FFKPI Songfiction Project – TVXQ’s Yoochun


[Poster] The Sweetest Mistake

 

Title     :: THE SWEETEST MISTAKE

Author :: Pipstern~

Genre :: Angst, Romance

Cast ::

.Park Eunsup/Emily Park

.Park Yoochun/Micky Park

.Song Ji Hyo

.Shim Changmin

This plot is mine. Don’t be plagiat!

No bash! Wajb komen. Haha xDD

Summary ::

“Meskipun aku tak bisa memilikimu, meskipun aku ingin melupakan cinta ini, meskipun ini terkadang terasa menyakitkan bagiku, tapi aku—Park Eunsup—merasa bahagia karena bisa merasakan cintamu, bisa merasakan kehangatan dari mata teduhmu, dan tak akan pernah menyesal memiliki rasa ini. Karena bagiku, mencintaimu adalah kesalahan termanis dalam hidupku.”

PROLOG~

Eunsup menatap punggung lebar seorang namja yang membelakanginya. Bahu tegap itu bergetar. Membuat Eunsup ingin menghampiri namja itu dan memeluknya. Hatinya sakit ketika melihat Park Yoochun—namja yang menangis—dalam keadaan seperti ini. Hatinya hancur melihat Yoochun tak bisa meraih kebahagiaannya. Dengan langkah pelan, Eunsup mendekati Yoochun dan memeluknya dari belakang.

“Yoochun Oppa, uljima… aku tak mau melihatmu menangis. Aku tak bisa melihatmu seperti ini. Lihatlah aku sekarang, Oppa! Aku mencintaimu.”

Yoochun memutar tubuhnya untuk melihat Eunsup. Yeoja itu merundukkan wajahnya. Eunsup tak berani menatap mata Yoochun yang berair. Takut membuat hatinya sakit karena melihat Yoochun menangis bukan untuk dirinya.

“Apa yang harus aku lakukan, Eun-ie? Aku tak akan bisa melupakannya.”

“Terimalah aku dan aku berjanji akan membuatmu melupakan dia…”

‡‡‡

Dengan langkah kaki yang terseok-seok, Eunsup berjalan menuju pos security. Jam kampus sudah berakhir sejak pukul empat sore tadi. Eunsup yang semula ingin segera pulang, harus menunda keinginannya karena hari ini ada mata kuliah tambahan di kelas. Sehingga, Eunsup baru bisa keluar gedung kampus pukul lima sore. Beruntung security yang berjaga hari ini masih mau membukakan pintu gerbang untuk Eunsup.

Eunsup mendongakkan wajah sambil menghela nafas lelah. Benar-benar melelahkan. Mata bulatnya yang nyaris terpejam itu semakin membulat saat menyadari ada seorang lelaki yang sedang bersandar di tembok gerbang sekolahanku.

“Yoochun Oppa!” pekik Eunsup yang sukses membuat Park Yoochun—si lelaki tampan—menoleh ke arah Eunsup. Memamerkan senyumnya yang menawan, membuat semua gadis yang melihatnya meleleh seketika. Segera Eunsup berlari kecil mendekati Yoochun. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Na? Ah—aku sedang menjemputmu! Waeyo? Apakah kamu keberatan?”

“Aniya! Aku malah senang jika dijemput Yoochun Oppa!” ujar Eunsup sambil menggelengkan kepalanya cepat.

Yoochun mengusap rambut Eunsup dengan lembut. Tangannya beralih ke pipi chubby milik Eunsup. Mencubitnya gemas. Dan itu membuat rona merah di wajah Eunsup semakin terlihat jelas. Yoochun tertawa melihat perubahan sikap Eunsup. Dan tawa itulah yang membuat Eunsup diam-diam menyukai lelaki tampan di hadapannya ini

‡‡‡

“Ahh… aku menyerah!”

Eunsup terlihat frustasi dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Di hadapannya ada beberapa lembar yang berisi soal-soal untuk menghadapi ujian kelulusan akhir semester dan buku-buku tebal yang berserakan. Eunsup mendengus kesal. Otaknya benar-benar memiliki daya ingat yang sangat terbatas. Jika tidak menghapal materi kuliah—apapun itu—sampai sepuluh kali, Eunsup tak akan menguasainya. Penyesalan Eunsup saat ini adalah daya ingatnya yang lemah.

Eunsup menoleh ke arah Yoochun yang tengah memejamkan mata di sofa belakangnya. Bibir tebalnya menggerutu melihat sang kekasih tertidur pulas. Bukannya membantu, Yoochun malah tertidur di rumahnya. Eunsup kira, Yoochun menjemputnya untuk pulang ke rumah karena tahu minggu depan Eunsup akan ujian. Padahal harapan Eunsup, Yoochun mau mengajarinya. Dan semua harapan itu hilang saat tahu Yoochun yang sedang tertidur di sofa.

“Eotteokhae? Apa aku harus membangunkan dia? Tapi dengan cara apa?”

Tangan Eunsup terulur menuju wajah tampan Yoochun. Jemarinya menyusuri lekuk-lekuk wajah Yoochun. Dari mata yang terpejam, hidung yang selalu menghembuskan napas hangat, sampai pipi yang terlihat begitu menggemaskan bagi Eunsup. Otaknya membeku seketika saat jemarinya berhenti di bibir Yoochun.

‘Seandainya ini semua milikku…’

Dengan segenap keberanian yang Eunsup kumpulkan, Eunsup mendekatkan wajahnya ke wajah Yoochun. Mengecup pipi Yoochun lama. Membuat Yoochun terusik dan akhirnya membuka mata karena beberapa helai rambut pendek Eunsup menggelitik hidungnya.

“Ooo… Eun-ie! Kamu—“

Eunsup melepaskan kecupannya dengan wajah merona. Membuat Yoochun menyeringai dan Eunsup yang bergidik ngeri melihat seringaian Yoochun.

“Anhi! Aku—aku… aish! Bantu aku mengerjakan soal-soal ini, Oppa!” kilah Eunsup.

“Eoh? Kupikir kamu mencuri start duluan! Padahal aku berharap kamu menciumku di sini!” kata Yoochun sambil menunjuk bibirnya. Tatapan nakal Yoochun membuat Eunsup tertawa hambar.

“Dasar pervert! Bantu aku atau lebih baik Yoochun Oppa pulang!”

Yoochun meraih kertas soal yang tergeletak tak berdaya di atas meja ruang tamu. Sedikit terkejut saat menyadari Eunsup tak mengerjakan soal-soal itu barang satupun. Yoochun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bodoh! Jadi dari tadi kamu belum mengerjakan soal-soal ini?”

“Mengapa jadi menghinaku? Salahkan otakku yang memiliki daya ingat yang lemah!”

