[Song of The Week] You & Me


You and Me

a story by dhamalashobita

starring Jo Kisum and Kim Jooyoung duration Ficlet genre Friendship, Hurt, Romance rating General

Happy 5th Anniversary, Fanfiction Jukebox! : )

*

Jo Kisum sebenarnya sedang jatuh cinta.

Sayang, objek jatuh cintanya adalah laki-laki kaku yang bahkan rasa-rasanya tidak mengerti tentang cinta.

*

Kisum tidur terlentang di tempat tidurnya yang didominasi warna kuning cerah. Langit-langit kamarnya yang rendah ditempeli stiker-stiker bintang yang menyala dalam gelap. Kisum memang selalu tidur dalam gelap. Katanya, itu lebih membuatnya lebih nyaman memandangi bintang-bintang di langit-langit kamarnya. Dan di antara bintang-bintang itu tertempel beberapa foto Jooyoung—baik seorang diri, ataupun bersama dirinya.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Kisum jatuh cinta. Karena sebelumnya ada beberapa senior yang membuatnya tersenyum-senyum salah tingkah setiap kali mereka lewat. Ada juga beberapa teman sekelas yang menurut Kisum tampan, pintar, atau hanya sekadar lucu. Dan Jooyoung sudah tahu nama laki-laki yang pernah melintasi pikiran acak Kisum itu.

Yang belum pernah Jooyoung tahu adalah, setiap kali Kisum jatuh cinta, diam-diam gadis berpipi tembam itu selalu membandingkan semua laki-laki itu dengan Jooyoung. Laki-laki itu lebih tampan dari Jooyoung atau tidak, lebih pintar dari Jooyoung atau tidak, mempunyai suara merdu seperti Jooyoung atau tidak.

Kisum menghela napas cepat, membalikkan tubuhnya dan menatap layar ponselnya lekat. Sudah tiga belas tahun Kisum mengenal Jooyoung dan laki-laki itu masih sama saja. Idiot perihal cinta.

*

Kisum kecil selalu keluar dari rumahnya ketika hujan. Kesukaannya adalah melompat di atas trampolin dengan mengenakan jas hujan kuning cerah miliknya. Sesekali Kisum berusia delapan tahun itu akan menengadah ke langit, kemudian rintik-rintik hujan akan menusuk-nusuk wajahnya. Seringkali, dari dalam rumah, ibunya berteriak menyuruhnya masuk. Tapi Kisum tak pernah peduli. Ia hanya ingin bermain.

Trampolin Kisum berada di halaman depan rumahnya, tepat di dekat pagar kayu yang membatasi halaman rumahnya dengan trotoar yang ada di tepi jalan depan rumah tersebut. Ukuran trampolin Kisum cukup besar, kira-kira cukup untuk dilompati seorang anak kecil dan satu orang dewasa. Sore itu, ketika bulir hujan turun tidak cukup deras, hari itulah Kisum bertemu Jooyoung.

Kisum melompat, menghadap ke arah jalan ketika ia melihat seorang anak laki-laki berkaus merah yang berdiri di dekat pagar kayu rumahnya, menatapnya lekat dengan tanda tanya besar terpampang tak kasat mata di hadapannya. Kisum melambaikan tangannya, kemudian berhenti melompat dan berlari ke luar.

Di hari pertama Kisum melihatnya, yang ia lakukan adalah menarik tangan anak laki-laki itu ke atas trampolinnya.

“Kau pasti ingin mencoba, bukan? Ayo melompat seperti aku! Omong-omong, namaku Kisum!”

Laki-laki itu tidak menjawab, tidak juga melompat. Tapi di pertemuan lain setelah pertemuan pertama mereka, Kisum tahu anak itu bernama Jooyoung.

*

“Cokelat untukmu lagi, kali ini dari Frey.”

