[FREELANCE] Frozen


frozen-copy

FROZEN

Songwriter : BYoon | Artist : EXO’s Kai & Red Velvet’s Seulgi | Featuring : –  | Genre : AU, Angst, Friendship | Duration : Single | Rating : Teen

Credit poster: Lightivory (https://chickenandcola.wordpress.com) @Art Fantasy (https://artfantasy1st.wordpress.com)

Already posted at https://galleryofexofanfic.wordpress.com/2015/12/21/frozen/

This story officialy belongs to me

 

Kedatangan Jongin beserta ayah dan ibunya disambut baik oleh beberapa pelayan yang berdiri berjajar di kedua sisi lorong. Seorang pengawal yang sejak tadi menuntun keluarga terhormat itu kini memberikan isyarat kepada salah satu pelayan lain untuk membukakan pintu di hadapan mereka.

Begitulah, pada saat kedua pintu putih tersebut terbelah menjadi dua, beberapa pasang mata diperlihatkan sebuah ruangan megah dengan lampu antik berukuran besar yang menggantung di atasnya, sebuah karpet merah panjang sebagai tanda kehormatan bagi para tamu, dan sebuah tangga melebar yang bercabang menjadi dua arah di ujungnya.

Jongin menjejakkan kedua kakinya di atas karpet merah itu sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, tak satupun objek yang luput dari perhatiannya. Samar-samar, salah satu sudut bibirnya terangkat. Tak ada perubahan yang mencolok dari ruangan ini sejak sepuluh tahun terakhir aku berkunjung kemari, pikir Jongin.

“Selamat malam, Tuan dan Nyonya Kim.” Seorang pelayan pria paruh baya tiba-tiba saja berada di hadapan keluarga Kim dan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, yang kemudian turut diikuti oleh Jongin beserta kedua orang tuanya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Kwak Jun. Meskipun sudah lama kita tak berjumpa, wajahmu tetap segar saja, ya.” Canda Tuan Kim menghangatkan suasana, membuat Kwak Jun tertawa kecil. “Tuan bahkan lebih berkharisma. Nyonya juga semakin cantik saja,” goda Kwak Jun yang mana disambut gelak tawa pasangan Kim tersebut.

Kwak Jun sedikit terkejut begitu menyadari keberadaan lelaki berkulit tan di sebelah Nyonya Kim. Saking tidak percayanya Kwak Jun sampai-sampai mendelik begitu mengamati orang itu. “Astaga, apakah lelaki tampan ini Tuan Muda Jongin?”

Jongin pun tersenyum malu dan terbahak kecil mendapati wajah Kwak Jun yang menjadi keheranan saat melihatnya. “Ya, aku Kim Jongin. Senang bertemu denganmu lagi, Kwak Jun.”

Kwak Jun menggeleng-gelengkan kepalanya serta tersenyum sumringah. Ia memandang wajah Jongin dengan terkagum-kagum, tak menyangka bila bocah berusia lima tahun yang dulu sering menyiprati baju dan wajahnya dengan pistol air kini sudah beranjak dewasa.

“Terakhir kali aku bertemu dengan Jongin ia masih mengenakan kaus oblongnya dan berlari mengelilingi ruangan sembari membawa pistol air. Tak kusangka ia sudah sebesar ini. Lihatlah Tuan, kharisma Anda bahkan sampai tertular kepada Jongin.” Ucapan Kwak Jun kembali mengundang gelak tawa.

“Sejak tadi aku sama sekali tidak melihat Seulgi. Dimana dia sekarang?” Pertanyaan yang diajukan oleh Nyonya Kim mendadak membuat gelak tawa semakin merendah hingga pada akhirnya hanya keheningan yang mendominasi. Suasana menjadi sedikit canggung untuk sepersekian detik.

Jongin mendapati gelagat Kwak Jun yang sedikit mencurigakan; bola matanya bergerak kesana-kemari, wajahnya sedikit memucat, bahkan jemarinya mengepal erat tanpa sebab. Namun tak butuh waktu lama, Kwak Jun kembali angkat bicara; meski sedikit tergagap.

“Kondisi kesehatan Nona Seulgi sedang tidak begitu baik. Untuk sementara waktu ia harus beristirahat di dalam kamarnya.” Air muka Tuan dan Nyonya Kim menyiratkan keprihatinan dan belas kasihan. Menyadari akan hal itu, Kwak Jun buru-buru berdeham dan kembali berujar. “Alangkah baiknya bila kita segera menuju ke ruang makan. Tuan Haneul pasti sudah menunggu lama.”

