[Song Of The Week] That Eighteen Jennie


That-eighteen-Jennie

That Eighteen Jennie

Written by Miichan

Artist(s): YGEnt.’s Trainee Jeannie Kim; Big Bang’s G-Dragon || Genre(s): Hurt; Slice of Life; Semi-AU || Rating: PG-17 || Duration: Oneshot

Disclaimer : Ditulis untuk hiburan semata, tidak mengambil keuntungan apa pun. Plot melanjutkan MV That XX milik G-Dragon

Usianya belum genap delapan belas, pada saat itu. Jennie menangis di bahu sahabatnya, di dalam toilet umum sebuah pusat perbelanjaan, masih mengenakan seragam sekolah. Tidak peduli pada gender sahabatnya. Mulutnya lancar mengeluarkan segala amarah, sumpah serapah, umpatan, dan semua kata negatif yang telah dimiliki perbendaharaan katanya pada seorang anak laki-laki yang semula berstatus pacarnya. Jennie menangis seperti itu adalah kiamat baginya. Jennie menangis seolah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia ini adalah dengan berpacaran.

“Sudahlah, Jennie. Laki-laki seperti itu tidak pantas untuk ditangisi.” Sahabatnya menepuk-nepuk pundak Jennie. Suaranya tidak terdengar menenangkan sama sekali. Ia melirik tidak nyaman pada beberapa wanita yang urung menggunakan toilet dan memberikan tatapan menuduh.

“Aku bertaruh kau akan dapat pacar baru dalam tiga hari,” lanjutnya.

Jennie menarik dirinya menjauh. “Memangnya jatuh cinta segampang itu?”

Diam-diam Sang Sahabat memutar bola matanya. Karena memang segampang itu. Ini bukan kali pertama Jennie seperti ini. Jennie akan bertemu cowok, yang menurutnya charming, lalu ia akan mendekatinya, dan dengan apa yang dimiliki gadis itu, si cowok charming akan jadi pacarnya, yang kemudian akan berakhir menjadi mantan pacar dalam satu atau dua bulan dan Jennie akan menangis seperti itu adalah akhir dunia, untuk kemudian bertemu dengan cowok charming lain. Hal itu terjadi berulang-ulang, hingga sahabatnya pun lelah menghitung.

*

Usianya belum genap delapan belas, pada saat itu. Jennie memendekkan rok seragamnya, mungkin tersisa sedikit lebih panjang dari jengkal ayahnya. Kemejanya juga dibuat ketat, lebih ketat daripada aturan sekolah. Rambutnya yang panjang dan semula hitam sepekat arang ia warnai cokelat dengan hi-light kuning terang. Seolah itu belum cukup, Jennie memasang dua piercing di daun telinga kirinya.

Semuanya Jennie lakukan karena, katanya, ia ingin tampak dewasa. Teman-temannya tak bisa memahami konsep dewasa yang dimaksud gadis itu, lalu Jennie menjelaskan bahwa baginya seseorang tampak dewasa saat ia berani, maka ia merubah penampilannya menjadi lebih ‘berani’, agar tampak dewasa.

Kemudian, saat bertemu sahabatnya, Jennie melompat dan memeluknya, berkata bahwa ia telah jatuh cinta. Lagi.

“Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia dewasa, baik, dan perhatian. Dia berbeda dengan cowok-cowok lain.”

Ternyata perubahan yang Jennie lakukan adalah untuk mengimbangi pria ini. Sahabat Jennie mengerutkan dahi mendengarnya. Pria macam apa yang mengencani Jennie kali ini? Pertanyaannya terjawab saat Jennie menunjukkan foto pria itu. Komentar pertamanya adalah “Jennie, kau yakin dia bukan preman?”

Jennie mengibaskan lengannya dramatis. “Hanya karena dia bertato bukan berarti dia preman.”

Sahabatnya memasang wajah skeptis.“Dia tidak kelihatan baik.”

Don’t judge a book by it’s cover, Ji.”

Sahabatnya memutar bola mata. “Seperti oom-oom.”

“Duh, dia cuma beda delapan tahun denganku.

“Terserahlah.” Toh nanti juga putus.

*

Usianya hampir genap delapan belas, pada saat itu. Jennie menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di hadapannya, rahang sahabatnya mengeras dan kedua tangannya terkepal kuat, ia menahan amarahnya di sana.

