My Sister’s Keeper [Jung Sister Version]


my sister's keeper

Songwriter : Dhamala Shobita | Artists : f(x)’s Krystal & Girls’ Generation’s Jessica | Featuring : B1A4’s Jinyoung | Genre : Family, Slice of Life | Duration : Oneshot (3000++words) | Rating : General

Disclaimer : Inspired by 2009 drama by Nick Cassavetes that based on a novel by Jodi Picoult titled My Sister’s Keeper [1]. This story is all mine. I do not own the casts. Please do not bash and do not copy without my permission.

Theme song : Depapepe – Arigatou

¶ Dhamala Shobita Storyline © 2014

*

Aku tidak pernah tahu mengapa aku dilahirkan, yang aku tahu hanyalah aku memiliki dua orang kakak yang menyayangiku.

*

Kakak pertamaku bernama Jung Soo Yeon, seorang gadis cantik dengan rambut berwarna kecokelatan. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Sementara kakak keduaku bernama Jung Jin Young, seorang laki-laki berwajah cantik. Aku sering mengatainya flower boy saking cantiknya.

Aku tidak pernah tahu mengapa aku dilahirkan, yang aku tahu hanyalah aku memiliki dua orang kakak yang menyayangiku.

 

“Soojung-ah, cepat ke halaman! Dagingnya sudah matang!” Eomma berteriak dari halaman belakang rumah dan aku segera menutup blogging site di monitor PC-ku.

“Iya, Eomma, aku akan segera ke sana!” Aku balas teriak seraya berlari cepat keluar dari kamarku.

“Kemana saja kau?” Sooyeon eonni menepuk tempat di sebelahnya, memberikan isyarat agar aku duduk di sana.

“Bermain,” jawabku cepat. Lebih tepatnya bukan bermain, tapi menulis. Aku gemar menulis, memainkan frasa-frasa atau hanya sekadar mengungkapkan apa yang terjadi di kehidupan sehari-hariku.

“Apa kau tidak mengajakku bermain?” tanya Sooyeon eonni dengan nada bercanda.

“Oh ayolah, Eonni, kau tahu apa mainanku, bukan? Hanya monitor dan situs blogku,” ujarku, kemudian kulirikkan mataku ke arah Jinyoung oppa yang tengah sibuk dengan gadget di tangannya yang menimbulkan suara-suara gaduh,

“Apa itu game terbaru?” tanyaku.

Eo,” jawab Jinyoung oppa singkat.

“Tidak ada game lagi, makan malam kita sudah siap. Apa kau tidak ingin daging ini, Jinyoung-ah?” Eomma berkata tegas seraya meletakkan piring berisi daging bakar di atas meja. Aku menggembungkan pipiku, mengelus-elus perutku dengan gerakan berputar dan merengek manja, “ah, aku benar-benar lapar. Eomma, mengapa aroma masakanmu begitu menggodaku?”

“Asal kau tahu, Soojung-ah, itu semua appa yang memasaknya!” Appa yang sedari tadi diam kini memilih bersuara.

“Benarkah? Aku tidak percaya!” seruku, disambut gelak tawa eomma, Sooyeon eonni dan senyuman tipis dari Jinyoung oppa.

Daging bakar buatan eomma dan appa benar-benar enak, kesukaanku dan kedua kakakku. Kulihat eomma belum memakan sepotong pun, beliau memotong kecil daging tersebut agar Sooyeon eonni dapat lebih mudah memakannya.

Eomma, biarkan aku yang memotongnya untuk eonni. Kau juga harus makan,” ujarku.

“Habiskan dulu makananmu dan kau dapat membantu Eomma memotong daging untuk Sooyeon.” Ucapan eomma membuatku mengangguk dan cepat-cepat menghabiskan makananku.

Aku baru saja mengambil beberapa potong daging lagi ketika suara yang menjijikkan terdengar di sampingku. Aku menoleh dan mendapati Sooyeon eonni menundukkan kepalanya dalam-dalam. Semua yang baru saja ditelannya mendadak keluar, mengotori rerumputan pekarangan belakang yang baru saja appa pangkas rapi.

