Question


question

Songwriter : Miichan|| Artist(s) : Kim Jaejoong [JYJ] || Featuring : Yeon [OC] || Genre : Slice of Life ||

Rating : General || Duration : Single

Disclaimer : I just own the plot. Don’t you dare to plagiat.

Summary : “Apa yang kalian dapatkan sebagai bayaran untuk itu semua?”

Jaejoong baru keluar dari kantor agensinya ketika waktu telah menunjukkan pukul dua lewat. Dua dini hari, tepatnya. Ia baru selesai melakukan pertemuan dengan produser dan orang-orang yang berkepentingan lainnya sehubungan dengan perilisan album solonya.

Cuaca ekstrem di pekan kedua Oktober malam itu tidak membuat Jaejoong lantas membawa kembali mobilnya ke dalam parkiran kantor C-Jes Ent. atau parkiran dormitorinya. Lelaki yang mendapat julukan sebagai Robert Pattinson-nya Korea Selatan tersebut justru memacu Lamborghini miliknya membelah jalanan Gangnam ditemani lagu-lagu yang selalu berada di daftar mainnya, berkendara sekitar sepuluh menit sebelum berhenti di depan sebuah kafe kecil.

Ia sedang butuh kopi.

Kafe kecil di depannya kini tampak lengang, tapi tidak terlihat tanda ‘Closed’ di pintunya. Tempat yang tepat untuk menikmati secangkir macchiato dan melepas penatnya tanpa mesti khawatir akan ada orang yang mengenalinya dan mengganggu quality time untuk dirinya sendiri.

Jaejoong meraih mantel tebal dari kursi di sampingnya. Memakainya dengan segera. Ia sempat melihat ponselnya yang bergetar di atas dashboard. Sebuah pesan KakaoTalk dari Yoochun, mungkin menanyakan keberadaannya sekarang. Jaejoong membawa benda tipis itu, namun membiarkan pesannya tanpa ada niatan membacanya. Ia keluar dari mobil dengan setengah wajah tertutupi tudung mantel.

Gemerincing lonceng di atas pintu terdengar saat ia memasuki kafe tersebut. Seorang pelayan di balik bar segera menyapanya, begitu juga dengan aroma kopi dan suhu ruangan yang kontras dengan di luar sana. Kafe tersebut benar-benar kecil. Bernuansa cokelat, berlantai kayu, dan hanya memiliki delapan meja bundar dengan empat kursi, ditambah enam kursi di meja barnya. Pelayannya, yang sepertinya juga merangkap sebagai seorang barista, adalah seorang pria yang diperkirakan berada di usia pertengahan empat puluh. Dia terlihat lucu dengan kemeja krem dan apron cokelat tua di pinggangnya.

“Ingin pesan apa, Tuan?” tanya barista itu ketika Jaejoong telah mengambil tempat di salah satu kursi bar.

“Espresso macchiato,” jawab Jaejoong singkat.

“Yang lain?”

“Tidak, terimakasih.”

“Mohon tunggu sebentar.”

Jaejoong menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sembari menunggu, ia melepaskan mantelnya dan menaruhnya di atas kursi di sampingnya. Ia pikir tidak apa-apa, kafe itu kosong, dan barista itu sepertinya tidak akan mengenalinya sebagai seorang Hallyu Star, kalau pun mengenali, kemungkinan tidak akan terlalu merepotkan. Paling dia hanya akan meminta foto bersama dan meminta tanda tangannya.

Jaejoong tertarik melihat apa yang berada di balik lemari yang ada di balik meja bar. Di dalam lemari yang tingginya hampir menyentuh langit-langit itu, berjajar toples-toples dengan ukuran yang sama, berisi bubuk cokelat kehitaman dengan label di depan setiap toplesnya. Jaejoong bisa menemukan beberapa toples berlabel ‘Arabica’ yang dicetak tebal dan besar, diikuti kata yang lebih kecil di bawahnya. Sayang Jaejoong sedang tidak membawa kacamatanya, ia tidak bisa membaca dengan jelas tulisan di bawah label jenis kopi itu. Lalu ada juga berbagai macam alat-alat dengan bentuk yang tidak bisa Jaejoong deskripsikan dengan baik, sebagian kelihatan tua sekali, dan sebagian lainnya masih mengilap dan memantulkan cahaya lampu.