“Keparat!” sebuah kursi yang paling dekat dengannya menjadi tempat pelampiasan emosi yang mati-matian berusaha ditahan sahabat Jennie tersebut.

“Ji!” Jennie seketika mendongak saat mendengar suara kursi yang ditendang sahabatnya.

“Jangan!” telunjuk laki-laki itu mengacung di depan wajah Jennie. “Jangan bicara apa-apa.”

Gadis itu takut. Ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya semarah itu. Tetapi ia tidak bisa membiarkannya. Bukan kapasitas sahabatnya untuk semurka itu padanya. “Aku tidak dipaksa. Aku—”

“Jennie! Sialan! Bajingan itu menidurimu!!”

Mungkin emosi itu menular. Ekspresi di wajah Jennie pun perlahan mengeras demi mendengar umpatan sahabatnya. “Perlu kau tahu, yang kau sebut Bajingan itu orang yang aku cintai!”

“Cinta?! Jangan bercanda! Dia hanya mempermainkanmu sialan! Kau simpan di mana otakmu?! Tertinggal di celananya?!”

Plak!

Telapak tangan kanan Jennie gemetar hebat. Matanya tajam memandang sahabatnya sesaat sebelum meninggalkannya begitu saja. Tidak ada lagi kata-kata yang terdengar, hanya suara sepatu beradu lantai yang kian lama kian menjauh.

Dengan tangan yang sama, yang gemetar dan kebas, Jennie mengusap kasar pipinya, berniat menghapus air mata. Ia tidak mengantisipasi amarah sahabatnya. Ia menceritakan semuanya karena percaya bahwa laki-laki itu akan mendukungnya apa pun yang terjadi. Karena dalam lubuk hati Jennie yang paling dalam, diam-diam ada sejumput perasaan yang mengatakan bahwa apa yang telah ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Jennie bercerita pada sahabatnya untuk mencari pembelaan, untuk mendapat pembenaran, untuk memberi bagian hatinya yang gundah itu sedikit ketenangan.

Akan tetapi pada akhirnya, sahabatnya itu mengkhianati ekspektasi Jennie.

*

Usianya genap delapan belas, pada saat itu. Jennie bertanya-tanya, apakah ia senaif itu? Yang ia lakukan selama ini adalah bermain-main dan berkencan dengan hampir seluruh laki-laki yang tersenyum padanya. Jennie pikir ia menyukai semuanya.

Ah, ya, aku memang menyukai semuanya, batin Jennie. Tetapi aku hanya mencintai yang satu ini.

Sudut-sudut bibir Jennie tertarik, membentuk sebuah senyuman, yang semestinya cantik seandainya saja dahinya tidak ikut mengerut dalam.

Jennie tidak pernah merasa seperti yang ia rasakan saat bersama pria yang ada di hadapannya ini. Perasaan bahagia yang meledak-ledak, begitu membuncah, membutakan, semuanya hanya muncul saat Jennie bertemu pria ini. Jennie tidak pernah bisa mempertahankan hubungannya lebih dari dua bulan, sebelumnya. Tetapi dengan pria ini, enam bulan telah terlewati, dan Jennie tidak keberatan untuk bersamanya lebih lama lagi.

Ah, tetapi sepertinya sekarang Jennie akan mempertimbangkan lagi hal itu.

“Jennie …”

Satu langkah mundur Jennie ambil.

“Kau mengenal gadis manis ini?” wanita itu begitu cantik. Sorot matanya teduh, akan menenangkan jika saja ia tidak menatap Jennie dari samping pria itu, dengan lengan yang merangkul pinggangnya.

… Dan cincin di jari manisnya yang sama persis dengan cincin di jari manis pria itu.

Ini hari ulangtahun Jennie. Ah, Tuhan jahat sekali. Hadiah yang Dia berikan luar biasa.

Pria itu menatap wanita di sampingnya, lalu menatap Jennie, dan berakhir pada manik wanita itu. “Dia … putri temanku.”

Jennie tidak menunggu pria itu mengembalikan pandangan padanya. Kepalanya mengangguk singkat, detik berikutnya ia telah membelakangi mereka dan berjalan menjauh.