“Maafkan aku, maafkan aku semuanya.” Berkali-kali Sooyeon eonni mengatakan itu ke hadapan kami semua. Jinyoung oppa membawakan segelas air putih untuknya sementara aku berdiri di tempatku. Appa membawa kursi roda yang diletakkan di tepian dinding rumah kemudian menggendong Sooyeon eonni duduk di atasnya dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.

Raib. Yang ada hanya aku, menatap ke arah potongan kecil daging untuk Sooyeon eonni.

“Soojung, masuklah. Aku akan merapikannya.” Jinyoung oppa menepuk sebelah bahuku dan menyuruhku masuk, tapi aku menggeleng.

“Aku akan membantumu merapikannya.”

*

“Klep jantungnya sedikit tidak berfungsi, sehingga Sooyeon akan lebih sering mengalami sesak napas.” Dokter Ed, dokter keluarga kami mengatakan itu pada eomma ketika ia datang untuk memeriksa Sooyeon eonni.

Aku mengintip dari celah pintu kamar Sooyeon eonni ketika aku baru saja pulang dari sekolah. Bus kuning yang mengantarku baru saja berlalu. Tidak ada siapa pun di rumah kecuali eomma, Sooyeon eonni dan Dokter Ed.

Sooyeon eonni sakit. Aku tahu itu. Tapi aku tidak pernah mengerti sakit yang dideritanya. Obat-obatan miliknya berjajar di atas meja dekat tempat tidurnya. Tidak hanya satu botol, ada tiga. Ah tidak, ada lima, dan semuanya harus diminum setiap hari. Rambut indah milik Sooyeon eonni yang kulihat di foto masa kecilnya kini sirna. Ia hanya mengenakan topi setiap hari karena pengobatan yang dijalaninya. Wajahnya pucat dan ada lingkar hitam di bawah matanya. Menyeramkan.

“Sedang apa kau di sana, Soojung-ah?” Suara Jinyoung oppa tiba-tiba terdengar di belakangku, membuatku menoleh ke arahnya dan cepat-cepat berlari menuju kamarku.

Aku memeluk tubuhku erat-erat. Aku tidak ingin kakakku sakit. Itu saja. Kemudian suara ketukan di pintu membuyarkan lamunku. Suara Jinyoung oppa kembali terdengar. Disusul suara eomma yang mengatakan bahwa mereka—eomma dan Sooyeon eonni—harus pergi ke rumah sakit.

“Soojung-ah, apa kau baik-baik saja?” Tanya Jinyoung oppa seraya mengetuk kamarku pelan.

Aku menyerah. Kugerakkan kakiku ke arah pintu, kuputar kunci yang menggantung di sana dan menatapnya dengan mata sembab, dengan sisa air mata yang belum ku hapus sepenuhnya. “Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada eonni,” rengekku.

“Tenanglah, Sooyeon tidak akan sakit. Ia akan selalu baik-baik saja. Kita hanya perlu terus berdo’a untuk kesehatannya, Soojung-ah.” Jinyoung oppa memelukku erat seraya mengelus rambutku. Aku masih terisak ketika mendengarkannya, tapi perlahan suaraku melemah. Jinyoung oppa benar, yang kami bisa lakukan adalah terus berdo’a dan menyayanginya.

*

Akhir pekan ini aku akan menginap di rumah sakit, membiarkan seluruh waktuku tersita oleh kakakku. Kami akan berpura-pura membuka salon, saling memamerkan koleksi buku kami dan bertukar cerita tentang para laki-laki yang kami temui.

Aku baru saja turun dari kamarku ketika ku lihat Jinyoung oppa bersama appa dan eomma duduk bersama di ruang makan. Mata Jinyoung oppa sedikit berair. Tidak, bukan sedikit. Air matanya menetes. Appa menundukkan kepalanya dan eomma mengelus punggungnya pelan.

