[FREELANCE] Serakah


Serakah - Cover

Serakah

Songwriter: azeleza

Artist : Yoo Jiae [Lovelyz] || Min Yoongi [BTS]

Genre : School Life – Romance

Duration : Vignette

Rating : G

◊◊◊ S ◊◊◊

Jika kemarin ada yang bertanya pada Min Yoongi kapan terakhir kali ia membiarkan orang lain masuk ke apartemennya, maka Yoongi akan menjawab ‘sekitar enam bulan yang lalu’. Namun, jika pertanyaan itu dilemparkan hari ini, maka Yoongi terpaksa harus menjawab ‘satu menit yang lalu’. Kenyataan itu membuat Yoongi ingin mencaci tubuhnya yang terbelenggu penyakit bernama flu.

“Aku letakkan di sini tidak masalah?” tanya Yoo Jiae sambil meletakkan coat merah mudanya di atas meja. Tanpa permisi, ia masuk lebih dalam ke teritori pribadi Yoongi.

Flu dan kehadiran perempuan bernama Yoo Jiae di apartemennya? Petaka.

“Masalah,” balas Yoongi datar, masih menahan kesal.

Jiae langsung menoleh, merasa bersalah. “Serius? Aku taruh di lantai saja, deh,” katanya berbalik untuk meletakkan coatnya di lantai.  “Tidak apa-apa, kan?”

“Apa-apa.”

Jiae berjengit. Matanya membesar, jelas-jelas kebingungan. “Trus aku taruh dimana?”

“Jangan ditaruh dimana-mana. Kau pegang. Lalu bawa pulang. Sekarang,” kata Yoongi. Ia mengambil coat milik Yoo Jiae dari lantai, lalu menyodorkannya paksa kepada tangan sang pemilik.

Alih-alih menuruti perkataan –atau perintah– Yoongi yang notabene selalu sepedas ramyeon yang dijual di kantin sekolah, Jiae malah lebih tertarik terhadap suhu tubuh Yoongi yang ia rasakan lewat tangan Yoongi yang tidak sengaja menyentuh lengannya. “Kau panas banget, Ketua. Sudah minum obat? Sudah makan? Aku bisa buatkan bubur. Apa kulkasmu ada isinya? Tenang saja aku sudah bawa persiapan.”

Emang panas, banget, Wakil Ketua. Belum. Belum. Tidak perlu. Kosong. Puas? Bisakah kau angkat kaki dari sini sekarang?”

Mulut Jiae sudah terbuka, namun tidak ada suara apalagi kata-kata keluar dari sana. Beberapa helaan napas, Jiae masih diam seperti patung di dekat gerbang utama. Yoongi akhirnya hilang kesabaran.

“Biarkan aku istirahat, Yoo Jiae. Pekan olahraga akan diadakan minggu depan. Daripada mengacaukan hibernasiku –dan membuatku semakin sakit, sebaiknya kau urus beberapa dokumen yang masih belum ditandatangani kepala sekolah karena permintaan dana dari kelas tiga yang besarnya kelewatan. Heran. Sudah mau lulus tapi masih bikin repot.” Yoongi menggerutu sambil mendorong bahu Jiae. Menyuruh wakilnya di organisasi siswa tertinggi di sekolah itu pergi dari apartemennya.

“Sudah selesai, kok,” balas Jiae dengan sedikit berteriak. Ia bergerak ke kiri, lalu menjauh dari Yoongi. “Kau pasti tidak percaya, kan?”

“Tidak percaya,” balas Yoongi singkat.

Jiae mendengus. Menyipit sinis kepada Min Yoongi yang selalu mempertanyakan –dan meremehkan– kompetensi yang dimiliki Yoo Jiae sebagai Wakil Ketua OSIS.

Memang harus Jiae akui, ia berhasil terpilih sebagai wakil ketua hanya karena kepopulerannya di kalangan para siswa. Jika beberapa orang yang memilih Yoo Jiae ditanya mengapa mereka memilih perempuan itu, Jiae tahu pasti jawabannya adalah “Dia cantik,” atau “Dia baik,” atau “Dia anak direktur YooungLife Corp itu, kan?” Ia juga bukan perempuan yang super pintar, teliti, lihai membagi waktu, apalagi bernegosiasi. Yoo Jiae populer. Sudah, itu saja alasannya.

