[Chaptered] Great Ambition (Chapter 6-Clean version)


Great Ambition

Songwriter :Seven94 @ http://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

FB: https://www.facebook.com/cherrish.sweet?ref=tn_tnmn

Twitter: https://twitter.com/Seven941

Artists :

  • Jo Eunmi                                     Oc
  • Oh Sehun                                    [Sehun EXO]
  • Lee Howon                                 [Hoya INFINITE]
  • Jung Hyojung                            [Tale of two siblings]
  • Wu Zhongren/Kai                    [Kai EXO]

Featuring

  • Jung Hyojin/Hanbyul           [Tale of two siblings]
  • Wu Yifan                                   [Kris EXO]
  • Kim Joonmyeon                      [Suho EXO]
  • Kim Yura                                   [Yura Girls day]

Genre : Melodrama,Romance and Horror
Duration : Chaptered
Rating :PG 17+ – NC 17

NO SILENT READER PLEASE!

<<Previous Chapter

Next Chapter>>

6

Taking Over Me

 

Eunmi bisa melihat sekumpulan orang berkumpul diluar mobilnya, dia penasaran dan berjalan kearah kumpulan orang itu, dia menarik nafasnya terkejut saat dia bis amelihat sosok dirinya sendiri tidak sadarkan diri didalam mobil. Kepalanya berlumuran darah, Eunmi masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dia mencoba mendekat kearah mobilnya namun sebuah tangan mencegahnya.

“Kau tidak bisa kemana-mana Eunmi.” Suara Jiyoung terdengar.

“Eonni..”

“Kau dalam keadaan koma, hanya aku yang bisa merasuki tubuhmu.” Jiyoung menyeringai.

“Tapi kenapa Eonni?” Eunmi bertanya dengan suara gemetarnya, airmata mengumpul disudut matanya.

“Karena aku akan meminjam tubuhmu sebentar.” Jiyoung menjawab.

“Tidak! Aku ingin hidup Eonni!” Bentak Eunmi dengan kasar.

“Kamu tidak bisa Eunmi, tubuhmu untuk sekarang milikku.” Jawab Jiyoung.

Jiyoung menarik Eunmi menjauh dari mobilnya, Eunmi berontak dan memukul tangan Jiyoung namun Jiyoung tidak peduli wanita itu terus menariknya menjauh. Tidak peduli berapakali Eunmi menjerit Jiyoung tidak mendengarkannya, Eunmi bahkan menangis dia tidak ingin berpisah dari tubuhnya dia ingin terus tetap hidup seperti biasanya.

Sosok Jiyoung dan Eunmi akhirnya menghilang entah kemana, tanpa Jiyoung ketahui Boyoung melihat semuanya dia sangat khawatir sekali didalam lubuk hatinya dia sedikit kecewa pada Jiyoung karena Jiyoung sudah memaksa seseorang untuk dia rasuki.

****

Howon yang sedang mengedit fotonya terkejut saat dia mendnegar ponselnya bergetar, dia mengambil ponselnya namun kebingungan saat dia melihat nomor asing tertera di layar ponselnya. Howon akhirnya mengangkat ponselnya, dia bisa mendengar suara pria yang dia tidak kenal.

“Apakah ini dengan tuan Lee Howon?”

“Ya benar, anda siapa?”

Entah kenapa jantung Howon berdetak sangat cepat sekali, dia menjadi gugup saat dia mendengar helaan nafas lelaki yang menghubunginya dia mendapatkan prasangka buruk saat lelaki yang menghubunginya mengatakan kalau dia dari kepolisian Seoul.

“Apa anda mengenal Jo Eunmi? Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas keadaanya sedang kritis saat ini jadi saya harap anda menghubungi keluarganya.” Lelaki itu menjelaskan.

“APA? Dimana dia dirawat sekarang?”

“Ruang ICU rumah sakit Internasional Seoul.”

“Baiklah saya akan menghubungi keluarganya,terimakasih pak sudah memberi informasi.” Howon berkata, dia menutup telepon setelah berpamitan pada lelaki itu.

Howon dengan paniknya mencari kontak ayah Eunmi yang dia dapatkan dari pamannya Changmin, dengan suara gugup dia menjelaskan kalau Eunmi mengalami kecelakaan lalu lintas. Howon segera berlari kehalaman parkiran studionya dan mengendarai mobilnya, dalam pikirannya sekarang hanyalah Eunmi dia berharap jika kekasihnya itu baik-baik saja.

Howon mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dia tidak peduli dia hanya ingin segera ampai dirumah sakit, dia mengigit jarinya saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah membuatnya harus menunggu beberapa menit. Dia tidak punya waktu untuk menunggu dia ingin melihat Eunmi,sampai akhirnya lampu lalu lintas kembali berubah menjadi warna hijau dan dia langsung menginjak gas mobilnya.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa singkat bagi Howon, dia langsung turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah sakit. Dia menanyakan dimana ruangan Eunmi saat dia sampaid dimeja resepsionis rumah sakit, tak menunggu lama akhirnya dia menemukan ruang ICU dimana Eunmi dirawat.

“Apa anda tuan Lee Howon?” seorang polisi bertanya saat dia baru sampai didepan ruang ICU.

“Ya, aku Howon.” Jawab Howon, dia terengah-engah karena berlari.

“Tenang saja tuan Howon, nona Eunmi sudah melewati masa kritisnya namun dia belum sadarkan diri anda bisa menjenguknya didalam.” Polisi itu memberitahu, Howon mengehla nafasnya penuh kelegaan dan masuk kedalam ruangan.

Didalam ruangan Eunmi sepi sekali hanya alat pendeteksi jantunglah yang bisa Howon dengar, dia melihat sosok lemah Eunmi berbaring diranjang rumah sakit. Kepalanya dibalut oleh perban dan dia juga bisa melihat tangan kanan Eunmi dibalut oleh perban juga, Howon duduk disamping ranjang Eunmi.

Dengan hati-hati dia memegang tangan Eunmi dan menciumnya,dia menyentuh pipi Eunmi yang dingin sekali. Melihat betapa rapuhnya Eunmi membuat Howon sedih, dia harap kekasihnya itu baik-baik saja sekarang.

Jiyoung akhirnya muncul didepan Howon, arwah itu menatap kearah Howon dan tersenyum tipis dia tahu jika Howon pasti langsung datang mencari Eunmi karena begitulah Howon dia terlalu naïve dan baik sehingga Jiyoung bisa memanfaatkan dia dengan mudah. Jiyoung mendekat kearah tubuh Eunmi, dengan mudahnya dia merasuki tubuh kosong itu.

Howon terkejut saat dia melihat tangan Eunmi mulai bergerak, Howon tersenyum dan menyentuh pipi Eunmi mengelusnya dengan lembut.

“Eunmi-ya..”Panggilnya halus.

“Eunmi-ya ini aku Howon..” Howon berkata, dia senang sekali saat dia melihat mata Eunmi terbuka sedikit demi sedikit.

Jiyoung bisa melihat sosok Howon disampingnya menatap kearahnya dengan penuh kekhawatiran, dia ingin menangis saat dia merasakan kembali hangatnya tangan Howon dia merindukan sentuhan manusia. Selama dia menjadi hantu dia tidak bisa merasakan apapun, dia hanya berkeliaran tanpa tujuan seperti anak kecil yang tersesat.

Jiyoung mencoba menggerakan tangannya lagi, dia bisa merasakan kasarnya sprei ranjang rumah sakitnya, udara diruangan rumah sakit sedikit dingin dan dia menggigil namun dia senang karena kahirnya dia bisa merasakan apa yang tidak dia bisa sebelumnya.

“Howon..” Jiyoung mencoba memanggil, rasanya aneh sekali sata dia mendnegar suara Eunmi yang keluar bukan suara dia.

“Ya ini aku, sebentar aku akan memanggil dokter.” Howon berkata dia menekan bel darurat yang ada diujung ranjang Eunmi.

“Howon…aku takut sekali.” Jiyoung berkata dia langsung bangun dari posisi tidurnya dan memeluk Howon.

“Eunmi tenanglah, kau baik-baik saja..” Howon menenangkan, dia menidurkan kembali Jiyoung diranjang namun Jiyoung mencengkram tangannya dengan kuat.

“Jangan tinggalkan aku..” Jiyoung memelas, Howon tersenyum dan memegang tangan Jiyoung.

“Kau tak usah khawatir,aku akan ada disini.”

Setelah Howon selesai berbicara seorang dokter dan suster datang keruangan Eunmi, mereka kelihatan lega saat melihat pasiennya yang sudah sadar. Dokter yang menangani Eunmi langsung memeriksanya sedangkan Howon hanya bisa menyaksikan dari belakang, dia tidak mau menganggu dokter yang sedang memeriksanya.

Tepat setelah dokter selesai memeriksa Eunmi atau lebih tepatnya Jiyoung keluarga Eunmi datang, Howon bisa melihat sosok ayah Eunmi dan ibu Eunmi juga Eunhee yang menunggu diambang pintu. Ayah Eunmi langsung mengecheck keadaan putrinya itu dan dia memeluk Eunmi begitu juga dengan ibu Eunmi, setelah sang dokter selesai memeriksa Eunmi dia langsung keluar dan kedua orang tua Eunmi berterimakasih.

Eunhee yang berdiri diambang pintu berterimakasih juga pada dokter lalu dia berjalan masuk, Howon tersenyum kearah Eunhee dia tahu jika Eunhee adalah kembaran Eunmi. Eunmi sudah menceritakan kembarannya itu beberapa kali, ternyata wajah mereka benar-benar identik perbedaan yang mereka hanyalah mata.

Eunhee lebih sipit dari Eunmi namun itu membuat Eunhee terlihat lebih muda dari Eunmi, Howon berjalan mendekat kearah ranjang Eunmi. Dia bisa mendengar ibunya memarahi Eunmi karena dia ceroboh, sedangkan ayah Eunmi masih mengkhwatirkan tubuh anak perempuanya itu.

“Eomma,Appa aku baik-baik saja kau tak usah khawatir.” Jiyoung berkata, dia memberikan kedua orangtua Eunmi senyuman yang lebar.

Jiyoung merasa bersalah karena sekarang dia harus berpura-pura untuk menjadi Eunmi dan mengatakan kalau anak merek aitu baik-baik saja namun ini jalan satu-satunya agar dia bisa kembali hidup.

“Howon…” Jiyoung melirik kearah Howon yang berdiri dibelakang ayahnya, Ayahnya langsung melirik kebalakang dan tersenyum pada Howon.

“Terimakasih kau sudah mengabariku soal Eunmi.” Ayah Eunmi berkata dan Howon mengangguk.

“Sama-sama direktur Jo.” Howon tersenyum.

“Appa, apa kau sudah tahu ? aku dan Howon sudah berkencan sekarang.” Jiyoung mengumumkan, ibu Eunmi terlihat sangat terkejut namun Eunhee tidak karena dia sudah melihat beberapa kali Howon mengantarkan saudara kembarnya itu kerumah.

“Benarkah? Itu bagus…” Ibu Eunmi langsung melirik kearah Howon, Howon hanya terseyum malu.

“Oh jadi itu alasannya kau sering pulang terlambat belakangan ini?” Ayahnya bertanya dengan nada tegas, Jiyoung hanya tersenyum malu.

Ini adalah jalan satu-satunya mencegah agar Eunmi tidak bisa memiliki Sehun dengan jalan ini semua orang tahu kalau Eunmi mengencani Howon.

“Maaf jika aku membuat Eunmi pulang terlambat, tapi direktur Jo anda bisa mempercayai saya.” Ucap Howon penuh percaya diri.

Yeobo..biarlah, Eunmikan sudah dewasa.” Ibu Eunmi menyentuh lengan suaminya.

“Sebaiknya kau tidak membuat anakku pulang terlalu malam, aku akan mengawasimu.” Ayah Eunmi berkata dan Howon mengangguk.

“Appa sudah..tenang saja Howon lelaki yang baik.” Jiyoung melirik kearah Howon dan mereka bertukar senyuman.

“Ternyata tebakanku selama ini benar, kalian berkencan.” Eunhee tiba-tiba saja bergabung dalam percakapan.

“Eunhee kau tahu?kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Tanya ayah Eunmi.

“Maaf Appa,jika aku mengatakanya padamu kau akan marah.” Eunhee membela diri dan dia tersenyum kearah Eunmi.

“Kau benar, sebaiknya kalian jangan menyembunyikan hubungan kalian dariku, atau …” Ayah Eunmi melirik kearah Howon dan menunjukan gesture memotong leher pada Howon membuat Howon gugup.

“Tenang saja direktur Jo,aku tidak akan merahasiakan apapun lagi.” Howon menelan ludahnya karena takut.

“Sebenarnya ini masih jam kantor, aku harus kembali kekantor…Eunhee-ya bagaimana kalau kau diam dan menjaga Eunmi disini? Aku akan meminta ijin pada Wu Yifan dia rekan kerjaku jadi kau tak usah khawatir.” Ayah Eunmi menyentuh bahu Eunhee.

“Tapi Appa, aku harus mempersiapkan presentasi meeting besok aku tidak bisa bolos.” Ucap Eunhee.

“Kalau begitu Yeobo bagaimana denganmu?”

“Maaf, tapi butikku sedang banyak pelanggan sekarang..Eunmi-ya bagaimana kalau Howon saja yang menemanimu?” Ibu Eunmi mengusulkan, Eunmi tentu saja setuju.

“Tidak! Jika dia menemani Eunmi dia akan melakukan sesuatu yang tidak pantas!” Ayah Eunmi menuduh dan Jiyoung tertawa,.

Eunmi beruntung sekali memiliki ayah seperti ayahnya, Jiyoung merasa sedikit sedih mengingat ayahnya tidak terlalu peduli padanya yang selalu menjadi perhatiannya hanyalah uang dan perusahaan.

“Appa kau berlebihan..” Ucap Eunhee.

“Appa, cukup..kita harus kembali ke kantor tenang saja aku pulang lebih cepat hari ini.” Eunhee menarik ayahnya keluar dari ruangan.

“Tidak, Eunmi-ya! Kau tidak boleh bersamanya!!” Ayah Eunmi berteriak namun Eunhee sudah menariknya keluar dari ruangan Eunmi.

“Maaf Howon-ah, ayah Eunmi memang seperti itu sebaiknya kau memakluminya.” Ibu Eunmi berkata dan Howon mengangguk mengerti.

“Howon, bagaimana kalau kau menemani Eunmi dulu? Aku harus pergi butikku sangat ramai belakangan ini.” Ibu Eunmi berkata dia mengusap kepala Eunmi sekilas.

“Eomma pergi dulu, Eomma akan kesini setelah butik tutup.” Ibu Eunmi berkata dan Eunmi mengangguk.

“Hati-hati dijalan nyonya Jo.” Howon berkata dan ibu Eunmi tersenyum sebelum akhirnya dia menutup pintu ruangan Eunmi meninggalkan Eunmi dan Howon berdua.

“Aku lega sekali kau sudah sadar.” Howon duduk disamping Eunmi, Eunmi hanya tersenyum tipis dan menunduk.

“Kenapa kau terlihat sedih seperti itu?” Howon menyentuh dagu Eunmi.

“Tidak..aku tidak sedih.” Eunmi menjawab lemah.

“Kau tidak bisa bohong padaku Eunmi, kau ingat ? aku fotografer aku mengenali berbagai ekspressi manusia.” Jawab Howon.

Eunmi bangun dari posisi tidurnya dan memeluk Howon dengan erat, Howon tersenyum dan memeluk Eunmi kembali mencium kepala wanita itu dengan lembut.

“Aku hanya merindukanmu..” Eunmi bergumam namun Howon bisa mendengarnya.

“Apa yang kau katakan? Kita baru saja bertemu kemarin.”

