[Song of The Week] Arm Pillow


davichi arm pillow

 

ARM PILLOW

Another Story of ‘Arm Pillow’ MV by DAVICHI

Songwriter : HaruhiHaruhi’s Neverland | Artists: Lee Da Hee (Actress) & Son Ho Joon (Actor) | Genre: Romance, Hurt | Rating: PG-17 | Duration : Vignette

The plot is mine. Please don’t repost, republish and plagiarism!

The original story of MV is belongs to Davichi’s agency

© 2015 Haruhi – All Right Reserved

.

.

Karena terkadang, rasa nyaman hanyalah sebuah kamuflase dari duri yang menikam perlahan

.

.

*

 

Urusan pekerjaan adalah alasan yang membawaku menghabiskan waktu selama tiga bulan di Gapyeong. Maka ketika pekeraanku tuntas, aku harus kembali ke Seoul. Dan hari ini adalah hari terakhirku berada di kota ini.

 

DRRTT…. DRRTTT….

 

Suara getar ponsel sama sekali tak mengganggu fokusku dari kegiatan yang kugeluti sejak dua jam lalu: mengemas barang-barang. Ini masih pukul tujuh pagi. Waktu yang masih terbilang dini untuk mendapati lima panggilan berturut-turut –dan semuanya kuabaikan.

 

Kuhembuskan napas berat setelah kuakhiri tarikan resleting di bagian sudut koper. Pandanganku kini beralih pada deretan pigura di atas meja, tak jauh dari posisiku sekarang.

 

1 detik… 2 detik… hingga beberapa detik waktuku terpangkas hanya demi memandangi kenangan-kenangan beku itu. Lantas pandanganku buram, tersaput kilasan bening yang kian menebal. Rupanya, setengah menit sudah cukup bagiku untuk menyelami pedih yang terkubur rapi di balik foto-foto berlatar Pulau Nami itu.

 

*

 

Tiga bulan lalu….

 

Malam itu, aku sama sakali tak menyangka bahwa hujan deras akan menyambutku begitu keluar dari sebuah minimarket di pinggiran kota Gapyeong. Tubuhku menggigil sejenak, tak kuasa menahan dingin kala hembus angin menyapu kulit -juga membuatku tersadar bahwa pakaian yang kukenakan tak seberapa tebal.

 

Enggan menerobos hujan, kuputuskan untuk berdiri menantinya reda di bagian teras minimarket, sambil dengan bodohnya berandai jika saja ada seorang baik hati yang meminjamkan payungnya untuk kubawa pulang. Yah, pria berjaket hitam itu misalnya, ucap batiku seraya mencuri pandang pada seorang lelaki yang baru melintas keluar dari pintu. Dia membawa sebuah payung di tangannya, belanjaannya pun tak banyak: hanya sekantung kecil berisi dua botol kecap ukuran besar, Wajahnya tidak terlalu jelas terlihat –ia mengenakan topi hitam yang dilapisi tudung hoodie berwarna senada. Mendapatinya bergegas, segera kulempar arah tatapanku ke sisi sebaliknya, tak ingin ketahuan memandanginya.

 

Kupikir, orang-orang yang mampu membaca pikiran orang lain hanya terjadi di dalam film, rekayasa belaka. Setidaknya itu yang kuyakini sampai detik selanjutnya—

 

“Permisi nona.”

 

—Si jaket hitam itu benar-benar menghampiriku. Tangannya mengulurkan sebuah payung.

 

Sontak aku menoleh, memandangi payung dan wajahnya secara bergantian. Lantas ia mengulas senyum. Detik itu pula, jantungku berdebar kencang, debarnya bahkan terdengar oleh indera pendengaranku. Hangat lekas menjalari pipiku. Kali ini, pandanganku terkunci pada wajahnya, menatap senyumnya tanpa kedip –persis orang dungu.