Sedangkan Min Yoongi, walaupun memperoleh lebih sedikit suara daripada Jiae, berhasil mendaratkan diri sebagai Ketua OSIS karena kepercayaan komite guru dan kepala sekolah. Mereka percaya pada sosok Min Yoongi yang berwibawa, pintar akademis, salah satu shooter andalan klub basket, dan ramah.

Iya. Ramah. (Author tidak salah ketik ._.v)

Ya, kau tidak mau pergi juga??” desis Yoongi sambil mengacak-acak rambutnya. Seketika itu juga ia merasa dunia seakan bergerak sepuluh derajat lebih condong ke kanan. Untungnya Yoongi berhasil menopang tubuhnya di sandaran bangku.

Lalu setelah entah berapa menit kemudian yang hanya bisa samar-samar Yoongi ingat, tubuhnya sudah berada di atas kasur. Berada di bawah selimut sambil mengigil kedinginan. Bibirnya terasa pahit bersamaan dengan perutnya yang mulai lapar.

“Ramah apanya, cih,” dumel Jiae yang sedang memeras kain untuk diletakkan di atas kening Yoongi.

Sebenarnya Jiae ingin sekali berteriak kepada seisi sekolah, menyadarkan para siswa dan guru yang tertipu sikap ramah dan murah senyum Min Yoongi. Andaikan orang-orang tahu seberapa menyebalkan dan dinginnya Yoongi, pasti Jiae akan sedikit lebih lega. Salah apa Yoo Jiae di kehidupan sebelumnya hingga ia terpilih menjadi satu-satunya orang di sekolah yang mengetahui watak asli seorang Min Yoongi?

“Dasar Ketua muka dua.”

“Aku mendengarmu, Wakil.”

“Hih, kau mengagetkanku!” Jiae diam sebentar, memperhatikan wajah putih Yoongi dan deru napas laki-laki itu yang berangsur normal. “Kau sudah kuat untuk bangun? Buburnya sudah jadi, nih.”

“Tidak beracun?”

Jiae mendesis, terpaksa memutuskan untuk menyalurkan kekesalannya dengan hanya memeras kain sekuat tenaga, lalu melemparnya ke arah Yoongi dengan asal. “Kalau beracun, sekarang aku sudah ada di alam sana,” katanya sebelum berjalan menuju dapur.

◊◊◊

Sampai Yoongi berhasil melahap suapan bubur terakhirnya, lalu meminum air dan menelan obat, Jiae tidak mendengar satupun ucapan terima kasih terlontar dari mulut laki-laki itu. Batinnya meronta, namun ia tidak menyuarakannya ke dunia nyata. Toh ia lelah juga adu suara dengan si Ketua. Jujur saja, Jiae tahu siapa yang akan kalah jika perdebatan terjadi –dirinya.

“Aku tidak tahu kau seorang underground rapper,” ucap Jiae, berusaha tidak terdengar kaget ketika ia melihat piagam penghargaan di atas meja belajar Yoongi. Ia mengangkat piagam yang lain. Sekali lagi berusaha memastikan kenyataan yang ada. “Whoa, piagam yang ini untuk The Best Composer. Whoaaa.”

“Letakkan itu sekarang atau aku benar-benar akan menyeretmu keluar dari sini. Cepat pulang sana,” kata Yoongi tidak suka.

Sebuah bom meledak di hati Jiae. Ada batas di mana seseorang bisa bertindak keterlaluan. Dan menurut Jiae, Yoongi telah menembus batas itu. Ia berbalik dan berjalan cepat ke samping kasur Yoongi. Alisnya naik sebelah. Mulutnya bergerak tanpa suara –komat-kamit menahan amarah.

Kemana Min Yoongi yang selalu tersenyum kepada teman ataupun junior yang menyapanya? Kemana Min Yoongi yang selalu merendah ketika dipuji oleh guru karena berhasil membantu pekerjaan mereka? Kemana Min Yoongi yang selalu mendapatkan tepuk tangan meriah atas pidatonya yang berwibawa tiap upacara Senin pagi di sekolah? Kemana Min Yoongi yang selalu berterima kasih setiap hari kepada rekan OSISnya?

Entahlah kemana.

Karena bagi Yoo Jiae, Min Yoongi yang seperti itu tidak pernah sepenuhnya nyata. Min Yoongi yang ia kenal adalah laki-laki dingin, tukang marah, bermulut pedas, dan tidak suka diganggu.

