[Chaptered] Rose (Chapter 8)


image

Songwriter: BlankDreamerTitle  : Rose |  Length : Multi Chaptered | Rate :  PG17 |  Genre : Romance, AU, Hurt, Drama | Cast :  Yoo Yunji aka Yoo Yuna (OC),  Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC),  Rome C Clown  as  Yoo Barom (OOC), Daehyun B.A.P  as  Jung  Daehyun (OOC),  And Others

*****

This  is  just FANFICTION. Harap  dimaklumi  jika  karakter tak  sesuai  dengan kenyataan.

 Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers! Dont be silent readers… and dont copy paste without permition

Author’s Note : Chapter ini juga panjang ya…. Semoga ga bosen aja bacanya

Happy Reading! 😀

List Chapter 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6, 7

*

*

*

= Cerita Sebelumnya =

“Karena kau akan menjalani peran baru sebagai manajerku. Kau mengerti?”

“Apa? Manajer? Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya.”

“Turuti saja apa yang kukatakan dan semuanya akan menjadi lebih mudah.”

“Kau bisa meminta bantuan orang lain.”

“Kau yang membuatku memecat Manajer Cha. Jadi, diamlah sementara kau menggantikan posisinya.”

Yunji mendesah jengah. Tidak bisakah pria ini berhenti memaksa? Bukankah itu sebuah ide gila dengan memintanya menjadi manajer? Yunji benar-benar kewalahan dengan segala hal konyol yang otak pria itu hasilkan.

*

*

*

Setelah ide Sunggyu yang tak terduga dan super gila, malam ini Yunji berakhir dengan berada di sebuah butik bersama dengan lelaki itu—memilih beberapa pakaian yang akan layak gadis itu kenakan nantinya—entah pakaian layak seperti apa yang lelaki itu maksud. Tentu saja, itu semua terjadi setelah tiba-tiba saja Sunggyu mengubah pikirannya. Tepatnya, lelaki itu teringat bahwa Yunji hanya memiliki selusin tracksuit yang ia belikan secara random beberapa waktu yang lalu dan pakaian yang ia belikan tadi tak cukup sebagai pakaian pengganti.

Yunji pun hanya berdiri—tercenung—menatap Sunggyu yang tengah sibuk memilih beberapa potong pakaian untuknya. Sementara suatu hal terus menari-nari di otak gadis itu setiap ia melihat pergerakan Sunggyu.

“Apakah sekarang aku sedang mengalami hal-hal yang sering muncul dalam drama? Seorang pria kaya raya memilihkanku beberapa potong pakaian bermerk dan setelah itu, ia akan menilaiku saat aku mencoba pakaian itu satu per satu. Lalu pada akhirnya, ia akan terperangah menatapku saat mengenakan pakaian-pakaian itu dan lelaki itu pun berhasil mengubahku menjadi Cinderella—begitu? Oh, tidak. Ini melelahkan dan membuang-buang waktu.

“Hei, kurasa kita tak perlu—.”

“Coba semua pakaian ini!” kata Sunggyu yang tak mau mendengarkan Yunji seraya melempar beberapa helai pakaian pada gadis itu yang ditangkap dengan tepat.

Gila! “Apa kau yakin?”

“Apakah aku terlihat sedang bercanda?” Sunggyu menatap Yunji dengan serius. “Just do it!” Dan lelaki itu kembali mengedarkan pandangannya pada pakaian-pakaian yang terpampang di butik itu.

Mau tak mau, Yunji pun menuruti titah Sunggyu. Mengganti pakaiannya dengan pakaian-pakaian yang telah Sunggyu pilihkan atau jika tidak, mungkin lelaki itu yang akan menggantikan pakaian itu untuknya, mengingat bahwa Sunggyu sudah mengancamnya tadi dan Yunji tahu Sunggyu tidak sedang bercanda.

“Ganti!”

Yunji berdecak kesal. Padahal, ia baru saja keluar dari ruang ganti dan menunjukkan gaun hitam seatas lutut yang ia kenakan. Tapi Sunggyu sudah memintanya untuk mengganti pakaian dan setelah sepuluh potong pakaian yang Yunji coba berikutnya, Sunggyu tak sekalipun membiarkan gadis itu berdiri di hadapannya lebih dari 7 detik. Dan sepertinya tebakan Yunji sedikit meleset karena hingga helai pakaian terakhir yang ia coba tak sekalipun Sunggyu mengatakan ‘ya’, ‘cocok’, ‘bagus’, sekedar terperangah, atau kata apapun itu selain ‘ganti’. Ia terlalu percaya diri sejauh ini.

“Jangan katakan kau akan memintaku untuk mencoba pakaian lagi atau bahkan berpindah butik!”

Lelaki itu tak kontan menjawab Yunji. Ia hanya menatap gadis itu beberapa saat. Lantas berjalan mendekatinya dan memakaikan Yunji sebuah jepit rambut yang dihiasi swarowski.

Not bad,” gumam lelaki itu lebih untuk dirinya sambil mengamati rambut Yunji yang dihiasi jepit rambut itu. Lalu, “Bungkus semua pakaian yang tadi ia coba termasuk yang masih menempel di tubuhnya,” ujar Sunggyu dingin seraya menunjuk Yunji tanpa menatap gadis itu.

Dasar gila!

 

*

*

*

 

“Sebenarnya, kemana kita akan pergi?”

“Berkeliling.”

“Berkeliling? Untuk?”

“Untuk menuruti perintah ayahku.”

“Tapi mengapa aku juga harus ikut?”

“Kau tahu?” Sunggyu menatap Yunji untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali mengamati jalanan di hadapannya. Ia sedang menyetir. “Akhir-akhir ini, kau berbicara terlalu banyak. Tak seperti dulu.”

“Aku hanya merasa tak ada sangkut-pautnya di sini.”

“Tentu ada.”

“Ada?”

“Kau tinggal di apartemenku dan aku tak bisa membiarkanmu sendiri.”

“Kau bisa mengusirku.”

“Lihatlah! Kau terus menjawabku. Dulu, kau tak pernah mengacuhkanku sedikitpun.” Sunggyu mengalihkan permbicaraan. Ia takkan melakukan hal bodoh dengan mengusir gadis itu dari kediamannya. Karena pasti, Daehyun yang akan mengambil alih segalanya. Lagipula, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkan gadis itu sendirian. Meski, setiap pemikiran itu datang menghampirinya, ia belum juga mengerti mengapa ia jadi seperti ini.

Yunji benar-benar terdiam kali ini. Ia sadar akhir-akhir ini ia memang sudah terlalu banyak membuka mulutnya. Baiklah. Kalau begitu sekarang, ia hanya harus diam.

