[Song of The Week] After Blood


afterblood

After Blood

dari KBS2 ‘Blood

.

Songwriter: naya손 | Artists: Ahn Jaehyun as Park Jisang, Goo Hyesun as Yoo Rita, dan another ‘Blood’’s character | Genre: Fantasy, Hurt/Comfort | Length: Ficlet | Rating: General

Disclaimer: Kepemilikanku sebagai penulis hanya di alur cerita. Thanks for not steal.

.

naya손’s plot

.

Kochenia.

Sepasang muda-mudi itu tampak bahagia. Senyum lebar merekah di bibir kedunya, berjalan beriringan seakan langkah mereka seringan kapas. Angin musim gugur menerpa pelan, menerbangkan helaian surai hitam keduanya.

Mereka berhenti setelah melewati sebuah air mancur tua di tengah taman kota tersebut. Nama gadis itu Rita, dan ia memandang heran Jisang yang sebetulnya mendadak berhenti. Senyum kecil terulas dan sinar mata Jisang berubah hangat seketika.

“Ada apa?” tanya Rita penasaran.

“Younghee,” jawab Jisang tanpa menghilangkan senyumnya.

“Younghee?” Rita mengikuti arah pandang Jisang. Di hadapan mereka, sedang duduk seorang anak perempuan bersama pria dewasa seumuran Rita. Kedua individu itu memunggi mereka, sehingga belum menyadari kehadiran pasangan itu.

Jisang berseru, memanggil nama pria tersebut. Pria berbadan gempal itu menoleh, dan senyum cerah langsung menghiasi wajah tembamnya.

“Park Jisang!”

Seperti kawan lama yang sudah lama terpisahkan (dan kasusnya memang demikian), pria itu menghambur ke arah Jisang dan memeluknya. Mereka saling menepuk-nepuk bahu, menanyakan kabar dan mengutarakan rasa rindu masing-masing.

“Kurasa kau bertambah tampan, Dokter Park,” ujar Hyunsik sambil tertawa.

“Dan kau terlihat lebih bahagia setelah berhenti menjadi dokter relawan,” Jisang ikut tertawa.

Seakan paham tujuan Jisang dan Rita datang, Hyunsik mengajak keduanya mendatangi gadis kecil tersebut. Younghee. Warga asli Kochenia–korban perang yang beberapa tahun lalu berhasil Jisang selamatkan.

“Apa kabar, Younghee-ah?” Jisang mengusap puncak kepala gadis itu yang ditudungi beanie merah jambu. “Hyunsik merawatmu dengan baik kan?”

Younghee mengangguk sambil tersenyum, dia juga senang bisa bertemu kembali dengan penyelamat hidupnya. Kemudian mata biru gadis kecil itu ganti menatap Rita, menanyakan siapa dia pada Jisang.

“Ooh, kenalkan. Dia Yoo Rita …”

“Pacarmu?”

Jisang menggeleng mantap. “Calon istriku.”

Rita mendelik, menyikut area tulang rusuk Jisang sehingga pria itu merintih kesakitan. “Tak seharusnya kau mengatakan itu di depan anak kecil …” bisiknya.

“Tidak masalah kan, Younghee?” tanya Jisang, masih belum memaafkan perlakuan Rita. Younghee hanya tertawa.

“Apa kau ada waktu luang, Younghee? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

Tawaran itu membuat Younghee menjadi bersemangat. Selama ini hampir seluruh harinya ia habiskan di dalam rumah karena kondisi tubuhnya yang lemah. Pikir gadis itu, jika ia berjalan-jalan bersama seorang dokter, maka ia akan baik-baik saja.

Maka mereka berempat–termasuk Hyunsik–mulai cuci mata dan pikiran, mendatangi berbagai tempat di Kochenia. Selain Younghee, Rita juga menikmatinya karena ini kali pertama ia menumpu kaki di atas tanah yang rawan perang tersebut.

***

“Kau mau membawa Younghee ke Seoul?”

“Hanya untuk beberapa hari,” Jisang menepis risau di ekspresi wajah Hyunsik. “Kau ‘kan juga bisa ikut.”

“Maksudku … kau tahu sendiri jika kondisinya lemah. Aku takut ia sulit menyesuaikan diri dengan atmosfer Seoul,” Hyunsik memaparkan rasa khawatirnya.

“Tenang saja. Kau bisa percaya padaku dan Rita,” Jisang menatap Rita yang tengah membacakan cerita untuk Younghee di sudut ruangan. Younghee mendengarkan dengan antusias di atas pangkuan gadis itu.

