FFKPI January Playlist – Lee Seung Gi’s Last Word


Last Word

“LAST WORD”

Songwriter : noonapark || Artists : Lee Seung Gi & SNSD’s Im Yoon Ah / Im Yoona || Genre : AU-Romance || Duration : One Shot || Theme Song : Lee Seung Gi – Last Word

 

Disclaimer : This story is purely mine! Except the idol caracter, they’re belong to God.

Lansung aja okay~!

Happy Reading

 

Tulisan italic adalah flashback

– noonapark storyline Ó 2014 –

 ~Last Word~

In my hurt heart

In my heart that’s crying on the inside

I couldn’t say anything and my memories ride the wind

As I hide behind my tears, I wait for you

 

Sungai Han. Sore ini tempat itu begitu menenangkan, butiran kristal yang lembut dan dingin itu secara perlahan luruh kemudian menyentuh permukaan bumi. Aku merapatkan mantel dinginku saat angin berhembus dengan lembut. Meskipun begitu, angin itu mampu membawa hawa dingin yang bahkan kini serasa menusuk tulang-tulangku.

Segelas cappuchino latte panas menemaniku di sore yang tenang ini. Duduk di salah satu bangku seorang diri tak mengurungkan niatku untuk melepas rindu pada tempat ini. Ya, sudah sekitar dua tahun aku tidak pernah lagi menyambangi tempat ini. Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke negeri sakura pada saat itu; Jepang.

Aku tersenyum tipis saat kenangan itu kembali terputar seperti sebuah film di dalam otakku. Padahal baru satu jam aku berada di tanah kelahiranku. Dan hal itu berhasil membuat rindu yang selama dua tahun ini mati-matian aku tahan semakin terasa begitu menyakitkan.

Aku menundukkan pandanganku, pandangan yang aku sendiri tidak tahu dimana titik fokusnya. Karena didalam pandanganku kini yang terlihat hanyalah kenangan-kenangan saat bersamanya. Kenangan yang seperti terbawa angin dan selalu menghampiriku dimanapun kaki ini berpijak.

Dan kini, otakku kembali memutar kejadian beberapa tahun lalu, kejadian yang sudah terpatri kuat di dalam ingatanku.

Saat itu.. saat pertama kali aku bertemu dengannya.

.

“Gawat! Aku terlambat!” aku bergumam geram saat sepedaku mulai memasuki area sekolah ini; Hannyoung High School. Oh ayolah, ini hari pertamaku menjadi siswa SMA dan aku harus terlambat seperti ini?

 

Ya! anak baru!”

 

Aku segera menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki berbadan tegap yang mengenakan seragam khas sekolah ini. Pasti dia senior di disini.

 

Oh tidak!

 

N-nde?”sahutku gugup setelah menghentikan sepedaku yang tadinya siap meluncur ke tempat parkir.

Lelaki itu berjalan cepat menghampiriku. Perlahan aku turun dari sepedaku dan menahannya dengan kedua tanganku.

 

“Murid baru?”tanyanya. Aku mengangguk pelan.

 

“Lee-Seung-Gi?!”kali ini dia mengeja name tag berukuran besar yang ada didepan dadaku dengan talinya yang menggantung di leherku.

 

Kembali, aku hanya mengangguk pelan.

 

Senior yang ku ketahui bernama Choi Siwon dari name tag-nya itu hanya mendengus kasar. Kemudian ia kembali menatapku dengan tatapan yang tidak suka –tentunya. “Kau tahu ini jam berapa?”

 

“A..aku—“

 

“Kenapa kau terlambat di hari pertama masuk sekolah? Apa kau tidak tahu jadwal untuk hari ini?”

 

“Aku—“

 

“Cepat parkir sepedamu dan segera berkumpul dengan orang yang disana!”ia menunjuk ke salah satu sudut. Aku segera mengikuti arah telunjunknya. Di sudut halaman sekolah terlihat seorang siswi yang mengenakan seragam sepertiku –kemeja putih dan bawahan berwarna hitam- tengah memunguti sampah-sampah yang ada disana.

 

“Jangan hanya diam! Cepat laksanakan!”ia berseru sembari mendekatkan wajahnya didekat telingaku, membuat gendang telingaku berdengung dibuatnya.

 

Aku mengangguk cepat-cepat, “N-nde, sunbae-nim!”

Setelah memarkirkan sepedaku di tempat parkir, aku bergegas menuju sudut halaman. Dalam hati aku mengutuk jam weaker-ku yang semalam tiba-tiba mati itu, semua ini salahnya!

 

Jika aku sudah pulang nanti, aku akan segera membuang jam butut itu ke tempat sampah. Pasti!

 

“Hhh~”aku mendesah pelan sesampainya di sudut halaman. Lalu berjongkok, kemudian mulai memunguti sampah dan mencabuti rumput liar yang ada disana.

 

“Kau terlambat juga?”tanya sebuah suara yang ada disampingku

 

Nde”sahutku malas tanpa berniat sedikitpun mengalihkan pandanganku pada rumput-rumput liar itu.