“Apa? Kau mau mewek lagi?” tanya Yoongi. Jelas-jelas merujuk peristiwa di mana Jiae menangis ingin hengkang dari jabatan Wakil Ketua OSIS karena sudah tak tahan dengan semua ucapan pedas Yoongi yang tidak ada habisnya. Entalah, mungkin otak Yoongi memunyai pabrik cabai sendiri yang fokus memproduksi kalimat-kalimat pedas.

“TIDAK!” teriak Jiae. Ia menarik napas panjang-panjang. Jiae yang sekarang bukanlah Jiae yang dulu.

Memangnya ia boneka yang tidak tahu caranya menjadi dewasa? Memangnya ia sebodoh itu mau saja dimarahi terus menerus oleh ketuanya?

Iya, Min Yoongi yang selalu memarahi keteledorannya. Menyuruh Jiae mengoreksi satu per satu kesalahannya walaupun malam sudah terlalu larut bagi dua remaja delapan belas tahun berada di sekolah untuk membenahi laporan pertanggung jawaban sebuah acara. Memberi Jiae tugas survei keliling kelas demi mendapatkan ide pekan olahraga yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Atau memaksa Jiae belajar berbicara di depan orang banyak dengan benar –lalu sengaja tidak masuk sekolah pada hari Senin sehingga Jiae harus menggantikan sang Ketua berpidato saat upacara.

“Kau. Menyebalkan. Sangat sangat sangat menyebalkan.” Jiae berhenti untuk menarik napas lagi dan berpikir apakah ia benar-benar akan mencurahkan semua isi hatinya kali ini…

Well, memangnya mau kapan lagi?

“Kau pandai. Pintar olahraga. Handal berbicara. Berwibawa. Teliti. Cekatan. Jago berpura-pura ramah. Bisa membagi waktu dengan baik. Semua program kerjamu berlajan lancar dan selalu lebih keren dari sebelumnya. Kau Ketua OSIS yang dibanggakan. Lalu kau juga seorang rapper dan composer berbakat.

Oh, kau bisa hidup mandiri dan tinggal di apartemen mewah seorang diri. Awalnya kukira apartemenmu akan berantakan seperti kapal pecah. Tapi ternyata sangat bersih seakan kau sama sekali tidak punya celah. Memangnya seberapa banyak lagi kau ingin mengambil semua predikat baik yang ada di muka bumi ini untuk disandang, Min Yoongi?? Kau sangat serakah!”

Jiae mendengus, tanpa sadar kapan ia meletakkan telunjuknya di kening Yoongi. Tanpa mau peduli juga atas tidak-suka-tapi-suka-nya ia pada Min Yoongi. Laki-laki itu selalu berhasil mengacaukan emosi Jiae. Suatu waktu membuat Jiae keki setengah mati, namun suatu waktu lain membuat Jiae bangga telah menjadi salah satu tangan kanannya.

Yoongi menepis tangan Jiae, lalu bangun dari posisinya untuk mengernyit bingung atas perubahan sikap sang wakil yang begitu signifikan. “Kau ini ngomong ap-”

“Aku belum selesai!” sela Jiae.

“Dengar ya, aku adalah anak perempuan terakhir di keluargaku. Selalu dimanja. Tidak pernah susah dan repot. Pokoknya hidupku semudah membuat bubur di rice cooker dengan perbandingan beras dan airnya adalah satu banding tiga, lalu tinggal menunggunya selama tiga puluh menit, sebelumnya jangan lupa tambah bumbu sesuai selera. Kau harusnya bangga karena bubur yang kau makan adalah masakan pertamaku selama delapan belas tahun bernapas di dunia.“

“Yoo Jiae apa mak-“

“IIh, biarkan aku selesai bicara.” Jiae gregetan, seakan ia akan sangat sangat sangat kecewa jika tidak mengutarakan ini semua sekarang juga.

“Pokoknya karena ulahmu, aku jadi harus belajar ini itu. Mengerjakan ini itu. Membuang waktu senggangku di hari Minggu untuk membenahi laporan ini itu,” ucap Jiae dengan bibir mengerucut.

“Pokoknya semua. Bahkan Ayahku tidak pernah mau membangunkanku pagi-pagi saat weekend. Tapi kau malah mengancam akan membuang semua pernak-pernik kesayanganku di ruang OSIS kalau tidak mau rapat online jam enam pagi dengan calon siswa program pertukaran pelajar hari Minggu kemarin. Jam enam pagi. Dari dua puluh empat jam yang tersedia, kau memilih jam enam pagi, Min Yoongi. Apa kau gila?”

