[Chaptered] Rose (Chapter 7)


rose
Masukkan keterangan

Author : BlankDreamerTitle  : Rose |  Length : Multi Chaptered | Rate :  PG17 |  Genre : Romance, AU, Hurt, Drama | Cast :  Yoo Yunji aka Yoo Yuna (OC),  Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC),  Rome C Clown  as  Yoo Barom (OOC), Daehyun B.A.P  as  Jung  Daehyun (OOC),  And Others

*****

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers! Dont be silent readers… and dont copy paste without permition

Author’s Note : Chapter ini juga panjang ya…. Semoga ga bosen aja bacanya

Happy Reading! 😀

List Chapter 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6

AUTHOR’S NOTE :

Pertama, buat yang udah nungguin ff ini (kaya laku aja), aku pasrah deh mau diapain aja setelah vakum dari pengerjaan nih ff hampir selama setahun…. ^^v

Dan kedua, aku kembali hadir dengan Rose Chapter 7 dan aku ingin menginformasikan bahwa di chapter kali ini, aku akan memberikan sedikit perubuahan

Biasanya di fanfict ini, aku menggunakan Point Of View dari setiap sudut pandang Cast, maka di chapter kali ini, aku hanya akan menggunakan sudut pandang dari orang ketiga yang tahu segala hal

Semoga ada perubahan yang lebih baik untuk penyampaiannya ^^

Dan semoga kali ini kalian bisa puas

Okay, hanya itu pengumumannya

Thankies dan jangan lupa tinggalin komen kalian semua setelah membaca, ya, honey buney sweety Readers… :* #tebarkecupsayang

*

*

*

= Cerita Sebelumnya =

“Eo…. Appa…. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan ayahnya kemarin. Ceritanya panjang. Tapi begitulah akhirnya. Aku harus menemaninya menunggu ayahnya hingga datang.”

“Lalu?”

“Ayahnya tidak datang.”

“Jadi kau dan dia tidak….”

Daehyun memukul kepalaku lemah. Ia masih belum memperoleh kembali tenaganya setelah baru kembali dini hari dan setelah baru saja tidur selama errr….entahlah—kurang dari 2 jam mungkin—tapi aku sudah memaksanya membuka mata.

“Sudah kukatakan aku bukan kau Kim Sunggyu!”

“Oh, sial!” umpat Sunggyu lirih.

“Mwo? Wae?” Daehyun menatap Sunggyu curiga. “Jangan kau katakan mulutmu itu sudah mengatakan hal yang tak pantas padanya.”

Ini kesalahan. Aku sudah bersalah. Apa yang harus kulakukan sekarang?

 

                                                                *****

 

Yunji tengah tertidur di sofa ruang tamu saat ia merasa seseorang menyentuh pipinya. Membuatnya merasa risih dan terganggu. Di antara kepala yang terasa berat dan badan yang menggigil, ia berusaha membuka mata. Meski terkejut dengan kemunculan Manajer Cha yang mencurigakan karena menatapnya dengan aneh dan menyentuh pipinya dengan cara yang aneh pula, tak banyak hal yang bisa Yunji lakukan. Ia hanya menepis tangan itu dengan sisa tenaga yang ada.

“Apa yang anda lakukan?” Yunji berusaha bangun dari tidurnya. Suaranya terdengar jauh dan dalam. Ia lemah. “Sunggyu~ssi sudah pergi pagi-pagi tadi.”

Manajer Cha hanya mengangguk. Pria itu nampak tak fokus pada informasi yang Yunji sampaikan. Karena fokusnya ada pada gadis itu sendiri. Dia menatap Yunji intens. Terlalu intens. Membuat Yunji semakin risih dan memilih untuk berusaha beranjak dari sofa. Tapi sayangnya, Manajer Cha menghalanginya. Pria itu mencengkram lengan Yunji kuat.

“Bisakah anda melepaskan tangan anda Manajer Cha?”

“Bukankah sangat mencurigakan, jika pria seperti Kim Sunggyu menjadikan gadis secantik dirimu hanya sebagai pembantunya, nona? Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?”

Yunji melebarkan kedua matanya. Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang bisa dianggap sebagai sesuatu yang positif. Yunji tahu firasatnya tak pernah salah. Lantas gadis itu melirik ke arah pintu keluar. Dia hanya berharap Sunggyu ataupun Daehyun segera muncul dari balik pintu itu karena ia tak mau menghadapi Manajer Cha, setidaknya untuk saat ini.

“Apa yang kau lihat?” Manajer Cha bertanya saat dia menyadari kemana arah tatapan Yunji. Dia mendengus sinis. “Berapa kau dibayar olehnya?”

Yunji menatap pria di hadapannya itu tak percaya. Ia tahu hal buruk akan terjadi setelah ini,

“Mengapa melotot seperti itu? Aku hanya sedang mengajakmu berbicara secara terbuka. Aku hanya penasaran. Karena selama ini, tuan tak pernah mengijinkan gadis manapun datang ke apartemennya. Tapi kau…dengan cara apa kau menggodanya, nona? Bagaimana bisa kau membuatnya membiarkanmu masuk ke tempat ini dan tinggal di sini? Siapa kau? Apa permainanmu benar-benar bagus hingga bisa membuatnya takluk padamu?”

Pria itu mendengus menyadari tatapan Yunji yang tak juga beralih dari pintu masuk. “Ia takkan kembali sebelum esok datang lagi. Aku mengenalnya dengan sangat baik, nona.”

Tidak. Sunggyu pasti akan segera kembali. Selama ini, pria itu selalu kembali sebelum tengah malam. Setidaknya, itu yang Yunji ketahui sejak keduanya tinggal bersama. Jadi, ia takkan mempercayai apapun kata-kata pria di hadapannya sekarang ini. Karena Sunggyu pasti akan segera kembali. Kemanapun lelaki itu pergi, dia pasti akan kembali.