Ada yang salah dengan dirinya, Jennie yakin itu. Dadanya sesak luar biasa, sesuatu menghalangi jalan pernapasannya dan itu sakit sekali. Ia ingin mengeluarkan sesuatu yang menggumpal di tenggorakannya. Ia ingin berteriak keras-keras. Ia ingin melepaskan semua perasaan yang menyesakkan itu, seperti biasanya, seperti ini adalah akhir dunia.

Bibir Jennie membuka, matanya nanar, susah payah menghirup udara.

Jennie tidak ingat jika menangis bisa sesulit ini.

*

Usianya delapan belas tahun, seminggu yang lalu. Jennie tetap berangkat ke sekolah satu hari setelah hari ulangtahunnya, pun hari berikutnya. Ia tampak bahagia saat teman-temannya memberikan kejutan ulangtahun sederhana. Ia tampak tersenyum lebar menerima ucapan selamat dan hadiah-hadiah. Akan tetapi itu semuanya hanyalah ‘tampak’.

Dan di hari keempat, Jennie menyerah. Ia tidak bisa untuk tetap terlihat baik-baik saja, sedangkan dirinya tidak ingin orang-orang mengasihaninya. Atau lebih buruk, memandang jijik padanya.

Jennie masih belum beranjak dari tempat tidurnya sejak tiga hari yang lalu. Tidak ada yang berhasil membuatnya keluar.

(Atau, lebih tepatnya, tidak ada yang benar-benar berusaha untuk membuatnya keluar. Tidak ada pelayan yang berani lebih dari sekedar mengetuk pintu dan mengabari waktunya makan. Dan ketukan ibu Jennie pada pukul sepuluh malam tidak membantu sama sekali. Jangan berharap pada ayahnya, dia bukan pria yang akan membuang-buang waktunya hanya untuk membujuk anaknya keluar kamar).

Lalu, pada pukul dua siang, Jennie yang bergulung selimut terperanjat saat mendengar suara ketukan. Bukan dari arah pintu kamarnya, tetapi dari pintu balkon. Jennie menarik selimutnya lebih erat lagi, membungkus tubuhnya lebih rapat lagi.

Ketukan itu tidak juga berhenti.

Jennie menyerah. Ia menyibak selimutnya dan bangun untuk membuka tirai pintu balkon. Berdiri di hadapannya, terhalang pintu kaca, sahabatnya. Ia sudah tahu itu, karena tidak akan ada yang mau memanjat pohon untuk bisa sampai di balkon kamarnya selain laki-laki ini.

Untuk sesaat Jennie hanya berdiri di sana, memandang sahabatnya. Dan seiring jarum jam yang terus bergerak, perasaan sesak itu perlahan datang lagi. Sedikit demi sedikit memenuhi dadanya. Hingga pada titik di mana Jennie mulai kesulitan menghirup udara, pada saat itulah matanya memanas dan air mata menggenang di sana.

Setelah satu minggu berlalu, air mata Jennie akhirnya luruh juga. Bahu gadis itu naik-turun tidak stabil saat berusaha mengais oksigen di udara. Dan isakannya terdengar menembus pintu kaca, mengundang kepanikan pada wajah sahabatnya.

“Jennie! Buka pintunya! Jennie!” laki-laki itu menggedor pintu kaca, putus asa memutar-mutar kenob, untuk hasil yang sama; pintunya tak terbuka. Ia menahan diri untuk tidak memecahkan pintu sialan itu demi Jennie yang berdiri tak sampai setengah meter di depannya.

“Jennie, kumohon, buka pintunya. Jennie … sial!”

Sedangkan gadis itu sudah tak mampu berdiri, jatuh terduduk, membungkuk-bungkuk memegangi dadanya dan isakannya terdengar makin pilu.

“Keparat!” laki-laki itu menggeram. Tubuhnnya ikut merosot hingga berlutut. Dahinya menempel pada permukaan kaca, berharap ia bisa menembusnya untuk meraih Jennie.

Laki-laki itu baru tahu, jika melihat sahabatnya terluka akan semenyakitkan ini.

Jarum jam terus bergerak, berdetak. Seolah-olah tidak menyimpan simpati sama sekali pada gadis yang tengah dirundung patah hati. Akan tetapi, diam-diam waktu mengobati luka, membiarkannya kering dan membuatnya sembuh dengan sendirinya.

Ketika sudah lebih tenang dan bisa bernapas dengan normal kembali, Jennie mengangkat kepalanya. Sahabatnya masih di sana, duduk membelakanginya, di mana punggungnya bersandar pada pintu. Jennie mendekat ke arah pintu, lalu ikut menyandarkan punggungnya di sana.