“Anhi! Bukan begitu maksudku. Baiklah! Aku akan mengajarimu. Mengajari yeoja bodoh ini!”

“Eung… Meskipun aku bodoh, Yoochun Oppa tak akan meninggalkanku, ‘kan? Yoochun Oppa mencintaiku, ‘kan?”

“Arraseo! Aku sangat mencintai gadis bodoh ini! Termasuk otaknya yang memiliki daya ingat lemah!”

Eunsup tersenyum. Membiarkan Yoochun menjelaskan cara-cara mengerjakan soal-soal di lembaran itu dengan simple dan tak bertele-tele. Dalam hati Eunsup yang terdalam, ia bersyukur. Memiliki kekasih seperti Yoochun adalah impian setiap yeoja. Dan Eunsup adalah yeoja yang beruntung karena memiliki kekasih seperti Yoochun.

Tapi di sisi lain, Eunsup ingin menangis. Hatinya terasa ngilu saat Yoochun ada di sampingnya. Karena dengan begitu, ada rasa bersalah dan sakit yang tiba-tiba menyelimuti hati Eunsup.

‘Semakin aku mencintaimu, aku harus melepaskanmu pada akhirnya…’

‡‡‡

Tak pernah sedikitpun ada rasa penyesalan dalam diri Eunsup ketika yeoja bertubuh semampai itu mencintai seorang Park Yoochun. Sikap hangat Yoochun pada Eunsup membuat Eunsup memendam rasa bersalah yang selama ini menghantui hidupnya. Eunsup sangat mencintai Yoochun, meskipun pada akhirnya dia harus melepaskan Yoochun untuk alasan yang sudah pasti.

Eunsup mendesah pelan. Hatinya benar-benar butuh pencerahan saat ini. Masalah yang membelitnya begitu rumit. Seolah mengungkung Eunsup selama rasa cinta itu ada. Demi apapun, Eunsup ingin mengakhirinya segera. Eunsup tak ingin ada yang tersakiti pada akhirnya.

“Kamu memikirkan apa, Eun-ie?”

Suara husky lembut itu menyapa pendengaranku. Membuatku menoleh ke sumber suara dan tersenyum pada sosok itu. Mata teduh yang membuat Eunsup semakin mencintai lelaki ini. Siapa lagi kalau bukan seorang Park Yoochun.

“Aniya, Yoochun Oppa! Aku hanya memikirkan hasil akhir ujian yang kemarin kulalui! Aku takut dapat nilai dibawah rata-rata, Yoochun Oppa!”

“Kau pasti dapat nilai yang memuaskan! Aku yakin itu! Percaya diri sedikitlah. Dan jangan memikirkan yang tidak-tidak.”

Eunsup tersenyum getir. Bukan karena menanggapi penuturan Yoochun. Eunsup hanya tak bisa membayangkan hidup tanpa Yoochun yang menjadi penyemangat hidupnya. Yoochun yang selalu bersikap dewasa adalah sosok yang akan dirindukan Eunsup, jika Eunsup mengakhiri semuanya.

Sungguh dia bahagia dengan adanya Yoochun di sampingnya, tapi ada sejumput rasa bersalah yang terus dia pendam. Rasa bersalah karena telah mencintai Yoochun dan menerima Yoochun untuk menjadi kekasihnya.

‡‡‡

Eunsup berguling-guling di ranjangnya. Memikirkan Yoochun, membuat yeoja berlesung pipi itu merindukannya. Baginya, hidup tanpa Yoochun sama saja tak seperti benar-benar hidup. Seperti tanpa ada tujuan. Hatinya begitu mengelu-elukan namja bermarga Park itu. Benar-benar tak bisa hidup tanpa seorang Park Yoochun, eoh?

Tangan mungil Eunsup meraih smartphone yang terselip di bawah bantal. Menekan angka satu agak lama hingga akhirnya nada sambung telepon menyapa indera pendengarannya. Matanya membulat serta senyum manisnya merekah saat seseorang mengangkat telepon darinya.

“Eung—Eun-ie? Waeyo, chagi? Tumben menelepon jam segini?”

Eunsup melirik jam dinding kamarnya. Masih menunjukkan pukul sembilan malam. Eunsup mempoutkan bibirnya. Bisa gila dia jika menunggu jam sebelas malam hanya untuk mendengar suara kekasih tercintanya. Eunsup tak akan tahan jika harus menunggu selama itu.

“Aniya, Yoochun Oppa! Hanya merindukanmu! Aku  rindu suaramu, wajahmu dan—“

“Ahh! Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Hahahaha—“

“Ishh—Yoochun Oppa! Aku bukan yeoja seperti itu!”

Yoochun terus-terusan menggoda Eunsup lewat telepon. Membuat pipi Eunsup merona dan sdikit salah tingkah menghadapi godaan Yoochun. Meskipun begitu, sikap Yoochun tak membuat Eunsup ingin mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Eunsup hanya bisa membayangkan kalau Yoochun ada di depannya, berbicara dengan Eunsup sambil melancarkan gerakan-gerakan kecil yang membuat Eunsup merasa bahagia.

“Ji Hyo Eonni apa kabar? Aku merindukannya—“ kata Eunsup.

“Baik! Kalau kamu merindukannya, datanglah kemari!” jawab Yoochun. Eunsup tersenyum geli mendengarnya.

“Aku akan datang lain waktu! Tapi tidak untuk bermesraan denganmu, Oppa! Aku hanya ingin menemui Ji Hyo Eonni!”

“Ahh—kau kejam sekali…” Eunsup tahu Yoochun pasti berpura-pura terluka saat mendengar perkataannya. Mencengkeram dadanya dan berekspresi semiris mungkin. Membuat Eunsup terkikik saat membayangkannya. “Eum—sudah dulu, ya! Ji Hyo memintaku mencarikan baso ikan! Apa kamu mau menemaniku?”

“Jinjjaro? Boleh? Ahh! Aku mau ikut, Oppa! Sekalian kencan semalam! Hehehe—“ kekeh Eunsup.

“Arraseo! Aku akan menjemputmu! Bersiaplah, chagi!”

Setelah itu, sambungan telepon terputus. Eunsup tersenyum sebelum akhirnya ia melesat ke kamar mandi untuk ganti baju dan bersiap-siap untuk kencan semalamnya dengan Yoochun.

‡‡‡

Eunsup sudah menunggu Yoochun di pekarangan rumahnya. Mengabaikan udara dingin yang mulai menusuk jantungnya hanya untuk menanti kedatangan seorang Park Yoochun. Jari-jari mungil Eunsup sibuk menari di atas layar touchscreen smartphonenya. Sibuk memainkan beberapa aplikasi yang tersimpan di smartphonenya. Hingga akhirnya—

TINN!!

