[Vignette] Believe in Santa


Believe in santa

Believe in Santa

by tyavi

VIXX Hongbin and OC’s Navi

Romance, Fluff, a little bit Comedy | Vignette | G

©2015 tyavi’s CHRISTER Story

Summary :

Navi tidak percaya pada Santa

.

.

.

Navi tidak percaya Santa. Sudah berulang kali Ravi mengatakannya. Dengan semangat dan kening berkerut-kerut, menceritakan keanehan saudari kembarnya yang tidak percaya pada pria gembul berpakaian merah putih yang biasa memberikan hadiah pada malam natal. Tapi tenang saja, Navi tetap suka natal kok, Ravi menambahkan.

Tak jarang Ravi sampai berselisih paham(meski sehari-harinya mereka tidak bisa dikatakan sangat akur, sih). Kalau dihitung-hitung, ralat, rasanya sudah tidak terhitung berapa kali ia dan Navi berdebat tentang si pengemudi kereta rusa. Sampai-sampai Ravi lupa kapan terakhir kali Navi percaya pada Santa. Eh, atau dia memang tidak pernah percaya, ya?

Kalau ditanya, awalnya Navi akan mengeluarkan pendapat kalau Santa itu mustahil, mengingat apa yang tertulis di setiap buku cerita miliknya mengatakan Santa itu gembul. Lalu bagaimana ia bisa masuk ke dalam cerobong asap? Mustahil ‘kan?

Mendengarnya lantas membuat Ravi jatuh terpingkal. Baru berhenti saat kepalanya dicium dengan bola basket baru, hadiah natal Navi.

Kalau disangkal, Navi akan berkelakar, “Kalau Santa memang akan mengabulkan permintaan kita, kenapa ia malah memberiku stik baseball alih-alih boneka polar bear yang kuinginkan?” Lantas malam itu Ravi habis dipukuli dengan ‘mainan baru’ Navi karena menertawakan saudarinya yang ingin sebuah boneka.

Cerita barusan hanyalah segelintir dari banyaknya alasan yang Navi keluarkan dan justru membuat Ravi tak bisa menahan tawa mendengarnya. Kendati ujung-ujungnya si saudara kembar berbeda kelamin itu akan menyetujui perkataan Navi atas ancaman berhenti-atau-mati.

Menginjak dewasa, Navi semakin teguh dengan keyakinannya. Kali ini ia membela diri dengan asumsi ‘aku bukan bocah berumur lima tahun lagi’, lalu berikrar kalau ia sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau semua hadiah di bawah pohon natal itu adalah ulah kedua orangtuanya.

Tapi Ravi tak serta-merta diam saja melihat pemikiran ‘ajaib’ saudari kembarnya. Tak jarang ia melakukan berbagai hal untuk membuat si gadis yang lebih muda lima menit darinya itu memercayai Santa. Seperti saat ini misalnya. Biasanya kalau malam natal seperti ini, Ravi akan pura-pura pergi keluar rumah, meninggalkan Navi menjaga rumah sendirian. Lalu beberapa saat kemudian akan terdengar bunyi bel.

 

Ding…dong…

 

Benar ‘kan?

Tidak sampai di situ. Karena kalau Navi buka pintunya sekarang, di hadapannya pasti akan berdiri seorang pemuda—

“Hoho!”

—berkostum Santa.

Binggo! Lagi-lagi Kim Ravi melaksanakan rencana bodohnya di malam natal.

Well, lihat yang ada di hadapannya sekarang. Seorang pemuda jangkung dengan topi merah putih dan kostum kebesaran berwarna senada, membawa kantung besar yang nantinya akan ia katakan berisi hadiah. Bahkan penampilannya tampak semakin konyol dengan hidung badut yang si pemuda gunakan. Ha! Ravi pura-pura sebagai Santa lagi—eh, tapi tunggu. Kendati berpakaian seperti ini, Navi masih dapat mengenali Ravi, saudara kembarnya. Sedangkan pemuda di hadapannya? Um, Navi yakin sekali kalau ia bukan Ravi.

