[Vignette] It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas


IBTLLLC

It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas

by Tyavi

VIXX Ken and OC’s Tory

Romance, Fluff | Vignette | G

©2015 tyavi’s CHRISTER

Summary :

Ken ingin menunjukkan pada Tory kalau natal akan datang sebentar lagi

.

.

.

Ini sudah menit kelima tapi tungkai Tory tak juga beranjak, ralat, bahkan tak bisa bergerak. Tubuh Tory mematung. Mendapati sosok jangkung berdiri di depan pintu sedetik setelah ia membukanya untuk sang tamu yang menekan bel rumahnya dengan tidak sabaran. Pemuda berhidung bangir yang biasa ia panggil Ken itu masih setia menyunggingkan senyum, tak menyurut sejurus manik hazel Tory yang masih membulat—terkejut.

Baru saja Tory akan melemparkan sumpah serapah seperti “betapa sialnya aku membuka pintu pada pukul enam pagi dan menemukan Ken berdiri di depan rumahku”, si lelaki telah lebih dulu menarik tangannya, menyampirkan long coat berwarna mocca yang sengaja dibawanya dari rumah, lantas berteriak ke dalam kediaman Jung.

“Bibi Jung, aku pinjam Tory sebentar!”

Otak Tory seakan buntu, pun tak dapat berkerja, tak dapat mencerna, bisanya hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Ken ke pekarangan. Beruntung dibalik sandal rumahan yang digunakannya, Tory telah menggunakan kaus kaki tebal—disamping kebiasannya yang memang suka tidur menggunakan kaus kaki. Omong-omong, pemuda ini sangat mempersiapkan segalanya demi ‘mengerjai’ Tory di pagi hari, mengingat Tory yang membuka pintu dengan tubuh hanya dibalut piyama tidur, Ken membawa serta long coat miliknya yang kini tampak kebesaran di tubuh Tory. Bahkan pemuda itu kini sedang memakaikan sepasang sarung tangan rajut berwarna putih dan kemudian mempermanis penampilan Tory dengan topi rajut berwarna senada. Si gadis Jung yang sedari tadi hanya terdiam—atau mungkin setengah terkejut, setengah mengantuk—kini menatap Ken dengan sebelah alis terangkat.

“Ken, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”

“Tentu saja membuatmu tidak mati kedinginan, nona Jung.”

“Maksudku—” Tory menghirup oksigen banyak-banyak lantas menghembuskannya secara perlahan, menciptakan kepulan asap di depan wajahnya, “—ini masih pukul enam pagi dan kau menarikku keluar dari rumah—”

“Karena kau melarangku untuk masuk, jadi aku yang menarikmu keluar.”

Tory menatap malas Ken yang kini memamerkan cengiran bodoh di depan wajahnya.

“Berikan padaku alasan yang tepat untuk mengabaikan hangatnya gulungan selimutku, ” Tory kembali berujar dengan mata memincing. Kontras dengan Ken yang balik menatapnya dengan manik berbinar.

“Aku ingin menunjukkan padamu—” tangannya terangkat, menunjuk pada langit-langit di mana kepingan salju mulai kembali berjatuhan, “—bahwa sebentar lagi natal akan datang.”

 

Jeda beberapa detik.

 

“Aku akan pulang.”

 

Namun tubuh Tory yang berbalik, tak sebanding dengan kekuatan lengan Ken yang menariknya bersemangat.

“Tidak baik kalau waktu liburanmu hanya dihabiskan untuk bergelung di balik selimut, Tory-ya. Sesekali kau harus keluar dan nikmati keindahan musim dingin yang hanya datang satu tahun sekali.”

“Tapi ini konyol, Ken. Sepupuku yang berumur lima tahun juga tahu kalau sebentar lagi akan natal.”

“Tapi natalmu tidak berkesan, Tory-ya.”

“Apa maksudmu? Memangnya kau tahu apa yang kulakukan saat—

“Sejak salju pertama turun, kulihat kau belum membuat boneka salju.”

