FFKPI Songfiction Project – TVXQ’s Junsu


[Poster] HUG

H U G

Author : Dhamala Shobita | Cast : TVXQ’s Junsu | Genre : Romance | Length : Oneshot | Rating : General | Theme Song : TVXQ – Hug

Disclaimer : I do not own the cast and the song. I just own the story. Do not bash and do not copy without my permission.

Author’s Note : Happy 10th Anniversary for TVXQ! Nggak nyangka seniornya SHINee yang satu ini sudah sepuluh tahun. Ini adalah Special Junsu’s Part sebagai bagian dari FFKPI Songfiction Project yang diadakan FFKPI memperingati 10 tahun TVXQ.

Sebelumnya saya mohon maaf jika karakter Junsu dan personel lainnya tidak begitu sesuai, maklum saya bukan Cassiopeia dan ini hanya fiksi belaka. Semoga pembaca yang sengaja mampir ataupun yang tersesat ke cerita ini menikmati.

Ah, satu lagi, alur cerita ini maju mundur, jadi perhatikan tanggal ya. Terima kasih.

Enjoy the story! Drop your feedback bellow. Merci. ^^

– DhamalaShobita Storyline © 2013 –

“Memelukmu adalah hal yang ingin kulakukan pertama kalinya setelah aku mengetahui bahwa aku mencintaimu.” – Kim Jun Su

*

*

Gyeonggi, Summer 1994

“Aku ingin menjadi dokter ketika aku besar nanti.”

Ya! Kim Jun Su! Berani-beraninya kau membaca diariku!” Minji menutup buku diarinya cepat dan segera memasukkannya ke laci meja belajarnya.

“Kau tidak akan bisa menjadi dokter, Minji-ya. Kau itu pemalas, mana mungkin kau bisa menjadi seorang dokter.” Junsu mengambil posisi duduk di atas tempat tidur Minji dan memandang gadis di depannya itu dengan tatapan jahil. Minji mencibir, membuat Junsu tertawa kecil dan bersiap menghujaninya lagi dengan ejekan.

“Seenaknya saja kau menghina cita-citaku. Kau kira kau punya cita-cita yang lebih baik dariku?” seru Minji.

“Tentu saja! Aku yakin cita-citaku lebih baik darimu dan lebih masuk akal.” Junsu menjawab tanpa ragu.

“Kalau begitu cepat katakan padaku apa mimpimu.”

“Ini bukan mimpi tapi cita-cita!” protes Junsu seraya memberi penekanan pada kata ‘cita-cita’.

“Apa bedanya?” gumam Minji pelan.

“Tentu saja berbeda.”

“Cepatlah katakan, Kim Jun Su!”

“Aku ingin menjadi seorang penyanyi besar. Memperdengarkan suaraku di atas sebuah panggung besar, dengan banyak penonton yang memperhatikanku lekat-lekat dan bersorak ketika aku selesai bernyanyi.”

“Pmfft.” Minji menahan tawanya ketika Junsu selesai mengucapkan kalimat-kalimat tentang cita-citanya.

Ya! Mengapa kau menertawakanku? Lihat saja! Sepuluh tahun lagi aku akan menjadi penyanyi besar, Shim Min Ji! Dan kau tidak akan punya waktu untuk menertawakanku,” terang Junsu.

“Bagaimana jika kita menuliskan cita-cita dan harapan kita kemudian menguburnya di dalam tanah? Sepuluh tahun lagi kita akan bersama-sama datang dan membuka isinya. Orang yang belum berhasil mencapai cita-cita dan harapan yang tertulis di kertasnya harus mentraktir orang yang sudah berhasil mencapainya. Bagaimana?” tawar Minji.

Junsu terdiam sejenak mendengar tawaran Minji. Matanya berkilatan, terlihat sedikit tertarik pada tawaran gadis kecil itu. “Di mana kita menguburnya?” tanya Junsu pada akhirnya.

“Di bawah pohon besar di halaman belakang rumahmu.”

**

Seoul, Winter 2013

I wonder how did you pass a day without me. I’m so curious to how much you love me.

“Tanggal berapa ini?” Junsu melemparkan pertanyaan tersebut tepat ketika langkahnya baru saja memasuki studio tempatnya dan kedua kawannya—Jaejoong dan Yoochun—biasa berlatih.

Sontak Yoochun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, melihat tanggal yang tertera di jam digital tersebut. “18 Desember,” seru Yoochun cukup keras.

“Satu minggu lagi ternyata,” gumam Junsu pelan.

“8 hari yang benar, Junsu-ya.” Jaejoong menambahkan pelan seraya membolak-balik kertas berisi partitur lagu.

Junsu mengambil secarik kertas yang di sembunyikan di tas bagian depannya, meletakkannya di atas meja dan menghela napas. “Seseorang meletakkannya di depan rumahku pagi ini. Ternyata selang satu minggu lagi sebelum anniversary. Pantas saja.” Junsu melirik ke arah Yoochun yang kini meraih kertas yang baru saja diletakkannya di atas meja.

Cassiopeia Gathering, DB5K 10th Anniversary? Junsu Oppa, datanglah ke gathering tersebut dan bawa serta keempat member lainnya.” Yoochun membacakan judul pamflet yang terpajang dalam huruf kapital berwarna merah besar tersebut dan menatap Junsu seraya menautkan kedua alisnya.

“Apa tahun ini kita akan berkumpul berlima untuk merayakannya? Sudah sepuluh tahun. Benar-benar tidak terasa,” komentar Junsu pelan.

“Ya, sepuluh tahun. Aku akan menghubungi Yunho nanti. Jika mereka free dan begitu juga dengan kita, kurasa aku akan mengajak mereka bertemu. Kita harus berkumpul bersama lagi tahun ini.” Jaejoong meraih ponselnya yang tergeletak di meja kemudian sibuk memainkannya.

“Selamat. Kau berhasil membuktikannya, Junsu-ya. Kurasa jika kita membuka impian kita nanti, aku yang harus mentraktirmu. Kau sudah mengambil langkah pertamamu. Ah, jika nanti kau debut, aku akan ada bersamamu. Aku akan menjadi penggemarmu yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku akan selalu berada di sampingmu setiap tahun kau merayakan tanggal debutmu.”

Junsu terdiam di tempatnya. Pikirannya melayang jauh, ada kalimat-kalimat yang perlahan menelusup di benaknya. Kalimat yang diucapkan seseorang enam belas tahun yang lalu. Kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang tiba-tiba pergi begitu saja dari kehidupannya, tanpa sepatah kata pun. Pergi ke mana dirimu, Shim Min Ji? gumam Junsu dalam hati.

“Junsu-ya, bukankah teman trainingmu yang bernama Kim Jae Joong itu benar-benar tampan? Aku ingin berkenalan dengannya.”

“Kita masih kecil, belum boleh berkenalan dengan lawan jenis seperti itu, Minji-ya!”