Lagu Here’s To Never Growing Up milik Avril Lavigne terdengar setelah lagu sebelumnya, Voice dari Lim Kim. Jaejoong menghela udara banyak-banyak, membiarkan aroma pekatnya kopi memenuhi paru-parunya, merasakan kebebasannya untuk sesaat.

“Espresso macchiato Anda, Tuan—Kim Jaejoong-ssi?”

Jaejoong membuka matanya, tersenyum kikuk mendapati barista itu ternyata mengenalinya. Ia mengangguk singkat dan menggumamkan terimakasih.

“Permisi, putriku adalah penggemar Anda. Jika Anda tidak keberatan, boleh saya meminta tanda tangan Anda, Jaejoong-ssi?”

Nah, kan!

Lelaki karismatik itu mengangguk lagi, tanpa melepaskan senyumnya. “Tentu, di mana aku harus tanda tangan?”

Barista tersebut mengambil sebuah cangkir porselen putih polos dan juga sebuah spidol permanen, lalu menyerahkannya pada Jaejoong. Jaejoong segera menandatanginya, bahkan menuliskan nama putri Barista itu.

“Terimakasih banyak. Selamat menikmati.”

Sekali lagi Jaejoong menganggukkan kepalanya. Barista itu lalu meninggalkannya. Jaejoong menyesap macchiatonya perlahan. Kepalanya pening, bentuk protes tubuhnya karena tidak diberi waktu istirahat yang cukup, menuntut untuk segera bertemu bantal. Tapi Jaejoong belum ingin beranjak dari tempat duduknya saat ini, kebebasan sesaatnya.

Hanya untuk beberapa menit saja, ia ingin duduk seperti orang-orang, menikmati secangkir kopi dan mendengarkan musik dengan tenang. Walaupun kopinya bukan yang terbaik, dan harganya tak seberapa. Jaejoong ingin tinggal sebentar saja, lalu setelahnya ia akan kembali pada kehidupannya yang telah ia mulai sejak sepuluh tahun lalu.

Sepuluh tahun. Desember nanti akan tepat sepuluh tahun.

Bibir Jaejoong memulas senyum getir.

Bunyi tiga kali tanda pesan masuk dari ponselnya merebut perhatian Jaejoong. Ia mengeluarkan gadget yang menjadi sumber bunyi dari sakunya. Ada empat pesan yang belum dibaca, dan seperti dugaannya, semua dari Yoochun.

Bahkan rekannya sendiri mengganggu waktu bebasnya.

Hyung di mana? Manajer Hyung bilang kau pulang lebih dulu.’

Hyung tidak akan pulang malam ini?’

Hyung balas pesanku!’

Hyuuuuuuuuuung!!!’

Jaejoong mendecakkan lidahnya.

‘Aku akan pulang. Cerewet.’ Balas Jaejoong.

“Yeon? Sendirian?” suara Paman Barista (Jaejoong memutuskan memanggilnya begitu) terdengar lagi, tapi kali ini tidak bicara padanya.

Jaejoong mengangkat kepalanya. Tidak bisa menyembunyikan kerut di dahi begitu mendapati sosok seorang gadis dengan coat cokelat tua duduk selang satu kursi di samping kanannya. Sejak kapan gadis itu masuk? Ia tidak mendengar gemerincing lonceng di atas pintu masuk, tidak juga mendengar langkah sepatunya. Gadis itu manusia, kan?

“Kelihatannya?” gadis itu menjawab dengan pertanyaan retoris.

Paman Barista hanya terkekeh. Ia menyuruh gadis itu menunggu, padahal Jaejoong yakin gadis itu belum menyebutkan pesanannya. Kelihatannya ia pelanggan tetap, dilihat dari bagaimana mereka berinteraksi.

Tiba-tiba, gadis itu menoleh, bertemu tatap dengan Jaejoong. Lelaki itu terkejut, untuk dua detik ia lupa jika seharusnya ia tidak membiarkan gadis itu mengenalinya. Jaejoong memalingkan pandangannya. Tapi terlambat sudah, gadis itu melihatnya.

