FFKPI January Playlist – IU’s Peach


Peach

“Peach”

Songwriter : Dhamala Shobita | Artists : IU & Yoo Seung Ho | Genre : AU, Romance, Songfiction | Duration : Oneshot (3434 words) | Tracklist : IU’s Peach

Disclaimer : From IU’s song titled Peach. This story is all mine. I do not own the casts. Please do not bash and do not copy without my permission.

¶ Dhamala Shobita Storyline © 2014

*

Bahkan semua kata yang ada di dunia ini tidak akan cukup menggambarkan perasaanku padamu, Yoo Seung Ho.” – IU

*

*

*

Sinar matahari menyusup lewat sela-sela kusen kayu jendela, menggelitik indera penglihatan Jieun yang masih tertutup rapat. Diusapnya pelan kedua matanya, dieratkan lagi selimut yang terbentang di atas tubuhnya. Alarm ponselnya seolah tidak setuju dengan keputusannya melanjutkan lelap. Suara nyaring itu terus berdering tanpa jeda, membuat Jieun akhirnya benar-benar membuka lebar matanya. Terpaksa.

Tangannya meraih ponsel di bawah bantalnya, melirik layarnya yang memamerkan beberapa deret tulisan hingga akhirnya ia membuka sebuah pesan suara yang diterimanya 10 jam yang lalu, mungkin ketika ia sudah terlelap karena kelelahan.

“Jieun-ah, bagaimana hari pertamamu di sana? Kau sudah berkunjung ke banyak tempat? Cepat hubungi aku ketika kau mendengar suaraku yang super merdu ini. Jika kau tidak melakukannya, aku akan langsung terbang menyusulmu sekarang juga.”

Jieun meloloskan tawa kecil dari mulut mungilnya. Diraihnya botol kaca berisi air mineral di meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Ia mengetikkan sebaris pesan singkat dengan ponselnya setelah menenggak setengah isi botol kaca tersebut kemudian mengirimkan pesan yang diketiknya ke satu kontak bertajuk kokoro.

Jieun lekas membersihkan diri dan bergegas keluar dari penginapannya. Di ambang pintu penginapannya Jieun menengadahkan tangannya, mencoba merasakan rintik hujan yang mungkin saja masih turun. Tapi tidak. Rintik hujan sudah lama berhenti, hanya menyisakan genangan-genangan air di beberapa titik jalan. Peach wedges yang dikenakannya dibawa menyusuri jalan-jalan kecil Venesia, melewati gedung-gedung tinggi berarsitektur Eropa kuno. Antik.

Jam yang melingkar di lengan kiri Jieun menunjukkan pukul delapan waktu setempat. Udara pada saat itu cukup membuat Jieun berkali-kali mengeratkan coat cokelatnya. Langkah gadis itu terhenti di sebuah kios buah di pertigaan paling dekat dengan penginapannya.

How much is this?” Jieun bertanya perlahan dengan Bahasa Inggris yang sedikit terbata.

Pemilik kios buah tersebut menjawabnya dengan beberapa sen mata uang Italia. Tangan Jieun meraih sebuah apel dan merogoh saku coatnya, mengambil beberapa koin dan membayar apel yang kini tengah digigitnya. Langkah Jieun berlanjut, menyusuri jalan-jalan yang terbuat dari konblok, menghindari beberapa cerukan di jalan yang berpotensi mengotori wedgesnya.

Penginapan Jieun terletak tak jauh dari Basilika San Marco, sebuah basilika yang menjadi landmark dari Venesia. Jieun menghampiri beberapa orang laki-laki Eropa yang tengah berjongkok di antara ratusan merpati berwarna abu-abu, memberi pakan pada mereka. Kamera kecil di tangannya siap mengabadikan momen tersebut, menambah lagi kumpulan gambar yang sengaja Jieun koleksi sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Venesia dua hari lalu.

Tangan Jieun mengambil gambar apa pun yang dilihatnya. Tingginya pilar Basilika San Marco, kumpulan merpati berbulu gelap yang baru saja mendarat di sekitarnya untuk mencari makan, sekumpulan penduduk atau mungkin turis-turis yang duduk berjajar di pinggiran halaman basilika, yang tengah menyisip kopi di cangkirnya masing-masing, serta hal-hal lainnya yang mampu tertangkap kedua mata Jieun.

Bosan menikmati pemandangan Basilika San Marco, Jieun membawa kakinya bergerak lebih jauh. Dibentangnya peta Venesia yang berisi nama-nama jalan, rute-rute kendaraan, juga semua nama tempat yang terkenal di seputarannya. Dibawanya lagi langkahnya pelan menyusuri jalan-jalan kecil Venesia, menuju pelabuhan kecil yang akan membawanya ke destinasi berikutnya. Pulau Burano. Ya, Jieun memutuskan bertolak ke Pulau Burano di Semenanjung Venesia setelah ini. Ia ingin memotret banyak variasi warna dengan kamera kecilnya di sana.