“Tapi Jaejoong Oppa sangat tampan.”

“Sejak kapan kau memanggilnya Oppa?”

“Sejak aku menyebutnya tampan.”

“Kalau begitu kau harus memanggilku Oppa juga!”

“Ya, aku akan memanggilmu Oppa ketika kau berhasil membuatku merasa bahwa kau memang tampan.”

 

Ya, Kim Jun Su! Apa kau tidak melihat tema acara ini? Free Hug Day. Pamflet ini membuatku penasaran. Seperti apa acara yang akan diadakan mereka? Apa menurutmu kita harus menyelinap ke tempat itu?” Seruan Yoochun membuat Junsu tersadar dari lamunannya kemudian mengerjap cepat.

Ne?”ujar Junsu, bermaksud menyuruh Yoochun mengulang ucapannya.

“Bagaimana jika kita menyelinap ke tempat acaranya?” ulang Yoochun.

“Kurasa itu bukan ide yang bagus, Yoochun-ah.”

**

Gyeonggi, Spring 1996

 

I want to be your kitty for just a day. You feed it warm milk and softly hug it. Seeing your playfulness and cute kisses for it, I guess I even felt a little jealous.

 

“Mallang-ah, ini susu untukmu hari ini. Ayo, minumlah yang banyak. Eomma akan menemanimu menghabiskannya.”

Junsu mendesah seraya berbaring di karpet bulu yang terhampar di kamar Minji. Matanya terarah kepada Minji yang tengah mendekap kucing kecil berbulu abu-abu muda dengan tangan kirinya kemudian menyodorkan botol susu kecil berisi susu putih untuknya. Junsu menggembungkan pipinya kemudian berguling ke kiri dan ke kanan, berusaha membuat Minji menoleh ke arahnya.

Ya! Apa yang kau lakukan? Kau membuat Mallang tidak ingin meminum susunya. Kau tahu, perut Mallang belum dimasuki setetes susu pun hari ini. Bagaimana jika ia sakit?” keluh Minji.

“Dia tidak akan sakit, Minji-ya,” sahut Junsu santai seraya bertelungkup sambil memandang kucing milik Minji yang kini menjilat-jilat ujung botol susu.

“Jika Mallang sampai sakit maka aku akan menyuruhmu membawanya ke dokter hewan dan membayar semua biaya perawatannya,” seru Minji kesal.

“Tidak akan.”

Junsu bangkit dari posisinya, mengambil posisi duduk di samping Minji dan mengelus puncak kepala Mallang sambil mengulas secercah senyum di wajahnya. “Mallang-ah, jika kau tumbuh menjadi kucing dewasa nanti, jangan menjadi seperti majikanmu yang galak ini. Lihat dia, bahkan dia galak sejak kecil,” ujar Junsu sambil menahan tawanya.

Satu pukulan berakhir di bahu Junsu, membuatnya meringis pelan kemudian tertawa. Minji sudah menaru Mallang di karpet dan bergerak memukuli bahu Junsu keras-keras. “Tega sekali kau, Kim Jun Su!” pekik Minji kesal.

“Aku hanya bicara yang sebenarnya.” Junsu mengarahkan tangannya ke arah Minji, menahan pukulan dari gadis itu seraya terus membela diri.

Selesai memukulinya, Minji menggendong lagi Mallang dan menaruhnya di pangkuan. “Mallang-ah, jangan dengarkan kata-kata Junsu. Aku adalah gadis baik. Dia adalah laki-laki jahat. Cepatlah tumbuh besar, Mallang.”

Satu kecupan berakhir di puncak kepala Mallang dan selanjutnya hidung Minji sengaja diadukannya dengan hidung Mallang. Sementara Junsu yang berada di samping Minji mengacak rambut gadis itu seraya tertawa. “Bagaimana bisa kau mengecup hewan seperti itu. Lebih baik kau mengecup pipiku daripada mengecup hewan berbulu seperti itu,” komentarnya.

Eomma bilang anak laki-laki dan perempuan tidak boleh berciuman, Junsu,” seru Minji dengan polosnya.

“Boleh. Asalkan kita sudah dewasa,” bantah Junsu.

“Orang dewasa yang berciuman hanya mereka yang saling mencintai.” Minji berseru lagi tanpa menatap Junsu. Tangannya masih bergerak lincah memainkan Mallang yang kini berada di depannya.

“Kalau begitu aku boleh menciummu. Karena aku mencintaimu,” ucap Junsu tak mau kalah. Seolah sudah mengerti apa itu arti cinta, Junsu mengucapkannya di depan Minji dan secepatnya mengecup pipi Minji, membuat gadis itu berkedip cepat dan menatap Mallang dengan pandangan kosong. Sementara itu Junsu mengambil langkah seribu untuk pergi dari kamar Minji.

“Memangnya cinta itu apa?”

**

Seoul, Winter 2013

“Bagaimana dengan pendaftaran pesertanya, Seulmi-ya?”

“Tentu saja semuanya berjalan lancar, Eonni. Ini adalah gathering memperingati sepuluh tahun mereka debut, mana mungkin Cassiopeia menolak datang. Apalagi ini acara nasional.” Gadis berkuncir satu yang tengah membawa berkas-berkas di tangannya kini tersenyum ke arah Minji kemudian berjalan bersama dengannya ke arah ruang tengah dari gedung yang diketahui sebagai basecamp dari Cassiopeia—sebutan bagi penggemar grup DBSK.

“Apa menurutmu free hug day tidak buruk?” Minji bertanya dengan nada ragu.

Gadis berkuncir satu bernama Seulmi yang kini berdiri di sampingnya menggeleng pelan seraya tersenyum. “Tidak, Eonni. Kurasa itu sama sekali tidak buruk.”

Eonni, banner yang dipesan untuk acara sudah selesai dibuat. Seperti ini hasilnya. Ah, dan standing banner yang kau pinta juga sudah selesai. Aku menaruhnya di ruang logistik.” Kali ini seorang gadis dengan hoodie berwarna merah bertuliskan ‘always keep the faith’ berdiri di depan Minji seraya membentangkan banner berukuran dua meter di lantai.

“Kau yang membuat ini, Hyejeon-ah? Aku tahu kau memang selalu bisa memuaskanku dengan desainmu. Letakkan ini di ruang logistik juga dan pastikan kita tidak akan meninggalkannya pada hari H,” ujar Minji seraya tersenyum. Gadis bernama Hyejeon melipat banner yang terbentang di lantai kemudian membawanya ke ruang logistik.

“Apa kau merindukan Junsu Oppa, Eonni?” tanya Seulmi tiba-tiba.