Jaejoong menghela napas dalam-dalam, sembari menghitung sampai tiga. Jika gadis itu berteriak histeris, ia akan meninggalkan kafe detik itu juga. Jika gadis itu hanya menyapanya dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Paman Barista; meminta tanda tangan, ia tetap akan meninggalkan kafe.

Hitungan Jaejoong telah lewat dari lima, dan ia belum mendengar suara apapun lagi yang sama dengan suara gadis di sampingnya. Penasaran, Jaejoong melirik gadis itu dari ekor mata, hanya untuk melihatnya tengah menatapi ponsel yang tergeletak di atas meja.

Gadis itu tidak berteriak histeris (oh, syukurlah).

Gadis itu tidak menyapanya (oh, oke).

Gadis itu hanya menatapi ponselnya (oh, yang benar saja! Apa yang dimiliki ponsel itu sampai ia lebih memilih menatapi ponsel daripada menatapi Kim Jaejoong?).

Gadis itu … tidak mengenalinya?

Tidak mungkin. Gadis itu tidak mungkin tidak mengenalinya. Dilihat dari gayanya, gadis itu mungkin berusia sekitar dua puluh tahunan awal. Dan menurut pengalaman Jaejoong, tidak ada gadis awal dua puluhan yang menetap di Korea Selatan yang tidak mengenalinya. Bukan bermaksud sombong, tapi memang faktanya begitu. Jaejoong dan grupnya sudah berkeliaran di layar kaca sejak sepuluh tahun lalu, hanya mereka yang tinggal di pelosok tanpa listrik dan internet yang tidak mengenal Kim Jaejoong.

Setelah mendapatkan secangkir kopi, yang sepertinya adalah capuccinno, gadis itu menghela napas dalam. Ia menoleh lagi dengan tiba-tiba.

“Kenapa memandangiku terus?” tanya gadis itu, bagaimana tadi Paman Barista memanggilnya? Yeon?

Jaejoong baru akan mengatakan ‘Siapa yang memandangimu?’, tapi yang keluar dari bibirnya malah kalimat “Kau tidak mengenaliku?”.

Dahi gadis itu—Yeon mengerut. “Kukira kau akan lebih suka jika aku tidak mengenalimu.”

Dahi Jaejoong ikut-ikutan mengerut. Cara bicara gadis ini kasual sekali. “Jadi, kau tidak mengenaliku?”

“Aku tidak tinggal di dalam gua, tentu aku tahu siapa kau.”

“Kalau begitu, antifans?”

Akhirnya dahi Yeon tidak lagi mengerut. Ia mendengus sebelum kembali buka suara. “Aku menghargai privasimu. Tidakkah kau risih bertemu dengan orang-orang yang selalu memerhatikanmu? Mengikutimu kemana-mana sambil membawa kamera dan mengambil fotomu sekalipun kau tidak menginginkannya? Kalian sudah memiliki cukup banyak orang-orang seperti itu di kehidupan kalian, aku tidak tertarik untuk menjadi salahsatunya. Aku memberimu kesempatan untuk duduk di sini sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai artis. Jadi, nikmati itu.”

Jaejoong terhenyak di tempat duduknya. Ia menatap Yeon dengan sorot yang tidak terbaca. Gadis itu berbeda. Ia menghirup udara banyak-banyak sebelum mengakhiri tatapannya pada Yeon. Menyesap lagi macchiato murahnya, membiarkan dominasi kuat kopi menguasai lidahnya.

Ya, gadis itu benar. Seharusnya Jaejoong tidak perlu begitu merasa penasaran. Semestinya dia menikmati momen langka ini; momen di mana ia bisa duduk dengan seseorang tanpa terus-terusan diperhatikan, momen di mana ia bisa sejenak melepaskan titelnya sebagai selebriti. Jaejoong tiba-tiba tersenyum sendiri. Bukankah ini lucu? Bukankah kehidupan seperti ini yang dia inginkan? Dia memilih sendiri untuk menjalaninya, bahkan, mempertahankannya. Jadi, seharusnya dia tidak perlu mengeluhkan apa-apa, karena memang itulah konsekuensinya.

