FFKPI January Playlist – Roy Kim’s Spring Spring Spring


PICT7726 Songwriter : BlankDreamer | Song : Spring | Artist (s): Roy Kim as Kim Sang Woo (OOC), Park Soo Jin (actrees) as Park Soo Jin (OOC) | Genre: Romance | Rated : General | Duration: Single | Background Song : Bom Bom Bom (Spring Spring Spring)

DISCLAIMER:

Dilarang keras untuk copy paste cerita tanpa ijin dan menjiplak. Karya ini murni berasal dari imajinasi penulis dan tokoh seutuhnya bukan milik penulis

Terimakasih untuk menghargai hasil kerja keras ini

Salam manis dan kecup sayang dari saya mmmmuach :* 😀

Sebuah perasaan rupanya bisa menjadikan seseorang begitu bodoh

Spring, spring, spring, spring has come
With that scent of when we first met
The tree next to the bench that you sat on is still there
I thought I’d forget about it as time went by but instead
Even as I said that, I knew it wouldn’t happen

Kim Sang Woo menghentikan langkah dan menengadahkan kepala saat kelopak bunga sakura mulai berguguran diterpa semilir angin. Warnanya yang merah muda segar bahkan sudah nyaris menutupi jalan setapak yang membentang di hadapan lelaki itu. Sang Woo pun menarik nafas dalam. Lantas mengulas sebuah senyum simpul.

Lelaki itu sedang menikmati aroma khas musim semi tahun ini. Sebuah aroma yang bagi Sang Woo bukan hanya sekedar aroma dari sebuah musim. Ini adalah sebuah aroma yang akan selalu membawanya pada suatu kenangan yang belum bisa lelaki itu lupakan. Karena dalam aroma ini, sebuah kisah pernah tercipta untuknya.

Tatapan Sang Woo sontak tertanam pada sebuah bangku kayu tua di bawah sebuah pohon sakura. Bangku itu tidak asing. Begitupun dengan pohon sakura itu. Semuanya masih terlihat dan terasa sama dalam ingatan lelaki itu. Sang Woo mendengus sekaligus tersenyum miris.

Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa kenangan ini sudah terhapus dalam ingatannya. Setidaknya, dia hanya akan mengingatnya samar dan sesekali. Tapi itu hanya sesuatu yang Sang Woo pikirkan karena kenyataan tak pernah membenarkannya. Bahkan lelaki itu sadar, bahwa inilah yang pasti akan terjadi, jika dia kembali ke tempat ini.

“Masih….”

My dear, I knew right away when I first saw you
My dear, be with me before this spring ends

Di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran itu, lebih dari dua minggu sudah Sang Woo selalu berada di sana dari siang hingga sore hari untuk melakukan pertunjukan musik jalanannya. Hanya sebuah kegiatan iseng tentunya. Penikmatnya pun hanya setiap pengunjung taman yang melintas. Tak mengapa bagi  lelaki itu. Karena baginya, semua hal yang dia lakukan itu semata demi membuat orang-orang terhibur saat melihat pertunjukan musiknya. Dia sudah cukup senang orang-orang nyaman mendengarkan karyanya. Bermodal gitar dan suara khasnya, Sang Woo  sudah cukup membuat orang-orang di sana selalu berkumpul untuk melihat pentas musik kecilnya setiap hari. Tapi rupanya belakangan, hal itu telah berubah sejak dia melihat gadis  dengan rambut hitam panjang bergelombang yang selalu duduk di bangku tua di bawah sebuah pohon sakura tak jauh dari tempat Sang Woo biasa melakukan pertunjukan.