“Maafkan kami, Jinyoung-ah. Keadaan Sooyeon semakin tidak stabil dan kami harus memberikan perhatian ekstra padanya. Jadi kau setuju untuk tinggal di asrama, bukan?” Eomma bersuara. Raut wajahnya cukup menyedihkan meski tidak semenyedihkan appa, tapi cukup membuatku tahu bahwa ia juga tidak menginginkan keputusan itu.

Setelah menghapus air mata dengan punggung tangannya, Jinyoung oppa berlari dari ruang makan, melewatiku di tangga dan beranjak pergi ke kamarnya.

“Mengapa appa dan eomma menyuruh Jinyoung oppa tinggal di asrama? Mengapa kalian hanya memikirkan Sooyeon eonni? Apa kami berdua bukan anak kalian?” Aku memaki mereka. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun hidupku, aku memaki appa dan eommaku. Dan seketika sebuah tamparan mendarat di pipi kananku. Aku meringis, menahan sakit yang kini berdenyut di pipiku. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun hidupku, eomma menamparku.

“Aku tidak apa-apa jika kalian tidak peduli padaku, tapi kumohon jangan tidak peduli pada Jinyoung oppa. Appa dan eomma bahkan tidak tahu kalau Jinyoung oppa itu dislexia [2]!” Aku membanting ransel merah jambu di punggungku kemudian berlari keluar. Aku sempat membanting pintu rumahku hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras sebelum akhirnya bersembunyi di tempat persembunyianku.

Aku menangis. Bukan karena aku iri pada Sooyeon eonni, bukan karena aku ingin appa dan eomma memerhatikanku, tapi aku menangis karena appa dan eomma akan mengirim Jinyoung oppa ke asrama tanpa memikirkannya.

Eomma jahat,” isakku.

Eomma tidak menyayangi kami.” Sekali lagi aku terisak. Suaraku semakin besar hingga akhirnya memelan dengan sendirinya. Isakanku berubah sunyi dengan napas yang tidak beraturan. Kudengar suara appa memanggil namaku dari luar tempat persembunyianku.

“Soojung-ah, jangan bersembunyi lagi. Maafkan appa dan eomma. Ayo keluar.” Suara appa terdengar jauh, mungkin ia berteriak pelan-pelan. Aku menggeleng pelan seraya menjawab, “tidak mau.”

“Apa kau tidak ingin bertemu dengan eonnimu?” Tanya appa lagi.

“Tidak mau!” Pekikku. Bukan, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin melihat eomma.

“Soojung-ah, appa dan eomma tidak akan mengirim Jinyoung ke asrama. Kami bersumpah. Jinyoung akan tetap di sini dan sekarang sebaiknya kau lekas turun,” ujar appa.

Aku menyembulkan kepalaku keluar, luluh akan janji yang baru saja appa sampaikan. “Benar? Appa berjanji?” tanyaku.

Appa mengangguk, mengiyakan pertanyaanku kemudian mengulurkan kedua tangannya agar aku segera turun dari tempat persembunyianku. Tempat persembunyianku berupa rumah kayu kecil yang terletak di atas pohon. Appa membuatkannya setahun lalu dan ia masih berdiri kokoh.

Aku benar-benar menyerah, kakiku melangkah turun pada tangga-tangga kayu yang ada sementara appa sudah bersiap dengan kedua tangannya yang terentang.

*

“Mengapa wajahmu seperti itu? Apa ada masalah di sekolah? Mana Jinyoung?” Sooyeon eonni mencecarku dengan tiga pertanyaan itu ketika aku menjatuhkan diriku di pinggir tempat tidurnya. Sementara aku mendesah pelan, mata Sooyeon eonni melirik ke arah appa dan eomma yang baru saja masuk ke ruangannya.

“Ada apa sebenarnya? Mengapa wajah kalian semua terlihat berbeda?” tanyanya lagi.

“Tanyakan saja pada eomma,” jawabku sekenanya. Aku malas membahasnya. Aku juga tidak ingin membuat Sooyeon eonni khawatir sehingga aku sengaja tidak memberikan jawaban apa pun.