Sahabat Jennie merasakan pintu kaca bergerak. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh, dan menemukan pungung Jennie menempel pada pintu kaca. Ia menghela napas panjang lalu kembali bersandar.

“Kau tidak akan membukakan pintunya?” suaranya sedikit teredam kaca, namun Jennie masih bisa mendengarnya.

“Begini saja.” Jennie menjawab parau.

Sekali lagi laki-laki itu menghela napas panjang.

“Jiyong?”

“Ya?” ia menjawab terlalu cepat.

“Maaf aku telah menamparmu.”

“Aku pantas mendapatkannya. Kata-kataku waktu itu … keterlaluan.”

“… Ya, kau memang keterlaluan.”

“Maafkan aku.”

Hening kembali untuk beberapa saat.

“Jennie?

“Ya?”

“Kuharap kau menendang selengkangan Bajingan itu.”

“Aku ingin sekali melakukannya.” Jennie tersenyum sedih. “Tapi tidak di depan wanita itu,” bisiknya pada diri sendiri.

“Jennie ….”

“Hm?”

“Selamat ulangtahun.”

*

Usianya sudah lebih dari delapan belas, pada saat itu. Jennie memulai tahun terakhirnya di SMA sejak dua bulan lalu. Sekarang Jennie menghabiskan lebih banyak waktunya di perpustakaan dan mengikuti kelas tambahan. Ia memutuskan untuk rajin belajar agar dapat melanjutkan pendidikannya ke universitas terjauh yang bisa ia jangkau dengan nilai dan kemampuannya.

“Aku ingin berubah!” katanya dengan semangat pada sahabatnya, suatu hari di perpustakaan sekolah.

Sahabatnya mengangguk-anggukkan kepala. “Kau sudah berubah.”

Jennie tersenyum lebar lalu matanya menekuni lagi halaman buku yang terbuka di depannya. Untuk sesaat, sebelum tatapannya berubah kosong.

Ya, Jennie memang sudah berubah, namun bukan perubahan seperti yang ia bayangkan. Dalam sudut pandang sahabatnya, Jennie menjadi lebih diam dan lebih sering melamun. Gadis itu tidak pernah lagi jalan dengan anak laki-laki kecuali sahabatnya, jarang menghabiskan waktu dengan teman-teman perempuannya, tidak lagi bergosip (mungkin ini salah satu sisi baiknya), dan auranya lebih gloomy. Gadis itu memang sering ke perpustakaan, ia akan membawa setumpuk buku yang tak satupun beres dibacanya. Kemudian Jennie akan meminjam semuanya dan berakhir menumpuk di meja belajar, bahkan pojokan dinding.

“Jennie?” panggil sahabatnya.

“Ya?” Jennie menyahut tanpa mengalihkan mata dari bukunya.

Laki-laki itu mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit perpustakaan, di mana beberapa kipas angin yang berputar lambat menempel di sana. “Tolong jangan bilang kalau kau sedang melarikan diri.”

Ada jeda yang tak nyaman untuk beberapa saat sebelum Jennie mendaratkan tinjuan ringan pada lengan sahabatnya. “Apa, sih, kau ini? Melarikan diri bagaimana? Dari tadi aku di sini.” Timpalnya dengan nada ceria.

Sahabatnya hanya meliriknya dari sudut mata. ‘Kau tahu apa maksudku’ adalah makna dari lirikan itu.

Lalu di suatu hari yang lain, Jennie merapatkan punggung pada pilar gedung utama sekolahnya. Kegelisahan tergambar jelas di wajahnya. Ia melongokkan kepala untuk mengintip dari balik pilar dan menemukan pria itu masih di sana, bersandar pada mobil mewahnya dengan sebatang rokok terselip di jarinya, membuatnya menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang pulang sekolah.

“Jennie?”

Tubuh Jennie menegang, ia berbalik dan makin terkejut saat menemukan sahabatnya lah yang baru saja memanggil namanya. “H-hai, Ji!”

“Apa yang kaulakukan di sini? Kukira kau ingin pulang cepat.”

“A-ah … itu ….” Mata Jennie bergerak-gerak gelisah. Ia berusaha mencari alasan, apa saja, di mana saja selain di mata sahabatnya.