Gadis cantik itu selalu duduk di sana ditemani dengan kanvas di hadapannya. Entah apa yang gadis itu selalu lukis, Sang Woo tak pernah benar-benar memusingkannya. Dia hanya sudah tersihir oleh kecantikan gadis itu. Seperti orang bodoh karena tak pernah tahu darimana pikiran itu berasal, Sang Woo bahkan seperti merasa gadis itu adalah sosok yang dia cari selama ini. Karena selalu tepat saat dia menatap gadis cantik itu, sebuah melodi seakan mengalun di telinganya bagai air sungai yang mengalir jernih tanpa terhambat. Terlebih jika tatapan mereka bertemu. Sesuatu sontak terasa menggelitik perutnya.

Lalu hari itu, Kim Sang Woo pun telah menguatkan tekadnya untuk mendekati Sang Gadis. Dia sadar benar bahwa dia tak boleh lagi menahan diri untuk selangkah lebih maju mendekati gadis itu atau sosok cantik itu akan menghilang untuk selamanya.

Lantas riuh tepuk tangan penonton siang itupun mengalihkan tatapan Sang Woo dari Sang Gadis sejenak. Lelaki itu tersenyum dan membungkuk sebagai ucapan terimakasih. Beberapa penonton pun memasukkan uang ke dalam kotak yang sudah lelaki itu sediakan dan tentunya dia tak pernah lupa untuk mengucapkan terimakasih. Sang Woo selalu merasa senang saat semua orang menunjukkan apresiasi positif mereka terhadap nyanyian yang dia  suguhkan. Dia suka melihat senyum-senyum itu.

Begitu semua orang yang mengerumuninya telah pergi, Sang Woo kembali menatap ke arah gadis itu. Tapi oh! Kemana perginya gadis cantik itu? Mengapa dia sudah tidak lagi di tempatnya? Sejak kapan dia pergi?

Sang Woo pun mengedarkan tatapan ke sekitar. Dia berusaha mencari sosok gadis itu lagi. Tapi malang, rupanya gadis itu sudah benar-benar menghilang. Sang Woo tak melihatnya dimanapun. Dia mendengus. Apakah dia masih memiliki kesempatan untuk mengenal gadis itu besok? Apakah gadis itu akan datang lagi besok? Ya, tentu saja. Gadis cantik itu sudah datang selama satu minggu ini dan sudah pasti akan kembali lagi besok. Sang Woo yakin itu.

Dia berusaha meyakinkan hatinya.

Sang Woo kembali lagi ke taman bunga sakura keesokan harinya dan begitu juga dua hari berikutnya. Masih pada  waktu yang sama seperti dia dan gadis itu biasa datang. Tapi kali ini, dia tidak berniat untuk melakukan pertunjukan. Dia murni datang untuk menemui gadis itu.

Lelaki itu hanya memetik senar gitarnya perlahan dan bersenandung lirih sembari duduk di bangku kayu dimana gadis itu biasa berada. Sudah satu jam lebih dia  berada di sana dan sudah tiga hari pula dia tidak melakukan pertunjukan hanya demi menunggu kemunculan gadis itu. Tapi sayang, sosok itu masih belum juga muncul. Sang Woo mulai ragu. Apakah gadis itu tidak akan pernah datang? Apakah gadis itu tidak akan pernah kembali lagi? Bukankah bunga sakura masih bermekaran? Apakah gadis itu sudah tidak lagi ingin melukis bunga sakura di sini? Ataukah jangan-jangan, gadis itu sudah berpindah tempat untuk mencari pemandangan yang lebih bagus? Entahlah. Sang Woo hanya terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Sang Woo yang pada awalnya tidak pernah memikirkan akan sesuatu yang gadis itu selalu lukis, mendadak saja selama tiga hari ini berpikir tentang sesuatu yang membuat gadis itu selalu duduk di tempat itu dengan kanvas dan cat warnanya. Sang Woo penasaran.