**

My eyes keep going to that white face. Why don’t I even get sick of you?

Perahu yang akan mengantarkan Jieun ke Burano telah tertambat di tempatnya. Bukan. Bukan gondola kecil yang didayung oleh laki-laki Eropa yang gemar bernyanyi di sepanjang sungai. Kali ini Jieun bertolak ke pulau tersebut dengan sebuah perahu yang cukup besar dan digerakkan oleh mesin-mesin.

Adalah Jieun yang terus saja mengedarkan kameranya ke segala arah. Adalah Jieun juga yang termenung dengan menghentikan genggaman tangannya akan kamera di udara. Ia melepas pandangannya lewat kamera dan melihat objek di depannya lekat-lekat.

“Bahkan ketika aku berada jauh denganmu saja, kau masih terlihat begitu nyata di mataku.” Jieun terkekeh pelan, menyadari bahwa dirinya tidak pernah bosan membiarkan laki-laki itu hadir di depan matanya, dalam benak dan imajinasinya.

When you slightly smile at me, I really go crazy. How can you be so pretty, baby?

Jieun menyeret langkahnya perlahan, semakin dekat dengan sosok laki-laki berkulit putih di depannya. Jieun menangkapnya menaikkan dua sudut bibirnya, membentuk busur terbalik di wajahnya. Jantung Jieun berdetak cepat, memikirkan laki-laki dengan senyuman manisnya itu membuat Jieun merasa bahwa ia mungkin saja sudah gila.

“Mengapa kau berjalan selambat itu, Jieunah? Membuatku ingin cepat-cepat berlari dan memelukmu erat-erat.” Laki-laki itu berbisik tepat di telinga Jieun ketika Jieun berjalan melewatinya perlahan. Nyata. Jieun menoleh sekejap, mendapati laki-laki di sampingnya tersenyum lebih manis dari sebelumnya.

“Apa kau tidak ingin memelukku?” tanyanya.

“Kau…ini benar-benar kau, Seunghoya?” gumam Jieun pelan.

Alih-alih mendapatkan jawaban, ia malah mendapat dekapan erat yang benar-benar dirindukannya dari laki-laki bernama Seungho itu.

“Mengapa kau datang?” tanya Jieun pelan.

“Jadi kau tidak mengharapkan kedatanganmu? Kau tidak merindukanku?” Seungho menaikkan kedua alisnya, melepas dekapannya dan menatap Jieun dalam.

“Aku…aku hanya tidak menyangka kau akan datang menyusulku,” jawab Jieun.

Ekor mata Jieun menelusuri ekspresi laki-laki di depannya yang tengah menatapnya lamat-lamat. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah Jieun dan berbisik pelan, “aku juga tidak menyangka kau akan menyambutku seperti ini, Jieunah.” Selanjutnya Seungho mengecup singkat pipi Jieun, membiarkan gadis itu termangu di depannya.

“Cepatlah, perahu itu akan meninggalkan kita jika kau hanya diam di sini, Jieun-ah. Kajja—ayo!”

Jieun membiarkan Seungho menarik tangannya, membawanya masuk ke dalam perahu. Ia mengambil tempat di bagian belakang perahu, bagian yang dekat dengan ujung perahu yang dibiarkan terbuka agar para penumpang dapat menikmati semilir angin ketika perahu tersebut membelah perairan semenanjung tersebut.

“Aku akan tidur sekarang. Bangunkan aku ketika kita sampai, Jieunah.”

Jieun mengenal Seungho ketika hari kelulusan mereka. Tiga tahun bersama-sama di sekolah tidak membuat keduanya saling mengenal dengan baik. Buktinya, mereka berdua malah bertemu di hari kelulusan. Ketika itu Jieun datang terburu-buru hingga menabrak Seungho tepat di pintu gerbang sekolah, membuat Jieun tersungkur. Seragam sekolahnya terlihat sedikit kotor karena debu-debu yang ada di jalan.

“Seragamku.”

“Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrakmu. Maafkan aku.”

“Tidak masalah, hanya saja hari ini adalah hari kelulusanku.”

“Kelulusanmu? Apakah kau juga di kelas tiga? Kalau begitu kita sama. Ah, maafkan aku karena sudah membuat seragammu kotor di hari kelulusanmu. Aku benar-benar minta maaf.”

 

How can you be so pretty baby? How can I explain this feeling? When I see you, my heart becomes numb and sore.

Jieun menyentuhkan telapak tangannya ke arah rambut Seungho, merasakan kehalusan lembaran rambut hitam miliknya. Perlahan, Jieun mulai menggerakkan tangannya untuk membelai lembut rambut Seungho. Dipasangnya seulas senyum di wajahnya. Matanya tidak berkedip memandang Seungho. Wajah Seungho yang putih bersih seolah menyihir Jieun untuk tak berkedip.