“Hei….” Tangan Manajer Cha nyaris menyentuh pipi Yunji sebelum akhirnya gadis itu menepis buru-buru.

“Anda sudah keterlaluan!”

Dan mendadak, pria berusia 30-an tahun itu justru mendorong tubuh Yunji hingga kembali berbaring di sofa. Yunji mulai berkelit. Tapi Manajer Cha justru semakin berusaha mencium Yunji yang masih terus berusaha menghindari perlakuan tidak senonoh dari pria itu. Sayang, ia tak bisa mendorong tubuh Manajer Cha menjauh darinya dengan sekuat tenaga. Menunggu ayahnya seharian penuh di luar dengan udara yang mulai berangin membuat tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya hari ini.

“Bukankah kau dan tuan muda sudah sering melakukannya? Jangan sok suci!”

Sekuat apapun Yunji berkelit, cengkraman pria itu tak kunjung terlepas. Ia ingin berteriak. Tapi entah mengapa suaranya seakan menghilang. Ia mulai terisak. Ia ketakutan. Ia sadar tubuhnya gemetar dengan hebat karena rasa takut itu. Tapi Yunji tahu ia tak bisa menyerah begitu saja.

Sebuah ingatan buruk kembali membayangi Yunji. Ia tahu persis perasaan takut macam ini. Ia pernah merasakannya dulu saat Barom menjualnya pada pria hidung belang. Ia mengingat dengan jelas bagaimana pria seperti itu menatapnya. Sama persis dengan yang Manajer Cha lakukan padanya sekarang. Saat itu, ia beruntung seseorang menyelamatkannya. Tapi apakah kali ini ia akan seberuntung itu? Yunji tak tahu. Yang jelas, ia merasa sangat ketakutan dan merasa takkan ada yang menolongnya sekarang. Ia yang harus menyelamatkan dirinya sendiri sekarang, apapun yang terjadi.

Lalu tiba-tiba Manajer Cha merentangkan kedua tangan Yunji dan berhasil menyentuhkan bibirnya pada pipi gadis itu. Tangannya yang terentang justru membuat Yunji berusaha meraih asbak yang tergeletak di atas meja selagi menahan rasa jijik saat bibir pria itu mulai menjelajahi lehernya. Sialnya, asbak yang ingin ia raih itu justru terdorong menjauh. Dan dengan sisa tenaga yang ada, gadis itu berhasil menjerit sekerasnya.

“Akan kuberi kau uang, jika itu yang kau mau. Kau tak perlu berteriak sayang.”

Tapi tak ada yang Yunji bisa lakukan selain kembali berteriak. Ia nyaris saja menggerakkan kakinya dan menendang tepat pada titik lemah Manajer Cha saat tiba-tiba saja, pria itu sudah tersungkur terlebih dulu dan sosok Sunggyu muncul di hadapannya dengan wajah merah padam.

Sunggyu mencengkram kerah kemeja Manajer Cha yang nampak terkejut sekaligus ketakutan. Pria itu memohon agar Sunggyu mendengarkan penjelasannya. Tapi Sunggyu nampak tak mau tahu dan kembali meluncurkan kepalan tangannya pada Manajer Cha.

Yunji yang masih ketakutan segera bangun dan meringkuk seraya memejamkan mata erat-erat dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia mendadak merasa jijik dengan dirinya sendiri. Mendadak merasa malu pada Sunggyu karena pria itu telah melihat dirinya yang tak berdaya ketika diperlakukan tak senonoh seperti itu. Yunji semakin membenci dirinya sendiri terlebih pada hidupnya.

“Aku tak pernah tahu bahwa selain bodoh, rupanya kau adalah pria brengsek Manajer Cha!” Sunggyu mencengkram kerah kemeja pria yang senantiasa mengikutinya itu dan berteriak tepat di depan muka Manajer Cha.

“Bu…bukankah kau lebih brengsek daripada aku, Tuan Muda? Bahkan kau selalu berganti pasangan setiap saat kau inginkan.”

Sunggyu mendengus sekaligus tertawa singkat. Ia salut pada keberanian Manajer Cha. Meski ketakutan, pria itu tetap mencoba menyerang Sunggyu dengan kata-katanya. Ia tahu pembelaan apapun yang ia lontarkan tak akan sedikitpun didengar oleh Sunggyu. Pun sadar bahwa pekerjaannya sudah berakhir saat ini juga. Meskipun begitu, itu bukanlah sebuah masalah yang cukup besar bagi Manajer Cha. Karena melayani Sunggyu selama ini bukanlah sebuah perkara mudah. Jadi, pemecatan ini sudah bagai sebuah hadiah untuknya.

“Kau benar. Tapi setidaknya, aku bukan pria pengecut yang melakukan pemaksaan seperti yang kau lakukan, pecundang!” Dan Sunggyu kembali melayangkan kepalannya yang terakhir hingga membuat Manajer Cha mengeluarkan darah dari hidung dan bibirnya.

Pria bermata sipit itu menghela nafas dan meregangkan otot-otot lehernya sejenak. Lalu, mengangkat sebelah kaki hendak menginjak tepat pada titik kelemahan pria milik Manajer Cha, tapi dengan cepat ia mengurungkan niatnya saat melihat pria itu menutup mata rapat-rapat karena ketakutan.

Sunggyu tergelak. Terdengar mengerikan. “Bersyukurlah aku masih memiliki rasa kemanusiaan Manajer Cha. Aku takkan membuatmu cacat. Karena itu, pergilah sebelum aku benar-benar menghabisimu! Khojo!” teriak Sunggyu kemudian.