Tepat di saat keraguan dan keputusasaan nyaris menguasai dirinya secara utuh,  suara lembut itu mengusik telinganya. Sang Woo mendongak. Dia terpaku. Lelaki itu  tidak mampu berkedip saat menatap sosok gadis cantik yang sudah dia tunggu sejak beberapa hari itu telah berdiri di hadapannya. Bahkan gadis itu tengah tersenyum padanya. Sebuah senyum yang memberikan angin baru bagi Sang Woo. Sebuah senyum yang membuat tubuh lelaki itu mendadak menjadi terasa begitu ringan. Seringan kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran. Melayang perlahan di udara sebelum akhirnya jatuh menyentuh permukaan bumi dengan tenang. Ini terasa bagai mimpi.

“Ma’af. Tapi apakah benar kau adalah lelaki yang selalu bermain musik di sebelah sana?”

Tatapan Sang Woo mengekori kemana arah gadis itu menunjuk. Tentu saja itu adalah sebuah tempat yang memang sudah tidak asing lagi bagi lelaki itu. Sang Woo mengalihkan tatapannya kembali ke arah gadis itu. Lalu tersenyum seraya mengangguk. Sang Woo senang gadis itu mengenalinya. Karena selama ini, dia hanya selalu berpikir bahwa gadis itu tidak pernah mengingatnya.

Sang Woo pun melihat gadis itu menghela nafas lega dan beranjak untuk duduk di samping lelaki itu.

“Aku boleh duduk di sini?”

“Kau sudah duduk. Kupikir takkan ada gunanya lagi, jika aku melarang.”

Gadis itu tergelak. “Aku bisa pergi, jika kau mau.”

“Tidak. Oh, maksudku jangan. Oh, entahlah. Terserah kau saja.”

Lagi, gadis itu kembali tergelak. Sangat cantik adalah dua kata yang begitu sulit Sang Woo tolak keberadaannya saat menatap wajah gadis itu yang tertawa. Oh, tidak. Dia harus berhenti menatap gadis itu atau dia hanya akan membuat sebuah pengakuan cinta saat ini juga. Di saat yang sama sekali tidak bisa dikatakan adalah sebuah waktu yang tepat.

Sang Woo berdeham. “Kanvas.” Gumamnya seraya melirik kanvas yang gadis itu sandarkan di samping kaki lelaki itu. “Kulihat kau selalu membawanya. Apa yang kau lukis?”

Gadis itu terdiam. Bibirnya terbuka. Tapi tak satupun kata meluncur dari sana. Dia hanya bergumam tak jelas. Lalu menatap Sang Woo dan kembali tersenyum.

“Sebenarnya, itulah tujuanku datang hari ini.”

Sang Woo mengerutkan kening samar tak mengerti. Dia hanya menatap gadis itu mengambil kanvas dan membuka penutup kain dari kanvas itu sendiri. Lantas menunjukkan lukisan yang tercipta di atas kanvas itu pada Sang Woo. Lelaki itu termangu. Dia mengenali lukisan itu. Tepatnya pada sosok dalam lukisan yang sama sekali tak asing di matanya. Sosok seorang pria yang tengah bermain gitar di bawah sebuah pohon sakura dan di kelilingi oleh beberapa penonton.

“Ini….”

“Itu adalah lukisan tentangmu. Aku melukisnya untuk tugasku kemarin.”

“Benarkah? Waow, tak kusangka aku bisa terlihat setampan ini. Terimakasih, nona.”

Gadis itu kembali tergelak. “Aku yang seharusnya berterimakasih. Kau menginspirasiku di saat aku benar-benar tidak tahu harus melukis apa. Dan sudah kubulatkan tekadku sejak awal, jika aku mendapatkan nilai yang baik karena lukisan ini, aku akan memberikannya padamu.”

“Kau tidak sedang bercanda’kan, nona?”

“Tentu saja tidak. Aku memberikan ini untukmu sebagai ucapan terimakasihku. Lagipula, aku melukis beberapa kemarin. Jadi, kurasa tak ada salahnya, jika aku berbagi salah satunya denganmu.”

“Sungguh?”

Gadis itu mengangguk. “Kau tak suka?”

“Sangat suka.”

“Good.”

