[Song of The Week] RESET


RESET

Chunniest Presents

^

RESET

(Who are You : School 2015)

^

Yook Sungjae (BTOB) as Gong Taekwang – Kim Sohyun as Go Eunbyul

^

Genre: Romance, Comedy  | Length: Oneshoot  | Rated: G

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Terdengar suara pesawat berlalu lalang di Bandara. Banyak sekali orang-orang berdiri di depan pintu gerbang dengan membawa tulisan menunggu keluarga atau temannya datang.

Berbeda dengan penumpang yang lain, seorang gadis mengenakan kaos yang dilapisi kemeja hitam putih garis-garis dengan celana jeans biru keluar dari pintu. Gadis bernama lengkap Go Eunbyul itu tak memperdulikan deretan orang yang menjemput karena memang tidak akan ada seseorang yang menjemputnya.

Keluar dari Bandara, Eunbyul segera menghentikan sebuah Taxi. Pintu Taxi dibuka dan Eunbyul segera masuk dengan tas ransel di bahunya. Setelah memberitahukan tujuannya, gadis dengan rambut bergelombang itu mengeluarkan ponselnya. Dia membuka akun SNSnya dan langsung melihat foto adik kembarnya – Go Eunbi – bersama kekasihnya yang tak lain tak bukan adalah teman kecilnya, Han Yi-an.

Bibirnya melengkung melihat foto yang diambil di sebuah caffe. Namun hal berikutnya senyuman itu menghilang digantikan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada yang mengetahui jika Eunbyul merasa kehilangan teman masa kecilnya karena dia selalu menyembunyikan perasaan itu dibalik senyumannya. Namun dia tetap tidak akan memperlihatkan perasaan itu pada siapapun karena tidak ingin adiknya merasa sedih. Sudah cukup penderitaan yang dirasakan Eunbi sehingga Eunbyul ingin membuat saudara kembarnya itu bahagia dan hanya Yi-an lah yang bisa mewujudkan hal itu.

Taxi itu berhenti tepat di depan rumah yang sudah lama tidak dikunjungi Eunbyul. Setelah membayar, dia keluar dari Taxi itu dan menatap rumah itu penuh kerinduan. Ibu dan Eunbi lah yang lebih dirindukannya. Kakinya yang dibalut sepatu snekers putih biru melangkah menuju pintu itu. Dia membuka pintu itu dan bisa mendengar suara canda tawa ibu dan Eunbi.

Kalimat ‘Aku pulang’ dari mulut Eunbyul membuat suasana menjadi hening. Ibu dan Eunbi bergegas keluar dari dapur dan terkejut melihat Eunbyul sudah berdiri dengan senyum yang merekah. Segera Ibu dan Eunbi memeluk gadis itu menumpahkan rasa rindu yang mereka rasakan.

“Eunbyul-ah, kenapa kau tidak mengatakan pada eomma jika kau pulang lebih cepat? Eomma kan bisa menjemputmu di bandara.”

Aniyo eomma. Aku ingin memberi kalian kejutan.”

“Kau benar-benar mengejutkan kami eonnie.” Timpal Eunbi.

“Apa kau lapar Eunbyul-ah? Kami sedang memasak Kkomakjim (kerang dara pedas).”

Eunbyul mengangguk dan adiknya segera menarik kakaknya itu menuju meja makan. Segera keluarga kecil itupun makan bersama untuk pertama kalinya setelah Eunbyul kembali.

^

^

Kedua tangan Eunbyul didorong ke atas meregangkan otot-ototnya yang pegal. Seharian ini gadis itu  begitu sibuk di depan komputer mencari universitas yang diinginkannya. Bahkan matanya sudah terasa pedas karena terlalu lama di depan layar computer.

Merasa bosan, Eunbyul berdiri dan memutuskan mencari udara segar. Keluar dari rumah, gadis itu disambut udara sore yang segar. Dia mengangkat tangan dan menghirup dalam-dalam menikmati udara Seoul. Sebuah pukulan mengenai kepala gadis itu membuatnya menoleh.

“Kau memang benar-benar sudah pulang.” Sapa Yi-an.

“Kenapa kau memukulku Oppa?” Eunbyul berpura-pura menjadi Eunbi untuk mengerjai lelaki itu.