“Tidak ada apa-apa, Sooyeon-ah. Tenang saja. Ah, eomma dan appa akan meninggalkan kalian sebentar. Soojung-ah, jaga eonnimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu segera panggil suster dan telepon eomma, eo?” Eomma juga tidak menjawab. Seolah tidak memiliki kesalahan, beliau menarik tangan appa untuk keluar dari ruangan, meninggalkanku hanya berdua dengan Sooyeon eonni.

“Mana Jinyoung?” tanya Sooyeon eonni.

“Di rumah. Dia tidak ingin ikut,” sahutku sekenanya.

“Apa benar tidak terjadi sesuatu di antara kalian?”

“Sudah ku bilang tidak ada! Mengapa kau masih terus bertanya, Eonni?” Suaraku meninggi dengan sendirinya. Jangan tanya lagi. Ku harap ia tak bertanya lagi karena suaraku mulai bergetar sekarang.

Sooyeon eonni terdiam menatapku kemudian memandang keluar jendela.

“Kau tahu mengapa kau dilahirkan?” desahnya.

Aku terdiam, tak bisa menjawab karena air mataku memecah, mengalir melewati kedua pipiku. Sooyeon eonni tak berbalik menghadapku, juga tak melanjutkan kalimatnya.

“Kau adalah malaikat yang diciptakan untukku, Soojung-ah,” seru Sooyeon eonni dengan suara yang mulai bergetar.

Eomma tak menyayangiku, jadi mungkin mereka sebenarnya tak ingin aku lahir,” sahutku.

Benar. Jawaban depresi itu yang keluar dari mulutku, menggantikan beribu tawa yang pernah eomma dan appa berikan padaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tak dikehendaki.

“Suatu hari mungkin kau akan tahu.” Sooyeon eonni menghapus butiran air matanya dan mencoba menatapku sambil tersenyum.

“Aku ingin ke pantai. Ingin sekali,” sambungnya.

Maka setelah itu, aku berlari menemui appa dan mengatakannya. Sooyeon eonni ingin pergi ke pantai.

*

Akhir pekan telah selesai. Aku pulang bersama appa dan eomma hari Minggu sore dan tidak menemukan Jinyoung oppa di mana pun. Pikiran negatifku kembali bekerja. Aku berlari ke kamar Jinyoung oppa dan membuka lemari pakaiannya. Lengkap. Artinya ia tidak pergi dari rumah.

Aku berjalan cepat menuju kamar appa dan eomma ketika telingaku menangkap pembicaraan mereka. “Donor sumsum tulang Sooyeon harus segera dilakukan. Kau tahu Soojung selalu sehat dan dapat melakukannya kapan saja. Ia memang harus membantu Sooyeon. Itu tugasnya. Aku tidak mau tahu lagi, kau harus memberitahu Soojung tentang…”

“Donor sumsum?” Aku membuka pintu kamar appa dan eomma tiba-tiba, memotong pembicaraan mereka. Keduanya menatapku terkejut sementara pandanganku sedikit marah.

“Tugasku? Donor sumsum? Bagaimana dengan kalian? Apa tidak ada yang cocok untuk Sooyeon eonni?” Cecarku.

“Soojung, dengar penjelasan Appa,” seru appa.

“Jadi aku dilahirkan untuk ini? Aku…bukan dilahirkan karena kalian menginginkannya? Yang kalian mau hanya Sooyeon eonni? Karena itu kalian tidak pernah memikirkanku dan Jinyoung oppa!” Suaraku bergetar. Eomma menunduk dan terdiam sementara appa berusaha menenangkanku.

“Sooyeon sedang sakit,” ujar eomma.

“Kalian tidak tahu apa yang eonni inginkan! Dia hanya ingin berlibur ke pantai, itu saja!”

“Kau harus membantu eonnimu, Soojung-ah.” Eomma akhirnya ikut berseru.

“Tidak mau! Aku tidak ingin mendonorkan sumsumku. Tidak kali ini.” Aku berlari meninggalkan kamar. Air mataku meleleh. Rasanya sangat sakit. Kenyataan yang ku dengar, juga apa yang ku alami.