Kwak Jun membimbing keluarga Kim menuju ruangan yang dimaksud. Tanpa kedua orangtuanya sadari, Jongin mengambil langkah dengan tempo lambat sehingga tertinggal jauh di belakang. Ia sedikit menunduk, larut dalam pikirannya sendiri; yang mana hanya dipenuhi oleh nama ‘Seulgi’.

Sudah sekian lama ia tak berjumpa dengan teman kecilnya itu, apalagi berkomunikasi. Semenjak mendapat kabar bahwa mendiang ayah dan ibu Seulgi mengalami kecelakaan di tengah badai salju, Jongin mulai merasakan adanya jarak di antara mereka.

Masih jelas dalam ingatan Jongin tatkala upacara pemakaman berlangsung. Seulgi yang ia kenal periang dan ramah pada saat itu hanya dapat mematung dengan pandangan kosong, bahkan sama sekali tak berbicara sepatah katapun saat ia mencoba menghiburnya. Selama sepuluh tahun keluarga Kang menutup diri, bahkan memutus komunikasi dengan pihak luar sehari setelah upacara pemakaman.

Langkah Jongin terhenti tepat di hadapan sebuah pintu putih. Ia memandangnya dengan wajah sendu dan kedua tangan mengepal erat. Ia tahu Seulgi berada di dalam. Seseorang yang ia beri kepercayaan sempat memberi informasi bahwa Seulgi tak pernah sekalipun keluar dari kamarnya setiap musim dingin berlangsung semenjak upacara pemakaman mendiang orangtuanya.

Santer terdengar bahwa anggota keluarga Kang selalu tertimpa nasib buruk di sepanjang musim dingin. Jongin berasumsi bila karena hal itulah Seulgi memilih untuk mendekam di dalam kamar. Ia tersenyum miris begitu mengingat kala kecil dulu Seulgi tak diperbolehkan untuk bermain salju di luar, dan saat ini Jongin mengetahui alasannya.

 

***

 

Keluarga Kim kembali berkunjung ke kediaman keluarga Kang untuk ketiga kalinya dalam seminggu terakhir. Serangkaian pertemuan ini guna membahas mengenai aset perusahaan keluarga Kang yang nantinya akan dilimpahkan kepada Tuan Kim; sesuai isi wasiat Tuan Kang.

Perayaan natal tinggal menghitung jam. Tuan dan Nyonya Kim nampak begitu sumringah begitu menyimak ucapan Tuan Haneul yang kerap mengundang gelak tawa. Bahkan Tuan Haneul pun mempersilahkan Kwak Jun agar turut bergabung dalam perjamuan makan malam agar suasana menjadi semakin hangat.

Namun tidak dengan Jongin yang sejak tadi hanya memainkan makanannya dengan garpu seraya bertopang dagu. Ruangan ini memang ramai, tetapi ia merasa kesepian. Sesekali ia melirik kursi tak bertuan di seberangnya.

Seharusnya dia duduk di hadapanku, batinnya.

Tak dapat disangkal bila ia merindukan Seulgi.

Semasa kecil, hanya gadis itulah satu-satunya yang tak takut untuk mendekatinya. Anak-anak lain tidak ingin mencari masalah dengannya karena wajahnya yang boleh dibilang sedikit menyeramkan, tetapi Seulgi malah selalu mengerjainya untuk mendapatkan perhatiannya.

BRAK!

Lamunan Jongin yang tak kunjung usai itu mendadak buyar karena suara berdebam yang cukup nyaring, bahkan Tuan dan Nyonya Kim juga Kwak Jun berjengit terkejut. Dengan sigap, Tuan Haneul beranjak dari kursinya lalu membuka pintu ruangan dengan tergesa-gesa. Diikuti oleh keluarga Kim beserta Kwak Jun yang diliputi rasa penasaran.

Jongin mendahului kedua orang tuanya beserta Kwak Jun menyusuri lorong. Raut wajahnya begitu tegang, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Seulgi. Dan ekspetasinya terbukti begitu mendapati seorang pelayan yang tengah menangis tersedu-sedu di hadapan Tuan Haneul seraya berujar.

“Maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja membuang kotak pribadi milik Nona Seulgi, saya pikir kotak itu tidak dibutuhkan karena berada di bawah ranjang. Sekarang Nona benar-benar marah dan pergi untuk mengambilnya kembali di luar.”

