[FREELANCE] Last One


capture-20141105-092409

 

Cast : Hwang Hyunra

       Bang Minsoo

Author : GSB (@sadanema)

Genre : Romance, Fluff, Marriage life

Note : Sudah pernah dipublish di GIGSent fanfiction

Another Bang Minsoo Fic : Good Morning

Damn! She is the first!!!

~ Last One ~

Ia gelisah bukan main. Berulang kali kepalanya menoleh ke arah yang sama, matanya melirik jam dinding yang melekat di dinding ruang tengah. Sudah hampir satu jam lebih ia melakukan aktivitas yang sama. Bangun dari duduknya, kemudian berjalan mundar-mandir sambil meremas tangannya lalu melirik jam dinding dengan penuh harap, hingga akhirnya duduk kembali dengan perasaan tak keruan. Rangkaian kegiatan tersebut terus terulang seolah Jang Hyunra adalah sebuah robot yang sudah dikondisikan dengan pengaturan tertentu.

Ia tak akan menjadi seperti saat ini, jika saja ia tak memiliki penyakit ‘lupa tanggal’. Ia tak mengerti mengapa ia bisa mengidap penyakit seperti itu, walau sesungguhnya ia tak benar-benar yakin jika penyakit itu memang ada. Sebenarnya lupa tanggal itu sebuah penyakit yang berhubungan dengan sistem saraf atau hanya sebuah kebiasaan buruk yang telah mengakar dalam dirinya. Ia pun tidak tahu.

Ia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang cukup diperhitungkan. Lima hari dalam seminggu ia berangkat bekerja dan seharusnya untuk orang kantoran seperti dirinya mengingat tanggal itu merupakan hal yang penting. Tapi entah mengapa hal seperti itu tidak berlaku bagi Jang Hyunra yang telah berganti nama marga menjadi Bang semenjak lima bulan yang lalu.

Yah, sebenarnya Hyunra bukan seorang pelupa, walau tak menutup kemungkinan ia bisa melupakan banyak hal, seperti halnya tanggal. Tapi menurut pendapatnya, apa yang terjadi padanya bukan semata-mata karena lupa. Faktanya ia memang jarang mengecek kalender hanya untuk mengetahui tanggal berapa hari ini. Tapi begitulah dirinya. Dan karena hal itu ia melupakan peristiwa penting yang terjadi hari ini.

Sebenarnya insiden ini tidak akan terjadi jika saja ia tahu kalau hari ini bertepatan dengan tanggal 4 di bulan November. Hari dimana pria yang selama lima bulan ini telah membuatnya mendapat sebutan Mrs. Bang –walau sebenarnya Hyura kurang senang dengan sebutan itu– lahir ke dunia . Huh, dari sekian banyak nama yang ada, kenapa pria itu lahir dengan nama Bang? Oke, lupakan keluhannya yang satu itu.

Pagi tadi semuanya terasa biasa saja. Ia melakukan rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Membuka matanya, melepaskan tangan Minsoo yang melingkari tubuhnya yang membuat pria itu terjaga. Pria itu menatapnya dengan sayu, kemudian menggumamkan sapaan selamat pagi seperti biasanya. Setelah itu semuanya berjalan seperti biasa. Hyunra turun dari ranjangnya, pergi mandi dan bergegas. Ia meninggalkan Minsoo yang pada saat itu sudah kembali terlelap.

Memang semuanya berjalan lancar seperti biasa, namun saat perjalanan pulang ke rumah semuanya hancur berantakan. Kenyataan yang baru disadarinya meluluh lantakan ketenangannya. Ia baru sadar bahwa hari yang melelahkan ini bertepatan dengan tanggal 4. Itu artinya hari ini Mr. Bang si pendiam yang menyebalkan itu berulang tahun!!

Dan pria itu tidak mengatakan apapun padanya tadi pagi. Bahkan tidak mengirim sebuah pesan keluhan padanya karena tak menghiraukan peristiwa bersejarah hari ini. Bukankah biasanya seseorang akan merasa sangat marah jika pasangannya melupakan hari ulang tahunnya? Tidakkah pria itu mengharapkan kejutan manis atau hadiah darinya? Atau mungkin sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi hingga pria itu membuang harapannya jauh-jauh?  