“Kita belum berkenalan tadi. Namaku Yoo Seung Ho. Kau pasti Lee Ji Eun, bukan?”

“Bagaimana kau…”

“Aku mendengarnya ketika kepala sekolah memanggilmu untuk memberikan laporan tadi. Jadi, setelah ini kau akan pergi kemana, Jieun-ssi?”

“Aku…aku akan ke Universitas Ewha. Kau?”.

“Aku akan ke Sungkyunkwan. Kuharap kita dapat bertemu lagi lain kali.”

 

Jieun tertawa pelan ketika ia mengingat kenangan itu. Ketika tatapan Seungho melemahkan hatinya, membuatnya seolah terhanyut lebih dalam pada pesona yang dipancarkan laki-laki itu. Sejak itu Jieun seringkali berpikir tentang cinta pada pandangan pertama. Ia percaya itu. Karena kehadiran Seungho, ia percaya bahwa cinta pada pandangan pertama memang selalu saja ada.

Jieun menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian mengelus lembut wajah Seungho yang nampak tenang dalam tidurnya. Disentuhkannya jari telunjuknya di pangkal hidung Seungho, membuat laki-laki itu mengernyit sejenak tanpa sadar. Selanjutnya, ia membawa lagi jemarinya menyusuri satu per satu gurat wajah Seungho hingga tiba di bibir tipisnya.  Jieun menyapukan jemarinya lembut di satu bagian wajah Seungho, bibirnya. Bagian yang kadang tanpa sengaja muncul di imajinasinya, bagian yang akan mengecupnya tepat di keningnya sebelum ia tidur pada malam hari dan akan tepat mendarat di pipinya ketika ia bangun di pagi hari.

“Seunghoya, aku menyayangimu.”

**

With what word can I explain you? All the words of the world is probably not enough. With those legs that are so pretty by just standing still. You walk toward me and you hug me.

“Seungho-ya, kau…”

Surprise! Apa kau terkejut? Harusnya kau tidak perlu seterkejut itu, Jieun-ah. Bukankah kita sudah saling bertukar kabar sekitar tiga minggu ini? Apa kau masih menganggapku orang asing? Heol, ternyata kau benar-benar jahat, Jieun-ah.”

“Tidak, bukan begitu maksudku, aku hanya. Aku…”

“Jangan bicara lagi. Aku sudah susah payah datang ke sini untuk menjemputmu. Aku merindukanmu. Jadi sekarang aku harus menculikmu. Bagaimana jika makan siang bersama? Kau sudah tidak ada kelas, bukan?”

“Tidak ada…tapi…”

“Jieun-ah, jangan menolak. Bahkan ketika Tuhan membawamu ke dalam kehidupanku saja aku tidak menolak. Jadi kau pun tidak boleh menolakku.”

“Maksudmu?”

“Aku menyayangimu. Ah, akan kuberitahukan kau nanti. Kajja—ayo.”

Perahu yang mengantarkan Jieun dan Seungho ke Pulau Burano sampai di tempatnya berlabuh. Penumpang perahu yang hanya berjumlah tujuh orang termasuk Jieun dan Seungho pun segera bersiap dengan barang bawaan mereka.

“Seunghoya, kita sudah sampai,” ujar Jieun seraya menggoyangkan lengan Seungho pelan.

“Aku tahu,” sahut Seungho seraya membuka matanya pelan.

“Bagaimana kau bisa tahu? Kau bahkan tertidur.” Jieun merapikan rambutnya, membetulkan letak tas selempangnya dan berdiri dari tempat duduknya. Sementara itu Seungho tersenyum, menggerakkan tangannya dan beranjak mengikuti Jieun yang sudah berjalan lebih dulu di depan, keluar dari perahu tersebut.

Tangan Seungho melingkar di tubuh Jieun, mengunci tubuh gadis itu dengan pelukannya, membuat Jieun sulit bergerak. Seungho sengaja berhenti sejenak, menaruh dagunya di atas pundak Jieun kemudian tersenyum.

“Terima kasih sudah datang ke kehidupanku, Lee Ji Eun,” ujarnya tiba-tiba, membuat Jieun terdiam sejenak.

“Mengapa begitu tiba-tiba?” selidik Jieun.

“Aku hanya ingin mengulang apa yang kuucapkan dua tahun lalu ketika kau menerimaku sebagai kekasihmu,” sahut Seungho pelan.

“Lihatlah, betapa manisnya kekasihku,” ujar Jieun sambil terkekeh pelan.

“Tentu saja. Kau tidak akan menyesal telah menjadi kekasihku, Jieun-ah. Aku menyayangimu.”

Bahkan semua kata yang ada di dunia ini tidak akan cukup menggambarkan perasaanku padamu, Yoo Seung Ho.