“Err…. Park…Soo Jin.” Sang Woo membaca coretan kecil di pojok kanan bawah lukisan. “Itukah namamu?”

Gadis itu mengangguk. “Ya. Dan siapa namamu?” Dia mengulurkan tangan.

Sang Woo tersenyum. Dia senang. Sangat-sangat senang karena tak pernah menyangka bahwa semuanya akan berjalan selancar ini. Dia tidak pernah menduga bahwa gadis itu yang akan menghampirinya dan bahkan memberitahukan sendiri namanya. Sang Woo menyambut uluran tangan itu.

“Sang Woo. Kim Sang Woo.”

“Senang berkenalan denganmu, Sang Woo~ssi.”

Lalu sebuah tekad baru muncul dalam hati lelaki itu begitu Soo Jin tersenyum untuk kesekian kalinya di hari itu. Bahwa dia ingin gadis cantik itu bisa menjadi kekasihnya sebelum musim semi ini berakhir.

Harapan Sang Woo menjadi nyata. Sebelum musim semi tahun itu berakhir, dia pun benar-benar sudah mengencani Soo Jin. Hari demi hari, musim demi musim, mereka lalui seperti kebanyakan pasangan. Pergi menonton film, bergandengan tangan, makan bersama, berlibur, berpelukan, berciuman, tertawa bersama, saling mendukung cita-cita masing-masing, saling cemburu, dan bahkan tak jarang berselisih pendapat adalah hal-hal yang mereka lalui bersama selama tiga musim berikutnya menjalani hubungan.

Jika, ditanya bahagia atau tidak, jelas Sang Woo bahagia. Dia telah mendapatkan gadis yang diidamkannya. Dia telah mendapatkan gadis yang membuatnya yakin telah menemukan takdirnya. Tak ada yang kurang. Namun, saat musim dingin tiba,sebuah perkara mulai muncul. Keharmonisan itu terkoyak. Rasa cemburu di hati Sang Woo yang semula hanya percikan kecil tersulut. Soo Jin yang semula bisa memadamkannya turut terbakar. Keduanya mempertahankan ego masing-masing. Tak ada yang mengalah. Dinginnya udara tak cukup mendinginkan isi kepala dan hati mereka yang tengah membara.

“Sudah berapa kali harus kukatakan, aku dan Jun Young hanya berteman, oppa. Bahkan kami sudah saling mengenal jauh sebelum aku mengenalmu. Apalagi yang kau ributkan?”

“Mengenalnya jauh sebelum mengenalku? Mengapa kau selalu mengatakan hal itu?” Sang Woo mendengus kesal. Lalu, “Apa maksudmu Jun Young lebih mengenal dirimu dibandingkan denganku?”

“Tentu saja bukan. Mengapa kau tak pernah mau mengerti, oppa?”

“Bukankah kau yang tak pernah mau mengerti? Sudah kukatakan berulang kali untuk berhenti berkeliaran dengan bocah tengik itu! Tapi lihatlah! Apa yang baru saja aku lihat? Kau pergi hanya berdua dengannya. Kalian saling berpandangan dan tertawa bersama. Bahkan kqu membiarkan bocah itu menyentuh puncak kepalamu. Apa kau pikir aku buta untuk melihat semua itu?”

“Kami berteman. TEMAN oppa! Apa salahnya dengan tertawa bersama, jika kami berteman? Apa oppa berharap kami saling melotot dan berteriak? Apa oppa berharap Jun Young menarik rambutku saat kami bertemu?”

Sang Woo terdiam. Tidak. Dia tidak ingin hal-hal buruk seperti itu dialami Soo Jin. Tapi bukan berarti juga, dia rela membiarkan kekasihnya itu terus-terusan berada di samping lelaki lain. Mereka berteman. Memang terdengar tak ada yang salah. Tapi bagi logika Sang Woo, Soo Jin dan Jun Young yang sudah saling mengenal lama justru bagai bom waktu. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam keakraban kedua sahabat itu.