Yi-an menggelengkan kepalanya dan merunduk menatap Eunbyul. “Kau tak bisa membohongiku Eunbyul-ah. Aku bisa membedakan mana kekasihku dan mana teman kecilku.”

Eunbyul mendengus kesal lalu meninggalkan Yi-an. Tak menyerah lelaki itu mengejar gadis itu. “Jika kau mencari Eunbi, dia sedang tidak ada dirumah.”

“Aku tahu. Dia sedang berada di toko Go ahjuma. Tapi aku kesini ingin menemuimu.”

Langkah Eunbyul terhenti dan menoleh. Segera Yi-an menarik leher Eunbyul seperti yang biasa mereka lakukan. Kesal, Eunbyul mendorong lelaki itu dan berdesis.

“Untuk apa mencariku?”

“Hanya ingin menikmati waktu bersama teman lama. Ayo.” Yi-an menarik Eunbyul pergi.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di rumah makan ramen. Yi-an segera memesan dua porsi untuk dirinya dan Eunbyul.

“Kudengar dari Eunbi, kau sedang mencari universitas. Apa kau sudah menemukannya?”

Eunbyul menggeleng dan mengatakan jika dirinya masih bingung memilih jurusan yang dia inginkan. Yi-an menawarkan Teknologi atau periklanan karena dia tahu Eunbyul sangat suka hal yang berbau teknologi dan design. Namun Eunbyul menghela nafas dan mengatakan akan memikirkannya.

Dua mangkuk ramen datang dan keduanya segera menyantap ramen yang sangat lezat itu. Tanpa Yi-an sadari Eunbyul terus menatapnya dan tak teralihkan sedikit pun. Namun hanya gadis itu yang tahu apa yang dirasakannya saat ini.

^

^

Helaan nafas terdengar setelah akhirnya Eunbyul selesai mendaftar di salah satu universitas yang dipilihnya. Kepalanya bergerak melihat Eunbi yang sudah terlelap bersama boneka teddy bear pemberian Yi-an dalam pelukannya.

“Berbahagialah Eunbi-ah, karena itu eonnie akan mengubur dalam-dalam perasaan ini.” Eunbyul menatap wajah adiknya yang tak bereaksi. Tatapannya kembali beralih pada layar komputernya yang terlihat logo Universitas Chung-Ang. Eunbyul bertekad pada dirinya sendiri untuk fokus pada pendidikan dan melupakan perasaannya itu.

^

^

Dengan hasil test yang tinggi, mudah bagi Eunbyul di terima di Universitas favorit itu. Eunbyul melangkah dengan percaya diri menuju ruang kelasnya di jurusan periklanan. Dia mengamati kampus barunya yang besar dan luas itu. Sampai di kelasnya dia duduk di salah satu bangku di bagian tengah dan mengamati sekitarnya. Banyak sekali mahasiswa yang tak dikenalinya.

Tiba-tiba saja sebuah jitakan mendarat di puncak kepala Eunbyul. Dia menoleh dan terkejut mendapati Taekwang sudah berdiri di hadapannya. Tidak terima dengan jitakam yang dilontarkan Taekwang, Eunbyul membalasnya membuat Taekwang meringis kesakitan.

“Aaiishhh… Kau memang berbeda sekali dengan Eunbi. Tidak bisakah kau meniru sifat lembut adikmu itu.” Gerutu Taekwang.

“Bersikap lembut padamu akan membuahkan hasil yang buruk jadi aku tidak akan melakukannya. Lagipula apa yang kau lakukan di sini HUH?”

Dengan wajah polosnya Taekwang mengatakan jika ini adalah  kelas barunya. Eunbyul terlihat tidak percaya dengan ucapan lelaki itu. “Mana mungkin orang gila sepertimu bisa masuk ke kelas ini eoh?”

Taekwang mengambil kertas dari dalam tasnya dan tersenyum lebar menunjukkan hasil test masuknya yang mendapatkan nilai 80. Eunbyul masih tidak percaya dan langsung merebut kertas itu dan meneliti hasilnya. Mau tak mau gadis itu harus mengakui memang ujian itu benar.

“Apa kau sedang kerasukan atau kau habis tersambar petir? Bagaimana bisa seorang Gong Taekwang yang hanya tidur di kelas bisa mendapatkan nilai 80? Apa kau mencontek?”