“Sejak pertama kali kita bertemu aku memang sudah percaya padamu, Dokter Park,” Hyunsik bersandar pada kursinya. “Walaupun sempat khwatir saat kau keras kepala mengoperasi Younghee di tengah medan perang. Untung saja kau … uhm, berbeda.”

Jisang tersenyum. Untuk yang kesekian kalinya, ia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Saat itu dia dan Rita tenggah singgah di kediaman Hyunsik dan Younghee. Sebuah rumah berukuran sedang yang hangat dan menyenangkan. Yah, memang dia sih yang dulu merekomendasikan rumah ini. Tapi ia tak menyangka Hyunsik dapat merawatnya dengan baik.

“Kau ada rencana untuk ke sana?” tanya Hyunsik.

“Ke mana?”

“Bekas pekuburan dan reruntuhan itu. Dulu kau setengah mati ingin pergi ke sana, merupakan salah satu alasanmu kenapa menjadi relawan dokter tentara.”

“Sepertinya setengah-mati-ingin-ke-sana tersebut menular pada Rita, Hyun. Ia penasaran dengan tempat mengabdiku dulu.”

“Wah wah, kalian benar-benar pasangan yang keras kepala. Aku jadi ingin tahu bagaimana kalian menghadapi satu sama lain jika penyakit itu muncul bersamaan.”

Mereka berdua tertawa lepas. Hyunsik meraih cangkir tehnya, lalu menyesap isinya yang tinggal setengah. Ia melirik Jisang sekilas. “Maaf, Jisang-ah. Kau datang tiba-tiba, jadi aku tidak sempat mempersiapkan jamuan yang ‘pantas’ untukmu.”

***

Seoul.

Younghee kecil tak berhenti tersenyum sejak pesawat yang mereka tunggangi mendarat di Bandara Internasional Gimpo. Langkah kakinya melonjak-lonjak, dan ia menghampiri apa saja yang baru pertama kali ia temui. Seluruh penjuru Seoul seakan seperti tempat bermain untuknya.

Olympic Park, Lotte World, Menara Namsan, dan tujuan terakhir mereka di hari ketiga Younghee ‘berlibur’ di Seoul adalah Myeongdong. Mereka bertiga–tanpa Hyunsik, yang sedang reuni dengan keluarganya–menutup trip dengan menyaksikan Teater Nanta. Yah, walaupun Younghee tak mengerti bahasanya tapi ia tetap menikmati pementasan.

“Setelah ini kita ke mana?”

Pertanyaan Younghee dijawab dengan Rita yang memasuki sebuah butik bergaya vintage. Ia langsung disambut oleh pegawai yang mengenalnya, dan mereka mulai mengobrol banyak, terutama ketika sepasang sandang pernikahan yang telah ia dan Jisang pesan dikeluarkan.

“Cantik sekali,” komentar Younghee, mengelus lembut jahitan rapi gaun tersebut. “Aku juga ingin memakainya.”

Rita jongkok di sisi Younghee, tersenyum. “Gaun ini terlalu besar untuk Younghee. Kau akan kesulitan memakainya.”

“Tapi aku juga ingin cantik sepertimu …”

“Jangan khawatir. Aku juga telah memesankan gaun yang sama cantiknya untukmu, dengan ukuran yang lebih sesuai,” Rita lalu memberi isyarat kepada pegawai tersebut untuk mengeluarkan sesuatu.

Beberapa saat kemudian, pegawai itu muncul dengan mendorong sebuah manekin seukuran anak-anak. Manekin itu mengenakan sebuah gaun putih selutut yang membuat Younghee melongo melihatnya.

“I … ini untukku?” tanyanya tak percaya.

Rita mengangguk. “Ayo coba.”

Younghee begitu bersemangat. Dengan bantuan Rita, ia mengenakan gaun itu, yang pas di tubuh kecilnya. Layaknya model cilik, ia mondar-mandir di ruangan butik. Rita juga memberinya sepasang kaus kaki berenda dan sepatu yang cantik.

“Seleramu untuk anak-anak bagus juga,” kata Jisang, memerhatikan Younghee.

“Yah … hitung-hitung untuk melatihku juga ketika kelak aku punya anak sendiri,” ucap Rita.

Tepat saat itu Younghee menghampiri keduanya. Mulutnya tak bisa berhenti memuji betapa cantiknya gaun itu dan ia ingin memakainya terus-menerus.

“Nanti Younghee akan menjadi pengiring pengantin,” kata Rita. Mereka sudah keluar dari butik tersebut dan singgah di sebuah tempat makan. Jisang yang memesan sehingga tidak ikut dalam obrolan mereka.