“Ahh! Kalah! Sial—“

Umpatan-umpatan yang ingin dikeluarkan Eunsup mendadak menguap begitu saja saat mata bulatnya menangkap sosok namja yang baru saja keluar dari mobilnya. Namja itu tersenyum pada Eunsup. Eunsup memicingkan sebelah matanya untuk memastikan bahwa yang datang  adalah—

“Sudah lama menunggu?”

Tanpa perlu menanyakan ‘siapa’, Eunsup langsung berjalan mendekati sosok namja yang sangat dicintainya itu. Tanpa ragu, Eunsup merangkul lengan kekar Yoochun. Membuat Yoochun terkekeh geli melihat kelakuan manja Eunsup. Tangan besarnya terulur ke pipi chubby Eunsup. Mencubitnya gemas kemudian membawa Eunsup masuk ke dalam mobilnya.

“Oppa—“ Yoochun menoleh ke arah  Eunsup sebelum menyalakan mesin mobil. Eunsup hanya tersenyum ketika matanya bertabrakan dengan mata teduh Yoochun. “Aku mencintaimu, Oppa! Kamu tahu itu, bukan?”

“Ne, arraseo! Aku juga mencintaimu, Eun-ie! Percayalah hanya kau yang ada di hatiku!”

Eunsup tersenyum. Pandangannya tak beralih dari Yoochun yang mulai menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya. Lambat laun, perasaan bersalah mulai menghampiri Eunsup. Perasaan takut kehilangan Yoochun mulai menghantui pikirannya. Memikirkan hal itu membuat hatinya sakit. Tapi Eunsup juga tak bodoh untuk melihat kenyataan yang ada.

‘Mianhae, Yoochun Oppa!’

‡‡‡

Kencan malam ini terasa menyenangkan bagi Eunsup. Begitu juga dengan Yoochun yang sangat menikmati kencan malam hari ini. Langkah mereka terhenti di depan sebuah taman. Eunsup dan Yoochun memutuskan untuk berjalan kaki setelah Yoochun memarkirkan mobilnya di tempat yang tak jauh dari taman bermain ini. Dengan jemari yang bertautan, mereka berjalan. Seolah melupakan kejadian nyata yang sedang dijalani mereka berdua.

“Mau bermain sebentar?”

Eunsup menganggukkan kepalanya. Yoochun menarik lengan Eunsup dan mengajak bergegas untuk memasuki area taman bermain. Langkahnya terhenti tepat di depan ayunan. Yoochun menyuruh Eunsup untuk duduk di ayunan dan Yoochun mulai mendorong ayunan itu dari belakang. Membiarkan Eunsup yang mulai tertawa geli karena Yoochun yang tak berhenti mendorong ayunannya.

“Oppa! Hajimaaa—ini membuatku geli! Hahahaha—“ Eunsup merasa ada ribuan kupu-kupu beranak pinak saat ayunan yang dinaikinya semakin kencang karena Yoochun mendorongnya penuh semangat.

“Andwae! Kau jangan tertawa! Nanti jatuh!” Yoochun berusaha memperingatkan.

Eunsup mempoutkan bibirnya. Meskipun demikian, itu tak bertahan lama karena rasa geli pada perutnya sangat mendominasinya. Membuatnya malah tak bisa berhenti tertawa. Yoochun tertawa melihat kekasihnya menahan gelinya.

“Jebal, Oppa! Perutku sakit kalau lama-lama seperti ini!”

Yoochun memutuskan untuk duduk di bangku taman. Melihat Eunsup yang tengah memejamkan mata menikmati gerakan ayunan yang melambat. Yoochun tersenyum. Yoochun sangat mencintai yeoja itu sampai tak bisa bernafas jika yeoja itu meninggalkannya. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Eunsup di hatinya. Hanya Eunsup seorang.

Yoochun berjalan mendekati Eunsup yang masih memejamkan matanya meskipun ayunan yang dinaikinya benar-benar sudah berhenti. Meraih dagu Eunsup, mendekatkan wajahnya ke wajah Eunsup dan dengan segenap cintanya Yoochun mencium bibir yeoja itu. Ciuman lama tanpa pagutan yang sarat akan cintanya pada Eunsup. Hatinya berharap Eunsup tak akan meninggalkan dan akan selalu berada di sisi Yoochun. Hanya itu keinginan Yoochun.

Eunsup membelalakkan matanya saat bibirnya bertemu dengan bibir Yoochun. Bibir Yoochun yang terasa lembut membuat jantungnya berdegup kencang. Harusnya Eunsup bahagia, hanya saja rasa bersalah itu lagi-lagi merayap di hati Eunsup. Membuat Eunsup memutuskan untuk memejamkan matanya dan membiarkan Yoochun menciumnya.

“Saranghae, Eun-ie!” kata Yoochun sesaat setelah ciuman manis itu terlepas.

“Aku juga mencintaimu, Oppa!”

‡‡‡

Setelah membeli baso ikan pesanan Ji Hyo, Yoochun membawa  Eunsup kembali ke rumahnya. Setelah tiba di depan rumah Eunsup, Yoochun maupun Eunsup tetap terdiam di tempatnya. Yoochun yang sekarang tengah memejamkan kedua matanya dan Eunsup yang sibuk dengan isi pikirannya sendiri.

“Oppa—“ panggil Eunsup yang membuat namja tampan di sebelahnya membuka kedua mata, “bolehkah aku memelukmu?”

“Ooo—geurae!” Yoochun membenarkan posisi duduknya dan menegapkan badannya menghadap Eunsup.

Dengan cepat Eunsup meraih tubuh Yoochun. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yoochun. Rasa sakit itu tak bisa Eunsup hindari. Hatinya terluka karena satu hal. Meskipun Eunsup berusaha menyangkal, rasa sakit itu tetap saja ada. Hanya saja, Eunsup tak mau memperlihatkannya. Ia tahu, Yoochun akan marah padanya jika mengatakannya. Yoochun hanya ingin melalui hari-harinya dan Eunsup dengan tawa. Tanpa luka dan duka.

“Waeyo? Apakah kamu menangis?”

Airmata yang dengan lancangnya mengalir bebas dari mata bulat Eunsup membuat baju yang dikenakan Yoochun basah di bagian dada. Eunsup merutuki kebodohannya. Yoochun berusaha melepaskan pelukan Eunsup. Menangkup pipi chubby Eunsup dengan tangan besarnya.

“Aku hanya bahagia, Oppa!” ujar Eunsup. Bohong? Tentu saja—

“Syukurlah! Chagi, jangan pikirkan apapun! Pikirkan hubungan kita saja! Yang lainnya, anggap saja angin lalu, okay?”