Pasti Ravi menyuruh seseorang menjadi Santa karena telah kepergok empat kali.

Sudah menit ketiga dari detik pertama Navi membuka pintu, namun gadis berpiyama biru itu masih bergeming. Bahkan kini kedua manik karamelnya memincing! Melayangkan tatapan penuh intimidasi. Sadis.

M-merry christmas,” si pemuda berujar canggung.

Navi menghela napas jengah. “Kalau Ravi yang menyuruhmu, bilang padanya kalau ini sangat kekanakan.” Lantas tangannya bergerak mendorong kembali pintunya tertutup. Tapi si lelaki lebih cekatan menahan dengan sebelah lengan kekarnya. Tentu Navi kalah kuat.

“Tunggu, Nav. Ini aku!”

Tapi bukan hanya itu yang membuat Navi menghentikan pergerakannya, terlebih suara rendah yang amat ia kenal menyapa gendang telinganya barusan. Terperangah, wajah Navi kembali menengadah dan benaknya menerka.

Suara itu…

Melepaskan benda berbentuk bola yang bertengger di ujung hidungnya, si pemuda tersenyum. Membuat retina Navi dapat menangkap jelas wajah si pemuda yang tanpa cela dan, ehem, selalu membuatnya, bagaimana mengucapkannya? Anggap saja tidak waras.

“H-hongbin?”

“Hai Nav.”

Senyuman maut si pemuda semakin merekah menanggapi keterkejutan Navi. Merasa lega kalau si gadis masih dapat mengenalinya.

Oh, bencana apa lagi yang harus dihadapi Navi alih-alih seorang Santa gadungan ulah Ravi? Yang ini justru membuat Navi ingin berteriak “Bisakah Navi meminta Santa yang ini sebagai hadiah natal?”. Aih.

Rasanya ia akan mengeluarkan beribu sumpah serapah, atau mengutuki situasinya saat ini. Namun sepersekian sekon kemudian otaknya mengacu pada seseorang.

“Ravi yang menyuruhmu?” ujarnya lugas dan dibalas gelengan kepala. “Lalu, kenapa kau bisa datang ke sini?”

“Aku menemukan sebuah kotak di depan rumahku dan saat kubuka, terdapat kostum ini dan surat yang berisi alamat rumahmu.” Diulurkannya surat yang tergenggam di tangan. Menunjukkan pada Navi kalau di sana tertera gambar peta kecil menuju rumahnya. Gambar yang Navi yakin pasti dilakukan oleh bocah alih-alih pemuda di hadapannya. “Tidak terdapat tulisan Ravi ‘kan?” imbuh Hongbin.

“Siapa yang melakukannya?” Navi bertanya dengan sebelah alis terjungkit.

“Entahlah.” Hongbin mengedikkan bahu. “Mungkin Santa?”

Navi tergelak. Yang benar saja, apakah pemuda yang berdiri di hadapannya ini adalah Lee Hongbin? Sungguh, Navi tidak percaya pemuda itu bisa berkata demikian.

Mengerutkan kening heran, Hongbin bertanya polos. “Kenapa kau tertawa, Nav?”

“Santa? Apa barusan kau bilang Santa yang melakukannya?” ujar Navi di sela-sela tawanya. Bahkan kini ia mulai memegangi perutnya yang terasa sakit. Terlalu banyak tertawa sepertinya.

Kelakuan Navi berbanding terbalik dengan reaksi pemuda di hadapannya yang kini menatapnya intens. “Kau tidak percaya Santa?”

Menghentikan tawa, Navi menghirup oksigen banyak-banyak. “Iya,” jawab Navi pasti. “Bagiku santa itu tidak—”

“Kenapa tidak kau cek hadiah di bawah pohon natalmu, Nona Kim?”

Mengernyit, Navi balas bertanya. “Apa maksudmu?”

“Sekarang sudah tengah malam, omong-omong.”