**

Kuning. Merah. Biru. Hijau. Juga belasan warna-warni lainnya membuat Jieun tak henti-hentinya berdecak kagum. Matahari belum berada tepat di atas kepala ketika Jieun dan Seungho tiba di Burano. Jieun segera berlari ketika ia terlepas dari pelukan Seungho, kembali mengarahkan kameranya ke kanan dan ke kiri, berjalan di antara puluhan rumah berwarna-warni dan bermain dengan siluetnya sendiri. Sementara itu Seungho berjalan di belakangnya, memamerkan senyum seraya memerhatikan Jieun yang bergerak ke sana ke mari dengan cepat.

“Berikan kameramu padaku, biar aku yang memotretmu,” pinta Seungho.

Dengan cepat Jieun menyerahkan kameranya ke arah Seungho, membuat laki-laki itu memiliki kegiatan yang disukainya, menangkap gambar kekasihnya. Sementara Jieun berjalan di depannya, Seungho mengikuti di belakang seraya merekam gerakannya. Sesekali memang Jieun menoleh ke kamera, tersenyum dan melambaikan tangannya.

Bagi Seungho, Jieun bukanlah tipe kekasih yang mudah mengungkapkan perasaannya. Bahkan baginya, mendengar pernyataan cinta dari Jieun sama sulitnya seperti menyuruh seseorang yang trauma pada ketinggian untuk mengambil buah di pohon yang tinggi. Maka ketika Seungho menangkap potret Jieun yang begitu ekspresif dengan kamera milik Jieun, tak henti-hentinya ia tersenyum. Salah satu yang ingin dilihatnya ketika tiba di Italia memang melihat senyuman Jieun.

Seungho selesai mengabadikan momen-momen Jieun di pulau itu. Ia membiarkan kamera tersebut menggantung di lehernya kemudian berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Jieun. Menurutmu Burano memang indah, tak kalah indah jika dibandingkan dengan Venesia, kota favorit Jieun. Burano penuh warna dan memberikan kesan manis pada para pengunjungnya.

“Apa kau senang berada di sini?” tanya Seungho pelan.

“Tentu.” Jieun menyahut singkat kemudian tersenyum.

“Apa kau lebih senang jika berada di sini bersamaku atau kau lebih senang jika sendiri?”

“Aku…” Jieun menggantungkan kalimatnya kemudian terlihat berpikir sejenak. “Seunghoya, ayo kita pergi ke restoran itu. Aku lapar.”

**

I want to hide you in my embrace and I just want to look at you.

Jieun kembali berlari-lari menyusuri jalan-jalan sempit Burano. Makanan yang disantapnya bersama Seungho memulihkan staminanya. Jieun sesekali berlari, membuat Seungho mengejarnya. Ia tertawa tapi tak bicara. Ia mengajak Seungho berlari tanpa sepatah kata.

“Jieunah, bagaimana bisa kau mengajakku berlari seperti itu. Aku lelah,” protes Seungho.

“Kau sudah makan, jadi kau harus tetap kuat, Seunghoya,” sahut Jieun keras.

Akhirnya ia bicara. Jieun yang seolah enggan bersuara sejak tadi akhirnya meloloskan suaranya, membuat Seungho tersenyum dan mengejar Jieun lebih cepat. Jieun berlari cepat tapi percuma, Seungho menghentikannya lagi dengan sebuah pelukan di pinggangnya. Napas keduanya saling bersahutan tidak teratur.

“Sudah. Aku..sudah..tidak..kuat lagi,” seru Seungho terbata-bata. Jieun melepaskan pelukan Seungho dan mengatur napasnya, membuat laki-laki di sampingnya itu akhirnya berjalan pelan lebih dulu sementara Jieun mengekor di belakangnya.

Jieun menarik-narik bagian lengan kemeja milik Seungho, membuat Seungho berkali-kali menoleh ke arahnya. Ia menghentikan aksinya ketika Seungho menoleh dan melakukannya lagi ketika Seungho tidak melihatnya. Sekali lagi, Jieun menarik-narik lengan kemeja Seungho dan kali ini laki-laki itu lebih cepat menoleh, mendapati Jieun yang tersipu malu karena tertangkap basah menjahilinya. Mata Jieun melihat tangan Seungho yang kini terulur ke arahnya, menyuruhnya menggenggam tangan tersebut. Perlahan, Jieun menjulurkan tangannya ke arah tangan Seungho dan kini Seungho menggenggam tangan mungil Jieun erat-erat.

“Lihat taman itu? Ayo kita ke sana. Aku akan membeli es krim dulu, kau tunggulah di sana,” ujar Seungho cepat.

Eo, baiklah. Kau tidak boleh lama-lama.”

Jieun melihatnya, Seungho berlari ke arah penjual es krim di sisi lain taman, sementara dirinya berlari pelan ke arah taman yang berisi rerumputan pendek. Ia duduk di hamparan rumput tersebut dan tak lama kemudian malah memilih berbaring telungkup di taman yang sepi penghuni itu, memainkan sehelai dua helai rerumputan panjang di depan matanya.

