[Vignette] D-Day


d-day

Songwriter : miichan | Artists : Epik High’s Tablo – Lee Haru | Duration : Single | Genre : Family | Rating : General

Untuk sebuah pertanyaan: Bagaimana perasaannya ketika hari untuk melepaskan gadisnya telah tiba?

Rasanya … udara di sekitarku seolah menebal hingga napas pun berat untuk dihela. Mungkin karena wangi-wangian yang ikut larut dalam komposisi udara, atau mungkin karena suhu ruangan yang terlalu rendah?

Ruangan ini tidak begitu luas, tidak sempit juga. Setara ukuran kamar tidur gadis yang tengah duduk di sana, di depan cermin. Tidak ada dekorasi khusus. Dindingnya bercat putih gading. Sebuah sofa terletak di sisi pintu, tempatku duduk kini, dengan sebuah meja penuh benda-benda berantakan—entah apa. Di pojok kananku, di sisi kaca setinggi lemari, sebuah manekin tanpa lengan, kaki, dan kepala; hanya ditunjang oleh besi, kokoh menjulang. Bagi yang ingin tahu, sebelumnya manekin itu dibalut gaun putih yang amat cantik. Yang lainnya, tiga buah meja rias bersisian di depanku (aku ragu meja rias itu memang benar ada tiga atau satu, karena mejanya menempel satu sama lain, hanya kacanya saja yang terpisah). Di atasnya tercecer macam-macam kemasan dengan bermacam-macam ukuran, pun begitu dengan warnanya.

Gadis itu, gadisku, duduk tenang menghadap ke cermin. Seorang pria kemayu sibuk menyapukan sesuatu di setiap titik permukaan wajahnya, sedangkan seorang wanita kalem melakukan hal-hal rumit pada rambut panjang gadisku yang dicat cokelat madu. Mereka sebenarnya sudah selesai, yang dilakukan sekarang adalah menyempurnakan lagi pekerjaan mereka sebelumnya pada penampilan gadisku. Aku tidak mengerti, bagian mana lagi, sih, darinya yang tidak sempurna? Meski aku hanya bisa memandangi punggungnya, aku tahu dia tidak memerlukan lagi semua ini untuk membuatnya sempurna.

Ya, dia sempurna. Setidaknya, di mataku. Dan segala yang ia kenakan hari ini, membuat kesempuranaannya makin tidak terbantahkan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pandanganku saat menatapnya (sekalipun itu hanya punggungnya).

Aku sudah mengenalnya bahkan sejak ia masih sebentuk benih tertanam dalam rahim yang terus berkembang. Melewatkan sembilan bulan berdebar-debar menantikannya. Melalui berjam-jam penuh kekhawatiran ketika ia lahir. Menjalani dua puluh enam tahun membimbing tangannya. Dia gadisku yang berharga.

Kuberitahu, gadisku punya mata yang jernih. Pipinya tidak tirus, tidak tembam juga. Selalu merona tipis bikin gemas ingin menggoda. Hidungnya kecil, nyaris pesek kukira, tapi itu cocok untuk wajahnya. Begitu juga bibirnya yang selalu mengulas senyum dan mengurai tawa, melengkapi hangat tatapan matanya. Bisa kubilang, mewarisi ibunya.

Rambutnya tergerai sebatas punggung. Pernah juga dia memangkas pendek, hanya menyentuh tengkuk. Rambutnya lurus, tapi seringkali ia membuatnya bergelombang. Mulanya berwarna hitam sepekat malam, namun menginjak remaja nyaris tak pernah aku melihat warna rambutnya kembali seperti semula.

Tubuhnya tinggi. Ia kurus, tapi ia selalu berpikir bahwa ia masih perlu menurunkan berat badan. Aku tidak bisa mengerti. Kakinya jenjang, membuatku jantungan tiap kali ia hanya memakai celana yang panjangnya bahkan tidak sampai satu jengkal. Dia bilang itu gaya, membuatnya tidak kelihatan udik di mata teman-temannya. Tapi bagiku, dia malah kelihatan seperti pengemis yang tidak punya cukup uang untuk membeli lebih banyak kain untuk pakaiannya. Toh, memakai celana denim sepanjang kaki dan kemeja pun dia tetap kelihatan gaya. Jadi, kenapa harus memperlihatkan apa yang semestinya ditutupi?