Jiyoung membeku saat dia mendengar pertanyaan Howon bodoh sekali dia, kenapa dia harus lupa jika Eunmi dan Howon sudah bertemu kemarin. Dia sedikit panik lalu melepaskan pelukannya dari Howon, Howon menatap kearahnya penuh kekhawatiran.

“Oh iya..aku lupa.” Jawab Jiyoung, dia menggigit bibirnya panik.

“Tidak apa-apa, kau pasti masih shock dengan kecelakaannya.” Howon membalas dengan senyum manisnya.

Jiyoung membalas senyuman itu, Howon menggengam lagi tangannya dan menciumnya membuat Jiyoung malu dan menunduk dia bisa meraskaan jantungnya berdetak sangat cepat. Howon mendekat dan mencium pipinya dengan lembut, Jiyoung menahan tawanya karena bibir Howon terasa geli dipipinya apalagi saat lelaki itu mengecup lehernya.

“Howon tidak sekarang..” Jiyoung mendorong Howon membuat lelaki itu berhenti menciumnya.

“Maaf,aku tidak bermaksud..” Howon menunduk malu.

“Tidak apa-apa.” Jawab Jiyoung, dia tidak bisa membiarkan Eunmi terlalu jauh dengan Howon.

Dia mungkin merebut tubuh Eunmi dari gadis itu tapi dia tetap harus meminta ijin soal ini, dia tidak kejam seperti iblis.

“Apa kepalamu masih sakit? Kau pasti membenturnya cukup keras.” Howon menyentuh kepalanya dengan hati-hati.

“Sedikit,aku hanya ingin segera baikan.” Jiyoung berkata,dia tidak terlalu merasakan sakit karena dia ada didalam tubuh Eunmi.

“Apa kau lapar? Aku akan membeli makanan jika kau mau.” Howon menawarkan dia berdiri dan melirik kearah sekitar ruangan ICU.

“Hm..aku ingin makan Japchae.” Ucap Jiyoung, Hoown yang mendengar itu tiba-tiba saja membatu ekspressinya kelihatan sedikit tegang.

Jiyoung menyeringai, tentu saja Howon masih ingat makanan kesukaannya lelaki itu bahkan tahu tempat dimana Japchae paling enak berada.

“Oh apa kau suka Japchae?” Howon akhirnya mengatakan sesuatu setelah dia menatap kearah Jiyoung beberapa menit.

“Ya, aku suka sekali Japchae.” Jiyoung menjawab dan tersenyum kearah Howon dengan manja.

“Baiklah,aku akan membelikanya untukmu tunggu sebentar ya?” Howon mengelus kepala Jiyoung dan Jiyoung mengangguk.

Howon akhirnya pergi keluar untuk membeli makanan, senyum Jiyoung langsung hilang saat dia melihat Howon menghilang dibalik pintu ruangan. Jiyoung terseyum puas, dia menyentuh pipinya dan tangannya dia bahagia sekali karena dia sekarang memiliki raga kembali. Dia bukan lagi mahluk halus yang tidak bisa orang-orang lihat, dia kembali lagi menjadi seorang manusia.

Jiyoung melirik kearah tas Eunmi yang ada disamping ranjang, dia menarik tas itu dan membukanya dia bisa menemukan beberapa make up dan beberapa peralatan lain seperi kunci mobil dan dompet namun bukan itulah yang dia cari. Dia mencari ponsel Eunmi, setelah mencari beberapa menit Jiyoung akhirnya menemukan ponsel samsung Eunmi.

Jiyoung membuka ponsel Eunmi dan mengecheck pesan yang ada di ponsel Eunmi, dia marah sekali saat dia melihat pesan dari Sehun untuk Eunmi. Pesan-pesan Sehun begitu mesra dan intim membuat dada Jiyoung bergemuruh penuh amarah, dia mencengkram kuat ponsel Eunmi.

Dia langsung teringat seseorang, Jiyoung membuka internet diponsel Eunmi dan mencari nama ‘Kim Yura’ taklama menunggu foto model itu langsung muncul dilayar ponsel. Dia melihat berita tentang Yura berkaitan dengan pameran fotografi Howon, ternyata Howon juga menyewa Yura sebagai modelnya tidak aneh, Yura memang sedang naik daun belakangan ini.

“Tunggu Kim Yura, sebentar lagi aku yang akan merebut kebahagiaanmu.” Jiyoung menyeringai penuh misteri.

****

“Aku suka sekali dengan skenarionya Yura-shi.” Zhongren berkata dan Yura setuju, dia juga sangat menyukai karakternya.

“Ya,aku setuju denganmu Zhongren-shi karakterku sangat keren di drama ini.” Ungkap Yura dengan senyum manisnya.

“Aku sudah lama tidak bermain drama aksi, aku sedikit merindukannya.” Ujar Zhongren, dia masih ingat jika dia debut lewat drama aksi mingguan.

“Oh iya, aku menonton drama pertamamu Zhongren-shi kau sangat keren.” Puji Yura membuat Zhongren sedikit malu.

“Terimakasih, Yura-shi kau terlalu baik.” Zhongren berkata.

“Oh iya, ini drama pertamamu apa aku benar? Aku dengar dari Joonmyen hyung kalau kau seorang model.” Zhongren mengingat.

“Kau benar, aku tidak terlalu populer tapi aku punya beberapa fans.”Ucap Yura malu-malu.

“Kau sangat rendah hati Yura-shi, kau cukup populer aku sering melihat wajahmu diwajah fashion.” Ucap Zhongren.

Joonmyeon yang melihat Zhongren sudah mulai akrab dengan Yura tersenyum licik, rencananya perlahan-lahan mulai berhasil dan dia tidak sabar untuk mendapatkan hasilnya. Joonmyeon menghidupkan ponselnya dan memotret Zhongren dan Yura yang sedang mengobrol dengan akrab, dia bisa melihat Yura menyentuh lengan Zhongren dan Zhongren tersenyum manis kearah model cantik itu.

Joonmyeon mengurungkan niatnya untuk membuat Zhongren dan Yura lebih akrab, sepertinya dia tidak usah melakukan itu karena sepertinya Zhongren dan Yura sudah menjadi rekan kerja yang akrab. Dia mencari nomor kontak Hyojung diteleponnya, dan menunggu gadis itu mengangkat teleponnya.

“Hallo Hyojung? Apa kau tidak sibuk? Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Joonmyeon berkata, lelaki itu pergi menuju lift kantornya.

Ponsel Zhongren berdering saat dia sedang mengobrol dengan Yura, Zhongren tersenyum saat dia melihat nama Hyojung tertera dilayar ponselnya.

“Hallo? Hyojung..tumben kau menelepon.”

“Oppa, tidak..aku hanya merindukanmu.” Hyojung berkata membuat Zhongren tersenyum.

“Aku juga,aku merindukanmu…” Balas Zhongren, Yura yang mendengar percakapan Zhongren tersenyum.

Zhongren pasti sedang berbicara dengan kekasihnya Hyojung, Yura menebak itu mengingatkan dia pada Sehun. Sebenarnya dia juga rindu pada kekasihnya itu karena belakangan ini mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti sata mereka masih kuliah. Sehun terlalu sibuk untuk memperhatikan dia, Yura sedikit sedih namun dia tidak bisa menyalahkan Sehun karena dia sendiri sibuk dengan karirnya.

“Baiklah, sampai ketemu dirumah.” Zhongren akhirnya menutup teleponnya, Yura yang melamun sadar dari lamunannya dan melirik kearah Zhongren.

“Hyojung?” Tanya Yura.

“Ya.” Zhongren menjawab singkat, sedikit malu-malu.

“Aku sudah lama tidak bertemu dengan dia, aku masih ingat terakhir kali kita bertemu di restoran saat kita di Amerika.” Yura mengingat.

“Kau masih mengingatnya? Ya kau benar, kami terlalu sibuk jadi kami tidka punya waktu banyak untuk bersama-sama.” Zhongren kelihatan sedih saat dia mengatakan itu, Yura menyentuh pundak Zhongren.

“Semuanya akan baik-baik saja Zhongren-shi,selama kau dan Hyojung saling mencintai semuanya akan lancar.” Yura menghibur.

“Terimakasih Yura-shi,kau baik sekali.” Zhongren memberikan senyumnya pada Yura.

“Sama-sama, aku tidak suka melihat rekan kerjaku murung apalagi besok kita akan mulai syuting.”

*****

Hyojin duduk diruang tamu rumahnya, dia masih kebingungan menatap kearah sosok Boyoung yang ada didepannya. Wanita itu terlihat sangat nyata namun tidak ada yang bisa melihat wanita itu selain dirinya, apakah sekarang dia memiliki kekuatan super? Kenapa hanya dia yang bisa melihat Boyoung? Padahal seorang pembantunya yang dari tadi membersihkan ruang tamunya berdiri tidak jauh dari Boyoung.

Pembantu itu akhirnya selesai membereskan ruang tamu dan pergi meninggalkan Hyojin sendirian, Boyoung menatap balik kearahnya setelah dia yakin jika pembantu Hyojin sudah pergi.

“Jadi, apa yang kau inginkan?”

Hyojin bertanya penuh keingin tahuan, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepalanya namun dia memilih pertanyaan itu lebih penting daripada pertanyaannya yang lain.

“Aku ingin kau menyelamatkan anakku Zhongren, Hyojin aku mohon..kau tidak tahu sipaa sebenarnya Joonmyeon.” Boyoung berkata.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Joonmyeon lelaki yang baik, dia tidak pernah menyakitiku ataupun keluargaku.” Hyojin berpendapat.

“Apakah bukti fotoku tidak cukup untukmu?”

“Aku percaya jika kau ibu Zhongren, tapi aku tidak percaya jika Joonmyeon berbahaya.” Ucap Hyojin.

“Oh soal itu, kau ingin sebuah bukti?” Boyoung mengangkat alisnya.

“Ya, bukti yang kuat.” Hyojin menjawab mantap.

“Jika kau ingin bukti, datanglah ke rumah sakit jiwa Pyeonghwa,kau akan menemukan seseorang yang tidak asing tapi lebih baik kau menyelidiki dulu semua anggota keluarga Kim.” Boyoung berkata dan sosoknya langsung menghilang bagaikan asap.

Mendengar itu Hyojin berpikir sejenak, Hyojin tidak pernah mendengar tentang rumah sakit jiwa Pyeonghwa mungkin dia sebaiknya mencari tahu tentang rumah sakit jiwa itu. Hyojin berdiri dari duduknya dan dia berjalan masuk keruangan kerjanya dulu namun sekarang ruangan itu menjadi ruang kerja Yifan, dia duduk dikursi dan membuka laptop yang ada dimeja.

Dia mulai mencari tahu tentang rumah sakit jiwa Pyeonghwa, dia menemukan ternyata rumah sakit jiwa itu berada di Busan dan jaraknya sangat jauh sekali dari perkotaan dekat sekali dengan pegunungan. Hyojin tidak tahu jika dia harus datang kesana, dia bisa menghubungi Yongguk dan meminta lelaki itu untuk mengantarnya tapi dia takut jika Yifan marah dia yakin sekali suaminya akan melarangnya untuk pergi kemanapun.

Hyojin menghela nafasnya, dia sedikit tida suka dengan keadaan seperti ini dia bukan wanita bodoh dia tahu jika dia pergi ke Busan dia akan membahayakan kandungannya. Hyojin menutup tab dalam we browsernya dan mencari informasi tentang keluarga Kim Taehyun ayah biologis dari Zhongren.

Sebuah gambar keluar langsung terlihat, Hyojin membuka foto itu dan dia bisa melihat foto Joonmyeon dengan kedua orangtuanya. Joonmyeon terlihat lebih muda difoto itu, dia tersenyum kearah kamera begitu juga dengan kedua orangtuanya.

Hyojin menatap kearah wanita yang duduk didepan Joonmyeon dan ayahnya, wanita itu pasti istri Kim Taehyun. Hyojin masih tidak mengerti kenapa Boyoung menyuruhnya untuk mencari tahu tentang keluarga Kim, dia menutup website yang dia buka namun sebuah artikel mencuri perhatiannya.

Dia membuka artikel yang berjudul ‘Skandal Pengusaha Sukses Kim Taehyun’ yang dia lihat tadi, dia membaca sekilas artikel itu dan foto Boyoung muncul tepat dibawa foto Kim Taehyun. Artikel itu mengatakan jika Taehyun menikahi Boyoung secara diam-diam dan mereka mempunyai seorang anak, dari sana Hyojin terdiam sesaat.

Apakah artikel ini benar? Apakah itu alasan kenapa Joonmyeon ingin menyakiti Zhongren? Hyojin mengigit bibirnya cemas. Bagaimana jika Boyoung benar? Dia tidak ingin terlambat dan menanggu resikonya.

“Kau harus pergi Hyojin, tenang saja..semuanya akan baik-baik saja.” Sosok Boyoung muncul kembali.

“Tapi..”

“Aku akan memberikanmu petunjuk, kau hanya harus melakukan apa yang aku perintahkan..” Boyoung menjelaskan.

“Tapi bagaimana jika Yifan oppa tidak mengijinkan aku untu pergi ke Busan?”

“Jika perlu bawa dia, biarkan dia tahu kebusukan Joonmyeon.” Boyoung menyuruh, sosoknya kembali menghilang.

Hyojin berdiri dari duduknya, dia pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang ada dimeja cerminya. Dia menghubungi nomor Yongguk, dengan cemasnya dia menunggu sambil memainkan jarinya.

“Hyojin-ah?”

“Oppa,Ya ini aku Hyojin.”

Hyojin tersenyum saat dia mendengar suara Yongguk, dia tidak sadar kalau dia merindukan sosok Yongguk sampai dia mendengar suara lelaki itu.

“Oppa bisakah kau menjemputku di stasiun kereta api Busan? Aku punya urusan jadi aku harus pergi ke Busan.” Hyojin menjelaskan.

“Apa? Kenapa? Bukankah kau hamil Hyojin? Terlalu berbahaya untuk berpergian sendiri.” Ucap Yongguk.

“Tenang saja Oppa, aku tidak akan sendirian aku akan ke Busan bersama Yifan oppa jadi ku tak usah khawatir.”

“Oh Yifan juga ikut? Bagus kalau begitu memang kau ada urusan apa? Tumben sekali kau datang ke Busan.” Yongguk berkata.

“Tidak, aku hanya memiliki urusan pribadi sebentar.” Jawab Hyojin tidak yakin.

“Begitu ya…baiklah aku dan Taeyeon akan menunggu.” Yongguk berkata dengan ceria.

“Terimakasih Oppa,aku akan ke Busan besok mungkin siang tapi entahlah aku akan memesan tiket kereta dulu.” Hyojin mengungkapkan.

“Baiklah, hubungi aku lagi jika kau sudah memesan tiket.” Yongguk berkata dan akhirnya mereka berdua mengakhiri telepon mereka.

Hyojin membuka lemari dikamarnya dan menarik kopernya yang ada ditahap paling atas, dia mulai mengemasi pakaiannya. Mungkin dia harus menuntaskan semua misteri ini, dia tidak bisa diam karena dia saat ini nyawa Zhongrenlah yang menjadi taruhannya.

*****

“Joonmyeon oppa?” Hyojung memanggil dia terkejut saat dia melihat sosok Joonmyeon lagi dilobi kantornya.

“Hyojung-ah,sepertinya aku sangat beruntung karena aku selalu bertemu denganmu.” Joonmyeon berkata membuat Hyojung tersenyum.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Hyojung penasaran.

“Aku sedang mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan Guangde seperti yang kau katakan kemarin.” Jawab Joonmyeon.

“Oh benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita kekantorku?” Hyojung menawarkan dan Joonmyeon setuju.

“Baiklah,mari kita kekantormu.”

Joonmyeon mengikuti langkah Hyojung, dia menyeringai saat Hyojung berbalik masuk kedalam lift.