Taekwang merebut kembali kertas miliknya lalu duduk di samping Eunbyul. “Aku sedang tidak kerasukan, tidak tersambar  petir dan tidak mencontek. Ini adalah nilai murni yang kudapatkan dengan hasil kerja kerasku. Aku berpikir sudah saatnya aku memikirkan masa depanku.”

“Memikirkan masa depanmu atau kau ingin mengubur dalam-dalam perasaanmu pada adikku dengan menyibukkan dirimu belajar?”

“Dua-duanya. Bagaimana dengan dirimu? Apa kau tidak merasa terluka karena teman kecilmu lebih memilih Eunbi?”

Eunbyul terdiam sejenak karena jawaban atas pertanyaan Taekwang adalah iya. Tapi gadis itu tak akan menunjukkan perasaan sedihnya pada Taekwang.

“Tidak. Aku justru senang karena Eunbi bisa bahagia.”

Taekwang mendekati Eunbyul dan menatapnya curiga. “Benarkah? Tapi aku bisa melihat dari matamu kau tidak bahagia.”

Jitakan kembali dilayangkan Eunbyul di kepala Taekwang dan menyuruhnya pergi. Namun dengan santainya Taekwang menggeleng dan mengatakan akan tetap duduk disana karena hanya Eunbyul yang dikenalnya.

^

^

Kuliah sudah berjalan seminggu dan Eunbyul terus disibukkan dengan tugas-tugas kuliahnya membuatnya sedikit melupakan perasaan terlukanya. Namun gadis itu tidak bisa tenang saat belajar karena Taekwang terus saja mengganggunya dengan berbagai pertanyaan perihal pelajaran mereka. Bahkan setelah pelajaran selesai, Taekwang terus saja membuntutinya membuat gadis itu geram.

Seperti halnya saat ini, Taekwang terus mengikutinya berjalan menuju halte bus. Langkah Eunbyul terhenti dan lelaki itu juga berhenti dan menatap gadis itu dengan wajah polosnya. “Kenapa kau terus mengikutiku?”

“Karena aku ingin mengikutimu.” Jawaban Taekwang membuat gadis itu semakin kesal.

“Apa karena  wajahku mirip dengan Eunbi jadi kau membayangkan sedang bersama adikku?”

Taekwang menggelengkan kepalanya. “Bukankah sudah kukatakan jika kau berbeda dengan Eunbi jadi mana mungkin aku menyamakanmu dengannya?”

Eunbyul terdiam membuat Tarkwang bingung dengan sikap diam gadis itu. “Apakah hanya Yi-an saja yang boleh berteman denganmu?” Kepala Eunbyul mendongak dan terlihat tak mengerti dengan ucapan lelaki dihadapannya. Taekwang mengulurkan tangannya seraya menyunggingkan senyum lebarnya. “Jika diperbolehkan aku ingin berteman denganmu.”

Mata Eunbyul menatap tangan Taekwang lalu beralih ke wajah sang pemilik tangan itu. “Tapi aku tidak mau berteman denganmu.” Dengan cuek Eunbyul berjalan meninggalkan Taekwang.

“YA!!! Mengapa kau tidak mau berteman denganku? Mengapa hanya Yi-an saja yang boleh berteman denganmu? Memang apa….” Ucapan Taekwang terhenti karena Eunbyul membekap mulutnya. Kepala gadis itu terasa pusing karena mendengar ocehan Taekwang yang tak kunjung berhenti.

Telapak tangannya merasakan bibir Taekwang yang menempel. Segera gadis itu menarik tangannya dan bertanya apa yang dilakukannya. Dengan santai Taekwang menjawab mencium telapak tangan Eunbyul. Segera sebuah tendangan mengenai kaki kanan Taekwang membuat lelaki itu kembali meringis kesakitan. Bus yang ditunggu datang dan Eunbyul segera naik ke dalam bus meninggalkan Taekwang yang sengaja tidak naik. Dia melihat Eunbyul memasang earphone di kedua telinganya dan asyik mendengarkan lagu tanpa memperdulikan Taekwang yang berdiri tak henti memandangnya hingga bus itu melaju.

“Bagaimana bisa Yi-an tahan dengan gadis kasar seperti itu?” Heran Taekwang.

^

^

Eonnie.” Eunbyul menoleh mendengar panggilan Eunbi yang langsung masuk ke dalam kamar. Eunbyul menatap Eunbi dan bertanya ada apa.