Minji terdiam di tempatnya, menatap Seulmi lekat-lekat dan membiarkan satu ulasan senyum terlukis diwajahnya. Bukan senyuman kegembiraan yang seperti biasa ia tunjukkan pada orang-orang di sekitarnya. Ada banyak kegetiran yang ia perlihatkan jelas lewat matanya ketika nama Junsu terlontar dari mulut Seulmi. Seolah ada sihir lewat nama tersebut, sihir yang membuat kotak kegembiraan di hatinya melumpuh seketika.

“Sudah dua belas tahun sejak kita pindah dari Gyeonggi dan sejak saat itu kau tidak pernah sekali pun menemui Junsu Oppa, Eonni,” lanjut Seulmi.

“Aku tidak punya alasan untuk menemuinya, Seulmi-ya,” sahut Minji getir.

“Mengapa? Apa Junsu Oppa berbuat kesalahan padamu hingga kau tidak ingin menemuinya lagi? Semua ini hanya karena…”

“Aku tidak ingin membuatnya malu. Aku bukan siapa-siapa dan dia sekarang sudah menjadi orang besar, Seulmi-ya.” Minji memotong ucapan Seulmi sebelum gadis itu menyelesaikannya.

“Tapi sekarang kau tidak kalah besarnya dengan Junsu Oppa, Eonni. Kau adalah kepala divisi penyakit dalam di Yeouido St. Mary’s Hospital. Kau sudah menjadi orang hebat, Eonni.”

Minji menundukkan kepalanya kemudian menghela napas panjang. Ia meletakkan tangannya di bahu kiri dan kanan Seulmi kemudian menatap adik perempuannya itu lekat-lekat seraya tersenyum. “Seulmi-ya, jangan pernah meragukan kerinduan Eonni pada Junsu Oppa karena tanpa kau tanya pun Eonni sudah selalu menyimpannya dalam hati.  Tapi Junsu Oppa dan Eonni kini tidak seperti dulu. Kami adalah dua orang yang berbeda sekarang dan untuk dapat bersama lagi bukankah sesuatu yang mudah. Kau mengerti?”

Seulmi mengangguk perlahan kemudian berbalik pergi dari hadapan Minji, meninggalkan kakaknya yang kini mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja ruang tengah. Minji menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menghela napas panjang. Bayangan-bayangan Junsu semasa kecil berputaran di benaknya. Suara Junsu yang biasa selalu menemaninya di sela-sela waktu senggangnya terngiang jelas di telinganya, membuat rindunya membuncah semakin kuat.

Junsu-ya, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu.

**

Gyeonggi, Autumn 2000

I want to be your diary in your drawer. I want to put all of your secrets in my heart, without you knowing. I want to be your lover just for a day.

My heart is like this. Just the fact that I can watch over you makes me so grateful. I’m so happy even if I lack a lot.

“Minji-ya, boleh aku masuk?” Junsu sedikit berteriak dari depan pintu kamar Minji, mengetuk daun pintu tersebut pelan kemudian menunggu jawaban dari pemilik kamar yang berada di dalamnya.

“Masuklah,” sahut Minji lirih. Tanpa menunggu apa pun, Junsu membuka pintu kamar Minji dan segera duduk di samping gadis itu. Minji seketika meletakkan kucing berwarna sedikit putih bercampur abu-abu yang ia peluk ke arah karpet dan mengelus kepala kucing tersebut lembut.

“Apa kau tidak bosan bermain dengan Dingga? Apa tidak ada hal lain yang bisa kau kerjakan, Minji-ya?” tanya Junsu tiba-tiba sambil ikut mengelus bulu Dingga di bagian punggung. Kucing milik Minji yang berwarna putih abu-abu itu merupakan anak dari Mallang, kucing kesayangannya yang kini sudah tewas karena terlalu tua.

“Dingga adalah pengganti Mallang, tentu saja aku tidak akan bosan bermain dengannya, terlebih jika aku sedang tidak memiliki kawan. Kau tahu, kucing lebih setia dari pada manusia,” ujar Minji pelan.

“Apa kau marah padaku?” selidik Junsu dengan volume suara yang tiba-tiba saja mengecil.

“Untuk apa aku marah padamu, Junsu-ya. Kau tidak berlatih? Seorang training setiap harinya hanya disibukkan dengan latihan dan latihan. Cepat pergi berlatih sebelum kau dihukum karena terlambat. Aku tidak apa-apa.” Minji mendorong pelan tubuh Junsu, menyuruh laki-laki itu segera pergi dari kamarnya.

Junsu yang sedikit terjengkang karena dorongan Minji memutuskan untuk bangkit dan berjalan ke arah pintu kamar Minji. Junsu berusia lima belas tahun itu tahu ada sesuatu yang salah dengan keadaannya dan Minji saat itu. Ia berjalan keluar dari kamar Minji dan bersembunyi di balik daun pintu kamar gadis itu, menyisakan sedikit celah agar dirinya dapat melihat apa yang dikerjakan Minji di dalam.

Minji bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri meja belajarnya, mengeluarkan diari dari lacinya dan menulis. Junsu menatap gerakan Minji lekat-lekat. Ada bagian dari dirinya yang ingin berada di sisi Minji, menunggunya menulis diari sembari duduk di tempat tidur gadis itu, mengamati gerak-gerik Minji.

“Meow…” Junsu terkesiap ketika suara mengeong dari Dingga terdengar di dekatnya. Kucing milik Minji itu kini berada di kaki Junsu, menyentuhkan kaki-kakinya ke arah kaki Junsu, sesekali juga mengeluskan tubuhnya ke kaki Junsu. Junsu tersenyum dan meraih Dingga, menggendongnya hingga sebatas kepala.

“Dingga-ah, bantu aku jaga Minji. Jika aku bisa, aku ingin menjadi diarinya, aku ingin menjadi tempatnya berbagi cerita dan segala rahasia. Aku ingin selalu bersamanya atau mungkin…kurasa aku menyukainya. Aku ingin menjadi kekasihnya sehari saja jika aku bisa.” Junsu mengecup hidung Dingga lembut dengan hidungnya. Itu adalah pertama kalinya ia mengikuti kebiasaan Minji mencium kucing-kucing kesayangannya.

“Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Kekuranganku masih sangat banyak. Dingga-ya, masih bisa melihat Minji di dekatku saja sudah merupakan anugerah untukku. Ya, meskipun aku berharap kami masih dapat bermain bersama seperti dulu lagi. Tapi tidak apa-apa, asalkan melihatnya sehat saja itu sudah cukup. Tolong temani Minji jika aku tidak ada, Dingga-ya.”

**

Seoul, Winter 2013

Eomma apa yang terjadi padamu? Mengapa menyuruhku menjemputmu ke rumah sakit? Kau tidak apa-apa? Bagian mana yang terluka?” Junsu menyentuh pundak ibunya dan melayangkan tatapan dari ujung kaki hingga ujung kepala, berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada ibunya.

Eomma tidak apa-apa! Siapa yang berkata padamu bahwa terjadi apa-apa padaku? Aku tidak apa-apa, Junsu-ya.” Ibu Junsu mengernyitkan dahinya seraya memukul punggung Junsu pelan.