“Oh iya, apa kau sudah berdiskusi dengan Zhongren soal drama terbarunya?” Joonmyeon memecahkan hening diantara mereka.

“Oh soal itu, ya kami sudah membicarakannya.” Hyojung menjawab namun dia terlihat tidka terlalu senang.

“Bagaimana menurutmu?”

“Dramanya bagus, aku dengar dramanya bergenre aksi.” Hyojung berkata, Joonmyeon bisa melihat ekspressi Hyojung berubah menjadi sedikit muram saat dia mengatakan itu.

“Kenapa Hyojung?kau tidak ingin Zhongren bermain dalam drama aksi?” Joonmyeon menyentuh bahu Hyojung.

“Tidak, aku menyukainya Oppa bilang kalau dia sangat suka bermain dalam drama aksi tapi aku sedikit khawatir..” Ungkap Hyojung, Joonmyeon tersenyum tipis.

“Ah..aku sangat iri, Zhongren benar-benar beruntung memiliki pacar sepertimu.” Joonmyeon berkata membuat Hyojung tersenyum.

“Kau pikir begitu Oppa?”

“Ya, aku juga ingin punya pacar sepertimu.” Joonmyeon mengungkapkan membuat Hyojung tersipu malu.

“Kau selalu memujiku Oppa, hentikan..kau membuatku malu.” Hyojung menunduk menyembunyikan pipinya yang sekarang bersemu merah.

“Aku hanya jujur…kau sangat lucu jika kau malu.” Joonmyeon menjawab sambil tersenyum.

“Terimakasih atas pujiannya Oppa, tapi aku sudah besar sekarang..aku rasa aku tidak lucu lagi.” Hyojung menjawab.

“Kau hanya tidak mau mengakuinya.” Joonmyeon menggoda dan Hyojung tertawa.

Pintu lift mereka akhirnya terbuka dan mereka berdua berjalan masuk kedalam kantor Hyojung, Joonmyeon duduk di kursi kantor Hyojung sedangkan Hyojung menghubungi sekertarisnya untuk membawakan mereka minuman.

“Jadi apa kau punya ide?” Tanya Hyojung, dia duduk disamping Joonmyeon.

“Tidak juga, apakah kau punya ide?” Joonmyeon balik bertanya, Hyojung kelihatan sedang berpikir.

“Aku tertarik dengan produk elektronik, bukankah perusahaan K&T sering meluncurkan peralatan elektronik?” Hyojung mengingat.

“Kau benar, tapi aku sudah bosan dengan bisnis elektronik apalagi pasar elektronik sekarang sedang tidak stabil.” Ungkap Joonmyeon.

“Kau benar Oppa.” Hyojung setuju.

“Kemarin aku melihat beberapa iklan, sepertinya bisnis resort sedang bagus sekarang.” Joonmyeon memberikan ide.

“Resort? Tapi perusahaan kami belum pernah melakukan itu.” Ucap Hyojung.

“Bukankah itu bagus? Aku rasa perusahaan Guangde membutuhkan inovasi.” Joonmyeon memberi alasan, Hyojung mengangguk pendapat Joonmyeon memang benar.

“Aku tahu, tapi aku tidak yakin jika Yifan oppa menyukai itu..apalagi sekarang Guangde akan memulai proyek dengan Daeguk.” Hyojung bergumam sedih.

“Oh apa kalian sudah mulai bekerja sama dengan Daeguk?”

“Ya, Yifan Oppa mengusulkannya minggu kemarin karena dia sudah menerima proposal dari Sehun.” Jawab Hyojung.

Joonmyeon mengepalkan tangannya kesal, ternyata Sehun cukup pintar untuk mencari kesempatan dia bergerak lebih cepat dari yang dia prediksikan. Mungkin Joonmyeon butuh taktik yang lain, lagipula dia sudah memiliki simpati Hyojung sekarang dia bisa memanfaatkan Hyojung untuk memenangkan perang kerja sama ini.

“Memang Sehun mengirim proposal apa? Apa produk yang akan kalian luncurkan bersama?” Tanya Joonmyeon.

“Oh Yifan oppa bilang hanya produk makanan, perusahaan Daeguk masih baru jadi mereka hanya mencoba-coba.” Hyojung menjawab dengan detail, Joonmyeon menyeringai sepertinya kesempatannya akan lebih bagus.

“Oh begitu ya, itu bagus..tapi apakah lebih baik Guangde bekerja sama dengan perusahaan yang lebih mapan? Bekerjasama dengan Daeguk tidak akan menjamin kesuksesan produk.” Joonmyeon mengungkapkan.

Perkataan Joonmyeon benar-benar Hyojung pikirkan namun dia tidak yakin jika Yifan akan mendengarnya, bagaimanapun Sehun memiliki hubungan yang dekat dengan keluarganya dia tidak mungkin membatalkan semuanya di tengah jalan.

“Kau benar Oppa tapi kami tidak bisa membatalkan proyek ditengah jalan, kau tahu Sehun dekat dengan keluargaku.” Hyojung mengungkapkan, dia menunduk dengan sedih.

“Tidak apa-apa, kau tak usah sedih jika Yifan keberatan kita bisa melakukannya setelah Guangde berhasil meluncurkan produk makanan.” Joonmyeon menyentuh tangan Hyojung, Hyojung tersenyum dan mengangguk.

“Terimakasih oppa, kau sangat pengertian.”

“Sama-sama, karena kau menolak ideku kau harus membayarnya.” Joonmyeon menatap kearah Hyojung jahil.

“Bagaimana?” Tanya Hyojung penasaran.

“Kau harus makan malam bersamaku, bagaimana? Kau mau?” Joonmyeon menawarkan.

“Aku tidak yakin Oppa, aku takut Zhongren oppa marah.” Kata Hyojung.

“Tenang saja, dia sibuk hari ini aku dengar dia mulai syuting sekarang.” Joonmyeon berkata.

“Oh begitu ya..”

“Ini besok libur bukan? Kau tidak ingin menghabiskannya sendirian, percayalah padaku Hyojung.” Joonmyeon mengelus tangan Hyojung.

“Baiklah, tapi hanya makan malam.” Hyojung berkata.

“Iya, hanya makan malam.” Joonmyeon setuju.

Joonmyeon dan Hyojung terkejut saat dia mendengar ketukan pintu, mereka langsungberpisah dan Joonmyeon melepaskan tangan Hyojung. Hyojung tersenyumkearah sekertarisnya yang membawa dua gelas kopi untuk mereka, Joonmyeon mengucapkan terimakasih setelah sekertaris Hyojung menyimpan gelasnya dimeja.

Sekertaris Hyojung tidak berlama-lama karena wanita itu akhirnya keluar dari ruangan kantor Hyojung, seakarang Joonmyeon dan Hyojung terdiam dalam kecangungan sampai akhirnya Joonmyeon mengambil kopinya dan meminumnya.

“Apa kau punya usul lain? Mungkin kita bisa bekerja sama dengan produk lain..” Hyojung memecahkan hening diantara mereka.

“Tidak, aku sebaiknya menunggu lagipula perusahaan K&T harus mengumpulkan dana yang cukup.” Joonmyeon menjawab.

“Baiklah, tapi jika kau berubah pikiranmu hubungi aku.”

“Pasti Hyojung.”

*****

Eunmi atau lebih tepatnya Jiyoung baru saja menghabiskan Japchae nya, Howon lega sekali melihat kekasihnya yang sudah terlihat ceria. Wanita itu bahkan kelihatan lebih sehat dari kemarin senyum selalu menghiasi bibir manis wanita itu membuat Howon ikut senang juga, dia menyeka sudut bibir Eunmi setelah wanita itu selesai minum.

“Bagaimana Japchaenya? Enak?” Tanya Howon dengan lembut.

“Ya, terimakasih sudah membelikannya untukku dari kemarin.” Jiyoung menyentuh tangan Howon, Howon tersenyum dan mengangguk.

“Apapun untuk putriku yang manja.” Howon mencubit pipi Eunmi.

Jiyoung terdiam, dia tersenyum tipis mengingat masa lalu mereka dulu Howon sering sekali memanggilnya seperti itu. Tapi sekarang panggilan sayang itu pindah pada Eunmi, membuat Jiyoung merasa sedikit sedih namun dia tidak bisa menyalahkan Eunmi ataupun Howon Jiyoung menunduk menatap kearah tangan Howon membuat Howon khawatir.

“Ada apa Eunmi?”

Jiyoung menggelengkan kepalanya, dia muak mendengar Howon yang memanggilnya Eunmi dia tidak suka mendengar nama itu karena setiap kali dia mendengar nama Eunmi disebut dia kembali ingat dengan sosok malang yang dia kurung.

“Tidak apa-apa, Howon-shi aku bosan bisakah kita keluar?” Tanya Jiyoung, dia memajukan bibirnya dan meniup poninya.

“Mungkin besok Eunmi, kau baru saja sembuh.” Howon menjawab.

“Tapi aku bosan, aku hanya menonton tv dan berbaring seharian..” Jiyoung mengeluh.

“Sabar Eunmi, aku tidak ingin kau sakit lagi.” Howon mencium dahi Eunmi.

“Aku harus pergi, kau tahukan hari ini pameran fotoku akan dimulai..aku janji aku kan menemanimu lagi setelah aku beres.” Howon berkata dan Jiyoung mengangguk.

“Hati-hati dijalan.” Eunmi berkata dan Howon mencium bibir Jiyoung sekilas membuat Jiyoung mundur terkejut.

“Kenapa?apa kau terkejut?” Tanya Howon, dia menyeringai jahil.

“Tidak..” Jiyoung menyangkal, padahal dia kaget sekali.

“Aku pergi dulu.” Howon berpamitan dan lelaki itu menghilang dibalik pintu ruangannya, Jiyoung menghela nafasnya.

Dia menyentuh bibirnya, sudah lama sekali dia tidak mencium Howon bibir lelaki itu terasa asing menyentuh bibirnya. Atau lebih tepatnya bibir Eunmi, dia tersenyum tipis dia harus mengakui kalau Howon masih sangat romantis seperti saat mereka berdua maish bersama beberapa tahun yang lalu.

Bahkan Jiyoung lupa kenapa dia dan Howon bisa sampai putus, Howon adalah lelaki yang baik dia seharusnya tetap mencintai Howon tidak tergoda oleh adik tirinya Sehun. Jiyoung melebarkan matanya saat dia mendengar langkah kaki yang tidak asing, jantungnya berdetak sangat cepat sekali dan entah kenapa nafasnya tiba-tiba saja terasa sesak.

Jiyoung melirik kearah pintu ruangannya dan sesosok lelaki membuka pintu ruangannya, dia tersenyum kearah Jiyoung namun Jiyoung tidak bahagia sama sekali saat dia elihat sook itu.

“Eunmi-ya, aku khawatir sekali..maaf aku baru bisa menjengukmu sekarang.” Sehun berkata, Jiyoung tidak menjawab dia hanay menatap kearah Sehun kosong.

“Eunmi?kau baik-baik saja?” Sehun melambaikan tangannya didepan Jiyoung.

Jiyoung tidak bisa berkata apapun dia hanya menatap kearah Sehun dan tanpa dia sadari airmatanya jatuh membasahi pipinya, mata Sehun melebar saat dia melihat Eunmi menangis dia tidak mengerti kenapa sahabatnya itu menangis. Jiyoung tidak bisa membendung kesedihannya, dia sudah lama sekali ingin melihat Sehun dan menyentuh lelaki itu namun sekarang setelah Sehun ada didepannya dia takut.

Dia takut jika semua ini hanya mimpi, dia takut jika dia bangun dan semuanya kembali normal dia tidak bisa menyentuh apapun dan berkeliaran didunia ini dengan kehampaan.

“Kenapa kau menangis?” Sehun duduk disampingnya.

Jiyoung menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa berbicara apapun namun airmatanya tetap mengalir membasahi pipinya. Dia benci merasakan emosi seperti ini, dia terlihat sangat bodoh dan lemah didepan Sehun sekarang.

Sehun yang meihat Eunmi yang menangi kasihan, dia menyentuh bahu Eunmi dna menarik Eunmi kedalam pelukannya ternyata Oh Sehunpun sudah tertipu. Dia mengira jika wanita yang dia lihat sekarang adalah Eunmi, Jiyoung memeluk Sehun dengan erat dia merindukan Sehun dia senang sekali karena sekarang dia bisa menyentuh lelaki itu lagi.

“Tenanglah Eunmi, ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?” Sehun melepaskan pelukannya dan menyeka pipi Jiyoung.

“Aku hanya senang melihatmu..” Jiyoung menjawab dengan jujur, Sehun malah tertawa.

“Bohong, kau hanya ingin mengerjaiku iyakan?” Tanya Sehun tidak percaya, Jiyoung hanya tersenyum tipis.

“Apa yang terjadi? Kau ceroboh sekali, bagaimana kau menabrak trotoar?” Sehun mengelus kepala Eunmi atau lebih tepatnya Jiyoung.

“Maaf, aku hanya sedikit melamun.” Ucap Jiyoung.

“Oh iya, aku membawa teukbokki untukmu aku harap kau memakannya nanti.” Sehun menunjukan bungkus makanan yang dia bawa.

“Terimakasih..” Jiyoung menyimpan makanan yang dibawa oleh Sehun dimeja yang ada disamping ranjangnya.

“Aku cemas sekali saat aku mendengar kalau kau tabrakan.” Ungkap Sehun.

“Apa kau sudah baikan sekarang?”

“Ya dokter bilang aku bisa pulang besok.” Jawab Jiyoung dengan senyum nya.

“Bagus kalau begitu, aku rasa aku tidak usah khawatir sekarang aku lega sekali mendnegar kau baik-baik saja.” Ucap Sehun, dia tersenyum kearah Jiyoung.

Jiyoung tidak terlalu senang dengan ucapan Sehun, ucapan Sehun baru saja menunjukan kalau lelaki itu sangat peduli pada Eunmi. Dadanya langsung bergemuruh, dia sangat cemburu mendengar kata-kata yang manis keluar dari mulut Sehun untuk Eunmi.

Tanpa Sehun sadari Jiyoung menyentuh tangannya, Sehun melirik kearah Jiyoung penuh tanya.

“Ada apa Eunmi?”

Jiyoung tidak menjawab dia langsung menarik Sehun mendekat dan mencium lelaki itu tepat dibibirnya, Sehun sangat terkejut dia langsung mendorong tubuh Eunmi sehingga mereka tidak berciuman lagi.

“Eunmi! Apa yang kau lakukan?!” Sehun menyeka bibirnya, dia menatap kearah Jiyoung penuh tanya.

“Bukankah kau menyukaiku?” Tanya Jiyoung sambil mengangkat alisnya, Sehun menggelengkan kepalanya.

“Bukan begitu Eunmi, aku menyukaimu sebagai teman..tidak lebih.” Sehun menjawab.

“Kenapa?karena kau mencintai Yura?” Tanya Jiyoung.

“Ya tentu saja, aku mencintainya itulah alasna kenapa aku masih bersamanya.” Sehun menjawab dia berdiri hendak pergi meninggalkan Jiyoung.

Jiyoung menarik tangan Sehun membuat Sehun berhenti melangkah.

“Apa kau benar-benar mencintai Yura? Apakah kau sudah melupakan Jiyoung?” Tanya Jiyoung, mendengar nama Jiyoung ekspressi Sehun langsung berubah menjadi sedih.

“Dia sudah meninggal Eunmi, sebaiknya kau tidak membahas soal Jiyoung noona.” Jawab Sehun.

“Tapi kau masih mencintai dia, iyakan? Kau masih ingin bertemu dengannya, menyentuhnya dan memeluknya.” Jiyoung berdiri diranjang rumah sakitnya.

“Eunmi hentikan..”