“Berhentilah bertemu dengannya! Aku hanya meminta itu darimu, Park Soo Jin.” Suara lelaki itu terdengar rendah dan dalam. Dia berusaha bersabar. “Aku hanya ingin kau menjauh darinya. Apa itu begitu sulit untuk kau lakukan?”

“Ne! Aku tidak akan pernah berhenti menemui Jun Young. Kami akan tetap saling bertemu seperti biasa. Tak ada yang akan berubah dengan itu.”

“Hyaa! Park Soo Jin! Jika, kau berani menemui bocah tengik itu lagi, maka….”

“Maka apa? Apa yang akan oppa lakukan? Mengakhiri hubungan kita?”

“Eo! Aku akan memutuskan hubungan kita. Kau senang?”

Kali ini, Soo Jin yang terdiam. Dia menatap Sang Woo nanar. Dadanya serasa dihujani berjuta belati. Ini menyakitinya. Benarkah semuanya akan berakhir hanya karena rasa cemburu tak berbukti seperti ini? Tapi bagi Soo Jin, kata mengakhiri hubungan adalah sesuatu yang tabu. Kata itu tak seharusnya tak terlontarkan dalam sebuah hubungan. Karena sekali itu terucap, semua yang telah dipertahankan dalam sebuah hubungan takkan lagi berdiri teguh. Akan rapuh. Akan hancur. Akan sia-sia.

Entah sejak kapan, tapi Soo Jin baru menyadari ketika pandangannya mulai mengabur dan begitu dia mengerjap, bulir-bulir itu luluh. Ketidakpercayaan Sang Woo melukainya. Soo Jin terisak.

“Aku tidak akan berhenti menemui Jun Young. Tidak akan pernah.”

Once again, spring, spring has come
After the winter of heartbreak without you had passed
I sit on this bench and reminisce like cherry blossoms blooming
There are times when feelings grow dull
But now I finally realize that even those times are part
of love

Musim semi telah kembali. Begitu juga dengan bunga sakura yang kembali bermekaran. Setelah musim dingin yang membara dan justru membekukan hubungannya dengan Soo Jin, Sang Woo kembali ke tempat di mana dia kali pertama bertemu dengan gadis itu. Dia merindukannya, Park Soo Jin. Berapa kalipun, lelaki itu mencoba mengelak, dia tahu dia akan selalu merindukan gadis itu.

Sang Woo pun telah menyadari bahwa tak seharusnya pertengkaran kekanak-kanakan itu terjadi. Seharusnya, dia percaya pada Soo Jin. Pada gadis yang selalu tersenyum di sandingnya saat suka dan selalu menghiburnya di saat duka.

Lantas lelaki itu duduk pada bangku kayu tua yang telah mempertemukan mereka. Bangku yang senantiasa keduanya duduki untuk menghabiskan waktu bersama. Sang Woo tersenyum. Ia mengingat kembali semua hal yang telah terjadi pada hubungannya dan Soo Jin seperti kelopak bunga sakura yang kembali bermekaran di musim semi. Keduanya sama. Tapi tak benar-benar sama.

Sang Woo ingat benar, setiap dia dan Soo Jin memiliki janji untuk bertemu di taman ini, maka gadis itu akan selalu datang lebih awal. Soo Jin akan menunggu Sang Woo dengan sabar sambil duduk di bangku kayu ini. Padahal, lelaki itu jarang sekali datang tepat waktu. Tapi ajaibnya, Sang Woo tak pernah mendapati Soo Jin berteriak kesal padanya ataupun bermuka masam menyambutnya. Gadis itu justru selalu menanyakan hal-hal yang menunjukkan betapa gadis itu mengkhawatirkannya. Bahkan Soo Jin akan tersenyum dengan lebar saat dia melihat lelaki itu tiba. Senyum yang membuat Sang Woo merasa bersalah sekaligus membuatnya semakin menyayangi gadis itu.