“Oh, apakah itu penting, Ken?”

“Tentu saja!” Dengan kekuatan penuh—karena ia telah mengisi perutnya dengan setangkup besar sandwich pagi tadi—Ken menarik tangan Tory menuju bagian pekarangan di mana terdapat tumpukkan salju yang lebih tebal. Lekas Ken berjongkok, mengumpulkan salju ke tengah menggunakan tangannya yang dibungkus sarung tangan kulit. Sedang Tory masih berdiri di sebelahnya dengan enggan, menatap Ken aneh kala sesekali pemuda ber-coat biru itu mengusap hidungnya yang memerah.

“Ken, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” pertanyaan yang sama dilontarkan untuk kedua kalinya oleh Tory karena melihat tingkah ‘ajaib’ Ken.

“Tentu saja membuat boneka salju.” Ken menjawab polos, sukses membuat Tory lagi-lagi menghela napas gusar seraya memutar bola mata.

Oh, ayolah mereka bukan bocah berumur lima tahun lagi.

Merasa si gadis tidak melakukan hal yang sama sepertinya, Ken menengadah, melempar pandangan seraya menarik-narik tangan Tory. “Di sini masih sepi, Tory-ya. Kau tidak perlu malu.”

Mengedarkan pandangan sejenak, Tory menyetujui kata-kata Ken. Ya, di sini, komplek perumahannya, masih sepi, atau mungkin hanya ada mereka berdua di sini, di luar rumah.

Tidak heran mengingat sekarang sudah memasuki liburan panjang akhir tahun. Orang-orang tentu lebih memilih bersedekap di balik selimut atau berkumpul bersama keluarga, menghangatkan diri dengan pemanas ruangan. Bukannya keluar untuk bermain salju ditemani terpaan angin yang menusuk tulang.

“Aku sudah selesai membuat badannya.”

Ken berdiri seraya menepuk-nepuk tangannya, menghilangkan butiran salju yang menempel di sarung tangan kulitnya. Kembali tersenyum lebar—yang entah sudah tidak terhitung lagi selama pagi ini—dan menunjuk pada setengah boneka salju hasil karyanya. Membuat Tory mau tak mau menoleh dan mengamati dua bola salju bertumpuk; yang besar di bawah dan yang kecil di atas.

“Sekarang kau yang membuat kepalanya.”

Tory melempar pandangan seraya meringis, seolah mengatakan “ayolah Ken, hentikan ini dan biarkan aku pulang”.

Tapi dwimanik Ken justru melebar. “Perlu aku ajarkan?”

Setelah berkata demikian, pemuda yang lebih tua empat bulan darinya itu beralih ke belakang tubuh Tory dan memegang kedua lengan gadis bersurai kelam itu. Terkejut, sontak Tory menolehkan wajahnya, mendapati wajah Ken berada tepat di atas kepalanya.

“K-kau mau apa?!”

“Aku akan mengajarimu membuat bola salju.” Terlihat kepulan asap keluar dari bibir Ken.

Lekas melepaskan diri, Tory melangkah maju. “T-tidak perlu, aku bisa sendiri.” Sang gadis pun mulai berjongkok dan meraup salju dengan tangannya. Kendati demikian, gerakannya kaku dan kakinya sedikit bergetar. Ia tidak bisa fokus karena perlakuan Ken barusan. Oh, rasanya jantung Tory hampir saja meledak.

Tak lama kemudian Tory menyelesaikan bola salju buatannya dan meletakkannya di atas tumpukkan bola salju Ken. Si lelaki pun mengeluarkan wortel dari sakunya untuk dipasang sebagai hidung si boneka salju, dan menancapkan dua ranting kering sebagai tangannya. Lantas boneka salju itu dipermanis dengan syal blaster yang juga dibawa Ken dari rumah.

Keduanya melangkah mundur seraya menatap hasil karyanya dengan puas. Kurva terukir di paras Ken maupun Tory. Jangan salah, gadis bernama lengkap Jung Victory itu juga menyukai boneka salju. Satu-satunya yang tidak ia sukai adalah Ken yang mengganggu waktu liburannya.

