[FREELANCE] The Mannequin


PicsArt_12-19-07.12.07

Songwriter peperomint

Artist N.Flying Jaehyun & Kwangjin | Featuring Rainbow Jaekyung | Genre AU, | Duration vignette | Rating PG-13

.

Manekin-manekin ini jumlahnya sesuai dengan para korban kecelakaan kereta api dua puluh tahun silam

.

.

“Selamat datang di rumah baru kita…” Jaekyung menghirup napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-parunya dengan oksigen dari rumah barunya. “Kau senang kita pindah ke sini, Hyunie?”

 

“Tidak terlalu,” jawab sang adik, Jaehyun sekenanya.

 

“Kenapa? Rumah ini berada di pinggiran Seoul, udaranya belum tercemar. Dan juga rumah ini lebih besar dibanding rumah kita yang lama!”

 

“Memang, tetapi aku lebih suka di Seoul…” kata Jaehyun sambil mengangkat sebuah kotak kardus. Karena baru pindah kemarin, kondisi rumah ini masih berantakan. Belum lagi appa dan eomma baru akan tiba dua hari lagi.

 

“Tenang saja, sebentar lagi kau juga akan merasa betah di sini.” Jaekyung mengacak-acak rambut adiknya, “Oh iya, drum milikmu sudah ditaruh di kamar!”

 

Mendengar kata drum, Jaehyun segera melesat ke kamar barunya di lantai atas. Jaekyung yang melihatnya, hanya bisa menggelengkan kepalanya.

 

“Drumku sayang, selamat datang di tempat baru kita. “Jaehyun menciumi setiap bagian dari drumnya.” Aku tidak terlalu suka di sini. Tapi selama ada kau, hidupku akan terus bahagia.”

 

“Jaehyunie, ayo turun! Ada tetangga baru kita yang datang. Ia ingin bertemu denganmu!” seru Jaekyung dari bawah.

 

“Ya, noona. Aku segera turun!”

 

Kini di hadapannya, berdirilah seorang laki-laki berambut sebahu dengan penampilan  serampangan. Dari wajahnya, dia terlihat tidak ramah. Tapi kalau tidak ramah, buat apa ia datang ke rumah orang yang tidak dikenalnya?

 

“Hai, aku Kwon kwangjin. Senang bertemu denganmu!” ujarnya sambil sedikit menundukan kepalanya.

 

“Halo, aku Kim Jaekyung. Dan ini Kim Jaehyun, adikku.” Jaekyung tersenyum ramah, “Maaf Kwangjin-ssi, aku harus pergi membeli bahan makanan dulu. Kalian bisa melanjutkan perkenalan kalian.” Lalu Jaekyung pun pamit.

 

“Jadi… Dimana rumahmu?” tanya Jaehyun canggung.

 

“Tepat di seberang rumahmu.”

 

“Apa di daerah ini, ada sesuatu yang menarik?”

 

“Kau baru pindah dari Seoul, kan? Aku yakin di sana tidak ada yang semenarik ini,” katanya sambil tersenyum misterius.

 

“Apa itu? Bisa kau beri tahu aku?” Dipertemuan pertama saja, dia sudah membuatnya penasaran.

 

“Di daerah ini, ada sebuah rumah yang berisikan banyak manekin.”

 

“Hanya itu? Kurang menarik,” cibir Jaehyun.

 

“Rumah itu tidak berpenghuni sejak aku kecil. Aku dengar penghuninya agak kurang waras. Ia suka memakaikan baju pada para manekin itu dan menggantinya setiap hari. Namun setelah meninggal, aku tidak tahu siapa yang menggantikan baju-baju mereka. Jika hujan, manekin itu juga berpindah ke bagian dalam rumah.”

 

“Kenapa bisa ada manekin di rumah itu? Bukankah aneh bila ada seseorang yang lebih memilih untuk hidup dengan manekin?”

 

“Mana kutahu! Kau mau pergi ke sana? Aku akan menceritakannya lebih lanjut di jalan,” tawar Kwangjin.

 

“Baik, ayo pergi!”

 

***

 

“Jadi ini rumahnya?”

 

“Ya. Tepat di seberang rel kereta api, kan?” Jaehyun mengangguk. Di jalan tadi, Kwangjin bercerita bahwa manekin-manekin ini jumlahnya sesuai dengan para korban kecelakaan kereta api dua puluh tahun silam. Kondisi rumah ini cukup terawat, dengan beberapa manekin di teras rumah yang duduk seperti sedang menikmati jamuan teh di petang hari.