“Kenapa Sehun, apa aku benar?”

Sehun menatap sedih kearah Jiyoung, dia tidak pernah melihat ekspressi yang ditunjukan oleh Sehun sekarang lelaki itu terlihat sangat rapuh dengan ekspressi itu. Jiyoung menyentuh pipi Sehun, Sehun menjauh dari sentuhan Jiyoung membuat Jiyoung sedikit terluka selama ini Sehun tidak pernah menolaknya lelaki itu selalu menurut padanya seperti anjing kecil.

“Bagaimana jika Jiyoung kembali? Apa kau masih tetap mencintainya?” Jiyoung penasaran, Sehun menatap kearahnya penuh pertanyaan.

“Jiyoung noona tidak mungkin kembali.”

“Oh kau salah Sehun, dia bisa kembali kapan saja.” Ucap Jiyoung dengan seringainya.

Sehun membeku dia menatap kearah Jiyoung memperhatikan wanita itu dengan seksama, dia benar-benar kebingungan wajah yang dia lihat mungkin Eunmi tapi dia merasa kalau sekarang dia sedang berkomunikasi dengan kakak tirinya Jiyoung. Nada bicara dan gelagat Eunmi sangat mirip sekali dengan Jiyoung sekarang, bahkan Sehun mengenali seringai licik Jiyoung yang sekarang dilakukan oleh Eunmi.

“Kau bukan Eunmi, siapa kau?” Sehun menjauh dari Eunmi, atau seseorang yang dia kira Eunmi.

“Kau cukup telat untuk menyadarinya.” Ucap Jiyoung sambil tertawa meremehkan.

“Noona? Apa itu kau?” Sehun bertanya.

Annyeoung Sehun-ah.” Jiyoung melambaikan tangannya.

Sehun sangat terkejut sepertinya dia benar-benar bertemu dengan Jiyoung kembali, dia masih tidak percaya karena wajah yang dia lihat sekarang adalah Eunmi bukan wajah kakak tirinya Jiyoung.

“Noona bagaimana?”

“Aku sudah bilang, aku tidak bisa melepaskanmu Sehun-ah.” Jawab Jiyoung, ekspressinya kembali menjadi kelam.

“Tapi noona, kau tidak boleh ada disini! Kau sudah mati!” Sehun menyentuh bahu Jiyoung.

“Lalu kenapa? Kau ingin kembali pada Yura?! Wanita jalang itu?!” Jiyoung marah dan melepaskan tangan Sehun dari bahunya.

“Noona! Yura wanita yang baik…cukup, kau sebaiknya kembali.” Sehun berkata, Jiyoung marah pada Sehun dan berbalik.

“Kau bahkan tidak senang kita bisa bertemu lagi.” Jiyoung bergumam sedih, Sehun yang mendengar itu tersenyum.

“Aku senang sekali noona, tapi ini raga ini bukan milikmu.” Sehun memeluk Jiyoung dari belakang dan mencium bahu Jiyoung.

“Aku tahu, tapi aku ingin bersamamu Sehun, aku bodoh sekali..kenapa kau harus lompat dari gedung itu? Apa sebenarnya yang aku pikirkan?!” Jiyoung menjengut rambutnya penuh frustasi.

“Noona, semua orang melakukan kesalahan.” Sehun mencoba menghibur, dia melepaskan tangan Jiyoung dari rambutnya.

“Sebaiknya kau tidak melukai tubuh Eunmi, tubuh ini bukan milikmu.” Sehun berkata dan Jiyoung memukul dada Sehun.

“Kau bahkan masih peduli soal itu?! Aku benci kau!” Jiyoung membentak marah.

“Noona,bukan begitu maksudku Eunmi temanku dan aku peduli padanya tapi..”

Sehun tidak menamatkan kalimatnya dan memutarkan Jiyoung sehingga wanita itu menghadap kearahnya,Sehun mendekat dan mencium kembali Jiyoung. Bibir mereka bertaut untuk beberapa menit, bibir Sehun terasa hangat dan lembut dibibirnya Jiyoung sangat merindukan sensasi ini diapun akhirnya melingkarkan tangannya dileher Sehun menarik lelaki itu sehingga ciuman mereka lebih dalam.

Jiyoung membuka mulutnya dan Sehun memiringkan kepalanya kekanan sehingga bibir mereka sekarang lebih terasa cocok, Sehun menjilat bibir bawah Jiyoung membuat Jiyoung terangsang dan melenguh dengan sensual. Tangan Sehun menarik pingang Jiyoung mendekat dan tangannya mengelus punggung Jiyoung dengan lembut, Jiyoung terlalu sibuk mencium dan mengigit lembut bibir Sehun sehingga dia tidak sadar jika tangan Sehun sekarang menyentuh bokongnya.

Tangan Jiyoung membuka kemeja biru muda yang Sehun gunakan lalu gadis itu mencium leher Sehun membuat Sehun mendesah, dia menciumi kepala Jiyoung sedangkan gadis itu sibuk membuka kancing baju Sehun. Jiyoung mendorong Sehun sehingga lelaki itu duduk diranjang rumah sakit, Jiyoung berlutut dihadapan Sehun dan menyeringai saat dia melihat pipi Sehun memerah.

“Apa yang kau ingin katakan tadi Sehun?” Tanya Jiyoung, dia menggoda Sehun dengan membuka ikat pinggang lelaki itu.

“Noona,aku mencintaimu…kau benar aku tidak bisa melupakanmu sampai kapanpun kau selalu memiliki hatiku.” Sehun mengaku, dia menatap kearah Jiyoung dengan lembut.

“Aku juga Sehun-ah, aku sangat mencintaimu.” Jiyoung menjawab, Sehun menunduk dan mencium Jiyoung penuh hasrat.

Sehun menarik tekuk Jiyoung sehingga Jiyoung lebih dekat dengannya sekarang bibir mereka bersentuhan lagi, Jiyoung menyentuh kejantanan Sehun membuat Sehun terkejut dan melepaskan ciuman mereka.

“Noona jangan lakukan itu, aku tidak akan bisa berhenti..” Sehun berbisik.

“Kau tidak usah berhenti..”

“Kau dalam tubuh Eunmi.”

“Aku tidak peduli, lagipula aku sudah mencuri tubuh ini.”

Jiyoung akhirnya melepaskan celana Sehun berserta celana dalam lelaki itu, dia menyentuh kejantanan Sehun membuat Sehun menarik nafasnya dan Jiyoung menatap kearah Sehun yang menutup matanya karena malu. Ini bukan pertamakalinya mereka melakukan ini namun Sehun benar-benar masih malu, itulah kenapa Jiyoung menyukai Sehun dia sangat lucu sekali.

“Buka matamu.” Jiyoung menyuruh.

Sehun ragu-ragu namun akhirnya dia membuka matanya perlahan, dia langsung melenguh sata dia merasakan hangatnya mulut Jiyoung disekitar kejantanannya. Tangannya langsung meremas rambut Jiyoung dan Jiyoung mulai menjilat dan menggerakan kepalanya keatas dan kebawah menggoda kejantanan Sehun.

Jiyoung menyeringai saat dia mendengar lenguhan demi lenguhan terdengar keluar dari mulut Sehun, Sehun mencoba menahan lenguhannya dengan menggigit bibirnya namun sudah jelas lelaki itu gagal. Jiyoung menggerakan tangannya memainkan kejantanan Sehun, tangannya bergerak sedikit cepat dan sesekali dia menjilat kejantanan Sehun.

“Berhenti..” Sehun berkata membuat Jiyoung melepaskan mulutnya dari kejantanan Sehun.

“Noona, aku tidak bisa..dengan wajah Eunmi aku tidak yakin aku bisa.” Sehun mengungkapkan, Jiyoung menghela nafasnya.

“Aku mengerti, tapi jika Eunmi memberikanmu ijin apa kau akan melakukannya denganku?” Jiyoung mendorong Sehun sehingga lelaki itu berbaring diranjang rumah sakit.

“Tidak, tetap saja..”

“Bagaimana jika aku merasuki Yura? Kau akan melakukannya?”

Mendengar pertanyaan itu Sehun menelan ludahnya, dia sangat tergoda sekali dengan perkataan Jiyoung tapi bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan itu. Jiyoung tidak boleh ada didunia ini, seharusnya kakak tirinya itu ada di akhirat bukan berkeliaran mencari tubuh seperti ini.

“Tidak noona, itu lebih buruk..” Sehun menjawab.

“Kalau begitu apa yang kau mau? Jangan bertingkah lugu aku tahu apa yang ada didalam pikiranmu Oh Sehun.” Jiyoung menyentuh dagu Sehun.

“Percaya padaku noona, aku menginginkannya tapi…dengan situasi seperti ini aku tidak yakin jika aku bisa semuanya terlalu aneh dan tidak adil.” Sehun bangun dari posisi terbaringnya.

Dia menggunakan lagi celananya dan Jiyoung menghela nafasnya, sepertinya Sehun benar-benar tidak bisa melakukannya.

“Maafkan aku noona,aku hanya butuh waktu untuk berpikir.” Sehun berkata dan mencium dahi Jiyoung sekilas lalu pergi.

Jiyoung mengusap wajahnya dan meniup poninya, sepertinya usahanya untuk mendapat Sehun kembali sia-sia rasanya percuma sekali dia merasuki tubuh Eunmi jika Sehun masih belum bisa menerimanya.

“Kau lihat, semuanya sia-sia…Sehun tidak akan pernah bisa menjadi milikmu lagi Jiyoung.”

Mendengar suara itu Jiyoung mendongak dia menemukan sosok Boyoung dan Eunmi, Jiyoung melirik kearah lain menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Eonni…” Eunmi memanggil dan Jiyoung mengacuhkan panggilan Eunmi.

“Aku mengerti kau ingin bersama dengan Sehun tapi kalian sudah ada didunia yang berbeda sekarang, kau harus merelakan dia.” Eunmi berkata dan Boyoung mengangguk.

“Eunmi benar, sekarang keluarlah dari tubuh Eunmi kau sudah cukup lama ada ditubuh Eunmi.” Boyoung menyuruh.

“Eunmi..” Jiyoung memanggil.

“Ya Eonni?” wanita itu merespon.

“Bisakah..untuk terakhir kalinya, aku meminjam tubuhmu untuk bersama Sehun?”

Mendengar itu Eunmi menunduk, dia ingin membantu Jiyoung namun dia tidak rela jika Jiyoung kembali memiliki Sehun. Dia menyukai lelaki itu bagaimanapun juga, namun dia memutuskan untuk bersikap dewasa dan merelakan tubuhnya dipinjam oleh Jiyoung.

“Untuk terakhir kalinya, kau berjanji?” Eunmi berkata dan Jiyoung mengangguk.

“Untuk terakhir kalinya.” Ulang Jiyoung, wanita itu terlihat ingin menangis namun dia menahannya.

“Eunmi kau mengijinkannya?” Boyoung kelihatan terkejut.

“Untuk satu hari lagi, setelah itu kau harus keluar dari tubuhku.” Eunmi menjelaskan.

“Kau tak usah menjelaskannya, aku tahu.” Jawab Jiyoung.

“Bisakah kalian pergi? Aku ingin sendirian dulu.” Jiyoung meminta, akhirnya Boyoung dan Eunmi menurut.

Sosok kedua arwah itu pergi meninggalkan ruangan Jiyoung, Jiyoung melipatkan kakinya dengan memeluk kedua kakinya. Airmatanya tidak bisa terbendung lagi dan tumpah, dia merasa sangat putus asa sepertinya perkataan Boyoung benar bagaimanapun caranya dia tidak bisa kembali hidup.

Walaupun dia mencuri tubuh orang lain Sehun tidak akan menerima itu, Sehun bisa mengatakan kalau dia mencintai Jiyoung seribu kali namun ditelinga Jiyoung perkataan itu bagaikan kebohongan yang besar.

Jiyoung mengambil ponsel Eunmi, dia menghubungi nomor Sehun dan menunggu lelkai itu mengangkat teleponnya.

“Ya Eu..maksudku noona.” Sehun mengangkat teleponnya.

“Aku tahu kau tidak ingin melihatku sekarang, tapi aku ingin kita berpisah dengan baik..bisakah kita pergi kencan besok? Hanya kita berdua setelah itu aku akan menghilang selamanya.” Jiyoung berkata, dia bisa mendengar Sehun menghela nafasnya.

“Noona, kau tidak usah menghilang selamanya..aku tidak bermaksud untuk mengusirmu atau menjauhimu.” Sehun mengungkapkan, itu membuat Jiyoung merasa baikan.

“Baiklah, kita akan berkencan besok…berdandanlah yang cantik.” Sehun berkata.

“Terimakasih Sehun-ah.” Kata Jiyoung, dia tidak mendnegar balasan dari Sehun dan itu membuatnya khawatir.

“Hallo? Sehun? Apakah kau masih disana?”

“Noona, apa kau sadar? Ini pertamakalinya kau berterimakasih padaku dengan tulus.” Tanya Sehun, mata Jiyoung langsung melebar.

“Kau benar.” Dia tersenyum tipis.

“Karena kau bersikap sopan sekarang, sepertinya aku harus memberikanmu hadiah nanti.”

“Aku menunggu.”

Akhirnya mereka berdua mengakhiri telepon mereka, Jiyoung berbaring diranjang rumah sakitnya dan tersenyum saat dia melihat langit cerah kota Seoul. Mungkin besok dia dan Sehun bisa menghabiskan waktu bersama seperti dulu saat dia masih hidup dan Sehun masih mencintainya dengan tulus, dia hanya ingin melupakan kenyataan besok dan menikmati waktunya bersama Sehun.

****

Zhongren berlari dengan cepat, dia melirik kebelakang dan mengutuk saat dia melihat sekumpulan lelaki masih mengejarnya. Suara tembakan terdengar dari belakang dan dia mencoba menghindari tembakan itu, dia memilih jalanan yang berliku sehingga dia bisa bersembunyi didalam gang kecil yang ada didepannya.

Dia menyandar pada tembok gang kecil itu masih terengah-engah karena lelah, dia menyentuh tangannya yang terasa perih. Sial! Peluru tadi pasti menggores kulit tangannya karena dia sekarang bisa merasakan cairan hangat menyentuh telapak tangannya.

Zhongren berjalan pelan karena dia masih lelah, nafasnya terdengar sangat berat dan dia akhirnya jatuh ketanah. Dia tidak kuat lagi dia hanya ingi berbaring, tatapannya mulai buram sampai akhirnya dia mendengar langkah kaki seorang wanita.

Ahjusshi? Apa anda baik-baik saja? Ahjusshi!” Wanita itu memanggil namun Zhongren kehilangan kesadarannya.

“CUTT!!”

Suara sutradara terdengar dan semua lampu di set film hidup menyinari Zhongren dan Yura, Zhongren membuka matanya dan bangkit dari posisi terbaringnya dibantu oleh Yura yang tersenyum padanya.

“Akting yang bagus Zhongren-shi.” Yura memuji dan Zhongren mengangguk.

“Kau juga, untuk pemula kau cukup bagus.” Zhong balik memuji, mereka akhirnya berjalan menuju ruang ganti bersama.

“Ini sudah malam, apa kau akan pulang bersama Sehun?” Tanya Zhongren dan Yura menggelengkan kepalanya.

“Sehun sedang sibuk, dia harus lembur.” Yura menjawab sedikit kecewa, melihat teman kerjanya murung Zhongren tidak tega.

“Apa kau ingin aku mengantarmu?” Zhongren menaarkan, Yura kelihatan terkejut.

“Kau yakin?”

“Ya, lagipula aku membawa mobilku sendiri sekarang.” Zhongren menjawab lalu Yura mengangguk.

“Jika tidak merepotkan, kenapa tidak..” Yura berkata malu-malu.

