive seperti Luhan.

“Yifan Oppa..dia membuatku memilih antara dia atau perusahaanku.” Hyojin mengawali, dia bisa melihat Luhan terkejut.

“Apa?”

“Ya, dia mengatakan jika aku ingin bersamanya aku harus menyerahkan perusahaanku dan pergi bersama dia.” Hyojin menjelaskan dan Luhan hanya diam, dia mendnegar gadis itu berbicara.

“Apa yang harus aku lakukan Luhan? Aku..aku mencintai Yifan Oppa tapi aku tidak bisa meninggalkan perusahaan dan Hyojung begitu saja.” Hyojin melanjutkan, suaranya mulai pecah karena menahan tangis.

“Hyojin, aku rasa kau sebaiknya tidak egois.” Luhan menasehati, dia tahu dia mengatakan ini karena dia tidak ingin kehilangan Hyojin.

“Haruskah aku berpisah dengan dia?”

“Jika dia mencintaimu dia tidak akan membuatmu memilih, dia tahu betapa pentingnya perusahaan dan Hyojung bagimu.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk.

“Kau benar, tapi..aku mencintai dia Luhan, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Kalau begitu carilah pengganti dia! Aku yakin banyak lelaki yang mengiginkanmu.”

Hyojin hanya diam, dia tahu banyak lelaki yang menginginkannya tapi dia hanya ingin Yifan, dia tidak suka lelaki lain dia hanya menyukai lelaki itu.

“Aku tahu, tapi aku hanya ingin Yifan Oppa.”

Luhan marah sekali saat dia mendengar itu, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mulutnya sudah gatal, dia ingin mengungkapkan semua kebusukan Yifan pada Hyojin, semua ini tidak adil,Luhan ingin Hyojin melupakan Yifan dan dia tidak dalam hubungan baik dengan Yifan dia bisa saja mengatakan semuanya pada Hyojin.

Namun Luhan tidak egois, dia tahu jika dia mengatakan yang sebenarnya dia akan melukai Hyojin juga, gadis itu pasti tidak akan pernah percaya lagi pada Yifan apalagi lelaki lain.

“Hyojin-ah bagaiman denganku?” Luhan menatap kearah Hyojin dan Hyojin terdiam.

“Kau sahabatku Luhan..”

“Lalu? Aku mengerti kamu lebih baik dari Yifan, aku bisa memberikanmu apapun yang kau mau..aku lebih baik dari dia.” Luhan memberi alasan dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Tidak Luhan..kau,kau sudah seperti saudara bagiku dan Yifan Oppa akan marah jika dia tahu kalau kit—“

Sebelum Hyojin menamatkan kalimatnya Luhan langsung menarik Hyojin kedalam ciumannya, bibir mereka berdua awalnya hanya bersentuhan. Hyojin mendorong Luhan namun Luhan menarik lebih keras, Hyojin membuka mulutnya untuk menarik nafas karena dia tidak bisa bernafas, Luhan langsung memasukan lidahnya kedalam mulut Hyojin.

   Mereka berciuman penuh dengan hasrat walaupun awalnya Hyojin menolak ciuman Luhan namun akhirnya wanita itu mengalah, dia membiarkan Luhan mengecup dan menggoda lidahnya sesekali menggigit bibirnya dengan lembut. Hyojin melenguh saat Luhan menyentuh salah satu buah dadanya, Hyojin mencoba melepaskan tangan Luhan dari dadanya namun malam ini Luhan memutuskan untuk menjadi pemimpin.

[Kediaman Yifan dan Zhongren, Ilsan – Korea selatan 07:00AM]

  Yifan bangun dari tidurnya dia langsung berlari kekamar mandi, dia memuntahkan semua alkohol yang dia minum kemarin malam. Tenggorokannya terasa sakit, Zhongren yang mendengar Yifan muntah segera berlari kekamar kakaknya.

Zhongren menemukan Yifan sudah menunduk di toilet dan dia menekan tombol flush di toiletnya, Yifan menyeka mulutnya dan Zhongren memijat pundak kakaknya itu.

“Hyung,kau mau minum? Kau ingin minum lagi obat?” Zhongren bertanya namun Yifan mendorong Zhongren menjauh darinya.

“Pergilah,aku baik-baik saja.” Yifan berkata dia menyentuh kepalanya yang terasa sakit, dia menghidupkan air di wastafelnya dan membasuh mukanya.

“Hyung..apa yang terjadi? Apa kau bertengkar dengan Hyojin noona?” Tanya Zhongren dan Yifan menghela nafasnya, dia tidak ingin membahas soal Hyojin hari ini.

“Bukan urusanmu, bukankah kau harus bekerja hari ini?” Yifan mengalihkan topic pembicaraan.

“Aku tidak punya pemotretan hari ini, Hyung..jawab aku! Apa yang terjadi diantara kalian? Apakah kau tahu Hyojin noona tidak pulang semalaman.” Zhongren memberitahu dan Yifan berbalik menatap kearah Zhongren.

“Darimana kau tahu?”

“Hyojung, aku meneleponnya tadi..dia bilang Hyojin noona tidak pulang.” Zhongren menjawab.

Yifan marah dia langsung berjalan kekamarnya dan menyambar ponselnya, dia menghubungi nomor Hyojin dan menunggu sampai wanita itu mengangkat panggilannya. Hyojin tidak juga mengangkat panggilannya membuat dia kesal, sekali lagi dia menghubungi nomor kekasihnya itu namun hasilnya sama.

“Bagaimana Hyung?apa dia mengangkat teleponnya?” Tanya Zhongren dan Yifan menggelengkan kepalanya.

Yifan duduk diranjangnya dan mengusap wajahnya, frustasi. Zhongren hanya bisa menatap sedih kearah kakaknya, dia tahu ada sesuatu yang salah antara Yifan dan Hyojin.

“Apa yang kau lakukan Hyung?apakah ini ada hubunganya dengan ayahmu?” Zhongren memecah hening diantara mereka.

“Kau tidak usah tahu.” Yifan membalas.

“HYUNG!” Zhongren marah, dia tidak suka jika Yifan sudah mulai merahasiakan sesuatu darinya.

“Aku adikmu, walaupun bukan karena darah…tapi aku menyayangimu Hyung! Aku khawatir kau bilang kau tidak akan mabuk lagi tapi kemarin kau mabuk, apa yang terjadi? Kemana Hyojin noona apakah kau tahu kemana dia pergi?” Zhongren marah.

“Aku menyuruhnya untuk memilih…antara aku atau perusahaannya.” Yifan mengungkapkan.

Mwo?! Paboya?!” Zhongren berteriak.

“Aku tidak punya pilihan lain! Aku mencoba membujuknya namun dia tetap keras kepala.” Yifan mengungkapkan dan Zhongren menunduk.

“Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak ingin menyakitinya..aku tidak peduli dengan semua kekayaan yang ayahku janjikan, aku hanya ingin bersama dia..aku mengajaknya untuk kabur namun dia menolak.” Yifan melanjutkan, dia terdengar sangat putus asa sekali.

“Hyung..”

“Aku tahu, aku bukan lelaki yang baik…aku memang jahat! Aku brengsek!” Yifan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Zhongren tahu kalau kakaknya itu menangis.

Zhongren sendiri terkejut, dia tidak pernah menyangka kalau Yifan akan menangis dihadapannya karena Hyojin. Zhongren ikut menunduk, hubungan dia dengan Hyojung pasti dalam bahaya juga sekarang dia tahu Hyojung tidak akan senang jika dia mendengar ini.

“Apa kau ingin aku putus dengan Hyojung juga?” Zhongren bertanya.

“Apa?”

“Karena aku mungkin putus dengan Hyojin noona, apakah kau ingin aku mengakhiri hubunganku dengan Hyojung? Kita bisa memulai lagi dari awal Hyung..aku tidak keberatan.” Zhongren berkata.

“Tidak..kau layak mendapatkan kehidupan seperti ini Zhongren, kau bekerja keras.” Yifan menjawab.

“Tapi Hyung, jika kau seperti ini..aku lebih baik hidup seperti dulu.”

“Cukup Zhongren! Kau tidak akan pergi kemana-mana, bisakah kau tinggalkan aku sendirian?” Yifan meminta dan Zhongren mengangguk.

Zhongren menutup pintu kamar Yifan, dia sangat khawatir namun dia tahu kalau Yifan hanya butuh waktu sendirian agar dia merasa sedikit tenang.

[Apartemen Luhan dan Yixing, Seoul – Korea selatan 07:40AM]

    Luhan sebenarnya sudah bangun dari tadi, dia hanya diam dan memandangi Hyojin yang tidur disampingnya. Gadis itu terlihat sangat damai sekali saat dia tertidur, bibirnya terbuka sedikit dan Luhan baru sadar betapa panjangnya bulu mata Hyojin.

Mata Hyojin perlahan terbuka dia terkejut saat melihat Luhan menatap kearahnya, namun dia tersenyum.

“Apa kau haus?” Luhan bertanya dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

Luhan mendekat dan dia melingkarkan tangannya dipinggang Hyojin, dia mencium dahi gadis itu dan tersenyum. Dia bahagia sekali, fantasinya selama ini telah menjadi kenyataan dan dia masih belum percaya.

“Luhan,sudah jam berapa ini?” Tanya Hyojin, dia sadar kalau matahari sudah tinggi sekarang.

“Entahlah, mungkin jam delapan.” Luhan menebak.

“Aku harus pulang, Hyojung pasti khawatir.”  Hyojin hendak bangkit namun Luhan menarik tubuh Hyojin.

“Apa kau akan pulang telanjang? Kau tahukan pakaianmu aku robek kemarin malam.” Luhan tersenyum dan Hyojin mengigit bibirnya malu.

“Kau benar..” Hyojin menarik selimut Luhan lebih tinggi untuk menutup dadanya.

“Kau tak usah khawatir, aku punya baju yang kecil untukmu.” Luhan mengambil boxernya yang ada dibawah ranjangnya, dia tidak tahu bagaimana boxernya bisa sampai ada disana.

Luhan membuka lemarinya dan Hyojin mulai panik mencari pakaian dalamnya, dia bisa menemukan celana dalamnya tidak jauh disampingnya sedangkan branya ada dibawah ranjang Luhan dia langsung memakai pakaian dalamnya sampai akhirnya Luhan berbalik memberikannya baju ganti.

“Ini baju untukmu, aku akan menyiapkan sarapan dulu jika kau mau mandi dulu kamar mandinya ada disitu.” Luhan menunjuk kearah pintu yang berada tidak jauh dari lemarinya.

“Terimakasih.” Hyojin berkata,Luhan tersenyum dia mengambil jeansnya dan memakainya lalu keluar dari kamarnya.

Hyojin mengusap wajahnya, apakah dia baru saja tidur dengan Luhan? Hyojin menghela nafasnya dia sehausnya tidak minum martini tadi malam. Hyojin memakai baju yang luhan berikan padanya, tetap saja pakaian Luhan masih terlalu besar untuknya apalagi jeansnya.

Hyojin masuk kekamar mandi Luhan, dia menghidupkan air di wastafel dan membasuh mukanya. Dia mengelap wajahnya dengan handuk yang ada disamping wastafel, dia menatap kearah bayangannya yang ada dikaca wastafel dan dia membenci wajah itu.

Hyojin membenci dirinya sendiri, dia baru saja tidur dengan adik tiri Yifan. Sangat rendahan sekali dia,Hyojin ingin menangis namun dia tidak bisa karena jauh dilubuk hatinya dia merasa lega.

Dia lega karena dia tidur dengan Luhan, jika dia tidur dengan lelaki lain dia akan merasa kecewa dan semakin jijik pada dirinya sendiri. Hyojin melangkah keluar dari kamar Luhan dan dia langsung disambut oleh Luhan yang sedang memasak, Hyojin tidak tahu apa yang sedang Luhan masak namun lelaki itu kelihatannya sangat fokus.

“Ah! Luhan..” Yixing keluar dari sebuah ruangan yang tidak jauh dari dapur, dia terkejut saat dia melihat sosok Hyojin yang berdiri dibalakang Luhan.

“Hwajang-nim, apa yang anda lakukan disini?” Yixing bertanya dan Luhan berbalik.

“Oh dia menginap, semalam dia mabuk.” Luhan memberi alasan pada Yixing.

“Benar, Luhan sebaiknya aku pergi sekarang..aku harus pulang.” Hyojin berkata dia merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang.

“Hyojin, kau pasti lapar makanlah dulu aku akan mengantarmu nanti.” Luhan mendekat dan dia menarik Hyojin untuk duduk di kursi meja makan.

“Apa kau suka nasi goreng kimchi? Aku memasak itu sekarang.” Luhan bertanya dan Hyojin mengangguk.

Yixing ikut bergabung duduk di kursi meja makan, Yixing menatap kearah Luhan seakan dia meminta penjelasan pada pemuda itu. Luhan hanya tersenyum dan mengangguk, Yixing terkejut dia tidak percaya kalau Luhan dan Hyojin akhirnya tidur bersama.

“err..Hwajang-nim, apakah kau sudah putus dengan Yifan?” Tanya Yixing dan Hyojin hanya diam.

“Yixing, kau sebaiknya tidak menanyakan hal itu di pagi hari yang cerah seperti ini.” Luhan berkata dia menyajikan nasi gorengnya untuk Hyojin dan lelaki itu mencium kepala Hyojin.

“Makanlah yang banyak.” Luhan berkata dan Hyojin mengangguk.

[Perusahaan Jung, Seoul – Korea selatan 08:20 AM]

  Tiga orang pria dengan jas hitam putih mereka turun dari sebuah mobil patrol kepolisian, ketiga pria itu masuk kedalam gedung perusahaan. Eunbi resepsionis perusahaan langsung menyambut ketiga lelaki itu dengan sopan, saah satu lelaki yang berjalan paling depan akhirnya berbicara.

