FFKPI January Playlist – Oh Won Bin’s Not Just Friends


not just friend new

“Not Just Friends”

Songwriter : Karra || Artists : Oh Won Bin and Shin Hyejeong AOA || Genre : Romance (Songfiction) || Duration : Oneshoot || Tracklist : Oh Won Bin – Not Just Friends || Disclaimer : This story is purely mine! Except the idol characters, they’re belong to God

이제는후회해도소욘없죠
ijeneun huhoehaedo soyongeobtjyo

There’s no use of regretting now

 

이제와붙잡아도소욘없죠
ijewa butjabado soyongeobtjyo

There’s no use of holding on now

 

곁에있어서익숙해져서
gyeote isseoseo, iksukhaejyeoseo

Because you were always there, Because I got used to you

 

사랑인몰맀죠
sarangin jul mollatjyo

I didn’t know it was love

 

Aku menarik tuas untuk menambah kecepatan mobil sedanku untuk segera sampai ditempat yang kutuju. Hanya karena gadis itu menelponku dan membuat segala yang berkecamuk di kepalaku menghilang hingga memunculkan rasa khawatir. Suaranya terisak membuatku meyakini jika sesuatu tengah terjadi pada gadisku. Oh… sepertinya aku harus meralatnya. Gadis itu bukan gadisku. Hanya saja aku selalu berangan-angan gadis itu menjadi gadisku.

Sepertinya dewi fortuna memberikan keberuntungan padaku hingga membuat jalanan yang kulalui terbebas dari macet. Atau aku yang tidak menyadari jika ini masih jam kerja sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang? Aku melupakan satu hal. Setelah Hyejeong meneleponku dengan suara terisak aku langsung meninggalkan kantorku tanpa memberi tahu kepada siapapun kemana diriku pergi. Mungkin itu sebabnya ponselku tidak berhenti berdering. Aku tidak mengacuhkannya. Istilahnya, aku tidak sempat menjawab rentetan pertanyaan dari rekan sekantorku. Isi kepalaku saat ini hanya Hyejeong!

Pertemuan pertamaku dengannya masih terekam dengan jelas di kepalaku. Hyejeong yang saat itu berumur enam tahun tengah menangis karena tersesat di taman bermain di dekat kawasan rumahku. Gadis kecil itu sempat membuatku kesal karena terus menangis setiap kutanya alamat rumahnya. Memangnya pada saat itu aku berniat menculiknya apa? Saat aku memutuskan untuk pergi karena tangis Hyejeong tak kunjung reda, dengan rikuh tangan mungil milik Hyejeong menarik lengan jaketku hingga membuatku membalikkan badan. Gadis itu dengan sikap malu tersenyum kecil sambil menghapus air matanya. Sejak saat itu membuatku terus ingin melindunginya.

Kakiku menginjak pedal rem dengan sekuat tenaga saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Hampir saja aku menabrak orang yang menyebrang. Setiap mengenang Hyejeong, membuatku sering lupa dimana aku berada. Tinggal satu tikungan lagi aku akan bertemu dengan Hyejeong. Apakah gadis itu baik-baik saja?

***

Sedikit terkejut mendapati Hyejeong yang tengah meringkuk di sudut kamarnya dengan barang-barang miliknya berserakan. Bola kristal pemberian dari mantan kekasih Hyejeong juga ikut hancur. Aku berjalan mendekati Hyejeong dengan berjingkat untuk menghindari pecahan kaca. “Hyejeong….” panggilku dengan suara hati-hati agar tidak terlalu mengagetkannya.

Rambut panjang milik Hyejeong kusibakkan dengan perlahan. Aku benar-benar terkejut melihat wajah gadis di hadapanku yang memiliki luka lebam. “Apa yang terjadi?” tanyaku perlahan.

Hyejeong langsung memelukku dan menumpahkan tangisnya. “Abeoji… hiks… memukulku… Eomma… ditendang… hiks… hanya uang yang ia cari…. hiks….”

Aku sedikit mengerutkan kening. Ahjussi itu lagi-lagi bertindak kelewat batas pada Hyejeong. Walau cerita yang disampaikan Hyejeong sama sekali tidak berurutan, aku langsung menangkap maksud Hyejeong. Tangis Hyejeong mengingatkanku pada kejadian lima belas tahun yang lalu. Hyejeong yang menangis karena tidak tahu jalan pulang setelah melarikan diri dari ayah tirinya yang selalu memukulnya.