Ucapan Hongbin barusan membuat Navi sontak memutar kepalanya cepat, dan mendapati jam dinding di ruang tamu menunjukkan garis lurus—pukul dua belas malam. Navi kembali menoleh ke arah Hongbin dengan ekspresi tidak percaya. Namun si pemuda malah menyuguhkannya senyum manis seakan berkata “tunggu apa lagi, Nona?”. Sebenarnya Navi ragu, kendati kemudian kakinya tetap melangkah menuruti kuriositasnya, diiringi langkah kaki Hongbin mengekori. Menjadikan sebuah tanaman cemara berhiaskan lampu-lampu dan gantungan natal sebagai destinasi. Dan saat tubuhnya merunduk, maniknya terkunci pada sebuah kotak berwarna biru langit yang berdesakan dengan kado lainnya. Sungguh, Navi baru melihatnya. Mengulurkan tangan lantas mengamit si benda persegi yang kalau diteliti lebih seksama, terdapat sebuah kartu kecil bertuliskan “untuk Navi”. Tulisan yang sangat rapi, omong-omong (menyakinkan Navi kalau itu bukan tulisan Ravi).

Dan ekspresinya tak jauh berbeda kala membuka penutupnya dan menemukan hadiahnya berada di dalam sana.

“Topi ini!” pekik Navi tanpa sadar. Irisnya membelalak menemukan sebuah topi berwarna baby pink. Topi yang kalau Navi tidak salah ingat, ia lihat di toko jaket sport kemarin. Topi yang kalau Navi boleh jujur, sangat ia inginkan!

Berbinar dengan mulut sedikit terbuka—tidak percaya—membuat Navi tidak menyadari kurva yang terjungkit tinggi di paras Hongbin. Ternyata tidak sia-sia usahanya membututi sang gadis yang tengah pergi dari toko ke toko, sibuk mencari hadiah untuk adik perempuan dan kembarannya. Bahkan sabar menunggui gadis bersurai kelam itu selama setengah jam mematut diri dengan topi barusan di kepala dan berujung meletakkannya kembali karena uangnya kurang. Well, Navi telah menghabiskan tabungannya membeli satu jaket sport untuk Ravi dan sebuah skirt katun untuk Anna.

“Tapi bagaimana bisa?” Navi tiba-tiba menoleh dengan sebuah tanya. Beruntung ia tidak menaruh curiga pada senyum Hongbin.

“Um, bisa saja saat kita mengobrol di depan pintu, Santa datang. Merangkak dari cerobong asapmu lalu menaruh kado di—”

“Konyol!” sela Navi memasang ekspresi tidak setuju. “Santa itu mustahil! Bukankah ia diceritakan sebagai seorang kakek tua yang gembul? Lalu bagaimana ia bisa masuk ke dalam cerobong asap? Mustahil ‘kan?”

Berbeda dengan Navi yang berapi-api, Hongbin mengedikkan bahu dan berujar santai. “Tidak ada yang mustahil, Nav.”

“Bin, kau itu bukan bocah berumur sepuluh tahun!”

“Kau itu yang terlalu kritis.” Hongbin berujar seraya menoyor pelan dahi Navi.

“Lagipula kau ‘kan Santa, kenapa percaya lagi dengan Santa—yang katamu asli. Berarti kau Santa gadungan, dong?”

Oh, ucapan Navi sukses membuat Hongbin mati kutu. Karena kini pemuda Lee itu bungkam.

“B-bukan,” Hongbin masih berusaha mempertahankan rencananya agar tidak terkuak oleh si gadis yang kritis.

“Lalu?” balas Navi seraya memincingkan mata.

“Aku…”

“Hm?”

“Aku…aku…”

Ugh, kenapa pemuda itu semakin terbata ditatap demikian?

“Aku…aku Santa…”

Alis Navi berjengit satu.

“Aku Santa untukm—”

.

BRAKKK

.

Terdengar suara pintu menjeblak disusul…

“HOHOHO! KIM NAVI YANG CANTIK, SANTA DATANG!”

…seorang pemuda jangkung lengkap dengan atribut Santanya.