Jika memang seperti itu, Hyunra merasa telah menjadi istri yang sangat buruk. Istri-istri di luar sana pasti akan menyibukkan diri mereka dengan merancang sebuah kejutan istimewa yang diisi dengan rencana-rencana luar biasa. Sebisa mungkin memberikan pesta ulang tahun yang berkesan untuk suami mereka. Dan malangnya Minsoo memperistri seorang Jang Hyunra yang bahkan baru mengingat hari ulang tahunnya pada saat perjalanan pulang.

Ia meloloskan desahan frustasi begitu pandangannya menyapu ruangan tempatnya berada sekarang. Terlalu biasa, terlalu normal, benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesta ulang tahun. Meja makan terlihat lengang. Hanya terlihat dua buah lilin berbentuk angka 2 dan 8 hasil perburuannya di toko kue tadi sore. Hyunra berharap Minsoo akan baik-baik saja dengan pesta kecil yang teramat sederhana darinya ini.

Tapi ia tidak akan menyalahkan pria itu jika tidak merasa senang dengan pesta darinya. Hyunra hanya memiliki sebuah cheese cake berdiameter dua puluh lima senti serta lilin angka dua puluh delapan untuk merayakan ulang tahun Minsoo. Ia bahkan tidak menyiapkan kado apapun. Jangankan kado, ia bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun pada suaminya. Bahkan melalui pesan singkatpun belum.

Sekejap tubuhnya menegang kemudian tanpa peringatan, tubuhnya bangkit begitu saja dari sofa. Suara decitan pintu depan membuatnya waspada. Ia tahu siapa yang baru saja datang. Memangnya siapa lagi?

Terdengar suara pijakan santai yang semakin lama semakin mendekat. Hyunra menggigit bibir bagian dalamnya, menatap cemas ke arah bayangan di lantai yang semakin jelas keberadaannya. Pandangannya merangkak naik ke atas hingga menemui wajah pemilik bayangan tersebut.

“ Belum tidur?” Minsoo kelihatan heran dengan keberadaannya saat ini. Wajar saja Minsoo heran, karena biasanya Hyunra sudah terlelap saat ia tiba di rumah.

Bukannya menjawab Hyunra malah berjalan ke arah dapur. Ia mengeluarkan cheese cake yang disimpannya di dalam lemari es. Diletakkannya kue berbentuk lingkaran itu di atas meja kanan. Lilin-lilin yang tadi terhampar di permukaan meja, ia tancapkan di atas kue.

“ Hari ini kau ulang tahun.”

Sepenggal kalimat sialan itu justru muncul dari mulutnya setelah beberapa jam yang lalu ia habiskan untuk melatih dirinya mengucapkan selamat ulang tahun serta rangkaian kata penyesalan yang ia buat.

“ Ya.”

Hyunra mengerutkan keningnya begitu mendengar respons dari Minsoo. Jelas-jelas ucapannya tadi bukan sebuah pertanyaan. Kenapa Minsoo malah menanggapi seolah ia baru saja bertanya?

Sebelum meledak karena rasa bersalah, Hyunra memutar tubuhnya. Mengamati Minsoo yang sedang memunggunginya. Pria itu tengah mengamati kue ulang tahunnya kemudian mencolek krim di atasnya. Minsoo benar-benar sibuk mencicipi kuenya dan mengabaikan Hyunra yang berada di balik punggungnya.  

Merasa diabaikan, akhirnya Hyunra mencoba memecah kebisuan. “ Today is your birthday, but I did nothing.

Tepat setelah itu Minsoo membalik tubuhnya. Menjilati telunjuknya yang penuh dengan krim keju. Tatapannya mendarat pada Hyunra yang terlihat tak nyaman. Wanita itu nampak sedang memikirkan banyak hal, meski Minsoo yakin jika hal itu bukan sesuatu yang sangat serius.

Oh God! How can I say it?” geram Hyunra.

Ia gemas pada dirinya sendiri yang tak bisa mengucapkan kalimat sesederhana itu pada Minsoo. Bagaimana mungkin seorang public relation sebuah perusahaan besar tak bisa mengatakan hal seperti itu?

What’s wrong with you?

Hyunra mengangkat tangannya. Menyuruh Minsoo untuk tak bicara lebih jauh. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan dan ia akan memastikan bahwa Minsoo tidak akan memiliki kesempatan untuk menyelanya.