 

“Hanya segini?” tanyanya tidak puas.

 

“Di dalam akan lebih banyak lagi, kan kukatakan bahwa jumlahnya puluhan.”

 

“Buktikan!” tantang Jaehyun yang dibalas dengan sebuah anggukan.

 

Kwangjin pun menyuruh Jaehyun mengikutinya ke halaman belakang rumah. Rencananya, mereka akan masuk lewat pintu belakang agar tidak terlihat oleh orang lain.

 

“Huaa…”

 

Kwangjin menoleh dengan kesal. “Jangan berisik! Atau kau tidak akan pernah diperbolehkan untuk datang ke sini lagi,” ancamnya.

 

“Ada laba-laba…”

 

Kwangjin mendengus. Dasar anak kota yang manja, baru laba-laba saja sudah histeris. Bagaimana kalau kami bertemu dengan manekin hidup? Aku yakin pasti dia akan terkena serangan jantung, batinnya.

 

“Sudah, kau diam dan tutup mulutmu rapat-rapat. Jadilah seorang pemberani!”

 

“Baiklah…” jawabnya lesu.

 

Setelah melewati taman yang cukup luas, mereka memasuki rumah melalui pintu belakang. Kondisi bagian dalam rumah, tidak sebagus di bagian luarnya. Dan jumlah manekin di dalam rumah besar ini lebih banyak dari yang diperkirakan. Pakaian yang melekat di tubuh dingin mereka pun sangat bagus.

 

Posisi mereka beragam. Ada yang duduk di sofa berdebu, berdiri menghadap cermin retak, bahkan memegang pisau dapur. Mungkin seharusnya manekin itu terlihat seperti sedang memasak, namun entah kenapa malah terlihat menyeramkan. Jaehyun berkali-kali bergidik. Ia merasa sebuah manekin seperti terus mengawasi dirinya dan Kwangjin.

 

“Tidak menarik!” Yah, bukannya tidak menarik juga, sih. Itu hanya alasan saja agar ia bisa segera keluar dari rumah ini.

 

“Berhenti mengeluh! Kalau tidak menarik, kenapa kau memaksaku membuktikannya?!” Kwangjin sudah tidak tahan lagi. Ia segera berjalan keluar dan meninggalkan Jaehyun sendiri di dalam.

 

“Hey, Kwon Kwangjin! Jangan tinggalkan aku!”

 

***

 

Keesokan harinya, Kwangjin masih merasa bersalah setelah meninggalkan Jaehyun sendirian. Ia merasa tidak tenang. Jadi ia berinisiatif untuk bertanya pada Jaekyung. Sialnya, Jaekyung mengatakan bahwa adiknya itu belum pulang.

 

“Jaehyun belum juga pulang sejak kemarin. Aku sudah mencari kemana pun, namun aku tidak kunjung menemukannya.” Air matanya menggenang di pelupuk mata. Sedikit lagi ia bercerita tentang adiknya, mungkin air matanya tidak akan berhenti mengalir.

 

“Kalau begitu, aku akan mencarinya, noona!” seru Kwangjin.

 

“Tolong temukan dia, Kwangjin. Orang tua kami akan datang sore ini. Aku hampir gila memikirkannya…”

 

“Baik!”

 

Tempat pertama yang terlintas di pikiran Kwangjin adalah rumah yang dikunjungi oleh mereka kemarin. Di dalam hatinya, ia terus berdo’a semoga Jaehyun masih hidup saat ia temukan nanti.

 

“Jaehyun! Kim Jaehyun!” Peluh bercucuran di keningnya ketika Kwangjin tiba di rumah tersebut. Ia terus berlari sepanjang perjalanan kemari. “Apa kau ada di sini? Jawab aku!”

 

Kondisi rumah ini masih sama seperti kemarin, hanya lampunya saja yang padam. Terpaksa ia mengeluarkan ponsel dan menggunakannya sebagai senter. Siang hari yang terik pun terasa suram dari dalam sini.

 

Setelah mencari selama 10 menit, Kwangjin tiba di depan kamar mandi di lantai dua. Di rumah ini, hanya pintu kamar mandi itu yang terkunci. Dan itu yang membuat Kwangjin merasa curiga. Dengan kekuatan yang tersisa, ia mendobrak pintu itu.

 

“Jaehyun!” jeritnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang berada di hadapannya. Jaehyun tengah terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat.

 

“Jaehyun, bagaimana kau bisa berada di sini? Kenapa kau tidak pulang?”