“Kau harus melawannya, Hyejeong!” seruku tidak sabar. Berkali-kali selalu seperti ini. Bukankah kesabaran manusia itu ada batasnya? Aku selalu bertanya dan tidak berani mengutarakannya pada Ibu Hyejeong maupun gadis yang masih terisak dipelukanku ini.

Eomma…. di rumah sakit, Oppa!” seru Hyejeong dengan nada suara yang naik turun. Aku menatap jendela kamar Hyejeong yang terbuka. Kenapa hanya diam saja? Kenapa tidak melawan? “Eomma melindungiku dan pingsan setelah terkena pukulan kursi.”

Aku menatap ke kursi putar berwarna merah yang berada dalam kondisi terbalik. Sekuat apapun ayah Hyejeong memukul, pasti orang yang dipukul juga akan pingsan jika terbentur kursi besi itu. Bagaimana bisa ada makhluk sekeji ayah tiri Hyejeong? Itu yang membuatku selalu melindungi gadis kecil ini. Aku tidak ingin meninggalkan gadis ini….

“Kita ke rumah sakit. Kita harus bertemu dengan Ibumu. Bagaimana juga kalian harus berpisah dengan laki-laki brengsek itu.” Aku hanya bisa menenangkan Hyejeong dengan kalimat itu. Aku akan mengumpulkan bukti-bukti agar ayah tiri Hyejeong dapat mendekam di penjara. Aku sama sekali tidak takut jika mempertaruhkan pekerjaanku demi Hyejeong. Hingga terkadang aku berfikir jika aku ini tidak sekedar melindungi seperti seorang kakak kepada adiknya tetapi aku mencintai gadis ini seperti seorang laki-laki kepada perempuan.

***

다시는브르지도못하갰죠
dasineun burujido mothagetjyo

I can’t call out to you again

 

다시는불러서도안되갰죠
dasineun bulleojido andoegetjyo

I won’t be able to ever call out to you again

 

마음에없는말만남기고떠나가요
jal ga maeume eomneun malman namgigo tteonagayo

I say goodbye althought it’s not what I really mean

 

Oppa! Aku akhirnya bisa kembali menjalin hubungan dengan Daehyun!” Hyejeong seolah tidak menyadari tatapanku yang sedikit kabur karena berita itu. Kembali bersama Daehyun? Laki-laki itu sangat berkharisma walau selisih umur kami berbeda tiga tahun. Jadi laki-laki itu berhasil merebut hati Hyejeong kembali?

Aku menyunggingkan senyumku pada Hyejeong. Tidak tulus. Kalau bisa aku akan menyumpahi Daehyun agar meninggalkan Hyejeong kembali. Gadis itu sudah kembali gembira. Berkali-kali gadis itu mengucapkan terima kasih kepadaku karena aku berhasil mengancam ayah tirinya yang terlibat perjudian. Aku tidak butuh ucapan terima kasihnya. Aku hanya ingin Hyejeong mencintaiku.

Mianhae… aku terjebak macet saat kesini.” Daehyun mengulurkan tangannya padaku yang tidak kubalas. Mungkin melihat responku yang tidak peduli, Daehyun menarik tangannya kembali dan duduk di samping Hyejeong yang sempat menatapku bingung.

Dibandingkan dengan Daehyun yang sangat dipuja gadis-gadis, aku merasa tidak sebanding. Pantas saja Hyejeong jatuh cinta setengah mati pada laki-laki ini. Siapa aku? Hanya seorang jaksa yang selalu berurusan dengan para kriminal. Daehyun? Putra tunggal seorang pemilik hotel bintang lima yang paling terkenal di Seoul dan beberapa negara lain, J.W. Marriot. Kedua masa depan kami sangat bertolak belakang. Aku hanya pegawai pemerintah. Daehyun? Aku rasa kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.

Aku menatap Hyejeong yang bersikap manja pada Daehyun yang membuat seolah-olah rasa dingin yang menyelimuti kafe tempat kami makan siang ini berubah menjadi panas. Aku benci melihat Hyejeong memberikan senyumannya pada laki-laki lain dan bukan kepadaku. Daehyun membalas sikap manja Hyejeong dengan penuh kasih sayang. Sial! Aku tidak suka melihat kemesraan mereka berdua.

Aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa memenangkan hati Hyejeong. Aku tidak akan bisa meraihnya. Pintu hati gadis itu sudah tertutup dan hanya Daehyun yang memegang kuncinya. Aku sadar jika posisiku selama ini dimata Hyejeong adalah sebagai seorang teman yang merangkap sebagai kakak laki-lakinya.

“Hyejeong….” Aku menghentikan obrolan Hyejeong dan Daehyun. Jangan berharap aku mau memanggil nama Daehyun. Hyejeong menatapku dengan pandangan bertanya. “Selamat tinggal.” Hanya satu kalimat yang membuatku terasa sesak. Hyejeong hanya menanggapi ucapanku dengan senyum dan anggukkan kepala seperti biasa. Gadis itu tidak menyadari ucapanku sehingga masih bisa tersenyum padaku. Aku memundurkan kursi yang kupakai dan segera beranjak. Aku memutuskan untuk pergi agar tidak semakin berharap memiliki Hyejeong.

“Aku akan pergi meninggalkanmu, Shin Hyejeong….”

***

그저친구로만알았나
geujeo chinguroman aranna bwa

I guess I thought we were only friends

 

그저우정이라알았나
geujeo ujeongira aranna bwa

I thought this was only a friendship

 

이토록보고픈데이토록갑갑한데
itorok bogopeunde, itorok dapdaphande

When I’m missing you like this, When I’m so frustrated like this

 

맘도바보처럼속이고
nae mamdo babocheoreom sogigo

I deceived my own heart like a fool

 

이잰친그로도되나
ijen chingurodo an doena bwa

I guess we can’t even be friends now

 

이재우정으론되나
ije ujeongeuron an doena bwa

I guess this can’t be just a friendship

 

그대곁에있으멘그대를보고있으멘
geudae gyeote isseumyeon, geudaereul bogo isseumyeon

Because when I’m next to you, When I’m looking at you

 

이미사랑이란아나까
imi sarangiran geol anikka

I already know it’s love

 

Ternyata memang selama ini aku yang salah mengartikan kedekatan kita. Aku yang selalu menganggap jika kita ditakdirkan bersama. Ternyata kau hanya menganggapku seperti bagian terkecil dari hidupmu. Kita tidak akan bersama karena aku  hanya ditakdirkan untuk melindungimu. Bukan untuk menerima cintamu.

Ponselku berbunyi dan membuatku menatapnya dengan pandangan kosong. Belakangan ini aku tidak masuk ke kantor dan lebih merelakan diri bergelung di atas tempat tidur. Dengan rasa malas, aku meraih ponselku dan membaca pesan dari Hyejeong.

Oppa! Kau kemana, eoh? Aku terus menghubungimu tapi kau tidak pernah membalasnya sama sekali seperti ditelan bumi!’

 Seandainya aku memang bisa menghilang seperti ditelan bumi, aku akan memilih opsi itu untuk menghindarimu. Aku melemparkan ponselku ke atas bantal. Aku sama sekali tidak berminat membalas pesan dari Hyejeong. Ponselku kembali berdering dan lagi-lagi aku dengan gerakan malas mengambil ponselku.

Oppaapa ini artinya ucapanmu waktu itu? Menghilang dari hadapanku?’

 Aku benar-benar mematikan hati agar tidak segera menelepon Hyejeong. Ucapan selamat tinggal itu memang benar. Aku benar-benar ingin meninggalkanmu, Hyejeong….  Di dekatmu yang ada aku akan terus terluka.

***

“Aku ingin berbicara denganmu.” Kalimatku langsung meluncur begitu saja saat Hyejeong menerima panggilan telepon dariku bahkan tanpa sebelum menyapaku.

Oppawaegurae?” Aku mendengar nada cemas dari Hyejeong tapi aku berusaha mematikan hati. Aku tidak ingin menghindarinya seperti seorang pengecut.

“Aku menunggumu di taman kecil. Tempat kita pertama bertemu.” Begitu menyelesaikan kalimatku, aku langsung memutuskan sambungan telepon dan memandang sekeliling taman bermain anak-anak ini. Tempat pertama kali kita bertemu dan tempat yang akan menjadi saksi bisu pengakuan cintaku yang aku yakini tidak akan sukses.