“Kami dari kepolisian Seoul, kami ingin bertemu dengan direktur utama anda.” Polisi itu berkata dan Eunbi langsung panik.

Eunbi menghubungi nomor Yuri, Yuri mengangkat teleponnya Eunbi semakin panik saat dia mengatakan kalau Hyojin tidak ada ditempat. Eunbi menjelaskan kalau ada tiga orang polisi yang ingin bertemu dengan Hyojin, Yuri menyuruh Eunbi untuk mengantar ketiga polisi itu keruangan kantor Hyojin dan Yuri akan menghubungi bos nya.

“Maaf tuan direktur kami belum datang,tapi kalian bisa menunggu di kantornya.” Eunbi berkata dia mengantar ketiga polisi itu keruangan Hyojin.

****

  Hyojin turun dari motor Luhan, dia berterimakasih pada Luhan dan berbincang dengan lelaki itu sesaat. Yifan yang sudah menunggu Hyojin didalam mobilnya segera turun, dia tersenyum saat dia melihat sosok Hyojin namun senyum dia hilang saat dia melihat Luhan bersama gadis itu.

Luhan tersenyum dan dia mengelus kepala Hyojin, dada Yifan langsung bergemuruh penuh dengan kecemburuan. Luhan mendekat kearah Hyojin dan lelaki itu mengecup bibir Hyojin, Hyojin tidak menolak dan dia tersenyum tipis.

Yifan mengepalkan tangannya penuh emosi ingin sekali dia memukul wajah Luhan saat dia melihat betapa lancangnya dia mencium Hyojin begitu saja, namun yang lebih menyakitkan adalah Hyojin tidak menolak ciuman itu dia malah tersenyum.

Yifan bersembunyi saat dia melihat Luhan melirik kearah gerbang rumah Hyojin dimana dia berdiri, Yifan mengintip lagi dan Luhan sudah naik keatas motornya untuk keluar. Yifan bersembunyi di mobilnya, dia melihat Luhan berlalu pergi dan Hyojin masuk kedalam rumah.

Hyojin melangkah masuk kedalam rumah, dia segera disambut oleh Hyojung yang kelihatannya menunggu dia dari tadi.

“Eonni! Aku khawatir sekali!” Hyojung berkata dia berlari dan memeluk kakaknya.

Hyojin tersenyum, dia merasa bersalah karena sudah membuat adiknya sangat khawatir. Hyojung melepaskan pelukannya, dia kebingungan seingat dia kakaknya keluar dengan mini dress hitam bukan kaos yang sediit kebesaran dan jeans yang jelas terlalu besar untuk pingang kakaknya.

“Eonni, kemana baju mini dressmu?” Tanya Hyojung.

“Err, kotor..jadi aku meminjam baju Luhan dulu.” Hyojin menjawab dengan canggung, dia beruntung saat Hyojung hendak berbicara handphone bergetar.

“Ya Kwon biseo-nim, ada apa?” Hyojin mengangkat teleponnya.

“Hwajang-nim, maaf tapi disini ada tiga orang polisi yang ingin bertemu dengan anda.”

“APA?polisi? kenapa?” Hyojin bertanya, Hyojung yang mendengar kata polisi kaget juga.

“Entahlah Hwajang-nim, mereka mengatakan kalau mereka menemukan zat kimia berbahaya di bahan tekstil perusahaan kita.” Yuri menjelaskan dan Hyojin terkejut.

“Baiklah, aku akan kesana sekarang.” Hyojin menutup teleponnya.

“Ada apa Eonni?” Tanya Hyojung.

“Bukan apa-apa kau sudah sarapan? Sarapanlah dulu aku harus kekantor.” Hyojin berkata dan berbalik menuju kamarnya untuk berganti baju.

Hyojung hendak mencegah kakaknya namun dia tidak sempat, kakaknya itu sudah berlari jauh darinya. Hyojin masuk kedalam kamarnya dan segera mengganti bajunya, setelah itu dia menyisir rambut panjangnya dan memakai make up nya dia tidak boleh terlihat acak-acakan didepan para polisi.

Dia mencium badannya dan dia mencengkram bajunya saat dia bisa mencium harum parfum Luhan masih melekat di tubuhnya, dia langsug memakai parfumnya menghilangkan harum tubuh Luhan dari tubuhnya dan segera mengambil tasnya.

Hyojin menyuruh pak Hwangjun untuk mengantarnya, meskipun Yongguk ada disampingnya saat itu. Yongguk hendak mengatakan sesuatu namun Hyojin mengacuhkan lelaki itu dan masuk kedalam mobil, hubungannya dengan Yongguk tidak pernah kembali seperti dulu lagi.

Yongguk hanya bisa meralakan Hyojin saat gadis itu menutup pintu mobil tanpa melirik kearahnya ataupun mengatakan apapun, Yongguk tidak tahu harus bagaimana memperbaiki hubungan mereka.

“Nona, apakah nona masih marah pada Yongguk?” pak Hwangjun supirnya bertanya saat mereka sedang di perjalanan.

“Marah? Aku tidak marah padanya.” Hyojin berbohong, dia sebenarnya tidak ingin menjelaskan kenapa dia dan Yongguk semakin menjauh.

“Benarkah? Lalu kenapa nona selalu menjauh darinya? Nona biasanya sangat dekat dengan Yongguk.” Pak Hwangjun melanjutkan dan Hyojin hanya tersenyum tipis.

“Mungkin karena aku sibuk.” Hyojin memberi alasan, darisana pak Hwangjun tidak bertanya lagi dan fokus menyetir.

Beberapa menit berlalu dan mereka akhirnya sampai dikantor, pak Hwangjun membukakan pintu untuk Hyojin dan wanita itu langsung turun dari mobilnya. Hyojin berjalan masuk kekantor dia langsung disambut oleh Eunbi yang sangat khawatir, Eunbi mengantarkannya kekantor sambil menjelaskan keadaan.

Eunbi mengatakan kalau dia melihat tiga orang polisi yang sedang mengintrogasi Yuri dan sebagain pegawai disini, mereka membawa surat ijin menggeledah kantor Hyojin dan pabrik. Hyojin semakin gugup saat dia mendnegar penjelasan Eunbi, pintu lift terbuka dan dia berhadapan dnegan tiga polisi yang Eunbi ceritakan.

“Selamat siang, nona Jung Hyojin saya Kim Sunggyu.” Salah seorang polisi berkata, dia mengulurkan tangannya kearah Hyojin.

“Selamat siang Kim Sunggyu-shi.” Hyojin membalas.

“Anda mungkin bertanya-tanya kenapa kami datang kesini, kami mendapatkan laporan kalau perusahaan anda menggunakan beberapa bahan kimia yang membahayakan lingkungan dan kostumer anda.” Sunggyu menjelaskan.

“Apa? Tapi setahu saya saya tidak pernah mengijinkan pegawai saya untuk memakai zat kimia yang berbahaya.”

“Maaf nona Jung, tapi saya sudah memiliki bukti.” Sunggyu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jasnya.

“Botol ini berisi zat pewarna Aza dan zat lainnya, anda bisa mendapatkan keterangannya di kantor polisi jadi sebaiknya anda ikut kami kekantor polisi untuk keterangan lebih lanjut.” Sunggyu melanjutkan, Hyojin bisa mendengar Yuri menarik nafasnya terejut.

“Maaf Sunggyu-shi, tapi sepertinya disini ada kesalah pahaman.” Hyojin mencoba menjelaskan.

“Mungkin anda benar, tapi kami harus mendapatkan keterangan dari anda terlebih dahulu untuk saat ini anda adalah saksi dari kasus ini jadi saya mohon anda untuk segera datang ke kantor polisi.” Sunggyu menyarankan dan Hyojin mengangguk.

“Baiklah, saya akan pergi kekantor polisi setelah saya selesai bekerja.” Hyojin menyetujui.

“Baiklah, saya dan rekan kerja saya akan menunggu kehadiran anda di kantor polis nona Jung.” Sunggyu berkata, dia permisi untuk pergi dan kedua rekan kerjanya mengikuti langkah Sunggyu.

“Hwajang-nim, bagaimana ini?” Yuri berkata panik.

“Aku akan mengurus ini, sebaiknya kau memanggil Taeyeon untukku dan panggil juga manajer-manajer produksi.” Hyojin memerintah dan Yuri mengangguk.

Yuri mengangguk dan dia pergi untuk melaksanakan perintah Hyojin, Hyojin mengusap rambutnya dan masuk kedalam kantornya. Dia duduk dikursinya dan dia melirik kearah foto yang ada dimejanya, foto itu adalah foto saat dia dan Yifan berlibur kepulau Jeju Hyojung dan Zhongren ikut dan mereka berempat memutuskan untuk mengambil foto bersama.

Yifan tersenyum dan melingkarkan tangannya dipingang Hyojin, Hyojin tersenyum menatap lurus kearah kamera sedangkan Hyojung dan Zhongren memasang pose sok keren mereka. Hyojin tersenyum tipis mengingat betapa bahagianya mereka, rasanya dia ingin embali sesaat kemasa lalu dan mengingat betapa bahagianya dia saat itu.

Hyojin menutup foto itu dan menghela nafasnya, ini bukan saatnya untuk memikirkan Yifan. Perusahaannya sedang dalam bahaya sekarang, dia harus tahu siapakah yang memulai semua kesalah pahaman ini, Hyojin tidak mengerti dari mana Sunggyu mendapatkan bukti kalau perusahaannya menggunakan zat kimia yang berbahaya.

Hyojin mengambil handphonenya dan dia terkejut sata dia melihat sebelas panggilan tidak terjawab dari Yifa, bahkan Yifan meninggalkan satu voice mail untuknya. Hyojin tidak tahu kalau dia harus mendengarkan nya atau tidak, Hyojin memutuskan untuk mendengarkannya dan mendekatkan ponselnya ketelinganya agar dia bisa mendnegar voice mail Yifan.

Hyojin-ah, ini aku…aku tidak tahu harus berkata apa, aku..aku tidak marah aku hanya sedikit panik kemarin..aku dengar kau tidak pulang, aku sangat khawatir..aku mohon telepon aku jika kau mendengar pesan ini –click-

  Hyojin meremas ponselnya saat dia mendengar pesan suara Yifan, dia ingin menangis namun perhatiannya langsung tertuju pada pintu kantornya karena dia mendnegar seseorang mengetuknya, Hyojin menyuruh orang itu masuk dan dia bisa melihat Taeyeon dan ketiga orang manajer produksi menunduk kearahnya.

Mereka berempat mendekat kearah Hyojin, Hyojin menatap pada keempat orang yang berdiri didepannya. Taeyeon terlihat sangat gugup bahkan Hyojin bisa melihat wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, Youngjae dia adalah manajer baru dan dia kelihatannya belum mengerti kenapa dia dipanggil, Himchan terlihat sama gugupnya dengan Taeyeon dan Sulli hanya berdiri menunduk entah apa yang wanita itu sedang pikirkan.

“Apa kalian tahu kenapa kalian dipanggil kesini?” Tanya Hyojin dan keempat orang itu mengangguk.

“Kalian sudah mendengar soal zat kimi berbahaya yang ada di pabrik?”

Taeyeon dan yang lainnya mengangguk lagi, Hyojin masih memperhatikan wajang keempat pegawainya itu.

“Apa kalian ada hubungannya dengan Zat kimia itu? Sebaiknya kalian jujur atau kalau tidak aku akan melaporkan kalian semua kekantor polisi.” Hyojin mengancam dan dia bisa melihat keempat orang yang berhadapan dengannya semakin gugup.

“H-hwajang-nim..kami bersumpah..kami tidak tahu apa-apa soal Zat kimia itu.” Youngjae memulai dia menyeka keringat dingin didahinya.

“Lalu bagaimana zat kimia itu bisa berakhir dipabrik?!” Hyojin marah dan menggebrak meja, dia bisa melihat Sulli dan Taeyeon semakin panik.

“Kau! Kim Taeyeon-shi, apakah kau mengontrol semua barang-barang yang masuk ke pabrik dengan benar?” Tanya Hyojin dan Taeyeon mengangguk.

Nde, Hwajang-nim

“Lalu kenapa kau sampai tidak tahu kalau barang seperti zat kimia yangberacun bisa sampai di pabrik kita?!” Hyojin membentak dan Taeyeon menunduk meminta maaf berkali-kali.

“Aku tidak tahu Hwajang-nim,aku benar-benar tidak tahu.” Taeyeon mengigit bbirnya, jika dia mengigit bibirnya lebih keras bibirnya akan berdarah.

“Lalu bagaimana dengan kalian?!” Hyojin melirik kearah Youngjae, Sulli dan Himchan.

“Kami selalu mengontrol keadaan di pabrik Hwajang-nim..dan aku tidak pernah menemukan aktivitas yang mencurigakan apalagi zat kimia yang berbahaya.” Sulli menjawab.

“Oh..jadi kalian benar-benar tidak? Baiklah…jika kalian tidk tahu, aku ingin kalian mencari siapa dalang dari semua ini, jika kalian belum juga menemukannya kalian akan aku pecat!” Hyojin mengancam dan keempat orang didepannya mengangguk.

“Baik Hwajang-nim.” Keempat pegawainya menjawab dengan kompak.

“Sekarang pergilah, selidiki keadaan di pabrik mungkin kalian akan mendapatkan petunjuk.” Hyojin memerintah dan keempat pegawainya pun menurut lalu pergi keluar dari ruangan.

“Kim Taeyeon-shi, bisakah kau diam sebentar disini.” Hyojin meminta dan Taeyeon menurut walaupun dia sedikit terkejut.