“Mengapa diam?”

“Kau yang memintaku.”

“Tidak. Aku hanya mengatakan kau berubah. Bukan memintamu untuk diam.”

“Menyebalkan.”

“Aku tahu.” Sunggyu tersenyum puas—merasa sudah memenangkan perdebatan singkat itu karena Yunji sontak memalingkan wajah keluar jendela. “Oh! Bisakah kau mengambilkan amplop cokelat di kursi belakang itu untukku?” Kali ini, Sunggyu melirik sekilas ke kursi belakang melalui kaca spion tengah.

Yunji mendesah jengah. Sunggyu selalu memerintah sesuka hati. Tapi gadis itu sadar bahwa ia hanya pesuruh di sini dan sudah selayaknya ia menuruti semua perintah ‘atasannya’ yang tak jarang membuatnya kesal tapi beberapa kali sudah menyelamatkannya itu.

“Bukalah!” titah Sunggyu kembali.

Tanpa curiga sedikitpun, Yunji tentu saja membuka amplop itu dan sesuatu yang ia keluarkan dari sana membuat degup jantung gadis itu berhenti untuk beberapa saat. Aliran darahnya serasa membeku. Ia sadar tangannya gemetar ketakutan.

“Itu passport dan juga tiketmu.”

“Apa?” Yunji yakin ia salah dengar. Sesuatu pasti ada yang salah di sini.

“Mengapa kau tak membukanya, Yoo Yunji-ssi??”

Sekarang, Yunji merasa giliran lidahnya yang kelu. Ia yakin tak memiliki asma tapi ia tahu ia kesulitan bernafas saat ini. Ia membeku. Mematung. Tapi ia masih sanggup mendengar dengusan sekaligus tawa singkat Sunggyu. Bahkan bayangan lelaki itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa menjadi tawanan saat ini.

“Kau mungkin kerap mematahkan semua ucapanku.” Sunggyu kembali berujar. Memastikan Yunji lebih jauh bahwa ini bukan mimpi, ini nyata, dan ia sudah tertangkap basah. “Aku akui kau selalu menang dalam hal itu. Tapi, satu hal yang tak pernah kau tahu bahwa aku lebih cerdik dari yang pernah kau bayangkan. Kau takkan pernah bisa menipuku dengan mudah, Yoo Yunji-ssi. Hanya mencari tahu siapa tentangmu bukan hal yang sulit bagiku. Aku punya banyak mata dan telinga, asal kau tahu.”

“Lalu, apa yang kau inginkan dariku sekarang?” Yunji berusaha mati-matian agar suaranya terdengar tak gemetar ketakutan sementara kedua matanya menatap Sunggyu cemas. Tapi, gadis itu tahu jelas suaranya justru terdengar rendah dan dalam.

“Ikutlah bersamaku.” Sunggyu melirik passport yang mengapit selembar tiket yang Yunji pegang sekilas agar gadis itu membacanya lebih jauh.

Ikut bersama lelaki itu? Yunji tak mengerti. Jadi, ia membuka passport dan membaca destinasi mereka yang tercetak tebal pada tiket. Gadis itu sontak saja menatap Sunggyu dengan kening berkerut. Ini cukup mengejutkan. Ia pikir selama ini, jika Sunggyu sampai mengetahui bahwa ia telah berbohong, maka lelaki itu akan menjebloskannya ke dalam penjara atau mungkin mendepaknya atau entahlah. Tapi yang jelas, bukan ide yang seperti ini.

“Spanyol?”

“Ya, Spanyol. Kita akan pergi ke sana.”

“Kau tidak akan…mengusir atau menjebloskanku ke penjara?”

Sunggyu menoyor kepala Yunji.

“Apa kau pikir aku membelikanmu semua pakaian mahal itu hanya untuk kau kenakan di balik jeruji besi? Sudah kukatakan aku tak sebodoh itu.”

“Tapi….”

“Beralasanlah sekali lagi dan akan kutarik semua kata-kataku.”

ANDWAE!” Yunji menggigit bagian bawah bibirnya cepat-cepat. Sial! Ia terlalu cepat dan terlalu keras menolak. Lagipula, mengapa Sunggyu suka sekali mengancam?

Lelaki itu hanya terkekeh dan membiarkan telapak tangannya menyentuh puncak kepala Yunji seraya mengelusnya lembut. Lalu, tersenyum simpul.

“Gadis pintar!”

Yunji mendesis kesal sekaligus malu. Apa yang baru saja ia lakukan? Bodoh! Tapi ini SPANYOL! Negara impiannya. Bagaimana bisa ia melewatkan kesempatan emas ini?

 

*

*

*

 

“Aku akan pergi ke toilet sebentar.” Sunggyu beranjak dari tempatnya dan Yunji hanya mengangguk. Mereka sudah tiba di bandara beberapa saat yang lalu dan sedang menunggu saatnya untuk terbang ke Spanyol.

“Apa kau takkan ikut denganku?” tanya lelaki itu karena Yunji bergeming.

“Apa?”

Gadis itu merasa ia sudah salah dengar atau mungkin saja, Sunggyu yang sudah salah menata kata-katanya. Tapi lelaki itu nampak terlalu serius untuk membuat kesalahan pengucapan.

“Apa kau takkan ikut denganku?” Sunggyu mengulang kata-katanya dengan penuh penekanan dan lambat-lambat.

“Aku? Ikut denganmu? Toilet maksudmu?”

Sunggyu mengangguk mantap. Yunji mengerjap. Lelaki itu pasti sudah benar-benar gila.

“Untuk apa?”

“Demi keamananmu tentu saja. Apa kau tak ingat? Kau selalu terancam bahaya setiap kali kau jauh dariku.”

Yunji mendengus geli. “Kau berlebihan.”

Ani.

“Tapi aku masih cukup waras untuk tidak mengekorimu hingga ke toilet.”

“Jadi maksudmu, kau akan menungguku di sini? Bagaimana kalau seseorang melakukan hal yang tidak-tidak padamu?”

“Ini tempat umum. Cukup banyak orang di sini dan banyak penjagaan. Aku akan baik-baik saja.”

“Tapi….”

“Kau tahu? Akhir-akhir ini, kau terlalu posesif padaku. Apa kau—?”

Yunji belum menyelesaikan kalimatnya karena dalam sekejap mata, Sunggyu sudah berbalik dan meninggalkan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lelaki itu terlalu malu. Ia sadar Yunji sedang membalikkan kata-katanya dan ia tak ingin mendengar kata yang akan membuatnya meremang meluncur dengan mulus dari mulut gadis itu. Tidak untuk sekarang.