Eunsup menganggukkan kepalanya lemah. Inginnya begitu, tapi tak bisa. Sampai kapanpun, Eunsup tak akan bisa menyangkal kenyataan yang benar-benar terjadi antaranya dengan Yoochun. Setelah merasakan tangkupan tangan besar Yoochun di pipinya melonggar, Eunsup melepas seatbelt yang dipakainya dan keluar dari mobil Yoochun. Pintu kaca terbuka. Eunsup membungkukkan badannya sedikit. Membuat Eunsup lagi-lagi menatap mata sendu Yoochun.

“Aku akan masuk. Lebih baik Yoochun Oppa segera pulang! Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi sebelum tidur!” pesan Eunsup.

“Arraseo, My Rabbit Princess!”

Yoochun tersenyum sebelum akhirnya mengemudikan mobilnya meninggalkan Eunsup yang masih sibuk memikirkan kenyataan yang terjadi antara dia dan Yoochun.

‡‡‡

Hubungan Yoochun dan Eunsup memang sudah nyaris satu tahun ini. Awalnya hanya Eunsup yang mencintai Yoochun. Hanya karena rasa simpati, Yoochun akhirnya menerima Eunsup. Seiring berjalanannya waktu, rasa cinta tumbuh dan membesar dalam diri Yoochun pada Eunsup. Eunsup yang ceria membuat Yoochun berhasil melupakan cinta pertama yang sudah menyakitinya. Eunsup yang mengetahui siapa cinta pertama Yoochun berusaha untuk gencar membuat Yoochun melupakan cinta pertamanya. Walaupun hatinya selalu mencelos jika menyadari satu hal yang tak bisa dihindarinya. Hatinya sakit saat menyadari bahwa—

“Eunsup!”

Eunsup mendongakkan wajahnya mendengar seseorang memanggilnya. Mengedarkan pandangannya guna mencari seseorang yang memanggil namanya. Matanya yang bulat semakin bulat saat menatap sosok namja yang tengah melambaikan tangan kea rah Eunsup. Namja itu berlari mendekati Eunsup dan memeluknya.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Eunsup-ah? Aku sangat merindukanmu, kamu tahu?” ujar Shim Changmin—namja yang memanggil Eunsup—tanpa melepaskan pelukannya.

“Hhhh—lagi-lagi kamu! Aku lagi malas, nih!” kata Eunsup yang spontan membuat Changmin melepaskan pelukannya.

“Apa yang terjadi, heum?” kata Changmin. “Ceritalah!”

“Mollayo, Changmin Oppa! Aku hanya lelah saja!” keluh Eunsup.

“Lelah? Dengan semua yang kamu jalani? Oh ayolah, kamu sendiri yang memutuskan untuk meneruskan hubunganmu dengan Yoochun Hyung. Dan sekarang kamu bilang lelah?”

Eunsup sadar betul kalau Changmin tahu semuanya. Tahu seluk beluk hubungan Eunsup dan Yoochun. Mengetahui awal kisah cinta Eunsup dan Yoochun. Dan sekarang, Eunsup menyesal telah mencurahkan isi hatinya pada Changmin. Seharusnya, Eunsup memendam itu semua sendiri. Sudah tahu cara bicara Changmin yang sedikit pedas, Eunsup hanya bisa mendesah kasar.

“Kalau kamu lelah, akhiri saja! Aku sudah tahu akhirnya akan begini, Eun-ie!” kata Changmin akhirnya. Aku memandanginya. Ingin mengetahui maksud ucapannya. “Menyembunyikan status hubungan itu tak mudah, Eun-ie! Berusaha untuk mengelak kenyataan yang ada juga tak mungkin. Semakin lama kau menahannya, maka kau akan semakin sakit untuk menerima ini semua.”

“Tapi aku bingung, Oppa! Aku harus bagaimana untuk mengakhiri ini semua? Aku terlalu mencintai Yoochun Oppa!”

“Kamu sudah memutuskan untuk menjalani ini semua. Kalau kamu sudah lelah, maka ambilah keputusan untuk mengakhirinya. Seharusnya kamu tahu setiap keputusan yang diambil pasti memiliki resiko.

“Kamu memutuskannya bukan karena perasaanmu saja. Tapi lihatlah sekelilingmu. Bagaimana jika semua tahu tentang hubunganmu dengan Yoochun Hyung, bagaimana reaksi orang-orang pada Yoochun Hyung. Apakah kamu mau nama baik Yoochun Hyung jadi buruk karena hubungan kalian? Tentu tidak mau, bukan? Lalu, apa kamu bisa membayangkan reaksi keluargamu jika tahu hubunganmu dan Yoochun?

“Aku berkata begini karena aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini. Aku berusaha memberikan saran padamu tiap kamu bercerita masalah ini. Tapi kamu selalu menganggap enteng masalah yang kamu jalani.

“Eunsup-ah, aku menyayangimu. Jadi, kumohon lepaskan Yoochun Hyung dan bukalah hatimu untuk namja lain. Aku juga tak mau kamu sakit karena hubunganmu dan Yoochun Hyung. Mungkin awalnya akan menyakiti Yoochun Hyung, tapi percayalah. Ini juga demi kebaikan kalian!”

Eunsup mendesah sekali lagi. Haruskah dia merelakan Yoochun pergi? Pikirannya benar-benar buntu. Tak melihat Yoochun seharian saja membuat Eunsup uring-uringan, apalagi melepaskan Yoochun pergi.

“Aku akan memikirkannya, Changmin Oppa!”

‡‡‡

Beberapa hari setelah mendengarkan saran Changmin, Eunsup mulai menghindari Yoochun. Mulai jarang membalas pesan-pesan Yoochun, berusaha mengabaikan telepon dari Yoochun, bersembunyi di pos security ketika mengetahui Yoochun yang menjemputnya, berdiam diri di rumah saat Yoochun meneriakkan namanya di depan pagar rumah. Eunsup mulai yakin dengan keputusannya kali ini. Baginya, ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Awal yang menyakitkan memang, tapi itu tak akan berlangsung lama. Karena Eunsup tahu, memang dialah yang bersalah karena membiarkan rasa itu mengalir begitu saja.

Dua minggu menghindari Yoochun, Eunsup memutuskan untuk berkunjung ke rumah Yoochun. Menemui Ji Hyo karena Eunsup sangat merindukan Ji Hyo. Harapannya hanya satu, Yoochun tak ada di rumah dan hanya ada Ji Hyo di rumah. Jadi Eunsup bisa melepas rasa rindunya pada Ji Hyo.

“Eonni!!” pekik Eunsup ketika Ji Hyo membukakan pintu rumahnya.