“Apa ada yang anda butuhkan Hwajang-nim?” Taeyeon bertanya.

“Bisakah kau memperhatikan ketiga manajer itu? Aku sedikit curiga, aku tahu kau dapat diandalkan.” Hyojin berkata dan Taeyeon tersenyum.

“Tenang saja Hwajang-nim, aku akan memperhatikan mereka.” Taeyeon menyetujui lalu dia pergi keluar dari ruangan Hyojin.

******

“Aku sudah menyelesaikannya, Hyojin bilang dia mempercayaiku.” Taeyeon berkata, dia bisa mendengar Yixing tertawa diseberang telepon.

“Bagus kalau begitu, kita tunggu sampai rumor sampai dipermukaan publik..kita tidak akan menunggu lama aku sudah menjual berita ini pada salah sau majalah.” Yixing menjelaskan.

“Apa yang harus aku lakukan lagi?” Tanya Taeyeon.

“Kau hanya menunggu, tidak usah memberikan keteranagn apapun..jika polisi bertanya padamu katakan kalau kau tidak tahu  apa-apa.” Yixing menyuruh dan Taeyeon menyetujui.

“Baiklah, aku akan melakukan itu..aku harap smeuanya berjalan lancar.” Taeyeon menghela nafasnya.

“Terimakasih kau sudah mau melakukan ini.” Yixing berkata.

“Aku melakukan ini untuk Yifan, kau tidak usah berterimakasih.”

“Aku tahu.”

Yixing menutup teleponnya, Taeyeon duduk dikursinya dan dia membuka laci mejanya. Dia masih menyimpan foto dia dan Yifan saat mereka masih dipanti asuhan dulu, Yifan masih sangat muda dengan seragam SMA dan rambutnya masih hitam legam.

“Yixing-ah..aku merindukanmu.” Taeyeon menatap sedih kearah foto dirinya dan Yifan.

[Perusahaan Li 12:00PM]

  Sebuah Koran dilemparkan kedepan Yixing dengan kasar, dia menyeringai saat dia melihat berita Koran itu. Sepertinya informasi yang dia berikan pada reporter kemarin langsung menyebar seperti api yang menyala, dia bisa melihat gambar Hyojin dan perusahaan textile Jung menjadi cover utama Koran hari ini.

“Apa kau merencanakan ini?!” Suara Yifan terdengar marah, Yixing mendongak dan dia tersenyum.

“Menurutmu?”

“Kau gila Yixing, aku tidak suka ini.” Yifan marah.

“Oh..benarkah? jadi kau memutuskan untuk mati saja?”

“YIXING!”

“Cukup Yifan, aku sedang membantumu sekarang..perusahaan Jung dalam keadaan lemah aku yakin harga saham perusahaan Jung akan turun besok dan kita bisa mempertimbangkan untuk membelinya.” Yixing menjelaskan.

“Yixing kau tahu Hyojin tidak akan pernah menjual perusahaan ayahnya.” Timpal Yifan.

“Karena itu kau harus membuatnya menjual perusahaan! Yifan, kau tahu paman Zhoumi tidak akan senang jika kau tidak berhasil membujuk Hyojin.” Yixing berkata dan Yifan menunduk, Yixing benar ayahnya tidak akan senang jika dia tidak berhasil menjalankan misi ini.

“Bukankah kau ingin menganggalkan semua ini? Kenapa kau membantuku? Bukankah kau seharusnya membantu Luhan?” Tanya Yifan.

“Oh jangan salah paham..aku membantu Luhan, dia menginginkan Hyojin, kau tahu itu?” Yifan menatap tajam kearah Yixing.

“Aku akan membantumu, namun setelah misi ini berhasil kau harus meninggalkan Hyojin.”

“Apa? Aku tidak bi—“

“Cukup Yifan, kau tidak bisa menawar..kau sedang terjepit sekarang sebaiknya kau menuruti keinginanku atau kau mati.” Yixing berkata dan dia berdiri dari duduknya.

“Lagipula, Luhan mencintai Hyojin lebih darimu..kau hanya mempermainkan gadis itu bukan?” Yixing menyentuh bahu Yifan.

“Lepaskan dia, kau tidak pantas bersanding dengan Hyojin.” Yixing berbisik dan pergi meninggalkan Yifan.

Yifan hanya dia berdiri menatap kearah Koran yang ada dimeja Yixing, perkataan Yixing menusuk hatinya. Yixing benar, dia tidak akan pernah pantas bersanding dengan Hyojin, Yifan hanya orang rendahan yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk berdiri disini karena ayahnya memanfaatkannya.

Tanpa ayahnya dia hanyalah pemuda miskin dengan berbagai macam masalah, Hyojin jauh sekali diatasnya dia gadis kaya dan cantik memiliki banyak uang dan kekuasaan banyak lelaki yang menginginkannya bahkan adik tirinya sendiri menginginkan gadis itu.

Tanpa Yifan sadari airmata jatuh membasahi pipinya, dia benci harus berada diposisi ini. Entah sejak kapan Yifan menjadi pecundang dan menangis seperti ini, bukankah dia sudah menyiapkan dirinya untuk kehilangan semuanya termasuk Hyojin? Dia menyiapkan dirinya satu tahun untuk moment ini.

Namun kenapa sekarang dia merasa sangat rapuh dan lemah? Yifan tidak pernah tahu kehilangan Hyojin akan sesakit ini. Apakah karena dia mencintai gadis itu? Yifan menggelengkan kepalanya, tidak dia tidak pernah mencintai Hyojin..tidak akan pernah! Gadis itu hanya objek untuknya bukan seorang wanita yang harus dia cintai.

Ponsel Yifan berdering, dia langsung mengambil ponselnya disaku jasnya. Dia bisa melihat nama Hyojin tertera dilayar ponselnya, Hyojin menghubunginya dan Yifan segera mengangkat teleponnya dan menyeka airmatanya.

“Oppa, ini aku..bisakah kau menemui aku dipantai Eurwangni? Aku menunggu disana.” Hyojin berkata.

“Ya, aku akan datang.” Yifan menyetujui dan dia menutup telepon mereka.

Yifan berbalik untuk pergi menuju pantai Eurwangni, dia tidak tahu apa yang akan Hyojin katakana padanya yang jelas dia bersiap untuk skenario yang paling buruk. Dia tahu kalau Hyojin akan meninggalkannya, mereka tidak akan pernah bersama bagaimanapun caranya.

[Pantai Eurwangni 15:00PM]

  Hyojin menarik blazernya agar kain tebal itu memeluk tubuhnya lebih erat, angin dipantai eurwangni berhembus sangat kencang sekali. Rambut panjangnya bergerak-gerak mengikuti arah angin dan Hyojin menyelipkan rambutnya ketelinganya agar rambutnya tidak menutupi pandangannya, dia menatap lurus kearah pantai yang biru.

Rasanya dia ingin menangis namun dia tidak bisa, dia tidak bisa menangis dihadapan Yifan lelaki itu tidak boleh tahu kalau dia sangat lemah hari ini. Hyojin baru saja selesai memberikan keterangan dikantor polisi, dia sedikit cemas dengan kemajuan kasus perusahaannya.

“Apa kau sudah menunggu lama?” Suara yang familiar terdengar dari belakangnya.

Hyojin tersenyum tipis saat dia melihat sosok tampan Yifan, lelaki itu memakai setelan jas putih dan kemeja biru. Rambut pirangnya bersinar dibawah sinar matahari Sore, lelaki itu berjalan mendekat kearah Hyojin.

“Pantai ini indah bukan?” Hyojin bertanya dan dia melirik kearah Yifan, lelaki itu hanya mengangguk.

“Aku sudah mendengar berita tentang perusahaanmu.” Yifan mengungkapkan dan Hyojin menyeringai.

“Ya, apakah kau masih ingin bekerjasama dengan perusahaanku?” Hyojin bertanya dan Yifan menatap kaget kearah Hyojin.

“Kau yakin?”

“Jika bekerjasama dengan perusahaanmu bisa menyelamatkan perusahaanku, aku tidak keberatan.”

Yifan memeluk Hyojin, dia memeluk gadis itu dengan erat dan dia mencium kepala Hyojin. Hyojin memeluk Yifan kembali dan dia tersenyum, mungkin ini saatnya agar dia mengalah dia tidak bisa terus bersih keras mempertahankan perusahaannya disaat keadaan genting seperti ini.

“Aku senang sekali Hyojin, tapi aku tidak mau kau bekerjasama dengan perusahaanku.” Yifan berkata dan mata Hyojin melebar.

“kenapa?apa karena kasus perusahaanku?” Hyojin bertanya dan Yifan menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin kita pergi dari Korea, kemana saja..yang penting tidak di Korea.” Yifan menyentuh pipi Hyojin setelah dia melepaskan pelukannya.

“Kenapa?kenapa kau mau meninggalkan Korea?”

“Aku tidak bisa hidup disini Hyojin, Kita bisa pergi ke Amerika kau punya kenalan disanakan? Kita bisa memulai hidup disana, aku akan belajar bahasa inggris.” Yifan berkata dan Hyojin sepertinya kaget.

“Oppa, semuanya tidak segampang itu apalagi kita tidak bisa langsung tinggal disana, kau tahukan kau harus mengurus visamu dan kita juga harus mencari apartemen disana.” Hyojin mengungkapkan.

“Aku akan mengurus semuanya,kau maukan?” Yifan menatap kearah Hyojin penuh dengan harap, namun gadis itu hanya menunduk.

“Aku tidak bisa Oppa, aku tidak bisa meninggalkan Hyojung..”Hyojin berkata, Yifan melepaskan sentuhannya dari lengan Hyojin dia benar-benar kecewa saat mendengar jawaban Hyojin.

“Oppa, bisakah kau menunggu?mungkin setelah Hyojung lulus.. agar aku bisa tenang.” Hyojin berkata dan Yifan menyeringai.

Yixing benar, dia tidak akan bisa bersanding dengan Hyojin. Dia tidak akan pernah sepadan dengan gadis yang satu ini, Yifan menelan ludahnya dia harus bersiap untuk melepaskan Hyojin.

“Kau memang keras kepala, baiklah lakukan apa yang kau mau..lagipula aku tidak pernah mencintaimu.” Yifan berkata dan Hyojin menatapnya tidak percaya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak pernah menyukaimu, Jung Hyojin..kau hanya mainan untukku.” Yifan berbohong, dia merasa bersalah saat dia melihat betapa hancurnya perasaan Hyojin.

Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seakan wanita itu menahan tangisnya. Hyojin menggelengkan kepalanya, dia menolak untuk mempercayai perkataan Yifan, dia tahu Yifan hanya berbohong dia marah karena Hyojin tidak mengikuti keinginannya.

“Bohong,kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau terus berada disisiku selama satu tahun ini? Kita mengabiskan banyak wkatu bersama, kau bahkan menceritakan tentang kehidupanmu padaku!” Hyojin berkata dan airmatanya akhirnya tumpah.

“Lalu? Apa kau pikir dengan begitu aku benar-benar mencintaimu? Kau sungguh naïve Jung Hyojin.” Yifan mendengus.

“Oppa, kau hanya marah..iyakan?kau,kau mencintaiku…kau selalu mengatakannya.” Hyojin menangis, Yifan menahan airmatanya saat dia melihat Hyojin menangis dihadapannya.

“Satu-satunya orang yang mencintaimu hanya Luhan.” Yifan berkata dan Hyojin menatap kearahnya tidak percaya.

“Tidak, kau bohong! Aku benci kamu! Kenapa kau berbohong padaku!” Hyojin memukul dada Yifan berkali-kali namun lelaki itu hanya diam membiarkan Hyojin memukulnya, dia memang pantas dipukul seperti itu.

“Kau jahat!kenapa kau melakukan ini padaku?!” Hyojin marah dia terus mukul dada Yifan sampai akhirnya dia berhenti dan menangis.

Yifan menahan tubuh Hyojin membantu gadis itu agar tetap berdiri, Hyojin mendorongnya menjauh. Hati Yifan hancur saat dia melihat tatapan benci Hyojin, kedua mata yang biasanya menatapnya penuh cinta dan kasih sayang sekarang berubah penuh dengan amarah dan dendam.

Hyojin menampar Yifan sangat keras sampai pipi lelaki itu merah, tamparan Hyojin terasa sangat menyengat dipipinya.

“Jangan pernah menemui aku lagi!” Hyojin berkata dan dia berbalik menuju mobilnya.

Yifan melirik kearah punggung Hyojin, dia bisa melihat sosok Hyojin menjauh darinya. Dia menahan airmatanya saat dia melihat Hyojin benar-benar meninggalkannya, gadis itu masuk kedalam mobilnya masih menangis dan mobil Hyojin menjauh dari pantai menuju pusat kota.

Yifan langsung jatuh ketanah saat dia tidak melihat mobil Hyojin kembali, mobil Hyojin terus menjauh menghilang diantara ribuan mobil yang berlalu lalang dijalanan. Yifan tahu semua ini akan terjadi, cepat atau lambat dia akan berpisah dengan Hyojin dan dia tidak akan pernah bisa menyentuh dan mencium lagi gadis itu.

Yifan merasa sebagian dari dirinya hilang sata Hyojin pergi, dia merasa sangat kosong dan mati rasa hidupnya kembali lagi seperti dulu. Hitam dan putih, itulah dua warna kehidupannya sekarang dia kembali ke tempat asalnya, dia kembali jadi Wu Yifan yang tidak tahu tentang cinta dia kembali jadi Wu Yifan yang kasar dan kaku.