Yunji mendesah. Sunggyu benar-benar lelaki teraneh dan tergila yang pernah ia temui. Lelaki itu terlalu spontan. Sama seperti Daehyun. Tapi Daehyun lebih manis dalam tutur dan sikap. Dua kepribadian yang sama sekaligus berbeda. Unik.

“Kau tahu? Lelaki itu benar dan kau sudah salah, Cantik. Kau benar-benar tak aman tanpa ia di sisimu.”

Sekali lagi dalam satu hari, Yunji merasa jantungnya tak berfungsi dan ia seakan terserang asma dadakan. Seorang pria yang tiba-tiba duduk di sampingnya secara sembunyi-sembunyi dan profesional telah menodongkan sebilah pisau tepat ke pinggangnya. Yunji mengenal benar pemilik suara ini. Bukan. Ini bukan suara Barom. Tapi ini suara salah satu debt collector yang kerap menerornya. Pria itu rupanya telah menyamar sedemikian rupa hingga Yunji tak mampu mengenalinya. Tapi, bagaimana pria itu bisa tahu keberadaannya?

Yunji memejamkan mata rapat-rapat. Bahkan ia tak berani hanya untuk menoleh ataupun melirik pria itu untuk sekejap. Pun bisa merasakan pria itu menekan ujung pisau ke pinggangnya hingga membuat gadis itu tak berani menghela nafas barang sedetikpun. Suara pria itu memang tak terlalu keras. Lebih nyaris mirip desisan karena kebisingan lalu lalang bandara. Tapi, Yunji masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Bahkan suara itu mampu membuat gadis itu gemetar ketakutan.

“Sekarang, kau hanya perlu mendengarkanku. Aku tahu kau memang sudah tak lagi ingin hidup di dunia ini dengan menanggung hutang-hutang ayahmu. Jadi, kau bisa berteriak, jika kau mau dan akan kukabulkan harapanmu segera. Tapi asal kau tahu saja, sekarang nyawa ayahmu ada di tanganku.”

Yunji membuka mata lebar-lebar begitu mendengar nama ayahnya disebut. Tidak! Ia menelan air ludahnya dengan susah payah.

Pria itu mendengus. Lalu, “Aku tahu selama ini kau bersembunyi di balik ketiak lelaki kaya itu. Dan kau tahu apa itu artinya? Seharusnya, aku bisa melakukan apapun selama aku mau. Tapi sejauh ini, aku mendiamkanmu dan hanya mengawasimu dari kejauhan. Mengapa? Karena aku tahu, meski kau bekerja seumur hidupmu, kau takkan pernah bisa melunasi hutang-hutang ayahmu. Karena itu jugalah, kubiarkan kau tetap berada di sisi lelaki itu selama ini. Bukan hanya untuk sekedar berlindung. Tapi aku juga mau, kau mengeruk hartanya untuk melunasi hutang-hutangmu.”

Yunji menggeleng cepat-cepat. Tidak! Ia takkan pernah melakukan hal serendah itu.

“Kau tak mau? Apa kau takut lelaki itu jatuh miskin? Jangan khawatir! Aku sudah mencari tahu tentangnya. Ia lelaki yang sangat kaya. Ia takkan jatuh miskin hanya karena kau mengambil uangnya untuk melunasi hutangmu. Lagipula, ia sepertinya sudah tergila-gila padamu. Bukankah itu sudah jauh lebih mempermudah pekerjaanmu sekarang?”

Yunji baru hendak membuka mulut. Tapi pria itu sudah menyelanya terlebih dulu.

“Seperti yang sudah kukatakan padamu sejak awal, kau hanya perlu mendengarkanku. Artinya, aku tak ingin mendengar alasan apapun. Aku hanya ingin tahu sekembalinya kalian dari Spanyol, kau sudah bisa melunasi seluruh hutang ayahmu. Aku yakin kau tak akan kabur dan membiarkanmu ayahmu menderita sendirian, gadis pintar. Cha! Sampai jumpa! Aku akan sangat-sangat menunggumu.”

Usai mengatakan semua itu, pria tersebut beranjak dari sisi Yunji dengan santai. Gadis itu hanya bisa melihat punggung pria berjubah hitam itu pergi menjauh darinya perlahan dan pada akhirnya, ditelan keramaian. Lalu mendadak, kepala Yunji terasa sangat berat dan pandangannya mengabur. Mungkin karena terlalu lama menahan nafas atau karena terlalu takut.

Yunji menautkan jemari tangannya berharap bisa meredakan ketakutan sekaligus kegelisahannya. Tapi, ia tak bisa merasakan suhu tubuhnya sendiri. Yunji kembali menutup mata rapat-rapat. Ini pasti hanya mimpi. Semua akan berakhir saat ia membuka mata. Sebentar lagi, ia akan pergi ke Spanyol dan akan melupakan semua yang telah terjadi. Ia akan terhindar dari segala macam bentuk ancaman. Sebagai tambahan, ia berdoa ia akan tinggal di sana selamanya dan takkan pernah kembali ke negara ini.

“Hyaa! Gwenchana?”

Yunji bisa merasakan sebuah sentuhan lembut dan hangat yang menyentuh tangannya. Dan yang kali pertama ia tatap saat membuka mata adalah Sunggyu yang bersimpuh di hadapannya dan menatapnya dengan cemas. Tanpa sadar, gadis itu menghela nafas lega.

Gwenchana?” Lelaki itu mengulangi pertanyaannya. Sunggyu mengedarkan tatapannya ke sekeliling untuk beberapa saat. Lantas kembali menatap Yunji lekat-lekat. “Hyaa!”

Yunji bersyukur Sunggyu sudah kembali. Tapi, hal itu juga membuatnya mengutuk diri sendiri karena sudah tak mendengarkan perkataan lelaki konyol ini. Andai saja, ia menuruti ajakan bodoh lelaki ini, ia pasti tak perlu mendengar ancaman konyol tadi. Ia sungguh menyesal.

“Hya! Neon….”

Gwenchana,” sela Yunji. “Jeongmal gwenchana…,” imbuhnya seraya tersenyum simpul. Apapun yang terjadi, ia tak bisa menceritakan ancaman itu pada Sunggyu. Ia memang ketakutan karena ancaman itu sendiri. Tapi, ia tak bisa berhenti memikirkan bahwa apa yang dikatakan pria tadi benar. Sunggyu mungkin memang menyukainya (jika tidak pun, mungkin ia bisa membuat lelaki itu menyukainya). Lalu, kekayaan Sunggyu pastilah bisa menyelamatkannya dari kehidupan mengerikan yang ia jalani selama ini. Kalau sudah begitu, bolehkah jika ia berpikir untuk menyetujui usulan pria itu saja? Apa ia mulai terdengar jahat sekarang?