“ Kenapa kau tidak memberitahuku kalau hari ini hari ulang tahunmu?”

Minsoo yang tadi nampak kebingungan akhirnya mendapat pencerahan atas tingkah Hyunra saat ini. Ia baru akan membuka mulutnya namun terpaksa mengatup begitu Hyunra meracau panjang tanpa jeda.

“ Aku bukannya lupa kau lahir pada tanggal 4 November. Tapi seperti yang sudah kau ketahui. Aku tidak terbiasa menengok kalender, which is membuatku tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu.”

“ Oke..itu tidak masalah–“

“ Aku tidak menyuruhmu bicara!”

Lagi-lagi Hyunra membungkam Minsoo yang hendak menyuarakan pendapatnya.

Hyunra menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sambil memejamkan mata. Ia kembali membuka matanya dan menatap Minsoo yang terlihat cemas dengan ledakan emosinya.

“ Kau tidak marah karena aku melupakan hari ulang tahunmu? Harusnya kau meneleponku atau apapun itu untuk mengingatkanku. Dan sekarang lihat! Aku hanya bisa memberikan kue tart dan lilin yang sumbunya bahkan belum tersundut api. That’s a best birthday party ever, right?”  lanjut Hyunra dengan nada sinis.

Pandangan matanya masih menyimpan rasa bersalah dan kecewa. Yah..Hyunra merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia memang tidak pandai memasak dan ia pun bukan figur istri ideal. Tapi ia tidak menyangka bahwa ia pun tidak bisa mengingat hari ulang tahun suaminya sendiri. Which means she is sucks in any case.

“ Istri-istri lain pasti akan sibuk menyiapkan ini dan itu, membuat segudang rencana untuk merayakan ulang tahun suami mereka. Tapi aku? Aku bahkan hampir melupakannya dan baru mengingatnya begitu melihat tanggal yang tertera pada surat kabar milik seorang ahjusshi di kereta. Kini aku bahkan tak bisa mengucapkan selamat ulang tahun padamu karena merasa terlalu malu. Dan..oh lihat! Sekarang bahkan sudah setengah dua belas lewat lima menit!” Hyunra tak habis-habisnya meracau kesal dan mendesah frustasi sambil mengacak rambutnya.

Melihat tingkah istrinya yang tak jauh berbeda dengan pasien rumah sakit jiwa, membuat Minsoo sedikit terhibur dan sedikit khawatir. Pria itupun mendekati Hyunra, meletakkan kedua tangannya pada bahu Hyunra. Mencoba menenangkan istrinya sebelum wanita itu benar-benar menjadi pasien rumah sakit jiwa.

“ Dengar. Hyunra dengar aku!” Minsoo sengaja menggunakan nada serius. Memaksa Hyunra menutup mulutnya dan memperhatikan Minsoo sepenuhnya.

Setelah cukup yakin jika Hyunra tak akan kembali mengeluarkan protes, Minsoo menyimpulkan senyumnya. Tangan kanannya terangkat, bergerak menelusupkan helaian rambut Hyunra ke belakang telinga. Pria itu membiarkan tangannya menangkup kepala Hyunra sambil sesekali mengusap pelipis wanita itu dengan ibu jarinya.

“ Aku sendiri lupa kalau hari ini hari ulang tahunku. Aku baru mengingatnya begitu mengaktifkan ponsel dan mendapati banyak pesan ucapan selamat ulang tahun,” jelas Minsoo dengan tenang, tak menekan atau terburu-buru.

Di lain sisi Hyunra membeku. Ia sudah merasa sangat buruk setelah apa yang terjadi padanya hari ini, kini ia merasa semakin buruk begitu tahu bahwa orang-orang luar yang bahkan tidak tinggal satu atap dengan Minsoo telah mengucapkan selamat ulang tahun pada suaminya. Keningnya semakin berkerut dan kepalanya kembali panas.

“ Dan kenapa aku tidak memberitahu dirimu? Well..actually I don’t know. Dan jika seandainya kau benar-benar lupa, aku akan membuatmu membayar semuanya. Kau mengertikan maksudku? Aku selalu mendapatkan apapun yang kumau, begitu juga dengan ucapan selamat ulang tahun atau hadiah darimu.”

