[Chaptered] But He’s Gay! (Chapter 6) ~Cleanversion~


BHG

B-but He’s Gay!

Songwriter : Seven94 @ http://indonesiafanfictionarea.wordpress.com/

Ask Fm: http://ask.fm/Seven941

Twitter: https://twitter.com/Seven941

NO SILENT READER PLEASE!

Artist:

Choi Taeri [OC],Jung Taekwoon [Leo VIXX], Jung/Cha Hakyeon [N VIXX], Lee Hongbin

[Hongbin VIXX],Jung Krystal [Krystal F(x)], Oh Hayoung [Hayoung Apink]

Genre : Comedy, romance and angst

Duration : Chaptered

Rating : PG 17

WARNING!! CONTAINING YAOI!! MEANING BOYXBOY

<<Previous Chapter       Next Chapter>>

6

Burning Hearts

Jongin terkadang benci untuk mengakui ini tapi dia benar-benar cemburu, saat dia datang pada pagi hari dia bisa melihat Taekwoon dan Taeri sedang memakan sarapan mereka. Percis seperti pasangan yang baru saja menikah, Taekwoon sibuk dengan korannya dan Taeri menyeduhkan kopi untuk lelaki itu.

Oppa? Sejak kapan kau disana?” Taeri terkejut saat dia menyadari keberadaan lelaki itu.

“Sejak lima belas detik yang lalu.” Jongin menjawab sambil melirik kearah jam tangannya, ditangan kanannya dia membawa sebungkus donat dan sebuket bunga mawar.

“Wow apa bunga itu untukku?” Taekwoon bercanda dan Jongin menggelengkan kepalanya.

“Maaf Taekwoon, bunga ini untuk wanita cantik bernama Choi Taeri.” Jongin berkata, dia mendekat kearah Taeri dan mencium pipi wanita itu membuat Taeri tersenyum dan membalas ciumannya.

“Ewww..aku sebaiknya cepat bekerja sebelum aku memuntahkan sarapanku lagi.” Taekwoon berdiri dari duduknya.

“Taekwoon-shi bagaimana dengan kopimu?” Taeri menunjukan kopi yang dia seduh, Taekwoon akhirnya mengambil kopi itu dan meminumnya.

“Terimakasih yeobo,saranghae.” Canda Taekwoon, wajah Jongin langsung tegang saat dia mendengar itu.

“Hahaha hanya bercanda Jongin, kau tak usah tegang seperti itu.” Taekwoon berkata dan pergi menuju pintu utama rumah.

“Aku tidak suka Taekwoon.” Jongin akhirnya berkata setelah dia yakin kalau lelaki itu pergi.

“Aww..kau hanya cemburu oppa , tenang saja aku dan dia hanya teman baik.” Taeri mengelus dada Jongin dan membuka kotak donat yang lelaki itu bawa.

“Wah..kau membeli donat kesukaanku.” Taeri berkata.

“Tentu saja,aku selalu ingat makanan kesukaan pacarku yang paling cantik ini.” Jongin memeluk Taeri dari belakang.

“Hm..benarkah?” Taeri mengambil salah satu donat yang ada di bungkus itu lalu memakannya.

“Iya tentu saja, Taeri-ya aku sedang berencana untuk membeli apartemen.” Ungkap Jongin dan itu membuat Taeri tertarik sehingga wanita itu memutarkan badanya menghadap kearah Jongin.

“Lalu?”

“Aku ingin kau tinggal bersamaku disana, bagaimana? Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi.” Jongin menyeka gula putih yang ada disudut Taeri.

Mendengar tawaran Jongin tentu saja Taeri senang, dulu dia selalu memimpikan hal ini namun saat dia menatap kearah pintu kamar Taekwoon dia ingat kalau dia tidak bisa meninggalkan lelaki itu. Entah kenapa rasanya berat sekali untuk mengatakan ‘iya’ padahal dia ingin sekali tinggal bersama Jongin.

“Entahlah oppa ,aku sudah punya rumah sekarang dan aku tidak bisa meninggalkan rumah ini.” Taeri akhirnya harus menolak, dia bisa melihat ekspressi kecewa terpampang diwajah tampan Jongin.

“Oh begitu ya.” Jongin merespon. “Tidak apa-apa, mungkin setelah kita menikah bagaimana?” Taeri tersenyum dan mengangguk, tentu saja Taeri senang dengan kemungkinan kalau dia dan Jongin akan menikah.

“Tentu saja.” Jawab Taeri, Jongin memeluk Taeri membuat wanita itu senang dan membalas pelukannya.

“Aku harus pergi,aku ada meeting maaf aku tidak bisa mengajakmu berkencan hari.” Jongin berkata sambil melepaskan pelukannya.

“Tidak apa-apa,mungkin kita bisa berkencan minggu depan.” Taeri mengusulkan dan Jongin mengangguk senang.

“Aku harus pergi, bye.” Jongin mencium bibir Taeri sekilas.

Taeri melambaikan tangannya untuk yang terakhir kalinya saat Jongin melirik kearahnya sebelum menutup pintu rumah. Taeri menghela nafasnya, dia lega Jongin kembali kedalam pelukannya namun entah kenapa dia merasa tidak senang saat mendengar Jongin mengajaknya untuk tinggal bersama.

Seperti biasanya Taeri membuka laptopnya, dia berencana untuk memulai cerita baru. Mungkin sesuatu yang lucu dan klise seperti yang remaja-remaja biasa sukai namun sepertinya otaknya menolak ide itu, apapun yang dia lakukan dia selalu berakhir menghapus semua kalimat yang baru saja dia ketik.

Taeri tidak pernah kesusahan seperti ini, biasanya cerita selalu datang begitu saja dia mudah sekali mendepat inspirasi namun belakangan ini rasanya inspirasi susah sekali untuk didapatkan.  Taeri menghela nafasnya dan menghidupkan televisi, mungkin setelah menonton televisi dia akan mendapatkan inspirasi.

Untuk channel pertama dia hanya menonton sebuah acara reality show yang membosankan, akhirnya dia mengganti channelnya namun kebanyakan channel yang dia lihat sedang memutarkan iklan. Taeri benci iklan, dia akhirnya mencari channel lain sampai akhirnya dia berhenti memindahkan channel saat dia melihat wajah familiar.

Dia membesarkan volume televisinya saat dia mendengar nama Jongin disebut, dia menonton berita mengenai pembatalan pernikahan Jongin. Dia mengigit bibirnya saat dia mendengar kerjasama anatara perusahaan Kim dan Choi dibatalkan karena Jongin, citra perusahaan Jongin sudah tercela dan itu membuat Taeri sedikit sedih.

Seharusnya malam itu dia tidak membiarkan Jongin masuk. Terkadang Taeri berpikir seperti ini, dia seharusnya mengusir lelaki itu dia tahu jika Sulli pasti sangat malu dengan pembatalan pernikahan ini.

Taeri menghela nafasnya, dia merasa bersalah. Mungkin dia terlalu egois karena dia ingin memiliki Jongin, dia bahkan tidak tahu akibat yang Jongin dan keluarganya harus terima. Walaupun Jongin kelihatan bahagia didepannya dia tahu Jongin sedih, dia sedih dengan semua pemberitaan ini dia hanya tidak ingin membuat Taeri khawatir karena itulah Kim Jongin.

Kim Jongin yang sangat dia cintai.

*****

Hayoung terkejut saat dia melihat sosok Taekwoon masuk kedalam toko kuenya, Hayoung segera menghampiri Taekwoon dan mungkin akan mencoba meminta maaf.

Oppa ..”

“Kau tak usah menjelaskannya, aku sudah mendengarnya dari Hyeong.” Taekwoon berkata.

“Maaf,tapi aku janji padamu hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.” Hayoung menunduk malu kearah Taekwoon, Taekwoon sebenarnya belum bisa memaafkan Hayoung namun dia mengingat semua kebaikan wanita itu.

“Tidak apa-apa, aku harap kau tidak melakukannya lagi.” Taekwoon akhirnya pergi kedalam dapur saat dia melihat Himchan masuk kedalam toko.

“Selamat pagi bos!” Himchan menyapa Hayoung dan Hayoung melirik kearahnya dengan senyum tipis lalu pergi.

“Kenapa atmosphere di bangunan ini terasa tegang belakangan ini.” Himchan berkata saat dia melihat Hayoung pergi kearah kantornya.

“Hanya perasaanmu Hyeong.” Ucap Daehyun,lelaki itu juga baru sampai karena dia masih memakai baju bebasnya.

Mereka berdua masuk kedalam dapur dan menemukan Kyungsoo sudah mulai bekerja. Dia bahkan sudah mulai membuat adonan kue sedangkan Taekwoon membuka lemari es untuk mengeluarkan kue kemarin yang masih bagus, harum adonan kue langsung tercium didapur membuat Himchan dan Daehyun tergoda.

Hyeong bisakah kau menyembunyikan kue-kue itu? Aku benar-benar lapar pagi ini.” Daehyun mengelus perut ratanya, sebagai mahasiswa dia tidak memiliki banyak uang.

“Ckckck..kasihan sekali kau,aku membawa bekal kita sarapan setelah kau membereskan kursi dan meja didepan bagaimana?”

Onew tiba-tiba saja muncul dibelakang Daehyun membuat Daehyun terkejut setengah mati. Lelaki itu kadang-kadang seperti ninja, tidak seorangpun menyadari darimana dia datang tadi.

Hyeong!kau mengagetkanku! Kau masuk darimana?” Daehyun melirik kearah kedua pintu yang ada didapur dan menemukan pintu belakang dapur terbuka.

“Dari surga~” Onew menjawab bercanda, diapun pergi untuk mengganti bajunya menjadi seragam pâtissier seperti yang digunakan Taekwoon dan Kyungsoo.

“Jinjja! Terkadang Onew hyeong membuat aku takut.” Daehyun bergidik dan pergi untuk membereskan meja dan kursi didepan toko.

“Dasar anak tengil,dia selalu melebih-lebihkan.” Himchan menggelengkan kepalanya dan Kyungsoo setuju dengan Himchan karena pâtissier itu mengangguk sambil tersenyum.

“Oh Kyungsoo,kau jarang sekali tersenyum..ini masih pagi dan kau sudah tersenyum seperti itu?” Taekwoon menggoda.

Mendengar itu Kyungsoo melemparkan Taekwoon tatapan tajamnya dan Taekwoon langsung kabur untuk menyimpan kue-kue yang sudah dia ambil dari lemari es. Himchan menahan tawanya saat dia melihat Taekwoon kabur,diapun memutuskan untuk mengikuti langkah Taekwoon takut menjadi korban selanjutnya jika dia tertawa.

Taekwoon akhirnya selesai menyusun kue-kue yang dia bawa di etalase toko, dia juga membantu Himchan untuk membersihkan dinding toko yang mulai berdebu. Taekwoon tidak sadar saat dia membersihkan dinding seseorang masuk kedalam toko membuat Himchan memanggil orang itu dan melarangnya masuk kedalam toko karena toko mereka belum benar-benar buka.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Jung Taekwoon.”

Mendengar namanya disebut Taekwoon akhirnya mengintip untuk melihat siapa yang ingin menemuinya, dia terkejut saat dia melihat sosok ayahnya atau lebih tepat ayah tirinya. Dia kelihatan sehat dan baik-baik saja, uban di rambutnya terlihat lebih banyak dari terakhir kali dia melihatnya.

“Abeoji?” Taekwoon langsung berjalan kearah ayah tirinya,mendengar Taekwoon memanggil lelaki yang dia cegah masuk abeoji Himchan langsung menunduk meminta maaf karena sudah tidak sopan.

“Taekwoon..”

“Apa yang abeoji lakukan disini?”

“Ibumu menyuruhku untuk menjengukmu.”

Mendengar itu Taekwoon sedikit terkejut, ayah tirinya jarang sekali ingin menemuinya mengingat saat mereka terakhir kali bertemu mereka bertengkar hebat soal kenyataan jika Taekwoon tidak menyukai wanita.

Taekwoon menyuruh ayahnya masuk dan menyeduhkannya teh, Hayoung yang melihat pamannya datang ke tokonya tentu saja menyuruh Taekwoon untuk menyajikan kue-kue yang enak untuknya. Taekwoon bisa melihat Onew dan Kyungsoo mengintip dari jendela dapur,mungkin kedua pâtissier itu penasaran dengan sosok yang mengobrol akrab dengan Hayoung sekarang.

“Hyeong…apa benar dia ayahmu?” Kyungsoo bertanya saat Taekwoon masuk kedapur untuk mengambil beberapa roti hangat yang sudah matang untuk ayah tirinya.

“Ya,tapi dia bukan ayah kandungku.” Taekwoon menjelaskan.

Onew dan Kyungsoo mengangguk mengerti, mungkin itu alasan kenapa mereka terlihat canggung sekali saat Onew dan Kyungsoo melihat mereka mengobrol sejenak. Untung saja ada Hayoung jika tidak Taekwoon pasti sudah mati karena kecanggungan mereka berdua.

Setelah mengobrol dengan Hayoung beberapa menit,Hayoung memutuskan untuk memberikan waktu untuk pamannya dan Taekwoon mengobrol. Dia tahu kenapa pamannya datang kesini,dia sudah mendengarnya dari ibu Taekwoon.

“Bagaimana kabarmu?” ayah tirinya bertanya saat Taekwoon baru saja duduk.

“Baik,bagaimana dengan abeoji juga eomma?” Taekwoon bertanya kembali.

“Ibumu baik-baik saja, kau tak usah khawatir..aku juga.” Ayah tirinya menjawab, lelaki tua itu mengaduk tehnya yang ada dimeja.

“Sebenarnya alasanku kesini karena aku ingin meminta maaf.” Ayah tirinya berkata membuat Taekwoon terkejut.

“Kau boleh pulang kerumah,berhentilah tinggal bersama wanita yang hyeong mu ceritakan padaku.”

Taekwoon senang mendengar jika ayah tirinya meminta maaf padanya,namun entah kenapa saat dia mendengar ayah tirinya mengatakan untuk berhenti tinggal bersama Taeri hatinya kembali sakit.

“Apa kau meminta maaf padaku hanya untuk itu? Bukan karena kau sudah menerima aku apa adanya?”

Mendengar itu ayah tiri Taekwoon berhenti mengaduk tehnya.

“Kalau begitu apa hubunganmu dengan wanita itu? Apa kau berpacaran dengannya? Apa kau akan menikahinya?” Ayahnya menatap kearah Taekwoon, Taekwoon mengigit bibirnya karena dia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau bilang kau tidak suka wanita,lalu kemarin hyeong mu datang dan mengatakan kau tinggal bersama seorang wanita apa sebenarnya yang kau inginkan?! Sudahkah cukup bagimu untuk mempermalukan namaku dan keluargaku?” Ayah Taekwoon berkata,mendengar perkataan itu Taekwoon hanya bisa meremas tangannya menahan emosi.

“Kalau kau begitu malu denganku,bagaimana jika kau tidak pernah menganggapku sebagai anakmu? Lagipula pada kenyataannya aku memang bukan anakmu.”

“Jung Taekwoon!” ayah tirinya membentak.

“Maaf abeoji,jika kau datang kesini hanya untuk itu sebaiknya anda pergi.”

Taekwoon berdiri dari duduknya namun saat dia hendak melangkah menjauh ayah tirinya menarik tangannya mencegahnya untuk pergi. Taekwoon melirik kearah ayahnya dan dia bisa melihat mata lelaki tua itu berkca-kaca, seakan dia akan menangis dan itu membuat Taekwoon sedikit merasa bersalah.

“Kau mungkin bukan anak kandungku tapi aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Hakyeon, kau anakku juga…aku hanya khawatir,aku dan ibumu khawatir dengan jalan yang kau pilih.” Ayahnya mengungkapkan.

“Aku khawatir saat kau tua tidak ada yang bisa menjagamu, ibumu bahkan mencoba menjodohkanmu dengan gadis-gadis muda yang dia kenal tapi aku mencegahnya karena aku tahu kau tidak akan menyukai mereka.”

Mendengar itu mata Taekwoon melebar, dia tidak pernah menyangka ayah tirinya begitu peduli padanya padahal dia kira ayah tirinya itu membencinya. Bahkan saat dia mencoba untuk berkata jujur tentang seksualitasnya lelaki tua inilah yang tidak ragu mengusirnya dari rumah.