Jennie tidak menyadari ekspresi sahabatnya yang berubah kaku setelah tanpa sengaja memandang ke arah gerbang sekolah. “Kukira aku tahu alasan yang sebenarnya mengapa kau ingin cepat pulang.”

“Hah?” Jennie mengembalikan pandangan pada sahabatnya dan mendapati laki-laki itu memandang lurus ke arah gerbang. Jennie kehilangan kata-kata dalam sekejap.

Sahabatnya mengalihkan tatapan pada Jennie. “Kau masih berhubungan dengan bajingan itu?”

“Apa? Tidak! Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tahu dia ada di sini.”

“Lalu untuk apa kau bersembunyi?”

“A-aku … aku ….”

Sahabat Jennie memutar bolamatanya. “Biar aku hajar dia.”

“Jiyong, tunggu!” Jennie refleks menahan pergelangan tangan sahabatnya. “Jangan lakukan itu, kumohon.”

“Dia sudah mengambil semuanya darimu, dan kau akan membiarkannya?”

Jennie menggigit bibirnya, kepalanya menunduk dalam. “Ya, aku akan membiarkannya,” jawabnya pelan.

Laki-laki itu menatap tidak percaya pada sahabatnya. “Jennie, kau bercanda! Bagaimana bisa kau membiarkan Bajingan itu? Setelah semua yang dilakukannya—”

“Aku tidak tahu, Jiyong!” potong Jennie. “Aku tidak tahu harus bagaimana!”

“Kau bisa menghajarnya.”

“Aku tidak bisa melakukannya!”

Decakan kasar terdengar. “Kau tahu kenapa kau tidak bisa melakukan apa saja yang sebenarnya bisa kaulakukan padanya? Itu karena kau masih menyimpan perasaan pada Bajingan itu.”

Jennie melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan sahabatnya. Ada yang menggenang di sudut matanya. Ia ingin sekali menyangkal ucapan sahabatnya, tetapi ia tidak bisa, karena laki-laki itu telah berkata yang sebenarnya.

Sahabatnya meraih kedua bahu Jennie, memaksa gadis itu untuk menatapnya. “Dengar! Jangan melarikan diri, Jennie. Kau tidak akan bisa lepas dari yang satu ini jika kau terus melarikan diri. Selesaikan semuanya dengan benar. Karena aku tahu kau belum mengakhiri ini semua.”

“Aku ….” Jennie menghirup udara susah payah, “butuh waktu.”

Karena Jennie akhirnya tahu, bahwa untuk melupakan orang pertama yang membuatnya merasa istimewa, tidak semudah itu.

*

Usianya masih delapan belas, pada saat itu.

Hari itu, rok seragam yang ia kenakan memang masih pendek, tetapi rambutnya tidak lagi memiliki hi-light yang mencuri perhatian. Piercingnya ia lepas, ia simpan di laci nakas, tak sampai hati untuk membuangnya.

Hari itu, Jennie memutuskan untuk berhenti melarikan diri.

Hari itu, Jennie duduk berhadapan dengan pria yang telah memberinya banyak hal, dan juga mengambil banyak hal darinya.

Pria itu masih sama seperti yang terakhir diingat Jennie. Matanya selalu tampak lelah, namun tatapannya tajam. Ia masih suka mengenakan kemeja pas badan, dengan lengan yang digulung hingga siku, memamerkan lengannya yang berlukiskan tato. Sebatang rokok menyala terselip di sela jari telunjuk dan jari tengahnya, menonjolkan cincin yang melingkar di jari manisnya saat pria itu menghisap tembakau, dan membuat Jennie bertanya-tanya mengapa ia tak pernah menyadari keberadaan cincin itu sebelumnya. Rambut pria itu masih pirang, disisir rapi ke belakang. Sekarang setelah Jennie amati kembali, model rambut pria ini bisa jadi bahan lelucon.

Dan sahabatnya benar. Di matanya kini, pria itu tampak seperti preman, seperti pimpinan mafia, seperti kriminal dengan wajah rupawan. Jennie penasaran, apa yang dulu membuatnya jatuh cinta pada pria ini? Wajah tampannya? Pesonanya? Auranya? Kharismanya?

“Kau tampak kurus,” adalah kalimat pertama yang dilontarkan pria itu, setelah hampir sepuluh menit keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.