Lantas, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Manajer Cha berusaha bangun. Ia berjalan tertatih menuju pintu keluar seraya menahan sakit disekujur tubuhnya. Dalam hati pria itu, ia bersumpah takkan pernah mema’afkan Sunggyu atas kejadian hari ini.

“Dan kau!” Sunggyu mengalihkan perhatiannya pada Yunji yang masih meringkuk di atas sofa. “Ada apa denganmu? Apa kau menikmatinya? Apa kau ingin dia melakukan itu padamu? Mengapa kau hanya berteriak? Apa kau pikir dengan berteriak seperti itu, ia akan melepaskanmu begitu saja, huh? Mengapa tak kau lawan dia? Bagaimana jika aku tak segera datang? Kupikir kau seseorang yang cukup cerdas. Tapi ternyata, kau benar-benar bodoh. Sebegitu idiotnyakah kau, Nona?”

Yunji tak kontan menjawab cercaan Sunggyu. Ia masih bergelut dengan dirinya sendiri untuk menenangkan diri dari rasa takut yang menyerangnya. Sunggyu tak boleh melihat lebih banyak lagi kelemahannya.

“HYA! Andelio?

“Ya.” Yunji mengangkat wajahnya dan menatap tajam kedua mata Sunggyu. “Kau benar. Aku memang bodoh. Aku idiot. Apa kau puas?”

Sunggyu tertegun. Tatapan sedih, terluka, marah, dan ketakutan yang tersalur dari sorot mata gadis itu menohok tepat jantungnya. Ia tersadar ucapannya baru saja benar-benar sudah keterlaluan. Bukankah ia berlari ke sini seperti orang gila hanya untuk menyesali ucapan kasarnya pagi tadi pada gadis ini? Mengapa sekarang ia justru membuat kesalahan baru dengan mengucapkan kata-kata yang lebih buruk? Lihatlah Kim Sunggyu bagaimana genangan air mata kembali membasahi wajah gadis itu!

“Tidak bisakah kau katakan saja bahwa kau ketakutan? Tidak bisakah kau tidak mengiyakan semua ucapan bodohku?”

“Bukankah kau hanya ingin mendengar apa yang ingin kau dengarkan? Aku hanya mengabulkannya.”

“Kau lebih bodoh dari yang pernah kubayangkan!”

“Kau benar. Aku lebih bodoh dari siapapun di dunia ini.”

Dan yes! Sunggyu kehilangan kata-katanya. Bahkan di saat seperti ini. Gadis ini lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan rupanya. Ia terlalu sering kehilangan kata-kata di hadapan Yunji. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menebus kesalahannya?

“Hya! Mau kemana kau? Kembali ke tempatmu! Bukankah kau yang bilang sendiri kau akan menuruti perkataanku? Hyaa! Andelio (kau tak dengar)?”

Sunggyu mulai panik begitu Yunji beranjak dari tempatnya hingga ia meracau tak jelas. Apa gadis ini akan pergi sekarang? Apa gadis ini sudah mulai jengah dengan semua ucapan tak berotaknya? Sayangnya, Yunji tak juga menyahutnya. Gadis itu justru ambruk kemudian.

“Hya!” Sunggyu buru-buru menghambur. Ia mendekap Yunji dan menyadari bahwa tubuh gadis itu mengeluarkan keringat dingin. Sunggyu memastikan ulang bahwa Yunji benar-benar demam dengan menyentuh kening dan leher gadis itu. “Kau sakit,” gumamnya lebih untuk diri sendiri.

Anio,” jawab Yunji nyaris berbisik. Bahkan untuk membuka matapun, ia nampak tak sanggup.

Baboya!” umpat Sunggyu seraya membopong gadis itu.

 

*

*

*

 

Yunji membuka mata perlahan. Ia bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan di sekitarnya. Ada aroma obat-obatan, meskipun aroma terapi juga kental ia hirup.

Hal pertama yang Yunji lihat adalah langit-langit yang berwarna putih. Lalu baru setelah itu, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ini bukan apartement Sunggyu. Ini di salah satu kamar sebuah rumah sakit. Bagaimana ia bisa ada di sini? Oh! Yunji ingat. Sebelum kehilangan kesadarannya, hal terakhir yang ia ingat adalah Sunggyu yang membopongnya. Jadi…, pria itu yang membawanya ke sini?

“Kau sudah sadar?”

Yunji sontak mengalihkan perhatiannya ke arah sosok yang berdiri di samping jendela. Sunggyu berdiri di sana seraya menyesap cup yang mengeluarkan aroma americano. Pria itu menatapnya dengan angkuh seperti biasa.

“Mengapa aku bisa ada di sini?”

“Kau pingsan,” ujarnya seraya berjalan menghampiri Yunji. “Demam.”

Geuraeyo? Gamsahamnida.”

Sunggyu nyaris saja tersedak kalau saja, ia tak pandai menutupi hal itu. Pria itu tertegun untuk beberapa saat dan hanya menatap hampa petak lantai. Lalu, mengalihkan tatapannya pada Yunji yang tertunduk canggung. Ia tak pernah tahu bahwa selain mudah sekali mengiyakan semua cercaannya, gadis itu ternyata juga bisa bersikap manis dengan mengucapkan terimakasih seraya tersipu. How cute she is, isn’t she?

Sunggyu hanya berdeham seraya mengangguk kemudian. Ia tengah mencoba untuk tetap terlihat cool di hadapan gadis itu.

“Kalian berdua benar-benar orang yang bodoh.”

Yunji menatap Sunggyu dengan kening berkerut samar kali ini.