Jieun terkesiap ketika sebuah tangan menyampirkan rambut yang menutupi matanya, menyelipkannya di balik telinga. Ia tersenyum ketika mendapati sosok Seungho dengan dua buah es krim di genggamannya.

“Apa kau sedang bermimpi menjadi peri bunga dengan bertelungkup di sana, Jieunah?” tanya Seungho jahil seraya menyerahkan es krim ke hadapan Jieun.

“Rasa apa milikku?” tanya Jieun seraya beranjak bangkit dan duduk di hamparan rumput tersebut, tepat di depan Seungho.

“Vanila. Milikku rasa cokelat,” jawab Seungho.

“Aku ingin cokelat,” rengek Jieun pelan.

Jieun menjulurkan lidahnya ke arah es krim cokelat yang disodorkan Seungho ke arahnya. Belum sempat ia mencicipi es krim tersebut, pangkal hidungnya lebih dulu mencicipinya. Seungho menggerakkan es krim di tangannya agar mengenai hidung Jieun. Sengaja. Selanjutnya, laki-laki itu hanya tertawa keras-keras, membiarkan Jieun menggumam-gumam pelan karena kesal.

“Bersihkan,” ujar Jieun pelan seraya mendekatkan wajahnya ke arah Seungho.

Seungho bungkam seketika sementara Jieun menatap kekasihnya itu lekat-lekat. “Kau harus bertanggung jawab karena mengerjaiku, Seunghoya,” rengek Jieun.

“Baiklah. Baiklah,” sahut Seungho seraya mengulurkan tangannya ke arah wajah Jieun. Jieun merasakan ibu jari dan jari telunjuk Seungho menyentuh batang hidungnya, menghapus sisa-sisa es krim yang menempel di sana. Menempel karena ulahnya.

“Nah, sudah bersih sekarang. Cepat habiskan es krimmu. Lihat, ia hampir saja habis meleleh,” ujar Seungho seraya segera melahap es krim cone di tangannya.

Jieun melahap pelan es krimnya seraya menatap Seungho lekat-lekat. Gestur laki-laki di depannya seolah kembali menyihir Jieun, membuatnya tak dapat melepaskan pandangannya. Hingga ia menghabiskan es krim miliknya, Jieun masih saja menatapnya lekat. Mengapa wajah itu selalu saja menghipnotisku begini dalam, pikir Jieun.

Bagi Jieun, mengatakan bahwa dirinya menyukai Seungho saja tidak cukup. Kata-kata ‘cinta’ atau ‘sayang’ bahkan tidak cukup menjelaskan semua yang dirasakannya. Bagaimana ia menyukai Seungho ketika pertama kali mereka bertemu di gerbang sekolah, bagaimana ia selalu terpesona pada senyuman manis Seungho, dan semua yang Seungho miliki. Bagi seorang Jieun, mengatakannya ribuan kali sekali pun tidak akan cukup. Maka ia memilih diam. Hingga ia yakin waktu mana yang tepat untuk memberitahu laki-laki itu semuanya, untuk mengatakan kalimat-kalimat sayang yang tak pernah sekali pun ia ucapkan langsung pada Seungho—terakhir kali ketika Seungho mengajaknya berkencan dua tahun lalu.

“Jieun-ah, apa kau percaya cinta pada pandangan pertama? Aku percaya hal itu. Aku ingin kau juga mempercayainya. Ah, sederhana saja, aku ingin kau percaya karena kaulah cinta pada pandangan pertamaku. Aku menyukaimu.”

“Seungho-ya…”

“Kuharap perasaanmu akan sama sepertiku, Jieun-ah.”

“Eo, aku menyukaimu, Seungho-ya.”

Telling you multiple times is not enough. With this tickling voice that only knows you, I will sing for you.

Seungho menggeser posisi tubuhnya, bersandar di balik punggung Jieun kemudian memandang langit biru Burano dengan matahari yang mulai bergeser ke arah barat. Jieun yang berada di belakangnya melakukan hal yang sama, menyandarkan tubuhnya di punggung Seungho dan menatap langit biru. Keduanya menerawang, seperti ada sesuatu yang tertahan di ujung mulut mereka, menanti untuk dikeluarkan tapi keduanya tahu sama sulitnya antara menyimpan dan mengeluarkannya.

“Jieunah, jika saat ini aku bertanya apakah kau menyayangiku, apa jawabanmu?” Seungho bertanya dengan suara pelan, pertanyaan yang selama ini tersimpan rapat di hatinya, tidak pernah sekali pun ditanyakannya pada Jieun. Sementara itu gadis yang bersandar di punggungnya itu bergeming, tidak mampu menjawab barang sekata pun.

“Jieun­ah, aku selalu bertanya pada diriku sendiri mengapa kau tidak pernah memberitahuku jika kau menyukaiku atau menyayangiku. Apa sebenarnya kau tidak pernah mempunyai perasaan itu padaku?” tanya Seungho sekali lagi.