 

*

*

*

 

“Mengapa tidak duduk?” Sunggyu menatap Yunji yang tengah termangu dengan kening berkerut karena gadis itu tak segera duduk di tempatnya. “Hyaa!”

“Kau…duduklah saja dulu.”

“Apa? Tempatmu’kan ada di dekat jendela. Mengapa tak kau saja yang duluan? Memang kau akan pergi kemana?”

Yunji menggeleng. “Kau saja yang duduk dekat jendela. Kita tukar tempat.”

Mwo? Wae?”

“Aku tak suka duduk dekat jendela.”

Wae? Apa kau takut?”

Ani,” sanggah Yunji cepat. “Geunyang (hanya tak suka).”

Sunggyu berdecak tak habis pikir. “Kau benar-benar aneh. Biasanya para gadis suka sekali duduk dekat jendela dan akan merengek untuk bisa duduk di sana. Lalu, akan memasang wajah berbinar-binar saat melihat pemandangan dari ketinggian sambil berkata ‘oou…, yeopuda (indahnya)’.” Sunggyu mengecilkan suaranya—berusaha meniru suara wanita—seraya memasang wajah sok imut. Lalu, “Dan apa-apaan kau ini? Kau tidak?” Ia kembali berbicara dengan normal.

“Bukankah kau sudah bilang aku aneh? Bukankah itu artinya aku memang bukan gadis biasa yang selama ini ada di sekitarmu? Jangan samakan aku dengan mereka!”

“Good! Kau menang lagi. Aku akan duduk di dekat jendela dan kau tidak. As you wish, Madam.” Lelaki itu segera mengakhiri perdebatan mereka karena menyadari tatapan terusik penumpang yang lain. “Oh! Wae tto (apalagi)?” Sunggyu kembali kesal karena Yunji tak juga duduk dan justru kembali tercenung. Tapi sedetik kemudian—mungkin karena enggan berdebat dengan Sunggyu—gadis itu menghela nafas dan mengambil tempatnya tepat di samping Sunggyu.

“Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Kalau kau takut, katakan saja bahwa kau takut. Apa susahnya?”

“Tidak. Aku tidak takut.”

“Dasar gadis aneh!”

Dan ketika pesawat mulai meninggalkan daratan, Yunji menutup mata rapat-rapat dan menautkan jemarinya. Berdoa dalam hati, bahwa ia akan baik-baik saja sampai tiba ditujuan. Ini adalah pengalam pertamanya naik pesawat dan ia sungguh takut karena harus berada di ketinggian untuk waktu yang cukup lama.

Sunggyu yang menyadari ketakutan Yunji melirik gadis itu sambil tersenyum geli. Pun menyentuh tangan gadis itu dengan satu tangannya. Ini bukan sebuah rayuan belaka seperti yang ia kerap lakukan pada gadis-gadis yang ia temui selama ini. Ini murni karena ia ingin membuat Yunji tenang dan menikmati perjalanan mereka kali ini. Ia ingin Yunji melupakan semua ketakutan, keresahan, dan kesulitan yang gadis itu lalui selama ini.

“It’s gonna be okay,” ujar Sunggyu lirih.

 

*

*

*

 

Yunji tak bisa berhenti menatap keindahan kota Madrid dengan mata berbinar penuh takjub. Gedung-gedung modern yang menjulang tinggi menyelinap di antara dominasi bangunan berarsitektur klasik khas eropa terawat yang berdiri gagah sekaligus anggun benar-benar telah menyihir mata gadis itu hingga ia merasa seperti sedang berada di sebuah negeri dongeng. Bahkan Yunji masih merasa ini adalah sebuah mimpi. Benarkah ia sudah meninggalkan Korea Selatan dan kini berada di Spanyol?

Lantas, gadis itu sedikit tersentak kaget saat tangan Sunggyu terulur melewati dadanya dan memencet tombol yang kemudian membuka kaca jendela mobil di sisi gadis itu. Lalu dengan dagunya, lelaki itu mempersilahkan Yunji untuk kembali menikmati keindahan kota Madrid tanpa terhalang kaca jendela mobil. Gadis itu tersenyum. Ia sadar semakin lama sikap Sunggyu semakin lebih baik padanya. Lelaki itu ternyata punya sisi manis yang lucu. Astaga! Yunji mengerjap dan menggeleng. Apa yang baru saja ia pikirkan? Apa ia lupa Sunggyu adalah seorang playboy? Tentu saja lelaki itu pandai bersikap manis untuk meluluhkan hati wanita. Ia harus berhati-hati dan tak boleh terbawa suasana. Setidaknya, thanks pada lelaki ini—Kim Sunggyu—yang memahami pikirannya karena begitu jendela mobil dibuka, Yunji benar-benar sadar bahwa ia tak sedang bermimpi. Ini benar-benar Spanyol. Ia berada di Spanyol. Dingin udara yang merambah permukaan wajah dan semilir angin yang menerpa kulit serta mengibarkan rambutnya adalah bukti bahwa ia tak hanya sedang berangan.

Ini Spanyol.

 

*

*

*

 

Yunji tak bisa berhenti berdecak kagum begitu Sunggyu menunjukkan kamar hotel dimana mereka menginap. Itu bukanlah sebuah ruangan yang layak disebut dengan kamar hotel karena bahkan luasnya mungkin nyaris sama dengan luas apartemen Sunggyu. Tidak bisa dipercaya. Semua perabotan bergaya klasik yang didominasi oleh warna coklat keemasan di dalam ruangan itu tak satupun diantaranya yang terlihat tak berkelas. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal semenjak tadi dan terus menggelayut di benak Yunji.

“Itu kamarmu.” Sunggyu menunjuk sebuah ruangan dengan pintu kayu besar berwarna coklat pekat yang hanya terbuka separuh di salah satu sudut ruangan. “Mengapa menatapku seperti itu?”

“Kita…satu kamar?”

Sunggyu menyentil kening Yunji dan membuat gadis itu mengerang kesakitan.

“Apanya yang satu kamar? Kamarku ada di sebelah kamarmu.”

“Apa?”

Sunggyu mengarahakan tatapannya pada pintu yang berjajar di sebelah kamar gadis itu. Astaga! Yunji baru tahu bahwa dalam satu kamar hotel ada dua kamar tidur. Apa hanya ia yang baru tahu ada hal seperti ini di dunia ini?

Lelaki itu mendengus sekaligus tertawa singkat. Menertawakan apa yang baru saja terlintas dalam benak Yunji tentunya.

“Aku tak berniat melakukan hal seperti itu denganmu. Kau tidak berpengalaman dan yang pasti, kau akan membuatku bosan.”