Sang Woo benar-benar tak dapat menahan senyumnya. Kenangan bersama Soo Jin menyadarkannya betapa gadis itu sungguh-sungguh menyukainya. Tapi lihat apa yang telah dia lakukan sekarang. Dia justru melukai gadis itu. Sang Woo telah menghancurkan segalanya karena lebih mempercayai kecurigaannya dibandingkan dengan kesetiaan Soo Jin. Lelaki itu pun mendengus sekaligus tersenyum miris. Sebuah perasaan rupanya bisa menjadikan seseorang begitu bodoh seperti ini.

Sang Woo mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Bisakah musim semi ini dia kembali mendapatkan Soo Jin setelah semua yang telah terjadi? Bisakah hubungannya dan gadis itu kembali bermekaran sama halnya dengan pohon sakura yang kembali berbunga? Tapi satu hal yang kontan Sang Woo sadari begitu dia kembali ke tempat itu, bahwa semua yang telah dia lalui bersama Soo Jin bukan semata sebuah kesalahan. Tapi juga sebuah proses yang pasti dan harus mereka lewati saat menjalani suatu hubungan. Karena itu adalah sebuah  bagian dari proses saling mencintai. Dan jika sekali lagi, dia diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan Soo Jin. Maka Sang Woo sudah bertekad bulat untuk memperbaiki hubungan mereka. Dia tidak akan lagi menyia-nyiakan Soo Jin. Tidak akan lagi mencurigai gadis itu dan tidak akan lagi melukainya. Dia berjanji. Sungguh-sungguh berjanji.

Let’s stop holding back, let’s not hesitate any longer

I’ll push back the painful days and tell you now

Meskipun tengah termenung mengenang kisah usangnya bersama Soo Jin, Sang Woo masih bisa menyadari seseorang yang mendadak menghentikan langkah kakinya tak jauh dari lelaki itu. Sang Woo pun mendongak. Lantas termangu. Degup jantungnya seakan menerima perintah untuk berhenti tatkala kedua mata lelaki itu menatap wajah dari sosok yang semenjak tadi terus menggelayuti benaknya. Sosok yang senantiasa enggan menjauh dari ingatannya.

Park Soo Jin, gadis itu juga tak mampu berkutik saat mendapati Sang Woo tengah berada di tempat kali pertama dan terakhir kali mereka bertemu itu. Jantungnya berpacu tak keruan. Tangannya mengepal erat. Apa yang seharusnya dia lakukan? Tersenyum? Tak acuh? Entahlah. Soo Jin pun tak tahu. Dia hanya membiarkan Sang Woo semakin mendekat ke arahnya hingga lelaki itu kini benar-benar telah berdiri tepat di hadapannya.

“Soo Jin~ah….”

Suara rendah Sang Woo yang menyebut namanya, membuat degup jantung gadis itu semakin berpacu cepat. Tapi anehnya, hal itu justru memancing Soo Jin untuk tersenyum lembut menyapa lelaki itu.

Oremania (sudah lama tak berjumpa), oppa.”

Sang Woo hanya terpaku untuk beberapa saat. Hanya menatap Soo Jin yang tersenyum manis padanya tanpa berkedip. Senyum Soo Jin yang terasa bagaikan mimpi bagi Sang Woo. Mimpi yang menjadi nyata. Jadi, lantas dia mendengus dan tersenyum.

Oremania, Soo Jin~ah. Aku sungguh  tak pernah menyangka kau akan datang kembali ke tempat ini.”

“Kurasa, aku hanya sedang terlalu merindukan tempat ini, oppa.

“Bukan karena merindukanku?”

Soo Jin terkekeh. “Bagaimana dengan oppa? Mengapa oppa berada di sini?”

“Karena aku merindukanmu, Park Soo Jin.”

Gadis itu terkekeh. Sang Woo juga. Dan kelopak sakura yang berguguran, aroma bunga sakura di musim semi, serta hembusan lirih angin siang itu membawa mereka kembali ke masa lalu. Meringankan hati Sang Woo. Membuatnya semakin ingin tak menyakiti gadis itu lagi.