Musik yang mengisi keheningan kafe terganti lagi. ‘Lagunya bagus’, begitu yang dipikirkan Jaejoong ketika mendengarkan lagu itu baik-baik. Jaejoong tidak tahu apa judulnya dan siapa penyanyinya, tapi begitu telinganya menangkap lirik ‘난 아이둘이라서 뚜 연예인이라서 니순을 잡고 걸을 순 없지만 (Because I’m an idol, because I’m a celebrity, I can’t hold your hand when we walk)*, senyumnya mengembang lagi. Sebuah pemikiran lain lewat dalam kepalanya.

‘Lirik yang jujur sekali.’

Tanpa disengaja, Jaejoong menangkap gerakan tangan Yeon dari sudut matanya. Gadis itu tengah mengusap pipinya. Gadis itu menangis. Bahunya yang kecil bergetar samar. Jaejoong memilih berpura-pura tidak melihatnya dan memainkan ponselnya. Gadis itu sudah menghargai privasinya, maka Jaejoong pun melakukan hal yang sama.

Saat Jaejoong kembali mengintip gadis yang duduk di sampingnya diam-diam lewat ekor matanya, Yeon sudah tidak menangis lagi. Kedua tangan gadis itu menangkup cangkir kopinya, sedangkan tatapan matanya—walaupun tertuju pada permukaan cangkir—kosong. Gadis itu sepertinya tengah bermasalah, dan wajahnya menunjukkan betapa beratnya masalah yang menimpanya.

Jaejoong mendengus samar. Menjadi apapun, manusia tidak akan pernah lepas dari masalah. Mungkin dirinya jengah dengan posisi dan pekerjaannya saat ini, tapi jika dia memilih pekerjaan yang lain, tidak menutup kemungkinan akan muncul perasaan yang sama dengan yang dirasakannya sekarang.

Well, satu alasan lagi untuk tetap bersyukur dan tidak mengeluh, Kim Jaejoong.

“Aku tidak mengerti.”

Jaejoong mengangkat kepalanya. Ia menoleh untuk memastikan gadis itu tengah berbicara atau tidak. Dan Jaejoong mendapati gadis itu masih menatapi cangkir kopinya. Namun, tidak lama bibirnya yang tipis dan pucat bergerak lagi. Suaranya serak dan bergetar. Jaejoong mengerutkan dahinya, gadis itu tengah mengajaknya bicara? Apa ia harus mendengarkannya atau mengabaikannya?

“Aku tidak bisa mengerti orang-orang seperti kalian. Apa yang membuat kalian bertahan? Apa karena itu adalah cita-cita kalian? Atau karena popularitas? Uang?”

Setelah beberapa saat mencerna kalimat yang diucapkan gadis itu, Jaejoong akhirnya mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh gadis itu. Ia memutuskan untuk tidak menanggapinya, namun tetap mendengarkan dengan baik. Yeon juga kedengarannya tidak ingin ditanggapi, lebih seperti ingin mencurahkan sesuatu tanpa ada yang menyelanya.

“Kalian dituntut untuk menjadi sempurna, menutupi diri kalian yang sebenarnya. Berlatih berjam-jam, jadwal yang padat dan tidak diimbangi waktu istirahat yang cukup. Tidakkah itu melelahkan? Belum lagi orang-orang yang mengikuti kalian kemana-mana, mengawasi kalian hampir setiap detik, tidakkah itu mengganggu? Kalian mengorbankan banyak hal; waktu, tenaga, kehidupan pribadi, perasaan kalian. Kalian menjadi properti masyarakat, dituntut  sempurna, diklaim banyak orang. Kalian membuat hati banyak orang tua terluka karena putrinya membangkang dan memilih membolos sekolah demi mengikuti kalian kemana-mana. Kalian membuat banyak orang tergila-gila, hingga mampu menunggu di tengah salju demi melihat kalian. Bahkan ….” Yeon berhenti sejenak, ada yang menggenang di sudut matanya.

“Bahkan kalian melukai orang yang kalian cintai demi mereka. Demi orang-orang yang mengawasi kalian, memuja kalian, mengikuti kalian seperti orang gila. Apa yang kalian dapat sebagai bayaran untuk semua itu? Uang? Berapa yang kalian dapatkan? Aku tidak melihat kalian bisa mengalahkan kekayaan Ratu Inggris dengan semua yang kalian korbankan. Popularitas? Kalian sendiri tahu itu bukan hal yang akan bertahan lama. Aku tidak mengerti.”