“Apa?

“Dan lagi, kau bukan tipeku. Kau terlalu…,” Sunggyu menjeda ucapannya dan menatap Yunji dari atas ke bawah dan kembali menatap wajah gadis itu. “Kurus.”

Seketika itu, Yunji membelalakkan mata karena kesal. Ia tak tahu harus menyikapi seperti apa ucapan lelaki itu. Seharusnya, ia senang Sunggyu takkan memiliki niatan untuk mendekatinya. Tapi satu sisi lain, pria itu juga telah mengejeknya. Hal ini membuatnya merasakan kesal dengan sensasi yang aneh.

Cha!” Sunggyu menghempaskan tubuh ke atas sofa besar dan empuk itu. Ia sedang mengalihkan topik pembicaraan—tepatnya menghindari perdebatan. “Kita akan beristirahat di sini untuk beberapa malam. Lalu besok, kita akan menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Jadwal selanjutnya kau bisa membacanya di sini.” Sunggyu melempar sebuah map hitam tebal ke atas meja.

Gadis itu menatapnya dengan kening berkerut. Tapi, tentu ia tahu bahwa yang harus ia lakukan hanyalah membuka map yang entah berisi apa. Sekali lagi ia menegaskan pada dirinya bahwa ia hanyalah seorang pesuruh di sini dengan bahasa yang lebih lembut Sunggyu menyebutnya dengan ‘manajer’.

“Itu adalah jadwal selama kita berada di sini. Mulai besok, kau yang akan membacakannya untukku dan membantuku untuk melaksanakan semua jadwal itu dengan baik. Kau paham?”

Yunji mengangguk. Jadi, ini yang disebut dengan bekerja sebagai manajer lelaki ini? Sepertinya, tidak sulit. Ia membuka map tersebut dan membaca jadwal yang sudah tersusun rapi di sana. Mata gadis itu membulat penuh binar ketika ia membaca beberapa deret nama kota yang akan ia singgahi dalam kurun waktu satu bulan ini. Ia mengenali nama-nama kota itu dari artikel-artikel di internet yang pernah ia baca. Dan karena artikel-artikel itu pula banyak hal yang membuat Yunji selalu membayangkan kapan ia akan bisa mengunjungi kota-kota indah itu. Tidakkah ini benar-benar terasa bagai sebuah mimpi?

“Hanya ini?”

“Tentu tidak,” sahut Sunggyu cepat. “Kau harus menyiapkan pakaian yang akan kugunakan setiap hari. Tentu dengan menyesuaikan tema setiap acara. Aku tak mau kau sampai membuatku terlihat buruk. Mengerti?”

Yunji mengangguk sekali.

“Dan yang utama, kau harus membangunkanku tepat waktu. Jangan sampai aku terlambat karena kau tak membangunkanku! Kau mengerti?”

Yunji menegakkan tubuhnya. “Ne. Algaeseumnida.”

Tch! Sekarang, kau berbicara formal lagi denganku.”

“Aku hanya akan menggunakannya saat diperlukan.”

Sunggyu mendengus sekaligus tersenyum separuh. Bolehkah ia mengakui bahwa semakin banyak waktu yang ia habiskan bersama gadis itu ia semakin tertarik padanya? Bolehkah ini terjadi? Efek macam apa yang akan muncul jika ia benar-benar jatuh hati pada gadis itu? Karena semakin hari, ia sadar ia semakin kehilangan kendali.

 

*

*

*

 

“Sial!” umpat Sunggyu begitu membaca pesan singkat yang baru saja ia terima. Pun meneguk segelas air putih dengan kesal.

Ia mendadak tak berselera menyantap menu sarapan pagi itu. Penerjemah yang seharusnya mendampingi ia datang ke pertemuan pagi itu terpaksa tidak bisa datang karena mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju hotel.

Jari telunjuk lelaki itu terus mengetuk-ngetuk meja. Ia harus berpikir cepat untuk mengatasi situasi ini. Apa ia harus meminta tolong pada staff hotel untuk mencarikan penerjemah? Tapi apa waktunya cukup?

Porque estas llorando (mengapa menangis)?”

Sunggyu sontak mengalihkan tatapannya pada gadis yang berada dua meja jauhnya dari ia berada. Gadis itu Yoo Yunji yang tengah berbicara menggunakan bahasa Spanyol dengan seorang gadis kecil yang sedang menangis entah karena apa.

No llores (jangan menangis)! Te voy a ayudar (aku akan membantumu). Mm?”

Si gadis kecil sambil menangis nampak tengah bercerita panjang lebar yang entah apa artinya. Yang jelas, Sunggyu sama sekali tak mengerti. Tapi, beda halnya dengan Yunji yang tampak sangat memahami celotehan gadis kecil itu. Yunji mengatakan sesuatu lagi sambil membelai kepala gadis kecil yang perlahan mulai berhenti menangis itu. Kening Sunggyu mengerut samar. Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa Yunji sungguh mengerti bahasa Spanyol?

Tak lama, seorang lelaki bermata biru dan berambut menghampiri keduanya. Yunji kembali terlibat dalam percakapan dengan lelaki itu. Tentu masih dengan menggunakan bahasa Spanyol. Sepertinya, gadis itu tengah menceritakan kronologi mengapa gadis kecil itu menangis. Lalu, Yunji menatap gadis kecil itu lagi sambil tersenyum. Ia membungkuk—mensejajarkan tingginya dan tinggi si gadis kecil—dan kembali menyentuh puncak kepala gadis kecil itu. Bahkan, ia memakaikan penjepit rambut yang ia kenakan ke rambut hitam indah gadis kecil itu sambil mengatakan beberapa patah kata. Dan selanjutnya, si gadis kecil menggandeng tangan lelaki itu dan mereka beranjak pergi. Yunji melambaikan tangan ketika gadis kecil itu menoleh menatapnya sambil tersenyum yang juga disambut si gadis kecil dengan lambaian tangan.

“Apa yang terjadi?” tanya Sunggyu saat Yunji sudah berada di tempat duduknya.

“Isabel kehilangan penjepit rambut yang ayahnya belikan. Padahal, ia sangat menyukai penjepit rambut itu.”

“Lalu kau memberikan jepit rambut yang kubelikan untukmu padanya?”

Yunji mengangguk dengan polos.

“Kau—.”

“Maaf. Aku tak tega melihatnya menangis.”

Sunggyu menghela nafas. Ia mencoba bersabar. “Lalu, siapa pria tadi?”

“Ayahnya.“

“Jadi, kau mengerti bahasa Spanyol?”

“Sedikit.”

“Kurasa itu tidak sedikit.”

Kening Yunji berkerut samar tak mengerti. Terlebih saat Sunggyu tersenyum penuh arti.