.

Well, momen mereka harus terusik si Santa kesiangan.

.

fin

tyavi’s little note: tahu kan siapa Santa kesiangannya? XD

Advertisements

15 thoughts on “[Vignette] Believe in Santa

  1. KENAPA!? OH KENAPA RAVI SELALU DATANG DISAAT SEPERTI ITU!? ANE UDAH MNGIRA RAVI GA AKAN MENGGANGGU KETENTRAMAN NABIN TAPI TIBA2 DENGAN NORAKNYA DIA DATENG DAN ANE LANGSUNG PEN JEDOTIN PALA DIA KE TEMBOK!!
    MUSNAH! HANCUR SUDAH KEINDAHAN MASA DEPAN NABIN INI………

    BTW GEGARA MUNCULNYA RAPI ANE SAMPE LUPA MO KOMEN APA……SPICELES ANE MATA PEDES GINI DISUGUHIN BIBIN……BIARKAN ANE INGET2 DULU APA AJA YANG TADI ANE MO KOMENIN…

    RAVIIIIIIIIIIII ANZIIIIRRR PEN ANE CEKEEEEEEEEKKKKKKK

    1. HAHAHAHAHAHA DEUHH KAK IRISH LAGI PAKE KUOTA KUNTI YHAA XD XD XD
      JANGAN DIJEDOTIN ENTAR ANNA SAMA NAPI GA ADA YANG JAGAIN /EA/
      WADUH. JANGAN LUPA DONG WKWKW
      KOK PEDES -___-“

      1. KOK TAU ENTE? HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA XD EEEEEEHHH APAAAN HARUSNYA NABIN JADIAN EHH DI GAGALIN SI RAPI KAN KAMPRET………………..

        1. INI JAM, BERAPA KAK? :V
          PADAHAL PAN BIBIN MAU NGEGOMBEL “AKU SANTA UNTUKMU” EYAAH NAPI LANGSUNG BERSIMBAH DARAH /MIMISAN/

    1. ZIAL RAVI JADI ORANG KETIGA MULU IH KEZEL! Padahal punchlinenya ditunggu bgt, saat saat hongbin mau gombal eh malah dihancur leburkan/? sama ravi mahfudin ini zzzzz

      NABIN FOR LYFE DEH YA. Udah deh nav suka ma hongbin dah cuss jujur aja ih gemesh bgt sama pair yg ini ty seriuz. Ditunggu next ff nya!
      Ayang ravi cabs dolo

      1. ORANG KETIGA XD
        RAVI=SYAITON /?
        karena sesungguhnya kong itu ga direstuin gombal, nanti navi bisa bersimbah darah wkwk
        Nahh aku mau bikin readers lebih gemesh /kemudian dibagal nabin shipper/
        Nav emang suka nitt wkwk
        Yosh hati2, tengok kanan kiri ya mba yoanne

        1. Eeet dia bukan syaiton dia slave of ma heart dungcustraktrak tsaaaah
          Eh sekali-kali dong mo liat si bunga (re:hongbin) gombalin cewek -_- bosan liat rupa tampannya mulu. TY SIAP SIAP DIBEGAL TY KALO NEXT FIC NABIN GAADA ROMENS NYA.
          Yawla cabs kemana lagi diriku ty. Semua ff baru mu dah aku baca huft

          1. Wkwkwkwk syerem amat nit XD
            Iyasih ya mau liat Hongbin ngegombal. Tapi masalahnya cewek yg digombalin model navi sih wkwkwk
            WADUHHH JANGAN DONG MB YOANNE XD LAGIPULA KAN RNA EMANG SELALU KESELIP ROMENS WKWK
            eh kamu belom mampir di its beginning to look a lot like christmas (KenTory) lho /promosi/ /ala2 mba spg/

          2. YATAPI MB YOANNE MENGINGKAN ROMENS YG LEBIH/?
            wah kentory yg itu iya ya ntar kalo aku jalan” ke blogmu pasti komen deh dilapak yg satu itu yaaw

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s