[Teen Top Lovefool Series] Niel


niel

Songwriter: miichan | Artist(s): Teen Top’s Niel; OC Jung Byul | Genre: Comedy (Well, I’m not sure it’s funny enough to be labelled ‘Comedy’)| Rating: T | Duration: Album

Teen Top Lovefool Series

Chunji’s : Foundation | Changjo’s : Sibuk

Niel’s : Cantik

 ♪

Niel bersiul pelan dalam langkahnya menuju perpustakaan universitas. Di tangan kanannya, ia memainkan kunci mobilnya; di lempar, tangkap, lempar, tangkap. Niel menghela napas dalam-dalam, bersiul lagi, lempar kunci mobilnya, tangkap, lempar, tang—eh, kali ini kuncinya tidak tertangkap. Malah jatuh beberapa senti di depannya, bergemerincing saat bertemu lantai.

Niel menghela napas dalam-dalam sekali lagi dan menghembuskannya pelan-pelan sebelum berjongkok untuk mengambil kunci yang digantungi pin BigBang. Dan saat ia berdiri, lelaki itu kembali menghela napas dalam-dalam, seperti yang ketakutan kehabisan persediaan oksigen saja. Well, jangan salahkan Niel, salahkan saja jantungnya yang tidak bisa berdetak dengan normal sejak kemarin. Atau, kalau ingin dibuat lebih spesifik lagi, sejak Niel berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis yang tengah dekat dengannya selama dua bulan belakangan ini.

Rencana itu muncul bukan dari kepala Niel ngomong-ngomong, tapi dari sahabatnya yang terlalu menaruh perhatian pada hubungannya dengan gadis di jurusan administrasi yang Niel taksir. Menurut Chunji—sahabat Niel—dua bulan sudah cukup untuk proses pendekatan, maka sekaranglah saatnya Niel mengungkapkan perasaannya.

Sejujurnya, Niel sendiri merasa belum siap, dan seperti kebanyakan orang, ia takut ditolak.

Chunji punya argumennya sendiri untuk meyakinkan Niel. Katanya, “Kapan kau akan siap, Kawan? Dengar, kau tidak bisa mengulur waktu terlalu lama. Gadis-gadis tidak suka digantung dan diberi harapan tanpa kepastian yang jelas. Iya kalau gadisnya mau bersabar menunggu laki-laki mengungkapkan perasaannya, kalau tidak? Gadis itu akan beranggapan bahwa kau tidak serius dan dia akan berakhir dengan laki-laki lain. Dan kurasa Byul bukan tipe gadis yang penyabar. Oh! Soal takut ditolak, tenang saja karena sepertinya Byul juga menyukaimu. Tapi, kalau kau benar-benar ditolak, selalu ingat pepatah lama: ‘Cinta tidak harus saling memiliki’.”

Chunji mengatakan semuanya dengan gayanya yang khas, kedengaran seperti seseorang yang berpengalaman. Tapi Chunji memang berpangalaman, sih. Dan kenyataannya dia hampir tidak pernah ditolak gadis manapun yang diajaknya. (Sebenarnya, tiga hari sebelumnya, kalimat ini berbunyi ‘Dan kenyataannya, dia tidak pernah ditolak gadis manapun yang diajaknya’, namun ternyata ada juga gadis yang menolak seorang Lee Chunji sehingga kata ‘hampir’ akhirnya diselipkan di sana).

Lama-lama Niel jadi jengkel sendiri dengan jantungnya yang terus-terusan berdebar diluar ritme yang semestinya. Malah bertambah buruk begitu gedung perpustakaan universitas sudah menjulang di depannya. Perutnya mulas. Imajinasinya juga ikut berulah dengan membayangkan dua buah tangan raksasa tiba-tiba muncul dari kedua sayap gedung, lalu jendela besar yang ada di lantai dua secara ajaib mengerjap sebelum akhirnya melotot menatap Niel, dan kedua sisi pintu besarnya tertarik ke samping hingga membentuk seringaian.