END

Syubidubidubidaaaaam…. ~(^_^~)

Kelar juga dan maaf kalau ngepostnya tengah malam

Belum kelewat tanggal kan? 😀

Cha! aku pasrah banget dengan komenan kalian

Lagunya ceria tapi ceritanya tentang ngajak balikan…. errr…rada bingung nyari kata-katanya

Alhasil, aku pun nyadar amburadul banget ini ceritanya….

Pokoknya monggo direview aja deh ya setelah baca 😀

Apapun bentuk reviewnya diterima #pasrah rah rah

Advertisements

16 thoughts on “FFKPI January Playlist – Roy Kim’s Spring Spring Spring

  1. yeay… first!!! #ignore

    Kim sang woo…. itu bukan member N-Train kan koye? namanya sama soalnya. dan di cover mukana beda. #lol
    ceweknya main di drama apa sih? kok mukanya rada familiar ya?

    koye…. berhubung aku ngebayangin kim sang woo N-Train jatuhnya aku susah membayangkan Sang Woo bisa hidup mandiri berbekal main musik di taman. #duh
    masih ada typo eyd koye. tapi nggak masalah sih.
    ide kamu biasa… tapi kamu nulisnya ketceh. hahaha
    ngalir gitu aja. jadi feelna dapet walau idenya biasa. #lol
    *ide apapun kalo penulisannya berbeda bakal punya feel yang berbeda* wkkwkw

    itu aja komen dariku Koye,…. semoga berkenan.. ^^

    1. a gi yg pertama 😀

      He emh. Nama roy yg asli jg kim sangwoo. Eee…jd susah byangin roy gmana ya? Aku jg blm paham bgt karaktr aslinya gmana. Factnya dkit bgt. Mana Leo mengawe-awe*?* minta jangan ditinggalin lg *hajar*

      Hahaha iya. Aku emg pake ide yg biasa. Seperti narasiku di cerita. Kalau permasalahannya adl sesuatu yg wajar dlm sbuah hubungan. Salah satu proses. Dan aku nangkep liriknya lagu ini sesederhana itu masalahnya sih. Dan jang jang! 😀 jadilah ini cerita *ngeles

      But thankyu bgt gi 😀 aku mlah blm komen punyamu 😦

      Oiya, yg cewek itu yg maen di flower boy next door. Yg jd cewek centil *lupa namanya*. Ehehehe… krn dia sempet digosipin sm Roy kpn itu, jd aku plh dia aja jd cast cewknya biar gampang 😀

  2. Kayuuuu~
    Ini pertama kalinya mei baca tulisan kayu..
    Lalala~

    Bentar, mau tanya, jun young yg disebut2 itu yg rocker itu bukan? Jung jun young? Mei lg kepo sama rocker satu itu soalnya. Jd begitu nama junyoung muncul, pecah dah.. Hhahaha *salah fokus*

    Tulisan kakak rapi. Tp dari semua bagian cerita, aku paling paling paling suka paragraf paling akhir. Hhaha

    Semangat terus ya kayuuu~ :3

    1. Selamat datang di dunia imajinasiku mei! 😀

      Bener bgt! Junyoung yg ntu 😀 hahaha… krn dia kn sobatnya roy, jd kpikiran aja nyempilin tuh bocah ajaib mei 😀

      Aww…thankyu mei. Aku lbh doyan membayangkan adegan terakhr itu.. 😀

  3. Stelah ptus suasana nya gak canggung .pgen dh saeng kek gtu sma mantan *eh
    XD He he

    Igantung :3
    Mreka jd clbk an gak nih eon.? ayo ayo clbk sanah 😛

    1. Hahahaha.. kan dibawa nyantai saeng… Butuh kesadaran ke2 pihak kaya gitu.. kl satu pihak doang kagak enak.. tetep canggung entar jatohnya…

      hayoo…clbk gak? eon juga tau… 😀 Pokoknya eon cuma nurut sama lirik lagu doang XD

  4. Klo saeng pgen kek gtu btuh waktu brtahun2 loh eonn *curcol
    Kkekeke xD

    Ahehe yaudah biar gak kya iklan mie iga_ntung *lupa merk mie nya xD* clbk nya sma saeng aja dh yuu xD
    *gandengroykim