Minsoo tersenyum jahil membayangkan rencanananya. Namun Hyunra sama sekali tidak menyadari nada aneh pada suara Minsoo. Ia terlalu sibuk memikirkan hal lain. Ia kembali menatap Minsoo dengan intens. Membuat pria itu berhenti tersenyum dan mengerutkan alisnya.

“ Siapa orang pertama yang mengucapkan?” nada suara Hyunra terkesan mengancam dan menekan.

Minsoo berpikir sejenak. Keningnya berkerut, alisnya bertaut dan matanya beradu dengan mata Hyunnra. Apa wanita itu menginginkan jawaban jujur darinya? Karena kalau iya, Minsoo yakin Hyunra akan bertingkah lebih kacau daripada apa yang telah terlihat saat ini. Tapi setelah mempertimbangkan beberapa hal, Minsoo memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Tak peduli Hyunra akan berteriak histeris atau melempar semua perabot di rumah ini. Meski ia tak begitu mempermasalahkan kesalahan Hyunra, tapi menurutnya Hyunra perlu sedikit hukuman. And she deserves it.

“ Maeri.”

Hyunra langsung membelakkan matanya. Dari sekian banyak orang yang mengenal Minsoo, kenapa harus wanita itu? Kenapa harus Im Maeri? Kenapa harus si akuntan seksi yang memikat banyak pria karena bentuk tubuhnya yang menggoda? Kaki jenjang yang mulus, tubuh ideal layaknya seorang model serta ukuran dada yang mampu membuat pria manapun bersimpuh di kakinya. Pria manapun, kecuali suaminya. Kecuali Bang Minsoo.

Namun sekuat apapun usahanya untuk melenyapkan perasaan kesal itu, tetap saja perasaan itu tak mau pergi. Membayangkan Maeri menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat pada Minsoo membuat darahnya mendidih. Ia membenci wanita itu setengah mati. Karena bagaimanapun wanita itu hampir menggagalkan pernikahannya dengan Minsoo. Dan setelah apa yang dilakukan wanita itu, Minsoo masih berhubungan baik dengan Maeri. Dengan si akuntan seksi yang sialnya adalah mantan pacar Bang Minsoo.

Oh Tuhan!!!

Hyunra menyentak tangan kiri Minsoo yang masih mencengkram bahunya. Ia juga berusaha melepaskan tangan kanan Minsoo yang tengah mengusap kepalanya. Sumpah demi apapun ia ingin menenggelamkan wajahnya ke bantal dan tidur memunggungi Minsoo. Harusnya ia yang menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Minsoo bukan Maeri.

“ Oke..selamat ulang tahun. Maaf karena aku terlambat mengucapkannya, mungkin aku menjadi orang terakhir yang mengucapkannya.” Hyunra mendesah keras-keras, sebelum kembali mengumpulkan kepercayaan dirinya untuk menyambung ucapannya. “ Oh..payah sekali, bukan?”

Minsoo tak menanggapi ucapan Hyunra. Pria itu masih merapatkan bibirnya, menahan tawa yang dari tadi sengaja ia tahan. Rasanya benar-benar menyenangkan bisa membuat Hyunra kesal dan cemburu.

“ Huh..Maeri yang mantan pacarmu saja bisa mengingatnya, bagaimana bisa aku melupakannya? Dan ironisnya aku menjadi orang terakhir–“

“ Apa salahnya menjadi orang terakhir?”

Hyunra mendecak, terlihat sangat jengkel dengan pertanyaan Minsoo.

“ Karena Maeri menjadi orang pertama,” tandasnya ketus.

“ Lalu dimana letak salahnya?”

Hyunra kembali mendecak. Kenapa Minsoo belum mengerti juga?

“ Karena Maeri menjadi sangat istimewa, karena…damn! She’s the first!!

So what?

Kali ini Hyunra yakin akan benar-benar mencekik Minsoo. Ia mendesah lelah sebelum akhirnya melemparkan pertanyaan yang sama.

So what?

Setelah itu mereka berdua sama-sama terdiam. Memandangi satu sama lain dalam keheningan. Hyunra menyelami mata Minsoo, dan begitupun sebaliknya. Setelah beberapa menit bertukar pandang, Hyunra berinisiatif menyudahinya. Ia melepaskan kontak mata dengan Minsoo dan melangkah mundur.