[Kediaman Keluarga Li, Beijing – China 18:00PM]

  Luhan membuka pintu ruangan kerja ayahnya, dia bisa melihat sosok Zhoumi duduk dikursi rodanya menatap kosong kearah jendela di ruang kerja yang besar dan megah. Zhoumi menatap kearah kolam ikan yang ada dihalaman belakang rumahnya yang mewah, dia menghela nafasnya saat dia sadar betapa kesepiannya dia.

Luhan yang melihat itu sedikit sedih, biasanya dialah yang akan menghibu Zhoumi namun sekarang dia kesini bukan untuk itu. Dia kesini untuk meminta kebenaran dan kejujuran, Luhan menutup pintu ruang kerja Zhoumi membuat lelaki tua itu melirik kearahnya.

“Kurang ajar! Kau masih berani datang kesini?!” Zhoumi membentak marah.

Baba…” Luhan memanggil namun Zhoumi tertawa.

Baba?! Siapa yang kau panggil baba disini, kau tahu aku bukan ayahmu Luhan.” Zhoumi berterus-terang, dia sudah mendengar kalau Yixing sudah mengungkapkan rahasia tentang status dia dan Luhan.

“Aku tahu..tapi aku kesini untuk mendapatkan penjelasan.” Luhan berkata dan Zhoumi menyeringai.

“Aku tahu, akhirnya kau ingin tahu siapa ayahmu yang sebenarnya..iyakan?” Zhoumi berbalik kearah Luhan.

“Ya, aku ingin tahu siapa ayahku.” Luhan menjawab.

“Kenapa kau tidak menanyakannya pada ibumu, dia akan senang menjelaskan bagaimana dia dan selingkuhannya bersenang-senang dan akhirnya kau lahir.” Zhoumi berkata dengan ketus.

“Aku tidak bisa, mama selalu menolak untuk menceritakan yang sebenarnya.” Luhan mengungkapkan dan Zhoumi menyeringai.

“Wanita jalang itu…dia masih mencoba mengelabuimu? Apakah dia bilang kalau aku benar-benar ayahmu?”

Luhan mengangguk, apa yang Zhoumi katakana benar. Luhan lama mencoba mencari informasi tentang ayahnya yang sebenarnya, namun ibunya selalu bersih kukuh kalau Zhoumi adalah ayah kandungnya.

“Ayahmu orang yang kaya, tenang saja Luhan..dia memiliki perusahaan yang sangat besar kau tak usah takut miskin.” Zhoumi mengungkapkan, Luhan mengepalkan tangannya apakah Zhoumi harus selalu memperdulikan uang?

“Aku tidak butuh informasi itu, aku hanya ingin tahu identitas ayahku.” Luhan berkata dan Zhoumi mengarahkan kursi rodanya menuju meja kerja.

Dia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah foto, dia menyimpan foto itu diatas mejanya. Luhan hendak mengambil foto itu namun Zhoumi mencegahnya membuat Luhan menatap pada Zhoumi, Zhoumi menyeringai.

“Aku harap kau tidak terkejut.” Zhoumi berkata dan dia membiarkan Luhan mengambil foto itu.

Luhan membalikan foto itu dan matanya melebar saat dia melihat wajah Siwonlah yang ada didalam foto itu, Luhan mencengkram foto itu dan Zhoumi menghela nafasnya.

“Kau sebaiknya pergi, kau sudah tahu siapa ayahmu sekarang.” Zhoumi berkata dingin dan Luhan menyeringai.

“Apakah kau ingin aku benar-benar pergi baba?” Tanya Luhan.

“Apakah kau akan melupakan semua jasaku selama ini?” Luhan bertanya sedikit terluka saat Zhoumi tidak menunjukan sedikitpun ekspressi, wajah lelaki tua itu tetap mematung tidak berubah.

Zhoumi mengingatkannya pada Yifan, sepertinya Yifan memang benar-benar anak kandung Zhoumi karena mimik wajah mereka terkadang sama.Luhan memasukan foto itu kedalam saku jaket nya, dia mengeluarkan sebuah dokumen tebal dari tas yang dia bawa dan menunjukannya pada Zhoumi.

“Apa ini?”

Luhan menyeringai.

“Semua kebusukanmu, aku tahu kau akan membuangku suatu saat oleh karena itu aku cukup pintar untuk mengumpulkan semua ini.” Luhan tersenyum, tangan Zhoumi gemetar saat dia mendengar penjelasan Luhan.

“Jika kau tidak percaya bukalah, atau kau ingin aku yang membacakannya untukmu?” Luhan menawarkan, suara rendah penuh dengan kekejaman.

“Brengsek..apa yang kau rencanakan?!” Zhoumi marah.

“Berhenti mengejar perusahaan Jung,kau tidak akan pernah bisa menguasainya.” Luhan berkata.

“Lepaskan Yifan dan Zhongren, biarkan mereka hidup bebas…ceraikan juga ibuku.” Luhan meminta namun Zhoumi hanya mendengus.

“Kau pikir aku akan menyetujuinya semudah itu? Aku tidak akan melepaskan apa yang hampir aku dapatkan.” Zhoumi menjawab dan Luhan membuka dokumen yang ada didepannya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau aku menjual berita tentang kau dan ibu Yifan? Kau tahu para reporter akan senang sekali mendengar cerita cinta terlarangmu dengan ibu Yifan.” Luhan mengungkapkan dan Zhoumi mengepalkan tangannya.

“Aku bisa mengatasi itu, lagipula tidak akan ada yang percaya dengan ocehan anak kecil sepertimu!” Zhoumi membentak dan Luhan tersenyum pahit.

“Kau benar, baba…lalu bagaimana dengan kasus kematian direktur utama perusahaan Hong? Kau tahu keluarga Hong tidak akan tinggal diam,apalagi mereka langsung bangkrut saat direktur Hong meninggal.” Luhan menatap kearah Zhoumi yang masih tetap diam.

“Bodoh! Kau yang membunuh direktur Hong!” Zhoumi berkata dan Luhan menggelengkan kepalanya.

Baba, kau tidak tahu aku..aku bisa kabur kapan saja dan meninggalkan semua kekayaan ini tapi kau?aku rasa kau tidak bisa.” Ucap Luhan, seringai licik menghiasi bibirnya.

“Aku tidak peduli, Yifan bisa mengatasi itu.” Zhoumi masih tetap tenang dan Luhan kehabisan kesabarannya, dia melewatkan beberapa halaman didalam dokumen tebal itu dan membuka halaman terakhir dokumen.

“Karena kau memutuskan untuk keras kepala, aku harus menggunakan ini untuk mengancammu.” Kata Luhan.

“Kasus penggelapan pajak perusahaan Li, aku tahu sudah berapa lama kau melakukannya aku tahu semua buktinya kau tahu baba, jika polisi mengetahui ini perusahaan Li akan hancur dalam jentikan jari.”

Zhoumi menggebrak mejanya marah, Luhan sudah terbiasanya dengan ledakan emosi Zhoumi dia tetap diam menatap kearah dokumen yang dia pegang.

“Beraninya kau! Apa kau kesini hanya untuk mengancamku?” Zhoumi bertanya dan Luhan hanya diam.

“Jika kau ingin rahasia ini tersimpan rapat, lakukan apa yang aku minta tadi jika kau melakukan apa yang aku minta semua rahasia ini akan terkubur bersama jasadku nanti.” Luhan berkata dan Zhoumi menatap kearah Luhan penuh kebencian.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan.” Zhoumi bertanya dan Luhan menghela nafas lega.

“Kau menang, kau bisa pergi sekarang.” Zhoumi membalikan kursi rodanya agar dia tidak menatap kearah Luhan.

“Baba, aku tidak ingin ki—“

“Cukup! Pergi, sebelum aku merubah pikiranku.”

Luhan mengerti, dia menunduk hormat kearah Zhoumi seperti biasanya dan mengambil dokumennya lalu pergi keluar. Dia menutup kembali ruang kerja Zhoumi, dia merasa sedikit bersalah namun dia tidak punya pilihan lain.

Dia sangat mencintai Hyojin, dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan gadis itu. Luhan bertemu dengan ibunya yang sepertinya sudah menunggunya dari tadi, Ziyi tersenyum lemah kearah anaknya.

“Duduklah.” Ziyi menyuruh, dia menepuk tempat kosong di sofanya.

“Ma,aku harus kembali ke Korea.” Luhan berkata namun Ziyi tersenyum.

“Aku akan membelikan tiket penerbanganmu nanti, duduklah dulu.” Ziyi membujuk, Luhanpun akahirnya mengalah dan duduk disamping Ziyi.

“Hm..coba kulihat seberapa tampan anakku ini.” Ziyi menangkup wajah Luhan, Luhan hanya terdiam menatap kearah ibunya.

Ini pertamakalinya Ziyi memperlakukannya seperti ini, cukup sedih memang namun itulah kenyataannya. Ziyi jarang sekali dirumah, Luhan bahkan tidak pernah bisa merayakan natal ataupun hari libur lainnya bersama ibunya. Apalagi berbincang seperti ini, Ziyi mengelur pipi Luhan dan tersenyum tipis dia merapikan rambut pirang Luhan dan meluruskan jaket Luhan yang sedikit acak-acakan.

“Kau sudah besar sekarang.” Ucap Ziyi dan Luhan bisa melihat mata Ziyi berkaca-kaca.

“Mama..”

“Maaf aku, aku tidak pernah bisa ada disisimu saat kau masih kecil.” Ziyi berkata, suaranya terdengar kecil mungkin karena menahan tangis.

“Mama,tidak apa-apa aku tahu mama sibuk.” Luhan menyentuh tangan Ziyi dan Ziyi hanya terdiam menunduk.

“Maaf mama tidak bisa jujur padamu, mama hanya takut Luhannie.”

Luhan menggengam tangan Ziyi, Ziyi menarik kepala Luhan kepundaknya sehingga Luhan menyandarkan kepalanya dipundaknya. Ziyi mengelus kepala Luhan penuh dengan kasih sayang, selama ini dia belum pernah memberikan kasih syaang yang cukup untuk Luhan dan dia menyesal sekali karena dia tidak bisa melihat anak lelaki nya tumbuh dengan cepat.

Ziyi hanya takut, dia takut jika dia melihat Luhan dia akan semakin mencintai Siwon. Anaknya itu selalu berhasil mengingatkannya pada Siwon mantan kekasihnya, dia selalu menyesali malam dimana dia dan Siwon tidur bersama namun saat dia melihat Luhan yang tumbuh dengan baik disampingnya semua sesal itu pergi.

Luhan tersenyum penuh kebahagiaan, dia memeluk Ziyi dengan erat dan Ziyi tersenyum dia tidak tahu kalau Luhan bisa semanja ini.

“Apa kau ingin tahu kenapa aku tidak pernah mengatakan yang sebenarnya?” iyi bertanya, Luhan terdiam sejenak namun akhirnya dia mengangguk.

“Kau benar, ayahmu bukanlah Zhoumi…ayahmu adalah paman Siwon.” Ziyi mengaku dan Luhan tersenyum tipis.

“Maafkan mama, mama tidak penah bisa mengatakannya karena mama takut kau akan marah dan membenci mama.” Ziyi melanjutkan dan Luhan menatap kearah ibunya.

“Ma..aku menyayangi mama, aku mengerti mama pasti kebingungan..aku hanya ingin kejujuran dari mama aku tidak marah.” Luhan mengungkapkan dan Ziyi tersenyum, airmata masih mengalir membasahi pipinya.

Dia bersyukur pada Tuhan karena Tuhan sudah memberikannya seorang anak lelaki yang baik seperti Luhan, Luhan menyeka airmata Ziyi dan dia mencium tangan ibunya.

“Maaf mama, Luhannie…mama memang jahat.” Ziyi memeluk Luhan, dan Luhan hanya tersenyum mengelus punggung ibunya.

“Mama..berhentilah meminta maaf, aku sudah memaafkanmu.” Luhan berbisik dan dia bisa mendengar ibunya bergumam menyetujui perkataannya.

Ziyi berhenti menangis, dia mengambil sesuatu dari tasnya ternyata Ziyi sudah membelikan Luhan sebuah tiket penerbangan dan dia memberikan tiket itu kepada Luhan.

“Pulanglah ke Korea, kau sebaiknya bertemu dengan ayahmu…katakan kalau kau sudah tahu semuanya dia pasti akan sangat senang.” Ziyi menangkup wajah Luhan.

“Mama menyayangimu Luhannie.” Luhan tersenyum dan mengangguk.

“Aku tahu ma..”

“Berhati-hatilah di Korea, mama mungkin akan mengunjungimu.” Ziyi berkata dan Luhan mengangguk.

“Aku pergi dulu ma.” Luhan pamitan dia sedikit sedih harus meninggalkan ibunya, namun sekarang dia merasa tidak berhak untuk diam dirumah ini.

Rumah ini milik Zhoumi dan sekarang dia tahu kalau dia bukanlah anak lelaki itu, dia merasa tidak nyaman disini meskipun semua pelayan dirumah ini masih ramah padanya dan melayaninya seperti biasa.

Ziyi mengantarkan Luhan sampai pintu depan, sebuah taksi sudah menunggu untuknya dia tidak ingin supir Zhoumi mengantarkannya. Dia beralasan kalau dia tidak ingin merepotkan namun yang jelas dia merasa tidak enak dengan semua fasilitas yang Zhoumi masih berikan untuknya, dia memeluk Ziyi untuk sesaaat dan masuk kedalam taksi.

“Ma, sebaiknya mama juga ikut ke Korea denganku..aku khawatir.” Luhan berkata namun Ziyi menggelengkan kepalanya.

“Aku akan baik-baik saja Luhannie, cepatlah pulang.” Ziyi menutup pintu taksi dan dia melambaikan tangannya saat taksi Luhan menjauh dari halaman rumah keluarga Li.