“Aku tahu membawamu ke sini bukanlah pilihan yang salah.”

 

*

*

*

 

“Apa aku akan mendapatkan bayaran lebih nantinya?” bisik Yunji yang berdiri di belakang Sunggyu.

“Aku akan lihat cara kerjamu dulu baru kuputuskan nanti,” jawab lelaki itu yang juga berbisik dengan sedikit menoleh dan mengundang Yunji untuk mendelik kesal padanya.

Dan perjalanan Yunji hari itu sebagai manajer sekaligus penerjemah Sunggyu pun dimulai. Ia senantiasa berada di samping Sunggyu. Membantu lelaki itu memahami setiap ucapan dari ketiga mitra kerja Sunggyu yang datang pada rapat pagi itu. Mereka semua merupakan orang Spanyol asli. Tidak memahami bahasa Inggris (karena orang Spanyol sangat bangga pada bahasa mereka). Apalagi bahasa Korea.

Pria pertama bernama Adrian Sanchez. Ia memiliki wajah tampan khas orang Spanyol. Memiliki bola mata biru indah dan rambut hitamnya ditata rapi dengan gel. Tapi sayang, pada jari manis lelaki itu sudah melingkar sebuah cincin perak. Yunji menjadi sedikit kecewa.

Pria kedua bernama Fernando Piqué. Ia adalah pria paruh baya yang memiliki tubuh tambun, sedikit botak, dan sepertinya ia lupa untuk mencukur rambut yang tumbuh pada dagu dan daerah sekitar rahangnya pagi tadi (mungkin juga memang sengaja ia biarkan tumbuh).

Pria ketiga memperkenalkan dirinya dengan nama Joaquin Ruiz. Ia tak kalah tampan dengan Tuan Sanchez. Jika Tuan Sanchez memiliki bola mata berwarna biru cerah, beda halnya dengan Tuan Ruiz. Pria itu memiliki bola mata berwarna hitam gelap yang menawan dan penuh daya tarik, alis mata yang tebal tapi tak berlebihan, kulit cokelat eksotis khas sekali orang Spanyol, dan tulang rahang yang tegas. Rambutnya pun tak ditata serapi Tuan Sanchez. Ia lebih bergaya bebas dan berita yang paling menyenangkan bagi Yunji adalah tak ada cincin yang melingkar di jemari pria itu.

Yunji memang selalu memimpikan bisa bepergian ke Spanyol bahkan untuk bisa tinggal di negara itu. Jadi, tidak akan terdengar aneh bukan jika ia juga mengagumi pria-pria Spanyol dan bahkan bermimpi untuk menikah dengan salah satu dari mereka?

Imajinasi Yunji berhamburan kemudian dan mengalihkan tatapannya dari Tuan Ruiz ketika Sunggyu memberi selembar kertas ke hadapannya. Segera, kedua alis gadis itu nyaris bertautan membaca tulisan yang berbunyi :

Kerjapkan matamu dan hapus air liurmu, bodoh!

Spontan, Yunji menyentuh tepi bibirnya dan mengerjapkan mata. Tidak. Ia tidak berliur. Sunggyu menggodanya hanya karena lelaki itu menangkap basah saat Yunji sedang mengagumi wajah Tuan Ruiz.

Asataga! Dasar pengganggu menyebalkan!

 

*

*

*

 

“Bagaimana bisa kau membawanya ke Spanyol?”

“Mengapa harus tidak bisa?” Sunggyu melipat kedua tangan di depan dada. Ia sedang berbicara dengan Daehyun melalui video call dari laptopnya.

Entah atas alasan apa, ia merasa puas melihat Daehyun yang kalang kabut karena ia telah membawa Yunji bersamanya. Ini Spanyol yang beribu-ribu mil jauhnya dari Korea Selatan. Daehyun takkan bisa mengejar mereka semudah itu dan Sunggyu senang dengan kenyataan itu.

“Bagaimana jika ibu dan ayahmu mengetahui hal ini? Kau tahu jelas apa yang akan terjadi. Kau sama sekali tak berpikir panjang, Sunggyu-yah.”

“Mereka takkan tahu apapun selama aku tak membuat masalah dan tak ada yang membuka mulut.”

Daehyun mendengus sinis. “Kau yakin kau takkan membuat masalah?”

Sunggyu menggedikkan pundak. “Everything’s gonna be okay. Kau hanya terlalu berlebihan, Daehyun-ah.”

“Aku takkan membiarkanmu jika sesuatu sampai terjadi pada Yunji.”

“Hya! Hya! Mengapa kau mengancamku? Memangnya apa hubunganmu dengan Yun—. Tunggu! Bagaimana bisa kau tahu nama aslinya? Sepertinya, aku belum menceritakannya padamu.”

Daehyun berdeham. Ia mengalihkan tatapannya dari Sunggyu. “Oh! Aku benar-benar mengantuk,” ujarnya seraya berpura-pura menguap. “Kau tahu’kan? Di sini sudah tengah malam. Aku harus segera tidur. Dan pastikan ia tidak akan berada dalam bahaya, Kim Sunggyu! Eo? Sampaikan salamku padanya. Keuno (aku tutup panggilannya).

Dan sambungan video call mereka terputus begitu saja. Sunggyu menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi dan mendengus kesal. Ia tak habis pikir pada sahabatnya itu. Daehyun benar-benar terdengar seperti orangtua gadis itu. Bahkan terkesan berlebihan dan sepertinya juga, ia menutupi sesuatu. Daehyun pasti sudah mencari tahu tentang Yunji. Tapi, seberapa jauh lelaki itu mengetahui tentang kehidupan gadis itu?

 

*

*

*

 

“Yoo Yunji!” Sunggyu mengetuk pintu kamar gadis itu dan tak lama, Yunji muncul dengan hanya menampakkan kepalanya saja. Sunggyu mendengus dan mencoba mengabaikannya. “Bersiap-siaplah! Kita akan keluar malam ini.”

Eodi (kemana)?”

Casa Patas.”

Casa Patas?” Raut wajah Yunji yang semula datar cenderung merasa terusik oleh Sunggyu mendadak berubah. Bahkan sorot mata gadis itu berubah penuh binar begitu mendengar tujuan mereka malam ini. “Jinja (sungguh)?”

“Kau sepertinya sudah cukup tahu banyak tentang Spanyol.”

“Impianku untuk bisa datang ke negara ini.” Tapi dengan segera, Yunji menggigit bagian bawah bibirnya. Mengapa ia jadi menceritakan hal itu pada Sunggyu?

“Kurasa 5 menit cukup untuk kau bersiap-siap.”

“Tentu!