Jongin melirik sekilas pintu kamar Seulgi yang terbuka kemudian berlari menyusuri lorong lainnya dengan segenap kekhawatiran. Meski Tuan dan Nyonya Kim meneriaki namanya berulang-ulang, namun Jongin sama sekali tak berniat untuk membalikkan badan barang sedetik.

Kediaman keluarga Kang cukup luas dan itulah mengapa Jongin sampai tersengal-sengal dibuatnya. Pikirannya begitu kalut. Sungguh ia berharap agar tak terjadi sesuatu yang buruk kepada Seulgi, gadis itu bahkan sudah kesulitan untuk menahan beban hidupnya seorang diri.

Jongin semakin mempercepat laju larinya begitu menyusuri lorong terakhir yang mana menghubungkan dengan pintu keluar. Sempat bermain petak umpet dengan Seulgi semasa kecil membuatnya dapat mengetahui seluk-beluk kediaman keluarga Kang dengan mudah, ditambah Jongin memiliki daya ingat yang cukup kuat.

Semilir angin malam yang berhembus menyapa Jongin begitu ia memijakkan kaki di pelataran kediaman Kang. Jongin mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan gelisah dan menangkap siluet seorang gadis yang tengah berlari memunggunginya. Namun sialnya gadis itu terjerembab begitu saja di permukaan salju.

Tak tega dengan pemandangan tersebut, Jongin berseru dan berlari menghampiri Seulgi yang terpaut jarak cukup jauh di hadapannya. Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras, bahkan jemarinya mengepal erat. Betapa Jongin merindukannya. Betapa Jongin ingin mencurahkan segala bentuk perhatiannya kepada gadis itu.

Dan dengan sigap Jongin bersimpuh; kemudian melepas kemejanya dan mengenakannya pada tubuh mungil Seulgi, lalu merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Betapa Jongin ingin melakukan hal ini sejak sekian lama. Mendengar sayup isak tangis Seulgi membuat Jongin semakin mengeratkan dekapannya seraya mengelus helaian rambut Seulgi dengan lembut.

Jongin memejamkan kedua matanya yang berair. Jalinan batin yang kuat mampu membuatnya merasakan apa yang tengah Seulgi rasakan. Ia mendekatkan bibirnya tepat pada telinga kiri Seulgi seraya membisikkan sesuatu, “Aku berada di sini, Kang Seulgi. Aku berada di sini untukmu.”

 

***

 

“Karya seseorang mewakili perasaan orang yang membuatnya, loh!”

“Oh, ya? Yang benar?”

Di pelataran kediaman Kang, Seulgi dan Jongin bersama-sama menyelesaikan gulungan bola salju terakhir yang mana nantinya akan menjadi kepala boneka salju kreasi mereka. Meski sedikit kerepotan dengan jaket berlapis yang membuat tubuhnya nampak sedikit lebih berisi namun Seulgi masih mengulas senyumnya bahkan terkadang bersorak riang seperti anak kecil.

Sesekali Jongin melirik gadis di sampingnya itu seraya tersenyum kecil. Sungguh ia tak menyangkan malam natal tahun ini memberi keistimewaan yang cukup berarti. Setelah insiden dimana Seulgi terjerembab pada permukaan salju malam itu, gadis itu meminta agar dirinya tetap tinggal untuk sementara waktu. Alhasil selama lima hari terakhir, bahkan hingga saat ini, Jongin menetap di kediaman Kang.

Selama itu Jongin berusaha membujuk, menasehati, bahkan menghibur Seulgi dengan berbagai macam upaya. Meski pada awalnya ia sedikit canggung karena ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah sekian lama namun Jongin tetap bersikeras; yang mana lambat laun membuahkan hasil. Seulgi mulai membuka diri dan sama sekali tidak menyinggung mengenai tragedi kelam mendiang orang tuanya tersebut.

Bahkan Seulgi bercerita bahwa pada saat ia terpeleset dan terjatuh malam itu, saat tersebut adalah kali pertama ia menyentuh dan merasakan lembutnya permukaan salju. Ia mengadu kepada Jongin kalau saat kecil keluarganya bahkan para pelayan tak membolehkannya untuk bermain salju barang sebentar. Seulgi pun tak diperbolehkan keluar rumah selama musim dingin berlangsung; mengingat kutukan keluarga Kang.

Tepat setelah gulungan bola salju terakhir selesai dibuat, Jongin merangkul bahu Seulgi seraya tersenyum simpul. “Boneka salju pertama Nona Kang! Kita harus memberi sesuatu pada tubuhnya agar terlihat hidup,” usul Jongin seraya mengacak pelan rambut Seulgi; yang tanpa Jongin ketahui membuat kedua pipi Seulgi sedikit merona.