Luhan harus meninggalkan rumah Zhoumi dengan berat hati, keadaan sekarang sangat berbahaya dia tidak bisa meninggalkan ibunya. Namun Ibunya tetap bersh keras untuk tinggal bersama Zhoumi dan itu semakin membuat Luhan cemas.

[Kediaman keluarga Jung, Korea selatan – 23:00pm]

  Tok..Tok..Tok..

Mendengar suara aneh dijendelanya Hyojin terbangun dari tidur, dia turun dari ranjangnya dengan langkah yang lambat. Suara itu sudah dia dengar beberapa menit yang lalu namun dia mengabaikannya, sekarang dia marah dan penasaran sebenarnya darimana suara itu berasal?

Hyojin membuka jendela kamarnya dan dia terkejut saat dia melihat sosok Yifan menatap kearahnya, lelaki itu tersenyum kearahnya.

“Bisakah aku masuk kekamarmu?” Tanya Yifan dan Hyojin terkejut, bukankah lelaki itu baru saja memutuskan hubungan mereka? Lalu kenapa dia sekarang muncul lagi.

“Sebaiknya kau pulang!” Hyojin berkata ketus, dia masih marah dengan perkataan Yifan saat dipantai tadi sore.

“Aku mohon..disini dingin sekali.” Yifan memelas dia mengusapkan kedua tangannya, Hyojin menghela nafasnya dia selalu kalah dengan ekspressi memohon Yifan.

“Baiklah, masuk..hati-hati.” Hyojin berkata dan dia membuka jendela kamarnya lebih lebar sehingga Yifan bisa naik ketembok dan masuk kedalam kamarnya.

Yifan tersenyum saat dia berhasil masuk kedalam kamar Hyojin, dia langsung memeluk gadis itu dengan erat emmbuat Hyojin terkejut.

“Maafkan aku Hyojin-ah..” Yifan berbisik dan dia mengelus kepala Hyojin.

Hyojin menyeringai dan dia mendorong Yifan menjauh.

“Kau pikir kau bisa aku maafkan dengan mudah?” Hyojin menatap sinis kearah Yifan dan Yifan menundukan kepalanya.

“Aku sedang marah tadi sore, kau benar Hyojin-ah..maafkan aku.” Yifan menangkup wajah Hyojin dan mendekat kearah wanita itu sehingga dahi mereka bersentuhan.

“Kau menyakiti perasaanku Oppa,aku tidak yakin kau benar-benar mencintaiku sekarang..” Hyojin berbisik nafas nya menggoda bibir Yifan.

“Aku..aku memang bodoh Hyojin-ah, seharusnya aku tidak marah-marah padamu,aku hanya panik dan aku takut kehilanganmu.” Yifan mengungkapkan.

“Apa yang kau katakan semuanya bohong? Kau mencintai akukan Oppa?” Hyojin bertanya dan Yifan tersenyum lalu mengangguk.

“Ya, semuanya bohong..aku mencintaimu Hyojin-ah,sangat mencintaimu.”

Yifan mengecup bibir Hyojin dan Hyojin tersenyum penuh kelegaan dia melingkarkan tangannya dileher Yifan membuat ciuman mereka lebih intim dan penuh dengan hasrat, bibir mereka saling mengecup dan Yifan menggigit bibir Hyojin lembut membuat gadis itu menarik nafas terkejut namun dia menikmatinya.

Hyojin melepaskan ciuman mereka membuat Yifan sedikit kecewa, tangan Hyojin membuka kancing kemeja biru Yifan, sedangkan Yifan melepaskan jasnya. Mereka berciuman kembali penuh dengan kemesraan dan kehangatan bahkan mereka tidak sadar kalau angin berhembus kencang dari jendela kamar Hyojin,Yifan mendorong Hyojin menuju ranjang gadis itu namun mereka masih berciuman.

Hyojin membuka matanya saat dia merasakan tangan Yifan menyentuh kedua lehernya, dia terkejut saat dia melihat Yifan menyeringai dengan jahat kearahnya. Yifan mencekik Hyojin membuat gadis itu kesusahan bernafas, mata gadis itu melebar dan dia mencoba melepaskan tangan Yifan dari lehernya.

“Aku tidak pernah mencintaimu Jung Hyojin..tidak pernah.” Yifan berbisik dan cekikan lelaki itu semakin kuat membuat Hyojin semakin kesusahan bernafas dia mencoba memberontak namun cekikan Yifan terlalu kuat.

“Op..Oppa..sa..kit!” Hyojin mencoba berkata namun Yifan hanya tersenyum dengan jahat, mata coklatnya menatap tajam kearahnya.

Hyojin bisa merasakan tekanan tangan Yifan semakin kencang dilehernya, dia benar-benar tidak bisa bernafas dan akhirnya dia mulai kehilangan kesadaran.

“Hyojin-ah..mianhae…”

*****

“Oppa!” Hyojin bangun dari tidurnya, dia melirik kearah kanan dan kirinya dia lega sekali saat dia sadar kalau dia hanya bermimpi.

Hyojin menatap kearah jam alarm yang menunjukan jam sebelas malam, dia tidak bisa tidur lagi dan memutuskan untuk turun kebawah. Hyojin menghidupkan lampu dapur dan dia mengambil sebotol wine dari kabinet didapur, dia mengambil sebuah gelas dan dia duduk di meja kecil yang ada didapur.

Dia menuangkan wine kedalam gelasnya, dia langsung meneguk wine itu sekaligus. Cairan itu sedikit terasa panas ditenggorokannya, dia terbatuk-batu sedikit namun akhirnya dia meminum lagi winenya.

Hyojin menghela nafasnya, dia merasa takut sekali saat dia mengingat mimpinya. Dia melirik kearah jendela di dapurnya, jendela didapurnya menunjukan pemandangan halaman belakang rumahnya yang sedikit gelap karena hanya lampu-lapun tamanlah yang menyinarinya.

“Kau belum tidur?”

Suara Yongguk mengangetkan Hyojin, Hyojin tersenyum lemah kearah Yongguk dan dia menggelengkan kepalanya. Yongguk yang melihat Hyojin sedang minum wine segera merebut botol wine itu dari samping Hyojin, dia tidak suka jika Hyojin sudah mulai mabuk-mabukan.

“Oppa! Kau mau bawa kemana botol wine itu?” Hyojin bertanya.

“Aku akan menyimpannya, jika kau punya masalah ceritakan padaku.” Yongguk menjawab dan dia menyimpan botol wine Hyojin kembali ketempatnya.

Hyojin mengerang kesal, dia tidak suka jika seseorang sedang menganggu waktu nya sendirian. Dia hanya ingin sendirian, berpikir dan mungkin mabuk agar dia bisa tidur kembali dengan tenang tanpa mimpi buruk yang menghantuinya.

“Aku tidak punya masalah Oppa..sebaiknya kau tidur lagi.” Hyojin berkata dengan ketus.

“Oh ya? Aku melihat kau menangis kemarin.” Yongguk mengungkapkan dan Hyojin menatap kearah Yongguk terkejut.

“Aku..aku mendengar percakapanmu dengan Yifan, bajingan itu! Aku tahu dia tidak benar-benar mencintaimu.” Yongguk berkata dan Hyojin menunduk penuh kesedihan.

“Oppa..”

“Apa yang ingin kau lakukan padanya? Aku bisa menghajarnya sampai wajahnya babak belur sehingga tidak ada wanita lain yang ingin melihatnya.” Ucap Yongguk berapi-api, Hyojin tersenyum lemah melihat Yongguk yang begitu bersemangat sata dia mengatakan kalau dia akan menghajar Yifan.

“Apa kau tidak suka dia Oppa?”

“Aku tidak pernah suka bajingan itu, dia seenaknya saja merebutmu dariku.” Yongguk berkata, dia langsung menutup mulutnya saat dia sadar apa yang baru saja dia katakan.

Hyojin tertawa melihat ekspressi panik Yongguk, Yongguk terkadang bisa lucu seperti ini dan dia bersyukur kalau dia memiliki Yongguk disisinya. Yongguk sudah seperti kakak lelaki yang selalu dia inginkan, Yongguk selalu menjaganya dan membantunya di saat keadaan genting seperti ini.

“L-lupakan apa yang aku katakan, sepertinya aku masih mengantuk jadi aku sedikit tidak masuk akal..” Yongguk beralasan dan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidak apa-apa Oppa, aku senang kau masih peduli padaku.” Ujar Hyojin, wanita itu mengusap rambutnya.

Yongguk tersenyum, bahkan saat malampun Hyojin masih terlihat cantik. Rambut coklatnya tergerai menutupi sebagian bahunya dan leher jenjangnya terlihat sangat menggoda,apalagi saat Hyojin mengibaskan rambutnya membuat lehernya itu lebih terexpose didepan Yongguk.

“Oppa?”

Suara Hyojin membuyarkan lamunan Yongguk.

“Ya?” Yongguk segera merespon.

“Jika aku pergi,apakah Hyojung akan kesusahan?apakah…aku egois?” Hyojin bertanya.

“Hyojin-ah, aku mengerti kau sangat mencintai Yifan tapi ini bukan saat yang tepat untuk meninggalkan Korea.” Yongguk berpendapat.

“Ya, kau egois jika kau pergi..kau tahu Hyojung tidak suka tinggal di amrik berbeda denganmu yang selalu ingin berpindah-pindah dan mencari petualangan.” Yongguk mengungkapkan.

“Hyojung tidak suka perubahan..itulah kenapa dia susah sekali beradaptasi, Hyojung lebih suka semuanya tetap sama atau monoton karena dia merasa lebih aman dengan keadaan itu.” Yongguk melanjutkan.

“Kau dan Hyojung mungkin saudara tapi kalian berdua benar-benar berbeda, kau bebas dan penuh dengan petualangan sedangkan Hyojung, dia tidak pernah suka untuk berpergian dan beradaptasi jadi aku mohon..sebaiknya kau tidak pergi.” Yongguk menyentuh tangan Hyojin.

“Jangan tinggalkan Hyojung, dia lebih membutuhkanmu daripada Yifan..kau adalah satu-satunya orangtua yang Hyojung punya, sedangkan Yifan, dia bisa menemukan wanita lain dengan jentikan jari.”

Mendengar alasan Yongguk, Hyojin sedikit kecewa apa yang dikatakan Yongguk benar namun dia tidak bisa membayangkan kalau Yifan bersama dengan wanita lain selain dirinya dan itu menyiksanya dia tidak pernah ingin melihat Yifan berjalan dengan wanita lain apalagi mencintai wanita lain.

“Aku tahu Oppa, tapi aku tidak bisa melepaskan dia…” Hyojin berkata lemah dan Yongguk hanya bisa mengelus punggung gadis itu penuh simpati.

“Aku tahu semua ini sangat berat untukmu, tapi waktu akan menyembuhkan semuanya…aku yakin itu, carilah cinta yang baru dan mulailah dari awal.” Yongguk memberi nasihat.

“Menurutmu aku bisa melakukan itu?” Hyojin bertanya suaranya pecah saat dia menahan tangis.

“Jika kau mencoba, aku yakin kau bisa…kau harus merelakan dia Hyojin, mungkin dia bukanlah yang terbaik untukmu.” Yongguk menjawab.

Airmata Hyojin akhirnya menetes membasahi punggung tangannya, Yongguk yang melihat itu segera menarik kepala Hyojin sehingga gadis itu menangis dipundaknya. Jika Yongguk bisa menghilangkan kesedihan Hyojin dia ingin, namun dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghilangkan kesedihan Hyojin.

Dia hanya bisa menjadi sandaran untuk gadis itu, menonton kesedihan Hyojin dan mungkin membantu gadis itu menghabiskan waktu agar gadis itu akhirnya melupakan Yifan. Wu Yifan lelaki yang Hyojin cintai dan sayangi, Yongguk iri sekali pada lelaki itu.

[Perusahaan Choi, Seoul – Korea selatan 09:00AM]

“Kenapa kau pagi-pagi sudah kesini?” Siwon bertanya, dia terkejut saat dia melihat Luhan sudah berdiri didepannya.

“Aku ingin membahas tentang ibuku paman.” Luhan menjawab,Siwon langsung berhenti menandatangani dokumennya.

Luhan tersenyum tipis kearah Siwon saat mata lelaki itu menatap kearahnya penuh dengan Tanya, tumben sekali Luhan ingin membahas Ziyi. Anak itu awalnya tidak pernah mau membahas soal keluarganya, dia lebih suka membicarakan soal musik dan cita-citanya nanti.

Siwon melepaskan kacamatanya dan berdiri dari kursinya.

“Kenapa kau ingin membahas ibumu?” Tanya Siwon penasaran.

“Aku sudah tahu semuanya..kau ayahku,iyakan paman?”

Siwon terkejut rasanya jantungya berhenti berdetak sejenak saat Luhan mengatakan kalau dia tahu kebenaran yang selama ini dia dan Ziyi sembunyikan, Siwon tidak tahu harus menjawab apa, apakah Luhan akan marah padanya?apakah pemuda itu akan membencinya sekarang?

“Luhan..aku..”

“Paman, aku mengerti..aku hanya ingin penjelasan yang lebih detail mama tidak mau menceritakannya jadi aku hanya bisa menanyakan ini padamu.” Luhan berkata dan Siwon tersenyum lemah.

Siwon melangkah mendekat Luhan, tanpa ragu Siwon memeluk anaknya itu. Sudahlama sekali dia ingin memeluk Luhan, dia biasanya menangis sendirian setelah Luhan pergi meninggalkannya. Dia selalu ragu untuk menunjukan kasih sayangnya namun sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi dia untuk menunjukan kasih sayangnya karena Luhan tahu kalau dia ayahnya.

