[Vignette] Christmas Gift


Christmas gift

Christmas Gift

by tyavi

VIXX Leo and OC’s Anna

Romance, Fluff | Vignette | G

©2015 tyavi’s CHRISTER Story

Summary :

“Bukankah ini terlalu awal untuk memberi hadiah natal?”

.

.

.

“Mau ukuran berapa, Nona?”

“Um, sebentar.”

Leo baru saja mengamit satu long sleves berwarna hitam-putih dari gantungan saat rungunya tak sengaja mencuri dengar. Merasa familiar dengan suara barusan, kepalanya berputar menuruti kuriositasnya, mendapati seorang gadis berdiri berhadapan dengan sang pramuniaga toko, tengah mengetuk dagu dengan kening berkerut—terlihat sedang berpikir.

Meletakkan kembali gantungan ditempatnya karena long sleves hitam-putih—yang mana adalah warna favoritnya—itu tak lagi menarik minatnya, Leo perlahan merajut langkah ke arah gadis bersetelan serba baby blue itu.

“L atau XL, ya?” terdengar si gadis berkuncir kuda menimbang seraya berkemam.

Tinggal beberapa langkah lagi. Namun sayang, niat awal Leo untuk menyapa sirna kala ekor mata sang gadis menangkap presensinya, membuat Leo berdiri mematung karena kini gadis itu menoleh dengan manik membulat.

“Jung Leo!” panggilnya antusias.

Bukan, mungkin bukan karena ia bertemu seorang Jung Leo di sebuah toko pakaian pria di salah satu mall besar di Seoul, melainkan karena ia mendapatkan jawaban atas kebimbangan yang menderanya selama lima menit sebelumnya. Terlihat dari bagaimana kedua iris karamelnya berbinar menyambut kedatangan Leo.

Gadis itu menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Leo untuk mendekat. Menurut, Leo menuntaskan langkahnya menuju Anna. Gadis yang tak lain adalah Kim Anna itu kembali berujar saat Leo telah berdiri di sebelahnya. “Kebetulan sekali.” Anna tersenyum manis.

Menggaruk tengkuknya—entah ia juga tak tahu karena apa—Leo membuka suara, berusaha balas berbasa-basi. “Kau sedang apa?”

Senyum Anna semakin mengembang, membuat lengkungan matanya berubah serupa bulan sabit. Oh, tidak tahukah ia kalau Leo bisa-bisa menggaruk tengkuknya sampai berdarah kalau ia terus melakukannya.

“Aku ingin membelikan Oppa sweater untuk hadiah natal.”

Leo mengangguk singkat, netranya melirik pada sweater berwarna hitam-putih yang dipegang sang pramuniaga.

“Oh, iya. Leo-ssi, boleh aku minta tolong?” ucapan Anna barusan membuat Leo kembali melempar tatapan pada gadis belia di hadapannya.

“Kau lupa ukuran baju Ravi?” Leo bertanya seakan ia bisa membaca pikiran Anna. Padahal itu tak aneh mengingat ia telah mencuri dengar dari sebelumnya, gadis itu kebingungan saat ditanyakan ukuran sweater yang akan dibelinya.

Meski sejenak menatap Leo bingung, Anna menganggukkan kepalanya seraya menjawab. “Iya, um, boleh aku minta tolong kau untuk mencobanya?”

“Ukuranku L. Apakah ukuran Ravi sama denganku?” tanya Leo ragu. Membuat Anna turut mengerutkan kening, kembali menimbang pendapatnya barusan. “Entah, aku juga tak yakin. Setahuku Oppa—” melengkungkan kedua lengannya seolah tengah memeluk seseorang, Anna menerka-nerka berapa kiranya ukuran baju Ravi. “—kira-kira ukuran pinggang Oppa segini.”

Tak yakin karena sahutan ragu Anna, Leo menarik lengan gadis itu melingkari pinggangnya. “Apakah sama?” tanyanya kemudian. Tidak menyadari kalau gadis remaja di hadapannya, ralat, yang kini berada di posisi tengah memeluknya, telah mematung dengan iris membelalak. Pasalnya jarak mereka kini begitu dekat sampai-sampai Anna dapat mencium jelas aroma maskulin dari parfum pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu.

“Um, anu, Leo-ssi…apakah aku boleh seperti ini?” tanya Anna seraya mengerjapkan matanya. Beruntung wajahnya tenggelam di dada Leo sehingga pemuda itu tidak bisa melihat rona merah di pipi tembamnya.