“Daehyun juga demam,” lanjut pria itu. “Sebenarnya, apa yang kalian lakukan di luar sana semalaman? Apa kalian tidak menyadari cuaca buruk akhir-akhir ini? Tidak bisakah kau berhenti membuat orang khawatir? Sejak bersamaku, kau pikir sudah berapa kali kau jatuh sakit? Kau membuatku semakin terlihat sangat jahat.”

Joesungeo.”

Keumanhae (sudah cukup),” sela Sunggyu buru-buru. “Kau hanya akan membuatku semakin merasa lebih buruk. Seharusnya, aku yang minta ma’af padamu. Kau puas?”

“Daehyun-ssi juga jatuh sakit? Apa dia juga dirawat?”

Sunggyu mendengus kesal. Ia sudah berusaha meminta ma’af. Tapi gadis itu justru mengalihkan topik pembicaraan dan membahas Daehyun.

“Khawatirkan saja dirimu dan berhenti mengkhawatirkan orang lain!” bentak Sunggyu kesal.

“Tapi ia sakit karenaku.”

“Sudah kukatakan ini karena kalian berdua sama-sama bodoh!” sela Sunggyu yang kembali berteriak. “Seharusnya, aku tak pernah membiarkan kalian berdua pergi bersama. Amatta! Aku akan pergi bersama kalian lain kali. Aish! Jinja! Mitchigeta (aku bisa gila)!” racau Sunggyu.

“Aku yang sudah membuatnya mengikutiku.”

Andelio (kau tak mendegarku)?” Sunggyu kembali berteriak kesal. “Keumanhae!”

Dan Yunji kembali terdiam. Bukan karena bentakan Sunggyu. Tapi lebih karena cemas pada keadaan Daehyun. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah melibatkan pria itu. Ini semua takkan terjadi, jika saja semalam, ia tak keras kepala.

“Kau menyukainya?”

Ne?”

Sunggyu memangkas jarak antara wajahnya dan wajah Yunji. Pria itu berusaha sedekat mungkin untuk bisa menggali sebanyak-banyaknya informasi dari raut wajah gadis itu. Ia menatap lekat kedua mata Yunji tajam. Tidak seperti sebelum-sebelumnya dimana gadis itu selalu membalasnya dengan tatapan berani, kali ini Yunji justru mengalihkan tatapannya. Kikuk saat harus membalas tatapan Sunggyu. Sunggyu mendengus sinis. Sesuatu terasa terluka. Sakit.

“Kau menyukainya. Jung Daehyun.”

Anio.”

Godjimal (bohong).”

“Geundae wae (memangnya kenapa jika ya)?”

“Kau tidak boleh menyukainya.”

Wae?”

Sunggyu mencengkram lengan gadis itu erat kali ini dan tak sedikitpun ia alihkan tatapannya dari gadis itu. Ia pasti sudah benar-benar gila sekarang. Ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri sekarang. Serangkaian kata bahkan terlintas di otaknya untuk menjawab gadis itu. Tapi tentu, ia takkan mengucapkannya. Jawaban itu masih terlalu tak masuk akal baginya.

“Karena kau….”

Wae?”

“Kau bukan gadis yang sepadan untuk bersanding dengan pangeran sepertinya.”

Yeah! Sunggyu ingin merobek mulutnya sendiri sekarang juga. Bukan kalimat ini juga yang ingin ia sampaikan.

“Gadis yang tak jelas asal-usulnya sepertimu takkan pernah diterima dalam lingkungan kami. Kau hanya akan semakin melukai dirimu sendiri.” Sunggyu mengutuk dirinya habis-habisan dalam hati sekarang. Ia sungguh ingin menghentikan dirinya. Tapi ia tak tahu bagaimana ia bisa terus mengoceh tanpa henti seperti ini.

Arra.”

(Lagi) gadis itu mengiyakan semua ucapan bodohnya. Haruskah gadis itu sepasrah ini? Tak bisakah ia mengatakan sesuatu untuk membela dirinya? Sunggyu benar-benar tak bisa mengerti. Ia melepas cengkramannya dengan kesal.

“Baguslah kalau kau mengerti.” Sunggyu memunggungi Yuna dan berusaha mengendalikan ekspresinya sendiri. “Dan ngomong-ngomong, kau sudah berani menggunakan banmal(bahasa informal) denganku sekarang.”

“Kau tak lebih tua dariku. Bahkan kau sudah menggunakannya sejak awal denganku.”

“Kau benar. Begitu terasa lebih baik. Setidaknya, aku merasa kau dan aku lebih dekat dibandingkan dengan kau dan Daehyun.”

“….”

Khanda (aku pergi)!”

Sunggyu berbalik hendak beranjak pergi. Ia sadar ia mulai meracau. Dan jika ia terus berada di sana, ia tahu ia pasti hanya akan semakin berbicara yang tidak-tidak. Tapi langkahnya kembali terhenti, sebelum ia meraih gagang pintu.

“Tidak. Kurasa aku akan tetap berasa di sini. Aku lelah.”

Sunggyu berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Menutup mata rapat-rapat dan menghela nafas berat. Ini pasti terlihat sangat bodoh. Tapi ia tak bisa meninggalkan gadis itu seorang diri. Sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi lagi pada Yuna. Karena entah mengapa, pria itu merasa setiap kali ia pergi dari sisi gadis itu, sesuatu yang buruk selalu saja terjadi pada Yuna. Jadi, apapun yang terjadi kali ini, ia akan tetap berada di ruangan ini bersama gadis bermata sedih itu. Menemani si gadis yang entah bagaimana selalu saja dikelilingi oleh bahaya itu.