“Maaf aku Luhan..aku terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya.” Siwon berkata dan Luhan memeluk Siwon kembali.

“Aku bilang aku sudah mengerti Appa..”

Mendengar Luhan memanggilnya dengan sebutan ‘Appa’ Siwon sangat senang sekali, dia mengajaka Luhan duduk.

“Semuanya dimulai saat aku memutuskan untuk kuliah di Cina, saat itu aku masih berumur 19 tahun..aku bertemu dengan ibumu saat kami berdua menghadiri acara kesenian.” Siwon mulai menceritakan.

“Aku diajak oleh temanku untuk menonton sebuah teater, awalnya aku tidak akan ikut karena aku tidak pernah suka teater..namun teman-temanku memaksaku sehingga pada akhirnya aku ikut dan ibumu bermain sebagai salah satu putri di teater itu.” Siwon tersenyum saat dia mengingat Ziyi memakai pakain tradisional Cina dan rambutnya di hias seperti putri -putri di Cina jaman dulu.

“Saat aku pertamakali melihatnya muncul di panggung, aku langsung menyukai ibumu..dia adalah wanita yang manis, cantik dan pintar…dia juga selalu tahu bagaimana cara membuatku tersenyum dan bahagia.” Siwon mengungkapkan membuat Luhan tersenyum.

“Kami berdua saling mengirim surat karena dulu kami tidak diijinkan untuk membawa ponsel atau semacamnya, kami selalu bertemu dan berkencan sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikahi ibumu.” Dari sana ekspressi Siwon langsung berubah menjadi sedih.

“Orangtuaku tidak merestui hubunganku dengan ibumu karena kakek dan nenekmu sudah menjodohkan aku dengan seorang wanita korea, dia marah sekali saat aku membawa ibumu kerumah,kakekmu bahkan mengancamku saat aku berkata kalau aku akan menikahi ibumu di Cina.”

Luhan menunduk sedih, tidak tidak pernah tahu ibu dan ayahnya memiliki kisah cinta yang sangat menyedihkan seperti ini. Dia kira ibumu dan ayahnya hanya berselingkuh dan ayahnya tidak sengaja menghamili ibunya, ternyata dia sangat salah.

“Mendengar ancaman kakekmu, ibumu akhirnya kabur padahal dia sedang mengandungmu saat itu dia kabur kekampung halamannya dan menikah dengan Zhoumi…mereka menikah karena Zhoumi ingin menguasai perusahaan tekstil kakekmu aku sangat terluka saat aku tahu kalau ibumu menikah dengan lelaki lain..jadi aku memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihan nenekmu walaupun aku tidak bahagia,kami menikah cukup lama namun dia jatuh sakit dan meninggal” Siwon menjelaskan.

“Dia meninggal karena penyakit kanker dia sudah memiliki satu orang anak perempuan bernama Eunjo saat kami menikah, dia bukan anakku tapi aku menyayanginya…dia sangat cantik seperti ibunya, aku ingin kau bertemu dengan dia dan mungkin kau bisa akrab dengan dia.” Siwon berkata dan dia tersenyum.

“Oh..begitu,jadi apakah Appa masih mencintai mamaku?” Luhan tiba-tiba saja bertanya dan Siwon tersenyum.

“Entahlah, ibumu tidak mencintaiku lagi Luhan..aku rasa dia mencintai Zhoumi sekarang.” Siwon melirik kearah lain menyembunyikan wajah kecewanya.

“Kau belum tahu dengan jelas Appa, Mama mengatakan padaku kalau dia ingin bercerai dengan Baba..dia tidak pernah ada disamping Baba selama ini, dia selalu pergi ke paris mengurus clothing linenya disana.” Luhan mengungkapkan.

“Maksudmu?”

“Mama marah karena Baba memiliki selingkuhan, dia dan selingkuhannya memiliki anak juga..anaknya adalah Yifan gege..aku pernah menceritakannya padamu.” Luhan menjelaskan dan Siwon mengangguk.

“Oh jadi Yifan bukan kakak biologismu?”

Luhan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak punya saudara biologis, walaupun aku dan Yifan ge saudara kami tidak pernah akur..walaupun kami akur itu hanya topeng.” Luhan menghela nafasnya.

“Maafkan aku, aku seharusnya mengatakan semua ini lebih awal..kau pasti merasa di bohongi.” Siwon berkata dan Luhan menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa Appa, aku senang kau mau mengakui aku sebagai anakmu.” Luhan tersenyum pahit, Siwon tahu anaknya itu tidak sesenang apa yang dia katakan dan Siwon sedikit kecewa..sebenarnya ada apa dengan Luhan?

“Ngomong-ngomong,bagaimana hubunganmu dengan Hyojin?apakah kau sudah mendengar berita tentang perusahaannya?” Siwon bertanya dan Luhan kelihatannya fokus kembali saat Siwon mengatakan nama Hyojin.

“Ada apa dengan Hyojin?apakah dia baik-baik saja?”

Siwon menatap kearah Luhan dengan khawatir, dia mengambil Koran harian yang ada dimejanya lalu memberikannya pada Luhan. Luhan kelihatannya terkejut saat dia melihat berita tentang tuduhan penggunaan bahan kimia berbahaya pada perusahaan tekstil Jung, Luhan segera mengodok saku jaketnya dan mengubungi nomor Hyojin.

Hyojin tidak mengangkat teleponnya membuat Luhan sangat khawatir, dia segera berdiri dari duduknya membuat Siwon terkejut.

“Kau mau kemana?” Tanya Siwon.

“Aku harus pergi…” Luhan menjawab dan Siwon tersenyum lalu mengangguk.

“Pergilah, Hyojin pasti membutuhkanmu.” Luhan mengingatkan Siwon saat dia masih muda, jatuh cinta pada seorang Zhang Ziyi yang menawan.

Luhan berpamitan dan diapun pergi meninggalkan kantor Siwon sedikit terburu-buru mungkin pemuda itu sangat khawatir, Siwon menghela nafasnya lega sepertionya beban dia selama ini baru saja menghilang.

[Perusahaan Li, Seoul – Korea selatan 10:00AM]

“Apakah kau akan diam begitu saja?” Yixing bertanya sata dia memberikan beberapa dokumen yang harus Yifan tanda tangani.

“Kau tak usah mencampuri urusanku.” Yifan menjawab ketus dan Yixing menyeringai.

“Kau pecundang, bukankah kau bilang kau akan berada disisi Hyojin sampai akhir?” Yifan mengebrakan mejanya membuat Yixing terkejut.

“Kau tahu jika aku tetap diam disamping, dia akan ada dalam bahaya..lagipula aku sudah bersiap untuk pergi, besok aku tidak akan ada dimeja ini.”

Mata Yixing melebar.

“Apa maksudmu?!apa kau bodoh? Paman Zhoumi akan memburumu, dia tidak akan melepaskanmu begitu saja..apa kau ingat apa yang terjadi pada Luhan?” Yixing bertanya sengit namun Yifan hanya mendengus.

“Lalu? Aku tidak seperti Luhan..aku siap mati kapan saja.” Yifan berkata dia menatap tajam kearah Yixing.

“Apakah kau masih marah soal rencanaku? Kau tahu Taeyeon terlibat juga, dia sangat peduli padamu bahkan dia rela jika suatu saat nanti kasus ini terbongkar dan dia akan masuk penjara.”

Yifan mengepalkan tangannya saat Yixing menyebut nama mantan kekasihnya itu, Yixing kelihatan terluka saat dia menyampaikan informasi itu. Apakah Yixing menyukai Taeyeon? Yifan berpikir, dia mengira kalau selama ini Yixing dan Taeyeon berkencan namun saat Yifan menanyakan hubungan dia dan Taeyeon keduanya menyangkal kalau mereka memiliki hubungan spesial.

“Apa kau tidak suka? Kau cemburu padaku?” Tanya Yifan, Yixing hanya diam dia tidak ingin bertengkar dengan Yifan sekarang.

“Aku tidak sepertimu Yifan,aku hanya memanfaatkan Taeyeon kau bisa memilikinya aku tidak peduli.” Yixing berbohong.

“Aku tidak mau dia, lagipula aku tidak pernah menginginkan dia untuk melakukan semua ini untukku.” Yifan berkata acuh.

“Setidaknya kau hargai usaha dia, jemput dia nanti sore..aku dengar dia dimintai keterangan oleh polisi.” Yixing memberitahu dan Yifan langsung menatap lurus kearah Yixing.

“Aku takut dia ceroboh dan akhirnya membocorkan rahasia nya, sebaiknya kau mendampinginya.” Yixing berkata, dia menyeringai sata dia melihat ekspressi kekhawatiran terpancar dari wajah Yifan.

“Aku tahu kau masih peduli padanya, sebaiknya kau menurut dan menjemput dia.” Yixing akhirnya pergi keluar dari kantor Yifan.

“Kim Taeyeon, neo paboya?” Yifan bergumam.
“Kim Taeyeon, kau bodoh?”

Ponsel Yifan berdering sata dia baru selesai membaca dokumen yang Yixing berikan untuknya, dia terkejut saat dia melihat nama Zhoumi tertera dilayar handphonenya. Yifan menghela nafasnya dan akhirnya lelaki itu mengangkat teleponnya.

“Kemana saja kau?! Apa yang terjadi? Kenapa perusahaan Jung terkena tuduhan penggunaan kimia berbahaya?!” Zhoumi marah.

Baba..sabar dulu, ini semua rencana Yixing..dia ingin harga saham perusahaan Jung turun jadi kita bisa membujuk Hyojin dengan mudah.” Yifan mengungkapkan dan Zhoumi tertawa.

“Kau pikir begitu? Kita merubah rencana kita..kau sebaiknya menyingkirkan Jung Hyojin.” Zhoumi memberikan perintah dan Yifan kaget dengan perintah Zhoumi.

“Tunggu baba, kenapa?! Bukankah kau ingin memanfaatkan Hyojin?”

“Cukup dengan permainannya Yifan, Luhan mengancamku kemarin..dia meminta kau untuk menjauhi Hyojin..satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh adalah membunuh Hyojin.” Zhoumi berkata.

“Dan ini adalah waktu yang tepat jika gadis itu mati sekarang, perusahaan Jung akan kacau adiknya Hyojung masih kecil..dia tidak akan bisa mengurus sebuah perusahaan.” Zhoumi menerangkan.

“Tapi baba..”

“Tidak ada tapi-tapian! Aku akan mengirim Zitao dan beberapa anak buahnya bersiaplah sekarang, mereka bertiga ada diperjalanan.” Zhoumi berkata.

“Tidak usah!” Yifan membentak.

“Tidak usah baba..aku bisa mengurus semuanya sendiri.” Yifan berkata.

“Jangan keras kepala, kau akan membutuhkan bantuan Zitao.” Zhoumi bersih keras.

“Cukup Baba! Jika kau ingin membunuh Hyojin, biarkan Hyojin mati ditanganku.” Yifan marah dan akhirnya dia menutup teleponnya.

Yifan berjalan keluar dari kantornya, dia melihat Yixing sedang duduk dimejanya mungkin sedang mengatur jadwal meeting Yifan.

“Kapan Taeyeon akan pulang dari kantor polisi?” Yifan bertanya.

“Sekitar pukul tiga sore, Sebaiknya kau datang sedikit terlambat..Hyojin juga ada di kantor polisi Taeyeon mengatakannya padaku.” Yixing menjawab dan Yifan mengangguk.

“Baiklah,aku akan kesana nanti.” Yifan berbalik lalu pergi.

“Kau mau kemana?” Tanya Yixing.

“Aku harus mengurus sesuatu.” Yifan menjawab singkat, sosok lelaki itu menghilang masuk kedalam lift.

Yixing sedikit khawatir, dia tahu Yifan merencanakan sesuatu. Yixing mengambil handphonenya dan menghubungi nomor Luhan. Dia sudah mendapat kabar kalau Luhan sudah kembali ke Korea, dia menunggu beberapa saat sampai akhirnya Luhan mengangkat teleponnya.

“Yixing?ada apa?”

“Luhan, kau harus berhati-hati Yifan sepertinya merencanakan sesuatu…kau dimana? Apa kau bersama Hyojin?” Tanya Yixing.

“Tidak, aku sedang diperjalanan mencari Hyojin..oh iya,maaf aku meminjam mobilmu.” Luhan berkata.

“Ya, tidak apa-apa..sebaiknya kau berhati-hati jaga Hyojin juga..kalau bisa kau mengikuti dia aku tahu Zhoumi merencanakan sesuatu.” Yixing mengungkapkan.

“Baiklah, kau tak usah khawatir sebentar lagi aku sampai di kantornya.” Luhan mengungkapkan.

“Bagus, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Yixing menutup teleponnya berbarengan dengan Luhan.

Yixing melirik kearah jendela kantornya, cuaca mendung sekali dan itu membuat Yixing khwatir. Entah kenapa dia merasakan akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, hatinya tidak tenang namun dia tidak tahu kenapa.

[Perusahaan Jung, Korea selatan – 12:00PM]

Hyojin mendongak saat dia mendengar ketukan pintu, dia menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk. Yuri sekertarisnya menyambutnya dengan Luhan yang berdiri dibelakangnya, Luhan tersenyum pada Hyojin saat lelaki itu melihat sosok Hyojin.

“Luhan?kenapa kau kesini?” Tanya Hyojin.

Yuri meninggalkan Luhan dan Hyojin berdua dan menutup pintu kantor Hyojin, Hyojin berdiri dari mejanya dan mendekat kearah Luhan.