 

“Aku juga terlambat”ucapnya lagi

 

“Aku tahu”sahutku sembari mencabut kasar rumput liar itu, kemudian membuangnya lagi ketanah. Aku menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan, “Kalau kau tidak terlambat kau tidak mungkin—“

 

Kalimatku terhenti begitu saja saat aku menoleh kearah gadis disebelahku ini. Bukan hanya kalimatku yang terhenti, bahkan aku merasakan waktu seolah terhenti selama beberapa saat. Dan jantungku…

 

“Tidak mungkin apa, hm?”

 

Butuh waktu beberapa saat bagi otakku yang lamban ini untuk membuat suasana kembali normal. Detik selanjutnya, angin berhembus lembut membuat rambut cokelat sebahu gadis itu beterbangan tertiup angin. Dan kini, aku bisa melihat jelas wajahnya yang cantik –sangat.

 

Aku mengerjap beberapa kali saat gadis itu sedikit memajukan kepalanya seperti meminta penjelasan dariku, “A..ah! M..maksudku.. kalau kau tidak terlambat, kau tidak mungkin berada disini, begitu..”astaga! kenapa aku jadi gugup begini?!

 

Gadis itu tertawa kecil, membuat wajahnya yang sangat cantik menjadi berkali-kali lipat semakin terlihat sangat cantik. “Kau benar”sahutnya singkat dengan tawa yang masih tersisa. Lalu gadis itu sedikit bergeser untuk mendekat kearahku. Membuat detak jantungku semakin tak beraturan.

 

Tiba-tiba ia mendekatkan kepalanya kearahku. “Kau tahu? Mereka hanya berpura-pura galak agar kita takut pada mereka”ucapnya seolah berbisik

 

Susah payah aku menelan saliva-ku sendiri. “N-nde! Aku tahu!”

 

Gadis itu sedikit memundurkan kepalanya, lalu menyunggingkan senyum yang terlampau manis kearahku. “Aku Im Yoon Ah. Tapi kau bisa memanggilku Yoona”ujarnya sembari mengulurkan satu tangannya kearahku

 

Aku diam selama beberapa saat. memandangi wajah dan tangannya yang terulur secara bergantian. “Aku..”

 

“Lee Seung Gi?”

 

“Eh? Bagaimana kau tahu?”

 

Ia terkekeh pelan, “Lihat! Bukankah tanda pengenalmu terlalu besar?”tunjuknya kearah dadaku.

 

Aku segera mengikuti arah telunjuknya. Oh Tuhan! Bodoh sekali diriku.

 

Setelah merutuki kebodohanku dalam hati, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

 

Ya! tanganmu kotor!”

 

“Ah! Kau benar!”cepat-cepat aku menurunkan tangan dari kepalaku

 

“Siapa yang menyuruh kalian mengobrol! Cepat bersihkan tempat ini!”seru seorang senior lain yang menghampiri kami.

 

Aku dan Yoona mengangguk cepat, kemudian kami kembali mencabuti rumput liar di tempat ini. Setelah memastikan seior itu menjauh dari kami, kami hanya saling memandang, lalu terkekeh pelan.

 

 

Satu hal yang aku pelajari hari ini..

Tuhan memang adil, Dia menyelipkan sebuah keindahan di balik kesusahan. Mungkin aku harus menarik kata-kata kasarku pada jam weaker tak berdosa itu. Aku berjanji, jika aku pulang nanti.. aku akan mengucapkan terima kasih padanya karena telah membuatku terlambat hari ini. Karena berkatnya, aku bisa bertemu dengan gadis ini.

 

Im Yoona.

 

.

 

Entah mengapa setelah mengingat kenangan itu, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki permukaan kulitku. Aku tertawa kecil, aku tidak mungkin lupa segala kejadian pada hari itu. Dan setelah pulang dari sekolah, sesampainya di rumah aku benar-benar mengucapkan terima kasih pada jam weaker-ku. Bahkan aku juga menciumnya.

Seperti orang bodoh memang. Tapi, entahlah.. aku terlampau bahagia. Aku belum pernah merasakan seperti saat itu sebelumnya.

Otakku terus memutar kejadian-kejadian pada saat sekolah dulu. Seperti saat hubunganku dan Yoona terjalin semakin akrab.

.

Ya! Kau tidak sarapan dulu?”

 

“Tidak eomma. Aku buru-buru!”

 

“Tapi ini masih pagi? Memangnya ada apa disekolahmu?”

 

Setelah selesai mengikat tali sepatuku, aku menoleh kearah eomma yang berada tak jauh di belakangku dengan apron bunga-bunga yang masih melekat pada tubuhnya. Aku hanya tersenyum sekilas padanya, “Ada sesuatu yang lebih penting dari pada sekolah, eomma”

 

“Nde?”

 

Aku segera bangkit. Kemudian berjalan cepat menuju sepedaku dan segera menaikinya. “Aku pergi!”seruku sembari mulai mengayuh sepeda menuju luar halaman tanpa memperdulikan eomma yang masih saja menyerukan namaku.