Tidak! Sunggyu mendadak merasa dirinya akan benar-benar gila saat ini juga. Mungkin setelah ini, justru ia adalah orang yang membutuhkan perawatan dari seorang psikiater. Bagaimana bisa sekarang ia merasa sangat ingin melindungi gadis itu? Bukankah sebelumnya ia tak suka pada gadis yang selalu mengalahkannya saat mereka berdebat? Bukankah sejak awal ia yang ngotot untuk mengusir gadis itu dari hidupnya? Mengapa sekarang ia justru berusaha menyelamatkannya? Ini benar-benar gila!

“Kau juga. Tidurlah saja lagi!” racau Sunggyu yang pada akhirnya, membuat pria itu harus menggigit bagian bawah bibirnya agar tak semakin berbicara yang tidak-tidak. Beruntung, gadis itu pun tak menjawabnya. Setidaknya, Sunggyu tak memiliki alasan lagi untuk mengoceh.

 

*

*

*

 

Yunji termenung di atas ranjangnya. Ia memikirkan ucapan Sunggyu beberapa saat yang lalu. Benarkah ia menyukai Jung Daehyun? Tapi ia tak pernah tahu apa itu cinta selama ini. Ia tak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Memangnya seperti apa perasaan jatuh cinta itu? Mengapa Sunggyu bisa mengatakan bahwa ia menyukai Daehyun? Memangnya, apa yang sudah ia lakukan? Ia hanya asal mengiyakan ucapan pria itu seperti biasanya. Tapi mengapa pria itu menganggapnya serius dan justru berbicara terlalu jauh? Memangnya siapa yang jatuh cinta pada pria baik itu? Bahkan untuk memikirkannya saja, Yunji tak pernah berani. Ia cukup tahu diri dan takkan pernah membiarkan pria sebaik Daehyun terlibat dalam hidupnya yang kacau lebih jauh lagi.

Yunji mengalihkan tatapannya pada Sunggyu yang terlelap di sofa. Pria itu benar-benar sudah tertidur sekarang (terlihat dari hembusan nafasnya yang teratur). Meskipun ucapan dan sikap pria itu begitu angkuh dan kasar, ada begitu banyak kebenaran di dalamnya. Yunji sadar sekejam apapun ucapan Sunggyu, pria itu selalu membantunya. Karena itulah, ucapan terimakasihnya beberapa saat yang lalu adalah ucapan terimakasih paling tulus yang pernah ia berikan untuk seseorang.

Gadis itu sedikit tersentak saat ponsel Sunggyu yang tergeletak di atas nakas di sanding ranjangnya berdering. Ia melirik si empunya ponsel yang bahkan tak nampak terusik. Panggilan pertama itu pun berakhir. Tapi tak selang berapa lama, ponsel Sunggyu kembali berdering.

Berisik!

Yunji tak tahan lagi dengan suara ponsel itu. Ia memanggil Sunggyu beberapa kali. Tapi pria itu tak bergerak sedikitpun. Sebenarnya, pria itu sedang tertidur atau mati?

Pada akhirnya, dering kedua pun berakhir sia-sia. Yunji menghela nafas jengah. Semoga ponsel itu tak lagi berdering karena sungguh mengganggunya. Tapi beberapa detik kemudian, ia kembali terlonjak kaget karena ponsel Sunggyu kembali berdering.

Ya, Tuhan!

Dengan kesal, Yunji memutuskan untuk meraih ponsel itu dan ia pun tertegun menatap layar yang memampangkan nama si pemanggil. Jung Daehyun. Setelah beberapa saat berpikir untuk menerima panggilan itu atau tidak, Yunji pun memutuskan untuk menjawabnya.

“Hya, baboya! Eodiya? Mengapa kau harus merahasiakan di mana Yuna-ssi dirawat? Apa kau pikir aku pria jahat yang akan menyakitinya? Apa kau pikir aku tak bisa mencari tahu sendiri di mana keberadaan kalian? Kau benar-benar menye—.”

Choyo (ini aku),” sela Yunji.

“Ne? Y…, Yuna-ssi? Itu kau?”

Ne.”

“Astaga! Ma’afkan aku. Aku sungguh tidak tahu kau akan menjawab panggilanku. Ma’afkan aku. Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah jauh lebih baik?”

“Ya, berkat Sunggyu-ssi.

Yunji bisa mendengar helaan lega Daehyun di ujung sana kemudian.

“Bagaimana denganmu? Kudengar, Daehyun-ssi juga sakit.”

“Aku? Sakit? Tentu tidak. Aku sangat sehat sekarang.”

Giliran Yunji yang menghela nafas lega. “Daengida (syukurlah).”

“Oh! Di mana Sunggyu?”

“Ia sedang tertidur.”

“Pantas saja ia tak menjawab panggilanku. Astaga! Apa kau terbangun karena panggilanku ini?”

“Tidak. Aku memang tidak tidur sejak tadi.”

“Lalu, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang memikirkanku, Yuna-ssi?”

“Ne?” Yunji merasakan pipinya memanas mendadak. Apa ia masih demam?

Daehyun terdengar tergelak. Lalu, “Aku hanya bercanda. Sebentar! Aku akan segera tiba. Sedikit lagi.”

“Ne?”

“Kurang sedikit lagi. Iya, sedikit lagi dan….”

Tepat saat itu, pintu kamar rawat Yunji terbuka. Daehyun muncul dari sana seraya tersenyum hangat padanya.

“Aku tiba,” ujar pria itu lirih alih-alih tak ingin membangunkan Sang Pangeran Tidur—Kim Sunggyu.

Godjimal,” gumam Yunji begitu melihat Daehyun.

Daehyun hanya meringis memamerkan sederet gigi putihnya dan mata sipitnya yang menawan. Ia paham mengapa Yunji mengatakan itu. Bagaimana tidak? Keduanya saat ini tengah mengenakan pakaian yang sama. Pakaian seorang pasien rumah sakit.

“Ma’af,” ujar Yunji lagi.