Well..mungkin itu tidak penting untukmu, tapi ini cukup penting untukku. Namun kurasa kau tidak akan mengerti sekalipun aku menjelaskannya panjang-lebar.”

Hyunra memutar langkahnya. Melangkah gontai ke arah kamarnya.

“ Aku mengerti,” ucap Minsoo tenang.

Perlahan Hyunra menghentikan langkahnya. Terdiam di tempatnya tanpa berbalik badan.

“ Sangat. Tapi masalah siapa yang pertama dan siapa yang terakhir tidaklah penting. Aku memang mengharapkanmu sebagai orang pertama, tapi aku memahami apapun yang kau miliki hingga tak bisa menjadi yang pertama. Dan itu tidak masalah untukku.”

“ Segala yang pertama memang istimewa tapi tidak selamanya begitu. Karena segalanya akan lebih istimewa jika dilakukan oleh orang yang menurutku istimewa, and Maeri isn’t special to me.”  

Tepat setelah itu Hyunra membalikkan badannya, bertemu pandang dengan Minsoo yang masih terlihat tenang setelah mengutarakan rangkaian kata yang menyentuh hatinya.

“ Tapi…aku benar-benar kacau. Aku tak habis pikir bagaimana bisa aku menjadi begitu buruk. Aku tinggal di tempat yang sama denganmu, tapi aku menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu,” tanggap Hyunra masih dengan kepala penuh pikiran.

“ Oke..aku memang kecewa karena kau bukan orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. But…being the last person isn’t that bad.”  

Dari pandangan matanya, Minsoo bisa menebak jika sebentar lagi Hyunra akan kembali mendebatnya. Maka ia pun kembali bicara sebelum Hyunra mengambil kesempatannya.

“ Kau memang orang terakhir, lalu apa salahnya dengan itu?”

Hyunra hanya diam. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Minsoo.

You’re my last and always be my last. And thank God you’re the last for me.

Sejenak Hyunra lupa caranya bernapas dengan benar. Ia merasa sesak, namun sesak dalam sensasi yang menyenangkan. Membuatnya lupa daratan, seolah ia sedang terbang atau mungkin memang kakinya sudah tak menyentuh tanah?

“ Lalu apa salahnya menjadi yang terakhir?” mata Minsoo masih menatap Hyunra dengan lekat. Meminta konfirmasi bahwa apa yang ia katakan benar.

“ Maeri memang yang pertama tapi bukan berarti dia yang kini mendampingiku. Justru kau yang sekarang berada di sisiku, menikah denganku, menggunakan nama keluargaku. Dan itu bisa terjadi karena kau tempat terakhirku. Bukan berarti aku sudah tidak memiliki pilihan lain hingga memilih dirimu, tapi karena pencarianku harus berakhir pada dirimu. Cause you’re the right one that God sent for me.

Hyunra merasa telinganya memanas. Ada hawa hangat yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia merasa lututnya melemas dan akan segera menangis. Apa yang diucapkan Minsoo benar-benar telah menguras emosinya.  

Tanpa disadari Hyunra, Minsoo berjalan mendekati dirinya. Pria itu megamatinya baik-baik, seolah ingin tahu apa yang tengah berlalu lalang dalam pikirannya.

“ Orang pertama yang datang memang istimewa, tapi yang bertahan paling akhir adalah pemenangnya. Dan itu kau, Bang Hyunra.”

Kini jarak keduanya sangat dekat. Saling berhadapan dan bahkan bisa merasakan embusan napas masing-masing. Hyunra merasa sebentar lagi akan pingsan di tempatnya. Bagaimana bisa Minsoo mengatakan semua itu tanpa mencoba menjadi seorang perayu ulung? Kenapa ucapan Minsoo terdengar sangat tulus? Harusnya Hyunra sudah terkapar di lantai sambil memuntahkan isi perutnya setelah mendengar apa yang Minsoo katakan.

Minsoo menggerakkan tangannya untuk membelai kepala Hyunra. Membelainya perlahan, bahkan terkesan seperti angin yang berembus.

“ Dan sekarang kau menangis? Ini hari ulang tahunku, kenapa kau yang menangis?”