Dan topik tentang gaya ini menjadi satu dari sekian ribu hal yang menjadi alasan kami berdebat. Dari yang sekedar saling adu argumen, sampai dia membanting pintu dan tidak menyapa sampai seminggu lamanya. Tapi sungguh, aku tidak pernah bermaksud mendebatnya, apalagi memarahinya. Aku hanya tidak suka dia memakai sesuatu yang tidak pantas dikenakan seorang gadis baik-baik.

Yah, dia gadis yang baik. Aku tahu itu. Meskipun dia kadang membangkang dan seolah melawanku, aku tahu ia hanya sedang mencari jati dirinya, berusaha menempatkan diri dalam lingkungannya. Hal-hal seperti itu, yang kadang luput dari perhatianku, yang kemudian baru kusadari setelah kami berada dalam situasi tidak nyaman.

Tapi, semua yang kulakukan selama ini—amarahku, bentakanku, ucapanku yang mungkin membuatnya tidak puas dan membangkang—semata-mata karena aku ingin yang terbaik untuknya.

Aku tidak ingin dia sakit, maka aku tak mengijinkannya makan es krim di pagi hari. Aku tidak ingin dia gagal di kehidupannya, maka aku tidak pernah bosan mengingatkannya untuk belajar. Aku tidak ingin dia menjadi gadis yang manja, oleh karena itu aku tidak memberikan semua yang diinginkannya. Aku tidak ingin ia terpengaruhi oleh sesuatu yang tidak baik, maka aku melarangnya bergaul dengan orang-orang tertentu.

Aku ingin gadisku menjadi orang yang lebih sukses dariku, maka tak pernah ragu kumasukkan dia ke sekolah-sekolah terbaik, kurancangkan masa depannya, meski akhirnya aku sadar jika ketika saatnya dewasa, dia memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Aku ingin gadisku menjadi seseorang yang mandiri sekalipun ia wanita, maka aku mendukungnya ketika ia mengatakan ingin tinggal di apartemennya sendiri begitu kurasa ia sanggup, sekalipun aku harus menekan semua rasa khawatirku. Aku ingin gadisku menemukan laki-laki yang baik, yang mampu menggantikanku untuk menjaga dan membimbingnya di sisa hidupnya, karena itu aku tidak pernah main-main menguji setiap laki-laki yang datang untuk meminta gadisku.

Ah, perasaan apa ini? Seperti ada yang menekan dadaku, sesak sekali. Sampai-sampai aku tersedak dan mataku berair ketika berusaha menghela napas dalam-dalam. Ah, mungkin karena udaranya, atau karena bau-bauan berbagai macam produk kecantikan yang ada.

Gadisku menoleh. Kerutan dahinya, sorot matanya, semua garis di wajahnya menunjukkan jika dia khawatir padaku. Aku tersenyum menenangkan.

“Aku baik-baik saja,” ujarku selanjutnya ketika senyum saja tak mampu menghapus raut khawatir itu.

“Ayah …,” suaranya terdengar manja. Suara itu yang selalu berhasil meluluhkan hatiku. “Ayah tidak menangis, kan? Mata Ayah merah, lho.”

“Haru-ya—”

Pintu yang berderit terbuka memotong ucapanku. Aku bersyukur, karena aku sempat terkejut begitu mendengar suaraku sendiri tak ada bedanya dengan suara deritan pintu itu.

Hyejung muncul dari celah pintu yang terbuka. Ia terlihat cantik dengan hanbok cerah yang dikenakannya. Sekalipun usianya sudah melewati angka lima puluh, ia tetap yang tercantik di mataku, bersanding dengan gadisku di nomor urut satu.

“Sudah waktunya.”

***

“Ayah?”

“Hm?”