Niel menggelengkan kepalanya. Gedung perpustakaan normal kembali di matanya. Ia meringis. Rasanya mau berbalik kembali ke parkiran dan membawa mobilnya kembali ke apartemen kecilnya yang nyaman, atau berkumpul bersama kelima sahabatnya. Tapi begitu mengingat wajah Byul yang tengah tersenyum, tertawa, merengut, berkerut-kerut serius, ditambah kata-kata Chunji di bagian “… dia akan berakhir dengan laki-laki lain”, Niel berusaha tidak mengacuhkan mulasnya dan terus melangkah memasuki perpustakaan.

Perpustakaan universitas tempat Niel menuntut ilmu memiliki empat lantai, dan tujuan Niel adalah sayap kiri lantai dua, di mana terdapat sebuah kafetaria. Di sanalah Niel dan Byul janjian bertemu, dan di sana juga lah Niel berencana menyatakan perasaannya. Memang tidak romantis, sih. Tapi kafetaria itu punya andil dalam mempertemukannya dengan Byul.

Sebenarnya Niel terlambat hampir sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan, tapi ia tidak mendapati sosok Byul begitu masuk ke dalam kafetaria. Sepertinya gadis itu yang akan terlambat. Niel membeli sebotol air mineral, sebotol teh hijau dan cemilan rumput laut pedas—cemilan favorit Byul dan juga dirinya.

Meja ke dua dari belakang, di samping jendela. Kini Niel sudah duduk di sana. Ia mencoba membuat dirinya rileks dengan menyandarkan punggung dan melurukan kakinya lalu menghela napas dalam-dalam selama tiga detik. Setelahnya, Niel meluruskan lagi tubuhnya, duduk menopang dagu dengan lengan kiri, beberapa saat kemudian berganti dengan tangan kanan. Matanya hampir tidak bisa lepas dari pintu kafetaria, mengawasi setiap mahasiswa yang masuk—mengawasi kalau-kalau Byul datang.

Sampai lima menit yang terasa seperti selamanya, Niel berusaha keras menahan geraman frustasi. Frustasi karena jantungnya tidak bisa berhenti berdenyut dengan normal dan frustasi karena Byul tidak kunjung datang. Ia meraih botol air mineral dan membukanya dengan kasar sebelum menegak isinya. Berharap dengan begitu bisa menenangkan dirinya.

Sorry. Lama menunggu, ya?”

Uhuk! Uhuk!

Niel tersedak sampai batuk terbungkuk-bungkuk karena dikejutkan oleh suara seorang gadis yang tiba-tiba muncul di depannya. Gadis itu juga sepertinya terkejut, matanya yang sudah bulat melebar. Gadis itu, Byul, memajukan tubuhnya dan menepuk-nepuk punggung Niel.

“Aduh, maaf, maafkan aku. Aku mengejutkanmu, ya?”

Disela usahanya menormalkan kembali pernapasannya, Niel mengangkat tangan sebagai kode agar Byul berhenti menepuk punggungnya. Detik berikutnya, dengan dahi yang berkerut-kerut dan napas yang belum benar, Niel mengulas senyum. “Ti-uhuk-tidak apa-apa. Aku-uh-aku baik-baik saja.”

Byul duduk tepat di hadapan Niel. Wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran, membuatnya semakin kelihatan cute di mata Daniel.

“Aku minta maaf, kau pasti sudah menunggu lama.”

Niel meringis pelan. Sembari mengawasi Byul yang tengah mencari sesuatu di tasnya, Niel berujar, “Kau sudah tiga kali minta maaf, tahu. Tenang saja, aku juga baru datang, kok. Kupikir malah aku yang terlambat.”

“Sungguh?” Byul mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya, satu pack kecil tisu. Ia menyodorkannya pada Niel. “Sekali lagi, maaf ya. Aku mengejutkanmu sampai tersedak begitu. Kaosmu jadi basah.”