  5. KA AYU!!!! *tepok pundak Leoh (?) dari belakang*

    huaaaaa…. miaaaaaannnn aku beloman komenn… aku lupa ternyata belum baca punya ka ayuu!!! mian mian mian~! DX

    ih ka ayuuu tega iihhh…. endingnya bikin kepo XD
    etau ga, gegara baru kelar nonton MIMI, sesekali aku bayangin sang woo jadi changmin… //ini bukan salah ka ayu, suer. //apadeh *plak X3

    aaahhh~~ as always,,, bahasanya ka ayu kayak sungai yang tadinya mampet, terus pampetannya dibuang (?) //sumpah komen aku gaje akut// lupakan// intinya, ngaliir dengan alami (?) dan aku sukaaahh!!! *gebrak-gebrak meja bareng Leoh* XD

    eh eh, aku njleb disini loh “Sang Woo telah menghancurkan segalanya karena lebih mempercayai kecurigaannya dibandingkan dengan kesetiaan Soo Jin.” ini kasus yang paling banyak terjadi dalam hubungan. hahaha *sok pengalaman, padahal non pengalaman* //astaga aku curcol //dan astaagaaa… ini kepanjangan, //dan astagaa,,, ini udah jam dua pagi o_o

    okeh, fighting ka ayu!!! ireonaseohhh… !!! ^^ *wave bareng Leoh //osalah

    1. ahahahahaha…iin…aku jadi ketawa ngakak baca komen kamu… XD
      ah tetiba jadi kangen rumpi di grup wa 😦
      T-T

      HAHAHA…pokoknya endingnya PR buat yang baca..aku udah lepas tangan aja buat ending… *kabur dari tanggung jawab

      eh..eh… kl kasus yang ini : “Sang Woo telah menghancurkan segalanya karena lebih mempercayai kecurigaannya dibandingkan dengan kesetiaan Soo Jin.” ini kasus yang paling banyak terjadi dalam hubungan” emang itu tema umum yang aku ambil… pas buat ini soalnya pengen bacaan ringan dengan tema ringan tapi sering terjadi dan ini diambil dari salah satu sudut pandang anak manusia aja.. *apapula ini omonganku

      hahahaha.. Leoh kuh cintah dibawa-bawa mulu ih iin… :*

      1. aaahhh…. iyaaa…. aku juga kangen ngobrol-ngobrol gaje di WA… dari yang keruan sampe ga keruan. (?) 😦
        ka ayu hapenya udah bisa WA an beluum? ayo ngerumpiin Leoh~~ :(( kirimin suara Leoh yang lain… masa aku taunya cuma Ireonaseohh doang? :3

        eh ini emote wp kok jadi unyu-unyu gini yah? hahaha XD imut bingit…
        ka ayu ganti dong gravatarnya pake foto Leoh~ 😀

        kaaaaakk…. aku nyampah bener inih… TTv

        1. BB aku aja malah udah almarhum iin… bukan lagi ga bisa buat WA-an TOT

          Hahahaha…aku juga pengen banget pamer suara sekseh leyooh yang lainnya.. tapi begimana lagi..hp sayah T-T nunggu tabungan cukup dl buat beli baru…

          eh eh iya…lama ga buka wp jadi baru tau kalo emotnya berubah ky begini…
          kemajuan nih sih wp..

          hahaha… gravatarnya ganti Leo? lalu gimana eunhyuk? aku ga mau dicere sama dia… ntar deh aku edit dua foto suami tersayang ini.. baru aku ganti gravatarnya XD #ditabok

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s