Tidak ada suara. Jieun hanya terdiam, sama sekali tidak memberikan Seungho jawaban. Seungho menghela napas dan menundukkan kepalanya, membiarkan tubuhnya sedikit merosot ke bawah. Lemas. Beberapa saat yang didengarnya hanya suara berisik dari lingkungan sekitar taman. Suara anak-anak kecil bermain kejar-kejaran, suara penjaja es krim di pinggir lapangan, dan suara-suara lainnya yang menurut Seungho tidak begitu penting baginya kali itu.

“You know he’s so beautiful, maybe you will never know. Nae pume sumgyeodugo naman bollae. Eorin maeume haneun mari aniya. Kkok neorang gyeolhonhallae. O eotteon daneoro neol seolmyeonghal su isseulka. Ama i sesang mallon mojara. Gaman seo itgiman naedo yeppeun geu dariro, naegero georowa anajuneun neo.”

You know he’s so beautiful
Maybe you will never know
I want to hide you in my embrace
And only I want to look at you
 
I’m not saying this out of a young heart
But I really want to marry you
 
Oh, with what word can I explain you?
All the words of the world is probably not enough
With those legs that are so pretty by just standing still
You walk toward me and you hug me

Dengan suara lembutnya, Seungho mendengar Jieun benar-benar memecah keheningan yang tercipta di antara keduanya. Gadis itu bernyanyi. Beberapa bait dari lagu yang manis, yang pertama kalinya didengar Seungho sore itu. Setelah menyelesaikan baitnya, Jieun kembali terdiam kemudian desahan kuat tertangkap telinga Seungho.

“Jieunah…”

“Bagiku, mengatakannya ribuan kali kepadamu juga tidak akan pernah cukup. Mungkin kau menungguku mengatakannya sejak lama. Seunghoya, ada banyak yang harusnya sudah kukatakan kepadamu dalam dua tahun ini. Semua tentangmu. Tetang betapa beruntungnya aku bertemu denganmu, tentang bagaimana aku percaya akan cinta pada pandangan pertama, tentang bagaimana aku mengagumimu selama ini, bagaimana aku merasa bahwa tatapanmu adalah hipnotis yang membuatku tidak mampu berpaling kemana pun sama sekali.

Seunghoya, maaf karena membuatmu menunggu. Menunggu untuk mendengar semuanya dariku. Aku hanya tidak mengerti bagaimana aku harus mengatakannya. Aku bukan tidak ingin, aku hanya tidak mengerti. Seperti bagaimana seorang anak kecil tidak mengerti bagaimana caranya berjalan atau berbicara. Aku hanya seperti itu. Bodoh, bukan?

Aku menyayangimu, Seunghoya. Tentu saja lebih dari yang kau tahu. Tentu saja aku sangat menyayangimu, bahkan sejak awal kita bertemu. Aku tidak pernah sekali pun merasa bosan padamu, Seunghoya. Mungkin setelah ini aku akan mencoba untuk selalu mengatakannya padamu, mengatakan bahwa aku menyayangimu. Aku harap kau tidak akan bosan mendengarnya.”

Seungho membalikkan tubuhnya, memindahkan posisinya berlutut di depan Jieun. Ditatapnya mata Jieun lekat-lekat. Mata yang sejak tadi tidak memandangnya ketika berbicara. Seungho mengulas senyuman di wajahnya. Puas. Puas mendengar apa yang dikatakan Jieun barusan.

“Selalu ada waktu yang tepat untuk apa pun, bukan?” ujar Seungho.

Eo. Bahkan selalu ada waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, bukan? Aku sudah melakukannya,” sahut Jieun seraya tersenyum.

“Mulai besok, kau harus mengungkapkannya setiap kau ingin mengungkapkannya. Kau tidak boleh menyimpannya terlebih dahulu hingga jangka waktu yang lama kemudian membukanya di depanku. Kau harus langsung mengatakan apa yang kau rasakan. Mengerti?” Seungho mengulurkan tangannya ke arah kepala Jieun, menariknya ke dalam pelukan. Dielusnya lembut rambut Jieun yang tergerai sebatas pinggang.

“Aku mengerti, Seunghoya.”

“Aku menyayangimu, Jieun. Jangan selalu diam, maka aku tidak akan tahu jika kau menyayangiku begitu besar.” Seungho melepas pelukannya, mengecup lembut kening Jieun kemudian kembali berjongkok di hadapannya. Ia mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Jieun dan tersenyum. “Sebelum matahari terbenam, maukah kau memegang tanganku dan pulang bersama. Kau masih harus menunjukkan Venezia padaku dan meninggalkan kota berwarna-warni ini, Jieunah.”