Jaejoong mengepalkan tangannya, merasa tersinggung. Jaejoong jelas mengerti siapa yang dimaksud dengan ‘kalian’ oleh gadis itu; orang-orang seperti dirinya, orang-orang yang bekerja dengan disorot kamera. Hampir semua yang dikatakan gadis itu benar. Ya, ia tidak menampik memilih pekerjaannya sebagai selebritis demi uang, tapi semua orang yang bekerja juga tujuan utama pasti uang, kan? Ia ingin marah, tapi memang seperti itu kenyatannya.

Dilihatnya Yeon kembali mengusap pipinya yang basah. Gadis ini pasti telah dilukai (perasaannya) oleh seorang selebriti, mungkin oleh temannya, keluarganya, atau mungkin kekasihnya. Jaejoong mendengus kasar.

“Dengar, aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi kau tidak bisa mengambil kesimpulan dengan memukul rata semua selebriti seperti itu. Di sini, di dunia kami, hanya orang-orang yang benar-benar memiliki mimpi dan mau berusaha keras yang bisa berada di posisi ini. Karena seperti yang kau katakan, banyak hal yang harus dikorbankan. Kau bertanya apa yang kami dapatkan dari pengorbanan itu? Banyak. Salahsatunya, ya, kami memang bekerja demi uang, lagi pula siapa manusia di dunia ini yang bekerja demi hal lain selain uang? Popularitas, tidak juga, tapi itu adalah salah satu faktor pendukung. Tapi yang utama, kami mendapat kepuasan tersendiri, karena inilah mimpi kami.

“Soal para penggemar fanatik, kami tidak pernah menginginkan mereka seperti itu. Aku sendiri juga risih dengan orang-orang seperti itu. Kau pikir kami diam saja melihatnya? Tidak. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak semua orang memiliki pikiran jika kami juga sama seperti mereka, bahwa tujuan keberadaan kami sejatinya untuk menghibur, bukan untuk dipuja-puja seperti dewa.” Jaejoong menghela napas sejenak sembari menatap Yeon terang-terangan. Ia tidak pernah berniat untuk bicara begitu, tapi ia juga tidak bisa membiarkan gadis di hadapannya memiliki pemikiran seperti itu tentang orang-orang sepertinya.

“Kami tidak melakukan ini semua untuk penggemar fanatik yang merepotkan. Kami melakukan semua ini untuk mereka yang mendukung dan mencintai kami,” lanjut Jaejoong.

Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Jaejoong. Sorot matanya jelas menunjukkan jika gadis itu tengah terluka, dengan sisa-sisa air mata masih ada di pelupuknya. Diam-diam, Jaejoong memuji wajah gadis itu yang terlihat cantik meskipun mata dan hidungnya memerah. Diam-diam, Jaejoong membayangkan akan secantik apa jika ia tersenyum.

“Dan, Yeon-ssi, kami tidak pernah memiliki keinginan untuk melukai orang yang kami cintai. Kalau pun itu terjadi, pasti karena kami dipaksa memilih. Biasanya pilihannya sederhana; melukai satu orang yang kami cintai, atau melukai banyak orang yang mencintai kami. Oh, sepertinya pilihan pertama harus kuralat, bukan melukai satu orang, karena jika itu pilihan yang harus kami ambil, kami juga terluka. Sama dalamnya, sama sakitnya, bahkan mungkin lebih. Itu hanya satu dari sekian konsekuensi yang harus kami terima.”

Gadis itu tergugu di depan Jaejoong. Kepalanya tertunduk dalam, isakannya terdengar lebih keras dari yang pertama. Jaejoong memijit pelipisnya. Jadi, ia datang kemari untuk beristirahat sejenak dan menikmati secangkir kopi sebagai ‘orang biasa’, lalu tiba-tiba gadis ini datang, mengatakan jika ia menghargai privasinya, tapi pada akhirnya tetap saja membuat waktu bebasnya yang berharga terganggu.