“Di negaranya sudah jam sembilan…” Yoongi berusaha memberikan alasan. Tubuhnya sudah menempel pada sandaran kasur. Mencoba menjauh dari tubuh Jiae yang terus mendekat sambil berapi-api berucap.

“Tidak peduli! Kenapa tidak habis dia makan siang saja?? Lalu ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengurus pekan olahraga, kau malah sakit. Tidak ada yang salah dengan itu, sih. Yang menyebalkan itu adalah ternyata kau sudah mulai sakit sejak dua hari yang lalu, tapi kau tetap memaksa masuk dan mengurus ini itu sampai akhirnya kau pingsan saat pelajaran olahraga kemarin.

Setidakpercaya itukah kau kepada kemampuanku? Kalau saja kau mau memberikan tanggung jawabmu sedikit lebih banyak kepadaku, kau pasti sekarang tidak sedang tidur-tiduran di sini dengan wajah pucat seperti orang mau mati…Kau tidak akan sakit seperti ini. Lagipula kau bisa mengajariku kalau memang urusannya sulit. Aku kan wakilmu…kenapa…”

Kali ini bibir Jiae berhenti untuk menggigit mulut bagian dalamnya –menahan air mata yang mulai mendesak ingin keluar. Yang parah adalah, otaknya tidak paham kenapa ia ingin menangis.

Kesal terhadap Min Yoongi?

Khawatir terhadap Min Yoongi?

Kesal dan khawatir karena di sekolah hari ini tidak ada Min Yoongi?

“Maaf…dan terima kasih, Yoo Jiae.”

Jiae berteriak tertahan mendengar kalimat itu. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Maaf? Terima kasih? Tipuan macam apa ini? Yang pasti tidak akan mempan. Perasaannya masih terlalu campur aduk untuk menerima deklarasi perdamaian.

“Maaf atas apa? Terima kasih atas apa? Kau menyebalkan!! Tapi aku tidak bisa membecimu, membuat poin menyebalkanmu jadi dikali dua pangkat seribu. Kau sudah terlanjur membuatku repot. Daripada setengah-setengah, kau harus terus membuatku repot sampai kepengurusan kita berakhir! Jangan pernah menyuruhku pergi, apalagi mengurus semuanya sendiri. Paham?”

“Hm.” Yoongi menggumam sambil mengangguk kecil.

“Jangan pernah memaksakan diri.”

“Hmm.”

“Jangan lupa makan dan menjaga kesehatan.”

“Hmmm.”

“Jangan lupa istirahat.”

“Hmmmm.”

“…Seriusan?” Kali ini Jiae diam karena bingung atas sikap ‘manis’ Yoongi. “Kau tidak sedang setuju-setuju-saja supaya aku berhenti marah, kan?”

“Tidak,” balas Yoongi dengan cepat. “Aku serius. Aku benar-benar akan merepotkanmu setelah ini. Memberikanmu otoritas lebih banyak lagi untuk mengatur laporan pertanggung jawaban acara. Lalu laporan harian juga. Kau bisa mengurus relasi dengan beberapa OSIS SMA lain mulai besok. Lalu untuk komunikasi dengan setiap klub yang ada di sekolah, kau bisa ikut memban-“

“Em…tunggu, Ketua-”

“Iya, pidato rutin juga akan kuberikan kepadamu setiap dua minggu sekali.”

“Ha ha…yang itu tidak usah, sungguh.” Jiae mencengkram kepalanya, yakin bahwa setalah ini ia akan semakin kerja rodi.

“Tidak masalah. Maafkan aku yang tidak peka. Sepertinya kau sangat bersemangat mengurus ‘semuanya’.” Yoongi menarik sudut bibir kanannya, menghadiahkan Jiae dengan sebuah senyum miring yang memiliki arti jauh dari ‘kabar baik’.

“Semangat, ya, Wakil Ketua. Aku mengandalkanmu.”

“Min Yoongi…,” Jiae terkekeh sinis dan terpaksa, “kau memang menyebalkan,” tambahnya dengan penekanan di setiap kata.

.

..

“Tapi…terima kasih,” balas Yoongi. “Terima kasih telah menjadi wakilku. Dan atas semuanya.”