Haru, gadisku, mengangkat tangannya yang menggenggam buket bunga mawar putih ke dada kiri. Tangan kirinya melingkari tangan kananku. Berdua kami menatap pintu jati yang tertutup di depan kami.

“Aku gugup.”

Aku juga gugup, namun tentu saja tidak kuperlihatkan. Kuusap lengannya pelan. “Itu normal. Justru akan aneh jika kau tidak gugup sama sekali, Sayang.”

Perlahan, pintu kembar di hadapan kami terbuka, bersamaan dengan itu terdengar denting piano dan vokal sengau khas yang membuatku hampir tersandung di langkah pertama. Kutatap gadisku, dan ia hanya tersenyum lebar sampai semua giginya terlihat.

“Serius, Lee Haru? Who You di hari pernihakanmu? Benar-benar fangirl G-Dragon sejati.”

Gadis itu tertawa. Tawa yang diselipi rasa gugup, aku tahu.

Gadisku mengeratkan pegangannya begitu kami menapaki karpet merah membentang menuju altar. Di mana seorang laki-laki berstelan putih berdiri gagah, menunggu untuk menyambut lengan gadisku. Laki-laki itu yang berhasil meyakinkanku jika ia sanggup menggantikan tugas menjaga gadisku. Laki-laki itu yang bertahan dengan semua ujian dariku. Laki-laki yang berhasil membuatku cemburu, karena ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan gadisku.

Sial! Aku merasa diejek oleh lagu pengiring pernikahan yang dinyanyikan Jiyong.

Rasa sesak itu datang lagi. Satu langkah mendekati altar, satu kenangan melintas di kepalaku. Saat gadisku lahir, saat ia pertama kali melangkah, saat ia memanggilku ‘Ayah’, saat ia menyanyikan laguku, saat ia menari, saat ia mendapat nilai sempurna di pelajaran matematika, saat ia pertama kali memasak, saat ia lulus dari sekolahnya, saat kutuntun tangannya … tidak cukup. Jarak dengan altar terlalu dekat, tidak cukup untuk mengenang semuanya.

Kami sampai di altar.

Tangan lelaki itu terulur. Aku tahu ia tengah meminta, memohon ijin dariku, karena aku juga pernah berada di posisinya.

Oh, aku jadi tersadar. Mungkin ini yang dulu dirasakan oleh Ayah Hyejung saat mengantar putrinya padaku. Aku merasa ragu, tapi juga bahagia. Ragu, apakah laki-laki ini yang tepat untuk gadisku. Bahagia, karena aku tahu gadisku mencintai laki-laki ini sepenuh hatinya.

Pada akhirnya, saat tangan Haru yang semula melingkari tanganku berpindah pada genggaman laki-laki itu, aku merasa satu tugasku sudah selesai. Aku harus percaya pada laki-laki itu, bahwa ia akan membuat gadisku bahagia. Ketika Haru telah mengucap sumpahnya, aku harus menerima bahwa aku bukan lagi satu-satunya laki-laki yang menjadi prioritasnya dan dia bukan lagi tanggungjawabku. Meskipun begitu, dia akan selalu jadi gadisku, putriku yang paling kubanggakan.

 

KKEUT

 


Terinspirasi oleh curhatan seseorang, (sebut saja dia Kak Gigi XD ),  yg bahas-bahas pernikahan :’) emang gak nyambung sih curhatannya sama isi cerita ini hhahaha XD

Didedikasikan untuk Superman di seberang laut Jawa, yang melanglang di pedalaman Kalimantan dan gak pernah bosan kutanyain ‘Ayah, kapan pulang?’.