“Baiklah, tunggu aku selesai menghapus semua make up ini dan kita pulang bersama.” Zhongren melambaikan tanganya kearah Yura dan masuk kedalam dressing roomnya.

Yura tersenyum sekilas, sepertinya hari ini dia tidak usah khawatir pulang sendirian. Andai saja Sehun tidak terlalu sibuk dia ingin sekali bertemu dnegan kekasihnya itu, Yura tidak ingin membuang waktunya dan pergi masuk kedalam ruangannya untuk mengganti baju dan membersihkan make up diwajahnya.

Taklama menunggu Zhongren sudah datang menjemputnya, mereka terlihat sangat dekat saat mereka berbincang-bincang sambil berjalan menuju tempar parkir. Semua kru film menyangka kalau mereka memiliki hubungan khusus, bahkan beberapa fans Zhongren merasa sedikit cemburu dengan kedekatan mereka.

Zhongren membukakan pintu mobilnya untuk Yura, membuat Yura tersenyum dan berterimakasih padanya. Setelah itu Zhongren masuk kedalam mobilnya dan duduk dikursi pengemudi dan menghidupkan mesin mobilnya.

“Terimakasih sudah mau mengantarku, kau baik sekali.” Ucap Yura, memecahkan hening diantara mereka.

“Sama-sama, kita teman bukan?”

Yura mengangguk dan melirik kearah jendela mobilnya, dia bisa melihat pemandangan Seoul yang indah dan dia tersenyum. Entah kenapa malam ini sepertinya jalanan Seoul terlihat lebih indah dari biasanya, Yura terkejut saat dia melihat kembang api disebuah taman dia juga melihat beberapa orang menyaksikannya dia ingin sekali melihat kembang api itu tapi ini sudah malam Zhongren mungkin sudah lelah.

“Apa yang sedang kau lihat?” Sura Zhongren mengagetkan Yura.

“Oh bukan apa-apa, hanya kembang api.” Jawab Yura.

“Kau ingin melihatnya?” Zhongren menawarkan, dia membelokan mobilnya dan parkir tepat didepan taman yang tadi Yura perhatikan.

“Kau yakin?”

“Ayo, nanti kita terlambat.” Zhongren turun dari mobilnya, Yura mengikuti Zhongren.

Mereka berdiri tidak jauh dari kumpulan orang-orang yang juga menonton kembang api yang ada didepan mereka, Yura merasa sedikit kedinginan diapun mengosokan kedua tangannya. Zhongren yang melihat itu melepaskan mantelnya dan melingkarkan dibahu Yura, Yura melirik kearah Zhongren terkejut.

“Tidak apa-apa, aku memakai jaket juga.” Zhongren menunjukan jaket coklat yang dia gunakan dibawah mantelnya.

Yura akhirnya menerima mantel Zhongren dan menarik mantel Zhongren, suara kembang api yang sedikit keras membuat Yura sedikit takut sehingga dia mundur beberapa langkah namun dia tetap menikmati kembang api yang ada didepan mereka.

“Andai Sehun dan Hyojung ada disini.” Yura bergumam, dia menunduk sedih karena dia merindukan Sehun.

“Mungkin lainkali kita bisa membuka Hyojung dan Sehun kesini.” Ucap Zhongren.

Yura mengangguk dan tersenyum, kembang api yang baru terdengar meluncur dan Yura terkejut dia berteriak namun Zhongren segera menutup telinga Yura saat kembang api itu meledak di langit. Yura yang merasakan sepasang tangan menyentuh telinganya membuka mata, dia terkejut saat dia menemukan Zhongren sangat dekat sekali dengannya bahkan dahi mereka bersentuhan.

“Zhongren-shi..”

Zhongren yang baru sadar dengan situasi mereka segera melepaskan tangannya drai telinga Yura, dia melirik kearah lain merasa malu dan canggung begitu juga dengan Yura. Dia bisa merasakan pipinya memanas entah kenapa jantungnya berdetak cepat sekali, Yura mengigit bibirnya dan memainkan jarinya menunggu Zhongren mengatakan sesuatu.

“I-ini sudah malam, sebaiknya kita pulang.” Zhongren akhirnya berkata, dia berbalik menuju mobilnya.

Yura mengangguk dan mengikuti aktor itu masuk kedalam mobil. Selama perjalanan mereka tidak mengatakan apapun karena masih merasa canggung, Yura semakin malu saat dia mengingat kalau tadi tangan Zhongren menyentuh kedua telinganya untuk melindunginya dan itu membuat Yura mulai menyukai Zhongren.

Yura memang menyukai Zongren namun tidak lebih dari teman awalnya, namun setelah kejadian tadi entah kenapa Yura mulai melihat Zhongren sebagai lelaki bukan sebagai teman seperti biasanya.

Yura sekarang tahu kenapa Hyojung begitu mencintai Zhongren, Zhongren adalah lelaki yang paling baik dna perhatian yang pernah dia temui. Dia mungkin terlihat canggung saat pertamakali mereka dekat, namun semakin Yura mengenali Zhongren semakin dia menyukai sosok lelaki itu.

“Zhongren-shi, apakah besok kau sibuk?” Tanya Yura, dia melirik kearah Zhongren yang menyetir mobilnya.

“Tidak, aku hanya harus syuting drama denganmu besok.” Jawab Zhongren.

“Bagus kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi untuk membeli es krim..aku yang traktir.” Yura mengajak dan Zhongren tersenyum.

“Kenapa tiba-tiba kau mengajakku membeli es krim?”

“Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, kau temanku bukan?”

Zhongren tersenyum mendengar itu dan mengangguk setuju, melihat anggukan kepala itu Yura tersenyum bahagia. Dia tidak pernah bosan menghabiskan waktu dengan Zhongren, Zhongren adalah orang yang mudah di ajak bicara dan mengerti pola pikirannya dia selalu tahu bagaimana membuat Yura terhibur itulah alasan utama mengapa mereka menjadi teman baik dan rekan kerja yang baik pula.

Seepertinya keputusan Joonmyeon untuk membuat dia dan Zhongren sebagai pemeran utama dalam drama tidak salah, mereka memiliki chemistry yang bagus didepan kamera ataupun tidak.

*****

“Oppa,kau yakin kita akan makan disini?” Hyojung bertanya, dia kebingungan saat Joonmyeon menghentikan mobilnya dirumah kaca yang mereka datangi tempo hari.

“Ya,pelayanku sudah menyiapkan makanannya diatas.” Joonmyeon berkata, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Hyojung.

“Kau tak usah repot-repot Oppa, lagipula ini hanya makan malam denganku.” Ucap Hyojung, Joonmyeon menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan perkataan Hyojung.

“Ini makan malam denganmu, tentu saja harus special.” Balas Joonmyeon, dia menarik tangan Hyojung menuju lantai dua rumah kaca.

Hyojung terkejut sata dia melihat lantai dua rumah kaca Joonmyeon yang dihias begitu indah, dia bisa melihat sebuah meja kecil dengan dua kursi didepannya cahaya yang menyinari mereka hanyalah cahaya dari lilin-lilin kecil yang ada ditembok dan pagar. Hyojung tidak bisa mengatakan apapun, suasana dilantai dua rumah kaca Joonmyeon sangat romantis sekali.

Taklama kemudian Hyojung mendengar suara musik klasik melantun tak jauh darinya dan dia bisa melihat dua orang pelayan yang memainkan biola dan piano. Hyojung menarik nafasnya terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya, Joonmyeon yang melihat ekspressi Hyojung tersenyum dan melingkarkan tangannya dipundak Hyojung.

“Bagaimana?kau suka?” Tanya Joonmyeon.

“Ya, terimakasih oppa.” Hyojung memeluk Joonmyeon, Joonmyeon menyentuh punggung Hyojung dan memeluk kembali gadis itu.

“Ayo kita duduk, makanan kita sudah menunggu.” Joonmyeon mengajak, dia menarik salah satu kursi agar Hyojung bisa duduk.

Hyojung duduk dikursi itu dan melirik kesekitarnya, Joonmyeon pasti mengahbiskan banyak waktu untuk merias lantai dua rumah kaca ini. Hyojung melihat banyak sekali bunga-bunga yang cantik disekitarnya bahkan harum juga. Joonmyeon memanggil salah satu pelayannya agar membawa makanan mereka, pelayan ityu menurut dan pergi mengambil makanan untuk Joonmyeon dan Hyojung.

“Bagaimana hubunganmu dengan Zhongren, apakah sudah baikan?” Tanya Joonmyeon, dia akhirnya duduk didepan Hyojung.

“Tidak juga, dia masih sibuk dengan dramanya.” Jawab Hyojung.

“Tenang saja Hyojung, jika kau tidak senang memikirkan Zhongren sebaiknya kau melupakan dia malam ini.” Joonmyeon menyeringai, Hyojung menatap kearah Joonmyeon penuh tanya sebenarnya apa maksud perkataan itu?

“Aku hanya bercanda, kau selalu terlihat sedih jika kita membicarakan Zhongren jadi sebaiknya kita tidak membicarakan dia.” Joonmyeon menjelaskan, Hyojung mengangguk.

“Oppa apa kau melakukan ini karena kau merasa kasihan padaku?” Hyojung tiba-tiba saja bertanya, Joonmyeon tidak mengerti darimana Hyojung mendapatkan kesimpulan itu.

“Apa? Tentu saja tidak..aku suka menghabiskan waktu bersamamu.” Jawab Joonmyeon.

“Kau yakin?aku hanya tidak ingin mengganggumu.” Hyojung mengungkapkan, Joonmyeon tersenyum saat dia melihat ekspressi rapuh yang Hyojung tunjukan.

“Aku yakin, aku tidak keberatan untuk menghabiskan waktu denganmu Hyojung kau layak mendapatkannya.” Joonmyeon berkata.

Perkataan Joonmyeon benar-benar menyentuh hati Hyojung, Joonmyeon selalu tahu bagaimana caranya untuk membuat Hyojung merasa special dia merasa bahagia sekali saking bahagianya dia lupa kapan terakhir dia tersenyum seperti ini.

“Aku tahu kau mungkin ingin makan malam bersama Zhongren sekarang, tapi aku berharap kau senang menghabiskan waktu denganku.” Ujar Joonmyeon.

“Tentu saja oppa, aku suka menghabiskan waktu denganmu.” Hyojung berkata dengan senyum manisnya.

Tanpa mereka sadari makanan mereka sudah sampai dan merekapun mulai memakan makan malam mereka, Hyojung kelihatan sangat menikmati makan malamnya namun entah kenapa Joonmyeon merasa sedikit khawatir. Entah kenapa dia merasa cemas, dia tidak bisa menikmati makan malamnya sehingga dia hanya makan sedikit.

Joonmyeon memiliki prasangka buruk dan itu membuatnya tidak tenang, Hyojung yang melihat itu menyentuh tangan Joonmyeon.

“Ada apa Oppa? Kau terlihat gelisah.” Tanya Hyojung khawatir.

Joonmyeon tidak tahu kenapa tapi saat Hyojung menyentuh tangannya semua kegelisahannya hilang berubah menjadi perasaan tenang dan nyaman. Joonmyeon tersenyum lalu menyentuh kembali tangan Hyojung, dia menggelengkan kepalanya.

“Bukan apa-apa, akuhanya lupa sesuatu.” Joonmyeon berbohong.

“Oppa jika kau punya masalah kau bisa menceritakannya denganku.” Ucap Hyojung.

“Aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir sebaiknya kau melanjutkan makan.” Joonmyeon menyuruh bahkan dia memotong steaknya dan memberikannya pada Hyojung.

Hyojung tersenyum tipis, walaupun Joonmyeon mengatakan kalau dia baik-baik saja Hyojung tahu ada sesuatu yang menganggu lelaki itu.

****

“Aku pulang!” Seru Yifan saat dia membuka pintu utama rumah,dia langsung disambut oleh Hyojin yang sedang duduk diruang tamu membaca buku tentang kehamilannya.

“Selamat datang, bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Hyojin menyambut, dia tersenyum kearah Yifan saat suaminya itu berjalan kearahnya dan duduk disampignya.

“Melelahkan,Oh iya tadi aku bertemu Sehun dia kelihatan aneh sekali.” Yifan mengungkapkan, itu membuat Hyojin penasaran dia menatap kearah Yifan meminta penjelasan lebih.

“Aneh bagaimana?”

“Dia kelihatan sering melamun, bahkan dia tidak memperhatikan presentasi yang bagian desain grafis tampilkan.” Yifan menjelaskan.

“Apakah mungkin dia sedangbertengkar dengan pacarnya? Atau mungkin keluarganya?” Yifan bertanya-tanya.

“Mungkin saja, kau juga seperti itu kalau kau sedang bertengkar denganku.” Hyojin menggoda, Yifan melirik kearah istrinya dan tersenyum.

“Kau benar, aku lelah…aku ingin mandi sebaiknya kau cepat tidur.” Yifan berkata dan mencium dahi Hyojin sebelum dia berdiri dari duduknya.

“Oppa.” Hyojin memanggil membuat Yifan melirik kearahnya.

Hyojin ingin mengutarakan niatnya untuk pergi ke Busan namun dia ragu, apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu?

“Bukan apa-apa, sebaiknya kau mandi dulu.” Hyojin akhirnya berkata dan Yifan mengangguk lalu pergi menuju kamar mereka.

Hyojin menghela nafasnya, dia menyimpan buku kehamilannya dan memijat keningnya. Dia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan niatnya untuk pergi ke Busan, dia tidak bisa mengatakan kalau dia ingin menyelidiki keluarga Joonmyeon karena Yifan pasti tidak akan setuju.

Hyojin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar namun langkahnya terhenti saat dia melihat mobil Joonmyeon berhenti didepan rumahnya, Aneh sekali Joonmyeon sering sekali datang kerumahnya belakangan ini sebenarnya apa yang lelaki itu rencanakan? Apalagi sekarang Hyojung dekat sekali dengan lelaki itu.

Hyojung turun dari mobil Joonmyeon dan Hyojin mengepalkan tangannya kesal, dia tidak suka jika Hyojung sering berurusan dengan Joonmyeon apalagi setelah dia tahu rencana lelaki itu dari Boyoung. Hyojung masuk kedalam rumah dan dia tersenyum saat dia melihat sosok kakaknya berdiri didepan tangga, Hyojung mendekat kearah kakaknya itu.

“Malam Eonni,apa yang kau lakukan disini sendirian?” Tanya Hyojung.

“Kau pergi bersama Joonmyeon lagi, kau tahu itu tidak pantaskan? Kau sudah bertunangan dengan Zhongren.” Hyojin berkata dan senyum Hyojung langsung hilang.

“Apa maksudmu Eonni? Aku dan Joonmyeon oppa hanya berteman.” Hyojung berkata dan Hyojin menatap tajam kearah Hyojung.

“Berhenti bersikap naïve Hyojung, Joonmyeon mungkin saja merencanakan sesuatu yang buruk.” Ucap Hyojin dan adiknya itu malah tertawa.

“Eonni, Joonmyeon oppa baik sekali padaku dia tidak mungkin jahat.” Hyojung berpendapat dan Hyojin mengerutkan keningnya tidak setuju.

“Hyojung kau belum megenal Joonmyeon yang sebenarnya, sebaiknya kau berhati-hati.” Hyojin memberi peringatan.

“Eonni, kau juga belum mengenal Joonmyeon oppa jadi sebaiknya kau tidak menilainya terlebih dulu.” Hyojung kelihatan kesal dan meninggalkan Hyojin.

“Jung Hyojung!” Hyojin memanggil namun adiknya itu tidak melirik sedikitpun dan masuk kedalam kamarnya.

Hyojin menghela nafasnya, adiknya itu tidak pernah percaya dengan pa yang dia katakan dan itu benar-benar membuat Hyojin khawatir, dia melirik kesampingnya menemukan sosok Boyoung berdiri disampingnya.