“Ho. Ya…em, terima kasih juga.” Jiae segera memalingkan wajah. Ia sudah sering mengharapkan kalimat itu terlontar dari bibir Min Yoongi. Tapi setelah penantian panjang ia mendapatkannya, Jiae malah merasa perutnya seakan sedang digelitiki oleh sensasi yang sarat arti.

“Sekarang, bisakah kau pergi dari apartemenku?” pinta Yoongi dengan nada serius.

“Apa sih? Kenapa kau malah mengusirku lagi??” Hati Jiae kembali meradang. Padahal baru semenit yang lalu ia kira hubungan mereka dapat terjalin dengan lebih baik.

“Sebelum aku menjadi semakin serakah.”

“Apa?”

“Sebelum aku menuntut hubungan kita lebih dari sekedar Ketua dan Wakilnya.” Tangan Yoongi berhasil meraih ujung rambut Jiae, memainkan helaian itu di jemarinya. Lalu seakan sudah terbiasa, berpindah pada pipi Jiae yang mulai merona. “Sebelum aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku yang sesungguhnya kepadamu, Yoo Jiae.”

Panas. Telapak tangan Yoongi terasa panas di wajah Jiae. Entah kenapa malah membuat Jiae membeku di tempat. Paru-parunya sulit meraih oksigen di udara. Jantungnya memompa kencang seakan tidak akan ada hari lain setelah malam tiba. Jiae mulai bertanya, sebenarnya yang panas itu tangan Min Yoongi, atau wajahnya?

Mata mereka beradu tatap. Mencoba saling mengartikan maksud yang terpatri di dalam maniknya. Kebersamaan mereka sudah terlalu banyak untuk dijabarkan dalam satu –bahkan dua hingga tiga lembar kertas A4. Senang, sedih, panik, kesal, tawa, amarah. Ketika keduanya melihat ke dalam isi hati masing-masing, logika lagi-lagi berperan antagonis dan mengambil alih. Menghalangi jalan bagi kejujuran untuk mengklarifikasi semuanya.

“Yoongi…kau, kau ma-masih demam.” Setelah keheningan yang terasa begitu lama, Jiae berhasil mengeluarkan suara. “Mungkin kau harus ,em, istirahat. A-aku akan pulang setelah merapikan dapur.”

Yoongi tidak bicara, hanya menatap wajah Jiae yang berpaling darinya. “Mungkin,” kata Yoongi dengan suara parau, lalu menghempaskan kepalanya kembali ke atas bantal setelah Jiae berlari keluar kamar.

Ia menutup kedua mata, tidak lupa meletakkan lengannya di atas muka. Dalam hati merutuki diri sendiri kenapa ia tidak mengusir Jiae sejak awal. Cepat atau lambat, Yoongi tahu bahwa hal ini akan terjadi jika ia membiarkan Jiae berkeliaran di apartemennya.

Bagaimana Yoongi bisa tahan berduaan bersama Jiae dengan semua kualifikasi perempuan itu yang selalu menarik perhatiannya?

Lalu, dengan semua titel membanggakan yang menempel pada dirinya, Jiae sudah bilang bahwa Yoongi serakah?

Yang benar saja.

Yoo Jiae bahkan belum tahu, seberapa besar Min Yoongi menginginkan perempuan itu menjadi miliknya.

◊◊◊ fin ◊◊◊

◊◊◊ A/N ◊◊◊

Huaa, ini pertama kali nyoba ngirim ff freelance ke sini >.< Ini udah pernah dipost di Lovelyz Fanfiction Indonesia. Semoga terhibur dan bersedia meninggalkan jejak-jejaknya. Terima kasih :3

Advertisements

13 thoughts on “[FREELANCE] Serakah

  1. Mau komen apa yak *bingung*

    AHHHH TAPI SERU BANGET SUMPAH. Aku inget usui takumi di maid-sama deh wkwmwkwkwkwkwk ini lucu ih lucuuuu.. ngga pengen komentar apa apa sebenernya sih, tapi udalahhhh suka bgt♡

    1. IYA!! IYA! KOK TAU SIH AKU MIKIRIN USUI PAS NGEBUATNYA?
      Bagian Usui yg ngeromance bgt sama Misaki, yg seinget aku tuh pasti latarnya pink bunga2 gitu deeh wkwkwk XD