Dengan cepat Hyunra menyeka air matanya. Ia kembali memandang Minsoo dengan sisa-sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“ Berhenti menangis. Ayo kita makan kuenya!”

Namun Hyunra tak bergerak seincipun. Ia tetap di tempatnya sambil memandangi Minsoo yang juga menatapnya dengan pengertian.

“ Tidak mau makan kue?” tanya Minsoo.

Hyunra menggelengkan kepala. “ Untuk apa aku makan kue kalau kau ada di sini?” tanggap Hyunra sambil tersenyum kecil. Ia sendiri tak menyangka bisa mengatakan hal seperti itu.

Minsoo terkesiap, namun ia hanya terkekeh. “ Oh…jadi menurutmu aku lebih manis daripada kue?” tanya Minsoo dengan suara kekehan yang masih jelas terdengar. Suara kekehan itu tak bisa lenyap meski sudah Minsoo tahan mati-matian.

Hyunra ikut terkekeh. “ Ya,” jawabnya yakin sambil menganggukkan kepala.

Dan tanpa mereka sadari jarak diantara mereka semakin menipis. Bahkan Minsoo tidak menyadari bahwa tangan kanannya masih memegangi kepala Hyunra serta tangan kirinya mencengkeram pinggang wanita itu.

“ Dan kau ingin memakanku?”

Tepat setelah pertanyaan itu, tawa Hyunra meledak. Wajahnya semakin sumringah begitupun dengan Minsoo. Kali ini Hyunra hanya menganggukkan kepalanya, membuat mata Minsoo semakin menyipit.

“ Tidak akan kubiarkan,” tandas Minsoo dengan garis-garis tawa yang masih tampak jelas di wajahnya.

Pernyataan Minsoo barusan membuat Hyunra mengerutkan keningnya. Merasa penasaran dengan alasan pria di depannya itu.

“ Karena aku diciptakan bukan untuk dimangsa tapi untuk memangsa,” Minsoo menahan senyumnya, kemudian kembali berbicara. “ Sekalipun diantara kita harus ada yang dimangsa, jelas itu bukan aku, tapi kau,” tuntasnya dengan kekehan puas karena mendapati ekspresi ngeri di wajah Hyunra.

Namun setelahnya Hyunra ikut tertawa bersama, sebelumnya akhirnya suara tawanya kian surut begitu Minsoo memajukan wajahnya. Mendekati wajahnya yang bahkan sudah sangat dekat. Pria itu masih memamerkan senyumnya, senyum yang menurut Hyunra tidak terlalu lebar tapi mempesona.

Minsoo kembali membelai kepalanya, membuat Hyunra memejamkan matanya. Menyerap ketenangan yang ditimbulkan oleh aksi tersebut. Ia membuka matanya kembali, menatap Minsoo yang masih menatapnya dengan intens. “ Happy Birthday Bang Minsoo,” ucapnya diikuti senyum sumringah.

Thank you my last,” balas Minsoo sebelum akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Hyunra.

 

END

You’re welcome Minsooo… oke…balik lagi sama ff Minsoo-Hyunra. Bagi siapapun yg mungkin udh bca ff Good Morning mungkin udh gak asing sama dua orang ini. Iya..ini Minsoo-Hyunra yg sama kaya di Good Morning. Jadi ceritanya birthday fic gitu, aku publish tepat tgl 4 november di blog pribadiku. Well..terimakasih buat apresiasinya di ff good morning, makasih juga buat admin yang udh bantu publish..makasih semuanya^^ oke deh itu aja semoga terhibur.

Cheers,

GSB

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Last One

  1. Haaiii…. GSB~ 😀
    Ini manis ya 😀 kisah pasutri emg bener2 kayak sarangnya fluff /??

    Karakterisasinya kuat menurutku 😀 baca satu oneshot FF ini kayak bikin aku mengenal Hyunra yg gampang marah, panikan dan Minsoo yg pendiem, kalem tapi diem2 usil dan romantis XD *mauk yg kaya gini nih, hyunra mungutnya dimana ya? *plak

    Umm… Menurutku, ada beberapa bagian yg intinya sama, tapi diulang-ulang, jadi bikin panjang dan cenderung menjemukan. Ah, tapi ini opini pribadi sih. Hehehe selebihnya aku syuukaa gaya bercerita kamu ko XD

    Nice fic~ ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s