Eomma menyuruhku segera menjemputmu ke rumah sakit, tentu saja aku berpikir yang tidak-tidak! Kukira ada sesuatu yang terjadi padamu. Kau hampir saja membuatku terkena serangan jantung, Eomma!” seru Junsu lagi.

“Dokter Shim, Choi Eun Bin di bangsal anak mengalami sesak napas sekarang.” Seorang perawat berseragam biru muda tiba-tiba saja menghampiri seorang dokter yang membelakangi Junsu, menghadap ke arah sebuah meja perawat di sebuah bangsal. Junsu menoleh sekilas ke arah perawat yang kini menyampaikan berita dengan air muka yang terlihat tidak biasa.

Mwo? Aku akan segera ke sana, Perawat Kim,” ujar dokter wanita yang membelakangi Junsu tersebut sebelum akhirnya menoleh ke arah ibu Junsu dan membungkukkan tubuhnya, “Nyonya, terima kasih sudah membawa Tuan Song ke sini. Tindakan anda sungguh tepat pada waktunya. Kalau begitu saya permisi.”

“Baiklah, Dokter Shim. Terima kasih untuk waktunya.” Ibu Junsu membalas ucapan dokter tersebut kemudian menatap punggung dokter yang berjalan ke depan tersebut dan berdecak pelan.

“Ada apa, Eommonim? Kau mengenal dokter itu?” tanya Junsu ketika mendengar decakan keluar dari mulut ibunya.

“Dokter itu mirip dengan teman kecilmu. Mungkinkah itu dia?”

“Maksudmu Minji? Bukankah kau bilang dia pindah ke Jepang? Mana mungkin ia ada di sini sekarang. Ayo kita pulang. Aku tidak suka menghabiskan waktuku di rumah sakit, Eomma,” balas Junsu.

“Kau ini! Jika tidak terpaksa, aku tidak akan datang ke sini!” sahut ibu Junsu.

“Lalu untuk apa kau ke sini?” selidik Junsu.

“Kau tidak mendengar apa yang dikatakan Dokter Shim tadi? Aku mengantar Tuan Song yang tadi tiba-tiba saja jatuh dan sulit bernapas,” jawab ibu Junsu pelan seraya berjalan menuju pintu rumah sakit bersama dengan Junsu.

“Mengapa harus kau yang mengantarnya ke sini? Apa tidak ada orang lain lagi? Kau benar-benar membuatku khawatir, Eomma.”

**

Gyeonggi, Spring 2003

In my heart, in my soul, love is still something that’s awkward to me. But I wanna give you everything in this world. Even if it would only be in my dreams.

“Eomma! Eomma! Aku pulang!” teriak Junsu ketika baru saja tiba di depan rumahnya. Secepat kilat ia berlari masuk ke dalam rumah dan memeluk ibunya yang kini tengah berkutat dengan masakan di dapur.

“Junsu-ya? Mengapa kau pulang? Bukankah kau seharusnya berada di Seoul? Bagaimana trainingmu?” Ibu Junsu berbalik dan memeluk Junsu erat-erat seraya bertanya.

“Aku membawa kabar gembira,” seru Junsu.

“Apa itu?” tanya ibunya pelan.

“Aku akan debut Desember tahun ini, Eomma!”

Junsu memeluk ibunya erat-erat seraya menyunggingkan senyum lebar di wajahnya. Tidak ada suara yang lolos dari mulut ibunya. Hanya senyuman tulus dan sedikit usapan lembut yang dirasakan Junsu di kepalanya. “Kau melakukan yang terbaik, Junsu-ya.”

Junsu melepas pelukan ibunya cepat dan menatapnya dengan seulas senyuman. “Eomma, aku akan segera kembali.”

Junsu berlari keluar dari rumahnya, menghampiri rumah yang berada di sebelah kiri rumahnya, menatap rumah di depannya lekat-lekat sebelum akhirnya menekan bel yang menempel di dinding rumah tersebut. Junsu sama sekali tidak menghilangkan ulasan senyuman di bibirnya.

“Minji-ya! Shim Min Ji!” panggilnya seraya mengetuk pintu rumah tersebut kencang.

“Minji-ya, aku pulang! Shim Min Ji!” teriaknya sekali lagi dengan suara yang lebih keras tapi tak ada jawaban dari dalam.

“Minji-ya, kau tidak ingin menemuiku?” Sekali lagi Junsu berteriak meskipun ketukannya di pintu terdengar semakin lemah.

“Junsu-ya! Minji sudah tidak di sana lagi.”

Saudara kembar Junsu—Junho—berteriak dari ambang pintu rumahnya. Teriakan Junsu yang cukup keras itu membuat Junho mampu mendengarnya dari ruang televisi rumahnya. Rumah Minji dan rumahnya memang hanya berbatas pagar bata setinggi satu setengah meter, sehingga teriakan Junsu di depan rumah Minji mampu terdengar jelas hingga ke rumah Junsu sendiri.

“Kau bercanda,” ujar Junsu setibanya kembali di teras rumahnya.

Junho duduk kursi yang ada di teras rumahnya seraya memandang lurus ke depan ketika Junsu akhirnya menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Minji dan keluarganya sudah pindah ke Jepang satu minggu yang lalu. Dia bilang ayahnya dipindahtugaskan ke Jepang dan akhirnya mereka sekeluarga harus pindah,” jelas Junho.

“Mengapa kau tidak memberitahuku, Junho-ya?”

“Minji yang memintanya padaku.”

 

“Junho-ya, aku akan pindah ke Jepang besok. Appa dipindahtugaskan ke sana dan kami sekeluarga harus ikut ke sana. Lagipula ada universitas dengan fakultas kedokteran yang sangat bagus di sana.”

“Apa kau sudah memberitahu Junsu?”

“Bagaimana mungkin aku tega memberitahunya. Kau pikir jika aku memberitahunya maka ia masih bisa berlatih dengan baik di sana? Kurasa konsentrasinya akan buyar.”

“Ia akan sangat marah padamu jika kau tidak memberitahukannya.”

“Junho-ya, impian Junsu sudah di depan matanya dan jika aku datang ke hadapannya sekarang serta memberitahukannya berita kepergianku, kurasa aku hanya akan menjadi kerikil yang menyandung jalannya. Kami…Junsu dan aku sekarang hanya dua orang yang berbeda.”

“Minji menitipkan surat ini untukmu,” akhir Junho seraya menyerahkan secarik amplop merah jambu ke arah Junsu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak Junsu sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Junsu yang masih duduk termenung di tempatnya.

Junsu membolak-balik amplop merah jambu yang kini berada di genggamannya. To : Junsu. Begitu yang tertera di bagian depan amplop tersebut. Akhirnya Junsu menyobek bagian samping amplop tanpa membuat kertas surat di dalamnya rusak. Ia membentangkan kertas surat berwarna hijau muda kemudian menatapnya lekat. Kertas surat hijau muda yang berisikan tulisan-tulisan Minji sekarang terpampang di depannya, membuat Junsu merindukan Minji semakin dalam.