 

Pagi yang cerah saat ini menambah semangat tersendiri untukku. Aku terus mengayuh sepeda dengan senyum yang terus mengembang. Ya, rasanya aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum saat ini. Pasalnya, tadi malam Yoona menelfonku dan memintaku untuk menjemputnya pagi ini.

 

Ini sudah satu bulan berlalu semenjak perkenalan kami saat itu. Sejak saat itu juga, kami mulai berteman. Dan beruntungnya lagi, aku dan Yoona berada di kelas yang sama. Aku sangat senang bisa berteman dengan gadis sepertinya. Dia adalah satu alasan mengapa aku selalu rajin pergi ke sekolah pagi-pagi hanya sekedar ingin cepat-cepat melihatnya. Dia adalah penyemangat untukku. Bahkan lima hari yang lalu saat aku demam, aku memaksakan diri untuk pergi ke sekolah tanpa memperdulikan omelan eomma yang khawatir padaku. Aku tidak peduli. Rasanya, aku tidak ingin melewatkan satu hari saja tanpa dirinya.

 

Mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku sungguh merasakannya.

 

Awalnya mungkin aku hanya tertarik pada Yoona. Seperti saat pertama kali aku melihatnya. Melihat wajah cantiknya. Aku benar-benar tertarik sejak saat itu. Dan rasa ketertarikanku semakin lama mulai berubah.

 

Ya, berubah. Dari tertarik menjadi suka. Tidak! Sangat suka. Aku sangat menyukainya.

 

“Seung Gi-ya!

 

Ssrtt!

 

Setelah berhasil memberhentikan sepedaku, aku segera menoleh keasal suara. Senyumku semakin melebar saat kulihat Yoona yang sudah berdiri menunggu didepan gang rumahnya. Setelah melambai sesaat, ia berlari kecil kearahku.

 

“Kau sudah menunggu lama?”tanyaku setibanya ia disampingku

 

Yoona hanya menggeleng dan tersenyum manis padaku, “Oya, hari ini aku mendapatkan jadwal piket di kantor kepala sekolah. Sebaiknya kita cepat pergi sekarang, hm?”

 

Aku hanya mengangguk sembari menunjukkan senyum terbaik yang aku miliki padanya. “Ayo naik!”

 

.

 

“Seung Gi-ya, apa aku berat?”tanya Yoona ditengah perjalanan

 

“Tubuh kurusmu hampir membuatku lupa kalau kau berada di atas sepedaku”sahutku lalu tertawa kecil. Dua detik berikutnya kurasakan satu tangan Yoona mencubit sisi pinggangku.

 

Ya!”

 

“Berhenti mengataiku kurus! Kenapa kau selalu menyebutku seperti itu?”rajuknya. Saat kepalaku berusaha menoleh ke belakang, kudapati Yoona yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Aish! Membuatku semakin gemas saja.

 

“Bukankah kau memang kurus?”kataku sembari meluruskan pandangan kedepan.

 

“Tapi kau tidak perlu mengatakan jelas-jelas seperti itu!”

 

Aku hanya tertawa menanggapi jawabannya, lalu melirik kearah kedua tangan Yoona yang melingkar di pinggangku. Rasanya, aku tidak ingin memberhentikan sepedaku sedetikpun agar aku dan Yoona bisa terus seperti ini.

 

.

Masih teringat jelas dalam ingatanku tentang kejadian saat itu. Dan dua hari semenjak hari itu, Yoona kembali memintaku untuk menjemputnya. Namun kali ini berbeda dari hari sebelumnya. Karena saat dipertengahan jalan, tiba-tiba ban sepedaku kempes. Aku tidak terlalu mempermasalahkan ban sepedaku yang kempes pada saat itu. Tapi yang menimbulkan masalah adalah saat Choi Siwon, sunbae kami disekolah tiba-tiba berhenti dan mengajak Yoona agar pergi ke sekolah bersamanya menggunakan motor sport miliknya. Awalnya Yoona menolak karena ia merasa tidak nyaman padaku. Dan penolakannya itu berhasil membuatku merasa sedikit terhibur, walaupun akhirnya aku sendiri yang memaksanya agar menerima tawaran Siwon sunbae. Aku hanya tidak ingin Yoona terlambat gara-gara diriku. Hingga pada akhirnya Yoona dan Siwon pergi bersama menuju sekolah bersama, meninggalkanku sendiri bersama sepedaku yang malang pada saat itu.

Aku juga tidak mungkin lupa pada kejadian dua minggu setelah itu.

Saat Siwon menyatakan cintanya pada Yoona.

.

Aku berjalan santai menyusuri koridor menuju kelas sembari menikmati roti yang ada ditangan kananku. Sampai sebuah suara yang tiba-tiba masuk kedalam indera pendengaranku berhasil membuat langkahku terhenti.

 

“Seung Gi-ya!”

 

Aku menoleh kebelakang –keasal suara yang menyerukan namaku.

 

“Yoona?”gumamku pelan sembari memperhatikan Yoona yang tengah berlari kearahku.