 

Penampilannya biasa saja. Tidak mencolok layaknya bintang idola, pun tidak berjas rapi seperti pegawai kantoran yang kerap kutemui. Akan tetapi, aku merasa telah menemukan sesuatu yang membuatku ingin lebih jauh mengenalnya: kehangatan. Bagian itu tersimpan rapi di balik lengkungan sabitnya yang menyejukan. Kenyataan bahwa ia menawarkan payung meski ia sendiri membutuhkannya adalah satu bukti kelembutan hatinya.

 

Benar, kami memang baru saja bertemu. Namun aku yakin bahwa aku telah mendapati rasa nyaman di balik kesederhanaan sosoknya.

 

Selama beberapa detik, tubuhku hanya bergeming, seakan beku. Alih-alih berucap “Tidak, terima kasih.” aku membisu, lidahku kelu. Entah bagaimana menatap binar teduh itu bisa melumpuhkan syaraf-syaraf di otakku.

 

Kedua manik kelam itu menyipit, menyusul kemudian suara kekehan singkat. Seperti tersihir, aku begitu tertarik dengan cara senyumnya menjelma tawa. Lantas ia mengambil tanganku dan memaksaku menggenggam sesuatu yang diberikannya. Lagi, jantungku melonjak hebat. Detik itulah aku berhasil melepas perhatianku darinya, menatap sebuah payung berwarna hijau tua yang kini berada di tanganku.

 

Tak sempat kutanyakan nama, pun secuil ungkapan terima kasih. Karena ketika aku mendongak, ia sudah berlari jauh menantang hujan. Maka yang saat itu kuingat-ingat adalah logo yang tercetak di bagian punggung jaketnya. Sebuah nama restoran, tak jauh dari apartemenku.

 

Dua hari kemudian, aku berkunjung ke restoran itu. Benar saja, cengiran bahagiaku tak tertahan saat aku berhasil menemukannya dibalik sosok seorang pelayan yang berlalu dari meja ke meja. Dari pelayan lain yang kebetulan lewat, kuketahui namanya adalah Son Ho Joon.

 

Son Ho Joon….

Aku menyimpan nama itu baik-baik di sudut terdalam memoriku.

 

Seakan tak cukup, aku mencari-cari alasan demi dapat berinteraksi dengannya: mulai dari memesan ini-itu, menumpahkan minuman, sampai berpura-pura tidak membawa dompet. Dan hal itu tidak kulakukan sekali-dua kali. Melainkan berkali-kali, selama kunjunganku yang dapat dikatakan rutin –nyaris setiap hari.

 

Praktis, dalam waktu beberapa hari, para karyawan restoran mengenalku. Dan yang tak kusangka, rupanya mereka telah lama mengetahui tujuan utamaku: mendekati Ho Joon. Yah… kurasa hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat betapa terang-terangannya aksiku demi mencari perhatian Ho Joon. Aku pun tak keberatan, selama mereka tak melarangku untuk datang ke restoran tentunya.

 

Mereka orang-orang yang menyenangkan. Paman Kim si kasir yang ketus, nona Hwang si pelayan cantik, Youngji si koki usil, dan beberapa staf lainnya. Mereka kini tak lagi asing bagiku. Pun dengan kehadiranku bagi mereka. Maka tak jarang kedatanganku disambut siulan jahil dari mereka. Dan jika beruntung, aku bisa mendapati Ho Joon tersenyum malu karenanya.

 

Pernah suatu ketika, aku sibuk dengan urusan pekerjaan dan tidak sempat mampir ke restoran. Esoknya, aku dibuat terkejut sekaligus tersipu saat nona Hwang bercerita, “Ho Joon kemarin gelisah sekali. Dia berkali-kali mengecek, apa kau sudah datang dan menanyakannya pada semua orang.”. Aku lantas tertawa singkat dan menoleh ke arah Ho Joon yang saat itu mendelikkan mata pada nona Hwang.