“Aku mengerti Taekwoon,aku mengerti perasaanmu tapi aku dan ibumu sulit untuk menerimanya karena kami khawatir. Aku mohon…berhentilah berontak dan dengarkan aku dan ibumu.”

Taekwoon kembali duduk, kepalanya menunduk penuh malu.

“Kau tak usah khawatir abeoji aku tinggal bersama orang yang mengerti keadaanku, dia wanita yang baik jika kau tidak percaya aku akan mengenalkannya padamu.” Taekwoon menenangkan dan ayah tirinya akhirnya menghela nafas.

“Kau memang keras kepala,apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?” ucap ayahnya namun lelaki itu tidak kelihatan kesal dan akhirnya tersenyum.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan, kenalkan aku padanya bawa dia makan malam kerumah besok.” Ayah Taekwoon mengusulkan dan Taekwoon mengangguk.

“Aku akan membawanya, tak usah khawatir abeoji.”

*****

“Jadi akhirya kau bersama dengan Taekwoon.” Jaehwan berkata, dia menatap kearah jajaran foto yang baru saja Hakyeon cetak.

“Ya begitulah, kau tahu dia tinggal dirumahku yang dulu? Ternyata seseorang sudah membelinya aku sedikit kecewa.” Hakyeon berkata sambil merapikan foto-foto yang ada dimeja kerjanya.

“Oh iya..Taekwoon mengatakannya padaku saat dirumah sakit, aku dengar wanita itu seorang penulis terkenal.” Jaehwan melirik kearah Hakyeon dan menemukan lelaki itu duduk dikursi sambil menatap kosong kearah fotonya dan Taekwoon.

“Ya, dia wanita yang baik.” Hakyeon menjawab singkat.

Jaehwan menyeringai saat dia melihat ekspressi murung yang ditunjukan Hakyeon, apa sahabatnya itu cemburu?

“Aku ingat namanya Choi Taeri kan? Hm…aku melihat dia di beberapa majalah, dia sangat cantik apa kau tidak khawatir jika Taekwoon—“

“Tidak mungkin! Taekwoon bukan lelaki yang seperti itu.” Hakyeon segera membantah sebelum Jaehwan sempat menamatkan kalimatnya.

“Okay..kau tak usah marah.” Jaehwan tertawa melihat betapa kesalnya Hakyeon.

“Apa kau pikir aku aneh? Jaehwan aku ingin jawaban yang jujur.”

Hakyeon menatap kearah sahabatnya itu penuh keseriusan.Jaehwan mengakui Hakyeon belakangan ini terlihat aneh namun dalam konteks yang baik, dia lebih banyak tersenyum bahkan dia bersenandung pagi ini meskipun dia harus berurusan dengan model yang rewel dan sangat menjengkelkan mendengar bagaimana rewelnya mereka sudah membuat Jaehwan jengah apalagi Hakyeon yang harus berurusan dengan mereka secara langsung.

“Sedikit,tapi aku rasa itu karena kau sedang jatuh cinta saja.” Jaehwan tersenyum kearah Hakyeon menenangkan lelaki itu.

“Benarkah?aku?jatuh cinta?” Hakyeon seakan tidak percaya perkataan Hakyeon, dia tidak pernah tahu berhubungan dengan Taekwoon bisa membawa perubahan yang cukup besar baginya.

“Dengar Hakyeon,Taekwoon memberikan pengaruh yang bagus untukmu tapi jangan bergantung padanya, kau tahu apa yang terbaik.”

Jae Hwan memberikan peringatan, bukannya dia tidak percaya pada Taekwoon namun apapun bisa terjadi di masa depan dia hanya ingin Hakyeon tidak terlalu terluka jika takdir mengatakan mereka harus berpisah suatu saat nanti.

“Hmftt..apa kau memberikan aku nasehat Seonsaeng-nim?” Hakyeon menggoda dan Jaehwan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya ingin mengingatkan kalau kau lupa, aku tidak akan terus ada disisimu kau tahu itu.” Jaehwan membalas,dia melirik kearah jam dan dia terkejut saat dia melihat waktu sudah menunjukan jam sepuluh pagi.

“Oh!aku ada janji..aku pergi.” Jaehwan segera mengambil kamera dan tas coklatnya.

“Kau mau kemana?”

“Aku harus menemui Hayoung, dia bilang dia ingin bertemu denganku.” Jaehwan kelihat sangat senang dia bahkan segera berlari keluar mengabaikan Hakyeon yang hendak bertanya lagi.

“Dasar..dia pasti senang sekali.” Gumam Hakyeon.

Bayangan saat dia dan Hayoung berciuman membuat Hakyeon merasa tidak nyaman, dia masih ingat kata-kata yang dia ucapkan pada Hayoung hari itu. Dia benar-benar menyakiti hati Hayoung dengan menolak wanita itu mentah-mentah tapi dia tidak memiliki pilihan lain, hatinya sudah dimiliki oleh Jung Taekwoon sehingga dia tidak bisa melirik kearah lain.

Apakah Hayoung benar-benar akan mendengarkan apa yang dia katakan? Apakah wanita itu akan kembali dalam pelukan Jaehwan? Pertanyaan itu semakin membuat Hakyeon tidak tenang. Dia harap Hayoung mendengarkan apa yang dia katakan, dia tidak ingin membiarkan wanita itu menunggunya.

*****

Sulli menatap kearah rumah yang sudah dia cari selama setengah jam, dia belum pernah datang kedaerah Daehi-dong. Apalagi daerah cukup luas dia bahkan sudah bosan untuk memutar setir mobilnya mencari nomor rumah yang ada dilayar ponselnya, dia tidak sabar untuk segera masuk kedalam rumah itu dan menemui wanita yang sudah berani merebut calon suaminya.

Setelah sampai didepan rumah yang dia cari Sulli segera turun dari mobilnya, dia menghela nafasnya sekilas dan memakai kacamata coklatnya dia memastikan bahwa penampilannya rapih dan tentu cantik.

Sulli langsung mengetuk pintu rumah yang dia cari menunggu sesaat sampai akhirnya seorang wanita membuka pintu rumah itu. Hari sudah sore tapi Sulli masih bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang dia cari, Choi Taeri itulah nama wanita yang merebut Kim Jongin darinya.

“Apa kau Choi Taeri?” Sulli bertanya dengan sinis.

“Ya,siapa anda?” Taeri kelihatan kebingungan, tentu saja dia tidak tahu siapa Sulli jika dia tahu wanita itu pasti tidak akan membuka pintu rumahnya.

“Aku Choi Sulli, mantan tunangan Jongin.” Jawabnya.

Ekspressi Taeri menengang setelah dia mendengar jawaban Sulli, pipinya memanas karena malu ingin sekali dia menutup pintu rumahnya namun itu tidak sopan.

“Oh..apa kau mau masuk?” Taeri membuka pintu rumahnya lebih lebar, entah apa yang dia pikirkan dia terlalu panik mendengar siapakah wanita didepannya.

Sulli tidak mengatakan apapun dia langsung masuk kedalam dan sengaja menyenggol bahu Taeri dengan keras membuat wanita itu mundur beberapa langkah. Taeri bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan suhu tubuhnya mendingin, dia sangat gugup apalagi saat dia melihat Sulli duduk dikursi ruang tamunya lalu melepaskan kacamatanya.

“Apa kau ingin minum?kopi atau teh?” Taeri menawarkan.

“Teh saja.” Sulli menjawab singkat.

Taeri segera menyeduhkan teh untuk Sulli, dia mengambil ponselnya setelah dia selesai membuat teh. Dia ingin mengatakan pada Jongin jika Sulli ada disini, dia mulai mengetik sebuah pesan singkat untuk jongin namun dia menghentikannya mengingat jika dia tidak ingin menggangu Jongin yang sedang bekerja.

Taeri akhirnya mengurungkan niatnya, dia mengantarkan teh untuk Sulli lalu dia duduk didepan wanita itu.

“Apa kau tahu kenapa aku kesini?” Sulli memulai percakapan.

Taeri menggelengkan kepalanya.

“Aku kesini untuk mengatakan kalau kau tidak pantas bersama Jongin,sebaiknya kau mundur agar Jongin akan kembali padaku.”

Taeri hanya menunduk diam, bagaimana dia bisa menyerahkan Jongin jika lelaki itu baru saja kembali padanya? Dia mencintai Jongin dia tidak akan pernah melepaskan lelaki itu untuk kedua kalinya.

“Apa kau mendengarkan apa yang aku katakan?aku bilang mundur Taeri, kau tidak pantas untuk bersamanya.”

Taeri marah saat dia mendengar itu, dia mungkin sudah merebut Jongin dari Sulli namun dia tidak akan menerima hinaan Sulli begitu saja.

“Maaf Sulli-shi,aku tahu aku salah..tapi kau tidak berhak mengatakan jika aku tidak pantas bersama Jongin.” Ucap Taeri,walaupun suaranya gemetaran tapi dia cukup bangga dengan perkataannya.

“Huh?berhak? kau yang tidak berhak merebut Jongin dariku! Apa kau tahu malunya aku saat pernikahan kami dibatalkan?!” Sulli marah,matanya membulat bahkan pipi wanita itu memerah menahan amarahnya.

“Bukankah Jongin sendiri yang pergi darimu? Kau yang seharusnya sadar siapa yang tidak layak bersama Jongin!” Taeri ikut marah.

“Dasar pelacur!” Sulli mengumpat dia mengambil teh yang ada dimeja dan menyimramkan nya pada Taeri.

“Cukup!”

Mendengar suara seorang lelaki Sulli juga Taeri melirik kearah sumber suara, dia menemukan Taekwoon yang berdiri diambang pintu . Taekwoon langsung menarik Sulli dengan kasar membuat wanita itu terkejut dia mencoba memberontak namun gengaman Taekwoon sangat kuat membuat dia tidak bisa melakukan apapun, Taeri menghela nafasnya saat dia merasakan wajahnya panas dan airmatanya akhirnya tumpah setelah dia menahannya.

“Jangan pernah kembali kesini!” Taekwoon membentak dan menutup pintu didepan wajah Sulli.

Sulli yang marah beberapa kali mengutuk dan mengetuk pintu menyuruh Taekwoon untuk membuka pintu rumah namun Taekwoon mengacuhkannya. Dia segera mengambil handuk yang ada dikamar mandi dan mengelap wajah Taeri yang masih basah karena teh yang tadi Sulli siramkan padanya, walaupun Taeri mengatakan apapun padanya Taekwoon tahu wanita itu sangat sedih.

Taeri mencegah Taekwoon untuk mengelap wajahnya, dia merebut handuk yang ada ditangan Taekwoon dan pergi kedalam kamarnya tanpa mengatakan apapun. Taekwoon sangat khawatir saat dia melihat betapa sedihnya temannya itu, dia mengetuk pintu kamar Taeri namun Taeri tidak menjawab apapun.

“Taeri..”

“Aku tidak apa-apa, kau tak usah khawatir.” Taeri menyahut dari balik pintu.

Walaupun Taeri mengatakan dia tidak apa-apa Taekwoon bisa mendengar suara wanita itu lebih serak dari biasanya, Taekwoon tahu Taeri menangis. Taekwoon tidak ingin membuat Taeri marah dan akhirnya dia menyandar pada pintu kamar Taeri sambil mendengarkan suara tangis wanita itu. Dia harap dia bisa menghibur temannya, dia tahu Taeri akan melakukan hal yang sama padanya jika keadaan terbalik. Dia masih ingat bagaimana Taeri mencoba menghiburnya saat dia salah paham tentang hubungan Hakyeon dan Hayoung, dia ingin melakukan hal yang sama pada Taeri namun dia tidak bisa melakukan itu jika Taeri tertutup seperti ini.

Taekwoon tahu Taeri pasti menangis,hatinya pasti sakit sekali hari ini apalagi dia melihat Sulli menyiram wanita itu sambil menghinanya. Harga diri Taeri sudah ahncur berkeping-keping saat Sulli menyiramnya dengan teh tadi.

Isakan tangis terdengar dari seberang pintu dan itu membuat Taekwoon semakin khawatir, dia ingin sekali mengetuk pintu kamar Taeri namun dia tidak ingin mengangguk temannya itu. Dia ingin Taeri tenang dulu sebelum mereka bisa membicarakan masalah apapun yang wanita itu miliki, dia ingin sekali menghiburnya namun dia tidak bisa melakukan apapun sekarang.

*****

Jongin mengambil semua barang-barangnya yang ada di mejanya, dia terpaksa harus meninggalkan perusahaan ayahnya setelah mereka bertengkar kemarin malam. Ayahnya bersikeras menyuruh Jongin untuk kembali pada Sulli, beruntung bagi Jongin orangtua Sulli masih memberikan kesempatan karena Sulli masih menyukai putra mereka walaupun ayah Sulli kelihatan tidak senang dengan pembelaan yang dilakukan Sulli terhadap Jongin.

“Jongin-ah….apa yang ayahmu katakan benar?”

Sahabatnya Chanyeol masuk keruangannya, dia terengah-engah mungkin dia berlari kesini panik dengan berita yang baru saja menyebar pagi ini. Jongin tersenyum melihat Chanyeol yang kelihatannya akan terkena asma jika terus berlari dari kantornya yang berjarak cukup jauh dari ruangan kantor Jongin.

“Ya, aku dipecat Hyeong.” Jawab Jongin singkat, dia memasukan foto Taeri dengan dirinya setelah menatap kearah foto itu sesaat.

“Apa karena pernikahan dibatalkan?” Chanyeol kembali bertanya dan berjalan menghampirinya.

“Apakah ada alasan lain selain itu?”

“Wah…paman Kim benar-benar kejam kali.”

Jongin hanya tersenyum pahit, ya lelaki kejam yang Chanyeol sebut adalah ayahnya yang dengan teganya mengusirnya dan bahkan tidak menganggap nya lagi anak. Chanyeol menyentuh bahunya penuh simpati namun Jongin melepaskannya, dia bukanlah anak kecil yang akan menangis karena dia dipecat. dia tidak butuh simpati dari siappun. Ini hidupnya dan dia berhak untuk melakukan keputusan apapun, dia seorang lelaki yang bebas sekarang.

Dia tidak lagi terjebak dalam penjara emas yang selama ini ayahnya ciptakan untuknya, dia bisa melakukan apapun dan tanpa larangan dan cemooh dari ayahnya apalagi kakaknya. Yah, kakaknya Kim Joonmyeon anak pertama yang sangat ideal berbeda sekali dengannya Joonmyeon adalah apapun yang ayahnya inginkan. Pintar,tampan, berkarisma dan penuh tanggung jawab dia tidak butuh Jongin untuk melanjutkan perusahaan besarnya terimakasih pada Joonmyeon.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Chanyeol bertanya.

“Aku harus mencari pekerjaan lain.” Jawabnya tak berekspressi.

“Aku tahu itu, tapi dimana? Semua berita tentangmu menyebar keseluruh penjuru Korea.”

Jongin menghela nafasnya, tentu saja dalam dunia bisnis yang penuh dengan drama dimana reputasi adalah segalanya dia pasti akan kesusahan namun dia tidak memiliki niat untuk bekerja di dunia bisnis lagi. Dia sudah muak dengan tipu muslihat dan permainan licik yang sudah dia tekuni selama beberapa tahun ini, lagipula dia tidak cocok untuk menjadi pembisnis.

“Tak usah khawatir Hyeong,aku pasti menemukan pekerjaan lain kalau tidak aku masih punya cafe di Gangnam kau tak usah khawatir.” Jongin menjawab malas.

“Oh iya, aku lupa kau punya cafe disana. Jongin sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau membatalkan pernikahanmu?”

Jongin hanay tersenyum tipis mendengar pertanyaan Chanyeol, kakak sepupunya itu terkadang bisa terdengar seperti reporter yang ingin mewawancarainya.

“Aku mengikuti hatiku Hyeong.” Jawabnya singkat dan itu membuat Chanyeol kebingungan.

“Hatimu?”

“Ya, aku akan kembali pada wanita yang aku cintai sejak dulu aku muak harus berbohong dan mempertahanku posisiku di perusahaan. Aku baru sadar aku tidak cocok sebagai pembisnis.”

Mata Chanyeol melebar saat dia mendengar itu, Chanyeol hanya tahu satu wanita yang kemungkinan adalah wanita yang dibicarakan sepupunya. Choi Taeri, pacar Jongin saat dia masih kuliah tapi bukankah mereka sudah berpisah tiga tahun yang lalu? Kenapa tiba-tiba saja Jongin ingin kembali padanya.