“Eunsup-ah! Aigo… bogoshipo!” sahut Ji Hyo sambil memeluk tubuh Eunsup.

Eunsup membalas pelukan Ji Hyo. Sudah hampir enam bulan Eunsup tak bertemu dengan Ji Hyo. Dikarenakan kesibukan Ji Hyo yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan desaigner terkenal dan Eunsup yang mulai mempersiapkan tugas-tugas akhirnya, dua yeoja itu hanya bisa berkomunikasi lewat telepon dan pesan-pesan singkat.

“Yoochun Oppa ada di dalam! Dia sedang mengambil cuti. Kajja! Kita masuk—kebetulan aku memasak banyak makanan hari ini!” ujar Ji Hyo sambil melepaskan pelukannya.

Eunsup mematung mendengar ucapan Ji Hyo. Harapan untuk tak bertemu dengan Yoochun lenyap. Kali ini Eunsup tak bisa menghindar lagi. Tak mungkin Eunsup datang, lalu pergi lagi. Apalagi pertemuannya dengan Ji  Hyo baru lima menit.

“Aku kira Yoochun Oppa kerja karena aku tak menemukan mobilnya.” Kilahku.

“Mobilnya sedang diservis.”

“Ohh…”

“Siapa yang dat—“

Seketika Ji Hyo menoleh ke dalam rumah saat mendengar suara husky yang sangat Eunsup hapal. Membuat mata Yoochun dan Eunsup bertemu tanpa sengaja. Eunsup sangat ingin menghindari tatapan dingin Yoochun, tapi entahlah… Seakan Yoochun membuat Eunsup tak bisa menghindari tatapannya itu.

“Oppa! Eunsup datang!”

“Ohh—“

Eunsup mencelos saat melihat Yoochun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Eunsup tersenyum getir samar sebelum Ji Hyo menarik lengannya untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Kajja!”

‡‡‡

Sekarang Eunsup, Yoochun dan Ji Hyo berkumpul di ruang makan. Mereka duduk melingkar mengelilingi meja makan yang dipenuhi banyak makanan. Mereka semua makan dalam keadaan hening. Namun keheningan ini membuat hati Eunsup jadi sedikit canggung. Terlebih saat matanya sering sekali bertabrakan dengan mata Yoochun, meskipun secara tak sengaja. Yoochun masih menatapnya sinis. Seakan mengatakan ‘mengapa-kamu-kemari’. Membuat Eunsup semakin tenggelam dengan perasaan canggungnya sendiri.

“Eunsup-ah, besok aku ingin mengajak kamu dan Yoochun Oppa karaokean. Kamu mau, ‘kan? Yoochun Oppa sudah setuju, nih!” pinta Ji Hyo sesaat setelah acara makan-makan selesai.

“Aku—aku sedang mengurusi tugas-tugas akhirku. Mungkin lain kali saja, eoh!” Hey, Eunsup tak berbohong. Dia memang sedang sibuk dengan tugas akhirnya.

“Ayolah, Eun-ie! Kamu itu butuh refreshing sebelum sidang. Mau tak mau, kamu harus mau! Aku tak mau menerima penolakan!” sungut Ji Hyo.

Eunsup mendesah pelan. “Baiklah. Aku akan ikut!”

Ji Hyo tersenyum girang dan terlihat tanpa sadar memeluk lengan Yoochun. Yoochun yang duduk di samping Ji Hyo sedikit terkejut. Namun itu tak berlangsung lama, karena mata Yoochun bertemu lagi dengan mata Eunsup.

Eunsup beranjak dari tempat duduknya dan mulai membawa piring-piring kotor ke dapur. Begitu juga dengan Ji Hyo yang sibuk membawa beberapa gelas kotor. Eunsup mulai mencuci piring dan gelas yang kotor. Mengabaikan Yoochun yang memperhatikan gerak-geriknya.

“Aku akan membuang sampah dulu, eoh!” kata Ji Hyo sambil membawa tempat sampah padaku.

“Ne!” jawab Eunsup tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya sekarang.

‡‡‡

Yoochun bergerak mendekati Eunsup sesaat setelah Ji Hyo keluar dari rumah untuk membuang sampah. Memeluk tubuh Eunsup dari belakang. Menghirup aroma gadis yang sudah lama dirindukannya sambil sesekali memberi kecupan ringan di bahu Eunsup. Membuat Eunsup bergidik dan langsung membalikkan tubuhnya mengahadap Yoochun. Hatinya berdegup saat melihat mata teduh Yoochun.

“Kamu menghindariku, Eun-ie!” ujar Yoochun, “aku merindukanmu. Kamu tahu?”

“Hajima, Yoochun Oppa! Nanti Ji Hyo Eonni—“

Ucapan Eunsup tertelan begitu saja saat tiba-tiba Yoochun mencium bibirnya telak. Demi apa, Eunsup juga merindukan Yoochun. Tapi kali ini, hatinya tak bisa membiarkan rasa itu semakin menjalar dan benar-benar harus berontak menghadapi Yoochun. Dengan kekuatan yang Eunsup punya, Eunsup mendorong dada Yoochun dan—

PLAK!

Tanpa Eunsup sadari, Eunsup menampar pipi Yoochun. Memang tak terlalu keras, tapi cukup membuatnya terkejut. Eunsup menatap Yoochun takut-takut. Sementara itu Yoochun lagi-lagi memberikan tatapan dinginnya sebelum akhirnya meninggalkan Eunsup sendirian di dapur.

‘Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhaeyo…”

‡‡‡

Jugeulmankeum mitgo—shipdaaa…

 

Yoochun mengakhiri lagu Bogoshipda yang dipopulerkan Kim Bum Soo dengan apik. Menunjukkan suara husky yang terdengar merdu di telinga Eunsup dan Ji Hyo. Mata teduh Yoochun yang terpejam perlahan terbuka. Yoochun terlihat sangat menghayati lagu ballad itu. Berbeda dengan Ji Hyo yang terpukau dengan penampilan dan suara Yoochun, Eunsup malah terlihat tak nyaman saat Yoochun menyanyikan lagu itu. Selalu berusaha mengalihkan pandangannya dari perhatian seorang Park Yoochun sejak dari awal menyanyikan lagu.

“Aigo… Yoochun Oppa! Charraesseo! Jeongmal meosisseoyo!” puji Ji Hyo sambil bertepuk tangan. Tepukan tangan itu terhenti dan Ji Hyo beralih pada Eunsup. “Benar ‘kan, Eun-ie?”

“A—ah! N—ne!” jawab Eunsup sedikit gugup.