“Mengapa kau harus meminta ma’af?”

“Karena aku, kau jatuh sakit.”

“Apa? Mengapa karena kau? Aku tak merasa kau membuatku sakit. Kau tak pernah menyakitiku. Bahkan menyentuhku pun kau tak pernah.”

“Tapi kau menemaniku menunggu di luar semalaman.”

“Itu karena kemauanku. Kau tak memaksaku. Jadi, kau tak salah. Aku melakukannya dengan senang hati. Kau tak perlu merasa bersalah seperti ini.” Daehyun menyentuh puncak kepala Yunji dan diam-diam, ia menghembus nafas lega karena Yunji tak menolaknya sedikitpun sekarang. Ini pertanda baik, bukan? “Aku sungguh tak apa. Hanya butuh istirahat sebentar dan setelah meminum obat, aku sudah kembali sehat. Orang-orang di sekitarku yang terlalu berlebihan hingga membawaku kemari. Apa kau tak lihat betapa sehatnya aku sekarang? Bahkan aku bisa datang ke sini sendiri tanpa pendamping.”

Yunji mengangguk. Melihat senyum Daehyun dan mendengar pria itu berceloteh ringan di hadapannya membuat hatinya terasa hangat. Ini semakin terasa aneh.

“Jadi lain kali, kuharap kau takkan sungkan meminta bantuanku lagi. Aku akan membantumu dengan senang hati. Mungkin, aku hanya akan meminta sedikit imbalan untuk itu.”

“Imbalan?”

“Ya, imbalan.”

“Tapi aku tak punya uang.”

Daehyun tergelak kali ini. “Imbalan tak selalu harus berbentuk uang, nona.”

“Lalu?”

“Cukup tersenyum padaku. Itu sudah lebih dari cukup sebagai imbalan yang kuterima.”

“Berhenti merayunya bodoh!”

Bersamaan dengan itu, Daehyun merintih kesakitan karena Sunggyu yang entah sejak kapan sudah terbangun memukul kepala pria itu tiba-tiba.

“Hyaa baboya! Bagaimana bisa kau melakukan kekerasan pada seorang pasien, huh?”

“Pasien katamu? Bukankah kau baru saja bilang bahwa kau sudah sangat sehat?”

“Aku memang sudah sehat. Tapi aku tetap saja seorang pasien,” kilah Daehyun seraya memamerkan pakaian rumah sakit yang masih ia gunakan.

“Aku tak perduli. Apa yang sedang kau lakukan di sini, huh?”

“Menjenguk Yuna-ssi. Apalagi?”

“Aku takkan pernah membiarkanmu membawanya pergi lagi.”

“Aku tak berniat mengajaknya pergi sekarang.”

“Tidak untuk sekarang atau kapanpun.”

“Hyaa! Hyaa! Kurasa yang berhak memutuskan hal itu adalah Yuna-ssi sendiri. Benar’kan kataku, Yuna-ssi?”

Daehyun menoleh ke arah Yunji berbarengan dengan Sunggyu yang juga ingin mendengar jawaban gadis itu. Tapi keduanya justru tak mampu berkedip begitu melihat Yunji yang rupanya tengah terkekeh geli sampai merunduk. Kedua pria itu lantas hanya termangu seperti itu untuk beberapa waktu. Ini kali pertama mereka melihat gadis itu sebahagia ini. Sungguh menenangkan melihat Yunji yang selalu bermata sedih itu tertawa seperti itu. Jadi serempak, keduanya hanya terdiam dan mengamati Yunji tanpa berniat mengusiknya. Karena di luar dugaan, tawa gadis itu sungguh indah.

 

*

*

*

 

“Apa yan terjadi? Mengapa kau memecat Manajer Cha, adeul(putraku)? Ini tak seperti biasanya.”

“Ia terlalu bodoh ibu. Miwo.”

“Kau tak sedang membohongi ibu’kan? Yang kutahu, biasanya mereka yang akan mengundurkan diri dan bukan atas perintahmu.”

“Tentu saja tidak, ibu. Memang sejak kapan aku berani membohongi ibu?”

“Selalu, adeul….”

Sunggyu tergelak. “Aku akan melakukan semua perintah ayah dan ibu dengan baik. Tapi aku harap ibu tak lagi menggunakan jasa dari orang-orang sepertinya. Aku sudah dewasa dan aku tahu cara mengurus diriku ibu.”

Terdengar helaan pasrah di seberang sana. “Ibu beri kau waktu satu bulan. Jika selama itu, kau tak membuat masalah, ibu akan menurutimu. Kau mengerti?”

“Yes, madam!”

Kali ini, giliran wanita paruh baya itu yang terkekeh. “Anak nakal. Baiklah, sekarang katakan pada ibu, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini? Kudengar, kau jarang keluar dari apartemenmu. Tak seperti biasanya. Kau tidak sedang membunyikan sesuatu dari ibu’kan?”

Sunggyu nyaris tersedak coklat panas yang baru saja Yunji buatkan untuknya. Ibunya memang begitu peka.

“Manajer Cha yang mengatakannya?”

“Tentu saja. Siapa lagi?”

“Apa saja yang ia katakan pada ibu?”

“Tak banyak. Ia bilang ibu akan tahu, jika ibu mengunjungimu.”

Sunggyu mendengus sekaligus tertawa singkat sinis. “Setidaknya, pria itu punya sedikit keberanian.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Bukan apa-apa. Ibu temani saja ayah di sana. Semuanya akan baik-baik saja di sini.”

“Ibu selalu jadi jauh lebih khawatir saat kau justru mengatakan semuanya akan baik-baik saja.”

Sunggyu kembali tergelak.

“Ayahmu sudah menelephon?”