Aku memutuskan untuk duduk di ayunan sembari menunggu Hyejeong. Aku akan menghadapinya sebelum aku memiliki kesempatan lain. Menghabiskan waktu sambil memandang anak kecil yang bermain dengan riang. Laki-laki dan perempuan saling tertawa lebar. Begitu mereka besar, mereka akan memikirkan arti cinta sepertiku.

Hyejeong datang dan dia tidak sendirian. Daehyun bersamanya walau hanya menunggu di pagar pembatas taman bermain. Seolah-olah membiarkanku berbicara dengan Hyejeong. “Oppa! Kenapa kau susah sekali dihubungi, eoh? Kau tidak tahu aku men-“

“Aku mencintaimu. Bukan sekedar menyukaimu. Aku menyerahkan hatiku padamu.” Aku langsung bisa melihat ekspresi Hyejeong yang terkejut hingga tanpa sadar kedua tangan Hyejeong terkatup di depan bibirnya.

Oppa…. kenapa kau mengatakan cinta padaku?” tanya Hyejeong akhirnya. Sepertinya gadis ini sudah mengerti situasinya.

“Kenapa? Apa kau pikir mencintai seseorang itu memerlukan sebuah alasan?” tanyaku balik. Aku sama sekali tidak merasa segugup tadi malam saat memutuskan untuk mengakhiri penderitaanku.

Hyejeong terdiam dan menundukkan kepalanya hingga rambut panjangnya terurai begitu saja. Ada keinginanku untuk membelai rambut panjangnya dan menyelipkannya di belakang telinga gadis ini. “Aku tidak bisa membalas cintamu, Oppa.”

Jawaban Hyejeong sama sekali sudah kuduga. Aku hanya bisa tersenyum getir dan memaksakan untuk menghadapinya sebagai seorang laki-laki. Bukan pengecut.

“Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai seorang kakak. Mianhae, Oppa…” ujar Hyejeong akhirnya. Aku sempat melihat Hyejeong menghapus air matanya. Kenapa dia menangis? Seharusnya aku yang menangis disini. Aku yang terluka! “Kita lupakan hal ini dan terus berteman. Bagaimana, Oppa?” tanya Hyejeong sambil mengangkat wajahnya. Ternyata dia memang benar menangis.

Aku menggeleng. “Aku tidak tahu kapan bisa melepasmu seutuhnya, Hyejeong. Jika kau memintaku untuk terus berada disisimu, aku akan semakin terluka. Kuharap kau mengerti itu.” Ya. Ini keputusanku. Aku sudah memikirkan matang-matang pilihan apa yang harus kuambil.

Hyejeong meraih tanganku. “Oppa… kumohon jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu.” Hyejeong merengek padaku. Aku merasakan tanganku yang terasa hangat karena genggaman Hyejeong.

“Kau punya Daehyun. Laki-laki itu akan menjagamu.” Aku menepis tangan Hyejeong dengan perlahan. Ada keengganan saat aku melepaskan tangan Hyejeong.

Oppa… kau benar-benar jahat padaku!” seru Hyejeong sambil mendorong tubuhku hingga langkahku mundur. Hyejeong berlari menghampiri Daehyun dan mereka berdua pergi begitu saja.

Jahat? Di dalam posisi seperti ini siapa yang jahat? Aku yang terluka disini. Aku yang salah karena tidak bisa membedakan melindungi dan mencintai.

그대를잊으란말만하고있죠
geudaereul ijeuran malman hago itjyo

You just say to forget it

 

그대는아니라는말만하면서
geudaeneun aniraneun malman hamyeonseo

You just say that this isn’t it

 

그만그만하자히며차갑게도라서요
geuman, geumanhaja hamyeo chagapge doraseoyo

You say let’s stop this and coldly turn around

 

***

그대가슴속엔옶대요
geudae gaseumsogen nan eopdaeyo

I’m not in your heart

 

흘린눈물속에있대요
heullin nunmul soge da itdaeyo

I’m in the flowing tears

Seharusnya aku sudah menyadari jika aku tidak ada di hatimu. Kehilangan satu sosok yang memiliki dua peran sekaligus rasanya tidak menyenangkan. Aku kehilangan orang yang kucintai dan sahabatku. Seandainya saat itu aku mengiyakan kata-katamu, aku tidak akan kehilanganmu, bukan?