Thanks,” Niel mendorong botol teh hijau dan cemilan agar lebih dekat pada Byul sebelum menerima tisunya.”Untukmu.”

Thanks to you, too. Ngomong-ngomong, sebenarnya apa, sih, yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Huh? Uh, itu ….” Niel pura-pura fokus mengeringkan kaosnya dengan tisu. ‘Duh, sial! Sial!’ umpatnya dalam hati. ‘Masa harus sekarang? Tidak bisa, tidak bisa.’ Niel menggeleng panik. Ia belum siap.

Byul memiringkan kepalanya demi melihat ekspresi aneh di wajah Ahn Daniel. “Niel? Kau baik-baik saja?”

“Hm? Ya, ya, aku baik-baik saja. Uh … itu … sebenarnya … a-apa yang membuatmu datang terlambat?”

Kepala Byul kembali tegak. “Oh, itu … tadi aku mendengarkan Eunji curhat tentang mantan pacarnya. Dia baru saja putus dari Myungsoo. Kau tahu, kan? Kim Myungsoo yang dari jurusan bisnis itu?”

Niel mengangguk-angguk saja seperti burung kutilang, walaupun dia tidak tahu dan tidak peduli pada Myungsoo ini. Dalam hatinya, diam-diam Niel bersyukur karena perhatian Byul mudah sekali dialihkan.

“Kau tidak akan percaya apa yang membuat Eunji memutuskan hubungannya dengan lelaki sesempurna Myungsoo. Maksudku, ayolah, siapa sih perempuan di dunia ini yang tidak ingin punya pacar seperti Myungsoo. Dia tampan, kaya, pintar, baik, pokoknya paket lengkap.”

‘Ya, teruslah bicara sampai aku terbiasa dengan kehadiranmu dan sanggup untuk mengungkapkan perasaanku.’

“Tapi semua itu cuma topeng untuk menutupi dirinya yang sebenarnya! Karena ternyata …” Byul memelankan suaranya sembari menundukkan badannya. Niel mau tidak mau ikut merendahkan kepalanya. Dengan telapak tangan terbuka di samping bibirnya, Byul berbisik, “Myungsoo itu gay!”

Sepasang mata Niel mengedip-ngedip. ‘Oh, okay.’ Pikirnya.

“Awalnya aku juga tidak percaya, tapi Eunji bilang jika ia melihat dengan kepala sendiri Myungsoo sedang bermesraan dengan … uh, kau tidak akan percaya ini! Nam Woohyun! Nam Woohyun yang keren itu! Seniormu di jurusan musik, Niel! Myungsoo berpacaran dengan Eunji untuk menutupi jati diri yang sebenarnya! Gila!”

Lagi, mata Niel mengedip-ngedip. Tidak tahu harus berkata apa, karena pertama, dia tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang-orang yang tidak punya hubungan apa-apa dengan keberlangsungan hidupnya; kedua, Niel adalah lelaki sejati yang tidak suka bergosip; dan yang terakhir, Hallo Niel kepada Bumi! Ahn Daniel ingin menyatakan perasaannya, tapi kenapa malah jadi sesi buka aib seseorang yang bahkan Niel tidak peduli akan eksistensinya?

Byul meluruskan punggungnya. Kedua tangannya berlipat di dada. “Ada apa dengan laki-laki tampan sekarang ini? Aku mulai percaya dengan perkataan orang-orang, ‘Pria tampan itu ada dua tipe, kalau dia tidak homo, ya brengsek’. Woohyun dan Myungsoo adalah contohnya. Oh—dan jangan tersinggung, ya, temanmu Chunji juga termasuk.”

“Apa?! Tapi dia straight!” Niel spontan membuat pembelaan.

“Maksudku, dia termasuk kedalam katergori ‘brengsek’. Sorry, temanku pernah jadi korbannya. Aku sudah cerita, kan?”