“Ya, ayah menelephonku kemarin, ibu. Karena itu, aku sedang bersiap-siap untuk menuruti perintahnya sekarang. Aku akan segera pergi ke hotel,” ujar Sunggyu seraya memutar bola matanya.

“Ibu harap kau takkan membuat kekacauan adeul.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Sunggyu-yah….”

Lagi-lagi, Sunggyu tergelak. “Ibu bisa percaya padaku.”

“Ibu juga harap begitu. Kalau begitu, bergegaslah! Jangan sampai terlambat dan membuat ayahmu murka! Eo?”

“Arraseo eomonim. Keuno (kututup telponnya).”

Sunggyu pun mengakhiri percakapannya dengan Sang Ibu. Ia menghela nafas dan mendapati Yunji yang tengah terpaku menatapnya dari dapur.

Wae? Mengapa kau selalu menatapku seperti itu? Sebenarnya, kau ini terpesona padaku atau Daehyun?”

“Selalu menyenangkan melihatmu berbincang dengan ibumu seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau dan ibumu saling menyayangi?”

“Tentu saja. Karena aku putranya dan beliau ibuku. Bukankah kau juga begitu?”

Tapi Yunji tak kontan menjawabnya. Sunggyu pun menatap gadis itu lekat. Pria itu mulai menyadari bahwa setiap mereka membicarakan tentang sosok seorang ibu, tatapan hampa sekaligus sendu gadis itu selalu kembali muncul.

Mollaseo (aku tak tahu),” jawab gadis itu akhirnya.

Jawaban Yunji itu cukup menyentak Sunggyu. Tapi sedikit banyak pula, jawaban itu membantu pria itu untuk memahami mengapa gadis itu selalu nampak murung begitu membicarakan tentang ibunya.

“Kau bisa cerita kapanpun kalau kau mau.”

“Bukankah kau harus segera pergi?”

Amatta! Aku harus segera pergi.” Sunggyu menyahut jas abu-abu yang ia sampirkan di punggung kursi di sampingnya. “Aku tak tahu kapan akan kembali. Jadi, jangan membukakan pintu untuk sembarangan orang, kecuali aku! Kau mengerti?” imbuhnya seraya mengenakan jas tersebut.

“Bagaimana dengan Daehyun-ssi?”

“Tidak untuk dia juga. Tapi kau pasti takkan mendengarkanku. Lagipula, bocah tengik itu tahu password pintuku. Jadi Daehyun, juga termasuk ke dalam pengecualian.”

 

*

*

*

 

Daehyun memperlambat gerakannya setelah ia membuka pintu dan disambut oleh dentingan piano yang mengalun merdu beriring gumaman lantunan sebuah lagu. Tentu, ia tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Yuna?

Lantas, pria itu bersandar pada tembok yang bisa menjadi tempat persembunyian apik baginya agar tak terlihat oleh Yuna hingga tak mengganggu permainan indah gadis itu. Diam-diam, ia memperhatikan Yuna dari sana dan menikmati permainan gadis itu. Yuna benar-benar gadis yang menyimpan sejuta kejutan.

“Permainan yang bagus!” seru Daehyun seraya bertepuk tangan begitu keluar dari persembunyian setelah Yunji menyelesaikan permainannya.

“Sejak kapan kau datang, Daehyun-ssi?” Yunji nampak salah tingkah dan bergegas beranjak dari tempatnya.

Daehyun menggedikkan pundak. “Aku terlalu terlena dengan permainanmu sampai tak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sana.”

“Kau berlebihan.”

Daehyun tergelak seraya mengambil alih sofa Sunggyu. “Di mana si bodoh itu?” Daehyun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang guna berhati-hati, jika saja sahabatnya itu muncul dengan tiba-tiba.

“Kudengar, ia pergi ke hotel atas perintah ayahnya.”

“Benarkah? Sejak kapan ia mau pergi ke sana?” Daehyun bertanya lebih untuk dirinya sendiri. Yang ia tahu, Sunggyu diasingkan ke kota ini untuk mengawasi hotel milik keluarganya alih-alih berkuliah. Tapi, ia tak pernah benar-benar melaksanakannya. Apa ada yang terjadi ataukah Sunggyu tengah merencanakan sesuatu? Apapun itu, Daehyun akan memastikannya nanti saat ia bertemu sendiri dengan lelaki itu.

“Teh krisan?” Yunji mengangkat wadah kaca berisikan bunga-bunga krisan yang sudah dikeringkan. Daehyun sedikit terkejut melihat gadis itu sudah begitu cepat berpindah ke dapur.

“Apapun,” jawabnya singkat. “Astaga, aku baru ingat! Aku datang karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, Yuna-ssi.”

Yunji tetap berkutik di tempatnya. Meracik seteko kecil teh krisan sembari menunggu air yang ia rebus mendidih. Ia akan mendengarkan apapun yang Daehyun katakan dari sana tanpa menatap wajah pria itu karena senyum Daehyun benar-benar mengacaukan detak jantungnya. Apa ia perlu pergi ke dokter lagi? Apa seharusnya ia dirawat lebih lama lagi?

“Aku sudah mencari tahu tentang ayahmu.”

Yunji nyaris saja menjatuhkan cangkir yang baru ia ambil. Tangannya gemetar.

“Sejak hari di mana kita bertemu dengannya, ia tak pernah lagi datang untuk bekerja. Tak ada berita darinya dan tak seorangpun tahu di mana keberadaannya sekarang. Ma’afkan aku, Yuna-ssi. Aku tak bisa membantumu banyak.”

Yunji menggelengkan kepala. Masih tanpa membalikkan badan dan berpura-pura sibuk dengan teh yang sedang ia buat.