“Aku … diet,” jawab Jennie dengan senyum kaku.

“Kau sudah sempurna. Berhenti dengan dietmu. Makanlah dengan baik.”

Ah, ini dia, pria ini sangat perhatian. Jennie suka perhatiannya. Sampai sekarang.

Jennie menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Oh, ya, terimakasih.”

“Aku pikir kau tidak mau lagi bicara denganku.”

“Ada … ada sesuatu yang masih harus kubicarakan dengan Oppa.”

Pria itu menghisap nikotinnya. Ada jeda yang panjang sebelum ia kembali buka suara. “Dan sesuatu itu adalah?”

Jennie melirik jari manis pria itu. Perlahan menghela napas dalam, mengumpulkan semua keberaniannya, meredam semua yang terasa mengganjal di ternggorokannya. “Aku … ingin mengakhiri apa yang telah aku mulai denganmu, Oppa.” Ia menundukkan kepalanya sesaat, mengulas senyum kecil lalu mendongak menatap pria itu lurus-lurus.

Ah … rasa berdebar-debar itu masih ada rupanya.

“Baiklah.”

Kelopak mata Jennie mengerjap. Sekali, dua kali, seolah-olah ia masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

“Kau bisa pergi,” ujar pria itu lagi.

“Huh?”

Sudah?

Begitu saja?

Mereka berakhir?

Benar-benar berakhir?

“Apa masih ada yang ingin kaubicarakan?”

Bibir Jennie membuka, kemudian menutup. Ia ingin mengatakan sesuatu, masih ada yang ingin ia utarakan pada pria ini, tetapi semuanya tiba-tiba menghilang dari benaknya. Pria itu tidak bertanya mengapa, pria itu tidak meminta alasan, pria itu tidak meminta maaf, pria itu tidak berusaha menjelaskan apapun. Tidak seperti skenario yang telah ia bayangkan sebelumnya, yang kemudian menampar Jennie keras-keras, menyadarkannya.

Tentu saja. Untuk apa pria itu repot-repot melakukan semua itu?

“Jika tidak ada—”

Oppa,” Jennie memotong, “apa selama ini hanya aku yang merasa bahwa hubungan ini akan berhasil?”

Pria itu menekan puntung rokoknya pada permukaan asbak, menghembuskan napas penuh asap terakhirnya dari rokok itu. “Pulanglah. Kerjakan pe-er-mu. Belajar yang rajin supaya kau bisa masuk universitas.”

Dan perasaan sesak itu muncul lagi, menyerang Jennie.

“Haaah~” kepala gadis itu mendongak, menatap langit-langit kafe. Berharap dengan begitu sesuatu yang menjegal jalan pernapasannya akan hilang dengan segera. “Kenapa harus Oppa, sih?” ia menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Baiklah, aku pulang sekarang.”

Jennie menegakkan lagi tubuhnya. Ia menggeser kursinya ke belakang agar bisa berdiri. Tubuhnya hampir oleng jika tangannya tak bertumpu pada permukaan meja. Setelah mencangklongkan tas di punggung, Jennie membungkuk singkat.

“Terimakasih, Oppa.” Jennie tersenyum tulus. “Selamat tinggal.”

Respon pria itu hanya anggukan kepala. Kedua tangannya sudah sibuk dengan sebatang rokok baru dan korek api.

Jennie mulai berjalan meninggalkan meja pria itu, namun di langkah ke empat, ia berbalik. “Oya, Oppa.”

Pria itu mengangkat kepalanya. Rokoknya belum berhasil dinyalakan.

Jennie mengangkat telunjuknya lurus-lurus mengarah pada wajah pria itu. “Jangan pernah selingkuh lagi, ya!”

Mata pria itu melebar, dan suara Jennie yang cukup nyaring membuat beberapa pengunjung kafe menatap ke arahnya.

Bye!” gadis itu melambaikan tangannya. Kali ini dia benar-benar pergi, tanpa menoleh lagi.

Pria itu menarik batang rokok yang semula terselip di bibirnya. Ia mengusap wajahnya, tertawa kecil, lalu menatap punggung Jennie yang menghilang di balik pintu kafe. “I jasshik!”

*

Jennie berusaha merunut lagi apa saja yang telah ia alami selama satu tahun ini, apa saja yang ia pelajari, apa saja yang sudah ia dapatkan, dan apa saja yang telah hilang. Ia mengakui, bahwa semuanya menuntunnya pada kedewasaan, meskipun ia harus terluka dalam sekali.