“Apa kau kembali bersama Taeri? Choi Taeri?Wow, aku tidak menyangka kau masih mengingat dia.” Chanyeol kelihatan terkejut.

“Jongin kau gila! Kau tidak bisa bersama dengan dia lagi, kau tahu wanita itu seorang penulis terkenal kau bisa saja melukai reputasinya Jongin!” Chanyeol membentak.

“Aku mencintainya hyeong kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku saat jauh darinya.” Jawab Jongin kesal. “Jika kau ingin menceramahiku seperti Joonmyeon Hyeong  aku tidak butuh itu, kau bisa keluar.” Jongin dengan kasarnya mengusir Chanyeol, Chanyeol sedikit tersinggung dengan usiran Jongin namun dia mengerti lelaki itu pasti dalam tekanan yang hebat sekarang mengingat bagaimana ayahnya dan ibunya menentang keras hubungan antara Taeri dan Jongin.

Chanyeol akhirnya memutuskan untuk menutup mulutnya dan membantu Jongin untuk membereskan kantor Jongin. Tidak memakan waktu lama mereka akhirnya selesai membereskan buku-buku dan barang-barang Jongin, Chanyeol mengambil salah satu box yang ada dimeja Jongin dan mengantar lelaki itu sampai keluar dari ruangannya.

Saat mereka melangkah keluar dari kantor Jongin kedua lelaki itu terkejut melihat sosok Sulli berdiri didepan mereka. Wanita itu menatap sedih kearah Jongin namun Jongin segera menariknya menjauh dari Chanyeol juga tatapan para pegawai.

Keadaan terasa sangat canggung apalagi sekarang mereka harus duduk didepan satu sama lain, Sulli hanya diam sambil memainkan cangkir kopinya. Dari sejak mereka sampai di cafe wanita itu tidak mengatakan apapun membuat Jongin semakin frustrasi, sebenarnya apa yang Sulli inginkan? Sudah jelas sekali jika Jongin tidak ingin berurusan lagi dengannya.

“Apa kau tidak akan mengatakan apapun?”

Jongin mencoba memecahkan keheningan diantara mereka. Sulli hanya melirik kearahnya dengan tatapan tajam, Jongin bisa merasakan kebencian yang mendalam dari mata wanita itu namun dibalik kebencian dia juga bisa melihat kesedihan dan kekosongan.

“Apa kau tidak akan meminta maaf?”

“Untuk apa Sulli,aku sudah minta maaf soal pembatalan pernikahan. Apa aku harus meminta maaf soal itu lagi?”

Sulli mengigit bibirnya kesal, dia menghela nafasnya mencoba menahan emosinya rasanya dia ingin sekali menampar wajah tampan Jongin namun dia tidak bisa. Setelah semua rumor yang jelek berkeliaran tentangnya sekarang dia tidak bisa menambahkannya lagi, ayahnya sudah memberi peringatan padanya kemarin.

“Jika kau merubah pikiranmu sekarang aku masih bisa memaafkanmu, aku bisa membujuk paman Kim untuk membiarkanmu bekerja lagi dan semuanya kembali seperti dulu.”

Harga diri Sulli sudah hilang setelah pemberitaan pembatalan pernikahannya yang mewah, dia tidak memiliki harga diri yang tersisa lalu kenapa harus bersikap sombong? Sulli hanya ingin menangis dan mengumpulkan kembali sisa harga dirinya yang sudah diinjak-injak oleh seorang Kim Jongin.

“Aku tidak akan kembali Sulli, aku tidak ingin menikah denganmu.” Jawab Jongin sangat dingin.

“Ternyata kau lebih bodoh dari yang aku kira, kau sudah dipecat sekarang Jongin. Kau tidak memiliki apapun ayahku cukup berpengaruh di dunia bisnis kau tidak akan bisa bekerja di Korea jadi sebaiknya kau sadar dari mimpimu dan kembali padaku.” Sulli mengancam, dia menahan airmatanya.

“Aku tidak bermimpi Sulli, lagipula aku tidak tertarik dengan dunia bisnis.” Jongin menjawab dengan santai.

“Kau membatalkan pernikahan kita karena Choi Taeri, apa aku benar?”

Jongin membeku saat dia mendengar nama Taeri keluar dari mulut Sulli, Jongin menatap penuh tanya kearah Sulli dan Sulli menyeringai.

“Kau pikir aku tidak tahu? Joonmyeon oppa mengatakannya padaku. Asal kau tahu aku juga bisa menghancurkan reputasi Taeri jika kau terus seperti ini, dia hanya penulis murahan aku bisa menghancurkannya dalam hitungan detik.”

Jongin langsung memukul meja saat dia mendengar ancaman dari Sulli membuat wanita itu terkejut dan seketika menutup mulutnya. Jongin menatap tajam kearahnya dan dia menarik tangan Sulli dengan kasar membuat wanita itu mengerang kesakitan, Jongin menyeringai saat dia melihat airmata mengalir dari mata Sulli.

“Jangan pernah berani menyentuh Taeri, jika itu terjadi reputasimu yang akan hancur. Sulli kau pikir kau bisa menghancurkan Taeri dengan mudah? Sayang sekali, karena aku tahu semua rahasia menjijikanmu!”

Jongin langsung berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Sulli, dia melemparkan sejumlah uang kemeja cafe dan pergi meninggalkan Sulli yang menangis.

*****

Hongbin membuang koran yang baru saja dia beli, dia tidak percaya ini bagaimana bisa seorang reporter bisa mengetahui keterkaitan Taeri dengan Jongin. Semua ini benar-benar membuat Hongbin kesal, apalagi reporter itu dengan liciknya membuat rumor-rumor yang jelek tentang Taeri dia seharusnya melarang Jongin untuk datang kerumah Taeri dia juga sedikit sedih karena Taeri belum mengatakan apapun soal Jongin padanya.

Kyuhyun kepala editor diperusahaan penerbitannya baru saja datang dan Hongbin seperti biasanya menyambut atasannya itu dengan senyum ramah, saat Hongbin mengambil jas Kyuhyun untuk dia gantungkan Kyuhyun menatap kearahnya dan melemparkannya sebuah koran yang mungkin dia beli saat diperjalanannya menuju kekantor.

“Apa yang penulismu lakukan? Kenapa ada berita seperti ini tentang Taeri?”

Kyuhyun bertanya dengan nada yang tenang namun Hongbin tahu atasannya itu marah sekali, Hongbin menghela nafasnya bersiap untuk segala ceramah yang akan Kyuhyun ucapkan padanya atau mungkin beberapa hinaan dia sudah terbiasanya mendapatkan kritikan pedas dari atasannya itu.

“Sepertinya ada kesalah pahaman sunbae-nim aku akan segera menyelesaikan masalah ini bersama Taeri.” Hongbin berkata dan Kyuhyun menyeringai saat mendengar itu.

“Apa kau pikir akan semudah itu?”

Hongbin menelan ludahnya, dari nada bicara Kyuhyun dia tahu sebentar lagi atasannya itu akan marah dan membentak kearahnya. Hongbin mengenal baik Kyuhyun mengingat dia sudah menjadi sekertaris pribadi sekaligus asisten editornya selama 3 tahun dia bisa membaca segala gerak-gerik lelaki itu.

“Saya akan berusaha.” Jawab Hongbin.

Kyuhyun memutarkan matanya dia kelihatannya tidak percaya dengan apa yang Hongbin katakan namun Hongbin merasa lega setidaknya dia tidak membentak atau marah. Kyuhyun mengambil sekumpulan draft dari beberapa penulis baru dan dia mulai membacanya sedangkan Hongbin kebingungan, haruskah dia pergi? Atau haruskah dia menunggu? Kyuhyun tidak mengatakan apapun.

“Hongbin bisakah kau pergi? Aku tidak bisa membaca semua sampah ini jika kau terus menatap kearahku seperti anak anjing yang ditendang seperti itu.” Ucap Kyuhyun dan Hongbin langsung pergi keluar dari kantor Kyuhyun.

“Jangan lupa selesaikan skandal Taeri hari ini!”

Hongbin bisa mendengar teriakan Kyuhyun, Hongbin menghela nafasnya lelah dia lalu berjalan kearah kantornya namun dia menghentikan langkahnya saat dia melihat seseorang yang tidak asing mengantar sebuah dokumen kepada rekan kerjanya. Hongbin mengedipkan matanya beberapa kali meyakinkan jika sosok yang dia lihat benar-benar orang yang dia sangka. Krystal? Apa yang dia lakukan dikantor penerbitan? Jangan bilang dia kesini untuk mengajaknya berkencan lagi, Hongbin segera menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang menggunakan baju formal sepertinya wanita itu tidak datang kesini untuk menemuinya.

“Oppa !” Krystal memanggil saat akhirnya wanita itu menyadari keberadaan Hongbin, Hongbin tersenyum dan melambaikan tangannya.

Dia bisa melihat Krystal langsung mengabaikan lawan bicaranya dan langsung berlari kearahnya, sangat tipikal sekali dari Krystal. Seharusnya dia tidak menyapa wanita itu kembali dan masuk ke dalam kantornya, sekarang dia sedikit menyesali perbuatannya tadi tapi sekarang terlambat untuk bersikap acuh.

“Apa yang kau lakukan disini?” Hongbin bertanya.

“Aku mendapat tawaran bekerja.” Krystal menjawab dengan bangganya.

“Huh?bagaimana?” Hongbin terkejut dan Krystal memukul dada Hongbin sedikit tersingggung dengan ekspressi terkejut Hongbin.

“Aku cukup berbakat dalam menulis, kau hanya tidak tahu lagipula aku lulusan sastra inggris perusahaanmu membutuhkan penerjemah.” Krystal menjelaskan dia melirik kearah lawan bicaranya sebentar dan menyuruh lawan bicaranya tadi untuk menghampiri mereka.

“Seolbi-ya!” Panggil Krystal menyuruh editor muda yang tadi berbicara dengannya mendekat kearah dia dan Hongbin.

Oh Seolbi, dia mengenal editor muda itu dia beberapa kali mendengar dia bergosip bersama temannya Ahra. Tidak aneh menemukan jika Krystal dan Seolbi berteman mereka memang kelihatan memiliki banyak kesamaan, sama-sama cerewet dan suka belanja Hongbin pikir.

“Oppa ini Seolbi temanku, dia yang tadi menemaniku sebelum interview.” Krystal berkata dan Seolbi menyapanya.

“Terimakasih sudah menemani Krystal.” Hongbin berbasa-basi dan Seolbi membalasnya dengan senyum sekilas, dia akhirnya pamit untuk kembali bekerja meninggalkan Krystal dan Hongbin sendirian.

“Oppa apa kau sudah membaca berita tentang Taeri dan Jongin?” Krystal mendekat takut jika pertanyaannya didengar oleh orang-orang yang berlalu-lalang dikantor. Hongbin dengan sedihnya mengangguk, Krystal bisa membaca jika lelaki itu pasti sangat khawatir sekali pada keadaan Taeri.

“Haruskah aku menemuinya?” Krystal menawarkan namun Hongbin segera menggelengkan kepalanya.

“Jangan ganggu dia dulu, aku akan mendiskusikan tentang skandal ini dengannya jika keadaan sudah tenang.” Hongbin menjawab.

“Baiklah, sebaiknya kau menelepon dia aku khawatir jika dia mengurung diri lagi dikamar seperti yang biasa dia lakukan jika sedang sedih.”

“Aku cukup yakin dia sudah melakukannya sekarang, mengingat berita ini sudah menyebar kesetiap penjuru Korea.”

Krystal mengangguk, perkataan Hongbin benar dia sendiri sudah melihat beberapa tayangan tentang pembatalan pernikahan Jongin dan Sulli dibeberapa stasiun televisi dan beberapa majalah terkenal. Krystal sendiri tidak menyangka jika keluarga Jongin begitu terkenal.

*****

Taekwoon sudah mengetuk pintu Taeri beberapa kali namun wanita itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya, Taekwoon sedikit khawatir dia tidak tahu bagimana cara menghibur Taeri. Dia mengaktifkan ponselnya dan mencari kontak Krystal, dia ingat beberapa hari yang lalu Krystal memberikan nomor teleponnya pada dia dengan kedipan mata genit.

Taekwoon akhirnya menemukan kontak Krystal dan hendak menghubungi wanita itu namun tiba-tiba saja Taeri membuka pintu kamarnya. Melihat Taeri yang ada dihadapannya Taekwoon langsung menyembunyikan ponselnya dan tersenyum canggung kearah wanita itu, Taeri kelihatannya sedang menunggu sesuatu.

“Kau butuh sesuatu? Aku mendengar kau sudah mengetuk pintu kamarku lebih dari tiga kali.” Taeri akhirnya berkata.

“Oh…benar.”Ucapnya, dia ingat dari tadi dia sudah mengetuk pintu kamar Taeri. “Sebenarnya aku ingin kau mengajak makan malam dirumah orangtuaku,aku mengerti jika kau tidak ingin datang…aku hanya berharap kau bisa lebih tenang dan melupakan masalahmu sesaat.” Taekwoon berkata walaupun dia kelihatan acuh tak acuh sebenarnya dia berharap Taeri akan ikut.

Dia masih ingat bagaimana Taeri menghiburnya saat dia memiliki masalah dengan Hakyeon dan dia berharap dia bisa melakukan hal yang sama untuk Taeri. Mendengar ajakan Taekwoon sepertinya Taeri tertarik, lagipula dia tidak ingin berakhir sendirian dirumah ini menangisi hubungan dia dengan Jongin.

“Baiklah,jam berapa?”

Taekwoon senang sekali saat dia mendengar jawaban Taeri namun dia mencoba untuk mempertahankan ekspressi lurusnya, dia tidak ingin terlihat terlalu bahagia didepan Taeri.

“Sekitar jam enam sore? Bagaimana?”

“Baiklah,aku akan bersiap-siap.”

“Bagus kalau begitu,aku juga akan bersiap-siap.”

Taekwoon pergi meninggalkan Taeri, dia bisa melihat wanita itu masuk kembali kedalam kamarnya. Taekwoon tidak pernah merasa canggung seperti ini didepan Taeri, dia menghela nafasnya dia tahu Taeri pasti masih memikirkan Jongin namun Taekwoon bertekad hari ini dia tidak akan membiarkan Taeri bersedih.

Taekwoon tidak tahu kenapa dia merasa gugup namun dia tidak bisa menghentikan gerakan kakinya saat dia melirik kearah jam, waktu sudah menunjukan hampir jam setengah enam namun Taeri belum juga keluar dari kamarnya.

Taekwoon hendak menaiki tangga untuk mengetuk pintu Taeri tetapi sebelum dia bisa melakukan itu dia melihat sosok Taeri menuruni tangga. Taekwoon berhenti sejenak mengagumi kecantikan Taeri, dia mungkin tidak tertarik pada wanita namun dia tidak bisa menyangkal jika Taeri terlihat cantik dalam gaun hitamnya.

“Apakah aku terlalu formal?” Taeri bertanya dan Taekwoon menggelengkan kepalanya.

“Tidak,kau terlihat cantik.”

Mendengar pujian Taekwoon wanita itu tersenyum tipis, Taekwoon menarik tangan Taeri membuat wanita itu menggandeng tangannya. Jika Taekwoon normal Taeri pasti langsung menarik kembali tangannya tetapi melihat dia dan Hakyeon bahagia Taeri tahu kalau lelaki itu tidak mungkin menyukai dia, Taeripun membiarkan tangannya melingkar dilengan Taekwoon.

“Taekwoon-shi..” Taeri memanggil.

“Tidak apa-apa,hari ini anggap saja kita sedang berkencan ok?”

Taeri menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar perkataan Taekwoon, Taeri tahu lelaki itu hanya mencoba menghiburnya dan semua ini hanyalah skenario yang Taekwoon ciptakan untuk menghiburnya. Setidaknya malam ini dia bisa melupakan rumor-rumor yang dia dengar tadi di televisi.

Mungkin seharusnya dia tidak mengurung dirinya dikamar seperti tadi, sekarang dia tinggal bersama Taekwoon. Dari ekspressi lelaki itu Taeri bisa melihat betapa khawatirnya dia, Taeri menghela nafasnya dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja setidaknya untuk Taekwoon dan keluarganya malam ini.

Taeri sedikit penasaran kenapa kedua orang Taekwoon ingin mengundang dia untuk makan malam, dia bukanlah selebriti yang terkenal. Mungkin kedua orangtua Taekwoon khawatir karena anak lelakinya tinggal bersama seorang wanita, Taeri mengerti itu.