 

“Seung Gi-ya! Hah! Hah!”Yoona sibuk mengatur nafasnya setibanya ia didepanku.

 

Aku hanya menautkan kedua alisku, menatapnya bingung. “Kau kenapa?”tanyaku dengan mulut yang masih penuh dengan makanan

 

Yoona tersenyum lebar sebelum ia menjawab, “Kau tahu? Baru saja Siwon sunbae menyatakan cinta padaku!”

 

Deg.

 

Aktifitas didalam mulutku –mengunyah- berhenti seketika. Aku menatap Yoona selama beberapa saat, mencoba mencari-cari sebuah kebohongan atau.. setidaknya candaan di raut wajahnya. Tapi aku tidak menemukannya. Yang kutemukan hanya raut kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah cantiknya. Dari situ aku bisa menyimpulkan semuanya.

 

“Selamat, Yoona-ya..”

 

.

 

Sudah sekitar satu jam aku duduk di tepian sungai Han. Perasaanku begitu kacau semenjak mendengar penuturan Yoona saat istirahat di sekolah tadi. Saat pulang tadi Yoona juga meminta maaf padaku, ia tidak bisa pulang bersamaku karena Siwon yang akan mengantarnya pulang. Padahal tadi pagi kami berjanji akan mengerjakan tugas di tempat ini.

 

Aku menoleh kearah kananku, tak jauh dari tempatku berada ada sebuah kursi panjang yang biasa aku duduki bersama Yoona. Dulu Yoona pernah mengatakan padaku, bahwa aku adalah orang pertama yang ia kenal semenjak di sekolah baru, begitu juga dengan diriku. Itulah sebabnya mengapa hubungan kami semakin hari menjadi semakin dekat.

 

Aku hanya tersenyum tipis mengingat kenangan-kenangan beberapa hari yang lalu saat kami melewatkan waktu bersama di tempat ini. Tergambar jelas seperti sebuah slide yang silih berganti tayang didalam otakku. Saat wajahnya serius, kesal, marah, senang.. saat ia tersenyum, tertawa. Dan semuanya.

 

Aku kembali menatap lurus kedepan. Ya, sebagai teman aku hanya bisa mendukung apapun keputusannya. Aku tahu betul Yoona juga menyukai Siwon sunbae, karena dulu ia pernah mengungkapkan kekagumannya pada lelaki itu.

 

Aku menghembuskan nafas panjang, lalu melemparkan batu kecil yang ada disebelahku ke sungai. Aku kembali mengambil beberapa batu yang berada tak jauh dariku. “Ya, mereka sangat cocok”lalu melemparkan satu batu ke sungai. “Dia lelaki yang baik, tampan, pintar dan kaya. Begitu juga Yoona”aku kembali melempar satu batu ke sungai, setelah itu mendesah pelan. “Sedangkan aku…”setelah itu, aku hanya bisa menunduk dalam-dalam.

 

.

 

Seperti melihat bayangan diriku yang tengah duduk seorang diri ditepi sungai ini. Terlihat meyedihkan.

Aku menghembuskan nafas agak panjang, membuat uap udara yang keluar dari mulut dan hidungku kini terlihat jelas didepanku, lalu menyeruput cappuchino latte. Setelah itu meletkkannya kembali disebelahku.

Dan yang terputar dalam ingatanku saat ini adalah kenangan-kenangan menyakitkan. Semenjak Yoona dan Siwon menjalin hubungan, aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama Yoona. Mengerjakan tugas di sungai Han seorang diri, menikmati es krim sendiri, pergi sekolah sendiri, karena Yoona selalu sibuk bersama kekasih barunya. Meskipun terkadang kami melewatkan waktu bersama, tapi Yoona lebih banyak membahas hubungannya bersama kekasihnya.

Aku tidak akan pernah lupa dengan ekspresi wajah Yoona yang berbunga-bunga saat ia menceritakan kencan pertamanya dengan Siwon sunbae. Atau saat lelaki itu memberinya kado, membelikannya bunga, atau lainnya. Dan yang paling memukul hatiku adalah.. saat Yoona menceritakan tentang ciuman pertamanya dengan Choi Siwon.

.

Setelah sekian lama tidak seperti ini, akhirnya hari ini aku dan Yoona bisa pergi ke sungai Han bersama. Kebetulan kami satu kelompok untuk tugas yang diberikan oleh Kim saem.

 

“Seung Gi-ya, ini untukmu”kata Yoona sembari menyodorkan satu cup Bubble Tea yang ia beli di sebrang jalan sana. Kemudian ia ikut duduk diatas rerumputan hijau disampingku. Dibawah sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi sungai ini.

 

Eo, gomawo”kataku setelah mengambil minuman itu dari tangannya. Aku dan Yoona kemudian sibuk mengeluarkan buku-buku dari tas kami. Lalu mulai mengerjakan tugas Matematika dari Kim saem.

 

Saat di pertengahan mengerjakan tugas, tiba-tiba suara Yoona memecahkan keheningan diantara kami, “Ehm, Seung Gi-ya”

“Eum?”sahutku tanpa menatapnya.