Yoochun yang sedari tadi menunjukkan aksi menyanyinya sambil berdiri, kini berjalan mendekati Ji Hyo dan duduk di samping Ji Hyo. Dengan cepat Ji Hyo merangkul bahu Yoochun. Membuat mata Eunsup memanas dan hatinya terasa sakit. Tapi Eunsup segera menampik perasaan cemburu itu dengan senyuman hambar. Eunsup berdiri lalu meraih buku yang berisi kumpulan lagu-lagu dan microphone yang Yoochun letakkan di meja lingkaran depan sofa yang mereka bertiga duduki,

“Omona! Eunsup-ah! Kamu mau menyanyi?”

“Ne! Tentu saja! Bukankah kita kemari untuk bersenang-senang?” kata Eunsup sambil memilih lagu yang akan ia nyanyikan.

Ji Hyo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sementara itu Yoochun begitu penasaran dengan lagu yang akan dipilih Eunsup. Hanya saja rasa penasaran itu tak begitu kentara, lantaran lampu ruangan karaoke dimatikan. Hanya gambar di televise yang menjadi penerang ruangan persegi itu.

“Ahh—lagu ini!” pekik Eunsup. Tangannya yang bebas meraih remote dan menekan kode lagu yang akan dinyanyikannya. “Lagu ini kupersembahkan untuk cinta yang kurindukan, tapi tak bisa kumiliki. Cinta yang sangat ingin kulupakan. Dan cinta yang seharusnya tak terjadi. I Don’t Like Love—“

Intro lagu mulai terdengar. Eunsup tersenyum.

Heongkeurojin nae meoricheoreom

Nae maeumsokdo jeomjeom eongmangi dwaegajyo

Yojeumeun jeongmal saneunge saneunge aniya

Geunyang niga bogoshipeo

 

Eunsup menutup kedua matanya. Menghindari tatapan Yoochun yang begitu mengintimidasinya. Eunsup tahu Yoochun menyadari kalau dia juga merindukan lelaki tampan itu.

 

Kkajit sarang neoran  yeojaga nwoga geuri johatgo himdeunji moreugesseo

Nune tto babbhineun seulpeun chuogeul

Jam mot itul I bam tto eotteokhae

 

Dengan keberanian yang dia punya, Eunsup mulai membuka kedua matanya perlahan. Membalas tatapan Yoochun dengan nanar. Mengabaikan keberadaan Ji Hyo untuk sementara waktu. Seakan waktu hanya berfokus pada dirinya dan Yoochun. Dan dengan lancangnya, bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mata bulat Eunsup. Membasahi pipi chubbynya.

Dan hana gatgo sipeun sarang

Tto beorigo sipeun geu sarang

Gajil sudo wu… wu… beorin

Sudo eobneun sarangi sirhdaguyeo

 

Neoman bomyeon nawatdeon useum ipgawa duneun

Phyojeong gieogi anajyo

Georeul bomyeon waenji natseon saram han myeongi

Ige naran mariyeyo

 

Airmata Eunsup semakin deras membasahi pipinya. Terlihat Ji Hyo dan Yoochun yang mulai khawatir dengan keadaan Eunsup. Ji Hyo yang takut Eunsup teringat cinta yang dia maksud sesaat sebelum menyanyi, sedangkan Yoochun yang takut Eunsup semakin terluka jika meneruskan lagu itu. Hanya saja, Eunsup member kode bahwa dia baik-baik saja. Dan tak ingin ada yang mengganggu nyanyiannya saat ini. Eunsup ingin menyanyikan lagu yang dipopulerkan Kim Junsu itu dengan baik.

Urin seoro mullaseya dwae

Apheunge ireon geonji geuttaeneun mollajanha

Gwie tto deullineun ni moksoriga

Nae gilgo gin gareul tto eotteokhae

 

Bayangan Eunsup tertuju pada sosok Yoochun yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya. Sungguh Eunsup akan merelakan sosok itu jika dia meninggalkan Yoochun nantinya. Kata-kata penyemangat Yoochun yang selama ini menjadi motivasinya terngiang-giang di telinganya.

Dan hana gatgo sipeun sarang

Tto beorigo sipeun geu sarang

Gajil sudo wu… wu… beorin

Sudo eobneun sarangi sirhdaguyeo

 

Nae sarang itgo sipeun sarang

Gieokhago sipeun geu sarang

Morreugesseo wu… wu… sirheo

Ijen jeongmal sarangi shirdaguyeo

Gajil sudo wu… wu… beorin

Sudo eobneun sarangi shirdaguyeo

Ijen… sarangi sirheo

 

Terdengar tepuk tangan dari Ji Hyo. Eunsup hanya tersenyum melihat sambutan berlebihan dari Ji Hyo. Sementara itu, Yoochun hanya terdiam. Sama sekali tak bergerak. Hanya saja mata teduhnya berubah jadi dingin saat melihat Eunsup berjalan dan duduk di samping Ji Hyo. Ji Hyo langsung memeluk Eunsup.

“Eun-ie! Percayalah… kamu akan menemukan yang lebih baik dari namja itu. Ingat, Eun-ie! Kamu itu cantik. Pasti aka nada banyak namja yang mau mendekatimu jika kamu membukakan hatimu. Lupakan namja itu. Dan raihlah kebahagiaanmu sendiri karena kamu juga berhak bahagia!”

Eunsup tertohok dengan saran Ji Hyo. Begitu juga dengan Yoochun yang langsung menoleh ke arah Ji Hyo. Terlihat kebencian di mata teduh Yoochun dan Eunsup tahu itu. Eunsup sadar tak seharusnya dia menyanyikan lagu itu. Tapi Eunsup juga sudah merasa lelah dengan apa yang dia jalani dengan Yoochun. Menjalani cinta yang tak bisa dimiliki memang menyakitkan.

Ji Hyo melepaskan pelukannya. Tangannya menyambar buku yang berisi judul-judul lagu. Mengamatinya satu persatu seakan mencari lagu yang cocok untuk dia nyanyikan.

“Ahh—aku menangis karena melihatmu menangis. Baiklah—karena Yoochun Oppa dan Eunsup tadi sama-sama menyanyikan lagu ballad, sekarang aku akan menyanyikan lagu—“ kata Ji Hyo, “—Ah! I Wake Up Because of You yang dipopulerkan Kim Seul Ki!”

‡‡‡

Saat ini Yoochun dan Eunsup berada di dalam mobil Yoochun. Mereka berdua memutuskan untuk pulang sesaat setelah acara karaokean terhenti di tengah jalan. Saat Ji Hyo sedang bernyanyi, tiba-tiba ponsel Ji Hyo berbunyi. Membuat Ji Hyo harus mengangkat telepon itu saat mengetahui yang si penelepon adalah pelanggan butiknya yang complain. Karena sungkan dengan pelanggan butiknya, Ji Hyo memutuskan untuk pamit ke butiknya yang letaknya tak jauh dari tempat karaokean.