Memasukkan kedua tangan ke dalam saku, Ken berujar dengan kening berkerut. “Apakah aku bisa dikubur salju juga seperti yang biasa orang lakukan dengan pasir pantai?”

Gadis cantik yang berdiri di sebelahnya menoleh. Kurvanya telah surut dan maniknya kembali menatap Ken datar. “Kau mau mati?”

Memasang ekspresi merenggut, Ken kembali berucap. “Aku ingin jadi boneka salju.”

“Ya, kalau kau memaksa, aku tidak keberatan menimbunmu dengan salju, tuan Lee.” Tory mencibir Ken sembari mengusap kedua tangannya dan sesekali meniupi. Sepertinya gadis itu mulai kedinginan—sarung tangan wolnya basah karena bermain salju dan long coat-nya tidak memiliki saku seperti Ken yang tengah menyembunyikan kedua tangannya saat ini.

Peka dengan keadaan Tory, Ken melepas sebelah sarung tangan kulitnya—yang mana tidak basah—mengamit tangan kiri Tory, dan memasangkannya. Tatapan bingung Tory layangkan. Kali ini apa?

“Ken, apa yang sedang kau lakukan?”

“Tentu saja membuatmu tidak mati kedinginan, nona Jung.”

Percakapan terulang.

Selesai dengan tangan satunya, Ken menarik sebelah tangan gadis itu, menggenggamnya, dan memasukkannya ke dalam saku. Membuat Tory sontak membelalakan matanya. Alih-alih mengindahkan tatapan terkejut Tory, Ken menarik gadis itu merajut langkah bersamanya menuju kediaman Jung.

“Aku punya hadiah untukmu,” ujar Ken di sela-sela tungkai kaki mereka yang berjalan beriringan. Sedang si gadis masih sibuk menatap tangannya yang digenggam erat Ken di dalam saku coat pemuda itu. Kelopak matanya berulang kali mengerjap, kepulan asap terlihat dari mulutnya yang terus-menerus menghirup dan menghela napas, berusaha menetralisir detak jantungnya yang berubah tidak karuan. Tory tak pernah membayangkan akan sedahsyat ini efek perlakuan seorang Ken pada tubuhnya.

“Tory?”

Menengadahkan kepalanya. “Apa?” Netra Tory dibalas iris hazel Ken yang menatapnya lekat.

“Coba kau nyanyikan lagu It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas[1].”

“Apa?”

It’s beginning to look a lot like christmas,” suara merdu Ken menyapa rungu Tory. “ Kau suka lagu itu ‘kan?”

Menelan ludah susah payah karena suara nyanyian Ken bahkan kini membuat darahnya berdesir, Tory menganggguk kikuk. Ken tersenyum. “Coba kau lanjutkan. Di sana terdapat hadiah natalmu.”

Tory mengangguk lagi. Entah angin apa yang membuat Tory berubah menjadi sepenurut ini pada Ken.

Everywhere you go. Take a look at the five and ten. It’s glistening once again. With candy cane and silver lanes that glow.”

Senyum Ken semakin merekah kala rungunya dimanjakan suara lembut Tory.

It’s beginning to look a lot like christmas. Toys in every store.

Langkah mereka terhenti di depan pintu rumah Tory. Mengeluarkan tangan Tory dari sakunya—kendati tak melepaskan genggamannya—Ken melanjutkan.

But the prettiest sight to see is the holly that will be on your own front door.

Dan selanjutnya sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Tory.

.

“Apa yang kau temui pagi ini, nona?”

.

fin

[1] single Michael Bubble – It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] It’s Beginning to Look a Lot Like Christmas

  1. persiapan Ken mateng sesempurna itu!
    dan yang ditemuin tory pagi ini adalah pangerannya yang minta dikubur karena keabnormalan kelakuannya tapi ngangenin dan bikin berdebar.
    shipping couple ini!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s