***

그냥친구로만지내자고 (친구라고)
geunyang chinguroman jinaejago (chingurago)

You say let’s just be friends (friends)

 

그냥우정이라부르라고 (이젠없인되는데)
geunyang ujeongira bureurago (ijen neo eobsin doeneunde)

You say let’s just call it a friendship (when I can’t live without you)

 

이렇게아픈데도눈물이나눈데도
ireoke apeundedo, nunmuri naneundedo

Even when it hurts, Even when I tear,

 

모른웃으면서보라고
moreun cheok useumyeonseo ureoyo

you pretend it’s not and smile

 

나를사라하면안되나요?
nareul saranghamyeon andoenayo?

Can’t you love me?

 

나를안아주면안되나요?
nareul anajumyeon andoenayo?

Can’t you hold me?

내개하루라도내개한번이라도
naege dan harurado, naege hanbeonirado

Can’t you for one day, for one moment,

 

사랑해수는없나요?
saranghae jul suneun eomnayo?

love me?

Membalas sebuah cinta itu memerlukan waktu. Begitu juga dengan menghilangkan sebuah cinta. Tidak ada yang instant saat berhadapan dengan cinta. Itu sebabnya aku tidak pernah memaksamu untuk membalas cintaku. Hanya saja… aku berharap suatu saat kau bisa melihat cintaku.

 

— FIN —

 

Author note : demi apa ini FF abal-abal banget karena aku lama terkena syndrom malas menulis. Dan FF ini hasil ngebut selama lima jam. Jadi kalau hasilnya kurang memuaskan, aku bersedia menerima saran dan kritik dari kalian semua.

Oh iya… kalau disini karakternya Hyejeong dan Won Bin berbeda dengan aslinya, aku minta maaf ya. Secara aku nggak kenal sama dua orang itu dan hanya menjadi penikmat lagunya saja. Hohohoho

Tapi semoga aja kalian bisa merasakan feelnya. Karena feelnya sudah aku tuangkan ke dalam narasi. *halah*

Saran dan kritiknya ditunggu ya…..

Advertisements

12 thoughts on “FFKPI January Playlist – Oh Won Bin’s Not Just Friends

  1. Ya ampun ngenes sekali ini ceritanya T_T. Meskipun nggak sampe nangis tapi sakitnya wonbin bisa kerasa. Ah ada kata yg salah ya. “Haraboji” harusnya “aboji”.

    Eum apa wonbin itu mantan FTI?

    1. Won Bin yang ini emang mantan FTI tapi terus menjadi solois. 🙂

      Oh iya…. ternyata ada kesalahan mengetik. #lol
      maklum menuls ini dengan ngebut. #lol
      thanks dear koreksinya…. thanks juga udah menyempatkan komentar. ^^

  2. huah.. Feelnya dapet banget..
    kasih applause buat authornya *prokprok*
    dipenulisan ada beberapa kata yang kurang 1 huruf, harap diperhatikan 🙂
    trus di kalimat pertama cerita kata untuk-nya ada 2 dlam satu kalimat. Rasa2nya kurang pas.
    “tidak pernah
    membalasnya sama
    sekali seperti ditelan bumi!”
    mgkin akan lebih bgus kalau ditambahi hilang setelah kta seperti.
    Done dari saya 😀 maaf crewet.
    Tapi over all bagus, q dapet feelnya.
    Terus berkarya 🙂

    1. Oh iya… kalimat itu rancu ya? #ditabok karena baru nyadar….
      ahahaha…. setelah aku baca ulang kok rasanya banyak yang janggal ya. #duh *efek nulis ngebut.
      thanks dear…. ^^

  3. Kissaem! Aku datang!
    Awalnya aku udah suka karena, FF ini memiliki premis /?/ jadi nggak hanya ngikutin lagu gitu. Kissaem menyelipkan konflik keluarga Hyejeong, tapi kok kebawahnya nggak dijelasin secara jelas ya hehe jadi hanya terkesan sambil lalu aja, padahal untuk hal yg sambi lalu, konflik itu cukup berat. Jadi… ngg… aku kurang srek aja ._.