 

*

 

Hanya butuh waktu dua minggu bagiku untuk bisa menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Ho Joon. Terlebih, rupanya kami tinggal di gedung apartemen yang sama. Ho Joon tinggal di lantai dua, sementara aku di lantai enam. Terkadang, aku berkunjung ke tempatnya. Sekadar berbagi makanan ringan. Tak jarang juga aku membuatkannya sarapan. Aku senang, karena meski ia tipikal lelaki yang pemalu, belum pernah sekali pun tawaran bantuan atau undangan makanku ditolaknya. Ia selalu menghargaiku, usahaku dan perasaanku, dan aku bahagia karenanya.

 

Dan hal yang tak bisa kutampik adalah, semakin mengenalnya, semakin aku menginginkannya tetap berada di sisiku.

 

Sekitar satu setengah bulan setelah mengenal Ho Joon, aku mengatur janji dengan Ho Joon untuk berkunjung ke Pulau Nami –tempat wisata yang cukup terkenal dan kebetulan tak jauh dari lokasi tempat tinggal kami.

 

Hari itu sungguh menyenangkan. Bisa kukatakan, perjalanan kami ke Nami adalah kebersamaan yang paling mengesankan sepanjang aku mengenal Ho Joon. Bukan hanya karena hari itu adalah kali pertama kami menghabiskan waktu bepergian berdua. Namun juga untuk pertama kalinya, Ho Joon menggenggam tanganku, erat. Sepele memang. Tetapi hal itu sudah cukup membuatku bahagia, sungguh. Maka, hari itu kutandai sebagai salah satu hari terbaik dalam hidupku….

 

….Ya, jika saja kejadian itu tak pernah terjadi.

 

Ho Joon mendaratkan ciuman di bibirku. Tepat setelah ia memberiku setangkai bunga keramik yang dibuatnya sendiri. Degup jantungku seakan terhenti. Detik itu juga, aku membenci diriku sendiri.

 

“Ho Joon-ah… apa maksudmu?

 

“…Nde? A-ahh… ak.. aku… menyukaimu. Da hee-ya.”

 

Sekujur tubuhku lemas.

 

Layaknya batu bara yang tersiram air dingin, ucapannya menyadarkanku dari lelap berbuah mimpi, membuatku terjaga dan kembali menilik kenyataan: bahwa mengajak Ho Joon ke dalam garis hidupku adalah sebuah kesalahan besar. Bahwa menikmati hangatnya tak ubahnya dengan memberinya harapan.

 

Dadaku seakan bergemuruh. Perasaan bersalah, kesal, sekaligus takut bercampur aduk menjerat batinku. Aku tak mengharapkan ini. Aku tak menginginkan Ho Joon menyukaiku. Aku hanya ingin berada di sisinya, menyelami kehangatannya, dan mencintainya dalam diam.

 

Sampai kapan?

 

Pertanyaan  yang tiba-tiba muncul di kepalaku itu menghujam telak egoisme yang selama ini menguasai pikiranku.

 

“Ho Joon-ah…” ucapku lirih, bulir bening yang menggenangi pelupuk mataku akhirnya tumpah.

 

Mendapatiku meneteskan air mata, senyum Ho Joon meluntur, kecemasanlah yang kini terbaca dari wajahnya.

 

Wae? Yaak… Apa yang—“

 

Mianhe… Mianhaeyo….” Tubuhku terisak. “Naega jal mothasseo…”

 

Jika saja aku lebih dewasa untuk memahami perasaan Ho Joon. Atau lebih peka untuk -setidaknya- menyadari kondisiku saat itu. Mungkin perjalanan kami kala itu tak akan lagi menjadi yang pertama dan terakhir. Tak akan pula berakhir dengan dinginnya sikap Ho Joon di sepanjang perjalanan pulang.

 

Seharusnya aku tak memulai sesuatu yang tak sanggup kuakhiri.

 

*

 

Suara notifikasi pesan di ponsel memecah lamunanku, menarikku kembali pada getirnya kenyataan. Tanganku mengusap kasar kedua pipiku yang basah sebelum meraih benda batangan tipis yang bergeser-geser di atas meja.

 

Sebelum membaca pesan itu, kudapati bahwa si pengirim adalah orang yang sejak tadi menghubungiku berkali-kali. Dan kenyataan itu membuatku menghela napas berat.