 

Setelah itu Yoona hanya diam, membuatku kini harus menatap kearahnya. “Ada apa?”

 

Yoona menggaruk tengkuknya pelan, “Jangan katakan ini pada siapa-siapa, eo?”

 

Aku menautkan kedua alisku, menatapnya tak mengerti, tapi aku mengangguk pelan.

 

“Tadi malam… Siwon oppa menciumku”katanya pelan, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.

 

Mataku membulat seketika, seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dihatiku. Aku hanya diam selama beberapa saat. Lalu Yoona menurunkan kedua tangan dari wajahnya, ia seperti mengulum senyum.

 

“M..maksudmu.. dia.. menciummu, disini?”diakhir kalimat aku meletakkan telunjuk di bibirku. Yoona mengangguk pelan, lalu menggaruk kepalanya sembari menunduk malu-malu didepanku.

 

Dan aku.. aku hanya bisa terdiam ditempatku.

Mungkin ini terdengar egois, tapi dari awal aku tidak pernah rela dengann hubungan mereka. Aku tidak pernah rela saat lelaki itu mempunyai jarak yang dekat dengan Yoona, aku tidak pernah rela saat Yoona melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu diatas motor sport miliknya, aku juga tidak pernah rela saat melihat mereka membaca buku di perpustakaan bersama. Aku tidak pernah rela, dan aku tidak akan pernah rela.

 

Namun pada akhirnya..

Aku hanya bisa berpura-pura tersenyum bahagia didepan gadis itu. Berpura-pura bahagia didepannya walaupun dadaku merasa sangat sesak.

 

Bagaimanapun juga, aku masih bersyukur. Setidaknya, walaupun aku tidak bisa memiliki hatinya, tapi aku masih bisa melihat senyum indahnya.

 

Senyuman indah yang kuharap akan ia berikan hanya padaku.

 

Hanya untukku.

.

Aku mengambil cappuchino latte yang ada disampingku, meyeruputnya. Lalu menggengam gelasnya di atas pangkuanku.

Udara semakin terasa dingin. Kuarahkan pandanganku ke segala arah. Dan pandanganku berhenti di satu titik yang berada tak jauh dari tempatku berada. Di pembatas tepi sungai Han.

Entah mengapa bayangan Yoona yang sedang menangis saat itu terlihat kembali oleh pandanganku.

.

Untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas panjang. Kemudian ku rogoh saku celanaku dan mengambil sapu tangan yang ada didalam sana. Aku menatap iba kearah Yoona yang sedri tadi menangis disampingku. Lalu menyodorkan sapu tangan itu padanya. “Ini, dan kumohon.. berhentilah menangis”

 

Yoona seolah tak menggubris kata-kataku. Ia masih saja terisak bahkan ia mengabaikan sapu tangan ditanganku. “Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia memutuskanku hanya karena gadis yang baru saja ia kenal selama satu bulan, hiks!”

 

Aku menurunkan tanganku, meremas kuat sapu tangan milikku. Sungguh! Jika aku bertemu dengan lelaki itu, aku akan menghajarnya karena ia telah membuat Yoona-ku seperti ini.

 

“Kau tahu? Empat hari lagi hubungan kami akan genap satu tahun. Tapi.. hiks.. hiks..”

 

Tangis Yoona semakin menjadi-jadi. Ini karena tadi sepulang sekolah Siwon sunbae tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan Yoona dengan alasan yang tidak jelas. Aku tahu, ini disebabkan karena gadis dari Amerika yang baru satu bulan pindah ke sekolah kami. Gadis yang ku ketahui bernama Tiffany Hwang itu kebetulan satu kelas dengan Siwon sunbae.

Yoona mengelap kasar air mata dengan punggung tangannya, ia masih sesenggukan, “Aku.. hiks.. aku.. sangat menyayanginya.. kau tahu kan?”mata nanarnya kini menatap kearahku.

 

Hatiku begitu sakit melihatnya seperti ini, mataku mulai memanas. “Eoh, aku tahu”

 

“Lalu.. kenapa dia melakukan ini padaku? Hiks.. Seung Gi-ya.. aku—“

 

Kalimat Yoona seolah terputus saat aku yang tiba-tiba memeluk tubuhnya. Ini kali pertama aku memeluk tubuh nya. Kubiarkan Yoona menumpahkan air matanya di dadaku. Aku semakin mempererat pelukanku saat kurasakan Yoona membalas pelukanku.

 

“Jangan menangis lagi, hm? Kau tahu, wajahmu sangat jelek jika kau menangis seperti ini”aku tertawa kecil. Dan buliran bening yang sedari tadi kutahan kini keluar dengan sendirinya.

 

Yoona semakin terisak. Lalu tanganku mengusap-usap punggungnya lembut. “Kau tenang saja, dia akan menyesal karena telah membuatmu seperti ini. Dan aku janji, setelah ini.. kau akan mendapatkan lelaki yang lebih pantas untukmu dibanding dengan dirinya”kataku pelan. Aku mengelap kasar sisa-sisa air mata yang ada dikedua pipiku.