Dear, Junsu…

Maafkan aku.

Ketika kau membaca tulisanku ini, aku sudah pasti tidak lagi berada di dekatmu. Ah, tidak. seharusnya aku mengatakannya lebih jelas. Dengan surat ini, aku menyatakan bahwa aku sudah tak lagi berada di Korea. Aku berada di Jepang sekarang. Selamat! Apa kau tidak akan mengucakan selamat padaku?

 Perihal aku tidak lagi berada di dekatmu, bukankah sejak kau menjadi trainee dulu, kita memang sudah tidak begitu dekat lagi? Kau selalu sibuk dengan segala latihanmu. Ya, latihan untuk mencapai mimpimu. Aku senang, mimpimu sudah di depan mata. Ketika nanti tiba saatnya membuka kotak impian kita, aku mulai yakin bahwa nanti aku yang harus mentraktirmu makan. Bahkan sekarang aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi dokter atau tidak, Junsu-ya.

Junsu-ya… Aku rindu memanggilmu dengan sebutan seperti itu. Aku rindu bermain denganmu seperti saat kita kecil dulu. Masa remaja ini, aku tidak pernah menyangka akan menghabiskannya tanpamu. Ya. Aku mulai sadar bahwa aku sangat bergantung padamu. Aku mulai sadar ketika kau tak lagi bersamaku, ketika kau mulai sibuk dengan segala latihan-latihanmu.

Aku merindukanmu, Junsu-ya. Aku sangat merindukanmu. Ada hal yang ingin aku janjikan padamu, yaitu untuk ada bersamamu ketika kau debut nanti. Jika bisa, aku akan berada di urutan paling depan di kursi penonton ketika kau debut nanti. Aku akan selalu menjadi penggemar nomor satu untukmu. Kau akan bersinar terang di atas panggung sementara aku akan memantulkan sinar darimu dan mengamatimu dari kursi penonton.

Junsu-ya, ada satu hal yang aku sadari ketika aku menulis surat terakhir ini untukmu. Kau dan aku, kita adalah dua orang yang berbeda sekarang, Junsu-ya. Tetaplah bersinar layaknya bintang. Dulu, aku memang terlalu malu untuk mengucapkannya kepadamu tapi lewat surat ini aku ingin mengatakannya. Aku bisa melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia, Kim Jun Su. Aku akan memberikan segalanya, meski hanya lewat mimpi. Kau yang paling berarti bagiku.

Junsu-ya, sampai jumpa lain waktu. Aku akan sangat merindukanmu.

Best wishes,

Shim Min Ji

“Selamat, Minji-ya, kau mendapat kehidupan yang baru sekarang.”

**

Seoul, Winter 2013

 

“Selamat! Selamat hari jadi ke sepuluh tahun!!!”

Suara gelas-gelas kaca beradu menambah riuh suasana ruang makan di apartemen milik Junho. Gelak tawa terdengar dari berbagai sisi. Lima buah kursi penuh diduduki lima orang pemuda yang telah berjanji untuk berkumpul bersama hari itu, 26 Desember 2013.

“Bagaimana kalian bisa datang ke sini? Apakah manajer kalian tidak tahu?” Jaejoong adalah orang yang pertama kali bertanya setelah barusan Yoochun meneriaki ucapan selamat dengan volume cukup keras.

“Kabur,” sahut Yunho pelan seraya menyisip minuman dalam gelas di genggamannya.

“Kalian sudah gila!” Kali ini Yoochun kembali berkomentar.

“10 tahun! Apa kalian pikir Yunho Hyeong dan aku tidak akan berani berbuat gila di perayaan ke sepuluh tahun ini?” Changmin kini meraih kue kering yang ada di meja dan melahapnya.

“Aku akan menangis setiap kali membaca tulisan Cassiopeia yang berharap kita berlima dapat bersama lagi. Bukan hanya mereka yang menginginkannya, kuyakin kita semua ingin,” ujar Jaejoong pelan.

“Bagi Cassie, mungkin tidak ada yang lebih baik dari kabar DBSK akan bersatu kembali. Aku bangga mempunyai mereka semua,” komentar Yunho.

“Sepertinya ada satu orang yang tidak begitu gembira dengan perayaan ini.” Yoochun merangkul Junsu yang ada di sampingnya, menggenggam segelas jus jeruk yang disediakan khusus untuknya.

Junsu menatap lurus ke depan, menembus gelas berisi jus jeruk miliknya. Pandangannya kosong, seolah ada sebuah beban berat yang disembunyikannya, yang menahan kebahagiaan keluar dari hatinya. Benak Junsu melayang jauh meneliti masa lalu. Manik matanya sedikit berkaca, membuat kawan-kawan di sekelilingnya merasa sedikit kebingungan.

“Aku akan berada di urutan paling depan di kursi penonton ketika kau debut nanti.”

Potongan kalimat yang tertera si surat terakhir yang diberikan Minji padanya kini terngiang lagi di benaknya. Junsu meletakkan gelas jus di depannya dan menundukkan kepalanya. Benaknya memutar lagi kejadian sembilan tahun lalu, ketika Junsu mengesampingkan kegiatannya dan akhirnya pulang ke Gyeonggi hanya untuk membuka kotak impian yang dikuburnya bersama Minji sepuluh tahun sebelumnya.

‘Aku ingin menjadi dokter sekaligus kekasih dari penyanyi terkenal Kim Jun Su. Karena aku menyukai Junsu Oppa. Aku rela memberikannya apa pun karena Junsu Oppa sangat keren.’ – Minji

“Kau teringat pada teman kecilmu itu lagi?” tanya Jaejoong, membuat Junsu sedikit terperanjar, tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. Semua member tengah menatapnya lekat-lekat, Yoochun bahkan mengernyitkan dahinya seraya menatap Junsu lekat.

“Sudah sepuluh tahun dan Minji sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di barisan paling depan di tiap konser. Tidak juga di konser JYJ. Di Korea ataupun Jepang, aku tidak pernah sekali pun melihatnya,” sahut Junsu pelan.

“Mungkin kau sudah lupa wajahnya, Hyeong,” timpal Changmin asal.

“Tidak mungkin.”

“Kau merindukannya?” tanya Yunho kemudian.

“Lebih dari itu. Aku sangat-sangat merindukannya,” jawab Junsu.

“Kau ingin bertemu dengannya?” selidik Jaejoong yang diikuti gelengan dari kepala Junsu.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa Minji baik-baik saja. Itu saja sudah cukup.” Junsu menundukkan lagi kepalanya dan meraih gelas di depannya, menyisipnya perlahan dan kembali menaruh gelas tersebut di meja.