“Aku hanya ingin mengecheck keadaanmu, bagaimana dengan kasusnya?apa berjalan lancar?” Tanya Luhan dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Maaf aku tidak ada saat semua ini terjadi.” Luhan menyentuh pipi Hyojin dan Hyojin tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa, ini semua bukan salahmu.” Hyojin berkata, dia melepaskan tangan Luhan dari pipinya.

“Kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir..kau juga pucat.” Luhan berkata dia menyelipkan rambut Hyojin ketelinga gadis itu.

“Aku baik-baik saja..” Hyojin mencoba menenangkan Hyojin, namun gadi situ terlalu pucat untuk mengatakan kalau dia baik-baik saja.

“Hyojin-ah, apa kau butuh sesuatu?aku bisa membelikannya..apa kau sudah makan siang? Aku bisa membelikanmu tteokbokki atau bibimbap kesukaanmu.” Luhan menyarankan namun Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Luhan aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir ok?aku harus bekerja lagi, bukankah kau harus menyelesaikan lagu yang kau buat kemarin?” Hyojin bertanya, dia ingat kalau Luhan menceritakan kalau dia sedang membuat lagu untuk sebuah group band.

“Oh soal itu..aku bisa mengurusnya nanti, kau lebih penting sekarang.” Luhan menjawab dan Hyojin menggelengkan kepalanya.

“Tidak Luhan, lagumu lebih penting..aku baik-baik saja aku bukan bayi yang harus kau urus setiap saat!” Hyojin akhirnya marah, Luhan terkejut karena ini pertamakalinya Hyojin menaikan nada suaranya.

Luhan baru sadar kalau dia perlahan berubah menjadi Yixing, apakah ini yang Yixing rasakan setiap kali dia berontak dan membentak sepupunya itu? Hatinya sakit sekali, apalagi saat dia melihat Hyojin melotot kearahnya.

“Maaf aku hanya khawatir..” Luhan berkata.

Hyojin menghela nafasnya dia mengusap wajahnya dan mencoba tersenyum pada Luhan, dia tahu Luhan sangat peduli padanya namun untuk saat ini dia ingin sendiri.

“Maaf aku tidak bermaksud untuk membentak ok? Aku hanya..aku ingin sendiri dulu bisakah kau pergi? Aku akan menghubungimu jika aku sudah tenang.” Hyojin berkata dia berbalik membalakangi Luhan.

Luhan menyentuh bahu Hyojin dia mendekat dan memeluk Hyojin dari belakang, lelaki itu mencium leher Hyojin.

“Baiklah, jika kau tenang segeralah telepon aku.” Luhan melepaskan pelukannya.

Hyojin bisa mendengar Luhan melangkah menjauh darinya dan taklama kemudian suara pintu kantor terdengar tertutup, Hyojin berbalik dan sosok Luhan benar-benar sudah hilang dari hadapannya.

Hyojin menyentuh kalung bunga mawar yang pernah Yifan berikan untuknya, dia tidak mengerti kenapa setiap kali Luhan menyentuhnya bayangan wajah Yifanlah yang muncul, dia membenci itu karena dia sedang mencoba untuk melupakan Yifan.

[Kediaman Yifan, Ilsan – Korea selatan 14:00PM]

  Yifan membuka pintu kamarnya, dia mengunci pintu dan berjalan menuju lemarinya. Dia membuka lemarinya namun dia terdiam saat dia melihat kardigan abu-abu dilemarinya. Kardingan itu jelas-jelas bukan miliknya karena ukurannya terlalu kecil untuknya, dia menyentuh kain Kardingan itu dan tersenyum tipis.

Dia ingat sekarang, Kardingan itu milik Hyojin saat Hyojin terakhir kali datang kesini dia lupa untuk membawa kardigannya. Yifan menarik kardingan itu sehingga kardigan itu lepas dari gantungan baju lemarinya, dia masih bisa mencium harum tubuh Hyojin dari kardigan itu.

Yifan kembali menyimpan kardigan itu ketempatnya dan membuka brankas nya, dia mengetik beberapa angka dimesin membuka kunci brankas itu sampai akhirnya suara klick terdengar dan brankas itu terbuka.

Yifan ragu untuk mengambil barang yang ada dibrankas itu, dia sudah lama menyembunyikan barang itu dari hadapan Zhongren atau orang lain hanya dia yang tahu. Yifan menyentuh benda metal yang dingin itu dan menariknya keluar, benda itu benar-benar menakutkan sekali untuk Yifan bahkan tangannya gemetar.

Benda metal itu adalah pistol, dia ingat saat pertamakali dia menyentuh pistol ini dia mendapatkannya dari pasar gelap yang biasa dia kunjungi dulu. Yifan dan Zhongren dulu pernah bekerja untuk seorang penjual narkoba dan dia mendapat satu pistol hanya untuk berjaga-jaga jika salah satu pembelinya mencoba untuk mencuri narkoba yang mereka jual.

Yifan memasukan pistol itu kedalam saku jasnya, dia berbalik dan keluar dari kamarnya hatinya berdetak dengan kencang bahkan dia bisa mendengarkannya. Yifan melirik kearah sebuah foto yang terpajang di dinding rumahnya, foto dia dan Hyojin sedang berpelukan saat mereka ada dipulau jeju.

Yifan menyentuh wajah Hyojin di foto itu, gadis itu terlihat sangat bahagia senyumnya begitu lebar dan cerah, lebih cerah dari matahari yang menyinarinya. Yifan menutup matanya sejenak, rasanya tubuhnya sudah mati rasa dia tidak bisa merasakan apapun lagi satu-satunya yang bisa dia rasakan sekarang adalah kegugupan.

Akankah dia berhasil membunuh Hyojin?bisakah dia mencabut nyawa wanita yang dicintai? Yifan tidak bisa menyangkal, dia menyukai gadis itu..dia mencintai Jung Hyojin dan itu membuatnya semakin takut.

Dia takut jika dia tidak bisa membunuh Hyojin

[Kantor kepolisian Seoul 15:20PM]

  Taeyeon menghela nafasnya saat dia disambut oleh angin sore, dia sudah merasa pengap harus terus diam didalam kantor polisi menjawab setiap pertanyaan yang sangat rumit untuknya. Taeyeon mencoba dengan keras untuk tidak terlihat gugup saat dua orang polisi yang mengintrogasinya menatap kearahnya, Taeyeon tidak tahu kalau dia bisa berbohong dengan lihai.

Bahkan kedua polisi itu tidak menaruh sedikit kecurigaan pada Taeyeon, dia bersyukur karena dia dengan cepatnya bisa menemukan jawab-jawaban yang tepat untuk pertanyaan para polisi itu.

Taeyeon menyentuh pundaknya yang terasa sakit, dia terlalu lama duduk sehingga punggung dan pinganggnya terasa sakit. Dengan langkah yang malas Taeyeon menuruni tangga kantor polisi, langkahnya terhenti saat dia melihat sepasang sepatu berhenti didepannya.

“Bagaimana introgasinya?”

Suara lelaki itu terdengar familiar dan Taeyeon mendongak, dia terkejut saat dia mendapati Yifan berdiri didepannya. Yifan tersenyum kearahnya dan dia mendekat, Taeyeon masih terdiam ditempatnya masih tidak percaya kalau mantan kekasihnya itu tersenyum padanya.

“Aku mendengar semuanya dari Yixing, kau melakukan semua ini untukku apa itu benar?” Yifan bertanya dan Taeyeon mengangguk.

“Kau tidak usah melakukan ini, kau membahayakan dirimu sendiri.” Yifan berkata dan Taeyeon tersenyum.

“Aku layak mendapatkannya, aku jahat padamu..aku pantas mendapat hukuman.” Taeyeon menunduk, dia masih mengingat hari dimana dia memutuskan hubungan nya dengan Yifan.

Dia begitu kejam mengatakan kalau Yifan tidak akan pernah bisa membuat dia bahagia, dia membuang Yifan seakan lelaki itu sampah. Dia menyesalinya sekarang, dia baru sadar kalau dia mencintai Yifan lebih dari yang dia kira.

Yifan menyentuh pipi Taeyeon, dia berterimakasih karena gadis itu mau membantunya namun tetap saja dengan jalan seperti ini dia tidak bisa menerimanya. Taeyeon mungkin jahat padanya di masa lalu namun Yifan tetap peduli padanya, bagaimanapun Taeyeon adalah cinta pertamanya.

“Apa..apa kau mencintai Jung Hyojin?” Taeyeon bertanya suaranya lemah.

Yifan hanay diam namun dia mengangguk mantap, Taeyeon sedih sekali saat dia melihat anggukan kepala Yifan. Walaupun Yifan tidak menjawab Taeyeon tahu lelaki itu mencintai Hyojin, Taeyeon menahan tangis nya dan tersenyum.

“Aku tahu…aku bisa melihatnya dari matamu.” Taeyeon berkata,suaranya gemetar karena dia mencoba menahan tangisnya sekuat tenaga.

“Taeyeon..”

“Aku harap kau dan Hyojin bahagia, jangan melakukan hal yang bodoh! Kejarlah dia..aku tidak ingin kau dan dia berakhir seperti kita.” Taeyeon berkata.

Tanpa Taeyeon sadari mobil Hyojin berhenti didepan kantor polisi, dia mendapat panggilan lagi untuk keterangan. Hyojin terkejut saat dia melihat sosok Yifan dan Taeyeon sedang mengobrol didepan kantor polisi, hatinya langsung terbakar oleh api cemburu sata dia melihat tangan Yifan menyentuh sisi wajah Taeyeon.

“Apa kau dan aku tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi?” Taeyeon sekali lagi melontarkan pertanyaan.

“Maaf Taeyeon..” Yifan menunduk, Taeyeon akhirnya menangis airmatanya jatuh membasahi pipinya.

“Aku mengerti, kau mungkin terlanjur membenciku.” Taeyeon menyeka airmatanya.

“Aku tidak membencimu Taeyeon,aku..aku hanya mencintai orang lain dan aku pikir jika aku kembali padamu namun hatiku masih tertuju pada wanita itu..aku rasa itu tidak adil untukmu.” Yifan mengungkapkan.

Taeyeon tersenyum, Yifan memang lelaki yang baik dia tahu Yifan tidak akan pernah menyakitinya seperti dia menyakiti lelaki itu.

“Bisakah aku minta sesuatu darimu?”

“Katakan saja..”

Taeyeon ragu namun akhirnya dia mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan apa yang dia inginkan.

“Bisakah kau memberikanku goodbye kiss?” Taeyeon mengungkapkan dan Yifan terkejut.

“Taeyeon aku..”

“Aku mohon! Hanya sekali ini saja, setelah ini aku akan melepaskanmu.” Taeyeon memohon.

“Aku akan melepaskanmu..aku akan pergi dari hidupmu dan aku tidak akan menunjukan wajahku lagi didepanmu jika itu membuatmu senang.” Taeyeon berkata dan Yifan menghela nafasnya.

“Baiklah,jika itu membuatmu senang.” Yifan berkata dia menangkup wajah Taeyeon, dan Taeyeon menutup matanya menunggu Yifan mendekat dan mencium bibirnya.

Hyojin yang melihat Yifan mendekat kearah Taeyeon langsung meremas setir mobilnya, hatinya hancur setiap kali dia melihat dengan perlahan Yifan mendekat dan akhirnya lelaki itu mengecup bibir Taeyeon. Hyojin menarik nafasnya, airmata mengancam untuk turun namun dia menahannya dia terlalu marah untuk menangis.

Yifan melepaskan ciumannya dia melirik kesampingnya penasaran karena mobil yang berjarak tidakjauh darinya it uterus diam disana, matanya melebar saat dia mengetahui kalau didalam mobil itu ada Hyojin yang melotot kearahnya.

“Hyojin!” Yifan memanggil dia segera berlari kearah mobil Hyojin, Hyojin menghidupkan mesin mobilnya dan keluar dari parkiran kantor polisi.

Yifan yang melihat itu langsung berlari kemobilnya dan mengejar mobil Hyojin, Taeyeon yang melihat itu sangat khawatir sekali. Taeyeon berlari melihat mobil Yifan mencoba menyusul mobil Hyojin, tatapan terfokus pada mobil Yifan yang semakin menjauh.

Taklama mobil Hyojin dan mobil Yifan menghilang Taeyeon bisa melihat Luhan didalam mobil sedan fords menyusul mobil Yifan dan Hyojin, Taeyeon hendak memanggil Luhan namun mobil Luhan melesat dengan cepat meninggalkannya.

Taeyeon merasa tidak enak hati, dia langsung menghubungi nomor Yixing dan melaporkan kejadian yang baru saja dia lihat. Dia mendengar Yixing terkejut, Yixing menyuruhnya untuk menunggu dikantor polisi karena lelaki itu akan menjemputnya, Taeyeon menurut dan dia menutup teleponnya.

Taeyeon berdoa semoga semuanya baik-baik saja, dia tidak bisa menyaksikan Yifan dan Luhan berkelahi apalagi jika Hyojin sampai ikut terluka.

[Kediaman keluarga Li, Beijing – Cina 15:36PM]

  Ziyi menguping pembicaraannya dengan Zitao tadi siang, dia cemas sekali saat dia mendengar nama Yifan dan Luhan di sebut-sebut. Dia tidak bisa mendengar jelas apa yang Zhoumi rencanakan namun Ziyi cukup yakin suaminya itu akan mencelakakan kedua pemuda yang dia sebut, Ziyi meremas tangannya dengan cemas.

Ziyi membuka pintu ruang kerja Zhoumi lelaki itu seperti biasanya sibuk dengan semua dokumen perkerjaannya, Ziyi masuk dan menutup pintu ruang kerja Zhoumi.

“Apa kau sedang sibuk?” Tanya Ziyi dan Zhoumi menatap kearah istrinya.