Pintu mobil Taekwoon buka untuknya dan dia masuk kedalam mobilnya, saat dia baru duduk handphonenya bergetar. Nama Jongin tertera dilayar handphonenya ternyata lelaki itu mengirimkan sebuah pesan teks, Taeri ingin membacanya namun dia segera mematikan handphonenya malam ini dia ingin melupakan Jongin.

“Siapa yang menghubungimu?” Taekwoon bertanya saat dia menghidupkan mesin mobil.

“Bukan siapa-siapa, Taekwoon-shi apa rumah orangtuamu cukup jauh?” Taeri mengalihkan topik pembicaraan.

“Lumayan, apa kau khawatir akan bosan?” Taekwoon menggoda dan Taeri hanya tersenyum.

“Aku sedikit khawatir.” Taeri membalas godaan Taekwoon.

Mobil Taekwoon akhirnya meninggalkan halaman rumah mereka menuju rumah orangtua Taekwoon. Taeri tidak tahu kenapa dia sedikit gugup, orangtua Taekwoon mungkin sudah tahu soal Taekwoon dan mereka berpikir kalau dia pasti hanya teman tetapi entah kenapa Taeri masih gugup.

Taeri ingin jika Taekwoon bercerita kalau ayahnya masih tidak menerima seksualitasnya, itu pasti sangat berat untuk Taekwoon tapi mengingat sekarang mereka mengundang Taekwoon untuk makan malam sepertinya hubungan mereka membaik.

Taeri sedikit cemburu, hidup Taekwoon kelihatan mulai tersusun baik sekarang. Dia dan Hakyeon sudah bisa berkencan lalu kedua orangtua mereka kelihatannya mulai membuka hati mereka pada kenyataan kalau anaknya tidak akan pernah menyukai wanita.

Berbeda sekali dengan hidupnya saat ini penjualan bukunya akan turun karena skandalnya dengan Jongin, mereka berdua tidak bisa bertemu dengan bebas juga. Rumor-rumor jelek mulai tersebar tentang dia karena Jongin membatalkan pernikahannya dengan Sulli, semuanya terasa berat bagi Taeri.

Taekwoon yang sedang menyetir melirik kearah Taeri, dia bisa melihat ekspressi muram Taeri denga jelas. Wanita itu pasti sedang memikirkan rumor-rumor yang dia dengar ditelevisi apalagi tadi siang Sulli datang dan menyalahkan pembatalan pernikahan nya kepada Taeri.

Melihat ekspressi muram itu Taekwoon memutuskan untuk menghidupkan radio dan dia memilih channel radio yang memainkan lagu hip hop yang keras membuat Taeri melirik kearahnya, wanita itu kelihatan kesal dan mengecilkan volume radio.

“Taekwoon-shi,sejak kapan kau suka mendengar lagu hip hop?” Taeri masih terkejut.

“Sejak beberapa menit yang lalu, kau diam saja jadi aku bosan.” Taekwoon mengeluh sambil menahan tawanya saat dia melihat ekspressi Taeri.

“Baiklah,apa yang ingin kau bicarakan?” Taeri mengalah, dia tidak punya energi untuk berdebat sekarang.

Taekwoon berpikir sejenak, dia memiliki banyak topik yang ingin dia bicarakan dengan Taeri. Apakah dia harus berbicara soal konsep baru kuenya? Mengingat Hayoung menyuruhnya untuk membuat beberapa dessert baru untuk cafe mereka. Tapi Taekwoon juga sedikit penasaran dengan keadaan Taeri, dia juga ingin tahu apa yang wanita itu pikirkan.

“Taeri-shi,gwenchana?” akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur dari mulut Taekwoon.

“Pertanyaan macam apa itu?” Taeri tersenyum.

“Aku serius Taeri-shi,apakah semuanya baik-baik saja?  Aku tidak bisa membuatmu bahagia seperti Jongin tapi aku ingin membantu.”

Taeri hanya diam saat dia mendengar apa yang dikatakan Taekwoon, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Taekwoon terlalu baik untuknya dia sangat tersentuh dengan perhatian Taekwoon, Krystal mungkin selalu ada disampingnya namun sahabatnya itu bukan tipe yang mengatakan hal-hal manis seperti Taekwoon.

“Terimakasih Taekwoon-shi, kau tak usah melakukan apapun yang penting kau ada disisiku sekarang.”

Taeri memaksakan senyum manisnya walaupun matanya terasa perih ingin menangis melihat itu Taekwoon hanya membalas dengan senyum tipisnya, perkataan Taeri cukup menenangkan Taekwoon setidaknya dia yakin kalau dia tidak akan meninggalkan Taeri. Tidak saat wanita itu bersedih, Taekwoon tahu dia belum mengenal Taeri dalam waktu lama tapi dia merasa dia sudah mengenal wanita itu bertahun-tahun karena dia selalu merasa nyaman dengan Taeri.

Wanita adalah mahluk yang sangat misterius bagi Taekwoon, dia tidak pernah mengerti jalan pikiran mereka namun dengan Taeri semuanya terasa alami. Mereka bisa berbagi apapun tanpa takut saling menghakimi, Taekwoon bersyukur dia dapat bertemu dengan Taeri.

“Jongin bodoh sekali, dia membiarkanmu sendiri malam ini.”

Mendengar ucapan itu Taeri hanya tersenyum pahit, dia tahu Jongin ingin menemuinya karena lelaki itu mengirimkan pesan teks padanya tadi namun sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu. Taeri selalu merasa bersalah setiap kali dia melihat wajah Jongin, rasa bersalahnya terlalu besar sehingga dia tidak mampu bertingkah normal didepan Jongin untuk sekarang.

“Mungkin dia sibuk, aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengannya hari ini.”

Taekwoon sedikit terkejut mendengar jawaban Taeri tetapi dia mengerti, wanita itu pasti merasa lelah. Taekwoon hanya ingin menikmati makan malam ini bersama Taeri, semoga saja keluarganya mampu menghibur dia nanti walaupun Taekwoon tidak punya harapan yang besar.

“Aku mengerti, oh iya aku sebenarnya ingin meminta bantuanmu besok apa kau tidak sibuk?” Taekwoon bertanya sambil berharap kalau Taeri akan menerima ajakannya.

“Tidak, kau butuh bantuan apa?”

“Sebenarnya Hayoung ingin aku membuat dessert baru tapi aku harus mengetesnya terlebih dahulu sebelum aku presentasikan apa kau mau mencobanya?”

“Ya tentu saja, tapi jika rasanya tidak enak aku akan jujur.”

Taekwoon tertawa mendengar itu, dia lega jika Taeri bisa bercanda sekarang.

“Ok,ok…kau tidak usah khawatir kau ada ditangan seorang ahli.” Taekwoon mengedipkan matanya dan itu membuat Taeri memutarkan matanya.

*****

“Taekwoon-ah!”

Taeri terkejut karena seorang wanita tiba-tiba saja berlari kearah Taekwoon dan memeluknya, Taekwoon juga terlihat sama terkejut nya namun dia langsung memeluk kembali wanita itu saat dia sadar siapa yang memeluknya. Sepertinya Taekwoon senang sekali karena wanita itu menyambut dia dengan penuh keceriaan, wanita itu melepaskan pelukannya lalu setelah itu entah kenapa wanita itu malah memukul kepalanya.

“Aww Noona!” Taekwoon mengeluh karena pukulan wanita itu cukup keras.

Melihat Taekwoon yang diserang oleh seorang wanita yang lebih pendek darinya membuat Taeri ingin tertawa. Wanita itu sepertinya cukup dekat dengan Taekwoon karena Taekwoon memanggilnya dengan sebutan Noona wanita itu juga kelihatan tidak ragu-ragu lagi padanya mengingat tadi dia sudah memeluk Taekwoon.

“Yak! Beraninya kau meninggalkan rumah dan tidak pernah menghubungiku, apa kau tahu betapa khawatirnya aku?!” wanita itu membentak.

Arraso,arraso! Mianhae!” Taekwoon menjawab sambil melindungi dirinya sendiri takut jika wanita itu akan memukulnya lagi.

“Ck! Awas kalau kau pergi lagi.” Wanita itu mengancam.

Taeri tidak tahu jika Taekwoon bisa lemah seperti ini didepan seseorang, pandangan Taeri dan wanita itu bertemu dan entah kenapa wanita itu kelihatan senang saat dia melihat Taeri.

“Taekwoon-ah, siapa wanita ini?” Tanya dia.

“Oh annyoung haseyo.” Taeri menunduk hormat kearah wanita itu.

“Jangan bilang…” wanita itu akhirnya mendekat kearah Taeri dan dia melirik kearah Taekwoon dengan tatapan curiganya, Taeri tidak mengerti sebenarnya kenapa wanita itu kelihatan curiga dengan kehadirannya. “Apa kau pacar Taekwoon?” wanita itu bertanya.

Aniyo..” Taeri menjawab seketika.

“Kau tak usah malu, ayo kita masuk kau pasti ingin segera bertemu dengan orangtua Taekwoon.” Wanita itu tiba-tiba saja menarik Taeri membuat Taeri sedikit terkejut.

Taekwoon hanya tersenyum melihat Taeri yang diseret oleh sepupunya itu dan mengikuti langkah mereka berdua, dia sedikit rindu pada rumah ini dia lupa kapan terakhirnya dia melangkahkan kaki dirumah ini.

Imo-ah Taekwoon dan pacarnya sudah datang!!” wanita yang menyeret Taeri tadi berteriak didalam rumah.

Taklama setelah teriakan gadis itu sosok wanita paruh baya yang menggunakan celemek muncul dibalik tembok yang memisahkan dapur dan ruang makan. Taeri tersenyum keara wanita itu menebak jika dia adalah ibu Taekwoon, wanita itu mendekat dan memanggil suaminya agar menyambut kedatangan Taeri.

“Hyorin kau tidak usah berteriak seperti tadi,kau akan mengejutkan tamu kita.” Wanita itu berkata dan Taeri hanya tersenyum tipis.

“Iya noona kau mengagetkanku juga.” Taekwoon berkata dan dia langsung mendekat kearah ibunya memberikan wanita paruh baya itu pelukan hangatnya.

Eomma aku merindukanmu.” Ucap Taekwoon membuat ibu Taekwoon tersenyum dan mengelus pipi anak lelakinya itu, senyum ibu Taekwoon terlihat sangat tulus membuat Taeri sedikit rindu pada ibunya juga.

Eomma,kenalkan ini Jung Taeri dia temanku yang abeoji bicarakan kemarin.”

Ibu Taekwoon kelihatan sama senangnya dengan Hyorin saat dia melihat sosok Taeri,wanita itu langsung menghampiri Taeri dan memeluknya dengan hangat. Taeri hanya bisa tersenyum canggung dan membalas pelukan ibu Taekwoon, dia tidak tahu harus mengucapkan terimakasih atau semacamnya.

Omo…kau lebih cantik dari yang Taekwoon ceritakan kemarin.” Ibu Taekwoon memuji dan Taeri langsung berterimakasih dengan pipi yang bersemu merah.

“Taeri? Tunggu kenapa namamu terasa tidak asing..” Hyorin berkata, dia menyentuh dagunya mungkin berpikir.

Noona kau mungkin mengenal Taeri, dia penulis novel yang terkenal.” Taekwoon berkata sambil melingkarkan tangannya dibahu Hyorin.

“Oh kau penulis? Pantas saja! Novel apa saja yang pernah kau tulis,aku mungkin tahu.” Hyorin bertanya.

“Uhh..banyak,aku biasanya menulis novel remaja.” Taeri menjawab.

“Apa kau penulis Snow? Aku ingat kalau nama penulisnya sama denganmu.” Hyorin berlari kelantai atas entah apa yang akan wanita itu bawa namun ibu Taekwoon segera mengantarkan mereka keruang makan.

“Sebaiknya kalian duduk, makan malam sebentar lagi siap.” Ibu Taekwoon berkata dan wanita itu berjalan kembali menuju dapur.

Ayah Taekwoon taklama kemudian muncul dan lelaki itu langsung menyambut Taeri dengan senyuman yang ramah, Taeri tidak pernah merasa senyaman ini dalam hidupnya. Keluarga Taekwoon benar-benar baik namun tidak berlebihan, ayah Taekwoon kelihatan tertarik juga dengan pekerjaan Taeri karena Hyorin yang sudah kembali menunjukan novel yang Taeri tulis.

Novel yang Hyorin miliki sebenarnya novel pertama dia, Taeri sedikit gugup karena novel itu adalah novel karya pertamanya dan yang paling dia tidak suka karena gaya menulisnya masih sangat kasar dan sedikit aneh. Hyorin beberapa kali mengatakan kalau dia seorang jenius dan wanita itu menyukai semua aspek yang ada didalam novel Taeri, Taekwoon juga kelihatannya senang saat dia melihat Taeri tersipu malu.

Pujian demi pujian keluar dari mulut Hyorin dan juga ayah Taekwoon membuat Taeri untuk sesaat lupa jika dia sedang mengobrol dengan keluarga temannya, dia merasa nyaman sekali dengan keluarga Taekwoon sehingga dia sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri.

“Taeri-ya, apa kau sering mengunjungi orangtuamu?” Ayah Taekwoon tiba-tiba saja bertanya saat tawa diantara mereka sudah berhenti.

“Tidak juga abeonim,aku sedang sibuk dengan buku baruku.” Taeri menjawab, sebenarnya dia berharap dia bisa mengunjungi orangtuanya lebih sering tetapi pekerjaannya selalu mencegah dia untuk berpergian jauh.

“Jangan lupa untuk mengunjungi orangtuamu, mereka pasti sangat merindukanmu.” Yah Taekwoon berkata dan Taeri mengangguk.

Abeoji apa kau menyindirku?” Taekwoon tiba-tiba saja bertanya dan ayahnya tersenyum.

“Ternyata kau pintar juga.”Ayah Taekwoon berkata dan mereka berdua tertawa.

Ibu Taekwoon segera kembali keruang makan saat dia sudah selesai memasak, dia menyajikan banyak sekali makanan dan Taeri mulai takut jika diatidak akan bisa memakan semua masakan ibu Taekwoon. Saat Ibu Taekwoon memberikannya sebuah piring yang sudah diisi nasi Taeri tidak bisa menolak dan mulai memakan makan malamnya, Taekwoon bahkan cukup baik untuk mengambilkan udang yang ada dipiring untuknya.

Hyorin kelihatan dalam mood yang baik karena dia terus mengobrol dan tidak henti-hentinya menggoda Taekwoon dan Taeri, Taekwoon kelihatan tidak keberatan dengan godaan Hyorin namun entah mengapa Taeri merasa tidak nyaman dengan godaan gadis itu. Dia tahu Hyorin hanya ingin mengakrabkan diri dengannya dan dia ingin membuat mood makan malam ini terasa akrab tetapi Taeri tidak bisa berbohong dia merasa wanita itu masih menyangka jika dia dan Taekwoon terlibat dalam hubungan romantis.

“Oh iya, apa Hakyeon Hyeong  akan datang? aku ingin mengobrol dengan dia juga.” Taekwoon bertanya ditengah-tengah makan malam mereka.

Ekspressi kedua orangtuanya langsung berubah saat Taekwoon menyinggung Hakyeon, Hyorin yang terlihat ceria juga langsung mengubah ekspressinya. Kelihatannya topik soal Hakyeon dan dirinya adalah hal sensitif untuk dibahas,Taeri bisa merasakan atmosphere yang tegang diantara mereka sekarang.

“Mungkin dia sibuk Taekwoon-ah.” Taeri menjawab untuk Taekwoon, dia sudah tidak nyaman dengan keheningan dimeja makan.

“Oh begitu ya.” Taekwoon membalas.

Mereka melanjutkan makan malam mereka namun sekarang mereka tidak mengobrol lagi, sepertinya pertanyaan tentang Hakyeon sudah menghancurkan mood mereka semua. Taekwoon bahkan tidak memakan sisa makannya dan memutuskan untuk pergi dari ruang makan setelah dia minum , Hyorin hanya bisa menatap khawatir kearah sepupunya itu dan Taeri merasa sangat lega karena dia sekarang punya alasan untuk meninggalkan ruang makan.

“Aku akan menyusulnya.” Ucap Taeri sambil berdiri dari duduknya.