“Taekwang bilang dia satu jurusan dengan eonnie, benarkah?” Eunbyul mengangguk menjawab pertanyaan Eunbi. “Mengapa eonnie tidak cerita padaku?”

“Untuk apa bercerita namja gila itu? Bahkan aku sudah sangat pusing mendengar ocehannya.” Eunbi tertawa melihat ekspresi Eunbyul yang tidak menyukai Taekwang.

“Jangan membencinya eonnie. Sebenarnya Taekwang adalah lelaki yang baik. Hanya saja dia menutupinya dengan sikap gilanya itu.”

“Aiggoo… Eunbi-ah, apa kau sedang sakit bagaimana bisa kau memuji Taekwang? Bagaimana nanti jika Yi-an mendengarnya”

“Aku tidak sakit eonnie. Taekwang memang sangat baik. Selama ini dia juga selalu melindungiku dan menyemangatiku. Dia bahkan pernah mengikutiku hingga ke Panti Asuhan Love House dan memintaku kembali ke Seoul. Sayangnya aku hanya menganggapnya sebagai teman. Aku hanya ingin eonnie jangan bersikap jahat padanya. Selama ini Taekwang tak pernah memiliki seorang teman karena itu kuharap eonnie mau menjadi temannya. Aku hanya ingin mengatakan itu. Eonnie lanjutkan saja belajarnya.”

Setelah Eunbi keluar, Eunbyul kembali mengerjakan tugasnya yang membahas tentang pengetahuan periklanan. Namun otaknya berhenti bekerja karena teringat pembicaraannya dengan Taekwang sore tadi. Gadis itu ingat ucapan Taekwang yang memintanya untuk menjadi temannya. Eunbyul ingat saat masih SMA Taekwang sama sekali tak memiliki seorang teman kecuali Eunbi. Helaan nafas terdengar diikuti gelengan kepala gadis itu. Dia segera kembali fokus pada tugasnya dan melupakan Taekwang.

^

^

Eunbyul sedang berjalan menuju kelasnya saat mendengar gadis-gadis menggosipkan Taekwang. Bukan gosip yang baik karena dia mendengar teman-teman satu jurusannya itu membicarakan tentang ayah Taekwang yang pernah dipenjara. Dan yang membuat Eunbyul semakin kesal, mereka mengatakan tidak mau dekat-dekat dengan orang yang dibicarakannya. Gadis itu menghampiri tiga gadis yang dikenalnya Junghwa, Seolhyun dan Hani.

“Apa kalian di sini hanya untuk bergosip? Jika ya bukankah kalian lebih cocok untuk menjadi pembawa acara gosip? Sayang sekali tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk kalian lebih baik kalian pikirkan kembali jurusan yang kalian ambil.”

Ketiga gadis itu terlihat ketakutan melihat tatapan tajam Eunbyul. Tak perduli, Eunbyul berbalik berjalan menuju keladnya dengan santai seakan tak terjadi apapun. Di kelas Eunbyul melihat Taekwang duduk di bangku paling belakang dengan posisi tiduran. Kaki Eunbyul melangkah menghampiri kursi kosong di samping Taekwang. Tepat saat Eunbyul duduk sang dosen Kim juga masuk. Hadiah jitakan di pagi hari sukses di dapatkan oleh Taekwang.

Mendapati Eunbyul di sampingnya, Taekwang tersenyum lebar dan membalas jitakan Eunbyul. Tak mau kalah Eunbyul kembali menjitak kepala Taekwang lebih keras membuat lelaki itu tak ingin membalasnya kembali.

“Akhirnya kau datang juga. Sejak tadi aku sangat kesepian.” Gerutu Taekwang.

“Jangan dengar gosip mereka. Orang-orang itu tidak tahu apa-apa dan langsung mencapmu jelek. Abaikan saja mereka.”

Tak ada reaksi dari Taekwang mendengar ucapan Eunbyul. Kepala gadis itu menoleh dan melihat bibir Taekwang melengkung lebar membuatnya terlihat bodoh. Eunbyul bertanya mengapa Taekwang menatapnya seperti itu namun lelaki itu tak menjawabnya. Tangan Eunbyul mengetuk dahi Taekwang seakan itu adalah pintu.