Jaejoong meraih mantelnya, merogoh-rogoh semua saku yang ada di sana. Berharap menemukan sapu tangan, tapi yang ditemukannya adalah sebungkus tisu ukuran sedang yang tersisa setengahnya. Ia menggedikkan bahu. ‘Yah, ini bukan drama,’ pikirnya seraya menaruh tisu itu di samping ponsel Yeon yang layarnya berkelip-kelip, menunjukkan jika seseorang sedang menghubunginya. Caller-id-nya memuat sebuah foto seseorang yang rasanya Jaejoong pernah lihat entah di mana.

“Hei, jangan menangis, orang akan mengira aku yang membuatmu menangis. Dan sepertinya pacarmu menelepon. Kau tidak ingin membuat dia khawatir dengan menangis seperti ini, kan?” ujar Jaejoong sembari mengenakan mantelnya. Ia rasa sudah waktunya untuk pulang, dan terlebih lagi, ia malas berhadapan dengan gadis yang menangis.

Jaejoong menatap sekali lagi pada Yeon yang masih terisak. Tangan kanannya terangkat di atas kepala gadis itu, berniat menepuknya pelan untuk menghibur. Namun tangannya kembali turun sebelum niatnya terealisasi. Ia menghela napas panjang lalu beranjak ke tempat kasir untuk membayar macchiatonya, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Paman Barista sempat melongok ke arah Yeon saat Jaejoong berdiri di depan mesin kasir, kemudian menatap Hallyu Star itu dengan kening berkerut.

“Aku tidak membuatnya menangis. Sumpah!” Jaejoong membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Aku tahu.” Paman Barista tersenyum tipis. “Sepertinya ini memang saatnya. Yeon berkencan dengan member idol group, dan kelihatannya hubungan mereka sudah diketahui terlalu banyak orang.”

Wajah Jaejoong seketika membentuk ekspresi ‘Ah, aku mengerti’ seraya mengangguk-angguk. “Berkencan dengan orang-orang seperti kami memang agak merepotkan.” Jaejoong menyeringai. Walaupun mengatakannya dengan nada bercanda, kalimatnya bukanlah candaan.

Paman Barista terkekeh. “Semoga kencan Anda tidak merepotkan,” ujarnya sembari mengangsurkan nota beserta uang kembalian. “Kembalian Anda, Tuan. Terimakasih telah berkunjung, silahkan datang lagi lain waktu.”

Suara Justin Timberlake dalam lagu terbarunya mengiringi langkah Jaejoong menyeberangi kafe kecil itu, menyempatkan diri melirik sebentar ke arah Yeon. Gadis itu tengah mengusap air matanya dengan tisu yang ia berikan, ponselnya masih menyala berkelip-kelip di atas meja.

Lonceng di atas pintu bergemerincing saat ia membuka pintu. Angin musim gugur dengan segera berhembus, membuatnya refleks merapatkan mantel. Tersenyum lirih ketika mengingat lagi ucapan Yeon. Mengulang sekali lagi pertanyaan gadis itu di kepalanya, “Apa yang kalian dapatkan sebagai bayaran untuk itu semua?”.

KKEUT

 

*) VIXX – I Don’t Want To Be An Idol

 

Hallo, saya Miichan, penghuni baru blog ini, dan ini adalah postingan pertama saya di sini.

Tulisan ini pernah saya posting di blog pribadi saya. Saya memutuskan untuk mempost ulang di sini dengan beberapa perubahan, karena saya pikir berkat tulisan inilah saya bisa menjadi bagian dari keluarga ini.

Thanks to Kanay, Kayun, Kamala, Kagigi and the rest of FFKPI family.