Taeri berjalan dibelakang Taekwoon yang pergi menuju halaman belakang rumahnya, ternyata rumah keluarga Taekwoon lebih besar dari yang Taeri sangka. Dia bisa melihat taman yang luas juga sebuah kolam renang, dari besarnya rumah Taekwoon dia bisa menyimpulkan kalau keluarga Taekwoon memang keluarga yang berada.

“Bahkan setelah 5 tahun mereka masih mencoba memisahkan aku dengan Hakyeon hyeong .” Taekwoon berkata, dia duduk disisi kolam renang.

“Taekwoon-shi…” Taeri memanggil dan duduk disamping lelaki itu.

“Aku kira setelah percakapan tadi mereka akan bersikap normal jika aku menanyakan Hakyeon hyeong .”

Taeri hanya bisa diam, dia sendiri tidak mengerti kenapa keluarga Taekwoon begitu sensitif soal dia dan Hakyeon. Taeri menyentuh bahu Taekwoon dan Taekwoon tersenyum kearahnya sambil menggengam tangan wanita itu, dia sedikit merasa bersalah karena dia sudah membuat temannya itu khawatir.

“Maaf seharusnya aku mengajakmu bersenang-senang malam ini bukan untuk mendengar keluhanku.” Taekwoon menunduk penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa, apa kau ingin kita pulang?” Ucap Taeri dan Taekwoon menggelengkan kepalanya.

“Apa kau ingin pergi kesuatu tempat? Kemanapun asalkan kita tidak pulang.” Jawab Taekwoon sambil menghela nafas.

“Aku tidak tahu harus pergi kemana,aku juga tidak ingin pulang.” Taeri memeluk kedua kakinya karena udara diluar ternyata cukup dingin.

“Apa kau ingin pergi kepantai?”

“Tidak,udara terlalu dingin malam ini.”

Taekwoon setuju dengan pendapat Taeri, mereka berdua tidak memiliki tujuan hari ini tapi yang jelas mereka tidak ingin pulang. Mereka tidak ingin terjebak dirumah mereka yang sepi, apalagi ada kemungkinan mereka akan berakhir menangis sendirian dikamar mereka jika sekarang mereka pulang.

“Taekwoon-shi,apa aku harus putus dengan Jongin?”

Taekwoon melirik kearah Taeri dan melihat wajah wanita itu masih murung, Taekwoon mengerti keadaan Taeri. Mendengar semua rumor yang beredar cukup berat apalagi Jongin juga sekarang harus kehilangan posisinya diperusahaan ayahnya, Taekwoon mengerti beban yang Taeri rasakan sekarang cukuplah berat.

“Apa kau mencintai Jongin?” Taekwoon balik bertanya.

“Aku tidak tahu,dulu aku sangat mencintainya Taekwoon-shi tapi belakangan ini aku hanya merasa menjadi beban baginya.” Taeri mengistirahatkan kepalanya dilututnya.

“Awalnya aku berpikir jika aku juga hanya beban untuk Hakyeon Hyeong ,tapi aku sadar jika aku hanya bersikap egois..aku tidak pernah tahu jika Hakyeon hyeong mencintaiku juga sampai akhirnya dia menghilang dan aku menyesali keputusanku untuk berpisah dengannya.”

Mendengar itu Taeri mengangguk, dia juga tidak ingin mengambil keputusan yang ceroboh. Bagaimanapun dia masih memiliki perasaan terhadap Jongin tetapi terkadang dia merasa bersalah, dia merasa bersalah karena dialah yang membuat Jongin menderita. Seharusnya malam itu dia tidak membiarkan Jongin masuk, dia dan Jongin seharusnya tidak bersama malam itu.

“Apa kau akan terus bersama dengan Hakyeon-shi?”

“Tentu saja, dia satu-satunya yang aku cintai.” Taekwoon tersenyum.

Melihat senyum Taekwoon dia bisa melihat jika lelaki itu sangat mencintai Hakyeon, Taeri berpikir apakah dia tersenyum juga setiap kali dia mengingat Jongin? Dia mungkin kelihatan seperti orang yang bodoh jika dia sudah mengenang masa-masa indah dia dengan Jongin.

“Benar,mungkin aku dan Jongin hanya harus saling mengerti iyakan?”

“Tentu saja,kalian harus kuat aku tahu semua ini tidak mudah tapi jika kau mencintai dia kenapa kau harus mundur?”

Taeri hanya tersenyum tipis mendengar itu, dia tidak yakin jika dia harus tetap melawan setelah apa yang Sulli lakukan padanya. Dia merasa kalau dia baru saja menghancurkan hidup seseorang saat dia melihat betapa sedihnya Sulli karena pernikahan mereka dibatalkan, Taeri harap semua ini akan berakhir dengan cepat sehingga dia bisa kembali bersama Jongin.

Mereka berdua hanya diam setelah percakapan itu, Taeri terlalu asik memandangi air sehingga dia tidak sadar jika Taekwoon memperhatikannya. Lelaki itu sangat khawatir pada Taeri sejak tadi siang tetapi sekarang setidaknya wanita itu sudah mengungkapkan masalahnya sehingga Taekwoon tidak terlalu khawatir sekarang.

“Disini dingin, sebaiknya kita masuk.” Taekwoon berdiri dari duduknya namun saat dia hendak berdiri lantai disamping kolam renang cukup licin sehingga dia kehilangan keseimbangannya.

Melihat Taekwoon yang akan terjatuh Taeri memegang lengan lelaki itu tetapi Taeri terlalu lemah sehingga dia akhirnya ikut tertarik oleh Taekwoon sehingga mereka berdua jatuh kedalam kolam, mendengar suara seseorang terjatuh kekolam Hyorin dan orangtua Taekwoon segera berlari menuju kolam.

“Taekwoon-ah! Taeri-shi!” Hyorin memanggil.

Taklama kemudian Taeri dan Taekwoon muncul kepermukaan kolam, Hyorin tertawa saat dia melihat kedua orang yang dia panggil sudah basah kuyup. Taekwoon segera membantu Taeri untuk naik keatas kolam wanita itu kelihatan kedinginan karena dia mengigil, Ibu Taekwoon yang sigap sudah mengambil handuk dan memberikannya pada Taekwoon.

Taekwoon segera melingkarkan handuk itu kepundak Taeri dan mengelap wajah Taeri mengacuhkan dirinya yang juga basah kuyup. Ibu Taekwoon dan ayahnya hanya tersenyum saat mereka melihat betapa perhatiannya Taekwoon pada Taeri.

“Taeri-shi mianhae, aku sangat ceroboh…apa kau baik-baik saja?”

Gwencahana.. kau tidak usah khawatir.” Taeri berkata walaupun wanita itu menggigil.

Eomma bawakan lagi handuk untuk Taeri-shi,dia kelihatan masih kedinginan.”

Taekwoon mengeringkan rambut Taeri dan untuk sesaat pandangan mata mereka bertemu, wajah Taeri dan Taekwoon sangat dekat sekali dan entah mengapa jantung Taeri berdetak lebih cepat dari biasanya. Taekwoon kelihatan tidak menyadarinya dan terus mengeringkan rambut Taeri, dia lalu membantu Taeri untuk berdiri menuju kursi yang ada tidak jauh dari kolam renang.

“Aku akan membawa air hangat.” Hyorin berkata sambil menarik ayah Taekwoon.

Ayah Taekwoon sedikit kebingungan namun dia akhirnya mengikuti langkah Hyorin meninggalkan Taekwoon dan Taeri sendiri. Taeri menarik handuk yang ada dipundaknya dan segera mengelap wajah Taekwoon juga, Taekwoon tidak sadar jika dia kedinginan setelah tangan hangat Taeri menyentuh pipinya.

“Kau juga basah Taekwoon-shi.”

Mendengar itu Taekwoon terdiam sesaat, dia membiarkan Taeri mengelap wajahnya dan tentu saja rambutnya. Tangan Taeri terasa hangat sekali menyentuhnya dan dia baru sadar betapa cantiknya Taeri, dia tidak pernah memperhatikan wanita itu sebelumnya namun yang jelas Taeri benar-benar berbeda dari wanita lain yang selama ini dia temui.

Taeri begitu lembut dan hangat, dia tidak sering tersenyum tetapi senyumnya selalu Taekwoon ingat.Taekwoon hanya bisa diam saat Taeri mengeringkan rambutnya, selama dia hidup baru kali ini dia menemukan seorang wanita yang cukup menarik baginya namun dia segera menggelengkan kepalanya.

Dia segera melepaskan tangan Taeri yang masih mengeringkan rambutnya, Taeri terkejut dengan sentuhan Taekwoon yang kasar sehingga wanita itu terdiam menatap kearah Taekwoon terkejut.

“S-sebaiknya kita masuk saja, Eomma dan Hyorin lama sekali.”

Taekwoon berdiri dan meninggalkan Taeri yang masih kebingungan, diapun akhirnya mengikuti langkah Taekwoon kedalam rumah saat mereka baru masuk ibu Taekwoon sudah mengambil banyak handuk. Taekwoon tidak mengatakan apapun dan mengambil salah satu handuk yang ibunya bawa, ibu Taekwoon kebingungan dan dia melirik kearah Taeri.

“Taeri-shi, sebaiknya kau kekamarku kau pasti kedinginan.” Ibu Taekwoon akhirnya menuntun Taeri masuk kedalam kamarnya yang ada dilantai pertama.

Ibu Taekwoon menyuruh Taeri duduk disalah satu kuri yang ada dikamarnya, kamar orangtua Taekwoon cukup luas dan dia bisa melihat foto keluarga Taekwoon yang diwajah di dinding kamar. Taekwoon dan Hakyeon berdiri dibelakang kedua orangtua mereka, lelaki itu kelihatan sangat bahagia karena Hakyeon tersenyum dengan lebar dan Taekwoon tersenyum manis kearah kamera.

“Taekwoon kelihatan dekat sekali denganmu Taeri-shi.” Ibu Taekwoon berkata, dia sudah membawa pakaian baru untuk Taeri.

“Oh kami memang cukup dekat, tapi kami hanya teman.” Taeri menjawab, dia tidak ingin ibu Taekwoon berpikir kalau dia memiliki hubungan yang spesial dengan Taekwoon seperti Hyorin.

“Aku tahu, Taekwoon mengatakan itu.” Ibunya kelihatan sedih saat dia mengucapkan kata-kata itu, dia duduk didepan Taeri dan menyimpan baju yang dia bawa dimeja yang ada didepan Taeri. “Aku hanya senang karena Taekwoon akhirnya membuka hatinya pada seorang perempuan, dia tidak pernah membawa teman perempuan sebelumnya.” Ibunya melanjutkan.

Taeri tidak tahu jika dia harus senang dengan perkataan itu atau dia harus merasa sedih, dia senang juga karena dia bisa mengenal Taekwoon tetapi jika kedua orangtuanya akan seperti ini Taeri merasa sedikit terbebani. Bagaimana tidak? Mereka kelihatan seperti baru saja menemukan harapan jika anaknya akan kembali menyukai wanita tetapi Taeri lebih tahu, Taekwoon tidak akan pernah seperti itu.

“Taeri-ya,kau pasti dekat sekali dengan Taekwoon? Dia begitu khawatir saat jatuh kedalam kolam tadi.”

Taeri hanya mengangguk, dia tidak terlalu ingin membahas seberapa dekatnya mereka. Taekwoon hanyalah teman yang baik bagi Taeri, walaupun terkadang Taekwoon terasa lebih sekedar dari teman namun Taeri segera menghapus pikiran itu.

Emmonim,aku kedinginan bolehkah aku segera berganti baju?” Taeri bertanya dan ibu Taekwoon mengijinkan wanita itu untuk pergi.

Taeri langsung berjalan keluar dari kamar ibu Taekwoon dan menghela nafasnya lega, keadaan tadi sangatlah canggung untuk Taeri dia bahkan tidak bisa berbicara banyak. Dia tidak ingin memberikan harapan apapun pada ibu Taekwoon karena jelas, Taekwoon mencintai Hakyeon dan dia tidak akan pernah menyukai seorang wanita.

Taeri masuk kedalam kamar mandi yang berjarak tidak jauh dari kamar orangtua Taekwoon dan dia segera mengganti bajunya, dia mencuci mukanya mencoba membuang perasaan aneh yang sekarang masih dia rasakan. Taeri mengingat betapa lembutnya tangan Taekwoon saat dia mengelap wajahnya, dia juga ingat bahwa wajah mereka dekat tadi.

Nafas hangat Taekwoon masih bisa dia rasakan menyentuh pipinya, Taeri menyentuh dadanya dan dia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Taeri langsung menampar dirinya sendiri karena dia merasa begitu bodoh, dia tidak boleh merasa semua emosi ini dia hanya harus merasakan emosi ini untuk Jongin.

“Jung Taeri! Kau tidak boleh seperti ini, Taekwoon hanya teman…” Taeri berkata didepan kacanya.

“Kau bukan wanita seperti itu, ingat Jongin!”

Taeri menatap tajam kearah bayangannya di cermin, dia benar-benar sudah mulai gila ternyat. Taeri menjambak rambutnya sendiri karena dia tidak bisa melupakan kejadian tadi, banyangan tentang Taekwoon terus berputar di otaknya seperti rol film yang rusak dan itu membuat Taeri semakin frustasi.

“Taeri-shi!”

Mendengar namanya dipanggil Taeri segera melepaskan tangannya dari rambutnya, dia merapikannya sekilas dan membuka pintu kamar mandi. Taekwoon sudah berdiri didepan pintu kamar mandi dan tersenyum canggung kearahnya, Taeri tahu lelaki itu pasti masih merasa canggung dengan kejadian tadi.

“S-sebaiknya kita pulang,aku sudah menyiapkan mobil diluar.” Taekwoon berkata dan segera pergi, dia bahkan tidak menunggu jawaban Taeri.

Sepertinya yang merasakan canggung bukanlah Taeri saja, Taekwoon kelihatan sama canggungnya dengan dia. Taeri berharap kecanggungan ini besok berakhir jika tidak dia tidak punya pilihan untuk menjauh dari Taekwoon, Taeri akhirnya mengikuti langkah Taekwoon dan berpamitan pada Hyori juga kedua orangtua lelaki itu.

Taekwoon membukakan pintu mobilnya dan membiarkan Taeri masuk, dia tersenyum kearah Hyorin yang masih melambaikan tangannya kearah mereka meskipun mobil Taekwoon sudah berlalu menjauhi rumahnya.

Perjalanan menuju rumah mereka sangatlah canggung, Taekwoon tidak mengatakan apapun begitu juga Taeri. Dia tidak mengerti kenapa kejadian tadi begitu berpengaruh pada mereka.

“Apa kau masih kedinginan?” Taekwoon bertanya membuat Taeri sadar dari lamunannya.

“Tidak, terimakasih sudah bertanya.” Taeri menjawab.

Setelah percakapan itu mereka diam kembali, Taeri merasa sedikit lelah dan dia menyandarkan punggungnya. Mobil sangat sunyi sekali dan angin malam terasa nyaman sekali menyentuh wajahnya, matanya terasa berat dan akhirnya diapun memejamkannya sesaat.

Taekwoon melirik kearah Taeri dan lelaki itu bisa melihat Taeri sudah tertidur pulas, mungkin wanita itu lelah karena sudah mengobrol banyak dengan keluarganya. Taekwoon tersenyum sekilas, Taeri kelihatan seperti anak kecil yang polos saat dia tertidur lelap seperti sekarang.

Perjalan dari rumahnya kerumah Taeri cukup lama tetapi Taekwoon tidak merasakannya karena sekarang mereka sudah sampai, Taekwoon sedikit terkejut saat dia melihat mobil Jongin ada didepan rumah mereka. Taekwoon akhirnya menghentikan mobilnya saat mobilnya sudah sampai dihalam depan rumah, sosok Jongin muncul setelah dia turun dari mobil.

“Darimana saja kalian? Aku menunggu.” Jongin berkata, Taekwoon tidak menjawab dia masih marah pada Jongin.

“Sebaiknya hari ini kau tidak menggangu Taeri, apa kau tahu apa yang mantan kekasihmu lakukan padanya?”

“Mantan?” Jongin mengerutkan keningnya.

“Ya, Choi Sulli dia datang kesini tadi siang.” Jawab Taekwoon.

“Sulli?apa yang dia lakukan? Apakah Taeri baik-baik saja?” Jongin mencoba mengintip kearah jendela mobil Taekwoon namun Taekwoon mencegahnya.