“Akhirnya kau mau berteman denganku.” Ucap Taekwang keras-keras dan lupa jika kelas sudah dimulai. Seketika kepalanya di hantam spidol oleh dosen yang marah karena sikap lelaki itu. Dosen Kim menyuruh Taekwang keluar dari kelas. Mau tak mau lelaki itu mengambil tasnya dan keluar dari kelasnya. Eunbyul hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Taekwang.

^

^

“Jadi kau mau berteman denganku?” Tanya Taekwang untuk kesekian kalinya sejak keluar dari kampus.

Lagi-lagi Eunbyul menghela nafas menghadapi tingkah Taekwang. “Aku tidak mengatakan ingin menjadi temanmu. Jadi berhentilah bertanya.”

“Tapi tadi kau mengkhawatirkanku, jadi pasti kau ingin berteman dengan namja tampan sepertiku.”

“Ccihh… Aku tidak merasa kau tampan. Kau justru terlihat jelek seperti tikus.”

Taekwang meraba wajahnya takut jika ucapan Eunbyul benar. Langkah keduanya terhenti saat mendengar panggilan yang menyebutkan nama Eunbyul. Mereka berdua melihat Yi-an tersenyum pada Eunbyul dan menghampirinya. Gadis itu bertanya apa yang Yi-an lakukan di sini.

“Aku sedang bertanding di dekat sini jadi aku memutuskan untuk melihat kampus barumu. Tapi apa yang dilakukan orang gila ini di sini?” Taekwanglah yang ditanyakan oleh Yi-an.

“Kami satu jurusan.” Ucap Taekwang dengan bangga.

“Benarkah. Tapi bukankah Universitas Chung-Ang adalah universitas favorit. Bagaimana bisa siswa dengan nilai yang jelek bisa masuk ke sini. Apa kau mencontek?” Tanya Yi-an tak percaya sama seperti Eunbyul dulu.

“Tentu saja tidak. Apa kalian tidak percaya jika aku masuk ke sini dengan usahaku sendiri?”

Eunbyul dan Yi-an menjawab tidak secara bersamaan membuat Taekwang kesal. “Terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang jelas aku tidak melakukan hal yang curang untuk masuk ke Universitas ini.”

“Ohh..  bukankah kau pemuda teman Yi-an dulu. Ada Eunbyul juga?” Tiba-tiba ayah Yi-an menghampiri mereka.

Eunbyul dan Taekwang membungkuk memberi salam pada ayah Yi-an. “Kebetulan sekali kami ingin makan siang. Kalian ikut juga ne? Kita makan bersama-sama.”

Sebelum Eunbyul menolak, ayah Yi-an sudah menariknya pergi. Sedangkan Yi-an menatap Taekwang dan bertanya padanya ikut atau tidak. Akhirnya Taekwang memutuskan ikut dan berjalan bersama Yi-an di belakang Eunbyul dan ayah Yi-an.

^

^

Setelah makan siang bersama Yi-an dan ayahnya, Taekwang bersikeras mengantar Eunbyul padahal gadis itu sudah mengatakan akan pulang sendirian tapi Taekwang tetap ingin mengantarnya. Hari sudah mulai gelap saat mereka menyusuri jalan menuju rumah Eunbyul. Tak ada pembicaraan yang mengiringi mereka membuat suasana menjadi hening.

Langkah mereka terhenti bersamaan saat sampai di depan rumah Eunbyul. Gadis itu menawarkan Taekwang untuk masuk agar bisa menemui Eunbi namun lelaki itu menggelengkan kepalanya membuat Eunbyul bingung.

“Aku sedang belajar melupakan Eunbi jadi aku tidak ingin menemuinya.”

“Bagaimana bisa kau belajar melupakan Eunbi sedangkan sekarang kau terus menempel padaku. Apa wajahmku tidak mengingatkanmu pada Eunbi?”

“Tidak. Sudah kukatakan kau berbeda dengan Eunbi jadi tidak masalah untukku dekat denganmu. Masuklah aku akan pulang. Bye.” Taekwang melambaikan tangan lalu berjalan meninggalkan Eunbyul yang masih diam di tempatnya.

Eunbyul mengamati Taekwang yang berjalan menjauh darinya. Senyum gadis itu melengkung saat melihat Taekwang bersikap aneh dengan meloncat-loncat tak jelas. Hingga akhirnya lelaki itu berbelok dan Eunbyul memutuskan masuk ke dalam rumah. Gadis itu terlonjak kaget saat mendapati Eunbi sudah berdiri di sampingnya. Tangan Eunbyul mengelus dadanya yang terkejut.