 

From : Kim Seunghoon

Jadi pulang hari ini ‘kan? Tolong beritahu ayahmu. Ia tak henti menanyakanku tentang hal itu.

 

Lihat betapa dinginnya lelaki ini? Kentara sekali betapa ia terusik dengan perintah sesepele menanyakan kabar kepulanganku. Ironisnya, dialah lelaki yang kelak akan menyematkan cincin di jari manisku. Dialah lelaki yang dipilih orang tuaku untuk menemani sisa usiaku. Dan seperti itulah isi pesan yang dikirim oleh orang sepenting itu setelah tiga bulan lebih kami tak berkomunikasi. Bukankah itu menyakitkan? Sangat. Dan aku telah menahan kepedihan itu untuk waktu yang lama.

 

Orang tuaku bilang, dia yang akan menjamin kehidupanku. Namun bagaimana dengan ‘menjamin perasaanku’?

 

Aku ingin sekali memberontak. Sungguh. Namun apa yang bisa kulakukan? Sementara menikah dengannya adalah satu-satunya cara agar aku bisa membantu kelangsungan perusahaan milik Ayah.

 

Katakanlah aku gadis yang kejam. Tak punya hati. Tak tahu diri. Egois. Karena selama di Gapyeong, aku bersembunyi, menjauh dan menutup mata akan masa depan yang tak ubahnya mimpi buruk bagiku.

 

Alasannya?

 

Aku hanya ingin -untuk sekali saja- menjalani hidup atas kata hatiku sendiri. Aku ingin selalu pulang ke ‘rumah’ yang nyaman. Rumah yang selalu bisa menjadi tempatku bersandar. Rumah yang senantiasa menyimpan kehangatan di dalamnya. Dan aku telah menemukan hal itu di balik kehadiran seorang lelaki bernama Son Ho Joon.

 

Seseorang yang bukan kekasihku.

.

*

Ho Joon-ah….

Aku ingin selalu bersamamu, sungguh.

Namun yang tak pernah kutahu, terkadang rasa nyaman hanyalah sebuah kamuflase dari duri yang menikam perlahan.

Maafkan aku…

.

.

.


YEEAAYY….!!!!

Happy 5th Anniversary FJ~~!!! Yuhuuuuu~~~

Memakan proses sekitar tiga minggu, hasilnya malah sependek dan seabal ini. huhu… maaf kalo feel nya masih belum berasa. 😦

Harusnya kan ulang taun itu hepi hepi yekan? tapi ini malah galo gini /maaf lagi 😦

Di MV, Lee Da Hee memecahkan bunga keramiknya dengan ekspresi shock dan aku gangerti kenapa. kucari tau di google maupun di kolom komentar MV official juga gaada yang tau ceritanya. Jadi yaah… kubikin aja begini. ngawur ya? HAHAHAHA. biarin deh yang penting hepi /lah

Jadi, setting waktu di FF ini adalah hari terakhir Da Hee di Gapyeong, lalu sebelum berangkat ke Seoul dia sempatkan diri kembali ke Pulau Nami, dan terjadilah apa yang ada di MV (Da Hee yang foto-foto ulang spot /?kencannya di Nami sembari mengenang Ho Joon).

Anyway, ini buat yang belum liat MV nya~

 

 

26 thoughts on “[Song of The Week] Arm Pillow

  1. entahlah aku senyum-senyum sendiri di awal cerita. aku udah sering muter mv-nya, tapi kurang nge-feel sama cerita di mv karena aku gapaham plotnya >< tapi seenggaknya abis baca ff ini aku dapet sedikit pencerahan(?) walopun ini versinya kak iin xD makasih kak kkk~
    serius aku larut sama ceritanya dan banyak kalimat yang pengin aku kutip karena keren dan bikin baper :" dan yang paling aku suka adalah … endingnya! well, aku memang penikmat sad-ending wakakak

    intinya ff ini jadi sarapan yang oke deh wkwk

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s