“Kenapa kau tidak tanyakan saja padanya langsung? Taeri lelah, sebaiknya kau pulang sekarang sebelum aku menyeretmu dengan kasar.”

Mendengar ancaman Taekwoon Jongin menatap tajam, dia emosi sebenarnya kenapa lelaki ini mencegah Taeri untuk bertemu dengannya.

“Kau tidak punya hak untuk mengusirku, aku ingin bertemu dengan Taeri.” Jongin berkata dengan geram, dia mendorong tubuh Taekwoon.

Taekwoon yang marah langsung menarik Jongin mencegah lelaki itu untuk membuka mobilnya, Jongin kehilangan kesabarannya lalu memukul Taekwoon tepat diwajahnya. Merasa kesal Taekwoon juga menonjok Jongin sehingga lelaki itu terjatuh ketanah, bibir Jongin berdarah namun Taekwoon tidak peduli.

“Aku sudah memberimu peringatan, pergilah atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk padamu.” Taekwoon mengancam.

Jongin menyeka darah disudut bibirnya, Taekwoon mengulurkan tangannya berbaik hati untuk membantu Jongin namun lelaki itu menepis tangan Taekwoon dengan kasar. Dia berdiri dan merapikan kembali bajunya, dia tidak mengerti kenapa Taekwoon begitu bersikeras tidak membiarkan dia bertemu dengan Taeri.

“Kenapa kau tidak ingin membiarkan aku bertemu dengan Taeri? Kau bukan siapa-siapa baginya.” Jongin berkata dan Taekwoon menyeringai.

“Kau mungkin benar, tapi aku peduli pada Taeri…dia tidak ingin bertemu denganmu sekarang karena berbagai rumor yang muncul.” Ucap Taekwoon, dia menyentuh pipinya yang masih terasa sakit. “Taeri mungkin tidak mengatakan apapun tapi aku tahu dia tertekan, jika kau benar-benar mencintai Taeri berhentilah bersikap egois tunggula sampai Taeri yang menghubungimu.” Taekwoon memberi nasihat.

“Aku tahu, aku hanya khawatir…baiklah aku akan menunggu.”

Jongin berjalan menuju mobilnya namun sebelum Jongin bisa pergi jauh dia bisa mendengar pintu mobil Taekwoon terbuka membuat dia melirik kebelakang, sosok Taeri sudah turun dari mobil Taekwoon dan wanita itu kelihatan terkejut saat melihat sosoknya.

Oppa..” panggilnya.

“Taeri-ya.”

Mereka hanya diam dan saling menatap Taekwoon hanya bisa menghela nafasnya, sekarang usahanya untuk mencegah mereka berdua bertemu gagal. Jongin berlari kearah Taeri dan memeluk Taeri dengan mesra, Taeri memeluk kembali lelaki itu setelah akhirnya dia melepaskannya.

Oppa aku..aku tidak bisa bertemu denganmu sekarang.” Ucap Taeri, tangan dingin wanita itu menyentuh pipi Jongin.

“Aku mengerti, aku akan menunggu.”

Taeri tersenyum dan memeluk kembali Jongin, hatinya terasa seperti disayat oleh seribu pisau sekarang. Dia mencintai Jongin namun dengan keadaan mereka, Taeri harus menjaga jarak dengan Jongin sampai semua orang tidak peduli kembali tentang rumor negatif yang beredar sekarang.

“Aku akan membicarakan masalah ini dengan keluargaku dan keluarga Sulli, aku juga akan melindungimu kau tak usah khawatir ok?” Jongin menangkup wajah Taeri dan Taeri mengangguk.“Aku akan menghubungimu nanti, aku mengerti jika kau tidak ingin bertemu denganku.”

Taeri menggelengkan kepalanya, bukannya dia tidak ingin bertemu dengan Jongin jika dia bisa dia ingin bersama Jongin lebih lama namun dengan semua rumor dan pembirartaan negatif tentang dia dan Jongin Taeri merasa menjadi beban. Namun yang paling membuat Taeri sedih sebenarnya bukan rumor atau berita negatif tentang dia, dia sedih karena dia sendiri tidak bisa melakukan apapun.

Taeri hanya bisa bersembunyi sekarang, perusahaan penerbitan yang menerbitkan bukunya sudah menghubunginya beberapa kali namun Taeri sedang tidak dalam mood untuk mengklarifikasi apapun. Dia bersyukur Hongbin belum datang dan menyeretnya untuk menghadap kepada kepala editor penerbitan.

“Aku akan pergi, tidurlah dengan nyenyak aku akan menghubungimu nanti.” Jongin mencium dahi Taeri sekilas dan melirik kearah Taekwoon yang dari tadi berdiri tak jauh dari mereka.

“Jaga dia baik-baik.” Ucap Jongin kepada Taekwoon, lelaki itu mengangguk.

Rasanya berat sekali bagi Taeri untuk melepaskan tangan Jongin dari genggamannya namun dia harus melepaskannnya sekarang. Taeri bisa melihat Jongin masuk kedalam mobilnya dan mobil Jongin mulai pergi meninggalkan rumah Taeri, Taeri melirik kearah Taekwoon dan dia tersenyum kearahnya.

“Ini sudah malam masuklah.” Taekwoon menyuruh.

*****

Taeri mengerang, ini sudah kesepuluh kalinya dia mengklarifikasi hubungan dia dengan Jongin pada beberapa media massa. Tadi pagi Hongbin dan juga Kyuhyun –kepala editor mereka– sudah datang dan memaksa Taeri untuk menjawab beberapa pertanyaan yang para wartawan berikan, Kyuhyun masih baik karena dia tidak membawa wartawan asli hanya rekaman pertanyaan mereka yang para wartawan titipkan pada Hongbin.

“Ini adalah jalan satu-satunya untuk membersihkan namamu.” Kyuhyun berkata dan Taeri tidak bisa membantahnya, perkataan Kyuhyun sangat absolut bagi mereka. Hongbin sudah menyiapkan teh dan beberapa cemilan yang Taekwoon buat tadi pagi untuknya, sekarang dapur Taeri tercium seperti toko kue.

Ini sudah hampir jam tiga sore dan mereka baru saja menjawab semua pertanyaan, Taeri senang sekali saat dia melihat Hongbin membawa teh wanita itu segera meminum tehnya dan Kyuhyun mendecak kesal dia masih marah soal skandal Taeri karena penjualan buku wanita itu benar-benar turun.

“Aku harap setelah klarifikasi ini keadaan akan menjadi lebih baik, ingat jika ada wartawan yang datang kesini hubungi aku atau Hongbin.” Kyuhyun mengingatkan dengan tegas.

Nde..” Taeri menjawab singkat.

“Hongbin, urus dia aku harus segera pulang aku ada janji dengan Seohyun.” Kyuhyun berkata dia berdiri dari duduknya.

Nde Cho pyeonjibjang-nim.” Hongbin menunduk kearah Kyuhyun dan membukakan pintu rumah Taeri untuk kepala editor itu.

Taeri menghela nafasnya lega saat Kyuhyun sudah berlalu pergi dari rumahnya, keadaan tegang sekali saat Kyuhyun masih dirumahnya namun sekarang rasanya keadaan mulai membaik. Hongbin duduk disebelahnya dan mengambil kue coklat buatan Taekwoon, dia kelihatan terkejut dengan rasa lezat kue buatan Taekwoon.

“Woah..Taekwoon memang berbakat.” Hongbin memuji. “Walaupun aku tidak suka dia, aku mengakui dia berbakat membuat kue.” Lanjut Hongbin membuat Taeri tertawa melihat Taeri bisa tertawa seperti biasanya membuat Hongbin lega, dia mengacak-ngacak rambut Taeri membuat wanita itu mengerang dan memukul tangannya.

“Jadi kau benar-benar berpacaran dengan Jongin?” Hongbin bertanya, dia sebenarnya sedikit kecewa dengan kenyataan itu namun dia harus menerimanya. Dia masih mencintai Taeri namun jika Taeri tidak mencintainya dia tidak akan pernah memaksakan emosi itu, Hongbin sedikit menyesali keterlambatannya andai saja dia lebih berani mungkin Taeri sudah menjadi miliknya sekarang.

“Yeah…aku tidak percaya sekarang aku bisa bersamanya lagi.” Taeri menjawab, dia meneguk kembali teh hangatnya sambil tersenyum pahit, dia mungkin bersama Jongin sekarang tetapi sepertinya orang-orang belum bisa mengerti cinta mereka dan terus menghujat mereka.

“Hari ini aku dan Krystal ingin mengajakmu makan diluar, apa kau bisa? Aku tahu kau sedang sibuk dengan manuskrip novel baru tapi ini sudah lama sejak kita keluar bersama.”

“Tentu saja, apa aku harus mengajak Taekwoon-shi dan Jongin?”

Mendengar pertanyaan itu Hongbin mengangguk, lagipula dia tidak keberatan bertemu dengan kedua lelaki itu.

“Tentu saja boleh, aku pikir semakin banyak orang yang ikut akan semakin ramai.” jawab Hongbin.

“Oke.” Taeri mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Taekwoon dan Jongin.

*****

“Makan malam? Tentu saja..oke apa aku bisa mengundang Hakyeon Hyeong  juga? Dia pasti sangat senang…oke bye.” Taekwoon menutup teleponnya.

Hakyeon yang duduk didepannya menatap curiga kearah Taekwoon, Taekwoon yang melihat tatapan itu yang tersenyum dan mencium tangan Hakyeon yang tidak jauh dari jangkauan tangannya. Hari ini hari minggu dan mereka memutuskan untuk berkencan di apartemen baru Hakyeon, Taekwoon masih sibuk memasak dan Hakyeon memutuskan untuk membantunya.

“Apa Taeri menghubungimu?” Tanya Hakyeon, dia menarik kembali tangannya dari genggaman Taekwoon dan memotong wortel yang dia pegang tadi.

“Dia ingin mengundang kita untuk makan malam, kau tak usah cemburu seperti itu Hyeong .” Taekwoon menggoda dan Hakyeon hanya mendengus.

“Oh ya? Siapa saja yang akan datang?”

“Mungkin teman-teman Taeri, datanglah kau tidak ingin terus diam di apartemen sehariankan?” Taekwoon melingkarkan tangannya dipinggang Hakyeon.

“Baiklah aku ikut, tapi kau harus selalu ada disisiku mengerti?” Hakyeon mengacungkan pisaunya kearah Taekwoon.

Hyeong itu berbahaya..” Taekwoon menjauhkan pisau yang Hakyeon pegang darinya.

“Hahaha baiklah,aku hanya bercanda.” Hakyeon kembali memotong wortel.

Mereka berdua untuk sesaat sibuk dengan masakan mereka masing-masing namun keheningan yang mereka rasakan sekarang entah mengapa terasa hambar, dulu mereka tidak pernah merasakan emosi ini namun belakangan ini setelah mereka bersama segalanya terasa hambar kecuali saat mereka sedang jauh dari satu sama lain.

“Apa Hayoung menghubungimu juga Hyeong ?”

Mendengar pertanyaan itu Hakyeon mengangguk,tentu saja Hayoung masih menghubunginya namun tidak sesering dulu. Bagaimanapun mereka saudara, dia tidak ingin memutuskan hubungan persaudaraan mereka hanya karena emosi yang dia sembut ‘cinta’ Hayoung sudah tahu dia tidak menyukainya sekarang.

Melihat anggukan Hakyeon entah mengapa itu membuat Taekwoon khawatir, dia tidak bisa menghapus adegan Hakyeon dan Hayoung yang berciuman. Dia tahu Hakyeon tidak pernah menyukai lelaki, dia tidak seperti Taekwoon walaupun pada kenyataannya satu-satunya yang Taekwoon cintai hanyalah Hakyeon.

Taekwoon mematikan  kompor dan terdiam sesaat membuat Hakyeon melirik kearahnya, Hakyeon tahu Taekwoon pasti cemburu lagi pada Hayoung dia memang sedikit sensitif jika mereka sudah membahas Hayoung.

Hyeong  apa kau benar-benar mencintaiku? Kau tidak pernah berkencan dengan lelaki lain sebelum akukan?”

Hakyeon hanya tersenyum tipis, dia menangkup wajah Taekwoon dan Taekwoon mencium tangan Hakyeon menggengam erat tangan lelaki itu. Dia takut jika Hakyeon akan pergi lagi darinya, jika Hakyeon pergi Taekwoon tidak akan bisa mengejarnya lagi dia sudah lelah dan kehilangan rasa percaya dirinya.

“Kenapa kau begitu ketakutan? Aku tidak akan pernah berbohong padamu Taekwoon.” Hakyeon berkata.

“Kau serius?”

“Tentu saja, aku mencintaimu sama seperti kau mencintaiku.”

Mendengar itu senyum lebar menghiasi Bibir Taekwoon, dia senang jika Hakyeon merasakan hal yang sama dengannya. Dia memeluk Hakyeon, dia tidak akan membiarkan siapapun memisahkan dia dan Hakyeon seperti dulu karena sekarang dia lebih kuat dan siap untuk menghadapi apapun.

“Jangan pergi seperti dulu Hyeong , aku tidak bisa membayangkannya lagi.”

*****

Jongin tersenyum saat dia melihat pesan teks yang dikirimkan Taeri untuknya, wanita itu mengundangnya untuk makan malam. Jongin segera membalas pesan itu dengan persetujuan, dia akan senang sekali untuk makan malam bersama teman-teman Taeri apalagi mereka tidak bisa bertemu begitu sering sekarang.

Mendengar seseorang membuka pintu apartemennya Jongin terkejut, dia berlari kearah pintu utama dan menemukan sesosok pria berambut hitam berdiri diambang pintu apartemennya.

“Apa kau sudah puas menghancurkan perusahaan abeoji?”

Sosok lelaki itu  tidak lain adalah sosok kakaknya Kim Joonmyeon,lelaki itu seperti biasa menggunakan pakaian jasnya dengan rambut hitam yang dia sisir rapih. Melihat wajah kakaknya mengingatkan dia pada ayahnya mereka berdua memang mirip semua orang mengatakan itu, Jongin membuka lebar pintu apartemennya dan membiarkan kakaknya masuk.

Waktu menunjukan jam lima sore, sepertinya kakaknya itu langsung datang kesini setelah dia selesai bekerja. Jongin bisa melihat Joonmyeon kakaknya membawa sebuah bingkisan dan menyimpannya dimeja makan.

“Apa yang kau mau Hyeong ? apa kau kesini untuk megubah keputusanku?” Jongin melipatkan kedu tangannya didepan dada.

“Kau bisa bilang seperti itu, bedanya aku hanya akan menawarkan solusi ini untuk terakhir kali.” Joonmyeon menjawab.

Hyeong kau tahu akau tidak akan mengubah keputusanku.”

Joonmyeon menganggukkan kepalanya, dia tahu Jongin sudah bertekad untuk tidak meninggalkan Taeri namun dia percaya Jongin akan mengubah pikirannya jika dia mendengar tawaran dari Joonmyeon. Joonmyeon mengeluarkan sebuah dokumen dari tas yang dia bawa, melihat dokumen itu Jongin sedikit penasaran dan melangkah mendekat kearah kakaknya.

Dokumen yang Joonmyeon bawa tidak asing bagi Jongin, dia tahu dokumen apa itu. Joonmyeon menyeringai saat dia melihat wajah pucat Jongin, tentu saja Jongin akan mengingat dokumen ini karena dia menginginkan proyek ini untuk berjalan sejak dulu sebelum dia akhirnya dia menemukan Taeri.

“Apa kau ingat ambisimu sebelum kau menemukan Taeri? Aku bisa mengabulkannya.” Joonmyeon berkata.

Hyeong kau tidak bisa membujukku dengan proyek ini.” Jongin menjawab, dia tahu lebih baik jika dia tidak ingin meninggalkan Taeri hanya karena proyek simpel yang dia rancang beberapa tahun yang lalu.

“Kau punya potensi sebagai direktur kenapa kau menyerahkan posisimu hanya untuk seorang wanita Jongin?”

Joonmyeon memberikan dokumen yang dia bawa pada Jongin, dia tahu dokumen ini sangat berguna suatu saat nanti. Walaupun ayahnya akan keberatan Joonmyeon bisa membujuk ayahnya untuk mewujudkan proyek Jongin, yang dia inginkan hanyalah kekacauan ini untuk segera berakhir.