Kisum mengambil posisi di depan Jooyoung, merebut sebotol cola di depan anak laki-laki bermata sendu itu kemudian menenggak setengah isinya. Kisum mengalihkan perhatian pada teman-teman sebaya Jooyoung. Saat itu Kisum berusia lima belas tahun, dan Jooyoung berusia delapan belas tahun, duduk di tingkat terakhir sekolahnya. Ekor mata Kisum menangkap gerakan Jooyoung membuka surat yang ditempelkan di bungkus cokelat.

“Mengapa gadis itu tidak menyerah saja, sih? Padahal dia sudah tahu bahwa kau selalu membuang suratnya ke tong sampah,” seru Kisum seraya melipat tangannya dan meletakkannya di atas meja.

Yang diajaknya berbicara hanya mengangkat bahu dan menggeleng pelan sebelum memberikan cokelat ke arah Kisum. “Untukmu.”

Okay! Kalau seperti ini, aku tidak akan keberatan jika kau mendapatkan cokelat setiap hari dari gadis-gadis itu. Terima kasih, Jooyoungku sayang,” seru Kisum.

“Terdengar menjijikkan jika kau yang memanggilku seperti itu, Kisum. Hentikan.”

“Aw! Tega sekali kau mengatakan itu padaku. Tidak apa-apa, meskipun menjijikkan, kau tetap kesayanganku.” Kisum tertawa kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan menepuk kepala Jooyoung pelan dan berlalu. Semburat kemerahan yang muncul di pipi Kisum sama sekali tidak bisa ia sembunyikan. Itulah sebabnya gadis itu memilih kabur sebelum Jooyoung memiliki dugaan-dugaan aneh di pikirannya.

Sayangnya, Jooyoung bahkan terlalu bodoh untuk sekadar menduga-duga.

*

Ponsel Kisum meraung-raung bising. Tentu saja membuyarkan lamunannya seketika. Nama Jooyoung terpampang jelas-jelas di layarnya. Dengan senyuman, Kisum mengangkatnya cepat.

“A-ada apa?” tanya Kisum kikuk.

“Kau ada waktu? Aku ingin bicara padamu,” jawab Jooyoung dengan nada riang.

Tiga belas tahun mereka saling mengenal, dan baru pertama kali ini Jooyoung meneleponnya dengan nada riang seperti itu. Seperti seorang anak kecil yang baru saja dibelikan mainan kesukaannya, atau seperti Kisum kecil yang baru menerima trampolin dari ayahnya.

“Apa ini masalah yang kemarin?” Kisum menggigit bibirnya. Sudah pasti ini masalah kemarin, pikirnya.

“Iya, ini masalah kemarin.”

*

Kemarin Jooyoung memintanya bertemu di sebuah kafe.

Tempat duduk di tepi jendela, dengan meja dan kursi kayu kecil yang terlihat manis. Ditambah vas bunga dengan bunga kuning kecil di atas meja. Kisum menunggu dengan segelas camomile tea di depannya, bertanya-tanya tentang apa yang ingin dilakukan Jooyoung di tempat itu. Padahal jika Jooyoung ingin bicara, mereka hanya bisa berteriak lewat jendela kamar masing-masing. Atau minimal menelepon dan melakukan video call.

Beberapa menit kemudian, Jooyoung datang dengan wajah malu-malu. Ia mengulum senyum, kemudian duduk menghadap Kisum tanpa bicara.

“Jadi, ada apa?”

“Umm, begini. Ah, apa kau punya banyak waktu?” Jooyoung menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, memandangi Kisum lekat.

“Kurasa tidak. Ada apa?”

Jooyoung menarik napas dalam-dalam, tangannya yang berada di atas meja bergerak perlahan. Diletakkannya pelan di atas tangan Kisum. Seketika, hati Kisum mencelus dan detik berikutnya, jantungnya mengikuti respon hatinya dengan berdetak lebih cepat.

“A-aku… Kurasa aku menyukaimu.”

*

“Ah, kemarin. Iya. Ma-maafkan aku, aku tidak menjawab apa-apa dan malah melakukan itu. Umm, aku lancang sekali, ya?”