“Aku akan mengambil beberapa ranting dan biji-bijian. Kau tunggu disini,” ujar Jongin lalu berlari menuju pepohonan dan semak belukar tak jauh dari pekarangan meninggalkan Seulgi yang masih mematung di tempat.

Mengamati gerak-gerik Jongin yang konyol dari kejauhan membuat Seulgi tersenyum kecil, bahkan semburat merah muda di kedua pipinya mulai kentara. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat Jongin berada di sisinya. Mungkin ini hanyalah sekedar rasa canggung semata mengingat dirinya dan Jongin sudah beranjak dewasa, pikir Seulgi. Tetapi rasa canggung ini agaknya sedikit.. menjurus ke rasa gugup karena ketertarikan?

Jongin kembali dengan membawa beberapa buah ranting lalu menancapkannya pada badan boneka salju sebagai tangan dan pada bagian kepala sebagai hidung serta kedua biji yang membentuk mata. Ketika hendak menancapkan ranting terakhir, seseorang menyerukan nama ‘Jongin’ berulang kali dari kejauhan.

Baik Seulgi dan Jongin mengedarkan arah mencari letak sumber suara kemudian menoleh ke belakang secara bersamaan. Seorang gadis tengah berdiri pada ambang pintu seraya melambai-lambaikan kedua tangannya ke arah mereka. Seulgi tidak tahu menahu siapa dan darimana gadis itu, tetapi ia rasa gadis itu berusia sepantaran dengannya.

Tiba-tiba saja Jongin mengulurkan sebatang ranting tersisa kepada Seulgi, akan tetapi Seulgi hanya memandanginya dengan kebingungan. “Mengapa kau memberikannya kepadaku?”

“Buatlah mulut boneka salju itu dengan ranting ini. Aku akan kembali sebentar lagi,” tutur Jongin sedikit tergesa-gesa. Belum sempat Jongin mengambil langkah pertama, Seulgi menahan lengan kanannya. “Kau mengenal gadis itu?”

Jongin berbalik menghadap Seulgi seraya mengembangkan senyumnya. “Dia tunanganku, kami akan melangsungkan pernikahan tahun depan.” Menyadari perubahan air muka Seulgi yang nampak terkejut dengan pernyataannya, Jongin menambah penjelasannya.

“Aku tahu, kesannya terburu-buru sekali, kan? Sebenarnya aku juga hendak menginformasikan hal ini kepadamu saat berkunjung kemari. Sangat disayangkan komunikasi kita terputus selama sepuluh tahun, kita jadi tidak dapat mengetahui kondisi masing-masing.”

Seulgi mengambil ranting itu dengan jemari gemetar lalu menggenggamnya erat. Entah mengapa ada rasa ketidaksukaan dalam dirinya begitu mendengar kabar tersebut. “Aku akan memperkenalkannya kepadamu. Tunggu sebentar,” ujar Jongin yang kemudian berlari menghampiri gadis itu.

Seulgi memandang ranting pada genggamannya sendu. Ia bersimpuh di hadapan boneka salju itu dan meletakkan ranting itu dengan salah satu ujung lebih rendah dari ujung yang lain; membuat wajah boneka salju seolah-olah kecewa.

 

FIN

 

Mind to review? Komentar kalian sangat membantu 😉

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Frozen

  1. Bapeerr iiih T.T
    Tak kusangka endingnya begini 😦
    Kirain jongin yg bakal ngejar2 seulgi. Ternyata…. ._.

    Tapi ya, klo ketemu cowok macem jongin yg udh tau2 meluk terus blg ‘aku disini untukmu’ lah ternyata udh dipasangin dng org kan rasanya mau nonjok -_- /apasi

    Oh… Jadi maksudnya jongin “karya seseorang bisa mewakili perasaan hatinya” itu dilakukan oleh seulgi di ending gtu ya? Umm :’ Iya, aku ngerti peraaaanmu kok, seul. Wkwkw

    Btw, aku tadi nemu kata ‘tan’ yg mungkin maksud kamu bhs inggris kan ya? Itu sebaiknya di italic 😀
    Terus, sebenernya bakal lebih enak dbaca klo bagian ucapan dalam hati ditulis miring /opiniku sih
    Selibihnya, aku suka cara kamu mendeskripsi situasi 😀

    Makasiih untuk FF kecenya ❤

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s