“Baiklah, aku tidak ingin melihat Junsu sedih di hari menyenangkan kita ini. Aku punya ide! Bagaimana jika kita memantau Cassiopeia Gathering yang diadakan hari ini. Kau ingat, Junsu-ya, pamflet free hug day yang beberapa hari yang lalu kau tunjukkan pada kami,” usul Yoochun.

“Aku masih tidak habis pikir kau sangat bersemangat dengan free hug day itu. Bahkan bukan kita berlima yang memberikan pelukan itu, Yoochun-ah,” balas Jaejoong.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana mereka memberikan pelukan tanpa kita. Ayo!”

**

“Seulmi-ya, siapa lagi yang akan ada di depan selain aku?”

Ruang di samping panggung yang digunakan untuk bersiap-siap oleh para panitia terlihat ramai. Beberapa orang berlalu-lalang mencari hadiah, mencari orang yang harus bersiap untuk acara free hug, dan lain sebagainya. Dan di sanalah Minji berjalan ke sana dan ke mari seolah kebingungan.

“Kau sebagai Hanguk Cassiopeia President kemudian wakil presiden, presiden daerah Busan, presiden daerah Gyeonggi, dan presiden daerah Jeju,” sahut Seulmi seraya membolak-balik kertas-kertas berisi data di tangan kirinya.

Code-X Mall merupakan pusat perbelanjaan kedua terbesar di Seoul sekaligus tempat diadakannya Cassiopeia Gathering tahun 2013 tersebut, bertempat di lantai teratas mall, para penggemar berpakaian serba merah memadati ruangan yang disusun seperti panggung besar. Sudah hampir dua jam acara berlangsung. Games, penampilan dance, dan acara lainnya sudah bermunculan untuk para penggemar yang datang ke acara tersebut. Tiba saatnya acara puncak yang diusung oleh panitia, free hug day.

Minji bersiap dengan topeng kertas bergambarkan wajah Junsu sementara keempat rekannya yang lain bersiap dengan topeng member lainnya. Teriakan histeris tidak dapat dipadamkan dari ratusan Cassiopeia yang hadir di tempat tersebut hari itu sekali pun mereka tahu bahwa free hug yand diadakan hanyalah sebuah pelukan gratis dari para panitia yang menyamar menjadi para member DBSK.

Minji dan keempat rekan lainnya berjajar di atas panggung, di balik sebuah meja yang berselimutkan kain berwarna merah, lengkap dengan topeng masing-masing member yang terpasang di wajah mereka.

Sementara itu para peserta gathering berdiri berjajar membentuk sebuah barisan lurus yang memanjang ke belakang. Tertib.

“Junsu Oppa, tolong katakan kata-kata semangat untukku,” ujar seorang gadis berusia sekitar 15 tahun yang kini berada dalam dekapan Minji yang mengenakan topeng Junsu.

“Siapa namamu?” tanya Minji dengan suara yang dibuatnya menyerupai laki-laki.

“Hyeya. Namaku Hyeya, Oppa.”

“Hyeya-ya, apa pun yang kau kerjakan, ingatlah untuk tetap semangat. Hanya dengan semangat kau mampu melakukan semuanya! Himnae!

“Terima kasih, Junsu Oppa.” Gadis bernama Hyeya tersebut berjalan melalui tempat di depan Minji, berpindah ke tempat berikutnya.

Selang setengah jam kemudian, setengah dari antrean memanjang di depan meja sudah maju ke depan, mendapatkan sebuah pelukan dan selembar foto berukuran A5. Hingga akhirnya pembaca acara mengumumkan bahwa acara free hug tersebut dihentikan selama lima belas menit.

Eonni, apa kau ingin digantikan?” tanya Seulmi pelan.

“Aku hanya butuh ke kamar kecil, Seulmi-ya, aku tidak ingin digantikan. Mengenakan topeng laki-laki ini membuatku merasa lebih dekat dengannya.”

**

“Aku tak menyangka mereka bisa sekreatif itu,” komentar Changmin.

“Tempat ini terlalu ramai. Kurasa sebaiknya kita kembali pulang ke apartemen Junho.” Jaejoong menghela napas dan memberikan saran pada keempat laki-laki yang kini berdiri tak jauh di samping kiri panggung.

Sementara Jaejoong, Yoochun, Yunho dan Changmin mengangguk tanda mengerti, Junsu malah memandang ke arah panggung lekat-lekat. Matanya tak dapat teralihkan dari sosok wanita yang mengenakan topeng wajahnya, berdiri di tengah dan kini melenggang pergi dari atas panggung.

“Aku tidak mengerti mengapa seorang presiden klub seperti Minji Eonni memilih untuk menggantikan Junsu Oppa dalam event ini. Kukira tadinya ia akan menggantikan Jaejoong Oppa karena ia adalah presiden klub sejak dua tahun lalu.”

“Harusnya ia menggantikan Jaejoong Oppa saja. Mereka sama-sama leader. Tapi, apakah kau tahu, kabarnya Minji Eonni itu kepala bagian kardio di Yeouido St. Mary’s Hospital. Bagaimana bisa ia masih menjabat sebagai presiden di klub? Bukankah ia hebat sekali!”

Junsu menoleh ke arah dua gadis yang baru saja berjalan melaluinya sambil menyebutkan namanya dan nama Minji.  Benaknya kembali menampilkan potongan-potongan kejadian masa lalu yang membuatnya semakin merindukan Minji. Junsu menolehkan kepalanya ke arah panggung dan mendapati gadis kecil yang mirip dengan Minji di atas sana, mengenakan t-shirt berwarna merah. Gadis itu perlahan turun dari panggung dan beranjak menuju ruangan di bagian kiri belakang panggung.

“Kalian bisa pulang lebih dahulu, ada hal yang harus kukerjakan. Aku melihat Minji.” Junsu berjalan cepat sesaat setelah menyuruh keempat kawannya untuk pulang lebih dahulu.

Meninggalkan keempat rekannya, di sanalah Junsu sekarang berdiri, di samping sebuah pintu yang bertuliskan ‘staff room’. Jaket berbulu tebal menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Sebuah syal berwarna merah membelit lehernya, berusaha menghangatkan tubuhnya dari udara musim dingin. Junsu melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam yang harusnya ia kenakan di musim panas.

Beberapa menit kemudian seorang gadis keluar dari ruangan tersebut, seorang gadis berkuncir satu yang dilihatnya di panggung beberapa waktu lalu. “Minji-ya,” gumam Junsu pelan, membuat gadis yang baru saja keluar itu menatapnya heran.

“Aku bukan Minji Eonni,” sahut gadis itu pelan.

“Bukan? Jadi kau?Ah, tunggu. Seulmi?Apa itu kau?” tanya Junsu memastikan. Ia memutar bola matanya, menatap gadis di depannya lekat-lekat. Gadis yang terlalu muda untuk ukuran Minji. Junsu ingat harusnya Minji berusia 26 tahun saat ini dan gadis di depannya terlalu muda untuk ukuran gadis berusia 26 tahun.

“Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?” Gadis di depan Junsu bertanya pelan, membuat Junsu menghela napas dan menarik pergelangan tangannya menjauh dari ruangan tersebut. Junsu berlari kecil mencari sudut gedung yang tak ramai oleh banyak orang hingga akhirnya ia menemukan pintu darurat dan menarik gadis itu masuk ke dalamnya.

“Siapa kau?” tanya gadis itu sekali lagi dengan nada suara yang sedikit memanik.

Junsu menurunkan kacamata hitamnya dan menatap gadis di depannya lekat-lekat. “Ini Oppa,” ujar Junsu.

“Ju…Junsu Oppa?” ulang gadis tersebut.

“Seulmi-ya, apakah Minji ada di sini? Katakan padaku di mana Minji? Aku mendengar orang membicarakan namanya sejak tadi. Aku ingin menemuinya, Seulmi-ya!” seru Junsu cepat.

“A…aku akan menghubungi Eonni, tunggulah sebentar, Oppa.” Gadis itu—Seulmi—melakukan panggilan dengan ponselnya. Terdengar lewat pembicaraannya, Seulmi menyuruh Minji segera masuk ke pintu darurat tanpa memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tunggulah Minji Eonni di sini, Oppa. Aku harus kembali ke depan. Aku harus mengatur acara dan tentu saja menggantikan Minji Eonni menjadi dirimu. Sampai jumpa!” Seulmi tidak berbicara banyak pada Junsu melainkan hanya meninggalkannya menunggu Minji di tangga darurat Code-X Mall.

Bersembunyi di balik pintu darurat. Begitulah yang dilakukan Junsu ketika pintu terbuka dan seseorang dengan rambut panjang lurus dan tergerai masuk ke dalamnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seolah mencari-cari sesuatu. Junsu sekuat mungkin berusaha menahan debaran yang ada di jantungnya, yang membuat napasnya terasa semakin berat untuk dapat dihembuskan. Sosok gadis di depannya, Shim Min Ji, sosok gadis yang tidak akan pernah Junsu lupakan. Raut wajahnya, caranya melangkah, dan segala macam tentangnya sama sekali tidak berubah. Ia masih Shim Min Ji yang dulu, pikir Junsu.

“Senang bertemu denganmu, Presiden dari Cassiopeia,” ujar Junsu pelan, membuat Minji sontak menoleh dan membulatkan matanya.

“Ju…Junsu-ya,” gumam Minji pelan.

Junsu berjalan mendekat ke arah Minji dan tersenyum. Kedua tangannya sengaja ia masukkan ke dalam kantung jaket pajang berwarna kecokelatan yang dikenakannya. Ketika ia tiba di hadapan Minji, Junsu mengulurkan tangan kanannya dan mengelus puncak kepala Minji lembut. “Sudah lama tidak bertemu denganmu, Shim Min Ji.”

“Bagaimana kau…”

“Bagaimana kau bisa tahan selama itu bersembunyi dariku?” Junsu memotong ucapan Minji dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

“Maaf,” sahut Minji singkat.

“Dan kali ini kau hanya mengatakan satu kata itu?”

“Maaf.”

Junsu semakin mengencangkan dekapannya terhadap tubuh Minji. Menguncinya dalam pelukan yang hangat, seolah memang dengan sengaja mentransfer seluruh kehangatan yang dirasakannya. “Ada banyak pertanyaan yang kusimpan. Mengapa kau pergi tanpa memberitahuku? Mengapa kau sama sekali tidak mengabariku? Mengapa kau tidak datang di waktu kita seharusnya membuka kotak impian kita? Mengapa kau…”

“Jangan tanya lagi.” Kali ini giliran Minji yang dengan sengaja memotong ucapan Junsu.

“Apa kau merindukanku, Minji-ya?” tanya Junsu lirih. Dielusnya puncak kepala Minji perlahan.

Minji terdiam. Yang terasa oleh Junsu hanyalah detak jantung Minji yang kian cepat serta kehangatan yang menjalar di tubuhnya. Bukankah itu yang diinginkan Junsu sejak dulu? Memeluk Minji erat seolah tidak akan lagi membiarkan gadis itu pergi dari sisinya.

“Bukankah ketika usiamu tujuh tahun kau bilang ingin menjadi kekasihku? Lalu mengapa kau malah pergi dari hadapanku?” tanya Junsu tanpa melepas dekapannya.

“Karena cintaku bertepuk sebelah tangan,” jawab Minji sekenanya.

“Bodoh,” seru Junsu pelan seraya melepaskan pelukannya. Laki-laki itu menatap Minji lekat sementara gadis itu menyembunyikan wajahnya dalam-dalam, tidak berani bertemu pandang dengan Junsu.

“Kau bahkan belum mengetahui apa impianku saat itu.”

Ucapan Junsu mampu membuat Minji menengadahkan kepalanya, menatap mata Junsu yang kini menatapnya dalam. “Apa itu?”

“Aku tidak ingin jadi penyanyi, aku hanya ingin menjaga Minji…selamanya.” Junsu menggenggam kedua tangan Minji erat dan mengatakan impian yang tertera di kertasnya seraya menatap dalam mata Minji.

“Kau berbohong,” balas Minji tak percaya.

“Aku tidak pernah berbohong padamu, Minji-ya.”

Minji terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan membiarkan setetes air mata menetes dari maniknya. “Maafkan aku.”

“Ssttt…” Junsu menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Minji, menatapnya lekat sekali lagi dan tersenyum. “Aku tidak butuh permintaan maafmu. Aku hanya butuh dirimu di sisiku, kita akan bersama-sama meraih mimpi yang pernah kita tulis. Kau hanya perlu berada di sisiku selamanya dan memanggilku ‘oppa’.”

“Aku tidak mau,” sergah Minji.

“Kudengar kau sekarang kepala bagian kardio, benar? Bukankah itu bagus? Kau telah mencapai cita-citamu.” Junsu mengelus puncak kepala Minji lembut ketika gadis itu mengangguk perlahan, membenarkan kalimat Junsu.

“Aku mencintaimu, Minji-ya. Aku mencintai seorang presiden dari Cassiopeia yang merupakan penggemar pertama dan terakhirku. Selain sebagai penggemar, aku akan membuatmu menjadi cinta pertama dan terakhirku. Aku mencintaimu.”

Junsu tersenyum, mengecup dahi Minji lembut dan mendekap gadis itu lagi erat-erat. Junsu mengecup puncak kepala Minji sambil tetap memeluk gadisnya itu erat-erat. “Apa kau masih tidak bisa memanggilku Oppa?” tanya Junsu tiba-tiba.

Alih-alih menjawab, Minji semakin terdiam dalam keheningannya. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya, memeluk erat pinggang Junsu.