13 thoughts on “[Vignette] D-Day

  1. Mei ini luaaarrrr biasa sumpaaaaah ah aku sedih yaolooooh :”
    Meiiiiiiiii… sumpah ini dari sudut pandang seorang ayah yahampun aku mikirin apakah ayah aku bakal berpikiran kayak gini pas nyerahin aku ke Jinki nanti /dorrrrrr/
    Mei… ini bokapnya siapa? GD bukan? Kalo iya bokapnya adalah GD, itu luarrrrr biasa bingitsss Meiiii hahahaha jadi tuh anaknya adalah fans sejati ayahnyaaaa…
    Ah Meeiiiii aku baca ini di kantor di sela2 jam makan siang dannnnn aku syediiihhhhh huhu Mei aku suka ini 🙂

    1. Yah yah Kanay jangan sedih, terharu mah boleh kkkk
      Iya, pertanyaan itu yg jd akar cerita ini. Mei sampe observasi nanya-nanya k kakek mei, tp jawabannya cuma ‘nya kitu wéh’ (ya gitu aja) ………………………. Aku kudu piye?
      Ini tokohnya Om Tablo sama Adek Haru, Kak. Kan Haru ngefans sama om jidi jd sampe jadiin lagu om-nya buat wedding march hhoho meskipun sama sekali nggak cocok ._.
      Btw, makasih banyak ya kak :* masih banyak kurangnya kok :’)

  2. aaaaaakkk lucu fic nya. bikin terharu+sedih juga :’)
    keren! bahasa yg digunakan simple tapi bisa buat keseluruhan cerita jadi bagus. alurnya enak, feel nya dapet.
    JOHA (y)
    btw, new reader hereeee~ salam kenal, gy, 94 line 🙂

  3. Meiiiiiii……. aku datang…. wkwkwkw
    kayaknya aku beneran lupa mau review ini. wkwkwkw
    untung dirimu ingetin aku….
    *tendang penyakit pikun*
    sumpahhhh…. ini ficnya mengharukan sekali….
    tapi kayaknya pas kita cerita bukan tentang ini ya? *penyakit pikun kumat lagi*
    aaahhhhh…… aku selalu mikir kenapa pas hari pernikahan orang tua selalu menangis. nggak selalu sih tapi kebanyakan mesti menangis. hiks…. ternyata melepas seorang anak untuk bersanding sama orang yang dicintai itu berat. aaaahhhhh
    ini ficnya ngena banget….. walaupun kadang suka berantem ama papa tapi dialah my superman! wkwkww
    Meiiiii…. ini keren deh…. 🙂

    1. KAK QIQIIII asdfghjkl
      Kakak ga merasa terpaksa kn baca dan review ff ini?? Hheu
      Mei lupa2 inget aih bahasan kita dulu begimana lol.. Pokoknya bagian yg paling d inget itu ya yg nikahnya. Lol
      Makasih loh kak udah nyempetin baca dan review :* ❤

      1. Kagakkkkkkk…. Aku ga terpaksa…. Sumpah…. Aku malah seneng diingetin. Jujur aja aku lemah dalam ingatan. Ga tau kenapa. Makana kalo ada utang review ya dimaklumi. Wkwkwk
        He eh…. Kaykna dlu bukn bahasan ayah anak gini deh. Tapi topiknya tentang nikahan. Wkwkw
        Sama2 mei. Kekeke

        1. Syukurlah kalo ngga terpaksa.. Wkwk
          Iya emang dulu th bahasannya bkn ini, mei lupa lg sih tp.. Wkwkwk
          Banyak2 main game, kak, biar ga gampang lupa.. Hhehe

          1. Kagak terpaksa… Malah seneng udah diingetin. Wkwkw
            He eh… Aku mikirna bukan bahasan ini deh. Kekeke.
            Aku malah bisa nginget alur cerita yg aku baca. Tapi kalo yg lainna ga tau kenapa sering lupa.
            Klo main game aku ga maniak game. Wkwkw. Sering males sendiri klo main game. Wkwkw

  4. KAK MEICHAN (aku mau panggil gini aja gapapa kan?) AKU BARU BACA INI MASAA :””’) BAPER TOTAL HUA😭
    Mana papaku single parent yg selalu kerja di luar kota. Jadi kangen papa kan? (malah curhat)(hiks)
    Aaaa papa kapan pulang?:'”‘)

    1. Panggil apa aja boleh kok, asal yg baik2 aja.. Hhehe
      Cupcup /kasih tissu/
      Salam sama papanya /eh
      Hhihi makasih ya, dear, udah jauh2 menjelelajah dan baca ini.. Hhehe ❤❤❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s