    Trus2… aku bisa menerima cerita ini ambil dari sudut pandang cowok hehe karena ini cukup jantan, nggak cengeng lah istilahnya. Dan karakter si Wonbin juga cukup bisa melekat di otakku 😀

    Ah, yg paling penting nih ya…… masa pas baca ini aku bayangin si Jinki muahahahaha karena aku lg kangen beraaat ama Jinki dan tadi kiat foto dia ganti rambut yaoloooooh Kissaem, aku rindu Jinki /oke abaikan/

    Apalagi ya… Oh, di scene yg Deahyun ajak salaman ke si Wonbin itu… aku nggak bisa membayangkan latarnya. Kelewat ama aku apa ya keterangan tempatnya? Hehehe

    Tp ff ini nggak mengecewakan kok Kissaem ^^

    1. awalnya aku emang mau ngejelasin konflik di keluarga hyejeong. cuma… males. #ditabok
      nggak ding…. aku awalnya bingung mau gimana menjelaskan soal pertemuan pertama mereka. cuma gagal. #ditabok lagi.
      ahahaha…. aku lagi naksir karakter cowok yang nggak cengeng. #dor.
      aku menghindari sosok cowok yang gampang nangis. *duar
      syukurlah pengkarakterisasiku berhasil. #yeayyyy

      untuk bayangin jinki aku no comment. hahahaha
      gih buat lanjutanna jinaya… wkwkwkwk

      setting tempat disini emang sengaja nggak tak rinci. males lagi. ahahahaha
      syukurlah kalo nggak mengecewakan. males ini bikin diriku jadi males riset lagi. #lol
      thanks nayaaaa…..

  4. aku sudaaaaahh bacaaaa~~~ (kenapa awal komen aku selalu gni ya? ._.)

    ka qiqi~~~ aku suka bahasanyaaaa~~~!! seperti biasa, aku mau bawa bawa sungai. oh, enggak. sekarang lagi nge-tren banjir. jadi, aku mau bawa banjir bandang, *oke abaikan
    intinya,, bahasanya ka qq itu mengalir lir lir~~
    dan aku setuju sama ka naya soal konflik keluarga hyejeong (bener ga namanya? Xp) yang ga terlalu di ekspos. tapi sebenernya itu poin yang bikin aku kepo sampe kesedot (?) abis ampe ending…

    Ah, mau komen apalagi yaa… udah deh. sisanya udah cucok! hehe ^^
    semangat ka qq!!! uyeh! ^^9

    1. jadi ciri khas kamu. wkwkwkwk >> aku sudaaaaahh bacaaaa~~~ (kenapa awal komen aku selalu gni ya? ._.)

      iya…. awalnya aku emang mau bikin background pekerjaan Won Bin ama background keluarga Hyejeong. cumaaaa… males. wkwkwkw

      makasih Iin…. hahaha

  5. Gigi 😀 akhrnya toh ya saya bisa muncul jg.

    Oke langsung aja. Kayanya mbak2 di atas uda ksh masukan yg pgn aku ksh. Jd ga perlu tulis ulang ya 😀

    Aku stju aja sm nay tentang kepribadian won bin dsni. Walau diambl dr pov cowok, ga krasa aneh. Ga kya punyaku T.T

    Dan terakhr, Daehyun mengalihkan duniaku XD jd bgtu tau hyejeong sm daehyun, aku lgsung seneng aja. Berasanya hyejeong ga salah pilih xD #duagh

    Dah sekian itu aja gi! XD pay pay!

    1. hai ayu…. hahaha

      soalnya jujur aja aku nggak bisa buat karakter seorang cowok yang ‘lenjeh’ dan cenderung seperti orang gila karena patah hati. #lol
      aku berusaha bikin karakter cowok itu maskulin. yang nggak bisa ngeluarin air mata tapi berdarah2 di dalam hati. #halah

      daehyun ya? wkwkwkw
      aku asal ceplos lho pas nulis adegan daehyun. tapi di otakku mikirna daehyun BAP sih. wkwkw

      makasih ya koye… #ups… hahaha

  6. hampir nangis baca cerita ini. demi apapun, lagunya menyayat hati banget meski gak terlalu memperhatikan liriknya. kalau gak ingat ada mami dalam radius 20 meter pasti udah nangis.

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s