“Tapi, salah seorang pekerja yang merupakan teman ayahmu mengatakan padaku bahwa ayahmu pernah bercerita padanya bahwa ia sangat mencintai putrinya dan menyesal atas segala hal yang harus putrinya itu lalui di usia yang masih sangat muda,” lanjut Daehyun.

Yunji masih bergeming. Ia menuangkan air ke dalam teko kecil. Tapi tangannya gemetar hebat hingga ia harus memegang teko pemanas itu dengan kedua tangannya. Gadis itu berusaha keras menahan air matanya. Ia tak boleh menangis.

“Yuna-ssi….

“….”

“Apa kau baik-baik saja?”

Yunji hanya kembali mengangguk. “Tehnya sudah jadi. Kuharap kau menyukainya,” ujar gadis itu. Akhirnya, ia berbalik. Tentu masih enggan menatap wajah Daehyun. Banyak hal yang ia rasakan sekarang. Ia tak bisa menatap wajah pria itu atau semuanya akan terungkap.

Daehyun meraih pergelangan tangan Yunji begitu gadis itu usai menyajikan teh untuknya.

“Apa kau marah padaku karena tak berhasil menemukan ayahmu?”

Yunji menggeleng. Tentu saja tidak. Bodoh, jika ia marah pada pria sebaik Daehyun yang merupakan pria pertama yang mau menolongnya untuk mencari tahu keberadaan ayahnya. Bagaimana mungkin ia bisa marah?

“Lalu, mengapa kau menghindari menatap mataku sejak tadi?”

Oh, sial! Ternyata Daehyun menyadari sikapnya. Yunji pikir pria itu tak memperhatikan hal itu sama sekali. Sekarang, ia tak bisa melakukan hal itu lagi. Ia harus menunjukkan pada Daehyun bahwa ia tak menghindari apapun. Padahal, alasan ia menghindari menatap lelaki itu kini sudah bertambah. Ia tak ingin menunjukkan lebih banyak lagi sisi lemahnya pada pria itu.

Sontak, Yunji menatap tepat ke arah dua bola hitam mata Daehyun yang berpendar. Ia tak pernah menatap Daehyun selekat dan sedekat ini. Jantungnya mungkin dalam hitungan detik akan berlari. Yunji tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia tak bisa mengartikan semua keadaan ini.

“Aku merindukannya. Ayah,” ujarnya kemudian. Dan tiba-tiba saja, yang Yunji sadari kedua lengan Daehyun sudah melingkari tubuhnya. Pria itu mendekapnya erat seraya membelai lembut rambutnya dan sesekali menepuk-nepuk pundaknya lirih. Mati-matian, Yunji menahan aliran air matanya. Ia menggigit bibir bawahnya bagian dalam guna menahan suara isak tangis yang akan segera meledak. Benar, ia sangat merindukan Sang Ayah. Tapi berada di dalam dekapan pria ini benar-benar membuat hatinya terasa semakin sesak.

 

*

*

*

 

“Kau sudah pulang?” Yunji terkejut karena ia tak menyadari kedatangan Sunggyu sebelumnya. Sepertinya, ia terlalu menikmati memainkan game yang nyaris Sunggyu mainkan setiap malam itu. Tapi pria itu tak langsung menjawabnya. Sunggyu justru menatap layar televisi dan baru  mengalihkan tatapannya pada Yunji kemudian.

“Sepertinya, kau sangat menikmati sekali permainan itu.”

Yunji hanya terdiam seraya menundukkan kepala. Malu sudah tertangkap basah.

“Lanjutkan saja! Setelah ini, kau takkan bisa memainkannya lagi,” ujar Sunggyu seraya melonggarkan dasinya.

“Aku takkan lagi menyentuh barangmu, jika itu yang kau mau.”

Sunggyu sontak menatap tajam Yunji dengan kedua mata sipitnya. “Katakan hal bodoh seperti itu lagi dan aku akan menciummu!”

Gila!

“Jangan memelototiku seperti itu! Sudah kukatakan kau selalu melukai harga diriku karena mata bulatmu itu!”

Spontan, Yunji berkedip dan menatap Sunggyu dengan normal. Membuat pria itu mendesis kesal karena apapun yang Yunji lakukan membuatnya merasa gundah.

“Kemasi pakaianmu dan kita akan pergi besok pagi-pagi sekali.”

“Kemana?”

“Kau akan tahu nanti. Sudah kukatakan aku takkan membiarkanmu sendiri selama kau masih menjadi tanggungjawabku. Dan besok, kau harus mengenakan pakaian ini saat kita berangkat.” Sunggyu melempar tas belanja yang sejak tadi ia bawa dan ditangkap tepat oleh Yunji. Lalu, “Karena kau akan menjalani peran baru sebagai manajerku. Kau mengerti?”

“Apa? Manajer? Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya.”

“Turuti saja apa yang kukatakan dan semuanya akan menjadi lebih mudah.”

“Kau bisa meminta bantuan orang lain.”

“Kau yang membuatku memecat Manajer Cha. Jadi, diamlah sementara kau menggantikan posisinya.”

Yunji mendesah jengah. Tidak bisakah pria ini berhenti memaksa? Bukankah itu sebuah ide gila dengan memintanya menjadi manajer? Yunji benar-benar kewalahan dengan segala hal konyol yang otak pria itu hasilkan.

 

TBC

Advertisements

21 thoughts on “[Chaptered] Rose (Chapter 7)

  1. Tetep ya ancamannya Gyu maut. kekeke
    sumpah… Manager Cha kok gitu banget sih? kelamaan bergaul sama Gyu makanya ikutan sarap. #ditabok
    Yunji diajak ke luar kandang? yakin tuh si Gyu? emangnya ga kasihan apa sama Yunji kalo dicari sama Barom dan debt collector?

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s