“Jangan biarkan adikmu lebih dekat dengan Joonmyeon, ingat dia berbahaya Hyojin.” Boyoung berbisik dan sosok arwah itu langsung menghilang.

Hyojin langsung berbalik menuju kamarnya, saat dia membuka pintu kamarnya dia bisa melihat Yifan baru saja selesai mengganti bajunya. Hyojin duduk diranjang mereka menunduk menatap kakinya, Yifan yang melihat istrinya murung seperti itu khawatir diapun memutuskan untuk duduk disamping Hyojin.

“Ada apa Hyojin? kau murung lagi.” Yifan bertanya dan Hyojin melirik kearah Yifan.

“Oppa, aku ingin pergi ke Busan.” Hyojin menyampaikan membuat Yifan terkejut.

“Kenapa? Tiba-tiba sekali..”

“Aku punya urusan pribadi dengan Yongguk oppa, bolehkah aku pergi?” Hyojin meminta ijin dan Yifan menghela nafasnya.

“Maaf Hyojin tapi aku khawatir dengan kehamilanmu, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan?” Yifan menyentuh perut Hyojin dan Hyojin tersenyum manis kearah suaminya.

“Aku akan baik-baik saja oppa.” Hyojin menenangkan.

“Tidak aku tidak bisa Hyojin, aku takut…” Yifan menjawab.

“Kalau begitu ikutlah denganku,aku benar-benar harus menyelesaikan masalah ini.” Hyojin bersi kukuh.

“Hyojin, keadaan anak kita lebih penting dari masalahmu.” Yifan membentak, dia tidak bermaksud untuk membentak dan segera menunduk mencoba menenangkan emosinya.

“Dengarkan aku, kita akan pergi ke Busan setelah aku menyelesaikan proyekku dengan Daeguk, aku akan ikut bersamamu dan kandunganmu pasti sudah cukup kuat nanti.” Yifan mencoba berkompromi namun saat dia melihat ekspressi Hyojin dia tahu istrinya itu tidak setuju.

“Oppa kau tidak mengerti, aku harus benar-benar menyelesaikan masalah ini..”

“Memang apa masalahmu?”

Hyojin terdiam saat dia mendengar pertanyaan Yifan, dia tidak bisa mengatakan apapun pada Yifan dia harus merahasiakan kecurigaannya pada Joonmyeon sampai dia yakin jika apa yang Boyoung katakan benar. Dia tidak ingin berakhirnya memfitnah Joonmyeon, lelaki itu sangat baik padanya dia tidak mungkin menuduh Joonmyeon tanpa bukti apalagi sumber yang dia punya adalah seorang arwah yang sudah lama meninggal tepatnya arwah ibu Zhongren.

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang Oppa, tapi aku janji setelah aku yakin..aku akan menjawab setiap pertanyaanmu.” Hyojin menjawab, dia berbaring diranjangnya.

“Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku Hyojin?” Yifan bertanya dia menyentuh pundak istrinya.

“Aku tidak mau membahasnya oppa.” Jawab Hyojin, dia menutup matanya pura-pura tidur.

Yifan kelihatan sangat kecewa, Hyojin biasanya sangat terbuka padanya namun entah kenapa soal masalah ini Hyojin sepertinya tidak mau berbagi sedikitpun dnegan Yifan. Yifan tidak mau mengangguk Hyojin, dia mencium dahi istrinya dan pergi keluar dari kamar mereka.

Hyojin yang mendengar pintu kamarnya ditutup membuka matanya, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Yongguk yang menyuruhnya untuk menjemputnya besok di stasiun kereta api. Dia tahu Yifan akan sangat marah sekali, namun dia tidak bisa terus diam jika apa yang dikatakan Boyoung benar dia akan menjauhkan Zhongren dan Hyojung dari Joonmyeon.

Hyojung terseyum dan mulai mengganti bajunya, hari ini dia senang sekali karena Joonmyeon mengajaknya makan malam. Dia lupa merasakan perasaan bahagia seperti ini, Zhongren terlalu sibuk sehingga mereka jarang sekali pergi berkencan namun Joonmyeon selalu ada,membuat waktu untuknya walaupun tidak mewah Hyojung menikmatinya dia suka percakapannya dengan Joonmyeon.

Lelaki itu selalu mendengarnya dan menghargai setiap pendapatnya memperlakukanya seperti wanita dewasa yang memiliki pendapat dan pemikiran sendiri berbeda dengan Zhongren, mungkin karena Zhongren sudah mengenal dia saat dia masih remaja terkadang Zhongren masih menganggapnya sebagai gadis kecil.

Hyojung meleaskan anting yang dia gunakan dan mulai menghapus make up yang dia gunakan, setelah dia selesai dia mendengar pintu kamarnya dibuka. Dia terkejut saat dia melihat sosok Zhongren, Zhongren tersenyum kearahnya dan pergi kekamar mandi kamarnya.

“Kau darimana saja oppa?” Tanya Hyojung, Zhongren pulang terlambat dari biasanya dan itu membuat Hyojung sedikit curiga.

“Aku harus mengulang syuting,jadi aku pulang terlambat.” Ucap Zhongren singkat, dia keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya.

“Kau juga dari mana? Aku melihat kau menghapus make up mu?” Zhongren balik bertanya membuat Hyojung sedikit panik, dia tidak bisa mengatakan kalau dia baru pulang dari makan malamnya bersama Joonmyeon.

“Aku harus mengurus proyek baru Daeguk.” Hyojung berbohong, Hyojung lalu berdiri dari kursi meja cerminya dan berbaring diranjangnya.

“Kapan episode pertama dramamu diluncurkan?” Tanya Hyojung, saat Zhongren bergabung dengannya berbaring diranjang mereka.

“Mungkin hari kamis? Entahlah..kau tahu mereka harus mengeditnya dulu.” Zhongren menjawab dengan malas.

“Begitu ya, bagaimana dengan syutingmu?”

“Lancar, aku lelah sebaiknya kau juga tidur..selamat malam.” Zhongren mengakhiri percakapan mereka, dia mencium sekilas bibir Hyojung dan tidur mengacuhkan Hyojung yang menatap kearahnya penuh kekecewaan.

Hyojung berbalik membelakangi Zhongren, entah kenapa rasanya ciuman kekasihnya itu hambar sekali tidak ada rasa cinta ataupun kerinduan yang biasa dia rasakan dari Zhongren. Semuanya terasa datar dan membosankan, Hyojung menghela nafasnya dia mungkin sudah kehilangan hasrat Zhongren mungkin lelaki itu sudah tidak tertarik padanya.

*****

Sehun berlari kelobi perusahaannya saat dia melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh Jiyoung, dia bisa melihat sosok Eunmi atau Jiyoung menunggunya dilobi kantor. Sehun khawatir sekali, malam ini udara sangat dingin lalu kenapa gadis itu menunggunya diluar sambil memainkan ponselnya.

“Noona..” Sehun memanggil dan Jiyoung melirik kearah Sehun, dia tersenyum saat melihat Sehun terengah-engah.

“Apa yang kau lakukan disini?! Kau seharusnya ada dirumah sakit!” Sehun mengomel, Jiyoung hanya tersenyum dan memeluknya.

“Aku merindukanmu.” Ucap Jiyoung, Sehun yang mendnegar itu tersenyum bahagia.

“Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, sebaiknya kau menunggu di kantorku.” Sehun menarik tangan Jiyoung.

Jiyoung mengikuti langkah Sehun, mereka beruntung sekali karena kantor mulai sepi sehingga tidak ada orang yang melirik kearah mereka dengan pandangan aneh dan menilai mereka. Sehun dan Jiyoung akhirnya masuk kedalam kantor Sehun, Jiyoung akhirnya duduk disalah satu kursi yang ada dikantor Sehun sedangkan Sehun kembali duduk di kursinya.

“Kantormu cukup besar.” Jiyoung berkata, dia memperhatikan buku-buku yang ada di rak buku kantor Sehun.

“Kau suka?” Tanya Sehun.

“Ya, kantormu nyaman juga.” Jiyoung berjalan kearah jendela besar kantor Sehun.

Dia bisa melihat pemandangan kota Seoul yang indah, dia menyentuh kaca jendela itu dan tersenyum. Kota Seoul memang sangat indah saat malam hari, dia bisa melihat beribu-ribu lampu yang terlihat seperti bintang kecil dibawahnya.

Jiyoung sudah lama tidak menikmati pemandangan seperti ini, belakangan ini dia terlalu sedih untuk menikmati apapun. Sebagai arwah dia hanya bisa pergi keberbagai tempat, walaupun begitu dia tetap merasa bosan dan kesepian walaupun banyak sekali orang yang berlalu-lalang dihadapannya tak ada seorangpun yang bisa melihatnya.

Jiyoung bisa merasakan kembali udara dingin, dia lupa tidak membawa jaketnya karena dia masih merasa kalau dia adalah arwah. Dia lupa kalau sekarang dia memiliki tubuh dan bisa merasakan apapun yang manusia biasa rasakan, dia menggosokan tangannya dan meniupnya namun dia terkejut saat dia merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang.

“Aku merindukanmu juga, Noona.” Sehun berbisik membuat Jiyoung tertawa geli karena nafas Sehun menyentuh telinganya.

“Oh ya? Kau kelihatan tidak merindukanku saat kita ada dirumah sakit.” Balas Jiyoung.

“Aku masih terkejut, apa kau benar-benar Jiyoung noona?” Sehun bertanya penuh keingin tahuan, Jiyoung hanya tertawa.

“Tentu saja, apa aku harus menceritakan kekonyolanmu saat kecil? Oh iya, haruskah aku menceritakan saat kau mengatakan kalau kau akan menikahi aku didepan Eomma dan Appa?” Jiyoung menggoda dan Sehun tertawa.

“Ah…kau benar-benar Jiyoung noona.” Sehun berkata dan dia mencium leher Jiyoung, Jiyoung mengelus pipi Sehun penuh kasih sayang.

“Sehun, aku sudah membicarakannya dengan Eunmi.” Jiyoung tiba-tiba saja berkata, Sehun melepaskan pelukannya.

Jiyoung berbalik dan menatap kearah Sehun, dia tersenyum tipis dan menyentuh pipi Sehun entah kenapa lelaki itu menunjukan ekspressi yang sangat menyedihkan. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam seakan dia akan menangis namun dia menahannya, Jiyoung menghela nafasnya.

“Aku akan pergi,tapi sebelum aku pergi…aku ingin kita bersama untuk terakhir kalinya.” Jiyoung mengungkapkan, Jiyoung sendiri ingin menangis namun dia menahannya sekuat tenaga.

“Oh begitu,baiklah…besok mari kita habiskan waktu bersama.” Sehun membalas, nada suaranya terdengar tidak bersemangat sama sekali.

“Aku tidak ingin menunggu besok, aku ingin kau..sekarang.” Jiyoung berkata, Sehun terkejut dia menatap kearah Jiyoung dengan mata lebarnya.

“Noona tapi aku..”

“Sekarang Sehun, aku ingin bersamamu.”

Mendengar itu Sehun mengangguk, dia menarik Jiyoung keluar dari kantornya bahkan lelaki itu tidak melepaskan tangan Jiyoung saat mereka masuk ke lift kantor. Mereka sampai di lobby Sehun tidak membalas orang-orang yang memberikannya sapaan, orang-orang yang melihat itu hanya kebingungan biasnaya Sehun ramah dan membalas sapaan mereka.

Sehun mendorong Jiyoung masuk kedalam mobilnya, dia menancap gasnya secepat mungkin menuju apartemennya. Jiyoung menyentuh tangan Sehun memberi isyarat agar lelaki itu tenang, tidak ada gunanya untuk terburu-buru.

Tidak memakan waktu lama mereka akhirnya sampai di apartemen Sehun, apartemen Sehun masih seperti dulu tidak ada perubahan yang signifikan hanay saja Jiyoung menyadari kalau semua fotonya tidak ada. Semua fotonya sudah di ganti oleh foto Yura dengan Sehun, dia ingin sekali marah namun itu percuma karena Jiyoung tahu Sehun lambat laun harus melupakan dia.

Sehun mendorong Jiyoung ketembok ruang tamu mereka, dia tidak mengatakan apapun hanya menatap tajam kearah mata Jiyoung. Walaupun begitu anehnya Jiyoung tahu apa yang ingin Sehun sampaikan, dia tahu kalau lelaki itu menginginkannya lebih dari apapun dia bisa menebaknya dari sentuhan dan tatapan Sehun.

Jiyoung menyentuh kedua sisi wajah Sehun menarik lelaki itu untuk menciumnya, Sehun malah mendorong Jiyoung sehingga Jiyoung terdiam. Apakah dia tidak akan mengijinkannya Jiyoung untuk menciumnya? Jiyoung bertanya pada dirinya sendiri.

Sehun mendekat dan akhirnya bibir mereka bertemu, Jiyoung membuka mulutnya dan membiarkan Sehun menjelajahi mulutnya. Sehun melumat bibir Jiyoung, Jiyoung menutup matanya kepalanya terasa kosong dan tubuhnya terasa melayang setiap kali dia merasakan ciuman dari Sehun.

Tangan Sehun mulai membuka kardigan abu-abu Jiyoung dan melemparkannya kelantai, Jiyoung sendiri sudah membuka kancing baju kemeja Sehun satu- persatu. Sementara mereka sibuk membuka pakaian masing-masing lidah mereka bergelut memperebutkan dominasi, Sehun pada akhirnya menang setelah Jiyoung melepaskan ciuman mereka karena di abutuh benafas.

Sehun mengangkat tubuh Jiyoung dengan ringannya, dia kembali mencium wanita itu sampai dia puas. Dia ingin menanam semua memori tentang malam ini dalam otaknya karena Sehun tahu, besok dia mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Jiyoung.

*******

“Kau mau kemana?” Tanya Sehun.

“Aku harus pulang, bagaimana jika Yura tahu kalau aku disini? Dia pasti sangat marah.” Jawab Jiyoung, Sehun tersenyum mendengar perkataan itu lalu dia menarik Jiyoung kedalam pelukannya.

“Tenang saja, dia tidak akan datang kesini besok dia sibuk syuting.” Sehunmenjelaskan, dia mencium leher Jiyoung.

“Kau yakin?”

“Ya, besok kita akan menghabiskan waktu bersama sampai malam kau sebaiknya tidur noona.” Sehun menyuruh, dia menarik selimut ranjangnya dan menyelimuti tubuh telanjang Jiyoung dan dirinya.

Jiyoung mendekat dan memeluk Sehun, Sehun melingkarkan tangannya dipundak Jiyoung dan mengelus pipi Jiyoung dengan lembut. Jiyoung merasa mengantuk saat dia merasakan sentuhan lembut Sehun, dia mengelus tangan Sehun diwaktu yang sama membuat Sehun menutup matanya.

“Besok..kita akan pergi kemana?” Tanya Jiyoung.

“Kemanapun yang kau mau.” Jawab Sehun, Jiyoung tersenyum mendengar jawaban itu.

“Aku ingin pergi kepantai dan menginap di villa kita.” Jiyoung berkata, dia bisa merasakan Sehun mengangguk.

“Baiklah, kita akan kesana besok.” Ucap Sehun.

Mereka terdiam sebentar,Jiyoung bisa mendengar detak jantung Sehun dari dadanya detak jantung Sehun tidak terlalu cepat dan sangat menenangkan. Jiyoung ingin sekali menghentikan waktu agar mereka bisa terus seperti ini, dia tidak ingin berpisah dengan Sehun dia ingin terus bersama lelaki itu sampai akhir hayatnya.

“Sehun aku takut.” Jiyoung tiba-tiba saja berkata.

“Kenapa noona? Aku ada disini.”