Perlahan, tangan Jieun menyentuh lembut telapak tangan Seungho kemudian menggenggamnya erat-erat dan bangkit dari tempat duduknya. Keluar dari taman itu, Jieun mengayun genggaman Seungho di tangannya. Lagu yang ia buat sebelum bertemu dengan Seungho hari itu, ia tahu akan selalu ada waktu yang tepat untuk semuanya. Termasuk mengungkapkan perasaannya pada Seungho setelah sekian lama ia sembunyikan. Jieun telah melakukannya, menerobos dinding ketakutan yang selama ini memenjarakannya di dalam simpanan rasa yang tak pernah berani ia loloskan. Di balik bangunan-bangunan berwarna cerah dan berkas-berkas matahari yang mulai beranjak jingga, siluet dua tangan yang saling bertautan terlihat.

“Seunghoya.”

Panggilan Jieun terdengar pelan tapi berhasil membuat laki-laki di sampingnya menoleh. Dan sebuah kecupan hangat bersarang di pipinya. Mulai saat itu, Jieun berjanji untuk berani. Berani memberitahukan Seungho tentang apa-apa yang ia rasakan tentangnya. Kecupan barusan hanyalah awal bagi keduanya.

THE END

Author’s note : Akhirnya aku menyelesaikan ini. Hehehe. Terinspirasi dari perjalanan IU di Venezia yang terangkum dalam dua MV, Peach dan Every End of The Day. Mohon maaf jika feelnya nggak dapet karena…yaa, hanya karena… ^^”

Terima kasih yang sudah membaca sampai akhir. 🙂

Lyric credit : haerajjang

Advertisements

22 thoughts on “FFKPI January Playlist – IU’s Peach

  1. oooohhh manisnya~
    pertemuan pertama mereka lucu dan tak terduga
    suka banget sama pengungkapan cinta yang jieun katakan segitu panjangnya ke seungho
    oke nice ff..

  2. Dari awal aku ngintip sf ini pagi tadi… aku udh gateeel bgt pengen komentar. Aku pengen jd yg pertama sebenarnya 😦 tapi apalah daya…

    Di awal itu aku pengen protesss kenapa sf ini malah seolah nyeritain MV-nya >< eh taunya di akhir jg di kasih tau yaaa klo kamu terinspirasi dr MV itu. Hnggg sebenarnya sih aku mengharapkan cerita lain hehe kenapayaaa… mungkin krn aku udh liat MV-nya /laluuuuuu/

    Sebenarnya tiap denger lagu ini aku kepikiran Sulli krn IU ciptainnya jg ngebayangin Sulli /kalo gk salah/ dan aku berharapnya sih di cerita ini ada penjelasan knp IU nyiptain ini kebayang Sulli, krn aku penasaran hahaha tp ternyata aku dibawa ke kisah manisnya si Jieun n Seungho aaaaaakkkkk Harry Borrison! /plak/

    Ah untuk diksi dan eyd sepertinya aku no comment^^

    Oh… kamu berhasil menyelipkan info di cerita ini. Itu tuuuuuhhh nama2 tempat di latar atas ^^

    1. Hahaha. Ya memang, ini aku bikin karena MV-nya. Dan sebenarnya masalah Sulli itu aku jg agak rancu sih, itu buatan fans aja atau memang real.. Hehehe 🙂
      Secara garis besar ff ini memang sama dengan MV tapi ceritanya sebenarnya bisa jadi beda loh. hehehe.. 😀

      Yaaa..gpp gak jadi yang pertama, lain kali aja. hehehe 😀

      Info? Ah, iya. Karena MV Peach kan di venesia dan kebetulan aku pernah bikin orific di Venesia jadi aku selip-selipin aja.. hehehe 🙂
      Makasih yaa jagi.. :*

      1. Yg masalah IU ciptain ini mikirin Sulli itu betulan xD Makanya aku kepo hahahaha
        Iya, emang. Ceritanya beda. Setelah dia ketemu Seungho, jadi blaaasss beda…. Hehe kalau sampai dia yg naik perahu masih bayangin MV.

        Naaaahhhh iyaaa kamu menyelipkan info aaahhh aku iri /laaah/ hahaha

        1. Iya, sampe perahu masih MV banget.. hehehe.
          Ayo bikin yang banyak infonya juga jagi 🙂
          Biar seru.. Hehehe

  3. Malaaa.. maaf baru sempet komen 😀 hehe

    Duuhh.. manisnya sampe hampir buat aku diabetes /laah
    Ini maniiiiissss banget malaa ><
    Ahh.. kalo masalah ide cerita, alur dan EYD aku no coment lah XD tulisanmu udah bagus bgt :*
    Semangat yaa ^^9

    1. Yaa ampun unnie sampai diabetes?? Astagaaaa.. Hahaha 😀
      Makasih yaaa Kak udah baca.. hehehe . Ah, ini masih banyak celanya kok kak.. :p

  4. Ngomong” aku belum pernah liat MV nyaa loohh .. cm picnya doang hehe

    Gini nih yaa hasil tulisan mala .. harus ada yg menyesuaikan dengan keadaan yg prnah terjadi di dunia nyata . Setiap detailnya diperhatiin . Dan itu buat aku suka .. lagi , krn ini bkan dikorea haha . Aku suka klo mala bw” kota dibarat sana ..
    Aku mulai bingung deh nih komen bt ff romance nya kebangetan kaya gini hahay . Daleemm banget duileehh haha .