Oh, apa sih yang baru saja terjadi pada Leo sampai pemuda itu baru menyadari perbuatannya. Rona merah—meski baru menjalar di kedua daun telinganya—baru muncul detik ini. Menelan ludah susah payah—karena kini tenggorokkannya terasa kering—Leo menjawab.

“I-iya tidak apa.”

Mendapat persetujuan, dengan mata terpejam Anna mengeratkan lengannya melingkari pinggang Leo. Habis sudah terlanjur terjadi, teruskan saja, motto keduanya dalam hati.

Sepersekian sekon berikutnya, Anna melepaskan tautan jemarinya seraya berjalan mundur. Kepalanya yang menunduk, mengangguk singkat. “Iya, sama.” Lantas gadis itu beralih pada si pramuniaga—yang sempat terlupakan bahwa ia masih berada di sana—untuk meminta sweater berukuran L.

Tidak perlu menunggu lama, sang pramuniaga kembali membawa sweater dengan ukuran yang diminta Anna. Tak disangka, Anna mengulurkan sweater itu pada Leo.

“Kali ini aku minta tolong kau mencobanya, um, soalnya aku masih belum yakin sweater itu bagus dikenakan Oppa atau tidak.”

Mengangguk singkat, Leo mengamit sweater di tangan Anna dan beranjak menuju fitting room. Tak lama kemudian pemuda jangkung itu keluar dengan sweater yang telah terpasang sempurna—tanpa coat biru dongker yang sebelumnya ia kenakan.

Dwimanik karamel Anna membelalak, lantas bergerak menelisik penampilan pemuda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aneh, apakah sweater ini memang dibuat untuk seorang Jung Leo? Kenapa tampak pas sekali di tubuhnya, bahan rajutannya sempurna membalut pundak lebar Leo dan pinggang rampingnya, sama halnya seperti sweater putih Ravi yang Anna pijamkan pada Leo tempo hari. Sweater itu juga Anna yang beli, omong-omong.

Menyunggingkan sebuah kurva, Anna kembali menghampiri sang pramuniaga. “Saya jadi ambil yang itu.” Pramuniaga itu tersenyum sopan dan beralih membungkus sweater yang Anna maksud. Sedang Leo telah kembali mengganti bajunya.

“Kau jadi ambil yang ini?” tanya Leo sekeluarnya dari fitting room dan dibalas anggukkan mantap dari Anna.

“Ternyata sweaternya bagus, aku tidak salah pilih.” Kurvanya semakin merekah. Membuat Leo tanpa sadar juga turut mengulas senyum, tipis, dan sang gadis tak melihatnya karena telah sibuk dengan pembayaran sweater yang akan dibelinya.

***

“Kau tidak perlu membawakannya, Leo-ssi,” Anna berujar tak enak hati seraya melirik tas kertas belanjaannya yang telah dijinjing Leo. Kalau pemuda itu sedang menganut paham ‘wanita tidak boleh bawa barang berat’ Anna tidak merasa masalah. Pasalnya belanjaan Anna ‘kan hanya sweater. Anna masih bisa membawanya sendiri kok.

Gelengan singkat Anna dapat sebagai jawaban. Dan Alih-alih menyerahkan kembali tas belanjaannya, pemuda itu malah melempar tanya pada Anna.

“Kenapa kau membelikan Ravi sweater?”

Menoleh—atau tepatnya mendongak—ke arah Leo yang berjalan di sisinya, Anna menjawab. “Karena Oppa menyukai sweater.”

Sejurus perkataan Anna barusan, mereka telah melangkah keluar dari mall, membuat Anna sejenak mengusap kedua tangannya karena perbedaan suhu yang kontras antara atmosfir di dalam mall dan udara luar.

“Bukankah Ravi sudah punya banyak sweater.”

Meminggirkan sedikit tubuhnya agar tak bertabrakan dengan pejalan kaki lainnya, mengingat Gangnam street sangat ramai karena sebentar lagi natal, Anna menyahuti. “Iya, sih. Tapi ‘kan Oppa suka.”

“Kenapa tidak memberikan sesuatu yang berbeda? Yang Ravi belum punya. Bukankah itu jadi lebih istimewa?” tanggapan Leo sukses membuat Anna tercenung.

Jujur saja, dalam hati Anna mengiyakan perkataan Leo. Tapi ia bukan termasuk orang yang kreatif untuk memberi hadiah sehingga saat mengetahui Ravi menyukai sweater, ia selalu memberikan baju rajutan wol itu untuk hadiah ulang tahun sang kakak pun saat perayaan natal. Hadiah berbeda? Yang Ravi belum punya? Kira-kira apa?