Aku ingat ketika usiaku delapan tahun, satu ginjalku diambil. Aku tidak mengerti untuk apa, yang jelas aku tahu aku hanya punya satu ginjal dalam tubuhku dan rasanya tidak menyenangkan. Minggu pertama sejak ginjalku diambil, aku harus diopname di rumah sakit dan sejak itu aku tidak boleh terlalu lelah.

Kini aku tahu, aku bukan dilahirkan karena diinginkan.

 

Aku tidak dilahirkan karena diinginkan. Aku tidak dicintai layaknya mereka mencintai kakakku. Tapi aku tetap mencintai kakakku.

*

Aku melakukan aksi mogok bicara selama beberapa hari. Aku takut dengan operasi sehingga aku memilih diam. Appa dan eomma belum kembali berbicara denganku. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah pohon. Sama seperti sore ini, aku menyandarkan tubuhku di dinding dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Aku memikirkan Sooyeon eonni.

“Ehm.” Jinyoung oppa berdeham di depanku, membuat lamunanku buyar. “Sedang apa melamun di sini?” sambungnya.

“Apa Sooyeon eonni akan mati?” tanyaku.

“Jangan sembarangan bicara! Sooyeon akan tetap hidup!” jawab Jinyoung oppa.

“Bagaimana bisa kau tidak memanggilnya noona, Oppa? Dia lebih tua tiga tahun darimu.” Aku mengalihkan pembicaraan, sementara Jinyoung oppa tersenyum seraya mengusap tengkuknya. Ia ikut duduk di sampingku, menatap lurus ke depan dan mendesah panjang.

“Aku memutuskan untuk tinggal di asrama saja. Aku ingin membantu eomma dan appa,” ujar Jinyoung oppa.

Detik berikutnya, kami kembali terdiam bersama-sama.

Appa pernah bercerita padaku, Sooyeon noona terserang panas tinggi ketika usianya 4 tahun. Ia flu, demam dan terus menangis hingga mereka semua kebingungan. Ketika Sooyeon noona dibawa ke rumah sakit, dokter berkata bahwa ia menderita APL [3], kanker darah,” cerita Jinyoung oppa.

“Tidak begitu parah memang, tapi dokter menyarankan agar appa dan eomma memiliki satu anak lagi yang bisa mendonorkan organ-organ untuknya. Tidak hanya organ, tapi juga darah dan…”

“Sumsum tulang belakang,” ujarku lebih dulu.

“Kau sudah tahu?”

Eomma memintaku menjalani operasi dalam waktu dekat.” Aku akhirnya memberitahukannya.

“Kau mau?” tanya Jinyoung oppa.

“Apa aku bisa berkata tidak?” selidikku. Aku terlalu takut untuk menjalani operasinya. Sungguh. Tapi Jinyoung oppa hanya menjawab dengan sebuah gerakan bahu. Ia tidak tahu.

“Apa Sooyeon eonni akan pergi jika aku tidak mendonorkan sumsumnya?” Tanyaku.

“Ku rasa ia berharap itu terjadi. Ia sudah terlalu lelah.”

Oppa, aku ingin menemui Sooyeon eonni.”

*

Lalu di sinilah kami, di ruang serba putih tempat Sooyeon eonni berbaring.

“Hei, mengapa tidak mengabariku jika kalian ingin datang?” Sooyeon eonni tersenyum manis di tempat tidurnya sementara aku melihatnya dengan perasaan sedih.

Aku rasa aku terlalu jahat. Aku rasa, aku mulai merasa tidak apa-apa jika aku memang ditakdirkan untuk menyelamatkannya.

“Aku sudah tahu semuanya, Eonni.” Aku memeluknya kemudian terisak di bahunya. Jinyoung oppa mengelus punggungku perlahan, membuat tangisku semakin besar.

“Apa? Kau sudah tahu apa Soojung? Mengapa kau menangis seperti ini? Ayo beritahu eonni,” ujar Sooyeon eonni.