“Maafkan aku eonnie. Aku tak bermaksud mengagetkanmu. Apa yang eonnie lihat sampai tak sadar aku sudah di sini.”

“Bukan apa-apa.” Eunbyul segera masuk dan diikuti Eunbi yang terus bertanya karena penasaran. Namun tetap saja Eunbyul tidak memberitahukan apapun pada sudara kembarnya itu.

Setelah mandi Eunbyul segera kekamarnya untuk belajar. Komputer dihidupkan dan gadis itu langsung terhanyut dalam tugasnya membuat  iklan poster komersial yang menawarkan produk pakaian. Saat sedang mendesign gambar itu, ponsel Eunbyul bergetar. Gadis itu meraih ponsel berwarna putih itu dan membuka pesan yang di dapatkannya.

From : Taekwang

Apa kau sudah tidur gadis kasar?

Eunbyul tak memperdulikan pesan itu dan kembali fokus pada tugasnya. Namun hanya beberapa menit ketenangan itu bertahan sebelum ponselnya kembali bergetar.

From : Taekwang

Aku tahu kau sudah membaca pesanku. Jika kau tidak membalas pesanku, aku akan menggunakan senjata rahasiaku.

Lagi-lagi Eunbyul tak memperdulikannya. Dia bahkan membalikkan ponselnya dan kembali mengerjakan design iklannya. Dengusan kesal terdengar dari Eunbyul ketika ponselnya kembali bergetar. Akhirnya gadis itu membuka ponselnya dan terkejut melihat fotonya yang tertidur dalam bus. Tentu saja yang mengambil foto itu tak lain tak buka  adalah Taekwang.

To : Taekwang

YA! Orang gila, segera hapus foto itu atau kau akan menyesal.

Pesan terakhir dari Taekwang membuat konsentrasi Eunbyul buyar. Tak ada niatan gadis itu untuk melanjutkan tugasnya kembali. Dia kembali melihat fotonya yang dikirim Taekwang. Tidak ada yang salah dengan foto itu. Kepala Eunbyul bersandar di kaca dengan mata tertutup dan earphone di telinganya. Tapi tetap saja Eunbyul tidak suka jika ada yang diam-diam mengambil foto dirinya bahkan Yi-an sekalipun.

From :Taekwang

Shirreo.

Eunbyul semakin geram mendengar balasan dari Taekwang. Akhirnya Eunbyul menuliskan balasan yang berisi akan membalas Taekwang besok.

^

^

Sesampainya di kelas keesokan harinya, Eunbyul menghampiri Taekwang dan mengulurkan telapak tangannya. Taekwang berpura-pura tidak tahu dan bertanya apa artinya tangan Eunbyul.

“Berikan ponselmu.” Perintah Eunbyul namun Taekwang menggelengkan kepalanya.

Lelaki itu justru mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atiknya seakan menggoda Eunbyul. Mata gadis itu berputar malas dan berusaha meraih ponsel itu namun Taekwang menghindar dan seakan asyik dengan permainan di ponselnya. Eunbyul terus berusaha mengambil ponsel itu namun tetap saja gagal. Akhirnya Eunbyul menarik satu tangan Taekwang dan memutarnya. Seketika Taekwang mengaduh kesakitan dan tak berkutik sehingga dengan mudah Eunbyul mengambil ponsel itu.

Eunbyul segera membuka galeri ponsel itu dan tak memperdulikan Taekwang yang berisik meminta ponselnya kembali. Namun saat melihat dalam galeri tubuh Eunbyul mematung. Karena dalam galeri itu ada beberapa foto dirinya yang diambil tanpa sepengetahuannya. Hingga akhirnya Taekwang mengambil ponselnya kembali dan tak berbicara apapun. Lelaki itu kembali duduk dan juga Eunbyul karena dosen sudah datang.

Selama pelajaran Eunbyul tak lagi mendapati pertanyaan Taekwang yang bertubi-tubi. Lelaki itu cenderung diam dan tak menjelaskan apa maksud foto-foto dirinya dalam ponselnya. Eunbyul berpikir jika Taekwang masih memiliki perasaan pada adiknya karena itu Taekwang mengambil fotonya untuk mengingat Eunbi.