Tangan kanan Kisum masih menempelkan ponsel di telinganya sementara tangan kirinya menggaruk pelan rambutnya. Kisum mendengar kekehan pelan Jooyoung dari ponselnya kemudian merutuk dalam hati. Mengapa laki-laki itu masih bisa terkekeh bahagia sementara dirinya setengah mati menahan malu.

“Tidak masalah, Kisum. Jadi aku tahu begitulah reaksinya,” sahut Jooyoung.

“Mengapa suaramu terdengar riang sekali?”

“Aku sudah lega sekarang. Kupikir jika aku melakukannya pada Frey, ia akan menamparku atau apa. Aku sudah berkali-kali menolaknya jadi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya. Tapi terima kasih, kau membuatku berani melakukannya. Reaksi Frey sama persis dengan reaksimu!” Jooyoung tertawa keras sementara Kisum masih mencoba mencerna kata-kata tetangga sekaligus sahabat masa kecilnya itu.

“Jadi… Maksudmu kau dan Frey?”

“Setelah memberikan ciuman di pipiku, ia pergi begitu saja. Dan barusan, ia mengirimiku pesan bahwa ia menerimaku! Kau dengar, Kisum? Aku mendapatkan Frey!”

“Joo-Jooyoung, jadi kemarin kau…”

“Iya, aku berlatih untuk menyatakannya pada Frey! Terima kasih, Kisumku sayang!”

Dalam gelap kamarnya, Kisum terdiam. Jika lampu kamarnya dinyalakan, wajah Kisum pasti sudah terlihat memerah karena malu. Jooyoung sialan. Kisum menghela napas panjang, membiarkan Jooyoung yang tiba-tiba berubah menjadi banyak bicara, meracau tanpa arah tentang pernyataan cintanya pada Frey.

Ya, Jo Kisum! Kau tidak berpikir kemarin aku benar-benar menyatakannya padamu, bukan?”

“Lupakan saja! Kututup teleponnya sekarang, ya! Hanbin meneleponku.”

Kisum bodoh. Seharusnya ia tidak jatuh cinta, apalagi pada laki-laki kaku yang tidak mengerti apa itu cinta.

Ah tunggu, kini laki-laki itu sudah mengerti. Ganti Kisum yang tidak mengerti.

Mungkin aku harus mencoba membuka hatiku untuk Hanbin.

fin.

Author’s Note : Happy 5th Anniversary, Fanfiction Jukebox! Semoga selalu jaya, semoga bertambah banyak pembacanya dan tetap menghasilkan bahan bacaan dan imajinasi untuk para K-popers. Mansae!

 

Advertisements

37 thoughts on “[Song of The Week] You & Me

  1. KAMALAAA AKU GEREGETAAAAN SUMPAAHHH!!! Jooyong nya apa banget dih, minta dilelepin.
    Sukaaak banget sama cara kamala menuturkan cerita ❤ ngalir banget tanpa mampet /apasi

    Aku juga suka pengolahan idenya XD waktu aku liat MV ini dan bayangin "kira-kira cerita kayak apa yang bakal kamala bikin dari MV sesimpel ini?" (aku donlot2 semua MV another story duluan soalnya, baru baca2 ceritanya hehehe) kubilang sih konsep MVnya biasa aja. pasaran banget. Tapi jadi WOW to the te o pe be ge te *alay mode on* waktu kamala tuangin jadi FF. astagaaaaaa aaakkkh… liat komen2 di atas kan? banyak yang kesel. aku juga. pake banget. artinya kamala sukses bawa perasaan pembaca. jadi bisa dibilang, FF ini adalah Baper Maker. HUAHAHA /gaje

    Ka. sejauh ini. selama aku baca FF kaka. ini yang paaaaling kusuka. ❤ banget ka. XD

    SEMANGAAAATTTSS KAMALAAAA!!!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s