“Aku tidak apa-apa jika harus mendonorkan semua bagian tubuhku untukmu. Aku tidak apa-apa, Eonni. Asal kau selamat,” ujarku.

“Hei, hidup mati bukan di tanganku, di tanganmu, atau di tangan para ahli medis itu. Jika kau takut, kau tidak perlu melakukannya, Soojung,” sahut Sooyeon eonni seraya balas memelukku.

“Tapi aku tidak ingin…”

“Aku sudah lelah. Tak ada gunanya menahanku di sini. Aku lelah memakan semua obat-obatan itu, nyaris lima tablet besar dalam sekali minum. Aku lelah menjalani kemoterapi. Kau tahu, aku akan muntah-muntah seusai menjalani kemoterapi dan sekarang aku diopname nyaris satu bulan. Makananku di sini tidak seenak masakan eomma, tidak ada kau dan Jinyoung yang menemaniku bermain. Aku tidak mempunyai rambut seindah milikmu, tidak bisa berkencan dengan laki-laki seperti remaja lainnya. Aku lelah hidup seperti ini, Soojung-ah. Aku tidak ingin tersiksa lagi. Aku juga tidak ingin membuatmu takut. Katakan pada eomma untuk tidak memaksamu ikut operasi lagi, katakan bahwa aku hanya ingin berlibur ke pantai bersama kalian,” ungkap Sooyeon eonni seraya melepas pelukannya.

“Kita akan ke pantai sekarang. Soojung, tolong bantu appa siapkan baju hangat untuk eonni. Jinyoung, bawa beberapa makanan dan minuman.” Kami terdiam, menoleh ke asal suara.

Ap..appa!” gumamku. Appa sudah berdiri di ambang pintu, menatap kami bertiga lekat-lekat. “Tunggu apa lagi!”

Kami telah selesai membereskan perlengkapan ketika eomma datang dan menghentikan kursi roda Sooyeon eonni di depan pintu. “Mau kau bawa kemana Sooyeon?” tanya eomma.

“Sooyeon ingin ke pantai,” jawab appa.

“Tidak akan! Kau tidak boleh membawanya pergi ke tempat yang berbahaya!” protes eomma.

“Tapi Sooyeon menginginkannya! Soojung, Jinyoung, bawa perlengkapan ke dalam mobil. Ini kuncinya.” Appa melemparkan kunci mobil dan mengangkat Sooyeon eonni dari kursi rodanya.

“Jangan berani-beraninya kau…” Suara eomma dan appa semakin terdengar sayup. Beberapa petugas keamanan berlarian ke arah kamar Sooyeon eonni sementara aku dan Jinyoung oppa berjalan keluar dari rumah sakit. Tidak sulit menemukan mobil appa. Kami memasukkan barangi-barang dan menunggu di sana. Lima menit kemudian, Sooyeon eonni keluar dalam gendongan appa.

“Cepat pasang sabuk pengaman. Kita akan segera pergi ke pantai!” perintah appa.

Sooyeon eonni tersenyum di kursi belakang, tepat di sampingku. Ia nampak sangat bahagia. Aku tahu, keinginannya akan tercapai sebentar lagi. Dan melihatnya tersenyum membuat hatiku lebih berani. Aku akan melakukan segalanya untuk Sooyeon eonni.

*

“Kau dan aku sama-sama anak dari appa dan eomma. Jika aku tidak lagi bisa bertahan, maka kau yang harus bertahan untuk appa dan eomma. Tidak perlu memaksakanku untuk bertahan dengan mengorbankanmu. Aku tidak ingin hidup lebih lama jika harus membuat semua orang kesulitan.”

 

Aku tahu seberapa besar Sooyeon eonni menyayangiku. Sebesar yang ia mampu, jika ia mampu menambahkan ukuran kasih sayangnya, ia akan menambahnya hingga ukuran tersebut habis. Atau malah hingga ukuran itu menghilang dengan sendirinya, berubah menjadi tak terhingga. Sooyeon eonni sudah mencapai keinginannya. Pantai menjadi tempat hidupnya sekarang ini. Mungkin ia menyatu dengan air laut, bersama buih-buih yang muncul dan menghilang. Dan ia selalu tahu, aku menyayanginya.