      Huee, makasih udah mau baca dan komentar :3

  2. HAAAAIII KAMUUU!!!

    APAAAIINIII AKU SUKAA BANGEETLAAAH ❤ ❤ ❤
    aku suka kemistri teman tapi musuh tapi diem-diem suka macem iniii X3
    mereka berdua gemesiin iiih! dan udagitu karakternya Yoongi macem cowok ganas tapi muka dua gitu kan? LOL XD
    dududuuuu jadi kepingin sekueel hahaha XD

    Btw, aku iin 94 line 😀 salam kenal~~

    SUKAAAAKKK BGT FF NYAAA ❤ ❤ ❤ ❤

    1. HAAIII, KAAK IIN. AKU AZEL 95 LINE ❤
      MAKASIH KAK UDAH MAU BACA DAN KOMENTAR #SEMANGAT45

      Huee, kemistri cem gitu sebenernya udah agak menstrim tau kak tapi ya gimana aku mah suka jugaaa :"")

      Jiae sih kak yg ngegemesin aku mah mau nabok Yoongi pake nampan, heran kenapa gak langsung dicium aja biar jadian #eaak
      Iya kak, tipe2 cowok betopeng gitu minta dicakar abiis #dicakarBalikSamaYoongi

      Sekuel…coming soon kak, ehehe :3

      MAKASIH KAK IIN AKU JUGA SUKA YOONGI #LOOOH

  3. AAA HALO! YAAMPUN BERASA PENGEN TERIAK SEKENCENG-KENCENGNYA TAPI INI UDAH LARUT~ BUT INI SUPERDUPER MANIS EW — AA KECE POKOKNYA! NDA BISA BAYANGIN YOONGI JADI SERAKAH GITI IH. A SUKA SUKA ❤ /soricapslock :D/ btw salam kenal, Drei imnida, 01L^^ keep writing, ya!

    1. #balespakecapslock
      AAA HALOO JUGA DREI! AKU AZEL 95L~ Salam kenal~ Makasih udah mau baca dan komentar yaaaaa .<

      Makasih sekali lagi Drei semangatnya hihihi

  4. YAAMPUN YAAMPUN KAKK AKU SUKA BANGETT! ADUH GA NGERTI LAGI MAU KOMEN APA. DAN ENTAH KENAPA BAGI AKU SCHOOL LIFENYA BERASA BANGET. AHHHH UNYUUU BANGETT, TERLEBIH AKU JUGA JIAE-YUNGI SHIPPER ><
    EMANG COCOJ BANGET DIBIKIN GINI: YUNGI GALAK, JIAE UNYU2 BLOON /PLAKKK/
    AHHH POKOKNYA HARUS ADA SEQUEL AKU GAMAU TAHU :'V
    SEE U KAK
    TATYANA, 97LINE

    1. YAAMPUN YAAMPUN MAKASIH TATY UDAH SUKA JUGAAA. HUEE SCHOOL LIFE GIMANA AKU NDAK TAHU PADAHAL AKU PAS SEKOLAH GAK BERASA APA-APA #curhat…
      IYAA SAMA BANGET IIH! COCOK GITU KAN YAK NYANG GALAK2 SAMA NYANG UNYU2 CEM GINI AKU MAH GAK KUAAD.
      SEQUEL BARU MUNCUL TATY DI LAPAK SEBELAH :”)
      MAKASIH SEKALI LAGI TATY UDAH MAU BACA SUKA DAN KOMENTAR ❤

  5. AZEL. APA APAAN BAGIAN YOONGI NGEGOMBAL “sebelum aku meminta lebih” KOK PENGEN NABOK SIH.
    real life gitu ya, kamu ga curhat kan? wk
    anyway suka kok, seru ngakak gimana gitu dan lagi kata sehari-hari yg kek ‘jago’ ‘mewek’ gitu pas bgt kamu italic jadi ga ada feel ‘kok pake kata ini sih’ . Good job zel 🙂

    1. HUE HAI KAK KIKI, AKU MALAH MAU NABOK YOONGI DARI AWAL SAMPE AKHIR :”) MAKASIH KAK UDAH MAU BACA DAN KOMENTAR .<

      1. Yah, kepotong…

        Heuheu, maunya sih real life kak….tapi aku mah apa dalam urusan romansa di dunia nyata #nangisDiPojokkan wkwkwk
        Aku make kata2 itu karena dua alasan. Pertama biar mereka keliatan anak SMAnya, trus kedua karena aku…gak nemu kata baku yg cuco? T.T

        HUE SEKALI LAGI MAKASIH KAK KIKI ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s