 

Kemudian aku melepaskan pelukanku, menarik tubuh Yoona dan meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya.

 

“Jangan menangis lagi, hm? Aku sungguh-sungguh, wajahmu sangat jelek jika kau menangis seperti itu”

 

Yoona memukul dadaku pelan. Aku hanya terkekeh melihatnya. Dua detik setelahnya, tiba-tiba ia memeluk tubuhku. “Gomawo, Seung Gi-ya.. setidaknya, aku masih mempunyai teman yang baik sepertimu”

 

Aku menghembuskan nafas lega, lalu membalas pelukanku.

 

‘Kau tenang saja Yoona-ya, seperti janjiku tadi.. saat waktunya sudah tepat, saat aku sudah menjadi lelaki yang pantas untukmu, aku akan mengatakannya padamu. Aku akan mengatakan tentang semua isi hatiku padamu. Aku akan membuat lelaki yang telah meninggalkanmu menyesal seumur hidup karena telah menyia-nyiaikanmu. Aku janji..’kataku dalam hati.

 

.

 

Malam ini aku sudah berdiri didepan pagar  rumah Choi Siwon. Beberapa saat yang lalu aku sudah mengatakan pada penjaga rumahnya kalau aku ingin bertemu dengannya.

 

Setelah beberapa saat menunggu, kulihat lelaki bertubuh tegap itu berjalan mendekat kearahku. Ia membuka pagar rumahnya yang tinggi dan megah itu. Lalu berjalan mendekat kearahku, berdiri tepat didepanku.

 

“Kau.. temannya Yoona kan? Ada apa? Kenapa malam-malam begini—“

 

Bugh!

 

Satu pukulanku mendarat tepat di pipi kirinya, berhasil membuatnya mundur beberapa langkah.

 

“Ya! Kau—“

 

Bugh!

 

Kali ini di pipi kanannya. “Itu untuk air mata Yoona”kataku sembari melayangkan tatapan tajam kearahnya. Lalu aku memutar tubuhhku, mengambil langkah untuk menjauh dari lelaki itu. Aku sudah muak dengannya.

 

.

 

Aku masih ingat betul. Seminggu semenjak kejadian itu, Yoona pergi ke rumahku dan mengatakan bahwa ia dan keluarganya akan pindah ke Busan.

.

“Yoona-ya, kau bercanda kan?”tanyaku menatapnya serius

 

Bukannya menjawab, Yoona hanya menundukkan kepalanya.

 

“Im Yoon Ah!”tanpa sadar volume suaraku semakin meninggi.

 

Yoona mengangkat wajahnya kearahku, matanya memerah dan ada air yang menggenang didalam sana. “Aku harus pergi, Seung Gi-ya. Halmeoni sedang sakit parah”

 

“Tapi kenapa kau harus pindah dan akan menetap disana?”kali ini aku meletakkan kedua tanganku di pundaknya.

 

Yoona diam selama beberapa saat, “Karena tidak ada yang akan meneruskan usaha halmeoni, jadi eomma dan appa yang akan mengurusnya”katanya pelan

 

Kedua tanganku jatuh begitu saja dari pundaknya. Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat.

 

“Apa.. kau akan mengunjungiku nanti?”tanyaku pelan

 

Yoona menggeleng pelan.

 

“Yoona-ya! Ayo cepat!”seru ayah Yoona yang berdiri disamping mobilnya.

 

“Seung Gi-ya, aku harus pergi”

 

“Tapi—“

 

Kalimatku terhenti saat Yoona tiba-tiba memelukku.

 

 “Aku pasti akan merindukanmu”katanya pelan, lalu melepas pelukannya.

 

Yoona tersenyum manis kearahku. Dua detik setelahnya, ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju mobil orang tuanya yang terparkir di depan pagar rumahku.

 

Saat ia baru berjalan beberapa langkah, aku segera mengejarnya, menarik tangannya hingga ia memutar tubuhnya kearahku, lalu segera kupeluk tubuh kurusnya.

 

Khajima

 

Yoona hanya diam selama beberapa saat. Kemudian ia melepaskan diri dari pelukanku, menyunggingkan senyum simpul, lalu pergi dari hadapanku.

 

Aku masih terdiam ditempatku saat Yoona mulai masuk ke dalam mobil orang tuanya.

 

Berbagai hal mulai berkecamuk di dalam kepalaku. Aku ingin sekali mengatakan kalau aku menyukainya. Tidak! Bukan menyukainya, tapi mencintainya. Ya, aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi.. aku sudah berjanji, aku akan mengatakan itu kalau aku sudah menjadi lelaki yang sukses yang pantas bersanding dengannya.

 

Yoona melambaikan tangannya padaku sebelum akhirnya kaca mobilnya naik secara perlahan.

 

Dan akhirnya, aku menyimpan segala perasaanku untuknya. Hingga kata terakhir yang keluar dari mulutku saat mobil orang tuanya mulai berjalan menjauh dari depan rumahku. “Khajima.. khajimara..”