Tapi ada perasaan aneh di hati Eunbyul. Dia tidak suka mendapati Taekwang masih mengingat Eunbi. Tapi Eunbyul mengacuhkannya dan mulai fokus pada pelajaran yang diajarkan Dosen Han.

^

^

Eunbyul berpikir akan pulang sendirian setelah kejadian tadi. Namun ternyata Taekwang masih saja mengikutinya. Mata gadis itu melirik ke arah Taekwang yang berjalan dengan memasukkan kedua tangannya disaku dengan mata lurus ke depan.

“Jika kamu masih menyukai Eunbi mengapa kau menyerah?”

“Aku tidak lagi menyukainya.”

Langkah Eunbyul terhenti dan menatap lelaki yang masih berjalan. Menyadari Eunbyul tak lagi menyejajari langkahnya Taekwang juga berhenti dan berbalik.

“Jadi rasa sukamu pada Eunbi hanyalah rasa sambil lalu?” Tanya Eunbyul kesal.

Kaki Taekwang berjalan menghampirinya lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku memang benar-benar menyukai Eunbi. Tapi aku tidak ingin mementingkan diriku sendiri. Aku hanya ingin Eunbi bahagia. Sayangnya orang yang bisa membahagiakan Eunbi hanya Yi-an. Karena itu aku menyimpan perasaan itu di dalam lubuk hatiku dan menguncinya lalu membuang kunci itu agar aku tak bisa menemukannya. Karena itu aku bisa mengatakan aku tak lagi menyukainya dan ingin membuka hati yang baru.” Taekwang mengatakan itu dengan senyuman lebar sehingga tak menunjukkan kesedihan yang terlihat.

Eunbyul yang masih tidak percaya betapa dalamnya perasaan Taekwang pada Eunbi terus menatap lelaki yang masi menunjukkan senyuman bodohnya.

“Lalu mengapa kau terus memgambil fotoku? Aku berpikir kau masih mengingat Eunbi jadi menganggap aku adalah Eunbi.”

Jari telunjuk Taekwang mengenai dahi Eunbyul membuat kepala gadis itu terdorong kebelakang. “Dasar pikun bukankah aku sudah bilang kau berbeda dengan Eunbi.”

“Kau mengataiku apa?” Melihat wajah Eunbyul yang menyeramkan karena marah. Sang sumber kemarahan hanya meringis tanpa dosa dan segera berlari. Eunbyul mengejar Taekwang untuk membalas lelaki itu.

^

^

Sudah berangkat pagi dan kuliah kosong alhasil disinilah Eunbyul harus berada di sebuah taman bersama Taekwang yang sudah menariknya kemari. Eunbyul meminum cappucino yang dibelikan oleh Taekwang seraya melihat hijaunya rumput ditaman membuatnya merasa nyaman.

“Aku sudah mendengarnya.” Eunbyul menoleh dan merasa bingung dengan ucapan Taekwang. Lelaki yang duduk di sampingnya justru memberikan senyuman bodohnya. Eunbyul bertanya apa maksud ucapan kelaki itu.

“Kudengar dari tiga mahasiswa jika mereka takut padamu. Mereka mengatakan jika kau sangat menyeramkan saat membelaku dari gosip tentang abeoji.”

“Cciihh… Aku tidak membelamu. Aku memang tidak suka ada orang yang bergosip di tempat yang seharusnya digunakan untuk belajar.” Eunbyul kembali menikmati pemandangan di taman itu.

Taekwang mendekati Eunbyul dan mengamati wajah gadis itu membuat Eunbyul menjadi risih merasakan tatapan itu. Dia menyuruh Taekwang untuk berhenti menatapnya seperti itu namun bukanlah Gong Taekwang jika dia menuruti ucapan orang lain termasuk Eunbyul. Dia terus mengamati wajah Eunbyul laku kembali menunjukkan senyiman bodohnya.

“Kau memang tidak pintar berbohong sama seperti Eunbi.”

Sebenarnya Eunbyul tidak pernah membenci Eunbi. Tetapi saat ini gadis itu merasa kesal jika Taekwang menyamakan dengan Eunbi.

“Aku berbeda dengan Eunbi.” Eunbyul berkata lalu berdiri meninggalkan Taekwang kesal.

Belum lama melangkah dia mendapati Taekwang sudah berjalan mundur di hadapannya.