Jongin meremas dokumen yang ada ditangannya dan merobeknya didepan Joonmyeon, mata Joonmyeon melebar karena dia terkejut melihat Jongin dengan mudahnya menghancurkan dokumen rancangan proyek selama bertahun-tahun. Jongin melemparkan dokumennya itu kepada Joonmyeon, Jongin tahu kakaknya itu pasti sangat marah sekarang.

“Aku mencintainya Hyeong dan aku tidak akan membiarkan kau ataupun abeoji memisahkan aku darinya tidak untuk yang kedua kalinya!” bentak Jongin.

Joonmyeon menyeringai mendengar itu, Jongin masih kenak-kanakan ternyata selama ini dia kira Jongin sudah berubah dan berhenti bersikap egois.

“Jongin,kau bersikap seperti anak kecil sebaiknya kau kembali dan menikah dengan Sulli atau aku akan datang pada Taeri dan memaksa gadis itu untuk melakukannya untukku.” Joonmyeon mengancam.

“Kau tidak akan berani menyentuh Taeri.” Jawab Jongin, dia menatap tajam kearah kakak laki-lakinya.

“Oh adikku sayang,aku bisa melakukan apapun padanya apa kau lupa siapa aku?” Joonmyeon menyeringai dan melangkah hendak pergi keluar dari apartemen Jongin.

Melihat itu Jongin merasa putus asa dan menarik lengan kakaknya membuat Joonmyeon berhenti melangkah dan melirik kearah Jongin, dia tahu cepat atau lambat adiknya itu akan menyerah.

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau adikku Jongin,aku ingin yang terbaik untukmu.” Joonmyeon melepaskan tangan Jongin dari lengannya.

“Aku akan membiarkanmu bersama Taeri, tapi dengan satu syarat…kau harus tetap berhubungan dengan Sulli.”

Mendengar itu tentu saja Jongin keberatan, dia tidak akan pernah bisa mencintai Sulli seperti dia mencintai Taeri apalagi kakaknya ingin dia memiliki hubungan khusus dengan Taeri juga membuat Taeri selingkuhannya.

“Kenapa kau ingin aku tetap bersama Sulli?” Jongin bertanya, keluarganya memiliki alasan yang kuat kenapa mereka ingin Jongin bersamanya namun Joonmyeon tidak.

Seingat dia jika Jongin gagal menikahi Sulli bukankah kesempatan dia untuk menguasai semua aset ayahnya akan meningkat? Jika dia tetap menikah dengan Sulli ada kemungkinan kekayaan ayah mereka akan dibagi rata antara mereka, Joonmyeon seharusnya membiarkan keadaan kacau seperti ini.

“Karena aku ingin dia bahagia!” Joonmyeon menjawab.

Jongin menyeringai, selama ini dia ingin menemukan kelemahan kakaknya namun sekarang sudah terlihat jelas apa yang selama ini menjadi kelemahan kakaknya. Dia tidak pernah menyangka jika kelemahan nya adalah seorang Choi Sulli, Jongin seharusnya menyadari itu dari dulu.

“Kenapa kau ingin dia bahagia? Kau bukan siapa-siapa dia Hyeong !”

Joonmyeon hanya diam saat dia mendengar jawaban Jongin, dia menunduk dan memutuskan untuk duduk di sofa Jongin. Apakah ini alasan kuat kenapa Joonmyeon ingin Jongin kembali dengan Sulli? Joonmyeon bukanlah orang yang mudah untuk diatur dia akan melakukan apapun yang dia inginkan dan tidak ada orang lain yang bisa memaksanya bahkan kedua orangtua mereka tidak pernah berhasil.

“Karena aku mencintai Sulli…” Jawaban Joonmyeon hampir terdengar seperti bisikan namun suaranya terdengar jelas di apartemen sunyi Jongin.

Jongin masih sedikit terkejut menyadari semuanya, dia tidak pernah tahu Joonmyeon menyukai Sulli tetapi dia tahu jika mereka berdua mengenal satu sama lain cukup lama. Jongin ingat mereka kuliah di universitas yang sama dan Sulli adalah adik tingkat Joonmyeon tetapi dia tidak pernah menyangka jika kakaknya mencintai Sulli.

Hyeong kenapa kau tidak pernah mengatakannya?”

Jongin duduk disamping Joonmyeon dan kakaknya hanya memalingkan wajahnya, Jongin tahu Joonmyeon bukanlah tipe lelaki yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Berbeda sekali dengannya Joonmyeon bukanlah tipe orang yang suka bersosialisasi, dia lebih suka bekerja dengan dokumen yang ada diperusahaan dibandingkan datang ke pesta dan menyapa beberapa orang yang penting seperti yang biasa Jongin lakukan.

Seingat Jongin kakaknya itu tidak memiliki banyak teman dan dia sedikit terkejut saat Joonmyeon mengenalkan Sulli padanya, selama ini dialah yang selalu mengenalkan Joonmyeon pada temannya.

“Aku tahu Sulli jatuh cinta padamu, aku tidak bisa mengubah pikirannya.”

Dari ekspressi wajah Joonmyeon Jongin tahu kakaknya itu merasa putus asa, dia kira selama ini Sulli ingin menikahi dia karena perintah dari ayahnya namun kelihatannya salah. Wanita itu juga ternyata mencintai dia dan itu membuat Jongin semakin kebingungan, dia mencintai Taeri namun jika dia tidak kembali pada keluarganya dia takut dia akan kehilangan Taeri dan keluarganya juga.

“Kembalilah Jongin, jika kau ingin tetap menjadi adikku dan anak kedua orangtua kita kembalilah…abeoji mungkin tidak mengatakannya tapi dia ingin kau kembali itulah kenapa aku disini.”

Bujukan itu begitu manis sekali namun Jongin tidak akan melepaskan Taeri seperti dulu, tidak untuk yang kedua kalinya. Dia bukanlah lelaki yang bisa mengatakan cinta palsu pada seorang wanita apalagi wanita yang akan dia tipu adalah Sulli, teman baik kakaknya.

“Aku tidak bisa berbohong pada Sulli Hyeong ,betapa keras dia mencoba aku tidak akan pernah mencintainya seperti aku mencintai Taeri.”

Joonmyeon menyentuh bahu Jongin, dia mencengkram bau Jongin dengan erat seakan hidupnya bergantung pada Jongin.

“Aku bilang kau tak usah berpisah dengan Taeri, kau hanya harus kembali pada Sulli dan buat dia bahagia untuk sementara sampai semua rumor ini berhenti dan setelah itu kau bisa berpisah dengan dia.”

“Aku akan menipu Sulli Hyeong ,apa kau benar-benar akan membiarkan aku melakukan itu pada temanmu?”

Joonmyeon terdiam sesaat, keheningan diantara mereka terasa mencekik Joonmyeon. Dia tidak bisa melihat Sulli menangis seperti tadi siang, dia hanya ingin Sulli tersenyum dan bahagia seperti dulu dan satu-satunya cara yang ampuh hanyalah membawa Jongin kembali padanya.

Meskipun itu menyakitkan Joonmyeon akan melakukannya, dia akan melakukan apapun untuk Sulli. Dia mencintai wanita itu lebih dari apapun, jika bersama Jongin membuat Sulli bahagia makan Joonmyeon tidak akan ragu untuk menyeret adiknya kehadapan Sulli.

“Ya,apapun untuk membuatnya bahagia.” Joonmyeon menjawab lemas.

Hyeong kau akan menyakiti dia, jika dia tahu..”

Jongin tidak menamatkan kalimatnya dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaa Sulli nanti dia tahu jika selama ini Jongin hanya berpura-pura mencintainya, apalagi jika Taeri sampai tahu rencana ini. Dia tidak ingin kehilangan Taeri namun disisi lain dia juga tidak ingin kehilangan keluarganya.

“Aku akan mengurusnya, kau hanya perlu kembali Jongin.”

*****

Taeri sangat senang sekali saat dia melihat sosok Jongin masuk kedalam restoran dimana mereka berjanji untuk bertemu. Krystal,Taekwoon,Hongbin dan Hakyeon sudah menunggu lelaki itu cukup lama sehingga mereka sudah memesan makanan terlebih dahulu walaupun yang lain kelihatan tidak senang melihat Jongin Taeri berbeda.

“Maaf aku terlambat, aku harus mengurus beberapa masalah di cafe.” Jongin berkata dengan senyum manisnya.

Krystal mendengus saat mendengar alasan itu, Hongbin menyikut lengan wanita itu meminta dia untuk bersikap ramah didepan Jongin.

“Duduklah, pesanan kita akan datang.” Taekwoon mencoba ramah padanya dan menyuruh Jongin duduk.

Jongin mengangguk dan duduk disamping Taeri, Taeri tersenyum kearahnya dan menuangkan soju pada sebuah gelas kecil lalu memberikannya pada Jongin. Melihat itu Krystal kelihatannya tidak senang sekali, Taeri tahu kenapa sahabatnya itu tidak setuju Taeri kembali bersama Jongin.

Krystal melihat bagaimana hancurnya Taeri saat Jongin meninggalkannya dan Krystal takut jika sahabatnya itu akan mengalami hal yang sama, apalagi dengan kontroversi yang menyelimuti hubungan mereka. Krystal semakin khawatir, dia tidak pernah suka Jongin saat pertamakali temannya mengenalkan mereka berdua karena Krystal tahu Jongin hanyalah berita buruk bagi kehidupan Taeri.

“Jadi dalam rangka apa kalian berkumpul untuk makan malam.” Jongin bertanya sambil melingkarkan tangannya dibahu Taeri.

Tanpa Taekwoon sadari dari tadi dia menatapi tangan Jongin yang dengan nyamannya melingkar dibahu Taeri, Hakyeon yang menyadari itu menyentuh lengan Taekwoon membuat lelaki itu sedikit terkejut dan melirik kearahnya.

“Ada apa Hyeong ?”

“Kau menatapi Taeri dari tadi, apa kau jatuh cinta padanya atau semacamnya?” Hakyeon menggoda namun dia bisa melihat wajah panik Taekwoon.

“Tidak Hyeong ,apa kau gila?aku menyukaimu.” Taekwoon berbisik.

Hakyeon hanya bisa menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya, Taekwoon ternyata masih bisa dia goda meskipun sekarang mereka sudah besar. Hakyeon menyentuh paha Taekwoon dan mengedipkan matanya pada kekasihnya itu membuat Taekwoon semakin malu tetapi tangannya menyentuh tangan Hakyeon dibawah meja.

Hongbin memutuskan untuk mencairkan suasana dengan bertanya pada Taekwoon tentang pekerjaannya, dia kelihatan cukup ceria untuk menceritakannya dan taklama kemudian semua orang mulai mengobrol dengan akrab. Hakyeon belum mengenal Hongbin sehingga Taekwoon mengenal dia pada Hongbin dengan lengkap, mereka pernah bertemu tapi belum sempat mengobrol saat mereka berdua bertemu di rumah Taeri.

Taeri kelihatan sibuk dengan steaknya dan tertawa saat mendengar lelucon Hongbin tentang Kyuhyun kepala editor mereka yang sangat kejam, Taekwoon kelihatan bersenang-senang juga karena dia mengobrol dengan Krystal tentang resep kue coklat yang dulu Taekwoon buatkan untuknya.

Semua orang kelihatan menikmati makan malam mereka kecuali Jongin, dia hanya memainkan makanannya sambil menghela nafasnya dan itu membuat Taeri khawatir. Taeri menyentuh tangan Jongin dan lelaki itu tersenyum lemas kearahnya, Taeri tahu kekasihnya itu sedang mengkhawatirkan sesuatu namun mereka tidak bisa membahas itu disini sekarang.

“Apa kau ingin pulang duluan? Aku bisa menginap di apartemenmu.” Taeri menawarkan dan Jongin mengangguk.

“Teman-teman, maaf aku lelah aku dan Jongin ingin pulang duluan kalian akan baik-baik sajakan?” Taeri berdiri dari duduknya begitu juga dengan Jongin.

“Oh kalau begitu aku akan mengantarkanmu.” Taekwoon berdiri.

“Tidak usah Taekwoon-shi,aku akan pulang bersama Jongin.” Ucap Taeri membuat Taekwoon kembali duduk ditempatnya.

“Tenang saja,aku akan menjaga Taeri untukmu.”

Jongin menyentuh bahu Taekwoon dan menyeringai, dia dan Taeri lalu pergi meninggalkan meja mereka sesudah mereka membayar pesanan mereka. Pandangan Taekwoon masih memperhatikan sosok Taeri dan Jongin yang sudah keluar dari restoran, melihat itu entah kenapa Krystal menyadari sesuatu.

Dia tahu Taekwoon tidak menyukai wanita, Taeri sudah mengatakan itu padanya namun melihat Taekwoon bertingkah seperti ini membuat Krystal tidak percaya dengan perkataan Taeri. Taekwoon bertingkah seperti lelaki yang cemburu sekarang karena dia langsung murung setelah melihat Taeri masuk kedalam mobil Jongin.

“Hm..sepertinya Taeri berbohong.” Krystal bergumam dan Hongbin mendengar perkataan Krystal.

“Kenapa Taeri berbohong?” Hongbin bertanya namun Krystal hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Oppa,bagaimana kalau kita pergi juga? Disini sangat membosankan.” Krystal melingkarkan tangannya dilengan Hongbin.

“Tidak Krystal,kita harus menemani Taekwoon dan Hakyeon.” Hongbin menolak dan Krystal cemberut.

*****

Perjalanan menuju apartemen Jongin sangat sunyi sekali, Jongin tidak mengatakan apapun namun lelaki itu menggengam tangan Taeri sampai mereka sampai parkiran apartemen Jongin. Jongin ternyata masih sama seperti dulu, dia masih membukakan pintu untuk Taeri dan itu membuat Taeri sangat senang.

Tangan Jongin terasa hangat dan terkadang Taeri merindukan tangan besar Jongin yang selalu melindunginya. Taeri sedikit penasaran dengan apartemen Jongin, dia masih ingat jika Jongin ingin tinggal bersamanya dan membeli apartemennya untuk mereka jika mereka sudah menikah nanti.

Membayangkan pernikahan dengan Jongin sudah membuat Taeri senang, Jongin dan Taeri masuk kedalam lift lalu Jongin menekan tombol lantai nomor lima. Ternyata kamar Jongin tidak terlalu tinggi Taeri suka itu, setelah beberapa menit berlalu sampai akhirny pintu lift terbuka.

Jongin dan Taeri menulusuri lorong apartemen mereka dan akhirnya Jongin berhenti didepan pintu apartemen yang bertuliskan 517, Jongin membuka pintu apartemennya dan Taeri menarik nafasnya terkejut melihat betapa besarnya apartemen Jongin.

Oppa kau benar-benar membeli apartemen ini untuk kita?” Taeri bertanya, Jongin menuntun Taeri untuk masuk setelah dia menutup pintu apartemennya.

“Ya,apa kau suka? Apartemen ini punya tiga kamar dan dua kamar mandi, ukuran dapur dan ruang tengah rumah juga cukup besar.” Jongin menjelaskan, dia masih ingat kata-kata penjual apartemen ini saat dia ingin membelinya.

Jongin membuka pintu balkon apartemennya dan Taeri langsung berjalan keluar melihat pemandangan kota Seoul dari balkon apartemen itu, Taeri tersenyum dan belari untuk memeluk Jongin. Jongin tertawa dan memeluk kembali kekasihnya itu, dia harap Taeri mengubah pikirannya dan akan pindah ke apartemen ini bersamanya.

Mengingat Taeri tinggal bersama Taekwoon membuat Jongin khawatir apalagi saat dia melihat betapa akrabnya mereka berdua, walaupun Taeri mengatakan kalau mereka hanya teman Jongin tidak bisa menghilangkan prasangka buruknya. Jongin melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Taeri dengan lembut, dia mencium dahi wanita itu membuat Taeri menutup matanya.

“Tinggallah disini bersamaku,aku akan menjagamu dan kita akan menghabiskan waktu lebih lama bersama.” Ucap Jongin.

“Aku tidak bisa Oppa,kau tahu aku harus menyelesaikan novelku terlebih dahulu aku juga tidak ingin menambah rumor buruk yang sudah tersebar sebaiknya kita menunggu setelah semuanya tenang Oppa.” Taeri menjawab, Jongin mengangguk.