“Apa itu pengiring pengantin?” tanya Younghee.

“Apa kau pernah melihat pengantin sebelumnya?”

“Seperti di sana?” Younghee menunjuk keluar jendela, sebuah papan iklan sepasang insan dalam balutan tuxedo dan gaun.

Rita mengangguk. “Kau nanti akan berjalan di depanku, membawakan bunga ketik berjalan di atas altar.”

“Apa aku akan terlihat cantik sepertimu?”

“Tentu saja, bahkan lebih cantik,” Rita tertawa. “Tunggu saja sampai minggu depan, oke?”

“Apa aku akan kembali ke Kochenia setelah itu?”

“Tentu. Kau merindukan kampung halamanmu ‘kan?”

“Tapi aku suka di sini,” Younghee mengerucutkan bibir. “Ada kalian yang mau mengajakku berjalan-jalan. Di sini juga banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Kochenia membosankan.”

Rita mengusap lembut puncak kepala Younghee. “Kami memang meluangkan waktu untukmu. Namun setelah pernikahan nanti, kami juga akan kembali sibuk bekerja. Younghee juga harus sekolah ‘kan? Apa cita-cita Younghee?”

“Aku ingin menikahi orang seperti Dokter Park,” Younghee menjawab seakan-akan ia memang disetel untuk mengatakan hal itu. “Dan menjadi bahagia.”

“Aku yakin itu pasti terjadi,” ucap Rita lembut. “Orang seperti Jisang memang pantas untuk dicintai …”

Lalu semuanya pecah.

Pengharapan itu … sirna dalam satu jentikan jari.         

Hening, walau airmata memaksa mengalir.

Kembali ke realita.

“Orang seperti Jisang, memang pantas untuk dicintai …”

“Jangan menangis …” Younghee mengatakannya sambil sesenggukan. Ia berusaha memeluk Rita yang lebih besar darinya.

Tangan lebar Hyunsik menepuk bahu Rita pelan. Empati luar biasa mengalir dari sana, tapi itu belum cukup untuk menenangkan Rita, menenangkan semuanya.

“Aku juga merindukannya,” Younghee menatap lekat surat dari Jisang dalam kepalan tangannya. “Aku juga ingin melakukannya. Aku juga ingin melakukan itu semua, seandainya Dokter Park masih ada.”

“Jangan bersedih, Dokter Yoo. Kau jauh-jauh ke Kochenia bukan untuk menangis, ‘kan?” ucap Hyunsik prihatin.

Rita mengusap air matanya dengan punggung jari. Ia menghembuskan napas panjang. Pikirnya, ia begitu bodoh kenapa tiba-tiba menangis (lagi) kala mengenang sosok Park Jisang. Sosok yang tiba-tiba muncul di tengah hidupnya yang runyam, sosok yang justru ia ingin kenal lebih jauh saat jati dirinya yang asli terkuak.

Gadis itu balas memeluk Younghee, mengusap kepalanya dengan lembut. “Tidak apa-apa, Younghee. Ia sudah bahagia.”

“Dokter Park memberiku banyak hal. Yang paling istimewa adalah nama ini. Walaupun aneh, tapi aku lebih menyukainya daripada nama asliku sendiri. Kenapa dia pergi begitu cepat?” ucap Younghee.

“Aku juga ingin tahu, kenapa ia pergi dengan cepat,” Rita mencoba tersenyum.

“Jangan menangis lagi, ya,” kata Younghee. “Katamu tadi Dokter Park sudah bahagia. Ia akan ikut sedih kalau melihat kita juga sedih.”

Rita tersenyum getir. Benar, ia memang harus kuat. Ketika pertumpahan darah telah usai, tersisa air mata. Tersisa harapan kosong. Tapi harapan itu … masih bisa diisi, bukan?

.

.

Finish.

.

Ini absurd.

Oke, sebetulnya ide cerita tumbuh dari aku sama temen yang sama-sama protes sama ending-nya drama ‘Blood’. Well, kita sama-sama juwet dan engga puas sama ending-nya, dan pertanyaan “Itu kok Jisang muncul lagi?” belum pernah terjawab.

Dan aku suka sama tokoh Younghee, walaupun cuma muncul di episode satu dan terakhir dan dia engga banyak ngomong. Soal tokoh Hyunsik, aku engga tau nama perannya di drama itu, jadi aku kasih aja nama ‘Hyunsik’ xD

Anyway, makasih udah baca dan komentar {xoxo}

Advertisements

29 thoughts on “[Song of The Week] After Blood

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s