Pintu kamar Yunji segera kembali tertutup dan tepat 5 menit kemudian, gadis itu sudah muncul dengan mengenakan off shoulder dress berwarna merah selutut, sling bag kecil berwarna hitam yang melintang dari pundak kanan ke sisi kiri tubuhnya, menjinjing mantel wol panjang berwarna cokelat gelap di lengan kiri, dan rambut panjang yang dikucir kuda asal. Sunggyu termangu untuk beberapa saat. Nyaris menjatuhkan ponsel yang sejak tadi ia pegang.

“Ada apa? Aku tidak salah kostum’kan?” tanya Yunji cemas.

Sunggyu mengerjap sekali. Lantas berdeham. “Salah atau tidak, kau sudah menggunakan 5 menitmu. Kajja (ayo)!”

 

*

*

*

 

Semenjak Yunji datang ke negara ini, ia merasa hidupnya berbalik 180 derajat dari sebelumnya. Hal ini bagi Yunji seperti ia sudah mendapatkan jackpot. Karena di sini, ia tidak diburu rasa takut, tidak merasa cemas, menjadi sosok yang baru, bisa tersenyum dan tertawa lebih lepas, merasa benar-benar nyaman dan aman, dan yang terpenting, terimakasih untuk lelaki yang duduk di hadapannya saat ini, Kim Sunggyu, yang sudah mewujudkan impiannya ini entah disadari atau tidak oleh lelaki itu sendiri.

Menikmati hidangan di Casa Patas yang selalu padat pengunjung sambil menonton flamenco seperti ini, Yunji yakin Sunggyu sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari. Karena untuk bisa mendapatkan meja di sini terlebih dengan posisi terdepan, lelaki itu pasti sudah memesan tempat dari beberapa hari yang lalu.

Suara gitar, cajon, tepuk tangan, dan paduan antara hak sepatu penari flamenco dan lantai kayu bagai magnet yang menarik Yunji untuk terus tersenyum mengagumi keindahan perpaduan suara-suara itu. Belum lagi gerakan Sang Penari yang enerjik dan selaras dengan alunan musik. Sangat artistik. Bahkan Yunji tak bisa berhenti tertawa saat salah seorang pengunjung yang diundang naik ke atas panggung dan mencoba flamenco justru menarikan tarian itu dengan kaku dan konyol. Tapi tetap dengan penuh percaya diri yang tentu saja mengundang tawa semua pengunjung. Pun tak menyadari bahwa semenjak tadi, Sunggyu tak mengalihkan pandangan darinya dan diam-diam mensyukuri senyum di wajah gadis itu yang terus terkembang.

“Apa?” Yunji mendapati Sunggyu yang masih menatapnya. Tapi buru-buru, lelaki itu menggeleng dan meneguk birnya.

“Bagaimana kau bisa berbahasa Spanyol dengan lancar?”

“Aku belajar secara otodidak.”

“Karena tinggal di Spanyol adalah impianmu?”

Yunji mengangguk tegas.

“Kau belajar sendiri?”

Lagi-lagi Yunji mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari pertunjukan flamenco. “Aku pernah bekerja sebagai staff kebersihan di tempat les bahasa Spanyol. Dari situ aku diam-diam belajar.”

Sunggyu terdiam sesaat. Ia sedang mengagumi kemampuan gadis itu. Di balik semua hal sial yang menimpa Yunji, gadis itu menyimpan berjuta kejutan. Yunji jelas gadis yang cerdas, berambisi, dan pantang menyerah. Buktinya dengan kondisi yang Sunggyu yakin tak mudah, gadis itu bisa memainkan piano dengan apik, berbahasa Spanyol dengan lancar, bertahan dalam kehidupan yang keras, dan mungkin juga masih banyak lagi kejutan lain yang ia simpan dan belum ia tunjukkan.

“Kau membuat impianmu terdengar lebih mirip dengan ambisi.”

“Kau bisa mengatakannya begitu dan terimakasih sudah membuatnya tak berakhir sia-sia.”

“Mau pergi kemana?” tanya Sunggyu begitu Yunji beranjak dari tempatnya.

“Aku mau ke toilet.”

“Aku temani.”

Sontak, gadis itu melotot. “Lelaki ini sudah gila,” umpatnya pelan.

“Apa kau bilang?”

Kali ini, Yunji menggeleng. “Tidak. Hanya saja ini Spanyol. Bukan Korea.”

“Aku tahu dan kau pun tahu kalau kau jauh-jauh dariku, kau dalam bahaya. Kau ingat? Kau bilang kau akan baik-baik saja saat di bandara. Tapi saat aku kembali, kau tengah ketakutan.” Sunggyu mulai berbicara dengan kecepatan penuh tanpa sadar.

Yunji mendengus tak habis pikir. Apa yang ada di otak lelaki ini sebenarnya?

“Tidak. Bukan seperti itu. Bukan karena kau tak ada di sampingku. Tapi memang seperti itu hidupku di Korea. Karena seperti yang kau katakan dulu, aku adalah seorang buronan. Tapi di Spanyol, tak ada yang mengenaliku. Aku akan baik-baik saja di sini.”

“Kalau begitu, katakan padaku mengapa kau jadi buronan?”

“Aku takkan pernah ikut campur dengan urusanmu dan begitupun kau. Kau ingat perjanjian itu, bukan?”

“Aku bertanya sebagai atasan.”

“Dan aku menjawab sebagai seseorang yang berhak untuk tidak menceritakan masalahku pada orang lain.”

“Mengapa kau bersih keras tak ingin menceritakannya?”

“Apa kau bisa membantuku jika aku menceritakan semuanya?”

“Akan kulakukan.”

“Apa kau menyukaiku?”

Sunggyu terdiam. Ini adalah pertanyaan yang paling tak ingin ia dengarkan beberapa hari terakhir ini. Mengapa gadis itu mengatakannya dengan gamblang? Susah payah iya menghindari kata “menyukai—Yoo—Yunji” tapi sekarang, justru gadis itu yang mengatakannya sendiri. Padahal, Sunggyu masih sedang dalam proses menyadarkan dirinya bahwa gadis itu tak layak ia sukai. Ia tak seharusnya menyukai gadis yang penuh dengan masalah itu. Ia pasti hanya merasa iba. Tapi mendengar kata ‘suka’ membuat sesuatu di dalam dada Sunggyu bergemuruh.

“Kalau kau tidak menyukaiku, kumohon berhenti berpura-pura mengkhawatirkanku, Kim Sunggyu-ssi.” Dan Yunji pun berbalik meninggalkan Sunggyu yang masih termangu.