“Dan kau meninggalkannya begitu saja? Kau harusnya menendangnya!”

“Jiyong, tenanglah. Semua sudah selesai. Kalau aku menendangnya dan dia terluka, masalahnya akan lebih panjang lagi.”

Sahabat Jennie mengacak rambutnya. Ia kesal. “Jennie! Bajingan itu sudah merenggut—”

“Aku tahu!” potong Jennie cepat. Ia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat sahabatnya. “Aku tahu! Aku yang mengalaminya. Kau tidak perlu mengingatkanku lagi.”

“Dan kau akan membiarkannya?”

Jenni menghela menghembuskan napas kesal. “Aku sudah menjawab pertanyaan itu, dan jawabannya masih sama: ya, aku akan membiarkannya. Karena—” Jennie memberikan penekanan pada kata itu sebagai peringatan bagi sahabatnya yang terlihat akan memotong kalimatnya, “—apa yang sudah dia ambil bukan sesuatu yang bisa ia kembalikan, entah bagaimanapun caranya. Kau yang menasehatiku untuk menyelesaikan ini, kan? Dan aku sudah melakukannya. Jika aku terus menghitung seberapa banyak yang dia ambil atau seberapa besar harga yang harus dia bayar, aku tidak akan bisa lepas darinya, Jiyong.”

Laki-laki itu menutup mulutnya. Diam-diam membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya.

“Dan satu lagi,” Jennie mengangkat jari telunjuknya setinggi wajah, “kumohon jangan mengungkit-ungkit lagi masalah ini, oke? Aku menghargai rasa simpatimu padaku dan aku juga sangat berterimakasih, tapi cukup sampai di situ. Aku masih delapan belas tahun, hidupku masih panjang dan aku tidak mau sisa hidupku dihantui perasaan menyesal.”

Jennie menarik napas dalam-dalam setelah mengakhiri kalimat panjangnya. Wajah gadis itu memerah, ada sesuatu yang ditahannya. Sahabatnya tahu itu, maka ia mengangkat tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala Jennie.

“Aku minta maaf.”

Gadis itu tersenyum kecil, “Kumaafkan.”

“Kau tahu? Kau sudah berubah. Benar-benar berubah.”

“Aku tahu.” Jennie mengangguk kecil.

“Omong-omong,” laki-laki itu memiringkan kepalanya, “kau butuh menangis, Jennie. Kau baru putus. Ini kiamat bagimu, kan?”

“Sialan!” kepalan tangan kanan Jennie meninju pelan perut sahabatnya. Kemudian terdengar suara isakan yang kian lama kian kencang, dan laki-laki itu bersyukur Jennie memilih kamarnya sebagai tempat untuk bercerita, bukan lagi toilet umum.

Jennie menangis di bahu sahabatnya. Ia menangis seperti itu adalah akhir dunia. Karena memang Jennie telah kehilangan semestanya.

Usianya masih delapan belas, pada saat itu.

FIN

 

 

 

Ini delapan belas tahun Jennie, mana delapan belas tahunmu? LoL

 

 

 

 

Bonus

“Hei, Jiyong?”

“Ya?”

“Kenapa, sih, aku tidak jatuh cinta padamu saja?”

“Karena kau sibuk jatuh cinta pada banyak laki-laki, dan tidak menyisakan sedikit waktu senggang untuk jatuh cinta padaku.”

“Aku tidak segampangan itu! Sialan! Sekarang aku tahu kenapa aku tidak pernah jatuh cinta padamu.”

And Jiyong rolled his eyes.

Kkeut

19 thoughts on “[Song Of The Week] That Eighteen Jennie

  1. MEI! Ih kamu ihhh, aku suka banget ini. Dari cara penulisan, deskripsi hal-hal kecil yang seolah gak penting kelihatannya tapi sangat mendukung hidup dan nyatanya cerita ini banget. Aku masih kebayang *?* komen kamu dulu di fic aku entah yang mana. Tentang deskripsi hal-hal kecil, dan aku tau apa yg kamu maksud, dan kamu memang menuangkannya di tulisan kamu (salah satunya adalah tulisan ini). Duh aku ngomong apasi haha pokonya aku suka Mei. Cara kamu menuturkan, menggambarkan, mengisahkan. Good jooob~