    1. Kakak belum pernah liat MV-nya ciusan??? MV-nya manis banget loh.. hehehe 😀
      Karena MV ini di luar makanya aku pake lagu ini loh. Aku waktu itu pas banget ngerasa lagu ini pas. 😀
      Hehehe

      Makasih yaa kakak sayang :*

  5. aku belum pernah liat MVnya lho. makana aku nggak tau mvnya gimana. wkwkwkw
    so romantic….. venezia…. pas banget buat romanticnya….
    IU & Seunghoo Jjang… #halah
    EYDnya aku ngga komen ah mala…. wkwkwkw
    aku suka karakterna IU yang malu-malu dan nggak bisa mengungkapkan perasaannya. wkwkwkw
    lucu untuk karakter seperti itu… hihihi

    good job Mala… ^^

    1. Kalo belum liat MV-nya pasti nggak tahu lah, Kak.. Hahaha 😀
      MV-nya juga manis banget loh semanis aku.. 😀
      Makasih yaa Kak udah mampir. Aku belum mampir di Wonbin.. ><

      1. makana aku ga komen gimana kemiripan mv sama ffnya. #lol

        ur welcome mala…
        santai saja… hahaha
        ga perlu buru2 buat baca won bin. wkwk

  6. huaaa maaf, baru baca dan komen..
    ffnya keren, aduh bayangin seungho ama IU aja dah gregetan ><

    critanya sweet dan romance banget ampe iri pengen digituin wkwk
    pokoknya keren banget.. ❤

  7. haruhi sudaaaaaah bacaaaaa~~~!!!! XD

    AAHHHH!!! so sweeet sangaaaaatt~~!!! >____< pengen pake banget punya pacar kaya seungho! *eh
    ini fluff nya akut stadium 4 deh ka! kalo martabak, ini special pake keju susu kacang coklat (maap efek belom makan) pokonya!!! momen manis mereka dapet banget!

    dan demi apa ini pake setting venezia yang deskripnya nge-feel dan ini bikin FF kaka different from others! hehe XD

    overall aku suka! kalo ini jadi project fluff tepat banget!! XD cuma nemu beberapa typo aja sih. tapi ga terlalu ganggu kok.. hehe ^^

    Nicee kaaa malaaa ^^b FIGHTING!!

    1. Iin, aku baca komen kamu ikutan laper.. Hahahaha. Martabak keju.. #drooling
      Fluff akut stadium 4??? Astagaaa.. AKu kira ini feel fluffnya nggak dapet malahan, loh, In.
      Makasih yaa sayang 😀
      Hehehe
      Ada typo ya? Oke, aku perbaiki untuk yang selanjut2nya deh.. Sekali lagi makasih yaaa :))

  8. Aaaa Mala, maap bru komen. Uda bca dr kpan hr tp bru sempet komen 😦

    Oiya,aku stuju sm Nay. Di awl crita brasa bgt mv nya IU yg peach. Tp mkin lama makin egk kok. Yg makin krasa malah critanya yg fluff bgt. Manis sekali seperti IU jg Seungho 🙂

    Ada beberapa typo tp msh dlm btas wajar.

    Uda ya ckup gt aja 😀 overall aku suka
    Fighting mala! (҂˘̀^˘́)9

    1. Manis sekali seperti aku.. hahaha 😀
      Makasih yaa Kak Ayu..

      Typo akan kuperbaiki. Hehehe.. 😀

  9. *Aku ikutan comment ya~*
    Uwaa… naksir berat sama ff-nya. Ini sweet banget! Kalau biasanya ff romance yang aku baca cenderung berlebihan di dialognya, ini enggak. Sumpah! Enak banget dan mengalir dengan tenang gitu ceritanya. Aku suka tatanan bahasanya. Sekali lagi, enak!
    Iya, sih, tadi aku juga liat ada typo. Tapi, nggak jadi masalah ^^
    Pokoknya aku sampai dibuat speechless baca ini. Kakak Mala (maaf, meski pun kakak nggak tahu aku dan sebaliknya, izinkan aku manggil pakai nama, ya^^) semangat, ya, nulisnya! Keep writing and fighting!

    1. Halo, BaeLyrii. Aku harus memanggilmu apa? Hehehe. Salam kenal yaaa.. Panggil aku Kak Mala gpp kok.. 😀
      Naksir sama FF atau sama Seunghonya? Hehehe. Makasih ya buat feedbacknya. Masalah typo akan kuperbaiki.. ^^
      Sekali lagi makasih yaa 🙂

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s