“Kelihatannya?” Dia bertanya ketus.

“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Zitao tadi siang.” Ziyi mengungkapkan membuat Zhoumi berhenti membaca dokumennya.

“Lalu?”

“Apa yang kau rencanakan Zhoumi?! Kau akan mencelakakan Luhan dan Yifan! Karena obsesimu! Kau akan melukai kedua anakmu.” Ziyi berkata dan Zhoumi menyeringai.

“Anakku?! Mereka berdua hanya sampah! Aku hanya memberikan tuga simple seperti menggoda gadis saja mereka tidak bisa, mereka bahkan jatuh cinta pada gadis yangharus mereka bunuh!” Zhoumi membentak.

“Karena mereka punya hati Zhoumi! Mereka tidak seperti mu..lelaki dingin yang penuh dengan ambisi dan obsesi!” Ziyi membentak.

“Jaga mulutmu!”  Zhoumi marah.

“Kenapa? Kau merasa tersinggung? Kau memang lelaki seperti itukan? Kau dingin dan tidak punya perasaan!” Ziyi membentak.

Zhoumi membuka mulutnya hendak menjawab namun tiba-tiba saja dadanya terasa sakit, dia meremas dadanya dan mencoba menggapai botol obat yang ada dimejanya. Ziyi langsung merebut botol obat itu dari jangkauan Zhoumi, Zhoumi melotot kearah Ziyi meminta botol obatnya.

“Aku tidak akan memberikan obat ini sebelum kau mengatakan padaku apa rencanamu.” Ziyi mengancam dan Zhoumi mencoba membentak namun dia tidak bisa menahan rasa sakit didadanya.

“Zi..yi.. berikan obat..itu..” Zhoumi berkata dia mencengkram dadanya yang berdenyut sakit.

“Tidak..jika kau akan melukai anakku..aku tidak akan membiarkannya..kau harus membatalkan semuanya!” Ziyi marah.

Zhoumi langsung jatuh dari kursi rodanya, masih mencengkram dadanya dan Ziyi hanya diam mencengkram botol obat Zhoumi. Jika Luhan dan Yifan bisa selamat dengan kematian Zhoumi dia tidak keberatan, Ziyi menatap kearah tubuh Zhoumi yang tergeletak dilantai masih berjuang menahan sakit dijantungnya.

******

    Hyojin menginjak pedal gasnya lebih dalam, kecepatan mobilnya terus meningkat apalagi sore itu jalanan sangat sepi. Hyojin melirik kearah kaca spionnya dan dia bisa melihat mobil Yifan mencoba menyusulnya, dia tidak akan membiarkan itu diapu membelokan mobilnya menuju daerah yang lebh sepi.

Yifan masih kukuh untuk mencoba mencegat Hyojin, mobil sedan porschenya sangat cepat dan hampir mendekati mobilnya. Hyojin membelokan lagi mobilnya berharap kalau Yifan akan kehilangan jejak mobilnya, namun Yifan terlalu teliti dia selalu berhasil menemukan lagi mobil nya.

Pandangan Hyojin sedikit buram karena dia menahan tangisnya, bayangan Yifan yang mencium Taeyeon tertanam selamanya di otaknya dan itu sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan sekali sata dia menyaksikan bibir Yifan mengecup mesra bibir Taeyeon, dia tidak bisa melupakan itu.

Hyojin tidak tahu kemana dia akan pergi yang jelas dia mempercepat laju mobilnya, sekarang kecepatan mobilnya hampir melebihi seratus dan dia tidak peduli. Yifan menekan klakson mobilnya dengan keras meberi peringatan pda Hyojin kalau dia terlalu cepat, Hyojin mengacuhkan peringatan itu dan terus menginjak pedal gasnya.

Yifan sangat khawatir sekali, dia harus menyusul mobil Hyojin dia tidak ingin gadis itu dalam bahaya. Yifan menginjak pedal gasnya dan mencoba menyusul mobil Hyojin, namun Hyojin masih mencoba menghalangi jalannya.

Mata Yifan melebar saat dia melihat sebuah truk datang dari yang sama mereka baru sadar kalau mereka ada dijalan yang salah, truk untuk melaju dengan cepat Hyojin yang baru sadar kalau ada truk yang mendekat segera membanting setirnya begitu juga Yifan yang ada dibelakangnya.

Hyojin kehilangan kendali pada setirnya dan dia menginjak rem mobilnya namun sayangnya Hyojin tidak bisa mengendalikan mobilnya dan mobilnya terbalik beberapa kali membentur trotoar jalan, sedangkan mobil Yifan tersenggol oleh truk dan langsung berputar dan membentur pepohon yang ada disisi kanan jalanan.

Kepala Yifan terbentur dengan keras kesetirnya, dia bisa merasakan cairan hangat keluar dari dahinya dan hidungnya. Tiba-tiba saja semuanya bagaikan gerak lambat di sebuah film, dia tidak bisa mendengar apapun dan pandangannya buram, dia membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobilnya.

Dia bisa melihat mobil Hyojin terbalik tak jauh dari mobilnya, dia mencoba berdiri namun dia terjatuh lagi karena kakinya terluka. Yifan mencoba mencapai dan merangkak mendekat kearah mobil Hyojin, namun dia tidak bisa karena akhirnya dia kehilangan kesadarannya dan suara terakhir yang dia dengar hanya suara ledakan yang memekakan telinga.

*****

   Seorang petugas medis menutup mata Zhoumi, Ziyi yang masih berdiri dibelakang petugas medis itu menutup mulutnya menahan tangisnya. Petugas medis itu berbalik dan mengungkapkan bela sungkawanya pada Ziyi, Ziyi langsung menangis sata dia sadar kalau dia baru saja membunuh suaminya sendiri.

Tubuh Zhoumi sudah kaku terbaring dilantai ruang kerjanya, Ziyi berlutut didepan jasad Zhoumi dan memeluk jasad suaminya itu. Dia menangis tersedu-sedu membuat semua pelayan yang melihatnya menangis juga, mereka baru saja kehilangan tuannya dan itu sangat menyakitkan.

“Zhoumi..sayang, bangunlah!” Ziyi berkata dia mengelus pipi Zhoumi dan memeluk jasad Zhoumi.

“Zhoumi…” Ziyi menangis dan petugas medis yang membantunya tadi menyentuh bahu Ziyi.

“Nyonya Li, sebaiknya kita bersiap untuk pemakaman.” Sang petugas medis menyarankan dan Ziyi tidak menjawab dia hanya menangis.

[Kediaman Keluarga Jung, Seoul – Korea selatan 16:40PM]

  Suara telepon mengagetkan Hyojung, gadis itu sedang asik berbincang dengan Zhongren dia tidak mendengar suara telepon yang sepertinya sudah berdering dari tadi. Hyojung berlari dan mengangkat telepon dengan malas, dia bisa mendengar suara seorang perempuan di seberang telepon.

“Apakah ini dengan kediaman Jung Hyojin?” suara formal itu bertanya.

“Iya benar, saya adiknya ada apa dengan kakaku?” Tanya Hyojung sedikit cemas.

“Maaf nona saya harus menyampaikan berita ini.. tapi kakak anda meninggal dalam kecelakaan mobil, saya harap anda bisa segera datang ke rumah sakit kami dan menjemput jenazah kakak anda.” Suara perempuan itu mengungkapkan, Hyojung terkejut dan langsung melepaskan telepon dari tangannya.

Zhongren yang melihat itu langsung berlari dan menahan tubuh Hyojung, dia berbicara pada perempuan yang ada ditelepon dan akhirnya dia mendapatkan detail dimana rumah sakit tempat Hyojin dirawat.

“Baiklah, terimaksih suster..saya akan kesana secepatnya.” Zhongren berkata dan menutup teleponnya.

“Oppa..tidak mungkin..Eonni tidak bisa meninggalkan aku!” Hyojung berkata dia menangis.

“Hyojung-ah tenang dulu, sebaiknya kita pergi dulu sekarang.” Zhongren membantu Hyojung untuk berdiri.

“Ada apa ini? Kemana kalian akan pergi?” Yongguk bertanya saat dia melihat Zhongren dan Hyojung berlari menuju mobil Zhongren.

“Hyojin noona kecelakaan, kami akan pergi menjemputnya.” Zhongren berkata singkat dan dia membantu Hyojung untuk masuk kedalam mobilnya.

Yongguk yang mendengar itu segera berlari dan masuk kedalam mobil Zhongren, Zhongren tidak peduli dia membiarkan lelaki itu masuk kedalam mobilnya dan dia menghidupkan mobilnya pergi menuju rumah sakit.

******

    Mereka bertiga sampai dirumah sakit, Hyojung langsung turun dari mobil dan menanyakan pada suster dimana jasad kakaknya berada. Yongguk masih shock saat dia mendengar penjelasan Zhongren, lelaki itu langsung lemas dan duduk disalah satu kursi yang ada dikoridor ruang mayat.

Hyojung menggengam erat tangan Zhongren saat seorang perawat membuka pintu kamar mayat, Hyojung bisa melihat begitu banyak jasad yang tergeletak kaku dikamar mayat sebagain ada yang ditutupi oleh kain putih sepenuhnya dan yang sebagian lagi ada yang hanya ditutup sebagian karena mungkin mayat itu baru di otopsi.

“Aku harap kalian bersiap, jasad nona Hyojin tidak terlalu bagus jadi aku harap kalian yakin untuk melihatnya.” Perawat yang mengantar Hyojung dan Zhongren berkata.

“Ya, tolong tunjukan dimana jasad kakakku.” Hyojung berkata dan sang perawat berjalan menuju brankar yang ada di sudut kanan ruang mayat.

Hyojung menatap kearah jasad yang ada dihadapannya, dia berdoa kalau pihak rumah sakit salah mengira kalau mayat itu adalah mayat kakaknya. Perawat itu mulai membuka kain yag menutupi jasad didepan Hyojung, Hyojung terkejut saat dia melihat bahwa jasad itu hangus terbakar bahkan wajahnyapun tidak bisa dikenal.

“EONNI!” Hyojung langsung berteriak menangis, Zhongren yang melihat itu langsung menutup matanya.

Dia tidak tega melihat ekspressi mayat Hyojin yang kelihatannya kesakitan, Hyojung langsung jatuh kelantai menangis, dia tidak percaya kakaknya berakhir sama dengan kedua orangtuanya mati terbakar dalam kecelakaan mobil apakah ini sebuah kutukan?

“Eonni andwae! Kau tidak bisa meninggalkanku..Eonni!” Hyojung menangis, Yongguk yang mendengar tangisan Hyojung langsung masuk kedalam kamar mayat.

Dia menutup mulutnya saat dia melihat jasad Hyojin yang hangus terbakar, perawat yang mengantarkan Zhongren dan Hyojung hanya bisa menatap malang kearah gadis itu.

“Apa pihak rumah sakit sudah yakin kalau ini jasad Hyojin noona?” Zhongren bertanya dan perawat itu mengangguk.

“Kami menemukan dompet,handphone dan kalung yang jenazah gunakan.” Sang perawat mengungkapkan dia mengambil sesuatu dari meja yang ada disamping brankar jasad Hyojin.

Perawat itu menunjukan ponsel Samsung Hyojin dan dompet gadis itu, kalung berlian yang berbandul bunga mawar yang sekarang terlihat kusam terbakar tergeletak disamping kedua benda itu membuat Zhongren dan Yongguk semakin yakin kalau jasad yang ada dihadapan mereka adalah jasad Hyojin.

Yongguk menyentuh kalung mawar Hyojin, kalung itu memang sangat tidak asing untuk Yongguk. Dia ingat saat Hyojin menceritakan kalau kalung itu adalah pemberian dari Yifan, Yongguk mencengkram kalung itu dan membantingkannya kelantai.

Yongguk berbalik kearah Zhongren dan meremas kerah baju lelaki itu, Zhongren terkejut dengan perubahan emosi Yongguk.

“Semua ini gara-gara kakakmu! Dimana dia sekarang?!” Yongguk membentak.

“A-aku..tidak tahu Hyung…Yifan Hyung pergi tadi sore aku tidak tahu dimana dia sekarang.” Zhongren menjawab dan Yongguk melepaskan cengkramannya dari kerah baju Zhongren.

“Aku harus menemukan bajingan itu..” Yongguk menggeram penuh amarah.

To Be Continue..

Don’t Forget The Comment!  😀

Ps:

Kyaaaaa!!! Hyojin-ah nya meninggal!
ayo,ayo siapa yang kecewa pas Hyojin meninggal??
Oh iya readers aku udah bikin playlist soundtrack buat cerita ini
buat yang penasaran bisa lihat dia link ini and ini itu ost bagian yifan dan Hyojin
buat Hyojung sama Zhongren bakal nyusul di tunggu aja ya 😀
buat dirty versionnya ada di blog aku, sebelum kalian minta password
tolong di cek dulu page NC password yang ada di blog aku dan memenuhi syaratnya 😀
oh iya aku juga bikin trailer terakhir jadi silahkan lihat di link–> ini Tale of two siblings last trailer

Advertisements

37 thoughts on “[FF G17] Tale Of Two Siblings episode 11~Cleanversion~

  1. hyojin matiiii????? karena kesalahn kris itu???
    jangan mati hyojin,,,,, tolong jangan sampai itu terjadi,,, kris bisa bunuh diri kayanya,,,
    author, tolong kasih tau hyojin,,jangan suka mabuk mabukkan,,, jadi suka ga sadar ngapa-ngapain,,jadi aja kesannya teh dia tu cewe yg ga baik baik…..

  2. Pengennya sih ayahnya yifan ga mati. Tapi menyesali kesalahannya. Aku pengen luhan nemu yg baru dan hyojin tetap bersama yi fan

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s