Jiyoung tidak menjawab, dia menghirup harum tubuh Sehun dan memeluk lelaki itu lebih erat airmatanya kembali mengancam untuk turun namun Jiyoung menahannya sekuat tenaga. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Sehun, dia tidak ingin membuat Sehun khawatir dan sedih namun sepertinya usahanya gagal karena akhirnya airmatanya menetes membasahi dada Sehun.

“Noona?”

“Aku takut Sehun, sangat takut..” Ucap Jiyoung sambil menangis.

“Noona, apapun yang terjadi..aku selalu ada disampingmu.” Sehun mencium dahi Jiyoung untuk menenangkan wanita itu.

“Jangan tinggalkan aku Sehun-ah.” Jiyoung berbisik sebelum dia akhirnya tidur.

******

“Hyojin-ah!!” Suara Yongguk terdengar, Hyojin melirik kearah sumber suara itu dan tersenyum kearah Yongguk.

“Oppa!”

“Aigoo..apa kau sendiri kesini?mana Yifan?” Tanya Yongguk, lelaki itu langsung mengambil tas yang Hyojin bawa padahal tas Hyojin tidak begitu berat.

“Sibuk…jadi aku memutuskan untuk pergi sendirian.”

“Sendirian?! Kenapa? Apa Yifan tahu soal ini?”

Yongguk menatap kearah Hyojin penuh kecurigaan, dia tahu jika Hyojin kabur Yongguk bisa membacanya dari ekspressi panik wanita itu. Yongguk menghela nafasnya, Jung Hyojin yang dia tahu ternyata tidak berubah sedikitpun masih keras kepala dan mandiri seperti dulu saat wanita itu masih kecil. Yongguk bangga dengan sikap Hyojin yang mandiri dan memiliki pendirian yangkuat tapi mengingat wanita itu sedang hamil Yongguk sangat khawatir, namun Yongguk sedikit lega saat dia melihat Hyojin baik-baik saja.

“Ayo cepat kita pulang, ini sudah malam kau pasti kedinginan.”

Yongguk melepaskan jaket yang dia gunakan dan melingkarkannya pada bahu Hyojin. Hyojin menerima jaket itu dan tersenyum manis kearah Yongguk, Yongguk melingkarkan tangannya dibahu Hyojin melindungi Hyojin dari dorongan orang-orang yang akan naik kereta.

“Dimana Taeyeon? Aku tidak melihat dia..”

Yongguk yang mendengar pertanyaan Hyojin tersenyum.

“Tenang saja, dia ada dirumah sedang menyiapkan kamar untukmu.” Jawab Yongguk.

“Kalian tidak usah repot-repot..” Ujar Hyojin.

“Tidak Hyojin, kau tamu kami jadi kami harus memberikanmu servis yang bagus.” Yongguk bercanda membuat Hyojin tertawa.

“Terimakasih Oppa.” Ucap Hyojin.

Yongguk yang mendengar itu hanya mengangguk, dia membukakan pintu mobil SUV nya untuk Hyojin dan menyimpan tas wanita itu dibelakang. Yongguk segera masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobil,Hyojin melirik kearah pemandangan Busan dari kaca mobilnya mungkin penasaran dengan suasana kota Busan yang berbeda sekali dengan Seoul.

“Ngomong-ngomong kau mau apa ke Busan? Kau tidak menceritakannya dengan jelas saat di telepon.” Yongguk bertanya, Hyojin kelihatan tegang saat dia mendengar pertanyaan itu.

“A-aku harus pergi kesebuah rumah sakit, mungkin besok bisakah kau mengantarku?”

Yongguk sangat khawatir saat dia mendengar kata rumah sakit terdengar dari mulut Hyojin, apakah wanita itu baik-baik saja? Apakah kandungannya bermasalah?

“Hyojin kau tidak sakitkan?” Tanya Yongguk dengan lembut.

“Tidak Oppa, kau tidak usah khawatir..aku hanya ingin bertemu dengan seseorang.”

Hyojin menjawab dan tersenyum kearah Yongguk, mereka tidak berbincang lagi setelah itu karena Hyojin kelihatan lelah.

Setengah jam berlalu mereka akhirnya sampai dirumah sederhana Yongguk dan Taeyeon, Taeyeon langsung menyambut Hyojin dengan ramah. Ternyata mereka sudah tinggal bersama Hyojin sedikit terkejut, Yongguk mengatakan kalau mereka akn menikah setelah mereka memiliki uang yang cukup karena mereka masih harus melunasi rumah yang sekarang mereka tinggali.

Hyojin duduk diranjang kamar yang sudah Taeyeon dan Yongguk siapkan untuknya, Dia menghidupkan ponselnya dan menemukan sepuluh panggilan tidak terjawab dari Yifan. Hyojin tahu Yifan pasti marah sekali saat dia menemukan kalau istrinya pergi sendirian, Hyojin juga mendapatkan pesan dari Hyojung dan Zhongren.

Merasa khawatir akhirnya Hyojin menghubungi nomor suaminya, dia menunggu beberapa menit sampai akhirnya Yifan mengangkat teleponnya.

“Hyojin! Dimana kau?” Suara Yifan terdengar sangat khawatir.

“Aku ada di Busan Oppa, maaf aku harus menyelesaikan masalahku.”

Hyojin mendengar helaan nafas dari Yifan, entah lelaki itu lega atau mencoba menahan amarahnya.

“Sudah kubilangkan kau tidak boleh pergi ke Busan? Apa yang kau pikirkan?! kau bisa membahayakan bayi kita Hyojin!” Yifan marah.

“Aku tahu Oppa, tapi aku baik-baik saja..aku akan kembali besok.”

“Tidak usah! Aku akan ke Busan sekarang dan menjemputmu.”

“Tapi Oppa!”

“Tidak ada tapi-tapian! Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian jika kau punya masalah untuk diselesaikan kita selesaikan bersama.” Ucap Yifan, tentu saja Hyojin tidak bisa membantah perkataan Yifan karena perintah Yifan selalu absolut.

“Baiklah, aku ada dirumah Yongguk oppa, aku akan menyuruhnya untuk menjemputmu nanti.” Hyojin menurut.

“Baiklah, tunggu aku.”

Yifan mengakhiri sambungan teleponnya, Hyojin menghela nafasnya dia menatap kearah langit malam Busan dan menunduk sedih.

“Kau melakukan hal yang benar Hyojin.”

Mendengar suara Boyoung , Hyojin mendongak dan menatap kearah arwah itu.

“Sebaiknya kau tidak berbohong padaku soal Joonmyeon.”

“Aku bersumpah Hyojin, aku tidak berbohong…besok setelah kau sampai dirumah sakit jiwa Pyeonghwa katakan kau ingin bertemu dengan Cha Mira.”

“Siapa dia?”

“Dia ibu Joonmyeon.”

Mendengar jawaban itu mata Hyojin melebar, apakah Boyoung mengatakan yang sebenarnya? Kenapa ibu Joonmyeon ada dirumah sakit jiwa? Apakah wanita itu gila? Lalu kenapa Boyoung ingin dia berbicara dengan seseorang yang gila?

“Apa dia gila?” Tanya Hyojin, Boyoung menggelengkan kepalanya.

“Tidak, Joonmyeon yang menjebaknya.”

Hyojin menarik nafasnya terkejut, bagaimana mungkin Joonmyeon dengan teganya menjurumuskan ibunya sendiri kerumah sakit jiwa. Itu sanagt kejam sekali, dia benar-benar tidak percaya dengan semua perkataan Boyoung, sepertinya dia sendirilah yang gila bukan ibu Joonmyeon mungkin sosok Boyoung hanyalah imajinasinya semua ini benar-benar sangat membingungkan.

“Hyojin, kau harus menyelamatkannya..jika dia bebas kau bisa menyelamatkan Zhongren.” Boyoung membujuk.

Belum sempat Hyojin menjawab sosok Yongguk masuk kedalam kamarnya dan sosok Boyoung langsung menghilang, lelaki itu tersenyum kearahnya dan memberikannya sebuah bantal yang empuk.

“Untuk apa ini?” Tanya Hyojin.

“Agar kau bisa tidur nyenyak, aku tahu kau susah tidur jika kau tidak tiodur dikamarmu.” Yongguk menjawab, dia mengelus kepala Hyojin penuh kasih sayang.

“Terimakasih Oppa, oh iya! Yifan oppa akan menyusul…aku sedikit khawatir bisakah kau menjemput dia juga?” Hyojin meminta dan Yongguk mengangguk.

“Aku sudah tahu, dia menghubungiku…dia yang menyuruhku untuk memberikan bantal ini.” Yongguk menjawab, Hyojin tersenyum bahagia dan memeluk bantal yang ada dipangkuannya.

“Aku harus pergi dulu, tidurlah jika kau belum mengantuk Taeyeon ada diruang tamu dia sedang menonton drama.” Yongguk memutar matanya bosan, Hyojin tertawa dia tahu Taeyeon sangat menyukai drama.

“Baiklah, tapi aku sedikit mengantuk mungkin aku akan tidur.” Jawab Hyojin.

Yongguk berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Hyojin untuk tidur, Yongguk melirik kebelakang sekilas dan dia bisa melihat Hyojin berbaring diranjangnya. Hyojin kelihatan kesepian dan sedih Yongguk berpikir, apakah hubungan dia dengan Yifan sedang tidak baik?

Yongguk membuang firasat buruk itu dan keluar dari kamar Hyojin, saat dia keluar dia menemukan sosok Taeyeon berdiri diambang pintu ruang tengah rumah kecil mereka. Taeyeon kelihatan tidak senang dan itu membuat Yongguk bertanya-tanya, entah kenapa Taeyeon sepertinya tidak menerima kehadiran Hyojin dirumah mereka.

“Apa Hyojin sudah tidur?” Tanya Taeyeon, Yongguk mengangguk dia mendekat kearah Taeyeon dan menyentuh pipi kekasihnya itu.

“Ya, dia lelah.” Jawab Yongguk singkat, dia mencoba mencium bibir Taeyeon namun Taeyeon malah memalingkan wajahnya.

“Ada apa? Kau marah?”

Taeyeon tidak menjawab dia hanya diam seribu kata membuat Yongguk kesal, ini adalah salah satu sifat Taeyeon yang tidak dia sukai. Taeyeon tidak pernah mengungkapkan perasaanya membuat Yongguk kebingungan, Yongguk bukanlah peramal yang tahu bagaimana perasaan Taeyeon mereka berdua adalah individu yang sangat berbeda itulah kenapa mereka harus saling terbuka dengan satu sama lain.

Yongguk menghela nafasnya, dia menyentuh tangan Taeyeon membuat Taeyeon akhirnya melirik kearahnya. Matanya wanita itu memancarkan berbagai emosi yang tidak bisa Yongguk ketahui, dia memcoba membaca apa yang kekasihnya itu ingin sampaikan namun dia tetap tidak mengerti.

“Katakan padaku Taeyeon ada apa? Kau tidak boleh seperti ini…aku bukan peramal yang bisa membaca pikiranmu.” Ucap Yongguk, Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Bukan apa-apa, aku hanya…” Taeyeon tidak menamatkan kalimatnya, sepertinya dia sedang ragu-ragu.

“Tidak apa-apa, kau tahu kau bisa terbuka padaku.” Yongguk membujuk, dia mencium dahi Taeyeon membuat Taeyeon tersenyum tipis.

“Aku tahu itu tapi aku merasa seperti gadis SMA yang kekanak-kanakan jika aku mengatakan ini.” Taeyeon akhirnya mengungkap.

“Aku tidak akan menilaimu seperti itu, aku tahu kau wanita dewasa.” Yongguk berkata.

“Baiklah, apa hanya ingin tahu..apakah kau masih mencintai Hyojin?”

Mendengar pertanyaan itu Yongguk sekarang tahu ekspressi apa yang Taeyeon tampilkan tadi, sekarang dia mengerti dengan jelas apa yang Taeyeon rasakan. Sepertinya kekasihnya itu masih merasa terancam dengan keberadaan Hyojin, mungkin itu juga sebagian kesalahannya karena dulu dia pernah bercerita betapa dia mencintai Hyojin pada Taeyeon.

“Hahaha jadi kau marah karena itu? Taeyeon aku sudah melupakan Hyojin, kau satu-satunya untukku.” Yongguk menenangkan Taeyeon.

Rasanya lega sekali saat dia melihat senyum mengembang dibibir Taeyeon, Taeyeon langsung memeluknya membuat Yongguk tersenyum dan mencium kepala Taeyeon dengan lembut dia mendapatkan tawa Taeyeon untuk balasannya.

“Aku tahu, aku hanya bersikap konyol…maafkan aku.” Taeyeon akhirnya melepaskan pelukan Yongguk.

“Sekarangg pergilah, jemput Yifan dan kau tak usah cemburu…jawabanku sama dengan jawabanmu.” Taeyeon berkata sambil tersenyum, Yongguk mengangguk dan mengambil jaketnya untuk kembali kestasiun kereta api menjemput Yifan.

*****

“Kau yakin dia Jo Eunmi?” Tanya Joonmyeon, dia sangat terkejut saat mendengar laporan Zitao.

“Aku yakin tuan, kau bisa melihat fotonya…aku sendiri tidak mengerti.” Ungkap Zitao, dia kira Oh Sehun adalah kekasih Kim Yura yang setia namun ternyata tidak.

“Hm..menarik, aku rasa aku harus bertemu dengan wanita ini.”

Joonmyeon menatap kearah foto Eunmi dan Sehun yang sedang berbincang didepan perusahaan Daeguk, Zitao benar-benar mendapatkan angle yang bagus karena dia bisa melihat jelas wajah Eunmi dan Sehun mereka juga berpelukan dan Sehun menarik Eunmi masuk kedalam perusahaan sambil menggengam tangan wanita itu dengan mesra.

Siapapun yang melihatnya tentu akan berspekulasi kalau mereka adalah sepasang kekasih, Joonmyeon sepertinya harus menyingkirkan wanita ini karena dia bisa saja menghancurkan rencana Joonmyeon yang sudah dia susun dengan rapih. Joonmyeon tahu siapa Jo Eunmi, wanita itu adalah putri rekan kerjanya direktur Jo Jihoon pemilik perusahaan finance yang cukup sukses.

“Berapa lama mereka ada dikantor?” Tanya Joonmyeon.

“Sekitar sepuluh menit, mereka keluar dan pergi menuju apartemen Oh Sehun.” Zitao menjawab dengan detail.

“Hm..menarik, apakah mereka sangat dekat?”

“Dari gestur yang mereka tunjukan, ya aku yakin mereka sangat dekat sekali.”

Joonmyeon tidak senang dengan jawaban Zitao, Eunmi..wanita itu benar-benar akan menghancurkan rencananya jika dia terus membiarkan Eunmi lebih dekat dengan Sehun kemungkinan besar Sehun akan membiarkan Yura pergi begitu sajadan itu akan membuat Zhongren selamat dia akan baik-baik saja. Pemikiran itu membuatnya marah, dia memukul mejanya dengan keras membuat Zitao terkejut.

“Singkirkan Jo Eunmi, jangan biarkan dia lebih dekat dengan Sehun.” Titahnya dan Zitao mengangguk.

“Apa kau ingin aku membunuhnya?”

“Oh tidak, mari bermain lembut dulu…siapa tahu dia mau mundur.”

“Kau sebaiknya mengumpulkan semua foto mesra Eunmi dan Sehun, berikan foto itu pada Kim Yura dan kita lihat bagaimana reaksi aktris kesayangan kita itu.” Joonmyeon menyeringai.

“Baik tuan, besok aku akan mengambil foto mereka.”

Joonmyeon hanya mengangguk tidak peduli, dia berdiri dari kursinya dan berjalan kearah foto Kim Taehyun ayahnya yang dipajang di ruangan kantor dia.