Eomma akhirnya menerima kenyataan, kenyataan bahwa ia masih memiliki anak perempuan bersamanya. Ia mulai ganti menyayangiku seperti ia menyayangi Sooyeon eonni. Aku tidak lagi menyalahkannya. Sooyeon eonni mengajarkanku banyak hal. Tentang bagaimana meneliti alasan dari sebuah permasalahan serta bagaimana menyayangi keluargamu. Bukan hanya aku yang belajar darinya, tapi juga eomma dan appa, juga Jinyoung oppa.

Sooyeon eonni, terima kasih. Kau memberiku satu kesempatan hidup. Terima kasih kau telah membiarkanku menjadi penjagamu. Aku menyayangimu, Eonni.

 

“Itu adalah cuplikan dari novel Guardian Angel karya Jung Soo Jung. Jung Soo Jung-ssi, bisakah kau beri tahu pada pembaca sekalian, bagian mana dalam kisah anda yang paling membuat anda merasa menyesal?” tanya seorang pembawa acara talkshow di depanku. Aku tengah berada di talkshow peluncuran buku keduaku di sebuah hotel dekat

Aku menimbang sejenak kemudian tersenyum, “tidak ada.”

“Ya?” Ulangnya.

“Tidak ada yang harus kusesali. Eonniku pernah berkata bahwa semua hal terjadi karena satu alasan. Jadi, tidak ada yang perlu kau sesali,” jawabku.

“Ah, jawaban yang sangat mengesankan. Para hadirin sekalian, jangan lewatkan buku Guardian Angel dari Jung Soo Jung untuk mengisi waktu luang anda. Demikian acara peluncuran buku Guardian Angel kali ini dan terima kasih atas kedatangannya.”

 

Aku berdiri menatap horison yang memamerkan degradasi biru oranye. Bayangan gadis kecil berlarian dengan seorang bocah laki-laki menyita benakku. Ada orang tua dan seorang gadis remaja yang duduk di bibir pantain, tertawa riang menatap dua anak lainnya yang berkejaran dengan ombak.

 

Eomma!”

“Aku menyerah. Kalian meluluhkanku.” Eomma datang. Ia berdiri dengan disambut senyuman lembut appa.

Eomma, duduklah. Aku ingin bersama kalian. Jinyoung-ah, Soojung-ah, cepat ke sini!”

Aku berlari ke tempat Sooyeon eonni dan duduk di hadapannya. Ia memelukku erat dan tersenyum. “Eomma, bukankah Soojung sama cantiknya denganku?” tanyanya. Eomma mengangguk pelan seraya menghapus butir air matanya yang terlanjur jatuh melewati pipinya.

“Kalau begitu, kau harus menyayanginya seperti kau menyayangiku. Begitu juga dengan si tampan Jinyoung. Apa kau tahu dia dislexia? Kau harus lebih memerhatikan kedua adikku,” ujar Sooyeon eonni.

Appa, tolong jaga eomma dan kedua adikku. Jangan biarkan mereka menangis dan terluka. Kau adalah pahlawan kami, hanya kau yang bisa melindungi kami,” sambungnya.

Eonni.”

Noona.” Aku dan Jinyoung oppa memeluknya erat. Sedetik kemudian ia melepaskannya.

“Boleh aku bersandar di bahumu, Eomma?” tanya Sooyeon eonni, diikuti anggukan kepala eomma.

Kemudian ia bersandar, matanya terarah ke matahari yang nyaris tenggelam seutuhnya. Ia mendesah pelan dan berkata, “aku sudah puas dengan semuanya. Terima kasih sudah menyayangiku dan merawatku. Dan akhirnya kalian membawaku ke pantai. Jika kalian merindukanku, kalian hanya perlu datang ke sini. Aku akan ada bersama kalian semua. Aku menyayangi kalian.”