 

“Me-mereka mengunciku di sini semalaman, sejak kau meninggalkanku kemarin.” Suaranya hampir hilang, mungkin ia terus berteriak meminta bantuan semalaman.

 

“Siapa yang kau maksud? Mereka siapa?”

 

“Manekin-manekin itu. Mereka semua hidup dan mengunciku di sini!”

 

“Mana mungkin itu bisa terjadi. Kemarin dan hari ini, posisi semua manekin tetap sama. Tidak berpindah seinci pun,” sanggahnya. Mana mungkin Kwangjin mudah percaya kalau ia tidak melihat langsung.

 

“Mereka berkata akan membunuhku sore ini sebelum matahari terbenam. A-aku tidak mau menjadi bagian dari mereka dan terkurung di sini selamanya!”

 

“Kalau begitu, ayo kita keluar dari neraka ini! Sebentar lagi petang,” Kwangjin segera menarik pergelangan tangan Jaehyun dengan sedikit memaksa.

 

“A-aku tidak bisa berjalan.” Suaranya bergetar. Kwangjin mengangkat tubuh Jaehyun dan menggendongnya di punggung.

 

Ia berjalan dengan hati-hati sekali hingga ke lantai satu. Semuanya terlihat menyeramkan di matanya. Bahkan hanya suara dari lantai kayu yang mereka pijak pun membuat bulu kuduk berdiri. Rasanya para manekin itu menjadi lebih seram daripada kemarin. Dan terdapat aura pembunuh yang menguar dari sepasang bola mata kayu itu. Kwangjin menelan salivanya dengan gugup. Jaehyun yang berada di punggungnya, terus merapal do’a untuk keselamatan mereka.

 

“Mana manekin yang menguncimu di sana?” tanya Kwangjin saat mereka melintasi dapur.

 

Jaehyun melihat sekelilingnya dengan ragu. “Y-yang itu!” serunya.

 

“Dimana?”

 

“Yang di dekat lemari itu. Yang membawa pisau.”

 

Sringg… Mata namja berambut sebahu itu menagkap sebuah kilatan dari bola mata si manekin yang ditunjuk. Aneh memang, karena lampu padam dan tidak ada sinar yang masuk. Takut? Ya, tentu saja. Kwangjin mempercepat langkahnya hingga Jaehyun menyuruhnya untuk berjalan lebih perlahan, karena mereka hampir terjungkal. Akhirnya di ujung ruangan, mereka dapat melihat pintu keluar dan segera keluar dengan selamat.

 

“Aku tidak mau kembali lagi ke sana dan jangan paksa aku!”

 

“Ya! Siapa yang menyuruhmu masuk ke sana, hah? Kau yang memaksaku!” sahut Kwangjin kesal.

 

“Baik, aku yang salah.”

 

“Ayo kita pulang! Jaekyung noona sudah cemas menunggumu di rumah.”

 

Mereka pun berjalan menjauhi rumah manekin itu. Namun tanpa mereka sadari, sepasang mata kayu tengah memperhatikan mereka yang semakin lama semakin menjauh.

 

Kalian akan kembali ke sini…

 

Kalian akan kembali…

 

Dan tidak akan pernah keluar lagi…

 

 

 

END

 

Advertisements

4 thoughts on “[FREELANCE] The Mannequin

  1. Bolehkah mengumpat? Anjir aku merinding seriusan karena aku juga takut banget sama manekin (tapi nekat baca😂)
    Keren keren!! Kalo aku yg dikunciin manekin udah mati duluan sebelum dibunuh😂

    1. Halo… Aduh maaf banget baru ngebales commentnya sekarang. Abis terlalu asik liburan hehehe. Makasih udah mau nyempetin baca dan ninggalin jejak^^

  2. Siapa yang bermata kayu itu? Orang gila kah?? Manekin yang ngunci si Jaehyun kah?? Ah.. Jadi takut sendiri…
    Baca cerita ini, aku jadi keinget emang ada rumah yang dipenuhi manekin manekin gitu tapi aku lupa dimana, aku juga inget manekin bridal yang katanya bisa ganti gaya saat nggak ada orang…
    Dan kakak berhasil membuat bulu kudukku meriang karena ff ini… 😒
    Keep writing kak 😊

    1. Hai! Wah aku dipanggil kakak😂 Aku emang pernah baca 2 cerita itu dan langsung gatel pengen nulis hehehe. Btw makasih udah mau baca fic gak jelas ini, yang walaupun udah lama tapi tetep masih absurd…

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s