I’ll wait for you

I couldn’t say those words

 

Because of the painful memories that made you cry

I couldn’t say those last words, “Don’t go”

 

The words “I love you”

The words “Wait for me”

They just linger in my ears

The words I couldn’t say put me in pain

Semenjak kepergian Yoona saat itu, tidak ada yang bisa kulakukan selain terus berusaha untuk belajar lebih giat setiap harinya. Hingga akhirnya usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil mendapatkan nilai terbaik saat aku lulus dari sekolah itu. Berkat beasiswa yang kudapatkan aku bisa kuliah di University of Seoul dan mengambil jurusan desain interior. Saat itu kedua orang tuaku sangat bangga padaku. Karena kami berasal dari keluarga yang sederhana,  dan pada awalnya sangat mustahil untukku agar bisa menimba ilmu di tempat itu. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.

Setelah kuliah selama kurang lebih empat Tahun, aku berhasil lulus dengan nilai terbaik diantara teman-teman satu angakatanku. Aku sangat senang saat itu.

Namun entah mengapa selalu ada yang kurang dalam hatiku.

Semenjak kepergian Yoona ke Busan, ia tidak pernah lagi memberikan kabar padaku.

Masih di hari kelulusanku dari Universitas. Pada malam harinya, seseorang datang memberikan sebuah amplop berwarna cokelat padaku. Dan di bagian luar di tulis bahwa pengirimnya adalah Im Yoon Ah.

.

“Yoona?!”gumamku pelan. Aku tersenyum senang melihat amplop yang ada ditanganku. Kemudian aku segera berlari menuju kamarku.

 

Aku sudah tidak sabar melihat isi amplop ini. Apa isinya surat untukku? Atau.. ah! Membayangkannya saja membuat hatiku merasa sangat senang.

 

Setlah duduk ditepi ranjang, dengan tidak sabaran aku membuka isi amplop itu.

 

Setelah melihat isi amplop itu, rasa bahagiaku lenyap begitusaja.

 

Pasalnya yang ada didepanku saat ini bukanlah surat yang berisi tulisan tangan Yoona yang sangat aku rindukan. Tapi ini adalah sebuah undangan.

 

Undangan pernikahan.

 

.

 

Saat itu Yoona mengirimkan undangan pernikahannya dua minggu sebelum acara itu dilaksanakan. Hatiku benar-benar hancur saat itu juga. Aku merasa yang aku lakukan selama ini hanya sia-sia. Belajar dengan giat, selalu berusaha mendapatkan nilai yang terbaik agar aku bisa menjadi lelaki sukses yang pantas bersanding dengannya. Tapi.. semua harapanku lenyap begitu saja.

Dua hari setelah kelulusanku dari universitas, salah satu dosen ku memperkenalkanku pada seorang pengusaha sukses yang berasal dari Jepang.

Ia meminta agar aku bekerja bersamanya.

Pada awalnya memang terasa berat saat aku harus meninggalkan tanah kelahiranku  juga orang tuaku. Tapi.. setelah aku pikir-pikir, tidak ada gunanya juga aku menunggu seseorang yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Jadi, hari itu aku memutuskan untuk menerima tawaran pengusaha itu. Kemudian aku memutuskan untuk pindah ke Jepang. Tanpa berniat sedikitpun untuk pergi ke hari pernikahan Yoona.

“Yoona-ya, aku merindukanmu”gumamku pelan.

Ddrtt!

Aku merogoh ponsel yang ada disaku mantelku. Sejenak melihat nama yang tertera di layarnya. Eomma.

“Eoh, eomma!”

“Seung Gi-ya, bukankah seharusnya kau sudah sampai di rumah dua jam yang lalu?”

 

Ah! Ini gara-gara sekretaris Lee yang berjanji akan menjemputku disini. Tapi sampai saat ini ia tidak juga muncul dihadapanku. “Nde eomma. Aku masih menunggu sekretarisku yang sedang mengantar berkas ke salah satu perusahaan di Seoul, jadi—“

“Kau kan bisa menggunakan taxy!”potong eomma atas ucapanku, “Eomma sangat merindukanmu, Seung Gi-ya”

Aku terkekeh pelan mendengarnya. Ternyata eomma tidak pernah berubah. Ia masih saja cerewet seperti dulu.

Aku lalu bangkit dari dudukku. “Baiklah, aku akan pulang menggunakan taxy dan…”kalimatku seolah menggantung saat aku memutar tubuhku dan disana.. kulihat seseorang tengah berdiri menatap kearahku.

‘Yoona’

“Seung Gi-ya!?”

 

Aku diam selama beberapa saat. Memperhatikan sosok yang teramat sangat kurindukan selama ini.

Sedikit tersentak saat eomma kembali menyerukan namaku dari sebrang sana. “Eomma, aku akan pulang sebentar lagi”

“Nde, eomma akan menunggumu”

Flip~

Setelah menyimpan ponselku kembali dalam saku mantel. Aku kembali menatap lekat sosok didepan sana.