Sooyeon eonni memejamkan matanya perlahan hingga beberapa saat kemudian eomma menangis terisak. Appa memeluk tubuh Sooyeon eonni yang mulai dingin. Jinyoung oppa melakukan hal yang sama dan aku mengikuti. Kemudian mereka membawanya kembali ke rumah sakit. Saat itu aku tahu, Sooyeon eonni akan mencari tempat yang lebih indah untuknya. Ia juga berhak merasakan kebahagiaan.

 

Eonni, aku merindukanmu.”

*fin*

A/N : Aku rekomen banget film itu. Cukup membuat aku berkaca-kaca waktu nontonnya. Tulisan ini termasuk genre baru dalam sejarah kepenulisan fanfiksiku. Jadi mohon maaf kalau agak berantakan, maklum juga, menulis di sela pekerjaan praktik itu merepotkan. Heol!

Terima kasih sudah membaca sampai habis dan terima kasih yang kasih komentar. Komentarmu sangat bermanfaat buat aku loh. 😀

–XOXO

12 thoughts on “My Sister’s Keeper [Jung Sister Version]

  1. hohoho maaf saya baru muncul /tebarbunga/

    ah… baru bentar baca, pas tau sooyeon sakit dan soojung sedih, aku jd ikutan sedih. parah. lgsg nyesss gitu hahaha ntah knapa feel nya kena banget di aku. mungkin krn faktor aku punya adik cewek semua kali ya /laluuu/

    oh aawalnya aku bayangin soojung yg udah gede kaya sekarang, tp pas baca -dalam 10 tahun hidupku- aku lgsg ngeh kalo soojung baru 10 thn? benar begitu? tp bayanganku ttg krys lgsg buyar karena tergantikan oleh sosok yoona kecil 😐 hahaha ntah mengapa…

    dan sudut pandang orang pertama ini pake soojung yg umurnya 10 tahun… kayanya kurang kental emosi anak 10 tahunnya deh hehe

    udah gitu aja. ohya gaya nulis kamu disini beda. lgsg ke titik konflik gk pake basa basi 😀

    1. Ah, matta! Aku melupakan bagian kamu punya adik cewek, makanya aku bingung waktu kamu bilang ini sedih. Hahaha.

      Umm, jujur aku sendiri bingung nulis si Soojung 10 tahun. Tapi aku ngebayanginnya dia ga sekecil itu juga sih.. Tapi.. Aaah, aku juga galau. Hahaha.

      Eh, benarkah kalau gaya nulisku beda di sini? Aku nggak ngerasa soalnya. 😛
      Makasih yaa jagi 😀

      1. hohoho iyo bebi gaya nulis kamu beda. lebih to the point. lebih banyak interaksi antar tokoh dibanding perang batin bahkan narasi. cukup beda, tp aku nggak terganggu kok. ceritanya mengalir hahahaha

        iyaaaaa mungkin karena aku banyak ade nyahahahaha

        yaaakkk gabruk. hahaha soojung disini imyut~

  2. aku kira soojung udah agak gedean, ternyata masih 10 tahun, tapi pemikirannya udah dewasa
    keren! nice ff

  3. WOAAHHH .. INI MAU NANGIS LOH SUMFAH .. TAPI DITAHAAAANN T_____T

    aku sukaa .. sukaaa bangeett … apa ada komenan yang lebih bagus dr kata suka banget ? Bneran suka iniiii .. dan soal jinyoung .. dia lebih cocok ya . Andai kamu ambil daehyun . Mgkn aku bs ngerasain feel nya krn aku ga bgtu kenal dia .. dan jung sister yang kamu ga suka ini ppffthh /plaak/ ga suka aja bisa sebagus ini ..wlaupun endingnya nyesekin lah yaaa ckck. Good job malaaa :*

    1. Aku mencoba menyukai mereka kak.. hahaha
      Gk boleh terlalu nggak suka, nanti kemakan lagi omongan sendiri :p
      Makasih banyak ya kakakku sayang ><

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s