Abeoji,tenang saja aku akan memenangkan permainan ini kau akan kalah seperti biasanya.” Joonmyeon berkata lalu dia tertawa penuh kemenangan.

Zitao hanya bisa menyaksikan kelakuan aneh tuannya itu, entah apa yang Joonmyeon dan ayahnya mainkan namun dia tahu permainan yang mereka mainkan bukanlah permainan yang adil dan bersih.

“Oh iya, bagaimana dengan keadaan Hyojin? Apakahada aktivitas yang mencurigakan?” Joonmyeon akhirnya berbalik menghadap kearah Zitao.

“Aku dengar Hyojin pergi ke Busan bersama Yifan,aku tidak tahu apa tujuan mereka tuan tapi sepertinya mereka hanya mengunjungi saudara mereka Yongguk dan Taeyeon.” Zitao menjawab.

Saat mendengar kata Busan entah kenapa Joonmyeon menjadi khawatir, dia tahu rahasia terbesarnya ada disana namun dia mencoba untuk menyembunyikan kepanikannya mungkin saja apa yang Zitao katakan benar. Lagipula darimana Hyojin akan tahu soal rahasianya? Wanita itu tidak kelihatan tertarik pada kehidupannya dan mereka jarang sekali berkomunikasi.

“Sudah cukup sekarang kau boleh pergi, kabari aku lagi soal Sehun dan Eunmi besok siang.”

Zitao seperti biasanya menurut dan pergi meninggalkan Joonmyeon sendirian diruangan kantornya, Ini sudah hampir tengah malam namun entah kenapa Joonmyeon tidak juga meninggalkan kantornya dia lebih suka diam diruangan ayahnya Kim Taehyun. Joonmyeon mengelus meja kayu jati ayahnya dan tersenyum, dia masih ingat jika dulu dia ingin sekali menyentuh meja ini dia juga sudah lama ingin duduk dikursi direktur utama yang biasa ayahnya duduki.

Sekarang semua barang yang ada diruangan ini miliknya, semua pegawai dan semua rekan kerjanya tahu kalau sekarang dialah pemilik perusahaan K&T. segala yang dia inginkan sekarang ada ditelapak tangannya namun entah mengapa Joonmyeon masih merasa hampa, entah mengapa semua kekayaannya terasa seperti pasir yang ringan dan kering tidak memberikan efek apapun padanya.

Tangan Joonmyeon berhenti mengusap meja ayahnya, dia membuka laci meja ayahnya dan dia menemukan file yang dibungkus dengan map merah. Dia tahu apa isi map itu, map itu berisi semua kebusukannya mulai dari kebusukan yang kecil sampai kebusukannya yang bisa membuat seluruh dunia membencinya.

Dia mengambil map itu dan menghidupkan mesin penghancur kertas yang ada disamping mejanya, satu persatu kertas yang ada didalam map itu dia hancurkan dengan senyum kemenangannya sekarang tidak akan pernah ada orang yang bisa mengalahkannya. Beberapa lembar kemudian dia berhenti saat dia melihat sebuah artikel, sebelumnya dia tidak pernah melihat artikel itu.

‘Istri pengusaha kaya Kim Taehyun gila?’ dibawah judul artikel itu Joonmyeon melihat foto ibunya yang dipajang sangat besar, Joonmyeon mengacuhkan artikel itu lalu memasukannya kedalam mesin penghancur kertas sampai akhirnya semua kertas yang ada didalam map merah itu hancur didalam mesin.

*****

Pagi sudah menyongsong dan Jiyoung sekarang berdiri didepan cermin dikamar Sehun, dia tidak tahu jika Sehun masih menyimpan semua baju dan aksesorisnya. Walaupun sebagian besar pakaian Jiyoung sudah tidak ada, dia senang sekali karena Sehun masih menyimpan beberapa pasang bajunya yang sangat dia sukai.

“Aku masih menyimpan semua pakaian kesukaanmu noona, aku rasa aku tidak sanggup untuk memberikannya pada orang lain.” Sehun berkataan saat dia selesai mengganti bajunya.

“Terimakasih, kau baik sekali.” Jiyoung berkata dan berbalik untuk menatap kearah Sehun yang berdiri dibelakangnya.

“Apapun untukmu noona.” Sehun menjawab,dia mendekat dan dahi mereka bersentuhan.

“Hari ini…kau ingin pergi kemana dulu sebelum kita pergi kepantai?”

Sehun mencium hidung Jiyoung membuat Jiyoung tertawa malu, dia memeluk Sehun dan menghirup harum tubuh Sehun yang sangat dia rindukan. Entah berapa lama dia ingin merasakan hangat tubuh Sehun seperti ini, dia bahagia sekali saat dia bisa merasakan kebali detak jantung Sehun dan merasakan sentuhan halus lelaki itu.

Semuanya terasa seperti dahulu, tidak ada yang berubah dari Sehun satu-satunya perubahan yang Jiyoung miliki hanyalah wajahnya. Setiap pagi dia harus melihat kearah cermin dan menemukan wajah Eunmi bukan wajahnya sendiri, entah sudah berapa kali Jiyoung berusaha melupakan fakta itu namun sepertinya fakta itu tetap saja menghantuinya.

“Kenapa kau murung? Bukankah hari ini kita akan berkencan?” Sehun menyentuh dagu Jiyoung.

“Ya, kau benar..bagaimana kalau kita bergi ke aquarium saja? Aku ingin melhat pertunjukan lumba-lumba.” Jiyoung memberi inisiatif, dia mencoba tersenyum selebar mungkin agar Sehun tidak curiga.

Dia hanya ingin Sehun bahagia dan hari ini adalah hari terakhir mereka berdua, Jiyoung sadar itu dan setiap kali dia menyadarinya rasanya ada jarum yang tajam menancap dihatinya.

“Ok! Kita pergi ke Aquarium sekarang!” Sehun berseru, Jiyoung menggelengkan kepalanya.

Sehun ternyata masih seperti anak kecil yang dia kenal beberapa tahun yang lalu, namun dia menyukai itu Sehun selalu tahu bagaimana caranya encerahkan mood diantara mereka. Jiyoung terkejut saat Sehun tiba-tiba saja mengangkatnya, dia menjerit namun akhirnya tertawa juga saat Sehun kesusahan untuk membuka pintu utama apartemennya.

*****

“Katakan padaku satu alasan, kenapa kau pergi meninggalkanku?”

Tangan Zhongren gemetar saat dia mendengar pertanyaan itu, batinnya berperang memilih antara menarik pelatuk pistol yang dia pegang atau melemparkan senjata itu kesudut ruangan. Mata coklat Yura menatap kearahnya penuh kesedihan, tatapan wanita itu seakan memelas agar dia kembali dalam pelukannya seperti dulu saat semuanya masih baik-baik saja.

“Yongzhi, aku menunggu.” Yura berkata dan Zhongren melirik kearah lain menyembunyikan ekspressi bersalahnya.

“Miyeon, kau tidak tahu apapun…kau tidak akan mengerti.” Ucap Zhongren.

“Kalau begitu jelaskan, kenapa kau meninggalkan aku?”

Zhongren akhirnya melepaskan pistol yang ada ditangannya, suara metal yang menyentuh tanah terdengar nyaring diantara kesunyian mereka. Zhongren berlari dan menarik Yura kedalam pelukannya, Yura terkejut namun dia menangis dan memeluk Zhongren kembali.

“CUTT!”

Mendengar suara sutradara yang cukup keras Zhongren dan Yura berhenti berpelukan dan mereka tertawa, udara diluar cukup dingin karena ini mulai musim dingin apalagi angin berhembus cukup kencang. Zhongren yang melihat Yura sedikit merinding akhirnya melepaskan salah satu jaketnya dan melingkarkannya dibahu Yura, Yura tersenyum keara Zhongren membuat Zhongren membalas sneyuman manis wanita itu.

“Kau mau minum kopi?” Zhongren menawarkan, dia mengulurkan tangannya kearah Yura.

“Boleh.” Yura dengan senang hatinya menyambut tangan Zhongren, mereka berdua berjalan menuju tenda makanan yang tidak jauh sambil bergandengan tangan.

“Aigoo Zhongren dan Yura memang pasangan yang serasi.”

Yura bisa mendengar kru film mereka mengobrol, dia tersenyum saat dia mendengar itu namun senyumannya langsung hilang saat dia melihat sosok Hyojung berdiri tak jauh dari mereka. Tangan Zhongren langsung lepas dari tangannya, Zhongren berlari kearah Hyojung dan memeluk kekasihnya membuat Yura sedikit canggung.

“Kau datang? Sejak kapan?” Zhongren bertanya dengan antusias, Hyojung hanya tersenyum saat dia melihat betapa senangnya kekasihnya itu.

“Aku baru saja sampai, aku kesini dengan Joonmyeon oppa.” Hyojung menjawab, sosok Joonmyeon datang dan memeluk Zhongren sekilas.

“Akting yang bagus Zhongren!” Joonmyeon memuji, dia menepuk bahu Zhongren.

“Terimakasih hyung.” Ucap Zhongren.

Yura yang melihat percakapan akrab antara Hyojung dan Zhongren merasa tidak nyaman, dia berbalik untuk pergi mengambil kopinya sendirian namun dia berhenti berjalan saat dia mendengar Zhongren memanggil namanya.

“Yura-shi! Kemarilah aku ingin kau bertemu dengan Hyojung.” Zhongren berkata, Yura berbalik dan memasang senyum palsunya.

“Senang bertemu denganmu Hyojung-shi.” Yura menyapa dengan ramah.

“Sama Yura-shi, apa kalian baru selesai syuting?” Tanya Hyojung dan Yura mengangguk.

“Untuk episode hari ini ya, kami harus menunggu sampai nanti malam.” Yura menjelaskan.

“Oh..oppa kau akan menginap disini lagi?” Hyojung bertanya, dia kedengaran sangat kecewa.

“Maaf, tapi kau bisa menemaniku, kru film menyewakan aku sebuah kamar hotel.” Zhongren menjawab.

Entah apa yang merasuki Yura dia sangat cemburu saat dia mendengar jawaban Zhongren, dia mengepalkan tangannya menahan emosinya yang hampir meledak. Melihat reaksi Yura Joonmyeon sedikit curiga, apakah wanita ini mulai menyukai Zhongren? Dia kelihatan tidak suka dengan interaksi mesra Zhongren dan Hyojung mungkin sebaiknya dia meninggalkan Zhongren dan Yura.

“Hyojung-shi, aku sebenarnya ingin mengajakmu melihat suatu tempat.” Joonmyeon berkata membuat Hyojung dan Zhongren melirik kearahnya.

“Oh ya?”

“Ya, ayahku punya lapangan golf disini apa kau mau melihatnya? Kau pasi bosan harus terus diam disini.”

Hyojung melirik kearah Zhongren seakan dia meminta ijin, Zhongren tersenyum dan mengelus rambut Hyojung lalu mengangguk tanda dia memberi ijin Hyojung tersenyum dengan lebar dan mencium pipi Zhongren.

“Tentu saja oppa, ayo..” Hyojung setuju.

“Maaf Zhongren-ah, aku pinjam Hyojung dulu.” Ucap Joonmyeon dan Zhongren mengangguk.

“Jaga dia baik-baik, dia sedikit ceroboh.” Zhongren berkata membuat Joonmyeon mengangguk mengerti.

“Kau tenang saja, dia akan pulang dengan utuh.” Joonmyeon mengacungkan jempolnya, Hyojung tersenyum.

“Kalau begitu apa kita pergi sekarang?” Hyojung bertanya.

“Kau ingin pergi sekarang?”

“Ya, Zhongren oppa pasti ingin istirahat dia sudah syuting seharian.” Hyojung mengungkapkan.

“Hati-hati dijalan.” Zhongren akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari Hyojung, Hyojung mengangguk dan pergi berjalan menuju mobil Joonmyeon.

“Sampai jumpa oppa!” Hyojung pamit dan akhirnya mobil Joonmyeon meninggalkan Zhongren.

Zhongren menghela nafasnya, senyumnya langsung hilang saat mobil Joonmyeon yang membawa Hyojung sudah jauh dari jangkuan pengelihatannya. Yura yang melihat ekspressi sedih Zhongren merasa iba, dia tahu Zhongren pasti meraa dikucilkan karena kekasihnya lebih senang bersama lelaki lain.

“Zhongren-shi.” Yura menyentuh pundak Zhongren.

“Sebaiknya kita minum kopi.” Zhongren memberi usul dan pergi meninggalkan Yura dengan seribu pertanyaan.

Zhongren benar-benar sangat tertutup soal emosinya, dia tidak pernah menceritakan atau menjelaskan perasaannya pada orang lain. Beruntung bagi Yura dia cukup sensitive untuk membaca emosi yang rekan kerjanya itu rasakan, tanpa dia sadari ternyata selama ini matanya selalu mengikuti Zhongren.

Apakah ini cinta?

To Be Countinue…

PS:

Guy’s Seven cuman mau minta maaf jika chapter ini sedikit acak-acakan…soalnya Seven masih sedih soal Kris 😥 mohon di maklum aja ya oh iya dirty versionnya seperti biasa ada di blog pribadi aku KHUSUS 17+, oh iya bagi reader’s yang mau tanya-tanya soal fanfic atau apapun bisa kontak aku di ask fm ini linknya –>> ask.fm/Seven941

9 thoughts on “[Chaptered] Great Ambition (Chapter 6-Clean version)

  1. aduh..
    zhongren itu biar sama hyojung aja, aq gk suka kalau nanti jomyeon itu sama hyojung
    Yura itu juga kan dia udah sama sehun masak dia suka sama zhongren
    jomyeon itu gila mungkin masak ibunya dimasukin ke rsj kebangeten banget
    btw, habis jiyoung sama sehun kencan itu, apa arwahnya jiyoung tenang???
    aq penasaran banget sama kelanjutan critanya, next chapternya thor jangan lama” 🙂

  2. Aaah d post jg chap ini . Hehe .
    Aku jg syok ttg kris tp smga mslh ini cpet kelar .
    So keep writing and fighting chingu !!

  3. aduh…
    biar zhongren hyojung aja, aq gk suka kalau jomyeon itu sam hyojung
    yura juga masak dia udah sama sehun, malah suka zhongren
    pokoknya zhongren sama hyojung
    jomyeon itu gila mungkin masak ibunya sendiri di masukin rsj kebangetan banget
    aq penasaran sama kelanjutan ceritanya, jangan lama” ya thor 🙂

  4. huaaa udah lamaaa gak baca ff great ambition, terakhir aku baca di chapter 2, aku komen tapi gak tau masuk atau gak soalnya pas udah klik post coment tiba-tiba muncul bahwa komen itu udah di post sebelumnya ‘hadeeeww *oke cukup curhatnya 😀
    kembali ke ff nya..
    dengan berat hati aku mau bilang kalau chapter ini emang agak sedikit ngebingungin aku -,- mian.
    tapi tetap keren kok thor, soalnya aku gak bisa nulis-nulis kayak gini *sedih banget 😦
    sebenernya aku gak rela itu sehun sama ‘tubuh’ eunmi yang sebenarnya jiyoung melampiaskan kerinduan mereka huaaa gak relaaaa *lempar laptop author*
    entah kenapa aku lebih dapet feel kalau sehun sama eunmi jadian hehe
    oke segitu aja kicauan saya 😀

    oh ya thor, dulu un saya YooWoo94, jadi jangan heran ya thor kalau un ini baru pertama kali komen.
    boleh minta pw kah thor ? kalau boleh kirim ke email aku ya thor, gomawooo *bow
    keep a good writer 🙂

  5. itu eunmi ngelakuin sm sehun , gimana kalau eunmi hamil , yah meskipun yg melakukannya jiyoung tp kan itu tetap badannya eunmi
    ohhh perselingkuhan please , jangan ada kayak gitu

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s