Awalnya Eunsup ingin pulang sendiri dengan naik bus, tapi Ji Hyo mencegah niat Eunsup dengan meminta Yoochun untuk mengantarkan Eunsup pulang. Dengan alasan Eunsup adalah perempuan dan tak mau terjadi apa-apa di jalan, Eunsup mau tak mau menyetujui permintaan Ji Hyo. Dan disinilah Eunsup sekarang. Berada di dalam mobil Yoochun dengan situasi yang sangat canggung.

Tak ada satupun dari mereka berdua untuk memulai pembicaraan. Yoochun dan Eunsup terlalu sibuk dengan berbagai pemikiran yang bergulat di otak masing-masing.

“Oppa—ada yang ingin aku katakan padamu!” kata Eunsup akhirnya. Eunsup benar-benar benci situasi seperti ini. “Aku lelah, Oppa. Cinta yang kita jalani ini salah, Oppa! Aku ingin mengakhirinya, Oppa!”

Yoochun langsung menatapku. “Apa kamu bilang? Salah? Katakan dimana letak kesalahan itu?! Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jangan pikirkan yang lain? Bukankah aku sudah memintamu hanya untuk memikirkan hubungan kita saja?”

Yoochun tampak murka dengan keputusan Eunsup. Eunsup tahu itu. Hanya saja Eunsup juga tak tahan menjalani cinta ini.

“Itu egois namanya, Yoochun Oppa. Aku tak bisa tak memikirkan yang lain saat aku mencintaimu. Apakah Oppa tahu, posisiku saat ini serba salah! Aku adalah kekasih dari suami sepupuku sendiri! Dan parahnya, aku tahu benar cinta pertamamu adalah Ji Hyo Eonni. Itu adalah fakta yang harus aku terima hingga saat ini, Yoochun Oppa!”

“Aku mencintaimu, Eun-ie! Kumohon—jangan begini! Aku tahu, kamu pasti sedang kacau sekarang. Sekarang lebih baik kamu masuk ke dalam rumah dan istirahatlah—“

Eunsup menangkup pipi Yoochun dan mengecup bibir Yoochun seketika. Hanya kecupan biasa, tanpa ada lumatan. Yoochun terpaku sesaat sebelum akhirnya Eunsup menjauhkan wajahnya dari wajah Yoochun.

“Aku begini karena aku juga memikirkanmu, Yoochun Oppa! Aku tak mau kamu dicap sebagai menantu yang buruk mengingat pumonim Yoochun Oppa dan pumonim Ji Hyo Eonni berharap banyak padamu. Aku tak mau Ji Hyo Eonni membencimu hingga menceraikanmu saat mengetahui perselingkuhan kita. Cinta tak harus memiliki, Oppa. Itulah yang kupelajari selama ini darimu.”

Yah, pernikahan Yoochun dan Ji Hyo sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa oleh keluarga besar Yoochun dan Ji Hyo, mengingat kedua keluarga besar itu memiliki hubungan yang sangat dekat. Awalnya Yoochun menolak karena beralasan sudah memiliki Eunsup. Tapi, Yoochun juga ingin membuktikan baktinya pada pumonimnya. Maka dari itu Yoochun menerimanya. Eunsup yang tahu itu awalanya juga ingin mengakhiri semuanya, tapi Yoochun mencegahnya. Yoochun ingin mempertahankan Eunsup untuk tetap berdiri di sampingnya. Sementara itu Ji Hyo sama sekali tak menolak dengan perjodohan itu karena Ji Hyo menyadari kalau dia mencintai Yoochun sesaat setelah putus dengan kekasihnya.

Tapi semua sudah terlambat. Membuat Yoochun sakit hati lagi dengan perasaan Ji Hyo. Jelas, yang pertama karena cintanya yang sudah jelas-jelas ditolak Ji Hyo ketika Ji Hyo memperkenalkan Yoochun dengan kekasihnya. Dan yang kedua, perasaan Ji Hyo yang berubah cepat sesaat setelah putus dari kekasihnya. Padahal saat Ji Hyo menyadari adanya rasa cinta untuk Yoochun, Yoochun sudah mulai menerima dan mencintai sosok Eunsup.

“Kamu pikir aku akan bahagia setelah ini? Tidak, Eunsup-ah! Kamu tidak tahu betapa aku mencintaimu! Hanya kamu yang berhak di sisiku! Dan bukankah lebih bagus jika Ji Hyo menceraikanku? Kita bisa bersama setelahnya!”

“Aku tahu, Yoochun Oppa. Aku juga mencintaimu. Tapi ini semua salah, Oppa. Seberapa keras kamu ingin menyembunyikan ini semua dari keluarga Ji Hyo Eonni, pasti suatu saat nanti akan ketahuan. Dan aku tak mau terjadi apa-apa padamu.

“Yoochun Oppa, menikah denganmu adalah impian besarku. Tapi aku tahu, itu bukan perkara yang mudah. Dan sekarang aku ingin satu hal darimu. Kumohon lakukan semua ini demi aku jika kamu benar-benar mencintaiku.”

“Aku akan melakukan apapun yang kamu minta, Eun-ie! Apapun itu!”

“Kalau begitu, mari kita akhiri saja. Dan buatlah Ji Hyo Eonni bahagia. Aku yakin cepat atau lambat kau bisa melupakanku dan membuka hatimu untuk Ji Hyo Eonni lagi. Melihat rasa cintanya yang besar padamu, membuatku yakin kalau kamu akan bahagia dengannya.”

“Tapi—“

“Yoochun Oppa, aku sangat mencintaimu. Kamu tahu itu, ‘kan? Karena itu aku melepaskanmu untuk Ji Hyo Eonni. Aku tahu kau memiliki rasa pada Ji Hyo Eonni. Hanya saja saat itu Ji Hyo Eonni memiliki kekasih. Dan akhirnya kamu memilihku karena rasa simpati. Aku tahu semuanya, Oppa!”

“Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu, Eun-ie! Akan sulit bagiku untuk menerima Ji Hyo. Aku benar-benar mencintaimu, Eun-ie. Mencintai semua yang ada pada dirimu. Kau harus tahu itu.”

“Kumohon, Oppa! Jangan bersikap egois seperti ini. Aku yakin kamu bisa mencintai Ji Hyo Eonni lagi. Aku yakin kamu bisa menumbuhkan rasa itu lagi untuk Ji Hyo Eonni. Kumohon, Oppa! Jika kau benar-benar mencintaiku, lakukan keinginanku.”