“Aku tahu kau memang berbeda dengan Eunbi. Sifatmu, kepintaranmu, cara bicaramu sangat berbeda dengan Eunbi. Karena itulah aku tertarik padamu.”

Langkah Eunbyul terhenti dan menatap wajah lelaki yang berubah serius di hadapannya. Gadis itu tak lagi menemukan wajah bodoh yang biasa Taekwang tunjukkan saat sedang bercanda. Wajahnya bahkan matanya menunjukkan keseriusannya.

“Perasaanku pada Eunbi tidak akan hilang tapi perasaan itu sudah terkunci rapat-rapat dalam lubuk hatiku. Dan aku sudah membuka lagi pintu lain untuk seseorang yang bisa mengisinya. Karena itu aku ingin kau adalah orangnya Eunbyul-ah.”

Tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan Eunbyul. Gadis itu bukannya tidak mau menerima perasaan Taekwang yang masih baru baginya tapi gadis itu bingung bagaimana harus bersikap setelah mendengar ucapan Taekwang.

Satu langkah kaki Taekwang maju menghampiri Eunbyul. Dan tinggal menghitung beberapa detik saja tubuh Eunbyul sudah berada dalam pelukan Taekwang.

“Maafkan aku mengejutkanmu. Tidak masalah jika kau ingin menolaknya. Tapi jika hatimu berkata lain, dengan senang hati aku akan mempersilahkanmu masuk ke dalam pintu yang sudah kusediakan.”

Eunbyul masih juga tak bersuara membuat Taekwang menebak-nebak apa yang akan dipilih gadis kasar itu.

“Jika kau tidak mau menjawabnya aku akan memberimu dua pilihan. Pertama kau menolakku dan pergi meninggalkanku atau kedua kau membalas pelukanku dan menerima perasaanku.”

Jantung Taekwang berdebar-debar menunggu jawaban yang akan diberikan Eunbyul. Kedua tangan Eunbyul terangkat dan mendorong tubuh Taekwang. Gadis itu tak berbalik untuk meninggalkan Taekwang namun masih berdiri menatap lelaki itu.

“Aku akan mencobanya.”

Mulut Taekwang terbuka tak percaya mendengar ucapan Eunbyul. “Jadi kau menerima perasaanku?”

Kepala Eunbyul mengangguk tipis dan segera Taekwang membeluk gadis itu mengangkatnya dan memutar-mutar tubuh mereka. Taekwang begitu senang mendengar penerimaan Eunbyul. Lelaki itu awalnya tidak yakin Eunbyul sang gadis kasar itu mau menerimanya.

Setelah berhenti berputar Taekwang melepaskan Eunbyul yang merasa pusing. Segera sebuah jitakan menjadi hadiah pertama bagi pasangan baru itu.

“Jika kau melakukan itu lagi, aku jamin sepuluh jitakan pasti akan mendarat di kepalamu.” Kesal Eunbyul.

Taekwang bersiap dan mengangkat tangan memberi hormat layaknya tentara. Eunbyul hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Merekapun berjalan-jalan ditaman itu dengan bergandengan tangan.

Cinta tidak bisa diterka karena cinta datang diam-diam menyelip di dalam hati. Tetapi ketika cinta kedua sejoli sudah bersatu, tak akan ada yang mengalahkan kebahagiaannya. Karena itulah Eunbyul dan Taekwang me-reset perasaan mereka dan menyatukan hati mereka.

~~THE END~~

Advertisements

30 thoughts on “[Song of The Week] RESET

  1. FIXXX AKU NGESHIP TAEKWANG EUNBYUL FIXX!!
    LUCU BGT AKH MEREKA KAYA SAMA2 CUEK GT HWHWH:3
    Btw, salam kenal ya kakk… Kita blm sempet kenalan ehehe^^

    Salam,
    Dhira.

  2. Ka chiiiissmaaaa~~~ maafkan daku baru sempet mampir dimariiii~~~!!!

    AAAAHHHH~~ TENGILNYA SUNGJAE DI SINI AMPUN DEH GA NAAHAAANNN!! (/.\)
    Tapi so sweet ih merekaaaaa…. :’)
    eunbyul ga bisa lembut dikit apa ama cowok seganteng ini. wkwkwkw

    Aku sukaaa ka, ceritanyaa XD maniiiss khas school life banget. hehe

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s