 

*

*

*

 

Yunji menatap lamat-lamat dirinya yang terpantul di cermin. Lantas membasuh muka dan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. Ia harus menyadarkan dirinya. Apa yang sudah ia katakan barusan? Bagaimana jika Sunggyu menjawab memangnya siapa dirinya sehingga begitu percaya diri bahwa lelaki seperti Sunggyu mau menyukainya? Bukankah Sunggyu pernah mengatakan bahwa gadis sepertinya bukanlah gadis yang sepadan jika disandingkan dengan lelaki-lelaki kaya seperti Sunggyu dan Daehyun? Dan sejak kapan ia jadi membayangkan ada cerita Cinderella nyata di dunia ini?

Pun melangkah keluar dari toilet dan tak lama setelah itu, seseorang meletakkan tangannya di pundak Yunji. Menghentikan langkah gadis itu. Siapa? Sunggyu? Bukan. Bukan Sunggyu. Sunggyu masih berada di tempatnya. Yunji bisa melihat lelaki itu meski di kejauhan. Lalu siapa? Siapa yang akan mengikutinya di negara ini? Tak ada yang mengenalnya selain Sunggyu. Haruskah ia menoleh untuk memastikan bahwa rasa takutnya ini sia-sia?

 

*

*

*

 

Sunggyu mulai merasa cemas. Yunji tak kunjung kembali. Kemana gadis itu pergi? Mengapa ia lama sekali? Apa terjadi sesuatu padanya? Tatapan Sunggyu pun mulai menelusuri setiap sudut restoran itu. Tapi ia masih belum bisa melihat keberadaan Yunji.

Tak puas, Sunggyu beranjak dari tempatnya dan memulai kembali menyapukan tatapannya ke penjuru ruangan. Dalam hati, ia mulai mengerang dan merutuki diri sendiri mengapa pada akhirnya membiarkan gadis itu pergi sendiri. Memangnya sudah berapa kali ia meninggalkan Yunji sendiri dan gadis itu berakhir dengan gemetar ketakutan, terluka, menangis, dan bahkan pingsan?

Nyaris gila, pada akhirnya, Sunggyu mampu bernafas lega kembali ketika ia mendapati sosok gadis bergaun merah itu tengah tersenyum cerah di ujung ruangan bersama seorang pria! Iya, seorang pria entah siapa yang berdiri memunggungi Sunggyu dan persetan dengan siapapun pria itu karena yang terpenting adalah ia benci melihat Yunji tersenyum seperti itu dengan pria lain. Mengapa sejak datang ke negara ini Yunji jadi kerap menebar senyumnya? Tiba-tiba saja, ia menyukai dan merindukan Yunji yang dulu. Yunji yang tak mudah mengumbar senyumnya. Pun segera berderap menghampiri keduanya yang masih asyik berbincang.

Lantas tangan Sunggyu dengan sigap meraih lengan Yunji dan menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya. Kini, Sunggyu siap berhadapan dengan lelaki yang sudah mencuri senyum Yunji darinya malam itu.

To be continued….

 

Oke. Ceritanya tetap dilanjutkan bukan? Walau harus nunggu lama, berharap para pembaca ff ini masih sabar nungguin dan memaklumi sikon eike yang naik turun kaya biang lala….

Ending part ini ga jelas banget seperti Sunggyu yang mulai makin absurd di sini 😀 oke sekian cuap-cuapnya dan terimakasih buat kalian tercintah yang selalu sabar menunggu J muach

17 thoughts on “[Chaptered] Rose (Chapter 8)

  1. aaaa ya ampun makin suka deh sama sunggyu di sini posesive gemesin gmna gtu hahah ~~ kepo yoonji ketawa sma siapa 😦 giliran sma sunggyu aja susah ketawanyaaa…
    btw thanks ya author udh update ditunggu trs ko lanjutannya tpi jgan kelamaan kyak ini ya heheh

    1. Sungguh gak ada niatan mau buat ff ini lama publish.. Otakku aja yg suka somplak jadi sulit nglanjutin.. ^^v tapi kayanya ini udah mulai lumayan lancar.. Semoga lanjutannya ga lama…

      Sedih jg ngliat pembaca ff ini banyak yg ilang gegara aku lama updatenya T-T makanya aku seneng dan langsung semangat lanjutin begitu dapet kabar ada yang nanyain ff ini…

      Makasih ya udah mau nungguin dear #hug #kecupsayang :’)

  2. Gyu disini rada posesif ya. keke
    tapi posesifnya bikin ketawa… ada aja hal konyol dibalik sikap posesifnya. keke
    aku pikir yunji ketawa sama pria spanyol ntu. keke…
    pasti emosi Gyu semakin campur aduk, kekeke
    ah Yu… aku suka sama fic ini…
    lekas update ya… keke

    1. Posesifnya cenderung ga masuk akal (padahal aku sendiri yg buat dia jd gitu ^^v)

      Aaaa…thanks lhoh gi udah suka… Bakal aku usahain buat buru2 update deh

      1. Posesif karena cemburu. Kan orang bilang cemburu itu buta… kekeke.
        Aku suka Yu… makana aq berharap fic kmu ini jngan berhenti tengah jalan… kudu sampe ending ya… aku mengharapkan itu soalnya. Keke

  3. Author please update ff ini trus ya. Jgn sampe berhenti. Aq suka banget sama cerita ff ne. Aq msh pengen liat hubungan yunji dan sunggyu ke depannya gimana. Ini ffnya klo diangkat ke drama pasti keren. Thanks author udh buat cerita yg keren sprti ini. Fighting ya author. I’ll always wait the next chapter. 🙂

    1. Yes yes! Aku selalu bakal update ff inu walaupun mungkin bakal rada lama.. Tapi aku usahain buat ga lama2 bgt ky yg sebelum2nya.. ^^ aku ga mau buat gyu sia2… 😀
      Produser mn yg mau angkat ini ff lumutan kira2? Kkkk…
      Yes! You should wait! #bow

  4. Wah,, senang banget masih lanjut ff nya,, makin suka liat sikap sunggyu sm yoonji.. Cepetan ya updatenya.. klo nggak bisa jga gak ap2.. Yg penting tetap lanjut, aku bakal nungguin kok.. Hehe.. Keep writing.. Fighting!!

    1. Jangan khawatir! Aku pasti lanjutin ff ini walaupun mungkin waktu updatenya yg bakal lama… Tp selalu aku usahain buat ga lama2 bgt.. Kkk… Soalnya sunggyu jg salah satu ultimate biasku…
      Please…. You should wait.. And i’ll wait you’re here… ^^ #bow

  5. Kangen banget sama fic ini. Akhirnya baca juga. Bisa merasakan suasana spanyol padahal tidak dideskripsikan secara detail

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s