Sibuk dengan pikirannya membuat Anna tidak memerhatikan langkahnya sehingga Leo harus menarik lengan gadis itu mendekat agar tak tertabrak seorang pria gemuk yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.

“Terima kasih.” Anna berujar dan dibalas ulasan senyum tipis oleh Leo.

Dua insan itu kembali membisu dengan tungkai yang masih terus melangkah beriringan, hingga netra Anna yang beredar—menikmati pemandangan hiasan-hiasan khas natal yang telah menghiasi toko-toko di sepanjang jalan—menangkap sebuah toko kue kecil. Ah, gadis itu ingat harus membeli kue untuk kedua kakak kembarnya.

Menghentikan langkah, Anna menoleh pada Leo yang juga melakukan hal yang sama. “Sepertinya kita harus berpisah di sini Leo-ssi. Aku ingin membeli kue dulu.” Gadis ber-coat baby blue itu tersenyum.

Mengangguk singkat, Leo mengimbuhi. “Iya, aku juga akan mampir ke suatu tempat.”

Melambai singkat seraya saling melempar senyum sopan, Leo kembali melangkah sedang Anna hendak beranjak memasuki toko di sebelah kirinya. Baru saja tubuh Anna berbalik, terdengar suara langkah kaki disusul tepukan lembut di pundak Anna.

Menolehkan kepala, Anna menatap Leo dengan manik melebar—terkejut.

“Ann, belanjaanmu.” Pemuda ber-coat biru dongker itu menyodorkan tas kertas di tangannya. Ternyata, itu alasan pemuda Jung itu kembali berbalik ke arahnya.

Menatap sejenak tas kertas berisi sweater Ravi, Anna tersenyum dan menengadah.

“Sepertinya kau benar, Leo-ssi—” menjatuhkan pandangan tepat di manik hazel Leo, “—aku akan memberikan sesuatu yang berbeda untuk Oppa.”

Tangan yang dibungkus sarung tangan wol berwarna putih itu terulur menyentuh tangan polos Leo, mendorongnya untuk mengambil kembali tas belanjaan Anna.

“Itu untukmu, anggap saja hadiah natal dariku. Lagipula sweater itu sangat cocok di tubuhmu.” Membalas tatapan bingung Leo seraya tertawa kecil, Anna melanjutkan. “Kurasa ukuran Oppa XL, Leo-ssi. Pinggangnya lebih besar darimu.”

Pandangan heran Leo meredup, seolah terbayar dengan kata-kata Anna yang mengindikasikan gadis itu membeli sweater ini untuknya.

Menjungkitkan sebelah alisnya, Leo berucap. “Bukankah ini terlalu awal untuk memberi hadiah natal?”

“Memangnya kenapa? Tidak ada salahnya ‘kan memberi lebih awal.”

Mengulum senyum, Leo kembali berujar. “Tunggu sebentar.” Gadis berkuncir kuda di hadapannya mengernyit—bingung.

Leo meletakkan sejenak tas kertas di tanah, lantas kedua tangannya beralih melepas syal putih yang melilit lehernya.

“Meski terlalu awal—” sampai pada lilitan terakhir dan syal berbahan wol itu terlepas, “—aku juga akan memberimu hadiah natal.” Menyibakkan kuncir kuda gadis itu, Leo melingkarkan syal miliknya di leher jenjang Anna. Sejenak Leo merapikan surai Anna yang tersangkut di lilitan syalnya sebelum akhirnya memundurkan tubuhnya.

Pipi keduanya bersemu, entah karena ulah cuaca atau karena sama-sama didera rasa malu.

Merry christmas.”

Setelah didahului dengan dehaman canggung lantas disusul ucapan demikian, punggung tegap itu berbalik dan melangkah menjauh. Meninggalkan Anna yang mematung. Sibuk mencerna perlakuan yang baru saja diterimanya. Dan benak Anna jadi bertanya-tanya.

Apakah hadiah yang terasa spesial itu seperti…

Merry christmas.”

.

…syal dengan aroma maskulin yang melingkar di lehernya?

.

fin

tyavi’s little note: Okay, kali ini tatyana balik dengan project baru yaitu Christer alias Christmas-Winter. Couple LeAna sebagai pembuka, tunggu saja couple lainnya ya. Dan doakan juga aku dapat menyelesaikannya sebelum natal.

tumblr_nz1rx4q11c1txivqlo2_r1_400

Mind to leave a comment ^^

Advertisements

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s