Salam kenal, dan mohon bantuannya ^^

 

Miichan

 

Advertisements

14 thoughts on “Question

  1. wah, oenghuni baru? bangapta kalo gitu 🙂
    ceritanya bagus.
    Penggunaan katanya juga.
    Sequel dong.. Bisa gk? 😀
    q penasaran idol yg sma yeon itu siapa. Trus ke depannya jga gimana. Soalnya masih nggantung.. XD

    1. iya, salam kenal ^^
      makasih hhehe
      nggak bisa bikin sekule, maap .__.v
      tp buat visualisasi, bisa bayangin dayeon, mantannya myungsoo hhehe

      fokus ceritanya kan ke jaejoong, jd saya rasa sih nggak gantung. kkekeke *maksa

      makasih banyak ya ^^

    2. Halo Wisepha! /sokkenal/ haha
      Aku tergelitik untuk bales komentar kamu… Idol yg sama Yeon itu Myungsoo si L Infiniteeeuuu hahaha dan Yeon itu Dayeon :3

      Muahahaha Mei~ ini poin kekurangan sekaligus kelebihan kamu loh (tp menurutku sih cenderung ke kelebihan). Menyiratkan cast. Membuat pembaca mikir sendiri. Good~ 🙂

      1. hehe, gpp kok rinaay?
        maksudku di bagian ini…
        “Caller-id-nya memuat sebuah foto seseorang yang rasanya Jaejoong pernah lihat entah di mana.”
        seseorang itu pasti kan kemungkinan idol jga. Nah itu siapa.. .

        1. oh ya ya, maaf. Habis reply baru konek nih otak.
          Hehe..
          Myungsoo yah? Ok deh..
          Soalnya kan q gk bgtu memahami dunia idol hallyu :3 mian..

          1. Sepertinya kudu menjelaskan sesuatu.. Hhaha

            Sebenernya Yeon di sini bisa siapa aja, gak mesti mantannya Myungsoo. Dan member idol grup yg jd pacar Yeon d sini jg ga mesti Myungsoo.

            Yeon cuma karakter yg mewakili setiap cewek yg pacaran ma seleb dan sedang dalam kondisi nggak baik; karena pacarnya ternyata lebih milih karirnya, misal.

            Dan karena momennya pas antara setting waktu ff ini dan munculnya skandal L ma cewek uljjang itu, jd saya pake mereka buat visualisasi imajinasi saya.

            Kamu bisa bayangin siapa aja, kok. Mau bayangin diri kamu sendiri jg bisa.
            Itulah kenapa saya nggak secara jelas ngedeskripsiin siapa Yeon dan siapa yg muncul di layar teleponnya, supaya lebih general.
            Karena saya yakin yg mengalaminya nggak cuma satu atau dua org, dan sekali lg, fokus ceritanya bukan pada Yeon dan pacar artisnya, tp ke Jaejoong yg posisinya sebagai selebriti dan ke pertanyaan yg muncul d summary itu.

            Makanya, saya bingung gimana bikin sekuelnya. Hhaha 😀

  2. Mei~ aku juga dulu belum sempet komentar di wp kamu ya. Aku komentar di sini aja, ya….
    Aku suka tulisan kamu–seharusnya kamu udah tau ini 😀
    Aku suka pendeskripsian cafe di atas. Juga penjabaran perasaan Jaejoong. Meski kamu menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi kamu bisa menyatu sama si tokoh utama untuk mengeksplor apa yg dia rasa.
    Dan Yoochun… hahaha intermezzo banget deh dia itu 😀
    Hm… aku udah bilang ya di atas mengenai kekurangan yg cenderung menjadi kelebihan cerita ini. Kamu menyiratkan Myungsoo sama Dayeon xD

    Oh, satu lagi. Aku suka lagunya VIXX yg kamu pake di atas hahaha kapan2 pengen bikin FF atas dasar lagu itu xD

    Oiyaaaaa lagi lagi… aku suka penggalan kalimat ini : ” …Biasanya pilihannya sederhana; melukai satu orang yang kami cintai, atau melukai banyak orang yang mencintai kami….”

    Kamu juga suka itu kan? :p

    1. Kanay~ makasih yaaa~
      Mei baru tau istilah itu: menyiratkan tokoh. Hhaha
      Abisan pas banget, sih, momennya. Tp kalo dibikin jelas kalo itu mantannya L, rasa-rasanya nggak enak jg. Yaudah tersirat aja.. Hhehe

      Mei jg suka lagu itu~ jleb banget ga sih kalo jd Yeon trus denger lagu itu tanpa sengaja? Aaaaaa~

      Iyaaa, itu salah satu kutipan favorit mei. Soalnya kerasa sendiri jg *eh hhehe

      Sekali lg makasih ya, kanay~

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s