Im Yoon Ah. Dia sama sekali tidak berubah. Mantel tebal berwarna cokelat panjang selutut membalut tubuhnya. Wajahnya juga tidak berubah. Ia masih cantik seperti dulu. Tidak. Saat ini ia semakin cantik dengan rambut cokelat panjangnya.

Kaki Yoona melangkah maju kearahku. Dan tanpa sadar, aku juga berjalan menuju kearahnya. Hingga akhirnya langkahku dan langkahnya terhenti saat jarak diantara kami semakin dekat.

“Seung Gi-ya..”

 

“Im Yoona..”

.

Aku dan Yoona duduk di kursi panjang yang tadinya kududuki. Sudah sekitar lima menit kami disini tapi tidak ada satupun diantara kami yang membuka suara.

“Ehm, apa kabar, Seung Gi-ya?”

Aku langsung menoleh kearah Yoona saat suara lembutnya memanggil namaku. “Eum, baik. Bagaimana denganmu?”

“Kabarku juga baik”sahutnya sembari tersenyum lembut.

Sungguh. Senyuman itu berhasil membuat semua perasaanku padanya yang mati-matian kupendam kini menyeruak begitu saja. Selama ini aku selalu berusaha untuk melupakannya. Nyatanya, aku belum bisa. Dan aku tidak akan bisa.

Dadaku mulai sesak saat menyadari gadis yang teramat aku cintai kini tidak akan pernah aku miliki. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Dan seperti dulu, selalu menunjukkan senyum penuh kepalsuan padanya.

“Kau sama sekali tidak berubah, lihatlah.. tubuhmu masih saja kurus seperti dulu. Apa suamimu tidak memberimu makan?”kataku lalu tertawa kecil.

Yoona terkekeh. Dua detik berikutnya, ia tersenyum simpul padaku.

“Aku.. tidak mempunyai suami”

Deg.

Aku menatap Yoona dengan tatapan tidak mengerti.

Yoona merubah pandangannya menjadi lurus kedepan. “Saat itu aku di jodohkan oleh orang tuaku dengan anak dari teman appa. Appa terus memaksa agar aku menyetujui perjodohan itu. Awalnya mungkin terasa berat, namun pada akhirnya aku menyetujuinya”Yoona diam selama beberapa saat sebelum melanjutkan, “Namanya Cho Kyuhyun. Dia orang yang baik. Sangat malah. Seminggu sebelum pernikahan kami, dia bertanya padaku apakah aku mencintainya atau tidak. Aku menjawab bahwa aku mencintainya. Tapi Kyuhyun tidak percaya begitu saja. Dan saat dia memaksaku untuk menatap matanya.. aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi..”Yoona menunduk.

“M..maksudmu?”

Kali ini Yoona menatap kearahku, “Aku sama sekali tidak mencintai Kyuhyun, karena cintaku lebih dulu kuberikan kepada pria lain”

Aku menelan samar saliva-ku, “Pria lain?”

Yoona tersenyum lembut kearahku, “Eum, pria lain. Dia adalah seseorang yang… selalu bisa membuatku nyaman saat aku berada disampingnya, seseorang yang sangat mengerti diriku, seseorang yang.. kuharap dia juga mempunyai perasaan yang sepertiku”

Nu..nugu?”

Yoona hanya diam, tapi senyum lembut tidak pernah pudar dari wajah cantiknya.

Tiga detik setelahnya, kurasakan benda lembut menyentuh bibirku. Aku membulatkan mataku dan mendapati wajah Yoona yang berada tepat didepan wajahku dengan kedua matanya yang tertutup.

Tiga detik. Selama tiga detik bibir Yoona menyentuh bibirku. Tiga detik yang membuat sekujur tubuhku mendadak kaku. Tiga detik yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Saat itu aku kembali ke Seoul dan pergi ke rumahmu. Tapi orang tuamu mengatakan bahwa kau pergi ke Jepang seminggu yang lalu. Kau tahu? Aku menangis saat itu juga. Dan sejak saat itu, aku memutuskan untuk menunggumu.. menunggumu agar kembali padaku”Yoona kembali menunjukkan senyum lembutnya padaku

Aku diam selama beberapa saat. Menatap lekat-lekat setiap lekuk wajahnya. Lalu merengkuh tubuhnya dalam pelukanku.

Saranghae..”bisikku tepat ditelinganya. Yoona tidak menjawabnya. Tapi kurasakan ia membalas pelukanku.

Aku mendekapnya semakin erat. “Saranghae.. Yoona-ya..” lagi, aku membisikkan kata itu padanya. Kata terakhir yang akan mengakhiri segala kesalah pahaman selama ini. Kata terakhir yang akan mengakhiri penantianku selama ini. Kata terakhir sekaligus kata yang akan menjadi awal untuk kehidupanku selanjutnya.

Untuk masa depanku.

Bersamanya..

Im Yoon Ah.

 

–finish–

Soorry kalau jelek dan tidak memuaskan :’D

Keep RCL okay~!

 Selamat ya untuk couple ini :3

Semoga hubungannya langgeng 🙂

 Thankseu~

Advertisements

22 thoughts on “FFKPI January Playlist – Lee Seung Gi’s Last Word

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s