Niel tersenyum miris. Mau tidak mau mengakui juga kalau sahabatnya yang satu itu memang senang bermain dengan banyak gadis. Meskipun sebenarnya Chunji bukan tipe laki-laki yang akan mengencani tiga gadis sekaligus di waktu yang bersamaan, ia hanya tidak pernah berada dalam hubungan yang jelas dengan gadis yang menjadi teman kencannya. Chunji akan mengencani seorang gadis sampai bosan, kemudian mengencani gadis lain, dalam waktu relatif singkat. Mungkin itu yang membuatnya dicap brengsek oleh Byul.

“Ah, ya, ya. Chunji hanya … tidak bisa menolak pesona gadis cantik?” bahkan Niel sendiri terdengar tidak yakin dengan ucapannya.

“Duh, yang benar saja.”

Diam-diam Niel melirik kaca kafetaria di samping kirinya. Mencoba menilai penampilannya sendiri yang samar membayang di sana karena tiba-tiba Niel memiliki pemikiran bahwa Byul, sepertinya, tidak suka pria tampan. Well, ia tidak setampan Chunji, tapi tidak berarti dia jelek juga.

“Jadi, apa yang mau kaubicarakan denganku, Niel?” tanya Byul kemudian setelah meminum green tea yang dibelikan Niel untuknya.

Tubuh Niel menegang. Kedua tangannya terkepal erat di pangkuan. ‘Sial!’ Batin Niel berdebat. Haruskah ia menyatakan perasaannya sekarang? Dalam suasana seperti ini? Di sini? Setelah membicarakan—siapa tadi? Yah, intinya haruskah Daniel mengungkapkan perasaannya setelah mereka—Byul—membicarakan tentang pria brengsek dan gay? Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?

“Daniel?”

Niel menghela napas dalam. Susah payah ia menelan ludahnya. Berusaha memberanikan diri menatap mata gadis di depannya, tapi tidak pernah berhasil karena detak jantungnya yang sempat normal untuk sesaat kembali menggila. Namun pada akhirnya ia berhasil, meskipun ia tidak ingin tahu bagaimana tatapannya pada Byul saat ini.

“Sebelumnya,” Niel berhenti begitu menyadari suaranya seperti cicitan tikus terjepit pintu, ia bahkan bisa melihat sebelah alis Byul terangkat. Ia berdehem lalu melanjutkan, “sebelumnya, aku minta maaf, karena mengatakannya di sini, dalam suasana seperti ini. Kau tahu, kan, kafetaria ini adalah tempat pertama kita bertemu.”

Yeah, lalu?”

“Itu adalah momen yang paling berarti dalam hidupku dua bulan belakangan ini, saat pertama kali melihatmu. Karena pada saat itulah jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya, dan aku sadar, aku menyukaimu, Byul. Sejak hari itu, hingga detik ini.” Jeda sesaat. “Byul, would you please be my girlfriend?”

‘Akhirnya ….’ Bahu tegang Niel perlahan turun bersamaan dengan kata terakhir keluar dari bibirnya. Ia menatap Byul yang juga tengah membalas tatapannya. Dapat Niel lihat dengan jelas ekspresi terkejut tergambar di wajah gadis itu. Mata Byul yang jernih membelalak, bibir tipisnya terbuka namun tidak ada satu patah kata pun keluar dari sana.

‘Oh, tidak … ini belum berakhir,’ Niel membatin putus asa. Dia masih harus menunggu Byul menjawab pernyataan cintanya. Rasanya jantungnya jatuh melesak ke perutnya. Niel sama sekali tidak bercanda soal ini karena sekarang perutnya terasa berdenyut-denyut.

Untunglah tidak membutuhkan waktu lama untuk Byul bangun dari keterkejutannya. Bibirnya perlahan mengatup dan mengulas senyum, pun begitu tatapan matanya yang melembut. Sudut bibir Niel ikut tertarik melihatnya.

“Niel … kau manis sekali.” Senyum manis dan tipis di bibir Byul tidak berubah, tapi ada yang salah dengan kerutan di dahinya. “Tapi … maaf, aku tidak bisa.”