Ekspressi kecewa terpancar dengan jelas dari wajah lelaki itu dan itu membuat Taeri sedikit sedih, dia juga ingin tinggal bersama Jongin namun dia ingat perkataan Kyuhyun. Kyuhyun mengatakan kalau dia dan Jongin sebaiknya tidak terlihat bersama sesering mungkin sebelum berita pembatalan pernikahan Jongin reda dan tuduhan-tuduhan palsu pada Taeri hilang.

“Baiklah jika kau belum siap tinggal bersamaku, sebaiknya kita tidur..aku sudah lelah.” Jongin berkata dengan nada lemas, dia berbalik berjalan menuju kamarnya.

Taeri sedikit khawatir, dari tadi Jongin kelihatan muram apa dia marah karena Teari tidak ingin tinggal dengannya? Taeri menghela nafasnya. Dia berjalan kearah dapur dan membuka lemari es Jongin, dia mengambil jus jeruk yang ada didalam lemari es itu dan menuangkannya pada sebuah gelas.

Dia tahu Jongin akan sedikit merasa baikan setelah dia meminum jus jeruk, lagipula minuman itu adalah minuman kesukaannya. Taeri akhirnya berjalan kearah kamar Jongin dan dia bisa melihat Jongin duduk diranjangnya, Taeri akhirnya memutuskan untuk berdiri didepan Jongin dan memberikan jus jeruk yang dia baw apada lelaki itu.

“Aku tidak tahu apa yang kau khawatirkan tetapi minumlah ini, setidaknya kau akan merasa baikan.” Taeri berkata.

Jongin mengambil jus jeruk yang ada ditangan Taeri dan meminumnya, perkataan Taeri benar setelah dia meminum jus itu dia merasa sedikit baikan walaupun perkataan kakaknya masih menghantuinya. Kakaknya tidak pernah terlihat seputus asa tadi, dia merasa seperti penjahat yang ada di film-film dan itu membuatnya tidak nyaman.

Dia tahu Sulli menderita karena dia membatalkan pernikahan mereka namun yang lebih menyiksa dia adalah ekspressi kakaknya Joonmyeon,dia menyayangi kakaknya lebih dari apapun dan saat dia melihat betapa sedihnya Joonmyeon hati Jongin terasa menciut.

“Taeri,apa kau mencintaiku?” Jongin bertanya, dia melirik kearah kekasihnya itu dan dia bisa melihat Taeri menatap kearahnya terkejut.

“Tentu saja Oppa,jika tidak aku tidak akan ada disini.” Taeri memeluk Jongin, dia tidak tahu jika Jongin ternyata masih meragukan cinta mereka.

Apakah itu yang Jongin khawatirkan dari tadi? Apakah semua berita palsu yang tersebar mulai mempengaruhi pikiran Jongin? Taeri sedikit khawatir. Jongin menyentuh tangan Taeri dan melepaskan tangan wanita itu darinya, Jongin tahu Taeri sangat mencintainya dia bodoh sekali untuk berpikir jika Taeri akan melepaskannya.

“Maaf,seharusnya aku tidak bertanya.” Ucap Jongin.

Taeri mengangguk dia lega saat dia melihat Jongin tersenyum kembali, Jongin mendekat dan menyentuh pipinya Taeri tahu Jongin akan menciumnya sehingga dia menutup matanya. Taklama kemudian bibir Jongin sudah menyentuhnya, Taeri bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat dan tangannya terasa sedikit lengket karena gugup.

Ini bukan pertama kalinya mereka berciuman namun entah kenapa malam ini dia sangat gugup, Jongin begitu tampan malam ini. Sentuhan lembut Jongin selalu membuat kaki Taeri lemas begitu juga malam ini, dia bisa merasakan tangan Jongin menyentuh bahunya dan melepaskan jaket hitam yang Taeri gunakan.

Taeri akhirnya menghentikan tangan Jongin yang ada dipundaknya begitu juga dengan ciuman mereka, Jongin menatap kearah Taeri sesaat menunggu kekasihnya itu mengatakan sesuatu.

“Tidak sekarang Oppa,aku…”

“Apa kau rindu padaku?” Jongin mencium kembali leher Taeri membuat wanita itu menarik nafasnya terkejut dengan sensasi bibir Jongin yang hangat dilehernya. Taeri akhirnya menyerah dan membiarkan Jongin mencium lehernya, tangan Taeri memeluk Jongin dan Taeri bisa merasakan tangan hangat Jongin menyentuh pinggangnya.

*****

“Tadi cukup menyenangkan.” Taeri berkomentar dan Jongin tersenyum.

“Besok kita akan lanjutkan lagi.” Jongin menggoda dan Taeri tertawa mendengar itu.

“Aku tidak sabar.”

Taeri akhirnya memejamkan matanya, Jongin mengelus-elus kepala Taeri membuat wanita itu semakin ingin tidur. Setelah Jongin yakin Taeri tertidur dia bangun dari ranjang dan mengambil ponselnya, dia berjalan kearah balkoni apartemennya lalu memutuskan untuk menghubungi kakaknya.

Jongin menunggu beberapa saat sampai akhirnya kakaknya mengangkat panggilannya, Jongin tahu kakaknya pasti senang setelah dia mengatakan apa niatnya.

Hyeong aku akan melakukannya, tapi kau harus berjanji untuk menjaga Taeri jangan sampai dia tahu.”

*****

Taeri membuka matanya perlahan, dia tidak ingat jika dikamarnya ada jendela yang besar. Dia bangun dari posisi tertidurnya dan merasakan sebuah tangan memeluknya, dia melirik kesamping dan menemukan Jongin tidur disampingnya. Wajah kekasihnya iu sangat tenang sekali jika dia sedang tidur, Taeri mencium dahi Jongin membuat lelaki itu mengerang.

Jongin menarik Taeri sehingga wanita itu kembali terbaring, dia bahkan dengan posesifnya tidak membiarkan Taeri untuk bergerak. Taeri ingin segera pulang, dia tahu Taekwoon pasti sendirian dirumah dan dia juga harus menyelesaikan manuskrip nya untuk buku dia yang baru.

Oppa,aku harus segera pulang..” Taeri berkata meskipun sebenarnya dia lebih baik tidur diranjang seharian bersama Jongin.

“Kau bisa pulang besok..” Jongin berkata dan dia akhirnya membuka matanya.

“Tidak,aku harus menulis kau tahu Hongbin Oppa sangat ketat jika soal deadline.” Taeri akhirnya berhasil kabur dari pelukan Jongin dan pergi kekamar mandi.

Jongin tersenyum saat dia melihat Taeri berjalan kekamar mandi dan mulai menghidupkan air untuk dia mandi, Jongin mengambil celana jeansnya lalu dia merokok. Dia tahu mulai besok dia tidak akan bisa bertemu dengan Taeri lebih sering mengingat dia akan menjalankan rencana kakaknya, namun demi reputasi Taeri dia akan melakukannya.

Joonmyeon mengatakan jika perusahaan penerbitan Taeri akan mengakhiri kontrak mereka dengan Taeri jika rumor hubungan mereka tidak kunjung berhenti, Jongin juga menyadari pandangan orang-orang saat mereka baru sampai di apartemen tadi malam.

Jongin akan melakukan apapun untuk Taeri, dia tidak ingin Taeri kehilangan karirnya karena keputusan egoisnya untuk kembali oleh karena itu dia akan melakukan rencana kakaknya. Joonmyeon berjanji jika dia akan mengurus masalah Taeri oleh karena itu Jongin setuju untuk melakukan apa yang kakaknya inginkan.

Beberapa menit berlalu Taeri sudah keluar dari kamar mandi, wanita itu langsung memakai pakaiannya. Ponsel Taeri berdering membuat wanita itu mengambilnya tetapi ekspressi terkejut terpasang diwajah Taeri saat dia melihat layar ponselnya, Jongin penasaran kenapa kekasihnya itu kelihatan panik sekarang.

Oppa,aku pulang dulu kau tidak usah mengantarkan aku.” Taeri berkata, dia langsung berlari keluar dari apartemen tanpa menunggu respon dari Jongin.

Jongin menggelengkan kepalanya Taeri mungkin terlambat untuk meeting atau semacamnya, Jongin mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan teks untuk Taeri memberitahu wanita itu untuk hati-hati.

Taeri beruntung saat dia keluar dari gedung apartemen Jongin sebuah taksi sedang menunggu mencari penumpang, Taeri segera masuk kedalam taksi itu dan menyuruh supir taksi membawanya kealamat rumahnya. Taeri segera menghubungi nomor Taekwoon dan taklama kemudian lelaki itu mengangkat panggilannya.

“Taekwoon-shi, maaf aku terlambat.” Taeri berkata.

“Tidak apa-apa,aku masih membuat kuenya kau tak usah khawatir.” Jawab Taekwoon dengan santai.

“Maaf,aku benar-benar lupa tentang rencana kita.” Taeri sedikit merasa bersalah, seharusnya dia tidak menginap tadi malam.

“Jika kau benar-benar minta maaf datanglah kerumah secepatnya, kuenya akan matang sebentar lagi.” Taekwoon berkata.

“Aku sudah dijalan kau tunggu saja.”

Taeri menutup teleponnya setelah dia berpamitan pada Taekwoon, dia menghela nafasnya dan entah mengapa dia ternyata masih merasa mengantuk. Kenangan tentang tadi malam terlintas dipikirannya dan Taeri tersenyum, rasa rindunya akhirnya sudah terpenuhi dan dia tidak sabar untuk bertemu dengan Jongin.

Perjalanan menuju rumahnya cukup lama Taeri berpikir, dia segera membayar supir taksi dan berlari kedalam rumahnya. Saat dia membuka pintu rumahnya seluruh rumahnya tercium seperti toko kue dengan berbagai buah-buahan, Taeri berjalan menuju dapur dan dia terkejut saat dia melihat Taekwoon.

Taeri tidak tahu jiak dia harus tertawa atau pergi karena Taekwoon sekarang sedang duduk di salah satu kursi kecil didapurnya dan membawa sebuah majalah dewasa, Taeri tidak keberatan jika Taekwoon membaca majalah dewasa tetapi dia terkejut karena Taekwoon kelihatannya sedang memandangi foto wanita setengah telanjang dilihat dari cover majalahnya.

“EHM!” Taeri pura-pura batuk.

Mendengar suara itu Taekwoon terkejut dia bahkan hampir menjatuhkan majalah yang sedang dia baca, melihat itu Taeri ingin tertawa apalagi saat dia melihat kedua pipi Taekwoon bersemu merah.

“T-taeri-shi! Kau sudah datang..” Taekwoon menyambutnya dengan canggung, dia segera menyembunyikan majalah dewasanya dibelakang punggungnya.

“Ya,kau bilang aku harus segera pulang.” Taeri menjawab sambil menahan tawanya.

“Oh iya, aku sudah menyiapkan beberapa kue bisakah kau mencicipinya?” Taekwoon meminta, dia kelihatan masih terkejut karena dia baru saja tertangkap basah membawa majalah dewasa.

“Taekwoon-shi aku tidak tahu kau suka membaca majalah dewasa.” Taeri menggoda, melihat ekspressi malu Taekwoon benar-benar membuat dia ingin tertawa.

“Aku..aku hanya bereksperimen..Krystal dan Hongbin memberikannya padaku kemarin.”

“Krystal?”

Taeri tahu jika Krystal sangat terbuka soal masalah seksual atau apapun sebenarnya sahabatnya itu seperti buku yang gampang dibaca tetapi dia tidak menyangka jika dia akan membicarakan hal itu dengan Taekwoon. Apalagi Hongbin, Taeri kira Hongin tidak mungkin bisa dengan terbuka membicarakan sesuatu yang sangat vulgar namun sepertinya penilaian dia salah.

“Ya dia memberikan majalah ini padaku, lebih tepatnya memaksa…aku hanya penasaran.” Taekwoon menjelaskan, dia menunjukan majalah yang tadi dia baca pada Taeri.

“Tapi kenapa? Kau bilang kau tidak suka wanitakan? Bukankah kau seharusnya membeli majalah dengan cover lelaki yang setengah telanjang?” Taeri menggoda lagi dan dia bisa mendengar Taekwoon mengerang.

“Argggh! Aku seharusnya tidak mendengarkan mereka tadi malam.” Taekwoon mengusap wajahnya.

“Mereka tidak tahu kau berbeda, tidak apa-apa lainkali aku akan membelikan majalah seksi untukmu jika kau mau.” Taeri mengedipkan matanya pada Taekwoon.

“Tidak Taeri-shi,bukan itu masalahnya.” Taekwoon berkata dia menggaruk kepalanya penuh dengan kecanggungan.

“Lalu kenapa?” Taeri kebingungan, sebenarnya apa niat Hongbin dan Krystal? Kenapa mereka berdua memberikan majalah ini pada Taekwoon.

Taeri sendiri merasa jijik saat melihat cover vulgar majalah itu, jangan-jangan majalah ini milik Hongbin? Taeri tidak akan pernah bisa menghormati Hongbin seperti dulu jika jawabannya iya.

“Kemarin malam Krystal menanyakan sesuatu padaku, aku sendiri sangat terkejut mendengarnya.” Taekwoon menghela nafasnya.

“Apa dia bersikap tidak sopan? Aku bisa memarahi dia jika kau mau.” Taeri tahu Krystal kadang-kadang tidak bisa mengontrol ucapannya.

“Bukan seperti itu, Krytal cukup sopan hanya saja dia menanyakan sesuatu yang membuat aku kebingungan.”

Jawab Taekwoon membuat Taeri kebingungan, apa yang Krysta l tanyakan sehingga membuat Taekwoon kebingungan? Taeri menjadi sedikit penasaran.

“Memang apa yang dia tanyakan?”

Taekwoon mengigit bibirnya, lelaki itu kelihatan resah saat dia hendak menjawab pertanyaan Taeri dan itu membuat Taeri semakin penasaran. Taekwoon selalu terlihat dewasa dan penuh percaya diri, tetapi sekarang dia kelihatan seperti anak SMA yang bingung memilih jalan hidupnya.

“Krystal bertanya padaku jika aku menyukaimu.”

To Be Continue….

Don’t forget the comment ❤

Ps: Seperti biasanya Dirty version ada di blog pribadi aku oh iya! apakah ada yang sadar kalau BHG sama Fake itu dunianya sama? kekkeke aku sengaja bikin dunia mereka sama jadi Fake itu bisa dibilang sequel dari BHG sebenarnya tapi lebih fokus ke kehidupan Kyuhyun

Advertisements

12 thoughts on “[Chaptered] But He’s Gay! (Chapter 6) ~Cleanversion~

  1. ahhh Keren…
    Jongin sumpah bener2 susah jalan hidupnya ya, di tambah pro dan kontra di keluarganya, ckckck -_-

    aku paling suka Taeri & Taekwoon moment 😀 hehehee seruuUUU….
    Kuharap Taekwoon sadar dan beneran suka Taeri, begitu pula sebaliknya 😀
    dan mereka jadian deh ber 2 🙂

    oya thor, aku smpet liat ff ini yg di versi protec. Aku mau PWnya dong 😀
    kirim ke email jga ga apa, ni alamatnya :
    eva.aprilian25@gmail.com

    kasi ya thor, aku pengen baca 😀 hehee

    1. itupun kalo chapther yg di protec ketemu -_-
      aku pngen baca krna pngen tau, ada bedanya apa ga thor?

      Oya btw, lekas di next ya thor, lgi seru banget WoonRi moment 😀 SEMANGAT ^-^

        1. ohhh begitu….. 😀
          iya thor aku udh inget lgi tuh tmpatnya yg ada versi protecnya di indonesiafanfictionarea.wordpress.com iyakan….
          padahal tingal klik linknya tersedia di atas, haduhh
          -_-” aku ga teliti 😀

          Aku jga pengen izin numpang baca di sana ya 😀 hehee

          emmm iya…
          Di indonesiafanfictionarea.wordpress.com juga aku liat ada ffnya abang Chanyeol. Pengen baca, tapi di PWin juga -_-”

          mengenai cukup umur….
          Aku skarang udh 18 😀 hahaa, kira2 bisa tak thor?
          Aku mau coba baca kalo boleh minta PWnya yg chapther 6 sama yg Chanyeol skalian yaaa 😀
          kalo boleh ^o^ hehee

          makasih thor 🙂

          1. aku bakal kirim PW nya ke email ya chingu,oh bisa kalau udah 18 wkwkwk fanfic Chanyeol? yang judulnya apa ya? aku lupa lagi chingu soalnya terlalu banyak fanfic yang aku tulis (-__-“)

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s