    Dan kujuga suka sama karakter dua anak itu unyuuu~~~

    1. KA NAYAAAA ~
      Iya kak? Aku ngerasanya fail, sih. Abisan ini bukan genre yg biasa kutulis.. Hheu (ah tp yg biasa jg fail, sih)
      Tp syukurlah kalo kakak sukaa aaa~ :*
      Makasih ya, kak, udah nyempetin baca dan komentar jg :*

  2. kak mei :”) aku suka banget ceritanya, hiburan di tengah kegalauanku dengan pelajaran eksak yang njlimet :”)
    karakternya jiyoung itu lho … bestfriend materials banget >< yah, kupikir ending-nya jennie bakal jatuh cinta sama jiyoung, eh ternyata engga XD (kebiasaan deh suka asal nebak pas baca ff)
    aku juga suka cara kak mei cerita, aku berasa ikut larut sama ceritanya, tokoh-tokohnya terpapar jelas, alurnya ga njlimet, enak deh bacanya.
    terus kalimat “Kau tahu kenapa kau tidak bisa melakukan apa saja yang sebenarnya bisa kaulakukan padanya? Itu karena kau masih menyimpan perasaan pada Bajingan itu.” sukses menamparku keras-keras. seakan-akan jiyoung ngomong ke aku, seakan-akan … ah sudahlah /kenapa baper gini-_-

    1. Ini so sweet banget duo naya yg pertama komentarin ffku ❤ aw
      Btw, ai umurnya udah 17? Bacanya ditemenin kakak/papa/mama? Wkwkwkwk
      Hayoloh jd baper x3 btw Jiyong ya, Ai, bukan jiyoung. Jiyoung mah eks-member Kara.. hhehe
      Makasih ya, dear, udah nyempetin baca dan komentar :*

      1. ecie ini yang namanya takdir kak /? wkk
        aku masih 16 kak, bacanya ditemenin kucing aku :’3
        oiya, typo kak XD oke, samasama kak mei ^^

  3. Mei, kamu memang cemerlang! Hahaha.
    Aku…aku gak tau kudu bilang apa, kamu memang begitu. Tulisan kamu aku selalu sukaaa… astagaaa.
    Nyantai, tapi dalem. Ah.. sudahlah.. hahahaha

    1. terus aku jd merasa kayak bintang kecil di langit yg biru karena disebut cemerlang sama ka mala :”
      Makasih kak udah baca dan komentar :* :*

  4. “Ia mengakui, bahwa semuanya menuntunnya pada kedewasaan, meskipun ia harus terluka dalam sekali.”

    Huahhhauhuhuhuh demi apa ini dalem bangetttttt
    Ngiks ngik ngiks …
    Udah ini fix keren bangettt

  5. aku setuju ama Naya…. Mei… kamu bikin ff dengan banyak hal sepele tapi itu bisa banget buat mendukung cerita agar bisa hidup…..
    woah…. ff kamu ini sederhana banget tapi kamu mengemasnya dengan sangat baik…. jadilah ff yang luar biasa. kekeke
    good job mei. kekeke

    1. Ka qiqi :’) makasih banyak udah nyempetin baca dan komentar..
      Btw, ka qiqi punya utang baca+review ff lho sama Mei :p inget ga? Dulu waktu kita ngobrolin *uhuk*nikah*uhuk* yg menginspirasi mei buat nulis sesuatu.. Mei paling nungguin reviewnya kakak lho, seriusan :’) soalnya kakak salah satu yg nginspirasinya *halah wkwkwk
      Kalo ka qiqi masih berkenan baca, ini ff nya https://fanfictionloverz.wordpress.com/2014/10/03/d-day/
      Maafkan mei ini ya kak :’) dan makasih banyak :*

  6. Astaga mei… Aku speechless… Ga tau kudu ngomong apa lagi… Ini ff keren… Banget…. Aku suka penggambarannya, penyampaiannya… Semuanya deh… Aku terbawa suasananya banget… Apa yang diucapin Jiyong buat nyadarin Jennie, apa yg Jennie ucapkan waktu dia sudah tersadar, itu mak jleb banget…

    Dan usia 18tahunku yang udah berlalu beberapa tahun yang lalu ‘hampir sama’ kaya Jennie 😀 malah curhat.. Oke.. Keut buat komennya..

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s