Yoochun mengusap wajahnya kasar. Terlihat begitu frustrasi. Eunsup hanya tersenyum dan menepuk bahunya. Membuatnya menoleh ke arahku. Segera Eunsup bawa tubuh Yoochun Oppa ke dalam dekapannya.

“Meskipun aku tak bisa memilikimu, meskipun aku ingin melupakan cinta ini, meskipun ini terkadang terasa menyakitkan bagiku, tapi aku—Park Eunsup—merasa bahagia karena bisa merasakan cintamu, bisa merasakan kehangatan dari mata teduhmu, dan tak akan pernah menyesal memiliki rasa ini. Karena bagiku, mencintaimu adalah kesalahan termanis dalam hidupku.”

Eunsup membisikkan kalimat itu tepat di telinga kanan Yoochun. Membuat Yoochun mau tak mau menangis dibuatnya. Begitu juga dengan Eunsup.

“Arraseo. Aku akan melakukannya demi kamu, Eun-ah! Kalau begitu, aku juga akan melepaskanmu. Temukan namja yang lebih baik dari aku. Dan berbahagialah. Maaf—karena hubungan kita, kau menjadi merasa tertekan. Maaf…”

“Gwaencana. Mulai saat ini aku berjanji, ini adalah tangisan terakhirku untukmu, Oppa. Setelah ini aku tak akan menangisimu dan aku akan menemukan kebahagiaanku sendiri. Terimakasih atas cinta yang kamu berikan padaku, terimakasih karena telah memberikanku kehangatan, dan terimakasih karena kamu melepaskanku.”

Eunsup melepaskan pelukannya. Mengusap pipi Yoochun yang basah karena airmata. Begitu juga dengan Yoochun yang berlaku sama pada Eunsup.

“Eunsup-ah… meskipun di kehidupan ini kita tak ditakdirkan bersama, percayalah bahwa hatiku akan menjadi milikmu. Dan itu berlaku untuk kehidupan selanjutnya ataupun beratus tahun lamanya.”

“Aaraseo, Oppa.”

“Dan berjanjilah… kelak di kehidupan selanjutnya dan seterusnya, kamu akan menjadi pendampingku.”

Eunsup mengangguk. Hatinya terenyuh dengan kesungguhan Yoochun yang mencintainya. Dan di lubuk hati yang terdalam, Eunsup berjanji bahwa dia akan menjadi pendamping Yoochun di kehidupan selanjutnya dan seterusnya. Berjanji bahwa di kehidupan selanjutnya dan seterusnya rasa cintanya untuk Yoochun tak akan mati. Mungkin ini adalah awal yang menyakitkan. Tapi, Eunsup yakin ini adalah awal dari kebahagiaan dia di kehidupan selanjutnya dan seterusnya.

‡‡‡

EPILOG~

Seratus tahun kemudian…

Terlihat seorang yeoja sedang sibuk membongkar tas tanpa mengeluarkan isinya. Tak peduli dengan dosen tampan yang sedang memberikan materi kuliah, yeoja itu tampak lebih mementingkan barang yang dicarinya. Senyum mengembang di bibirnya tatkala telapak tangannya menemukan barang yang sejak tadi dicarinya, sebuah earphone. Memasang earphone itu di kedua telinganya. Sepertinya yeoja itu tak ada niat sedikitpun untuk membahas materi kuliahnya. Sangat membosankan baginya. Sebenarnya Emily Park—nama gadis itu—ingin kabur saja, tapi dia tidak mau. Baginya, lebih baik mengamati dosen tampan yang memberikan materi kuliah saat ini. Dosen tampan yang mencuri hatinya.

Emily terpana saat matanya bertemu dengan mata Micky Park—nama dosen tampan itu. Semburat merah terlihat jelas di pipi Emily. Emily tersenyum malu-malu saat melihat Micky tersenyum padanya. Bahkan mereka memiliki hubungan yang sangat dekat. Sering sekali menghabiskan waktu bersama ketika jam-jam istirahat. Emily dan Micky juga sering keluar untuk belajar, makan bersama, sampai nonton.

iPhone Emily bergetar singkat. Menandakan adanya pesan masuk. Segera Emily mengambil iPhone-nya yang terselip di saku celananya. Bibirnya mengulas senyum saat mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.

From : Jidat Lebar^^

Kamu kira aku tak tahu apa yang kau cari, heh? Cepat lepaskan earphonemu atau kau akan mendapatkan ‘hukuman’ di rumah nanti?!

Emily terkikik membaca pesan yang ternyata dari dosen tampannya. Dalam hati, Emily bersyukur karena bisa mencintai Micky. Dirinya benar-benar bangga dengan adanya Micky di sampingnya. Bagi Emily, Micky bisa menjadi dosen di saat ia kebingungan dengan materi-materi kuliahnya. Dan bisa menjadi suami yang mencintai Emily dengan tulus dan mau menerima Emily apa adanya.

THE END!!!

15 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – TVXQ’s Yoochun

  1. Tapipp 😀 gueh datengh #sokgahol *abaikan*

    Maap yak bru komen.. Hehe..

    Oke. Mari kita langsung bahas cerita ^^v
    Awalnya uda keren pip. Bikin penasaran bgt. Apa sih kesalahan mreka? Sesuatu yg biasa atau baru? Itu yg bkin aku pengen bca trus. Tapi semakin lama kok rasanya gmanaa gt. Eh bukan mksud mau menggurui sih. Tp kyanya ada beberapa hal yg harus dihapus biar ga terlalu belibet. Msalah pov sm serats taun kemudian aku lwatin aja ya 😀 uda pd bahas
    Aku setujong sm nay kalo critanya kurang berasa songfictnya.

    Udah itu aja. Maap lhoh ya sm komenku kalo kurang brkenan
    Tapi idenya udah bagus pip
    SEMANGAT! 😀

  2. Ka tapiiiip!!! Aku mau dong punya pacar kaya Yoochun!!! so sweeet saaangaaat aaarrh!! XD *gigit baju #salahfokus

    ini ka tapip sukses bikin aku kepo akut gegara ‘salah cinta’ (?) yang dibahas Eunsup dari awal sampe tengah cerita dan bikin aku bawaannya pengen kebet contekan *eh* maksudnya pengen cepet-cepet sampe ke konflik. Dan omaigat ini si Yoochun nekad amat! intinya, unpredictable gitu deh! XD

    Ide ceritanya kereen! ^^b dan aku ngakak pas bagian ‘jidat lebar’ hahaha XDD

    Itu ajasih. 😀
    Keep Writing ka tapiiip! Banyakin cerita yang sosweet gini ya! hehe X3

    PS : tiba-tiba jadi kepengen karokean gegara baca FF ini. *apadeh

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s