“Aku selalu mencintaimu, Junsu Oppa. Aku…sebenarnya aku sudah memanggilmu Oppa sejak debutmu. Aku sangat merindukanmu…Oppa.”

“Ah, itu lebih enak didengar. Panggilan ‘oppa’ darimu itu. Minji-ya, setelah ini kembalilah ke panggung, gantikan aku memberikan pelukan untuk para penggemar lainnya. Berikan kebahagian ini pada semuanya. Kau tahu, hari ini kami berlima datang untuk melihat kalian. Kami memang belum bisa bernyanyi dalam format berlima di satu panggung tapi kami masih tetap bertemu satu sama lain. Bukan hanya Cassie yang menginginkan kami bersatu, karena sebenarnya baik Cassie ataupun kami, aku tahu kita semua sama-sama tidak percaya bahwa DBSK sudah berakhir. Sampai kapanpun, DBSK akan tetap terdiri dari lima dan bersinar selalu di hati kalian. Sampaikan itu pada semua Cassie, Nona Presiden.”

“Baiklah, Oppa. Aku akan menyampaikannya nanti.”

“Minji-ya, ada beberapa hal yang selalu ingin kulakukan sejak dulu. Pertama, aku ingin menjadi tempatmu berbagi rahasia. Kedua, aku ingin menjadi teman bermainmu setiap waktu dan ketiga, aku ingin menjadi kekasihmu walau hanya sehari saja. Tapi dibandingkan itu semua, ada satu hal lagi yang sangat ingin kulakukan,” ujar Junsu lembut.

“Apa itu?” tanya Minji.

“Memelukmu,” jawab Junsu seraya memberikan jeda pada kalimatnya. “Memelukmu adalah hal yang ingin kulakukan pertama kalinya setelah aku mengetahui bahwa aku mencintaimu.”

THE END

35 thoughts on “FFKPI Songfiction Project – TVXQ’s Junsu

  1. kyaaaa…. ak suka banget mam >_____<
    ak suka, km bikin ceritany jadi manis bgt 🙂 tp ending ny rasany agak buru" hehe.. but still nice ^^ ingin jd minji rasany 😀

      1. iaa c minji aku kan yaa 😀 hihi
        tp pngen jd yg asli gitu maam.. xD
        junsu oppa manis bgt dsni >_~<

  2. so sweeeeeeeeet ><
    rasanya tergambar bgt perasaannya junsu di sini..
    meskipun aku bukan cassie tpi aku jga berharap DBSK bakal nalik berlima lagi, kangen liat mereka kumpul :')

  3. Mala… Maaf baru nongol… Baru sempet maen2 PC lg skrg, bbrp hari belakangan sibuk banget, tadi malem aja jaga toko kembang api smpe jam 1 pagi. Kmren jg cuma smpet reblog pny naya pas pinjem kompi-nya kantor. hehehe…
    Jadi sbnernya komenku pas gagal dr hape itu begini bunyinya…

    Finally! Kelar jg bacanya… Baca ini pas lg di bank (cuma ini waktu lowong yg ta punya kalo jam kerja)…
    “Memelukmu adalah hal yang ingin kulakukan pertama kalinya setelah aku mengetahui bahwa aku mencintaimu.” –> Aku merasa kalimat ini agak janggal. Apa nggak lebih pas kalo begini, “Memelukmu adalah hal pertama yang ingin kulakukan setelah aku mengetahui bahwa aku mencintaimu.”
    Ummm… Trus, ga bermaksud apa-apa sih cuma Jaejoong itu sbenernya menjalani training yang terbilang cukup singkat, 2 tahun aja sebelum akhirnya debut. Kalo Junsu emang lebih lama sih cuma aku lupa tepatnya berapa lama. Sbnernya ngomongin ini gara2 di atas itu ceritanya Minji minta dikenalin sama Jaejoong pas masih tahun 90 berapa deh itu ya? Itu aja sih…
    Ini ceritanya bagus, Mala meskipun berasa agak kepanjangan. Tp mulai adegan mereka berlima ngumpul aku excited banget! Feel-nya jg dapet!
    Good job, Mala! ^^

    1. Wkwkwk. Itu yang aku tulis adalah kalimat pertama yang terlintas di benakku sih, Ce. Ya memang setelah sekarang dibaca agak janggal juga. Makasih sarannya, Ce.

      Ah, Jaejoong! Aku juga nggak tahu sih. Hehehe. Maklum aku bukan Cassie dan karena aku kepengen cepet2 menyelesaikan ini di waktu yang udah mepet jadi aku nggak search fakta mereka dulu dan aku juga fokus ke faktanya Junsu. 😀
      Maaf ya kalau salah fakta ttg Jaejoong.

      Makasih ya Ce udah baca.. ^^

  4. Eonni~~~!!! Aku sukaaa FF nyaa!! Manis banget endingnya~~ aaaa X3

    Itu nama-nama kucingnya unik banget, eon! X3 Apalagi Mallang! *teringat bakso #salah fokus

    Overall FF nya Daebak eon! XD si Minji enak banget deh, iri banget aku! aplagi kalo temenannya ama Key! *eaaaaa
    cuman agak bingung flashback yang bolak-balik aja sih. eh, itu sih salah akunya aja yang ga fokus bacanya. hehe Xp

    Semangat terus, eon! ^___^ yay!

  5. Mala 😀 I’m coming! Maap yak baru muncul. Alasannya ada ini dan itu yg bikin baru kelar baca..hehe

    Langsung ke cerita. Ga banyak sih. Cm msh ada beberapa typo aja. Manusiawi deh ya kalo itu 😀 aku jg msh srg typo. Lainnya aku uda idem aja sm yun. Hehe.. Dan perbedaan wkt ga bikin aku bingung. Cm sempet bingung gmana caranya ke5 cowok kece semampai itu bisa masuk ke ruang acara dan tanpa ketauan sm cassie. Soalnya sempet ga didiskripsiin bgian itu. Kcuali sampe bgian junsu nguntit minji yg trnya seulmi,ya? Baru diceritain kalo junsu pake kcamata item. Atau mgkn krn uda kepanjangan? But overall,good job Mala 😀
    Aku suka idenya yg masukin tentang perayaan aniv ke10 mereka ini. Ini baru cocok sm perayaan! 😀

    Hwaiting Mala! 😀

  6. Co cweet eonniiii,, ah mian aq bru nongol. *bow*
    Walopun aq jg bkan cassie, tp aq jg salut ama idol plus casisie, mereka tetep mempersembahkan yg terbaik untuk masing2. Aq suka kalimat eonni yg ini.

    “Sampai kapanpun, DBSK akan tetap terdiri dari lima dan bersinar selalu di hati kalian”

    Tidakkah itu terlihat kaya eonni seorang cassie?? Hehe
    Kalimat yg bikin cassie girang ini 😊

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s