Jantung Ahn Daniel yang sudah jatuh ke perut, kini melesak lebih jauh ke perut bumi.

“Ap-apa? Tapi aku tidak tampan—” Niel menggeleng pelan, “—maksudku, aku lurus, dan aku bukan laki-laki brengsek.”

“A-ah, bukan itu maksudku.” Byul menggerakkan keduatangannya cepat di depan dada. “Aku yakin kau adalah laki-laki yang baik, dan tentu saja, straigth. Tapi bukan itu masalahnya. Aku sudah punya pacar, Niel.”

Kini giliran mata Niel yang membelalak. “Hah? Kau …? Siapa?”

“Minki.”

“Siapa?”

“Choi Minki. Ah, orang-orang biasa memanggilnya Ren.”

Niel tidak percaya matanya masih bisa lebih bulat lagi, dan ia memekik. “Ren?! Ren yang itu? Cowok cantik itu?!”

Ups!

Kerutan di dahi Byul memudar, pun begitu dengan senyumnya. Oh, jelas sekali Byul tidak suka mendengar kenyataan tentang Ren—pacarnya. “Uh, ya, Ren yang itu.”

“Tapi … tapi … tapi tadi kau bilang, cowok tampan itu brengsek dan gay—”

“Ya.” Potong Byul. Ia kembali tersenyum, namun siapa pun bisa mendeteksi bahwa itu bukanlah senyum manis. “Ya, aku setuju bahwa ada dua tipe pria tampan, kalau dia tidak gay, dia pasti brengsek. Tapi seperti yang kaukatakan barusan, Ren cantik, bukan tampan.”

Rahang Niel jatuh begitu mendengar pernyataan Byul.

“Daniel, terimakasih. Tapi sekali lagi maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Jika tidak ada lagi yang ingin kaubicarakan, aku pergi. Aku ada kelas lima menit lagi.”

Niel tidak berkata apa-apa lagi, bahkan sampai Byul berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari kafetaria, setelah meminta maaf yang ketiga kalinya pada Niel. Lelaki itu hanya menatap kosong pada dinding putih di depannya, nyaris tanpa berkedip, masih dengan mulut menganga. Beberapa saat kemudian, entah sadar atau tidak, Niel merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggerakkan ibu jarinya di permukaan ponsel beberapa kali sebelum menempelkan benda tipis itu ke telinga kanannya.

Menunggu panggilannya tersambung, Niel menjatuhkan kepalanya ke atas meja sampai terdengar bunyi ‘duk’ lumayan keras.

“Yo! Niel? Kau berhasil?”

“Chunji …” suara Niel teredam meja. “Byul menolakku. Dia tidak suka pria tampan.”

“Apa? Dia lesbian?”

“Tidak. Dia suka pria cantik.”

“Oh … sebenarnya, Niel, kurasa kau cukup cantik untuk ukuran laki-laki.”

Apa Chunji barusaja menyebutnya cantik? Dan Niel bersumpah ia mendengar suara tawa di akhir kalimat Chunji. Kalau dahi Niel tidak sedang menempel pada permukaan meja, akan terlihat kerutan di sana.

“Chunji, berkacalah.”

“Kenapa?”

“Kau lebih cantik dariku.”

.

.

.

Ya, aku tau ini nggak lucu, panjang lagi ._.v

Makasih banyak buat siapapun yang bertahan baca sampai selesai, dan bisa tolong bantu aku kasih tahu di bagian mana sebaiknya aku perbaiki?

m(_ _)m

Advertisements

3 thoughts on “[Teen Top Lovefool Series] Niel

  1. Ini LUCU KOOOO!! haha…. kayanya aku kebawa suasana banget sampe ikut deg-degan pas lagi baca! Sayangnya ditolak>,< DAN ASTAGFIRULLAH MYUNGSOO WOOHYUN! WAHHH~~ WAHHHHH!!!! wkwkwk

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s